Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


INFEKSI NEONATUS

Disusun untuk memenuhi tugas Praktek Klinik Keperawatan Anak


Dosen Pembimbing : Ns. Erni S., M.Kep

Disusun oleh:

Mukhammad Yaqub
NIM 20101440117059

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


AKADEMI KEPERAWATAN KESDAM IV/DIPONEGORO

SEMARANG

2019
KONSEP DASAR INFEKSI NEONATUS

A. Definisi
Infeksi neonatus adalah infeksi yang terjadi pada neonatus, dapat terjadi pada
masa antenatal, perinatal dan post partum( Lissauer & Fanaroff. 2008)
Infeksi neonatorum atau infeksi adalah infeksi bakteri umum generalista yang
biasanya terjadi pada bulan pertama kehidupan yang menyebar keseluruh tubuh
bayi baru lahir (Saifudin, Abdul Bari.2009).
Infeksi neonatal pada BBL : infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan
ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah,cairan
sumsum tulang atau air kemih. Infeksi yang terjadi pada bayi baru lahir ada dua
yaitu: early infection (infeksi dini) dan late infection (infeksi lambat). Disebut
infeksi dini karena infeksi diperoleh dari si ibu saat masih dalam kandungan
sementara infeksi lambat adalah infeksi yang diperoleh dari lingkungan luar, bisa
lewat udara atau tertular dari orang lain. (Kosim, Sholeh. 2010)
Infeksi neonatal : infeksi yang lebih sering terjadi pada BBLR, infeksi ini lebih
sering terjadi dirumah sakit daripada di luar rumah sakit. (Wiknjosastro, Hanifa.
2008)

B. Etiologi
Infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa cara. Saifudin, Abdul Bari(2009)
membaginya dalam 3 golongan, yaitu infeksi antenatal, infeksi intranatal, infeksi
postnatal.
1. Infeksi Antenatal
Kuman mencapai janin melalui peredaran darah ibu ke plasenta. Di sini
kuman itu melewati batas plasenta dan mengadakan intervillositis. Selanjutnya,
infeksi melalui vena umbilikalis masuk ke janin. Kuman yang dapat memasuki
janin melalui jalan ini ialah :
a. Virus : rubella, poliomielitis, koksakie, variola, vaksinia, sitomegalovirus.
b. Spirokaeta : sifilis.
c. Bakteria : jarang sekali melewati plasenta, kecuali Escherichia coli dan
Listeria monocytogenesis.
Tuberkulosis kongenital dapat terjadi melalui infeksi plasenta sarang pada
plasenta pecah ke likuor amnii dan janin mendapat tuberkulosis melalui
cairan itu.
2. Infeksi Intranatal
Infeksi melalui ini lebih sering terjadi dari pada cara yang lain. Kuman
dari vagina naik dan masuk kedalam rongga amnion setelah ketuban pecah.
Ketuban pecah lama mempunyai peranan penting dalam timbulnya plasentitis
dan amnionitis. Infeksi dapat pula terjadi walaupun ketuban masih utuh,
misalnya pada partus lama dan seringkali dilakukan pemeriksaan vaginal. Janin
kena infeksi karena menginhalasi likuor yang septik, sehingga terjadi
pneumonia kongenital atau karena kuman-kuman memasuki peredaran
darahnya da menyebabkan septikemia. Infeksi intranatal dapat juga terjadi
dengan jalan kontak langsung dengan kuman yang terdapat dalam vagina,
misalnya blenorea dan oral thrush.
3. Infeksi Postnatal
Infeksi ini terjadi sesudah bayi lahir lengkap dan biasanya merupakan
infeksi yang diperoleh (acquired infection). Sebagian besar infeksi
yangmenyebabkan kematian terjadi sesudah bayi lahir sebagai akibat
penggunaan alat atau perawatan yang tidak steril atau terkena cross-infection.
Infeksi postnatal ini sebetulnya sebagian besar dapat dicegah. Hal ini penting
sekali karena mortalitas infeksi postnatal sangat tinggi. Seringkali bayi lahir
dirumah sakit terkena infeksi dengan kuman-kuman yang sudah tahan terhadap
banya jenis antibiotika, sehingga menyulitkan pengobatannya.
4. Cross infection
Infeksi yang telah ada di rumah sakit.

Menurut jenis infeksi (Saifudin, Abdul Bari.2009).:

a. Infeksi bacterial
Banyak bakteri yang dapat menyebabkan infeksi sistemik dengan infeksi
dapat bersifat congenital maupun di dapat seperti : Lysiteria app.,
Mycobacterium tubercolosis, E. Collli, pnemokokus, enterokokus,
streptokokus (sering grup B stertococus / GBS) dan stofilococus, pseudomonas
spp. Dan klesiella. Selain menyebabkan infeksi sistematik, infeksipun dapat
bersifat local seperti terjadinya infeksi kulit, pneumonia, osteomielitis, artitis,
ototis media, infeksi pada saluran pencernaan dan uorgenital.
b. Infeksi virus
Yang sering menyebabkan infeksi congenital / transplacenta antara lain
CMV / cytomegallo virus, Rubella, parvo virus, HIV. Sedangkan yang sering
menyebabkan infeksi yang di dapat antara lain Herpes simplex virus, varicella
zoster virus, hepatitis B RSV / Respiratory Sycncial Virus.
c. Infeksi parasit / jamur
Sering disebabka oleh kandida yang dapat bersifat infeksi local maupun
sistemik. Infeksi biasanya adalah infeksi yang di dapat. Infeksi congenital yang
sering ditemukan adalah toxoplasma dan syphilis, keduanya sering
menimbulkan kelainan/ cacat congenital.

Bayi baru lahir beresiko tinggi terinfeksi apabila ditemukan :


Riwayat kehamilan
1. Infeksi pada ibu selama kehamilan antara lain TORCH
2. Ibu menderita eklampsia
3. Ibu dengan diabetes militus
4. Ibu mempunyai penyakit bawaan
Riwayat kehamilan
1. Persalinan lama
2. Persalinan dengan tindakan (ekstraksi cunam/vakum, seksio sesarea)
3. Ketuban pecah dini
4. Air ketuban hijau kental
Riwayat bayi baru lahir
1. Trauma lahir
2. Lahir kurang bulan
3. Bayi kurang mendapat cairan dan kalori
4. Hipotermia pada bayi
Pembagian Infeksi(Saifudin, Abdul Bari.2009):

1. Sepsis onset-dini (early-onset sepsis, EOS): <72 jam setelah kelahiran.Definisi


ini berkisar dari 24 jam sampai 6 hari, namun paling banyak terjadi dalam 72
jam setelah kelahiran. Kondisi ini disebabkan oleh pajanan vertikal ke jumlah
bakteri yang tinggi selama kelahiran dan jumlah anti bodi pelindung yang
sedikit.
Faktor Resiko :
a. Preterm (kurang bulan)
b. Ketuban pecah lama (>18 jam)
c. Demam pada ibu saat persalinan (>38oC)
d. Korioamnionitis
e. Bayi yang sebelumnya terinfeksi
2. Sepsi onset-lambat : >72 jam setelah kelahiran
Organisme biasanya didapat melalui transmisi nosokomial dari orang-ke orang.
Faktor Resiko :
a. Preterm
b. Penggunaan kateter vena atau arterial atau selang trakea
c. Antibiotik dalam jangka panjang
d. Kerusakan pada kulit akibat perekat, probe kulit dan sebagainya

C. Klasifikasi Infeksi
Infeksi pada neonatus dapat di bagi dalam dua golongan besar, yaitu infeksi
berat (major infection) dan infeksi ringan (minor infection) ( Lissauer & Fanaroff.
2008).
1. Infeksi Berat
Dalam golongan infeksi berat termasuk sifilis kongenita, sepsis
neonatorum, meningitis, pneumonia, diare epidemik, pielonefritis, osteitis
akuta, tetanus neonatorum.
a. Sifilis kongenita
Infeksi dengan Treponema Pallidum (spirochaeta pallida),
penyebab sifilis biasanya terjadi dalam masa antenatal. Infeksi pada janin
baru timbul sesudah hamilnya lewat 14 minggu oleh karena spirokhaeta
tidak dapat melintasi lapisan sel langhans pada plasenta muda. Janin yang
terkena infeksi dapat lahir mati dalam keadaan maserasi, ia dapat
dilahirkan dengan gejala-gejala sifilis kongenita atau gejala-gejala itu
dapat timbul kemudian. Bayi dengan sifilis kongenita sering kali menderita
BBLR dan kulit telapak tangan serta kaki mengkilat menebal dan mudah
terlepas.
Gambaran Klinik :
Bayi dapat menunjukkan gelembung-gelembung dan pustula
yang dilingkari dasar merah tua. Kelainan-kelainan itu sering ditemukan
sekitar mulut, hidung, genetalia eksterna, anus dan telapak tangan serta
kaki. Pernafasan melalui hidung seringkali terganggu karena tertutup oleh
sekret. Bayi dengan sifilis kongenita tidak dapat tumbuh dengan baik.
Pengobatan :
Penanganan yang terbaik ialah pencegahan. Apabila wanita hamil
dengan sifilis dapat disembuhkan sebelum kehamilannya mencapai 14
minggu, janin dapat dibebaskan sama sekali dari penyakit itu. Apabila ibu
masih diobati lewat waktu itu, janin yang mungkin kena infeksi sudah
sembuh pada waktu dilahirkan, mungkin pula belum sembuh.
b. Sepsis neonatorum
Dengan menemukan gejala-gejala sepsis, dengan anamnesis
infeksi antenatal atau infeksi intranatal, tindakan kita ialah :
1) Memberikan antibiotika dengan spktrum luas sambil menunggu
biiakan darah dan resistance test. Resistensi kuman terhadap
Ampisillin dan Gentamisin akhir-akhir ini makin menonjol. Bila
mungkin sebagai penggantinya diberikan sefalosporin generasi ketiga
dengan dosis 100mg/kg berat-badan per 24 jam dibagi dalam dua
dosis.
2) Pemeriksaan laboratorium rutin
3) Biakan darah dan resistance test
4) Kalau ada indikasi, dapat dilakukan biakan tinja dan air kencing
c. Meningitis
Meningitis biasanya didahului oleh sepsis. Karena itu, pada setiap
persangkaan sepsis harus dilakukan pungsi lumbal. Dalam melakukan
pungsi lumbal penilaian likuor serebrospinalis harus hati-hati, karena pada
umumnya likuor serebrospinalis pada neonatus sifatnya xantokrom, pada
pleiositosis dan reaksi Nonne dan Pandy positif. Mula-mula terdapat
gejala-gejala seperti pada sepsis yang kemudian dapat disertaidengan
kejang, fontanel menonjol, kuduk kaku dan opistotonus. Kuduk kaku tidak
seberapa sering ditemukan pada neonatus.
d. Pneumonia kongenital
Infeksi biasanya terjadi intranatal karena hirupan likuor amnii
yang septik. Gejala waktu lahir sangat menyerupai asfiksia neonatorum,
penyakit membrana hialin atau pendarahn intrakranial. Pneumonia
kongenital harus dicurigai kalau ketuban pecah lama, air ketuban keruh
serta berbau, dan terdapat kesulitan pernapasan pada saat-saat neonatus itu
lahir.
e. Pneumonia aspirasi
Penyakit ini merupakan sebab utama kematian bayi BBLR. Hal
ini disebabkan karena pada saat pemberian makanan per os dimulai, terjadi
aspirasi karena refleks menelan dan refleks batuk belum sempurna.
Pneumonia aspirasi ini harus dicurigai bila bayi BBLR tiba-tiba
menunjukkan gejala letargia, anoreksia, berat badan tiba-tiba turun, dan
kalau terdapat serangan apnea. Diagnosis dapat dibuat dengan
pemeriksaan radiologik toraks.
f. Pneumonia karena airborn infection
Biasanya infeksi terjadi karena berhubungan dengan orang
dewasa yang menderita penyakit infeksi saluran pernafasan. Penyebabnya
biasanya pneumokokkus, haemophilus influenzae atau virus. Selain itu
dapat juga disebabkan oleh E.coli, enterokokkus, proteus, pseudomonas.
Jalannya penyakit biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan
bagian atas dengan rhinitis dan sterusnya. Kemudian terjadi dispnea,
pernafasan cuping hidung, sianosis dan batuk. Pada pemeriksaan paru-paru
dapat ditemukan ronkhi basah yang nyaring.
g. Pneumonia stafilokokkus
Infeksi ini terutama terjadi pada neonatus yang lahir dirumah
sakit. Mula-mula terdapat infeksi stafilokokkus pada suatu tempat di
badan, kemudian terjadi penyebaran ke paru-paru, sehingga terjadi
pneumonia atau piothoraks. Proses ini terjadi dengan cepat dengan gejala-
gejala sesak nafas dan sianosis, keadaan bayi cepat menjadi buruk.
h. Diare epidemik
Gastro-enteritis karena E, coli. Gastro-enteritis pada bayi
seringkali menyebabkan penyebaran dengan mortalitas yang tinggi.
Penyebabnya ialah E, coli yang bersifat patogen atau lazim disebut Entero-
Pathogenic Escherischia coli (EPEC).
i. Pielonefritis
Bayi yang menderita pielonefritis biasanya menunjukkan gejala
demam, tidak mau minum, muntah, pucat dan berat bdan turun. Diagnosis
dibuat dengan pemeriksaan air kencing. Pada neonatus jumlah sel dalam
air kencing menjadi berarti kalau lebih dari 15 per mm3.
j. Osteitis akuta
Penyakit ini biasanya disebabkan oleh metastasis sarang infeksi
stafilokkokus di suatu tempat. Penyebab utamnya ialah Staphilococcus
aureus. Suhu biasanya meningkat dan bayi tampak sakit berat. Lokal
terdapat pembengkakan dan menangis kalau bagian yang terkena di
gerakkan. Keadaan ini dapat ditemukan pada beberapa tempat, terutama
pada maksilla dan pelvis.
k. Tetanus neonatorum
Etiologi :
Penyebab penyakit ini ialah Clostridium Tetani. Kuman ini bersifat
anaerobik dan mengeluarkan eksotoksin yang neurotopik.
Patologi :
Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak, sumsum tulang belakang,
dan terutama pada nukleus motorik. Kematian disebabkan oleh afiksia
akibat spasmus laring pada kejang yang lama. Selain itu kematian dapat
disebabkan oleh pengaruh langsung pada pusat pernafasan dan peredaran
darah.

Gambaran Klinik :
Masa inkubasi biasanya 3 sampai 10 hari. Gejala permulaan ialah kesulitan
minum karena terjadinya trismus. Mulut mecucu seperti ikan
(karpermond), sehingga bayi tidak dapat minum dengan baik.

2. Infeksi Ringan
a. Pemfigus neonatorum
Mula-mula pemfigus timbul sebagai gelembung yang jernih,
kemudia berisi nanah dan di kelilingi daerah yang kemerahan. Gelembung-
gelembung ini dapat terjadi berlipat ganda dan menyebabkan gejala-gejala
umum yang berat.
b. Oftalmia neonatorum
Blenorea atau konjungtivitis gonoroika disebabkan oleh infeksi
gonokkokus (neisseria gonorrhoeae) pada konjungtiva pada waktu bayi
melewati jalan lahir. Konjungtiva mula-mula hiperemik terhadap edema
palpebra, bulu mata lekat karena nanah. Penyakit ini dapat bersifat
bilateral. Pada tingkat selanjutnya penyakit dapat menyerang kornea dan
dapat menyebabkan buta. Setiap bayi dengan radang konjungtiva harus
diperiksa sekrit matanya. Dengan pewarnaan gram dapat ditemukan
gonokkokus sebagai diplokokkus yang gram negatif terletak di dalam dan
diluar sel.
c. Infeksi pusat
Ujung pusat sering kali terkena infeksi Staphilococcus aureus.
Tempat itu mengeluarkan nanah dan sekitarnya merah serta ada edema.
Pada keadaan yang berat infeksi dapat menjalar ke hepar melalui
ligamentum falsiforme dan menyebabkan abses yang berlupat ganda.
d. Moniliasis
Kandida Albikans merupakan jamur yang sering ditemukan pada bayi.
Biasanya jamur tidak menimbulkan gejala dan bersifat saprofit. Dalam
keadaan tertentu, bila daya tahan tubuh bayi turun atau pada penggunaan
antibiotika dan atau kortikosterois yang lama, dapat terjadi penumbuhan
jamur ini secara cepat dan menimbulkan infeksi berupa stomatitis , diare,
dermatitis, bahkan infeksi parenteral.
D. Patofisiologi
Infeksi dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik.
Pelepasan endoskrin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium,
perubahan ambilan dan penggunaan oksigen, terhambatnya fungsi mitokondria, dan
kekacauan metabolic yang progresif. Pada infeksi yang tiba-tiba dan berat,
complement cascade menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Akibatnya
adalah penurunan fungsi jaringan, asidosis metabolic dan syok. Yang menyebabkan
disseminated Intravaskuler Coagulation (DIC) dan kematian. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari tiga kelompok,
yaitu(Saifudin, Abdul Bari.2009) :
1. Faktor maternal
a. Status social ekonomi ibu, ras dan latar belakang. Mempengaruhi
kecenderungan terjadinya infeksi dengan alas an yang tidak diketahi
sepenuhnya. Ibu yang berstatus social ekonomi rendah mungkin nutrisinya
buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis.
b. Status paritas
Wanita multipara atau gravid lebih dari 3 dan umur ibu kurang dari 20
tahun atau lebih dari 30 tahun.
c. Kurangnya perawatan prenatal
d. Ketuban pecah dini
e. Prosedur selama persalinan
2. Faktor Neonatal
a. Prematuritas (berat badan bayi kurang dari 1500 gram)
Merupakan faktor resiko utama untuk infeksi neonatal.
Umumnya immunitas bayi kurang bulan lebih rndah dari pada bayi cukup
bulan. Transfor immunoglobulin melalui placenta terutama terjadi pada
paruh terakhir trisemester ketiga. Setelah lahir, konsentrasi
immunoglobulin serum terus menurun, menyebabkan
hipogamaglobulinemia berat. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan
kulit.
b. Definisi imun
Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik, khususnya
terhadap streptokokus atau haemophilus influenza. IgG dan IgA tidak
melewati placenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat.
Dengan adanya hal tersebut aktivitas lintasan komplemen terhambat, dan
C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap
lipopolisakarida. Kombinasi antara defisiensi imun dan penururnan
antibodi total dan spesifik bersama dengan penurunan fibronektin,
menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi.
c. Laki-laki dan kehamilan kembar
Insiden infeksi pada bayi laki-laki empat kali lebih besar dari
pada bayi perempuan.
3. Faktor lingkungan
a. Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering
memerlukan prosedur invasive, dan memerlukan waktu perawatan
dirumah sakit lebih lama. Penggunaan kateter vena/arteri maupun kateter
nutrisi parental merupakan tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit
yang luka. Bayi juga mungkin terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi.
b. Paparan terhadap obat-obatan tertentu, seperti steroid, bisa menimbulkan
resiko pada nonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotic spectrum
luas, sehingga menyebabkan kolonisasi spectrum luas, sehingga
menyebabkan resisten berlipat ganda.
c. Kadang-kadang di ruang perawatan terhadap epidemic penyebaran
mikroorganisme yang berasal dari petugas (infeksi nosokomial), paling
sering akibat kontak tangan.
d. Pada bayi yang minum ASI, spesies lactobacillus dan E. Colli di temukan
hanya di dominasi oleh E. Colli saja.
e. Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus
melalui beberapa cara, yaitu :
1) Pada masa antenatal atau sebelum lahir pada masa antenatal kuman
dari ibu setelah melewati placenta dan umbrilikus masuk ke dalam
tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi
adalah kuman yang dapat menembus placenta, antara lain virus
vubella, herpes, sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis.
Bakteri yang dapat melalui jalur ini antara lain malaria, sifilis, dan
toxplasma.
2) Pada masa intranatal atau saat persalinan infeksi saat persalinan terjadi
karena kuman yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion
dan amnion. Akibatnya, terjadi amnonitis dan korionitis , selanjutnya
kuman melalui umbilicus masuk ke tubuh bayi. Cara lain yaitu saat
persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi dapat terinhalasi oleh
bayi dan masuk ke dalam traktus digestives dan traktus respiratoris,
kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain melalui
cara tersebut diatas infeksi pada janin dapat melalui kulit bayi atau “
port de entre” lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi
oleh kuman (misal : herpes genetalis, candida albican dan gonorrhea).
3) Infeksi pascanatal atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi
sesudah persalinan/ kelahiran umunya terjadi akibat infeksi
nosokomial dari lingkungan di luar rahin (misal : melalui alat-alat
pengisap lendir, selang endotrakea, infus, selang nasagastrik, botol
minuman, atau dst). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani
bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial.
E. Pathway
F. Komplikasi
Menurut Saifudin, Abdul Bari.(2009) komplikasi yg bisa terjadi adalah:
1. Hipoglikemia, asidosis metabolic
2. Koagulopati, gagal ginjal, disfungsi miokard, perdarahan intracranial
3. Ikterus/kernicterus
4. Meningitis
5. Sepsis berat
6. Syok sepsis

G. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosa dapat dikonfirmasikan dengan kultur darah yang positif. Kultur
ini dapat memakan waktu 48 jam. Sedangkan perjalanan sepsis dapat
mengakibatkan kematian dalam beberapa jam. Oleh karena itu kita harus memulai
terapi antibiotic secepatnya. Antibiotik dapat tidak dilanjutkan bila kultur darah
negative atau bayi tidak menunjukkan gejala sepsis. Neonatus teutama BBLR
yang dapat tetap hidup selama 72 jam pertama bayi tersebut menunjukkan gejala
penyakit atau menderita penyakit congenital tertentu. Namun tingkat lakunya
berubah dapat dicurigai terjadi infeksi. (Saifudin, Abdul Bari.2009).
Penegakan diagnosis sangat penting, yaitu disamping untuk kepentingan
bayi itu sendiri juga lebih penting lagi untuk kamar bersalin dan ruang perawatan
nya. Diagnosis infeksi perinatal tidaklah mudah. Tanda khas seperti yang terdapat
pada bayi sering kali tidak ditemukan.Biasanya diagnosis yang ditegakkan dengan
observasi yang teliti, serta akhirnya dengan pemeriksaan fisik laboratorium.Infeksi
pada neonatus cepat sekali menjalar menjadi infeksi umum, sehingga gejala infeksi
local tidak menonjol lagi. Walaupun demikian, diagnosis dini dapat kita tegakkan
jika kita cukup waspada terhadap tingkah laku neonatus yang sebagai pertanda awal
dari permulaan infeksi umum. Menegakkan diagnosis sepsis perlu dilakukan
pemeriksaan penunjang sebagai berikut(Saifudin, Abdul Bari.2009) :
1. Hitung darah lengkap dengan turunannya yang terpenting adalah jumlah sel
darah merah. Septic neonatus biasanya menunjukkan penurunan jumlah cel
darah putih, yaitu kurang dari 500 mm. Hitung jenis darah juga menunjukkan
banyak sel darah putih tidak matang dalam aliran darah. Banyaknya darah tidak
matang dihubungkan dengan total jumlah sel drah putih diidentifikasikan
bahwa bayi mengalamai respon signifikan.
2. Platelet biasanya 150.000 sampai 300.000 pada keadaan sepsis platelet
menurun, kultur darah gram negative atau positif , dan tes sensitivitas. Hasil
dari kultur harus tersedia dalam beberapa jam dan akan mengidentifikasikan
juumlah dan jenis bakteri kultur darah atau sensitivitas membutuhkan waktu
24-48 jam untuk mengembangkan dan mengidentifikasikan jenis pathogen
serta antibiotic yang sesuai.
3. Lumbal pungsi untuk kultur dan tes sensitivitas pada cairan serebrospinal. Hal
ini dilakukan jika ada indikasi infeksi neuron.
4. Kultur urinea Kultur permukaan (Surface culture) untuk mengidentifikasi
kolonisasi, tidak spesifik untuk infeksi bakteri.

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada bayi neonatus infeksius yaitu(Kosim, Sholeh. 2010):
1. Pertahankan tubuh bayi tetap hangat
2. ASI tetap diberikan atau diberi air gula
3. Diberi injeksi antibiotika berspektrum laus (lihat tabel dosis antibiotika).
Penggunaan antibiotika yang banyak dan tidak terarah dapat menyebabkan
tumbuhnya jenis mikroorganisme yang tahan terhadap antibiotika dan
mengakibatkan tumbuhnya jamur yang berlebihan, misalnya jenis candida
albicans
4. Perawatan sumber infeksi, misalnya pada infeksi tunggul talipusat (omfalitis)
diberi salep yang mengandung neomisin dan basitrasin
5. Memberikan cairan secara parenteral untuk memperbaiki gangguan sirkulasi,
mengatasi dehidrasi.
6. Memberikan immunoglobulin secara IV : ini dilakukan dengan harapan dapat
meningkatkan antibody serta memperbaiki fagositosis dan kemotaksis sel darah
putih.
7. Mengatur posisi tidur/semi fowler agar sesak berkurang
8. Apabila suhu tinggi lakukan kompres dingin.
9. Berika ASI perlahan-lahan sedikit demi sedikit.
10. Apabila ada diare perhatikan personal hygiene dan keadaan lingkungan.

Jenis dan dosis antibiotika yang dianjurkan untuk neonatus

Jenis antibiotika Dosis Frekuensi pemberian


Injeksi benzil penisilin
50.000 IU/Kg/kali i.m Tiap 12 jam
Atau

Injeksi ampisilin
50 mg/kg/kali i.m./i/v Tiap 8 jam

Dikombinasikan dengan

Injeksi aminoglikosida
2,5 mg/kg/kali i.m/i.v. Tiap 12 jam
(gentamisin)
Eritromisin 50 mg/kg/hari Dalam 3 dosis

BAGAN PENANGANAN INFEKSI/SEPSIS

Suhu tubuh panas atau hipotermia, sesak nafas, merintih,


TANDA-TANDA menangis lemah atau tidak ada tangis, mengantuk, susah
minum, fontanel cembung, tali pusat memerah
Tanda-tanda tersebut diatas Biasanya hanya ditemukan :
disertai:  Panas
 Kadang-kadang kejang  Tali pusat
KATEGORI
 Tali merah/kotor/bau
pusatmerah/kotor/bau  Nanah ditelinga
 Kulit ikterik  Bisul/pustula dikulit
PENANGANAN
 Diberi injeksi
 Pertahankan tubuh
antibiotika
nbayi tetap hangat
 Dilanjutkan antibiotika
(tidak hipotermia)
oral
 ASI tetap diberikan
 Nasihat perawatan
Puskesmas atau diberi air gula
infeksi
 Injeksi antibiotika 1
 Kontrol kembali dalam
kali (lihat tabel dosis
2 hari
antibiotika)
 Rujuk kerumah sakit

Rumah sakit  Sama seperti diatas


 Diberi antbiotika
ampisilin + gentamisin
i.v
 Bila perlu diberi
oksigen
 Infus unruk mencegah
degidrasi
 ASI tetap diberikan
ASUHAN KEPERAWATAN INFEKSI NEONATUS

A. Pengkajian Data
1. Data Subjektif
Dilakukan pada tanggal……jam….WIB
a. Biodata bayi
1) Nama bayi : nama untuk mengenal, memanggil ,dan menghindari
terjadinya kekeliruan.
2) Umur : umur bayi dapat mengantisipasi diagnose masalah keseharan
dan tindakan yang dilakukan.
3) Tanggal lahir : tanggal lahir bayi dikaji untuk mengetahui umur bayi.
4) Jenis kelamin : untuk mencocokkan identitas sesuai nama anak, serta
menghindari kekeliruan bila terjadi kesamaan nama dengan anak yang
lain.
5) Anak ke : untuk mengetahui paritas dari orang tua / mengetahui
berapa anak yang dilahirkan.

b. Biodata orang tua


1) Nama : untuk mengenal/memanggil klien, serta sebagai penanggung
jawab terhadap anak.
2) Umur : untuk mengetahui umur dari ibu serta suami, selain itu
digunakan untuk mengetahui keadaan ibu apakah termasuk primipara
muda atau primipara tua.
3) Agama : Riwayat Kelahiran
4) Pendidikan : tingkat pendidikan sangat besar pengaruhnya di dalam
tindakan asuhan kebidanan, selain itu anak akan lebih terjamin pada
orang tua pasien (anak) yang tingkat pendidikannya tinggi.
5) Pekerjaan : jenis pekerjaan dapat menunjukkan tingkat keadaan
ekonomi keluarga, juga dapat memengaruhi kesehatan.
6) Penghasilan : mengetahui taraf hidup ekonomi dan berkaitan dengan
status gizi anak.
7) Alamat : dicatat untuk mempermudah hubungan bila keadaan
mendesak dan dapat memberi petunjuk keadaan tempat tinggal pasien.
c. Keluhan utama
Biasanya bayi lemas, gerak tidak aktif, banyak tidur, reflex hisap jelek,
tangisan merintih, dll.

d. Riwayat penyakit sekarang


Kapan bayi mulai menampakkan kelainan atau gejala-gejala infeksi.

e. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu


Apakah kehamilan yang lalu mengalami gangguan/ tidak, seperti mual-
muntah, perdarahan pervaginam yang banyak, nyeri kepala gangguan
penglihatan, anak lahir spontan/ tidak, ditolong oleh dokter/ bidan/ dukun,
lahir jam berapa dan jenis kelamin apa.

f. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Sekarang


Apakah ibu pada kehamilan anak yang terakhir ini pernah menderita
penyakit kencing manis, darah tinggi, asma, penyakit hati, TBC, maupun
penyakit lain yang dapat berpengaruh terhadap kehamilannya.

g. Riwayat kesehatan Keluarga


Apakah anggota keluarga mempunyai penyakit tertentu terutama penyakit
menular seperti TBC, hepatitis. Penyakit keluarga yang diturunkan seperti
kencing manis, kelainan pembekuan darah, jiwa, asma, riwayat kehamilan
kembar. Factor yang meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar
adalah factor ras, keturunan, umur wanita, dan paritas. (Manuaba, 2009)

h. Pola Gordon
1) Pola nutrisi
Biasanya nutrisi terbaik untuk BBL adalah ASI yang dapat diberikan
segera setelah bayi lahir, pemberiannya ondeman. Setelah bayi lahir
segera susukan pada ibunya, apakah ASI keluar sedikit, kebutuhan
minum hari pertama 60 cc/kg bb, selanjutnya ditambah 30 cc/kg bb
untuk hari berikutnya.
2) Pola eliminasi
Biasanya neonatus akan buang air kecil selama 6 jam setelah
kelahirannya, buang air besar pertama kalinya dalam 24 jam pertama
berupa mekoneum perlu dipikirkan kemungkinan mekoneum Plug
Syndrome, megakolon, obstruksi saluran pencernaan.
3) Pola aktivitas
Biasanya kekakuan otot lemah, bayi sering menangis.
4) Pola istirahat/tidur
Biasanya bayi rewel, sehingga tidurnya berkurang.
5) Lingkungan Yang Berpengaruh
Lingkungan tempat tinggal yang tidak bersih akan berpengaruh
terhadap kondisi bayinya.
6) Social Dan Ekonomi
Keadaan ekonomi dari yang rendah sampai sedang mudah terserang
sesuatu penyakit, karena jarang memeriksakan kondisi kandungannya
Kesimpulan :
a) Pola nutrisi : nutrisi terbaik untuk BBL adalah ASI yang dapat
diberikan segera setelah bayi lahir, pemberiannya ondeman.
Setelah bayi lahir segera susukan pada ibunya, apakah ASI keluar
sedikit, kebutuhan minum hari pertama 60 cc/kg bb, selanjutnya
ditambah 30 cc/kg bb untuk hari berikutnya.
b) Pola eliminasi : neonatus akan buang air kecil selama 6 jam
setelah kelahirannya, buang air besar pertama kalinya dalam 24
jam pertama berupa mekoneum perlu dipikirkan kemungkinan
mekoneum Plug Syndrome, megakolon, obstruksi saluran
pencernaan.
2. Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan Umum : cukup / lemah
2) Kesadaran : composmentis/ letargi/ somnolen
3) Suhu : normal (36.5 – 37,5 ͦ C), apabila suhu 36 ͦ C merupakan gejala
awal hipotermi dan apabila suhu > 37,5 ͦ C merupakan gejala awal
hipertermi.
4) Nadi : normalnya 120 – 160 kali/ menit
5) Pernafasan : normalnya 40 x/menit, apabila < 30 x/ menit atau > 60 x/
menit bayi sukar bernafas, 5% – 10% karena bayi mengalami 4
penyesuaian utama yang dilakukan belum dapat memeroleh kemajuan
dalam perkembangan.
6) Jenis kelamin : laki-laki/ perempuan.
7) Berat badan : normalnya 2500 gram – 4000 gram (jika BB bayi <
2500 gram maka termasuk BBLR, namun jika BB bayi < 4000 gram
maka bayi tersebut termasuk bayi besar)
8) Panjang badan : normalnya 48 – 53 cm

b. Pemeriksaan neurologis
1) Reflek moro/terkejut
Apabila bayi diberi sentuhan mendadak terutama dengan jari dan
tangan maka akan menimbulkan gerak terkejut. Pada infeksi neonatal
reflek moro menurun, cenderung tidak memberikan respon.
2) Reflek mengenggam
Apabila telapak tangan disentuh dengan jari pemeriksa maka akan
berusaha mengenggam jari pemeriksa. Bayi dengan sifilis kongenita
sering kali menderita BBLR dan kulit telapak tangan serta kaki
mengkilat menebal dan mudah terlepas. kekuatan bayi untuk
mengenggam buruk/menurun.
3) Reflek rooting/mencari
Apabila pipi disentuh oleh jari pemeriksa maka ia akan menoleh dan
mencari sentuhan itu. Pada infeksi neonatal, bayi kurang untuk
memberikan respon saat di berikan sentuhan/stimulus.
4) Reflek menghisap/sucking reflek
Apabila bayi diberi dot/putting maka ia berusaha untuk menghisap.
Tapi pada infeksi neonatal infeksi ringan sampai berat akan
menunjukkan bayi lemah untuk menghisap.
5) Glabella reflek
Bayi disentuh pada daerah os glabella dengan jari tangan pemeriksa
maka ia akan mengerutkan keningnya dan mengedipkan matanya.
Pada infeksi neonatal responnya kurang.
6) Gland reflek
Bila bayi disentuh pada lipatan paha kanan dan kiri maka ia berusaha
mengangkat kedua pahanya. Pada infeksi neonatal, bayi akan sulit
untuk melakukan respon, karena bayi yang mengalami infeksi,
cenderung terlihat lemah.
7) Tonick neck reflek
Bila bayi diangkat dari tempat tidur/bila digendong maka ia akan
berusahamengangkat kepalanya. Miningitis Mula-mula terdapat
gejala-gejala seperti pada sepsis yang kemudian dapat disertaidengan
kejang, fontanel menonjol, kuduk kaku dan opistotonus. bayi dengan
miningitis akan menunjukkan respon buruk, ataupun menunjukkan
respon menangis, karena merasa kesakitan.

c. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala : Adanya vontanel yang menonjol, apakah ada pendarahan
intrakarnial menunjukkan adanya penurunan sistem imun
2) Muka : warna kulit merah.
3) Mata : bagaimana reflek pupilnya, ada tidak odema, hiperemi
konjungtiva, mata lengket dengan nanah
4) Hidung : Apakah ada pernafasan cuping hidung.
5) Mulut : Biasanya reflek menghisap dan telan menurun.
6) Telinga : Biasanya tidak ada kelainan.
7) Leher : apakah ada kaku kuduk
8) Dada : apakah ada nafas tambahan, retraksi intrakoste
9) Tali pusat : apakah ada pus, bau busuk terlihat basah menunjukkan
adanya tanda-tanda tali pusat.
10) Abdomen : biasanya terdapat distensi abdomen.
11) Genetalia : apakah ada tidak infeksi pada genetalia dan ruam popok
12) Anus : Apakah ada atresia ani atau kelainan lain.
13) Esktremitas : Apakah ada cacat bawaan, kelainan bentuk, jumlah,
bengkak, posisi atau postur, normal atau abnormal.
14) Kulit : apakah ada gelembung/ pustula

d. Pemeriksaan antopometri
1) Berat badan
BB bayi normal 2500 – 4000 gram
2) Panjang badan
PB bayi lahir normal 48 – 52 cm
3) Lingkar kepala
Lingkar kepala bayi normal 33 – 38 cm
4) Lingkar lengan atas
Normal 10 – 11 cm
5) Ukuran kepala
a) Diameter sub oksipito bregmatika
Antara foramen magnum – ubun-ubun besar (9,5 cm)
b) Diameter sub oksipito frontalis
Antara foramen magnum ke pangkal hidung (11 cm)
c) Diameter fronto oksipitalis
Antara titik pangkal hidung ke jarak terjauh belakang kepala (12
cm)
d) Diameter mento oksipitalis
Antara dagu ke titik terjauh belakang kepala (13,5 cm)
e) Diameter sub mento bregmatika
Antara os hyoid ke ubun-ubun besar (9,5 cm)
f) Diameter biparietalis
Antara 2 tulang parientalis (9 cm)
g) Diameter bi temporalis
Antara ke 2 tulang temporalis (8 cm)

e. Pemeriksaan tingkat perkembangan


1) Adaptasi social : Sejauh mana bayi dapat beradaptasi sosial baik
dengan orang tua, keluarga maupun orang lain.
2) Bahasa : Kemampuan bayi untuk mengungkapkan perasaannya
melalui tangisan untuk menyatakan rasa lapar, BAB, BAK dan
kesakitan.
3) Motorik halus : Kemampuan bayi untuk menggerakkan bagian kecil
dari anggota badannya
4) Motorik kasar : Kemampuan bayi untuk melakukan aktivitas dengan
menggerakkan anggota tubuhnya.

f. Pemeriksaan penunjang
1) Septic neonatus biasanya menunjukkan penurunan jumlah cel darah
putih, yaitu kurang dari 500 mm. (Nilai normal leukosit pada bayi
baru lahir 9000-30.000/mm3).
2) Jumlah trombosit biasanya kurang dari 100.000 ( Nilai Normal
200.000-400.000) dan terjadi pada 1-3 minggusetelah diagnosis
ditegakkan
3) Platelet biasanya 150.000 sampai 300.000 pada keadaan sepsis platelet
menurun, kultur darah gram negative atau positif , dan tes sensitivitas.

B. Analisa Data
Analisa data merupakan proses intelektual yang meliputin kegiatan
mentabulasi, menyeleksi, mengelompokkan,mengaitkan data, menentykan
kesenjangan informasi, melihat pola data, membandingkan dengan standart,
mengintepretasikan dan akhirnya membuat kesimpulan. Hasil analisa data adalah
pernyataan masalah keperawatan atau yang disebut diagnosa keperawatan.

C. Prioritas DiagnosaKeperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin ditemukan pada infeksi neonatus (NANDA
NIC-NOC, 2015) :

1. Tidak efektifnya pola napas yang berhubungan dengan meningkatnya sekret di


saluran napas.
2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan malas minum, diare, muntah.
3. Kurangnya volume cairan yang berhubungan dengan diare, malas menyusu.
4. Perubahan suhu tubuh yang berhubungan dengan proses infeksi.
5. Gangguan rasa nyaman dan aman yang berhubungan dengan infeksi.

D. Perencanaan keperawatan

No. Diagnosa Tujuan Kriteria Intervensi Rasional


Keperawatan Hasil
1. Tidak Setelah - Bayi tidak - Tempatkan - Posisi yang
efektifnya dilakuka sesak lagi bayi pada baik dapat
pola napas n - Bayi posisi yang membantu
yang tindakan tenang nyaman, melonggark
berhubungan keperawa - Frekuensi kepala an jalan
dengan tan pernapasan ditinggikan napas
meningkatnya ketidakef menurun (misalnya - O2
sekret di ektifan - Sekret di digendong) mengatasi
saluran napas napas saluran - Berikan O2 kebutuhan
dapat di napas tidak dan bersihkan tubuh akan
atasi ada lagi jalan napas oksigen dan
dari sekret mwembersi
- Kolaborasi hkan jalan
dengan dokter napas akan
tentang mengurangi
pemberian sumbatan
antibiotik di saluran
napas
- Antibiotik
dapat
mengatasi
infeksi

2. Gangguan Setelah - Muntah - Anjurkan - ASI


pemenuhan dilakukan dan diare pada ibu mengandun
nutrisi kurang tindakan berhenti untuk tetap g IgA
keperawat
dari - Bayi mau memberikan dalam
an
kebutuhan gangguan di susui ASI jumlah
tubuh yang pemenuha - Auskultasi tinggi yang
berhubungan n nutrisi bising usus dapat
dengan malas dapat - Kolaborasi memberika
minum, diare, diatasi dengan n imunitas
muntah dokter - Penurunan
tentang aliran darah
oemberian dapat
obat-obatan menurunka
seperti n peristaltik
antibiotik usus
dan - Antibiotik
pemberian dapat
cairan mengatasi
infeksi
yang akan
memperber
at infeksi

3. Kurangnya Setelah - Suhu - Anjurkan - ASI


volume cairan dilakuka normal pada ibu mengandun
yang n - Membran untuk tetap g IgA
berhubungan tindakan
mukosa memberikan dalam
dengan diare, keperawa
tan dan kulit ASI jumlah
malas tidak lagi - Awasi tinggi yang
voleme
menyusu.
cairan kering pemasukan dapat
kembali dan memberika
normal pengeluaran n imunitas
, catat dan - Perubahan
ukur pada
frekuensi kualitas
diare dan susu
kehilangan sangat
cairan mempenga
- Kolaborasi ruhi
dengan kebutuhan
dokter cairan dan
tentang peningkata
pemberian n resiko
obat-obatan dehidrasi
dan terapi - Terapi
cairan cairan
dapat
membantu
mengurang
i gangguan
cairan
tubuh

4. Perubahan Setelah Tidak ada - Pantai suhu - Suhu 38,9


suhu tubuh dilakuka tanda-tanda pasien derajat
yang n hipertermi (derajat dan sampai 41
tindakan
berhubungan pola) : derajat
keperawa
dengan proses tan suhu perhatikan menunjukk
infeksi tubuh bayi an proses
bayi menggigil/d penyakit
kembali iaforesis infeksius
normal - Pantau suhu akut, pola
lingkungan, demam
batasi atau dapat
tambahkan membantu
linen tempat dalam
tidur sesuai diagnosis
indikasi - Suhu
- Berikan ruangan
kompres atau jumlah
mandi selimut
hangat : harus di
hindari ubah untuk
penggunaan mempertah
alkohol ankan suhu
- Kolaborasi mendekati
pemberian normal
antipiretik - Dapat
misalnya membantu
ASA mengurangi
(aspirin), demam
asetaminofe - Pemberian
n (tylenol) antipiretik
dan berikan digunakan
antibiotik untuk
mengurangi
demam
dengan aksi
sentralnya
pada
hipotalamu
s, meskipun
demam
mungkin
dapat
berguna
dalam
membatasi
pertumbuha
n
organisme,
dan
meningkatk
an
autodektsru
si dan sel-
sel yang
terinfeksi
sedangkan,
pemberian
antibiotikse
bagai
antimikroba
mengobati
infeksi
yang
emnjadi
penyebab
penyakit
5. Gangguan Setelah - Tidak - Menjelaska - Agar tidak
rasa nyaman dilakuka ada n proses ada
dan aman n tanda- terjadinya kekhawatir
tindakan
yang tanda infeksi an saat
keperawa
berhubungan tan bayi nyeri kepada terjadi
dengan infeksi tidak - Bayi keluarga sesuatu
rewel nampak klien - Menurunka
tenang - Beri n reaksi
lingkungan terhapat
tenang dan stimulus
nyaman dari luar
agar dapat
meningkatk
an istirahat
atau
relaksasi
DAFTAR PUSTAKA

Lissauer & Fanaroff. (2008).At a Glance Neonatologi.Jakarta:Erlangga.

Medforth, Janet, dkk. (2011).Kebidanan Oxford Dari Bidan Untuk Bidan.Jakarta:EGC.

Saifudin, Abdul Bari. (2009).Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sholeh, Kosim. (2010). Neonatologi. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Wiknjosastro,Hanifa, dkk. (2008).Ilmu Kebidanan. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo.
Huda &Hardhi kusuma. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan BerdasarkanDiagnosa
Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta : Mediaction

Anda mungkin juga menyukai