Anda di halaman 1dari 8

EVALUASI KETERSEDIAAN AIR WADUK PONDOK UNTUK PEMENUHAN

KEBUTUHAN AIR IRIGASI DI KABUPATEN NGAWI

PROPOSAL SKRIPSI

OLEH
ANGGIT SARWENDAH LARASATI
NIM 160722614657

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
PROGRAM STUDI GEOGRAFI
NOVEMBER 2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Irigasi merupakan aspek penting dalam meningkatkan intensifikasi pertanian tanaman
pangan. 16% laju kenaikan produksi padi nasional dari tahun 1972-1988 disumbangkan dari
variabel pengairan (Fagi, 1998). Produksi padi berfluktasi; pada El Nino tahun 1994, areal
tanaman padi pada sawah irigasi seluas 166.076 ha mengalami kekeringan. Keadaan tersebut
sangat mengkuatirkan, karena sawah irigasi nebymbang 74% produksi padi nasional
(Baharsyah Justika, 1994).
Pengelolaan air irigasi dewasa ini menghadapi permasalahan komplek. Peningkatan
intensifikasi pertanian tanaman pangan, pertumbuhan industry dan perkotaan meningkatkan
kebutuhan dan penggunaan air. Persaingan penggunaan air belum sepenuhnya disertai dengan
efesiensi pemanfaatan dan penggunaan air. Upaya peningkatan efesiensi penggunaan air
irigasi terutama yang bersumber dari waduk, sengat mendesak diimplementasikan.
Penghematan penggunaan air mulai dari masa tanam musim hujan dapat memperluas areal
tanam musim kemarau atau peningkatan indek penanaman (Fagi, 1998). Peningkatan
efesiensi penggunaan air irigasi baik menyangkut fisik, bioteknik, dan institusional,
terkendala oleh krisis ekonomi dan SDM yang masih rendah. Dalam jangka pendek dengan
investasi relative kecil, peningkatan efesiensi pemanfaatan air irigasi dan sumber daya air
merupakan salah satu alternative yang menarik dan penting untuk dikaji. Sosialisasi teknologi
tata-guna air dan manajemen teknologi budidaya mampu menekan kuantitas penggunaan air.
Kendala-kendala pengoptimalisasi pemanfaatan air dan sumber air perlu diindentifikasi
dan dicarikan alternative keluarannya. Secara umum kendala optimalisasi pemanfaatan air
irigasi terletak pada sistem pendistribusian; dalam jangka pendek mengakibatkan timbulnya
variasi hari cekaman air (stess days), antar lokasi areal persawahan disepanjang saluran yang
pada akhirnya berdampak pada instability ketahanan pangan nasional. Proporsi kendala
masing-masing factor terhadap efesiensi penggunaan air irigasi dapat diketahui melalui suatu
penelitian komprehensif (Fagi, et al., 1988).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penelitian ini memiliki
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Berapakah debit ketersediaan air irigasi Waduk Pondok di Kabupaten Ngawi?
2. Berapakah debit kebutuhan air irigasi di Kabupaten Ngawi?
3. Apakah ketersediaan air irigasi Waduk Pondok dapat memenuhi kebutuhan air
irigasi di Kabupaten Ngawi?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan, penelitian ini memiliki
tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui debit ketersediaan air irigasi Waduk Pondok di Kabupaten Ngawi
2. Mengetahui debit kebutuhan air irigasi di Kabupaten Ngawi
3. Melakukan evaluasi apakah ketersediaan air irigasi Waduk Pondok mampu
memenuhi kebutuhan air irigasi di Kabupaten Ngawi

1.4 Manfaat
1. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah sarana untuk
mengimplementasikan wawasan dan pengetahuan penulis mengenai potensi waduk
dan kebutuhan air irigasi pada permasalahan di lapangan.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Melalui penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan referensi
bagi para peneliti yang akan melakukan penelitian mengenai potensi waduk dan
kebutuhan air irigasi.
3. Bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan untuk perencanaan kebijakan pengelolaan air Waduk Pondok dalam
memenuhi kebutuhan air irigasi serta sebagai bahan evaluasi kinerja pengelolaan
air Waduk Pondok untuk dilakukan perbaikan agar lebih efektif dan efisien.
4. Bagi Pembaca
Memberikan wawasan dan pengetahuan kepada pembaca mengenai potensi
Waduk Pondok dalam memenuhi kebutuhan air irigasi di Kecamatan Karangjati,
Kabupaten Ngawi.

1.5 Definisi Operasional


Untuk mempermudah pemahaman para pembaca, penelitian ini perlu adanya
definisi istilah yang digunakan, yaitu sebagai berikut:
1. Ketersediaan Air
2. Kebutuhan Air
3. Irigasi
4. Evaluasi

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Waduk
Waduk didefinisikan sebagai perairan menggenang atau badan air yang
memiliki ceruk, saluran masuk (inlet), saluran pengeluaran (outlet) dan
berhubungan langsung dengan sungai utama yang mengairinya. Waduk
umumnya memiliki kedalaman 16 sampai 23 kaki (5-7 m) (Shaw et al., 2004).
Menurut Perdana (2006) waduk merupakan badan air tergenang (lentik) yang
dibuat dengan cara membendung sungai, umumnya berbentuk memanjang
mengikuti bentuk awal dasar sungai. Berdasarkan pada tipe sungai yang
dibendung dan fungsinya, dikenal tiga tipe waduk, yaitu waduk irigasi, waduk
lapangan dan waduk serbaguna. Waduk irigasi berasal dari pembendungan
sungai yang memiliki luas antara 10–500 ha dan difungsikan untuk kebutuhan
irigasi. Waduk lapangan berasal dari pembendungan sungai episodik dengan
luas kurang dari 10 ha, dan difungsikan untuk kebutuhan sehari-hari
masyarakat di sekitar waduk
2.2. Ketersediaan Air
Ketersediaan air adalah merupakan besarnya cadangan air yang tersedia untuk
kebutuhan irigasi (Radjulaini dalam Nuryanto, 2005: 12). Seluruh keperluan air
bagi tanaman dan untuk kelembaban tanahnya dapat dicukupi oleh
ketersediaan air Sumber Daya Air yang berasal dari air permukaan dan air
tanah. Sumber dari air permukaan yaitu sungai, danau, waduk, dan air hujan,
sedangkan sumber dari air tanah adalah air tanah bebas dan air tanah tertekan
(Kartasapoetra, 1991: 7).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketersediaan air dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu ketersediaan air permukaan dan ketersediaan air tanah.
a. Ketersediaan Air Permukaan
Air permukaan adalah air yang terdapat pada permukaan tanah
baik yang mengalir di permukaan tanah, seperti sungai, air hujan, ataupun
yang menggenang di permukaan tanah, seperti danau atau waduk.
Air permukaan menurut Haryoso (1982: 5) merupakn air hujan
yang jatuh di atas permukaan tanah yang mengalir sebagai aliran
permukaan (run off), kemudian masuk ke dalam sungai dan pada akhirnya
mengalir ke laut atau ke danau, sebagian ditampung di waduk untuk
keperluan air irigasi.

b. Air Tanah
Air tanah adalah air yang bergerak di dalam tanah yang terdapat di
dalam ruang antara butir-butir tanah dan di dalam rekahan-rekahan dari
batuan (Suyono dan Takeda, 1985:93). Lapisan tanah yang terletak di
bawah permukaan tanah dinamakan daerah jenuh (saturated zone),
sedangkan daerah yang tidak jenuh biasanya terletak di atas daerah jenuh
sampai ke permukaan tanah, dimana rongga-rongganya berisi air dan
udara (Soemarto, 1995: 16).

2.3. Kebutuhan Air Irigasi


Air irigasi adalah sejumlah air yang umumnya diambil dari sungai atau waduk
dan dialirkan melalui sistem jaringan irigasi, guna menjaga keseimbangan
jumlah air di lahan pertanian (Suhardjono, 1994). Jumlah kebutuhan air guna
memenuhi kebutuhan air irigasi dapat ditentukan dengan langkah-langkah
berikut :
1. Menghitung evapotranspirasi potensial.
ET = Kc x Eto
2. Menghitung penggunaan konsumtif tanaman
3. Memperkirakan laju perkolasi lahan yang dipakai.
4. Pergantian lapisan air (water level requirement).
5. Memperkirakan kebutuhan air untuk penyiapan
IR=
6. Menganalisa curah hujan efektif
7. Menghitung kebutuhan air disawah (Ir)
Ir = S + Et + P - Re
8. Menghitung tingkat efesiensi saluran irigasi
9. Menghitung kebutuhan air irigasi
DR =
EF = Eprimer x Esekunder x Etersier
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat


Penelitian ini akan dilaksanakan pada Bulan Desember – Februari 2019 di areal
pengairan waduk podok, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

3.2. Alat dan Bahan


Bahan pengkajian terdiri dari data sekunder meliputi curah hujan, debit air irigasi,
peta daerah irigasi tinjauan dan data fisik waduk. Peralatan yang digunakan meliputi
meter skala miring, piezometer, lisimeter evaporasi, lisimeter evapotransrasi dan
penakar hujan.

3.3. Analisis
Tahapan pelaksanaan penelitian meliputi survai, pengambilan data sekunder dan
pengukuran dilapangan. Tingkat suplai air irigasi menggambarkan hubungan jumlah
air irigasi yang disalurkan dengan kebutuhan konsumtif tanaman untuk mengetahui
kelebihan, kecukupan atau kekurangan air dalam suatu kawasan pengairan. Informasi
tersebut dapat dipelajari melalui nilai relative water supply (RWS). Nilai RWS,
merupakan rasio antara suplai air (water supply, WS) dengan kebutuhan air konsumtif
(Water Demand, WD); dengan persamaan matematik ditulis, (IRRI, 1985):
RWS = Q + RN/ET + P&S
Keterangan : Q = suplai air irigasi
RN = curah hujan
ET = Evapotranspirasi
P&S` = Perkolasi dan sepage
Pengkajian dilakukan pada beberapa skala tinjauan, yaitu (1) keseluruhan areal
pengairan dari waduk, (2) areal sekunder dan (3) areal tersier. Masing-masing skala
tinjauan, dibedakan atas lokasi hulu, tengah dan hilir. Lokasi hulu, tengah dan hilir
ditetapkan berdasarkan jarak titik sadap, luas, dan kontur areal pengairan di masing-
masing lokasi. Pengkajian untuk skala areal sekunder dilakukan pada areal sekunder
Dero kanan (BDOka) yang dipilih secara acak. Enam areal tersier dipilih secara acak
secara proposional dari areal sekunder BDOka; masing dua areal tersier mewakili
kondisi lokasi hulu, tengah dan hilir saluran sekunder.
Pengaruh tingkat suplai air irigasi terhadap tanaman pada masing-masing
lokasi dari areal tinjauan, didekati melalui jumlah hari cekaman air yang dialami
tanaman padi. Satu cekaman air, dihitung pada hari ketiga setelah sawah dalam
keadaan macak-macak, belum memperoleh tambahan air.