Anda di halaman 1dari 7

SAP 11

CORPORATE GOVERNANCE

KUALITAS PELAPORAN KEUANGAN

OLEH:

KELOMPOK 5

Raden Fernando Wijaya Kushendarto (1707532001)

I Putu Bagus Diva Aiswarya (1707532024)

I Made Edy Purnama Putra (1707532097)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
1. PENGERTIAN, TUJUAN, PELAPORAN KEUANGAN
1.1 Pengertian
Chariri dan Ghozali (2007) menyatakan bahwa pelaporan keuangan meliputi
laporan keuangan, informasi pelengkap, dan media pelaporan lainnya, sedangkan
laporan keuangan hanya mencakup neraca, laporan laba/rugi, laporan arus kas,
laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan. Hal itu berarti
pelaporan keuangan memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan dengan
laporan keuangan. Bachtaruddin (2003) menyatakan bahwa karakteristik kualitas
utama yang membuat informasi akuntansi bermanfaat adalah relevance dan
reliability. Relevan berarti bahwa informasi akuntansi berkemampuan untuk
membuat perbedaan di dalam satu keputusan. Dapat dipercaya (reliability) berarti
bahwa seorang pengguna dapat menggantungkan atau memiliki keyakinan pada
informasi yang dilaporkan. Widilestariningtyas dan Utami (2007) menyatakan
bahwa manajemen keuangan mempunyai sejumlah kebijakan dalam keseluruhan
kerangka prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Akibatnya manajemen
memiliki kemungkinan untuk memanipulasi laba-rugi dan akun-akun yang lain
dalam laporan keuangan, tetapi harus menghasilkan laporan keuangan yang
berkualitas. Dengan adanya Good Corporate Governance, maka diharapkan
perusahaan dapat meyajikan pelaporan keuangan yang berkualitas.
1.2 Tujuan Pelaporan Keuangan
Tujuan pelaporan keuangan antara lain (Statement of Financial Accounting
Concept Nomor 1 dalam Chariri dan Ghozali, 2007), yaitu pertama memberikan
informasi yang bermanfaat bagi investor, kreditor, dan pemakai lainnya untuk
mengambil keputusan investasi dan kredit. Kedua memberikan informasi untuk
membantu investor, kreditor, dan pemakai lainnya untuk menilai jumlah,
pengakuan, dan ketidakpastian tentang penerimaan kas bersih perusahaan. Ketiga
memberikan informasi tentang sumber-sumber ekonomi perusahaan serta klaim
terhadap sumber-sumber ekonomi tersebut. Keempat menyediakan informasi
tentang hasil usaha perusahaan selama satu periode. Kelima menyediakan informasi
tentang cara perusahaan memperoleh dan membelanjakan kas, pinjaman dan
pembayaran kembali pinjaman, dan transaksi modal, serta faktor lain yang
memengaruhi likuiditas dan solvabilitas perusahaan. Keenam menyediakan
informasi tentang cara manajemen mempertanggung- jawabkan pengelolaan kepada
pemilik (pemegang saham) atas pemakaian sumberdaya ekonomi yang
dipercayakan. Ketujuh menyediakan informasi yang bermanfaat bagi direktur dan
manajer sesuai kepentingan pemilik.
2. KETERBUKAAN DAN PENGUNGKAPAN INFORMASI
1.1 Keterbukaan Informasi
Keterbukaan Informasi yaitu keterbukaan yang diwajibkan oleh Undang-Undang
seperti misalnya mengumumkan pendirian PT dalam Tambahan Berita Negara
Republik Indonesia ataupun Surat Kabar. Serta keterbukaan yang dilakukan oleh
perusahaan menyangkut masalah keterbukaan informasi ataupun dalam hal
penerapan managemen keterbukaan, informasi kepemilikan Perseroan yang akurat,
jelas dan tepat waktu baik kepada shareholders maupun stakeholder. Dalam
mewujudkan transparansi ini sendiri, perusahaan harus menyediakan informasi yang
cukup, akurat, dan tepat waktu kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan
perusahaan tersebut. Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari penerapan prinsip
ini. Salah satunya, stakeholder dapat mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam
melakukan transaksi dengan perusahaan.
1.2 Pengungkapan Informasi
Kerangka tata kelola perusahaan harus memastikan bahwa pengungkapan yang
tepat waktu dan akurat dibuat pada semua hal material mengenai perusahaan,
termasuk situasi keuangan, kinerja, kepemilikan, dan tata kelola perusahaan.
Pengungkapan merupakan langkah akhir dalam proses akuntansi, yaitu penyajian
informasi dalam bentuk statemen keuangan. Pengungkapan harus mencakup
standar sebagai berikut:
a. Pengungkapan harus mencakup informasi material tentang: 1) Hasil keuangan
dan operasi perusahaan, 2) Tujuan perusahaan, 3) Kepemilikan saham mayoritas
dan hak suara, 4) Kebijakan remunerasi bagi anggota dewan dan eksekutif, dan
informasi tentang anggota dewan, termasuk kualifikasi, proses seleksi, direktur
perusahaan lain dan apakah mereka dianggap independen oleh dewan. 5)
Transaksi dengan pihak terkait, 6) Faktor risiko mendatang, 7) Isu mengenai
karyawan dan stakeholders lainnya, 8) Struktur dan kebijakan tata kelola,
khususnya isi kebijakan tata kelola perusahaan dan proses yang
diimplementasikan, 9) Informasi harus disiapkan dan diungkapkan sesuai
dengan standar kualitas akuntansi yang tinggi dan pengungkapan keuangan dan
non- keuangan.
b. Audit tahunan harus dilakukan oleh auditor independen, kompeten dan
berkualitas dalam rangka memberikan jaminan eksternal dan obyektif kepada
dewan dan pemegang saham bahwa laporan keuangan cukup mewakili posisi
keuangan dan kinerja perusahaan dalam semua hal yang material.
c. Auditor eksternal harus bertanggung jawab kepada pemegang saham dan
berkewajiban kepada perusahaan untuk melakukan kerja profesional dalam
melakukan audit.
3. d. Saluran untuk menyebarkan informasi harus memberikan akses yang adil,
tepat waktu, dan akses yang hemat biaya kepada informasi yang relevan oleh
pengguna.
e. Kerangka Corporate Governance harus dilengkapi dengan pendekatan yang
efektif yang membahas dan mempromosikan penyediaan analisis atau nasihat
oleh analis, broker, lembaga pemeringkat yang relevan dengan keputusan oleh
investor, bebas dari konflik kepentingan material yang mungkin meragukan
integritas analisis atau nasihat mereka.
2. Transparansi dan Peranan Transparansi dalam CG OECD Principle 5
Pada prinsip ke-5 ditegaskan bahwa kerangka kerja Corporate Governance
harus memastikan bahwa keterbukaan informasi yang tepat waktu dan akurat
dilakukan atas semua hal yang material berkaitan dengan perusahaan, termasuk di
dalamnya keadaan keuangan, kinerja, kepemilikan dan tata kelola perusahaan.
Prinsip ini diperlakukan untuk mengurangi informasi asimetri yang merupakan
pemicu dari adanya konflik kepentingan antara principal dan agen. Dengan lebih
banyak pengungkapan ke publik, maka pemegang saham publik dan pemangku
kepentingan akandapat lebih mudah memonitor dan menilai kinerja perusahaan.
Pemegang saham pengendalidan manajemen akan lebih sulit mengekspropriasi
pemegang saham publik dan pemangku kepentingan karena tindakan mereka akan
lebih mudah terdeteksi.
3. Perkembangan Pengungkapan dan Transparansi Di Indonesia
Berdasarkan pada Jurnal Corporate Governance, Disclosure and Its Evidence in
Indonesia yang dibuat oleh Siddharta Utama, pengungkapan pada emiten di
Indonesia pada awalnya berdasarkan pada PP no. 64 tahun 1999 tentang Laporan
Tahunan. Menurut peraturan tersebut pengungkapan hanya boleh dilakukan oleh
perusahaan listed saja, sehingga akhirnya muncul peraturan baru yang
mengharuskan semua perusahaan, termasuk yang tidak listed harus di audit dan
diungkapkan laporan keuangannya apabila memiliki nilai aset atau aset bersih
melebihi Rp. 25.000.000.000. Selain itu, tertera juga dalam peraturan Bapepam-LK
VIII.G.2. pengungkapan laporan tahunan meliputi: deskripsi umum, deskripsi
khusus, ringkasan mengenai data keuangan yang meliputi perbandingan penjualan
selama 5 tahun, laba kotor, laba operasi, laba bersih, EPS, dan analisa laporan
keuangan lainnya, diskusi dan analisis manajemen dan laporan keuangan. Kemudian
Herwidiyatmo mengusulkan agar detail pengungkapan harus sesuai dengan standar
internasional, seperti hal-hal yang menyangkut kepentingan minority shareholder.
Agar tidak terjadi adanya benturan kepentingan maka dibutuhkan persetujuan oleh
pemilik saham minoritas. Dalam perkembangan pengungkapan laporan tahunan
pada bank di Indonesia, terutama bank sentral (Bank Indonesia), pengungkapan
tidak hanya ditujukan pada publik saja, namun juga diungkapkan di bank-bank yang
beroperasi di Indonesia.
6. Perbandingan Peraturan Bapepam-Lk X.K.6 Tentang Penyampaian Laporan
Emiten Atau Perusahaan Publik Dengan Prinsip OECD Nomor 5
Berdasarkan Prinsip OECD 5, pengungkapan dan transparansi perusahaan
meliputi seluruh elemen, yaitu laporan keuangan dan hasil operasi perusahaan,
tujuan perusahaan, kepemilikan saham mayoritas dan hak suara, transaksi dengan
pihak terkait, faktor-faktor risiko yang dapat diperkirakan, hal-hal penting berkaitan
dengan karyawan dan para stakeholder lainnya, dan struktur dan kebijakan tata
kelola khususnya berkaitan dengan isi dari pedoman atau kebijakan tata kelola
perusahaan dan penerapannya. Baik itu hal yang bersifat keuangan maupun non-
keuangan. Merujuk pada peraturan Bapepam-LK X.K.6, pengungkapan laporan bagi
emiten adalah mengungkapkan ketentuan umum, ikhtisar data keuangan penting,
laporan dewan komisaris, laporan direksi, profil perusahaan, analisis dan
pembahasan manajemen, tata kelola perusahaan, tanggung jawab sosial perusahaan,
laporan keuangan tahunan yang di audit, dan tanda tangan dewan komisaris dan
direksi.
7. Transparansi Pelaporan Keuangan Melalui E-Reporting
Sistem pelaporan secara elektronik (e-reporting system) merupakan solusi
integrasi berdasarkan Web (integrated Web-based solution) bagi suatu organisasi
untuk memudahkan pengiriman atau pengambilan dokumen dan laporan via
Internet. Konsep e-reporting system merupakan sistem yang dibangun untuk
meningkatkan pelaksanaan keterbukaaan dan pemerataan informasi ke pelaku pasar
modal. Kelancaran e-reporting system ini sangat bergantung pada kesiapan masing-
masing emiten dalam penyusunan laporan keuangan yang akan dipaparkan kepada
publik. Penerapan e-reporting system telah biasa diberlakukan secara umum pada
berbagai otoritas bursa di dunia.
Enam manfaat diterapkannya e-reporting system adalah sebagai berikut: 1) Akan
mempermudah investor atau public untuk mendapatkan akses laporan secara real
time dan online tanpa melalui emiten, 2) Investor maupun public dapat mengetahui
secara cepat informasi tentang emiten, terkait dengan laporan keuangan, baik
kewajiban triwulan maupun tahunan, 3) Keterbukaan (transparansi) dan
akuntabilitas pelaporan keuangan kepada public lebih terjamin, 4) Dapat menjamin
pemerataan informasi dan mereduksi adanya kesenjangan informasi, 5) Dapat
meningkatkan efisiensi bagi perusahaan terbuka (go public), 6) Mendorong
terwujudnya tata kelola perusahaaan yang baik atau good corporate governance
(GCG).
8. Kecurangan Pelaporan Keuangan (Whistleblowing System)
Sistem pelaporan pelanggaran atau whistleblowing system adalah suatu sistem
yang dirancang sedemikian rupa mengenai kriteria kecurangan yang di laporkan
yang meliputi 5W+1H, tindak lanjut dari laporan tersebut, reward dan perlindungan
bagi sang pelapor atau whistleblower, dan hukuman atau sanksi untuk terlapor.
Sistem ini disusun sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjadinya pelanggaran
dan kejahatan di internal perusahaan. Sistem ini disediakan agar para karyawannya
atau orang diluar perusahaan dapat melaporkan kejahatan yang dilakukan di internal
perusahaan, pembuatan whistleblowing system ini untuk mencegah kerugian yang
diderita perusahaan, serta untuk menyelamatkan perusahaan. Sistem yang dibangun
ini kemudian disesuaikan ke dalam aturan perusahaan masing-masing, sehingga
diharapkan sistem ini akan memberikan manfaat bagi peningkatan pelaksanaan
corporate governance (Semendawai dkk, 2011:69).
DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/document/408732869/SAP-11-CG-FIX (Diakses pada tanggal 18


november )