Anda di halaman 1dari 9

PEMBAHASAN

1. Skala Pengukuran dan Instrumen Pengukuran


1.1 Macam-Macam Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk
menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur
tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Dengan
skala pengukuran ini, maka nilai variabel yang diukur dengan instrument tertentu dapat
dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif.
a. Skala Linkert
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial yang telah ditetapkan
secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator
variabel. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert
mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa
kata-kata antara lain:
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
Untuk keperluan analisis kuantitatif maka jawaban itu dapat diberi skor misalnya:
1) Sangat setuju diberi skor 5
2) Setuju diberi skor 4
3) Ragu-ragu diberi skor 3
4) Tidak setuju diberi skor 2
5) Sangat tidak setuju diberi skor 1
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk
checklist ataupun pilihan ganda.
b. Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas, yaitu
“ya-tidak”, “benar-salah”, dan lain-lain. Penelitian menggunakan skala Guttman
dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan
yang ditanyakan. Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda,
juga dapat dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu
dan terendah nol.
c. Sematic Differensial
Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan
ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban
“sangat positifnya” terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang “sangat

1
negatif” terletak dibagian kiri garis. Data yang diperoleh adalah data interval, dan
biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang
dipunyai oleh seseorang.
d. Rating Scale
Dari ke tiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang
diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang dikemudian dikuantitatifkan. Tetapi
dengan rating scale data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan
dalam pengertian kualitatif. Yang penting bagi penyusun instrumen dengan rating
scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif
jawaban pada setiap item instrumen.
1.2 Desain Instrumen
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam
maupun sosial yang diamati (variabel penelitian). Instrumen-instrumen yang
digunakan untuk mengukur variabel dalam ilmu alam sudah banyak tersedia dan telah
teruji validitas dan reliabilitasnya. Seperti variabel-variabel dalam ilmu alam misalnya
panas, maka instrumennya adalah calorimeter. Jumlah instrumen penelitian tergantung
pada jumlah variabel penelitian yang telah ditetapkan utnuk diteliti. Misalnya akan
meneliti tentang “Pengaruh Kepemimpinan dan Iklim Kerja Lembaga Terhadap
Produktivitas Kerja Pegawai”. Dalam hal ini ada tiga instrumen yang perlu dibuat,
yaitu:
1. Instrumen untuk mengukur kepemimpinan.
2. Instrumen untuk mengukur iklim kerja.
3. Instrumen untuk mengukur produktivitas kerja pegawai.
1.3 Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Proses pengukuran merupakan suatu proses deduktif. Peneliti berangkat dari suatu
konstruksi, konsep atau ide, kemudian menyusun perangkat ukur untuk mengamatinya
secara empiris. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat langsung melakukan
pengukuran terhadap konsep yang konkret. Misalnya mengukur menggunakan
termometer, meteran, dan lain-lain. Namun tidak semua konsep yang diteliti mermiliki
tingkat abstraksi yang rendah. Maka dari inilah perlu sekali diadakan pengukuran
terhadap instrumen penelitian sebelum digunakan. Karena dilakukan suatu pengujian
atau pengukuran pada suatu instrumen untuk suatu penelitian, maka sudah hal yang
pasti sebelum diuji instrumen tersebut sudah tersedia adanya.
Di dalam penelitian maka keampuhan instrumen dapat mempunyai kedudukan
yang paling tinggi, karena data merupakan penggambaran variabel yang diteliti, dan
berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Oleh karena itu, benar tidaknya data,
sangat menentukan bermutu tidaknya hasil penelitian. Sedangkan benar tidaknya data,
tergantung dari baik tidaknya pengumpulan data. Instrumen yang baik harus memenuhi
dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel.

2
1.4 Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen
a. Pengujian Validitas Instrumen
a) Pengujian Validitas Konstruksi (Construct Validity)
Untuk menguji validitas konstruksi maka dapat digunakan pendapat dari para
ahli maka dapat digunakan pendapat para ahli (experts judgement). Instrumen
yang telah dikonstruksi untuk mengukur aspek-aspek tertentu dikonsultasikan
dengan para ahli yang minimal berjumlah 3 orang. Mereka dimintai pendapat
mengenai instrumen tersebut untuk tujuan evaluasi. Setelah pengujian
konstruksi dari para ahli selesai, maka diteruskan dengan uji coba instrumen.
Uji coba dilaksanakan pada sampel yang ditentukan. Setelah data ditabulasi,
pengujian validitas konstruksi dilanjutkan dengan analisis faktor dengan
mengkorelasikan antar skor item instrumen.
b) Pengujian Validitas Isi (Content Validity)
Untuk instrumen yang berbentuk tes, pengujian validitas dapat dilakukan
dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi yang telah ada.
Secara teknis pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan menggunakan kisi-
kisi instrumen.
c) Pengujian Validitas Eksternal
Validitas eksternal instrumen diuji dengan cara membandingkan (untuk
mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakat-fakta
empiris yang terjadi di lapangan. Instrumen penelitian yang mempunyai
validitas eksternal yang tinggi akan menghasilkan hasil penelitian yang
mempunyai validitas eksternal yang tinggi pula.
b. Pengujian Reliabilitas Instrumen
Pengujian reliabilitas instrument dapat dilakukan secara eksternal maupun
internal, secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability),
ekuivalen, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrument dapat
diuji dengan menganalisis konsinstensi butir–butir yang ada pada instrument
dengan teknik tertentu.
a) Test-retest
Instrument penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan test–retest dilakukan
dengan cara mencobakan instrument beberapa kali pada responden. Jadi dalam
hal ini instrumennya sama dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas diukur dari
koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan percobaan berikutnya. Bila
koefisien korelasi positif dan signifikan, maka instrument tersebut dikatakan
reliable. Pengujian cara ini sering juga di sebut stability
b) Equivalen
Instrument yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda,
tetapi maksudnya sama. Pengujina reliabilitas instrument dengancara ini cukup
dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu

3
sama, instrument berbeda. Reliabilitas instrument dihitung dengan cara
mengkorelasikan antara data instrument yang satu dengan data instrument yang
dijadikan ekuivalen. Bila korelasi positif dan signifikan, maka instrument dapat
dinyatakan reliable.
c) Gabungan
Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobaan dua instrument
yang ekuivalen itu beberapa kali, ke responden yang sama. Jadi cara ini
merupakan gabungan pertama dan kedua. Reliabilitas instrument dilakukan
dengan mengkorelasikan dua instrument, setelah itu di korelasikan pada
pengujian ke dua, dan selanjutnya di korelasikan secara silang.
d) Internal Consistency
Pengujian reliabilitas dengan internal consistency dilakukan dengan cara
mencobakan instrument sekali saja, kemudian yang diperoeleh dianalisis
dengan teknik tertentu. Hasil inalisis dapat digunakan untuk memprediksi
reliabilitas instrument. Pengujian reliabillitas instrument dapat dilakukan
dengan teknik belah dua dari Spearman Brown (split half), KR 20, KR 21 dan
Anova Hoyt.

2. Data dan Metode Pengumpulan Data


2.1 Data dan Informasi
Data adalah fakta mentah atau rincian peristiwa yang belum diolah, yang terkadang
tidak dapat diterima oleh akal pikiran dari penerima data tersebut, maka dari itu data
harus diolah terlebih dahulu menjadi informasi untuk dapat di terima oleh penerima.
Data dapat berupa angka, karakter, simbol, gambar, suara, atau tanda-tanda yang dapat
digunakan untuk dijadikan informasi.
Informasi adalah hasil pengolahan data yang sudah dapat diterima oleh akal pikiran
penerima informasi yang nantinya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
Informasi dapat berupa hasil gabungan, hasil analisa, hasil penyimpulan, dan juga hasil
pengolahan sistem informasi komputerisasi.
Data mempunyai lingkup lebih detail dan bersifat teknis, sedangkan informasi
menghasilkan penjelasan yang dapat dipakai untuk mengambil keputusan. Data
penjualan misalnya merupakan penjelasan yang bersifat mentah, tetapi informasi
penjualan per bulan akan dipakai oleh manajemen untuk mengambil suatu keputusan.
2.2 Jenis Data
a. Menurut cara memperolehnya :
a) Data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri atau seorang atau
suatu organisasi langsung dari obyeknya. Contoh: Mewawancarai langsung
penonton bioskop 21 untuk meneliti preferensi konsumen bioskop.
b) Data sekunder yaitu data yang didapat tidak secara langsung dari objek
penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh

4
pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non
komersial. Contohnya adalah pada peneliti yang menggunakan data statistik
hasil riset dari surat kabar atau majalah.
b. Menurut sumbernya
a) Data internal adalah data yang menggambarkan keadaan atau kegiatan dalam
suatu organisasi. Misal: data keuangan, data pegawai, data produksi, dsb.
b) Data eksternal yaitu data yang menggambarkan suatu keadaan atau kegiatan di
luar suatu organisasi. Contohnya adalah data jumlah penggunaan suatu produk
pada konsumen, tingkat preferensi pelanggan, persebaran penduduk, dan lain
sebagainya.
c. Menurut sifatnya
a) Data kualitatif adalah data yang sifatnya hanya menggolongkan saja dan tidak
dapat diwujudkan dalam bentuk angka. Yang termasuk dalam klasifikasi data
kualitatif adalah data yang berskala ukuran nominal dan ordinal, seperti jenis
kelamin, jenis pekerjaan, status pekerjaan, motivasi karyawan, dan lain
sebagainya.
b) Data kuantitatif adalah data yang dapat dinyatakan dalam bentuk angka, yang
termasuk dalam data kuantitatif adalah data yang berskala ukur interval dan
rasio. Contohnya, jumlah karyawan, jumlah penjualan, jumlah piutang, jumlah
hutang, dan lain-lain.
d. Menurut waktu pengumpulannya
a) Cross section / insidentil adalah dikumpulkan pada suatu waktu tertentu.
Contohnya laporan keuangan per 31 desember 2006, data pelanggan PT. Angin
Ribut bulan mei 2004, dan lain sebagainya.
b) Data berkala / time series data adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke
waktu untuk menggambarkan suatu perkembangan atau kecenderungan
keadaan/peristiwa/kegiatan. Contoh data time series adalah data perkembangan
nilai tukar dollar amerika terhadap euro eropa dari tahun 2004 sampai 2006, dll.
2.3 Sumber Data
1. Data Primer (Primary Data)
Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara
langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer secara
khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian. Data
primer dapat berupa opini subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil
observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian.
Ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data primer, yaitu:
(1) metode survei dan (2) metode observasi.
2. Data Sekunder (Secondary Data)
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti
secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat pihak lain).

5
Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah
tersusun dalam arsip yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan.
Keuntungan menggunakan data sekunder adalah lebih murah, lebih cepat,
dan dalam kenyataan sering peneliti tidak terlalu mampu untuk mengumpulkan data
primer sendiri, misalnya sensus penduduk. Bentuk data sekunder ada dua kategori
yaitu berasal dari sumber internal dam sumber eksternal.
Adapun manfaat dari data primer adalah dikumpulkan untuk mencapai
tujuan penelitian, tidak ada risiko kadaluwarsa karena dikumpulkan setelah proyek
penelitian dirumuskan, semua data dipegang oleh peneliti, mengetahui kualitas dari
metode-metode yang dipakainya karena dialah yang mengatur sejak awal.
2.4 Metode Pengumpulan Data Sekunder
Metode pengumpulan data sekunder sering disebut metode pengumpulan bahan
dokumen, karena peneliti tidak secara langsung mengambil data sendiri tetapi
memanfaatkan data atau dokumen yang dihasilkan oleh pihak-pihak lain.
Pada umumnya, data sekunder yang digunakan oleh pihak peneliti untuk
memberikan gambaran tambahan, gambaran pelengkap, ataupun untuk diproses lebih
lanjut. Dalam metode pengumpulan data sekunder, obsevator tidak meneliti langsung,
tetapi data didapatkan misalnya dari media massa, BPS, lembaga pemerintah maupun
swasta, lembaga penelitian maupun pusat bank, data hasil penelitian lain, penelitian
kepustakaan dalam hal untuk mengetahui berbagai pengetahuan dan karya yang pernah
dicapai oleh para peneliti terdahulu. Dengan penelitian kepustakaan, akan melatih
peneliti untuk membaca kritis segala bahan yang dijumpainya, kecermatan dan
ketelitian peneliti akan sangat teruji dalam memutuskan sumber yang dipercayanya.
2.5 Metode Pengumpulan Data Primer
Terdapat dua hal utama yang memepengaruhi kualitas data penelitian yaitu, kualitas
instrumen penelitian dan metode pengumpulan data. Ada beberapa cara untuk
mengumpulkan data yaitu:
a. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data, apabila peneliti
ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang diteliti,
dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal yang dari responden yang lebih
mendalam dan jumlah respondennya sangat sedikit. Wawancara dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.
b. Kuisioner (Angket)
Kuisioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberi seperangkat pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada responden untuk
dijawabnya. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila
peneliti mengetahui variabel-variabel yang akan diukur.

6
Uman Sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip penulisan angket sebagai
metode pengumpulan data yaitu: prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan
fisik.
c. Observasi
Sutrisno hadi mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses
yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai suatu psikologis dan
biologis. Dari proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan
menjadi Participant Observation (observasi berperan serta), dan Non participant
Observation selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi
dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.
2.6 Metode Wawancara/Wawancara Mendalam
Wawancara-Mendalam (In-depth Interview) adalah proses memperoleh keterangan
untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara
pewawancara dengan responden atau orang yang diwawncarai, dengan atau tanpa
menggunakan pedoman (guide) wawancara dimana pewawancara dan informan terlibat
dalam kehidupan sosial yang relatif lama (Sutopo 2006: 72)
Pengertian wawancara-mendalam (In-depth Interview) adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka
antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawncarai, dengan atau
tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara dimana pewawancara dan informan
terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama (Sutopo 2006: 72). Ciri
khusus/kekhasan dari wawancara-mendalam ini adalah keterlibatannya dalam
kehidupan responden/informan.
Dalam wawancara-mendalam melakukan penggalian secara mendalam terhadap
satu topik yang telah ditentukan (berdasarkan tujuan dan maksud diadakan wawancara
tersebut) dengan menggunakan pertanyaan terbuka. Penggalian yang dilakukan untuk
mengetahui pendapat mereka berdasarkan perspective responden dalam memandang
sebuah permasalahan. Teknik wawancara ini dilakukan oleh seorang pewawancara
dengan mewawancarai satu orang secara tatap muka (face to face).
Sedangkan kelemahan dari wawancara-mendalam ini adalah adanya keterikatan
emosi antara ke duanya (pewawancara dan orang yang diwawancarai), untuk itu
diperlukan kerjasam yang baik antara pewawancara dan yang diwawancarainya. Materi
dalam wawancara-mendalam tergantung dari tujuan dan maksud diadakannya
wawancara tersebut. Agar hasil dari wawancara tersebut sesuai dengan tujuan
penelitian, diperlukan keterampilan dari seorang pewawancaranya agar nara
sumbernya (responden) dapat memberikan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan
yang diajukan.
Sebelum dilakukan wawancara-mendalam, perlu dibuatkan pedoman (guide)
wawancara. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pewawancara dalam menggali
pertanyaan serta menghindari agar pertanyaan tersebut tidak keluar dari tujuan

7
penelitian. Namun pedoman (guide) wawancara tersebut tidak bersifat baku, dapat
dikembangkan dengan kondisi pada saat wawancara berlangsung dan tetap pada
koridor tujuan diadakannya penelitian tersebut.
2.7 Metode Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik
dibandingkan dengan metode yang lain. Metode pengumpulan data dengan observasi
digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-
gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi
dua yakni:
a. Observasi berperan serta
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang
sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan
observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan
sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Sambil
mengamati, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data.
Misalnya, mengamati bagaimana perilaku karyawan dalam bekerja, bagaimana
semangant kerjanya, bagaimana hubungan karyawan dengan karyawan lain, dan
sebagainya.
b. Observasi Nonpartisipan
Dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat
independen. Pengumpulan data dengan observasi nonpartisipan ini tidak akan
mendapatkan data yang mendalam dan tidak sampai pada tingkat makna. Makna
adalah nilai-nilai di balik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis.
Misalnya, mengamati perilaku pembeli, mengamati barang-barang apa saja yang
diminati pembeli.
Dari segi instrumen yang digunakan, maka observasi dibedakan menjadi:
a. Observasi terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis
tentang apa yang akan diamati dimana tempatnya. Peneliti telah tahu dengan pasti
tentang variabel apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan, peneliti
menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.
b. Observasi tidak terstruktur
Merupakan observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang
akan diobservasi. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan
instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan.
2.8 Metode Angket/Kuisioner
Kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang telah disusun sebelumnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner, atau daftar pertanyaan tersebut
cukup terperinci dan lengkap dan biasanya sudah menyediakan pilihan jawaban

8
(kuesioner tertutup) atau memberikan kesempatan responden menjawab secara bebas
(kuesioner terbuka).
Penyebaran kuesioner dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti penyerahan
kuesioner secara pribadi, melalui surat, dan melalui email. Masing-masing cara ini
memiliki kelebihan dan kelemahan, seperti kuesioner yang diserahkan secara pribadi
dapat membangun hubungan dan memotivasi respoinden, lebih murah jika
pemberiannya dilakukan langsung dalam satu kelompok, respon cukup tinggi. Namun
kelemahannya adalah organisasi kemungkinan menolak memberikan waktu
perusahaan untuk survey dengan kelompok karyawan yang dikumpulkan untuk tujuan
tersebut. Prinsip penulisan angket menyangkut beberapa faktor antara lain:
1) Isi dan tujuan pertanyaan, artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk mengukur
maka harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
2) Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan responden.
3) Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau tertutup. Jika terbuka artinya
jawaban yang diberikan adalah bebas, sedangkan jika pernyataan tertutup maka
responden hanya diminta untuk memilih jawaban yang disediakan.
4) Pertanyaan tidak memiliki makna ganda
5) Tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa
6) Pertanyaan tidak mengarahkan
7) Panjang pertanyaan
8) Acuan pertanyaan
9) Penampilan fisik, yaitu dicetak dalam kertas yang bagus sehingga direspon oleh
responden. Bila menggunakan kertas buram akan kurang direspon oleh responden.