Anda di halaman 1dari 41

RANCANGAN AKTUALISASIPELATIHAN DASAR CPNS

GELOMBANG 4 GOLONGAN II ANGKATAN 1

“MENINGKATAN PENERAPAN SISTEM UNIT DOSE DISPENSING


(UDD) DALAM DISTRIBUSI OBAT PASIEN RAWAT INAP DI RSUD
WALED KABUPATEN CIREBON”

Disususun Oleh :
LAILA FITRIANI NUR AISYAH, A.Md.Far
NIP. 19960221 201903 2 005
NDH 05

BADAN KEPEGAWAIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA


MANUSIA KABUPATEN CIREBON
BEKERJASAMA DENGAN
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA JAWA BARAT

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas

segala rahmat, karunia, hidayah dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat

menyusun rancangan kegiatan aktualisasi nilai-nilai dasar profesi ASN

dengan baik. Selama proses penyusunan rancangan kegiatan aktualisasi ini,

banyak pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan, masukan dan

semangat pada penulis. Untuk itu, penulis mengucapakan terimakasih

kepada:

1. Allah SWT, yang telah memberikan kemudahan, kelancaran dan rezeki

jasmani dan rohani, kepada penulis sehingga penulis dapat

menyelesaikan rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN ini dengan

tepat waktu.

2. Bapak Dr. H. Tarli Supriyatna, S.E., MM, sebagai pembimbing (coach)

yang telah meluangkan waktu, memberikan bimbingan dan masukan,

serta motivasi kepada penulis dalam penyusunan rancangan aktualisasi

ini.

3. Ibu Mona Isabella, SKM, SST, MH. Kes sebagai mentor yang telah

bersedia meluangkan waktu dalam memberikan arahan, bimbingan

serta motivasi kepada penulis dan juga memberikan semangat kepada

penulis.

4. Seluruh Widyaiswara BPSDM Jawa Barat yang telah memberikan

wawasan dan pencerahan tentang menjadi seorang ASN yang


berkarakter sehingga penulis bisa menerapkan nilai-nilai dasar ASN

dalam dunia kerja.

5. Seluruh pelatih Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi yang tidak

hentinya memberikan pelatihan kedisiplinan untuk menempa penulis

menjadi sosok yang lebih disiplin.

6. Seluruh jajaran panitia dari pihak BKPSDM Kab. Cirebon baik yang

terlibat langsung maupun yang berada di balik layar, yang telah

menemani penulis dan rekan-rekan selama melaksanakan Pelatihan

Dasar ini.

7. Pihak – pihak terkait yang telah mendukung dan mendoakan penulis

yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu sehingga penulis bisa

menyelesaikan laporan aktualisasi ini.

Dalam penyusunan rancangan kegiatan aktulisasi ini, penulis

menyadari bahwa masih ada kekurangan dan kesalahan, penulis mohon maaf

atas kekurangan tersebut. Penulis berharap rancangan kegiatan aktualisasi ini

dapat di aktualisasikan dengan baik.

Bandung, 2 November 2019

Penulis
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN .....................................................................

LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................

KATA PENGANTAR ...............................................................................

DAFTAR ISI ..............................................................................................

DAFTAR TABEL .....................................................................................

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................

1.1. Latar Belakang.....................................................................

1.2. Tujuan ..................................................................................

1.3. Ruang Lingkup ....................................................................

1.4. Manfaat ................................................................................

BAB II GAMBARAN UMUM ORGANISASI DAN MATERI

PELATIHAN ...............................................................................

2.1. Profil Organisasi .......................................................................

2.1.1. Gambaran Umum RSUD Waled ....................................

2.1.2. Visi dan Misi RSUD Waled ...........................................

2.1.3. Motto RSUD Waled .......................................................

2.1.4. Tujuan RSUD Waled ......................................................

2.1.5. Nilai – nilai RSUD Waled ..............................................

2.1.6. Struktur Organisasi RSUD Waled ..................................

2.2. Materi Pelatihan .......................................................................

2.2.1. Agenda Sikap Prilaku Bela Negara ................................


2.2.2. Agenda Nilai-nilai Dasar ASN .......................................

2.2.3. Agenda Kedudukan dan Peran PNS Dalam NKRI .........

2.2.4. Agenda Habituasi............................................................

2.2.5. Tugas Pokok dan Fungsi Peserta Diklat .........................

BAB III Rancangan Aktualisasi .............................................................

3.1. Metode, Identifikasi, dan Gagasan Pemechan Isu ...............

3.2. Racangan Kegiatan Aktualisasi ...........................................

3.3. Matriks Rencana Kegiatan Aktualisasi ...............................

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Aparatur Sipil Negara atau yang disingkat ASN menurut undang-undang No

5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara adalah profesi bagi pegawai negeri

sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi

pemerintah. Tugas dan fungsi pegawai ASN adalah sebagai pelaksana kebijakan

public sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, sebagai pelayanan

publik, dan sebagai perekat dan pemersatu bangsa Indonesia.

Seperti yang tercantum dalam Undang – undang Nomor 5 Tahun 2014

tentang ASN untuk membentukan ASN yang professional dan berintegritas,

diperlukan adanya Pendidikan dan Pelatihan Dasar, begitupun juga yang

tercantum dalam Peraturan Kepala LAN RI Nomor 12 Tahun 2018 tentang

Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil

dijelaskan juga bahwa salah satu persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat

diangkat menjadi PNS adalah mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar.

Oleh karena itu Pemerintah kabupaten Cirebon bertekad untuk memiliki

ASN yang dapat mengaktualisasikan kode etik dan nilai – nilai dasar ASN yaitu

Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen mutu dan Anti korupsi

yang selanjutnya disingkat ANEKA, bekerja sama dengan Badan


Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan

Pelatihan Dasar Bagi para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Rumah Sakit menurut Undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah

Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan

kesehatan perorangan secara paripurna. Salah satu pelayanan kesehatan di

rumah sakit adalah pelayanan kefarmasian, yang manamenurut Peraturan

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Standar

Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit, Pelayanan Kefarmasian adalah suatu

pelayanan langsung dan bertanggungjawab kepada pasien yang berkaitan

dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk

meningkatkan mutu kehidupan pasien.

Pelayanan kefarmasian yang sejalan dengan tugas dan fungsi asisten

apoteker di rumah sakit yaitu pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan

bahan medis habis pakai yang salah satu bagiannya adalah pendistribusian obat.

Maka penulis mengangkat isu di unit kerja dalam hal ini di Instalasi Farmasi. Isu

yang diangkat mengenai “Kurang Optimalnya Penerapan Sistem Unit Dose

Dispensing (UDD) Dalam Distribusi Obat Pasien Rawat Inap RSUD Waled”,

dengan harapan melalui rancangan aktualisasi ini akan mampu memperbaiki

distribusi obat pasien rawat inap RSUD Waled sehingga meminimalisasi

keterlambatan pemberian obat kepada pasien.


1.2. Tujuan

Tujuan pelaksanaan aktualisasi nilai-nilai dasar profesi Aparatur Sipil

Negara (ASN) adalah sebagai berikut:

1. Memahami nilai-nilai dasar profesi ASN dalam melaksanakan tugas dan

kewajiban.

2. Mampu mengimplementasikan nilai-nilai ANEKA dalam menjalankan

tugas dan kewajiban melalui tahap aktualisasi dan habituasi.

3. Meningkatkan Penerapan Sistem Unit Dose Dispensing (UDD) Dalam

Distribusi Obat di RSUD Waled

1.3. Ruang Lingkup

Ruang lingkup aktualisasi ini yaitu pelaksanaan kegiatan aktualisasi yang

dilaksanakan selama 30 hari kerja di lingkungan tempat kerja yaitu RSUD Waled

Kabupaten Cirebon, dengan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar akuntabilitas,

nasionalisme, etika, publik, komitmen mutu dan anti korupsi dalam pelaksanaan

tugas kerja sehari-hari di Instalasi Farmasi RSUD Waled Kabupaten Cirebon.

1.4. Manfaat

Manfaat pelaksanaan aktualisasi nilai-nilai dasar profesi Aparatur Sipil

Negara (ASN) adalah sebagai berikut:

1. Diri Sendiri
Nilai-nilai dasar profesi ASN (ANEKA) terealisasi secara konsisten dalam

melaksanakan tugas dan tanggung jawab, sehingga mendorong terwujudnya ASN

yang profesional dan berintegritas tinggi.

2. Organisasi

Meningkatnya pelayanan dan kinerja organisasi, serta mendukung

terwujudnya visi RSUD Waled dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan.

Sehingga mendorong RSUD Waled menjadi salah satu Rumah Sakit yang

memberikan pelayanan prima.

3. Masyarakat

Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar profesi ASN kepada masyarakat akan

bermanfaat dalam menciptakan pelayanan kesehatan publik yang prima dengan

pelayanan paripurna yang bertanggung jawab, beritegritas dan profesional.

sehingga masyarakat merasa nyaman dan mendapat pelayanan yang terbaik.


BAB II

GAMBARAN UMUM ORGANISASI

DAN MATERI PELATIHAN

2.1. Profil Organisasi

2.1.1. Gambaran Umum RSUD Waled

Rumah Sakit Umum Daerah Waled Kabupaten Cirebon merupakan rumah sakit

kelas B non pendidikan sesuai KEPMENKES RI nomor 1135/MENKES/SK/XII/2008

tentang peningkatan kelas Rumah Sakit Umum Daerah Waled milik Pemerintah

Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat tanggal 3 Desember 2008. Alamat rumah sakit

terletak di Jalan Prabu Kiansantang nomor 4 Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.

Rumah Sakit Umum Daerah Waled dipimpin oleh seorang Direktur yang

bertanggung jawab kepada Bupati dan secara admistratif dibina oleh Sekretaris Daerah.

Pelayanan kesehatan di rumah sakit meliputi upaya kuratif, rehabilitatif, promotif, dan

preventif. RSUD Waled selalu berupaya memberikan pelayanan yang terbaik dan

bermutu kepada seluruh masyarakat.

2.1.2. Visi dan Misi RSUD Waled

Visi RSUD Waled adalah “Menjadi Pusat Pelayanan Pendidikan dan Penelitian

Kesehatan di wilayah timur Jawa Barat tahun 2019”.

Misi RSUD Waled adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit


2. Meningkatkan mutu pendidikan dan penelitian kesehatan di rumah sakit

2.1.3. Motto RSUD Waled

Motto RSUD Waled disingkat SEHAT dengan penjabaran sebagai berikut:

S = SIAGA

E = EFEKTIF DAN EFISIEN

H = HARMONIS

A = AMAN

T = TERTIB

2.1.4. Tujuan RSUD Waled

Tujuan RSUD Waled adalah sebagai berikut :

1. Peningkatan kapasitas ruang perawatan,

2. Tersedianya tenaga sesuai kompetensi yang dibutuhkan,

3. Tercapainya standar pelayanan minimal (SPM) sesuai standar.

2.1.5. Nilai – nilai RSUD Waled

Nilai-nilai RSUD Waled Kabupaten Cirebon meliputi:

1. JUJUR

Merupakan kekuatan moral seluruh pegawai RSUD Waled sebagai individu

yang unggul berkualitas dalam melaksanakan tugasnya melayani masyarakat

dan memajukan RSUD Waled Kabupaten Cirebon.

2. PROFESIONAL

Berkinerja dengan berbasis kompetensi dan dengan penuh rasa tanggung

jawab sesuai dengan sistem dan panduan yang berlaku.


3. AKUNTABEL

Dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan peraturan dan perundangan

yang berlaku serta tidak bertentangan dengan hasil tersebut, dimana

pertanggung jawaban ini menyangkut sumber, inputnya, proses yang

dilakukan dan juga hasil / output yang didapatkan. Mengedepankan

kepentingan masyarakat dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan di rumah

sakit.

4. KOMITMEN

Sikap, janji dan tanggung jawab karyawan RSUD Waled serta semangat

kerja dalam menjalankan tugas menuju perubahan kearah yang lebih baik,

sehingga akan tetap berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.


2.1.6. Struktur Organisasi RSUD Waled

Struktur organisasi RSUD Waled adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Struktur Organisasi RSUD Waled


2.2. Materi Pelatihan

2.2.1. Agenda Sikap Prilaku Bela Negara

Kesadaran bela negara adalah upaya untuk mempertahankan negara kita dari

ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan hidup bermasyarakat yang berdasarkan

atas cinta tanah air. Kesadaran bela negara juga dapat menumbuhkan rasa patriotisme

dan nasionalisme di dalam diri masyarakat.

Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar juga merupakan kehormatan

bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, penuh tanggung

jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa. Keikutsertaan

kita dalam bela negara merupakan bentuk cinta terhadap tanah air kita. Adapun nilai-nilai

bela Negara sebagai berikut :

1. Cinta Tanah Air, Mengetahui sejarah negara kita sendiri, melestarikan budaya-

budaya yang ada, menjaga lingkungan kita dan pastinya menjaga nama baik negara kita

2. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara, Mencegah perkelahian antar perorangan

atau antar kelompok dan menjadi anak bangsa yang berprestasi baik di tingkat nasional

maupun internasional

3. Pancasila, Pancasila adalah alat pemersatu keberagaman yang ada di Indonesia yang

memiliki beragam budaya, agama, etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila inilah yang dapat

mematahkan setiap ancaman, tantangan, dan hambatan

4. Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara, Kita harus rela berkorban untuk

bangsa dan negara

5. Memiliki Kemampuan Bela Negara, Menjaga kedisiplinan, ulet, bekerja keras

dalam menjalani profesi.

2.2.2. Agenda Nilai-Nilai Dasar PNS


Dalam menjalankan tugas pokok, dan fungsinya, seorang ASN harus berpegang

teguhpada nilai-nilai dasar profesi ASN yang disebut sebagai ANEKA, yaitu:

1. Akuntabilitas

Dalam undang – undang No. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, Pegawai

ASN berfungsi sebagai : 1). Pelaksana kebijakan publik; 2). Pelayan publik; dan 3).

Perekat dan pemersatu bangsa. Fungsi – fungsi ASN ini harus dilakukan dengan penuh

tanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Akuntaabilitas

mengacu pada harapan implisit atau eksplisit bahwa keputusan atau tindakan seseorang

akan di evaluasi oleh pihak lain dan hasil evaluasinya dapat berupa reward atau

punishment. Akuntabilitas oleh PNS akan teruji ketika PNS tersebut mengalami

permaslahan dalam transparansi dan akses informasi, penyalahgunaan kewenangan,

penggunaan sumber daya milik negara dan konflik kepentingan. Seorang PNS dapat

dikatakan PNS yang akuntabel apabila mampu mengatasi masalah – masalah tersebut.

Beberapa indikantor dan nilai dasar akuntabilitas yang harus diperhatikan untuk

menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel :

• Kepemimpinan

Lingkungan yang akuntabel memiliki pimpinan yang dapat memainkan peranan

penting dan mengayomi. Pimpinan mempromosikan lingkungan yang akuntabel

dengan memberikan contoh, adanya komitmen tinggi terhadap pekerjaannya,

terhindar dari aspek yang menggagalkan kinerja.

• Transparansi

Transparansi memiliki arti terbuka dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Organisasi

yang transparan memiliki laporan yang jelas secara berkala sehingga seluruh anggota

organisasi dan masyarakat dapat mengetahui kinerja organisasi tersebut.

• Integritas
Integritas menjadikan adanya suatu kewajiban untuk menjunjung tinggi dan

mematuhi segala hukum yang berlaku, undang- undang, kontrak, kebijakan dan

peraturan yang berlaku.

• Tanggung jawab (Resposibilitas)

Tanggung jawab institusi dan perseorangan memberikan kewajiban bagi individu

dan lembaga bahwa ada suatu konsekuensi dari setiap tindakan yang telah dilakukan,

karena adanya tuntutan untuk bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat.

• Keadilan

Keadilan adalah landasan utama akuntabilitas.Keadilan harus dipromosikan oleh

pimpinan kepada lingkungan organisasinya agar tercipta organisasi yang akuntabel.

• Kepercayaan

Rasa keadilan membawa pada kepercayaan. Lingkungan yang akuntabel tidak akan

lahir dari hal – hal yang tidak dapat dipercaya.

• Keseimbangan

Setiap individu yang ada di lingkungan kerjanya, harus dapat menggunakan

kewenangannya untuk meningkatkan kinerja. Dengan demikian akan tercipta

kerjasama organisasi yang baik.

• Kejelasan

Agar individu dan kelompok dapat menjalankan tugasnya secara akuntabel, mereka

harus memiliki kejelasan akan tugas pokok dan fungsi masing-masing serta memiliki

gambaran yang jelas akan tujuan dan hasil yang diharapkan.

• Konsistensi

Konsistensi menjamin stabilitas. Penerapan yang tidak konsisten dari sebuah

kebijakan, prosedur, sumber daya akan memiliki konsekuensi terhadap tercapainya

lingkungan kerja yang tidak akuntabel, akibat melemahnya komitmen dan

kredibilitas anggota organisasi.

2. Nasionalisme
Nasionalisme memiliki dua arti, dalam arti sempit, nasionalisme adalah suatu sikap

yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain

sebagaimana mestinya. Sedangkan dalam arti luas, nasionalisme adalah pandangan

tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara dan sekaligus menghormati

bangsa lain. Setiap pegawai Negeri Sipil sebagai bagian dari ASN yang memahami dan

memiliki kesadaran mengimplementasikan nilai – nilai Pancasila dalam pelaksanaan

tugasnya sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik dan perekat dan pemersatu

bangsa adalah ASN yang memiliki Nasionalisme kuat.

• Sila 1 (Nilai Ketuhanan) Menjamin kebebasan masyarakat dalam

memeluk agama dan kepercayaannya, saling menghormati kepercayaan satu sama

lain, mengembangkan etika sosial dimasyarakat.

• Sila 2 (Nilai Kemanusiaan) Penghormatan terhadap Hak Asasi

Manusia, saling menghargai antar sesama, mengakui persamaan derajat, persamaan

hak dan kewajiban setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama,

kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

• Sila 3 (Nilai Persatuan) Bekerja sama demi persatuan dan

kesatuan bangsa, menempatkan kepentingan publik daripada kepentingan diri sendiri

demi persatuan dan kesatuan bangsa.

• Sila 4 (Nilai Permusyawaratan dalam Kehidupan Sehari– hari)

Perwujudan dari demokrasi permusyawaratan yakni demokrasi yang kerakyatan

(penghormatan terhadap suara rakyat), permusyawaratan (kekeluargaan), dan hikmat

kebijaksanaan.

• Sila 5 (Nilai Keadilan) Mengembangkan sikap adil terhadap semua tingkat sistem

kemasyarakatan, menyediakan kesetaraan kesempatan dalam proses fasilitasi akses informasi

dan layanan.

3. Etika Publik
Pembentukan nilai etika publik melalui pembelajaran kode etik. Berdasarkan

Undang-Undang ASN, kode etik ASN adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas tinggi.

2. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin.

3. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan.

4. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

5. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat yang berwenang

sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan

etika pemerintahan.

6. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan Negara.

7. Menggunakan kekayaan dan barang milik Negara secara bertanggung jawab, efektif

dan efisien.

8. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya.

9. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain yang

memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.

10. Tidak menyalahgunakan informasi intern Negara, tugas, status, kekuasaan, dan

jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri

atau untuk orang lain.

11. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas ASN.

12. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai disiplin pegawai

ASN.

4. Komitmen Mutu

Komitmen mutu merupakan kesanggupan yang sungguh-sungguh dari seorang

pegawai untuk melakukan tugasnya dengan efektif, efisien, inovatif, dan berorientasi

pada kepuasan pelanggan. Indikator komitmen mutu diantaranya:

1. Orientasi mutu
Orientasi mutu adalah pelayanan yang mengutamakan keunggulan produk/jasa yang

diberikan kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

2. Efektifitas

Efektivitas menunjukkan ketercapaian target yang telah disepakati baik menyangkut

jumlah maupun mutu hasil kerja.

3. Efisiensi

Efisiensi merupakan tingkat ketepatan realisasi penggunaan sumberdaya dan

bagaimana pekerjaan dilaksanakan sehingga tidak terjadi pemborosan sumber daya.

4. Inovatif

Inovatif yaitu mengusahakan selalu memberikan hal baru bagi peningkatan mutu

pelayanannya.

5. Anti Korupsi

Anti korupsi adalah kesadaran untuk tidak melakukan perbuatan buruk, curang,

dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari kesucian, melanggar norma-norma

agama, material, mental dan umum. Korupsi sering dikatakan sebagi kejahatan luar biasa

dikarenakan dampaknya yang menyebabkan kerusakan baik dalam ruang lingkup

pribadi, keluarga, masyarakat dan kehidupan yang lebih luas.Tindak pidana korupsi yang

terdiri dari kerugian keuangan negara, suap-menyuap, pemerasan, perbuatan curang,

penggelapan dalam jabatan, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi.

Indikator anti korupsi, diantaranya:

1. Jujur, merupakan sikap seseorang yang menyatakan sesuatu

dengan apa adanya.

2. Peduli, merupakan suatu bentuk perhatian terhadap apa yang

dilakukan orang lain, di sekitarmya, dan taat pada aturan.

3. Mandiri, melakukan sesuatu dengan inisiatif sendiri.


4. Disiplin, melakukan sesuatu dengan tepat dan sesuai standar dan

aturan.

5. Kerja keras, bekerja dengan usaha yang lebih.

6. Tanggung jawab, berani menanggung segala akibat perbuatannya.

7. Sederhana, apa adanya, tidak berlebih-lebihan.

8. Berani, mempunyai keberanian untuk menyatakan kebenaran dan

menolak kebatilan.

9. Adil, menempatkan sesuatu sesuai dengan fungsinya.

2.2.3. Agenda Kedudukan dan Peran PNS Dalam NKRI

1. Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN)

Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN

yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih

dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Konsep yang ada dalam UU Nomor 5 Tahun

2014 tentang Aparatur Sipil Negera terbagi menjadi 2 (dua), yaitu Pegawai Negeri Sipil

(PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). PNS merupakan warga

negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai ASN secara tetap oleh

pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan, memiliki nomor

induk pegawai secara nasional. Sedangkan PPPK adalah warga negara Indonesia yang

memenuhi syarat tertentu, yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian berdasarkan

perjanjian kerja sesuai dengan kebutuhan instansi pemerintah untuk jangka waktu

tertentu.

Agar dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan baik dapat

meningkatkan produktivitas, menjamin kesejahteraan ASN dan akuntabel, maka ASN

diberikan hak PNS dan PPPK yang diatur dalam UU ASN sebagai berikut:

• PNS berhak memperoleh gaji, tunjangan, dan fasilitas; cuti; jaminan

pensiun dan jaminan hari tua; perlindungan; dan pengembangan kompetensi.


• PPPK berhak memperoleh gaji dan tunjangan; cuti; perlindungan; dan

pengembangan kompetensi.

Sistem merit merupakan kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada

kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar tanpa membedakan latar

belakang, politik, warna kulit, dan agama. Penerapan sistem merit dalam pengelolaan

ASN mendukung pencapaian tujuan dan sasaran organisasi dan memberikan ruang bagi

transparansi, akuntabilitas, objektivitas dan keadilan. Beberapa langkah nyata dapat

dilakukan untuk menerapkan sistem ini baik dari sisi perencanaan kebutuhan yang berupa

transparansi dan jangkauan penginformasian kepada masyarakat maupun jaminan

objektifitasnya dalam pelaksanaan seleksi. Jaminan sistem merit pada semua aspek

pengelolaan pegawai akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran

dan kinerja.

Pengelolaan atau manajemen ASN adalah kebijakan dan praktek dalam

mengelola aspek manusia atau sumber daya manusia dalam organisasi termasuk dalam

hal ini adalah pengadaan, penempatan, mutasi, promosi, pengembangan, penilaian, dan

penghargaan. Undang-undang Nomor 5 tentang ASN secara detail menyebutkan

pengelolaan pegawai ini baik untuk PNS maupun PPPK seperti yang disebutkan pada

merit sistem.

2. W

hole of Government (WoG)

WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintah yang menyatukan

upaya – upaya kolaboratif pemerintah dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup

koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan – tujuan pengembangan kebijakan,

manajemen program dan pelayanan publik.

WoG menjadi penting dan tumbuh sebagai pendekatan yang mendapatkan

perhatian dari pemerintah, hal ini terkait dengan adanya faktor internal, eksternal, dan
keberagaman latar belakang nilai budaya.Pendekatan WoG dapat beroperasi dalam

tataran kelembagaan nasional maupun daerah, namun penataan tersebut ridak merubah

kelembagaan atau sebaliknya. Sehingga dapat dilihat dan dibedakan berdasarkan

perbedaan kategori hubungan antara kelembagaan yang terlibat.

Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan, baik dari sisi

penataan institusi formal maupun informal, antara lain:

1. P

enguatan koordinasi antar lembaga

2. M

embentuk lembaga koordinasi khusus

3. M

embentuk gugus tugas

4. K

oalisi social

Adapun tantangan yang dihadapi dalam penerapan WoG, yaitu kapasitas SDM

dan institusi, nilai dan budaya organisasi, dan kepemimpinan. Praktek WoG dalam

pelayanan publik dilakukan dengan menyatukan seluruh sektor yang terkait dengan

pelayanan publik. Jenis pelayanan publik yang dikenal yang dapat didekati oleh

pendekatan WoG, yaitu pelayanan yang bersifat administratif, jasa, barang dan regulatif.

Negara berkewajiban melayani setiap negara dan penduduk untuk memenuhi hak

dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik yang merupakan amanat UUD

1945. Mmbangun kepercayaan masyarakat atas pelayanan publik yang dilakukan

penyelenggara pelayanan publik merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring

dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang peningkatan

pelayanan publik.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara

Negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme, telah ditetapkan asas-

asas umum penyelenggaraan negara dan pemerintahan negara oleh aparatur negara,

yaitu:
• Asas kepastian hukum

• Asas kepentingan umum

• Asas akuntabilitas

• Asas proporsionalitas

• Asas profesionalitas

• Asas keterbukaan

• Asas efisiensi

• Asas efektifitas

3. Pelayanan Publik

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menyatakan

bahwa pelayanan publik adalah kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan

sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk

atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara

pelayanan publik. Terdapat 3 (tiga) unsur penting dalam pelayanan publik yaitu

organisasi penyelenggara pelayanan publik, penerima layanan (pelanggan), dan kepuasan

yang diberikan atau diterima oleh penerima layanan (langganan).

Prinsip – prinsip yang harus ada dalam melakukan pelayan publik :

• Partisipatif

• Transparan

• Responsif

• Tidak diskriminatif

• Mudah dan murah

• Efektif dan efesien

• Aksesibel

• Akuntabel

• Berkeadilan
2.2.4. Agenda Habituasi

Habituasi secara harfiah diartikan sebagai sebuah proses pembiasaan pada/atau

dengan “sesuatu” supaya menjadi terbiasa atau terlatih untuk melakukan “sesuatu” yang

bersifat instrisik pada lingkungan kerjanya.

Mengadaposi pendapatnya Samani dan haryanto (2011:239) tentang habituasi,

peserta Pelatihan Dasar Calon PNS dalam pembelajaran agenda habituasi difasilitasi

untuk menghasilkan suatu penciptaan situasi dan kondisi (persistence life situation)

tertentu yang memungkinkan peserta melakukan proses pembiasaan untuk berperilaku

sesuai kriteria tertentu. Penciptaan tersebut diarahkan pada pembentukan karakter

sebagai karakter diri ideal melalui proses internalisasi dan pembiasaan diri melalui

intervensi (stimulus) tertentu yang akan dilakukan pada pelaksanaan tugas jabatan di

tempat kerja.

2.2.5. Tugas Poko dan Fungsi Peserta Diklat

Sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit bahwa

Asisten Apoteker atau Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu

apoteker dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiriatas Sarjana Farmasi, Ahli

Madya Farmasi, dan Analis Farmasi. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah

Sakit, Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit meliputi standar:

1. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai.

2. Pelayanan Farmasi Klinik.


Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016

Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit meliputi:

1. Pemilihan

2. Perencanaan Kebutuhan

3. Pengadaan

4. Penerimaan

5. Penyimpanan

6. Pendistribusian

7. Pemusnahan dan Penarikan

8. Pengendalian

9. Administrasi

Pelayanan Farmasi Klinik Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah

Sakit meliputi:

1. Pengkajian dan Pelayanan Resep

2. Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat

3. Rekonsiliasi Obat

4. Pelayanan Informasi Obat (PIO)

5. Konseling

6. Visite

7. Pemantauan Terapi Obat (PTO)

8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

9. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)

10. Dispensing Sediaan Steril

11. Pemantauan Kadar Obat Dalam Darah (PKOD)


BAB III

RANCANGAN AKTUALISASI

3.1. Metode, Indentifikasi dan Gagasan Pemecahan Masalah


Untuk menentukan isu yang akan diangkat dalam aktualisasi penulis memakai

metode USG ( Urgency, Seriousness, Growth = mendesak, gawat, perkembangan). Ada

beberapa langkah yang akan dilakukan :

1. Identifikasi isu-isu yang ada di instalasi farmasi rawat inap RSUD Waled:

a. Kurangnya Disiplin Kontrol Pasien HIV di RSUD Waled

b.Belum Optimalnya Penerapan Sistem Unit Dose Dispensing (UDD) Dalam Distribusi

Obat Pasien Rawat Inap di RSUD Waled

c. Kurangnya Kesadaran Dokter Dalam Penulisan Usia dan Berat Badan Pasien Dalam

Penulisan Resep
2. Membuat tabel USG analysis :

INDIKATOR
T S
N O K
ISU
O U S G T O
A R
L
1 Kurangnya Disiplin Kontrol Pasien HIV di RSUD Waled
Belum Optimalnya Penerapan Sistem Unit Dose Dispensing (UDD) Dalam
2
Distribusi Obat Pasien Rawat Inap di RSUD Waled
Kurangnya Kesadaran Dokter Dalam Penulisan Usia Dan Berat Badan Pasien
3
Dalam Penulisan Resep

Tabel 3.1 Analisis USG

Urgency ( U ) / Mendesak Seriousness ( S ) / Gawat Growth ( G ) / Perkembangan


Paling
me = =
Paling gawat =5 Paling cepat
nde 5 5
sak
Sangat = =
Sangat gawat =4 Sangat cepat
me 4 4
nde
sak
= =
Mendesak Gawat =3 Cepat
3 3
= =
Biasa Biasa =2 Biasa
2 2
Tidak
me = Lambat / =
Tidak gawat =1
nde 1 Tetap 1
sak

Tabel 3.2 Keterangan Penilaian USG

3. Tentukan skala penilaian analisa USG

INDIKATOR
T S
N O K
ISU
O U S G T O
A R
L
1 Kurangnya Disiplin Kontrol Pasien HIV di RSUD Waled 2 2 2 6 3
Belum Optimalnya Penerapan Sistem Unit Dose Dispensing (UDD) Dalam 1
2 3 4 4 1
Distribusi Obat Pasien Rawat Inap di RSUD Waled 1
Kurangnya Kesadaran Dokter Dalam Penulisan Usia Dan Berat Badan Pasien 1
3 3 4 3 2
Dalam Penulisan Resep 0
Tabel 3.3 Identifikasi Isu

Dari identifikasi isu yang ada di instalasi rawat inap RSUD Waled penulis medapat satu isu yang memiliki tingkat skala paling tinggi yaitu,

Belum Optimalnya Penerapan Sistem Unit Dose Dispensing (UDD) Dalam Distribusi Obat Pasien Rawat Inap di RSUD Waled. Penulis mengangkat isu

ini mengingat Sistem distribusi Unit Dose Dispensing (UDD) sangat dianjurkan untuk pasien rawat inap mengingat dengan sistem ini tingkat kesalahan

pemberian obat dapat diminimalkan sampai kurang dari 5% dibandingkan dengan sistem lainnya yang mencapai 18% menurut Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit.

4. Gagasan Pemecahan Isu

Beberapa rencana kegiatan yang dilakukan untuk memberikan solusi pemecahan isu tersebut adalah sebagai berikut :

1.Melakukan laporan dengan Kepala Seksi Ketenagaan dan Pengembangan Mutu Pelayanan Penunjang Medis (mentor) dan Kepala Instalasi Farmasi.

2.Melakukan modifikasi kemasan dan etiket obat untuk unit dose dispensing (UDD).
3.Melakukan koordinasi dengan Kepala Seksi Ketenagaan dan Pengembangan Mutu Pelayanan Penunjang Medis (mentor), Kepala Instalasi Farmasi, dan

Tenaga Farmasi lainnya.

4.Pemberian edukasi kepada tenaga farmasi tentang penerapan sistem unit dose dispensing (UDD).

5.Implementasi dan sosialisasi optimalisasi penerapan sistem unit dose dispensing (UDD) kepada pihak lain yang terlibat.

6.Melakukan monitoring dan evaluasi optimalisasi penerapan sistem unit dose dispensing (UDD).

7.Menyusun laporan akhir evaluasi aktualisasi.

3.2. Rancangan Kegiatan Aktualisasi


Unit Kerja : RSUD Waled

Identifikasi Isu :- Kurangnya Disiplin Kontrol Pasien HIV di RSUD Waled

- Kurang Optimalnya Penerapan Sistem Unit Dose Dispensing (UDD) Dalam Distribusi Obat di RSUD Waled

- Kurangnya Kesadaran Dokter Dalam Penulisan Usia dan Berat Badan Pasien Dalam Penulisan Resep
Isu yang diangkat : Kurang Optimalnya Penerapan Sistem Unit Dose Dispensing (UDD) Dalam Distribusi Obat Pasien Rawat Inap di

RSUD Waled

Gagasan pemecahan isu : Meningkatan Penerapan Sistem Unit Dose Dispensing (UDD) Dalam Distribusi Obat Pasien Rawat Inap di RSUD

Waled

3.3. Matriks Rencana Kegiatan Aktualisasi

Keterkaitan
Tahapan/ Prosedur Output/ Hasil Kontribusi terhadap Penguatan Nilai-
No Kegiatan Substansi Mata
Kegiatan Kegiatan Visi-Misi Organisasi nilai Organisasi
Pelatihan
1. Melakukan telaah 1. Meminta Dokumen SOP Unit Etika public Penerapan nilai-nilai Seluruh kegiatan
SOP pendistribusian dokumen SOP Dose Dispensing - Ramah ANEKA aktualisasi ini
obat rawat inap Unit Dose yang diminta dengan - Sopan berkontribusi untuk dilaksanakan dengan
RSUD Waled Dispensing ramah dan sopan mewujudkan visi menjunjung tinggi
(UDD) kepada Kepala RSUD Waled nilai organisasi
Instalasi Farmasi “Menjadi pusat RSUD Waled yaitu
pelayanan Jujur, Profesional,
pendidikan dan Akuntabel dan
penelitian kesehatan Komitmen
di wilayah timur
Jawa Barat tahun
2019” dan misi
RSUD Waled nomor
1 yaitu
“Meningkatkan
mutu pelayanan
kesehatan di rumah
sakit”

2. Menelaah Hasil telaah dokumen Komitmen mutu


dokumen SOP SOP Unit Dose - Cermat
Unit Dose Dispensing (UDD)
Dispensing yang ditelaah secara
(UDD) cermat

2. Melakukan 1. Membuat janji Jadwal konsultasi Komitmen mutu


koordinasi dengan untuk konsultasi yang disusun dengan - Cermat
Kepala Seksi pemecahan isu cermat
Ketenagaan dan
Pengembangan Mutu
Pelayanan Penunjang
Medis (mentor),
Kepala Instalasi
Farmasi, dan Tenaga
Farmasi lainnya.

2. Melakukan Langkah-langkah Etika public


konsultasi tentang pemecahan isu yang - Ramah
langkah dikonsultasikan - Sopan
pemecahan isu dengan sopan dan - Kode etik
santun , serta
bekerja sama Nasionalisme
dengan tenaga - Bekaerja sama
farmasi lainnya
dengan menjunjung
tinggi kode etik
profesi

3. Mencatat hasil Dokumen hasil Komitmen mutu


konsultasi konsultasi yang - Cermat
disusun dengan
cermat dan dapat Akuntabilitas
dipertanggung - Bertanggung
jawabkan jawab

3. Melakukan 1. Mengumpulkan Terkumpulnya Akuntabilitas


modifikasi kemasan referensi kemasan referensi untuk - Bertanggung
dan etiket obat untuk dan etiket obat membuat kemasan jawab
unit dose dispensing untuk unit dose dan etiket obat, - Integritas
(UDD). dispensing melakukannya
(UDD). dengan rasa
tanggung jawab dan
integritas dalam
memberikan
pelayanan
kefarmasian.

2. Membuat sampel Menghasilkan sampel Komitmen mutu


kemasan dan kemasan dan etiket - Inovativ
etiket obat untuk yang akan - Berorientasi pada
unit dose dikonsultasikan mutu
dispensing dengan melakukan - Efektif
(UDD). inovatif dan bekerja - Efisien
sama, berorientasi
pada mutu, Nasionalisme
mengutamakan - Bekerja sama
efektifitas dan
efisiensi untuk
meningkatkan
pelayanan
kefarmasian.

3. Konsultasi contoh Terkonsultasinya Nasionalisme


kemasan dan kemasan dan etiket - Menghargai
etiket obat untuk obat. Saat konsultasi, pendapat
unit dose saya menghargai - Bermusyawarah
dispensing pendapat atau saran - Bekerja sama
(UDD). dari yang lain, Etika public
bermusyawarah dan - Sopan
bekerja sama - Santun
dengan mentor,
atasan, dan rekan
Farmasi dengan
sopan dan santun.

4. Persetujuan Kemasan dan etiket Nasionalisme


kemasan dan obat pasien yang - Musyawarah
etiket obat untuk disetujui atasan
unit dose berdasarkan hasil
dispensing musyawarah.
(UDD).

4. Pemberian edukasi 1. Menyiapkan Tersusunnya bahan Komitmen mutu


kepada tenaga materi, sarana dan materi edukasi yang - Cermat
farmasi tentang prasarana untuk dibuat dengan,
penerapan sistem unit melakukan cermat, jelas dan Akuntabilitas
dose dispensing edukasi dapat dipertanggung - Tanggung jawab
(UDD). jawabkan

2. Melaksanakan Terlaksananya Akuntabilitas


pemberian pemberian edukasi - Tanggung jawab
edukasi tentang tentang pentingnya
tentang penerapan sistem Etika public
pentingnya dan UDD pasien rawat - Sopan
manfaat inap yang - santun
penggunaan dilaksanakan dengan
sistem UDD tanggung jawab,
untuk pasien jelas, dan bahasa
rawat inap yang sopan dan
santun.

5. Implementasi dan 1. Mengajukan izin Meminta izin kepada Etika public


sosialisasi kepada kepala kepala ruangan untuk - Sopan
optimalisasi ruangan rawat melakukan sosialisasi - Santun
penerapan sistem unit inap. kepada perawat - Ramah
dose dispensing dengan sopan santun
(UDD) kepada pihak dan ramah
lain yang terlibat.

2. Melaksanakan Melaksanakan Komitmen mutu


sosialisasi kepada sosialisasi dengan - Cermat
perawat ruangan cermat dan
bertanggung jawab, Akuntabilitas
bekerja sama dan - Tanggung jawab
menjunjung tinggi
kode etik kepada Nasionalisme
tenaga kesehatan lain - Bekerja sama
-
Etika public
- Kode etik

6. Melakukan 1. Melakukan Terlaksananya Komitmen mutu


pengawasan pengawasan pengawasan - Cermat
penerapan sistem unit penerapan sistem penerapan sistem
dose dispensing UDD di ruang UDD yang dilakukan Akuntabilitas
(UDD). perawatan yang di dengan cermat, - Tanggung jawab
jdikan bertanggung jawab
percontohan dan bekerja sama Nasionalisme
dengan perawat - Bekerja sama
ruangan

7. Menyusun laporan 1. Melakukan Dokumen laporan Akuntabilitas


akhir evaluasi konsultasi dengan akhir evaluasi yang - Tanggung jawab
aktualisasi. mentor untuk dikonsultasikan
mengevaluasi dengan mentor untuk Nasionalisme
hasil mengevaluasi hasil - Kerja keras
kegiatan. saya akan
melakukannya Etika public
dengan kerja keras, - Beretika luhur
jujur, tanggung - Santun
jawab, beretika - Jujur
luhur dan santun
saat berkomunikasi. Komitmen mutu
Hasil konsultasi akan - Cermat
dicatat di dalam buku
catatan konsultasi
agar hasil evaluasi
dapat dicatat dengan
cermat dan jelas.
3.4. Rencana Jadwal Kegiatan Aktualisasi

November Desember
No Kegiatan
Minggu I Minggu II Minggu III Minggu I Minggu II
Melakukan telaah SOP pendistribusian obat rawat inap RSUD
1
Waled
Melakukan koordinasi dengan Kepala Seksi Ketenagaan dan
2 Pengembangan Mutu Pelayanan Penunjang Medis (mentor),
Kepala Instalasi Farmasi, dan Tenaga Farmasi lainnya
Melakukan modifikasi kemasan dan etiket obat untuk unit dose
3
dispensing (UDD).

Pemberian edukasi kepada tenaga farmasi tentang penerapan


4
sistem unit dose dispensing (UDD).
Implementasi dan sosialisasi optimalisasi penerapan sistem
5
unit dose dispensing (UDD) kepada pihak lain yang terlibat.

Melakukan pengawasan penerapan sistem unit dose dispensing


6
(UDD).

7 Menyusun laporan akhir evaluasi aktualisasi.