Anda di halaman 1dari 24

AKUNTANSI INTERNASIONAL DAN BUDAYA

Makalah Kelompok
Mata Kuliah Teori Akuntansi Keuangan
Dosen Pengampu Mata Kuliah
Dr. Endang Mardiati, SE., M.Si., Ak

Disusun oleh:
DINY FARIHA ZAKHIR 196020300111004
BENITA MINGGUS IGAKARTIKA 196020300111008

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019
A. Accounting in The Global Environment: Accounting Theory, Research,
Regulation, and Accounting Practice
a. History of the International Accounting Standards Board (IASB)
IASB pada awalnya dibentuk dengan kedok yang berbeda. Pada akhir 1960-an
perwakilan dari badan akuntansi profesional Inggris, Kanada, dan US membentuk
Accountants International Study Group (AISG). Pembentukan AISG adalah untuk mencoba
dan mencari beberapa harmonisasi praktik akuntansi dan audit di negara mereka dengan
sebuah pandangan yang bersifat jangka panjang bahwa, standar akuntansi gabungan dapat
dikeluarkan. AISG beroperasi kurang lebih selama sepuluh tahun dan selama beroperasi telah
mengeluarkan dua puluh study sebelum dibubarkan (1977). Pada World Congress of
Accounting di Sydney tahun 1977, wakil dari KAP Sydney Group bertemu untuk membahas
proposal pembentukan International Accounting Standards Committee (IASC). Hal tersebut
disetujui dan diwakilkan oleh enam negara (Australia, Perancis, Jerman, Jepang, Belanda, dan
Meksiko). IASC mulai beroperasi pada pertemuan perdananya pada tanggal 29 Juni 1973 di
kantornya yaitu markas besar di London, Inggris. Masing-masing dari sembilan anggota
memiliki perwakilan di Dewan IASC. Setahun kemudian beberapa negara diterima sebagai
Anggota Asosiasi (Belgia, India, Israel, Selandia Baru, Pakistan, dan Zimbabwe) dan sejak
itu anggota asosiasi tambahan telah terima.
Sebelum pembentukan IASC, federasi badan akuntansi profesional sedunia yang ada
yaitu International Federation of Accountants (IFAC). Menyetujui antara dua badan bahwa
IASC akan bertanggung jawab atas semua hal yang berkaitan dengan standar akuntansi
internasional, sementara IFAC akan bertanggung jawab sebagai “federasi” dari badan
akuntansi profesional dan akan berfokus pada hal-hal lain yang mempengaruhi akuntansi.
Seperti akuntansi, regulator pasar saham dunia memiliki “federasi” internasional,
yang disebut International of Securities Commissions (IOSCO). Badan tersebut telah terbukti
menjadi kelompok “lobi” yang sangat penting dalam pembentukan standar akuntansi
internasional. Parker dan Morris (2001) memperlihatkan: tuntutan kritis atas upaya
harmonisasi IASC. Keprihatinannya selama dua dekade terakhir abad ke-20 adalah standar
akuntansi nasional yang diberlakukan konsisten menghambat aliran investasi keuangan
internasional karena ketidakpastian yang dihadapi investor dalam membaca laporan keuangan
yang berbeda. Ada yang berpendapat, inefisiensi antara pasar modal sebagai akibat dari
kebijakan dan penegakan akuntansi yang berbeda. IOSCO bersama-sama dengan banyak
lembaga keuangan ekonomi dunia yang signifikan lainnya (misalnya Bank Dunia), memiliki
negara-negara anggota yang tertekan untuk penciptaan standar akuntansi internasional yang
efektif.
Standar Akuntansi Internasional
Sejak didirikan pada tahun 1973, IASC telah mengeluarkan standar akuntansi
internasional. Negara-Negara anggota diwajibkan, untuk mematuhi standar tersebut. Hal
tersebut mengambil bentuk standar akuntansi nasional yang konsisten dengan standar
akuntansi internasional atau indikasi yang jelas tentang perbedaannya. Pengakuan atas standar
internasional mengarahkan pada tekanan untuk mematuhi standar tersebut, dari kejadian
tersebut menyebabkan ke harmonisasi dan konvergensi standar nasional dengan standar
internasional bergeser menjelang akhir abad kedua puluhan.
Penerbitan peraturan akuntansi (standar) merupakan proses yang mahal, sehingga
banyak negara kecil yang mengadopsi standar akuntansi internasional sebagai standar
nasional mereka. Di beberapa negara, standar internasional dianggap menyerahkan peraturan
ekonomi kepada organisasi di luar negara, hal tersebut menyebabkan standar akuntansi
internasional susah untuk diterapkan di negara tertentu.
Proses penerbitan standar akuntansi oleh IASC memiliki persamaan di beberapa
negara-negara anggota. yaitu:
1. Sebuah proyek yang diakui memerlukan perhatian, dan komite pengarah terdiri dari
ahli-ahli ditunjuk.
2. Biasanya makalah diskusi (atau permasalahan) diterbitkan, serta draft pernyataan
prinsip-prinsip (Draft Statement of Principles).
3. Exposure draft diterbitkan untuk meminta komentar publik.
4. Kemudian standar diterbitkan.
Di beberapa negara anggota, IASC merasa perlu untuk membentuk sebuah Standing
Interpretation Committee (SIC) yang mana komite tersebut bertanggung jawab untuk
menyelesaikan masalah implementasi standar yang muncul. IASC juga membuat
Implementation Guidance Committee (IGC). Komite tersebut menangani beberapa masalah
seputar standar yang kemudian dimasukkan dalam standar akuntansi revisi.
Selain itu, IASC mengembangkan pernyataan yang menjelaskan dasar konseptual
untuk mengeluarkan standar akuntansi. Hal tersebut menghasilkan adopsi rerangka kerja
untuk penyusunan laporan keuangan – rerangka konseptual IASC yang penting pada tahun
1986. Rerangka kerja tersebut mengisyaratkan niat IASC untuk mengembangkan standar
berbasis prinsip (principles-based standards) (seperti di AS) dan standar berbasis aturan
(rules-based standards). Perbedaan utama dua pendekatan tersebut adalah bahwa pendekatan
berbasis prinsip dimulai dari prinsip-prinsip yang mendasar (seperti yang ditunjukkan dalam
rerangka) sedangkan pendekatan berbasis peraturan berusaha untuk mengatur setiap tindakan
yaitu peraturan yang harus dipatuhi pada situasi tertentu. Pendekatan prinsip bergantung pada
pertimbangan profesional dalam menerapkan prinsip-prinsip yang relevan dengan transaksi
daripada menetapkan prosedur yang harus diikuti. Filosofi yang berbeda telah dikutip sebagai
alasan utama untuk penerimaan standar akuntansi internasional oleh AS. Namun, mereka
menjelaskan untuk menjadi standar akuntansi internasional jauh lebih sedikit daripada standar
akuntansi AS.
Standar Pelaporan Keuangan International
Sekitar tiga dekade yang lalu regulator di AS menghadapi suatu masalah yang mana
masalah tersebut juga muncul pada IASC yang mengakibatkan restrukturisasi dan
merekonstruksi IASC dari badan paruh waktu menjadi badan penuh waktu untuk mengatasi
banyaknya pekerjaan yang dibutuhkan untuk mengembangkan standar yang efektif.
Pada awal abad ini, IASC digantikan oleh International Accounting Standards Board
(IASB). IASB dibantu oleh badan penasihat yang disebut Standards Advisory Council (SAC).
SIC yang lama diubah bentuknya menjadi International Financial Reporting Interpretation
(IFRIC). IASB juga dibantu oleh anggota-anggota sebagai penghubung. Anggota tersebut
adalah Australia, Kanada, Perancis, Jerman, Jepang, Selandia Baru, Inggris dan Amerika
Serikat, dan tanggung jawab mereka untuk bertemu dengan anggota lain untuk
memastikan bahwa kepentingan semua anggota sepenuhnya diwakili. IASC telah
menerbitkan 41 standar akuntansi internasional dan SIC mengeluarkan 33 interpretasi.
Meskipun standar baru diketahui sebagai IFRS, standar yang telah diterbitkan
sebelumnya tetap sebagai standar akuntansi internasional sampai mereka diubah atau
diganti. Demikian pula, SIC juga akan tetap berlaku sampai diganti (seperti yang disebutkan
di atas, standar yang dikeluarkan di bawah IASB disebut IFRS dan interpretasinya disebut
IFRIC).
b. Adoption of IFRS
Tidak semua negara mengadopsi IFRS sebagai standar akuntansinya. Australia adalah
salah satu negara yang telah mengadopsi IFRS. The European Union juga meminta semua
perusahaan terdaftar di bursa menerapkan IFRS dalam akun konsolidasi mereka.
Masyarakat akuntansi dan bisnis telah lama mengemukakan kasus dan perlawanan
harmonisasi standar akuntansi. Harmonisasi diperlukan, karena beberapa komentator
berpendapat, dalam rangka meningkatkan 'alokasi barang, tenaga kerja dan modal di pasar
internasional untuk mengurangi biaya modal, biaya operasi, dan untuk memudahkan kontrol
sosial perusahaan multinasional '(Parker dan Morris 2001, p.299). Ide tentang harmonisasi
juga menjadi subjek debat. Walaupun dapat dilihat sebagai proses untuk meningkatkan
perbandingan praktek akuntansi yang bervariasi (Nobes, quoted in Parker and Morris
2001, p.302), terdapat perbedaan dengan apa yang diminta secara legal dalam peraturan (de
jure formal harmony) dan apa yang dilakukan perusahaan dalam prakteknya (de facto or
material harmony). Beberapa peneliti telah menyediakan tingkat pengukuran beberapa
standar akuntansi nasional yang selaras dengan IFRS (misalnya Fontes et al., 2005).
Peter Agars yang merupakan mitra di sebuah perusahaan akuntansi utama
internasional, berpendapat bahwa Australia memainkan peran penting dalam praktek
akuntansi internasional. Ia mengklaim bahwa Australia membantu menjaga profesi
internasional dalam keseimbangan dengan empat cara:
1. oleh pengaruh yang diberikannya dalam pengaturan standar;
2. oleh pengaruh yang diberikannya atas nama kawasan Asia-Pasifik;
3. dengan keseimbangan dengan keterlibatan di antara negara-negara besar
4. dengan sumber daya yang memberikan kontribusi (agars tahun 1996, p.362)
IASB telah menyatakan bahwa ia akan mengadopsi pendekatan berdasarkan
prinsip (principles-based approach), tidak seperti pendekatan berbasis peraturan (rules-based
approach) yang digunakan di Amerika Serikat. Namun, pada saat yang sama, IASB memiliki
kebijakan yang dinyatakan bergerak lebih dekat dengan standar FASB untuk mendorong
konvergensi penuh. Agar adil, SEC dan FASB telah mulai diskusi tentang kesesuaian
pendekatan berbasis prinsip(principles-based approach), yang tidak diragukan lagi akan
membuat konvergensi penuh lebih mudah. Hal ini cukup kompleks, terutama yang berkaitan
dengan perusahaan terdaftar. Contoh: di Kanada, emiten sekuritas asing diizinkan untuk
menggunakan IFRS dan dengan rekonsiliasi ke Canadian GAAP, tetapi perusahaan domestik
tidak diizinkan melakukannya. Posisi di AS tidak begitu jelas dinyatakan dan rumit dengan
penetapan Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) oleh Undang-Undang
Sarbanes-Oxley. Dan situasi terus berubah. Jelas bahwa pendukung regulasi akuntansi
global akan menyambut penerimaan IFRS oleh negara terbesar dan terkuat di bidang
ekonomi yaitu AS. Bahkan, IASB dan FASB pada tanggal 29 Oktober 2002 menandatangani
nota kesepahaman (The Norwalk Agreement) bahwa mereka akan bekerja sama menuju
konvergensi lengkap antara standar AS dengan standar internasional. Saat ini ada beberapa
proyek bersama yang sedang berlangsung, misalnya: penyusunan rerangka konseptual yang
merupakan proyek bersama dari IASB dan FASB. Selain rapat gabungan perwakilan dari dua
badan tersebut, konferensi umum untuk kemajuan konvergensi juga diadakan.
c. A Question of Principle
Akibat dari runtuhnya perusahaan besar seperti Enron, Kongres AS memerintahkan
SEC untuk mempelajari akuntansi berbasis prinsip (principle based accounting) sebagai
bagian dari program reformasi korporat. Dengan demikian, perdebatan regulasi akuntansi
rule-based dan principle-based dihasilkan dari persepsi bahwa AS memiliki standar
akuntansi berbasis aturan (rule-based) dan harus pindah ke dasar peraturan berbasis prinsip
(principle-based). Hal ini penting bagi mereka yang berada di luar AS, karena keinginan
untuk memiliki standar akuntansi internasional dengan partisipasi negara AS sepenuhnya
dalam penyusunan. Saat ini AS tidak menerima IFRS, tetapi sebagai pendukung peraturan
akuntansi global, sangat penting bahwa AS sebagai ekonomi terbesar dunia menjadi bagian
dalam proses harmonisasi. IASC selalu mengklaim telah mengadopsi pendekatan berbasis
prinsip (principle based) untuk IFRS. Hal ini ironis, mengingat sebagian besar peraturan
akuntansi AS pada abad 20 didasari pada praktik akuntansi yang 'baik', bahwa peraturan
akuntansi (GAAP) di AS belum berdasarkan prinsip. Namun, Schipper (2003) menyatakan
bahwa US GAAP didasarkan pada prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam Kerangka
Konseptual FASB, tapi ada unsur-unsur yang mengarahkan orang untuk percaya bahwa
peraturan adalah dasar dari standar.Meskipun beberapa orang mengemukakan bahwa
perbedaan itu tidak penting, ada pertimbangan sangat penting dalam perdebatan, yaitu:
1. Pertanyaan tentang profesionalisme.
West (2003) telah menunjukkan jika sesuai dengan standar, akuntansi hanyalah suatu
proses teknis crossing the boxes, maka ada sedikit ruang untuk pertimbangan
profesional.
2. Perbedaan ini penting karena dapat mengakibatkan perlakuan akuntansi yang berbeda
dari transaksi yang sama. Contoh: ketika sebuah perusahaan masuk ke dalam sewa
(leasing), perusahaan harus memutuskan bagaimana untuk melaporkan sewa. Hal ini
untuk memutuskan apakah sewa adalah modal (capital) atau sewa operasi (operating
lease). Perusahaan kemudian dapat mengikuti aturan akuntansi yang memungkinkan
untuk menghindari maksud di balik transaksi. Enron secara teknis dikatakan telah
mengikuti GAAP tetapi mampu memainkan aturan tersebut dan hal ini
tampaknya menjadi alasan mengapa pemerintah AS, dalam Undang-Undang
Sarbanes-Oxley tahun 2002, mensyaratkan SEC untuk memeriksa kelayakan
peraturan akuntansi berbasis prinsip (principle-based accounting regulation). Suatu
permasalahan dengan mencoba untuk menetapkan aturan untuk membimbing praktek
adalah bahwa selalu ada potensi bahwa tidak semua situasi akan ditampung oleh
peraturan. Hal ini secara dramatis dapat diilustrasikan dalam undang-undang
perpajakan di mana legislator mencoba untuk menutupi semua kontinjensi, namun
akuntan 'kreatif' dan pengacara tampaknya datang dengan skema untuk melewati
legislator. Akibatnya, peraturan perpajakan telah menjadi semakin kompleks dan
rinci. Hal ini juga berlaku dengan peraturan akuntansi berbasis aturan. Alexander dan
Jermakowicz (2006) telah menyarankan bahwa meningkatnya detail dan
kompleksitas US Generally Accepted Accounting Principles telah dikaitkan dengan
penetapan standar dengan ruled-based daripada principles-based.
Pendekatan principles-based dimaksudkan untuk memberikan dasar konseptual
untuk akuntan daripada mengikuti daftar aturan rinci atau seperti Alexander dan Jermakovicz
yang mengatakan itu adalah 'upaya untuk memberitahu preparers dan auditor tidak
melakukan sesuatu tapi bagaimana untuk memutuskan apa yang harus dilakukan'. Hal ini
kadang-kadang disebut pendekatan objectives-oriented untuk pengaturan standar yang
menyoroti perbedaan penting, yang membangkitkan pertanyaan tentang apa tujuan dari
pelaporan keuangan. Tujuan ini biasanya dinyatakan dalam pelaporan substansi ekonomi
yang mendasari (representative faithfulness) untuk entitas pelaporan bukan pada bentuk
transaksi.
Perdebatan pengaturan standar berbasis prinsip (principles-based) dan berbasis
peraturan (rules-based) adalah kompleks dan memiliki banyak implikasi untuk praktek
akuntansi. IASC telah ditetapkan untuk menentukan standar berbasis prinsip (principles-
based) tetapi kenyataannya hal itu harus menjelaskan beberapa persyaratan standar dalam
bentuk 'aturan' untuk diikuti. Dari perspektif teoritis, pendekatan berbasis prinsip (principles-
based) lebih baik. Hal ini dapat dirasakan sebagai suatu masalah dalam benak akuntan.
Namun, pendekatan berbasis peraturan (rules-based) akan tampak lebih aman untuk
akuntan di lingkungan yang sadar hukum. Artinya, akuntan harus menunjukkan bahwa aturan
telah diikuti untuk menghindari adanya klaim akibat dari adanya kemungkinan kelalaian.
Pendekatan berbasis prinsip (principles-based) memerlukan pertimbangan profesional
dengan penyaji (preparer) laporan keuangan dan auditor. Jika penilaian tersebut dihindari,
maka betapa rapuhnya profesional akuntan? Ada banyak bukti menunjukkan standar
akuntansi berbasis aturan (rules-based) tampaknya menarik, tapi menyebabkan
penyalahgunaan status profesional akuntan.
d. International Dimensions of Accounting
Selalu ada internasional dimensi untuk akuntansi tetapi dimensi tersebut telah
menjadi lebih nyata dalam seratus tahun terakhir. Dimensi-dimensi ini dapat
dipertimbangkan manfaatnya dari tiga perspektif, meskipun tumpang tindih. Pertama, di
tingkat perusahaan individual. Awalnya perusahaan ini adalh perusahaan yang bergeerak
dalam perdagangan internasional, tetapi secara bertahap mereka telah menjadi lebih besar
sampai pendapatan untuk beberapa perusahaan meningkat melebihi produk domestik bruto
dari banyak negara di mana mereka beroperasi. Perusahaan tersebut kemudian dikenal
dengan Perusahaan Multinasional (MNCs). Kedua, perbandingan faktor yang membentuk
praktik akuntansi di berbagai negara dan seringkali disebut sebagai akuntansi komparatif.
Ketiga, perspektif akuntansi dalam konteks ekonomi yang semakin mengglobal yang
merupakan fenomena terbaru yang akan terbukti sejauh mana pertimbangan yang paling
penting dalam memeriksa dimensi akuntansi internasional. Sebagai contoh, yaitu motivasi
utama untuk mendukung standar akuntansi internasional.
Ketiga aspek tersebut saling berkaitan erat. Menurut definisi ekonomi global
mengacu pada peningkatan transaksi lintas batas nasional yang akan melibatkan pemeriksaan
praktik akuntansi di negara-negara tersebut untuk mengembangkan makna laporan
keuangan. Namun, pada awalnya ada baiknya untuk mempertimbangkan masing-masing
aspek tersebut secara terpisah jika kita ingin mengembangkan silsilah yang bermakna dan
praktik akuntansi saat ini.
e. Multinational Corporation
Masalah utama dalam memeriksa MNC (yang juga disebut sebagai perusahaan
transasional – TNC), yaitu para ekonom belum berhasil menyelesaikan masalah tersebut.
Ekonomi Internasional, telah menyarankan bahwa MNC adalah perusahaan yang:
1. Terlibat dalam produksi asing melalui afiliasinya yang berlokasi di beberapa negara,
2. Melakukan kontrol langsung atas kebijakan afiliasinya,
3. Mengimplementasikan strategi bisnis dalam produksi, pemasaran, keuangan dan
kepegawaian yang melampaui batas-batas nasional (geosentris).
Berbagai kriteria telah disarankan yang mencakup lokasi kepemilikan, orientasi, atau
fitur lainnya. Namun, sejauh menyangkut akuntansi, pelaporan keuangan adalah signifikan.
Sehubung dengan laporan keuangan tersebut, penting untuk mengetahui persyaratan
pelaporan keuangan mana yang akan diterapkan. Karena itu munculah bagaimana transaksi
dalam mata uang yang berbeda harus diperlakukan, untuk ukuran apa aset dan liabilitas
digunakan untuk menyusun laporan akhir dan metode serta proses konsolidasi apa yang harus
digunakan.terdapat banyak masalah, standar akuntansi diperdebatkan.
Contoh masalah pelaporan yang dihadapi oleh perusahaan multinasional adalah mata
uang asing apa yang dijadikan nilai tukar jika suatu transaksi diterjemahkan untuk
dimasukkan dalam laporan keuangan. Masalah ini muncul karena nilai tukar berfluktuasi
selama periode akuntansi normal dan nilai tukar pada saat transaksi mungkin berbeda secara
signifikan pada saat pelaporan. Masalah lain akan timbul dari kepemilikan jangka panjang
aset yang dapat didepresiasi: apa yang akan menjadi dasar depresiasi? Sebagian besar
perusahaan mencoba menghindari dampak dari fluktuasi nilai tukar sehingga terlibat dalam
berbagai skema lindung nilai di mana perusahaan menggunakan transaksi lain untuk
mengurangi risiko bahwa masalah tersebut akan menimbulkan kerugian pada mata uang
asing yang terlibat dalam transaksi asli. Masalah lain adalah bagaimana caranya
memperhitungkan manfaat dan/atau biaya yang timbul dari transaksi lindung nilai. Sifat dari
operasi asing juga menimbulkan masalah potensial - adalah bagian transaksi luar negeri dari
sebuah operasi asing mandiri atau hal apa yang merupakan bagian dari operasi normal
perusahaan? Ini hanya beberapa masalah yang terkait dengan pelaporan transaksi yang
terlibat lebih dari satu mata uang.
Selain masalah mata uang asing, perusahaan multinasional juga melibatkan masalah
akuntansi manajemen, yaitu yang berhubungan dengan prosedur penetapan biaya.
Contohnya adalah di negara berkembang memungkinkan perusahaan asing untuk beroperasi
di negara itu karena manfaat yang didapatkan dari operasional perusahaan MNC (terbukanya
lapangan pekerjaan dan pajak). Dilihat dari bagaimana struktur penetapan biaya yang
digunakan oleh perusahaan MNC. Banyak perusahaan MNC yang dikritik karena memuat
biaya operasi di negara berkembang sedemikian rupa sehingga tidak ada laba yang diperoleh,
akibatnya tidak ada pajak yang dibayarkan. Masalah tersebut dikenal sebagai masalah harga
transfer (transfer pricing). Masalah tersebut menjadi bagian dari masalah yang lebih besar
terkait dengan manfaat globalisasi.
f. Comparative Accounting
Munculnya akuntansi komparatif yaitu karena perbedaan dianggap berasal dari
banyak faktor, Nobes telah merumuskan tujuh belas alasan yang ditemukan antara lain
meliputi warisan kolonial, umur dan ukuran profesi akuntansi, sistem hukum, budaya,
sejarah, bahasa, agama dan masih banyak lagi. Namun perbedaan yang mendominasi yaitu
budaya, karena lintas disiplin ilmu tidak ada budaya yang dapat didefinisikan. Budaya
bukanlah jenis praktik tertentu atau praktik yang terjadi di lokasi sosial tertentu. Budaya
dibangun secara sosial dan terus berubah sehingga tidak mungkin untuk mengklaim bahwa
dimensi budaya tetap ada. Pengetahuan budaya diperoleh melalui pemahaman sosial yang
kompleks. Budaya ditandai oleh alam sejarah mereka dan terus-menerus berubah dengan
perubahan dalam organisasi sosial, ekonomi dan politik masyarakat. Ada sedikit keraguan
bahwa praktik akuntansi, didefinisikan sebagai kegiatan sosial yang sangat dipengaruhi oleh
budaya tetapi tidak mungkin untuk memformulasikan dimensi tetap tentang dampak budaya
pada praktek-praktek akuntansi tersebut.
Akuntansi komparatif tidak dapat mengandalkan dimensi budaya secara sederhana.
Gray (1988) menjelaskan akuntansi komparatif harus melibatkan petunjuk yang lebih
luas jika ingin memiliki arti. Gerakan konvergensi dari regulasi pelaporan dan praktek
keuangan akan mengurangi dampak perbedaan budaya nasional. Hal tersebut merupakan
karakteristik dari globalisasi.
g. Globalitation
Saat ini, salah satu topik paling sering dibahas untuk diperdebatkan adalah globalisasi.
Namun setidaknya ada dua kesalahpahaman umum tentang globalisasi. Pertama, fenomena
terbaru. Dan kedua, hanya yang menyangkut faktor ekonomi. Tidak ada satu definisi yang
terbukti mencakup semua dimensi globalisasi. Hal tersebut tentu menimbulkan perdebatan
sengit dan tidak jarang reaksi fisik yang kuat sebagai sebagai protes diluar World Trade
Organization (WTO) dan pertemuan organisasi internasional lainnya. Sementara kita
bergerak menuju ekonomi global, kita juga sekarang memiliki terorisme global, yang disoroti
di New York dan Washington secara dramatis pada 11 September 2001. Selain itu, teror di
seluruh dunia hanya dapat dilawan melalui kolaborasi luas, baik antar negara, dan antar negara
dan lembaga lainnya.
Tidak ada definisi globalisasi yang jelas dan diterima dan bahkan ada beberapa
kebingungan tentang kondisi dan prosesnya. Artinya, ada proses globalisasi dan ada keadaan
atau kondisi globalisasi sehingga penting untuk mengetahui yang mana referensi yang sedang
dibuat. Meskipun kurangnya definisi yang dapat diterima ada beberapa karakteristik kualitatif
globalisasi (proses). Terdapat empat karakteristik yang dirumuskan oleh Steger (2003).
1. Melibatkan penciptaan baru dan perbanyakan jaringan sosial serta kegiatan yang
semakin melampaui batas-batas geografis politik, ekonomi, budaya tradisional yang
ada (penekanan dalam aslinya, p.9). Karakteristik pertama jelas bahwa globalisasi
melibatkan lebih dari sekadar pertimbangan ekonomi, meskipun sering orang
berkonsentrasi pada aspek ini.
2. Tercermin dalam ekspansi dan peregangan hubungan, aktivitas, sosial, dan saling
ketergantungan.
3. Mengacu pada intensifikasi dan percepatan pertukaran kegiatan sosial.
4. Dengan masyarakat tumbuh kesadaran karakteristik kedua dan ketiga.
Terdapat banyak keuntungan dari proses globalisasi, yaitu:
1. Peningkatan komunikasi telah mengurangi rasa isolasi yang dirasakan di banyak
negara-negara miskin di dunia.
2. Telah ada perbaikan dalam sistem kesehatan yang mengarah ke harapan hidup lebih
tinggi dan pengurangan penyebaran banyak penyakit (misalnya AIDS) dan penyakit.
3. Ada perbaikan di tingkat lapangan kerja di banyak negara berkembang.
4. Banyak pengurangan ketidakadilan sosial, seperti penggunaan pekerja anak.
5. Telah terjadi peningkatan bantuan asing dan pengampunan utang (contoh: proyek
Yobel) yang menguntungkan beberapa negara berkembang.
Stigliz (2002, hal.5) menyatakan: 'mereka yang menjelekkan globalisasi terlalu sering
mengabaikan manfaatnya' Namun, ia melanjutkan: para pendukung globalisasi ada, bahkan
lebih seimbang. Globalisasi (yang biasanya dikaitkan dengan menerima kapitalisme gaya
Amerika) merupakan suatu kemajuan dan negara-negara berkembang harus menerimanya
jika mereka ingin tumbuh untuk memerangi kemiskinan secara efektif. Tapi bagi banyak
orang di negara berkembang, globalisasi tidak membawa manfaat ekonomi yang dijanjikan.
Lembaga Ekonomi Internasional
Meskipun banyak dimensi globalisasi, hal itu adalah sebagian besar aspek ekonomi
yang telah menjadi subyek kontroversi dan karena ini, akuntan harus menyadari peran
yang mereka mainkan dalam proses globalisasi. Namun, tidak mungkin untuk membahas
aspek ekonomi globalisasi tanpa juga mempertimbangkan proses politik dan lembaga-
lembaga yang berperan penting seperti memajukan 'tujuan' dari globalisasi (International
Economic Institution).
Banyak kecemasan atas aspek ekonomi globalisasi telah muncul dari tindakan tiga
badan ekonomi internasional, yaitu International Monetary Fund (IMF), International Bank
for Reconstruction and Development (IBRD) atau yang lebih dikenal sebagai World Bank,
dan World Trade Organization (WTO). Semua organisasi ini telah menjadi alat penting
sebagai promotor globalisasi untuk menggunakan kekuasaan politik yang besar.
Pada tahun 1990 IMF, Bank Dunia, dan Departemen Keuangan AS
menghasilkan Konsensus Washington, yang merupakan bagian utama dari „the free market
mantra‟ (Stiglitz 2002 p.16). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu, konsensus
washington pada awalnya dirancang untuk ekonomi Amerika Latin yang tertekan namun
kemudian digunakan untuk yang berhubungan dengan semua negara yang ingin meminjam
dana dari IMF atau Bank Dunia. Kedua, meskipun lembaga- lembaga ini yang seharusnya
global, kebijakan ini muncul dari AS. Ketiga, konsensus washington menandai pergeseran
yang pasti dalam agenda IMF dan Bank Dunia untuk kepentingan neoliberal lebih lanjut
untuk menderegulasi pasar di seluruh dunia. Sepuluh poin dari Konsensus Washington
adalah:
1. Disiplin fiskal untuk mengekang defisit anggaran
2. Pengalihan prioritas pengeluaran publik terhadap bidang yang menawarkan
keuntungan ekonomi yang tinggi dan potensi untuk meningkatkan distribusi
pendapatan, seperti perawatan kesehatan primer, pendidikan dasar dan infrastruktur.
3. Reformasi pajak (untuk menurunkan tingkat marjinal dan memperluas basis pajak).
4. Liberalisasi keuangan dengan tingkat suku bunga ditentukan oleh pasar.
5. Nilai tukar uang (currency) yang kompetitif, untuk membantu pertumbuhan ekspor.
6. Liberalisasi perdagangan (termasuk penghapusan lisensi impor dan penurunan tarif).
7. Liberalisasi (promosi) dari arus masuk investasi asing langsung.
8. Privatisasi BUMN.
9. Deregulasi ekonomi (untuk menghapuskan hambatan untuk masuk dan keluar).
10. Perlindungan hak milik.
Kondisi yang dikenakan oleh tiga lembaga keuangan tersebut adalah sebagai
prasyarat pada bangsa yang mengajukan pinjaman. Pendukung dari arahan baru tersebut
mengindikasikan secara statistik peningkatan kesejahteraan secara global di negara
berkembang dan (ada sedikit keraguan) tentang indikator peningkatan ekonomi global.
Bagaimanapun juga, hal tersebut merupakan pengukuran secara makro yang mengabaikan
ketidaksamaan pada tingkat mikro dan dampak negatif lainnya yang disebut dengan
perdagangan bebas.
Ada kemunafikan yang cukup besar dalam penerapan ideologi Konsensus
Washington. Negara debitur diwajibkan untuk menghilangkan hambatan perdagangan
(untuk perdagangan global liberalisasi), namun dalam banyak kasus negara-negara maju
(terutama AS) melindungi industri mereka sendiri dengan subsidi yang cukup besar.
Hasilnya telah meningkatkan utang negara debitur daripada 'mengembangkan' penataan
ekonomi menjadi kuat.
Ada bukti empiris kuat yang tak terhitung mengenai jumlah ketidakadilan lain di
negara-negara berkembang dan di banyak tempat tentang materi yang disampaikan
orang-orang dari berbagai perspektif politik. Contoh: efek dari persyaratan yang
dikenakan pada Indonesia selama krisis keuangan Asia akhir 1990-an yang dirinci oleh
Graham dan Neu (2003). Stiglitz (2002, hal.75) menunjukkan bahwa ada satu masalah
struktural dasar yang mendasari semua ini. Sementara sistem pasar dapat bekerja relatif baik
di negara maju yang berada dekat informasi yang 'sempurna', tetapi tidak bisa diberlakukan
di sebagian besar negara-negara berkembang karena banyak prasyarat untuk operasionalnya
tidak ada.
Peran Akuntansi dalam Globalisasi
Globalisasi telah memunculkan banyak pertanyaan apakah terdapat dampak yang
kuat terhadap akuntansi dan akuntan. Hal tersebut benar jika globalisasi berlaku terutama
jika seseorang mengadopsi sudut pandang luas dari akuntansi transformatif yang bersifat
lebih sosial. Contoh: masalah tata kelola perusahaan, langkah-langkah anti-korupsi, kode
keuangan dan standar, standar umum akuntabilitas dan regulasi perusahaan internasional
yang besar, serta banyak masalah lain yang semuanya melibatkan akuntansi. Globalisasi
mendestabilkan pemahaman kita tentang akuntansi dengan efek asosiasi di lingkungan
korporasi dan lingkungan sosial di mana akuntansi dilakukan. (Cooper et al.2003, p.359).
Arnold and Sikka (2001) menunjukkan bahwa jika pandangan diambil dari
pertumbuhan pasar keuangan global, paradoksnya, pasar keuangan menjadi semakin
tergantung pada negara. Tanpa disadari, apa yang terjadi adalah kepentingan politik dalam
negara yang mengerahkan kekuatan besar atas pasar keuangan dalam rangka memajukan
kepentingan mereka sendiri. Hal ini dapat digambarkan dengan memeriksa kasus Bank of
Credit and Commerce International (BCCI), bank yang beroperasi di 73 negara sebelum
keruntuhannya yang spektakuler karena tuduhan penipuan, kecurangan manajemen dan
pencucian uang. Mereka berpendapat bahwa hubungan profesional negara dengan kantor
akuntan besar telah memberdayakan pertumbuhan bank melalui regulasi perbankan dan
teknologi audit. Hal ini juga menarik untuk dicatat bahwa Pemerintah Federal Australia telah
memaksa Asosiasi Profesi Akuntansi Australia untuk terlibat dalam proses harmonisasi
standar akuntansi.
Akuntansi telah lama digunakan perusahaan-perusahaan internasional yang besar
untuk menciptakan realitas ekonomi yang nyaman. Contoh: biaya dalam perusahaan tersebut
dialokasikan untuk menunjukkan bahwa tidak ada keuntungan (no profit) yang telah dibuat
di negara-negara di mana mereka telah beroperasi, sehingga tidak ada pajak yang disetorkan
di negara-negara tersebut. Hal ini disebut sebagai masalah transfer pricing, dan itu telah
menjadi perhatian selama bertahun-tahun. Sekarang hanya satu cara di mana TNC, dengan
pendapatan lebih besar dari PDB di banyak negara, menghasilkan kekuatan ekonomi besar-
besaran. Jumlah TNC tumbuh dengan pesat, dari sekitar 7.000 pada tahun 1970 menjadi
lebih dari 50.000 pada pergantian abad. Akun mereka lebih dari 70% dari perdagangan
dunia. Semua mempertahankan kantor pusat di Amerika Utara, Eropa, Jepang atau Korea
Selatan. Perkembangan terbaru adalah bahwa TNCs ini menggunakan 'kekuatan monopsoni'
(selain kekuatan tradisional monopoli atau oligopoli), yaitu mereka menetapkan harga yang
akan mereka bayar dan ketidaksetujuan terhadap harga tersebut akan mengakibatkan
pembatalan kontrak untuk pemasok dan mengacaukan perusahaan pemasok. Contoh:
perusahaan ritel terbesar di dunia, WalMart Inc, telah menetapkan harga untuk produk yang
berada di bawah biaya pemasok. Kegagalan untuk memenuhi harga ini mengakibatkan
pemasok akan keluar dari bisnis, sehingga menyebabkan gangguan sosial besar-besaran,
terutama di mana perusahaan pemasok adalah sumber lapangan kerja utama kota ini.
Akhirnya dengan pengangguran yang besar hampir menghancurkan basis ekonomi kota.
Akuntansi memainkan peran penting dalam praktek-praktek tersebut seperti keputusan
yang didasarkan pada informasi akuntansi untuk menetapkan besarnya biaya. Selain itu, juga
diketahui bahwa perusahaan mencari sumber biaya tenaga kerja yang semakin murah,
sehingga tenaga kerja dan produksi bergeser ke daerah di mana hal ini dapat diperoleh.
Akuntan harus sepenuhnya menyadari peran aktif mereka dalam keberlanjutan profit
oriented dari TNC, yang telah menjadi agen sangat penting untuk mempengaruhi
kesejahteraan ekonomi, politik dan sosial dari banyak negara.
h. Regulation, Globalitation, and Accounting
Tujuan Pemerintah Australia mengadopsi IFRS oleh profesi akuntansi adalah untuk
memfasilitasi aliran gobal dana investasi. Diambil pada nilai nominal, motif ini
mengagumkan. Namun, pemeriksaan lebih dalam mengungkapkan hal tersebut menjadi
contoh lain dari suatu kesadaran palsu yaitu adanya implikasi serius yang tidak jelas pada
awal memfasilitasi gerakan global dana investasi. Regulator akuntansi memungkinkan
banyak kesenjangan yang muncul di bidang sosial, politik dan ekonomi. Tampaknya ada
sedikit keraguan bahwa globalisasi telah meningkatkan banyak keuntungan di negara-negara
maju atau Barat. Sementara itu, beberapa negara berkembang memiliki manfaat ekonomi
yang cukup besar, tapi tetap ada ketidakseimbangan besar di kekuasaan politik yang sering
mengakibatkan manfaat ekonomi hanya mengalir untuk hegemoni politik yang korup dan
beberapa individu dengan kekuasaan politik, sering didukung oleh kekuatan militer. Mereka
terlalu sering memegang kekuasaan ekonomi di negara-negara maju dengan mengabaikan
faktor- faktor untuk melestarikan lingkungan, tetapi demi kepentingan ekonomi mereka
sendiri, termasuk TNC, lembaga keuangan internasional dan pemerintah yang memiliki
hubungan dekat dengan lembaga-lembaga ini dan yang mendukung keputusan
badan/lembaga ini adalah tindakan akuntansi.
B. FINANCIAL ACCOUNTING THEORY : INTERNATIONAL ACCOUNTING
a. Perbedaan Penerapan Akuntansi di Dunia Internasional
Mengetahui perbedaan akuntansi secara internasional adalah untuk membandingkan
hasil yang dilaporkan di berbagai negara sebagai satu set yang identik antara sebuah transaksi
dan peristiwa yang mendasarinya. Perbedaan laba yang dilaporkan bisa saja karena adanya
perbedaan kinerja ekonomi yang mendasari sebuah kegiatan atau peristiwa akuntansi. Sebuah
perusahaan memiliki seperangkat keunikan atas transaksi dan peristiwa setiap tahunnya,
perbandingan ini tidak dapat secara efektif dilakukan dengan membandingkan hasil
perusahaan berbeda di negara yang berbeda pula. Perbandingan dapat dilakukan dengan
melihat hasil dari satu perusahaan yang menghasilkan akun keuangan tersendiri sesuai dengan
peraturan global (lebih dari satu negara).
Dalam beberapa tahun terakhir banyak negara memilih untuk mengadopsi standar
akuntansi yang dikeluarkan oleh IASB, yang diterapkan secara efektif sejak tahun 2005.
Namun untuk memahami bagaimana aturan akuntansi negara-negara yang berbeda
mengakibatkan perbedaan hasil akuntansi sebelum upaya standarisasi akuntansi dilakukan,
hal ini berguna untuk mempertimbangkan bagaimana perbedaan hasil yang bervariasi
tergantung pada standar akuntansi yang digunakan untuk berbagai transaksi pada negara-
negara tersebut. Pertimbangan bahwa negara-negara yang berbeda aturan akuntansi dapat
menghasilkan keuntungan atau kerugian yang berbeda secara signifikan adalah alasan untuk
mengadopsi standar akuntansi yang dikeluarkan oleh IASB. Jika berbagai negara mengadopsi
aturan akuntansi yang sama perbedaan antara hasil yang akan dilaporkan di berbagai negara
tidak akan terjadi.
Nobes dan Parker (2004) membedakan antara “harmonisasi” dan “standarisasi”
akuntansi. “harmonisasi” didefinisikan sebagai proses meningkatkan kesesuaian praktik
akuntansi dengan menetapkan batasan tingkat perbedaanya. Standarisasi merupakan
penerapan dari seperangkat aturan yang lebih ketat dan lingkup yang sempit (dari
harmonisasi). Harmonisasi bersifat lebih fleksibel daripada standarisasi, namun kedua istilah
tersebut sering diartikan sama dalam akuntansi internasional.
Nobes dan Parker (2004) menjelaskan bahwa alasan meningkatkan standarisasi
internasional akuntansi keuangan untuk memungkinkan dalam memahami laporan keuangan
secara global dan memiliki dasar memadai untuk membandingkan angka akuntansi keuangan
dari berbagai negara. Agar dapat dimengerti dan diinterpretasi, informasi akuntansi keuangan
dapat lebih efektif ketika semua perkiraan disusun menggunakan asumsi yang mendasari atau
aturan akuntansi yang sama. Apabila investor internasional tunggal harus memahami berbagai
set yang berbeda dari asumsi dan peraturan akuntansi, maka tugas untuk membuat keputusan
investasi internasional yang efisien dan efektif adalah hal yang harus dipertimbangkan.
Jika kebutuhan keuangan jangka panjang dari perusahaan multinasional terlalu besar
bagi penyedia keuangan di satu negara, maka mungkin perlu untuk menaikkan pembiayaan
di bursa efek pada lebih dari satu negara. Untuk alasan perlindungan investor dalam negeri,
regulator bursa di negara manapun cenderung enggan mengizinkan saham perusahaan yang
diperdagangkan di bursa mereka jika perusahaan tersebut tidak menghasilkan akun keuangan
yang mudah dibandingkan dengan semua akun perusahaan lain yang sahamnya
diperdagangkan di bursa yang disusun dengan menggunakan asumsi yang dapat
diperbandingkan (atau aturan). Alasan lebih lanjut untuk standardisasi akuntansi
internasional, menurut Nobes dan Parker (2004) adalah hal itu akan memudahkan fleksibilitas
yang lebih besar dan efisiensi dalam penggunaan staf oleh perusahaan multinasional dari
akuntan dan auditor, karena perbedaan aturan akuntansi di berbagai negara merupakan
penghalang untuk transfer staf antar Negara.
b. Gambaran Umum IASB Dan Aktivitas Globalisasinya
Dalam menggambarkan sejarah IASB, kita mungkin perlu kembali lebih dari lima
puluh tahun yang lalu dan merujuk pada sejarah mantan presiden Lembaga Akuntan
Inggris/Institute of Chartered Accountant of England and Wales (ICAEW), Henry Benson.
Benson terpilih sebagai presiden dari ICAEW pada tahun 1966. Di bulan Februari 1967,
ICAEW bersama Lembaga Akuntan Canada/Canadian Institute of Chartered Accountant
(CICA) dan Lembaga Akuntan Publik America/The American Institute of Certified Public
Accountant (AICPA) mendirikan Kelompok Studi Akuntan Internasional, yang
mempublikasikan makalah tentang topik akuntansi dan secara bertahap mengembangkan
kerangka tersendiri. Ini kemudian menjadi dasar untuk pembentukan Komite Standar
Akuntansi Internasional/International Accounting Standards Committee (IASC) pada tahun
1973, yang kemudian diikuti oleh Lembaga Akuntan dari Australia, Perancis, Jerman, Jepang,
Meksiko, dan Belanda.
Di akhir tahun 1990-an ada perubahan signifikan terhadap IASC dan operasinya.
Yayasan IASC dibentuk dan badan ini melalui kelompok perwakilan ditugaskan melakukan
supervisi terhadap operasi Dewan Standar Akuntansi Internasional/International Accounting
Standards Boards (IASB) yang baru dibentuk dan mulai beroperasi pada tahun 2001. Para
perwakilan dari Yayasan IASC bertanggung jawab atas tata kelola dan pengawasan IASB,
termasuk pendanaan. Namun, Para perwakilan tidak terlibat dalam hal-hal teknis yang
berkaitan dengan standar. Tanggung jawab untuk hal-hal teknis yang terkait dengan standar
akuntansi merupakan tanggung jawab IASB.
Para Perwakilan yayasan IASC juga ditunjuk sebagai anggota IASB, Komite
Internasional Interpretasi Laporan Keuangan/International Financial Reporting
Interpretations Committee (IFRIC) dan Dewan Penasehat Standar/Standards Advisory
Council. Secara singkat IASB, yang anggotanya merangkap IFRIC adalah badan interpretatif
dari yayasan IASC dan mandatnya adalah untuk meninjau isu-isu akuntansi secara tepat
waktu, yang saat ini telah muncul dalam konteks Standar Pelaporan Keuangan
Internasional/International Financial Reporting Standards (IFRS).
c. Aturan Amerika Serikat Dalam Standarisasi Akuntansi Keuangan Internasional
Satu pengecualian untuk adopsi global IFRS adalah Amerika Serikat. Sebelum
mempertimbangkan posisi AS dalam standarisasi global, penting untuk mempertimbangkan
secara singkat dua badan utama yang bertanggung jawab untuk regulasi akuntansi di AS.
Komisi Sekuritas dan Pertukaran/Securities and Exchange Commission(SEC), dan Dewan
Standar Akuntansi Keuangan/Financial Accounting Standard Board (FASB). Selama
beberapa dekade profesi akuntansi Amerika mengembangkan berbagai dokumen yang
dikenal sebagai “Prinsip Akuntansi Yang Berlaku Umum/Generally Accepted Accounting
Principles (GAAP)”. Pada tahun 1973 SEC dipercayakan tugas untuk mengembangkan
standar akuntansi untuk Dewan Standar Akuntansi Keuangan/Financial Accounting
Standards Board (FASB) yang baru dibentuk. FASB adalah lembaga swasta yang dibentuk
untuk bertindak dalam “kepentingan umum”. Ketika FASB ditetapkan sebagai lembaga
independen, SEC memiliki kuasa untuk mengesampingkan standar akuntansi yang
dikeluarkan oleh FASB.
Di AS ketergantungan masih ditempatkan pada standar akuntansi yang dikeluarkan
oleh FASB bukan pada standar yang dikeluarkan oleh IASB, tidak seperti banyak negara lain
AS belum mengadopsi IFRS. Mengingat bahwa AS merupakan pasar modal utama di dunia,
non keterlibatannya merupakan pembatasan yang signifikan dalam penerimaan global IFRS.
AS sangat kuat bertekad untuk tidak mengadopsi IFRS. Namun, ketetapan ini tampaknya
berkurang sekitar tahun 2001-2002 dengan berbagai “skandal akuntansi” yang melibatkan
organisasi seperti Enron. Ada hambatan di AS sehubungan dengan adopsi IFRS oleh
organisasi yang berbasis di AS. Meskipun ada pandangan bahwa IFRS akhirnya akan
diadopsi, adopsi mungkin bisa diterapkan beberapa tahun lagi.
d. Penjelasan dari Perbedaan Dalam Akuntansi
Standarisasi akuntansi oleh banyak negara yang berbeda, dengan mekanisme yang
berbeda, bentuk pasar modal yang berbeda, budaya yang berbeda dan sebagainya, mungkin
dianggap mengarah pada standardisasi praktik akuntansi. Tentu ini menjadi asumsi utama dari
IASB. Ada berbagai alasan mengapa perbedaan internasional akan terus bertahan setelah
diperkenalkannya IFRS :
1. Perbedaan sistem perpajakan
2. Perbedaan pengaruh ekonomi dan politik pada pelaporan keuangan
3. Modifikasi IFRS pada tingkat nasional
4. Perbedaan dalam pelaksanaan, pengawasan dan penegakan hukum
Banyak alasan yang menyebabkan perbedaan metode akuntansi dari berbagai negara.
Mueller (1968) menunjukkan bahwa perbedaan tersebut mungkin disebabkan oleh perbedaan
dalam hukum yang mendasari negara, sistem politik, atau tingkat perkembangan ekonomi
suatu negara. Faktor lain seperti sistem pajak, tingkat pendidikan dan tingkat pembangunan
ekonomi juga sebagai penjelasan atas perbedaan dalam sejarah praktek akuntansi. Saat ini
tidak ada teori yang menjelaskan mengapa, karena tidak adanya upaya untuk membakukan
akuntansi, kita akan berharap untuk menemukan perbedaan internasional dalam praktik
akuntansi. Hal-hal yang menjadi penyebab perbedaan tersebut antara lain:
1. Budaya
Budaya adalah suatu konsep umum yang akan diharapkan berdampak kepada sistem
hukum, sistem pajak, cara bisnis dibentuk dan dibiayai, dan sebagainya. Selama bertahun-
tahun budaya telah ada dalam psikologi, antropologi dan sosiologi sastra sebagai dasar untuk
menjelaskan perbedaan sistem sosial (Hofstede, 1980). Akhir-akhir ini dekade itu telah
digunakan untuk menjelaskan perbedaan sistem akuntansi internasional. Violet (1983)
berpendapat bahwa akuntansi adalah “aktivitas sosioteknis” yang melibatkan interaksi antara
sumber daya manusia dan non-manusia. Karena keduanya berinteraksi, Violet mengklaim
bahwa akuntansi tidak dapat dianggap budaya bebas. Berkaitan dengan budaya akuntansi,
Violet (1983, p.8) mengklaim bahwa: akuntansi adalah lembaga sosial yang didirikan oleh
sebagian budaya untuk melaporkan dan menjelaskan fenomena sosial tertentu yang terjadi di
dalam transaksi ekonomi.
Takatera dan Yamamoto (1987) mendefinisikan budaya sebagai wujud norma, nilai-
nilai dan adat yang mencerminkan ciri perilaku yang khas. Hofstede (1980) mendefinisikan
budaya sebagai pemikiran yang membedakan anggota satu kelompok manusia dari yang lain.
Gray (1988) menggambarkan budaya sebagai sistem nilai-nilai sosial atau kolektif
diselenggarakan dan bukan nilai-nilai pada tingkat individu. Gray berpendapat bahwa
kerangka metodologi penggabungan budaya dapat digunakan untuk menjelaskan dan
memprediksi perbedaan internasional dalam sistem dan pola pengembangan akuntansi
internasional. Setiap pertimbangan budaya tentu membutuhkan pilihan yang sulit untuk aspek
budaya yang penting bagi masalah tersebut yang pada gilirannya bagaimana seseorang dapat
mengukur sifat budaya yang relevan.
2. Agama
Hamid, Craig, dan Clarke (1993) menganggap salah satu unsur budaya yaitu agama
berpengaruh dalam praktek akuntansi. Mereka menunjukkan, agama mengatasi batas-batas
nasional. Budaya yang ada di berbagai negara Islam tercermin pada bagaimana isu-isu agama
dibahas dalam literatur akuntansi. Hamid, Craig, dan Clarke menunjukkan bahwa Islam
memang memiliki pengertian tentang kepatuhan kepada Tuhan dan bukan untuk kepentingan
pemilik ekuitas atau pemberi pinjaman. Orang muslim percaya bahwa mereka memiliki aset
bukan untuk diri mereka sendiri tetapi untuk kepentingan ibadah kepada Tuhan. Ada juga
perbedaan mendasar lainnya, misalnya Islam melarang pembiayaan utang dan pembayaran
bunga, dan larangan ini memiliki implikasi yang signifikan bagi proses harmonisasi standar
akuntansi internasional. Hamid, Craig, dan Clarke memberikan argumen yang logis bahwa
agama memiliki dampak besar pada sistem akuntansi yang dipilih. Agama berpotensi dapat
mempengaruhi bagaimana orang melakukan bisnis dan bagaimana mereka membuat
Keputusan.
3. Sistem Hukum
Faktor institusional pertama yang akan diuji adalah sistem hukum yang beroperasi
dalam suatu Negara. Hal ini dapat dibedakan menjadi dua kategori: Hukum umum dan Sistem
Hukum Romawi. Dalam sistem hukum umum berdasarkan sudut pandang ketentuan
perundang-undangan. Setiap keputusan hukum kemudian menjadi contoh praktik hukum
untuk kasus di masa yang akan datang. Sistem hukum umum berasal dari Inggris dan
menyebar ke negara-negara bekas koloninya. Dalam sistem hukum Romawi, hukum
parlementer cenderung sangat rinci dan mencakup sebagian besar aspek kehidupan sehari-
hari. Implikasinya terhadap akuntansi adalah bahwa dalam negara yang menganut sistem
hukum umum ditemukan relatif sedikit undang-undang akuntansi yang mengatur praktik
akuntansi, dan oleh karena itu secara historis perkembangan praktik akuntansi akan
ditinggalkan lebih pada penilaian akuntan dan auditor profesional. Dengan sistem hukum
romawi sebaliknya kita akan mengharapkan untuk menemukan badan hukum akuntansi yang
menetapkan secara rinci bagaimana masing-masing jenis transaksi atau peristiwa
diperlakukan. Dalam sistem tersebut membutuhkan penggunaan pertimbangan profesional
yang lebih sedikit dalam mempersiapkan atau mengembangkan praktik akuntansi.
Nobes dan Parker (2004) menjelaskan sistem hukum umum dikembangkan di Inggris,
sedangkan sistem hukum Romawi dikembangkan di negara-negara benua Eropa. Negara-
negara dimana pengembangan sistem hukum yang praktek sangat dipengaruhi oleh Inggris
cenderung memiliki sistem hukum umum. Sebaliknya sebagian besar negara benua Eropa,
dan negara yang sistem hukumnya di bawah pengaruh negara-negara tersebut, cenderung
memiliki sistem hukum Romawi.
4. Kepemilikan Bisnis Dan Sistem Pembiayaan
Faktor institusi utama yang didemonstrasikan dampak bentuk praktek akuntansi suatu
negara adalah kepemilikan bisnis dan sistem pembiayaan. Mirip dengan sistem hukum, faktor
ini secara luas dapat dibagi menjadi dua jenis yang berbeda, yaitu insider dan outsider. Dalam
sistem outsider, pemegang saham eksternal (yaitu, mereka yang tidak terlibat dalam
manajemen perusahaan) adalah sumber signifikan pembiayaan untuk kegiatan usaha.
Pemegang saham eksternal ini tidak akan terlibat dalam pengelolaan rinci perusahaan, dan
karena itu tidak akan memiliki akses informasi akuntansi manajemen perusahaan secara rinci,
sehingga mereka perlu diberikan informasi akuntansi keuangan yang terpisah untuk
membantu mereka membuat keputusan investasi. Mereka mungkin berinvestasi saham di
beberapa perusahaan, dan memerlukan dasar untuk mengevaluasi kinerja dari setiap
perusahaan-misalnya dengan membandingkannya dengan kinerja perusahaan lain. Untuk
membantu memastikan keefektifan dan efisien alokasi pendanaan untuk perusahaan yang
berbeda dengan tipe pembiayaan yang sama yaitu outsider, penting bagi investor eksternal
(dan calon investor) untuk diberikan informasi akuntansi keuangan yang mencerminkan
kinerja ekonomi yang mendasari bisnis secara adil, seimbang dan tidak bias. Dengan
demikian, mengingat pentingnya keuangan yang berasal dari outsider, akuntansi keuangan
akan mengembangkan informasi historis dengan tujuan utama menyediakan informasi yang
adil, seimbang, dan objektif (tidak bias) kepada para pemegang saham eksternal - "sebuah
proses yang membutuhkan pertimbangan lebih luas mengenai pertimbangan profesional
(Nobes, 1998), misalnya untuk menangani perkembangan reguler atau inovasi dalam praktek
bisnis yang tidak dapat secara mudah diramalkan saat menulis kode akuntansi atau
undang-undang.
Sebaliknya, sistem pendanaan yang berasal dari insider, penyediaan pendanaan
oleh pemegang saham eksternal jauh kurang signifikan. Meskipun tidak ada dominasi
perusahaan atau bisnis keluarga, atau penyedia dominan untuk pendanaan keuangan
jangka panjang, baik bank atau pemerintah (Zysman, 1983). Dengan bisnis milik keluarga,
pemilik cenderung memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen internal secara rinci
dari bisnis, sehingga tidak ada kebutuhan terhadap akun-akun keuangan untuk memberikan
informasi, membantu pengambilan keputusan investasi oleh pemegang saham.
Nobes dan Parker (2004) menjelaskan bahwa dalam sistem di mana pemerintah
menyediakan sejumlah besar pembiayaan bisnis jangka panjang, perwakilan pemerintah
seringkali akan menjadi direktur dari perusahaan yang didanai negara, dan dengan
demikian akan memiliki akses ke dalam informasi manajemen. Dengan demikian,
karakteristik pendanaan pada semua negara di mana sistem pendanaan insider mendominasi,
yaitu peran utama akuntansi secara historis tidak memberikan informasi yang adil, seimbang
dan tidak bias (objektif) dalam rangka membantu investor luar membuat keputusan
investasi yang efisien dan efektif. Jadi, akuntansi keuangan di beberapa negara telah
dikembangkan untuk memenuhi perbedaan peran dari negara yang pendanaannya
menggunakan sistem outsider. Salah satu peran, yang akan dibahas dalam bagian
berikutnya, adalah penyediaan informasi untuk menghitung kewajiban pajak.
5. Sistem Perpajakan
Di negara-negara dengan sistem outsider finance, praktik akuntansi keuangan
dikembangkan untuk memberikan gambaran yang adil, seimbang dan objektif tentang
kinerja ekonomi yang mendasari bisnis untuk membantu meningkatkan efektivitas keputusan
alokasi investasi oleh pemegang saham eksternal. Sistem tersebut mengharuskan akuntansi
mencerminkan semacam realitas ekonomi, misalnya bisnis memilih metode penyusutan yang
paling dekat mencerminkan cara yang menggunakan aset tetap. Sebaliknya di negara yang
mayoritas menggunakan sistem insider finance, laporan keuangan yang telah dikembangkan
untuk menggambarkan beberapa bentuk realitas ekonomi yang mendasari ini tidak disajikan.
Meskipun laporan keuangan telah dikembangkan untuk tujuan yang berbeda, dan satu tujuan
penting adalah perhitungan pajak.
Di sebagian besar negara-negara benua eropa yang secara tradisional bergantung
pada sistem insider finance, bagi perusahaan tunjangan pajak ini harus dimasukkan dalam
laporan keuangannya. Misalnya jika perusahaan ingin mengurangi kewajiban pajaknya
dengan mengambil keuntungan maksimum yang diijinkan dari tunjangan penyusutan pajak,
itu harus menyertakan tunjangan penyusutan pajak dalam laporan keuangannya. Di negara-
negara dengan sistem outsider finance, rekening pajak secara historis telah terpisah dari
rekening keuangan. Sehingga jika sebuah perusahaan ingin mengklaim tunjangan
penyusutan pajak maksimum yang diizinkan oleh hukum perpajakan tidak akan
mempengaruhi perhitungan keuntungan yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Sehingga
dapat mencerminkan biaya penyusutan yang dan pemanfaatan aset yang wajar tanpa
mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mengklaim tunjangan penyusutan pajak
maksimum dalam rekening pajak, dan ketentuan hukum perpajakan belum memberikan
banyak pengaruh terhadap laporan keuangan.
6. Kekuatan Profesi Akuntansi
Nobes dan Parker (2004) menjelaskan bahwa kekuatan profesi akuntansi di negara
manapun secara historis keduanya ditentukan oleh, dan dibantu untuk memperkuat, pengaruh
pada sistem pendanaan akuntansi yang berasal dari faktor kelembagaan yang telah kita bahas
di atas. Dalam sebuah negara hukum umum yang didominasi oleh sistem outsider untuk
pendanaan jangka panjang, yang dimana undang-undang pajak memiliki sedikit pengaruh
pada akuntansi keuangan, sehingga relatif sedikit hukum perundang-undangan yang
menentukan isi rekening. Tujuan utama dari rekening tersebut memberikan representasi
yang adil, seimbang dan objektif tentang kinerja ekonomi yang mendasari bisnis tersebut,
dan ini diperlukan pertimbangan profesional untuk mengatasi setiap situasi yang berbeda.
Dengan demikian, di negara-negara ini, secara historis akan ada permintaan untuk sejumlah
besar akuntan yang mampu menerapkan pertimbangan profesional untuk menentukan cara
yang paling cocok yang mencerminkan set unik dari transaksi dan peristiwa dalam laporan
akuntansi keuangan pada banyak perusahaan. Kebutuhan akan akuntan yang mampu, dan
memiliki ruang lingkup untuk melakukan penilaian profesional telah menyebabkan
perkembangan profesi akuntansi semakin besar dan kuat di negara-negara seperti Inggris,
Irlandia, Amerika Serikat dan Australia.
Profesi akuntansi yang kuat telah efektif dalam melobi pemerintah untuk
memastikan bahwa sistem regulasi akuntansi memberikan ruang bagi pelaksanaan judgement
profesional, sehingga dapat kekuatan dan pengaruh profesi akuntansi. Sebaliknya, dalam
hukum Romawi negara yang memiliki sebagian besar sistem pendanaan insider dan
hukum pajak memberikan pengaruh besar pada bentuk rekening keuangan, akan lebih
sedikit kebutuhan atau ruang untuk penggunaan pertimbangan profesional ketika menyusun
pernyataan akuntansi keuangan. Oleh karena itu terdapat jauh lebih sedikit dorongan untuk
pengembangan profesi akuntansi daripada di sistem hukum umum. Profesi akuntansi di
beberapa Negara continental Eropa menjadi semakin kecil dan lemah; (karena) daripada
rekan-rekan mereka di Inggris, Irlandia atau Amerika Serikat. Nobes dan Parker (2004)
menyatakan bahwa profesi akuntansi yang semakin lemah ini memiliki dampak dalam
memperkuat praktik akuntansi yang membutuhkan sedikit latihan pertimbangan
profesional di negara-negara ini, karena pelaksanaan yang efektif dari praktik akuntansi
membutuhkan profesi akuntansi dalam jumlah yang besar, yang nyaman dengan (dan
memiliki pengalaman yang cukup) menerapkan penilaian profesional untuk masalah
akuntansi yang kompleks.
7. Riwayat Bencana
Nobes dan Parker (2004) menunjukkan pentingnya faktor tambahan kecelakaan
sejarah, yang pengaruhnya terbatas pada sistem akuntansi dari masing-masing negara yang
terkena dampak kecelakaan. Misalnya, mengikuti Kecelakaan Wall Street tahun 1929, AS
membuat undang-undang pasar modal ditujukan perlindungan investor, sementara tidak
ada pembuatan undang-undang tersebut pada saat itu di Inggris. Undang-undang ini termasuk
persyaratan akuntansi tertentu, yang diperuntukkan pada akuntansi sektor swasta, dan yang
telah dihasilkan secara rinci oleh aturan akuntansi AS.
e. Kendala Harmonisasi Dan Standarisasi Akuntansi
Salah satu kendala utama untuk harmonisasi internasional atau standardisasi adalah
perbedaan budaya dan kelembagaan yang disebabkan karena akuntansi keuangan bervariasi
di masing-masing negara. Seperti dikatakan sebelumnya, jika faktor-faktor penyebab terus
bervariasi antara negara, maka sulit untuk melihat bagaimana satu set aturan akuntansi akan
sesuai atau cocok untuk semua negara. Artinya, variasi akuntansi antara negara yang berbeda
untuk alasan yang baik, rintangan utama standarisasi internasional adalah kenyataan bahwa
alasan-alasan yang baik terus eksis. Sebagai contoh kendala untuk harmonisasi, Perera (1989,
p.52) menganggap potensi keberhasilan mentransfer keterampilan akuntansi dari negara
Anglo-Amerika ke negara-negara berkembang. Dia mencatat: Keterampilan yang ditransfer
dari negara-negara Anglo-Amerika mungkin tidak diterapkan karena mereka secara budaya
tidak relevan atau disfungsional dalam konteks negara-negara penerima. Perera (1989) juga
berpendapat bahwa standar akuntansi internasional sendiri sangat dipengaruhi oleh model
akuntansi Anglo-Amerika dan, dengan demikian, standar-standar internasional cenderung
mencerminkan keadaan dan pola pikir dalam kelompok tertentu suatu negara. Dia
berpendapat bahwa standar-standar ini cenderung mengalami masalah relevansi di negara-
negara di mana lingkungan yang berbeda ditemukan di negara-negara Anglo-Amerika. Jadi,
misalnya, jika sebagian besar perusahaan Jerman terus bergantung pada sistem pendanaan
insider, dan Jerman terus menggunakan sistem hukum Romawi, maka peraturan akuntansi
yang dikodifikasikan mungkin akan lebih tepat untuk sebagian besar perusahaan Jerman
daripada pengenaan bentuk sistem akuntansi Anglo-Amerika. Nobes dan Parker (2004)
menunjukkan bahwa dalam keadaan seperti itu, mungkin akan lebih tepat untuk memiliki
sistem ganda, di mana semua perusahaan di masing-masing negara diminta untuk
mempersiapkan akun keuangan sesuai dengan sistem domestik yang dikembangkan, dan
perusahaan: yang meningkatkan dana melalui internasional dapat mempersiapkan paket
tambahan akun (mungkin hanya rekening konsolidasi atau kelompok) sesuai dengan aturan
akuntansi internasional gaya Anglo-Amerika. Sebuah kendala lebih lanjut untuk harmonisasi
telah dijelaskan oleh Nobes dan Parker (2004) sebagai kurangnya profesi akuntansi yang
dikembangkan di beberapa negara. Dengan demikian, seperti yang dibahas sebelumnya, di
negara-negara di mana profesi akuntansi yang kuat belum dikembangkan ada kemungkinan
ada masalah awal dalam melaksanakan peraturan akuntansi internasional yang didasarkan
pada pertimbangan profesional model Anglo-Amerika. Selain itu, beberapa negara mungkin
memiliki kesulitan nasionalistik dalam melaksanakan sistem standar akuntansi internasional
yang dianggap berkaitan erat dengan sistem Anglo-Amerika.
Sebuah potensi kendala akhir yang signifikan untuk standarisasi internasional adalah
bahwa peraturan akuntansi dapat dan memiliki konsekuensi ekonomi (Nobes dan Parker,
2004). Pemerintah dari masing-masing negara mungkin tidak mau memberikan kontrol atas
proses yang memiliki konsekuensi ekonomi nyata untuk sebuah badan internasional di mana
mereka memiliki pengaruh kecil. Kita melihat bagaimana hal ini dapat berdampak pada proses
standarisasi internasional, ketika kita meneliti kesulitan yang baru-baru ini yang telah
mengalami penolakan oleh beberapa negara Uni Eropa untuk sepenuhnya mendukung
ketentuan revisi IAS 39, karena dampak negatif ketentuan ekonomi ini mungkin pada bank-
bank di negara-negara mereka.

DAFTAR PUSTAKA
Deegan, C. (2004). Financial Accounting Theory. McGraw-Hill, Australia.
Gaffikin, M. (2008). Accounting Theory: Research, Regulation and Accounting Practice.
Pearson Education. Australia.