Anda di halaman 1dari 14

CRITICAL BOOK REPORT

KONSELING INDIVIDUAL

Dosen Pengampu : Prof.Dr. Abdul Munir, M.Pd.

Disusun Oleh:

Desy Natallia Sipayung

1171151008

BK Reg A-2017

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga CBR ini
dapat tersusun dengan selesai. Harapan saya semoga CBR ini dapat menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk CBR ini.

Karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya, saya yakin masih banyak
kekurangan dalam CBR ini, oleh karena itu saya mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan CBR ini.

Medan, November 2019

Penulis
Daftar Isi

Kata Pengantar ........................................................................................................................................ 2


Daftar Isi ................................................................................................................................................. 3
BAB I ...................................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 4
A. Rasionalisasi Pentingnya CBR....................................................................................................... 4
B. Tujuan Penulisan CBR ................................................................................................................... 4
C. Manfaat CBR................................................................................................................................. 4
BAB II..................................................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 5
A. Identitas Buku ................................................................................................................................ 5
B. Ringkasan Isi Buku Utama ............................................................................................................. 5
C. Kelebihan dan Kekurangan .......................................................................................................... 12
BAB III ................................................................................................................................................. 13
PENUTUP ............................................................................................................................................ 13
A. Kesimpulan .................................................................................................................................. 13
3.2. Saran .......................................................................................................................................... 14
BAB I

PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CBR


Keterampilan membuat CBR pada penulis menguji kemampuan dalam meringkas dan
menganalisi sebuah buku serta membandingkan buku yang dianalisis dengan buku yang lain,
mengenal dan emmberi nilai serta mengkritik sebuah karya tulis yang dianalisis.

B. Tujuan Penulisan CBR


Mengkritisi atau membandingkan sebuah buku tentang konseling individual serta
membandingkan dengan dua buku yang berbeda dengan topik yang sama. Yang
dibandingkan dalam buku tersebut yaitu kelengkapan pembahasannya, keterkaitan antar
babnya, dan kelemahan dan kelebihan pada buku-buku yang dianalisis.

C. Manfaat CBR
Manfaat dari pembuatan CBR ialah:

1. Menambah wawasan pengetahuan tentang Konseling Individual.


2. Mempermudah pembaca mendapatkan inti dari sebuah buku yang telah dilengkapi
dengan ringkasan buku, pembahasan isi buku, serta kekurangan dan kelebihan buku
tersebut.
3. Melatih mahasiswa merumuskan serta mengambil kesimpulan-kesimpulan atas buku-
buku yang dianalisis itu.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Identitas Buku
 Identitas Buku Utama
1. Judul buku :Konseling Individual Teori dan Praktek
2. Pengarang :Prof. Dr. Sofyan S. Willis
3. Penerbit :ALFABETA Bandung
4. Tahun Terbit :2014
5. Kota Terbit :Bandung
6. Tebal Buku :xiv + 264 halaman
7. ISBN : 978-979-8433-57-3

 Identitas Buku Pembanding


1. Judul buku :Konseling Individual Konsep Dasar dan Pendekatan
2. Pengarang :Prof. Dr. Syamsu Yusuf LN, M.Pd
3. Penerbit :Refika Aditama
5. Kota Terbit :Bandung
6. ISBN :979-602-6322-04-3

B. Ringkasan Isi Buku Utama


KREATIVITAS KONSELOR DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN

Suat proses konseling ditentukan oleh kehandalan konselor dalam melakukan


wawancara konseling. Kekuatan utama wawancara konseling tergantung pada kreativitas dan
kemampuan membuat keputusan dari seorang konselor. Kreativitas adalah kemampuan untuk
memunculkan sesuatu yang baru dalam kondisi yang lama (mapan), bersifat spontan dan
kebebasan untuk mencipta. Tugas konselor dalam hal ini adalah membantu klien
menciptakan alternatif-alternatif baru untuk bertindak, dan dalam mengenali kreativitas,
beberapa teori konseling menjelaskan sebagai berikut :

(1) Psikodinamika Freud

Freud percaya bahwa mind (pikiran) terdiri dari tiga strata:

1. conscious (kesadaran), hubungan dunia nyata; analitik dan perbuatan sebagai suatu
organisator antara interself (dunia dalam) dan outerself (dunia luar)
2. preconscious (ambang kesadaran), adalah tempat penyimpanan pemikiran –
pemikiran ilogis, irrasional, naluriah, reaksi – reaksi emosional dan semua
pengalaman – pengalaman sejak lahir
3. unconscious (bawah sadar), menyelidiki informasi – informasi yang relevan dan
menarik dan merangsang kedalam dunia kesadaran .

Menurut aliran psikodinamika, kreativitas adalah hasil dari ketaksadaran melalui


usaha – usaha ambang kesadaran untuk mencapai dan mempengaruhi pembuatan keputusan
oleh kesadaran (conscious).

(2) Teori Behavioral tentang kreativitas

Dua tokoh dalam behavioral yakni Reece dan Parnes (1975) mengembangkan
program pelatihan untuk pemecahan masalah secara kreatif. Walaupun kreatifitas adlaah
mistik yang disediakan untuk unconscious tapi disediakan 28 buku untuk melatih komponen
– komponen dari proses kreatif. Kreatif tidak harus dianggap sebagai suatu berkah yang aneh
akan tetapi keterampilan yang dapat diajarkan.

(3) Teori Psikologi Eksistensial – Humanistik

Carl Rogers (1975) mengemukakan teori petumbuhan alamiah terhadap aktualisasi


diri dan pertumbuhan diri untuk mencapai perkembangan potensi diri yang optimal. Dari
pandangan ini manusia pada dasarnya kreatif dan peran guru mendorong siswa untuk secara
spontan kreatif

Dalam tahap konseling ada tiga tahapan konseling yakni :


a) Tahap pertama, isu – isu pertama yang ditemukan konselor adalah membuat
komitmen dengan kline tentang pokok – pokok yang akan diperbincangkan.
Pengambilan keputusan di tahap awal mengimplikasikaj tiga fase aktivitas yakni : (1)
mendefenisikan masalah, (2) mempetimbangkan alternatif defenisi masalah, (3)
komitmen konselor – klien tentang defenisi yang terbaik dari sekian alternatif.
b) Tahap II, adalah untuk memeriksan kembali masalah dan mengembangkan suatu
solusi – solusi alternatif. Proses ini terutama memasukkan pengujian masalah
sehingga menjadi fakta – fakta yang spesifik tentang feeling, thingking, dan
experience klien yang terjadi.
c) Tahap III keputusan untuk bertindak, konselor dan klien berusaha menyususn solusi
untuk pemecahan masalah, menguji solusi, menyusun rencana, mengakhiri sesi.

Konselor yang efektif mempunyai kemampuan melihat bagamana keadaan klien saat
ini dan dapat memilih intervensi yang sesuai ( strategis dan teknik). Untuk menunjang hak
tersebut konselor harus memiliki empati. Empati merupakan kunci menjadikan hubungan
konseling menjadi berkualitas. Empati diartikan Roger sebagai kemampuan merasakan dunia
pribadi klien, merasakan apa yang ia rasakan tanpa kehilangan kesadaran diri. Zimmer
menjelaskan bahwa konselor yang menggunakan empati cenderung mengguakan attending
dimana komponen yang didalamnya (kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan).

a. Empati primer : melihat dunia klien dari prespektif klien sendiri, menggunakan
attending skill dan reflection listening untuk mendengar klien secara akurat
b. Empati tingkat tinggi : menggunakan influencing dan attending skill sharing diri
konselor dan keahlian dnegan diri klien
c. Positive regards : memberi perhatian terseleksi terhadap aspek – aspek positif dari
verbal perilaku klien
d. Respek : bila ada perbedaan konselor akan toleran dan menghargai perbedaan
tersebut
e. Warmth : menggunakan cara nonverbal seperti airmuka, posture, senyum
f. Concreteness : jelas dalam pikiran dan perasaan klien
g. Confrontation : menunjukan incongruence
h. Genuiness : jujur dalam diri sendiri dalam hubunagn dengan klien

TEKNIK – TEKNIK KONSELING


Bagi seorang konselor menguasi teknik konseling adalah mutlak. Sebab dalam proses
konseling teknik yang baik merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan konseling.
Respon konselor terhadap klien mencakup dua sasaran yaitu : (1) perilaku verbal, mencakup
semua pernyataan baik dalam kalimat – kalimat yang panjang, singkat, maupun seperti oh,
aduh, yah. (2) perilaku nonverbal, mencakup bahasa tubuh berupa isyarat, ekspresi muka,
kontak mata, letak angan dan anggukan kepala dll.

 Attending
a. Kepala : melakukan anggukan jika setuju
b. Ekspresi wajah : tenang, ceria, senyum
c. Posisi tubuh : agak condong kearah klien, jarak konselor – klien agak dekat,
duduk akrab berhadapan atau berdampingan
d. Tangan : variasi spontan
e. Mendengarkan : aktif dan penuh dengan perhatian
 Empati
Adalah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan oleh klien. Seperti
saya dapat merasakan bagaimana perasaaan saudara, saya dapat memahami pikiran
anda, sata dapat mengerti keinginan saudara.
 Refleksi
Adalah keterampilan konselor untuk memantulkan kembali keapada klien tenatng
perasaan, pikiran, dan pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku
verbal dan nonverbal.
 Eksplorasi
Adalah suatu keterampilan konselor untuk menggali perasaan, pengalaman, dan
pikiran klien. Hal ini penting karena kebanyakan klien menyimpan rahasia batin,
menutup diri, atau tidak mampu mengungkapkan pendapatnya.
 Menangkap pesan utama (Paraphrasing)
Untuk memudahka kien memahami ide, perasaan, dan pengalamannya seorang
konselor perlu menangkap pesan utamanya dan menyatakannya secara sederhana dan
mudah dimengerti.
 Open question
Memulai dengan apakah, bagaimana, adalah, bolehkan, dapatkah
 Closed questions
Apakah, adakah, dan harus dijawab oleh klien dnegan ya dan tidak atau dengan kata –
kata singkat.
 Memimpin
 Fokus
 Konfrontasi
Adalah suatu teknik yang menantang klien untuk melihat inkonsentensi antara
perkataan denagan perbuatan.
 Menjernihkan (Clarifying)
Menjernihkan ucapan - ucapan klien yang samar – samar dan agak meragukan

ANALISIS PROSES KONSELING DALAM STUDI KASUS

Hal terutama yang harus dikuasai oleh konselor yaitu: hubungan konseling, respon
konselor terhadap perilaku verbal dan nonverbal klien, kemampuan melibatkan klien dalam
pembicaraan yang mana klien cukup terbuka dan jujur, kemampuan membuka awal konseling
yang dapat mengungkapkan permasalahan atau isu pokok dari klien, meningkatkan proses
konseling sehingga tercapai tujuan, mengakhiri proses konseling yang bermakna, yakni
menurunnya kecemasan klien dan adanya rencana hidup klien selanjutnya. Dengan kata lain
tujuan konseling adalah tujuan klien.

Analisis struktur dan respon konselor

Struktur konseling adalah susunan proses konseling yangdilakukan konselor secara


sistematik yakni: pembukaan proses konseling pada tahap awal konseling yang meliputi
menciptakan rapport (hubungan konseling yang akrab dan bersahabat), adanya kontrak, dan
menemukan masalah atau isu sentral klien. Tahap pertengahan proses koseling konselor
berupaya dengan berbagai keterampilan untuk membuat klien terlibat dan terbuka, dan tahap
pertengahan ini dinamakan juga tahap kerja. Dan pada tahap akhir yang dinamakan action
terjadi perubahan perilaku klien kearah positif, struktur konseling adalah, klien membuat
rencana hidup, stres klien menurun, klien mengevaluasi proses konseling, dan akhirnya sesi
ditutup konselor atas persetujuan klien.

Respon konselor terhadap perilaku klien didalam proses konseling, menyangkut


tentang perilaku verbal dan nonverbal konselor, yaitu berupa kalimat−kalimat yang
mengandung teknik−teknik konseling serta respon perilaku nonverbal terhadap perilaku
klien. Respon konselor dalam bentuk kalimat−kalimat berisi teknik−teknik yang bervariasi
dan multi teknik. Sebab dengan cara demikian maka klien akan cepat akrab dan terlibat
dalam pembicaraan serta muncul keterbukaan klien. Pada bagian ini akan dikemukakan
analisis terhadap skrip atau wawancara konseling tertulis, namun inti analisis hanya pada
respon berupa kalimat−kalimat dan tidak menganalisis perilaku nonverbalnya.

PRAKTEK PROFESIONAL DAN ETIKA KONSELING

Konseling adalah profesi abad ke-20. Ungkapan tersebut telah menjadi kenyataan di
AS. Setgan seelah perang dunia ke II selesai, banyak sekali anak muda eks−milisi pulang
kampung. Mereka memerlukan pekerjaan dan selanjutnya berkeluarga. Kepedulian
masyarakat telah memunculkan gerakan−gerakan sosial yang bertujuan agar
pemuda−pemuda itu memperoleh pekerjaan. maka muncullah Gerakan Bimbingan (Guidance
Movement) yang dipelopori oleh Frank Parson. Biro vokasioanal dianggap sebagai tonggal
sejarah profesionalisasi konseling di AS dan dunia. Gerakan ini mengembangkan program
bimbingan vokasional, tes mental, dan konseling. Dibidang vokasional digerakkan upaya
untuk membantu generasi muda agar mempunyai minat, kemampuan, dan keterampilan untuk
memasuki dunia kerja. Sedangkan pada bidang tes psikologi dipergunakan untuk memahami
perbedaan individu.

Perkembangan profesi konseling modern terjadi pada saat Carl Rogers (1951) mulai
mengembangkan teorinya Client Centered Theraphy. Dia adalah seorang tokoh besar dalam
aliran humanistik yang mengembangkan konseling terpusat pada klien. Dalam isu
profesional, muncul standar−standar yang mendasari profesi seperti etika, teknis, prosedur,
dan hal−hal yang berhubungan dengan budaya dari klien yang dihadapi. Dengan kata lain
konseling yang profesional tidak mungkin dilakukan oleh siapa saja, akan tetapi harus
menguasai ilmu, teknis, kode etik, dan budaya. Menurut Brown and Lent, ada empat bidang
kegiatan yang berhubungan dengan ahli−ahli psikologis dan konseling profesional, etika, dan
isu−isu legal yang sudah diperbaharui yaitu: memelihara kerahasiaan, penelitian dan
publikasi, kegiatan pendidikan/ pengajaran, pelatihan, dan intership diluar kampus diteruskan
dengan seminar dan lokakarya, merupakan hal yang harus pula dilakukan konselor dan
psikolog.

Mengenai etika profesi menyangkut etika susila antara konselor dengan klien,
guru−murid, dokter –pasien, dan sebagainya. Pokoknya hubungan antara seorang profesional
dengan kliennya harus dibatasi dengan adanya etika susila. Hal seperti ini harus dikemukakan
karena dalam praktek sehari−hari cukup banyak kejadian pelanggaran asusila oleh seorang
profesional terhadap klien terutama wanita. Karena itu hukuman mengenai pelanggaran kode
etik profesi di negara−negara maju amatlah ketat yaitu pencabutan izin praktek dan
penuntutan ke pengadilan.

Untuk menjadi konselor profesional tidak cukup hanya memiliki ilmu, keterampilan,
dan keperibadian belaka, akan tetapi garus pula memahami dan mengaplikasikan kode etik
konseling (KEK). Pada saat ini konselor sedunia menggunakan KEK dari lembaga yang
bernama American Counselor Association (ACA). Akan tetapi banyak negara yang
mengadopsi KEK dari Amerika Serikat tersebut lalu mengadakan penyesuaian dengan
kondisi negaranya, terutama dalam hal aspek−aspek agama, budaya, dan kondisi
masyarakatnya.

PRAKTEK KONSELING DI SEKOLAH

Praktek konseling adalah suatu cara yang dilakukan untuk memberikan keterampilan
konseling kepada para calon konselor agar terampil memberikan bantuan terhadap kliennya,
sehingga klien tersebut berkembang dan punya rencana hidup, mandiri, mampu mengatasi
masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri. Antara teori dan praktek tak akan pernah
terpisahkan. Dengan perkataan lain praktek konseling harus dilandasi teori. Berhubung
banyaknya aliran dalam konseling, tidak mungkin kita berpegang pada satu jenis aliran
tertentu. Adalah bijak berpijak pada semua aliran konseling, dan dengan kreatif
memanfaatkan unsur−unsur yang positif untuk kepentingan perkembangan konseling di
Indonesia. Cara ini disebut Creative Synthesis Analysis (CSA).

Kegiatan konseling tidak berjalan tanpa keterampilan. Untuk menguasai beragam


keterampilan konseling diperlukan praktek yang terus menerus. Selama lima tahun terakhir
ini sudah terlihat kecenderungan adanya keseimbangan antara teori dengan praktek
konseling. Hal ini mengingatkan kita pada suatu kurun waktu dimana banyak lulusan yang
hebat dalam teori dan lemah sekali dalam praktek konseling.

Tahap−tahap Konseling

Teknik−teknik konseling yang harus ada pada Tahap Awal konseling adalah:
Attanding, empati primer dan advance, refleksi perasaan, eksplorasi (pengalaman, perasaan
dan eksplorasi ide), menangkap ide−ide, bertanya terbuka, mendefinisikan masalah bersama
klien, dorongan minimal.

Pada tahap pertengahan atau tahap kerja, teknik−teknik yang dibutuhkan adalah:
memimpin (leading), memfokuskan (focusing), konfrontasi (confrontation), mendorong
(supporting), menginformasikan (informing) hanya jika diminta klien (siswa), memberi
nasehat (advising), menyimpulkan sementara, bertanya terbuka. teknik−teknik empati,
attending, refleksi tetap digunakan.

Dan pada tahap akhir teknik−teknik yang diperlukan mencakup yang ada di tahap
awal dan pertengahan, secara spesifik adalah: menyimpulkan, memimpin, merencanakan,
mengevaluasi. Disamping itu teknik−teknik di tahap awal dan pertengahan tetap bisa
digunakan.

C. Kelebihan dan Kekurangan


 Kelebihan
Menurut saya buku ini sangat bagus dan menarik. Buku ini juga dapat dijadikan buku
saku bagi mahasiswa sebagai bahan ajar. Selain itu, buku ini juga dapat dijadikan
referensi sebagai bahan tulis untuk tugas atau karya lainnya. Dari segi isinya pada
buku ini membahas secara jelas mengenai konseling, dengan bahasa yang dapat
diterima dengan baik. Selain itu dalam buku ini juga dijelaskan mengenai kaitan
psikologi dengan konseling sehingga pembaca dapat mengetahui mengenai psikologis
konseling. Begitu juga dengan buku pembanding, pada buku tersebut juga dijelaskan
mengenai konseling dan psikologis konseling secara singkat. Pada buku utama ada
beberapa teori yang dijelaskan dengan baik. Di kedua buku tersebut juga terdapat
rangkuman, evaluasi serta daftar pustakanya, sehingga pembaca dapat mengetahui
dari mana sumber/ referensi yang didapat.
Selain itu buku ini juga menjelaskan mengenai bagaiana itu praktek dalam melakukan
konseling. Dimana penulis menjelaskan secara baik dna merinci mengenai tahap-
tahap dalam konseling. Mulai dari tahap awal konseling, tahap pertengahan dan
sampai pada tahap pengakhiran konseling. Sehingga pembaca semakin mengerti
bagaimana cara menerapkan praktek konseling tersebut. Dan dalam buku ini juga
penulis menuliskan beberapa contoh dialog yang biasa digunakan dalam pembicaraan
konseling individual.
 Kekurangan
Menurut saya buku ini cukup baik, dan sulit untuk menemukan kekurangannya.
Hanya pada buku utama, teori-teori yang dijelaskan hanya sedikit, ada baiknya
ditambahkan lebih banyak lagi agar pembaca dapat lebih mengetahui teori konseling
lebih banyak lagi. Selebihnya kedua buku ini sudah cukup baik.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Setiap keterampilan itu erat sekali dengan keterampilan lainnya dengan cara yang
sangat beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan mengkritisi biasanya adalah urutan
terakhir. Mula-mula menyimak bahasa, sesudah itu membaca, menulis dan yang terakhir
mengkritik. Keempat keterampilan tersebut merupakan kesatuan keterampilan.

Setiap keterampilan kerap berhubungan dengan proses-proses berfikir yang memberi


bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikiran nya, semakin terampil seseorang berbahasa,
semakin cerah dan cerdas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan
dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Seperti melakukan tugas CBR ini, adalah
contoh untuk melatih keterampilan kita baik itu menyimak bahasa buku, membaca, menulis
dan mengkritik dengan menggunakan bahasa yang baik. Melatih keterampilan berbahasa
berarti pula melatih keterampilan berfikir.

3.2. Saran
Menurut saya buku tersebut sangat layak digunakan untuk mahasiswa dan menjadi
reverensi bagi si pembaca dan diharapkan agar buku tersebut lebih teliti lagi dalam penulisan
juga spasi dalam penulisannya agar tidak ada kesalahan serta memudahkan pembaca untuk
mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Anda mungkin juga menyukai