Anda di halaman 1dari 8

1) Bentuk-Bentuk Perusahaan

1) Perusahaan Perseorangan

Perusahaaan perseorangan adalah badan usaha yang dikelola dan


diawasi oleh satu orang, dimana pengelola perusahaan memperoleh semua
keuntungan perusahaan, tetapi ia juga menanggung semua resiko yang timbul
dalam kegiatan perusahaan.

Pada umumnya perusahaan perseorangan bermodal kecil, terbatasnya


jenis serta jumlah produksi, memiliki tenaga kerja atau buruh yang sedikit dan
penggunaan alat produksi teknologi sederhana. Contoh perusahaan
perseorangan seperti toko kelontong, tukang bakso keliling, pedagang asongan,
dan lain sebagainya.

Pendirian perusahaan perseorangan tidak diatur dalam KUHD dan tidak


memerlukan perjanjian karena hanya didirikan oleh satu orang pengusaha saja.
Ciri-ciri perusahaan perseorangan :

a. Jumlah pengusaha hanya satu orang yaitu pemilik perusahaan

b. Modal usaha dimiliki satu orang (pengusaha yang bersangkutan) dan


biasanya kecil atau menengah

c. Pembantu pengusaha bekerja berdasarkan perjanjian kerja atau hibah.

d. Tidak ada aturan yang mengatur secara khusus mengenai perusahaan


perseorangan, namun hanya memerlukan izin permohonan usaha dari Dinas
Perdagangan setempat.

e. Tidak perlu dibuatkan akta pendirian.

f. Merupakan bentuk perusahaan paling sederhana.

g. Pengusaha memiliki sendiri seluruh kekayaan atau asset perusahaan dan


bertanggung jawab sendiri pula atas seluruh utang perusahaan (tanggung
jawab sampai harta kekayaan pemilik sehingga pemisahan modal
perusahaan dari kekayaan tidak berarti dalam hal tejadi kebangkrutan.
h. Bentuk perusahaan perseorangan adalah Perusahaan Dagang (PD) atau
Usaha Dagang (UD).

Perusahaan perseorangan dibagi dalam 2 kelompok yaitu:

a. Usaha Perseorangan Berizin

Memiliki izin operasional dari departemen teknis. Misalnya bila


perusahaan perseorangan bergerak dalam bidang perdagangan, maka dapat
memiliki izin seperti Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP), Surat Izin
Usaha Perdagangan (SIUP).

b. Usaha Perseorangan Yang Tidak Memiliki Izin

Misalnya usaha perseorangan yang dilakukan para pedagang kaki lima,


toko barang kelontong, dsb

2) Persekutuan Firma

Berdasarkan Pasal 16 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, Firma adalah


sebuah bentuk persekutuan untuk menjalankan usaha antara dua orang atau lebih
dengan memakai nama bersama. Persekutuan Firma merupakan bagian dari
persekutuan perdata, maka dasar hukum persekutuan firma terdapat pada Pasal 16
sampai dengan Pasal 35 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) dan pasal-
pasal lainnya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yang terkait.

a. Pembentukan Firma

Di dalam Firma, tiap-tiap sekutu secara tanggung menanggung


bertanggung jawab untuk seluruhnya atas segala perikatan dari Firma (Pasal
18 KUHD). Dalam Pasal 22 KUHD disebutkan bahwa persekutuan firma
harus didirikan dengan akta otentik. Untuk mendirikan suatu badan usaha
yang berbentuk firma. Harus memiliki Perjanjian yang disebut dengan Akta
Pendirian Firma yang didalamnya memuat beberapa hal yang harus
dipenuhi (Pasal 26 KUHD). Pasal 23 KUHD menyebutkan setelah akta
pendirian dibuat, maka harus didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan
Negeri dalam wilayah mana firma tersebut didirikan. Hal-hal yang perlu
didaftarkan adalah:
a. Akta pendirian atau

b. Ikhtisar resmi dari akta pendirian tersebut (Pasal 26 KUHD),

Selanjutnya ikhtisar resmi dari akta pendirian tersebut harus diumumkan dalam
Berita Negara Republik Indonesia (Pasal 28 KUHD). Selama akta pendirian belum
didaftarkan dan diumumkan, maka pihak ketiga menganggap firma sebagai
persekutuan umum yang menjalankan segala macam usaha, didirikan untuk jangka
waktu yang tidak terbatas serta semua sekutu berwenang menandatangani berbagai
surat untuk firma ini (Pasal 29 KUHD).

b. Proses Pembubaran

Pembubaran Persekutuan Firma diatur dalam ketentuan Pasal 1646


sampai dengan Pasal 1652 KUHP dan Pasal 31 sampai dengan Pasal 35
KUHD. Pasal 1646 KUHP menyebutkan bahwa ada 5 hal yang
menyebabkan Persekutuan Firma berakhir, yaitu :

a. Jangka waktu firma telah berakhir sesuai yang telah ditentukan


dalam akta pendirian

b. Adanya pengunduran diri dari sekutunya atau pemberhentian


sekutunya;

c. Musnahnya barang atau telah selesainya usaha yang dijalankan


persekutuan firma;

d. Adanya kehendak dari seorang atau beberapa orang sekutu;

e. Salah seorang sekutu meninggal dunia atau berada di bawah


pengampuan atau dinyatakan pailit.

Pasal 17 KUHD menyebutkan bahwa dalam anggaran dasar harus ditegaskan


apakah di antara para sekutu ada yang tidak diperkenankan bertindak keluar untuk
mengadakan hubungan hukum dengan pihak ketiga. Meskipun sekutu kerja tersebut
dikeluarkan wewenangnya atau tidak diberi wewenang untuk mengadakan hubungan
hukum dengan pihak ketiga, namun hal ini tidak menghilangkan sifat tanggung jawab
pribadi untuk keseluruhan, sebagaimana diatur dalam Pasal 18 KUHD.
Perihal pembagian keuntungan dan kerugian dalam persekutuan Firma diatur
dalam Pasal 1633 sampai dengan Pasal 1635 KUHPerdata yang mengatur cara
pembagian keuntungan dan kerugian. Apabila cara pembagian keuntungan dan
kerugian tidak diperjanjikan, maka pembagian didasarkan pada perimbangan
pemasukan secara adil dan seimbang dan sekutu yang memasukkan berupa tenaga kerja
hanya dipersamakan dengan sekutu yang memasukkan uang atau benda yang paling
sedikit.

3) Persekutuan Komanditer (CV)

Dasar hukum: Pasal 19-21 KUHD Dalam Pasal 19 Kitab Undang-undang


Hukum Dagang (KUHD), bahwa CV (Comanditaire Venootschaaf) adalah perseroan
yang terbentuk dengan cara meminjamkan uang, yang didirikan oleh seseorang atau
beberapa orang persero yang bertanggung jawab secara tanggung renteng dan satu
orang pesero atau lebih yang bertindak sebagai pemberi pinjaman uang. Pada beberapa
referensi lain, pemberian pinjaman modal atau biasa disebut inbreng, dapat berbentuk
selain uang, misalnya benda atau yang lainnya. Persekutuan komanditer merupakan
persekutuan firma dengan bentuk khusus. Bentuk khususnya adalah adanya sekutu
komanditer (dimana sekutu komanditer tidak ada dalam persekutuan firma)

a. Unsur-Unsur CV

Unsur CV adalah sebagai berikut:

a. Menjalankan perusahaan (Pasal 16 KUHD)

b. Dengan nama bersama atau firma (Pasal 16 KUHD)

c. Tanggung jawab sekutu (kerja) bersifat pribadi atau keseluruhan (Pasal 18


KUHD)

Dari pengertian di atas, sekutu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : Sekutu aktif
atau sekutu Komplementer, adalah sekutu yang menjalankan perusahaan dan berhak
melakukan perjanjian dengan pihak ketiga. Artinya, semua kebijakan perusahaan
dijalankan oleh sekutu aktif. Sekutu aktif sering juga disebut sebagai persero kuasa atau
persero pengurus. Sekutu Pasif atau sekutu Komanditer, adalah sekutu yang hanya
menyertakan modal dalam persekutuan. Jika perusahaan menderita rugi, mereka hanya
bertanggung jawab sebatas modal yang disertakan dan begitu juga apabila untung, uang
mereka memperoleh terbatas tergantung modal yang mereka berikan.

b. Pendirian CV

Persekutuan komanditer dapat diadakan berdasarkan perjanjian dengan lisan


atau sepakat para pihak saja (Pasal 22 KUH Dagang). Para pemberi modal atau pesero
komanditer, tidak bisa terlibat dalam menjalankan aktivitas perusahaan. Hal tersebut
diatur secara tegas di dalam Pasal 20 KUHD yang menjelaskan bahwa pesero
komanditer ini tidak boleh melakukan tindakan pengurusan atau bekerja dalam
perusahaan perseroan tersebut, meskipun ada pemberian kuasa sekalipun. Namun jika
pesero komanditer terbukti ikut menjalankan perusahaan sebagaimana yang dilakukan
pesero komplementer dan mengakibatkan kerugian perusahaan, maka sesuai dengan
Pasal 21 KUHD, pesero komanditer ikut bertanggung jawab secara tanggung renteng
terhadap semua utang dan perikatan perseroan tersebut.

c. Berakhirnya CV

Karena pada hakekatnya persekutuan komanditer adalah persekutuan perdata,


maka berakhirnya persekutuan komanditer adalah sama dengan persekutuan perdata
yang diatur dalam Pasal 1646 sampai dengan 1652 KUHPerdata. Pasal 1646 KUH
Perdata menyebutkan bahwa paling tidak ada 4 hal yang menyebabkan persekutuan
berakhir yaitu:

a. Lewatnya masa waktu perjanjian persekutuan

b. Musnahnya barang atau diselesaikannya perbuatan yang menjadi pokok


persekutuan

c. Kehendak dari sekutu, dan

d. Jika salah seorang sekutu meninggal atau ditaruh di bawah pengampuan atau
dinyatakan pailit.

Berakhirnya CV,juga diatur dalam Pasal 31 KUHD yaitu:

a. Berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar (Akta Pendirian).
b. CV berakhir sebelum jangka waktu yang ditetapkan, akibat pengunduran diri atau
pemberhentian sekutu.

4) Perseroan Terbatas (PT)

Perseroan terbatas merupakan organisasi bisnis yang memiliki badan hukum


resmi yang dimiliki oleh minimal dua orang dengan tanggung jawab yang hanya
berlaku pada perusahaan tanpa melibatkan harta pribadi atau perseorangan yang ada di
dalamnya. Di dalam PT pemilik modal tidak harus memimpin perusahaan, karena dapat
menunjuk orang lain di luar pemilik modal untuk menjadi pimpinan. Untuk mendirikan
PT atau persoroan terbatas dibutuhkan sejumlah modal minimal dalam jumlah tertentu
dan berbagai persyaratan lainnya.

Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun


1995 tentang Perseroan Terbatas, PT adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan
perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi
dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-undang No. 1
tahun 1995 serta peraturan pelaksanaannya.

a. PT Merupakan Badan Hukum.

Dalam hukum Indonesia dikenal bentuk-bentuk usaha yang dinyatakan sebagai


Badan Hukum dan bentuk-bentuk usaha yang Bukan Badan Hukum. Bentuk usaha
yang merupakan Badan Hukum adalah: PT, Yayasan, PT (Persero), Koperasi.
Sedangkan bentuk usaha yang Bukan Badan Hukum adalah: usaha perseorangan,
Firma, Commanditaire Vennotschap (CV), Persekutuan Perdata (Maatschap).
Perbedaan yang mendasar antara bentuk usaha Badan Hukum dan bentuk usaha
Bukan Badan Hukum adalah, dalam bentuk usaha Badan Hukum terdapat
pemisahan harta kekayaan dan pemisahan tanggung jawab secara hukum antara
pemilik bentuk usaha Badan Hukum dengan Badan Hukum tersebut sendiri.
Sedangkan dalam bentuk usaha Bukan Badan Hukum secara prinsip tidak ada
pemisahan harta kekayaan dan pemisahan tanggung jawab secara hukum antara
pemilik dan bentuk usaha itu sendiri.

b. PT Didirikan Berdasarkan Perjanjian.


Perjanjian dibuat oleh paling sedikit 2 pihak. Oleh karena PT harus didirikan
berdasarkan perjanjian maka PT minimal harus didirikan oleh paling sedikit 2 pihak.
Pasal 7 UU No.1/1995 mengatur hal tersebut:“Perseroan didirikan oleh 2 (dua)
orang atau lebih dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia”.

c. PT Melakukan Kegiatan Usaha.

Sebagai suatu bentuk usaha, fungsi didirikannya suatu PT adalah untuk


melakukan kegiatan usaha. Dalam mendirikan PT harus dibuat Anggaran Dasar PT
yang didalamnya tertulis maksud dan tujuan PT dan kegiatan usaha yang dilakukan
oleh PT.

d. PT Memiliki Modal Dasar yang Seluruhnya Terbagi dalam Saham.

Salah satu karakteristik dari PT adalah modal yang terdapat dalam PT terbagi
atas saham. Suatu Pihak yang akan mendirikan PT harus menyisihkan sebagian
kekayaannya menjadi kekayaan/aset dari PT. Kekayaan yang disisihkan oleh
pemilik tersebut menjadi modal dari PT yang dinyatakan dalam bentuk saham yang
dikeluarkan oleh PT tersebut.

e. PT Harus Memenuhi Persyaratan yang Ditetapkan dalam UU No. 1/1995 serta


Peraturan Pelaksananya.

UU No. 1/1995 sampai saat ini adalah dasar hukum yang mengatur mengenai
perseroan terbatas di Indonesia. Namun sehubungan dengan PT harus diperhatikan
pula peraturan pelaksana yang terkait dengan UU No. 1/1995 antara lain misalnya:
Peraturan Pemerintah No. 5 tahun 1999 tentang “Bentuk-bentuk Tagihan Tertentu
Yang Dapat Dikompensasikan Sebagai Setoran Saham” yang merupakan peraturan
pelaksana dari Pasal 28 UU No.1/1995.
DAFTAR PUSTAKA

http://rifqilutfi.blogspot.com/2016/02/bentuk-bentuk-hukum-perusahaan.html?m=1