Anda di halaman 1dari 28

1

Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan

Kata Pengantar
Alhamdulillah, senantiasa kita ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT

yang hingga saat ini masih memberikan kita nikmat iman dan kesehatan, sehingga

saya diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas penulisan makalah tentang

“Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan”.

Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita sampaikan kepada junjungan nabi

besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjukan dari-

Nya.

Adapun penulisan makalah ini merupakan bentuk dari pemenuhan beberapa

tugas Sejarah Indonesia. Pada makalah ini akan dibahas mengenai pengertian

sumpah pemuda, prinsip sumpah pemuda, jenis-jenis cara nasionalis, serta macam-

macam nilai yang terkandung di dalamnya.

Kami ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada setiap pihak

yang telah mendukung serta membantu kami selama proses penyelesaian makalah

ini hingga terbentuknya makalah ini. Kami juga berharap semoga makalah ini dapat

memberikan manfaat bagi setiap pembaca.

Palembang, 20 Januari 2018


Kelompok 2, XI MIPA 6
2
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan

Daftar Isi

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………... 1
Daftar Isi………………………………………………………………………………………...... 2

BAB 1 : Pendahuluan…………………………………………………………………………….. 3
A. Latar Belakang…………………………………………………………………....... 3
B. Tujuan Pembelajaran………………………………………………………………. 7
C. Rumusan Masalah…………………………………………………………………. 7
BAB 2 : Pembahasan……………………………………………………………………………... 8
A. Definisi Politik Etis……………………………………………………………… 8
B. Dampak Politik Etis bagi Indonesia………………..……………………………… 5
C. Bangkitnya Jiwa Nasionalisme…….……………………………………………… 11
D. Pengertian Sumpah Pemuda….………………………………………………….... 14
E. Kongres Pemuda……...………………………………………………………….... 14
F. Makna Sumpah Pemuda…………………………………………………………... 20
G. Penguatan Jati Diri Keindonesiaan………………………………………………... 26
BAB 3 : Penutup………………………………………………………………………………….. 27
A. Kesimpulan……………………………………………………………………….... 27
B. Saran……………………………………………………………………………….. 27

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………………. 28
3
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada 1908, ditandai dengan berdirinya Budi Utomo yang diprakarsai oleh Dr. Sutomo, Dr.

Cipto Mangunkusumo, dan EFE. Douwes Dekker, bangsa Indonesia mulai bangkit. Tujuan mulia

pendirian organisasi ini adalah membangun kehidupan bangsa yang lebih baik, memajukan bidang

pendidikan, pertanian, peternakan dan kebudayaan. Masa penjajahan sudah menenggelamkan

semua bidang tersebut. Sudah saatnya bangsa Indonesia bangkit dan merebut kemerdekaan untuk

menjadi bangsa yang besar.

Perkembangan Budi Utomo cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan munculnya organisasi-

organisasi kepemudaan seperti Tri Koro Darmo (Jong Java), Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon,

Jong Betawi, Jong Minahasa, Sekar Rukun, dan Pemuda Timor. Pemuda-pemuda di daerah sangat

bersemangat untuk berjuang tetapi tidak memiliki rasa ingin bersatu. Inilah yang membuat cita-

cita untuk merdeka semakin sulit diwujudkan.

Organisasi-organisasi inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda. Salah satu

organisasi pemuda yang paling gencar mengumandangkan persatuan bangsa adalah Perhimpunan

Indonesia (PI). PI adalah organisasi pemuda yang terdiri atas pemuda-pemuda Indonesia dari

berbagai suku bangsa yang sedang menimba ilmu di negeri Belanda. Pada saat itu, sudah tidak ada

lagi rasa kesukuan dan kedaerahan di antara mereka.


4
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
Para pemuda sudah sadar bahwa sifat kedaerahan akan menghambat cita-cita mereka. Sifat

ketergantungan dengan pemimpin juga menjadi kendala tersendeiri dalam meraih kemerdekaan.

Inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya kongres pemuda yang merumuskan Sumpah

Pemuda.

Dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan antarorganisasi kepemudaan yang sudah

ada, maka dimulailah pertemuan-pertemuan untuk menemukan kata mufakat sejak 1920an.

Sayangnya, karena perbedaan landasan, organisasi-organisasi tersebut belum menemukan titik

temu.

Kemudian pada 15 November 1925, diadakanlah kongres pemuda untuk membentuk panitia

pelaksanaan kesepakatan bersama. Pada 30 April 1926 organisasi-organisasi pemuda berkumpul

dan melaksanakan rapat massal yang dikenal dengan nama Kongres Pemuda I.

Kongres inilah yang merupakan titik awal bersatunya para pemuda Indonesia untuk mencapai

kemerdekaan. Kongres ini berhasil merumuskan dasar-dasar pemikiran bersama, yaitu:

1. Kemerdekaan Indonesia dari penjajahan merupakan cita-cita bersama seluruh pemuda di

Indonesia.

2. Seluruh organisasi kepemudaan bertujuan untuk menggalang persatuan.

Ide menyelenggarakan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Indonesia

(PPPI), sebuah organisasi persatuan pelajar seluruh Indonesia. PPPI berinisiatif untuk mengadakan

rapat di tiga gedung yang berbeda yang terbagi dalam tiga kali rapat. Rapat diadakan pada 26-28

Oktober 1928 di Jakarta.


5
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
Kemudian, pada 26 sampai 28 Oktober 1928, semua perkumpulan pemuda, mahasiswa, dan

partai politik menghadiri Kongres Pemuda II. Kongres ini berlangsung selama 3 hari, agenda

pertemuan ini adalah mempersatukan dan mengobarkan semangat perjuangan dalam diri masing

masing peserta.

Sayang, sempat terjadi insiden dalam kongres ini, polisi Belanda menegur pemimpin rapat

untuk tidak menyebut-nyebut tentang kemerdekaan Indonesia. Kebebasan para pemimpin ini

serasa dibatasi dan cita-cita untuk merdeka dipersulit. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya

dipejara dan diasingkan ke daerah terpencil. Kebencian terhadap penjajah pun kian besar karena

insiden ini.

Semakin dikekang, pemuda Indonesia justru semakin kuat melawan berbagai bentuk

penjajahan dan kolonialisme. Keinginan untuk merdeka juga semakin kuat karena hanya dengan

mencapai kemerdekaanlah para pemuda bisa bebas dari segala bentuk penjajahan.

Para pemuda memperjuangkan hak-hak anak yang harus mendapatkan pendidikan kebangsaan.

Selain itu pentingnya keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah juga patut

diperjuangakan. Perlu diketahui bahwa pada masa penjajahan, pendidikan sangat terbatas pada

orang-orang yang berpenghasilan lebih. Anak para pejabat akan mendapatkan pendidikan yang

layak. Disisi lain, anak-anak yang oran tuanya miskin tidak mendapatkan pendidikan. Inilah yang

membuat bangsa Indonesia dimasa penjajahan sulit berkembang.

Pada 28 Oktober 1928, hari ketiga Kongres Pemuda II, Sumpah Pemuda lahir. Mohamad

Yamin membuat inti sari seluruh isi kongres. Dari inti sari itulah lahir perumusan Sumpah Pemuda

yang secara aklamasi disetujui oleh seluruh peserta kongres. Begini bunyinya:
6
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
Pertama: Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang

satu, tanah Indonesia.

Kedua : Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu,

bangsa Indonesia.

Ketiga : Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan,

bahasa Indonesia.

Sebelum kongres diakhiri, seluruh peserta kongres dengan semangat mendengar dan

menyayikan lagu Indonesia Raya karya salah peserta kongres yaitu Wage Rudolf Supratman. Lagu

tersebut disambut dengan meriah oleh peserta kongres. Semakin terlecutlah semangat mereka

untuk mencapai kemerdekaan yang sudah lama diimpi-impikan.

Pada saat itu penjajahan di Indonesia sudah terlalu lama. Lebih dari 3 abad bangsa

Indonesia hidup di bawah penderitaan penjajahan. Hanya dengan merdekalah bangsa Indonesia

bisa menjadi bangsa yang lebih baik dan berkembang menjadi bangsa yang besar. Kejadian inilah

yang kemudian menjadi sejarah hari sumpah pemuda 28 Oktober 1928.


7
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
1.1. Tujuan Pembelajaran

Topik : Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan


Subtopik : Memahami Sumpah Pemuda
Maka, diharapkan kepada siswa untuk dapat :
 Siswa dapat mengetahui makna sumpah pemuda.
 Siswa dapat mengetahui sejarah sumpah pemuda.
 Siswa dapat mengerti nilai-nilai nasionalisme.
 Siswa dapat mengetahui contoh sumpah pemuda
yang baik dan benar.
 Siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan tentang
sumpah pemuda di kehidupan sehari-hari.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan sumpah pemuda ?

2. Nilai-nilai apa saja yang terkandung didalam sumpah pemuda ?

3. Apa saja isi dari sumpah pemuda ?

4. Apa saja prinisip-prinsip sumpah pemuda yang ada ?

5. Siapa saja perumus sumpah pemuda ?


8
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan

BAB 2
PEMBAHASAN
1) Definisi Politik Etis

Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa

pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan bumiputera. Pemikiran

ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa. Munculnya kaum Etis yang dipelopori

oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus)

ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para bumiputera

yang terbelakang.

Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato

pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan

hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa bumiputera di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina

menuangkan panggilan moral tersebut ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam

program Trias Van deventer yang meliputi:

 Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk

keperluan pertanian.

 Imigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi.

 Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan.


9
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
2) Dampak Politik Etis bagi Indonesia
Dampak positif politik etis belanda bagi bangsa Indonesia akan dirangkum dalam penjelasan
singkat berikut. Simak selengkapnya.

1. Memberikan Kesejahteraan Bagi Banyak Orang

Salah satu dampak politik etis yang paling dirasakan ialah peningkatan kesejahteraan.
Sebab secara tidak langsung melalui Trilogi Van Deventer yang dilakukan oleh pemerintah
Kolonial Belanda, masyarakat Indonesia dapat ikut menikmati beberapa hal seperti saluran irigasi
yang dibangun oleh pemerintah belanda. Setelah cukup menderit akaibat dari sistem tanam paksa
yang dilakukan oleh Belanda. Setidaknya masyarakat Pribumi (sebutan bagi orang asli Indonesia)
saat itu dapat ikut menikmati dan merasakan manfaat yang besar dari politik etis.

Pemerintah Belanda berhasil membangun dan membuat sarana pengairan dan origasi sejak
tahun 1885. Bangunan-bangunan irigasi Berantas dan Demak seluas 96.000 bau, pada 1902
menjadi 173.000 bau. Dengan irigasi tanah pertanian akan menjadi subur dan produksinya
bertambah. Politik etis ini memeberikan gejolak sendiri terhadao sektor pertanian yang menjadi
tumpuan utama bagi sebagian besar masyarakat kita. Pada kenyataannya hingga saat inu sarana
pengairan dan itigasi buatan Belanda masih berfungsi dengan baik dan digunakan hingga saat ini.
Tentunya ini menjadi hal yang tak terbantahkan dimana memang kita tidak bisa mengesampingkan
sisi positif dari politik etis Belanda.

2. Menyempurnakan Fasilitas Yang Telah Ada dan yang Bermanfaat

Selain bidang irigasi isi dadi trilogo politik etis juga melakukan perbaikan pada sektor
pertanian, pendidikan dan kependudukan. Ini merupakan salah satu hal yang cukup mulia. Sebab
tentunya akan ada banyak manfaat yang kemudian didapatkan oleh masyarakat Indonesia.
Meskipu pada akhirnya politik etis Belanda ini menuai pro dan kontra namun pada dasarnya kita
harus mengapresiasi tindakan Belanda ini. Pada akhirnya politik etis ini mampu membawa bangsa
Indonesi berkembang dan maju hingga saat ini seperti juga sistem pemilu proporsional.

3. Peningkatan Terhadap Sumber Daya Manusia

Seiring dengan politik etis dibidang edukasi tentunya manfaat besar yang diperoleh bangsa
ini pada saat itu ialah peningkatan terhadap sumber daya manusia. Sebab tentunya pada zaman
penjajahan pendidikan menjadi hal yang sangat mahal. Namun ternyata Belanda kemudian mau
10
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
membangun beberapa sekolah yang memang ditujukan bagi kaum pribumi dan eropa yang ada di
indonesia. Meskipun pada faktanya mereka masih dibagi dalam kelas-kelas yakni dimana kelas
satu diperuntukkan pada anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang berkedudukan atau
berharta. Sedangkan kelas dua merupakan kelas yang diperuntukkan bagi golongan pribumi.

Pada 1903 terdapat 14 sekolah kelas satu di ibukota karesidenan dan ada 29 di ibukota
Afdeling. Mata pelajarannya, yaitu membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, ilmu alam, sejarah,
dan menggambar. Pada 1903, di Jawa dan Madura sudah terdapat 245 sekolah kelas dua negeri
dan 326 sekolah Fartikelir, di antaranya 63 dari Zending. Adapun jumlah muridnya pada 1892 ada
50.000, pada 1902 ada 1.623 anak pribumi yang belajar pada sekolah Eropa. Untuk menjadi calon
pamong praja ada tiga sekolah Osvia, masing-masing di Bandung, Magelang, dan Probolinggo.

4. Meningkatnya Kesadaran Bangsa Indonesia Untuk Meningkatkan Hak-haknya

Politik etis juga kemudian membawa dampak pada psikologis dan perjuamg rakyat untuk
kembali bergerak. Terutama mereka kamu muda dan para cendekiawan yang menyadari betapa
pentingnya bagi bangsa Indonesia untuk memanfaatkan momentum politik etis ini dalam upaya
meningkatkan kesadaran akan kesamaan meningkatkan hak-haknya. Tentunya hal ini lah yang
kemudian memompa semangat bangsa Indonesia untuk kemudian berjuang dan akhirnya dapat
lepas dari penjajahan Belanda. Bagaimana kemudian politim etis mampu memberikan kontribusi
dalam sejaran dan perjuangan bangsa. Hal yang awalnya sebagai bentuk balas budi kemudian
dijadikan momentum tepat untuk memacu dan memompa semangat perjuangan.

5. Pemerataan Penduduk

Transmigrasi membawa dampak pada tanah-tanah di luar Jawa yang belum diolah menjadi
lahan perkebunan, akan dapat diolah untuk menambah penghasilan. Selain itu juga untuk
mengurangi kepadatan penduduk Jawa. Pada 1865 jumlah penduduk Jawa dan Madura 14 juta.
Pada 1900 telah berubah menjadi dua kali lipat. Pada awal abad ke-19 terjadi migrasi penduduk
dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sehubungan dengan adanya perluasan perkebunan tebu dan
tembakau, migrasi penduduk dari Jawa ke Sumatra Utara karena adanya permintaan besar akan
tenaga kerja perkebunan di Sumatra Utara, terutama ke Deli, sedangkan ke Lampung mempunyai
tujuan untuk menetap.
11
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
3) Bangkitnya Jiwa Nasionalisme

Edukasi menjadi program paling berpengaruh bagi masyarakat di Hindia Belanda. Penerapan
program edukasi dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan menerapkan pendidikan gaya
Barat.

Pendidikan gaya barat tersebut diterapkan di beberapa sekolah yang didirikan pemerintah
Hindia Belanda antara lain:

Melalui sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan gaya barat tersebut, lahirlah


golongan baru dalam masyarakat Hindia Belanda yang disebut golongan elite baru. Golongan elite
baru disebut juga sebagai golongan priyayi. Golongan priyayi tersebut banyak yang berprofesi
sebagai dokter, guru, jurnalis, dan aparatur pemerintahan.

Mereka memiliki pikiran yang maju serta semakin sadar terhadap penindasan-penindasan
yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Selain itu, golongan elite baru berhasil
mengubah corak perjuangan masyarakat dalam melawan penindasan pemerintah kolonial, dari
yang tadinya bersifat kedaerahan menjadi bersifat nasional. Inilah titik di mana masa pergerakan
nasional dimulai.
12
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
Kesadaran awal kebangsaan di antara kalangan bumiputera ini terjadi di awal abad 20 Squad.
Tentunya hal itu nggak terjadi begitu saja dong. Ada beberapa faktor yang membuat kesadaran itu
muncul.

Faktor Ekstern

1. Munculnya kesadaran tentang pentingnya semangat kebangsaan, semangat nasional,


perasaan senasib sebagai bangsa terjajah, serta keinginan untuk mendirikan negara
berdaulat lepas dari cengkeraman imperialisme di seluruh negara-negara jajahan di Asia,
Afrika, dan Amerika latin pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
2. Fase tumbuhnya anti imperialisme berkembang bersamaan dengan atau dipengaruhi oleh
lahirnya golongan terpelajar yang memperoleh pengalaman pergaulan internasional serta
mendapatkan pemahaman tentang ide-ide baru dalam kehidupan bernegara yang lahir di
Eropa, seperti demokrasi, liberalisme, dan komunisme melalui pendidikan formal dari
negara-negara barat.
3. Paham-paham tersebut pada dasarnya mengajarkan tentang betapa pentingnya persamaan
derajat semua warga negara tanpa membedakan warna kulit, asal usul keturunan, dan
perbedaan keyakinan agama. Paham tersebut masuk ke Indonesia dan dibawa oleh tokoh-
tokoh Belanda yang berpandangan maju, golongan terpelajar Indonesia yang memperoleh
pendidikan Barat, serta alim ulama yang menunaikan ibadah haji dan memiliki pergaulan
dengan sesama umat muslim seluruh dunia.
4. Perang dunia I (1914-1919) telah menyadarkan bangsa-bangsa terjajah bahwa negara-
negara imperialis telah berperang diantara mereka sendiri. Perang tersebut merupakan
perang memperebutkan daerah jajahan. Tokoh-tokoh pergerakan nasional di Asia, Afrika
dan Amerika Latin telah menyadari bahwa kini saatnya telah tiba bagi mereka untuk
melakukan perlawanan terhadap panjajah yang sudah lelah berperang.
5. Menculnya rumusan damai mengenai penentuan nasib sendiri (self determination) presiden
Amerika Serikat Woodrow Wilson pasca perang dunia I disambut tokoh-tokoh pergerakan
nasional Indonesia sebagai pijakan dalam perjuangan mewujudkan kemerdekaan.
6. Lahirnya komunisme melalui Revolusi Rusia 1917 yang diikuti dengan semangat anti
kapitalisme dan imperialisme telah mempengaruhi timbulnya ideologi perlawanan di
negara-negara jajahan terhadap imperialisme dan kapitalisme Barat. Konflik ideologi
13
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
dunia antara kapitalisme atau imperialisme sosialisme atau komunisme telah memberikan
dorongan bagi bangsa-bangsa terjajah untuk melawan kapitalisme atau imperialisme Barat.
7. Munculnya nasionalisme di Asia dan di negara-negara jajahan lainnya di seluruh dunia
telah mengilhami tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk melakukan perlawanan terhadap
penjajahan Belanda. Kemenangan Jepang atas Rusia 1905 telah memberikat keyakinan
bagi tokoh nasionalis Indonesia bahwa bangsa kulit putih Eropa dapat dikalahkan oleh kulit
berwarna Asia. Demikian juga, model pergerakan nasional yang dilakukan oleh Mahatma
Gandhi di India, Mastapha Kemal Pasha di Turki, serta Dr. Sun Yat Sen di Cina telah
memberikan inspirasi bagi kalangan terpelajar nasionalis Indonesia bahwa inperialisme
Belanda dapat dilawan melalui organisasi modern dengan cara memajukan ekonomi,
pendidikan, sosial, budaya, dan politik pada bangsa Indonesia terlebih dahulu sebelum
memperjuangkan kemerdekaan.

Faktor Intern

1. Penjajahan mengakibatkan terjadinya penderitaan rakyat Indonesia yang tidak terkira.


Sistem penjajahan Belanda yang eksploitatif terhadap sumber daya alam dan manusia
Indonesia serta sewenang-wenang terhadap warga pribumi telah menyadarkan penduduk
Indonesia tentang adanya sistem kolonialisme Imperialisme Barat yang menerapkan
ketidaksamaan dan perlakuan membeda-bedakan (diskriminatif).
2. Kenangan akan kejayaan masa lalu. Rakyat Indonesia pada umumnya menyadari bahwa
mereka pernah memiliki negara kekuasaan yang jaya dan berdaulat di masa lalu (Sriwijaya
dan Majapahit). Kejayaan ini menimbulkan kebanggaan dan meningkatnya harga diri suatu
bangsa, oleh karena itu rakyat Indonesia berusaha untuk mengembalikan kebanggaan dan
harga diri sebagai suatu bangsa tersebut.
3. Lahirnya kelompok terpelajar yang memperoleh pendidikan Barat dan Islam dari luar
negeri . kesempatan ini terbuka setelah pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20
menjalankan politik Etis (edukasi, imigrasi, dan irigasi). Orang-orang Indonesia yang
memperoleh pendidikan barat berasal dari kalangan priayi abangan yang memiliki status
bangsawan. Sebagian lainnya berasal dari kalangan priayi dan santri yang secara sosial
ekonomi memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah haji serta memperoleh
pendidikan tertentu diluar negeri.
14
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
4. Lahirnya kelompok terpelajar islam telah menyadarkan bangsa Indonesia terjajah yang
sebagian besar penduduknya beragama Islam. Kelompok intelektual Islam telah menjadi
agent of change atau agen pengubah cara pandang masyarakat bahwa nasib bangsa
Indonesia yang terjajah tersebut tidak dapat diperbaiki melalui belas kasihan penjajah
seperti Politik Etis misalnya. Nasib bangsa Indonesia harus diubah oleh bangsa Indonesia
sendiri dengan cara memberdayakan bangsa melalui peningkatan taraf hidup di bidang
ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya.
5. Menyebarnya paham-paham baru yang lahir di Eropa, seperti demokrasi, liberalisme,
sosialisme, dan komunisme di negeri jajahan (Indonesia) yang dilakukan oleh kalangan
terpelajar.
6. Muncul dan berkembangnya semangat persamaan derajat pada masyarakat Indonesia dan
berkembang menjadi gerakan politik yang sifatnya nasional.
4) Pengertian Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan
Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya
negara Indonesia.

Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang
diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan
cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan
ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar
"disiarkan dalam berbagai surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".

5) Kongres Pemuda
a. Kongres Pemuda 1

Gagasan peleburan (Fusi) semakin lama semakin dirasakan perlunya oleh pemimpin-
pemimpin pemuda di Indonesia, bahkan secara mendesak.

Suara yang ditiupkan oleh Pemuda Indonesia dan PPPI, serta PI di negeri Belanda semakin
tertanam dalam sanubari pemuda-pemuda Indonesia.
15
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
Maka pada tanggal 30 April 1926 di Jakarta diselenggarakan “Kerapatan Besar Pemuda”, yang
kemudian terkenal dengan nama “Kongres Pemuda I”. Kongres Pemuda I ini dihadiri oleh wakil
organisasi pemuda Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten
Bond, Studerenden Minahasaers, kemudian Jong Bataks Bond dan Pemuda Kaum Theosofi juga
ikut dalam kerapatan besar.

Pengundang dari Kongres Pemuda I ini ialah suatu panitia yang terdiri dari pengurus organisasi
pemuda, dan kongres ini dipimpin oleh Mohammad Tabrani. Tujuan Kongres Pemuda I ialah
mencari jalan membina perkumpulan pemuda yang tunggal, yaitu membentuk sebuah badan
sentral dengan maksud :

1. Memajukan persatuan dan kebangsaan.


2. Menguatkan hubungan antara sesama perkumpulan-perkumpulan pemuda kebangsaan.

Selama kongres itu diucapkan pidato-pidato diantaranya berjudul “Indonesia Bersatu” oleh
seorang pemuda dari PPPI. Para pemuda harus memperkuat rasa persatuan, yang harus tumbuh
mengatasi kepentingan golongan, agama, dan daerah. Juga dibentangkan sejarah pergerakan
Indonesia dan ditegaskan bagian yang harus diambil oleh pemuda untuk meresapkan jiwa dan cita-
cita Indonesia Raya. Pemuda-pemuda harus dapat menjauhkan diri dari kepentingan golongan dan
kepentingan diri sendiri. Dalam pertemuan itu juga dibicarakan kedudukan kaum wanita dalam
pergaulan hidup islam, dan juga dibicarakan masalah poligami.

Pemuda Moh. Yamin membicarakan tentang kemungkinan untuk bahasa dan kesusasteraan
Indonesia dikemudian hari. Yamin juga menginginkan agar bahasa Melayu dianggap sebagai
bahasa bangsa Indonesia. Dalam membawakan pidatonya itu Yamin masih terpaksa menggunakan
bahasa Belanda, karena waktu itu banyak pemuda kita yang belum mahir dan menguasai bahasa
Melayu.

Terhadap pidato Yamin itu Prof. Dr. Hoykas pernah memberi komentar bahwa pemuda dari
Sumatra ini (Moh. Yamin) akan menjadi seorang pelopor dari usaha pemekaran bahasa Melayu
sebagai bahasa pengantar dan pergaulan di Indonesia, dan bahasa Belanda akan terdesak
karenanya. Dalam kongres itu juga dibicarakan tentang kewajiban agama dalam pergerakan
16
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
kebangsaan, yang antara lain berisi anjuran akan bersikap toleran terhadap agama lain. Tujuan
kongres mengadakan fusi belum mendatangkan hasil, tetapi dapat dikatakan bahwa kongres ini
memang menambah cita-cita bersatu. Kongres ini bukanlah suatu yang sia-sia, yang hilang tanpa
berkas, kongres pemuda I ini dapat dikatakan suatu kongres orientasi.

Hasil utama yang dicapai Kongres Pemuda I ialah mengakui dan menerima cita-cita
persatuan Indonesia, walaupun masih samara-samar dan belum jelas. Pemuda-pemuda mengakui
meskipun terdapat perbedaan sosial dan kesukuan, tetapi terdapat pula rasa persatuan nasional (on-
danks squciale en etnologische tegenstellingen, ont sond een gevoel van nationale saamhorigheid)
yang terjemahannya kira-kira begini (Bola-bola etnologi sosial tentang perasaan nasional yang
kompak).

Mengapa Kongres Pemuda I itu belum berhasil, sebab-sebabnya mungkin sekali terletak
pada hal-hal sebagai berikut :

1. Belum tiba waktunya organisasi daerah berpadu menjadi suatu organisasi yang tunggal,
dan masih terdapat keraguan pada sementara organisasi pemuda akan kegunaan
persatuan.
2. Masih terdapat kesalah pahaman dan kurang pengertian tentang perlunya fusi diantara
organisasi pemuda itu.
3. adanya pandangan yang berbeda mengenai persatuan nasional dari kaum theosofi
(Dienaren Van Indie) yang terasa menjalankan peranannya waktu itu.

Keraguan, kesalah pahaman dan kurang pengertian antara kita sendiri ini juga merupakan
akibat dari politik pemerintah Hindia Belanda yang selama ratusan tahun menjalankan disini
politik pecah belah (Devide et impera).

Bagi Belanda waktu itu tentu lebih mudah menghadapi gerakan nasionalisme lokal dari
pada menghadapi gerakan kebangsaan Indonesia yang bulat. Cara yang dipakai oleh pemerintah
Hindia Belanda, misalnya dengan meniupkan adanya bahaya “penjajahan” dari suatu suku atas
suku yang lain.
17
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
Politik pemerintah Hindia belanda ini memang suatu politik yang harus dijalankan oleh
suatu bangsa yang jauh letak tinggalnya, dan kecil jumlah penduduknya untuk menguasai bangsa
besar seperti Indonesia.

Kaum theosofie disini mempunyai hubungan yang erat dengan kaum theosofie di negeri
Belanda dibawah pimpinan Ir. AJH Van Leeuwen (Ia meninggal dunia pada tanggal 19 Februari
1972 di Amsterdam).

Dalam pada itu untuk persatuan terus dijalankan sesudah Kongres Pemuda I, nyata untuk
mencapai persatuan memang dibutuhkan kesabaran dan ketekunan.

b. Kongres Pemuda 2

Kongres Pemuda Kedua adalah kongres pergerakan pemuda Indonesia yang melahirkan
keputusan yang memuat ikrar untuk mewujudkan cita-cita berdirinya negara Indonesia, yang
dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Upaya mempersatukan organisasi-organisasi pemuda pergerakan dalam satu wadah telah


dimulai sejak Kongres Pemuda Pertama 1926. Sebagai kelanjutannya, tanggal 20 Februari 1927
diadakan pertemuan, namun pertemuan ini belum mencapai hasil yang final. Sebagai penggagas
Kongres Pemuda Kedua adalah Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi
pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Hindia Belanda.

Pada tanggal 3 Mei 1928 diadakan pertemuan lagi untuk persiapan kongres kedua, dan
dilanjutkan pada 12 Agustus 1928. Pada pertemuan terakhir ini telah hadir perwakilan semua
organisasi pemuda dan diputuskan untuk mengadakan kongres pada bulan Oktober 1928, dengan
susunan panitia yang membagi jabatan pimpinan kepada satu organisasi pemuda

Kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, diadakan di Gedung Katholieke Jongenlingen


Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua
PPPI Sugondo Djojopuspitoberharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam
sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Muhammad Yamin tentang arti dan
18
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat
persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, kongres diadakan di Gedung Oost-Java Bioscoop,
membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi
Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula
mendapat keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik
secara demokratis.

Pada rapat penutupan di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya


106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan.
Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional.
Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri: hal-hal yang dibutuhkan
dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf
Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman.
Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres akhirnya ditutup
dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu
diucapkan sebagai Sumpah Setia.
19
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
c. Hasil Kongres Pemuda

Hasil Kongres Pemuda kongres pemuda pertama menghasilkan keputusan sebagai berikut:

1. Mengakui dan menerima cita-cita untuk mewujudkan persatuan Indonesia (meskipun dalam
hal ini masih belum jelas).

2. Adanya upaya untuk menghilangkan pandangan adat, sifat kedaerahan yang kolot, dan
sebagainya.

Berikut isi Sumpah Pemuda sebagai hasil dari Kongres Pemuda II.

1. Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH


DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

2. Kedua : KAMI POEETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG


SATOE, BANGSA INDONESIA.

3. Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENGDJOENG BAHASA


PERSATOEAN BAHASA INDONESIA.
20
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
6) Makna Sumpah Pemuda

1. Memberikan penekanan untuk menghargai perjuangan Indonesia

Lahirnya Sumpah Pemuda merupakan titik awal dimulainya perjuangan Indonesia untuk
mencapai kemerdekaan dari penjajahan. Titik awal perjuangan bangsa Indonesia merupakan
langkah yang tidak main-main. Perlu kita ketahui, Sumpah Pemuda lahir beberapa puluh tahun
sebelum sistem pemerintahan orde lama dimulai. Pemuda dan pemudi pada saat itu rela berkorban
waktu, tenaga, pemikiran, bahkan berkorban secara materiil dan moral untuk membuat Indonesia
bersatu.

Perjuangan yang tidak main-main tentunya menjadi sebuah nilai yang tidak tergantikan.
Jika saja Sumpah Pemuda tidak lahir, mungkin saja Indonesia tidak dapat bersatu seperti sekarang
ini. Semuanya adalah berkat dari perjuangan pemuda dan pemudi Indonesia. Walaupun mereka
tidak mati dalam perang kemerdekaan, mereka layak disebut sebagai pahlawan karena berani
untuk menjaga Indonesia sehingga Indonesia dapat memiliki pemerintahan yang berdaulat seperti
sekarang ini. Berikut contoh makna sumpah pemuda sebagai contoh pelajar:

Sebagai pelajar, sudah barang tentu menghargai perjuangan pemuda dan pemudi yang menjadi
pahlawan dalam mengawali perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Bentuk penghargaan yang diberikan tidak harus secara materiil, tapi juga dapat diberikan
melalui dukungan moral.

Jika kita membaca berita di media massa beberapa waktu lalu, kita sempat miris ketika
melihat beberapa sikap pelajar yang tidak menghargai jasa pahlawan-pahlawan yang sudah
bersusah payah memperjuangkan Indonesia.

Sebagai pelajar yang notabene mengenyam bangku pendidikan, seharusnya dapat


memperlihatkan dan menunjukkan rasa menghargai jasa para pahlawan yang sudah berjuang
melalui perkataan dan perbuatan.

Perkataan dan perbuatan yang mencerminkan sikap menghargai jasa pahlawan setidak-
tidaknya dapat menjadi contoh bagi adik-adik kelasnya, bukan malah jadi bahan cemoohan orang
lain karena perkataan dan perbuatan yang tidak mencerminkan sikap menghargai jasa pahlawan
dalam memperjuangkan persatuan dan kesatuan Indonesia.
21
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
2. Memberikan semangat untuk berjuang

Sumpah Pemuda yang dicetuskan dengan semangat berkobar-kobar oleh pemuda dan
pemudi saat itu memberikan semangat untuk para generasi penerus khususnya pelajar. Semangat
yang ditunjukkan melalui bunyi Sumpah Pemuda dapat menjadi contoh bagi pelajar untuk
semangat dalam melakukan sesuatu. Di era globalisasisaat ini, segala fasilitas yang disediakan
untuk menunjang kebutuhan sehari-hari sangat mudah untuk didapatkan. Bahkan, ada kebutuhan
yang dapat kita peroleh dengan mudah hanya dengan menekan tombol, sebagai berikut:

Kita bisa bayangkan pada kondisi pemuda dan pemudi pada era Sumpah Pemuda saat itu.
Pada era Sumpah Pemuda atau tepatnya pada tahun 1928, kehidupan pemuda dan pemudi tidak
makmur seperti sekarang ini.

Mereka harus bersusah payah bekerja dan bersekolah untuk memenuhi kebutuhannya,
karena pandangan pemuda dan pemudi saat mempunyai daya juang yang sangat tinggi untuk
memperoleh sesuatu.

Jika kita bandingkan dengan mental pelajar saat ini, rasanya sudah berbanding
terbalik. Dampak globalisasi yang sudah mencapai di berbagai aspek membuat beberapa pelajar
menjadi kurang mempunyai rasa semangat untuk berjuang.

Kecenderungan untuk menyerah dan mengambil jalan pintas masih sangat mudah ditemui
di beberapa kalangan pelajar.

Kemudahan-kemudahan yang diberikan pada era globalisasi cenderung membuat pelajar


enggan untuk melakukan sesuatu yang lebih untuk mendapatkan sesuatu. Melalui semangat
perjuangan pemuda dan pemudi pada era Sumpah Pemuda, pelajar diajak untuk menghayati
kembali dan menerapkan semangat untuk berjuang dalam mencapai atau mendapatkan sesuatu
sekalipun ada banyak rintangan yang dihadapi.
22
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
3. Memberikan makna untuk mencintai Indonesia dengan segenap hati

Sepeti yang sudah kita ketahui, kemerdekaan Indonesia diperoleh bukan dari belas kasihan
dari negara lain, melainkan dari perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, termasuk pemuda
dan pemudi Indonesia. Perlu diketahui, pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, jumlah
pemuda yang gugur sudah tidak dapat terhitung. Perjuangan para pemuda saat itu merupakan
bentuk cerminan rasa cintanya terhadap Indonesia. Sebetulnya, latar belakang dari cinta Indonesia
adalah Sumpah Pemuda itu sendiri. Bisa diperhatikan bahwa salah satu bunyi Sumpah Pemuda
adalah pengakuan diri untuk mencintai bangsa Indonesia, sebagai berikut:

Sebagai pelajar yang mengenyam proses pendidikan di Indonesia, sudah barang tentu
diajarkan tentang kiat-kiat mencintai tanah air Indonesia. Kecintaan terhadap bangsa Indonesia
tidak hanya cukup diungkapkan melalui kalimat “I Love Indonesia” atau yang lainnya.

Bentuk kecintaan terhadap tanah air yang sangat mungkin dilakukan oleh para pelajar
adalah belajar dengan baik untuk mengharumkan nama bangsa.

Belajar merupakan salah satu bentuk cinta tanah air karena melalui belajar, seseorang dapat
bertambah ilmunya dan dapat menerapkan ilmunya demi kemajuan Indonesia.

Kecintaan terhadap Indonesia berarti mencintai segala bentuk keragaman yang ada di
Indonesia. Mau tidak mau, kita akan terus hidup berdampingan dengan dengan orang lain yang
mempunyai perbedaan dengan kita. Perbedaan yang ada di kalangan masyarakat bukan berarti
dapat dipergunakan sebagai penyebab konflik sosial khususnya di kalangan pelajar yang dapat
menyebabkan dampak akibat konflik sosial yang terjadi. Sebagai pelajar yang mencintai Indonesia
dengan segenap hati, seharusnya dapat menerima segala perbedaan yang ada karena mencintai
bukan karena kelebihan yang ditampilkan, melainkan juga menerima kekurangan termasuk di
dalamnya adalah perbedaan yang ada.

Segala perbedaan dan perdebatan yang terjadi di kalangan pelajar harus dapat diselesaikan
dengan kepala dingin demi mencerminkan kecintaan kita kepada Indonesia terlebih lagi negara
kita Indonesia adalah negara yang menganut demokrasi Pancasila dimana segala sesuatu yang
berkaitan dengan perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan penerapan nilai-nilai
Pancasila. Bentuk-bentuk penerapan cinta tanah air Indonesia yang dapat dilakukan oleh pelajar
dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah sebagai berikut.
23
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
4. Memberikan penekanan untuk bangga menjadi bagian dari Indonesia

Bangga menjadi bagian dari negara Indonesia merupakan salah satu makna dari bunyi
Sumpah Pemuda. Menjadi kebagian dari negara Indonesia merupakan suatu kebanggaan tersendiri
bagi pemuda dan pemudi saat itu. Kita bisa melihat seberapa bangganya pemuda dan pemudi saat
itu ketika mengikrarkan Sumpah Pemuda. Namun di era sekarang ini, apakah pemuda dan pemudi
khususnya pelajar bangga menjadi bagian dari negara Indonesia? Jawabannya, harus bangga.
Indonesia adalah negara yang lain daripada yang lain. Sebagai negara yang berlandaskan pada
Pancasila, Indonesia adalah negara yang menerapkan Pancasila sebagai kepribadian bangsa.
Melalui semboyannya Bhikena Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi satu, sudah dapat
mewakili alasan mengapa kita bangga menjadi bagian dari negara Indonesia. Alasan yang dapat
dijabarkan mengapa kita patut bangga sebagai bangsa Indonesia antara lain:

 Negara Indonesia adalah negara yang memiliki ribuan pulau.


 Negara Indonesia memiliki keberagaman bahasa yang sangat banyak.
 Negara Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat beragam.
 Masyarakat negara Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang ramah di mata dunia.

Dalam dunia prestasi di dunia pendidikan, Indonesia juga tidak kalah dengan negara lain.
Beberapa kali pelajar dari Indonesia memenangkan kejuaraan olimpiade tingkat internasional.

Sebagai pelajar, sudah sepatutnya kita bangga akan prestasi-prestasi yang ditorehkan
teman-teman kita di kancah nasional maupun internasional. Prestasi-prestasi yang sudah berhasil
ditorehkan ini sebaiknya menjadikan kita para pelajar untuk termotivasi dalam melakukan hal-hal
yang positif untuk menunjukkan rasa bangga kita sebagai bagian dari Indonesia. Contoh penerapan
rasa bangga sebagai bagian dari Indonesia dapat dilakukan dengan menerapkan Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari. Namun terkadang, kita sebagai pelajar merasa kurang bangga terhadap
bangsa Indonesia karena hal-hal yang buruk tentang Indonesia diberitakan, sampai-sampai pepatah
“karena nila setitik rusak susu sebelanga” mengikis rasa bangga kita terhadap bangsa Indonesia.
Sebagai pelajar, kita tidak diajarkan untuk melihat segala sesuatunya tidak hanya dari satu sisi saja.
Walaupun keburukan Indonesia sering kita temui, tapi kebaikan dan kelebihan dari Indonesia
sendiri masih banyak yang dapat meningkatkan dan mempertahankan rasa bangga kita terhadap
Indonesia.
24
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
5. Memberikan penekanan untuk mencintai dan bangga menggunakan bahasa
Indonesia

Semenjak diikarkannya Sumpah Pemuda, maka bahasa Indonesia adalah bahasa yang
dipergunakan oleh masyarakat Indonesia untuk berkomunikasi satu sama lain, baik sesama suku
maupun berbeda suku. Bahasa Indonesia sendiri juga ditetapkan sebagai bahasa resmi negara
Indonesia dan tercantum pada UUD 1945 pasal 36. Namun, seiring dengan perkembangan zaman,
bahasa Indonesia mulai tergeserkan dengan bahasa-bahasa yang timbul akibat perkembangan
zaman tersebut.

Adanya globalisasi yang mempengaruhi cara berbahasa di kalangan pelajar menimbulkan


polemik tersendiri dalam dunia pendidikan.

Sampai sekarang, masih banyak ditemukan nilai mata pelajaran bahasa Indonesia yang
lebih rendah dari nilai mata pelajaran bahasa asing.

Bagi beberapa pelajar, struktur dalam bahasa Indonesia sulit untuk dipahami. Lunturnya
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dipengaruhi juga oleh kebiasaan dari pelajar
itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang unik dan mempunyai struktur khusus yang
membedakan dengan bahasa lainnya. Bahkan, banyak warga negara asing yang tertarik untuk
mempelajari bahasa Indonesia karena keunikan stukturnya.Ada beberapa kata dalam bahasa
Indonesia yang tidak dapat diterjemahkan dalam bahasa asing. Sebagai pelajar yang belajar bahasa
Indonesia, kita harus bangga bahwa bahasa Indonesia diikarkan melalui Sumpah Pemuda.

Melalui ikrar dalam Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia dipergunakan sebagai bahasa
pemersatu bangsa. Bisa kita bayangkan, jumlah bahasa daerah di Indonesia sangat banyak. Jika
kita masing-masing berbicara dengan bahasa daerah masing-masing, tentunya akan memicu
konflik diantara suku bangsa. Contoh konflik sosial dalam masyakarat melalui bahasa Indonesia,
perbedaan bahasa daerah dapat dipersatukan dengan baik. Kita sebagai pelajar harus bangga
karena bahasa Indonesia dapat mempersatukan berbagai macam suku yang tersebar dari Sabang
sampai Merauke.
25
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
6. Mengajak untuk bersama-sama dalam menjaga keutuhan NKRI

Bentuk-bentuk demokrasi di Indonesia adalah negara yang menganut demokrasi dalam


kehidupan berbangsa dan bertanah air. Pelaksanaan demokrasi di Indonesia dilandaskan pada asas-
asas pokok demokrasi agar pelaksanaan demokrasi dapat berlajan sebagaimana mestinya. Proses
tercetusnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928 juga dilakukan melalui proses demokrasi yaitu
melalui proses Kongres Pemuda II.

Proses perumusan Sumpah Pemuda yang dilakukan oleh pemuda dan pemudi saat itu
didasarkan pada keinginan untuk mempersatukan dan menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Seperti
yang kita ketahui, pada saat tercetusnya Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia masih dalam masa
penjajahan negara lain. Pemuda dan pemudi dalam Kongres Pemuda II mempunyai inisiatif untuk
mengajak para pemuda dan pemudi di Indonesia untuk menjaga keutuhan Indonesia, sebagai
berikut:

Makna perjuangan dalam menjaga keutuhan Indonesia dalam Sumpah Pemuda sangat
terasa sampai masa sekarang ini.

Sebagai pelajar, sudah seharusnya kita menjaga keutuhan NKRI dari berbagai macam hal yang
memungkinkan perpecahan.

Kaum pelajar adalah tonggak negara Indonesia untuk menjaga keutuhan NKRI itu sendiri
karena dalam proses pendidikan, pelajar diajarkan untuk penerapan Pancasila dalam kehidupan.

Sebagai kalangan yang terpelajar, pelajar diharapkan menjaga keutuhan NKRI melalui perkataan
dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Pelajar di Indonesia diharapkan menciptakan
kedamaian bukan menciptakan perpecahan melalui media sosial maupun tawuran yang sering
terjadi.
26
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
7) Penguatan Jati Diri Keindonesiaan

Pada tahun 1922, De Indishe Vereeninging, yaitu suatu perkumpulan mahasiswa Hindia
(nama sebelum menjadi Indonesia) yang berada di negeri Belanda, nama itu kemudian berubah
menjadi Indonesische Vereeninging. Ketika nama Indonesia itu digunakan oleh para kaum muda
terpelajar Hindia yang sedang belajar di negeri Belanda konsep Indonesia menjadi sebuah konsep
politik. Maka, organisasi yang mulanya merupakan perkumpulan sosial kemahasiswaan berubah
menjadi organisasi yang memperlihatkan kecenderungan politik. Jadi penggunaan nama Indonesia
bukan hanya sekedar didasarkan atas kondisi geografis dan antropologis saja. Pada tahun 1923,
perkumpulan itu berubah lagi menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI). Jelaslah bahwa keinginan
kuat para pelajar itu untuk menampilkan diri sebagai kekuatan nasionalisme Indonesia. Kenyataan
itu menunjukkan hasrat kuat para pemuda itu untuk memperjuangkan tercapainya kemerdekaan
Indonesia yang demokratis. Begitu pula dengan majalah organisasi itu juga diubah namanya dari
Hindia Poetera menjadi Indonesia Merdeka.

A. Menganalisis Tumbuhnya Ruh Kebangsaan dan Nasionalisme


1. Politik Etis
2. Pers Membawa Kemajuan
3. Modernisme dan Reformasi Islam
B. Menganalisis Perjuangan Organisasi Pergerakan Kebangsaan
1. Organisasi Awal Pergerakan
2. Budi Utomo
3. Sarekat Islam
4. Indische Partij (IP)
5. Organisasi Keagamaan
6. Muhammadiyah
7. Nahdlatul Ulama (NU)
8. Organisasi pemuda
9. Organisasi Wanita
10.Perhimpunan Indonesia : Manifesto Politik
11.Taman Siswa
27
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan

BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang

mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda adalah fondasi

penting kebangkitan bangsa Indonesia dan landasan utama bagi pembentukan negara Republik

Indonesia.Dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 yang hingga kini setiap tahunnya

diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Pemerintah menggalangkan gerakan pendidikan karakter. Karena nilai sumpah pemuda

menjadi aplikatif ketika dilaksanakan dalam pendidikan karakter di sekolah. Untuk merintis

kembali semangat nilai sumpah pemuda, harus dalam tindakan nyata. Yang pertama Dinas

pendidikan merumuskan kembali arah PKPB sampai ke bentuk pelaporannya kepada orangtua

siswa. Kedua, pada tataran sekolah perlu mengadakan berbagai kegiatan aplikatif untuk

mengaplikasikan nilai sumpah pemuda.

B. Saran
Sebaiknya pemuda pada jaman saat ini lebih menjunjung tinggi nilai nasionalisme. Namun

peran orang tua dan guru diperlukan untuk membentuk karakter dan kepribadian anak. Terlebih

pendidikan karakter harusnya diberikan pada pendidikan tingkat rendah. Hal ini bertujuan agar

nilai positif dari pendidikan karakter tersebut dapat ditanamkan dan diaplikasikan sejak dini

hingga anak tumbuh dewasa. Karena setiap perkembangan jaman akan terjadi banyak

perubahan terutama dalam pembentukan sikapnya.


28
Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan

Daftar Pustaka
 https://nurjannatulfirda.wordpress.com/2016/02/12/makalah-sumpah-pemuda/

 http://aceh.tribunnews.com/2018/08/12/bahasa-indonesia-di-ruang-public-penguatan-jati-
diri-kebangsaan

 https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mkn/bangkitnya-semangat-nasionalisme/

 https://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda

 http://www.hariansejarah.id/2016/12/politik-etis-1899-1901.html

 http://semangatpemuda-indonesia.blogspot.com/p/makna-sumpah-pemuda.html

 https://guruppkn.com/makna-sumpah-pemuda