Anda di halaman 1dari 58

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengetahuan HIV/AIDS menjadi sangat penting bagi masyarakat dikarenakan pengetahuan
menjadi salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi masyarakat dalam cara mendeteksi dini
penyakit HIV. Pemahaman masyarakat tentang deteksi dini penyakit HIV yang kurang harus menjadi
perhatian utama karena hal ini akan memicu munculnya penularan penyakit infeksi akan lebih luas.
Selain ketidakpedulian masyarakat terhadap kondisi penderita HIV/AIDS, yang penting untuk
diperhatikan adalah bahwa dengan ketidaktahuan masyarakat, membuat test HIV/AIDS yang harus
secara dini dilakukan oleh masyarakat.
Masyarakat yang beresiko tinggi terkena HIV/AIDS adalah kaum homosex (gay), pecandu obat
bius yang menggunakan jarum suntik, penerima transfusi darah terutama pasien yang berpenyakit
darah seperti hemofilia, bayi- bayi yang orang tuanya menderita AIDS (Willy F. Pasuhuk, 2000). Hal
ini akan mempengaruhi peningkatan prevalensi HIV (Wulandari, 2013).
Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, maupun oral), trasfusi darah,
jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui,
serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut (Pratiwi, 2011). Tahap terinfeksi HIV
sampai tahap AIDS, sejalan dengan penurunan derajat imunitas. Secara imunologis, sel T yang terdiri
dari limfosit T-helpar, disebut limfosit CD4+ akan mengalami perubahan baik secara kuantitas
maupun kualitas. HIV menyerang CD4+ baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara
langsung, sampul HIV yang mempunyai efek toksik akan menghambat fungsi sel T (toxic HIV).
Secara tidak langsung, lapisan luar protein HIV yang disebut sampul gp 120 dan anti p24 berinteraksi
dengan CD4+ yang kemudian menghambat aktivitas sel yang mempresentasikan antigen.
Upaya untuk mengurangi semakin tingginya angka penularan HIV/AIDS juga dilakukan oleh
pemerintah. Upaya yang di berikan pada kalangan masyarakat antara lain, pemerintah melakukan
sosialisasi HIV/AIDS berupa informasi-informasi tentang deteksi dini HIV/AIDS. Informasi –
informasi tersebut di sediakan untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang deteksi dini
HIV/AIDS. Pada kenyataannya, meskipun pemerintah telah banyak melakukan sosialisasi tentang
HIV/AIDS yang ditujukan untuk menurunkan angka penularan HIV/AIDS, namun hal tersebut tidak
memperoleh hasil secara maksimal.
Pemerikasaan dini terhadap HIV/AIDS perlu dilakukan karena HIV/AIDS belum ditemukan
obatnya, dan cara penularannya pun sangat cepat dan bersifat asimtomatik. Memulai menjalani VCT

1
tidaklah perlu merasa takut karena konseling dalam VCT dijamin kerahasiaannya karena tes ini
dilakukan dengan berdialog dengan petugas kesehatan langsung. Maka dari itu, hendaknya
masyarakat mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk deteksi dini penyakit HIV/AIDS
agar terhindar dari HIV/AIDS

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah itu penyakit HIV/AIDS?

2. Bagaimana cara penularan HIV/AIDS?

3. Apa saja tanda dan gejala penderita HIV/AIDS?

4. Bagaimana cara pencegahan HIV/AIDS?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui penyakit HIV/AIDS

2. Mengetahui cara penularan HIV/AIDS

3. Mengetahui tanda dan gejala penderita HIV/AIDS

4. Mengetahui cara pencegahan HIV/AIDS

2
BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 DEFINISI
HIV atau Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh
manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel – sel darah putih
yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut sel T-4 atau
disebut juga sel CD-4.
Kebanyakan orang yang terinfeksi HIV tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi. Segera
setelah terinfeksi, beberapa orang mengalami gejala yang mirip gejala flu selama beberapa minggu.
Selain itu tidak ada tanda infeksi HIV. Tetapi, virus tetap ada di tubuh dan dapat menularkan orang
lain.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan
kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti
darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui
hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara
ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-
cairan tubuh tersebut.
HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang
dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk tumbuh, materi genetik
ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan
selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang
dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.
2. AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak
atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan
waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS
disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena
sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.
AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan
penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita
penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang.
Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang

3
positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang
ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang
biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.
Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-
obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim
yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini
dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut
dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV.

2.2 ETIOLOGI
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawan-kawan di
Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di
Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasional
pada tahun 1986 nama firus dirubah menjadi HIV.
Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli
merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel
target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut
CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap
hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV
selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita
tersebut.
Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian
selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic Acid).
Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis prosein. Bagian selubung terdiri atas lipid dan
glikoprotein (gp 41 dan gp 120). Gp 120 berhubungan dengan reseptor Lymfosit (T4) yang rentan.
Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif
terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan dengan
berbagai disinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan sebagainya, tetapi telatif
resisten terhadap radiasi dan sinar ultraviolet.
Virus HIV hidup dalam darah, savila, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat
juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak.
1. Masa Inkubasi Aids

4
Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar virus HIVsampai dengan
menunjukkan gejala-gejala AIDS. Waktu yang dibutuhkan rata-rata cukup lama dan dapat mencapai
kurang lebih 12 tahun dan semasa inkubasi penderita tidak menunjukkan gejala-gejala sakit. Selama
masa inkubasi ini penderita disebut penderita HIV. Pada fase ini terdapat masa dimana virus HIV tidak
dapat terdeteksi dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus HIV yang
dikenal dengan “masa window periode”.
Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang
lain dengan berbagai cara sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif lama,
dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan
terjadi pada fase inkubasi ini.
2. Cara Penularan
Secara umum ada 5 faktor yang perlu diperhatikan pada penularan suatu penyakit yaitu sumber
infeksi, vehikulum yang membawa agent, host yang rentan, tempat keluar kuman dan tempat masuk
kuman (port’d entrée). Virus HIV sampai saat ini terbukti hanya menyerang sel Lymfosit T dan sel
otak sebagai organ sasarannya. Virus HIV sangat lemah dan mudah mati diluar tubuh. Sebagai
vehikulum yang dapat membawa virus HIV keluar tubuh dan menularkan kepada orang lain adalah
berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh yang terbukti menularkan diantaranya semen, cairan vagina atau
servik dan darah penderita. Banyak cara yang diduga menjadi cara penularan virus HIV, namun
hingga kini cara penularan HIV yang diketahui adalah melalui :
a. Transmisi Seksual
Penularan melalui hubungan seksual baik Homoseksual maupun Heteroseksual merupakan
penularan infeksi HIV yang paling sering terjadi. Penularan ini berhubungan dengan semen dan cairan
vagina atau serik. Infeksi dapat ditularkan dari setiap pengidap infeksi HIV kepada pasangan seksnya.
Resiko penularan HIV tergantung pada pemilihan pasangan seks, jumlah pasangan seks dan jenis
hubungan seks. Pada penelitian Darrow (1985) ditemukan resiko seropositive untuk zat anti terhadap
HIV cenderung naik pada hubungan seksual yang dilakukan pada pasangan tidak tetap. Orang yang
sering berhubungan seksual dengan berganti pasangan merupakan kelompok manusia yang berisiko
tinggi terinfeksi virus HIV.
 Homoseksual
 Heteroseksual
b. Transmisi Non Seksual
 Transmisi parentral
Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat tindik) yang telah
terkontaminasi, misalnya pada penyalah gunaan narkotik suntik yang menggunakan jarum suntik yang

5
tercemar secara bersama-sama. Disamping dapat juga terjadi melaui jarum suntik yang dipakai oleh
petugas kesehatan tanpa disterilkan terlebih dahulu. Resiko tertular cara transmisi parental ini kurang
dari 1%.
Transmisi melalui transfusi atau produk darah terjadi di negara-negara barat sebelum tahun 1985.
Sesudah tahun 1985 transmisi melalui jalur ini di negara barat sangat jarang, karena darah donor telah
diperiksa sebelum ditransfusikan. Resiko tertular infeksi/HIV lewat trasfusi darah adalah lebih dari
90%.
 Transmisi transplasental
Penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai resiko sebesar 50%. Penularan
dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan sewaktu menyusui. Penularan melalui air susu ibu
termasuk penularan dengan resiko rendah.
Cairan Tubuh yang tidak mengandung Virus HIV pada penderita HIV+ :
1. Air liur / air ludah / saliva
2. Feses / kotoran / tokai / bab / tinja
3. Air mata
4. Air keringat
5. Air seni / air kencing / air pipis / urin / urine

2.3 PATOFISIOLOGI
HIV tergolong dalam retro virus ini menyebabkan membawa genetic dalam RNA (Ribonukleat
acid) bukan DNA (Deoxiribonukleat acid). Virions HIV (partikel virus yang lengkap dibungkus oleh
selubung pelindung) mengandung RNA dalam inti bentuk peluru yang terpancing dimana P24
merupakan komplikasi structural utama . Tombd(knod) yang menonjol lewat dinding virus terdiri dari
protein gp120 yang terkait pada procing p41 bagian yang secara selektif berkaitan dengan sel CD4
positif (D4 + ) adalah gp 120 dari HIV. Sel Cd4 mencakup monosit, makrofag dan limfosit T4 helper
( yang dinamakan sel CD4 kalau dikaitkan dengan infeksi HIV), limfosit T4 helper merupakan sel
terbanyak, sesudah terikat dengan membrane sel T4 helper HIV akan menginjeksikan dua utas bengan
RNA yang identik kedalam sel T4 helper. Dengan menggunakan enzim reverse transcriptase HIV
melakukan pemograman ulang materi genetic sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-strandet
DNA (DNA utas gonad. DNA akan disatukan ke nukleus T4sebagai sebuah pro virus dan terjadi
infeksi permanent siklus replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sampai sel yang terinfeksi
diaktifkan. Aktivasi sel yang terinfeksi dilaksanakan antigen, mitogen sitokin CTNF alfa atau
interleukin V atau produk gen virus seperti : cytomegalovirus (Cm V ), epsten Bam Virus, Herpes

6
simplek atau hepatic, akibatnya sel T4 yang terinfeksi diaktifkan, replikasi serta pembentukan tunas
HIV terjadi sel T4 dapt dihancurkan HIV baru dibentuk dan dilepaskan dari darah dan menginfeksi sel
Cd4+ lainnya.
Infeksi monosit dan makrofag tampaknya berlangsung persisiten dan tidak mengakibatkan
kematian sel yang bermakna, tetapi sel ini menjadi reservoir HIV sehingga virus dapat bersembunyi
dan sisitem imun yang terangkut ke seluruh tubuh lewat system ini dan menginfeksi jaringan tubuh.
Sebagian besar jaringan ini mengandung molekul CD4 + yang lain. Siitem imun pada infeksi HIV
lebih aktif dari yang diperkirakan sebelumnya dan terproduksikan sebesar 2 milyar limfosit CD4+
yang lain. Keseluruhan populasi sel Cd4+ perifer akan mengalami pergantian (turn over) tiap 15 hari
sekali.
Kecepatan produksi HIV terkait dengan status kesehatan orang yang terjangkit infeksi tersebut
jika orang tersebut tidak sedang terperangi melawan infeksi HIV lain, reproduksi HIV akan alambat.
Reproduksi HIV akan dipercepat kalau penderita sedang menghadapi infeksi lain/ system imun
terstimulasi. Reaksi ini dapat menjelaskan periode laten yang diperlihatkan sebagian penderita yang
terinfeksi HIV simtomatik 10 tahun sesudah terinfeksi. Dalam respon imun, limfosit T4 berperan
penting mengenali antigen asing mengaktifkan limfosit B yang memproduksi antibody, menstimulasi
limfosit sitotoksik, memproduksi limfokin pertahanan tubuh terhadap infeksi, T4 terganggu
mikroorganisme yang menimbulkan penyakit akan berkesempatan menginvasi dan menyebabakan
sakit seirus. Injeksi dan melignasi timbul akibat gangguan system imun ( infeksi oportunistik ).

2.4 MANIFESTASI KLINIS


Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 – 2 minggu pasien akan merasakan sakit
seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam,
keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit,
limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral.

Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-
5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling
umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa,
infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal.

1) Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala
penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit
leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.

7
2) Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala Diketahui oleh pemeriksa kadar
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif.
3) Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar
getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.

Ada beberapa klasifikasi tanda/keadaan klinis seseorang dikatakan menderita AIDS yaitu :

1. Kategori Klinis A
- Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.
- Limpanodenopati generalisata yang persisten (PGI : Persistent Generalized
Limpanodenophaty )
- Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut dengan sakit yang menyertai
atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.
2. Kategori Klinis B
- Angiomatosis Baksilaris
- Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap terapi
- Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )
- Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan.
- Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang berbeda / terjadi pada lebih dari satu
dermaton saraf.
- Idiopatik Trombositopenik Purpura
- Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii.

3. Kategori Klinis C
- Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus
- Kanker serviks inpasif
- Kriptokokosis ekstrapulmoner
- Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
- Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )
- M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )
- Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner
- Pneumonia Pneumocystic Cranii
2.5 KOMPLIKASI
1) Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis
Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat
badan, keletihan dan cacat.
2) Neurologik
- Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus
(HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik,
kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
- Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan
elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise,
total / parsial.

8
- Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik
endokarditis.
3) Gastrointestinal
- Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma
Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan
dehidrasi.
- Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
4) Respirasi
- Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus,
dan strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.

2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1) Tes Laboratorium
 Serologis

2) Tes antibody serum


Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi
bukan merupakan diagnosa
3) Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
- Sel T4 helper; Indikator system imun (jumlah <200>
- T8 ( sel supresor sitopatik ); Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor
pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.
- P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) ; Peningkatan nilai
kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
- Kadar Ig ; Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal
- Reaksi rantai polimerase; Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel
perifer monoseluler.
4) Tes PHS
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
5) Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
6) Tes Lainnya
- Sinar X dada
- Tes Fungsi Pulmonal
- Biopsi
7) Tes HIV
Tes HIV umum, termasuk imunoasaienzim HIV dan pengujian Western blot,
dilakukan untuk mendeteksi antibodi HIV pada serum, plasma, cairan mulut, darah kering,
atau urin pasien. Namun demikian, periode antara infeksi dan berkembangnya antibodi

9
pelawan infeksi yang dapat dideteksi (window period) bagi setiap orang dapat bervariasi.
Inilah sebabnya mengapa dibutuhkan waktu 3-6 bulan untuk mengetahui serokonversi dan
hasil positif tes. Terdapat pula tes-tes komersial untuk mendeteksi antigen HIV lainnya, HIV-
RNA, dan HIV-DNA, yang dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV meskipun
perkembangan antibodinya belum dapat terdeteksi. Meskipun metode-metode tersebut tidak
disetujui secara khusus untuk diagnosis infeksi HIV, tetapi telah digunakan secara rutin di
negara-negara maju.

2.7 PENATALAKSANAAN
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV),
bisa dilakukan dengan :
1. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak
terinfeksi.
2. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak
terlindungi.
3. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human
Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
4. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
5. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terpinya yaitu :
1. Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi
opurtunistik,nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk
mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi
pasien dilingkungan perawatan kritis.
2. Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap
AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan
menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel
T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus
(HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
3. Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan
menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat
ini adalah :

10
 Didanosine
 Ribavirin
 Diedoxycytidine
 Recombinant CD 4 dapat larut
 Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat
unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian
untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
o Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari
stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
o Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat
reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

11
BAB 3

KASUS

BIODATA

Nama : Sdr. A

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 26 tahun

Status Perkawinan : Belum Kawin

Pekerjaan : Mahsiswa

Agam a : Islam

Pendidikan Terakhir : Sarjana

Alamat : Dsn. Baron RT/RW 2/2 Semen Pagu, Kediri

No. Register : 11460018

Tanggal MRS : 24/10/2019

Tanggal Pengkajian : 28/10/2019

Diagnosa Medis : B24

KESEHATAN KLIEN RIWAYAT


1. Keluhan Utama / Alasan Masuk Rumah Sakit :
Mual
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RSUD DR. Saiful Anwar tanggal 24 Oktober 2019 dengan rujukan
dari RS Baptis Kediri untuk perawatan dan pengobatan HIV di RSUD Dr. Saiful Anwar
Malang pasien mengeluh Mual (+) Muntah (+) Sariawan (+) Demam ± I bulan serta diare ± I
bulan

3. Riwayat Kesehatan Yang Lalu :


Klien tidak pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Serta tidak ada penyakit DM,
Hipertensi, Stroke serta penyakit menular Tb.Paru
4. Riwayat Kesehatan Keluarga:
Keluarga Klien tidak ada riwayat penyakit yang sama seperti klien (B24), Hipertensi,
Stroke, DM serta penyakit menular yang lainnya (TB. Paru, Hepatiris).

12
POLA AKTIVITAS SEHARI-HARI
A. POLA TIDUR/ISTIRAHAT :
1. Waktu tidur :
SMRS: keluarga mengatakan klien tidur 5-6 jam perhari
MRS: keluarga mengatakan klien tidur 2-3 jam per hari
2. Waktu Bangun :
SMRS: keluarga mengatakan klien bangun tepat waktu
MRS: keluarga mengatakan klien sering terbangun saat tidur
3. Masalah tidur :
SMRS: keluarga mengatakan tidak mempunyai masalah tidur
MRS: keluarga mengatakan klien sulit tidur

B. POLA ELIMINASI :
1. BAB :
SMRS: keluarga mengatakan klien BAB diare >10x/24 jam
MRS: keluarga mengatakan BAB diare >10x/24 jam
2. BAK :
SMRS: keluarga mengatakan BAK 4-5x/24 jam
MRS: Keluarga mengatakan 2-3x/24 jam
3. Kesulitan BAB/BAK : Tidak Ada
4. Upaya/Cara mengatasi masalah tersebut : Tidak ada

C. POLA MAKAN DAN MINUM :


1. Jumlah dan jenis makanan :
SMRS : keluarga mengatakan makan 3x sehari, makanan yang diberikan nasi, lauk pauk,
sayur
MRS : klien mendapatkan diit dari ahli gizi MS 1 + TKTP porsi makan yang diberikan
dihabiskan 60%
2. Waktu Pemberian Makan :
SMRS : klien makan pada pagi: 08.00, siang: 14.00 dan sore: 18.00
MRS: Klien makan pada pagi: 06.00, siang: 11.00 dan sore: 17.00
3. Jumlah dan Jenis Cairan
SMRS: keluarga mengatakan klien minum 650 cc/24 jam, dan teh 200cc/24 jam
MRS: Cairan IUFD NaCl 0,9 % 1000 cc/24jam serta klien minum ± 650 cc/24 jam
4. Waktu Pemberian Cairan :
SMRS: keluarga mengatakan klien minum jika haus dan the di pagi hari
MRS: keluarga mengatakan klien ingin minum, cairan IUFD NaCl 0,9 % 20 Tpm
5. Pantangan : Tidak ada pantangan makanan, Klien alergi rebung
6. Masalah Makan dan Minum
a. Kesulitan mengunyah : tidak ada
b. Kesulitan menelan : tidak ada
c. Mual dan Muntah : keluarga mengatakan klien mual, muntah 1x
d. Tidak dapat makan sendiri : makan klien dibantu keluarga
7. Upaya mengatasi masalah : KIE makan sedikit tapi sering

D. KEBERSIHAN DIRI/PERSONAL HYGIENE :


1. Pemeliharaan Badan: Selama dirawat di Rumah Sakit klien tidak pernah mandi. Klien juga
jarang diseka oleh keluarga rambut tidak rapi tampak kucel, kulit kotor.

2. Pemeliharaan Gigi dan Mulut gigi klien tampak tidak ada, oral hygiene (-)

13
3. Pemeliharaan Kuku : kuku klien terlihat panjang dan kotor

E. POLA KEGIATAN/AKTIVITAS LAIN :


Kegiatan pasien dibantu sepenuhnya oleh keluarga seperti makan , memakai baju, perawatan diri, dan
bergerak (mobilisasi)

F. DATA PSIKOSOSIAL
a. Pola Komunikasi : pola komunikasi klien kurang, kontak mata (-)
b. Orang yang paling dekat dengan klien dekat dengan orang tua klien
c. Rekreasi
Hobby : keluarga mengtakan pasien suka membaca
Penggunaan waktu senggang : keluarga mengatakan klien menggunakan waktu senggang untuk
membaca
d. Dampak riwayat di Rumah Sakit : tidak ada
e. Hubungan dengan orang lain/Interaksi sosial : keluarga mengatakan sebelum MRS anaknya
pendiam jika di rumah
f. Keluarga yang dihubungi bila diperlukan : keluarga mengatakanjika ada apa-apa klien minta
bantuan orang tuannya
G. DATA SPIRITUAL
a. Ketaatan Beribadah : keluarga mengatakan klien taat beribadah
b. Keyakinan terhadap sehat/sakit: keluarga dan klien mengatakan sakit adalah cobaan dari Tuhan
YME
c. Keyakinan terhadap penyembuhan : keluarga dank klien mengatan tetap semangat dan sabar
mengahadapi penyakitnya kesembuhan ada pada diri klien

PEMERIKSAAN FISIK :

a. Kesan Umum / Keadaan Umum :


keadaan umum cukup, kesadaran composmentis GCS 4 5 6
b. Tanda-tanda Vital
Suhu Tubuh : 36,5 ºC Nadi : 86 kali/menit
Tekanan darah : 120/80 mmHg Respirasi : 20 kali / menit
Tinggi badan : 154 cm Berat Badan : 48 kg
A. Pemeriksaan Kepala dan Leher :
1. Kepala dan rambut
a. Bentuk Kepala : Bulat
Ubun-ubun : menutup sempurna
Kulit kepala : kotor
b. Rambut : pendek, lurus
Penyebaran dan keadaan rambut : tidak merata
Bau : berbau
Warna : hitam
c. Wajah : bulat
Warna kulit : putih
Struktur Wajah : simetris
2. Mata

a. Kelengkapan dan Kesimetrisan : Letaknya simetris, lengkap ka | ki, pandangan kabur


14
b. Kelopak Mata (Palpebra) : Tidak ada kelainan, edema - | -
c. Konjunctiva dan sclera : anemis, sclera tidak ikterik
d. Pupil : bulat, letak sentral, isokor
3. Hidung
a. Tulang Hidung dan Posisi Septum Nasi : Tidak ada fraktur, posisi septum nasi simetris
b. Lubang Hidung :Tampak adannya lubang hidung, tidak ada
perdarahan
c. Cuping Hidung : Tidak ada pernafasan cuping hidung
4. Telinga
a. Bentuk Telinga : simetris
b. Ukuran Telinga : tidak dikaji
c. Ketegangan telinga : tidak dikaji
d. Lubang Telinga : tampak adanya lubang kanan dan kiri, tidak ada
perdarahan
e. Ketajaman pendengaran : tidak ada masalah
5. Mulut dan Faring :
a. Keadaan Bibir : tampak kering, terdapat stomatitis
b. Keadaan Gusi dan Gigi : tidak terdapat lesi pada gusi, gigi tanggal
c. Keadaan Lidah : tampak kotor, terdapat stomatitis
6. Leher :
a. Posisi Trakhea : normal
b. Tiroid : tidak tampak adanya pembesaran kelenjar tiroid
c. Suara : normal
d. Kelenjar Lymphe : tidak ada pembesaran kelenjar lymphe
e. Vena Jugularis : tidak ada pembesaran vena jugularis
f. Denyut Nadi Carotisaaa : Teraba
B. Pemeriksaan Integumen ( Kulit ) :
a. Kebersihan : kotor

b. Kehangatan : hangat

c. Warna : Sawo matang

d. Turgor : <2’

e. Tekstur : elastis

f. Kelembapan : kulit tampak kering

g. Kelainan pada kulit : tidak ada kelainan pada kulit

C. Pemeriksaan Payudara dan Ketiak : Tidak dikaji


D. Pemeriksaan Thorak / Dada :
1. Inspeksi Thorak
a. Bentuk Thorak : simetris kanan kiri
b. Pernafasan
Frekuensi : 20 x/ menit

Irama : regular

c. Tanda-tanda kesulitan bernafas : tidak ada retraksi dinding dada


15
2. Pemeriksaan Paru
a. Palpasi getaran suara ( vokal Fremitus ): teraba sama ka | ki
b. Perkusi : Sonor
c. Auskultasi
Suara nafas : Vesikuller
Suara Tambahan : Rhonci - - Whezing - -
- - - -

- -

3. Pemeriksaan Jantung
a. Inspeksi dan palpasi
Pulpasi : tidak teraba
Ictus Cordis : tidak terlihat

b. Perkusi :
Batas-batas Jantung : batas jantung tidak melebar
c. Auskultasi
- Bunyi Jantung I :
- Bunyi Jantung II : bunyi jantung I dan II tunggal
- Bising/murmur : murmur (-), gallop (-)
- Frekuensi denyut jantung : 86 x/menit
E. Pemeriksaan Abdomen
a. Inspeksi

- Bentuk Abdomen : Cekung

- Benjolan/massa : tidak terdapat benjolan/ massa

b. Auskultasi
- Peristaltik Usus : BU (+) 11x/menit

- Bunyi jantung anak/BJA : tidak terdapat bunyi jantung anak


c. Palpasi

- Tanda nyeri tekan : tidak terdapan nyeri tekan

- Benjolan /massa : tidak terdapat benjolan/ massa

- Tanda-tanda Ascites : tidak terdapat tanda-tanda ascites

- Hepar : tidak terdapat nyeri tekan

- Lien : tidak terdapat nyeri tekan

- Titik Mc. Burne : tidak terdapat nyeri tekan

d. Pekusi
16
- Suara Abdomen : Bising Usus (+) 11x/menit

- Pemeriksaan Ascites : tidak terdapat tanda ascites

F. Pemeriksaan Kelamin dan Daerah Genetalia Sekitarnya :


1. Genetalia
a. Rambut pubis : tampak adanya rambut pubis
b. Meatus Urethra :
c. Kelainan-kelainan pada Genetalia Eksterna dan Daerah Inguinal : tidak ada kelaianan
2. Tidak terdapat kelainan genetalia
a. Lubang Anus : tampak adanya lubang anus
b. Kelainan-kelainan pada anus :
Tidak terdapat kelainan atresia ani

c. Perineum :
Tidak dikaji

G. Pemeriksaan Muskuloskeletal ( Ekstrimitas )


a) Kesimestrisan otot : + +

+ +

b) Pemeriksaan Oedema : Tidak ada pitting oedema

c) Kekuatan otot : 3-3-3 3-3-3

3-3-3 3-3-3

d) Kelainan-kelainan pada ekstremitas dan kuku :

tidak terdapat kelainan pada ekstermitas dan kuku

H. Pemeriksaan Neorologi
1. Tingkat kesadaran ( secara kwantitatif ) / GCS :

Kesadaran compos mentis, gcs 4 5 6

2. Tanda-tanda rangsangan Otak (Meningeal Sign) :

Tidak terdapat kaku kuduk, kerningn sign, dan brudzinski

3. Fungsi Motorik : 3 3

17
2 2

3. Fungsi Sensorik :
Fungsi saraf tidak ada masalah

5. Refleks :

a) Refleks Fisiologis : tidak ada masalah

a) Refleks Patologis : refleks babinzki (-)

a. Kondisi emosi/perasaan :
Keluarga mengatakan pasien gelisah

b. Orientasi :
-

c. Motifikasi (kemampuan) :
Keluarga pasien mengatakn pasien belum mampu menganmbil keputusan

d. Persepsi :
Keluarga optimis

PEMERIKSAAN PENUNJANG

A. Diagnosa Medis : B24

B. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang Medis :

1. Laboratorium : Pemeriksaan Imunoserologi, microorganism, darah lengkap, kimia lengkap


elektrolit serta kimia klinik faal hati

2. Rontgen : Thoraks AP: hasil: Bronchitis

3. USG :-

4. PENATALAKSANAAN DAN TERAPI

IUFD NaCl 0,9 %

IV.Omeprazole2x40mg
fluconazole 1x200 cc

PO. Cotrimaxazole 1x90 gr


18
Clindamycin 4x600 gr

Loporamide

Diit MS I+TKTP

ANALISA DATA

Hari/ Data Etiologi Masalah


Tgl/ Jam

19
Senin, DS : pasien mengatakan BAB Infeksi saluran cerna Diare
28 Cair
Oktober
DO:
2019 Tubuh berusaha
 k/u Lemah mengeluarkan
 Kes. Composmentis
 Hasil TTV :
Peristaltik usus meningkat
TD: 120/80 mmHg

N : 86 x/menit
Absorsi air menurun
S : 36,5 C

RR : 20 x/menit
Feses Cair
 Defekasi 10x/24 ja,
 Feses Cair+berlendir
 Bising Usus hiperaktif
Frekuensi defekasi
 Hasil Pmeriksaan Lab. meningkat
Elektrolit:
a. Natrium (Na) 137
mmol/L Diare
b. Kalium (K) 3,80
mmol/L
c. Klorida (Cl) 115
mmol/L

20
DS : klien mengatakan mual Stomattis/sariawan Defisit Nutrisi
dan nafsu makan menurun

DO :
Nyeri saat makan dan
 k/u Lemah menelan
 Kes. Composmentis
 GCS 4,5,6
Intake makan kurang
 Ada penurunan Berat badan
1-5 kg
 Pengukuran antropometri
Absorpsi nutrisi berkurang
a. BB 48 kg
b. TB 155 cm
c. LLA 18 cm Serum albumin menurun
d. % LLA 58%
 Status Gizi Buruk
 Kebutuhan zat gizi Defisit Nutrisi
a. Energy : 1800 kkal
b. Protein: 55 gram
c. Lemak: 51 gram
d. Karbohidrat: 269 gram
 Diit yang diberikan MS I+
TKTP
 Rute pemberian per oral
 Porsi yang dihabiskan 60%
 Muntah 1x
 Sariawan
 Nyeri Telan
 Diare
 Hasil pemeriksaan lab.
Serum albumin:
a. Albumin: 2,94 g/dL

21
DS : klien mengatakan nyeri Nyeri Akut
telan
Agen pencedera fisiologis
P: stomatitis (inflamasi)

Q: seperti diiris-iris, perih

R: mulut dan tenggorokan Stomatitis

S: Skala nyeri 4

T: saat menelan Gangguan menelan

DO :

 K/u Lemah Nyeri Akut


 Kes. Composmentis
 Stomatiti (+)
 Tampak meringis
 Sulit tidur waktu tidur 2-3
jam/24 jam
 Nafsu makan menurun porsi
makan yang diberikan
dihabiskan 60%
 Hasil pengukuran TTV
TD: 120/80 mmHg

N : 86 x/menit

S : 36,5 C

RR : 30x/menit

22
Ds :- Penurunan imunitas tubuh

Do: Defisit perawatan diri

 k/u lemah Intake


 kes. Composmentis
 Klien bedrest
Metabolisme menurun
 ADL dibantu Keluarga
 Klien jarang diseka leh
keluarga
Produksi energy menurun
 Rambut kotor, kucel
terakhir keramas
sebelum masuk RS Kelemahan
 Kulit kotor
 Kelembapan kulit
kering Tidak mampu
 Bibir kering menyelesaikan aktivitas

 Baju tidak ganti perawatan diri

Defisit perawatan diri


DS : Klien mengatakan sulit Kegelisahan dan sering Gangguan Pola Tidur
tidur serta keluarga klien juga terbangun dimalam hari
mengatakan sering terbangun
dimalam haru
Metabolisme menurun
DO :

 k/u lemah
 kes. Composmentis Kelemahan

 klien bed rest


 klien lemas
Gangguan pola tidur
 konjungtiva anemis
 hasil pengukuran TTV
a. TD: 120/80 mmhg
b. N: 86 x/menit
c. S: 36,6 C
d. RR: 20 xmenit
23
DS : -

DO : Proses infeksi Isolasi Sosial

 k/u lemah
 kes. Composmentis
Penyakit menular
 ADL dibantu sepenuhnya
dengan keluarga
 Tidak berminat interaksi Menarik diri
dengan orang lain
 Efek datar
 Kontak mata tidak ada Isolasi Sosial

 Lesu, lemas

DIAGNOSA KEPERAWATAN

No Hari/Tanggal Diagnosa Keparawatan Tanda Tangan


1. Senin, 28 Oktober 2019 Diare berhubungan dengan proses infeksi Rin
ditandai dengan defekasi > 3 kali dalam 24
jam, feses cair
2. Senin, 28 Oktober 2019 Nyeri akut berhubungan dengan agen Rin
pencedara fisiologis (inflamasi) ditandai
dengan tampak meringi,nafsu makan berubah
3. Senin, 28 Oktober 2019 Defisit nutrisi berhubungan dengan Rin
ketidakmampuan menelan makanan ditandai
dengan berat badan turun 10% dibawah
rentang ideal, sariawan, serum albumin turun,
diare
4. Senin, 28 Oktober 2019 Gangguan pola tidur berhubungan dengan Rin
kurang control tidur ditandai dengan mengeluh
sulit tidur
5. Senin, 28 Oktober 2019 Defisit perawatan diri berhubungan dengan Rin
24
kelemahan ditandai dengan tidak mamou
mandi
6. Senin, 28 Oktober 2019 Isolasi Sosial berhubungan dengan Rin
ketidaksesuaian minat dengan tahap
perkembangan ditandai dengan menarik
diri,efek datar

25
DIAGNOSA
No. Hari/Tgl TUJUAN & KRITERIA HASIL INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. Diare berhubungan dengan Tujuan :Setelah dilakukan asuhan MANAJEMEN DIARE
proses infeksi ditandai dengan keperawatan 1x24 jam diharapkan eleminasi
Observasi
defekasi > 3 kali dalam 24 fekal membaik dengan
jam, feses cair 5. Identifikasi penyebab diare
Kriteria Hasil: 6. Idenfikasi riwayat pemberian makanan
7. Monitor warna, volume, frekuensi dan
 Konsistensi feses membaik konsistensi tinja
 Frekuensi defekasi mambaik 8. Mnitor tanda dan gejala hypovolemia
9. Monitor jumlah pengeluaran diare
Terapeutik

- Pasang jalur intravena


- Berikam cairan intravena
- Ambil sampel darah untuk pemeriksaa
darah lengkap dan elektrolit
Edukasi
- Anjurkan makan porsi kecil dan sering
dan secara bertahap
- Anjurkan menghindari makanan
pembentuk gas,pdas dan mengandung
laktosa
Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian obat

2. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan MANAJEMEN NYERI


dengan agen pencedara selama 1x24 jam diharapkan tingkat nyeri
fisiologis (inflamasi) ditandai
menurun dengan ktiteria hasil Observasi
1. Keluhan nyeri menurun
dengan tampak meringi,nafsu
2. meringis menurun - Identifikasi lokasi, karakteristik,
makan berubah 3. kesulitan tidur menurun
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
nyeri
- Identifikasi skala nyeri
- Identifikasi respon nyeri non verbal
Terapeutik

- Berikan teknik non farmakologi untuk


mengurangi rasa nyeri
- Fasilitasi istirahat dan tidur

Edukasi

- Anjurkan memonitor nyeri secara


mandiri
- Ajarkan teknik non farmakologi untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian analgesic, jika
perlu

3. Defisit nutrisi berhubungan Tujuan : Setelah dilakukan asuhan


dengan ketidakmampuan keperawatan 1x24 jam diharapkan status
Observasi
menelan makanan ditandai nutrisi membaik dengan
dengan berat badan turun 10% - Identifikasi status nutrisi
Kriteria Hasil: - Identifikasi alergi dan intoleran
dibawah rentang ideal,  Porsi yang dihabiskan meningkat makanan
 Nafsu makan meningkat - Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis
sariawan, serum albumin
nutrisi
turun, diare
- Monitor asupan makan
- Monitor berat badan
Terapeutik
- Sajikan makanan secara menarik dn
suhu yang sesuai
- Berikan makanan tinggi kalori dan
tinggi protein
Edukasi

- Anjurkan posisi duduk, jka mampu


- Ajarkan diit yang diprogramkan
Kolabrasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrisi yang dibutuhkan
4. Gangguan pola tidur Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 MANAJEMEN
berhubungan dengan kurang jam diharapkan pola tidur membaik dengan
Observasi
control tidur ditandai dengan
Kriteria Hasil:
mengeluh sulit tidur - Identifikasi pola aktivitas dan tidur
- Identifikasi factor pengganggu tidur
 Keluhan suit tidur menurun - Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
 Keluhan pola tidur berubah Terapeutik
meningkat - Modifikasi lingkungan
- Lakukan procedure untuk
meningkatkan kenyamanan
- Sesuaikan jadwal pemberian obat
dan/atau tindakana untuk menunjang
siklus tidur
Edukasi
- Jelaskan pentingnya tidur cukup
selama sakit
Kolaborasi

-
5. Defisit perawatan diri Tujuan : Setelah dilakukan asuhan DUKUNGAN PERAWATAN DIRI
berhubungan dengan keperawatan 1x24 jam diharapkan perawatan
Observasi
kelemahan ditandai dengan diri meningkat dengan
tidak mamou mandi - Identifikasi kebiasaan aktivitas
Kriteria Hasil:
perawatan diri sesuai usia
- Monitor tingkat kemandirian
 Kemampuan mandi meningkat
- Identifikasi kebutuhan alat bantu
 Kemampuan mengenakan pakaian
kebersihan diri, berpakaian, berhias,
meningkat
 Kemampuan makan meningkat dan makan
 Kemampuan ke toilet (BAK/BAB) Terapeutik
meningkat
 Minat melakukan perawatan diri - Sediakan lingkungan yang terapeutik
meningkat (mis. suasana hangat, rileks, privasi)
- Sediakan keperluan pribadi (mis.
parfum, sikat gigi dan sabun mandi)
- Dampingi dalam melakukan perawatan
diri sampai mandiri
- Fasilitasi untuk menerima keadaan
ketergantungan
- Fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak
mampu melakukan perawatan diri
- Jadwalkan rutinitas perawatan diri
Edukasi

- Anjurkan melakukan perawatan diri


secara konsisten sesuai kemampuan

6. Isolasi Sosial berhubungan Tujuan : Setelah dilakukan asuhan


dengan ketidaksesuaian minat keperawatan 3x24 jam diharapkan
Observasi
dengan tahap perkembangan keterlibatan social meningkat dengan
ditandai dengan menarik - Identifikasi kemampuan melakukan
Kriteria Hasil:
diri,efek datar interaksi dengan orang lain
- Identifikasi hambatan, melakukan
 Perilaku menarik diri menurun
 Kontak mata meningkat interaks dengan orang lain terapeutik
 Verbalisasi isolasi menurun Terapeutik

- Motivasi meningkatkan keterlibatan


dalam suatu hubungan
- Motivasi berinteraksi di luar
lingkungan
- Berikan umpan balik positif dalam
perawatan diri
- Berikan umpan balik positif pada
setiap peningkatan kemampuan
Edukasi
- Anjurkan berinteraksi dengan orang
lain secara bertahap
- Anjurkan berbagi pengalaman dengan
orang lain
- Anjurkan meningkatkan kejujuran diri
dan menghormati hak orang lain
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Np.
Hari/Tgl Jam Implementasi Paraf Jam Evaluasi (SOAP) Paraf
Dx
Diare berhubungan dengan proses infeksi ditandai dengan defekasi > 3 kali dalam 24 jam, feses cair
Senin, 28 1 09.00 1. Mengidentifikasi penyebab diare Rin 11.00 S : Klien mengatakan BAB cair Rin
Oktober
Hasil : O:
2019
 Proses infeksi  k/u lemah, kes.CM, GCS 456
 lemas
2. Mengidentifikasi riwayat pemberian
 Mual (+)
makanan  Muntah (+) 1 kali
 Frekuensi 10x/24jam
Hasil:  Konsistensi cair
 Hasil pemeriksaan Darah lengkap
 Klien hanya makan, makanan dari RS Hemoglobin (HGB) 9,90 g/dL
Eritrosit (RBC) 4,33 106µL
3. Memonitor warna, volume, frekuensi dan
Hematokrit (WBC) 1,9 103µL
konsistensi tinja Trombosit (PLT) 82 103µL
 Hasil pemeriksaan Elektrolit serum
Hasil: Natrium (Na) 137 mmol/L
Kalium (K) 3,80 mmol/L
 Warna: kuning Klorida (Cl) 115 mmol/L

 Volume: ±100 cc
 Frekuensi: ± 10x/24 jam A : Masalah teratasi sebagian

 Konsistensi: cair, berlendir P : lanjutkan intervensi no 3, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11


4. Memonitor tanda dan gejala hypovolemia

Hasil:
 Dehidrasi (-)
 Lemas (+)
 Mual (+)
 Muntah (+) 1 kali
 Nadi 86 x/menit
 Mengantuk (-)
5. Memonitor jumlah pengeluaran diare

Hasil:

 10x/24 jam
6. Memasang jalur intravena
Hasil:

 Terpasang infus ditangan sebelah


kanan
7. Mengambil sampel darah untuk
pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit
Hasil:

 Darah lengkap
 Elektrolit Serum
8. Menganjurkan makan porsi kecil dan
sering pembentukan gas, pedas, dan
mengandung laktosa
9. Kolaborasi pemberian obat
 IV. Omeprazole 40 mg
 IV fluconazole 200 mg
 PO. Lopermide

Selasa, 29 09.00 1. Memonitor warna, volume, frekuensi, dan Rin 15.30 S : Pasien mengatakan masih BAB Cair Rin
Oktober konsistensi tinja
O:
2019
Hasil:
 Warna: kuning  k/u lemah, kes.CM, GCS 456
 Volume: ± 50 cc  lemas (+)
 Frekuensi: 6x/24 jam  BAB frekuensi 6x/24 jam
 Konsistensi: Cair  Konsistensi cair

2. Memonitor tanda dan gejala hipovolemi  Hasil pengukuran TTV


TD: 120/80 mmHg
Hasil :
N : 86 x/menit
 Lemas
 Mual S : 36,5 C

 Nadi 82 x/menit RR : 30x/menit


3. Memonitor jumlah pengeluaran diare

Hasil : A : Masalah teratasi sebagian

 6x/24 jam P : lanjutkan intervensi no 3, 4, 5, 9, 10

4. Terpasang jalur intravena


Hasil :
 Terpasang jalur intravena sebelah
kanann
5. Memberikan cairan intravena
Hasil :

 NaCl 0,9% 1500 cc24 jam


6. Menganjurkan makan porsi kecil tapi
sering
7. Menganjurkan menghindari makanan
pembentukan gas, pedas dan mengandung
laktosa
8. Kolaborasi pemberian onat
Hasil:

 PO Lapermide drop
Rabu, 30 21.00 1. Memonitor warna, volume, frekuensi, dan Rin 22.00 S : Pasien mengatakan BAB lembek Rin
Oktober konsistensi tinja
O:
2019
Hasil:
 Warna: kuning  k/u lemah, kes.CM, GCS 456
 Volume: ± 15 cc  BAB
Warna: kuning
 Frekuensi: 3x/24 jam
Volume: ± 15 cc
 Konsistensi: Lembek
Frekuensi: 3x/24 jam
2. Memonitor tanda dan gejala hipovelemi Konsistensi: Lembek

Hasil :
A : Masalah teratasi
 Nadi 82 x/menit
3. Memonitor jumlah pengeluaran diare P : Hentikan Intervensi

Hasil :

 3x/24 jam
4. Terpasang jalur intravena
Hasil :

 Terpasang jalur intravena sebelah


kanann
1. Memberikan cairan intravena
Hasil :

 NaCl 0,9% 1500 cc24 jam


2. Kolaborasi pemberian onat
Hasil:

 PO Lapermide drop
Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (inflamasi) ditandai dengan tampak meringis, nafsu makan berubah
Senin, 28 2 09.00 1. Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, 11.00 S: klien mengatakan nyeri telan
September durasi, frekuensi. Kualitas, intensitas nyeri
P: stomatitis
2019
Hasil:
Q: seperti diiris-iris, perih
P: Stomatitis
R: mulut dan tenggorokan
Q: Seperti diiris-iris, perih
S: Skala nyeri 4
R: mulut, tenggorokan T: saat menelan

S: Skala nyeri 4 O:

T: Saat menelan makanan  Stomatitis


 Nyeri skala 4
 Mulut kemerahan serta jamur putih-putih
di mulut
2. Mengidentifikasi skala nyeri
 Wajah meringis (+)
Hasil:  Hasil pengukuran TTV
TD: 120/80 mmHg
 Skala nyeri 4
3. Mengidentifikasi respon nyeri non verbal N : 86 x/menit

Hasil : S : 36,5 C

 Wajah meringis (+) RR : 30x/menit

4. Memberikan teknik non fsrmskologi untuk


A : masalah teratasi sebagian
mengurangi rasa nyeri
P : lanjutkan intervensi no 4,5,6,7,8
Hasil :

 Teknik Distraksi Relaksasi


5. Memfasilitasi istirahat dan tidur

Hasil:

 Membatasi pengunjung dengan jam


kunjung yang sudah ditentukan RS
6. Menganjurkan memonitor nyeri secara
mandiri

7. Mengajarkan teknik non farmakologi


untuk mengurangi rasa nyeri

8. Berkolaborasi pemberian analgesic,jika


perlu

Hasil:

Tidak diberikan analgesic namun pasien


diberikan obat untuk jamur stomatitisnya

PO nistatin drop

Selasa, 29 09.00 1. Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, 11.00 S: klien mengatakan nyeri telan
oktober durasi, frekuensi. Kualitas, intensitas nyeri
P: stomatitis
2019
Hasil:
Q: seperti diiris-iris, perih
P: Stomatitis
R: mulut dan tenggorokan
Q: Seperti diiris-iris, perih
S: Skala nyeri 2
R: mulut, tenggorokan
T: saat menelan
S: Skala nyeri 4
T: Saat menelan makanan O:

 Stomatitis
 Nyeri skala 42
2. Memberikan teknik non fsrmskologi  Mulut kemerahan serta jamur putih-putih
untuk mengurangi rasa nyeri di mulut
Hasil :  Wajah meringis (+)
 Hasil pengukuran TTV
 Teknik Distraksi Relaksasi
TD: 120/80 mmHg
3. Memfasilitasi istirahat dan tidur
Hasil: N : 86 x/menit

 Membatasi pengunjung dengan jam S : 36,5 C

kunjung yang sudah ditentukan RS RR : 30x/menit


4. Menganjurkan memonitor nyeri secara
A : masalah teratasi
mandiri
P : lanjutkan hentikan intervensi
5. Mengajarkan teknik non farmakologi
untuk mengurangi rasa nyeri

6. Berkolaborasi pemberian analgesic,jika


perlu

Hasil:

Tidak diberikan analgesic namun pasien


diberikan obat untuk jamur stomatitisnya

PO nistatin drop
Defisit Nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan ditandai dengan berat badan turun 10% dibawah
rentang ideal, sariawan, serum albumin turun, diare
Senin, 28 3 09.00 1. Mengidentifikasi status nutrisi 10.00 S : Klien mengatakan tidak nafsu makan
Oktober
Hasil: 0:
2019
 Status gizi: buruk  Diit yang diberikan MS I+ TKTP
2. Mengidentifikasi alegi dan intoleran  Rute pemberian per oral
makanan  Porsi yang dihabiskan 60%

Hasil:  Muntah 1x
 Sariawan
 Alergi rebung
 Nyeri Telan
3. Mengidentifikasi kebutuhan kalori dan
 Diare
jenis nutrisi
 Hasil pemeriksaan lab. Serum albumin:
Hasil: Albumin: 2,94 g/dL

 Energy: 1800 kkal


A : Masalah teratasi sebagian
 Protein: 55 gram
 Lemak: 51 gram P : Lanjutkan intervensi no 3,4,5,6,7,8
 Karbohidrat: 269 gram
 Diit yang diberikan MS I+TKTP
4. memonitor asupan makanan yang
diberikan

Hasil:

 Makanan yang diberikan dihabiskan


60 %
5. Memonitor berat badan

Hasil:

 BB 48 kg
 Ada penurunan BB 1-5 kg
6. Menyajikan makanan secara menarik

7. Mengajarkan diet yang diprogramkan

8. berkolaborasi dengan ahli gizi untuk


menentukan jumalah kalori dan jenis nutrisi
yang dibutuhkan

Selasa, 29 3 09.00 1. Mengidentifikasi kebutuhan kalori dan S : Keluarga mengatakan klien nafsu makannya
Oktober jenis nutrisi meningkat dari sebelumnya
2019
Hasil: 0:

 Energy: 1800 kkal  Sensasi kulit


 Protein: 55 gram  Diit yang diberikan MS I+ TKTP
 Lemak: 51 gram  Rute pemberian per oral
 Karbohidrat: 269 gram  Porsi yang dihabiskan 80%
 Diit yang diberikan MS I+TKTP  Mual (-)
 Muntah (-)
 Sariawan
2. Memonitor asupan makanan yang
diberikan  Nyeri Telan
Hasil:  Diare

 Makanan yang diberikan dihabiskan A : Masalah teratasi sebagian


80 %
3. Memonitor berat badan P : Lanjutkan intervensi no 3,4,5,6,7,8

Hasil:

 BB 48 kg
 Ada penurunan BB 1-5 kg
4. Menyajikan makanan secara menarik

5. Mengajarkan diet yang diprogramkan

6. berkolaborasi dengan ahli gizi untuk


menentukan jumalah kalori dan jenis nutrisi
yang dibutuhkan

Rabu, 30 3 09.00 1. Mengidentifikasi kebutuhan kalori dan S : Keluarga mengatakan klien nafsu makannya
Oktober jenis nutrisi meningkat dari sebelumnya
2019
Hasil: 0:

 Energy: 1800 kkal  Sensasi kulit


 Protein: 55 gram  Diit yang diberikan MS I+ TKTP
 Lemak: 51 gram  Rute pemberian per oral
 Karbohidrat: 269 gram  Porsi yang dihabiskan 80%
 Diit yang diberikan MS I+TKTP  Mual (-)
 Muntah (-)
 Sariawan
2. Memonitor asupan makanan yang
diberikan  Nyeri Telan
 Diare
Hasil:
A : Masalah teratasi sebagian
 Makanan yang diberikan dihabiskan
80 % P : Lanjutkan intervensi no 3,4,5,6,7,8
3. Memonitor berat badan

Hasil:

 BB 48 kg
 Ada penurunan BB 1-5 kg
4. Menyajikan makanan secara menarik

5. Mengajarkan diet yang diprogramkan

6. berkolaborasi dengan ahli gizi untuk


menentukan jumalah kalori dan jenis nutrisi
yang dibutuhkan
Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan tidak mampu mandi
Senin, 28 4 09.00 1. Mengidentifikasi kebiasaan aktivitas 10.00 S:
Oktober perawatan diri
O:
2019
Hasil :  k/u lemah
 kes. Composmentis
 SMRS klien mandi 2x sehari
 Klien bedrest
 MRS klien tidak mandi dan jarang di
 ADL dibantu Keluarga
seka oleh keluarga
2. Memonitor tingkat kemandirian klien  Rambut kotor, kucel
 Kulit kotor
Hasil :
 Kelembapan kulit kering
 ADL klien dibantu penuh oleh  Bibir kering
keluarga, klien bed rest  Baju tidak ganti
3. Menyediakanlingkungan yang terapeutik A: masalah teratasi sebagian

Hasil : P : lanjutkan intervensi no 1-6

 Privasi tetap terjaga memasang


korden diruangan klien setiap akan
melakukan tindakan
 Suasana rileks (membatasi
pengunjung, pengunjug datang saat
jam kunjung yang sudah ditentukan
rumah sakit
4. Menyiapkan keperluan pribadi klien

Hasil :

 Keluarga klien sudah menyiapkan


keperluan pribadi kliean
5. Menjadwalkan rutinitas perawatan diri

Hasiil:

 Setiap pagi dan sore, serta sudah


disiapkan air hangat oleh ruangan
untuk menyeka klien
6.Menganjurkan melakukan perawatan diri
secara konsisten sesuai kemampuan

Hasil:

 ADL klien dibantu oleh keluarga


 mengKIE keluarga untuk melakukan
personal hygiene secara rutin

selasa, 29 09.00 1. Memonitor tingkat kemandirian klien 11.00 S:


Oktober
Hasil : O:
2019
 ADL klien dibantu penuh oleh
keluarga, klien bed rest
 k/u lemah
2. Menyediakanlingkungan yang terapeutik
 kes. Composmentis
Hasil :  Klien bedrest

 Privasi tetap terjaga memasang  ADL dibantu Keluarga

korden diruangan klien setiap akan  Rambut kotor, rapi

melakukan tindakan  Kelembapan kulit kering


 Suasana rileks (membatasi  Bibir kering
pengunjung, pengunjug datang saat  Baju klien ganti
jam kunjung yang sudah ditentukan  Keluarga menyeka klien setiap pagi dan

rumah sakit sore

3. Menyiapkan keperluan pribadi klien A: masalah teratasi sebagian

Hasil : P : lanjutkan intervensi no 2-6

 Keluarga klien sudah menyiapkan


keperluan pribadi kliean
4. Menjadwalkan rutinitas perawatan diri
Hasiil:

 Setiap pagi dan sore, serta sudah


disiapkan air hangat oleh ruangan
untuk menyeka klien
5. Menganjurkan melakukan perawatan diri
secara konsisten sesuai kemampuan
Hasil:

 keluarga sudah melakukan setiap


pagi dan sore

Rabu, 30 09.00 1. Memonitor tingkat kemandirian klien 11.00 S:


oktober
Hasil : O:
2019
 ADL klien dibantu penuh oleh
keluarga, klien bed rest  k/u lemah
2. Menyediakanlingkungan yang terapeutik  kes. Composmentis

Hasil :  Klien bedrest


 ADL dibantu Keluarga
 Privasi tetap terjaga memasang
 Rambut kotor, rapi
korden diruangan klien setiap akan
 Kelembapan kulit kering
melakukan tindakan
 Bibir kering
 Suasana rileks (membatasi
 Baju klien ganti
pengunjung, pengunjug datang saat
 Keluarga menyeka klien setiap pagi dan
jam kunjung yang sudah ditentukan
sore
rumah sakit
A: masalah teratasi sebagian
3. Menyiapkan keperluan pribadi klien
Hasil : P : lanjutkan intervensi no 2-6

 Keluarga klien sudah menyiapkan


keperluan pribadi kliean
4. Menjadwalkan rutinitas perawatan diri
Hasiil:

 Setiap pagi dan sore, serta sudah


disiapkan air hangat oleh ruangan
untuk menyeka klien
5. Menganjurkan melakukan perawatan diri
secara konsisten sesuai kemampuan
Hasil:
 keluarga sudah melakukan setiap
pagi dan sore

Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurang control tidur ditandai dengan mengeluh sulit tidur
Senin, 28 5 09.00 1. Mengidentifikasi pola aktivitas dan tidur Rin 11.00 S: Klien mengatakan sulit tidur Rin
Oktober
Hasil: O:
2019
 Klien bed rest  k/u lemah
 Siang hariklien tidak pernah tidur  kes. Composmentis
 Malam hari klien mengatakan sulit  klien bed rest
tidur sering terbangun  jam tidur 2-3 jam
2. mengidentifikasi factor yang mengganggu  klien lemas
tidur  konjungtiva anemis

Hasil:  hasil pengukuran TTV


TD: 120/80 mmhg
 Tidak ada
3. Mengidentifikasi obat tiduryan N: 86 x/menit

dikonsumsi S: 36,6 C
Hasil:
RR: 20 xmenit
 Klien tidak mengkonsumsi obat tidur
A: Masalah belum teratasi
4. Memodifikasi lingkunga
Hasil: P: Lanjutkan Intervensi 1-7

 Klien merasa nyaman jika lampu


dimatikan
5. Melakukan prosedur untuk meningkatkan
kenyamanan
Hasil:

 Memberikan posisi semi fowler


6. Menyesuaikan jadal pemberian obat
dan/atau tindakan menunjang siklus tidur
7. Menjelaskan pentingnya tidur cukup
selama sakit
Selasa, 29 5 09.00 1. Mengidentifikasi pola aktivitas dan tidur S: Klien mengatakan sulit tidur
Oktober
Hasil: O:
2019
 Klien bed rest  k/u lemah
 Siang hariklien tidak pernah tidur  kes. Composmentis
 Malam hari klien mengatakan sulit  klien bed rest
tidur sering terbangun  jam tidur 4-5 jam
 Jam tidur malam hari meningkat 4-5  klien lemas
jam  konjungtiva anemis
2. mengidentifikasi factor yang mengganggu  hasil pengukuran TTV
tidur TD: 110/70 mmhg

Hasil: N: 80 x/menit

 Tidak ada S: 36,3 C


3. Mengidentifikasi obat tiduryan
dikonsumsi RR: 20 xmenit
Hasil:
A: Masalah teratasi sebagian
 Klien tidak mengkonsumsi obat tidur
P: Lanjutkan Intervensi 1-7
4. Memodifikasi lingkunga
Hasil:

 Klien merasa nyaman jika lampu


dimatikan
5. Melakukan prosedur untuk meningkatkan
kenyamanan
Hasil:

 Memberikan posisi semi fowler


6. Menyesuaikan jadal pemberian obat
dan/atau tindakan menunjang siklus tidur
7. Menjelaskan pentingnya tidur cukup
selama sakit
Rabu, 30 5 09.00 1. Mengidentifikasi pola aktivitas dan tidur S: Klien mengatakan sulit tidur
Oktober
Hasil: O:
2019
 Klien bed rest  k/u lemah
 Siang hari klien tidak pernah tidur  kes. Composmentis
 Malam hari klien mengatakan sulit  klien bed rest
tidur sering terbangun  jam tidur 6 jam
 Jam tidur klien 6 jam  klien lemas
2. mengidentifikasi factor yang mengganggu  konjungtiva anemis
tidur  hasil pengukuran TTV

Hasil: TD: 110/90 mmhg

N: 84 x/menit
 Tidak ada
3. Mengidentifikasi obat tiduryan S: 36,9 C
dikonsumsi
RR: 20 xmenit
Hasil:
A: Masalah teratasi sebagian
 Klien tidak mengkonsumsi obat tidur
4. Memodifikasi lingkunga P: Lanjutkan Intervensi 1-7
Hasil:

 Klien merasa nyaman jika lampu


dimatikan
5. Melakukan prosedur untuk meningkatkan
kenyamanan
Hasil:

 Memberikan posisi semi fowler


6. Menyesuaikan jadal pemberian obat
dan/atau tindakan menunjang siklus tidur
7. Menjelaskan pentingnya tidur cukup
selama sakit
Isolasi Sosial berhubungan dengan ketidaksesuaian minat dengan tahap perkembangan ditandai dengan menarik diri,efek datar
Senin, 28 6 09.00 1. Mengidentifikasi kemempuan melakukan S: -
Oktober interaksi dengan orang lain O:
2019
Hasil:  k/u lemah
 kes. Composmentis
 Susah diajak interaksi
 Tidak Ada kontak mata  ADL dibantu sepenuhnya dengan keluarga
2. Mengidentifi
 Susah diajak interaksi
kasi hambatan, melakukan interaksi
 Tidak berminat interaksi dengan orang lain
dengan orang lain
 Tidak ada hambatan  Efek datar
3. Memotivasi  Kontak mata tidak ada
berinteraksi di luar lingkungan  Lesu, lemas
4. Memberikan
A : Masalah Belum Teratasi
umpan balik positif dalam perawatan diri
5. Memberikan P : Lanjutkan intervensi 1-8

umpan balik positif pada setiap


kemampuan
6. Menganjurk
an berinteraksi dengan orang lain secara
bertahap
7. Menganjurk
an berbagi pngalaman dengan orang lain
8. Menganjurk
an meningkatkan kejujuran diri dan
menghormati hak orang lain

Selasa, 29 6 09.00 1. Mengidentifikasi kemempuan melakukan rin 11.00 S: -


Oktober interaksi dengan orang lain
O:
2019 Hasil:  k/u lemah
 kes. Composmentis
 Mulai bisa interaksi
 Kontak mata kurang  ADL dibantu sepenuhnya dengan keluarga
2. Mengidentifikasi hambatan,
 Mulai bisa berinteraksi
melakukan interaksi dengan orang lain
 Tidak ada hambatan  Efek datar
3. Memotivasi berinteraksi di  Kontak mata kurang
luar lingkungan  Lesu, lemas
4. Memberikan umpan balik
A : Masalah Teratasi Sebagian
positif dalam perawatan diri
5. Memberikan umpan balik P : Lanjutkan intervensi 1,3,4,5,6,8
positif pada setiap kemampuan
6. Menganjurkan berinteraksi
dengan orang lain secara bertahap
7. Menganjurkan berbagi
pngalaman dengan orang lain
8. Menganjurkan meningkatkan
kejujuran diri dan menghormati hak
orang lain

Rabu, 30 6 09.00 1. Mengidentifikasi kemempuan melakukan S: -


Oktober interaksi dengan orang lain
O:
2019
Hasil:
 k/u lemah
 Sudah bisa diajak interaksi  kes. Composmentis
 Kontak mata ada
 ADL dibantu sepenuhnya dengan keluarga
2. Memberikan umpan balik positif dalam
perawatan diri  Sudah bisa diajak berinteraksi
3. Memberikan umpan balik positif pada
 Kontak mata ada
setiap kemampuan
4. Menganjurkan berinteraksi dengan orang  Lesu, lemas
lain secara bertahap A : Masalah Teratasi Sebagian
5. Menganjurkan meningkatkan kejujuran P : Lanjutkan intervensi 1,3,4,5,6,8
diri dan menghormati hak orang lain
BAB 4

RIVIEW JURNAL

PENGARUH TERAPI MUROTTAL TERHADAP PERUBAHAN QUALITY OF LIFE


PASIEN DENGAN HIV/AIDS DI PUSKESMAS JUMPANDANG BARU KOTA
MAKASSAR

The Effect Of Murottal Therapy On The Change Of Life Quality In Hiv/Aids Patients In
Jumpandang Baru Health Center Of Makassar City

Maria Ulfah Ashar1, Elly L. Sjattar2, Burhanuddin Bahar3

Abstrak

Spiritualitas memegang peranan penting dalam penanganan HIV/AIDS sehingga kebutuhan


spiritual pasien dinilai penting untuk diketahui. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh
terapi murottal terhadap perubahan quality of life pasien dengan HIV/AIDS di Puskesmas
Jumpandang Baru Kota Makassar. Desain yang digunakandalam penelitian ini adalah pre
experimental without control. Sampel penelitian sebanyak sebelas orang yang diperoleh melalui
tehnik sampling aksidental. Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji wilcoxon
untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa melalui uji wilcoxon diperoleh p=0,003 (p<0,05). Artinya, ada perbedaan
bermakna kualitas hidup pasien HIV/AIDS sebelum dan sesudah intervensi

Kata Kunci: Terapi Murottal, Quality of life, HIV/AIDS.

Analisis Jurnal

Population Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien dengan


HIV/AIDS yang menjalani perawatan di klinik VCT Puskesmas
Jumpandang Baru Kota Makassar yang berjumlah 275 orang.
Sampel adalah pasien dengan HIV/AIDS yang memenuhi kriteria
inklusi yaitu 11 orang.
Intervention Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pre eksperimental,
dengan pendekatan kuantitatif. Data primer diperoleh dengan cara
pengisian kuesioner dan wawancara. Analisa data dilakukan
dengan program SPSS 20 for Windows dan uji statistik dengan
menggunakan uji univariat dengan distribusi
frekuensi, uji bivariat dengan menggunakan uji wilcoxon.
Comparation Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pre eksperimental,
dengan pendekatan kuantitatif.
Outcome  Responden dalam penelitian ini mayoritas berumur 35 tahun
yang merupakan kategori dewasa awal yaitu sebesar 27,3%,
100% berjenis kelamin laki-laki, mayoritas responden memiliki
tingkat pendidikan menengah yaitu sebanyak 54,5%, sebagian
besar responden memiliki pekerjaan yaitu sebanyak 81,8%,
status pernikahan responden sebagian besar menikah yaitu
45,5%, lama terinfeksi responden masing-masing dari tahun
2006 sebanyak 36,4% dan dari tahun 2015 sebanyak 36,4%.
 Sebelum intervensi terapi murottal diberikan terdapat 3
responden yang memiliki quality of life dalam kategori kurang
baik, namun setelah intervensi diberikan semua responden
sudah memiliki quality of life dalam kategori baik. Jadi
terdapat peningkatan sebesar 27,3% quality of life responden
antara sebelum dan sesudah intervensi terapi murottal.
Kemudian responden yang paling tinggi peningkatan quality of
life-nya adalah responden 10 dengan peningkatan sebanyak 40
poin.
 Pada analisa bivariant menunjukkan nilai median, minimum
dan maksimum dari masing-masing kelompok data (pre test
dan pos ttest). Tampak bahwa median atau nilai tengah post
test adalah 127 di mana lebih besar dari pada nilai pre test yaitu
117. Besarnya perbedaan ini dibuktikan secara signifikan
dengan melihat uji Wilcoxon yakni nilai p=0,003 di mana
kurang dari batas kritis penelitian 0,05 (p<0,05) yang berarti
terdapat perbedaan bermakna quality of life pasien HIV/AIDS
sebelum dan sesudah intervensi.
 Terdapat perbedaan yang signifikan quality of life pasien
HIV/AIDS berdasarkan pengamatan sebelum dan sesudah
intervensi terapi murottal. Hal ini berarti ada pengaruh terapi
murottal terhadap perubahan quality of life pasien HIV/AIDS
di Puskesmas Jumpandang Baru Kota Makassar.
Time Tidak dicantumkan dengan jelas kapan penelitian ini dilakukan.