Anda di halaman 1dari 96

Penganggaran Perusahaan | i

DAFTAR ISI

BAB URAIAN HALAMAN

I MENGENAL KONSEP-KONSEP PENGANGGARAN PERUSAHAAN......... 1


1.1 Konsep-Konsep Penganggaran Perusahaan.....………………………….. 2
1.2 Alur Anggaran Parsial ke Anggaran Komprehensi.................................. 6
II. FORECAST DAN PERAMALAN PENJUALAN ........…..……...………......... 8
1.1 Konsep-Konsep Pokok Forecast dan Anggaran Penjualan...….…….….. 8
1.2 Ilustrasi Forecast dan Anggaran Penjualan ....……………….……........ 10
III ANGGARAN PRODUKSI………………………………………........……….. 25
1.1 Konsep-Konsep Pokok Anggaran Produksi………………………...….. 25
1.2 Ilustrasi Anggaran Produksi..................................……………………... 27
IV ANGGARAN BAHAN BAKU............…..………………………….…………. 31
1.1 Konsep-Konsep Anggaran Bahan Baku..................................................... 31
1.2 Ilustrasi Anggaran Bahan Baku.........…………………….…………….. 33
V ANGGARAN BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG...……………………. 38
1.1 Konsep-Konsep Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung................…… 38
1.2 Ilustrasi Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung................................. 40
VI ANGGARAN BIAYA OVERHEAD PABRIK …………………………...……. 46
1.1 Konsep-Konsep Anggaran Biaya Overhead Pabrik ................……..…… 46
1.2 Ilustrasi Anggaran Biaya Overhead Pabrik .......…………..………..….. 48
VII ANGGARAN PIUTANG……………………………………………………….. 55
1.1 Konsep-Konsep Anggaran Piutang...….………………………………… 55
1.2 Ilustrasi Anggaran Piutang...........................…………………….……… 56
VIII ANGGARAN UTANG........................………………………………………….. 61
1.1 Konsep-Konsep Anggaran Utang.........……………….…………...……. 61
1.2 Ilustrasi Anggaran Utang...................…………………………….……… 62
IX ANGGARAN KAS........………………………………………………………… 67
1.1 Konsep-Konsep Anggaran Kas..………………………………...………. 67
1.2 Ilustrasi Anggaran Kas..................................…………………………… 70
X LAPORAN ANGGARAN....……………………………………………….…… 77
1.1 Konsep-Konsep Laporan Anggaran…………………………………..…. 77
1.2 Ilustrasi Laporan Anggaran..………………………………………...…... 78
XI ANGGARAN STATIS DAN ANGGARAN FLEKSIBEL................................... 85
1.1 Konsep-Konsep Anggaran Statis dan Anggaran Fleksibel........................ 85
1.2 Ilustrasi Anggaran Statis dan Anggaran Fleksibel..................................... 88

Penganggaran Perusahaan ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya penulis
dapat menyelesaikan penulisan buku ajar. Buku ajar yang berjudul Penganggaran
Perusahaan ini merupakan hasil rangkuman konsep-konsep dasar dan aplikasinya dalam
soal-soal praktis yang penulis racik dari berbagai literatur yang terkait dengan bab ini.
Penulis menyadari bahwa buku ajar ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu
segala kritik dan saran dari berbagai pihak akan diterima dengan senang hati untuk
penyempurnaannya. Akhir kata, Penulis berharap semoga buku ajar ini bermanfaat bagi para
mahasiswa yang sedang mempelajari Penganggaran Perusahaan dan pembaca.

Denpasar, 1 Juli 2016

Penulis

Penganggaran Perusahaan iii


Kerangka Isi
Konsep-Konsep Penganggran dan Anggaran Perusahaan

Penganggran dan Anggaran Perusahaan

Anggaran Substantive Plan


komprehensif
Financial Plan

Anggaran Variabel Untuk


Berbagai Biaya/Pengeluaran

Data statistik pembantu

Laporan Internal

Inti pokok yang Terkandung dalam Anggaran Perusahaan

Persyaratan dalam Penyusunan Anggaran Perusahaan

Tujuan Penyusunan Anggaran Perusahaan

Manfaat Penyusunan Anggaran bagi Perusahaan

Alur Anggaran Parsial ke Anggaran Komprehensif


Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian penganggran dan anggaran perusahaan, anggaran
komprehensif, inti pokok yang terkandung dalam anggaran perusahaan, persyaratan dalam
penyusunan anggaran perusahaan, tujuan penyusunan anggaran perusahaan, manfaat
penyusunan anggaran bagi perusahaan, alur anggaran parsial ke anggaran komprehensif.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

Penganggaran Perusahaan | 1
1.1 Konsep-Konsep Penganggaran Perusahaan
1. Pengertian Penganggran dan Anggaran Perusahaan
Penganggaran perusahaan: merupakan suatu proses perencanaan dan pengendalian
kegiatan organisasi perusahaan yang dinyatakan dalam satuan kegiatan dan satuan uang,
yang bertujuan untuk memproyeksikan operasi perusahaan dalam proyeksi laporan
keuangan.
Penganggaran perusahaan (perencanaan dan pengendalian laba) tersebut
mencakup pengembangan dan aplikasi dari tujuan perusahaan, spesifikasi tujuan
perusahaan, pengembangan strategi perencanaan laba jangka panjang, strategi
perencanaan laba jangka pendek, pembuatan suatu pelaporan kinerja periodik dan
pengembangan prosedur tindak lanjut. Deskripsi dari perencanaan dan pengendalian
operasi perusahaan tersebut diwujudkan dalam suatu bentuk / format laporan yang
dikenal dengan: ANGGARAN
Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun secara sistematis dalam
bentuk angka dan dinyatakan dalam unit moneter yang meliputi seluruh kegiatan
perusahaan untuk jangka waktu (periode) tertentu di masa yang akan datang. Oleh karena
rencana yang disusun dinyatakan dalam bentuk unit moneter, maka anggaran sering kali
disebut juga dengan rencana keuangan. Dalam anggaran, satuan kegiatan dan satuan uang
menempati posisi penting dalam arti segala kegiatan akan dikuantifikasikan dalam satuan
uang, sehingga dapat diukur pencapaian efisiensi dan efektivitas dari kegiatan yang
dilakukan.
Anggaran perusahaan: merupakan rencana tentang kegiatan perusahaan,
dimana rencana tersebut mencakup berbagai kegiatan operasional yang saling berkaitan
dan saling mempengaruhi satu sama lain.
2. Anggaran Komprehensif
a. Substantive Plan:
 Tujuan umum perusahaan.
 Tujuan khusus perusahaan.
 Strategi-strategi perusahaan.
 Penentuan berbagai asumsi dasar yang akan dipakai perusahaan seterusnya.

Penganggaran Perusahaan 2
b. Financial Plan:
1) Anggaran Jangka Panjang:
a) Penjualan, Biaya dan Laba
b) Penentuan Besarnya Modal
c) Penentuan tambahan Modal
d) Perkiraan arus dana
e) Perkiraan Kebutuhan tenaga kerja
2) Anggaran Tahunan:
a). Anggaran Operasional:
 Anggaran proyeksi laba/rugi
 Anggaran pembantu laporan laba-rugi:
 Anggaran Penjualan
 Anggaran Produksi
 Anggaran Biaya Distribusi
 Anggaran Biaya Adm. & Umum
 Anggaran tipe appropriasi: Anggaran iklan dan promosi, anggaran
penelitian, anggaran pemeliharaan dan lain-lain
b) Anggaran Finansial:
 Anggaran neraca
 Anggaran pembantu neraca:
 Anggaran kas
 Anggaran piutang
 Anggaran persediaan
 Anggaran hutang
 Anggaran penambahan modal
 Anggaran penyusutan aktiva tetap
 Anggaran biaya finansial.
c. Anggaran Variabel Untuk Berbagai Biaya/Pengeluaran
d. Data statistik pembantu: analisis break even atau analisis Cost Profit Volume,
berbagai standar biaya.
e. Laporan Internal:
1) Laporan dengan statistik

Penganggaran Perusahaan 3
2) Laporan-laporan khusus
3) Laporan Rekaman hasil realisasi anggaran
3. Inti pokok yang Terkandung dalam Anggaran Perusahaan
Inti pokok yang terkandung dalam anggaran perusahaan adalah:
a. Anggaran perusahaan harus bersifat formal yang berarti bahwa anggaran
perusahaan disusun dengan sengaja dan bersungguh-sungguh secara tertulis.
b. Anggaran perusahaan bersifat sistematis, dalam arti bahwa penyusunan itu secara
berurutan, dan atas dasar suatu logika.
c. Anggaran perusahaan merupakan suatu hasil pengambilan keputusan atas dasar
beberapa asumsi tertentu.
d. Pengambilan keputusan oleh manajer tersebut merupakan pelaksanaan fungsi
manajer dari segi perencanaan, koordinasi, dan pengendalian.
4. Persyaratan dalam Penyusunan Anggaran Perusahaan
Adapun persyaratan dalam penyusunan anggaran perusahaan:
a. Anggaran perusahaan harus bersifat realistis, dalam arti bahwa anggaran
perusahaan itu tidak terlalu optimis dan tidak pula terlalu pesimis.
b. Anggaran perusahaan harus bersifat luwes, yang berarti bahwa anggaran
perusahaan tidak kaku sehingga berpeluang untuk disesuaikan dengan keadaan
yang mungkin berubah.
c. Anggaran perusahaan harus bersifat kontinyu, dalam arti bahwa anggaran
perusahaan memerlukan perhatian secara terus menerus dan bukan merupakan
suatu usaha yang bersifat insidental.
d. Dengan dibuatnya anggaran perusahaan akan mampu:
 Mengendalikan berbagai relevan variabel dalam mencapai tujuannya
 Melaksanakan sistem manajemen ilmiah
 Berkomunikasi secara efektif
 Memberikan motivasi kepada para anggota
 Mendorong terciptanya partisipasi.
5. Tujuan Penyusunan Anggaran Perusahaan.
a. Tujuan secara umum:
 Perusahaan menghendaki berperan sebagai lembaga yang bergerak di bidang
ekonomi

Penganggaran Perusahaan 4
 Perusahaan menghendaki dapat survival, dan untuk itu sebagai persyaratannya
perusahaan harus mencari keuntungan.
 Perusahaan menghendaki produk yang dihasilkan dapat memuaskan konsumen
 Perusahaan menghendaki produk yang dihasilkan dapat memuaskan konsumen
 Menjalin hubungan sebaik mungkin dengan para investor agar tetap sedia
memberikan modal yang diperlukan perusahaan
b. Tujuan khusus:
 Penentuan jenis produk yang dihasilkan
 Penentuan jumlah produk yang akan dihasilkan
 Penentuan luas daerah pemasaran yang ingin dicapai
 Penentuan market share yang ingin dimiliki
 Penentuan dana yang dibutuhkan
 Penentuan return on investment.
6. Manfaat Penyusunan Anggaran bagi Perusahaan.
a. Di bidang Planning:
 Membantu manajemen meneliti dan mempelajari segala masalah yang berkaitan
dengan aktivitas yang akan dilaksanakan
 Membantu menyerahkan seluruh tenaga yang ada di perusahaan dalam
menentukan arah atau aktivitas yang paling menguntungkan.
 Membantu atau menunjang kebijaksanaan perusahaan.
 Membantu manajemen memilih tujuan perusahaan.
 Membantu menstabilkan kesempatan kerja yang tersedia
 Membantu pemakaian alat-alat fisik secara lebih efektif.
b. Di bidang Coordinating:
 Membantu mengkoordinir faktor manusia dengan perusahaan.
 Membantu menilai kesesuaian antara rencana aktivitas perusahaan, dengan
keadaan dunia usaha yang dihadapi.
 Membantu menempatkan pemakaian modal pada saluran-saluran yang
menguntungkan sesuai dan seimbang dengan program perusahaan.
 Membantu mengetahui kelemahan dalam organisasi.
c. Di bidang Controlling:
 Membantu mengawasi kegiatan dan pengeluaran

Penganggaran Perusahaan 5
 Membantu mencegah pemborosan.

1.2 Alur Anggaran Parsial ke Anggaran Komprehensif


POS-POS LABA RUGI:

ANGGARAN ANGGARAN
PARSIAL KOMPREHENSIF

 ANGG. PENJUALAN
ANGGARAN LABA RUGI
 ANGG.PRODUKSI PERIODE 1 JAN – 31 DES. ....
 ANGG. BAHAN BAKU
 ANGG. TKL PENJUALAN ...................................................... XXX
HPP. ...................................................................... ( XX )
 ANGG. BOP
 ANGG. BEBAN Laba Kotor ........................................................... XXX
OPERASIONAL Beban Operasional ............................................... xxx
 ANGG. BEBAN
LAINNYA
Laba usaha ........................................................... XXX

Beban Dan Pendapatan Non Op.


Beban Non Operasional .........................(xxx)
Pendapatan Non Opreasional............... XXX
xxx
Laba Bersih Sebelum Pajak
XXXX
POS-POS NERACA:

ANGGARAN ANGGARAN
PARSIAL KOMPREHENSIF

 ANGG. KAS ANGGARAN NERACA


PER 31 DESEMBER ...
 ANGG.PIUTANG
AKTIVA: PASSIVA
 ANGG. HUTANG Harta Lancar : Hutang J.Pndek:
Kas xx Hutang Pajak xxx
 ANGG. AKTIVA Piutang xx Hutang usaha xxx
Persediaan xx ....................... xxx
TETAP ....................... xx H Jangka Panjang:
H. Tdk Lancar Hutang Hip. xxx
 ANGG. LAINNYA Tanah xx Hutang Bank xxx
Bangunan xx
Akum. Peny. xx Modal
Lainnya xx Modal Pemilik xxx
Penganggaran Perusahaan 6
Total Harta xxxx Total Hut+Modal xxxx
Rangkuman
Penganggaran perusahaan (perencanaan dan pengendalian laba) tersebut
mencakup pengembangan dan aplikasi dari tujuan perusahaan, spesifikasi tujuan
perusahaan, pengembangan strategi perencanaan laba jangka panjang, strategi
perencanaan laba jangka pendek, pembuatan suatu pelaporan kinerja periodik dan
pengembangan prosedur tindak lanjut. Deskripsi dari perencanaan dan pengendalian
operasi perusahaan tersebut diwujudkan dalam suatu bentuk/format laporan yang dikenal
dengan: ANGGARAN
Penyusunan anggaran perusahaan dilakukannya dengan dua cara yakni: secara
sebagian demi sebagian (partial) dan secara keseluruhan (comprehensive), atau disebut
comprehensive budget. Comprehensive budget (anggaran komprehensif), yakni:
penyusunan rencana perusahaan secara kesluruhan aktivitas perusahaan.

Uji Kompetensi
1. Jelaskan perbedaan penganggaran perusahaan dengan anggaran perusahaan !
2. Penyusunan anggaran perusahaan dilakukan dengan dua cara, yaitu: partial budget dan
Comprehensive budget, jelaskan partial budget dan Comprehensive budget tersebut !
3. Apa manfaat anggaran bagi perusahaan jelaskan!
4. Sebutkan dan jelaskan persyaratan dalam penyusunan anggaran perusahaan!

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.
Penganggaran Perusahaan 7
Kerangka Isi
Forecast dan Peramalan Penjualan

Pengertian Forecast Penjualan

Metode Forecast Penjualan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi


Pemilihan Forecast Penjualan

Tujuan Penyusunan Anggaran Penjualan


Perusahaan
Ilustrasi Forecast dan Peramalan Penjualan

Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian forecast penjualan, metode forecast penjualan,
faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan forecast penjualan, tujuan penyusunan
anggaran penjualan, ilustrasi forecast dan peramalan penjualan.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

1.1. Konsep-Konsep Pokok Forecast dan Anggaran Penjualan

1. Pengertian Forecast Penjualan


Forecast Penjualan adalah suatu teknik proyeksi tentang tingkat permintaan konsumen
potensial pada suatu periode tertentu dengan mempergunakan berbagai asumsi tertentu,
yaitu segala sesuatunya berjalan sebagaimana yang lalu.

Penganggaran Perusahaan 8
2. Metode Forecast Penjualan
Beberapa metode forecast penjualan:
 Judgement Method atau non statistical method, yaitu metode forecast penjualan
yang didasarkan atas pendapat salesman, sales manager, para ahli dan survey
konsumen.
 Statistical method, meliputi: Analisis trend, yang terdiri dari; Penerapan garis
trend secara bebas, penerapan garis trend dengan metode setengah rata-rata,
penerapan garis trend secara matematis yang terbagi menjadi: metode moment,
metode kuadrat terkecil dan analisis korelasi.
 Specific purpose method, meliputi: analisis industri, analisis product line dan
analisis penggunaan akhir.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Forecast Penjualan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan forecast penjualan adalah:
 Sifat produk
 Metode distribusi
 Luas Usaha
 Persaingan
 Data historis yang tersedia
Kelemaham mendasar forecast penjualan secara kuantitatif yang biasanya
mempergunakan metode statistik dan matematik, terletak pada ketidak mampuannya
mengkuantifisir data tertentu seperti perkembangan produk, struktur masyarakat, prilaku
selera konsumen, dan lain-lain, sedangkan kelemahan forecast penjualan atas dasar
pertimbangan saja, terletak pada pertimbangannya terlalu subyektif.
Jenis anggaran yang harus disusun terlebih dahulu sebelum menyusun jenis anggaran
lainnya adalah anggaran penjualan. Oleh karena anggaran penjualan merupakan jenis
anggaran yang dijadikan dasar dilakukannya berbagai aktivitas lainnya.
4. Tujuan Penyusunan Anggaran Penjualan
Tujuan penyusunan anggaran penjualan adalah: untuk merencanakan setepat
mungkin tingkat penjualan pada periode yang akan datang dengan memperhatikan data
yang merupakan pencerminan kejadian yang dialami perusahaan dimasa lalu, khususnya
dibidang penjualan.

Penganggaran Perusahaan 9
1.2 Ilustrasi Forecast dan Anggaran Penjualan
1. Toko “Harum” menyajikan data penjualan gula pasir setiap tahunnya dalam satuan ton
sebagai berikut:
TAHUN PENJUALAN TAHUN PENJUALAN
1992 60 1998 130
1993 75 1999 130
1994 90 2000 140
1995 100 2001 150
1996 120 2002 180
1997 125 2003 200

Dengan teknik forecast metode Semi Average (setengah rata-rata), tentukan besarnya
penjualan gula pasir tahun 2004.
JAWAB:

TEKNIK FORECASTING METODE SEMI AVERAGE


Dalam Kasus Jumlah Data Genap Dan
Komponen Kelompok Genap
Tahun Penjualan Nilai Semi Semi Nilai
(ton) X Total Average Trend
1992 60 -3 65
1993 75 -2 75
1994 90 -1 570 95 85
1995 100 0 95
1996 120 1 105
1997 125 2 115
1998 130 3 125
1999 130 4 135
2000 140 5 930 155 145
2001 150 6 155
2002 180 7 165
2003 200 8 175

Nilai persamaan garis trend:

Dimana:

Y = nilai trend periode tertentu (dalam soal ini 2004).

Penganggaran Perusahaan 10
a = nilai trend periode dasar (dalam soal ini 95).

b = pertambahan trend tahunan secara rata-rata yang dihitung dengan rumus :

 2  1

1 = rata-rata kelompok I = a = 95.

2 = rata-rata kelompok II = 155.

N = jumlah periode antara periode  2 dan periode 1 , yakni 1 Januari 1995 sampai

dengan 1 Januari 2001 = 6 tahun. Jadi, b = (155 – 95) : 6 = 10.

X = Jumlah satuan tahun yang dihitung dari periode dasar, yakni 1 Januari 1995

sampai dengan 1 Januari 2004 sama dengan 9 tahun.

Sehingga nilai persamaan garis trend nya adalah:

Y = 95 + 10 X
Jadi nilai trend penjualan gula pasir tahun 2004 adalah:

1984 = 95 + 10 (9)

= 95 + 90

= 185 ton

2. Dibawah disajikan data penjualan kopi selama periode 1998 s.d 2007 dalam satuan ton
dari Toko “BUANA”:
TAHUN PENJUALAN TAHUN PENJUALAN

1998 198.600 2003 236.300


1999 207.500 2004 246.500
2000 222.700 2005 248.700
2001 238.200 2006 244.100
2002 238.700 2007 220.400

Penganggaran Perusahaan 11
Berdasarkan data tersebut, taksirlah jumlah penjualan kopi tahun 2008 dengan teknik
forecasting metode Semi average.
JAWAB :

TEKNIK FORECASTING METODE SEMI AVERAGE


Dalam Kasus jumlah Data Genap Dan
Komponen Kelompok Ganjil
Tahun Penjualan Nilai Semi Semi Nilai
(ton) X Total Average Trend

1998 198.600 -2,5 212.110


1999 207.500 -1,5 215.722
2000 222.700 -0,5 1.105.700 221.140 219.334
2001 238.200 0,5 222.946
2002 238.700 1,5 226.558
2003 236.300 2,5 230.170
2004 246.500 3,5 233.782
2005 248.700 4,5 1.196.000 239.200 237.394
2006 244.100 5,5 241.006
2007 220.400 6,5 244.618

Nilai Persamaan Garis trend:

Dimana :

Y = nilai trend periode tertentu (dalam soal ini 2008)

a = nilai trend periode dasar (dalam soal ini 221.140)

dihitung dengan rumus (  2 - 1 ) : N

1 = rata-rata kelompok I = a = 221.140

2 = rata-rata kelompok II = 239.200

Penganggaran Perusahaan 12
N = jumlah periode antara periode  2 dan periode 1 , yakni 1 Juli

2000 sampai dengan 1 Juli 2005 sama dengan 5 tahun. Jadi, b =

(239.200 - 221.140) : 5 = 3.612.

Sehingga nilai persamaan garis trendnya adalah:

Y = 221.140 + 3.612 X

Jadi nilai trend penjualan kopi tahun 2008 adalah:

1984 = 221.140 + 3.612 (7,5)


= 221.140 + 27.090
= 248.230 ton

3. Data penjualan Buku “XYZ” selama 8 tahun terakhir adalah sebagai berikut:

Tahun Penjualan Tahun Penjualan


(buah) (buah)
2000 35.000 2004 60.000
2001 45.000 2005 65.000
2002 50.000 2006 70.000
2003 60.000 2007 75.000

Dengan data diatas:


(1) Tentukan nilai persamaan garis trend dengan mempergunakan metode trend atas
dasar Least Square, (kuadrat terkecil).
(2) Tentukan ramalan penjualan untuk tahun 2007.

JAWAB:
Nilai persamaan garis trend adalah Y = a + b X.
Rumus Metode Least - Square:
a =    : 
b =    :   2 

Penganggaran Perusahaan 13
TEKNIK FORCASTING METODE LEAST SQUARE
Dalam Kasus Data Genap
Tahun Penjualan Nilai Nilai Nilai
(buah) X XY 2
2000 35.000 -7 -245.000 49
2001 45.000 -5 -225.000 25
2002 50.000 -3 -150.000 9
2003 60.000 -1 60.000 1
2004 60.000 1 60.000 1
2005 65.000 3 195.000 9
2006 70.000 5 350.000 25
2007 75.000 7 525.000 49
Total 460.000 0 450.000 168

a = 460.000 : 8 = 57.500
b = 450.000 : 168 = 2.678,571428

(1) Jadi nilai persamaan garis trend nya adalah:


Y = 57.000 + 2.678,571428 X
(2) Jadi ramalan penjualan tahun 2007 adalah:

Y2007 = 57.500 + 2.678,571428 (7)


= 57.500 + 18.750
= 76.250 buah
4. Perusahaan “DIAN” menentukan target penjualannya berdasarkan perkembangan
industri dengan cara menilai market sharenya dari tahun ke tahun. Data permintaan
untuk industri dan omset penjualan perusahaan selama 7 tahun terakhir sebagai berikut:
Tahun Permintaan Industri Omset Perusahaan
1976 12.000 ton 1.200 ton
1977 11.000 990
1978 13.000 1.560
1979 14.000 1.750
1980 13.000 1.430
1981 15.000 1.800
1982 16.000 2.080

Penganggaran Perusahaan 14
Berdasarkan data yang ada, saudara diminta untuk:

(1) Menentukan permintaan industri untuk tahun 1983 berdasarkan metode Least

Square.

(2) Tentukan penjualan perusahaan untuk tahun 1983 bilamana perusahaan menentukan

cukup puas dengan rata-rata market share 3 tahun terakhir.

JAWAB:

FORECASTING DEMAND INDUSTRI 1983


METODE LEAST SQUARE
Dalam Kasus Data Ganjil

Tahun Permintaan Nilai Nilai Nilai


Industri X XY 2
1976 12.000 -3 - 36.000 9
1977 11.000 -2 - 22.000 4
1978 13.000 -1 - 13.000 1
1979 14.000 0 0 0
1980 13.000 1 13.000 1
1981 15.000 2 30.000 4
1982 16.000 3 48.000 9
Total 94.000 0 20.000 28

Nilai persamaan garis trend adalah Y = a + b X.

Rumus Metode Least Square:

a =    : 

b =    :   2 

a = 94.000 : 7 = 13.428,6

b = 20.000 : 28 = 714,3

Jadi nilai persamaan garis trendnya adalah:

Y = 13.428,6 + 714,3 X

Penganggaran Perusahaan 15
(1) Demand inustri 1983 adalah:

1983 = 13.428,6 + 714,3 (4)

= 13.428,6 + 2.857,2

= 16.285,8 Ton

(2) Forecast penjualan perusahaan tahun 1983:

Market Share ntuk tahun:

1980 = 1.430 : 13.000 = 0,11

1981 = 1.800 : 15.000 = 0,12

1982 = 2.080 : 16.000 = 0,13

Total Market Share = 0,36

Rata-rata Market Share = 0,36 : 3 = 0,12

Jadi forecast penjualan perusahaan tahun 1983:

= 0,12 x 16.285,8 = 1.954,3 ton

5. Perusahaan MURNI memiliki data-data sebagai berkut:

1. Data penjualan (000 ton):

1976 = 258 ton


1977 = 258 ton
1978 = 290 ton
1979 = 346 ton
1980 = 312 ton
2. Tahun 1981 perusahaan merencanakan:

a. Akan menjual produknya di 3 daerah (Yogya, Solo, dan Semarang).


b. Distribusi masing-masing daerah:
Yogya = 50 %
Solo = 40 %
Semarang = 10 %

Penganggaran Perusahaan 16
3. Tingkat harga tahun 1981 direncanakan akan dinaikan 10 % dari tingkat harga rata-
rata antara 1976 sampai dengan 1980.
4. Tingkat haga pada masing-masing daerah adalah sama.
5. Data harga per unit:
1976 = Rp 20,-
1977 = Rp 21,-
1978 = Rp 23,-
1979 = Rp 23,-
1980 = Rp 25
Apabila volume penjualan per triwulan adalah sama dan volume penjualan per bulan
dalam triwulan 1 juga seimbang, buatlah Buget Penjualan untuk perusahaan MURNI
tersebut dengan bantuan Least Square.
JAWAB:

FORECAST PENJUALAN TAHUN 1981


METODE LEAST SQUARE

TAHUN PENJUALAN X NILAI XY NILAI  2

1976 258.000 -2 - 516.000 4

1977 258.000 -1 - 258.000 1

1978 290.000 0 0 0

1979 346.000 1 346.000 1

1980 312.000 2 624.000 4

TOTAL 1.464.000 0 196.000 10

Nilai persamaan garis trend:


Rumus Metode Least Square:
a =    : 

b =    :   2 
Sehingga: a = 1.464.000 : 5 = 292.800
b = 196.000 : 10 = 19.600

Penganggaran Perusahaan 17
Maka nilai persamaan garis trend nya adalah:
Y = 292.800 + 19.600 X
Jadi taksiran penjualan tahun 1981 adalah:
1981 = 292.800 + 19.600 (3)

= 292.800 + 58.800
= 351.600 ton
Distribusi penjualan per tahun 1981 masing-masing daerah:
Yogya = 50% x 351.600 = 175.800
Solo = 40% x 351.600 = 140.640
Semarang = 10% x 351.600 = 35.160
Distribusi penjualan per bulan dan per triwulan 1981 masing-masing daerah adalah:

Daerah Yogya Per Bulan = 175.800 : 12 = 14.650

Per Triwulan = 14.650 x 3 = 43.950

Daerah S o l o Per Bulan = 140.640 : 12 = 11.720

Per Triwulan = 11.720 x 3 = 35.160

Daerah Semarang Per Bulan = 35.160 : 12 = 2.930

Per Triwulan = 2.930 x 3 = 8.790

Harga rata-rata antara 1976 sampai dengan 1980:


= (Rp20 + Rp21 + Rp23 + Rp23 + Rp25) : 5 = Rp22, 40

Jadi harga tahun 1981 = 110% x Rp 22,40 = Rp 24,64

6. Di dalam menyusun rencana penjualannya, perusahaan PELANGI selalu


memperhatikan posisinya dalam persaingan dengan perusahaan lain yang sejenis.
Perusahaan berusaha untuk mempertahankan posisinya di pasar.
Data dibawah ini tersedia untuk dipergunakan.
Jumlah penjualan industri dan perusahaan selama 6 tahun terakhir:
Tahun Penjualan Industri Penjualan Perusahaan

1977 25.000.000 M 2.550.000 M


1978 26.500.000 2.915.000
1979 27.500.000 3.025.000

Penganggaran Perusahaan 18
1980 26.500.000 3.180.000
1981 28.000.000 3.360.000
1982 29.500.000 3.687.500
Perusahaan mengamati dengan cermat market share yang dicapainya dari tahun.
Untuk tahun 1983 dan 1984 manajemen sudah cukup puas dengan market share yang
dicapainya pada tahun 1982.
Pertanyaan:
Buatlah estimasi penjualan yang dapat dicapai perusahaan pada tahun 1983, dengan
menggunakan teknik forecasting yang saudara kenal !
JAWAB:

FORECAST PENJUALAN INDUSTRI TAHUN 1983


Metode Least Square

Tahun Penjualan (M) X XY 2


1977 25.000.000 -5 - 125.000.000 25
1978 26.500.000 -3 - 79.500.000 9
1979 27.500.000 -1 - 27.500.000 1
1980 26.500.000 1 26.500.000 1
1981 28.000.000 3 84.000.000 9
1982 29.500.000 5 147.500.000 25

TOTAL 163.000.000 0 26.000.000 70

Nilai persamaan garis trend adalah:

Rumus metode Least Square:


a. =    : 
b. =    :   2 
Sehingga: a = 163.000.000 : 6 = 27.166.666,67
b = 26.000.000 : 70 = 371.428,57
Maka nilai persamaan garis trend nya adalah:
Y = 27.166.666,67 + 371.428,57 X
Jadi taksiran penjualan industri tahun 1983:

Penganggaran Perusahaan 19
1983 = 27.166.666,67 + 371.428,57 (7)

= 27.166.666,67 + 2.600.000
= 29.766.666,67 M
Market share perusahaan tahun 1982:
(3.687.500 : 29.500.000) x 100% = 12,5%
Jadi estimasi penjualan yang dapat dicapai perusahaan pada tahun 1983 adalah:
12,5% x 29.766.666,67
= 3.720.833,33 M
7. Perusahaan GAYENG memproduksi dan menjual dua macam barang yakni: A dan B.
Data volume penjualan selama lima tahun terakhir adalah sebagai berikut:
A B

Tahun 1974 258.000 720.000


Tahun 1975 258.000 752.000
Tahun 1976 290.000 880.000
Tahun 1977 346.000 796.000
Tahun 1978 312.000 1.064.000
Buatlah budget penjualan tahun 1979 per produk yang dijual per daerah penjualan,
apabila:
 Harga per unit barang di semua daerah penjualan adalah: Barang A = Rp 10,-
Barang B = Rp 20,-
 Distribusi per daerah penjualan: A B
Solo 40 % 50%
Yogyakarta 60 % 50%
JAWAB:
FORECAST VOLUME PENJUALAN PRODUK A
TAHUN 1979 (Metode Least Square)

Tahun Penjualan X XY 2
1974 258.000 -2 - 516.000 4
1975 258.000 -1 - 258.000 1
1976 290.000 0 0 0
1977 346.000 1 346.000 1
1978 312.000 2 624.000 4
TOTAL 1.464.000 0 196.000 10

Penganggaran Perusahaan 20
Nilai persamaan garis trend Y = a + b X
Rumus Metode Least Square:
a =    :  

b =    :   2 

Sehingga a = 1.464.000 : 5 = 292.800

b = 196.000 : 10 = 19.600

Maka nilai persamaan garis trend nya adalah: Y = 292.800 + 19.600 X


Jadi taksiran volume penjualan produk a tahun 1979:
1979 = 292.800 + 19.600 (3)

= 292.800 + 58.800
= 351.600 unit

FORECAST VOLUME PENJUALAN PRODUK B


TAHUN 1979 (Metode Least Square)

Tahun Penjualan X XY 2

1974 720.000 -2 - 1.440.000 4


1975 752.000 -1 - 752.000 1
1976 880.000 0 0 0
1977 796.000 1 796.000 1
1978 1.064.000 2 2.128.000 4

TOTAL 4.212.000 0 732.000 10

Nilai persamaan garis trend:


Rumus Metode Least Square:
a =    :  

b =    :   2 
Sehingga a = 4.212.000 : 5 = 842.400
b = 732.000 : 10 = 73.200
Maka nilai persamaan garis trend nya adalah:
Y = 842.400 + 73.200 X

Penganggaran Perusahaan 21
Jadi taksiran volume penjualan produk B tahun 1979:
1979 = 842.400 + 73.200 (3)

= 842.400 + 219.600
= 1.062.000 unit
Distribusi penjualan setiap produk per daerah:

Solo Yogyakarta

A 40% x 351.600 = 140.640 60% x 351.600 = 210.960

B 50% x 1.062.000 = 531.000 50% x 1.062.000 = 531.000

PERUSAHAAN GAYENG
BUDGET PENJUALAN TAHUN 1979
Per Produk Per Daerah Penjualan

SOLO YOGYAKARTA TOTAL

Produk A
Unit 140.640 210.960 351.600
Harga
per unit Rp 10 Rp 10 Rp 10
Jumlah Rp 1.406.400 Rp 2.109.600 Rp 3.516.000
Produk B

Unit 531.000 531.000 1.062.000


Harga
Per unit Rp 20 Rp 20 Rp 20
Jumlah Rp 10.620.000 Rp 10.620.000 Rp 21.240.000

TOTAL Rp 12.026.400 Rp 12.729.600 Rp 24.756.000

Rangkuman
Forecast Penjualan adalah suatu teknik proyeksi tentang tingkat permintaan
konsumen potensial pada suatu periode tertentu dengan mempergunakan berbagai asumsi
tertentu, yaitu segala sesuatunya berjalan sebagaimana yang lalu.
Metode forecast penjualan: 1) Judgement Method atau non statistical method, yaitu
metode forecast penjualan yang didasarkan atas pendapat salesman, sales manager, para

Penganggaran Perusahaan 22
ahli dan survey konsumen, 2) Statistical method, meliputi: Analisis trend, yang terdiri dari;
Penerapan garis trend secara bebas, penerapan garis trend dengan metode setengah rata-rata,
penerapan garis trend secara matematis yang terbagi menjadi: metode moment, metode
kuadrat terkecil dan analisis korelasi, 3) Specific purpose method, meliputi: analisis
industri, analisis product line dan analisis penggunaan akhir.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan forecast penjualan adalah:1) Sifat
produk, 2) Metode distribusi, 3) Luas Usaha, 4) Persaingan, 5) Data historis yang tersedia.

Uji Kompetensi
Kasus -1
CV. “MAJU TERUS” yang bergerak dalam usaha pakan ternak, memiliki data penjualan
tahunan selama 5 tahun terakhir adalah sebgai berikut:
Penjualan pakan ternak tahun 2004– 2008 ( Zak)
Tahun Quantitas (zak) Harga (Rp) Total (Rp)
2004 1200 50.000 60.000.000
2005 1300 60.000 78.000.000
2006 1.350 65.000 87.500.000
2007 1.400 65.000 91.000.000
2008 1.450 70.000 101.500.000
Total 6.700 418.000.000

Dari data diatas, buat forecast penjualan pakan ternak untuk tahun 2009 dengan
menggunakan metode statistik Least square, serta buat anggaran penjualan selama tahun
2009 yang terdistribusi hampir merata dalam setiap bulannya, diperkirakan harga jual pakan
ternak tahun 2009 naik 20% dari harga rata-rata 5 tahun sebelumnya.
Kasus-2:
Katakan bahwa data penjualan Pakan ternak diatas selama 6 tahun terakhir mengalami
fluktuasi, sehingga model proyeksi diatas tidak relevan lagi untuk melakukan forecast
penjualan, sehingga bisa dipergunakan metode statistik Semi Average (metode setengah
rata-rata)

Penganggaran Perusahaan 23
Penjualan pakan ternak tahun 2003– 2008 ( Zak)

Tahun Quantitas (zak) Harga (Rp) Total (Rp)


2003 1.100 45.000 49.000.000
2004 1.000 50.000 50.000.000
2005 1.200 60.000 72.000.000
2006 1.300 63.000 81.900.000
2007 1..250 65.000 81.250.000
2008 1.350 70.000 94.500.000

Dari data diatas, buat forecast penjualan pakan ternak untuk tahun 2009 dengan
menggunakan metode statistik Setengah Rata-Rata, serta buat anggaran penjualan selama
tahun 2009 yang terdistribusi hampir merata dalam setiap bulannya, diperkirakan harga jual
pakan ternak tahun 2009 naik menjadi Rp 72.500 per Zak

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.

Penganggaran Perusahaan 24
Kerangka Isi
Anggaran Produksi

Pengertian Anggaran Produksi

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Barang yang


Harus Diproduksi

Kebijaksanaan Tingkat Produksi dan Tingkat Persediaan

Tujuan Penyusunan Anggaran Produksi Perusahaan

Formula untuk Penyusunan Anggaran Produksi

IlustrasiAnggaran Produksi
Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian anggaran produksi, faktor-faktor yang
mempengaruhi jumlah barang yang harus diproduksi, kebijaksanaan tingkat produksi dan
tingkat persediaan, tujuan penyusunan anggaran produksi, formula untuk penyusunan
anggaran produksi, ilustarasi anggaran produksi.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

1.1 Konsep–Konsep Pokok Anggaran Produksi


1. Pengertian Anggaran Produksi
Anggaran produksi dalam arti luas adalah penjabaran rencana penjualan menjadi rencana
produksi yang meliputi perencanaan tentang volume produksi, kebutuhan persediaan,
bahan baku, tenaga kerja dan kepastian produksi.

Penganggaran Perusahaan 25
Anggaran produksi dalam artian sempit, adalah suatu perencanaan volume barang yang
harus diproduksi perusahaan agar sesuai dengan volume penjualan yang telah
direncanakan.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jumlah Barang yang Harus Diproduksi
Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah barang yang harus diproduksi adalah:
a. Jumlah barang yang telah direncanakan untuk dijual, sebagaimana yang telah
tercantum dalam anggaran penjualan
b. Kebijaksanaan tingkat produksi
c. Kebijaksanaan tingkat persediaan.
3. Kebijaksanaan Tingkat Produksi dan Tingkat Persediaan
Kebijaksanaan tingkat produksi dan tingkat persediaan, sangat ditentukan oleh:
a. Kebijaksanaan yang mengutamakan stabilitas tingkat produksi dengan tingkat
persediaan barang yang dibiarkan mengambang.
b. Kebijaksanaan yang mengutamakan stabilitas tingkat persediaan barang dengan
tingkat produksi dibiarkan mengambang.
c. Kebijaksanaan yang merupakan kombinasi dari kedua kebijaksanaan tersebut diatas.
Berdasarkan kebijaksanaan ini baik tingkat produksi maupun tingkat persediaan sama-
sama berfluktuasi.
4. Tujuan Penyusunan Anggaran Produksi
Anggaran produksi merupakan suatu alat perencanaan, koordinasi dan pengendalian
kegiatan produksi, dengan demikian sebagai tujuan penyususnan anggaran ini adalah
untuk:
a. Menunjang kegiatan bagian penjualan, sehingga barang dapat tersedia sesuai dengan
yang telah direncanakan.
b. Menjaga tingkat persediaan yang cukup memadai.
c. Mengatur tingkat produksi sedemikian rupa sehingga dapat meminimumkan biaya
produksi.
5. Formula untuk penyusunan anggaran produksi
Formula untuk penyusunan anggaran produksi:

Penganggaran Perusahaan 26
Tingkat penjualan xxxxx
Tingkat Persediaan Akhir yang diinginkan xxxxx +
Tingkat Kebutuhan xxxxx
Tingkat Persediaan awal xxxxx -
Tingkat Produksi xxxxx

1.2 Ilustrasi Anggaran Produksi


PT. Andika Denpasar, dalam rangka menyusun anggaran produksi memiliki data
perencanaan sebagai berikut:
1. Rencana penjualan pada tahun 2005 sebanyak 32.000 unit. Pola penjualan bersifat
musiman dengan proporsi sebagai berikut:
Januari 9% Triwulan II 30%
Februari 11% Triwulan III 15%
Maret 10% Triwulan IV 25%
2. Rencana Persdiaan awal tahun 4.000 unit, dan persediaan akhir sebesar 2.000 unit.
Lebih lanjut kebijaksanaan persediaan ditentukan adalah:
 Persediaan maksimum tidak boleh melebihi 4.000 unit
 Persediaan minimum tidak boleh kurang 1.200 unit.
3. Kebijaksanaan produksi ditentukan sebagai berikut:
 Produksi normal bulanan = 1/12 produksi setahun
 Angka toleransi produksi kurang lebih 10% dari tingkat produksi normal
sangat merosot boleh diturunkan menjadi 70% dari tingkat produksi normal.
Berdasarkan data tersebut diatas tentukan:
a. Tingkat produksi setahun (2005) dan menghitung tingkat penjualan bulanan /
triwulanan dalam setahun.
b. Batasan minimum / maksimum, baik untuk produksi maupun persediaan. Data
ini diperlukan untuk merancang skedul produksi.
c. Menyusun anggaran produksi untuk tahun 2005 sesuai dengan batasan yang
sudah ditentukan.
Jawab:
a. Tingkat produksi tahun 2005
Penjualan 32.000 Unit
Persediaan akhir 2.000 unit +

Penganggaran Perusahaan 27
Tersedia 34.000 unit
Persediaan awal 4.000 unit -
Tingkat Produksi 30.000 unit

b. Perkiraan penjualan bulanan/ triwulanan (satuan) untuk tahun 2005:


Januari 9% x 32.000 = 2.880 Triw.II 30%x 32.000 = 9.600
Feb. 11%x 32.000 = 3.520 Triw III 15%x 32.000 = 4.800
Mar. 10%x 32.000 = 3.200 Triw. IV25%x 32.000 = 8.000
c. Batasan persediaan 1.200 sampai dengan 4.000 unit dan batasan produksi:
Produksi normal bulanan = 1/12 x 30.000 = 2.500 unit
Produksi normal triw. = 3 x 2.500 = 7.500 unit
Produksi Triw. III = 70% x 7.500 unit = 5.250 unit.
Produksi maksimum per bulan. = 110% x 2.500 = 2.750 unit
Produksi minimum per bulan = 90% x 2.500 = 2.250 unit
Prod. Maksimum per Triw. = 110% x 7.500 =8.250 unit
Prod. Minimum per Triw. = 90% x 7.500 =6.750 unit

PT ANDIKA DENPASAR
Anggaran Produksi untuk Tahun 2005
Keterangan Januari Februari Maret Triw.II Triw.III Triw. IV
Penjualan 2.880 3.520 3.200 9.600 4.800 8.000
Pers.Akhir 3.870 3.100 2.650 1.300 1.750 2.000
Tersedia 6.750 6.620 5.850 10.900 6.550 10.000
Pers. awal 4.000 3.870 3.100 2.650 1.300 1,750
Produksi 2.750 2.750 2.750 8.250 5.250 8.250

Rangkuman
Anggaran produksi merupakan penjabaran rencana penjualan menjadi rencana

produksi yang meliputi perencanaan tentang volume produksi, kebutuhan persediaan, bahan

baku, tenaga kerja dan kepastian produksi.

Penganggaran Perusahaan 28
Anggaran produksi merupakan suatu alat perencanaan, koordinasi dan pengendalian
kegiatan produksi, dengan demikian sebagai tujuan penyususnan anggaran ini adalah untuk:
a. Menunjang kegiatan bagian penjualan, sehingga barang dapat tersedia sesuai dengan
yang telah direncanakan.
b. Menjaga tingkat persediaan yang cukup memadai.
c. Mengatur tingkat produksi sedemikian rupa sehingga dapat meminimumkan biaya
produksi.
Tingkat produksi dan tingkat persediaan, sangat ditentukan oleh:
a. Kebijaksanaan yang mengutamakan stabilitas tingkat produksi dengan tingkat
persediaan barang yang dibiarkan mengambang.
b. Kebijaksanaan yang mengutamakan stabilitas tingkat persediaan barang dengan
tingkat produksi dibiarkan mengambang.
c. Kebijaksanaan yang merupakan kombinasi dari kedua kebijaksanaan tersebut diatas.

Uji Kompetensi
Kasus
CV MAJU TERUS
ANGGARAN PENJUALAN TAHUN 2009

Bulan Quantitas Harga (Rp) Total ( Rp)


( Zak)
Januari 126 74.400 9.374.400,00
Pebruari 126 74.400 9.374.400,00
Maret 126 74.400 9.374.400,00
April 126 74.400 9.374.400,00
Mei 127 74.400 9.448.800,00
Juni 127 74.400 9.448.800,00
Juli 127 74.400 9.448.800,00
Agustus 127 74.400 9.448.800,00
September 127 74.400 9.448.800,00
Oktober 127 74.400 9.448.800,00
Nopember 127 74.400 9.448.800,00
Desember 127 74.400 9.448.800,00
Total 1.520 74.400 113.088.000,00

Untuk dapat menunjang rencana penjualan pakan ternak, maka perusahaan perlu untuk
merencanakan jumlah pakan ternak yang harus diproduksi serta kapan dilakukan produksi:

Penganggaran Perusahaan 29
Kebijaksanaan produksi CV MAJU TERUS, dalam tahun 2009 mempertimbangkan
persediaan akhir yang harus ada sebanyak 180 zak, serta jumlah persediaan yang masih ada
di gudang 200 zak.
Kalau kebijakan perusahaan adalah : Tingkat produksi stabil dalam setiap bulan selama
tahun 2009, serta kebijakan persediaan adalah juga relatif stabil dalam setiap bulan.
Diminta: Susunlah anggaran produksi CV MAJU TERUS, dalam tahun 2009.

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.
Rudianto, 2010, Anggaran Perusahaan, Erlangga.

Penganggaran Perusahaan 30
Kerangka Isi
Anggaran Bahan Baku

Pengertian Anggaran Bahan Baku

Tujuan Penyusunan Anggaran Bahan Baku

Elemen–Elemen Anggaran Bahan Baku

Ilustrasi Anggaran Bahan Baku


Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapatmenjelaskan pengertian anggaran bahan baku, tujuan penyusunan anggaran
bahan baku, elemen–elemen anggaran bahan baku, ilustrasi anggaran bahan baku.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

1.1 Konsep–Konsep Anggaran Bahan Baku


1. Pengertian Anggaran Bahan Baku
Anggaran bahan baku: merupakan penjabaran lebih lanjut dari pada anggaran produksi
yang mencakup lebih rinci mengenai jumlah dan jenis bahan baku yang dipergunakan
dalam proses produksi.
Bahan baku yang dipergunakan dalam proses produksi terdiri atas dua jenis yaitu bahan
baku langsung (direct material) dan bahan baku tidak langsung (indirect material).
Bahan baku langsung adalah bahan baku yang secara langsung berperan dalam proses
produksi dan mempunyai hubungan yang erat dengan jumlah produk yang dihasilkan.
Bahan baku tidak langsung adalah bahan baku yang secara tidak langsung ikut berperan
dalam proses produksi. Anggaran bahan baku adalah merencanakan kebutuhan dan
penggunaan bahan baku langsung, sedangkan kebutuhan bahan baku tidak langsung
akan direncanakan dalam anggaran biaya over head pabrik. Dari uraian diatas, dapat

Penganggaran Perusahaan 31
digaris bawahi bahwa anggaran bahan baku adalah semua anggaran yang berhubungan
dengan perencanaan secara terperinci mengenai penggunaan bahan baku langsung untuk
proses produksi selama periode yang akan datang.
2. Tujuan Penyusunan Anggaran Bahan Baku
Dengan penyusunan anggaran bahan baku akan dapat membantu pihak manajemen
dalam mengambil langkah-langkah kebijakan yang berkaitan dengan:
 Perkiraan jumlah kebutuhan bahan baku
 Perkiraan jumlah pembelian bahan baku yang diperlukan.
 Dasar perkiraan kebutuhan dana dalam pembelian bahan baku
 Dasar penentuan komponen harga pokok produk karena pemakaian bahan baku
untuk proses produksi
 Dasar pengawasan penggunaan bahan baku.
3. Elemen–Elemen Anggaran Bahan Baku
Pada dasarnya anggaran bahan baku meliputi empat sub anggaran, yaitu anggaran
kebutuhan bahan baku, anggaran pembelian bahan baku, anggaran persediaan bahan
baku, dan anggaran biaya pemakaian bahan baku.
 Anggaran kebutuhan bahan baku disusun sebagai perencanaan jumlah bahan baku
yang dibutuhkan untuk keperluan produksi pada periode mendatang. Anggaran ini
harus merinci tentang: Jenis barang jadi yang dihasilkan, jenis bahan baku yang
digunakan, bagian-bagian yang dilalui dalam proses produksi, standar penggunaan
bahan baku (Standar Usage Rate), waktu penggunaan bahan baku,dan jumlah
masing-masing jenis barang jadi.
 Anggaran pembelian bahan baku, anggaran ini harus merinci; jenis bahan baku yang
digunakan, jumlah yang harus dibeli,, harga per satuan (unit) bahan baku. Anggaran
pembelian bahan baku dapat dibuat formulasi sebagai berikut:
Kebutuhan Bahan Baku untuk produksi ………….. xxxx
Persediaan akhir bahan baku …………………….. xxxxx +
Jumlah Kebutuhan Bahan Baku …………………. xxxxx
Persediaan awal Bahan Baku ……………………. xxxxx -
Pembelian Bahan Baku ……………………… xxxxxx
 Anggaran Persediaan Bahan Baku, anggaran persediaan bahan baku ini dibuat
sebagai suatu perencanaan secara terperinci atas kuantitas bahan baku yang disimpan

Penganggaran Perusahaan 32
sebagai persediaan, yang meliputi: jenis bahan baku yang digunakan, jumlah masing-
masing bahan baku yang tersisa sebagai persediaan, harga per unit masing-masing
jenis bahan baku, dan nilai bahan baku yang disimpan sebagai persediaan.
Besarnya bahan baku yang harus tersedia untuk kelancaran proses produksi
tergantung pada beberapa faktor seperti; Volume produksi selama satu periode waktu
tertentu, volume bahan minimal (Safety Stock), besarnya pembelian yang ekonomis,
estimasi tentang naik turunnya harga bahan baku pada waktu mendatang, Biaya-
biaya penyimpanan dan pemeliharaan bahan baku, dan tingkat kecepatan bahan baku
menjadi rusak.
 Anggaran Pemakaian Bahan Baku, bahan baku yang dibeli oleh perusahaan terdiri
dari bahan baku yang digunakan dalam proses produksi dan bahan baku yang
tersimpan di gudang sebagai persediaan. Anggaran biaya pemakaian bahan baku
akan merencanakan nilai bahan baku yang digunakan dan dihitung dalam satuan
moneter. Dengan demikian dalam anggaran biaya bahan baku yang habis dipakai
harus diperinci mengenai:
 Jenis bahan baku yang digunakan
 Jumlah masing-masing jenis bahan baku yang habis digunakan untuk proses
produksi
 Harga per unit masing-masing jenis bahan baku
 Nilai masing-masing bahan baku yang habis digunakan untuk proses produksi
 Jenis produk yang dihasilkan
 Waktu penggunaan bahan baku.

1.2 Ilustrasi Anggaran Bahan Baku


Berikut ini disajikan data PT. Yoga Denpasar, adalah sebagai berikut:
a. Data perkiraan penjualan tahun 2005
Jenis Barang
8B Jumlah Harga/Unit Persed Awal Persed.Akhir
(Unit) (Rp) (unit) (unit)
X 150.000 15.000.00 60.000 40.000
Y 300.000 16.000,00 30.000 50.000
Z 200.000 19.000,00 35.000 65.000

Penganggaran Perusahaan 33
b. Bahan baku digunakan dihitung menurut standar penggunaan kebutuhan (Standard
Usage Rate / SUR)
Jenis Bahan Satuan SUR 9B

Baku Barang X
10B Barang Y
1B Barang Z
12B

1 Unit 2 3 4
2 Kg 3 - 3
3 Unit 1 4 2

c. Jumlah persediaan masing-masing adalah sebagai berikut:


Jenis Bahan Baku Persed.Awal Persed.Akhir
1 75.000 unit 40.000 unit
2 100.000 kg 87.500 kg
3 100.000 unit 125.000 unit

d. Perkiraan harga bahan baku sebagai berikut:


Jenis bahan baku Harga (Rp)
1 8.000,00 / unit
2 5.000,00 /kg
3 7.500,00 / unit

Diminta: dari data diatas, susunlah:


2. Anggaran produksi untuk masing-masing jenis barang.
3. Anggaran kebutuhan bahan baku dirinci menurut jenis barang dan jenis bahan baku
4. Anggaran pembelian bahan baku dirinci menurut jenis bahan baku dan nilainya
5. Anggaran pemakaian bahan baku yang habis digunakan yang dirinci menurut jenis
bahan baku dan jenis barang.
Jawab:
1. PT YOGA
Anggaran Produksi (unit)

Keterangan
6B Barang X Barang Y Barang Z
Penjualan 150.000 300.000 200.000
Persediaan akhir 40.000 50.000 65.000
Kebutuhan 190.000 350.000 265.000
Persediaan awal 60.000 30.000 35.000
Jumlah Produksi 130.000 320.000 230.000

Penganggaran Perusahaan 34
2. PT YOGA
Anggaran Kebutuhan Bahan Baku
Barang Produksi Bahan Baku -1 Bahan Baku-2 Bahan Baku-3
(unit) SUR Kebutuhan SUR Kebutuhan SUR Kebutuhan
X 130.000 2 260.000 3 390.000 1 130.000
Y 320.000 3 960.000 - - 4 1.280.000
Z 230.000 4 920.000 3 690.000 2 460.000
Jumlah : 2.140.000 1.080.000 1.870.000

3. PT YOGA
Anggaran Pembelian Bahan Baku
Keterangan Bahan Baku-1 Bahan Baku-2 Bahan baku-3
Kebutuhan 2.140.000 1.080.000 1.870.000
Persediaan akhir 40.000 85.000 125.000
Juml. Kebutuhan 2.180.000 1.167.500 1.995.000
Persediaan awal 75.000 100.000 100.000
Total Pembelian 2.105.000 1.067.500 1.895.000
Harga/Satuan Rp 8.000,00 Rp 5000,00 Rp 7.500,00
Nilai pembelian 1.684.000.000,00 533.750.000,00 1.421.250.000,00

Rangkuman
Anggaran bahan baku: merupakan penjabaran lebih lanjut dari pada anggaran
produksi yang mencakup lebih rinci mengenai jumlah dan jenis bahan baku yang
dipergunakan dalam proses produksi.
Anggaran kebutuhan bahan baku disusun sebagai perencanaan jumlah bahan baku
yang dibutuhkan untuk keperluan produksi pada periode mendatang. Anggaran ini harus
merinci tentang: Jenis barang jadi yang dihasilkan, jenis bahan baku yang digunakan,
bagian-bagian yang dilalui dalam proses produksi, standar penggunaan bahan baku (Standar
Usage Rate), waktu penggunaan bahan baku,dan jumlah masing-masing jenis barang jadi.
Anggaran pembelian bahan baku, anggaran ini harus merinci; jenis bahan baku yang
digunakan, jumlah yang harus dibeli,, harga per satuan (unit) bahan baku. Anggaran
pembelian bahan baku dapat dibuat formulasi sebagai berikut:
Kebutuhan Bahan Baku untuk produksi ………….. xxxx
Persediaan akhir bahan baku …………………….. xxxxx +
Jumlah Kebutuhan Bahan Baku …………………. xxxxx
Persediaan awal Bahan Baku ……………………. xxxxx -
Pembelian Bahan Baku ……………………… xxxxxx
Anggaran Persediaan Bahan Baku, anggaran persediaan bahan baku ini dibuat
sebagai suatu perencanaan secara terperinci atas kuantitas bahan baku yang disimpan

Penganggaran Perusahaan 35
sebagai persediaan, yang meliputi: jenis bahan baku yang digunakan, jumlah masing-masing
bahan baku yang tersisa sebagai persediaan, harga per unit masing-masing jenis bahan baku,
dan nilai bahan baku yang disimpan sebagai persediaan.
Besarnya bahan baku yang harus tersedia untuk kelancaran proses produksi
tergantung pada beberapa faktor seperti; Volume produksi selama satu periode waktu
tertentu, volume bahan minimal (Safety Stock), besarnya pembelian yang ekonomis, estimasi
tentang naik turunnya harga bahan baku pada waktu mendatang, Biaya-biaya penyimpanan
dan pemeliharaan bahan baku, dan tingkat kecepatan bahan baku menjadi rusak.
Anggaran Pemakaian Bahan Baku, bahan baku yang dibeli oleh perusahaan terdiri
dari bahan baku yang digunakan dalam proses produksi dan bahan baku yang tersimpan di
gudang sebagai persediaan. Anggaran biaya pemakaian bahan baku akan merencanakan
nilai bahan baku yang digunakan dan dihitung dalam satuan moneter.

Uji Kompetensi
Kasus
PT JAYA MULYA
ANGGARAN PRODUKSI TAHUN 2009 (Dalam Zak)
Bulan Penjualan Per.Akhir Kebutuhan Per.Awal Jum.produksi

Januari 126 199 325 200 125


Pebruari 126 198 324 199 125
Maret 126 197 323 198 125
April 126 196 322 197 125
Mei 127 194 321 196 125
Juni 127 192 319 194 125
Juli 127 190 317 192 125
Agustus 127 188 315 190 125
September 127 186 313 188 125
Oktober 127 184 311 186 125
Nopember 127 182 309 184 125
Desember 127 180 307 182 125
Total 1.520 180 1700 200 1.500

setiap 1 zak pakan ternak berisi 50 kg, SUR untuk memproduksi 1 kg pakan ternak
membutuhkan:
Dedak 0,45 kg
Jagung halus 0,60 Kg
Harga Dedak Rp 400,00 / kg

Penganggaran Perusahaan 36
Jagung Halus Rp 650,00/kg
Persediaan bahan baku:
a. Dedak: Awal: 4.5 ton
Akhir: 4 ton
b. Jagung Halus:
Awal: 6 ton
Akhir: 5,4 ton
Diminta: 1. Anggaran kebutuhan bahan baku tahun 2009
2. Anggaran kebutuhan bahan baku yang dibeli tahun 2009
3. Anggaran biaya pembelian bahan baku tahun 2009

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.
Rudianto, 2010, Anggaran Perusahaan, Erlangga.

Penganggaran Perusahaan 37
Kerangka Isi
Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung

Pengertian Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anggaran Biaya


Tenaga Kerja Langsung

Manfaat Penyusunan Anggaran Biaya Tenaga Kerja


Langsung
Ilustrasi Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung

Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian anggaran biaya tenaga kerja langsung, faktor-
faktor yang mempengaruhi anggaran tenaga kerja langsung, manfaat penyusunan anggaran
tenaga kerja langsung, ilustrasi anggaran tenaga kerja langsung.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

1.1 Konsep-Konsep Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung


1. Pengertian Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang secara langsung berperan dalam proses
produksi, yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
 Besar kecilnya biaya berhubungan secara langsung dengan tingkat kegiatan
produksi.
 Biaya yang dikeluarkan merupakan biaya variabel.
 Kegiatan ternaga kerja ini dapat langsung dihubungkan dengan produk akhir
untuk penentuan harga pokok.
Penganggaran Perusahaan 38
Sedangkan tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang secara tidak langsung
berperan dalam proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya overhead pabrik.
Tenaga kerja tidak langsung memiliki karakteristik sebagai berikut:
 Besar kecilnya biaya tidak berhubungan secara langsung dengan tingkat kegiatan
produksi.
 Biaya yang dikeluarkan merupakan biaya semi fixed atau semi variabel.
 Tempat kerjanya tidak selalu di dalam pabrik, tetapi dapat juga di luar pabrik.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa anggaran biaya tenaga kerja langsung adalah
anggaran yang merencanakan secara terperinci upah yang akan dibayarkan kepada
tenaga kerja langsung untuk periode yang akan datang. Anggaran tenaga kerja meliputi
rencana tentang jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu satuan produk,
tarif upah, dan waktu (kapan) dikerjakannya.
Hal-hal yang telah terperinci dalam anggaran tenaga kerja harus dihubungkan dengan
jenis produk yang dihasilkan dan tempat (departemen) dimana tenaga kerja akan bekerja.
Disamping itu satuan yang digunakan untuk menghitung anggaran tenaga kerja harus
ditentukan terlebih dahulu.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anggaran Tenaga Kerja Langsung.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran tenaga kerja
adalah:
 Kebutuhan tenaga kerja
 Penarikan tenaga kerja
 Latihan tenaga kerja
 Evaluasi atau spesifikasi pekerjaan bagi tenaga kerja
 Gaji dan upah
 Pengawasan tenaga kerja
Kemudian dalam penyusunan anggaran biaya tenaga kerja langsung perlu
dipertimbangkan berbagai faktor berikut:
 Anggaran unit yang harus diproduksi, khususnya rencana tentang jenis/kualitas
dan kuantitas barang tersebut.
 Standar waktu yang digunakan yang dapat didasarkan atas data historis atau
pengalaman pada waktu yang lalu serta atas dasar penelitian khusus yang disebut
studi gerak dan waktu (Time and Motion Study)

Penganggaran Perusahaan 39
 Sistem pengupahan atau sistem pembayaran upah yang bisa didasarkan atas
waktu, output (hasil) atau insentif.
3. Manfaat Penyusunan Anggaran Tenaga kerja Langsung
Penyusunan anggaran tenaga kerja langsung dapat memberikan manfaat bagi
perusahaan, antara lain:
 Penggunaan tenaga kerja secara lebih efisien
 Pengeluaran biaya tenaga kerja dapat diatur lebih efisien
 Harga pokok barang dapat dihitung dengan tepat
 Alat pengawasan biaya tenaga kerja.

1.2 Ilustrasi Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung


1. PT. Yoga Denpasar menyajikan data kegiatan usaha pada bulan Juli 2005 sebagai berikut

Golongan Tenaga Kerja Jumlah TK. Upah/Orang/Jam (Rp)


IA 50 1.500
B 45 2.000
C 40 2.500
IIA 30 3.000
B 25 3.500
C 20 4.000
III A 15 4.500
B 10 5.000
C 5 5.500
Perusahaan menetapkan kebijaksanaan yang mulai berlaku pada bulan Agustus 2005
adalah sebagai berikut:
 20% dari setiap golongan, kecuali golongan IIIC dinaikkan pangkatnya setingkat lebih
atas dari sebelumnya.
 Khusus bagi setiap golongan tenaga kerja yang tidak memperoleh kenaikan pangkat,
akan dinaikkan gajinya 10% dari gaji sebelumnya.
 Jam kerja sejumlah 175 jam pada bulan Juli 2005 dinaikkan menjadi 200 jam pada bulan
Agustus 2005.

Dari data diatas, tentukan prosentase kenaikan tingkat upah standar per jam per orang
secara keseluruhan.
Jawab:

Tingkat Uapah Standar per jam per orang Bulan Juli 2005

Penganggaran Perusahaan 40
Gol. TK T.Upah/Jam (Rp) Jumlah TK Jumlah Jam Total (Rp)
I A 1.500,00 50 175 13.125.000,00
B 2.000,00 45 175 15.750.000,00
C 2.500,00 40 175 17.500.000,00
II A 3.000,00 30 175 15.750.000,00
B 3.500,00 25 175 15.312.500,00
C 4.000,00 20 175 14.000.000,00
III A 4.500,00 15 175 11.812.500,00
B 5.000,00 10 175 8.750.000,00
C 5.500,00 5 175 4.812.500,00
Jumlah 240 175 116.812.500,00

Jadi tingkat upah standar per jam per orang bulan Juli 2005 = 116.812.500 : (240 x 175)
= Rp 2.781,00

Tingkat upah standar per jam per orang bulan Agustus 2005

Gol. TK T.Upah/Jam(Rp) Jumlah TK Jumlah Jam Total (Rp)


I A 1.500,00 40 200 12,000,000.00
B 2.000,00 36 200 14,400,000.00
B 2.000,00 10 200 4,000,000.00
C 2.500,00 32 200 16,000,000.00
C 2.500,00 9 200 4,500,000.00
II A 3.000,00 24 200 14,400,000.00
A 3.000,00 8 200 4,800,000.00
B 3.500,00 20 200 14,000,000.00
B 3.500,00 6 200 4,200,000.00
C 4.000,00 16 200 12,800,000.00
C 4.000,00 5 200 4,000,000.00
III A 4.500,00 12 200 10,800,000.00
A 4.500,00 4 200 3,600,000.00
B 5.000,00 8 200 8,000,000.00
B 5.000,00 3 200 3,000,000.00
C 6.050,00 5 200 6,050,000.00
C 6.050,00 2 200 2,420,000.00
Jumlah 240 138,970,000.00

Jadi tingkat upah standar per jam per orang bulan Agustus 2005 = 138.970.000,00: (240 x
200) = Rp 2.895,21

2. Anggaran produksi dan standar pemakaian tenaga kerja langsung serta tarif upah sebagai
berikut:

Penganggaran Perusahaan 41
PT YOGA
Anggaran Produksi (unit)
Tahun 2007
Keterangan
7B Barang X Barang Y Barang Z
Penjualan 150.000 300.000 200.000
Persediaan akhir 40.000 50.000 65.000
Kebutuhan 190.000 350.000 265.000
Persediaan awal 60.000 30.000 35.000
Jumlah Produksi 130.000 320.000 230.000

Tenaga kerja langsung digunakan dihitung menurut standar penggunaan tenaga kerja
langsung (Standard Usage Rate / SUR)
Keterangan Satuan SUR
Barang X Jam 0.4
Barang Y Jam 0.2
Barang Z Jam 0.3

Tarif upah Rp4.500,00 per jam


Jawab PT YOGA
Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung
Tahun 2007
Keterangan Unit Produksi SUR Jumlah jam Tarif per jam Jumlah
Barang X 130000 0.4 52000 4500 234000000
Barang Y 320000 0.2 64000 4500 288000000
Barang Z 230000 0.3 69000 4500 310500000
Total 185000 832500000

Rangkuman
Anggaran biaya tenaga kerja langsung adalah anggaran yang merencanakan secara
terperinci upah yang akan dibayarkan kepada tenaga kerja langsung untuk periode yang
akan datang. Anggaran tenaga kerja meliputi rencana tentang jumlah waktu yang diperlukan
untuk menyelesaikan satu satuan produk, tarif upah, dan waktu (kapan) dikerjakannya.
Penyusunan anggaran biaya tenaga kerja langsung perlu dipertimbangkan berbagai
faktor berikut:
 Anggaran unit yang harus diproduksi, khususnya rencana tentang jenis/kualitas
dan kuantitas barang tersebut.

Penganggaran Perusahaan 42
 Standar waktu yang digunakan yang dapat didasarkan atas data historis atau
pengalaman pada waktu yang lalu serta atas dasar penelitian khusus yang disebut
studi gerak dan waktu (Time and Motion Study)
 Sistem pengupahan atau sistem pembayaran upah yang bisa didasarkan atas
waktu, output (hasil) atau insentif.

Uji Kompetensi
Kasus 1. PT Jaya Maju dalam rangka kegiatan produksinya merencanakan biaya tenaga
kerja untuk tahun 2009 adalah sebagai berikut :
a. Kebutuhan Tenaga Kerja :
DEPARTEMEN I DEPARTEMEN II
Jenis TK Jumlah (Orang) Jenis TK Jumlah (Orang)
S-1 2 SMK 12
D-III 11 SMP 10
D-I 4 SD 5
jumlah 17 jumlah 27

Masing-masing jenis tenaga kerja bekerja selama 320 jam dalam sebulan

b. Tingkat upah per jam

Jenis tenaga Kerja Upah / jam ( Rp)


S-1 10.000,00
D-III 8.000,00
D-I 6.500,00
SMK 5.000,00
SMP 4.000,00
SD 3.500,00

Labih lanjut, untuk bulan-bulan berikutnya Tenaga Kerja dari Strata pendidikan, di
kelompokkan dalam golongan-golongan sebagai berikut :
Golongan I (A, B, C); Golangan II ( A,B, C), Golongan III (A, B, C)
Dengan komposisi tenaga kerja sebagai berikut:

Golongan TK Juml. TK Upah /jam / orang (Rp)


I A 5 3.500
B 3 3.800
C 7 4.000

II A 10 5.000

Penganggaran Perusahaan 43
B 6 5.400
C 9 6.000

III A 2 10.000.
B 1 11.000
C 1 12.000
Jumlah 44

Perusahaan menetapkan kebijakan yang mulai berlaku untuk bulan Agustus 2009 adalah
sebagai berikut :
 20% dari setiap golongan, kecuali golongan III C, dinaikkan pangkatnya setingkat
lebih atas dari sebelumnya.
 Khusus bagi setiap golongan tenaga kerja yang tidak memperoleh kenaikan pangkat,
akan dinaikkan gajinya 15 % dari gaji sebelumnya.
 Jam Kerja sebesar 320 pada bulan-bulan sebelumnya mulai bulan Agustus dinaikkan
menjadi 340 jam.
Dari data diatas diminta:
1. Menentukan upah standar per jam pada masing-masing Departemen.
2.Tentukan prosentase kenaikan tingkat upah standar per jam per orang secara keseluruhan

Kasus 2. PT jenis pakan ternak yang diproduksi ada 2 jenis kualitas, yaitu Kualitas I dan
kualitas II. Kedua produk tadi di proses dalam dua bagian yaitu Bagian Penggilingan dan
Bagian Finishing. Rencana produksi dalam satuan zak (1 zak berisi 50 Kg) sebagai berikut :
Bulan/Triwulan Kualitas I (zak) Kualitas II(zak) (zak)
Januari 50 40
Pebruari 60 45
Maret 60 50
Triwulan II 170 140
Triwulan III 180 160
Triwulan IV 200 170
Jumlah 720 605

Setiap 10 kg produk kualitas I yang diproses pada bagian penggilingan menghabiskan


waktu rata-rata 40 menit, sedangkan pada bagian penghalusan menghabiskan waktu selama
25 menit.Kemudian untuk produk kualitas II, setiap 25 kg produk yang di proses pada
bagian penggilingan menghabiskan waktu rata-rata 30 menit, sedangkan pada bagian
penghalusan menghabiskan waktu selama 20 menit.

Penganggaran Perusahaan 44
Rata-rata tarif upah pada setiap bagian :
 Bagian penggilingan Rp 12.000/ 5 jam
 Bagian penghalusan Rp 15.000/ 3 jam
Dari data diatas buat :
1. Anggaran jam tenaga kerja langsung menurut waktu / bagian dan kualitas produk.
2. Anggaran biaya tenaga kerja langsung menurut waktu, bagian dan kualitas produk.

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.
Rudianto, 2010, Anggaran Perusahaan, Erlangga.

Penganggaran Perusahaan 45
Kerangka Isi
Anggaran Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Pengertian Anggaran Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Departemen Produksi dan Departemen Pembantu

Pertanggung jawaban BOP

Tujuan Pengawasan Biaya Overhead Pabrik

Berbagai Macam Kapasitas yang Dipergunakan


sebagai Dasar Penyusunan Anggaran BOP

Distribusi Alokasi dan Pembebanan BOP

Ilustrasi Anggaran BOP


Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian biaya overhead pabrik (BOP), departemen
produksi dan departemen pembantu, pertanggung jawaban BOP, tujuan pengawasan biaya
overhead pabrik, berbagai macam kapasitas yang dipergunakan sebagai dasar penyusunan
anggaran BOP, distribusi alokasi dan pembebanan BOP, ilustrasi anggaran BOP.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

1.1 Konsep–Konsep Anggaran Biaya Overhead Pabrik

1. Pengertian
Biaya overhead pabrik adalah biaya-biaya dalam pabrik yang dikeluarkan perusahaan
dalam rangka proses produksi, kecuali biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga
kerja langsung.
Penganggaran Perusahaan 46
2. Departemen Produksi dan Departemen Pembantu
Departemen produksi adalah bagian yang bekerja mengolah bahan baku menjadi produk
jadi. Dengan kata lain departemen produksi sebagai bagian yang secara langsung
memproses produk akhir. Sedangkan departemen pembantu (departemen jasa) adalah
bagian yang menyediakan jasanya dan secara tidak langsung ikut berperan dalam proses
produksi.
3. Pertanggung Jawaban BOP.
Ditinjau dari bagaian yang bertanggung jawab, biaya overhead pabrik dikelompokkan:
 Biaya langsung, yaitu biaya yang semata-mata menjadi tanggung jawab bagian yang
bersangkutan dan tidak dibebankan ke bagian lain.
 Biaya tidak langsung, yaitu biaya yang menjadi tanggung jawab beberapa bagian
dalam pabrik.
4. Tujuan pengawasan Biaya Overhead Pabrik
 Untuk mengetahui sesuai tidaknya realisasi dengan yang direncanakan.
 Untuk mengetahui besar kecilnya biaya overhead.
 Untuk menentukan bagaian-bagian yang bertanggung jawab.
5. Berbagai macam kapasitas yang dipergunakan sebagai dasar penyususnan
anggaran BOP.
 Kapasitas praktis, adalah kapasitas teoritis yaitu kapasitas pabrik untuk
menghasilkan produk pada kecepatan penuh, tanpa berhenti selama jangka waktu
tertentu dikurangi dengan kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena
hambatan intern perusahaan.
 Kapasitas normal, adalah kemampuan perusahaan berproduksi dan menjual
produknya dalam jangka panjang.
 Kapasitas sesungguhnya yang diharapkan, adalah kapasitas sesungguhnya yang
diperkirakan akan dapat dicapai dalam periode yang akan datang.
6. Distribusi, Alokasi, dan Pembebanan Biaya Overhead Pabrik
 Distribusi BOP. adalah pembagian biaya overhead pabrik tak langsung departemen
kepada departemen-departemen yang menikmatinya.
 Alokasi biaya overhead pabrik adalah pembagian biaya overhead pabrik
departemen pembantu ke departemen produksi, atau dari departemen pembantu ke
departemen pembantu yang lain dan departemen produksi.

Penganggaran Perusahaan 47
 Pembebanan biaya overhead pabrik adalah pembagian biaya overhead pabrik
kepada produk.
1.2 Ilustrasi Anggaran Biaya Overhead Pabrik

1. Perusahaan Maju merencanakan BOP setahun adalah sebagai berikut:


Departemen Kegiatan Jumlah BOP
Produksi 1 Pencetakan Rp 10.000.000
Produksi 2 Penghalusan Rp 5.000.000
Jasa –1 Pembangkit Listrik Rp 2.000.000
Jasa-2 Bengkel Rp 1.000.000

Rencana pemakaian jasa datri seksi 1 dan 2 adalah:


Pemakai Jasa Pemberi Jasa
Jasa - 1 Jasa –2
Departemen Produksi –1 50% 40%
Departemen Produksi –2 30% 50%
Departemen Jasa-1 - 10%
Departemen Jasa-2 20% -
Seksi jasa –1 adalah pembangkit listrik, satuan kegiatannya diukur dengan jumlah Kwh
dalam setahun yang direncanakan sebesar 10.000 Kwh. Seksi Jasa 2 adalah bengkel yang
dalam setahun bekerja 10.000 DRH.

Dari data diatas diminta:

1. Menentukan persamaan yang berlaku untuk kedua seksi jasa masing-masing.


2. Menghitung besarnya BOP netto seksi jasa setelah saling memberi dan menerima jasa
masing-masing.
3. Menentukan tarif per Kwh. Untuk seksi jasa –1 dan per DRH untuk seksi jasa –2.
Penyelesaian:

1. Persamaan yang berlaku utuk masing-masing seksi adalah:


X = a1 + b1Y
Y = a2 + b2X
Dimana:
X = BOP seksi jasa-1 setelah menerima BOP seksi Jasa-2

Penganggaran Perusahaan 48
Y = BOP seksi Jasa-2 setelah menerima BOP seksi Jasa-1
a1 = BOP seksi Jasa-1 sebelum menerima BOP seksi Jasa-2
a2 = BOP seksi jasa-2 sebelum menerima BOP seksi Jasa 1
b1 = Prosentase penggunaan jasa seksi jasa –2 oleh seksi jasa 1
b2 = Prosentase penggunaan jasa seksi jasa-1 oleh seksi jasa –2
Sehingga persamaan menjadi sebagai berikut:
X = 2.000.000 + 0,1 Y
Y = 1.000.000 + 0,2 X

2. BOP netto masing-masing seksi Jasa:

X = 2.000.000 + 0,1 Y
X = 2.000.000 + 0,1 (1.000.000 + 0,2 X)
X = 2.000.000 + 100.000 + 0.02 X
0,98 X = 2.100.000
X = 2.142.857,14
Y = 1.000.000 + 0,2 X
Y = 1.000.000 + 0,2 (2.142.857,14 )
Y = 1.000.000 + 428.571,43
Y = 1.428.571,43

Seksi Jasa-1 Seksi jasa-2

Budget Bop 2.000.000 1.000.000


Menerima 142.857,14 428.571,43
Memberi 428.571,43 142.857,14
BOP. Netto 1.714.285,71 1.285.714,29

3. Tarif BOP masing-masing seksi Jasa:

Tarif BOP seksi Jasa-1 per satuan Kwh adalah =1.714.285,71 / 10.000
= Rp 171,43

Tarif BOP seksi Jasa-2 per satuan DRH. Adalah = 1.285.714,29 / 10.000
= Rp 128,57

2. PT Cermin dalam operasinya produksi membagi bagian produksinya menjadi dua bagian
(Dep Produksi dan Dep Pembantu). Dep Produksi: Dep I, II, dan III sedangkan Dep
Pembantu: seksi administrasi pabrik, seksi bengkel, dan seksi Tenaga Diesel. Untuk
penyusunan BOP 2007 perusahaan menentapkan berbagai standar biaya beserta
alokasinya, yang disusun dalam bentuk variable budget berdasarkan pengalaman dan
beberapa penelitian (diketahui bahwa para tenaga kerja langsung berkerja selama 54.000

Penganggaran Perusahaan 49
JKTKL dan untuk Dep I: 27.000 JKTKL, Dep II : 16.200 JKTKL, dan Dep III : 10.800
JKTKL Januari s.d April 2007 sebagai berikut:
PT Cermin
Variabel Budget
Dep Administrasi dan Umum
(Januari s.d April 2007)
Keterengan Unsur Tetap per bulan Unsur Variabel
Jumlah Unit aktivitas
Pemeliharaan Gedung Rp100.000 Rp5.00 JKTKL
Listrik 350.000
Depresiasi Gedung 300.000

PT Cermin
Variabel Budget
Dep Pembantu
(Januari s.d April 2007)
Keterengan Unsur Tetap per bulan Unsur Variabel
Jumlah Unit aktivitas
Administrasi Pabrik
0B

Gaji tenaga kerja Rp160.000


Bahan pembantu - Rp0.50 JKTKL
Pemeliraan alat-alat 15.000 0.25 JKTKL
Depresiasi alat-alat 40.000 -
Bengkel
1B

Gaji tenaga kerja Rp430.000


Bahan pembantu - 0.75 JKTKL
Pemeliraan alat-alat 60.000 2.50 JKTKL
Depresiasi alat-alat 170.000
Tenaga Diesel
2B

Gaji tenaga kerja Rp350.000 - -


Bahan pembantu - 4.50 JKTKL
Pemeliraan alat-alat 75.000 2.50 JKTKL
Depresiasi alat-alat 200.000 - -

Penganggaran Perusahaan 50
PT Cermin
Variabel Budget
Dep Produksi
(Januari s.d April 2007)
Keterengan Unsur Tetap per bulan Unsur Variabel
Jumlah Unit aktivitas
Departemen I
3B

Gaji tenaga kerja Rp450.000


Bahan pembantu - Rp15.00 JKTKL Dep I
Pemeliraan alat-alat 125.000 10.00 JKTKL Dep I
Depresiasi alat-alat 300.000 -
Departemen I I
4B

Gaji tenaga kerja Rp400.000


Bahan pembantu - 12.50 JKTKL Dep II
Pemeliraan alat-alat 100.000 7.50 JKTKL Dep II
Depresiasi alat-alat 250.000
Departemen III
5B

Gaji tenaga kerja Rp120.000 - -


Bahan pembantu - 10.00 JKTKL Dep III
Pemeliraan alat-alat 50.000 5.00 JKTKL Dep III
Depresiasi alat-alat 150.000 - -

Biaya pemeliharaan gedung untuk seluruh gedung, sehingga merupakan “biaya bersama”
maka dialokasikan dengan perbandingan luas lantai: Dep Produksi (pabrik) 70%, Dep
Administrasi dan Umum 10% dan Dep Penjualan 20%. Khusus di Dep Pabrik dialokasikan:
1) Administrasi pabrik sebesar 5%
2) Bengkel sebesar 15%
3) Tenaga Diesel sebesar 15%
4) Dep I sebesar 25%
5) Dep II sebesar 20%
6) Dep III sebesar 20%
Biaya listrik merupakan “biaya bersama” maka dialokasikan dengan perbandingan
penggunaan watt (Kwh): Dep Produksi (pabrik) 40%, Dep Administrasi dan Umum 30%
dan Dep Penjualan 30%. Khusus di Dep Pabrik dialokasikan:
1) Administrasi pabrik sebesar 10%
2) Bengkel sebesar 15%
3) Tenaga Diesel sebesar 15%
4) Dep I sebesar 20%
5) Dep II sebesar 20%

Penganggaran Perusahaan 51
6) Dep III sebesar 20%
Biaya Depresiasi gedung merupakan “biaya bersama” maka dialokasikan: Dep Produksi
(pabrik) 65%, Dep Administrasi dan Umum 15% dan Dep Penjualan 20%. Khusus di Dep
Pabrik dialokasikan:
1) Administrasi pabrik sebesar 5%
2) Bengkel sebesar 15%
3) Tenaga Diesel sebesar 15%
4) Dep I sebesar 25%
5) Dep II sebesar 20%
6) Dep III sebesar 20%
Diminta: Budget Biaya Overhead Pabrik (BOP) Januari s.d April 2007
Jawab
PT Cermin
Budget Biaya Overhead Pabrik
(Januari s.d April 2007)

Keterangan Administra Bengkel Tenaga Dep I Dep II Dep III


si Pabrik Diesel
Januari Rp Rp Rp Rp Rp Rp
Gaji tenaga kerja 160.000 430.000 350.000 450.000 400.000 120.000
Bahan pembantu 27.000 40.500 243.000 405.000 202.500 108.000
Pemeliraan alat-alat 28.500 195.000 210.000 395.000 221.500 104.000
Depresiasi alat-alat 40.000 170.000 200.000 300.000 250.000 150.000
Pemeliharaan Gedung 12.950 38.850 38.850 64.750 51.800 51.800
Listrik 14.000 21.000 21.000 28.000 28.000 28.000
Depresiasi Gedung 9.750 29.250 29.250 48.750 39.000 39.000

Bahan pembantu:
Administrasi pabrik =54.000 x Rp0.50 =Rp27.000
Bengkel = 54.000 x Rp0.75 =Rp40.500
Tenaga Diesel =54.000 x Rp4.50 =Rp243.000
Dep I = 27.000 x Rp15.00 =Rp405.000
Dep II = 16.200 x Rp12.50 =Rp202.500
Dep III = 10.800x Rp10.00 =Rp108.000
Pemeliharaan alat-alat:
Administrasi pabrik =15.000+(Rp0.25 x 54.000) =Rp28.500
Bengkel = 60.000+(Rp2.50 x 54.000) =Rp195.000
Tenaga Diesel = 75.000+(Rp2.50 x 54.000) =Rp210.000
Dep I = 125.000+(Rp10 x 27.000) =Rp395.00
Dep II = 100.000+(Rp7.50 x 16.200) =Rp221.500
Dep III = 50.000+(Rp5,00 x 10.800) =Rp104.000
Pemeliharaan Gedung:
100.000 + (Rp5,00 x 54.000) = Rp370.000 == 70% x Rp370.000 = Rp259.000  Administrasi pabrik =
5% x Rp259.000 = Rp12.950
Bengkel = 15% x Rp259.000 = Rp38.850
Tenaga Diesel = 15% x Rp259.000 = Rp38.850
Dep I = 25% x Rp259.000 = Rp64.750

Penganggaran Perusahaan 52
Dep II = 20% x Rp259.000 = Rp51.800
Dep III = 20% x Rp259.000 = Rp51.800
Listrik:
40% x Rp350.000 = Rp140.000 
Administrasi pabrik = 10% x Rp140.000 = Rp14.000
Bengkel = 15% x Rp140.000 = Rp21.000
Tenaga Diesel = 15% x Rp140.000 = Rp21.000
Dep I = 20% x Rp140.000 = Rp28.000
Dep II = 20% x Rp140.000 = Rp28.000
Dep III = 20% x Rp140.000 = Rp28.000
Depresiasi Gedung
65% x Rp300.000 = Rp195.000 =
Administrasi pabrik = 5% x Rp195.000 = Rp9.750
Bengkel = 15% x Rp195.000 = Rp29.250
Tenaga Diesel = 15% x Rp195.000 = Rp29.250
Dep I = 25% x Rp195.000 = Rp48.750
Dep II = 20% x Rp195.000 = Rp39.000
Dep III = 20% x Rp195.000 = Rp39.000

Rangkuman
Biaya overhead pabrik adalah biaya-biaya dalam pabrik yang dikeluarkan
perusahaan dalam rangka proses produksi, kecuali biaya bahan baku langsung dan biaya
tenaga kerja langsung.
Kapasitas yang dipergunakan sebagai dasar penyususnan anggaran BOP.
 Kapasitas praktis, adalah kapasitas teoritis yaitu kapasitas pabrik untuk
menghasilkan produk pada kecepatan penuh, tanpa berhenti selama jangka waktu
tertentu dikurangi dengan kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena
hambatan intern perusahaan.
 Kapasitas normal, adalah kemampuan perusahaan berproduksi dan menjual
produknya dalam jangka panjang.
 Kapasitas sesungguhnya yang diharapkan, adalah kapasitas sesungguhnya yang
diperkirakan akan dapat dicapai dalam periode yang akan datang.
Istilah-istilah pokok dalam biaya overhead pabrik:
 Distribusi BOP. adalah pembagian biaya overhead pabrik tak langsung departemen
kepada departemen-departemen yang menikmatinya.
 Alokasi biaya overhead pabrik adalah pembagian biaya overhead pabrik
departemen pembantu ke departemen produksi, atau dari departemen pembantu ke
departemen pembantu yang lain dan departemen produksi.
 Pembebanan biaya overhead pabrik adalah pembagian biaya overhead pabrik
kepada produk.

Penganggaran Perusahaan 53
Uji Kompetensi
PT. Makmur Jaya memiliki data:
a. Biaya overhead pabrik
Departemen Sifat Juml.Biaya Tingkat Kegiatan
Penggilingan Produksi 12.000.000,00 12.500 DMH
Penyelesaian Produksi 6.000.000,00 6.000 DLH
Bengkel Jasa 3.000.000,00 1.000 DRH
Diesel Jasa 1.500.000,00 1.000 DRH

b. Penggunaan hasil kegiatan departemen jasa


Pemberi Jasa Penggilingan Penyelesaian Bengkel Diesel
Dept.Bengkel 40% 40% - 20%
Dept. Diesel 50% 40% 10% -

Berdasarkan data diatas hitung :


1. BOP. Netto masing-masing departemen jasa
2. Jumlah BOP keseluruhan masing-masing departemen produksi
3. Tarip BOP masing-masing dept. Produksi untuk setiap satuan kegiatan

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.
Rudianto, 2010, Anggaran Perusahaan, Erlangga.

Penganggaran Perusahaan 54
Kerangka Isi
Anggaran Piutang

Pengertian Anggaran Piutang

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anggaran Piutang

Bentuk Anggaran Piutang

Ilustrasi Anggaran Piutang

Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian anggaran piutang, faktor-faktor yang
mempengaruhi anggaran piutang, bentuk anggaran piutang, ilustrasi anggaran piutang.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

1.1 Konsep–Konsep Anggaran Piutang


1. Pengertian Anggaran Piutang
Anggaran piutang (receivable budget): adalah budget yang merencanakan lebih
terperinci tentang jumlah piutang perusahaan beserta perubahan-perubahannya dari
waktu ke waktu selama perode yang akan datang.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, budget piutang menunjukan besarnya piutang
terjadi dari waktu ke waktu karena perusahaan mengadakan transaksi-transaksi
penjualan kredit, menunjukan jumlah piutang yang tertagih dari waktu ke waktu, serta
menunjukan pula sisa piutang yang belum tertagih dari waktu ke waktu selama periode
yang akan datang.

Penganggaran Perusahaan 55
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anggaran Piutang
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran piutang dalam penyusunan
anggaran piutang, yaitu:
1. Anggaran penjualan
2. Keadaan persaingan di pasar
3. Posisi perusahaan dalam persaingan
4. Syarat pembayaran yang ditawarkan perusahaan
5. Kebijaksanaan perusahaan dalam penagihan piutang
6. Rencana perusahaan untuk melakukan penjualan-penjualan secara kredit aktiva-
aktiva lain, selain barang-barang hasil produksinya.
3. Bentuk Anggaran Piutang
Sebagaimana halnya dengan anggaran-anggaran yang lain, untuk anggaran piutang juga
tidak mempunyai suatu bentuk standar yang harus dipergunakan. Ini berarti masing-
masing perusahaan mempunyai kebebasan untuk menentukan bentuk serta formatnya,
sesuai dengan keadaan perusahaan masing-masing.

1.2 Ilustrasi Anggaran Piutang


PT Mayura untuk mencapai target penjualan pada tahun 2003 sebagaimana telah
disusun dalam anggaran penjualan. Perusahaan menetapkan syarat pembayaran 4/10, n/30.
Berdasarkan pengalaman diwaktu yang lalu dengan syarat pembayaran seperti itu,
diperkirakan transaksi-transaksi penjualan yang terjadi dapat dikelompokan sebagai berikut:
1. Sebesar 40% dari transaksi penjualan, dilakukan secara tunai, sehingga diberikan
potongan penjualan
2. Sebesar 20% dari transaksi penjualan, dilakukan secara kredit dengan pelunasan
yang dilakukan pada bulan yang sama dengan bulan terjadinya transaksi penjualan
tersebut, dan sebelum batas waktu 10 hari, sehingga akan menerima potongan
penjualan.
3. Sebesar 30% dari transaksi penjualan, dilakukan secara kredit dengan pelunasan
yang dilakukan pada bulan yang sama dengan bulan terjadinya transaksi penjualan
tersebut, tetapi sudah batas waktu 10 hari, sehingga tidak akan diberikan potongan
penjualan.

Penganggaran Perusahaan 56
4. Sebesar 10% dari transaksi penjualan, dilakukan secara kredit dengan pelunasan
yang dilakukan satu bulan sesudah terjadinya transaksi penjualan tersebut, dan
sesudah batas waktu 10 hari, sehingga tidak akan diberikan potongan.

Dengan demikian, misalnya ringkasan anggaran penjualan tahun 2003 yang akan datang
sebagai berikut: PT Mayura
Anggaran Penjualan
Januari – Desember 2003

Keterangan Jumlah
Januari Rp 48,120,000.00
Pebruari Rp 55,440,000.00
Maret Rp 61,500,000.00
April Rp 69,130,000.00
Mei Rp 68,140,000.00
Juni Rp 65,140,000.00
Juli Rp 62,140,000.00
Agustus Rp 64,680,000.00
September Rp 69,590,000.00
Oktober Rp 72,400,000.00
Nopember Rp 74,350,000.00
Desember Rp 75,500,000.00
Dari data di atas, maka dapat disusun skedul penerimaan piutang sebagai berikut:
PT Mayura
Skedul penerimaan piutang
Januari – Desember 2003

Penerimaan piutang
Bulan Januari Pebruari Maret April Piutang Neto
Desember 4500000 4500000
Januari 23675040 4812000 28487040
Pebruari 27276480 5544000 32820480
Maret 30258000 6150000 36408000
April 34011960 40924960
Jumlah 28175040 32088480 35802000 40161960

Penerimaan piutang
Bulan Mei Juni Juli Agusrtus Piutang Neto
April 6913000 40924960
Mei 33524880 6814000 40338880
Juni 32048880 6514000 38562880
Juli 30572880 6214000 36786880
Agustus 31822560 38290560
Jumlah 40437880 38862880 37086880 38036560

Penganggaran Perusahaan 57
Penerimaan piutang
Bulan September Oktober Nopember Desember Piutang neto
Agustus 6486000 38290560
September 34238280 6959000 41197280
Oktober 35620800 7240000 42860800
Nopember 36580200 7435000 44015200
Desember 37146000 44696000
Jumlah 40724280 42579800 43820200 44581000

Dari skedul penerimaan piutang tersebut dapat diketahui besarnya piutang neto yang terjadi
dari bulan ke bulan sebagai akibat terjadinya penjualan kredit, serta dapat diketahui jumlah
penerimaan piutang dari bulan ke bulan selama tahun 2003. Atas dasar skedul penerimaan
piutang dapat disusun anggaran piutang PT Mayura sebagai berikut:
PT Mayura
Anggaran Piutang
Januari – Desember 2003
Keterangan Piutang awal Tambahan piutang Jumlah piutang Penerimaan piutang Piutang Neto
Januari 4500000 28487040 32987040 28175040 4812000
Pebruari 4812000 32820480 37632480 32088480 5544000
maret 5544000 36408000 41952000 35802000 6150000
April 6150000 40924960 47074960 40161960 6913000
Mei 6913000 40338880 47251880 40437880 6814000
Juni 6814000 38562880 45376880 38862880 6514000
Juli 6514000 36786880 43300880 37086880 6214000
Agustus 6214000 38290560 44504560 38036560 6468000
September 6468000 41197280 47665280 40706280 6959000
Oktober 6959000 42860800 49819800 42579800 7240000
Nopember 7240000 44015200 51255200 43820200 7435000
Desember 7435000 44696000 52131000 44581000 7550000

Rangkuman
Anggaran piutang (receivable budget): adalah budget yang merencanakan lebih
terperinci tentang jumlah piutang perusahaan beserta perubahan-perubahannya dari waktu
ke waktu selama periode yang akan datang
Faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran piutang dalam penyusunan anggaran
piutang, yaitu:
1. Anggaran penjualan
2. Keadaan persaingan di pasar
3. Posisi perusahaan dalam persaingan
4. Syarat pembayaran yang ditawarkan perusahaan

Penganggaran Perusahaan 58
5. Kebijaksanaan perusahaan dalam penagihan piutang
6. Rencana perusahaan untuk melakukan penjualan-penjualan secara kredit aktiva-
aktiva lain, selain barang-barang hasil produksinya.

Uji Kompetensi
1. PT Taruna menyediakan data untuk tahun 2003 dibagi menurut bulanan dan triwulan
sebagai berikut:
Rencana penjualan (rata-rata 75% penjualan tunai) adalah:
Januari Rp2.700.000,- Triwulan II Rp7.500.000,-
Pebruari Rp2.550.000,- Triwulan III Rp6.900.000,-
Maret Rp2.550.000,- Triwulan IV Rp9.000.000,-
Pola pengumpulan piutang penjualan:
Bulanan Triwulan
80% pada bulan penjualan 90% pada triwulan penjualan
15% sebulan sesudahnya 10% satu triwulan sesudahnya
5% dua bulan sesudahnya
Saldo awal:
 Piutang Rp600.000,-
Yang akan ditagih pada triwulan II Rp150.000,-
Triwulan IV Rp210.000,-
 Piutang ragu-ragu Rp210.000,-
Cadangan untuk piutang tak tertagih diperkirakan rata-rata 1% dari penjualan kredit,
dibulatkan ke dalam ratusan rupiah.
Diminta : Susunlah anggaran pengumpulan piutang tahun 2003

2. PT Sariwangi menyediakan data untuk tahun 2003 dibagi menurut bulanan dan triwulan
sebagai berikut:
Rencana penjualan tahun 2003 adalah:
Januari Rp2.000.000,- Triwulan II Rp8.000.000,-
Pebruari Rp2.500.000,- Triwulan III Rp7.000.000,-
Maret Rp3.000.000,- Triwulan IV Rp7.500.000,-
Penjualan kredit 50% dari penjualan seluruhnya.
Piutang tak tertagih kira-kira 1% dari penjualan kredit.

Penganggaran Perusahaan 59
Pola pengumpulan piutang penjualan:
a. Bulanan: 80% pada bulan penjualan, 15% sebulan sesudahnya, dan 5% dua bulan
sesudahnya
b. Triwulan: 90% pada triwulan penjualan, dan 10% satu triwulan sesudahnya
☼ Diminta: Dengan data di atas, buatalah anggaran pengumpulan piutang selama setahun.

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.
Rudianto, 2010, Anggaran Perusahaan, Erlangga.

Penganggaran Perusahaan 60
Kerangka Isi Anggaran Utang

Pengertian Anggaran Utang

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anggaran Utang

Bentuk Anggaran Utang

Ilustrasi Anggaran Utang


Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian anggaran utang, faktor-faktor yang mempengaruhi
anggaran utang, bentuk anggaran utang, ilustrasi anggaran utang.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

1.1 Konsep–Konsep Anggaran Utang


1. Pengertian Anggaran Utang
Anggaran utang (payable budget): adalah budget yang merencanakan secara lebih
terperinci tentang jumlah utang perusahaan beserta perubahan-perubahannya dari waktu
ke waktu selama periode yang akan datang.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, budget utang menunjukan besarnya utang
terjadi dari waktu ke waktu karena perusahaan mengadakan transaksi-transaksi
pembelian kredit, menunjukan jumlah utang yang dibayar dari waktu ke waktu, serta
menunjukan pula sisa utang yang belum dibayar dari waktu ke waktu selama periode
yang akan datang.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anggaran Utang
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penyusunan anggaran utang, yaitu:
1. Anggaran pembelian bahan baku secara kredit

Penganggaran Perusahaan 61
2. Syarat pembayaran yang ditawarkan perusahaan
3. Kebijaksanaan perusahaan dalam pembayaran utang
3. Bentuk Anggaran Utang
Sebagaimana halnya dengan anggaran-anggaran yang lain, untuk anggaran utang juga
tidak mempunyai suatu bentuk standar yang harus dipergunakan. Ini berarti masing-
masing perusahaan mempunyai kebebasan untuk menentukan bentuk serta formatnya,
sesuai dengan keadaan perusahaan masing-masing.

1.2 Ilustrasi Anggaran Utang


Berdasarkan syarat pembayaran yang ditawarkan oleh suplier bahan mentah untuk
tahun 2003, yaitu: 5/10, n/30. PT Mayura menetapkan kebijaksanaan pembelian bahan
mentah sebagai berikut:
1. Sebesar 40% dari transaksi pembelian, dilakukan secara tunai, sehingga menerima
potongan pembelian
2. Sebesar 20% dari transaksi pembelian, dilakukan secara kredit dengan pelunasan
yang dilakukan pada bulan yang sama dengan bulan terjadinya transaksi pembelian
tersebut, dan sebelum batas waktu 10 hari, sehingga akan menerima potongan
pembelian.
3. Sebesar 30% dari transaksi pembelian, dilakukan secara kredit dengan pelunasan
yang dilakukan pada bulan yang sama dengan bulan terjadinya transaksi pembelian
tersebut, tetapi sudah batas waktu 10 hari, sehingga tidak akan menerima potongan
pembelian.
4. Sebesar 10% dari transaksi pembelian, dilakukan secara kredit dengan pelunasan
yang dilakukan satu bulan sesudah terjadinya transaksi pembelian tersebut, dan
sesudah batas waktu 10 hari, sehingga tidak akan menerima potongan pembelian.
Dengan demikian, misalnya anggaran pembelian bahan mentah tahun 2003 sebagai berikut:

Penganggaran Perusahaan 62
PT Mayura
Anggaran pembelian bahan mentah
Tahun 2003 (Rupiah)

Jenis bahan mentah


Bulan A B C Jumlah
Januari 7800000 9120000 2250000 19170000
Pebruari 8600000 10500000 2550000 21650000
Maret 9400000 11400000 2850000 23650000
April 10200000 12330000 2775000 25305000
Mei 12625000 14525000 3800000 30950000
Juni 12375000 13825000 3900000 30100000
Juli 12750000 14175000 4000000 30925000
Agustus 12750000 14350000 4200000 31300000
September 15450000 16800000 5125000 37375000
Oktober 15360000 16600000 4500000 36460000
Nopember 15660000 15680000 4375000 35715000
Desember 15120000 16640000 5200000 36960000

Skedul pembayaran utang


Pembayaran utang
Bulan transaksi Januari Pebruari Maret April Utang neto
Desember 1800000 1800000
Januari 9393300 1917000 11310300
Pebruari 10608500 2165000 12773500
Maret 11588500 2365000 13953500
April 12399450 14929950
Jumlah 11193300 12525500 13753500 14764450

Pembayaran utang
Bulan transaksi Mei Juni Juli Agustus Utang neto
April 2530500 14929950
Mei 15165500 3095000 18260500
juni 14749000 3010000 17759000
Juli 15153250 3092500 18245750
Agustus 15337000 18467000
Jumlah 17696000 17844000 18163250 18429500

Pembayaran utang
Bulan Transaksi September Oktober Nopember Desember Utang neto
Agustus 3130000 18467000
September 18313750 3737500 22051250
Oktober 17865400 3646000 21511400
Nopember 17500350 3571500 21071850
Desember 18110400 21806400
Jumlah 21443750 21602900 21146350 21681900

Penganggaran Perusahaan 63
Atas dasar skedul pembayaran utang di atas, maka dapat disusun anggaran utang untuk
tahun 2003 sebagai berikut:
PT Mayura
Anggaran Utang Tahun 2003
(Rupiah)
Bulan Utang awal Tambahan utang Jumlah utang Pemayaran utang Utang akhir
Januari 1800000 11310300 13110300 11193300 1917000
Pebruari 1917000 12773500 14690500 12525500 2165000
Maret 2165000 13953500 16118500 13753500 2365000
April 2365000 14929950 17294950 14764450 2530500
Mei 2530500 18260500 20791000 17696000 3095000
Juni 3095000 17759000 20854000 17844000 3010000
Juli 3010000 18245750 21255750 18163250 3092500
Agusutus 3092500 18467000 21559500 18429500 3130000
September 3130000 22051250 25181250 21443750 3737500
Oktober 3737500 21511400 25248900 21602900 3646000
Nopember 3646000 21071850 24717850 21146350 3571500
Desember 3571500 21806400 25377900 21681900 3696000

Rangkuman
Anggaran utang (payable budget): adalah budget yang merencanakan secara lebih
terperinci tentang jumlah utang perusahaan beserta perubahan-perubahannya dari waktu ke
waktu selama periode yang akan datang
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penyusunan anggaran utang, yaitu:1) Anggaran
pembelian bahan baku secara kredit, 2) Syarat pembayaran yang ditawarkan perusahaan, 3)
Kebijaksanaan perusahaan dalam pembayaran utang

Uji Kompetensi
☼ Data berikut ini tersedia pada PT Melati tahun 2003 sebagai berikut:

Penganggaran Perusahaan 64
PT Melati
Anggaran pembelian bahan mentah
Tahun 2003 (Rupiah)

Syarat pembayaran yang ditawarkan oleh suplier bahan mentah untuk tahun 2003, yaitu:
4/10, n/30. PT Mayura menetapkan kebijaksanaan pembelian bahan mentah sebagai berikut:
1. Sebesar 30% dari transaksi pembelian, dilakukan secara tunai, sehingga menerima
potongan pembelian
2. Sebesar 30% dari transaksi pembelian, dilakukan secara kredit dengan pelunasan
yang dilakukan pada bulan yang sama dengan bulan terjadinya transaksi pembelian
tersebut, dan sebelum batas waktu 10 hari, sehingga akan menerima potongan
pembelian.
3. Sebesar 30% dari transaksi pembelian, dilakukan secara kredit dengan pelunasan
yang dilakukan pada bulan yang sama dengan bulan terjadinya transaksi pembelian
tersebut, tetapi sudah batas waktu 10 hari, sehingga tidak akan menerima potongan
pembelian.
4. Sebesar 10% dari transaksi pembelian, dilakukan secara kredit dengan pelunasan
yang dilakukan satu bulan sesudah terjadinya transaksi pembelian tersebut, dan
sesudah batas waktu 10 hari, sehingga tidak akan menerima potongan pembelian.
♣ Diminta: 1. Buatlah Skedul pembayaran utang
2. Buatlah Anggaran utang

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE

Penganggaran Perusahaan 65
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.
Rudianto, 2010, Anggaran Perusahaan, Erlangga.

Penganggaran Perusahaan 66
Kerangka Isi
Anggaran Kas

Pengertian Anggaran Kas

Tujuan Anggaran Kas

Tahap Penyusunan Anggaran Kas

Anggaran Penerimaan dan Pengeluaran Kas

Skedul Transaksi Finansial (Penerimaan Pinjaman dan


Pembayaran Pinjaman dan Bunga)

Ilustrasi Anggaran Kas

Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian anggaran kas, tujuan anggaran kas, tahap
penyusunan anggaran kas, anggaran penerimaan dan pengeluaran kas, skedul transaksi
finansial (penerimaan pinjaman dan pembayaran pinjaman dan bunga), ilustrasi anggaran
kas.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

1.1 Konsep–Konsep Anggaran Kas


1. Pengertian Anggaran Kas (Budget Kas)
Anggaran Kas (Budget Kas): (Soemarso SR: 1986) adalah proyeksi penerimaan dan
pengeluaran selama periode tertentu di masa datang serta saldo yang ada pada awal serta
akhir periode tersebut.

Penganggaran Perusahaan 67
Anggaran Kas (Budget Kas): (Indriyo Gitosudarmo, Basri: 1992) adalah
perkiraan/estimasi terhadap posisi kas pada suatu saat tertentu dalam satu periode
tertentu yang akan datang.
Anggaran Kas (Budget Kas): (Riyanto Bambang: 2000) adalah estimasi terhadap posisi
kas untuk suatu periode tertentu yang akan datang.
2. Tujuan Anggaran Kas (Budget Kas)
Tujuan Anggaran Kas (Budget Kas) yaitu:
a. Untuk mengetahui kemungkinan posisi kas sebagai hasil rencana operasi
perusahaannya
b. Untuk mengetahui kemungkinan adanya saldo kas defisit atau surplus kas dari
rencana operasi dan non operasional.
c. Untuk mengetahui besarnya kebutuhan dan beserta saat-saat kapan dana itu
dibutuhkan untuk menutupi defisit kas.
d. Untuk mengetahui saat-saat dana itu diinvestasikan pada kegiatan lain bila
ternyata terjadi saldo kas yang relatif tinggi.
e. Sebagai penentu saat-saat kredit harus dibayar kembali.
f. Sebagai dasar permintaan kredit kepada lembaga-lembaga keuangan.
g. Sebagai dasar dalam pengendalian posisi kas yang sedang berjalan.
3. Tahap Penyusunan Anggaran Kas (Budget Kas)
Dalam penyusunan anggaran kas, akan meliputi tahap-tahap, yaitu:
a. Menyusun estimasi/perkiraan penerimaan kas baik dari kegiatan operasional
perusahaan maupun nonoperasional, dengan rincian sesuai dengan aliran kas
masuk.
b. Menyusun estimasi/perkiraan pengeluaran kas baik dari kegiatan operasional
perusahaan maupun nonoperasional, dengan rincian sesuai dengan aliran kas
keluar.
c. Menghitung selisih antara perkiraan penerimaan kas dan perkiraan pengeluaran
kas dan diketahui adanya saldo kas surplus atau defisit pada suatu saat tertentu
dalam satu periode yang akan datang.
d. Apabila terjadi saldo kas yang berlebihan/surplus kemudian direncanakan untuk
investasi atau kegiatan lain untuk menghindari terjadinya kas yang menganggur
(idle cash).

Penganggaran Perusahaan 68
e. Apabila terjadi defisit kas maka akan diperkirakan besarnya kebutuhan dana
yang akan dipenuhi dari kredit pada lembaga-lembaga di luar perusahaan dan
perkiraan pembayaran kembali kredit pinjamannya.
f. Menyusun kembali perkiraan keseluruhan penerimaan dan pengeluaran kas
setelah adanya transaksi finansial baik penanaman investasi maupun perencanaan
kredit dari pihak lain. Hasil aktivitas penyusunan kembali ini merupakan
anggaran kas yang sempurna.
4. Anggaran Penerimaan dan Pengeluaran Kas
Anggaran penerimaan kas
Anggaran penerimaan kas / aliran kas masuk, meliputi:
a. Hasil penjualan produk/jasa perusahaan secara tunai.
b. Penagihan piutang dari penjualan kredit
c. Penjualan aktiva tetap yang ada
d. Penanaman investasi dari pemilik atau pemilik saham bila perseroan terbatas.
e. Pinjaman utang dari pihak lain.
f. Penerimaan sewa dan pendapatan lain-lain.
Anggaran pengeluaran kas/aliran kas keluar, meliputi:
a. Pengeluaran biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya pabrik lain-lain
(overhead).
b. Pengeluaran biaya administrasi umum dan administrasi penjualan.
c. Untuk pembelian aktiva tetap.
d. Pembayaran kembali utang-utang perusahaan
e. Pembayaran kembali investasi dari pemilik perusahaan
f. Pembayaran sewa, pajak, deviden, bunga, dan pengeluaran lain-lain.
5. Skedul Transaksi Finansial (Penerimaan Pinjaman dan Pembayaran Pinjaman
dan Bunga).

Dari hasil membandingkan estimasi penerimaan kas dengan pengeluaran kas dapat
diketahui terjadi kas lebih (surplus) atau kurang defisit, bila terjadi surplus maka tugas
pimpinan perusahaan untuk memanfaatkan sebaik-baiknya kas lebih dalam perusahaan,
misalnya: membeli surat-surat berharga, deposito berjangka dan lain sebagainya.
Sebaliknya, bila terjadi defisit maka tugas pimpinan perusahaan untuk mendapatkan
pembelanjaan atas kekurangan kas ini, misalnya: penerimaan pinjaman. Berhubungan

Penganggaran Perusahaan 69
dengan penerimaan pinjaman ini, dibuatkan skedul penerimaan pinjaman dan pembayaran
pinjaman dan bunga.
Untuk keperluan penyusunan skedul penerimaan pinjaman dan pembayaran pinjaman dan
bunga diperlukan data tambahan seperti:
a. Estimasi saldo kas tahun sebelumnya.
b. Persediaan kas minimum (besi).
c. Penerimaan pinjaman dan pembayaran pinjaman dan bunga.

1.2 Ilustrasi Anggaran Kas


Data berikut terdapat pada PT YUDA selama 6 bulan pertama tahun 2003, yaitu:
 Estimasi Penerimaan
1. Hasil penjualan tunai: Januari Rp400.000,- Pebruari Rp500.000,- Maret Rp730.000,-
April Rp960.000,- Mei Rp800.000,- Juni Rp900.000,-
2. Penerimaan piutang: Januari Rp400.000,- Pebruari Rp500.000,- Maret Rp650.000,-
April Rp760.000,- Mei Rp660.000,- Juni Rp670.000,-
3. Penerimaan lain-lain: Januari Rp200.000,- Pebruari Rp200.000,- Maret Rp220.000,-
April Rp180.000,- Mei Rp140.000,- Juni Rp124.000,-
 Estimasi Pengeluaran
1. Pembelian bahan mentah secara tunai: Januari Rp600.000,- Pebruari Rp600.000,-
Maret Rp500.000,- April Rp550.000,- Mei Rp600.000,- Juni Rp600.000,-
2. Pembayaran upah buruh: Januari Rp250.000,- Pebruari Rp250.000,- Maret
Rp200.000,- April Rp250.000,- Mei Rp250.000,- Juni Rp300.000,-
3. Biaya penjualan: Januari Rp200.000,- Pebruari Rp300.000,- Maret Rp200.000,-
April Rp200.000,- Mei Rp250.000,- Juni Rp230.000,-
4. Biaya administrasi dan umum: Januari Rp350.000,- Pebruari Rp350.000,- Maret
Rp400.000,- April Rp400.000,- Mei Rp400.000,- Juni Rp420.000,-
5. Pembayaran pajak bulan Maret Rp100.000,-
 Setelah dibandingkan estimasi penerimaan kas dan estimasi pengeluaran kas selama 6
bulan pertama tahun 2003, yaitu: Januari defisit Rp 400.000,- Pebruari defisit Rp
300.000,- Maret surplus Rp200.000,- April surplus Rp500.000,- Mei surplus
Rp100.000,- dan Juni surplus Rp144.000,-

Penganggaran Perusahaan 70
 Untuk menutup defisit 2 bulan tersebut diputuskan meminjam pada Bank Mandiri yaitu
Bulan Januari sebesar Rp360.000,- dan Pebruari Rp sebesar Rp330.000,-. Penerimaan
pinjaman pada permulaan bulan dan pembayaran bunga dilakukan pada akhir bulan serta
pembayaran kembali hutang pada permulaan bulan. Bunga bank sebesar 2% per bulan
 Pembayaran kembali kredit tersebut dilakukan bulan April 2003 Rp200.000,- dan
sisanya bulan Mei 2003
 Estimasi saldo kas tahun sebelumnya Rp100.000,-
 Persediaan minimum ditetapkan Rp50.000,-
Dari data di atas dapat disusun anggaran penerimaan dan pengeluaran dan skedul
penerimaan pinjaman dan pembayaran pinjaman dan bunga sebagai berikut:
PT YUDA
Anggaran Penerimaan dan Pengeluaran
Selama Enam Bulan Pertama Tahun 2003
Uraian Januari Pebruari Maret April Mei Juni
II Penerimaan Kas
1.Hasil penjualan tunai 400000 500000 730000 960000 800000 900000
2.Penagihan piutang 400000 500000 650000 760000 660000 670000
3.Penerimaan lain 200000 200000 220000 180000 140000 124000
Jumlah Penerimaan 1000000 1200000 1600000 1900000 1600000 1694000
III Pengeluaran Kas
1.Pembelian bahan baku 600000 600000 500000 550000 600000 600000
2.Pembayaran upah 250000 250000 200000 250000 250000 300000
3.Biaya penjualan 200000 300000 200000 200000 250000 230000
4.Biaya adm & umum 350000 350000 400000 400000 400000 420000
5.Pembayaran pajak 100000
Jumlah pengeluaran 1400000 1500000 1400000 1400000 1500000 1550000
Surplus (defisit) -400000 -300000 200000 500000 100000 144000

PT YUDA
Skedul Penerimaan Pinjaman dan Pembayaran Pinjaman dan Bunga
Selama Enam Bulan Pertama Tahun 2003

Uraian Januari Pebruari Maret April Mei Juni


Saldo kas awal 100000 52800 69000 255200 545400 155400
Terima kredit 360000 330000
Membayar kredit -200000 -490000
Alat likwid tersedia 460000 382800 69000 55200 55400 155400
Surplus (defisit) -400000 -300000 200000 500000 100000 144000
Pembayaran bunga -7200 -13800 -13800 -9800
Saldo kas akhir 52800 69000 255200 545400 155400 299400
Pinjaman kumulatif 360000 690000 690000 490000

Penganggaran Perusahaan 71
Anggaran Kas
Sebagai tahap akhir dalam penyusunan kas adalah penyusunan anggaran kas final, yang
merupakan gabungan dari anggaran penerimaan dan pengeluaran dan skedul penerimaan
pinjaman dan pembayaran pinjaman dan bunga. Untuk memberikan gambaran tentang
anggaran kas final dapat diilustrasikan sebagai berikut:
PT YUDA
ANGGARAN KAS
Semester I tahun 2003

Uraian Januari Pebruari Maret April Mei Juni


I Saldo kas awal 100000 52800 69000 255200 545400 155400
II Penerimaan Kas
1.Hasil penjualan tunai 400000 500000 730000 960000 800000 900000
2.Penagihan piutang 400000 500000 650000 760000 660000 670000
3.Penerimaan kredit 360000 330000
4.Penerimaan lain 200000 200000 220000 180000 140000 124000
Jumlah Penerimaan 1360000 1530000 1600000 1900000 1600000 1694000
Jumlah kas keseluruhan 1460000 1582800 1669000 2155200 2145400 1849400
III Pengeluaran Kas
1.Pembelian bahan baku 600000 600000 500000 550000 600000 600000
2.Pembayaran upah 250000 250000 200000 250000 250000 300000
3.Biaya penjualan 200000 300000 200000 200000 250000 230000
4.Biaya adm & umum 350000 350000 400000 400000 400000 420000
5.Pembayaran bunga 7200 13800 13800 9800
6.Pemayaran pajak 100000
7.Pembayaran hutang bank 200000 490000
Jumlah pengeluaran 1407200 1513800 1413800 1609800 1990000 1550000
IV Saldo Kas akhir 52800 69000 255200 545400 155400 299400

Rangkuman
Anggaran Kas (Budget Kas) adalah perkiraan/estimasi terhadap posisi kas pada suatu
saat tertentu dalam satu periode tertentu yang akan datang.
Dalam penyusunan anggaran kas, akan meliputi tahap-tahap, yaitu:
a. Menyusun estimasi/perkiraan penerimaan kas baik dari kegiatan operasional
perusahaan maupun nonoperasional, dengan rincian sesuai dengan aliran kas masuk.
b. Menyusun estimasi/perkiraan pengeluaran kas baik dari kegiatan operasional
perusahaan maupun nonoperasional, dengan rincian sesuai dengan aliran kas keluar.
c. Menghitung selisih antara perkiraan penerimaan kas dan perkiraan pengeluaran kas
dan diketahui adanya saldo kas surplus atau defisit pada suatu saat tertentu dalam
satu periode yang akan datang.

Penganggaran Perusahaan 72
d. Apabila terjadi saldo kas yang berlebihan/surplus kemudian direncanakan untuk
investasi atau kegiatan lain untuk menghindari terjadinya kas yang menganggur (idle
cash).
e. Apabila terjadi defisit kas maka akan diperkirakan besarnya kebutuhan dana yang
akan dipenuhi dari kredit pada lembaga-lembaga di luar perusahaan dan perkiraan
pembayaran kembali kredit pinjamannya.
f. Menyusun kembali perkiraan keseluruhan penerimaan dan pengeluaran kas setelah
adanya transaksi finansial baik penanaman investasi maupun perencanaan kredit dari
pihak lain. Hasil aktivitas penyusunan kembali ini merupakan anggaran kas yang
sempurna.

Uji Kompetensi
Data berikut terdapat PT Mayura pada tahun 2003 sebagai berikut:
1. Penagihan piutang (Rp000)

2. Penjualan aktiva tetap kwartal II Rp50.000.000


3. Penerimaan hutang jangka panjang kwartal II Rp50.000.000, kwartal III Rp50.000.000,
kwartal IVRp50.000.000

Penganggaran Perusahaan 73
4. Sumber lain berupa: bunga kwartal II Rp4.500.000, kwartal III Rp8.625.000, kwartal IV
Rp10.875.000
Estimasi Pengeluaran
1. Pembayaran hutang dagang kwartal I Rp60.750.000, kwartal II Rp58.841.200, kwartal
III Rp56.593.900, kwartal IV Rp50.678.700
2. Pembayaran upah buruh langsung kwartal I Rp22.144.725, kwartal II Rp22.904.475,
kwartal III Rp19.073.650, kwartal IV Rp19.832.100
3. Pembayaran biaya pabrikase kwartal I Rp86.358.000, kwartal II Rp85.450.000, kwartal
III Rp76.319.000, kwartal IV Rp91.653.000
4. Pembayaran biaya penjualan dan pemasaran kwartal I Rp35.986.000, kwartal II
Rp38.437.000, kwartal III Rp36.502.000, kwartal IV Rp43.075.000
5. Pembayaran biaya adinistrasi dan umum kwartal I Rp103.250.000, kwartal II
Rp104.300.000, kwartal III Rp107.600.000, kwartal IV Rp87.000.000
6. Pembayaran bunga Kwartal III Rp1.500.000, Kwartal IV Rp3.000.000
7. Pembayaran Deviden kwartal II Rp25.000.000, kwartal IV Rp25.000.000
8. Perolehan aktiva tetap kwartal III Rp125.000.000, Kwartal IV Rp125.000.000
Saldo kas per 31 Desember 2002 Rp124.250.250
Saldo kas akhir kwartal I Rp59.206.525, kwartal II Rp50.581.350, kwartal III Rp56.320.300,
kwartal IV Rp54.401.500,
Bila terjadi surplus dilakukan transaksi finasial : deposito berjangka
Bila terjadi defisit dilakukan transaksi finasial : pencairan deposito berjangka
♘ Diminta: Berdasarkan data di atas buatlah anggaran kas

2. PT Taruna menyediakan data untuk tahun 2003 dibagi menurut bulanan dan triwulan
sebagai berikut:
a. Rencana penjualan (rata-rata 75% penjualan tunai ) adalah:
Januari Rp2.700.000,- Triwulan II Rp7.500.000,-
Pebruari Rp2.550.000,- Triwulan III Rp6.900.000,-
Maret Rp2.550.000,- Triwulan IV Rp9.000.000,-
b. Pola pengumpulan piutang penjualan:
Bulanan Triwulan
80% pada bulan penjualan 90% pada triwulan penjualan

Penganggaran Perusahaan 74
15% sebulan sesudahnya 10% satu triwulan sesudahnya
5% dua bulan sesudahnya
c. Saldo awal:
 Piutang Rp600.000,-
Yang akan ditagih pada triwulan II Rp150.000,-
Triwulan IV Rp210.000,-
 Piutang ragu-ragu Rp210.000,-
 Kas Rp450.000,-
d. Cadangan untuk piutang tak tertagih diperkirakan rata-rata 1% dari penjualan kredit,
dibulatkan ke dalam ratusan rupiah.
e. Rencana pembelian aktiva tetap:
Pembelian mesin-mesin : Maret Rp75.000,- Triwulan III Rp180.000,-
Penyisihan dana gedung-gedung: Desember Rp900.000,-
Pembelian peralatan kecil-kecil Pebruari: Rp18.000,-, Triwulan II Rp15.000,-, Triwulan
III Rp15.000,-, dan Triwulan IV Rp21.000,-
f. Pendapatan dan pengeluaran lain-lain:
Waktu Pendapatan lain Pengeluaran lain
Januari Rp60.000,- Rp45.000,-
Pebruari Rp60.000,- Rp30.000,-
Maret Rp45.000,- Rp30.000,-
Triwulan II Rp150.000,- Rp90.000,-
Triwulan III Rp150.000,- Rp90.000
Triwulan IV Rp180.000,- Rp120.000,-
g. Pembelian barang dagangan, yang dibayar satu bulan sesudahnya bulan pembelian
sebagai berikut:
Januari Rp450.000,- Triwulan II Rp1.350.000,-
Pebruari Rp480.000,- Triwulan III Rp1.200.000,-
Maret Rp450.000,- Triwulan IV Rp1.500.000,-
h. Pengeluaran operasional per bulan(termasuk beban penyusutan yang sebulan rata-rata
Rp150.000,-) adalah:
Januari Rp2.100.000,- Triwulan II Rp6.000.000,-
Pebruari Rp2.040.000,- Triwulan III Rp5.250.000,-
Maret Rp2.100.000,- Triwulan IV Rp6.300.000,-
i. Pengeluaran serba-serbi:

Penganggaran Perusahaan 75
Beban asuransi Juni-Oktober masing-masing Rp25.000,-
Pajak kekayaan untuk bulan Juli Rp100.000,-
Bunga bulan Maret, Agustus, dan Nopember masing-masing Rp25.000,-
Deviden untuk bulan Pebruari dan September masing-masing Rp50.000,-
Pajak keuntungan untuk bulan Desember Rp250.000,-
♘ Diminta:
1. Susunlah Anggaran pengumpulan piutang tahun 2003
2. Susunlah Anggaran ikhtisar penerimaan kas menurut sumber-sumber dan waktu
penerimaannya
3. Susunlah Anggaran ikhtisar pengeluaran kas menurut jenis pengeluaran dan
waktunya
4. Susunlah skedul pinjaman yang dibutuhkan
5. Susunlah Anggaran kas tahun 2003

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.
Rudianto, 2010, Anggaran Perusahaan, Erlangga.

Penganggaran Perusahaan 76
Kerangka Isi Laporan Anggaran

Pengertian Laporan Anggaran

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laporan Anggaran

Bentuk Laporan Anggaran

Ilustrasi Laporan Anggaran


Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian laporan anggaran, faktor-faktor yang
mempengaruhi penyusunan laporan anggaran, bentuk laporan anggaran, ilustrasi laporan
anggaran.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

1.1 Konsep–Konsep Laporan Anggaran


1. Pengetian Laporan Anggaran
Laporan anggaran (Budget report): adalah laporan yang sistematis dan terinci tentang
realisasi pelaksanaan anggaran, beserta analisis dan evaluasinya, dari waktu ke waktu
selama periode yang akan datang.
Berdasarkan pengertian laporan anggaran tersebut di atas dapat diketahui bahwa
laporan anggaran menunjukan seberapa jauh apa yang digariskan dalam anggaran telah
dapat direalisasikan dalam pelaksanaannya. Sehingga dapat diketahui apakah terjadi
penyimpangan-penyimpangan antara anggran dengan realisasi yang menguntungkan
atau merugikan dan sekaligus menunjukan faktor-faktor apa yang menyebabkan
penyimpangan-penyimpangan itu.
Dengan diketahui penyimpangan-penyimpangan beserta sebab-sebabnya,
dapatlah dievaluasi apakah kegiatan pelaksanaan anggaran berhasil atau kurang berhasil,

Penganggaran Perusahaan 77
apakah efisien atau kurang efisien. Selanjutnya pimpinan perusahaan menentukan tindak
lanjut untuk periode berikutnya. Bila penyimpangan-penyimpangan yang terjadi
menguntungkan, maka kebijaksanaan diarahkan agar posisi yang menguntungkan
terulang kembali pada periode berikutnya, sebaliknya bila penyimpangan-penyimpangan
merugikan maka kebijaksanaan diarahkan agar posisi merugikan tidak terulang kembali
pada periode berikutnya.
Oleh karena laporan anggaran begitu penting untuk penyusunan kebijaksanaan
tindak lanjut untuk periode-periode berikutnya, maka laporan anggaran perlu disusun
secara teratur (berkala) dengan selang waktu yang tidak terlalu lama. Dengan demikian
laporan anggaran tidak disusun sekaligus pada akhir tahun, menunggu sesudah seluruh
anggaran selesai direalisasi, tetapi hendaknya laporan anggaran disusun beberapa kali
dalam setahun (misalnya: tiga bulan sekali, dua bulan sekali dan sebagainya).
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyusunan Laporan Anggaran
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan laporan anggaran, yaitu:
1. Semua anggaran yang telah disusun oleh perusahaan, khususnya anggaran-anggaran
tentang kegiatan perusahaan selama periode tertentu (operating budget)
2. Semua catatan akuntansi tentan realisasi pelaksanaan anggaran-anggaran yang
bersangkutan.
3. Bentuk Laporan Anggaran
Sebagaimana halnya dengan bentuk anggaran-anggaran, untuk laporan anggaran ini juga
tidak mempunyai suatu bentuk standar yang harus dipergunakan. Ini berarti masing-
masing perusahaan mempunyai kebebasan untuk menentukan bentuk serta formatnya,
sesuai dengan keadaan perusahaan masing-masing.

1.2 Ilustrasi Laporan Anggaran


Berikut ini diberikan beberapa Ilustrasi laporan anggaran:
PT Mayura
Laporan anggaran Penjualan
31 Januari 2003
1. Perbandingan data:
Keterangan Anggaran Realisasi
Unit penjualan 35000 37200
Harga jual/unit Rp400,- Rp380,-
Jumlah penjualan Rp14.000.000,- Rp14.136.000,-

Penganggaran Perusahaan 78
2. Analisis data:
Perbedaan kuantitas= (KR– KB) x HB  (37.200 – 35.000) x Rp400,-  Rp880.000 (naik)
Perbedaan harga = (HR–HB)x KR  (380 – 400) x 37.200  Rp744.000,- (turun)
3. Rekapitulasi:
Perbedaan kuantitas = Rp880.000,- (naik)
Perbedaan harga = Rp744.000,- (turun)
Jumlah perbedaan = Rp136.000,- (naik)
==============
Keterangan: KR = Kuantitas Realisasi
KB = Kuantitas Budget
HB = Harga jual Budget
HR = Harga jual Realisasi
Dari laporan anggaran tersebut, terlihat bahwa bila dipandang dari sudut kuantitas ternyata
realisasi penjualan telah menyimpang dari apa yang gariskan dalam anggaran penjualan,
penyimpangan ini bersifat menguntungkan karena meningkatkan penjualan Rp880.000,-
maka kebijaksanaan diarahkan agar posisi yang menguntungkan terulang kembali pada
periode berikutnya; bila dipandang dari sudut harga jual ternyata realisasi penjualan telah
menyimpang dari apa yang gariskan dalam anggaran penjualan, penyimpangan ini bersifat
merugikan karena menurunkan penjualan Rp744.000,- maka disusun kebijaksanaan tindak
lanjut untuk mencegah terjadi penyimpangan seperti ini.
PT Mayura
Laporan Anggaran Biaya Bahan Mentah
31 Januari 2003
1. Perbandingan data:
Keterangan Anggaran Realisasi
Unit produksi 120.000 124.000
Pemakaian bahan 216.000 kg 235.600 kg
Harga beli/kg Rp20,- Rp18,-
Jumlah biaya Rp4.320.000,- Rp4.240.800,-
2. Analisis data:
Perbedaan kuantitas = (URS–KB)xHB (223.200– 216.000) x Rp20,- = Rp144.000,- (naik)
Perbedaan efisiensi =(KR–URS) x HB (235.600– 223.200) x Rp20,- = Rp248.000,- (naik)
Perbedaan harga = (HR –HB) x KR  (18-20) x 235.600 = Rp471.200,- (turun)
3. Rekapitulasi
Perbedaan kuantitas = Rp144.000,- (naik)

Penganggaran Perusahaan 79
Perbedaan efisiensi = Rp248.000,- (naik)
Perbedaan harga = Rp471.200,- (turun)
Jumlah perbedaan = Rp 79.200,- (turun)
==============
Keterangan: KR = Kuantitas Realisasi
KB = Kuantitas Budget
HB = Harga beli Budget
HR = Harga beli Realisasi
URS = Unit realisasi produksi, dengan standar pemakaian bahan mentah.
Dari laporan anggaran tersebut, terlihat bahwa bila dipandang dari sudut kuantitas ternyata
realisasi pemakaian bahan mentah telah menyimpang dari apa yang gariskan dalam
anggaran biaya bahan mentah, penyimpangan ini bersifat wajar karena meningkatkan
pemakaian bahan mentah Rp144.000,-disebabkan oleh peningkatan unit produksi yang
dihasilkan; bila dipandang dari sudut efisiensi kerja ternyata bagian produksi telah bekerja
secara tidak efisien, sehingga meningkatkan biaya bahan mentah Rp248.000,- pemborosan
biaya sebesar ini merupakan penyimpangan yang merugikan maka disusun kebijaksanaan
tindak lanjut untuk mencegah terjadi penyimpangan seperti itu, bila dipandang dari sudut
harga beli ternyata realisasi biaya bahan mentah telah menyimpang dari apa yang gariskan
dalam anggaran biaya bahan mentah, penyimpangan ini bersifat menguntungkan karena
menurunkan biaya bahan mentah Rp471.200,-
PT Mayura
Laporan Anggaran Upah Tenaga Kerja Langsung
31 Januari 2003
1. Perbandingan data:
Keterangan Anggaran Realisasi
Unit produksi 120.000 124.000
Pemakaian jam kerja 36.000 34.720
Tarif upah/jam Rp400,- Rp410,-
Jumlah upah Rp14.400.000,- Rp14.235.200,-

2. Analisis data:
Perbedaan kuantitas = (URS–KB) xTB (37.200 – 36.000) xRp400,- = Rp 480.000,- (naik)
Perbedaan efisiensi = (KR–URS) xTB  (34.720 – 37.200) x Rp400,- = Rp992.000,-(turun)
Perbedaan tarif = (TR –TB) x KR  (410-400) x 34.720 = Rp347.200,- (naik)
3. Rekapitulasi
Perbedaan kuantitas = Rp480.000,- (naik)
Perbedaan efisiensi = Rp992.000,- (turun)

Penganggaran Perusahaan 80
Perbedaan harga = Rp347.200,- (naik)
Jumlah perbedaan = Rp 164.800,- (turun)
==============
Keterangan: KR = Kuantitas Realisasi
KB = Kuantitas Budget
TB = Tarif Budget
TR = Tarif Realisasi
URS = Unit realisasi produksi, dengan standar pemakaian tenaga kerja langsung.
Dari laporan anggaran tersebut, terlihat bahwa bila dipandang dari sudut kuantitas ternyata
realisasi pemakaian jam tenaga kerja langsung telah menyimpang dari apa yang gariskan
dalam anggaran upah tenaga kerja langsung, penyimpangan ini bersifat wajar karena
meningkatkan upah tenaga kerja langsung Rp480.000,-disebabkan oleh peningkatan unit
produksi yang dihasilkan; bila dipandang dari sudut efisiensi kerja ternyata bagian produksi
telah bekerja secara efisien, sehingga mampu menurunkan upah tenaga kerja langsung
Rp992.000,- penghematan biaya sebesar ini merupakan penyimpangan yang
menguntungkan maka disusun kebijaksanaan tindak lanjut untuk mempertahankan terjadi
penyimpangan seperti itu, bila dipandang dari sudut tarif upah ternyata realisasi upah
tenaga kerja langsung telah menyimpang dari apa yang gariskan dalam anggaran upah
tenaga kerja langsung, penyimpangan ini bersifat merugikan karena menaikan upah tenaga
kerja langsung Rp347.200,- maka disusun kebijaksanaan tindak lanjut untuk mencegah
terjadi penyimpangan seperti ini.
PT Mayura
Laporan Anggaran Biaya Pabrik Tidak Langsung
Biaya Pemeliharaan Alat-alat bagian Bengkel
Departemen Pembantu
31 Januari 2003
1. Perbandingan data:
Keterangan Anggaran Realisasi
Unit produksi X 120.000 124.000
Unit produksi Y 90.000 95.000
Pemakaian jam kerja 54.000 52.770
Unsur biaya tetap Rp60.000,- Rp60.000,-
Unsur biaya variabel Rp2,50,-/jam Rp2,80,-/jam
2. Analisis data:
Perbedaan kuantitas= (URS– KB) x TB  (56.200 – 54.000) x Rp2,50,- = Rp 5.500,- (naik)
Perbedaan efisiensi = (KR– URS) x TB  (52.770 – 56.200) x Rp2,50,- = Rp8.575,- (turun)
Perbedaan tarif = (TR –TB) x KR  (2,80-2,50) x 52.770 = Rp15.831,- (naik)

Penganggaran Perusahaan 81
3. Rekapitulasi
Perbedaan kuantitas = Rp5.500,- (naik)
Perbedaan efisiensi = Rp8.575,- (turun)
Perbedaan harga = Rp15.831,- (naik)
Jumlah perbedaan = Rp 12.756,- (naik)
Dari laporan anggaran tersebut, terlihat bahwa bila dipandang dari sudut kuantitas ternyata
realisasi pemakaian jam tenaga kerja tidak langsung telah menyimpang dari apa yang
direncanakan, sehingga mengakibatkan pula penyimpangan terhadap biaya pemeliharaan
Alat-alat bagian bengkel. Penyimpangan ini bersifat wajar karena meningkatkan biaya
pemeliharaan Alat-alat bagian bengkel Rp5.500,-disebabkan oleh peningkatan unit produk
X dan produk Y yang dihasilkan; bila dipandang dari sudut efisiensi kerja ternyata bagian
produksi telah bekerja secara efisien, sehingga mampu menurunkan biaya pemeliharaan
Alat-alat bagian bengkel Rp8.575,- penghematan biaya sebesar ini merupakan
penyimpangan yang menguntungkan maka disusun kebijaksanaan tindak lanjut untuk
mempertahankan terjadi penyimpangan seperti itu, bila dipandang dari sudut tarif unsur
biaya variabel ternyata realisasi biaya pemeliharaan Alat-alat bagian bengkel telah
menyimpang dari apa yang gariskan dalam anggaran biaya pabrik tidak langsung,
penyimpangan ini bersifat merugikan karena menaikan biaya pemeliharaan Alat-alat
bagian bengkel Rp15.831,- maka disusun kebijaksanaan tindak lanjut untuk mencegah
terjadi penyimpangan seperti ini.
Dengan cara yang sama, perusahaan (PT Mayura) dapat menyusun laporan anggaran
biaya-biaya tidak langsung lainnya.

Rangkuman
Laporan anggaran merupakan laporan anggaran menunjukan seberapa jauh apa
yang digariskan dalam anggaran telah dapat direalisasikan dalam pelaksanaannya. Sehingga
dapat diketahui apakah terjadi penyimpangan-penyimpangan antara anggran dengan
realisasi yang menguntungkan atau merugikan dan sekaligus menunjukan faktor-faktor apa
yang menyebabkan penyimpangan-penyimpangan itu.
Diketahui penyimpangan-penyimpangan beserta sebab-sebabnya, dapatlah
dievaluasi apakah kegiatan pelaksanaan anggaran berhasil atau kurang berhasil, apakah
efisien atau kurang efisien. Selanjutnya pimpinan perusahaan menentukan tindak lanjut

Penganggaran Perusahaan 82
untuk periode berikutnya. Bila penyimpangan-penyimpangan yang terjadi menguntungkan,
maka kebijaksanaan diarahkan agar posisi yang menguntungkan terulang kembali pada
periode berikutnya, sebaliknya bila penyimpangan-penyimpangan merugikan maka
kebijaksanaan diarahkan agar posisi merugikan tidak terulang kembali pada periode
berikutnya.

Uji Kompetensi
1. PT Tirta merasa dirugikan karena selalu saja terjadi penyimpangan dalam realisasi
anggarannya. Perusahaan ingin mengetahui sebab-sebab dari penyimpangan itu. Data
anggaran dan realisasi untuk pembelian serta penggunaan material untuk bulan Nopember
2003 adalah sebagai berikut:
Data pembelian Anggaran Realisasi
Jumlah pembelian 120.000 m 115.000 m
Harga pembelian Rp250,- / m Rp275.- / m
Nilai pembelian Rp30.000.000,- Rp31.625.000,-
Data penggunaan material Anggaran Realisasi
Volume produksi 10.000 satuan 9.500 satuan
Pemakaian 30.000 satuan 33.250 satuan
Nilai Rp7.500.000,- Rp9.143.750,-
☺Atas dasar data di atas, buatlah laporan anggaran:
1. Dari segi aktivitas pembelian material dari Departeman Pembelian
2. Dari segi penggunaan material dari Departemen Produksi.

2. Perusahaan Roti Mawar menjual hasil produksinya di seluruh pulau Jawa. Prusahaan
mengirimkan armada penjualannya kesemua daerah penjualan secara teratur untuk
mengantarkan roti-roti baru dan mengambil roti lama yang tidak terjual sampai batas waktu
tertentu untuk ditukar dengan yang baru. Armada penjualan selain digaji dengan jumlah
tertentu yang tetap setiap bulannya, juga diberikan komisi dengan tarif tertentu sesuai
dengan penjualan riil yang dicapainya. Data yang tersedia di bawah ini hanya menyangkut
penjualan di DIY untuk bulan Januari dan Pebruari 2003 saja.
a. Beban penjualan

Penganggaran Perusahaan 83
Jenis pengeluaran Tetap tiap bulan Variabel setiap Rp1.000 penjualan yang
dicapai
Komisi armada penjualan Rp50,-
Beban perjalanan Rp30,-
Macam-macam beban Rp10,-
Gaji (untuk 2 orang) Rp50.000,-

b. Laporan penjualan dan bebannya


Keterangan Pebruari Januari dan Pebruari
Jumlah penjualan riil Rp3.100.000,- Rp6.400.000,-
Perbedaan dengan anggaran Rp100.000,- Rp100.000,-
Beban penjualan riil Rp340.000,- Rp700.000,-
Perbedaan dengan anggaran Rp2.000,- Rp15.000,-

☺Atas dasar data di atas, buatlah:


1. Laporan penjualan dan variance-nya
2. Laporan beban penjualan dan variance-nya
3. Kesimpulan tentang aktivitas penjualan dalam periode tersebut

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.
Rudianto, 2010, Anggaran Perusahaan, Erlangga.

Penganggaran Perusahaan 84
Kerangka Isi Anggaran Statis dan Anggaran Fleksibel

Pengertian Anggaran Statis dan Anggaran Fleksibel

Rumus Anggaran fleksibel dan Tabel Range Relevan


laporan anggaran
Langkah-Langkah Penyusunan Anggaran fleksibel

Bentuk-Bentuk Anggaran Fleksibel

Ilustrasi Anggaran Fleksibel

Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu menggunakan konsep-konsep ini untuk menyusun anggaran perusahaan
secara komprehensif maupun parsial, dan mampu menggunakan berbagai alat untuk
menganalisis anggaran sehingga dapat mengunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
sekaligus sebagai alat pengendalian perusahaan.
Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian anggaran statis dan anggaran fleksibel, rumus
anggaran fleksibel dan tabel range relevan, langkah-langkah penyusunan anggaran fleksibel,
bentuk-bentuk anggaran fleksibel, ilustrasi anggaran fleksibel.
Indikator Hasil Belajar
Nilai hasil belajar ≥ 70 (tujuh puluh) atau minimum B

1.1 Konsep-Konsep Anggaran Statis dan Anggaran Fleksibel


1. Pengertian Anggaran Statis dan Anggaran Fleksibel
Anggaran Statis (fixed budget) adalah budget yang dibuat untuk satu tingkat kegiatan
(one level of activity) selama jangka waktu tertentu. Misalnya: persentase dari kapasitas,
jumlah produk yang dihasilkan selama jangka waktu tertentu, jumlah jam yang
dikerjakan selama jangka waktu tertentu.
Anggaran Fleksibel (variable budget) adalah suatu anggaran yang dibuat dalam rentang
aktivitas, artinya beberapa aktivitas dipecah-pecahdari suatu rentang yang relevan.
Dengan demikian anggaran fleksibel terdiri dari serangkaian anggaran statis, dengan
masing-masing tingkat yang berlainan.

Penganggaran Perusahaan 85
Anggaran fleksibel dapat digunakan untuk pedoman perencanaan dan pengawasan biaya
pada berbagai tingkat kegiatan. Misalnya: menurut perkiraan selama bulan Maret akan
diproduksi 9.000 unit produksi dan semua biaya proporsional dinggarkan sesuai dengan
jumlah produksi tersebut. Tetapi misalnya ternyata produksi menjadi 10.000 unit.
Akibatnya bila biaya yang terjadi dibandingkan dengan anggaran 9.000 unit maka
penyimpangan tampak begitu besar dan tidak realitis.
Anggaran fleksibel mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Ditujukan ke arah tingkat aktivitas keseluruhan yang berada dalam range relevan
daripada hanya ditunjukkan ke arah satu tingkat aktivitas.
2. Bersifat dinamis daripada statis. Anggaran fleksibel dapat disesuaikan dengan
tingkat aktivitas apapun yang berada dalam range relevan, sekalipun periode sudah
berlalu.
2. Rumus Anggaran fleksibel dan Tabel Range Relevan
Rumus untuk menghitung biaya anggaran fleksibel bagi setiap tingkat produksi adalah:

Besarnya anggaran fleksibel = (Biaya variabel x kuantitas) + biaya tetap

Sebagai ilustrasi: Produksi direncanakan sebesar 8.000 unit. Biaya variabel Rp5.000,00
perunit dan jumlah biaya tetap Rp15.000.000,00. Maka anggaran fleksibel untuk 8.000
unit adalah:

Besarnya anggaran fleksibel = (Rp5.000,00 x 8.000) + Rp15.000.000,00


Rp55.000.000,00

Jika disimak rumus di atas maka biaya tersebut sama dengan persaamaan regresi:

Y=a+bx

Tabel range yang relevan, yaitu: biaya overhead pabrik ini didasarkan atas perkiraan
manajemen bahwa setiap bulan akan diproduksi 1.000 unit.

Biaya overhead pabrik 1.000 unit


Bahan tak langsung variabel Rp 800.000,00
Tenaga kerja langsung varibel Rp1.000.000,00
Perlengkapan variabel Rp 400.000,00
Reparasi variabel Rp 600.000,00

Penganggaran Perusahaan 86
Gas, penerangan dan energi:
Tetap Rp300.000,00
Variabel Rp600.000,00 Rp 900.000,00
Pengawasan tetap Rp 800.000,00
Penyusutan Rp 700.000,00
Sewa pabrik tetap Rp 300.000,00
Jumlah overhead Rpp5.500.000,00
==============
Rpp5.500.000,00
Overhead per unit = = Rp5.500,00
1.000

Pemisahaan Biaya Overhead Varibel dan Tetap

Elemen Varibel Tetap


Bahan tak langsung Rp800.000/1.000 Rp 800,00 -
Tenaga kerja langsung Rp1.000.000/1.000 Rp1.000,00 -
Perlengkapan R400.000/1.000 Rp 400,00 -
Reparasi Rp600.000/1.000 Rp 600,00 -
Gas, penerangan dan Rp 600,00 Rp300.000,00
energi
Pengawasan Rp800.000,00
Penyusutan Rp700.000,00
Sewa pabrik Rp300.000,00
Jumlah Rp3.400,00 Rp2.100.000,00

Tabel Biaya yang Relevan


Untuk Berbagai Tingkat Produksi

Tingkat Produksi unit


Elemen Biaya 600 800 1.000 1.200 1.400
unit
Variabel:
Bahan tak Rp800 Rp480.000 Rp640.000 Rp800.000 Rp960.000 Rp1.120.000
langsung
Tenaga kerja Rp1.000 Rp600.000 Rp800.000 Rp1.000.000 Rp1.200.000 Rp1.400.000
langsung
Perlengkapan Rp400 Rp240.000 Rp320.000 Rp400.000 Rp480.000 Rp560.000
Reparasi Rp600 Rp360.000 Rp480.000 Rp600.000 Rp720.000 Rp840.000
Gas, Rp600 Rp360.000 Rp480.000 Rp600.000 Rp720.000 Rp840.000
penerangan &
energi

Penganggaran Perusahaan 87
Jumlah Rp3.400 Rp2.040.000 Rp2.720.000 Rp3.400.000 Rp4.080.000 Rp4.760.000
variabel
Tetap:
Gas, Rp300.000 Rp300.000 Rp300.000 Rp300.000 Rp300.000
penerangan &
energi
Pengawasan Rp800.000 Rp800.000 Rp800.000 Rp800.000 Rp800.000
Penyusutan Rp700.000 Rp700.000 Rp700.000 Rp700.000 Rp700.000
Sewa pabrik Rp300.000 Rp300.000 Rp300.000 Rp300.000 Rp300.000
Jumlah tetap Rp2.100.000 Rp2.100.000 Rp2.100.000 Rp2.100.000 Rp2.100.000
Total biaya Rp4.140.000 Rp4.820.000 Rp5.500.000 Rp6.180.000 Rp6.860.000
overhead

3. Langkah-Langkah Penyusunan Anggaran fleksibel


Langkah-langkah dasar dalam penyusunan anggaran fleksibel adalah sebagi berikut:
1. Menentukan relevan range yang dapat diharapkan pada range ini aktivitas akan
berfluktuasi selama periode yang akan datang.
2. Menganalisis biaya yang akan dikeluarkan pada range relevan ini, dengan
menentukan pola prilaku biaya (fixed, variabel, dan mixed).
3. Memisahkan biaya berdasarkan pola prilakunya, dengan menetukan rumus biaya
variabel dan biaya campuran.
4. Dengan menggunakan rumus biaya variabel, anggaran fleksibel disusun dengan
dasar biaya yang akan dikeluarkan pada berbagai tingkat aktivitas sepanjang range.
4. Bentuk-Bentuk Anggaran Fleksibel
Bentuk-bentuk anggaran fleksibel dapat berbentuk sebagai berikut:
1. Bentuk formula, budget ini disusun dalam bentuk di mana hanya digambarkan unsur
variabel dan unsur tetap dengan jelas yang dimiliki oleh setiap pos biaya.
2. Bentuk Tabel, dari anggaran ini dapat dilihat berapa besarnya biaya masing-masing
pos pada berbagai tingkat aktivitas atau output. Unsur variabel dan tetapnya tidak
ditonjolkan.
3. Bentuk grafik, bentuk grafik dapat sebagai pelengkap dari kedua bentuk di atas.

1.2 Ilustrasi Anggaran Fleksibel


Suatu dasar perhitungan tingkat aktivitas bagian produksi PT Kita Jaya adalah unit
output. Data biaya secara keseluruhan bagian tersebut (Relevan range) 10.000 – 15.000 unit
Biaya 10.000 unit 15.000 unit
Penyusutan aktiva tetap Rp6.000.000 Rp6.000.000
Pembangkit tenaga Rp2.000.000 Rp3.000.000

Penganggaran Perusahaan 88
Bahan tak langsung Rp1.800.000 Rp2.000.000
Pemeliharaan Rp1.700.000 Rp2.000.000
Lain-lain Rp1.000.000 Rp1.400.000

Dengan data di atas:


1. Susunlah anggaran fleksibel dalam bentuk formula
2. Susunlah anggaran fleksibel dalam bentuk tabel/kolom, dengan kenaikan 1.250 unit
3. Membuat grafik anggaran fleksibel
4. Menghitung biaya yang bersifat semi variabel pada tingkat kegiatan 11.500 unit.
Solusi: Analisis setiap komponen:
Penyusutan = Rp6.000.000 bersifat tetap
Pembangkit tenaga:
Rp3.000.000 = 15.000 unit
Rp2.000.000 = 10.000 unit
Selisih Rp1.000.000 = 5.000 unit
Unsur variabel = Rp1.000.000/ 5.000 = Rp200 per unit
Aktivitas 15.000 unit =Rp3.000.000
Variabel= 15.000 x Rp200 =Rp3.000.000
Unsur biaya tetap = 0
Bahan tak langsung:
Rp2.000.000 = 15.000 unit
Rp1.800.000 = 10.000 unit
Selisih Rp200.000 = 5.000 unit
Unsur variabel = Rp200.000/ 5.000 = Rp40 per unit
Aktivitas 15.000 unit =Rp2.000.000
Variabel= 15.000 x Rp40 =Rp600.000
Unsur biaya tetap =Rp1.400.000
Pemeliharaan:
Rp2.000.000 = 15.000 unit
Rp1.700.000 = 10.000 unit
Selisih Rp300.000 = 5.000 unit
Unsur variabel = Rp300.000/ 5.000 = Rp60 per unit
Aktivitas 15.000 unit =Rp2.000.000

Penganggaran Perusahaan 89
Variabel= 15.000 x Rp60 =Rp900.000
Unsur biaya tetap =Rp1.100.000
Lain-lain:
Rp1.400.000 = 15.000 unit
Rp1.000.000 = 10.000 unit
Selisih Rp400.000 = 5.000 unit
Unsur variabel = Rp400.000/ 5.000 = Rp80 per unit
Aktivitas 15.000 unit =Rp1.400.000
Variabel= 15.000 x Rp80 =Rp1.200.000
Unsur biaya tetap =Rp200.000
1. Anggaran fleksibel dalam bentuk formula: Relevan range 10.000 – 15.000 unit

Biaya Biaya tetap per tahun Biaya variabel per unit


Penyusutan aktiva tetap Rp6.000.000 Rp0
Pembangkit tenaga Rp0 Rp200
Bahan tak langsung Rp1.400.000 Rp40
Pemeliharaan Rp1.000.000 Rp60
Lain-lain Rp20.0000 Rp80
Jumlah Rp8.700.000 Rp380

Formula: Y=a+bx Y = 8.700.000 + 380 (x)

2. Anggaran fleksibel dalam bentuk Tabel/kolom


PT Kita Jaya
Anggaran Fleksibel Periode ...
Kapasitas
Biaya 10.000 11.250 12.500 13.750 15.000
Penyusutan aktiva 6.000.000 6.000.000 6.000.000 6.000.000 6.000.000
tetap
Pembangkit tenaga 2.000.000 2.250.000 2.500.000 2.750.000 3.000.000
Bahan tak langsung 1.800.000 1.850.000 1.900.000 1.950.000 2.000.000
Pemeliharaan 1.700.000 1.775.000 1.850.000 1.925.000 2.000.000
Lain-lain 1.000.000 1.100.000 1.200.000 1.300.000 1.400.000
Jumlah 12.500.000 12.975.000 13.450.000 23.925.000 14.400.000

Penganggaran Perusahaan 90
3. Anggaran fleksibel dalam bentuk grafik

Biaya TC =8.700.000 + 380 (x)


15.000
14.400
13.450 Biaya variabel
12.500

8.700 Biaya tetap

5 7.5 10 12.5 15 Unit


4. Biaya semi varibel pada tingkat 11.500 unit
Bahan tak langsung: Y = 1.400.000 + 40x
Pemeliharaan: Y =1.100.000 + 60x
Lain-lain: Y= 200.000 + 80x
Jumlah Y =2.700.000 + 180 x
Pada tingkat 11.500 unit, biaya-biaya yang bersifat semi variabel berjumlah:
Y =2.700.000 + 180 (11.500) = Rp4.770.000

Rangkuman
Anggaran Statis (fixed budget) adalah budget yang dibuat untuk satu tingkat kegiatan
(one level of activity) selama jangka waktu tertentu. Misalnya: persentase dari kapasitas,
jumlah produk yang dihasilkan selama jangka waktu tertentu, jumlah jam yang dikerjakan
selama jangka waktu tertentu.
Anggaran Fleksibel (variable budget) adalah suatu anggaran yang dibuat dalam rentang
aktivitas, artinya beberapa aktivitas dipecah-pecahdari suatu rentang yang relevan.
Penyusunan anggaran fleksibel adalah sebagi berikut:
1. Menentukan relevan range yang dapat diharapkan pada range ini aktivitas akan
berfluktuasi selama periode yang akan datang.
2. Menganalisis biaya yang akan dikeluarkan pada range relevan ini, dengan
menentukan pola prilaku biaya (fixed, variabel, dan mixed).
3. Memisahkan biaya berdasarkan pola prilakunya, dengan menetukan rumus biaya
variabel dan biaya campuran.

Penganggaran Perusahaan 91
4. Dengan menggunakan rumus biaya variabel, anggaran fleksibel disusun dengan
dasar biaya yang akan dikeluarkan pada berbagai tingkat aktivitas sepanjang range.
Anggaran fleksibel dapat berbentuk sebagai berikut:
1. Bentuk formula, budget ini disusun dalam bentuk di mana hanya digambarkan unsur
variabel dan unsur tetap dengan jelas yang dimiliki oleh setiap pos biaya.
2. Bentuk Tabel, dari anggaran ini dapat dilihat berapa besarnya biaya masing-masing
pos pada berbagai tingkat aktivitas atau output.
3. Bentuk grafik, bentuk grafik dapat sebagai pelengkap dari kedua bentuk di atas.

Uji Kompetensi
Kasus 1. Data penjualan dan biaya penjualan pada berbagai tingkat penjualan bulanan:
Omset Penjualan Biaya penjualan
Rp 130.000.000 Rp 3.100.000
Rp120.000.000 Rp 3.000.000
Rp 140.000.000 Rp 3.200.000
Rp 150.000.000 Rp 3.300.000

Harga jual per satuan produk Rp 4.000,-


Rencana penjualan bulan Desember 2009: 40.000 unit
Diminta : 1. Tentukan variabel budget bulanan dalam bentuk persamaan
2. Hitung besarnya anggaran biaya penjualan bulan Desember 2009
Kasus 2. Data tentang Departemen produksi yang terdiri atas 3 macam biaya adalah :

Jenis Biaya 10.000 DRH 16.000 DRH


Gaji Rp 500.000 Rp 500.000
Bahan pembantu Rp 344.000 Rp 389.000
Lain-lain Rp 100.000 Rp 124.000

Dari data diatas, buatlah:


1. Anggaran variabel terperinci bentuk tabel dengan relevant range kelipatan 2000 DRH
2. Anggaran variabel dalam bentuk formula.

Daftar Pustaka

Adisaputro, Gunawan dan Asri, Marwan, 2010, Anggaran Perusahaan Buku 1, Penerbit
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Gitosudarmo Indriyo, Basri, 2008, Manajemen Keuangan, Edisi 4, Yogyakarta, BPFE
Julita, 2010, Budgeting, Citapustaka, Bandung.

Penganggaran Perusahaan 92
Munandar M, 2002, Budgeting, Yogyakarta, BPFE
Nafarin, M. 2008. Penganggaran Perusahaan. Cetakan Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
P, Darsono dan Purwanti, Ari. 2008, Penganggaran Perusahaan. Edisi Pertama. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Syafri, Sofyan. 2001, Budgeting: Peranggaran Perencanaan Lengkap. Cetakan Kedua.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Riyanto Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Yogyakarta, Yayasan
Badan Penerbit Gajah Mada.
Rudianto, 2010, Anggaran Perusahaan, Erlangga.

Penganggaran Perusahaan 93

Anda mungkin juga menyukai