Anda di halaman 1dari 79

EVALUASI PROSEDUR DAN PELAKSANAAN

BEKERJA PADA KETINGGIAN

DI RIG PDSI #31.3/1500-E

LAPORAN TUGAS AKHIR

oleh

Risma Haryati

NIM 12020155

PROGRAM STUDI FIRE AND SAFETY

AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN

INDRAMAYU

2016
EVALUASI PROSEDUR DAN PELAKSANAAN

BEKERJA PADA KETINGGIAN

DI RIG PDSI #31.3/1500-E

LAPORAN TUGAS AKHIR

oleh

Risma Haryati

NIM 12020155

PROGRAM STUDI FIRE AND SAFETY

AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN

INDRAMAYU

2016

i
ABSTRAK

Bekerja di ketinggian atau working at height adalah pekerjaan yang


dilakukan di tempat atau lokasi dimana ada potensi bahawa utama yang menghantui
adalah bahaya gravitasi yang menyebabkan pekerja terjatuh. Pekerjaan di bidang
pengeboran khususnya di rig memiliki durasi yang lebih besar daripada pekerjaan
di kantoran, yakni selama 12 jam, maka dari itu orang yang bekerja di rig selain
pandai juga memiliki fisik yang kuat, hati-hati dan teliti. Setiap pekerja diwajibkan
menggunakan alat pelindung diri yang standar untuk mendukung proses pekerjaan.
Tujuan dalam pelaksanaan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui perencanaan
bekerja pada ketinggian di Rig PDSI#31.3/D1500-E, mengetahui prosedur bekerja
pada ketinggian di rig PDSI #31.3/1500-e, mengetahui program pemenuhan
standar keselamatan bekerja pada ketinggian di di Rig PDSI#31.3/D1500-E,
mengetahui pelaksanaan bekerja pada ketinggian di Rig PDSI#31.3/D1500-E.
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan Tugas Akhir ini adalan orientasi
lapangan, metode wawancara dan study literature. Potensi bahaya yang dapat
menyebabkan terjadinya kecelakaan di Rig PDSI#31.3/D1500-E adalah kegagalan
fungsi alat pelindung jatuh seperti escape chair , terjadinya kick atau blowout
secara tiba-tiba, derrickman terjatuh ketika memanjat dan menuruni menara bor,
derrickman terjatuh dari monkey board setinggi 100 feet atau sekitar ± 33 meter
dikarenakan safety harness yang tidak dikaitkan dengan baik dan benar dan
Drilling pipe terjatuh pada saat proses cabut masuk rangkaian. Kegiatan work over
yang dilaksanakan di Rig PDSI#31.3/D1500-E melibatkan beberapa proses
pekerjaan yang kompleks dan memiliki resiko bahaya yang cukup banyak. Metode
pencegahan dari bahaya jatuh secara umum yang digunakan di PDSI mengacu pada
hirarki pengendalian bahaya (Eliminasi, Subtitusi, Engineering Control,
Administrasi, dan APD).

Bekerja Pada Ketinggian

ii
LEMBAR PENGESAHAN

EVALUASI PROSEDUR BEKERJA PADA KETINGGIAN

DI RIG PDSI #31.3/1500-E

LAPORAN TUGAS AKHIR

Disusun oleh

Nama : Risma Haryati

NIM : 12020155

Program Studi Fire and Safety


Proposal Tugas Akhir ini telah disetujui

Indramayu, Agustus 2016

Pembimbing I, Pembimbing 2,

Heneke Yoma Priyangga, ST,M.Eng Harris Hermawan


(Rig Superintendent) (HSE Project Coordinator)

iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI

Nama : Risma Haryati

NIM : 12020155

Program Studi : Fire And Safety

Tempat, tanggal lahir : Ciamis ,02 November 1995

Agama : Islam

Alamat Rumah : Dusun Dukuh satu, RT 02 RW 05 Desa Parakanmanggu,

Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran

Nomor Telepon : 085 295 296 483

E-mail : rismaharyati17@gmail.com

PENDIDIKAN

Formal :

1. 2013 – sekarang : Akademi Minyak dan Gas Balongan

2. 2010 – 2013 : SMK N 1 Pangandaran (Agribisnis Hasil Perikanan)

Non Formal :

1. Character and Personality Building “Membentuk Karakter Anak Bangsa

yang Berkepribadian Pancasila”. Indramayu, 4 - 6 September 2013.

2. Pelatihan “Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan & Resusitasi Jantung

Paru”. Indramayu, 4 Desember 2013.

3. Seminar & pelatihan “Basic Training Fire and Safety”. Indramayu, 11 –

12 Januari 2014.

iv
4. Pendidikan dan Latihan Korps Sukarela Palang Merah Indonesia

Kabupaten Indramayu 01 April-01 Juni 2014

5. Seminar “How To Survive Job Interviews and How To Write Successful

CV”. Indramayu, 15 November 2014.

PRAKTEK KERJA LAPANGAN DAN PENGALAMAN

1. Asisten Dosen H. Amiroel Pribadi Madoeretno, Bsc, SKM, MM, MKKK.,

pada Mata Kuliah Safety Praktis tahun Akademik 2014 / 2015.

2. Kerja Praktek / Magang dengan mengambil judul “Analisa Identifikasi

Aspek Dampak Lingkungan Pada Mintenance Area I PT Pertamina

(Persero) Refinery Unit VI Balongan pada 01November 2015 s/d 30

November 2015

3. Asisten Dosen H. Hadi Purnawan, M.Pd., pada Mata Kuliah Teknik

Penulisan Laporan tahun Akademik 2015 / 2016.

KEMAMPUAN

1. Safety : First aid, Risk assesment, SMK3, Loss prevention, ISO,

Safety Inspeksi dan Audit, Pencegahan kecelakaan kerja.

2. Komputer : Ms. office ( Ms. word dan Ms. power point ).

3. Bahasa : Bahasa Indonesia ( aktif ) dan Bahasa Inggris ( Pasif ).

Demikian riwayat hidup ini saya buat dengan sebenar – benarnya.

Hormat Saya

Penulis

v
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah Swt., atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga

penulis diberikan kemudahan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir yang telah

dilaksanakan di Rig PDSI #31.3/1500-E

Dengan rasa tulus, penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada

semua pihak yang telah mendukung penulis dalam menyelesaikan Laporan ini, dan

tak lupa juga kepada :

1. Kedua orang tua yang telah dengan sabar mendidik dan membesarkan hingga

saat ini, jasa dan kasih sayangnya tiada terhingga ;

2. Ibu Ir. Hj. Hanifah Handayani, M.T selaku ketua yayasan Bina Islami;

3. Bapak Drs. H.Nahdudin Islami, M.Si selaku Direktur Akamigas Balongan;

4. Bapak H. Amiroel Pribadi Madoeretno, BSC, SKM, MM, MKKK selaku ketua

Program Studi Fire And Safety;

5. Bapak H.Sutangi, S.Kp., M.Kes. selaku Dosen Pembimbing 1 Tugas Akhir;

6. Ibu Yenny Frisca Madhona, SKM selaku Dosen Pembimbing 2 Tugas Akhir;

7. Bapak Heneka Yoma Priyangga, ST,M.Eng selaku Rig Superintendent dan

Pembimbing Lapangan 1 Tugas Akhir;

8. Bapak Harris Hermawan selaku HSE Project Coordinator dan Pembimbing

Lapangan 2 Tugas Akhir;

9. Bapak Arif selaku Company Man;

10. Bapak Edwin Alan H. selaku HSE Officer yang telah membantu penulis dalam

pengumpuan data;

vi
11. Bapak Frengki selaku HSE Officer yang sudah membelikan kami jajanan ;

12. Bapak Dwi Arifyanto selaku HSE Coordinator dan dosen Prodi Teknik

Perminyakan Akademi Minyak dan Gas Balongan;

13. Bapak Barbar selaku HSE Coordinator;

14. Bapak Hanif selaku Chief Electric;

15. Bapak Rohman selaku Chief Mechanic yang sudah membelikan kami bakso;

16. Bapak Muhammad Iqbal selaku Mud Engineering;

17. Bapak Sukadi selaku Camp Boss yang telah memberikan kami kamar VIP I;

18. Bapak Kamsari selaku bagian administrasi;

19. Bapak Feri selaku bagian administrasi;

20. Bapak Chef yang telah memberi penulis makan gratis selama melaksanakan

Tugas Akhir;

21. Seluruh kru Rig PDSI #31.3/1500-E yang tidak dapat disebutkan satu persatu

yang telah membantu dan memberikan wawasan kepada penulis khususnya

dalam kegiatan drilling;

22. Puput Apriyani Luckis selaku rekan satu atap dan seperjuangan yang telah

menemani penulis saat bimbang melanda;

23. Gita Agustin Wulan Sari selaku rekan seperjuangan saat melakukan Tugas

Akhir;

24. Teman-teman dari Politeknik Negeri Jakarta dan Politeknik Elektronika Negeri

Surabaya selaku sesama praktikan yang juga melaksanakan Tugas Akhir di Rig

PDSI;

vii
25. A Izmal Nurhakim yang tak pernah membiarkan penulis tenang bermalas-

malasan;

26. Teh Maya Zulkarnain, Teh Fitriyansyah, Kang Agung Abdurrahman, Kang

Indra Permana Putera yang selalu memberikan pelukan semangat dari jauh;

27. Teman-teman kontrakan, Farah Shashabillah, Noor Ullymina Firdousyah, dan

Nurul Hidayati yang tiada bosan menyemangati;

28. Sahabatku Kevin Faiz Belluzi dan Muhammad Egi Kurnia Saputra yang telah

rela menjadi ojek dadakan selama pelaksanaan Tugas Akhir;

29. Teman di Akademi Minyak dan Gas Balongan yang telah membantu penulis

dalam mengerjakan Tugas Akhir;

30. Rekan-rekan KSR PMI Kabupaten Indramayu yang telah memberikan

semangat kepada penulis agar lekas lulus.

Semoga Laporan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi para pembaca, khususnya

bagi penulis. Dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapakan kritik dan

saran yang bersifat membangun dalam penyempurnaan proposal kerja praktek ini.

Indramayu, Agustus 2016

Penyusun

viii
DAFTAR ISI

COVER ................................................................................................................. i

ABSTRAK ........................................................................................................... ii

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .......................................................................... iv

KATA PENGANTAR ........................................................................................ vi

DAFTAR ISI ....................................................................................................... ix

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xii

DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiii

DAFTAR SINGKATAN .................................................................................. xiv

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1

1.2 Tema ............................................................................................................ 2

1.3 Tujuan .......................................................................................................... 2

1.3.1 Tujuan Umum .................................................................................. 2

1.3.2 Tujuan Khusus ................................................................................. 2

1.4 Manfaat ........................................................................................................ 3

1.4.1 Bagi Perusahaan ............................................................................... 3

1.4.2 Bagi Jurusan Fire And Safety Akamigas Balongan Indramayu ....... 3

1.4.3 Bagi Mahasiswa ............................................................................... 4

ix
BAB II TINJAUAN TEORI ............................................................................... 5

2.1 Pengenalan Bekerja Pada Ketinggian .......................................................... 5

2.2 Katagori Sistem Bekerja Pada Ketinggian ................................................... 7

2.3 Prosedur Bekerja Diketinggian .................................................................... 9

2.4 Persyaratan Peraatan Dan Alat Pelindung Diri .......................................... 10

2.5 Pelaksanaan Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko ............................ 14

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN TUGAS AKHIR .................... 15

3.1 Orientasi Lapangan .................................................................................... 15

3.2 Metode Wawancara ................................................................................... 15

3.3 Study Literature ......................................................................................... 15

BAB IV Gambaran Umum Perusahaan ......................................................... 16

4.1 Profil PT Pertamina Drilling Services Indonesia....................................... 16

4.2 Visi dan Misi ............................................................................................. 18

4.3 Tata Nilai Perusahaan ................................................................................ 18

4.4 Kebijakan ................................................................................................... 19

4.5 Tata Kelola Perusahaan ............................................................................. 24

4.6 Struktur Organisasi PT Pertamina Drilling Services Indonesia ................ 26

4.7 Profil Rig PDSI#31.3/D1500-E ................................................................. 27

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 28

5.1 Perencanaan Bekerja Pada Ketinggian di RIG PDSI............................................ 28

5.1.1 Identifikasi Resiko ................................................................................... 28

5.1.2 Evaluasi Proses Kerja dan Kebutuhan ..................................................... 31

5.1.3 metode pencegahan bahaya jatuh Rig PDSI #31.3/1500-E ................ 32

x
5.2 Prosedur Bekerja Pada Ketinggian Rig PDSI #31.3/1500-E ......................... 33

5.2.1 Prosedur dan Evaluasi Untuk Pekerjaan Rutin ........................................ 34

5.2.2 Prosedur dan Evaluasi Untuk Pekerjaan Non-Rutin ................................ 44

5.3 Program Pemenuhan Standar Keselamatan Bekerja Pada Ketinggian Di RIG

PDSI #31.3/1500-E .................................................................................... 47

5.3.1 Pencegahan Resiko Jatuh yang diterapkan .................................... 47

5.3.2 Data Training pekerja .................................................................... 49

5.3.3 Evaluasi tingkat pemenuhan standard dan aturan bekerja pada

ketinggian Di RIG PDSI #31.3/1500-E ......................................... 50

5.3.4 Daftar Periksa Peralatan yang digunakan dalam kegiatan Bekerja Pada

Ketinggian Di RIG PDSI #31.3/1500-E ....................................... 53

5.4 Pelaksanaan Prosedur Bekerja pada Ketinggian Di Rig

PDSI#31.3/1500-E ................................................................................... .54

5.4.1 Persentase Jumlah Bekerja Pada Ketinggian Di Rig PDSI

#31.3/1500-E.................................................................................. 54

5.4.2 Frekuensi Kegiatan Naik dan Turum saat bekerja pada ketinggian Di

Rig PDSI #31.3/1500-E. .............................................................. 57

BAB V PENUTUP ............................................................................................. 61

6.1 Kesimpulan ................................................................................................ 61

6.2 Saran .......................................................................................................... 61

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xi
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT Pertamina Drilling Services Indonesia... 26

Gambar 4.2 Struktur Organisasi RIG PDSI#31.3/D1500-E ............................ 27

Gambar 4.3 RIG PDSI#31.3/D1500-E ............................................................ 28

Gambar 5.1 Area kerja Derrickman di monkey board ...................................... 30

Gambar 5.2 Tata Kerja Individu PT Pertamina Drilling Services Indonesia

Kegiatan Panjat menara No. TI.OPS.30............................................................ 38

Gambar 5.3 Tata Kerja Individu PT Pertamina Drilling Services Indonesia Kegiatan Turun

menara No. TI.OPS.31 ................................................................................................. 40

Gambar 5.4 Tata Kerja Individu PT Pertamina Drilling Servies Indonesia Kegiatan Bekerja

Di Monkey Board No. TI.OPS.32................................................................................ 43

Gambar 5.6 JSA Nipple Down BOP ............................................................................ 46

Gambar 5.7 SIKA Nipple Down BOP ......................................................................... 46

Gambar 5.8 Kegiatan Nipple Down BOP .................................................................... 46

Gambar 5.9 Daftar Training Khusus Pekerja di Ketinggian ........................................ 49

Gambar 5.10 Fall Arrester ........................................................................................... 51

Gambar 5.11 Full Body Harness .................................................................................. 52

Gambar 5.12 Counter Weight balance ......................................................................... 52

Gambar 5.13 Daftar Periksa Alat bekerja di Ketinggian ............................................. 53

xii
DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Laporan kegiatan bekerja di ketinggian di Rig PDS #31.3/1500-E ....... 56

Tabel 5.2 Ferkuensi Naik Turun Pada Saat Bekerja Di Ketinggian Berdasarkan

Laporan Kegiatan Rutin Pekerjaan ..................................................................................... 59

xiii
DAFTAR SINGKATAN

BOP : Blow Out Preventer

HP : Horse Power

HSSE : Health Safety Security Environment

JSA : Job Safety Analysis

K3 : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

PDSI : Pertamina Drilling Safety Indonesia

PERTAMINA : Perusahaan Minyak Negara

PT : Perseroan Terbatas

Rig Supt : Rig Superintendent

SIKA : Surat Izin Kerja Aman

xiv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bekerja di ketinggian atau working at height adalah pekerjaan yang

dilakukan di tempat atau lokasi dimana terdapat potensi utama yang

menghantui adalah bahaya gravitasi yang menyebabkan pekerja terjatuh. Di

dunia industri jatuh dari ketinggian telah menjadi momok besar dalam

kehidupan sehari-hari dan telah berperan sebagai penyebab cedera dan

kematian tertinggi.

Pekerjaan di bidang pengeboran khususnya di Rig memiliki durasi

yang lebih besar daripada pekerjaan di kantoran, yakni selama 12 jam, maka

dari itu orang yang bekerja di rig selain pandai juga memiliki fisik yang

kuat, hati-hati dan teliti. Setiap pekerja diwajibkan menggunakan Alat

Pelindung Diri yang standar untuk mendukung proses pekerjaan. Selain itu

mereka juga harus mengerti bagaimana cara pertolongan pertama pada

kecelekaan kerja. Secara prinsip seluruh kegiatan operasi pengeboran

memiliki potensi bahaya yang besar, langkah-langkah pekerjaan yang

dilakukan di rig sangatlah kompleks, termasuk salah satunya bahaya terjatuh

dari menara rig.

Hal ini sesuai peraturan UU nomor 1 tahun 1970, bahwa setiap

tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan dalam

1
2

melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi

serta produktivitas nasional.

1.2 Tema

Tema yang akan diambil dalam Tugas Akhir ini adalah Keselamtan

Kerja Pada Ketinggian dan judul yang dipilih adalah Evaluasi Prosedur Dan

Pelaksanaan Bekerja Pada Ketinggian

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui sistem pengendalian bahaya bekerja pada

ketinggian dalam upaya pencegahan kecelakaan di Rig PDSI

#31.3/1500-E

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui perencanaan bekerja pada ketinggian di Rig PDSI

#31.3/1500-E

2. Mengetahui prosedur bekerja pada ketinggian di Rig PDSI

#31.3/1500-E

3. Mengetahui program pemenuhan standar keselamatan bekerja

pada ketinggian di di Rig PDSI #31.3/1500-E

4. Mengetahui pelaksanaan bekerja pada ketinggian di Rig PDSI

#31.3/1500-E
3

1.4 Manfaat

1.4.1 Manfaat Bagi Perusahaan

1 Perusahaan dapat memanfaatkan tenaga mahasiswa yang tugas

akhir dalam membantu menyelesaikan tugas-tugas untuk

kebutuhan di unit-unit kerja yang relevan.

2 Dapat diperoleh informasi mengenai tugas akhir dan dapat

dipergunakan untuk pengambilan langkah selanjutnya.

3 Perusahaan mendapatkan alternatif calon karyawan pada

spesialisasi yang ada pada perusahaan tersebut.

4 Menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan dan

bermanfaat antara perusahaan tempat tugas akhir dengan

departemen Fire And Safety AKAMIGAS BALONGAN.

1.4.2 Manfaat Bagi Jurusan Fire And Safety Akamigas Balongan

1 Sebagai sarana pemantapan keilmuan bagi mahasiswa dengan

mempelajari dan melakukan praktek langsung di lapangan.

2 Sebagai sarana untuk membina hubungan kerjasama dengan

perusahaan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja serta

lingkungan.
4

1.4.3 Manfaat Bagi Mahasiswa

1 Dapat mengenal secara dekat dan nyata kondisi dilingkungan

kerja.

2 Dapat mengaplikasikan keilmuan mengenai keselamatan kerja

yang diperoleh dibangku kuliah dalam kondisi kerja yang

sebenarnya.

3 Dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap perusahaan

tempat mahasiswa tugas akhir.


BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengenalan Bekerja Pada Ketinggian

Menurut Asosiasi Ropes Acces Inonesia bekerja pada ketinggian

(work at height) adalah pekerjaan dengan resiko tinggi (high risk activity)

yang memerlukan pengetahuan serta keterampilan khusus untuk

melaksanakan pekerjaan sebenarnya. Bekerja di ketinggian adalah setiap

orang yang bekerja pada ketinggian lebih dari 1,8 meter diatas tanah dan

memiliki potensi terjatuh sehingga harus dilenkapi dengan arrestor

(pelindung tubuh dengan memanfaatkan lanyard ganda) atau harus

dilindungi dengan pegangan atau jarring pengaman. Ika (2010:2)

Bekerja pada ketinggian (working at height) adalah pekerjaan yang

membutuhkan pergerakan tenaga kerja untuk bergerak secara vertikal naik,

mau pun turun dari suatu platform. Dari beberapa data statistik

menunjukkan kecelakaan yang diakibatkan jatuh dari ketinggian

menempati urutan kedua dalam statistik penyebab kecelakaan bahkan bisa

menyebabkan kematian bagi korban. Kecelakaan akibat bekerja

diketinggian yang sering terjadi adalah saat pekerja tersebut naik atau

turun dari lokasi kerja atau saat pekerja tersebut berpindah tempat.

5
6

Bekerja pada ketinggian atau working at height mempunyai potensi

bahaya yang besar. Ada berbagai macam metode kerja diketinggian seperti

menggunakan perancah, tangga, gondola dan sistem akses tali (Rope

Access Systems). Masing masing metode kerja memiliki kelebihan dan

kekurangan serta risiko yang berbeda-beda. Oleh karenanya pengurus atau

pun manajemen perlu mempertimbangkan pemakaian metode dengan

memperhatikan aspek efektifitas dan risiko baik yang bersifat finansial dan

non finansial sebagaimana surat keputusan bersama menteri tenaga kerja

dan menteri pekerjaan umum. no. kep.174/men/1986 dan no.

104/kpts/1986 pasal 2 yaitu “setiap pengurus/ kontraktor/ pemimpin

pelaksana pekerjaan atau bagian pekerjaan dalam pelaksanaan

kegiatan konstruksi wajib memenuhi syarat-syarat keselamatan dan

kesehatan kerja”

Bahaya pekerjaan adalah faktor-faktor dalam hubungan pekerjaan

yang dapat mendatangkan kecelakaan. Bahaya tersebut disebut potensial,

jika faktor-faktor tersebut belum mendatangkan kecelakaan. Aspek risiko

akan bahaya keselamatan dan kesehatan kerja harus menjadi perhatian

utama semua pihak di tempat kerja. Hal ini selain untuk memberikan

jaminan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja bagi tenaga kerja,

juga sangat terkait dengan keselamatan asset produksi.

Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

mengamanatkan bahwa pengurus wajib menunjukkan dan menjelaskan

pada tiap tenaga kerja tentang kondisi dan bahaya di tempat kerja, alat
7

pengaman dan alat pelindung yang diharuskan, alat pelindung diri dan cara

serta sikap yang aman dalam melakukan pekerjaan. Selain itu, pengurus

juga hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang diyakini telah

memahami syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja pekerjaan

tersebut.

Pada dasarnya terdapat 4 hal yang harus diperhatikan dalam

menanani pekerjaan pada posisi di ketinggian yaitu pelaku atau pekerja,

kondisi lokasi (titik atau lokasi pekerjaan), teknik yang digunakan dan

peralatan. Bekerja pada ketinggian menuntut para pekerja untuk menetahui

bagaimana pekerja tersebut dapat melakukan pekerjaan pada ketinggian

dalam keadaan safety yang disesuaikan dengan aspek kebutuhan dan

spesifikasi pekerjaan yang dilakukan.

2.2 Katagori Sistem Bekerja pada Ketinggian

Pemilihan sistem bekerja pada ketinggian hendaknya

mempertimbangkan banyak hal. Ada beberapa sistem atau metode bekerja

pada ketinggian, yaitu :

1. Sistem Pasif

Adalah sistem dimana pada saat bekerja melalui suatu struktur

permanen atau struktur yang tidak permanen, tidak mensyaratkan

perlunya penggunaaan peralatan pelindung jatuh (fall protection

devices) karena telah terdapat sistem pengaman kolektif (collective

protection system). Pada sistem ini perlu ada supervisi dan pelatihan

dasar. Metode pekerjaan:


8

a. Bekerja pada permukaan seperti lantai kamar, balkon dan jalan.

b. Struktur/area kerja (platform) yang dipasang secara permanen dan

perlengkapannya.

c. Bekerja di dalam ruang yang terdapat jendela yang terbuka

dengan ukuran dan konfigurasinya dapat melindungi orang dari

terjatuh.

2. Sistem Aktif

Adalah suatu sistem dimana ada pekerja yang naik dan turun

(lifting/lowering), maupun berpindah tempat (traverse) dengan

menggunakan peralatan untuk mengakses atau mencapai suatu titik

kerja karena tidak terdapat sistem pengaman kolektif (collective

protection system). Sistem ini mensyaratkan adanya pengawasan,

pelatihan dan pelayanan operasional yang baik. Metode Pekerjaan:

a. Unit perawatan gedung yang dipasang permanen, seperti gondola.

b. Struktur/area kerja (platfrom) untuk pemanjatan seperti tangga

pada menara.

c. Struktur/area kerja mengangkat (elevating work platform) seperti

hoist crane, lift crane, mobil perancah.

d. Struktur sementara seperti panggung pertunjukan.

e. Tangga berpindah (portable ladder)

f. Perancah (scaffolding).
9

2.3. Prosedur Kerja Di Ketinggian

Sebagai penunjang kelancaran pekerjaan, bekerja diketinggian

harus memiliki sistem pencegahan dan pengendalian kerja, salah satunya

yakni dengan prosedur. Pekerja boleh mengerjakan pekerjaan di

ketinggian dengan syarat :

1. Dipasang pijakan kaki dan penghalang yang cukup kuat atau semi

permanen, dan mampu menahan beban jika pekerja terjatuh

2. Jika tidak memungkinkan dipasang pengaman seperti pada poin di

atas, maka harus digunakan perancah atau scaffolding

3. Jika tidak dapat digunakan perancah atau scaffolding, maka harus

dikenakan alat pengaman kerja (body harnes / safety bel) yang mampu

mengamankan pekerja dari resiko jatuh dari ketinggian.

4. Jika akan digunakan tangga, perlu dipastikan bahwa pekerjaan dapat

diselesaikan dalam waktu singkat, tangga cukup kuat dan terpasang

dalam posisi yang stabil, serta jangan memaksakan meraih alat

ataupun bahan yang sulit dijangkau.

5. Untuk pekerjaan mengecat di ketinggian gunakan rol dan pasang

galah, sesuaikan dengan ketinggian.

6. Jika semua alternatif di atas tidak dapat dilaksanakan juga, maka harus

dilaporkan pada pengawas pekerjaan bahwa pekerjaan tidak aman

untuk dilaksanakan.

7. Hal-hal lainnya yang juga harus diperhatikan antara lain, adalah:

a. Memakai pakaian kerja dengan benar dan sesuai standar.


10

b. Memakai topi atau helm pengaman (safety helmet).

c. Memakai sepatu kerja.

d. Memakai sarung tangan dan sarung lengan yang terbuat dari bahan

anti gores.

e. Membersihkan tempat kerja dari kotoran atau benda lain yang

dapat mengganggu proses pekerjaan.

2.4. Persyaratan Peralatan dan Alat Pelindung Diri

Peralatan yang akan digunakan harus dipilih yang telah memenuhi

standar sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan yang sesuai

dengan tujuan penggunaan apabila meragukan standar yang dipakai dalam

pembuatan peralatan dan penggunaannya, maka sangat disarankan untuk

menghubungi pabrikan pembuat pemilihan peralatan harus

mempertimbangkan kecocokan dengan peralatan lain dan fungsi keamanan

peralatan tidak terganggu atau menggangu sistem lain perbaikan peralatan

harus menyediakan informasi mengenai produk. Informasi ini harus dibaca

dan dimengerti oleh pekerja sebelum menggunakan peralatan. Peralatan

harus diperiksa secara visual sebelum penggunaan untuk memastikan

bahwa peralatan tersebut ada pada kondisi aman dan dapat bekerja dengan

benar.prosedur harus diterapkan pada pemeriksaan dan pemeliharaan

peralatan daftar pencatatan pemeliharaan keseluruhan peralatan harus

disimpan dengan baik. Dilarang melakukan modifikasi atau perubahan atas

spesifikasi peralatan tanpa mendapat ijin dari pengawas atau pabrikan

pembuat karena dapat mengakibatkan perubahan kinerja peralatan. Setiap


11

perubahan atau modifikasi harus dicatat dan peralatan diberi label khusus.

Berikut adalah persyaratan alat pelindung yang digunakan :

1. Perlengkapan dan alat pelindung diri yang harus dipakai dalam

bekerja yang disesuaikan dengan lingkungan kerja adalah pakaian

kerja yang menyatu dari bagian tangan, pundak, bahu, badan, sampai

ke bagian pinggul, dan kaki. Pakaian jenis ini biasanya disebut

wearpack atau overall. Pakaian ini pada bagian kantongnya harus

diberi penutup berupa ritsleting (zip) dan tidak berupa pengancing

biasa (button).

2. Full body harness harus nyaman dipakai dan tidak mengganggu gerak

pada saat bekerja, mudah di setel untuk menyesuaikan ukuran.

3. Sepatu (safety shoes / protective footwear) dengan konstruksi yang

kuat dan terdapat pelindung jari kaki dari logam (steel toe cap),

nyaman dipakai, dan mampu melindungi dari air/basah.

4. Sarung tangan (gloves), untuk melindungi jari tangan dan kulit dari

cuaca ekstrim, bahan berbahaya, dan alat bantu yang digunakan.

5. Kacamata (eye protection), untuk melindungai mata dari debu,

partikel berbahaya, sinar matahari/ultraviolet, bahan kimia, material

hasil peledakan dan potensi bahaya lain yang dapat mengakibatkan

iritasi dan kerusakan pada mata.

6. Alat pelindung pernafasan (respiratory protective equipment),

peralatan ini harus dikenakan pada lingkungan kerja yang mempunyai


12

resiko kesulitan bernafas disebabkan oleh bahan kimia, debu, atau

partikel berbahaya.

7. Alat pelindung pendengaran (hearing protection), alat ini digunakan

ketika tingkat bunyi (sound level) sudah di atas nilai ambang batas.

8. Jaket penyelamat (life jacket) atau pengapung (buoyancy), digunakan

pada pekerjaan yang dilakukan di atas permukaan air misalnya pada

struktur pengeboran minyak lepas pantai (offshore platform).

Peralatan ini harus mempunyai disain yang tidak menggangu

peralatan akses tali terutama pada saat turun atau naik.

9. Tali yang digunakan terdiri dari 2 karakteristik yaitu elastisitas kecil

(statik) dan tali dengan elastisitas besar (dinamik). Tali yang

digunakan untuk sistem tali harus dipastikan : Tali yang digunakan

sebagai tali kerja (working line) dan tali pengaman (safety line) harus

mempunyai diameter yang sama. Tali dengan elastisitas kecil (tali

statis) dan tali daya elastisitas besar (dinamik) yang digunakan dalam

sistem akses tali harus memenuhi standar. Tali Koneksi (cow’s

Tail/lanyard) Adalah tali pendek yang menghubungkan antara sabuk

pengaman tubuh (Full body harness) dengan tali kerja, tali pengaman,

patok pengaman, patok pengaman, serta peralatan dan perlengkapan

pengaman lainnya. Harus dipastikan bahwa tali koneksi yang

digunakan harus berdasarkan standar.

10. Pelindung kepala wajib dikenakan dengan benar oleh setiap pekerja

yang terlibat dalam pekerjaan di ketinggian, baik yang berada


13

dibagian bawah di ketinggian. Pekerja wajib menggunakan pelindung

kepala sesuai standar. Pelindun kepala yang digunakan oleh Teknisi

Akses Tali memiliki sedikitnya tiga tempat berbeda yang terhubung

dengan cangkang. Helm dan termasuk tali penahan di bagian dagu.

11. Sabuk pengaman tubuh tubuh (Full body harness ) Harus dipastikan

bahwa sabuk pengaman tubuh (Full body harness) yang digunakan

pada pekerjaan akses tali telah sesuai dengan standar.

12. Alat Penjepit Tali (Rope Clamp) Harus dipastikan bahwa alat penjepit

tali (rope clamp) yang digunakan pada sistem akses tali sesuai dengan

standar.

13. Alat Penahan Jatuh Bergerak (mobile fall arrester) Harus dipastikan

bahwa alat jatuh bergerak (mobile fall arrester) yang digunakan pada

sistem akses tali telah sesuai dengan standar.

14. Alat Penurun (Descender) Harus dipastikan alat penurun yang

digunakan pada sistem akses tali telah sesuai dengan standar.

Perlengkapan dan alat pelindung diri harus dipastikan telah sesuai

dengan standar di bawah ini yaitu :

a. Standar Nasional Indonesia.

b. Standar uji laboratorium.

c. Standar uji internasional yang independen, seperti British Standard,

American National Standard Institute, atau badan standard uji

internasional lainnya. Usia masa pakai peralatan dan alat pelindung

diri yang terbuat dari kain/textile sintetik adalah sebagai berikut :


14

1. Tidak pernah digunakan : 10 tahun.

2. Digunakan 2 kali setahun : 7 tahun.

3. Digunakan sekali dalam 1 bulan : 5 tahun.

4. Digunakan dua minggu sekali : 3 tahun.

5. Digunakan setiap minggu sekali : 1 tahun lebih.

6. Digunakan hampir setiap hari : kurang dari 1 tahun.

2.5. Pelaksanaan Identifikasi Bahaya dan Penilaian Resiko

Tujuan dilaksanakannya identifikasi bahaya dan penilaian risiko

adalah untuk membantu praktisi dan pengurus menentukan tingkat risiko

yang ada dalam suatu pekerjaan. Suatu Identifikasi bahaya dan penilaian

risiko harus dilaksanakan untuk setiap pekerjaan yang dilakukan, dokumen

tertulis identifikasi bahaya dan penilaian risiko harus tersedia ditempat

kerja. Identifikasi bahaya dan penilaian risiko harus dibuat oleh ahli

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang kompeten dalam metode

akses tali atau Teknisi harus selalu berkonsultasi dengan pengurus atau

pemilik gedung agar mengetahui semua potensi yang ada.

Selain itu dokumen pernyataan metode kerja harus disusun untuk

memberikan penjelasan bagaimana suatu pekerjaan akan dilakukan.

Dokumen ini berguna dalam memberikan arahan (briefing), sebagai

informasi bagi mitra kerja atau acuan bagi pengawas ketenagakerjaan

dalam melakukan pengawasan. Setiap pekerja hanya dapat melakukan

pekerjaan diketinggian jika memperoleh ijin kerja akses tali (rope access

work permitt).
BAB III

METODE PELAKSANAAN TUGAS AKHIR

Dalam melaksanakan tugas akhir, mahasiswa diharapkan mampu

melakukan studi kasus, yaitu mengangkat suatu kasus yang dijumpai ditempat

tugas akhir menjadi suatu kajian sesuai dengan bidang keahlian yang ada, ataupun

melakukan pengamatan terhadap kerja suatu proses atau alat untuk kemudian

dikaji sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. Untuk mendukung tugas akhir

dan kajian yang akan dilakukan, maka dapat dilakukan beberapa metode

pelaksanaan, antara lain :

3.1. Orientasi Lapangan

Dimana data yang di peroleh dari penelitian secara langsung

tentang Working at Height Protection. Bedasarkan penelitian itulah

penulis mendapatkan data-data yang akan menjadi sumber data dalam

pembuatan laporan.

3.2. Metode Wawancara

Data – data yang di dapat dari konsultasi langsung dengan

pebimbing lapangan maupun dengan pekerja yang bersangkutan.

3.3. Study Literature

Merupakan data yang diperoleh dari buku-buku atau hand book

dan sumbrer tertulis lainnya sebagai bahan tambahan dalam penyusunan

laporan yang berkaitan dengan topik yang di tulis.

15
BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

4.1 Profil PT Pertamina Drilling Service Indonesia

Dengan berubahnya status PERTAMINA sebagai suatu perseroan

BUMN, maka kini selain mengemban peran PSO (Public Service

Obligation), PERTAMINA dituntut untuk meraih laba dan menciptakan

nilai bagi negara dan para pemangku kepentingan. Oleh karena itu

PERTAMINA kini harus mampu mengelola keseluruhan spektrum

usahanya dengan efektif dan efisien. Salah satu kebijakan yang ditempuh

adalah dengan melakukan pemilahan segmen usaha dan pengelolaannya

agar dapat fokus dan tanggap terhadap persaingan usaha.

Pada awalnya Drilling Services merupakan fungsi bor di dalam

organisasi PERTAMINA Direktorat Eksplorasi & Produksi (EP). Upaya

menjadikan Drilling Services sebagai anak perusahaan sudah lama

dilakukan, tetapi belum berhasil karena munculnya beberapa kendala pada

saat pelaksanaannya.

Menyikapi kondisi tersebut, pada tahun 1993 ada upaya untuk

mengubah fungsi bor menjadi bor mandiri. Upaya ini gagal karena ditolak

oleh DKPP. Pada tahun 1996 pernah dicoba untuk dialih kelola oleh YKPP

(SK.160/C00000/96-S0, tanggal 16 September 1996), tetapi upaya inipun

gagal karena tidak tercapainya kesepakatan pembebanan. Lalu pada tahun

1999 mulai lagi dirintis pengelolaan fungsi bor menjadi unit usaha bor EP

23

24

(Ref. SK Direktur Utama No. Kpts-104/C0000/1999-S0 tanggal 29 Mei

1999). Ternyata langkah ini membawa hasil yang positif.

Selanjutnya pada tahun 2001, dibentuk organisasi sementara dengan

nama PT Pertamina Drilling Service Indonesia (PT PDSI) (SK-Kpts.

91/D00000/2001-S0, tanggal 18 Juli 2001). Lalu pada tahun 2002 berganti

nama lagi menjadi Drilling Services Dit. Hulu (Ref. SK Dirut No. Kpts-

113/C00000/2001-S0, tanggal 23 Oktober 2001 dan SK Direktur Hulu No.

Kpts-011/D00000/2002-S0, tanggal 26 Februari 2002).

Dalam perkembangannya, Drilling Services menjadi unit usaha

Direktorat Hulu sampai dengan bulan September 2005 dan kemudian

beralih menjadi bagian dari Direktorat Pengembangan Usaha PT

PERTAMINA EP. Akhirnya pada tanggal 17 Juli 2006, berdasarkan SK

Dirut No. Kpts-081/C00000/2006-S0, struktur organisasi Drilling Services

Dit Hulu dikembalikan menjadi unit usaha di bawah Direktorat Hulu

sebagai persiapan membentuk anak perusahaan di tahun 2007.

PT Pertamina Drilling Service Indonesia (PT PDSI) didirikan

berdasarkan akta notaris Marianne Vincentia Hamdani No. 13, tanggal 13

Juni 2008. Pemegang Saham adalah PT PERTAMINA (Persero) sebesar

99% dan PT PERTAMINA Hulu Energi (PT PHE) sebesar 1%.


25

4.2 Visi dan Misi

4.2.1 Visi

Visi PT Pertamina Drilling Service Indonesia adalah menjadi

perusahaan penyedia jasa pengeboran dan kerja ulang (KUPL)

nasional dan regional yang unggul, maju dan terpandang di wilayah

kerja PT Pertamina Drilling Service Indonesia Area Jawa.

4.2.2 Misi

Misi PT Pertamina Drilling Service Indonesia adalah

melakukan usaha bidang jasa Pengeboran, KUPL dan jasa

pendukung lainnya di wilayah kerja PT Pertamina Drilling Service

Indonesia Area Jawa secara profesional untuk memberikan nilai

tambah bagi stakeholder kunci.

4.3 Tata Nilai Perusahaan

Dalam mencapai visi dan misinya, PT Pertamina Drilling Service

Indonesia berkomitmen untuk menerapkan tata nilai sebagai berikut :

a) Care & Safety Focus

Menciptakan kondisi kerja yang aman, sehingga terhindar dari

kecelakaan, bahaya kebakaran, gangguan kesehatan dan lingkungan.

b) Clean (Bersih)

Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan,

tidak menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas.

Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik.


26

c) Competitive (Kompetitif)

Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional,

mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar

biaya dan menghargai kinerja.

d) Confidence (Percaya Diri)

Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi

pelopor dalam reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa.

e) Customer Focus (Fokus pada Pelanggan)

Berorientasi pada kepentingan pelanggan, dan berkomitmen

untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.

f) Commercial (Komersial)

Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil

keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.

g) Capable (Berkemampuan)

Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan

memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam

membangun kemampuan riset dan pengembangan.

4.4 Kebijakan

4.4.1 Kebijakan Management Resiko

Sejalan dengan Visi dan Misi PT Pertamina Drilling Service

Indonesia (PT PDSI) untuk menjadi perusahaan jasa drilling dan

workover dengan standar kelas dunia guna memenuhi bahkan

melampaui kepuasan pelanggan dan pihak lain yang berkepentingan,


27

dan memperhatikan lingkungan bisnis perusahaan yang berubah

serta berkembang cepat maka resiko harus menjadi bagian integral

dari proses bisnis, pengambilan keputusan dan pembentukan budaya

setiap insan perusahaan. Oleh sebab itu, manajemen PT PDSI

menetapkan kebijakan manajemen resiko yang merupakan komitmen

manajemen dan seluruh pekerja perusahaan sebagai landasan

berpikir dan bertindak dalam penerapan manajemen resiko.

Manajemen dan seluruh pekerja PT PDSI berkomitmen

bahwa:

1. Penerapan manajemen resiko adalah keharusan untuk mencapai

tujuan PT PERTAMINA Drilling Services !ndonesia;

2. Manajemen resiko harus diterapkan secara terintegrasi di seluruh

organisasi dan tidak diterapkan secara terkotak-kotak, sehingga

akan menghasilkan efisiensi dan efektifitas biaya;

3. Manajemen resiko harus diterapkan secara sinergi dengan sistem

manajemen lainnya sebagai sistem peringatan dini (early warning

system) terhadap terjadinya kegagalan pencapaian tujuan

organisasi;

4. Resiko merupakan pertimbangan penting pada setiap perencanaan

bisnis dan pada setiap pengambilan keputusan manajemen;

5. Seluruh elemen organisasi harus memiliki kesadaran dan

kepedulian terhadap resiko dalam setiap aktivitas bisnis yang


28

dilaksanakan sesuai wewenang dan tanggung jawab masing-

masing;

6. Seluruh resiko yang mungkin timbul pada pelaksanaan bisnis

dalam organisasi baik pada level korporat maupun level area

harus diidentifikasi, diukur, direspon, dikomunikasikan dan

dimonitor secara berkesinambungan;

7. Agar berjalan dengan baik, manajemen harus menyediakan dan

mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk mencapai tujuan

manajemen resiko, termasuk untuk peningkatan kompetensi

sumber daya manusia dalam bidang manajemen resiko.

4.4.2 Kebijakan Mutu

Untuk menjadi yang unggul, maju dan terpandang, seluruh

pekerja PT PERTAMINA Drilling Services Indonesia Onshore

Drilling Area jawa bekerja dengan tujuan mencapai kepuasan

pelanggan, dengan melakukan komitmen :

1) Penerapan sistem manajemen mutu yang efektif and efisien serta

peningkatan terus menerus;

2) Dinamis dan tanggap dalam mengidentifikasi keinginan

pelanggan dalam hubungannya dengan kebutuhan teknologi yang

baru;

3) Semangat dalam bekerja secara profesional untuk mencapai

kepuasan pelanggan meliputi ketepatan waktu, mutu produk,


29

cepat tanggap, kemudahan informasi, keselamatan kerja serta

kepedulian terhadap lingkungan;

4) Intensif dalam mengembangkan kompetensi sumber daya

manusia.

4.4.3 Kebijakan HSE

a) Sasaran

PT PERTAMINA Drilling Services Indonesia Onshore

Drilling Area Jawa mempunyai komitmen bahwa Health Safety

And Environment (HSE) merupakan bagian yang sangat penting

dalam pencapaian efisiensi dan keberhasilan usaha perusahaan

melalui upaya secara terus–menerus menyempurnakan standar–

standar yang ada dengan penyediaan program–program HSE

yang proaktif menyeluruh dalam kegiatan Perusahaan.

Semua pekerja, kontraktor atau pemasok yang bekerja

untuk PT PERTAMINA Drilling Services Indonesia Onshore

Drilling Area Jawa diharuskan mempelajari, memahami dan

mematuhi manual, prosedur dan aturan HSE Perusahaan, standar

praktis industri sejenis, serta peraturan dan perundang–undangan

pemerintah yang berlaku. Begitu juga bagi pelanggan untuk

menyediakan lingkungan kerja yang aman dan sehat guna

terhindar dari bahaya–bahaya dan resiko yang terkait dengan

HSE.
30

b) Aplikasi dan Tanggung Jawab

Disadari bahwa hampir semua kegiatan operasi rig,

operasi pemboran dan kerja ulang memiliki resiko yang tinggi

sehingga perlu metode–metode dan prosedur kerja untuk

mengurangi resiko tersebut. Manajer HSE bertanggung jawab

untuk menyediakan program dan prosedur HSE di semua tempat

kerja Perusahaan.

c) Penerapan

Para Senior Leader, Rig Superintendent, pengawas,

seluruh pekerja dan kontraktor atau pemasok wajib melaksanakan

program, pedoman dan prosedur HSE secara efektif dan

bertanggung jawab untuk menyediakan sumber-sumber daya yang

memadai dalam menerapkan Kebijakan HSE PT PERTAMINA

Drilling Services Indonesia Onshore Drilling Area Jawa.

Fungsi HSE akan melaporkan pelaksanaan aspek-aspek

HSE kepada Onshore Drilling Manager Area Jawa yang

kemudian akan menentukan sasaran–sasaran baru yang akan

dilakukan minimal sekali dalam setahun. Statistik kecelakaan dan

laporan aktivitas HSE bulanan sebagai tolok ukur kinerja HSE PT

PERTAMINA Drilling Services Indonesia Onshore Drilling Area

Jawa. Semua personil Manajemen dan Pengawas bertanggung

jawab meyakinkan kebijakan HSE PT PERTAMINA Drilling

Services Indonesia Onshore Drilling Area Jawa


31

dikomunikasikan, dipahami, diterapkan dan dipelihara

menyeluruh dalam Perusahaan.

4.5 Tata Kelola Perusahaan

Dalam menjalankan kegiatan operasinya PT PDSI berinteraksi

secara kelembagaan dengan pihak-pihak lain yang terkait (stakeholder),

yang seringkali terjadi benturan kepentingan. Di sinilah manajemen

mengupayakan perlunya keseimbangan perlakuan yang dimaksudkan agar

perusahaan mampu mempertahankan eksistensinya dan bermanfaat bagi

seluruh entitas masyarakat. Dalam konteks itulah, tata kelola perusahaan

(corporate governance) dijalankan, karena ia mengatur aspek-aspek yang

terkait dengan keseimbangan internal dan eksternal. Corporate governance

merupakan proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan

mengelola bisnis dan urusan kegiatan perusahaan. Tujuannya tentu saja

untuk meningkatkan kemakmuran bisnis dan akuntabilitas perusahaan, agar

dapat mewujudkan value bagi pemegang saham dalam jangka panjang

dengn tetap mempertahankan kepentingan stakeholder lainnya.

Good corporate governance (GCG) pada tatanan PT PDSI

didefinisikan sebagai pola pikir, pola tindak, dan pola kerja di seluruh

jajaran fungsi perusahaan, guna menciptakan sistem kerja yang efektif dan

efisien, dalam pengelolaan sumber daya dan usaha serta meningkatkan

tanggungjawab manajemen pada pemegang saham dan stakeholder lainnya.

Adapun tujuan penerapan GCG (Good corporate governance) di PT

PERTAMINA Drilling Services Indonesia adalah dimaksudkan untuk :


32

1. Memaksimalkan value perusahaan dengan cara meningkatkan penerapan

prinsip-prinsip transparansi, kemandirian, akuntabilitas,

pertanggungjawaban, dan kewajaran dalam pelaksanaan kegiatan

operasional perusahaan;

2. Terlaksananya pengelolaan perusahaan secara professional dan mandiri;

3. Terciptanya pengambilan keputusan oleh seluruh organ perusahaan yang

didasarkan pada nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap

peraturan perundang-undangan yang berlaku;

4. Terlaksananya tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social

responsibility) terhadap stakeholder;

5. Meningkatkan iklim investasi nasional yang kondusif, khususnya di

bidang drilling.

Adapun prinsip-prinsip GCG yang dijalankan PT PERTAMINA

Drilling Services Indonesia adalah :

1. Transparansi, keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan

keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan

relevan mengenai perusahaan;

2. Kemandirian, perusahaan dikelola secara professional tanpa benturan

kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip

korporasi yang sehat;


33

3. Akuntabilitas, kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban

organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif dan

efisien;

4. Pertanggungjawaban, kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan terhadap

peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip

korporasi yang sehat;

5. Kewajaran, keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak

stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan atau peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

4.6 Struktur Organisasi PERTAMINA Drilling Services Indonesia

BOC (Board of Commissioner)

1) Komisaris Utama.

2) Komisaris.

3) Komisaris.

BOD (Board of Director)

1) Direktur Utama.

2) Direktur Keuangan dan Administrasi.

3) Direktur Operasi.

4) Direktur Pemasaran dan Pengembangan.

Vice President

1) Head of Internal Audit.

2) VP GA dan HR.

3) VP Drilling Support.
34

4) VP Drilling Operation.

5) VP Treasury Hilda.

6) VP Controller.

7) VP Commercial dan Marketing.

8) VP Quality HSE.

9) VP Corporate Secretary.
VP QHSE

President Director
Head Of Internal
Audit

Corporate
Secretary

Marketing & Bussiness Finance &


Development Director Operation Director Administration
Director

Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT PDSI (2013)

4.7 Rig Profile PDSI #31.3/1500-E

A. Rig Specification

1. Years Of Buying : 2011

2. Rig Type : Electrical (Amphion)

3. Power Rating : 1500 Hp

4. Rated Hook Load Capacity : 750.000 Lbs (12 Lines)

5. Rig Floor Heigh : 9.14 M


35
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Perencanaan Bekerja Pada Ketinggian

PT Pertamina Drilling Services Indonesia merupakan perusahaan yang

bergerak dibidang pemboran dan memiliki banyak sekali pekerjaan yang

melibatkan kegiatan bekerja pada ketinggian. Adapun jenis pekerjaan tersebut

dibagi dalam dua kategori yakni pekerjaan rutin dan non-rutin. Sebelum

pekerjaan tersebut dilakukan ada beberapa perencanaan yang harus

diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

5.1.1 Identifikasi resiko bahaya

Identifikasi resiko bahaya merupakan suatu proses untuk

mengetahui, mengenal dan memperkirakan adanya bahaya pada suatu

sistem baik dari segi peralatan, tempat kerja , maupun prosedur

pelaksanaan kegiatan tersebut.

Secara umum resiko yang dapat timbul dalam kegiatan bekerja

di ketinggian antara lain :

1. Material atau peralatan jatuh dari ketinggian (drop object)

2. Pekerja jatuh dari ketinggian yang disebabkan oleh kegagalan

peralatan pelindung diri yang digunakan , terpeleset dari tangga

menara atau platform, pengaman lantai yang terbuka dan

sebagainya.

35
36

Potensi bahaya yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan

(jatuh dari ketinggian) saat bekerja pada ketinggian Rig PDSI

#31.3/1500-E adalah :

1. Pekerja jatuh di lantai platform yang sama dikarenakan

tersandung peralatan, lantai catwalk yang rusak dan berlubang

ataupun terpeleset karena lantai platform yang licin;

2. Pekerja terjatuh kebawah yakni diantaraya jatuh dari tangga, dari

platform, scaffold atau atap (canopi);

3. Adanya tindakan tidak aman dari pekerja misalnya bercanda

berlebihan ketika bekerja

4. Tenaga kerja tidak memakai Full Body Harness baik karena

tenaga kerja menganggap rigan resiko maupun karena tidak

mengerti/memahami potensi bahaya pekerjaannya;

5. Ketika proses bongkar pasang perkakas kerja yang digunakan

misalnya tangga, kotak alat, dan lain-lain.

Potensi bahaya bekerja pada ketinggian yang berkaitan dengan

aktivitas rutin di RIG PDSI #31.3/1500-E ini terdiri dari:

1. Derrickman terjatuh dari monkey board setinggi 100 feet atau

sekitar ± 33 meter dikarenakan safety harness yang tidak

dikaitkan dengan baik dan benar;

2. Balancing line yang aus dan sambungan yang tidak benar

menyebabkan line putus atau terlepas sehingga pekerja dapat

terjatuh dari ketinggian;


37

3. Kegagalan pada hydraulic winch dan rantai yang digunakan oleh

derricman untuk membantu pemindahan drill pipe pada saat

melakukan cabut masuk rangkaian pipa (tubular);

4. Drilling pipe terjatuh pada saat proses cabut masuk rangkaian;

5. Derrickman terjatuh ketika memanjat dan menuruni menara bor;

6. Derrickman terjatuh ketika menaiki menara akibat pemakaian

sepatu atau pakaian yang kendor, dan sol sepatu yang licin karena

minyak atau lumpur sehingga menyebabkan tersangkut pada

tangga dan membentur di mast;

7. Terjadinya kick atau blowout secara tiba-tiba;

8. Kegagalan fungsi alat pelindung jatuh seperti escape chair yang

digunakan untuk penyelamatan diri, maupun kegagalan pada

safety device lainnya.

Gambar 5.1
Area kerja Derrickman di monkey board
38

5.1.2 Evaluasi proses kerja dan kebutuhan

Jenis kegiatan yang dilaksanakan di RIG PDSI #31.3/1500-E

ini merupakan kegiatan work over yang bertujuan untuk memperbaiki

salah satu lapisan dan dilanjutkan untuk melaksanakan uji produksi

sumur lapisan tersebut. Adapun kegiatan work over ini melibatkan

beberapa proses pekerjaan yang kompleks dan memiliki resiko bahaya

yang cukup banyak.

Dalam rangka melaksanakan proses kerja tersebut, khususnya

dalam pelaksanaan kerja di ketinggian, harus disertai dengan

penyediaan kebutuhan pendukung melalui hasil evaluasi. Hasil dari

evaluasi proses kerja dan kebutuhan ini kemudian dijadikan acuan

dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut agar dapat berjalan secara

efektif dan efisien, hal ini mencakup :

a. Personil yang akan bekerja dan siapa saja yang akan terlibat dalam

proses kerja;

b. Penanggung jawab pekerjaan;

c. Prosedur kerja;

d. Peralatan dan perkakas kerja yang dibutuhkan;

e. Pengendalian bahaya yang dibutuhkan ;

f. Surat Izin Kerja Aman untuk pekerjaan non-rutin;

g. Alat Pelindung diri yang dibutuhkan.


39

5.1.3 Metode pencegahan bahaya jatuh Rig PDSI #31.3/1500-E

Metode pencegahan dari bahaya jatuh secara umum yang

digunakan di PDSI mengacu pada hirarki pengendalian bahaya

(Eliminasi, Subtitusi, Engineering Control, Administrasi, dan APD).

1. Metode Eliminasi Dan Subtitusi

Metode ini tidak dilakukan di Rig PDSI#31.3/1500-E pada saat

ini. metode eliminasi dan subtitusi umumnya dilakukanpada sisi

manufactur peralatan sebelum peralatan tersebut siap digunalan.

dikarenakan tidak sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada.

2. Metode Engineering Control

Metode ini sudah dilakukan di Rig PDSI#31.3/1500-E , berikut

ini adalah beberapa contohnya :

a. Pemasangan pagar pengaman di monkey board, mud tank, rig

floor, dan tempat lain yang memiliki potensi bahaya jatuh

dari ketinggian ;

b. Tersedianya pijakan kaki (deck) di area ketinggian

c. Tersedianya basket man dan lift untuk bekerja di ketinggian

3. Metode Administrasi

Seorang pekerja harus membuat permit to work(SIKA),

Risk Assesment (RA)/safety analysis dan juga dilakukan pre job

safety meeting (PJSM) sebelum dilakukan pekerjaan di ketinggian


40

4. Metode Alat Pelindung Diri

Alat Pelindung Diri yang digunakan di Rig

PDSI#31.3/1500-E yakni dengan mengunakan:

a. Fall arrester

b. Full body harness

c. Counter weight balance

d. Escape chair

5.2 Prosedur Bekerja pada Ketinggian di Rig PDSI #31.3/1500-E

Prosedur bekerja pada ketinggian dimaksudkan untuk menjelaskan

bagaimana langkah kerja secara benar untuk mengatur dan mengkoordinir

pekerjaan agar dapat berjalan dengan baik dan aman. Prosedur ini harus

dapat memastikan keselamatan personil, peralatan dan lingkungan meliputi

semua orang yang ada disekitar pekerjaan serta semua aspek yang terlibat

didalamnya.

Prosedur bekerja pada ketinggian harus berisikan tentang penjelasan

sistem dan peralatan yang digunakan dan kebutuhan personil untuk

melaksanakan tugas atau pekerjaan apapun yang menyangkut bekerja pada

ketinggian dengan potensial resiko pekerja terjatuh lebih dari ketinggian 1,8

meter (OHSA 3146, Fall Protection in Construction).

Berdasarkan Manual HSE Pertamina Drilling Services Indonesia,

batasan untuk pekerjaan yang menyangkut ketinggian adalah setinggi 2 meter

atau lebih, sedangkan menurut peraturan terbaru dari menteri tenaga kerja no

9 tahun 2016 untuk katagori bekerja pada ketinggian adalah untuk setiap
41

pekerjaan dengan potensi jatuhnya tenaga kerja dari suatu tempat yang

memiliki perbedaan ketinggian tanpa menyebutkan jarak minimal dari tempat

kerja sampai ke permukaan tanah. Adanya perbedaan ini dapat dijadikan

salah satu acuan untuk pertimbangan dalam penyusunan prosedur bekerja

pada ketinggian baik bagi PT Pertamina Drilling Services sendiri maupun

industri lain jika mengingat dalam pekerjaan yang berhubungan dengan

ketinggian ini masih memiliki resiko yang harus dikontrol, misalnya ketika

seorang pekerja bekerja dengan jarak ketinggian 1 meter tanpa adanya Palang

/ Rintangan (handrails, guardrails).

5.3.1 Prosedur dan Evaluasi untuk pekerjaan rutin yang dilaksanakan di

RIG PDSI #31.3/1500-E

Kegiatan rutin bekerja pada ketinggian di RIG

PDSI#31.3/1500-E ini adalah sebagi berikut :

1. Pekerjaan menaiki menara;

2. Pekerjaan menuruni menara;

3. Bekerja di Monkey Board

Adapun prosedur pelaksanaan kegiatan rutin ini adalah

berdasarkan Tata Kerja Individu PT Pertamina Drilling Service

Indonesia sebagai berikut :

1. Kegiatan Panjat Menara dengan Nomor Dokumen TI.OPS.30:

a. Persyaratan :

1. Harus diketahui dan diawasi oleh toolpusher/driller

2. Cuaca saat itu tidak hujan lebat dan disertai dengan petir
42

b. Persiapan

1. Periksa kondisi perlengkapan memanjat, yaitu : climbing

belt, balancing lines dan tangga pada menara

2. Rapikan pakaian kerja dan ikat tali sepatu

c. Referensi Dokumen

1. Prosedur HSE PT PDSI

2. Peraturan Keselamatan Kerja Ditjen Migas

d. Peralatan

1. Peralatan safety perorangan untuk semua pekerja pelaksana

yang terdiri dari coverall, sepatu, sarung tangan, kacamata,

ear plug, dan helmet lengkap dengan chin strap

2. Counter weight climb assist assembly

3. Full body harness dan lanyard

e. Sumber Bahaya

1. Interaksi pekerjaan lain (dengan operasi winch/catline)

ketika derricman memanjat mengakibatkan terbelit,

tersabet atau tersangkut oleh wireline

2. Sol sepatu licin karena minyak atau lumpur mengakibatkan

terpeleset ketika memeriksa pal mast bagian atas dan

pekerja terjatuh ketika memanjat

3. Balancing line aus, sambungan yang tidak benar

mengakibatkan line putus dan pekerja terjatuh


43

4. Pemakaian pakaian kerja atau cara mengikat sepatu yang

bertali tidak benar mengakibatkan tersangkut pada tangga

dan membentur di mast

f. Langkah Kerja

1. Bersihkan sepatu dari tanah dan minyak

2. Pastikan bahwa pakaian selalu ringkas dan rapi, kancing

semua kancing baju, lengan baju panjang tidak boleh

digulung

3. Pakai toolaa belt untuk membawa peralatan yang

diperlukan

4. Pastikan bahwa peralatan yang dibawa naik tidak

mengganggu kebebasan bergerak

5. Periksa full body harness. Pastikan bahwa full body

harness terikat dengan baik pada counter weight climb

assist:

a) Counter weight dalam kondisi baik

b) Sambungan Counter weight dengan hook tidak cacat

c) Tarik sling Counter weight terlebih dahulu untuk

memastikan mekanismenya bekerja dengan lancer

d) Pakai dan ikatkan climbing belt dengan benar

6. Beritahu operator bahwa sudah siap untuk memanjat

7. Setelah sampai pada ketinggian dimana akan bekerja di

mast :
44

a) Ikatkan lanyard ke beam gird atau brances pada maist

dan kaitkan hooknya

b) Pastikan bahwa ikatan lanyard sudah benar dan kuat

c) Atur panjang yang bebas apabila perlu, dengan

mengatur lilitan pada ikatannya di mast

8. Lepaskan climbing belt dan kaitkan pada anak tangga di

mast

9. Perhatika tempat berpijak ketika bekerja di mast, pastikan

bahwa gerakan tidak terhambat oleh lanyard yang terlalu

(pendek atau panjang)

10. Kembali ke tangga mast

a) Pakai dan ikatkan climbing belt dengan benar

b) Lepaskan ikatan lanyard safety pada mast dan gulung

dan gulung dengan rapi

c) Beri tahu operator bahwa akan memanjat atau turun

untuk pindah

d) Pastikan bahwa tidak ada operasi winch (catline) ketika

derrickman memanjat atau turun

e) Naik/turun anak tangga satu persatu.


45

Gambar 5.2
Tata Kerja Individu PT Pertamina Drilling Services Indonesia
Kegiatan Panjat menara No. TI.OPS.30

2. Kegiatan Turun dari Menara dengan Nomor Dokumen TI.OPS.31:

a. Persyaratan :

1. Harus diketahui dan diawasi oleh toolpusher/driller

2. Cuaca saat itu tidak hujan lebat dan disertai dengan petir

b. Persiapan

1. Periksa peralatan agar tidak ada yang tertinggal diatas

2. Periksa kondisi perlengkapan memanjat, yaitu : climbing

belt, balancing lines dan tangga pada mast

3. Rapikan pakaian kerja dan ikat tali sepatu

c. Referensi Dokumen

1. Prosedur HSE PT PDSI

d. Peraturan Keselamatan Kerja Ditjen Migas

e. Peralatan
46

1. Peralatan safety perorangan untuk semua pekerja pelaksana

yang terdiri dari coverall, sepatu, sarung tangan, kacamata,

ear plug, dan helmet lengkap dengan chin strap

2. Counter weight climb assist assembly

3. Full body harness dan lanyard

f. Sumber Bahaya

1. Interaksi pekerjaan lain (dengan operasi winch/catline)

ketika derricman memanjat mengakibatkan terbelit,

tersabet atau tersangkut oleh wireline

2. Sol sepatu licin karena minyak atau lumpur mengakibatkan

terpeleset ketika memeriksa pal mast bagian atas

3. Balancing line aus, sambungan yang tidak benar

mengakibatkan line putus dan pekerja terjatuh

4. Pemakaian pakaian kerja atau cara mengikat sepatu yang

bertali tidak benar mengakibatkan tersangkut pada tangga

dan membentur di mast

5. Kedudukan atau pengaman alat-alat di upper mast atau

monkey board yang kurang aman menyebabkan peralatan

terjatuh dan mungkin menimpa pekerja

g. Langkah Kerja

1. Pastikan semua peralatan naik telah masuk dalam tools

belt
47

2. Pastikan bahwa climbing belt yang terikat tetap dipakai

selama turun

3. Beritahu operator telah siap turun

4. Pastikan bahwa peralatan yang dibawa naik tidak

mengganggu kebebasan bergerak

5. Turuni anak tangga satu persau dengan berpegang pada

anak tangga

6. Setelah sampai dibawah kaitkan climbin belt pada

penahannya

7. Kembalikan peralatan ketempatnya

8. Lakukan serah terima dengan derricman berikutnya serta

kondisi yang ditingalkan

Gambar 5.3
Tata Kerja Individu PT Pertamina Drilling Services Indonesia
Kegiatan Turun menara No. TI.OPS.31
48

3. Kegiatan bekerja di monkey board dengan Nomor Dokumen

TI.OPS.32:

a. Persyaratan :

1. Harus diketahui dan diawasi oleh toolpusher/driller

2. Cuaca saat itu tidak hujan lebat dan disertai dengan petir

b. Persiapan

1. Periksa kondisi perlengkapan memanjat, yaitu : climbing

belt, balancing lines dan tangga pada mast

2. Pastikan kursi lari dalam keadaan siap pakai

3. Pastikan ukuran hook penahan safety harness sama besar

dengan ukuran pagar monkey board

4. Sediakan 25 ft manila rope ukuran ½ in. untuk bekerja di

monkey boar yang diangkat dengan traveling block

5. Full body harness harus selalu dikenakan selama bekerja

6. Derrickman harus memberi tahu pekerja di floor agar

menyingkir apabila menggunakan handling tools

7. Perlengkapan safety perorangan harus selalu dipakai pada

waktu bekerja di lokasi sumur.

c. Referensi Dokumen

1. Prosedur memanjat rig mast

2. Prosedur turun dari rig mast

3. Prosedur penggunaan kursi lari


49

d. Peralatan

1. perlenglengkap dengan chin strap

2. Counter weight climb assist assembly

3. Full body harness dan perlengkapan safety perorangan,

sarung tangan, kacamata, ear plug, sepatu dan helmet

lengkap dengan chain strap

4. Climbing belt

5. Safety belt dengan lanyard 6 ft

6. Safety harness dengan tali / wire penahan

7. Handy talky

8. Tools belt

e. Sumber Bahaya

1. Kondisi monkey board licin atau adanya rintangan

mengakibatkan jatuh ketika bekerja di monkey board

2. Kesalahan prosedur pindah mengakibatkan terjatuh pada

waktu pindah kea tau dari monkey board

3. Pengamanan drill pipe, drill collar di monkey board

kurang sehingga tangan atau kaki

f. Langkah Kerja

1. Naik ke rig mast

2. Setelah memanjat sampai atas lower mast, pindah dari

mast ke monkey board

3. Lepaskan climbing dan kaitkan di ujung pagar


50

4. Beritahu operator bahwa siap untuk turun

5. Pastikan tidak ada operasi winch (catline) ketika

derricman turun dari mast

6. Pastikan bahwa peralatan kerja yang dibawa turun tidak

mengganggu kebebasan gerakan

7. Turuni anak tangga satu per satu dan tangan berpegangan

pada sisi samping anak tangga

8. Setelah sampai dibawah, kaitkan climbing belt tangan kiri

tangan kanan balancing line pada penahannya

9. Kembalikan peralatan ke tempatnya

10. Lakukan serah terima dengan derricman berikutnya

mengenai pekerjaan yang telah dilakukan di atas serta

kondisi tempat kerja yang ditinggalkan

Gambar 5.4
Tata Kerja Individu PT Pertamina Drilling Servies Indonesia
Kegiatan Bekerja Di Monkey Board No. TI.OPS.32
51

Prosedur bekerja pada ketinggian untuk kegiatan rutin yang

dijalankan oleh PT Pertamina Drilling Services Indonesia khususnya

di RIG #31.3/1500-E telah cukup lengkap dan mencakup semua aspek

keselamatan yang harus diperhatikan mulai dari awal persyaratan yang

harus dipenuhi sebelum pekerjaan dimulai, persiapan yang harus

dilakukan sebelum projek dimulai , referensi dokumen sebagai acuan

mengenai dasar hukum yang di ambil dan standar yang harus

dipenuhi, peralatan yang akan dipakai, sumber bahaya, dan langkah

kerja yang akan dilakukan.

5.2.2 Prosedur dan Evaluasi untuk pekerjaan non-rutin

Sebagian kegiatan non-rutin bekerja pada ketinggian yang

dilaksanakan dalam proses work over RIG PDSI#31.3/1500-E ini

adalah sebagi berikut :

1. Kegiatan Bongkar pasang BOP (Blow out Preventer )

2. Kegiatan Stand Up tubing

3. Memasang Counter Weight Balance Derrickman

4. Pemasangan Escape Line

5. Dan lain-lain

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh International

Association Of Drilling Contractors (IADC) pada tahun 2015

menyatakan bahwa jumlah total lost time adalah sebesar 22.22%

dengan total insiden bekerja di Derrick/Mast (crown, monkey/stabbing

board, a-frame) sebesar 6.90 %. Sedangkan berdasarkan


52

laporan Labour Force Survey (LFS2) UK, Salah satu penyebab

terjadinya kecelakaan kerja yang berdampak pada cidera serius dan

kematian adalah terjatuh dari atas ketinggian yakni sebesar 31%.

Dengan demikian sebaiknya perlindungan terhadap bekerja

diketinggian khususnya untuk pekerjaan no-rutin sebaiknya harus

dipatuhi oleh seluruh kalangan dari mulai pengawas sampai pekerja

itu sendiri.

Di RIG PDSI #31.3/1500-E, kegiatan kerja non rutin

dikontrol dengan menggunakan Job Safety Analysis dan Surat Izin

Kerja Aman. Selain itu diterapkan juga Safety monitoring card untuk

mengamati prilaku kerja dan kondisi kerja yang ada di lingkungan.

Penerapan Job Safety Analysis dan Surat Izin Kerja Aman ini

hendaknya mencakup control terhadap segala jenis pekerjaan.

Dalam kegiatan tugas akhir ini evaluasi prosedur untuk

pekerjaan non rutin bagi pekerjaan di ketinggian di fokuskan kepada

analisis kelengkapan dari Job safety analysis dan Surat Izin kerja

Aman tersebut serta implementasi di lapangan. Sebagai pembanding

diambil salah satu studi kasus mengenai pekerjaan Nipple

down/bongkar BOP (blow Out Preventer).


53

Gambar 5.6 Gambar 5.7


JSA Nipple Down BOP Sika Nipple Down BOP

Kegiatan Nipple Down BOP

Gambar 5.8
Kegiatan Nipple Down (Bongkar) BOP

Prosedur Pengoperasian Peralatan bekerja pada ketinggian/

program pemenuhan standar keselamatan Rig PDSI#31.3/1500-E

terdapat pula prosedur mengenai bekerja pada ketinggian

pengoperasian alat, misalnya TKI HSE. 03 yang berisikan tentang

prosedur pengoperasian peralatan fall arrester.


54

Berdasarkan hasil dari referensi yang diperoleh dapat di tarik

kesimpulan bahwa Prosedur pengoperasian peralatan di RIG

PDSI#31.3/1500-E ini sudah cukup baik karena didalamnya telah

mencakup aspek-aspek yang harus dipenuhi sesuai dengan Peraturan

Menteri Tenaga Kerja no 09 tahun 2016 mengenai bekerja pada

ketinggian yang didalamnya berisikan persyaratan, referensi dokumen,

peralatan, langkah kerja dan sumber bahaya.

5.3 Program Pemenuhasn Standar Keselamatan Bekerja Pada Ketinggian

5.3.1 Pencegahan resiko jatuh

1. Sabuk pengaman, tali pelindung tubuh dan tali pengaman yang

disetujui harus dipakai dan terikat sebagaimana mestinya

apabila memiliki resiko jatuh pada ketinggian dua meter atau

lebih.

2. Sabuk pengaman harus digunakan dan terikat dengan tepat bila

bekerja pada bekerja pada ketinggian lebih dari dua meter dan

tidak dipagari dengan pegangan tangga

3. Sabuk pengaman (atau tipe parasut) harus dipakai oleh semua

karyawan yang bekerja pada panggung kerja elevasi tinggi

terbuka

4. Sabuk pengaman harus terpasang ketat dipinggang dan tali

pengaman panjangnya tidak boleh lebih dari 1,2 meter

5. Tali pengaman harus terikat untuk mengamankan pemakainya

dan tidak boleh berada dibawah pinggang.


55

6. Alat-alat pelindung pencegah jatuh harus diperiksa sebelum

digunakan.

7. Perlengkapan yang tidak layak pakai tidak boleh digunakan

8. Sabuk pengaman, sabuk tipe parasut dan tali pengaman harus

disimpan dan dijaga aga jangan sampai kena minyak, pelumas

atau benda lain yang bias membuatnya kotor

9. Alat-alat pencegah jatuh yang pernah terbentur beban yang

keras harus segera diganti.

Sumber: Dokumen Sistem Manajemen HSE / Manual HSE


PT Pertamina Drilling Service Indonesia.

Berdasarkan data yang diambil dari dokumen Sistem

Manajemen HSE/ Manual HSE PT Pertamina Drilling Service

Indonesia, diketahui bahwa sistem pencegah resiko jatuh yang

digunakan adalah dengan menggunakan sabuk pengaman atau safety

belt, sedangkan untuk bekerja di ketinggian sebaiknya menggunakan

full body harness agar dapat memproteksi pekerja secara menyeluruh.

Pemakaian safety belt saja tidak akan efektif untuk bekerja di

ketinggian karena kapasitas pengaman safety belt ini tidak dapat

memproteksi seluruh badan pekerja apabila terjadi sebuah kecelakaan.

Penggunaan safety belt dapat mencegah pekerja dari jatuh namun

masih menyisakan resiko kemungkinan terjadinya cidera pada tulang

punggung karena struktur penggunaan safety belt terbatas di area

pinggang saja.
56

Setelah melakukan observasi lapangan pemakaian alat

pelindung diri yang digunakan dalam pekerjaan pada ketinggian di

Rig PDSI#31.3/1500-E adalah dengan menggunakan full body

harness. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Sistem Manajemen

HSE/ Manual HSE PT Pertamina Drilling Service Indonesia harus

dilakukan revisi atau pembaharuan agar ada sinkronisasi antara

manual prosedur tersebut dengan kondisi dilapangan sehingga

kemungkinan terjadinya kesalahfahaman dapat dihindari.

5.3.2 Pelatihan pekerja

Pelatihan pekerja merupakan salah satu aspek yang harus

dipenuhi agar setiap pekerjaan yang dilakukan oleh kru atau pekerja

Dalam pelaksanaan kegiatan yang dilakukan di RIG #31.3/1500-E PT

Pertamina Drilling Services Indonesia dapat berjalan dengan lancar

dan terkendali dalam kondisi aman karena sesuai dengan spesifikasi

keahlian pekerja tersebut. Berikut ini merupakan daftar up skilling

pekerja di ketinggian:

Gambar 5.9
Daftar training khusus pekerjadi ketinggian
57

Daftar training dan sertifikasi yang telah dilaksanakan oleh

kariawan PT PDSI ini tercantum dalam HSE passport. Selanjutnya

HSE Passport ini juga menjadi salah satu persyaratan ketika karyawan

atau pekerja akan masuk ke area lapangan.

5.3.3 Sistem Penahan Jatuh (Personal Fall Arrest)

Semua perlengkapan pelindung jatuh harus sesuai dengan

OSHA 3146 (Occupational Safety and Health Administration)

mengenai Fall Protection in Construction dan peraturan mengenai

Undang-Undang keselamatan Kerja. Berikut ini merupakan sistem

penahan jatuh (personal fall arrest) yang diterapkan oleh PT

Pertamina Drilling Services Indonesia khususnya di Rig #31.3/1500-E

adalah sebagai berikut :

a. Fall arrester

b.

Gambar 5.10
Fall arrester
58

Fall arrester merupakan alat pelindung diri yang berfungsi

sebagai pengaman pada Safety Line pada saat bergerak naik

maupun turun dari menara. Cara kerja dari fall arrester ini adalah

dengan menggerakan grab ketika pekerja bergerak, selain fall

arrester ini juga berfungsi untuk mencengkram vertical lifeline

secara mekanik ketika pekerja tiba-tiba terjatuh dari tempat kerja.

c. Full body harness

Gambar 5.11
Fall arrester

Full Body Harnes adalah alat pelindung diri yang

disarankan untuk pekerjaan di ketinggian dan dapat mendukung

pekerja dalam kondisi sulit. Komponen-komponen dari full body

harness terdiri dari :

1. Harness, berfungsi untuk menahan bagian bawah pekerja

2. Back D-Ring, berfungsi untuk mengaitkan carabiner pada

harness
59

3. Carabiner / cinci53n kait dengan pengunci yang berfungsi

sebagai penghubung antara lanyard dan harness

4. Lanyard, berfungsi sebagai tali penghubung antara pekerja

dan bidang kerja

5. Hook, berfungsi sebagai alat pengaman untuk mengaitkan

komponen body harness dengan bidang kerja

6. Shock Absorber

d. Counter weight balance

Gambar 5.12
Counter weight balance

Counter weight balance merupakan komponen untuk

membantu menyeimbangkan bobot tubuh pekerja sehingga dapat

mempermudah pekerja (derrickman) saat naik dan turun dari

menara atau monkey board. counter weight balance adalah berupa

katrol dengan pemberat yang berfungsi untuk membantu

mengangkat pekerja (derrickman).


60

e. Escape Chair

Escape chair merupakan salah satu komponen untuk

penyelamatan diri yang diterapkan khususnya di Rig #31.3/1500-

E. Escape chair ini berada berupa jalur wire rope yang

membentang dari monkey bord ke area yang aman. Penggunaan

escape chair ini telah telah dicantumkan di Manual HSE PT.

Pertamina Drilling Services Indonesia.

5.3.4 Daftar periksa sarana dan peralatan yang digunakan dalam bekerja

pada ketinggian

Sarana dan peralatan untuk bekerja di ketinggian harus

dipastikan berada dalam kondisi baik dan siap pakai sehingga aman

ketika digunakan. Rig PDSI#31.3/1500-E telah mengadakan inspeksi

pemeriksaan peralatan secara rutin untuk mengetahui kondisi

kelayakan dari seluruh peralatan yang di pakai.

Gambar 5.13
daftar periksa peralatan bekerja pada ketinggian
61

Berdasarkan gambar 5.13 dapat dilihat bahwa hasil inspeksi

untuk alat pelindung diri seperti fall arrester, full body harness serta

alat emergency berada dalam kondisi baik.

5.4 Pelaksanaan Prosedur Bekerja Pada Ketinggian Di Rig PDSI #31.3/1500-E.

5.4.1 Persentase Jumlah Bekerja Pada Ketinggian Di Rig PDSI

#31.3/1500-E.

Setiap program dan laporan pekerjaan di Rig

PDSI#31.3/1500-E di laporkan sebagai suatu dokumen tertulis.

Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa jumlah kegiatan bekerja

pada ketinggian yang dilaksanakan di Rig PDSI#31.3/1500-E adalah

sebagai berikut:

Waktu
Durasi
No Tanggal pelaksanaa Jenis Kegiatan
kerja
n
Jumat
Nipple Up BOP group 13.5/8" *
1 05Agustus 14.00-24.00 10
1000 Psi
2016
Sabtu, 06 Nipple Up BOP group 13.5/8" *
2 00.00-04.00 4
Agustus 2016 1000 Psi

Cabut rangkaian TCB 6" + BHA


3 18.00-16.00 8
Senin, 08 dari 2608 m sampai permukaan
Agustus 2016
4 18.00-24.00 Stand Up Tubing 3-1/2" 12 std 6

Stand Up Tubing 3-1/2" 12 std,


5 00.00-03.00 3
kumm 32 std

PJSM, Aming Handak. Masuk


rangkaian HSD gun ke permukaan.
6 12.30-16.00 3,5
R/D lubricator wireline & wire tools.
Selasa, 09 Observasi statistik baik.
Agustus 2016
Arming Handak. Masuk rangkaian
HSD gun 4-1/2” 6 spf, korelasi int
perfo 2576-2577 m, OK.
7 16.00-20.00 4
Tambahkan gun, indikasi fired OK.
Cabut rangkaian HSE gun ke
permukaan
62

Rabu, 10 masuk ROE DP 3-1/2" dari 0-2586


8 00.00-08.30 8.5
Agustus 2016 m

cabut amankan string dari 2413 -


2260 m (5 std) squezee dengan rate
0.4 bpm pressure 980 psi holding
9 13.00-14.30 1.5
selama 20 menit, terpompa 2.4 bbls.
Bleed of pressure, cek return 1.9
Rabu, 10 bbls cemen masuk 0.5 bbls
Agustus 2016
cabut dan cek rangkaian ROE 3 1/2"
dari 2260 m (5std) sampai
10 14.30-24.00 permukaan. Didapat beberapa jts DP 9.5
3 1/2 " no 1-17 (urutan bawah)
buntu oleh semen sambil TSK
masuk rangkaian TCB 6" +BHA
rotary dari permukaan sampai
Kamis, 11 2533.78 m (TOC) duduk 6 klbs.
11 01.00-18.00 17
Agustus 2016 Break sirkulasi di 500m, 1400m,,
1810 m, 2096 m sambil sablon
setiap std

Cabut rangkaian TCB 6" + BHA


12 12.00-19.00 7
dari 2608 m sampai permukaan
Jumat Agustus
2016
masuk rangkaian TCB 6" +scraper
13 19.00-24.00 5
7" + DP 3 1/2 sampai 1650 meter

lanjut masuk rangkaian 4-1/2" TCP


gun 5 SPF + 7" packer (26-29 PPF)
+ 3-1/2" tubing dari 2107-2521 m,
14 00.00-03.30 per joint. Duduk 5 klbs. Indikasi 3.5
packer duduk di TOL 7" liner (TOL
7" = 2465 m, pounder liner 7" = 29
Senin, 15 PPF, ID 6.183")
Agustus 2016 lanjut usaha masuk rangkaian 4-1/2"
TCP gun 5 SPF + 7" packer + 3-
1/2" tubing dengan angkat rangkaian
15 03.30-09.00 5.5
dari 2521-2432 m, kemudian masuk
kembai UR di 2575 m (NPT 6.5
jam)
L/D bell nipple. N/D BOP grup 13-
16 19.00-24.00 5
5/8" *10000 psi
Sabtu, 13 lanjut cabut rangkaian 6" TCB + 7"
17 Agustus 2016 00.00-06.00 scraper +3-1/2" DP dan 4-3/4" DC. 6
L/D kelly
63

masuk rangkaian 4-1/2" TCP gun 5


SPF (conn 2-7/8' EUE) + 7" packer
(26-29 PPF, mech, DG, HTHP) +3-
18 08.00-24.00 16
1/2" tubing (N-80, 9.3 PPF, EUE, R-
2) spi 2107 m, per joint water
cussion setinggi 634 m (900psi)

lanjut malanjut masuk rangkaian


6"TCB + 7 scraper +3-1/2" DP dari
19 00.00-08.30 8.5
1650 sampai 2608 meter. Scrap
Minggu, 14
berulang interval 2500-2608 m
Agustus 2016
cabut rangkaian TCB 6" + 7
20 14.30- 24.00 scraper+3-1/2" DP dari 2608-490 m, 9.5
sambil slack off 3-1/2" DP
Kamis 18 N/U BOP grup 13-5/8" * 10m. N/U
21 03.00-11.00 8
agustus 2018 overflow
cabut rangkaian dari 2574-2561 m.
cek berat rangkaian pick up
weight/slack off weight/normal
Kamis 18
22 21.30-24.00 weight : 84 klbs/82 klbs/83 klbs. 2.5
agustus 2016
Usaha set pecker di 2508 m, test
pecker masih bocor. Cabut
rangkaian dari 2561-2551 m

Total waktu pelaksanaan 148

Tabel 5.1
Laporan kegiatan bekerja pada ketinggian di Rig PDSI #31.3/1500-E

Berdasarkan data tersebut dapat ditarik kesimpulan :

a. Jumlah jam total kegiatan sumur : 14 hari * 24 = 336 jam kerja

b. Total pelaksaan bekerja di ketinggian : 148 jam kerja

c. Total pelaksanaan bekerja di bawah : 336-148 jam = 188 jam kerja

d. Persentase jml bekerja di ketinggian : = 44.05%

e. Persentase jumlah bekerja di lantai dasar : 100 - 44.048 = 55.95 %

Berdasarkan hasil analisa antara durasi yang dibutuhkan untuk setiap

jenis kegiatan di Rig PDSI#31.3/1500-E dalam satu periode kerja (work

over) diketahui bahwa jumlah persentase untuk pekerjaan di ketinggian ini

adalah sebesar 44.048% . Jumlah tingkat resiko bekerja pada ketinggian Rig
64

PDSI#31.3/1500-E tersebut tentunya cukup tinggi, karena melibatkan

hampir setengah dari seluruh pekerjaan yang dilakukan. Untuk itu dalam

rangka mengontrol bahaya yang mungkin terjadi sebagai akibat dari resiko

bekerja pada ketinggian itu sendiri harus memperhitungkan banyak aspek.

Pekerja, pengawas maupun penanggung jawab setiap kegiatan yang

berkaitan dengan bekerja di ketinggian hendaknya benar benar memahami

dan melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan sebelum,

ketika dan sesudah pekerjaan dilakukan baik itu menyangkut penyediaan

sarana dan peralatan yang akan digunakan dalam pekerjaan maupun

prosedur kerja yang harus dijalankan.

5.4.2 Frekuensi Kegiatan Naik Turun dalam proses bekerja di ketinggian

Frekuensi jumlah kegiatan naik dan turun dalam proses bekerja pada

ketinggian di Rig PDSI#31.3/1500-E diperoleh dengan cara mengasumsikan

bahwa pekerjaan yang dilakukan ini di lokasi ini dibagi dalam 2 shift kerja.

Yakni shift pagi yang dimulai pada pukul 07.00-19.00 dan shift malam yang

dimulai pada pukul 19.00-07.00, jadi untuk setiap kegiatan yang berkaitan

dengan proses naik dan turun untuk bekerja pada ketinggian dipengaruhi

oleh waktu pergantian sift tersebut. Misalnya untuk pekerjaan cabut masuk

rangkaian Drill Pipe yang dimulai pada pukul 17.30 sampai dengan pukul

21.00 maka disana terjadi proses naik dan turun dari menara saat bekerja

pada ketinggian, sehingga frekwensi kegiatan naik turun dalam bekerja pada

ketinggianpun semakin bertambah


65

Asumsi
Waktu
No Tanggal Jenis Kegiatan kegiatan
pelaksanaan
naik/ turun
Senin, 08 Cabut rangkaian TCB 6" + BHA
1 18.00-16.00 1
Agustus dari 2608 m sampai permukaan
2 2016 18.00-24.00 Stand Up Tubing 3-1/2" 12 std 1
Stand Up Tubing 3-1/2" 12 std,
3 00.00-03.00 1
kumm 32 std
PJSM, Arming Handak. Masuk
rangkaian HSD gun ke
4 12.30-16.00 permukaan. R/D lubricator 1
wireline & wire tools. Observasi
Selasa, 09
statistik baik.
Agustus
Arming Handak. Masuk
2016
rangkaian HSD gun 4-1/2” 6
spf, korelasi int perfo 2576-
5 16.00-20.00 2577 m, OK. Tambahkan gun, 1
indikasi fired OK. Cabut
rangkaian HSE gun ke
permukaan
masuk ROE DP 3-1/2" dari 0-
6 00.00-08.30 1
2586 m
cabut amankan string dari 2413 -
2260 m (5 std) squezee dengan
rate 0.4 bpm pressure 980 psi
7 13.00-14.30 holding selama 20 menit, 1
Rabu, 10 terpompa 2.4 bbls. Bleed of
Agustus pressure, cek return 1.9 bbls
2016 cemen masuk 0.5 bbls
cabut dan cek rangkaian ROE 3
1/2" dari 2260 m (5std) sampai
permukaan. Didapat beberapa jts
8 14.30-24.00 1
DP 3 1/2 " no 1-17 (urutan
bawah) buntu oleh semen sambil
TSK
masuk rangkaian TCB 6" +BHA
rotary dari permukaan sampai
Kamis, 11
2533.78 m (TOC) duduk 6 klbs.
9 Agustus 01.00-18.00 1
Break sirkulasi di 500m,
2016
1400m,, 1810 m, 2096 m sambil
sablon setiap std
Cabut rangkaian TCB 6" + BHA
10 12.00-19.00 1
Jumat 12 dari 2608 m sampai permukaan
Agustus masuk rangkaian TCB 6"
11 2016 19.00-24.00 +scraper 7" + DP 3 1/2 sampai 1
1650 meter
lanjut masuk rangkaian 4-1/2"
TCP gun 5 SPF + 7" packer (26-
Senin, 15
29 PPF) + 3-1/2" tubing dari
Agustus
2107-2521 m, per joint. Duduk 5
12 2016 00.00-03.30
klbs. Indikasi packer duduk di
TOL 7" liner (TOL 7" = 2465 m,
pounder liner 7" = 29 PPF, ID
6.183")
66

lanjut usaha masuk rangkaian 4-


1/2" TCP gun 5 SPF + 7" packer
+ 3-1/2" tubing dengan angkat
13 03.30-09.00 1
rangkaian dari 2521-2432 m,
kemudian masuk kembai UR di
2575 m (NPT 6.5 jam)
lanjut cabut rangkaian 6" TCB +
14 00.00-06.00 7" scraper +3-1/2" DP dan 4- 1
3/4" DC. L/D kelly
Sabtu, 13 masuk rangkaian 4-1/2" TCP
Agustus gun 5 SPF (conn 2-7/8' EUE) +
2016 7" packer (26-29 PPF, mech,
15 08.00-24.00 DG, HTHP) +3-1/2" tubing (N- 1
80, 9.3 PPF, EUE, R-2) spi 2107
m, per joint water cussion
setinggi 634 m (900psi)
lanjut masuk rangkaian 6"TCB
+ 7 scraper +3-1/2" DP dari
16 00.00-08.30 1
Minggu, 1650 sampai 2608 meter. Scrap
14 Agustus berulang interval 2500-2608 m
2016 cabut rangkaian TCB 6" + 7
scraper+3-1/2" DP dari 2608-
17 14.30- 24.00 2
490 m, sambil slack off 3-1/2"
DP
cabut rangkaian dari 2574-2561
m. cek berat rangkaian pick up
Kamis 18 weight/slack off weight/normal
18 agustus 21.30-24.00 weight : 84 klbs/82 klbs/83 klbs. 1
2016 Usaha set pecker di 2508 m, test
pecker masih bocor. Cabut
rangkaian dari 2561-2551 m
Total 18
Tabel 5.2
Ferkuensi Naik Turun Pada Saat Bekerja Di Ketinggian
Berdasarkan Laporan Kegiatan Rutin Pekerjaan

Berdasarkan tabel 5.2 mengenai jumlah freuensi naik dan turun saat

bekerja pada ketinggian diketahui bahwa selama periode kegiatan work over

di Rig PDSI#31.3/1500-E terdapat 18 kali kegiatan naik dan 18 kali kegiatan

turun. Perlu digaris bawahi bahwa data tersebut hanya diambil dari kegiatan

rutin saja sedangkan non-rutin seperti Nipple Down BOP tidak dimasukan

karena melibatkan frekuensi naik dan turun untuk kegiatan tersebut tidak

dapat dipastikan. Selain itu jumlah frekuensi tersebut bisa saja lebih besar
67

dengan asumsi bahwa data yang dikumpulkan belum memperhitungkan

kegiatan pekerjaan dengan selang waktu istirahat bagi pekerja.

Kegiatan menaiki dan menuruni menara ini tentunya memiliki potensi

bahaya jatuh yang tinggi, maka dari itu baik pekerja, pengawas maupun

penanggung jawab kegiatan hendaklah memastikan kondisi pekerjaan yang

akan dilakukan mencakup segala jenis faktor pendukung lainnya seperti alat

pelindung diri dan prosedur yang dijalankan telah sesuai dengan ketentuan

dan berada dalam kondisi aman.


BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

1. Perencanaan bekerja pada ketinggian terdiri dari Identifikasi resiko

bahaya, evaluasi proses kerja dan kebutuhan, dan metode pencegahan

bahaya jatuh

a. Potensi bahaya yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan di

Rig PDSI #31.3/1500-E adalah kegagalan fungsi alat pelindung

jatuh seperti escape chair , terjadinya kick atau blowout secara tiba-

tiba, derrickman terjatuh ketika memanjat dan menuruni menara bor,

derrickman terjatuh dari monkey board setinggi 100 feet atau sekitar

± 33 meter dikarenakan safety harness yang tidak dikaitkan dengan

baik dan benar dan Drilling pipe terjatuh pada saat proses cabut

masuk rangkaian.

b. Kegiatan work over yang dilaksanakan di Rig PDSI #31.3/1500-E

melibatkan beberapa proses pekerjaan yang kompleks dan memiliki

resiko bahaya yang cukup banyak.

c. Metode pencegahan dari bahaya jatuh secara umum yang digunakan

di PDSI mengacu pada hirarki pengendalian bahaya (Eliminasi,

Subtitusi, Engineering Control, Administrasi, dan APD).

2. Prosedur bekerja pada ketinggian di Rig PDSI #31.3/1500-E telah

cukup lengkap dan mencakup semua aspek keselamatan yang harus

68
69

diperhatikan mulai dari awal persyaratan yang harus dipenuhi sebelum

pekerjaan dimulai, persiapan yang harus dilakukan sebelum projek

dimulai , referensi dokumen sebagai acuan mengenai dasar hukum yang

di ambil dan standar yang harus dipenuhi, peralatan yang akan dipakai,

sumber bahaya, dan langkah kerja yang akan dilakukan.

3. Program pemenuhan standar bekerja pada ketinggian di Rig PDSI

#31.3/1500-E terdiri dari pencegahan resiko jatuh, pelatihan pekerja,

sistem penahan jatuh yang digunakan serta daftar periksa sarana dan

peralatan yang digunakan saat bekerja pada ketinggian

4. Berdasarkan analisa yang dilakukan, persentase jumlah kegiatan bekerja

pada ketinggian di Rig PDSI #31.3/1500-E adalah sebesar 44.048% dan

Frekuensi kegiatan naik dan turun menara untuk pekerjaan rutin sebanyak 15

kali selama kegiatan work over dilaksanakan

6.2 Saran

1. Perlindungan terhadap bekerja diketinggian khususnya untuk pekerjaan

no-rutin masih belum berjalan secara maksimal dalam pelaksanaanya,

sebaiknya peraturan yang telah dibuat dan ditetapkan harus lebih dipatuhi

oleh seluruh kalangan dari mulai pengawas sampai pekerja itu sendiri.

2. Dalam manual HSE mengenai pengguanaan alat pelindung diri dalam

bekerja di ketinggian APD yang digunakan adalah safety belt sementara

seharusnya peralatan APD yang digunakan pada proses bekerja di

ketinggian dengan menggunakan full body harness. Untuk itu harus

69
70

diadakan revisi pada manual HSE PT Pertamina Drilling Services

Indonesia.

3. Dalam penyusunan prosedur dan manual HSE khususnya untuk

pekerjaan di ketinggian yang ada di Rig PDSI #31.3/1500-E ukuran

untuk katagori bekerja pada ketinggian dimulai pada jarak 2 meter, akan

lebih baik apabila ditambahkan referensi ter-update salah satunya

Peraturan Menteri No 09 tahun 2016 mengenai Bekerja di ketinggian

sebagai bahan pertimbangan.

70