Anda di halaman 1dari 3

KANG BADRUN

Oleh : M. Anis Afiqi el-Bik*

"Kejar dia..!!" orang-orang terminal Terboyo itu berlari mengejar Badrun,


"kemana dia? dasar bajingan!!" seorang pemimpin dari kelompok pengejar itu marah-
marah karena kehilangan sosok badrun. Aku hanya termangu melihat kejadian itu
sambil membenahi asonganku. Sebenarnya badrun dulu adalah pemimpin mereka,
tapi sekarang dia dikejar-kejar anak buahnya sendiri karena dia sekarang malas-
malasan mengurusi kekuasaannya sehingga wibawanya turun, dan para anak buahnya
merasa telah ditelantarkan, anak buahnya takut daerah mereka dikuasai kelompok
lain, disamping itu ada faktor perebutan kekuasaan yang berada dalam kelompok
badrun. Sekarang yang memimpin pengejaran itu adalah Joko. Dulu Joko adalah
saingan badrun dalam memperebutkan kekuasaan terminal Terboyo mungkin dia
sekarang ingin merebut kekuasaan Badrun dengan memanfaatkan kemarahan
kemarahan anak buah Badrun. Salah seorang dari anak buah Joko menghampiri aku,
"hei bocah! Kamu lihat kemana badrun pergi?". Aku menggelengkan kepala.
Kemudian dia berlalu sambil mengumpat.
Aku menghela nafas melihat kejadian itu. Sebenarnya aku tahu kemana kang
Badrun (begitulah aku menyebut namanya) pergi, bukan aku tidak mau memberi tahu
mereka, tapi entah kenapa mulut ini tak mau bicara. Setelah kelompok Joko pergi aku
menghampiri kang Badrun, "kang, opo sampean ga' kesel ngene iki terus tah?". Kang
Badrun hanya melihat ke arahku kemudian dia kembali memperhatikan keadaan
sekeliling, takut-takut ada yang mengetahui keberadaanya. "kang, melu aku wae
piye?". "Kowe arep nang ndi san?" entah kenapa dia sekarang menanggapi aku,
"nyang Kediri kang, neng nggone koncoku". "Arep ngopo rono?" dia bicara sambil
tetap memperhatikan situasi sekelilingnya. "wis, sampean melu aku wae. Dewe
mangkat saiki, Bise wis meh budal, ayo kang!" sambil kutarik tangan kang Badrun.
Sekali lagi aku heran, kenapa dia hanya diam saja ketika aku tarik-tarik tangannya,
biasanya dia marah ketika sedikit saja aku memaksa dia.
Empat jam aku dan kang Badrun duduk dalam bis, kami tidak ngobrol sama
sekali, kami tidak bayar karcis bis berkat nama kang Badrun. "kang, wis meh tekan.
Ayo siap-siap" aku memberi tahu kang Badrun yang masih asyik dengan
lamunannya.. Dia berdiri dan menuju pintu depan. Setelah sampai daerah Bandar
kami turun. "Omahe koncomu nang ndi san?". "Sabar sik kang, wis meh tekan kok."
Berjalan lima menit ke arah barat kami sampai depan bangunan besar tapi kelihatan
sejuk. "Lho piye tho? Jarene arep neng nggone koncomu, kok malah neng pondok?".
"Iyo kang, koncoku saiki mondok neng kene". Aku masuk ke pintu gerbang pondok
at-Taubah menuju ke kamar pengurus, "Ihsannya ada kang? Aku bertnya ke pengurus
pondok itu, "Ihsan ada dikamar, mau kesana sendiri atau mau dipanggilkan?". "Biar
saya saja yang kesana kang", aku sudah biasa ke sini makanya pengurus langsung
mempersilahkan aku ke kamar Ihsan. Kuhampiri kang Badrun yang masih diuar. "Ayo
kang, koncoku enek neng kamare", dia tetap bergeming ditempatnya. Kelihatannya
dia enggan masuk kedalam, "Opo aku pantes mlebu rene san?, aku rumongso kakehan
duso san, lagian klambiku ngene iki, kowe wae sing mlebu ben aku nunggu kene".
"Ga' opo-opo kang, kang santrine apik-apik kok, ayo selak di enteni neng koncoku",
kuajak kang Badrun Sekali lagi. Akhirnya dengan rasa enggan dia mau masuk juga.
"Assalamu'alaikum, Ihsannya mana kang?" aku bertanya pada teman
sekamarnya. "Wa'alaikumsalam, oh kang Tosan tho, monggo-monggo" Ramah, itulah
gaya akrab dan kekeluargaan khas santri dalam menyambut tamu, "Ihsan lagi di
kamar mandi, sampean tunggu aja". Setelah kuperkenalkan kang Badrun pada teman-
teman aku keluar membeli rokok untuk sekedar teman minum kopi yang disuguhkan
kang santri, setelah aku kembali Ihsan sudah ada di situ, "Ihsan.. yak opo kabarmu?"
sambil kupeluk Ihsan. "Alhamdulillah apik-apik sampean dewe piye kabare?". "Kabar
kabur, hehe.. oh yo san, iki kang badrun sing biasa ngrumat aku neng Suroboyo".
"Aku wes kenalan mau. Kang Badrun, sampean arep mondok neng kene po?, kang
Badrun hanya tersenyum. "lho kok mung mesem kang?", kang Badrun hanya
tersenyum lagi, mungkin dia belum terbiasa dengan situasi pondok.
Tujuh hari kami bermalam di pondok at-Taubah. Hari ini kang Badrun kuajak
pulang ke Surabaya, "mulih neng Surobyo yuk kang, wis pitung dino awake dewe
neng kene, ga' penak suwi-suwi neng kene", "san, kelihatannya aku pingin disini
terus", aku terkejut dengan bahasa bicara kang Badrun yang sudah berubah mengukuti
adat pondok at-Taubah yang diwajibkan berbicara bahasa Indonesia kalau ngobrol,
kata Kiainya biar mudah komunikasi dengan orang luar. "lha kok jadi kayak gini
kang?, apa sampean sudah bosan hidup di Surabaya?", "iya san, di Surabaya paling-
paling aku akan dikejar-kejar lagi dan mungkin bisa-bisa dibunuh. Lebih baik disini,
aku merasa tentram dan cocok dengan pondok ini. Di pondok ini tak ada larangan
untuk bekerja, yang penting ngaji tetap istiqomah". Istiqomah? Apa itu dan dari mana
kang Badrun dapat istilah itu?. Aku tersenyum dalam hati, mungkin ini sudah saatnya
bagi kang Badrun untuk mengenal Tuhan. "Ya kalau memang keinginan kang Badrun
seperti itu aku ikut saja, biar aku menemani kang Badrun disini", "lho? Kok kamu
juga ikut-ikutan san?", kali ini giliran kang Badrun yang terkejut. "ya nggak apa-apa
kang, aku juga sudah bosan hidup tanpa tujuan di Surabaya, hehe.."
Hari kamis tanggal 23 Oktober 2006 pukul 17.24 aku dan kang Badrun diantar
Ihsan ke rumah Kiai Abdul, Kiai pondok at-Taubah. Setelah dari rumah Kiai Abdul
kami ke kantor pondok untuk mendaftar. Mungkin hari-hari esok akan aku lalui
dengan senyuman, aku merasa selangkah lebih dekat dengan Tuhan. Lima hari
kemudian aku dan kang Badrun memulai mengasong lagi demi untuk membayar uang
pondok dan uang makan. Aku berdoa dalam hati, semoga kita bisa Istiqomah disini
bersama kang Badrun.

*) Penulis adalah Mahasiswa Semester VI Fakultas Syari'ah Universitas Islam


Negeri Yogyakarta, Pernah aktif di Majalah Mata Air Yogyakarta sebagai
Anggota. Dengan Nomor Rekening 0038154298 Bank BNI Cabang UGM
Yogyakarta a/n Muhammad Anis Afiqi.
Domilisi di Jl. Papringan Gg Ori I Rt 03 Rw 07 Kontrakan Pak Ismanto Depok
Sleman Yogyakarta.
Nomor Hp : 0818 0276 9497, 08522 7655 760.