Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI

FOSIL JEJAK

Disusun Oleh :

Nama : Irene Austin Agape Berhitu


Nim : 410018056

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


DEPARTEMEN TEKNIK
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA
2019
Fosil Jejak

 Pengertian

Fosil adalah bukti-bukti yang didapatkan dari kehidupan pra- sejarah. Batasan
masa pra-sejarah lebih dari enam juta tahun yang lalu. Menurut definisi tersebut, maka
yangdimaksud dengan fosil adalah meliputi segala macam bukti, baik yang bersifat
langsung maupun tak langsung. Contoh bukti langsung dari kehidupan prasejarah adalah
tulang dinosaurus, sedangkan bukti tak langsung adalah jejak tapak kaki bewail yang
terawetkandalam lumpur, dan koprolit (material faeces).

 Jenis Fosil:
 Organisme itu sendiri Tipe pertama ini adalah binatangnya itu sendiri yang
terawetkan/tersimpan. Dapat beruba tulangnya, daun-nya, cangkangnya, dan hampir
semua yang tersimpan ini adalah bagian dari tubuhnya yang keras´. Dapat juga berupa
binatangnya yang secara lengkap(utuh) tersipan. Misalnya fosil Mammoth yang
terawetkan karena es, ataupun serangga yangterjebak dalam amber (getah
tumbuhan).Petrified wood atau fosil kayu dan juga mammoths yang terbekukan, and juga
mungkin anda pernah lihat dalam filem berupa binatang serangga yang tersimpan dalam
amber atau getah tumbuhan. Semua ini biasa saja berupa asli binatang yang tersimpan.
 Sisa-sisa aktifitasnya Secara mudah pembentukan fosil ini dapat melalui beberapa jalan,
antara lain seperti yang terlihat dibawah ini. Fosil sisa aktifitasnya sering juga disebut
dengan Trace Fossil (fosil jejak), karena yang terlihat hanyalah sisa-sisa aktifitasnya. Jadi
ada kemungkinan fosil itu bukan bagian dari tubuh binatang atau tumbuhan itu sendiri.
Penyimpanan atau pengawetan fosil cangkang ini dapat berupa cetakan. Namun cetakan
tersebut dapat pula berupa cetakan bagian dalam (Internal mold) dicirikan bentuk
permukaan yang halus, atau External mold dengan ciri permukaan yang kasar. Keduanya
bukan binatangnya yang tersiman, tetapi hanyalah cetakan dari binatang atau organisme
itu.
 Klasifikasi Fosil Jejak

Klasifikasi dalam fosil jejak dapat didasrkan pada 4 hal yaitu :

1. Klasifikasi Taksonomi
Klasifikasi taksonomi fosil jejak sejajar dengan klasifikasi organisme di bawah
international code of zoological nomenclature. Dalam jejak fosil tata-nama binomial
bahasa latin digunakan, seperti pada hewan dan tumbuhan taksonomi dengan julukan
genus dan spesies. Ketika berbicara tentang fosil genus disebut ichnogenus dan
spesies adalah ichnospesies. Ichno prefix yang berasal dari bahasa yunani yang berarti
“jejak”. Nama ini juga dicetak miring dan referensi lengkap penulis ditambah tahun
publikasi harus dikutip “ichnogenus” dan “ichnospecies” yang biasanya disingkat
sebagai “igen” dan ”isp”

2. Model pengawetan
Beberpa peneliti telah memberikan berbagai usulan mengenai kategori dan pengertian
dari aspek-aspek model pengawetan. Salah satunya adalah Seilacher (1964 )
membedakan bentukan-bentukan fosil-fosil jejak berdasarkan posisi stratum. Dalam
klasifikasi ini dihasilkan kelompok-kelompok full relief, semirelief dan hyporelief..

Gambar 1. Klaifikasi Fosil Jejak berdasarkan model pengawetan (Seilacher, 1967 diambil dari
Ekdale, 1984)
3. Pola Hidup / klasifikasi ethologi
Sejak diketemukan hubungan antara fosil jejak dengan perilaku organism, maka salah
satu tujuan mempelajari fosil jejak adalah mengenali perilaku dari organisme yang
sudah mati. Perilaku-perilaku tersebut dapat tercermin pada struktur sedimen dan
dapat dibedakan dalam beberapa jenis perilaku. Seilacher mengelompokan jenis-jenis
perilaku menjadi :
 Domichnia, merupakan jejak-jejak tempat tinggal dari suatu organism.
 Repichnia, merupakan jejak yang dibentuk oleh pergerakan organisme termasuk
berlari, merayap, berjalan. Bentuk dapat memotong perlapisan, sejajar, berkelok
atau berpola tidak beraturan.
 Cubichnia, merupakan jejak yang dibentuk pada saat organism istirahat selama
beberapa waktu. Contoh : bintang laut, tetapi mungkin juga bukti tempat
persembunyian mangsa atau bahkan posisi penyergapan mangsa
 Fodinichnia, jejak yang terbentuk pada infaunal deposit feeders. Merupakan
kombinasi tempat tinggal sementara dengan pencarian makanan.
 Pascichnia, jejak yang terbentuk dari kombinasi antara mencari makan dan
berpindah tempat.
 Fugichnia, merupakan jejak yang terbentuk dari aktivitas melepaskan diri dari
kejaran organism pemangsa.
 Agrichnia, jejak yang berbentuk tidak teratur, belum dapat ditentukan jenis
aktivitasnya.

Gambar 2. Klasifikasi Fosil Jejak berdasarkan perilaku organisme (Seilacher, 1967 diambil
dari Ekdale, 1984)
4. Lingkungan Masa Lampau
Pengendapan Kegunaan utama dari studi fosil jejak adalah sebagai penentu
lingkungan masa lampau. Seilacher (1967) memperkenalkan konsep Ichnofasies yaitu
hubungan antara lingkungan pengendapan dengan kemunculan fosil-fosil atau
kumpulan dari ichnofossil yang mencirikan lingkungan tertentu. penggolongan
ichnofosil melalui ichnofasiesnya, suatu lingkungan pengendapan dapat ditemukan
dengan secara mendetail melalui dari lapisan batuan mana fosil tersebut ditemukan.
Konsep ini kemudian lebih dikembangkan lagi oleh Pemberton, dkk (1984)
Berdasarkan lingkungannya, Fosil jejak dikelompokkan ke dalam lima Ichnofasies.
Kelima fasies tersebut pembentukannya bukan hanya dikontrol oleh batimetri dan
salinitas saja, namun juga dikontrol oleh bentuk permukaan dan jenis lapisan
batuannya.
Pada umumnya Ichnofasies terbentuk pada substrat yang lunak, namun ada
beberapa yang terbentuk pada substrat yang keras. Kelima fasies tersebut adalah :
 Scoyenia Ichnofasies, terbentuk pada lingkungan darat ataupun air tawar.
Beberapa genus yang masuk dalam fasies ini antara lain :Scoyenia, Planolites,
Isopdhichnus dan beberapa yang lainnya.
 Skolithos Ichnofasies, terbentuk pada daerah intertidal dengan substrat berupa
pasir dengan fluktuasi air tinggi. Lingkungan khas dari skolithos adalah garis
pantai berpasir, tapi mungkin ke arah laut dalam dan dangkal. Didominasi oleh
fosil jejak jenis vertical/liang vertical, dan berbentuk U dengan sedikit bentuk
horizontal. oraganisme dalam lingkungan ini membangun liang yang dalam untuk
melindungi diri terhadap pengeringan atau suhu yang tidak menguntungkan dan
perubahan salinitas pasa saat air surut, sebagai sarana untuk ,melarikan diri dari
pergeseran permukaan. Beberapa genus yang masuk kelompok ini antara lain :
Skolthos, Diplocraterion, Thallasinoides danOphiomorpha.
 Cruziana Ichnofasies, terbentuk pada laut dangkal dengan permukaan air laut
surut dan lebih dalam dari skolithos ichofesies. Sangat dipengaruhi oleh
gelombang. Hampir semua bentuk baik vertical maupun horizontal dapat
terbentuk. Beberapa genus yang termasuk kelompok ini antara lain :Rusophycus,
Cruziana dan Rhizocorallium
 Zoophycos Ichnofasies, terbentuk pada lingkungan laut bathyal, tidak dipengaruh
oleh pengaruh gelombang. Terdapat di lingkungan air tenang dengan kadar
oksigen cukup rendah dan dasar berlumpur tetapi dapat terjadi di substrat lain.
Hal ini ditandai dari jejak yang sederhana hingga kompleks. Biasanya didominasi
oleh jenis horizontal. Genus yang masuk dalam fasies ini antara lain : Zoophycos.
 Nereites Ichnofasies, terbentuk pada lingkungan laut abyssal. Biasanya terbentuk
padas ubstrat lempung daripada distal turbidity beds. Tingkat keragaman jumlah
jejaknya tinggi, tapi kelimpahan jejak individunya rendah. Genus yang masuk
dalam kelompok ini antara lain : Nereites dan Scalarituba.
 Psilonichnus Ichnofasies, merupakan jenis ichnofasies yang terbentuk di daerah
non marine dan di daerah yang sangat dangkal. Jejak ini sering ditandai dengan
dengan jejak yang berbentuk Y atau U, berporos vertical dengan terowongan
horizontal. Contohnya trek dan jejak serangga, reptile, mamalia, dan burung

Gambar 3. Hubungan antara Fasies fosil jejak dengan lingkungannya (Collinson dan
Thompson, 1984)
Daftar Pustaka

 Fitriyani, D 2016, Fosil Jejak ( diakses 14 November 2019, pukul 19:12


WIB )
 Kusumo, H 2016, Jejak Sisa Kehidupan Masa Lalu ( diakses 14 November
2019, pukul 19:25 WIB )
 Marcel, M 2014, Pengenalan Fosil ( diakses 14 November 2019, pukul
19:38 WIB )