Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Anthony J. S. Reid, operasi Jepang untuk menaklukkan Indonesia
hanya memakan waktu dua bulan, Jawa jatuh pada tanggal 8 Maret 1942.
Pemerinatah Belanda, dengan segala kebaggaan akan sifat-sifatnya yang kuat,
praktis dan efisien, lenyap dalam sekejap. Bagi pihak militer Jepang yang
memerintah Indonesia, memenangkan perang merupakan prioritas di atas segala
pertimbangan yang semata-mata kolonial. Penjajahan Jepang di Indonesia, lebih
bersifat strategis militer karena Indonesia merupakan front terdepan dalam
menghadapi kekuatan Sekutu yang berpusat di Australia, oleh karena itu
pemerintahan Jepang di Indonesia merupakan pemerintahan pendudukan. Jepang
menduduki Indonesia dalam rangka Perang Dunia II. Dengan demikian,
penjajahan Jepang sangat berbeda dengan penjajahan Belanda.

Situasi sebelum pendaratan Jepang di Ibukota Batavia (Jakarta) pada tanggal


5 Maret 1942 diumumkan sebagai “kota terbuka” yang berarti bahwa kota itu
tidak akan dipertahankan oleh pihak Belanda. Ketika tentara Jepang menyerbu
Jawa Barat (1-8 Maret 1942), Purwakarta termasuk salah satu daerah pertama
yang di duduki oleh sebagian pasukan Jepang. Kantor Asisten di Purwakarta
dijadikan Honbu Kenpetai (Markas Polisi) Jepang. Namun demikian kemenangan
Jepang dalam Perang Dunia II tidak berlangsung lama. Pada tanggal 7 September
1944 di dalam sidang Istimewa ke-85 Teikoku Ginkai (parlemen Jepang) di
Tokyo mengumumkan tentang pendirian pemerintah Kemaharajaan Jepang,
bahwa daerah Hindia Timur (Indonesia) diperkenankan merdeka “kelak di
kemudian hari”. Pernyataan tersebut di keluarkan karena semakin terjepitnya
angkatan perang Jepang.

1
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka dapat


dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah Pancasila pada Zaman Penjajahan Jepang?
2. Bagaimana Nilai Patriotisme Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan
Jepang?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui Sejarah Pancasila pada Zaman Penjajahan Jepang.
2. Untuk mengetahui Nilai Patriotisme Bangsa Indonesia Melawan
Penjajahan Jepang.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Pancasila pada Zaman Penjajahan Jepang

Pada saat perjuangan bangsa Indonesia belum berhasil mengusir penjajah


Barat dari bumi Indonesia, sampai akhirnya meletus Perang Pasifik pada tanggal 7
Desember 1941, yaitu perang antar Jepang di satu pihak, melawan sekutu (Inggris,
Amerika Serikat, Belanda) di lain pihak. Dalam Perang Pasifik Jepang melakukan
pemboman terhadap kekuatan armada Amerika Serikat di Pearl Harbour.

Pada tanggal 8 maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat
kepada Jepang dan mulai saat itu mulailah penjajahan Jepang di Indonesia. Tidak
berbeda dengan penjajah-penjajah lain, Jepang pun melakukan penindasan dan
kekejaman yang mengakibatkan penderitaan rakyat. Maka mulailah timbul
perlawanan-perlawanan terhadap Jepang baik secara legal maupun ilegal,
misalnya pemberontakan PETA di Blitar.

Mulai tahun 1943-1944 Jepang mengalami kekalahan disemua medan


pertempuran, dan dalam perkembangan selanjutnya, menunjukkan adanya tanda-
tanda akan segera berakhir perang Pasifik dengan kekalahan Jepang di man-mana.
Dalam kondisi seperti itu, untuk dapat mempertahankan dirinya, Jepang berusaha
untuk menarik simpati bangsa Indonesia, yaitu pada tanggal 7 september 1944
Jepang menjanjikan kemerdekaan Indonesia dikemudian hari, apabila Indonesia
membantu Jepang memenangkan perang.

Sebagai tindak lanjut dari janji tersebut, pada tangga 1 Maret 1945 Jepang
mengulangi janji kemerdekaan Indonesia namun tanpa syarat, dan Jepang
mengumumkan akan dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Chosakai) yang dikenal sebagai
BPUPKI.

Pada tanggal 29 April 1945, Jepang membentuk BPUPKI yang diketuai


Dr.K.R.T. Radjiman Wediodiningrat, dengan dua orang Ketua Muda (Fuku

3
Kaityo). Ketua Muda I Itibangase dan ketua Muda II Raden Pandji Soeroso yang
beranggotan 60 orang anggota biasa, dan 7 (tujuh) orang anggota Istimewa (Toku
Betsu) berkebangsaan Jepang yang tidak mempunya hak suara.

Keberadaan mereka di dalam BPUPKI, karena pada tanggal tersebut adalah


HUT Tenni Heika (Kaisar), atau Tenco-Setsu (Hari Mulia). Adapun ke tujuh
orang anggota istimewa tersebut adalah: Tokonomi Tokuzi, Miyano Syoozo,
Itagaki Masamitu, Matuura Mitokiyo, Tanaka Minoru, Masuda Toyohiko, dan
Idee Toitiroe. Kemudian jumlah anggota BPUPKI ditambah 6 (enam) orang
anggota yang berasal dari Indonesia.

Dengan demikian jumlah keseluruhan anggota BPUPKI adalah 76 orang


(termasuk Ketua dan Ketua Muda). Pada tanggal 28 Mei 1945 Jepang melantik
BPUPKI dan keesokan harinya BPUPKI melakukan persidangan yaitu sidang
pertama dari tanggal 29 Mei 1945 hingga 1 Juni 1945 dan sidang kedua dari
tanggal 10 Juli 1945 hingga tanggal 16 Juli 1945.

Dengan terbentuknya badan tersebut bangsa Indonesia dapat secara sah


mempersiapkan kemerdekaannya, antara lain merumuskan syarat-syarat yang
harus dipenuhi sebagai Negara yang merdeka, di samping itu juga dasar-dasar
atau asas-asas, untuik mendirikan Negara Republik Indonesia. Periode inilah yang
diwarnai dengan kegiatan perumusan Pancasila sebagai dasar Negara, yaitu
dengan diskusi dan perdebatan-perdebatan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-
usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pada hari pertama sidang pertama BPUPKI pada tanggal 29 Mei 1945 ketua
BPUPKI meminta para anggota BPUPKI untuk mengemukakan dasar Indonesia
merdeka. Pada tanggal 29 Mei, 31 Mei dan 1 Juni 1945 para anggota BPUPKI
yaitu Mr. Moh. Yamin, Prof, R, Soepomo dan Ir. Soekarno masing-masing
mengemukakan pendapatnya tentang lima asas atau lima dasar Negara Indonesia
merdeka.

Adapun rumusan Pancasila sebagai Dasar Negara yang dikemukakan para


anggota BPUPKI tersebut adalah sebagai berikut:

4
 Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr. Moh Yamin menyampaikan dalam
piatonya lima asas atau dasar Negara Indonesia merdeka yaitu:
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat.

Di samping pidato tersebut Mr. Muh. Yamin menyampaikan pula


secara tertulis rancangan UUD Repuklik Indonesia yang di dalam
pembukaannnya tercantum lima asas dasar Negara.

Lima asas tersebut rumusannya berbeda dengan yang diucapkannya


dalam pidatonya, yaitu sebagi berikut:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa


2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 Pada tanggal 31 Mei 1945, dalam pidatonya Prof. R. Soepomo
mengemukakan pendapatnya tentang lima asas atau lima dasar Negara
Indonesia merdeka dengan rumusan sebagai berikut:
1. Persatuan
2. Kekeluargaan
3. Keseimbangan lahir dan batin
4. Musyawarah
5. Keadilan Rakyat
 Pada tanggal 1 Juni 1945 tibalah giliran Ir. Soekarno untuk menyampaikan
pidatonya pada sidang BPUPKI. Dalam pidato itu Ir. Soekarno
mengusulkan pula lima asas untuk menjadi dasar Negara Indonesia
Merdeka yaitu:

5
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau perikemanusiaan
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Keutuhan yang berkebudayaan

Pada tanggal 1 Juni 1945 untuk lima asas atau lima dasar sebagai
dasar Negara Indonesia merdeka oleh Ir. Soekarno diusulkan untuk diberi
nama Pancasila yang mana istilah itu diperolehnya dari seorang temannya
yang ahli bahasa. Adapun usul Ir. Soekarno agar Dasar Negara Indonesia
yang terdiri dari lima asas atau lima dasar dinamakan Pancasila, disetujui
peserta sidang BPUPKI.

Dalam perkembangannya kemudian tahun 1947 pidato Ir. Soekarno


dipublikasikan dalam bentuk sebuah buku yang berjudul lahirnya Pancasila dan
oleh karena itulah muncul anggapan umum bahwa lahirnya Pancasila adalah
tanggal 1 Juni 1945 pada saat peserta sidang pertama BPUPKI pada tanggal 1 Juni
1945 menyetujui usulan Ir. Soekarno agar nama Dasar Negara yang terdiri dari
lima sila dinamakan Pancasila.

B. Nilai Patriotisme Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan Jepang

Patriotisme bangsa Indonesia merupakan perwujudan dari rasa cinta tanah air
dalam bentuk kesadaran nasional untuk hidup bersama, yang dilandasi oleh
pendirian rohani, perasaan setia kawan dalam upaya membentuk suatu bangsa.
Manifestasi dari patriotisme bangsa Indonesia adalah:

1. Hak menentukan nasib sendiri sebagai suatu Negara merdeka, berdaulat


kedalam dan keluar.
2. Dijiwai oleh suatu ideologi nasional, yaitu semangat nasionalisme
Indonesia.
3. Mewujudkan aspirasi nasional baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial,
budaya dan agama.

6
Cita-cita patriotisme bangsa Indonesia ini dicapai dengan cara perjuangan
melawan penjajahan. Misalnya pada zaman penjajahan Jepang.

Pemerintahan Jepang di Indonesia diawali pada saat terjadinya penyerahan


tanpa syarat pemerintah Hindia Belanda pada pemerintahan militer Jepang tanggal
8 maret 1942. Tujuan Jepang datang ke Indonesia bukan untuk memerdekakan
bangsa Indonesia, tetapi untuk menjadikan Indonesia sebagai sumber material dan
sumber tenaga dalam rangka perang Asia Timur Raya.

Tindakan Jepang untuk mencapai cita-citanya ternyata menimbulkan akibat


negatif bagi Indonesia. Sikap manis Jepang mengaku sebagai “Saudara Tua”
dengan propaganda “Nippon Indonesia sama-sama” berubah menjadi kekejaman
dan pemerasan. Situasi ini mendorong semangat patriotisme bangsa Indonsia
memuncak dan berusaha untuk mengusir Jepang dari Bumi Indonesia. Upaya
untuk mengusir penjajah Jepang dari bumi Indonesia dilakukan dengan berbagai
strategi, yaitu:

1. Gerakan Legal

Saat penjajahan Jepang banyak didirikan badan-badan resmi dalam rangka


propaganda, namun badan-badan ini menjadi pusat gerakan dan penyebaran
ide-ide nasional bagi tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia. Gerakan
yang termasuk gerakan ini adalah Gerakan Tiga A, Pusat Tenaga Rakyat
(PUTERA), Pembela Tanah Air (PETA) dan Perhimpunan Kebaktian Rakyat
(Jawa Hokokai).

2. Gerakan Ilegal

Gerakan ini dilakukan oleh para tokoh nasional yang berada di luar badan-
badan resmi buatan Jepang atau gerakan bawah tanah yang terorganisir.
Meskipun gerakan bawah tanah para tokohnya masih selalu berhubungan
dengan tokoh-tokoh gerakan legal seperti Bung Karno dan Bung Hatta.
Gerakan ini muncul karena situasi yang tertekan, penuh ancaman dari polisi
rahasia dan kaki tangannya, sehingga perlawanan banyak bersifat terselubung
agar tidak diketahui oleh lawan yang sedang bertindak ganas.

7
Nilai pancasila pada masa perjuangan melawan Jepang tidak secara nyata
tersurat. Nilai-nilai Pancasila yang dipupuk sejak Sumpah Pemuda, yakni nilai
persatuan, demokrasi, kemanusiaan, dan keadilan dari suatu bangsa yang ingin
merdeka kiranya masih sangat kuat pada masa ini.

8
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
 Sejarah perjuangan dan berdirinya bangsa Indonesia dalam mencapai
kemerdekaannya berjalan sejak sekian abad yang lalu,dengan pelbagai
cara dan bertahap. Dengan itu sejarah perjuangan bangsa Indonesia
mempunyai hubungannya dengan sejarah lahirnya pancasila. Karena
sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak berabad-abad yang lalu itu
panjang sekali, maka perlulah ditetapkan tonggak-tonggak sejarah
tersebut, yakni peristiwa- peristiwa yang menonjol, terutama dalam
hubungannya dengan pancasila.
 Dalam meraih kemerdekaan proses perjuangan bangsa Indonesia tidaklah
mudah. Mereka harus menyusun ideologi bangsa serta dasar negara
bangsa, dan kemudian memukul mundur pasukan penjajah, yang
merampas semua hak rakyat bangsa Indonesia.
 Bangsa penjajah yang paling sadis menjajah Indonesia adalah Jepang.
Mereka menindas bangsa Indonesia dengan semaunya, merendahkan
martabat bangsa Indonesia, wanita Indonesia dijadikan sebagai
pelampiasan nafsu. Mereka menipu bangsa Indonesia sebagai saudara tua
untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda
 Tenaga kerja pada masa Jepang, di perlakukan seperti budak, bahkan
lebih rendah dari hewan.

B. Saran
 Sejarah perjuangan bangsa Indonesia harus kita pertahankan, sebagai
generasi muda Indonesia selayaknya kita mempertahankan hasil
perjuangan ini melalui cara yang sesuai dengan bidang yang kita geluti..
 Lupakan rasa sakit hati kita kepada jepang, saat mereka menjajah kita. Itu
hanya sejarah dan sekarang kita harus menata hidup yang lebih baik
untuk masa depan.

9
 Kerja paksa hanya ada pada masa penjajahan, kita harus melupakannya,
kita harus bangkit untuk masa depan, dan mencontoh jepang yang sudah
lebih dulu menjadi bangsa yang maju.

10
DAFTAR PUSTAKA

http://rikobassist.blogspot.com/2010/03/pancasila-dalam-sejarah-perjuangan.html

http://sistempemerintahanindonesia-id.blogspot.com/2014/01/sejarah-perumusan-
pancasila-zaman_28.html

Kaderi, Alwi. Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi. Banjarmasin:


Antasari Press, 2015.

Muchji, Achmad. Pendidikan Pancasila. Jakarta: Gunadarma, 2007.

Modul Pendidikan Pancasila, UNESA. Surabaya.

11