Anda di halaman 1dari 17

KARAKTERISTIK PERAWAT YANG MEMFASILITASI

HUBUNGAN TERAPEUTIK

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok Mata Kuliah


Komunikasi Keperawatan II
Dosen : Ns. Dwiyanti Purbasari, M.Kep

Disusun Oleh:
1. Haris Susanto (218.C.0047)
2. Laelatul Fajriah (218.C.0042)
3. Elida Modiana Manalu (218.C.0046)
4. Nursari (218.C.0050)
5. Asli Gunawan (218.C.0051)
6. Halimatus Sadiya (218.C.0036)
7. Uswah Tri Nugrahanti (218.C.0058)
8. Khaerunnisa D.H (218.C.0064)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARDIKA


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
CIREBON
2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
mencurahkan rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis
yang berjudul “Karakteristik Perawat Yang Memfasilitasi Hubungan Terapeutik”.

Karya tulis ilmiah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata
Komunikasi Keperawat II.

Penulis menyadari keterbatasan wawasan dan pengetahuan dalam menyusun karya


tulis ini banyak sekali terdapat kekurangan, maka dari itu penulis mohon kritik dan saran
yang sifatnya membangun sangat diharapkan untuk perbaikan dimasa mendatang.

Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat ;

1. Bapak Ns. Dwiyanti Purbasari, M.Kep selaku dosen mata kuliah Komunikasi
Keperawatan II
2. Kepada kedua Orang tua kami yang senantiasa memberikan dorongan baik moril
maupun material.
3. Teman-temanku yang selalu membantu dan memberikan ide dalam menyelasaikan
tugas ini.
4. Semua pihak yang telah membantu dalam menyusun karya tulis ilmiah ini.
Semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua.

Cirebon, 08 September 2019

Kelompok

Komunikasi Keperawatan II Page i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................ 4
A. Definisi Karakteristik Perawat .................................................................................. 4
B. Karakteristik Perawat yang Memfasilitasi Hubungan Terapeutik ............................ 5
C. Prinsip-prinsip Perawat dalam Hubungan Terapeutik ............................................... 8
D. Tujuan Hubungan Terapeutik .................................................................................... 9
E. Manfaat Komunikasi Terapeutik ............................................................................. 10
F. Tahap-tahap Hubungan Terapeutik ......................................................................... 10
BAB III PENUTUP .............................................................................................................. 14
A. Simpulan .................................................................................................................. 14
B. Saran ........................................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 15

Komunikasi Keperawatan II Page ii


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Hubungan terapeutik merupakan suatu proses untuk membina hubungan


terapeutik antara perawat-klien dan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan
perawat kepada klien. Kelemahan dalam berkomunikasi masih menjadi masalah bagi
perawat maupun klien karena proses keperawatan tidak berjalan secara maksimal dan
menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien. Pasien sering mengeluh terhadap
pelayanan keperawatan dimana pelayanan yang kurang memuaskan dan membuat
pasien jadi marah, hal tersebut terkadang disebabkan kesalahpahaman komunikasi
dengan tenaga keperawatan yang tidak mengerti maksud pesan yang disampaikan
pasien (Sya’diyah, 2013)
Karakteristik adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas
tersebut asli dan mengakar pada keperibadian benda atau individu tersebut,dan
merupakan mesin yang mendorongbgaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan
merespon sesuatu. Selanjutnya, menurut maksudin ang dimaksud karakteristik adalah
cirri khas setiap individu berkenaan denga jati dirinya (daya kalbu) yang merupakan sari
pati kualitas batinia/rohaniah, cara berfikir, cara berperilaku (sikap dan perbuatan
lahiriyah) hidup seseorang dan berkerja sama baik dalam keluarga, masyarakat.
Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik di
dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundangundangan (UU RI No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan).
Karakteristik perawat berdasarkan usia perawat sebagian besar berusia kurang dari
32 tahun atau sekitar 53, 8%, karakteristik jenis kelamin sebagian besar berjenis kelamin
wanita sebesar 83,0% tingkat pendidikan mayoritas perawat adalah DIII keperawatan
sebesar 68,9%, sedangkan masa kerja sebagian besar perawat masa kerjanya kurang dari
7 tahun sebesar 50,9%. Distribusi frekuensi responden berdasarkan pelatihan
dokumentasi keperawatan yang pernah diikuti sebagian besar perawat tidak pernah
mengikuti pelatihan sebesar 69,8% (Setyaningsih, dkk. 2013).

Komunikasi Keperawatan II Page 1


B. Rumusan Masalah
1) Menjelaskan tentang Definisi Karakteristik Perawat?.
2) Menjelaskan tentang Karakteristik Perawat yang Memfasilitasi Hubungan
Terapeutik?
3) Menjelaskan tentang Prinsip-prinsip Perawat dalam Hubungan Terapeutik?
4) Menjelaskan tentang Tujuan Hubungan Terapeutik?
5) Menjelaskan tentang Manfaat Komunikasi Terapeutik?
6) Menjelaskan tentang Tahap-tahap Hubungan Terapeutik?

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk mengetahui tentang karakteristik
seorang perawat yang dapat memfasilitasi hubungan terapeutik pada pasien.
2. Tujuan khusus
1) Mahasiswa mampu mengetahui tentang Definisi Karakteristik Perawat?
2) Mahasiswa mampu mengetahui tentang Karakteristik Perawat yang
Memfasilitasi Hubungan Terapeutik?
3) Mahasiswa mampu mengetahui tentang Prinsip-prinsip Perawat dalam Hubungan
Terapeutik?
4) Mahasiswa mampu mengetahui tentang Tujuan Hubungan Terapeutik?
5) Mahasiswa mampu mengetahui tentang Manfaat Komunikasi Terapeutik?
6) Mahasiswa mampu mengetahui tentang Tahap-tahap Hubungan Terapeutik?

Komunikasi Keperawatan II Page 2


BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Karakteristik Perawat

Karakteristik adalah sifat-sifat, ciri-ciri (semua keterangan tentang elemen) atau hal-
hal apa saja yang dimiliki oleh oleh elemen (Supranto, 2007).
Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang didefinisikan
sebagai fungsi profesional keperawatan. Fungsi profesional yaitu membantu mengenali
dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat segera. Itu merupakan tanggung jawab
perawat untuk mengetahui kebutuhan pasien dan membantu memenuhinya. Dalam
teorinya tentang disiplin proses keperawatan mengandung elemen dasar, yaitu perilaku
pasien, reaksi perawat dan tindakan perawatan yang dirancang untuk kebaikan pasien
(Suwignyo, 2007). Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi
Keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai
dengan ketentuan Peraturan Perundangundangan (UU RI No. 38 tahun 2014 tentang
Keperawatan).
Hubungan terapeutik merupakan suatu proses untuk membina hubungan
terapeutik antara perawat-klien dan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan
perawat kepada klien. Kelemahan dalam berkomunikasi masih menjadi masalah bagi
perawat maupun klien karena proses keperawatan tidak berjalan secara maksimal dan
menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien. Pasien sering mengeluh terhadap
pelayanan keperawatan dimana pelayanan yang kurang memuaskan dan membuat
pasien jadi marah, hal tersebut terkadang disebabkan kesalahpahaman komunikasi
dengan tenaga keperawatan yang tidak mengerti maksud pesan yang disampaikan
pasien (Sya’diyah, 2013)
Jadi kesimpulannya karakteristik perawat yang memfasilitasi hubungan terapeutik
adalah ciri-ciri dari seorang perawat agar terciptanya hubungan yang baik dengan
seorang klien, untuk untuk melancarkan pelaksaanannya seorang perawat harus jujur,
tidak membingungkan dan cukup ekspresi, bersikap positif, empati bukan simpati,

Komunikasi Keperawatan II Page 4


mampu melihat permasalahan dari kacamata klien, menerima klien apa adanya, sensitif
terhadap perasaan klien, dan tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri

perawat sendiri.

B. Karakteristik Perawat yang Memfasilitasi Hubungan Terapeutik

Karakteristik dari perawat terdiri dari kemampuan dan keterampilaan fisik dan
mental dari individu sebagai peraweat. Karakteristik ini dipengaruhi juga oleh latar
belakang keluarga, tingkat social, pengalaman, umur, jenis kelamin, dan etnis. Perawat
sebagai pekerja memiliki karakteristik individu yang berpengaruh terhadap hasil
management. Karakteristik ini dapat memberikan hasil baik dan tidak baik, demikian
pula tingkat pengetahuan perawat sebagai pekerja, dapat mempengaruhi keterampilan
dalam melaksanakan apa yang sudah direncanakan management (Agung, 2015).

Salah satu karakteristik dasar dari komunikasi yaitu ketika seseorang melakukan
komunikasi terhadap orang lain maka akan tercipta suatu hubungan diantara keduanya,.
Hal inilah yang pada akhirnya membentuk suatu hubungan ‘helping relationship’.
Helping relationship adalah hubungan yang terjadi diantara dua (atau lebih) individu
maupun kelompok yang saling memberikan dan menerima bantuan atau dukungan untuk
memenuhi kebutuhan dasarnya sepanjang kehidupan. Pada konteks keperawatan,
hubungan yang dimaksud adalah hubungan antara perawat dan klien. Ketika hubungan
antara perawat dan klien terjadi, perawat sebagai penolong (helper) membantu klien
sebagai orang yang membutuhkan pertolongan, untuk mencapai tujuan yaitu
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia klien (Suryani, 2015).

Menurut Suryani (2015), ada beberapa karakteristik seorang helper (perawat) yang
dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang terapeutik, yaitu:
1) Kejujuran
Kejujuran (trusworthy) merupakan modal utama agar dapat melakukan
komunikasi yang bernilai terapeutik, tanpa kejujuran mustahil dapat membina
hubungan saling percaya. Klien hanya akan terbuka dan jujur pula dalam

Komunikasi Keperawatan II Page 5


memberikan informasi yang benar hanya bila yakin bahwa perawat dapat
dipercaya. Seseorang akan menaruh kepercayaan pada lawan bicara yang terbuka
dan mempunyai respon yang tidak dibuatbuat, sebaliknya ia akan berhati-hati
pada lawan bicara yang terlalu halus sehingga sering menyembunyikan isi
hatinya yang sebenarnya dengan kata-kata, atau sikapnya yang tidak jujur
(Rahmat, J.. 1996). Seorang perawat yang baik adalah yang selalu berkata jujur
pada pasienya. Sikap yang tidak jujur dari perawat bisa menyebabkan pasien
menarik diri, merasa dibohongi, membenci perawat atau bisa juga berpura-pura
patuh.

2) Tidak membingungkan dan cukup ekspresi


Dalam berkomunikasi dengan klien, maka sebaiknya perawat harus
menggunakan kata-kata yang mudah dipahami dan tidak berbelit-belit, terutama
ketika perawat berkomunikasi dalam bentuk verbal. Demikian pula hanya, ketika
perawat menggunakan kommjunikasi non-verbal hendaknya harus cukup
ekspresif dan sesuai antara yang tampak dengan yang diucapkan (nyata).
Adamya ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan sering kali menimbulkan
kebingungan bagi pasien.

3) Bersikap positif
Bersikap positif terhadap apa saja yang dikatakan dan disampaikan pasien
lewat non verbalnya sangat penting baik dalam membina hubungan saling
percaya maupun dalam membuat rencana tindakan bersama pasien. Bersikap
positif ini bisa ditunjukkan dengan sikap yang hangat, penuh perhatian dan
penghargaan terhadap pasien. Roger (197/4) dalam Ellis, Gates, dan Kenworthy
(2000) menyatakan inti dari hubungan terapeutik adalah kehangatan, ketulusan,
pemahaman yang empati, dan sikap positif. Untuk mencapai kehangatan dan
ketulusan dalam hubungan yang terapeutik tidak diperlukan adanya kedekatan
yang kuat diantara perawat dan pasien akan tetapi yang diperlukan adalah

Komunikasi Keperawatan II Page 6


penciptaan suasana yang dapat membuat pasien merasa aman dan diterima dalam
mengungkapkan perasaan dan pikirannya.

4) Empati bukan simpati


Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan keperawatan, karena dengan
sikap ini perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan pasien
seperti yang dirasakan dan dipikirkan pasien. Seorang perawat yang bersikap
empati pada pasien akan mampu memberikan alternatif pemecahan masalah bagi
pasien, karena sekalipun dia turut merasakan permasalahan yang dirasakan
pasiennya, tetapi dia tidak larut dalam masalah tersebut, sehingga perawat dapat
memikirkan masalah yang dihadapi pasien secara objektif

5) Mampu melihat permasalahan dari kacamata klien


Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus berorientasi pada
pasien. Karena untuk itu agar dapat membantu memecahkan masalah klien
perawat harus memandang permasalahan tersebut dari sudut pandang klien.
Untuk itu perawat harus menggunakan terkhnik active listening dan kesabaran
dalam mendengarkan ungkapan klien. Jika perawat menyimpulkan secara
tergesa-gesa dengan tidak menyimak secara keseluruhan ungkapan klien
akibatnya dapat fatal, karena dapat saja diagnosa yang dirumuskan perawat tidak
sesuai dengan masalah klien dan akibatnya tindakan yang diberikan dapat tidak
membantu bahkan merusak klien.

6) Menerima klien apa adanya


Kemampuan untuk menerima pasien apa adanya juga merupakan salah satu
karakteristik dari seorang helper yang efektif. Jika seseorang diterima dengan
tulus, seseorang akan merasa nyaman dan aman dalam menjalin hubungan intim
terapeutik. Memberikan penilaian atau mengkritik klien berdasarkan nilai-nilai
yang diyakini perawat menunjukkan bahwa perawat tidak menerima klien apa
adanya.

Komunikasi Keperawatan II Page 7


7) Sensitif terhadap perasaan klien
Sebelum seorang perawat menjadi seorang konselor, sebaiknya dia bertanya
pada dirinya sendiri, “Apakah saya ini sudah sensitif terhadap perasaan atau
kebutuhan orang lain?”. Tanpa kemampuan ini hubungan terapeutik perawat-
pasien tidak akan terjalin dengan baik, karena jika saat berkomunikasi perawat
tidak sensitif terhadap perasaan pasiennya bisa saja perawat menyinggung
perasaan pasien.

8) Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri
Salah satu karakteristik seorang helper yang efektif dan mampu
mempertahankan hubungan yang terapeutik dengan pasien adalah tidak mudah
terpengaruh oleh masa lalu pasien dan masa lalu dirinya sendiri. Seorang perawat
harus mampu membimbing pasien untuk melupakan kejadian yang menyakitkan
di masa lalu dan menguatkan pasien dalam menghadapi masalah yang dihadapi
saat ini. Seseorang yang selalu menyesali tentang apa yang telah terjadi pada
masa lalunya tidak akan mampu berbuat yang terbaik hari ini. Sangat sulit bagi
perawat untuk membantu klien, jika ia sendiri memiliki segudang masalah dan
ketidakpuasan dalam hidupnya.

C. Prinsip-prinsip Perawat dalam Hubungan Terapeutik

Adapun pendapat lain yaitu dalam buku Panduan Lab UMP (2010) bahwa prinsip-
prinsip hubungan terapeutik terdiri dari, yaitu:
1) Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, memahami
dirinya sendiri serta nilai yang dianut.
2) Sikap antara perawat dan klien saling menerima, saling percaya dan saling
menghargai.
3) Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun
mental.
4) Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas
berkembang tanpa rasa takut.

Komunikasi Keperawatan II Page 8


5) Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki
motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap, tingkah lakunya sehingga tumbuh
makin matang dan dapat memecahkan masalah – masalah yang dihadapi.
6) Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk
mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan,
amupun frustasi.
7) Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan
konsistensinya.
8) Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya
simpati bukan tindakan yang terapeutik.
9) Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik.
10) Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan
orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan
suatu keadaan sehat fisik mental, spiritual, dan gaya hidup.
11) Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap mengganggu.
12) Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara
manusiawi.
13) Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil
keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia.
14) Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap diri
sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.

D. Tujuan Hubungan Terapeutik

Dalam konteks pelayanan keperawatan kepada klien, pertama-tama klien harus


percaya bahwa perawat mampu memberikan pelayanan keperawatan dalam mengatasi
keluhannya, demikian juga perawat harus dapat dipercaya dan diandalkan atas
kemampuan yang telah dimiliki perawat (Simamora, 2013). Dengan memiliki hubungan
yang terapeutik, perawat akan lebih mudah menjalin hubungan saling percaya dengan
klien, sehingga akan lebih efektif dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan yang telah

Komunikasi Keperawatan II Page 9


diterapkan, 3 memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan dan akan
meningkatkan profesi (Damaiyanti, 2012).

Tujuan hubungan terapeutik adalah:


1) Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan
pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila
pasien percaya pada hal yang diperlukan.
2) Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif
dan mempertahankan kekuatan egonya.
3) Memengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan dirinya sendiri.
(Damaiyanti, 2012)

E. Manfaat Komunikasi Terapeutik

1) Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dengan pasien melalui
hubungan perawat-pasien.
2) Mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan, mengkaji masalah, dan mengevaluasi
tindakan yang dilakukan oleh perawat.
(Anas, 2014)

F. Tahap-tahap Hubungan Terapeutik

Dalam mmembina hubungan terapeutik (berinteraksi) perawat mempunyai 4 tahap


yang pada setiap tahapnya mempunyai tugas yang harus diselesaikan oleh perawat
(Damaiyanti, 2014).

1) Fase pra-interaksi
Pra interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan
berkomunikasi dengan pasien. Anda perlu mengevaluasi diri tentang kemampuan
yang anda miliki. Jika merasakan ketidakpastian maka anda perlu membaca

Komunikasi Keperawatan II Page 10


kembali, diskusi dengan teman sekelompok atau diskusi dengan tutor. Adapun
hal yang perlu dilakukan pada fase ini adalah :
a) Mengumpulkan data tentang pasien
b) Mengeksplorasi perasaan, fantasi, dan ketakutan diri
c) Membuat rencana pertemuan dengan pasien (kegiatan, waktu, tempat)

2) Fase orientasi/ perkenalan


Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu
dengan pasien. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah :
a) Memberi salam
b) Memperkenalkan diri perawat
c) Menanyakan nama pasien
d) Menyepakati pertemuan (kontrak)
e) Menghadapi kontrak
f) Memulai percakapan awal
g) Menyepakati masalah pasien
h) Mengakhiri perkenalan

Orientasi dilaksanakan pada awal setiap pertemuan kedua dan seterusnya.


Tujuan fase orientasi adalah memvalidasi kekurangan data, rencana yang telah
dibuat dengan keadaan pasien saat ini dan mengevaluasi hasil tindakan yang lalu.
Umumnya dikaitkan dengan hal yang telah dilakukan bersama pasien. Adapun
hal-hal yang perlu dilakukan adalah :
a) Memberikan salam dan tersenyum ke arah pasien
b) Melakukan validasi (kognitif, psikomotor, afektif)
c) Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan
d) Menjelaskan tujuan
e) Menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan
f) Menjelaskan kerahasiaan

Komunikasi Keperawatan II Page 11


3) Fase kerja
Fase kerja merupakan inti hubungan perawatan pasien yang terkait erat
dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Tujuan tindakan keperawatan adalah :
a) Meningkatkan pengertian dan pengenalan pasien akan dirinya,
perilakunya, perasaannya, pikirannya. Tujuan ini sering disebut tujuan
kognitif.
b) Mengembangkan, mempertahankan dan meningkatkan kemampuan
pasien secara mandiri menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tujuan ini
sering disebut tujuan afektif atau psikomotor.
c) Melaksanakan terapi/ teknikal keperawatan
d) Melaksanakan pendidikan kesehatan
e) Melaksanakan kolaborasi
f) Melaksanakan observasi dan monitoring

4) Fase terminasi
Terminasi merupakan akhir dari setiap pertemuan perawat dan pasien.
Terminasi dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir.
a) Terminasi sementara
Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan
pasien. Pada terminasi sementara, perawat akan bertemu lagi dengan
pasien pada waktu yang telah ditentukan, misalnya satu atau dua jam
pada hari berikutnya.
b) Terminasi akhir
Terminasi akhir terjadi jika pasien akan pulang dari rumah sakit atau
perawat selesai praktik di rumah sakit. Adapun komponen dari fase
terminasi adalah :
1. Menyimpulkan hasil kegiatan; evaluasi proses dan hasil
2. Memberikan reinforcement positif

Komunikasi Keperawatan II Page 12


3. Merencanakan tindak lanjut dengan pasien
4. Melakukan kontrak untuk pertemuan selanjutnya
5. Mengakhiri kegiatan dengan cara yang baik.

Komunikasi Keperawatan II Page 13


BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Karakteristik perawat yang memfasilitasi hubungan terapeutik adalah ciri-ciri dari
seorang perawat agar terciptanya hubungan yang baik dengan seorang klien sehingga
menimbulkan sikap saling percaya, untuk untuk melancarkan pelaksaanannya seorang
perawat harus jujur, tidak membingungkan dan cukup ekspresi, bersikap positif, empati
bukan simpati, mampu melihat permasalahan dari kacamata klien, menerima klien apa
adanya, sensitif terhadap perasaan klien, dan tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu
klien ataupun diri perawat sendiri.

B. Saran
Saran kami sebagai mahasiswa terdidik diaharapkan untuk mempunyai sikap yang
baik dan berkarakteristik sebagai calon tenaga kesehatan, unutk bisa memotivasi pasien
baik individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Dengan mempunyai dasar sikap
yang baik dan berkarakter ini akan dapat meningkatkan derajat kesehatan bagi pasien
dank lien dengan cara hubungan terapeutik yang baik terhadap pasien atau klien.

Komunikasi Keperawatan II Page 14


DAFTAR PUSTAKA

Anas. 2014. Komunikasi Dalam Keperawatan. Jakarta: EGC


Damaiyanti. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika
Damaiyanti. 2014. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik Keperawatan. Bandung: PT
Refika Aditama.
Setyaningsih, Edy Wuryanto, Sayono. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Motivasi
Perawat Melanjutkan Pendidikan ke Jenjang S1 Keperawatan di Rumah Sakit Roemani
Muhammadiyah Semarang. Jurnal Keperawatan FIKkes. 2013.
Simamora. Intensitas Komunikasi Terapeutik Perawat dan Pasen Anak, Studi Kasus
tenteang Intensitas Komunikasi Terapeutik Perawata dalam kaitannya dengan Semangat
Pasien Anak untuk sembuh di RSUP H. Adam Malik Medan. Jurnal Keperawatan. UI FIK.
2013.
Suryani. 2015. Komunikasi Terapeutik Teori & Praktik. Jakarta: EGC
Supranto. 2007. Statistik untuk Pemimpin Berwawasan Global. Jakarta: Salemba Empat
Suwignyo. 2007. Pengaruh Manajemen Asuhan Keperawatan dan Motivasi Berprestasi.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Sya’diyah. 2013. Komunikasi Keperawatan (Communication GamesAplication) Edisi
Pertama. Graha Ilmu: Yogyakarta
UU RI No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan

Komunikasi Keperawatan II Page 15