Anda di halaman 1dari 8

PEMANFAATAN BONEKA TANGAN DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI ANAK

USIA DINI RA ASSAFARIYAH

Salma Fatimathu Zahra S

Universitas Pendidikan Indonesia

JL. Setiabudi No. 229, Bandung

Email: salmafzahras@upi.edu

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mendeskripsikan pelaksanaan dan pengembangan bekomunikasi Anak Usia
Dini (AUD) dengan pemanfaatan boneka tangan sebagai media belajar di RA Assafariah. Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif kualitataif. Sample penelitian ini diambil dengan cara mengambil sample
random. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya pemanfaatan boneka tangan dan cara
mengembangkan kemampuan berkomunikasi pada anak usia dini. Data yang diperoleh dari hasil wawancara,
observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan media
boneka tangan terhadap kemampuan komunikasi pada anak usia dini kelompok B di RA Assafariyah. Maka
dapat disimpulkan bahwa panggung boneka lebih efektif jika dibandingkan menggunakan big book dengan
menggunakan boneka tangan anak-anak bisa melihat jelas. Dengan menggunakan media panggung boneka
maka anak akan ikut bermain didalammya artinya panggung boneka juga merupakan sarana untuk bermain dan
mendapatkan hiburan.

Kata kunci: boneka tangan, anak usia dini, komunikasi

PENDAHULUAN

Pendidikan anak usia dini memegang peranan yang sangat penting dan merupakan sejarah
perkembangan anak selanjutnya. Pengembangan potensi anak secara terarah pada usia dini akan berdampak
pada kehidupan masa depannya. Masa ini merupakan saat yang tepat dikembangkan potensi dan kecerdasan
anak. Menurut Hurlock (dalam Rosmala, 2005: 1), mengemukakan bahwa. “masa usia dini merupakan periode
keemasan (golden age) dalam perkembangan seorang anak, sebab di usia ini anak mengalami lompatan
kemajuan yang menakjubkan”.(Zulaikha, Pendidikan, Pendidikan, Usia, & Ganesha, 2014). Pendidikan anak
usia dini merupakanlangkah awal yang penting untuk diperhatikan segala sesuatunya yang menjadi pondasi
bagi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. Anak yang tidak mendapatkan pendidikan usia dini,
akan lamban dalam menerima segala sesuatu. Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan anak usia dini bisa
dijadikan penentu untuk melangkah menuju ke pendidikan selanjutnya. Pendidikan bagi anak usia dini sejak
lama menjadi perhatian para orang tua, para ahli pendidikan, masyarakat dan pemerintah. Sejalan dengan
kemajuan bangsa Indonesia dan kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia dini maka perkembangan
sekolah khususnya taman kanak-kanak maju dengan pesat, sehingga hampir setiap daerah di Indonesia
memiliki lembaga pendidikan taman kanak-kanak(Pendidikan et al., 2017)

Untuk itu, pendidikan harus di berikan pada anak sejak dini. Saat ini pemerintah telah mendukung untuk
memberikan pendidikan pada anak sejak dini, dapat kita lihat bahwa PAUD telah tersebar di Indonesia.
Pendidikan anak usia dini adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan upaya
pembinaan yang di tujukan bagi anak sejak lahir sampai usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian
rangsangan dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak untuk memiliki
kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, non formal dan
informal. Sedangkan dalam Undang – Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab1

1
ayat 14. (Sihite, n.d.). Menurut peraturan menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun
2009 (dalam Yusnita, dkk 2012). PAUD atau Early Childhood Care and Education (ECCE) mempunyai potensi
untuk mengembangkan ketrampilan sosial, bahasa dan komunikasi serta keterampilan motorik pada anak-anak
usia dini. Hal ini dapat dilakukan apabila lingkungan pendidikan dapat memacu imajinasi mereka dan lingkungan
pendidikan menyenangkan bagi mereka (Poerwanti, 2017). (Manajemen, 2017)

Salah satu bidang pengembangan dalam pertumbuhan keterampilan dasar di taman kanak-kanak
adalah perkembangan bahasa. Bahasa memungkinkan anak untuk menerjemahkan pengalaman kedalam
simbol-simbol yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dan berpikir (Susanto, 2012). Berarti bahasa memiliki
pengaruh yang penting dalam kemampuan berkomunikasi seseorang. Pada anak usia dini, perkembangan
bahasa anak harus selalu diberikan stimulus untuk merangsang anak agar perkembangan bahasa yang
dimilikinya berkembang dengan baik.(Pendidikan et al., 2017). Kemampuan bahasa pada anak usia dini adalah
satu-satunya indikator kesiapan sekolah terbaik dan keberhasilan sekolah di kemudian hari (Hoff, 2013).(Hirsh-
pasek et al., 2015).

Keterampilan sosial dan keterampilan berbicara merupakan hal yang paling kodrati dilakukan oleh
semua orang. Begitu pula dengan seorang anak, sejak dalam kandungan telah melakukan interaksi dengan
ibunya. Keterampilan sosial dan keterampilan berbicara tidak hanya dapat dilakukan secara verbal (kata-kata),
namun dapat juga dilakukan secara non verbal atau dengan menggunakan gerak badan. Keterampilan sosial
dan keterampilan ber- bicara selalu dilakukan setiap harinya, mulai kita bangun tidur hingga akan tidur kembali.
(No, 2011) . Kemampuan berbicara anak adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi secara lisan dengan
orang lain, pada capaian perkembangan bahasa anak 2-3 tahun tingkat pencapaian perkembangannya antara
lain berbicara lancar dengan kalimat sederhana. (Kurniawati et al., 2014). Berbicara juga dapat diartikan sebagai
tindakan berkomunikasi dengan ekspresi artikulasi verbal, sedangkan berbahasa adalah pengetahuan mengenai
sistem simbol yang digunakan untukberkomunikasi secara interpersonal. (Dewanti, Widjaja, Tjandrajani, &
Burhany, 2012).

Permasalahan tentang penilaian bercerita yang merupakan bagian dari berbicara juga dikemukakan
Nurgiyantoro (2012, p.400) bahwa pada kenyataan praktik pemberian tugas berbicara di sekolah belum tentu
berkadar otentik. Penilaian berbicara otentik dimaksudkan sebagai tes asesmen otentik yaitu benar-benar
terampil berbicara (kinerja bahasa) dan isi pembicaraan mencerminkan kebutuhan realitas kehidupan
(bermakna). Berdasarkan permasalahan penilaian bercerita tersebut, menurut Nurgiyantoro (2012, p.401) tugas-
tugas berbicara yang dipilih untuk mengukur kompetensi berbahasa lisan peserta didik haruslah yang
memungkinkan peserta didik mengungkapkan keduanya: berunjuk kerja bahasa untuk menyampaikan informasi.
(Nomor, Siswa, Sd, & Bantul, 2015). Menurut Harris (Dheini 2011:3.5) menyatakan bahwa, “Menjelang usia 5-6
tahun, anak dapat memahami sekitar 8000 kata, dan dalam satu tahun berikutnya kemampuan anak dapat
mencapai 9000 kata”. (Pendidikan et al., 2015)

Banyak aspek yang menjadi karakteristik perkembangan bahasa pada anak, dimana aspek-aspek ini
perlu untuk diperhatikan lebih mendalam, agar perkembangan bahasa anak berkembang sesuai tahapannya.
Pengembangan kemampuanbahasa meliputi pengembangan aspek mendengar, berbicara, menulis, dan
membaca. Berdasarkan karakteristik anak usia dini, aspek kemampuan bahasa yang paling utama
dikembangkan adalah kemampuan mendengar dan berbicara (Wiyani, 2014).(Pebriana, 2017)Setiap aspek
perkembangannya anak perlu mendapat dorongan atau bantuan yang dapat membantu anak dalam tingkat
pencapaian perkembangan diusianya tersebut(Yuliani, 2012: 6) (Kajian, Habsari, & Malang, 2017). Maka dari itu
guru dan orang tua dapat memberikan alternatif berupa kegiatan bercerita melalui media boneka tangan.
Bercerita adalah kemampuan bahasa pragmatis yang mulai berkembang relatif awal bersama dengan
penggunaan sistem simbolik dalam ekspresi artistik dan permainan simbolik (Vygotsky 1978). (Peklaj &
Marjanovi, 2010). Cerita dan kegiatan bercerita sangat disukai anak. Anak akan memiliki pengalaman melalui
cerita yang diperankan tokoh-tokohnya. Guru dan orang tua menggiring anak atau menyimpulkan nilai-nilai budi
pekerti yang ada dalam cerita atau wacana. Konflik cerita yang berbeda/bervariasi tidak akan menimbulkan rasa
bosan pada anak melalui kegiatan bercerita melalui media boneka tangan dapat memaksimalkan kompetensi
budi pekerti serta memaksimalkan kemampuan berbahasa siswa. (Sulianto, Fita, Untari, & Yulianti, 2014).

Mendongeng, didefinisikan sebagai menyajikan peristiwa-peristiwa yang berkaitan secara kausal


secara lisan atau pengalaman dalam tatanan temporal (Hughes, McGillivray, & Schmidek, 1997; Peterson,

2
1990). Sebagian besar guru dan orang tua mendorong anak-anak prasekolah untuk berbicara tentang peristiwa
yang terjadi pada hari sebelumnya atau bahkan masa lalu yang lebih jauh. Dalam hal terjadi cedera, kebutuhan
akan cerita yang lengkap dan komprehensif sangat penting. (Spencer & Slocum, 2010). Menurut Pusat Bahasa
(2003:167), dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi atau cerita bohong. Salah satu unsur intrinsik
yang ada dalam dongeng adalah memiliki amanat atau pesan moral. Oleh karena itu, dongeng bisa dijadikan
sebagai media untuk membentuk karakter anak karena memiliki nilai budi pekerti yang bisa dipelajari oleh anak.
(Kusmiadi, 2008) Penelitian telah menunjukkan bahwa bercerita atau mendongeng di depan ruang kelas masa
anak-anak meningkatkan peluang untuk interaksi dan kolaborasi sesama teman sebaya, mendorong
perkembangan sosial dan emosional yang sehat ketika anak-anak menggunakan bercerita untuk menyelesaikan
masalah, menangani konflik, menaklukkan ketakutan, mengadopsi perspektif baru, mengatur emosi, dan
mempraktikkan keterampilan pengaturan diri (Curenton 2006; Paley 1990; Piaget dan Inhelder 1969; Vygotsky
1933, 1978). (Wright, Diener, & Kemp, 2013)

Boneka sebagai Media Pembelajaran Boneka

Boneka adalah salah satu alat peraga tiruan yang sejak lama digunakan dalam pembelajaran.
Pemanfaatan bone- ka sebagai alat peraga masih menjadi pilihan para guru saat ini, hal ini disebab- kan karena
boneka menjadi alat peraga yang dianggap mendekati naturalitas dalam bercerita. Tokoh-tokoh yang diwujudkan
melalui boneka, berbicara dengan gerakan-gerakan yang mendukung pem- belajaran dan mudah diikuti anak.
Melalui boneka anak tahu tokoh mana yang sedang berbicara, apa isi pembicaraan dan bagaimana perilakunya.
Boneka ka- dang menjadi sesuatu yang hidup dalam imajinasi anak (Musfiroh, 2005). Bercerita dengan boneka
membutuhkan persiapan yang lebih matang, terutama persiapan memainkan boneka. Keterampilan
menggerakkan jari dengan lincah menjadi bagian penting dalam memainkan peran para tokoh. Keterampilan
memainkan boneka menjadi faktor penentu keberhasilan.(Di & Dasar, 1995)

Boneka tangan adalah boneka yang ukurannya lebih besar dari boneka jari dan bisa dimasukkan ke
tangan. Jari tangan bisa dijadikan pendukung gerakan tangan dan kepala boneka (Gunarti, 2010: 5.20). jadi
pengertian boneka tangan adalah boneka dijadikan sebagai media atau alat bantu yang digunakan guru dalam
kegiatan pembelajaran, yang ukurannya lebih besar dari boneka jari dan bisa dimasukkan ke tangan.Nana
Sudjana dan Ahmad Rivai (2002:188) menyatakan bahwa boneka tangan adalah boneka yang digerakkan dari
bawah oleh seseorang yang tangannya dimasukkan ke bawah pakaian boneka tersebut. Boneka adalah suatu
benda yang pada umumnya disukai oleh anak-anak, sehingga pemilihan boneka tangan ini dirasa sangat tepat
karena dapat dengan mudah menarik perhatian siswa.(Influence et al., 2016)

Dilihat dari bentuk dan cara memainkannya dikenal beberapa jenis boneka, antara lain:

a. Boneka jari
Boneka ini dibuat dengan alat sederhana seperti tutup botol, bola pingpong, bambu
kecil yang dapat dipakai sebagai kepala boneka. Sesuai dengan namanya boneka ini dima-
inkan dengan menggunakan jari tangan. Kepala boneka diletakkan pada ujung jari kita/ dalam.
Dapat juga dibuat dari semacam sarung tangan, dimana pada ujung jari sarung tangan
tersebut sudah berbentuk kepala boneka dan dengan demikian kita/ dalam tinggal
memainkannya saja.

b. Boneka Tangan
Boneka ini dari setiap ujung jari kita dapat memainkan satu tokoh, lain halnya dengan
boneka tangan. Pada boneka tangan ini satu tangan kita hanya dapat memainkan satu
boneka. Disebut boneka tangan, karena boneka ini hanya terdiri dari kepala dan dua tangan
saja, sedangkan bagian badan dan kakinya hanya merupakan baju yang akan menutup lengan
orang yang memainkannya disamping cara memainkannya juga hanya memakai tangan
(tanpa menggunakan alat bantu yang lain). Cara memainkanya adalah jari telunjuk untuk
memainkan atau menggerakkan kepala, ibu jari, dan jari tangan untuk menggerakkan tangan.
Di Indonesia penggunaan boneka tangan sebagai media pendidikan/ pembelajaran di
sekolahsekolah sudah dilak-sanakan, bahkan dipakai diluar sekolah yaitu pada siaran TVRI
dengan film seri boneka “Si Unyil”. (Sulianto, Fita, Untari, & Yulianti, n.d.)

3
c. Boneka Tongkat
Disebut boneka tongkat karena cara memainkannya dengan menggunakan tongkat.
Tongkat-tongkat ini dihubungkan dengan tangan dan tubuh boneka. Wayang Golek di Jawa
Barat misalnya adalah termasuk boneka jenis ini. Untuk keperluan penggunaan boneka
tongkat sebagai media pendidikan/ pembelajaran di sekolah, maka tokoh-tokohnya dibuat
sesuai dengan keadaan sekarang. Misalnya dibuat tokoh tentara, pedagang, lurah, nelayan
dan sebagainya Boneka tongkat dapat dibuat darikayu yang lunak seperti kayu kemiri, randu,
dan sebagainya. (Widjajanto, Lund, & Schelhowe, 2008) (Tyas et al., 2018)
.
d. Boneka Tali
Boneka tali atau “Marionet” banyak dipakai dinegara barat. Perbedaan yang
menyolok antara boneka tali dengan boneka yang lain adalah, boneka tali bagian kepala,
tangan, dan kaki dapat digerak-gerakkan menurut kehendak kita/dalangnya. Cara meng-
gerakkannya dengan tali. Dengan demikian maka kedudukan tangan orang yang memain-
kannya berada di atas boneka yang dimainkannya. Untuk memainkan boneka tali diperlukan
latihan-latihan yang teratur, sebab memainkan boneka tali ini memerlukan keterampilan yang
lebih sulit dibandingkan dengan memainkan boneka-boneka yang lainnya. Adakan tetapi
memiliki kelebihan lebih hidup dari pada boneka yang lain, karena mendekati gerak manusia
atau tokoh yang sebenarnya.

e. Boneka Bayang-bayang
Boneka bayang-bayang (Sadhow Puppet) adalah jenis boneka yang cara
memainkannya dengan mempertontonkan gerak bayang-bayang dari boneka tersebut. Di
Indonesia khususnya di Jawa dikenal dengan “Wayang kulit”. Namun untuk keperluan sekolah,
wayang semacam ini dirasakan kurang efektif, karena untuk memainkan boneka ini diperlukan
ruangan gelap/tertutup. lagi pula diperlukan lampu untuk membuat bayang-bayang layar.
(Moraiti et al., n.d.) (Piman, 2012)

METODE

Metode penelitian yang akan digunakan peneliti adalah metode kualitatif deskriptif, penelitian kualitatif deskriptif
kualitatif merupakan salah satu dari jenis penelitian yang termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Adapun
tujuan dari peneltian ini adalah untuk mengungkapkan kejadian atau fakta, keadaan, fenomena, variabel, dan
keadaan yang terjadi saat penelitian berlangsung dengan menyuguhkan apa yang sebenarnya terjadi. Penelitian
ini menafsirkan dan menguraikan data yang bersangkutan dengan situasi yang terjadi, sikap serta pandangan
yang terjadi di dalam suatu masyarakat, pertentangan antara dua keadaan atau lebih, hubungan antar variabel
yang timbul, perbedaan antar fakta yang ada serta pengaruhnya terhadap suatu kondisi, dan sebagainya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan berbicara peserta didik kelompok B sebelum
diterapkan metode bercerita dengan menggunakan boneka, maka peneliti mencari data-data dan
informasi tentang kondisi awal kemampuan berbicara peserta didik dengan melakukan pengamatan
pada kegiatan pratindakan yang dilakukan pada harii Kamis tanggal 04 April 2019 dan hari Jumat
tanggal 05 April 2019.
Adapun kegiatan yang dilakukan peneliti pada pratindakan yaitu peneliti melakukan
pengamatan dengan menggunakan instrument daftar ceklis untuk melihat kemampuan berbicara anak
yang mencakup empat indikator yaitu menjawab pertanyaan tentang tokoh-tokoh dalam cerita secara
lisan, menjawab pertanyaan tentang sikap-sikap atau perbuatan baik atau buruk yang menjadi karakter
setiap tokoh dalam cerita lisan, melanjutkan sebagian cerita/ dongeng yang telah didengarkannya.
Adapun instrument daftar ceklis kemampuan berbicara peserta didik pratindakan dapat dilihat
sebagai berikut :

4
Kemampuan Berkomunikasi Anak Usia Dini Sebelum Pemanfaatan Media Boneka Tangan

Tabel 4.2

Aspek Indikator Penilaian


perkembangan
SM M KM BM

Berbicara/ Menjawab pertanyaan dengan kompleks tentang √


mengungkapkan tokoh tokoh dalam cerita lisan.
bahasa
Menjawab pertanyaan dengan kompleks tentang √
sikap sikap atau perbuatan baik atau buruk yang
menjadi karakter setiap tokoh dalam cerita lisan.

Menyebutkan pesan moral yang terkandung dalam √


cerita lisan.

Melanjutkan sebagian cerita/ dongeng yang telah √


diperdengarkan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari tabel diatas didapat rata-rata persentase kemampuan
berbicara peserta didik kelompok B pada pratindakan adalah 50% dan peneliti menyimpulkan bahwa
kemampuan berbicara peserta didik kelompok B tergolong kedalam kategori Mulai Berkembang (MB)
artinya anak mulai memiliki keterampilan berbicara bamun masih memerlukan bantuan dari guru baik
itu dalam pengucapan, arahan dan rangsangan.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mulai dari tanggal 04 April 2019 sampai 05 April
2019, dalam meningkatkan kemampuan berbicara anak kelompok B RA Assafariyah Kota Bandung.
Dapat disimpulkan bahwa sebelum diterapkan metode bercerita menggunakan boneka, kemampuan
berbicara anak kelompok B RA Assafariyah masih dalam keadaan rendah dan dirasa perlu untuk
ditingkatkan. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya berbagai faktor yang menghambat
perkembangan berbicara anak.

Pertama adalah faktor media pembelajaran. Penggunaan media dalam pembelajaran menjadi salah
satu faktor ynag menyebabkan rendahnya kemampuan berbicara peserta didik kelompok B di RA
Assafariyah. Hal ini terlihat pada saat pratindakan, guru tidak menggunakan media apaun ketika
bercerita di depan perserta didik sehingga kegiatan bercerita dirasa kurang optimal. Padahal
penggunaan media pembelajaran banyak membantu dalam mencapai tujuan pembelajaran. Media
pembelajaran dapat memberikan daya tarik dan minat belajr, terutama untuk anak usia dini.
Kedua, rendahnya kemampuan berbicara anak juga disebabkan oleh tidak terlatihnya rasa
percaya diri dan kebiasaan peserta didik dalam berbicara sehingga peserta didik masih kurang memiliki
keberanian dalam mengungkapkan pendapatnya. Anak seharusnya diberikan rangsangan

Cara mengembangkan kemampuan berkomunikasi anak usia dini di Raudhathul Athfal


Assafariyah. Pada bagian ini peneliti berusaha untuk memaparkan temuan penelitian mengenai
bagaimana pelaksanaan metode bercerita dengan menggunakan boneka untuk meningkatkan
kemampuan berbicara anak kelompok B RA Assafariyah.

Bercerita merupakan suatu ungkapan atau berbentuk tulisan yang dituturkan kepada orang
lain baik itu yang berbentuk kisah nyata ataupun khayalan atau imajinasi. Metode bercerita adalah
penyampaian cerita dengan cara bertutur dengan menonjolkan penuturan secara lisan isi cerita.
(Kemendiknas:2012). Dengan menggunakan media panggung boneka maka anak akan ikut bermain
didalammya artinya panggung boneka juga merupakan sarana untuk bermain dan mendapatkan
hiburan (Rachmayanti, 2009)

5
Kemampuan berbicara anak kelompok B di RA Assafariyah mengalami peningkatan yang lebih
baik dari sebelumnya setelah diterapkannya metode bercerita dengan menggunakan boneka.hal ini
dapat dilihat dengan adanya peningkatan hasil nilai yang diperoleh dari daftar ceklis kemampuan
berbicara anak pada pertemuan pertama dan kedua.

Kemampuan Berkomunikasi Anak Usia Dini Setelah Pemanfaatan Media Boneka Tangan
Tabel 4.4

Aspek Indikator Penilaian


perkembangan
SM M KM BM

Berbicara/ Menjawab pertanyaan dengan kompleks tentang tokoh √


mengungkapkan tokoh dalam cerita lisan.
bahasa

Menjawab pertanyaan dengan kompleks tentang sikap √


sikap atau perbuatan baik atau buruk yang menjadi
karakter setiap tokoh dalam cerita lisan.

Menyebutkan pesan moral yang terkandung dalam √


cerita lisan.

Melanjutkan sebagian cerita/ dongeng yang telah √


diperdengarkan.

Data yang dituangkan dalam tabel diatas, didapatkan dari perhitungan nilai yang diberikan peneliti
pada saat evaluasi kegiatan bercerita menggunakan boneka pada siklus ke dua dengan menggunakan
instrument daftar ceklis kemampuan berbicara anak. Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus ke dua,
persentase pencapaian perkembangan berbicara peserta didik sudah mengalami peningkatan dan sudah
sesuai dengan target yang diharapkan.

Simpulan

Metode bercerita menggunakan boneka merupakan salah satu metode yang dapat digunakan
dalam meningkatkan kemampuan berbicara pada anak usia dini khusunya pada anak kelompok bermain di
Raudhathul Athfal As-Safariyah tahun ajaran 2018-2019. Secara khusus kesimpulan hasil penelitian dapat
diuraikan sebagai berikut :

1. Kemampuan berbahasa anak sebelum diterapkan metode bercerita menggunakan boneka tangan masih
dalam keadaan rendah. Diantaranya anak belum memiliki kemampuan untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang diberikan guru, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi awalan sama dan
bercerita atau mengungkapkan ide dan pendapatnya secara lisan. Sehingga perlu ditingkatkan agar
perkembangannya dapat meningkat dengan optimal. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya
prestasi kemampuan berbicara anak yaitu pelaksanan kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru
kurang menarik bagi anak.

6
2. Teknik bercerita menggunakan boneka tangan merupakan salah satu metode bercerita yang diharapkan
dapat memberikan stimulus dan daya tarik serta minat belajar peserta didik di RA Assafariyah dalam
meningkatkan kemampuan berbicaranya. Akan tetapi dalam pelaksanaan kegiatan berbicara diperlukan
berbagai trik dan tips agar pada pelaksanaanya dapat berjalan dengan baik. Guru juga harus peka
terhadap kondisi anak dan menggunakan trik yang menarik untuk mengkondisikan kembali pada saat
anak merasa jenuh mendengarkan cerita. Hal lain yang perludiperhatikan pula adalah pengaturan waktu,
jeda pelaksanaan kegiatan, alur cerita dan motivasi berupa hadiah ataupun pujian. Selain itu guru juga
harus memperhatikan bagaimana pelaksanaan kegiatan dengan memberikan kesempatan kepada anak
untuk berbicara dalam menjawab pertanyaan, menyebutkan gambar dan menggunakan ide melalui cerita,
maka secara langsung anak dapat melatih meningkatkan kemampuan berbicara.
Referensi `

Dewanti, A., Widjaja, J. A., Tjandrajani, A., & Burhany, A. A. (2012). Karakteristik Keterlambatan Bicara di Klinik
Khusus Tumbuh Kembang Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Tahun 2008 - 2009. 14(4), 230–
234.

Di, K., & Dasar, S. (1995). PENGGUNAAN BONEKA SEBAGAI MEDIA SIMULASI. 20–25.

Hirsh-pasek, K., Adamson, L. B., Bakeman, R., Owen, M. T., Golinkoff, R. M., Pace, A., … Suma, K. (2015). The
Contribution of Early Communication Quality to Low-Income Children ’ s Language Success.
https://doi.org/10.1177/0956797615581493

Influence, T. H. E., The, O. F., Of, U. S. E., Puppets, H., Towards, M., & Story, L. (2016). PENGARUH MEDIA
BONEKA TANGAN TERHADAP KETERAMPILAN THE INFLUENCE OF THE USE OF HAND PUPPETS
MEDIA TOWARDS LISTENING STORY. 580–586.

Kajian, J., Habsari, Z., & Malang, U. N. (2017). Dongeng sebagai pembentuk karakter anak. 1(1), 21–29.

Kurniawati, Y., Studi, P., Pendidikan, G., Usia, A., Fakultas, D., Pendidikan, I., … Surabaya, U. N. (2014).
Meningkatkan kemampuan berbicara anak melalui metode bercerita dengan media big book di ppt tulip
surabaya. 1–6.

Kusmiadi, A. (2008). STRATEGI PEMBELAJARAN PAUD MELALUI METODE DONGENG BAGI PENDIDIK
PAUD. 3(2).

Manajemen, J. (2017). Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan. 2(1), 76–86.

Moraiti, A., Moumoutzis, N., Christoulakis, M., Pitsiladis, A., Stylianakis, G., Sifakis, Y., … Christodoulakis, S.
(n.d.). Playful Creation of Digital Stories with eShadow.

No, E. K. (2011). Edisi Khusus No. 2, Agustus 2011. (2), 31–37.

Nomor, V., Siswa, B., Sd, K. V, & Bantul, S. K. (2015). Jurnal Prima Edukasia. 3, 166–176.

Pebriana, P. H. (2017). Analisis Kemampuan Berbahasa dan Penanaman Moral pada Anak Usia Dini melalui
Metode Mendongeng. 1(2), 139–147. https://doi.org/10.31004/obsesi.v1i2.25

Peklaj, U. F., & Marjanovi, L. (2010). European Early Childhood Education Children ’ s storytelling : the effect of
preschool and family environment. (December 2014), 37–41. https://doi.org/10.1080/13502930903520058

Pendidikan, J., Pendidikan, G., Usia, A., Volume, D., Tahun, N., Ayu, I., … Asril, N. M. (2015). PADA ANAK
Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha e-journal PG
PAUD Universitas Pendidikan Ganesha. 3(1).

Pendidikan, J., Pendidikan, G., Usia, A., Volume, D., Tahun, N., Prihanjani, N. L., … Tahun, N. (2017). BONEKA
TANGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK USIA 5-6 Jurusan Pendidikan
Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha Abstrak e-

7
Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha. 4(3).

Piman, S. (2012). Puppet Modeling for Real-time and Interactive Virtual Shadow Puppet Play. 110–114.

Rachmayanti, R. D. (2009). Penggunaan Media Panggung Boneka dalam Pendidikan Personal Hygiene Cuci
Tangan Menggunakan Sabun di Air Mengalir. 1–13.

Sihite, B. D. (n.d.). PENGARUH METODE BERCERITA TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER DISIPLIN


ANAK USIA 5-6 TAHUN Guru di TK Santa Lusia Medan. 1–8.

Spencer, T. D., & Slocum, T. A. (2010). The Effect of a Narrative Intervention on Story Retelling and Personal
Story Generation Factors and Narrative Language Delays. 178–199.

Sulianto, J., Fita, M., Untari, A., & Yulianti, F. (n.d.). Media boneka tangan dalam metode berceritera untuk
menanamkan karakter positif kepada siswa sekolah dasar.

Sulianto, J., Fita, M., Untari, A., & Yulianti, F. (2014). PROFIL CERITA ANAK DAN MEDIA BONEKA TANGAN
DALAM METODE BERCERITA BERKARAKTER UNTUK SISWA SD. 1, 113–122.

Tyas, I., Sari, M., Toha, H., Nurani, Y., Pg-paud, P., Pendidikan, F. I., … Jakarta, N. (2018). Jurnal Obsesi :
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Improving Early Childhood Prosocial Behavior through Activity
Storytelling with Puppets. 2(2), 155–161. https://doi.org/10.31004/obsesi.v2i2.75

Widjajanto, W. A., Lund, M., & Schelhowe, H. (2008). “ Wayang Authoring ”: A Web-based Authoring Tool for
Visual Storytelling for Children. 464–467.

Wright, C., Diener, M. L., & Kemp, J. L. (2013). Storytelling Dramas as a Community Building Activity in an Early
Childhood Classroom. 197–210. https://doi.org/10.1007/s10643-012-0544-7

Zulaikha, S., Pendidikan, J., Pendidikan, G., Usia, A., & Ganesha, U. P. (2014). PENERAPAN METODE
BERCERITA BERBANTUAN MEDIA. 2(1).

Anda mungkin juga menyukai