Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

“TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI LIMFOGRAFI”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknik Radiografi


Khusus

Disusun oleh:

MOCH. MAZINUL KHOIRI

NIM : 171141040

DIPLOMA III RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

WIDYA CIPTA HUSADA

MALANG

2019

1
2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman bernama Prof. Dr.

Wilhem Conrad Roentgen berhasil menemukan sinar-X pada tahun 1895

melalui percobaannya menggunakan sinar katoda. Penemuan tersebut

memberikan perkembangan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi terutama

dalam dunia kedokteran. Di Indonesia sendiri perkembangan penggunaan

sinar-X dipelopori oleh Dr. Max Herman Knoch seorang ahli radiologi

berkebangsaan Belanda yang bekerja sebagai dokter tentara di Jakarta.

Prinsip dari radiodiagnostik yaitu sinar-X yang mengenai suatu obyek akan

menghasilkan gambaran negatif yang disebut dengan radiograf. Sebuah

radiograf dapat membantu menegakkan diagnosa yang diberikan oleh

dokter. Seiring perkembangan zaman, aplikasi pemanfaatan sinar-X dalam

pemeriksaan penyakit atau kelainan suatu organ menjadi lebih berkembang

dan bervariasi pula. Hal ini tentunya didukung oleh berbagai spesifikasi

pesawat radiodiagnostik yang lebih modern. Salah satu pemeriksaan yang

memanfaatkan sinar-X adalah pemeriksaan Limfografi.

Limfografi sendiri adalah suatu metode pemeriksaan pembuluh dan

kelenjar limfa secara radiologis yang dilakukan cara memasukkan media

kontas ke pembuluh limfa.

3
Namun pemeriksaan Limfografi saat ini sudah sangat jarang sekali

dilakukan, dan telah digantikan oleh pemeriksaan lain seperti USG, CT,

MRI, dan Kedokteran Nulkir.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja anatomi Limfa ?

2. Apa saja indikasi pemeriksaan Limfografi ?

3. Bagaimana teknik pemeriksaan Limfografi ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui anatomi Limfa

2. Untuk mengetahui indikasi pemeriksaan Limfografi

3. Untuk mengetahui tenik pemeriksaan Limfografi

1.4 Metode Penulisan

a. Studi Pustaka

Penulis membaca berbagai literatur yang berhubungan dengan kasus

yang daimbil.

1.5 Manfaat Penulisan

a. Bagi Penulis

Dapat menambah pengetahuan penulis tentang bagaimana cara

pemeriksaan Limfografi

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Limfa

Sistem saluran limfe berhubungan erat dengan sistem sirkulasi

darah. Darah meninggalkan jantung melalui arteri dan dikembalikan melalui vena.

Sebagian cairan yang meninggalkan sirkulasi dikembalikan melalui saluran limfe,

yang merembes dalam ruang-ruang jaringan.

Hampir seluruh jaringan tubuh mempunyai saluran limfatik yang

mengalirkan kelebihan cairan secara langsung dari ruang interstisial. Beberapa

pengecualian antara lain bagian permukaan kulit, sistem saraf pusat, bagian dalam

dari saraf perifer, endomisium otot, dan tulang.

5
Limfe mirip dengan plasma tetapi dengan kadar protein yang lebih kecil.

Kelenjar-kelenjar limfe menambahkan limfosit pada limfe sehingga jumlah sel itu

sangat besar di dalam saluran limfe. Di dalam limfe tidak terdapat sel lain. Limfe

dalam salurannya digerakkan oleh kontraksi otot di sekitarnya dan dalam beberapa

saluran limfe yang gerakannya besar itu dibantu oleh katup.

1. Susunan

Limfe mirip dengan plasma tetapi dengan kadar protein yang lebih

kecil. Kelenjar –kelenjar limfe menambahkan limfosit pada limfe sehingga

jumlah sel itu sangat besar di dalam saluran limfe. Di dalam limfe tidak

terdapat sel lain. Limfe dalam salurannya digerakkan oleh kontraksi otot di

sekitarnya dan dalam beberapa saluran limfe yang gerakannya besar itu

dibantu oleh katup.

1. Mengembalikan cairan dan protein dari jaringan kedalam sirkulasi

darah.

2. Mengangkut limfosit dari kelenjar limfe kesirkulasi darah.

3. Untuk membawa lemak yang sudah dibuat emulsi dari usus ke

sirkulasi darah. Saluran limfe yang melaksanakan fungsi ini ialah

saluran lakteal.

4. Kelenjar limfe menyaring dan menghancurkan mikroorganisme untuk

menghindarkan penyebaran organisme itu dari tempat masuknya ke

dalam jaringan, kebagian lain tubuh.

5. Apabila ada infeksi, kelenjar limfe menghasilkan zat anti (antibodi)

untuk melindungi tubuh terhadap kelanjutan infeksi.

6
2. Pembuluh limfe

Struktur pembuluh limfe serupa dengan vena kecil, tetapi memiliki

lebih banyak katup sehingga pembuluh limfe tampaknya seperti rangkaian

petasan.Pembuluh limfe yang terkecil atau kapiler limfe lebih besar dari

kapiler darah dan terdiri hanya atas sel apisendotelium. Pembuluh limfe

bermula sebagai jalinan halus kapiler yang sangat kecil atau sebagai rongga-

rongga limfe di dalam jaringan berbagai organ. Sejenis pembuluh limfe

khusus, disebut lacteal (khilus) dijumpai dalam viliusus kecil.

3. Kelenjar limfe atau limfonodi

Limfonodi berbentuk kecil lonjong atau seperti kacang dan terdapat

di sepanjang pembuluh limfe. Kerjanya sebagai penyaring dan di jumpai di

tempat-tempat terbentuknya limfosit. Kelompok-kelompok utama terdapat

di dalam leher, axial, thorax, abdomen, dan lipatan paha.

Sebuah kelenjar limfe mempunyai pinggiran cembung dan yang cekung.

Pinggiran yang cekung disebut hilum. Sebuah kelenjar terdiri dari jaringan

fibrous, jaringan otot, dan jaringan kelenjar. Di sebelah luar, jaringan limfe

terbungkus oleh kapsul fibrous. Dari sini keluar tajuk-tajuk dari jaringan

otot dan fibrous, yaitu trabekulae, masuk kedalam kelenjar dan membentuk

sekat-sekat .Ruangan diantaranya berisi jaringan kelenjar, yang

mengandung banyak sel darah putih atau limfosit.

Pembuluh limfe aferen menembus kapsul di pinggiran yang cembung dan

menuangkan isinya kedalam kelenjar. Bahan ini bercampur dengan benda-

benda kecil dari pada limfe yang banyak sekali terdapat di dalam kelenjar

dan selanjutnya campuran ini dikumpulkan pembuluh limfe eferen yang 7

7
mengeluarkannya melalui hilum. Arteridan vena juga masuk dan keluar

kelenjar melalui hilum.

4. Saluranlimfe

Terdapat dua batang saluran limfe utama, ductus thoracicus dan

batang saluran kanan. Ductus thoracicus bermula sebagai resptakulum khili

atau sisterna khili di depan vertebra lumbalis. Kemudian berjalan keatas

melalui abdomen dan thorax menyimpang kesebelah kiri kolumna

vertebralis, kemudian bersatu dengan vena-vena besar di sebelah bawah kiri

leher dan menuangkan isinya ke dalam vena-vena itu.

Ductus thoracicus mengumpulkan limfe dari semua bagian tubuh, kecuali

dari bagian yang menyalurkan limfenya ke ductus limfe kanan (batang

saluran kanan).

Ductus limfe kanan ialah saluran yang jauh lebih kecil dan mengumpulkan

limfe dari sebelah kanan kepala dan leher, lengan kanan dan dada sebelah

kanan, dan menuangkan isinya ke dalam vena yang berada di sebelah bawah

kanan leher.

Sewaktu suatu infeksi pembuluh limfe dan kelenjar dapat meradang, yang

tampak pada pembengkakan kelenjar yang sakit atau lipat paha dalam hal

sebuah jari tangan atau jari kaki terkena infeksi.

8
2.2 Indikasi Pemeriksaan Limfografi

Untuk menentukan lokalisasi pada kilotoraks, kiloperitoneum,

kiluria, juga untuk mengevaluasi penyebaran / staging pada keganasan,

terutama limfoma, termasuk penyakit Hodgkin. Selain itu sangat berguna

untuk menentukan luasnya infeksi terutama filarisis yang masih banyak

terdapat di Indonesia. Tidak kalah pentingnya dalam bidang radioterapi

selain untuk perencanaan penyinaran juga sebagai tindak lanjut

pascaradiasi.

2.3 Teknik Pemeriksaan Limfografi

Lymphangiography, atau angiogram kelenjar getah bening adalah

tes yang memanfaatkan teknologi x-ray bersama dengan injeksi agen

kontras, untuk melihat sirkulasi limfatik dan kelenjar getah bening untuk

tujuan diagnostik.

Pada pemeriksaan lymphangiography dibutuhkan waktu kira-kira 1,5 jam

untuk cairan kontras sampai ke vertebrae lumbal 3.

2.3.1 Persiapan Pasien

1. Harus diyakini bahwa tidak ada kontra indikasi untuk pemeriksaan ini.

2. Jika terjadi oedema, tungkai di naikkan selama 24 jam, sebelum

pemeriksaan, pada kasus oedama yang sangat berat di lakukan

pembebatan dari paha sampai jempol, untuk ini pasien harus di rawat

di rumah sakit.

9
3. Pasien harus pemeriksaan foto thorak yang terbaru, biasanya dilakukan

di saat dilakukan limphografy.

4. Anti histamin dan sedatif diberikan sebelum dilakukan pemeriksaan.

5. Pasien disuntikkan anastesi lokal.

6. Insisi kecil dibuat di dorsum pedis pada setiap kaki.

7. Prosedur ini harus dijelaskan kepada pasien, termasuk penekanan.

Sangat penting tidak menggerakan kaki selama pemasangan jarum dan

penyuntikan, pasien di beritahu bahwa dia nanti akan tidak sehat selama

24 jam yaitu selama pemeriksaan abrsorbsidari.

8. Paten blue akan membuat kencing berwarna biru, jadi keterangan ini

harus di jelaskan kepada pasien dan keluarganya

9. Pasien harus di beri tahu bahwa pemeriksaan ini memakan waktu yang

lama.

10. Pasien harus mixi terlebih dahulu sebelum pemeriksaan.

11. Jika pasien rawat jalan di haruskan rawat inap.

2.3.2 Tata cara Pemeriksaan Limfografi

1. Kaki dan ankle AP, menggunakan kaset 35 x 35cm , CR tegak lurus.

2. Setelah 10 menit kemudian foto Cruris AP, menggunakan 35x35cm,

CR tegak lurus, CP pada pertengahan cruris.

3. Dengan selang waktu 10 menit kemudian lagi ambil foto Knee

AP, menggunakan kaset yang sama , CR tegak lurus, CP di

pertengahan knee

10
4. 10 menit kemudian pada femur dengan patella pada bagian distal femur

harus tercakup, memakai ukuran film yang sama dengan CP pada

pertengahan , CR tegak lurus.

5. 10 menit kemudian foto pelvis AP , CP tegak lurus, CR diantara kedua

SIAS.

6. 10 menit kemudian foto abdomen memakai 35x43 cm CP pada C.V

lumbal 3

7. Kemudian foto thorak AP

8. 24 jam kemudian dilakukan pemeriksaan adenografi untuk melihat

kontras di dalam pembuluh kelenjar getah bening apa masih ada atau

sudah menghilang dengan posisi berikut.:

a. Pelvis ap

b. Abnomen ap/ oblique kanan dan kiri

c. Thorak ap

2.3.3 Teknik Pemasukan Media Kontras Pada Pemeriksaan Limfografi

Bahan kontras yang digunakan adalah Lipiodol Ultra Fluid Guerbet

38 % sebanyak 8-10 ml, dan tata cara pemasukan media kontras tersebut

adalah :

1. Sebelumnya dorsum pedis disuntikkan paten blue violet 11%

sebanyak ¼ ml, bertujuan untuk mewarnai pembuluh limfa

kaki dalam waktu 15-20 menit.

2. Setelah itu dilakukan penyuntikan di daerah dorsum pedis

dengan Lipiodol Ultra fluid guerbet 38 % sebanyak 8-10 ml

11
dimasukkan dengan menggunakan injektor otomatis dengan

kecepatan 1 ml / 10 menit secara merata.

2.4 Kontra Indikasi

Untuk penderita yang jelas alergi terhadap yodium dan zat kimia

yang dipakai dalam pemeriksaan ini. Sedangkan adanya kelainan paru

paru yang luas dan 10 pembesaran kelenjar limfa di bawah diafragma,

serta keadaan umum yang buruk harus dilakukan dengan hati hati.

Untuk penderita yang jelas alergi terhadap yodium dan zat kimia yang

dipakai dalam pemeriksaan ini. Sedangkan adanya kelainan paru paru

yang luas dan 10

2.5 Komplikasi

Umumnya jarang terjadi, walaupun ada beberapa literature penah

dilaporkan adanya alergi ringan sampai berat, bahkan kematian, selain

itu mungkin juga terjadi emboli paru, limforea dan infeksi di sekitar

daerah insisi.

12
BAB III

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan hasil analisa didapatkan bahwa

pemeriksaan Limfografi diatas adalah bertujuan untuk diagnostik. Dimana

pemeriksaan Limfografi tersebut ingin melihat adanya kelaian atau tidak

pada jaringan Limfe , kemudia jika memang ada kelaianan, dimana letak

secara spesifik kelaianan tersebut. Namum, seiring berjalannya waktu

pemeriksaan dengan metode ini sudah hampir tidak digunakan lagi karena

dirasa tidak efektif dan cukup beresiko untuk pasien.

13
DAFTAR PUSTAKA

Bontrager, Keneth, L. 2001. Text Book of Radiographic Positioning and Related


Anatomy Edition 5, Mosby. Inc, St. Louis : Mosby. Inc.

Rasad, S.2005. “Sejarah Radiologi”. Radiologi Diagnostik.Devisi Radiodiagnostik,


Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Dr.
Cipto Mangunkusumo.Jakarta
Anatomi dan fisiologi limfe,

https://www.google.com/search?q=anatomi+limfografi&ie=utf-8&oe=utf

8&aq=t&rls=org.mozilla:id:official&client=firefox-a di akses pada : 31 Maret 2014.

Pukul 21.15 WIB.

14