Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI DASAR

KROMATOGRAFI (LAPIS TIPIS, KOLOM, DAN


KAPILARITAS)

Responser: Baitha Palanggatan Maggadani, M.Farm., Apt.

Disusun oleh:
1. Annesya Shafira (1806194523)
2. Firyal Fairuztsana N. (1806194321)
3. Muhammad Adzka Khairiy N, (1806194561)
4. Priska Yodi (1806194366)
5. Qinthara Alifya P. (1806194536)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI - MEDISINAL DAN BIOANALISIS


PRODI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS INDONESIA
2019
DAFTAR ISI

BAB I .............................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Tujuan Praktikum ............................................................................................................. 2
BAB II ............................................................................................................................................. 3
TEORI DAN PUSTAKA ................................................................................................................ 3
2.1 Kromatografi Lapis Tipis ...................................................................................................... 3
2.2 Nilai Rf (Retordation factor) ................................................................................................ 3
2.3 Kromatografi Kolom ............................................................................................................. 4
BAB III ........................................................................................................................................... 6
METODE PERCOBAAN PRAKTIKUM ...................................................................................... 6
3.1 Alat dan Bahan ...................................................................................................................... 6
3.2 Cara Kerja ............................................................................................................................. 7
3.2.1 Kromatografi Lapis Tipis ................................................................................................. 7
Langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: ................... 7
3.2.2 Kromatografi Kolom ........................................................................................................ 7
BAB IV ........................................................................................................................................... 9
HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................................................... 9
4.1 Hasil Percobaan..................................................................................................................... 9
4.2 Pembahasan ......................................................................................................................... 10
BAB V........................................................................................................................................... 13
KESIMPULAN ............................................................................................................................. 13
5.1 Kesimpulan ......................................................................................................................... 13
5.2 Saran.................................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 14
LAMPIRAN .................................................................................................................................. 15

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.1.1 Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi didefinisakn sebagai prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu


proses migrasi diferensial dinamis dalam sistem yang terdiri atas dua fase atau lebih.
Fase diam (stationary phase) adalah fase yang akan menahan komponen campuran,
sedangkan fase gerak (mobile phase) adalah fase yang akan melarutkan zat
komponen campuran. Zat-zat terlarut menunjukkan perbedaan mobilitas yang
disebabkan oleh perbedaan adsorpsi, partisi, kelarutan, tekanan uap, ukuran molekul,
atau kerapatan muatan ion (Harmita, 2015).

Proses pemisahan senyawa biasanya menggunakan beberapa teknik


kromatografi. Pemilihan Teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat
kelarutan senyawa yang dipisahkan. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat
berupa padatan atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau
gas) sendiri (Anggraeni, 2009).

1.1.2 Kromatografi Kolom

Kromatografi kolom konvensional masih umum digunakan untuk pemisahan


maupun pemurnian walaupun kromatografi kolom termasuk kromatografi klasik.
Senyawa yang dipisahkan dengan kromatografi kolom memiliki mekanisme yang
sama dengan jenis kromatografi lain. Mekanisme kromatografi kolom berkaitan
dengan perbedaan antara gaya-gaya antar molekul dalam sampel dengan fasa gerak
antara komponen dengan fasa diam. Teknik kromatografi kolom bergantung pada
kombinasi fasa diam dan fasa gerak yang dipilih. Dari teknik tersebut, dapat
diharapkan interaksi yang timbul juga demikian. Kromatografi kolom merpuakan
metode pemisahan senyawa kimia dari campurannya sehingga sampel dapat
dianalisa. Kromatografi kolom termasuk salah satu contoh kromatografi adsorbsi.

1
1.2 Tujuan Praktikum

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk:

1) Mamahami dan melaksanakan Teknik pengisian chamber untuk kromatografi lapis


tipis (KLT).
2) Memahami dan menentukan nilai Rf pada sampel yang dilakukan dengan metode
KLT.
3) Menentukan eluen yang tepat untuk pemisahan sampel.
4) Memisahkan komponen zat warna dalam suatu campuran secara kromatografi kolom.

2
BAB II

TEORI DAN PUSTAKA

2.1 Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi lapis lipis (KLT) merupakan proses pemisahan fisikokimia yang


didasarkan atas penyerapan, partisi (pembagian), atau gabungannya (Harmita,2015). KLT
dapat digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa yang bersifat hidrofobik, seperti
lipida-lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan pada kromatografi kertas.
Pelaksanaan KLT menggunakan fase diam berupa pelat lapis tipis silika atau alumina
yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Pelat KLT
seingkali juga mengandung substansi yang dapat berpendarflour dalam sinar UV. Fase
gerak merupakan pelarut atau campuran yang sesuai. Dalam identifikasi pemisahan, jika
tidak mengeluarkan warna atau tidak dapat dilihat dengan kasat mata diperlukan alat UV
dan pereaksi pDAB.
Teknik KLT sangat bermanfaat untuk menganalisis obat dan bahan lain dalam
laboratorium karena hanya memerlukan peralatan sederhana, waktu yang cukup singkat,
dan jumlah zat yang diperiksa cukup kecil. Selain itu, KLT tidak memerlukan ruang yang
besar dan Teknik pengerjaannya juga sederhana (Harmita, 2015).

2.2 Nilai Rf (Retordation factor)

Jarak antara jalannya pelarut bersifat relative. Oleh sebab itu, diperlukan suatu
perhitungan tertentu untuk memastikan spot yang terbentuk memiliki jarak yang sama
walaupun ukuran jarak pelatnya berbeda. Nilai perhitungan tersebut adalah nilai Rf. Nilai Rf
ini digunakan sebgai perbandingan relative antar sampel. Nilai Rf untuk setiap komponen
dihitung dengan rumus sebagai berikut.
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 (𝑠𝑝𝑜𝑡)𝑏𝑒𝑟𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑘𝑒 𝑎𝑡𝑎𝑠
𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛
Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasi senyawa. Bila senyawa memiliki
nilai Rf yang sama, maka senyawa tersebut memiliki karakteristik yang sama atau mirip.

3
2.3 Kromatografi Kolom

Pemisahan dengan kromatografi kolom didasarkan pada mekanisme adsorpsi dan


partisi. Proses adsorpsi melibatkan beberapa interkasi yakni ikatan hidrogen, gaya Van
der Walls, gaya dipol-dipol, interaksi ionik, dan filtrasi atau permiasi antara senyawa-
senyawa dalam campuran dengan fasa diam. Senyawa yang dapat berinteraksi dengan
fasa diam akan teretensi sedangkan senyawa yang tidak dapat berinteraksi dengan fasa
diam akan bergerak mengikuti fasa gerak dan dielusi terlebih dahulu. Hasil pemisahan
dikumpulkan berupa fraksi-fraksi ketika keluar dari kolom.

Pada metode ini sampel dibiarkan mengalir dengan fasa gerak melalui fasa diam di
dalam kolom. Aliran turun hanya dipengaruhi oleh gaya gravitasi.

Kolom yang biasanya dipakai berupa pipa atau tabung kaca, logam, atau plastik yang
dimodifikasi dengan menggunakan katup atau keran pada bagian bawah kolom.

Fasa diam yang digunakan disebut juga sebagai adsorben karena, pada umumnya,
mekanisme pemisahan yang terjadi pada kromatografi kolom adalah adsorbsi. Fasa
geraknya dapat disebut sebagai eluen atau pelarut pengelusi.

Fasa diam diisi atau dikemas (di-packing) di dalam kolom. Fasa diam yang
umumnya dipakai adalah silika gel, alumina, kieselgur, dan lain-lain. Pengemasan
material fasa diam di dalam kolom dapat dilakukan dengan metode kering dan metode
basah. Metode kering dilakukan dengan cara serbuk silika gel dimasukan secara
perlahan-lahan ke dalam kolom sambil ditekan hingga mampat. Metode basah dilakukan
dengan cara silika gel terlebih dahulu disuspensi menggunakan pelarut pengelusi (fasa
gerak) yang akan dipakai.

Kekuatan fasa gerak untuk mengelusi senyawa yang teradsorbsi oleh silika gel
semakin bertambah bila kepolaran semakin turun. Oleh sebab itu, deret Trappe
menggambarkan hal tersebut sebagai berikut:

Air murni < Metanol < Etanol < Propanol < Aseton <
Etil asetat < Dietil eter < Kloroform < Metilen klorida <

4
Benzena < Toluena < Trikloro etilen < Karbon
tetraklorida < Sikloheksana < Heksana.

Pada pemisahan asam-asam amino dan sakarida-sakarida dengan adsorben padatan


karbon aktif, kekuatan elusi fasa gerak semakin besar dengan semakin bertambahnya
kepolaran. Oleh sebab itu, deret Williams menggambarakn hal tersebut sebagai berikut:

Etil asetat < Dietil eter < Propanol < Aseton < Etanol < Metanol < Air murni.

Berdasarkan interaksi yang terjadi di dalam kolom, kromatografi kolom dapat


dibedakan menjadi kromatografi kolom fasa normal dimana fasa diam bersifat polar dan
fasa gerak bersifat relatif nonpolar, kromatografi kolom fasa terbalik dimana fasa diam
bersifat nonpolar dan fasa gerak bersifat relatif polar, kroamtografi kolom penukar ion
dimana pemisahan terjadi karena interaksi elektrostatik (ion) antara permukaan fasa diam
dengan ion-ion dalam campuran, dan kromatografi kolom eksklusi dimana terjadi
adsorpsi senyawa-senyawa dalam campuran yang mempunyai ukuran molekul kecil oleh
permukaan fasa diam yang berpori.

Fenolftalein merupakan indikator yang umum dipakai untuk titrasi asam-basa karena
pada kondisi asam dan netral tidak berwarna sedangkan pada kondisi basa berwarna
merah muda (pink). Larutan NaOH (Natrium hidroksida/Sodium hydroxide) merupakan
basa kuat, sehingga dapat memberikan suasana basa dan membuat Fenolftalein terlihat
berwarna merah muda (pink).

5
BAB III
METODE PERCOBAAN PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Kromatografi Lapis Tipis

ALAT BAHAN
1) Chamber 1) Eluen (Etil asetat : Metanol :
2) Pelat KLT Amonia) dengan perbandingan
3) Lampu UV 17:6:5
4) Beaker glass 2) Sampel
5) Gelas ukur 3) Sulfadimidin
6) Pipa kapiler 4) Benzokain
7) Plat tetes 5) Sulfasetamid
8) Pipet ukur 6) Sulfametoksazol
9) Batang pengaduk 7) Pereaksi pDAB
10) Pensil
11) Penggaris

3.1.2 Kromatografi Kolom

Alat Bahan
1. Kolom kromatografi 1. Fase diam  Silica gel
2. Statif dan klep 2. Fase gerak  Etanol:Aquades:NaOH
3. Corong kaca 1 N (7:2:1)
4. Gelas beaker 3. Sampel  fenolftalein (PP) dan
5. Tabung reaksi sunset yellow
6. Pipet tetes 4. NaOH 1 N
7. Batang pengaduk kaca 5. Kapas
8. Rak tabung reaksi 6. Kertas saring berbentuk lingkaran
9. Sendok tanduk kecil
10. Stopwatch 7. Aluminium foil.

6
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Kromatografi Lapis Tipis
Langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

1) Pipet larutan etil asetat, methanol, dan amonia dengan perbandingan 17:6:5
kemudian masukkan ke dalam beaker glass. Homogenkan dengan batang
pengaduk.
2) Letakkan kertas saring ke dalam chamber, kemudian masukkan eluen ke dalam
chamber bersih.
3) Tutup chamber dan diamkan chamber hingga eluen membasahi kertas saring
untuk menjenuhkan chamber.
4) Setelah kertas saring basah oleh eluen, buang kertas saring.
5) Siapkan pelat KLT.
6) Beri garis 2 cm di atas permukaan pelat menggunakan pensil dan penggaris.
Buat 5 titik pada garis tersebut dengan jarak titik 1 cm.
7) Totolkan empat standar (Sulfadimidin, Sulfasetamid, Sulfanetoksazol, dan
Benzokain) pada titik tersebut. Satu spot satu standar. Satu spot terakhir
ditotolkan sampel.
8) Letakkan pelat KLT pada chamber yang telah dijenuhkan. Pelat KLT harus
diletakkan tegak lurus dan tidak boleh miring.
9) Perhatikan elusidasi pada pelat KLT oleh fase gerak, angkat pelat ketika
elusidasi sudah mencapai 80-90% dari Panjang pelat KLT dan keringkan.
10) Periksa hasil elusidasi dengan UV.
11) Beri pewarnaan dengan pereaksi pDAB.
12) Hitung Rf masing-masing spot pada pelat KLT

3.2.2 Kromatografi Kolom

Langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai


berikut:
1. Siapkan perangkat kromatografi kolom (harus lurus terhadap statif) dengan
stopcock (kran) yang telah diberi vaselin terlebih dahulu. Pastikan keran kolom
kromatografi dalam keadaan kencang, tidak longgar, dan tidak bocor.

7
2. Masukkan kapas ke dalam ujung bawah kolom dan kran kolom ditutup. Ratakan
kapas menggunakan batang pengaduk kaca.
3. Siapkan fase gerak sebanyak 50 ml dengan komposisi 35 ml etanol, 10 ml
aquades, 5 ml NaOH 1 N yang dicampur dalam satu gelas beaker. Kemudian
tutuplah gelas beaker dengan aluminium foil. Fase gerak tidak boleh dibiarkan
terbuka.
4. Siapkan adsorben (silica gel) yang telah dihomogenkan ke dalam gelas beaker,
lalu tambahkan fase gerak sampai terbentuk bubur suspensi.
5. Masukan secara perlahan bubur suspensi adsorben dengan memakai corong ke
dalam kolom. Usahakan agar tidak ada rongga (gelembung) udara pada fase
diam. Panjang fase diam dalam kolom sekitar 2/3 bagian dari panjang kolom.
Fase gerak usahakan lebih dari 2 cm di atas fase diam.
6. Secara perlahan buka kran, pastikan fase gerak mengalir secara perlahan.
Pastikan tidak ada gelembung udara pada fase diam dan jaga keberadaan fase
gerak pada kolom. Kran ditutup kembali jika adsorben tidak turun ketika kolom
diketuk-ketuk.
7. Masukkan kertas saring ke dalam kolom sampai berbatasan dengan adsorben
menggunakan batang pengaduk kaca. Kolom siap digunakan.
8. Masukkan sampel sebanyak 2 ml ke dalam kolom menggunaka corong dan
batang pengaduk kaca.
9. Perlahan keran dibuka sampai sampel berada tepat diatas fase diam. Tambahkan
fase gerak agar tidak kering.
10. Siapkan 20 tabung reaksi dan masukkan 2 tetes NaOH 1 N ke dalam masing-
masing tabung reaksi.
11. Perlahan keran dibuka dan catat waktu pertama penetesan fase gerak.
12. Fraksi yang keluar di tampung ke dalam tabung reaksi dan catat waktu
penetesan analit pertama, demikian seterusnya.
13. Perhatian: penambahan fase gerak jangan sampai terlambat, sehingga fase diam
kering. Fase gerak ditambahkan dengan hati-hati dan perlahan menggunakan
pipet.

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


4.1.1 Kromatografi Lapis Tipis
Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan, berikut adalah data hasil dari analisis
kromatografi lapis tapis terhadap empat larutan standar (Benzokain, Sulfadimidin,
Sulfametoksazol, Sulfasetamid) dan dan satu larutan sampel.

Data jarak totol dari larutan standar dan sampel :

Fase Gerak Jarak Totol

Standar

Sampel
Benzokain Sulfadimidin Sulfametoksazol Sulfatesamid

Etil Asetat : 6.7 4.6 cm 4.2 cm 4.4 cm 4.2


Metanol : cm cm,
4.6
Amonia cm,
(17:6:5) 6.7
cm

Hasil nilai Rf dari larutan standar dan sampel :

Fase Gerak Rf

Standar

Benzokain Sulfadimidin Sulfametoksazol Sulfasetamid Sampel

Etil Asetat : 0.97 0.67 0.61 0.64 0.61,


Metanol : 0.67,
0.97
Amonia
(17:6:5)

9
4.2.2 Kromatografi Kolom
No Waktu analit Warna Volume analit
pertama keluar (mL)
(menit ke-)
1. 09.33 Jingga kekuningan 1,4
2. 10.47 Merah tua 2,6
3. 13.35 Pink kejinggaan 2,5
4. 16.47 Pink tua 2,8
5. 19.33 Pink keunguan 5,2
6. 30.31 Pink terang 3,4
7. 31.28 Pink menuju pudar 4,2
8. 33.05 Pink pudar 8,2
9. 35.41 Jernih 1,2

4.2 Pembahasan
4.2.1. Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi Lapis Tipis merupakan salah satu analisis kualitatif yang paling
sederhana yang sering digunakan untuk identifikasi senyawa-senyawa organik. Pemisahan
dengan metode kromatografi lapis tipis dilakukan dengan cara menotolkan sampel pada
lempengan lapis tipis kemudian memasukkannya ke dalam chamber yang berisi eluen
dengan perbandingan pelarut tertentu. Prinsip dari kromatografi lapis tipis yaitu pemisahan
senyawa berdasarkan kepolaran fase diam dan senyawa yang diuji.
Pada praktikum kali ini, kami menggunakan eluen dengan komposisi Etil Asetat,
Metanol, dan Amonia dengan perbandingan 17 : 6 : 5. Dalam pemilihan eluen, hal yang
harus diperhatikan ialah polaritas suatu campuran dengan eluennya. Apabila polaritas suatu
campuan tersebut polar, maka eluen yang dipilih juga harus besifat polar, begitu juga
sebaliknya. Apabila suatu campuran merupakan non polar, maka eluen pun harus non polar.
Fase diam yang kami gunakan adalah plat KLT komersial, dengan fase diam silica.
Sehingga kami tidak perlu mengaktifkan plat dengan oven.
Hasil yang kami dapatkan dari percobaan ini adalah larutan standar benzokain,
sulfadimidin, sulfametoksazol, dan sulfasetamid masing-masing memiliki nilai Rf
10
(Retardation Factor) sebesar 0.97, 0.67, 0.61, dan 0.64 sedangkan sampel memiliki nilai
Rf sebesar 0.61, 0.67, dan 0.97. Berdasarkan Rf yang dihasilkan oleh standar dan sampel,
diketahui bahwa sampel merupakan larutan campuran benzokain, sulfadimidin, dan
sulfametoksazol. Hal ini didasarkan pada kemiripan nilai Rf masing-masing senyawa yang
dihasilkan.

4.2.2 Kromatografi Kolom


Pada percobaan pemisahan kromatografi kolom ini fase diam yang digunakan
adalah silica gel yang bersifat polar dan fase gerak yang digunakan yaitu etanol, aquadest, dan
NaOH dengan perbandingan 7:2:1. Etanol bersifat semi polar sedangkan aquadest dan NaOH
bersifat polar. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memperispakan kolom untuk
kromatografi dengan memperhatikan kran untuk mengalirnya fase gerak. Selanjutnya
masukkan kapas ke dalam ujung kolom dekat kran sebagai penyaring sampel. Kemudian fase
diam yang digunakan dilarutkan dengan fase gerak lalu dimasukkan ke dalam kolom.
Penambahan fase gerak harus dilakukan secara berkala agar fase gerak di dalam kolom tidak
mongering. Fase diam sebaiknya berada pada jarak minimal 2 cm dari fase diam agar fase diam
selalu terbasahi. Dari percobaan ini, fase diam bersifat lebih polar dibandingkan dengan fase
geraknya. Fase diam berupa silica gel adalah senyawa asam lemah yang dapat menahan
senyawa lebih lama di dalam kolom yang bersifat basa. Sampel yang digunakan dalam
percobaan ini adalah sunset yellow dye dan fenolftalein (PP).

Sunset yellow dye Fenolftalein (PP)

Apabila dilihat dari strukturnya, sunset yellow dye mempunyai banyak unsur
elektronegatif dibandingkan dengan fenolftalein. Maka dari itu, sunset yellow dye dapat

11
membentuk ikatan hidrogen yang lebih banyak dengan fase gerak sehingga keluar lebih dahulu
dari kolom. Sunset yellow dye juga memiliki kepolaran yang lebih rendah dibandingkan dengan
fenolftalen sehingga tidak tertahan pada fase diam dan ikut terbawa oleh fase gerak. Akibatnya,
sunset yellow dye meninggalkan kolom kromatografi lebih dahulu. Sedangkan pada fenolftalen
memiliki unsur keelektronegatif lebih sedikit sehingga memiliki kelarutan yang lebih rendah
dari sunset yellow dye sehingga fenolftalen tertahan pada fase gerak dan keluar setelah sunset
yellow dye. Hal ini terlihat dari hasil percobaan dimana larutan zat yang tertampung di tabung
reaksi berwarna jingga kekuningan pada awal elusi (sunset yellow dye) dan lama-lama menjadi
warna pink (fenolftalein) hingga memudar yang menandakan proses pemisahan telah selesai.

Fenoftalein dapat berubah menjadi pink dikarenakan tercampur dengan NaOH


yang memiliki pH basa. Apabila fenoftalein sudah terpisahkan maka larutan yang menetes tidak
mengandung fenoftalein dan tidak berwarna jika bercampur dengan NaOH. Berdasarkan hasil
pengamatan di atas, hasil yang diperoleh sesuai dengan teori, yaitu sunset yellow dye yang
keluar lebih cepat dibandingkan dengan fenolftalein.

12
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Pemisahan dengan menggunakan instrumen Kromatografi Lapis Tipis adalah salah
satu pemisahan paling sederhana. Prinsip pemisahan Kromatografi Lapis Tipis adalah
memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang
digunakan. Dalam penggunaannya, kromatografi lapis tipis dapat digunakan untuk analisis
kualitatif dan kuantitatif. Pada praktikum kali ini, analisis yang digunakan adalah analisis
kualitatif. Fase gerak yang digunakan adalah Etil Asetat, Metanol, dan Amonia dengan
perbandingan 17 : 6 : 5. Sementara standar yang digunakan adalah Benzokain, Sulfadimidin,
Sulfametoksazol, dan Sulfasetamid.

Hasil dari percobaan menunjukan bahwa sampel merupakan campuran dari 3 standar
yang ada. Sampel terdiri atas senyawa Benzokain, Sulfadimidin, dan Sulfametoksazol. Hal
ini disebabkan oleh Rf yang dihasilkan oleh sampel posisinya sejajar dan besar Rf sama
dengan ketiga standar tersebut. Sehingga dapat dipastikan bahwa, senyawa yang terdapat
dalam sampel adalah campuran dari senyawa Benzokain, Sulfadimidin, dan
Sulfametoksazol.

Berdasarkan hasil percobaan pemisahan menggunakan kromatografi kolom,


disimpulkan bahwa sampel yang digunakan mengandung sunset yellow dye dan fenilftalein.
Sunset yellow dye menghasilkan warna jingga kekuningan sedangkan fenolftalein
menghasilkan warna pink. Hal ini disebabkan penambahan NaOH ke dalam tabung reaksi.
Fenolftalein dapat bereaksi dengan zat dengan pH basa dan mengubah warnanya dari jingga
ke pink. Sunset yellow dye lebih dahulu keluar dari kolom diakibatkan elektronegativitas yang
dimiliki senyawa tersebut.

5.2 Saran
Pada saat melakukan praktikum kromatografi lapis tipis, diperlukan pemahaman
tentang kepolaran larutan untuk memudahkan praktikan dalam melakukan percobaan dan
membahas hasil percobaan. Selain itu, saat praktikum eluen yang digunakan bersifat asam
yang memiliki bau yang menyengat sehingga praktikan dianjurkan menggunakan apd dengan
baik dan benar.

13
DAFTAR PUSTAKA

McFarland, A., Henry, N. and Quigg, T. (2019). AQA a Level Chemistry (Year 1 and Year 2).
London: Hodder Education Group.
Leba, Maria Aloisia Uron. (2017). Buku Ajar: Ekstraksi dan Real Kromatografi. Edisi 1,
Cetakan 1. Yogyakarta: Deepublish.
Larutan NaOH (Natrium hidroksida/Sodium hydroxide) merupakan basa kuat.
Rubiyanto, Dwiarso. (2016). Teknik Dasar Kromatografi. Edisi 1, Cetakan 2. Yogyakarta:
Deepublish.

14
LAMPIRAN
1. Tabel Hasil pengamatan

15
2. Alat, Bahan, dan Cara Kerja

Kolom kromatografi Silica gel Statif dan klep Erlenmayer

Corong kaca Batang pengaduk Gelas ukur Kapas


kaca

Kertas saring Fase gerak Penghomogenan Penuangan sampel


fase diam

16
Sampel Aquades Etanol NaOH 1 N

3. Hasil Percobaan
Kromatografi Kolom

17