Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPENATAAN ANESTESI PRE ANESTESI

PADA PASIEN DENGAN HIPERTROPI KONKA


DENGAN TEKTIK GENERAL ANESTESI
DI RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

A. PENDAHULUAN

Hidung merupakan organ penting yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari
biasanya dan hidung merupakan salah satu organ pelindung tubuh terhadap lingkungan yang
tidak menguntungkan. Hidung berfungsi sebagai indra penghidu, menyiapkan udara inhalasi
agar dapat digunakan paru serta fungsi filtrasi.
Hipertrofi konka merupakan salah satu mekanisme mendasar yang sering terjadi.
Hipertrofi konka dapat bilateral atau unilateral. Hipertrofi konka bilateral disebabkan
peradangan hidung sebagai akibat dari alergi dan non alergi, pemicu lainnya adalah
lingkungan seperti debu dan tembakau. Hipertrofi konka unilateral berhubungan dengan
deviasi congenital atau deviasi septum kontralateral. Hipertrofi adalah pembesaran dari
organ atau jaringan karena ukuran selnya yang meningkat.
Konka hipertrofi adalah pembesaran konka nasal terutama konka nasal inferior yang
menyebabkan sumbatan hidung. Konka hipertrofi berbeda dengan konka hyperplasia. Pada
hipertrofi terjadi pembesaran jaringan karena ukurannya meningkat sedangkan pada
hyperplasia dijumpai pertambahan jumlah sel.

B. ETIOLOGI

Terdapat dua factor penting yang dapat berpengaruh terhadap keadaan dari membran
mukosa konka yaitu factor endogen daneksogen.
FACTOR ENDOGEN yang berpengaruh yaitu adanya kelainan anatomik seperti deviasi
septum, alergi dan gangguan vasomotor.
FACTOR EKSOGEN antara lain yaitu suhu udara, polusi, kelembaban udara, asap rokok,
parfum, bahan-bahan iritan diketahui dapat merangsang kelenjar-kelenjar di hidung menjadi
hiperaktif sehingga mudah mengalami infeksi berulang dan iritasi

C. MANIVESTASI KLINIS

Penyebab umum terjadinya hipertropi konka adalah infeksi berulang pada hidung dan
sinus serta iritasi kronis mukosa hidung yang disebabkan oleh asao rokok dan bahan iritan
industry. Rhinitis alergi, rhinitis non alergi atau yang sering disebut sebagai rhinitis
vaspmotor dan penggunaan tetes hidung yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan
terjadinya penyakit hipertropi konka
Gejala utama dari hipertropikonka inferior adalah sumbatan hidung kronik,secret
hidung yang berlebihan,kental dan mukopurulen.biasanya di temukan di dasar rongga
hidung dan di antara konka inferior dan septum.beberapa penderita mengeluhkan sakit
kepala,kepala terasa berat,merasa kerimg pada faring,gangguan fungsi tuba dan penurunan
produktifitas kerja.

Konka akan tampak membengkak dan berwarna merah pada tahap awal pemeriksaan,
kemudian jika sudah terdiagnosis terjadi hipertrofi konka maka mukosa konka menebal dan
apabila ditekan tidak menekuk. Hipertropi konka dapat terjadi sebagian atau seluruh bagian
dari konka inferior. Hipertrofi dapat pula terjadi pada konka media namun jarang.

D. PATOFISIOLOGI

Hipertropi konka merupakan suatu istilah yang menunjukan adanya perubahan mukosa
hidung pada konka inferior. Penyebabnya adalah peradangan kronik yang disebabkan oleh
infeksi bakteri primer dan sekunder. Penyebab non bakteri seperti sebagai lanjutan dari
rhintitis alergi, rhintitis vasomotor dan kompensasi septum devasi kontralateral juga dapat
menyebabkan hipertrofi konka inferior.
Rhinitis alergi merupakan suatu penyakit peradangan yang disebabkan oelh reaksi
alergi pada pasien atopi yang sudah tersensitasi alergen sebelumnya dan dimediasi oleh
suatu mediator kimia ketika terjadi infeksi berulang dengan alergen tersebut.
Perjalanan penyakit dari rhinitis alergi ini diawali dengan tahap sensitisasi dan
dilanjutkan dengan tahap provokasi atau reaksi alergi. Tahap provokasi atau reaksi alergi
terdiri dari dua fase yaitu immediate phase allergic reaction (reaksi alergi fase cepat / RAFC)
yang berlangsung sejak kontak pertama dengan alergen hingga 1 jam setelahnya, dan late
phase allergic reaction (reaksi alergi fase lambat / RAFL) yang terjadi selama 2 – 4 jam
dengan puncak 6 – 8 jam setelah terpapar alergen ( fase hiperaektivitas) dan dapat terjadi
selama 24 – 48 jam.
Tahap sensitisasi terjadilah kontak pertama antara tubuh dengan alergen. Alergen yang
terinspirasi bersama dengan udara pernafasan akan terdeposit dipermukaan mukosa hidung
kemudian akan difagosit oleh makrofag atau monosit yang berfungsi sebagai sel penyaji anti
gen, selanjutnya didalam endosom antigen diproses membentuk fragmen peptida yang
berukuran pendek dan berikatan dengan molekul.
Histamin yang terlepas akan merangsang mukosa pada dinding lateral hidung ( konka
) dan terjadi pengeluaran inter cellular adhesion mollecule 1 / ICAM 1, sehingga
menyebabkan penebalan mukosa atau sering disebut hipertropi.
Rhinitis vasomotor merupakan penyakit idiopatik yang bersifat non – alergi yang
disebabkan oleh karena kelainan neuro vaskuler pembuluh darah pada mukosa hidung.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi rhinitis vasomotor adalah faktor fisik, endokrin,
psikis, dan obat obatan. Mukosa hidung yang terus terpapar oleh faktor faktor tersebut akan
mengakibatkan adanya reaksi hipersensitivitas.
FAKTOR EKSOGEN HIPERTROPI KONKA FAKTOR ENDOGEN

1. Infeksi berulang Fasodilatasi pleksus Riwayat rhinitis vasomotor


2. Infeksi kronik hidung kavemous konka

Pelepasan mediator Riwayat rhinitis


kimia / histamin alergi

Penebalan Kelainan Anatomi


mukosa konka Deviasi Septum Konka
Lateral

Bersin bersin

Rinorrehea

Hidung tersumbat

KUALITAS HIDUP MENURUN

Gangguan penghidup Kering pada faring


Pos nasal drip Produktifitas menurun
Sakit kepala Gangguan pola tidur

Medikamentosa

OPERASI REDUKSI KONKA

Penyakit Sistemik Tindk op konka lain

PERUBAHAN KUALITAS HIDUP


E. PENATALAKSANAAN

1 Medikamentosa
Penatalaksanaan dengan medikamentosa bertujuan untuk mengatasi factor etioloh
dan sumbatan hidung dengan cara memperkecil ukuran konka. Sinus venous akan
mengalami pengisian pada kasus pembesaran konka akut. Pemberiang dekongestan
topical dapat mengurangi pembesaran konka. Terapi medikamentosa lain yang dapat
diberikan antara lain kortikosteroid, sel mast stabilizer, antihistamin dan imunoterapi.
Pemberian dekongestan baik secara local maupun sistemik efektif dalam
mengobati sumbatan hidung karena hipertrofi konka, namun penggunaan dekongestan
sistemik oral dapat menimbulkanefek samping berupa palpitasi dan kesulitan tidur.
Penggunaan dekongstan topical dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan
terjadinya rintitis medikamentosa ( rebound nasal congestion) dan takifilaksis.

2 Operatif
Teknik pembedahan reduksi konka secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu
turbinopasty dan turbinectomy. Turbinoplasty adalah teknik reduksi konka yang
mempertahankan agar mukosa hidung tetap utuh. turbinectomy adalah teknik reduksi
konka yang memotong bagian konka yang mengalami pembesaran. Tujuan utama
dilakukannya tindakan operatif yaitu untuk menghilangkan sumbatan hidung dan
mempertahankan fungsi fisiologis hidung. Tekhnik pembedahan yang ideal memang
tidak ada, setiap teknik memiliki keunggulan dan kelemahan seperti adanya
komplikasi jangka pendek dan panjang. Komplikasi jangka panjang yaitu perdarahan
dan rinithis atropi.
ASUHAN KEPENATAAN

A. Pengkajian
1. Data
Identitas
Nama ; tn M . 57th
No rm : 01 39 63 96
Tanggal lahir : xxxx

2. Pemeriksaan fisik

Keadaan umum ; composmentis

Riwayat alergi : YA:.... TIDAK

Puasa terakhir : jam 00;00 wib

Td : 120/80 mmhg , N; 75x/mnt , R: 20x/mnt , S: 37’ GDA:120

Riwayat penyakit : pasien mengeluh nyeri hidung ,pilek, bersin bersin, susah nafas

sejak seminggu yang lalu

Skla nyeri : 1-2: 3-4 : 5-6 : 7-8 : 9-10

Airway : gigi palsu (YA/TIDAK), ompong (YA/TIDAK)

Breating : vesikuler : weezing : ronchi : gargling

Circulation : perdarahan (YA/TIDAK)

Sekor malam pati : 1 : 2 : 3 : 4 : tidak bisa dinilai

Jenis tindakan anestesi : RA: GA: LOKAL

Status ASA : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : 6 : E

Peralatan : lengkap : YA/TIDAK

Penunjang :

Lab :Hb : 14,8 Ht: 42,6 Ureum ; 21 Kreatinin ; 0.75 .Hbsag ; Non

Reaktif

RO / SC-SCANT :

ENDOSCOPY : Hipertropi Konka inferior bilateral

USG :...

ECG :.Sinus Ritem.


B. Analisis
PRE ANESTESI

KECEMASAN ; berhubungan dengan kurang pengetahuan dan hospitalisasi.

Definisi : perasaan gelisah yang tak jelas dari ketidaknyamanan atau ketakutan
yang disertai respon autonom (sumner tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu ):
perasaan keprihatian disebabkan dari antisipasi terhadap bahaya. Sinyal ini merupakan
kepringatan adanya ancaman yang akan datang dan memungkinkan individu untuk
mengambil langkah untuk menyetujui terhadap tindakan.

Batasan karakteristik :
Gelisah; insomnia : resah: ketakutan : fokus pada diri ; cemas: kekawatiran

C. Intervensi
Tujun : (anxiety control)
Kriteria hasil :
 Klien mampu mengidentifiksi dan mengungkapkan gejala cemas
 Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk mengontrol
cemas
 Vital sign batas normal

Plening : anxiety reduction (penurunan kecemasan):


 Gunakan pendekatan yang menenangkan
 Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
 Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
 Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
 Berikan informasi faktual mengenai diagnosis
 Tindakan prognosis
 Dengarkan dengan penuh perhatian
 Identifikasi tingkat kecemaan
 Bantu pasien mengena situasi yang menimbulkan kecemasan
 Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
 Berikan obat untuk mengurangi kecemasan

D. Penatalaksanaan
1) Memberikan edukasi pendekatan untuk mengurangi kecemasan
2) Pemberian obat untuk pengurangi kecemasan
3) Bantu pasien untuk mengatasi kecemasan
E. Evaluasi
Diharapkan pasien dapat mengatasi tingkat kecemasan secara mandiri
DAFTAR PUSTAKA

R Cahyaningtyas.2017.UNIMUS;.repository.unimus.ac.id.
ASUHAN KEPENATAAN ANESTESI PRE ANESTESI
PADA PASIEN DENGAN HIPERTROPI KONKA
DENGAN TEKTIK GENERAL ANESTESI
DI RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

DI SUSUN OLEH :
1. NIA
2. SAEFUDIN
3. FERRY
4. FAJAR
5. NAWAWI

PELATIHAN PENATA ANESTESI ANGKATAN 1


RSI SULTAN AGUNG SEMARANG
TAHUN 2019