Anda di halaman 1dari 53

PENGUKURAN KANOPI, BIODIVERSITAS, DAN NEKROMAS

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengukuran merupakan hal yang paling penting dilakukan, karena dapat mengetahui atau
menduga potensi suatu tegakan ataupun suatu komunitas tertentu. Dalam memperoleh data
pengukuran, jenis dan cara penggunaan alat merupakan faktor penentu utama
yangmempengaruhi keotentikan data yang diperoleh. Semakin bagus alat yang dipergunakan
maka semakin baik pula hasil pengukuran yang akan didapat. Demikian pula halnya dengan
kemampuan pengamat dalam pengukuran, semakin baik dalam penggunaan suatu alat maka
semakin baik pula data yang dikumpulkan.
Tingkat tutupan kanopi sangat mempengaruhi besarnya tingkat limpasan erosi pada
tanah. Semakinlebat tutupan kanopi vegetasi akan semakin kecil pula terjadi limpasan
permukaan atau erosi. Hal ini terjadi karena sebuah lahan yang memiliki tutupan kanopi lebat
akan menghambat air hujan langsung menyentuh tanah melainkan jatuh ke kanopi terlebih
dahulu.
Keberadaan seresah ataupun seresah di permukaan tanah pun juga sangat penting untuk
menjaga ekosistem ssuatu lahan. Hal ini terjadi karena dengan adanya seresah dapat mencegah
terjadinya erosi. Disamping itu seresah tersebut juga berfungsi untuk mengembalikan unsure
hara pada tanah.
Kehilangan tanah akibat terbawa aliran hujan dapat mengakibatkan berkurangnya unsur
hara. Keberadaan kanopu yang rapat, serta biodeversitas dan nekromas yang tinggi dapat
meminimalisir terjadinya kehilangan tanah. Oleh karna itu perlu adanya pemahaman dan
pengaplikasian mengenai pengukuran agar tercapainya hutan yang lestari
Kegiatan pengukuran kanopi, biodiversitas, dan nekromas sangat penting dilakukan
untuk mendapatkan data yang valid. Data tersebut nantinya dapat digunakan untuk kegiatan
selanjutnya yang akan dilakukan. Diharapkan pula ilmu kehutanan dapat semakin berkembang.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah​ :
1. ​Mahasiswa dapat mengukur luasan kanopi dalam 1 basal area.
2. Mahasiswa mampu menghitung jumlah biodiversitas dan ketebalan seresah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Biodiversitas (Bahasa Inggris: ​biodiversity)​ adalah suatu istilah pembahasan yang


mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala
organisasi biologisnya, serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini
merupakan bagiannya. Dapat juga diartikan sebagai kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan
dalam ekosistem atau bioma tertentu (Leveque dan Mounolou, 2003). Keanekaragaman biologi
sering disebut sebagai biological diversity atau biodiversitas. Biodiversitas adalah variasi dari
suatu eksistem, hewan, tumbuhan dan mikroorganisme yang hidup. Biodiversitas pada dasrnya
menyangkut biodiversitas pada perentase ekosistem spesies, dan variasi intraspesifik (Ulfiyah
dkk,1995)
Diversitas spesies pohon yang tinggi memberi masukan serasah yang beragam. Selain itu,
diversitas yang tinggi menunjukkan bahwa suatu ekosistem memiliki tingkat stabilitas ekologis
yang tinggi pula. Stabilitas ekologis ini sangat penting untuk kesehatan ekosistem di dalam hutan
karena hal ini mampu mengindikasikan bahwa semua proses aliran energi dan interaksi
organisme secara alami sedang berfungsi dengan baik ( Siarudin, 2008)
Menurut Korhonen (2006), penutupan kanopi di lapangan dapat ditentukan melalui
pengukuran langsung dengan menggunakan alat pengukur (densitometer, Cajanus tube),
fotografi dan estimasi oskular. Teknik pengambilan sampelnya dapat secara plot (​point
sampling) ​maupun transek (​line intercept sampling).​ Karena konsep tutupan kanopi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tutupan kanopi efektif, maka teknik yang dapt digunakan
adalah fotografi standar dengan sudut pandang (​angle of view).
Tinggi pohon terkadang dijadikan parameter dalam estimasi biomassa bersama dengan
diameter batang. Pengukuran tinggi pohon cukup mudah apabila dilakukan dengn berada di area
terbuka dengan tegakan yang jarang seperti di daerah savanna atau hutan kering lainnya.
Sebaliknya, pengukuran tinggi pohon sulit dilakukan pada hutan dengan tegakan rapat.
Pengukuran tinggi dapat dilakukan dengan menggunakan hagameter atau klinometer (Sutaryo,
2009)
BAB III
METODELOGI KERJA

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktikum ini dilaksanakan pada:
Hari / Tanggal : Sabtu / 24 Maret 2018
Waktu : 08.40 – 10.20 WIB
Tempat : Laboratorium Kehutanan, Universitas Muhammadiyah
Malang

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
● Alat
4 buah meteran
4 buah frame berukuran 50 x 50 cm
4 buah penggaris
Plastik ukuran 1 kg 4 pack dan 4 karet gelang
Sepidol besar marker 4 buah
Timbangan tepung
● Baha
Hutan Alam

3.3 Cara Kerja


Cara kerja dalam praktikum ini meliputi:
1. Membagi mahasiswa ke dalam 4 kelompok kecil
2. Membersihkan alat dan bahan merata pada setiap kelompok
3. Menentukan lokasi yang berbeda antara kelompok satu dengan lainnya
4. Melakukan pengamatan dan penghitungan yang terdiri dari tiga tahap
a. Mengukur kanopi pohon
b. Mengukur biodiversitas pohon
c. Mengukur ketebalan sarasah
5. Melakukan pengukuran kanopi pohon dengan cara menentukan keluasan pengamatan
pohon yang akan dihitung kanopinya mengukur panjang sisi kanan, kiri, depan dan
belakang dari pusat pohon, setelah mendapatkan data panjang menghitung biodiversitas
​ ​Kemudian menjumlahkan semua luasan
dengan menggunakan rumus U. r​2​ atau ¼ U. d2
pohon dalam satu luasan
6. Tahap kedua yaitu mengukur biodiversitas dengan cara menghitung jumlah pohon yang
sama serta mencatat nama-nama pohon dan mengukur lingkar batang dalam suatu luasan
Gambar teknik pengukuran lingkar lilit batang pohon untuk memperoleh data dbh.
7. Tahap ketiga yaitu dengan mengukur ketebalan serasah dengan cara melakukan
meletakkan frame yang berukuran 50 kali 50 cm pada lokasi pengamatan. Pada luasan
tersebut menyebar frame sebanyak 10 frame secara acak. Menghitung ketebalan nya
dengan menekan sarasah dengan tangan dalam frame kemudian mengukur dengan
penggaris. Melakukan pengukuran 10 kali untuk setiap frame pada posisi tekanan tangan
yang berbeda-beda sehingga akan muncul data sebanyak 100. Setelah itu, menghitung
pula jumlah biomassa dalam satu frame kemudian mengkonversi dalam suatu luasan.
Mengambil biomassa dalam frame lalu memisahkan antara batang dan ranting, daun
utuh, hancuran halus, hancuran kasar, dan under story. Memasukkan serasah biomassa
dalam plastik dengan memberi kode. Kemudian membawa ke laboratorium untuk
BAB IV

HASIL DAN PENGAMATAN

4.1 Data Pengamatan

Praktikum ini kami membahas tentang Pengukuran Kanopi, Biomassa dan Nekromas dan
berikut data hasil pengamatannya:

I. PENGUKURAN CANOPY

NO NAMA TANAMAN R1 R2 R3 R4 Lbds Canopy B Basah


1. Pasang Merah 9,5 9,4 7,2 11,5 277,4504 90
2. Kukrup 6,4 8,9 9 9,4 222,8791 130
3. Pasang Merah 6,4 6 3 3,3 68,6266
4. Santenan 2,2 3,7 2,7 2,7 33,1662 60
5. Pasang Putih 6,8 3,5 5 3,7 70,84625 50
6. Lembayungan 4,8 3,3 5,6 4,4 60,4145 100
Total 733,3830 430
122,2305

5M
40 Meter

II. PENGUKURAN BIODIVERSITAS

NO NAMA POHON D T LBDS Jumlah Jumlah Kelas


tanaman/200m​2 tanaman/ha tanaman
1. PASANG MERAH 0,7639 23 M 0,4580 2 100/ha Pohon
2. KUKRUP 0,5039 18 M 0,1985 1 50/ha Pohon
3. PASANG MERAH 0,6939 27 M 0,3779 Pohon
4. SANTENAN 0,2737 12 M 0,0588 1 50/ha Pohon
5. PASANG PUTIH 0,5443 26 M 0,2525 1 50/ha Pohon
6. LEMBAYUNGAN 0,3151 11 M 0,0779 1 50/ha Pohon
Total 3,0948 1,4326
Rata - rata 2,8323 1,358683

III. PENGUKURAN BIOMASSA TUMBUHAN BAWAH

NO Jenis B. B. Berat kering Berat kering Berat biomassa


2)
Biomassa Basah Kering (gram/frame) (gram/200m​ kering
(gram/ha)
2
1. Kenyutan dan 14,55 10 10/0,25 8.000/200m​ 400.000/ha 33,6219
Jengkon
2. Rayutan dan 10,83 7 7/0,25 5.600/200m​2 280.000/ha 31,6195
Jengkon
3. Jengkon dan 23,54 5 5/0,25 4.00/200m​2 20.000/ha 10,3908
Kenyutan
Total 48,92 23 23 14.000 700.000 75,6322

IV. PENGUKURAN NEKROMASA/SERESAH

NO Ukuran Ulangan Ketebalan seresah cm


Rata – rata Rata – rata Rata – rata
frame ketebalan ketebalan ketebalan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
(cm x seresah seresah seresah
cm) (cm/frame) (cm/200m​2​) (cm/fha)
1 50 x 50 1. ˇ 3/0,25 2400/200m​2 120.000/ha
cm
2 50 x 50 2. ˇ
cm
3 50 x 50 3. ˇ
cm
V. NEKROMASA

No Berat Berat Kering BK/frame BK/200m​2 BK/ha Biomassa


Basah
1 250 gr 150 gr 150/0,25 120.000/200m​2 6.000.000/ha 342
2 160 gr 100 gr 100/0,25 80.000/200m​2 4.000.000/ha 356,25
3 160 gr 60 gr 60/0,25 48.000/200m​2 2.400.000/ha 213,75
Total 570 310 310 248.000 12.400.000 912

4.2 Pembahasan

Pada praktikum ini kami membahas tentang pengukuran kanopi, biodiversitas dan
nekromas yang dilakukan di hutan alam TAHURA R. SURYO Cangar. Pengukuran kanopi
dengan membuat petak ukur 40 x 5 meter dan ditemukan 6 pohon. Pengukuran kanopi dilakukan
dengan mengatur lebar kanopi dengan 4 arah mata angina dan pusatnya adalah batang utama,
kemudian hasilnya dijumlah dan dirata-rata. Kanopi berbanding lurus dengan perakaran
tanaman. Semakin besar atau semakin luas kanopi dan perakaran tanaman maka perakaran
semakin luas juga. Maka secara tidak langsung kanopi dapat dijadikan tolak ukur kemampuan
meyimpan air pada rongga akar.

Selanjutnya menghitung biodiversitas pohon. Pohon yang telah diukur kanopinya


selanjutnya diukur diameter batang dan tinggi pohonnya. Pengukuran diameter dilakukan
setinggi dada atau 1,3 meter. Pada data yang didapat semakin tinggi tingkat biodiversitas pohon,
maka menunjukkan semakin stabilnya ekologi pada lokasi tersebut.

Selanjutnya mengukur biomassa berupa seresah dan ranting yang berada dibawah tegakan
perhitungan ini dilakukan untuk mengetahui kandungan karbon dala suatu lokasi. Semakin tinggi
biomassanya maka semakin banyak zat dengan karbon yang tersimpan dan akan digunakan
kembali untuk kebutuhn tanaman.

Total biomassa pohon sebesar 987.6322 gram dari tumbuhan bawah dan nekromas.
Pengukuran biomassa suatu pohon atau hutan sangat pentimh dalam kegiatan pengelolaan hutan,
karena hutan dianggap sebagai sumber dari karbon dan memberi manfaat berupa jasa
lingkungan.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah:

- ​Biodiversitas yang tinggi maka tingkat stabilitas ekologi juga baik


- ​Semakin lebar kanopi mengindikasikan semakin luas pula perakaran tanaman
- Serasah yang jatuh di tanah menyimpan cadangan karbon yang berguna untuk tanah dan
tanaman
- Hutan alam TAHURA R. SURYO Cangar​ memiliki tingkat diversitas yang baik
- Total biomassa yang dihasilkan dari pohon yang diamati sebesar ​987.6322 gram.

5.2 Saran
Adapun saran dari praktikum ini adalah:
Praktikum berjalan lancar

DAFTAR PUSTAKA
Korhonen, L., Korhonen, K, T., Rautianien, M., dan Stenberg, P. 2006. Estimation of Forest
Canopy Cover : a Comparison of Field Measurement Techniques. ​Silva Fennica 40 (4),
577 – 588
Leveque, C. & J. Mounolou. (2003) ​Biodiversity​. New York: John Wiley Ludwiq, J.A., and J. F.
Reynolds. 1988. ​Statistical Ecoloqy a Primer on Methods and Computing.​ New York:
John Wiley & Sons
Siaruddin, M dan Rachman, E. 2008. ​Biomassa Lantai Hutan dan Jatuhan Serasah di Kawasan
Mangrove Blanakan Subang.​ Jawa Barat.
Sutaryo, D, 2009. ​Penghitungan Biomassa Sebuah Pengantar untuk Studi Karbon dan
Perdagangan Karbon. ​Wetlands International Indonesia Progamme. Bogor
Ulfiyah A. Rajamuddin1, Syamsul A. Siradz, Bostang Radjagukguk. 2006. ​Karakteristik
Kimiawi Dan Mineralogi Tanah Pada Beberapa Ekosistem Bentang Lahan Karst Di
Kabupaten Gunung Kidul​. ​Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 (1) (2006) p: 1-12
ANALISIS VEGETASI HUTAN ALAM

BAB 1

PEBDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu faktor penyusun hutan alam adalah vegetasi. Vegetasi merupakan suatu kumpulan dari
berbagai macam tumbuhan yang hidup bersama disuatu tempat. Vegetasi selalu dinamis dan selalu
berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya. Dengan itulah maka perlu melakukan kegiatan analisis
vgetasi.

Analisis vegetasi merupakan cara mempelajari susunan dan bentuk fegetasi yang ada. Hutan adalah
komponen terpenting dari kehidupan manusia maupun keseimbangan ekologi, oleh karena itu potensi
yang ada meliputi komposisi jenis tumbuhan dominasi jenis kerapatan dan lainnya sangat perlu diukur.
Hal ini sangat penting untuk menentukan perlakuan yang harus dilakukan dari suatu luasan hutan. Hal ini
diselidiki dan diukur dalam ekologi hutan alam adalah tegakan.

Vegetasi atau komunitas tumbuhan salah satu komponen biotik yang menepati habitat dan komposisi
fegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lain yang salin beriteraksi. Dengan
saling berinteraksi membuat ekosistem semakin berlangsung lama. Sehingga vegetasi pada tumbuhan
secara alami pada wilayah tersebut merupakan pencampuran hasil interaksi berbagai faktor lingkungan
dan mengalami perubahan drastis.

Terdapat berbagai jenis metode yang dapat digunakan dalam analisis vegetasi hutan alam. Salah
satunya adalah metode kuadrat dengan pembuatan plot yang berukuran tertentu dan cocok digunakan
pada individu yang hidup tersebar. Metode lainnya yaitu studi literatur dan klasifikasi komunitas
tumbuhan atau fisiologi. Analisis vegetasinya dapat melalui kualitatif kuantitatif. Hal ini dikarenakan
adanya hubungan khas antara lingkungan dan organisme.

1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:


1. Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi jenis vegetasi dan untuk mengetahui dominasi,
kerapatan dan frekuwensi jenis vegetasi hutan alam.
2. Agar mahasiswa mampu menguraokan dominasi, kerapatan dan frekuwensi jenis vegetasi
hutan alam.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tjitrosoepomo (2002) mengungkapkan bahwa analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari
susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan.mempelajari tegakan hutan yaitu pohon
dan permudaannya. Mempelajari tegakan tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi
dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput atau
alang-alang dan vegetasi semak belular.

Untuk kepentingan deskripsi suatu komunitas tumbuhan diperlukan tiga macam parameter kuantitatif
antara lain densitas, frekuensi dan dominasi. Sedangkan untuk keperluan deskripsi vegetasi tersebut ada
tiga macam parameter kuantitatif yaitu densitas,frekuensi dan kelindungan. Kelindungan yang dimaksud
adalah dominasi (kusmana,1997).

Meskipun demikian, masih banyak parameter kuatitatif yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan
komunitas tumbuhan. Baik dari segi struktur komunitas maupun tingkat kesamaannya dengan komunitas
lainnya. Metode analisis komunitas tumbuhan dapat dilakukan dengan metode petak ( plot) , metode
jalur, ataupun metode kuadran ( soegianto, 1994).
BAB III
METODELOGI KERJA

3.1 Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut:
Hari/ Tanggal: Sabtu, 24, 03 2018
Jam : 8:40- 10:20 wib
Tempat : Laboratorium kehutanan unniversitas muhammadyah malang

3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagi berikut:
Alat: - Haga meter atau chrystn meter
- Kompas
- Tali
- Parang
- Alat tulis
- Phi band
- Galah
- Meteran
- Gps
Bahan : Hutan alam

3.3 Cara Kerja

Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah sebagi berikut:

1. Melakukan kegiatan menganalisis vegetasi secara berkelompok. Kelompok ini terdiri dari
pembersih areal, penunjuk arah, mengukur pohon, mengenal pohon, dan membewa
berbekalan.
2. Menentukan lokasi jalur yang akan disurvei ( unit contoh) diatas peta, menentukan panjang
masing-masing jalur berdasarkan lebat hutan ( dalam survei ini panjang jalur 500 meter per
regu ). Membuat jalur dengan arah tegak lurus kontur ( memptong garis kontur ).
3. Membuat contoh unit jalur dengan desain seperti gambar 1.
4. Mengidentifikasi jenis dan jumlah serta mengukur diameter ( DBH) dan tinggi ( tinggi total
dan bebas cabang) untuk tingkat tiang dan pohon. Sedangkat untuk tingkat semai dan panjang
hanya mengidentifikasi jenis dan jumlahnya saja. Data hasil pengukuran mencatat dalam tally
sheet. Dalam kegiatan survei ini kriteria pertumbuhan sebagai berikut:
a. Semai adalah anakan pohon mullai kecambah sampai setinggi < 1,5 cm.
b. Pancang adalah pohon yang tingginya ≥ 1,5 cm dan diameter < 7 cm.
c. Tiang adalah pohon muda yang diameternya mulai 7 cm sampai diameter < 20 cm.
d. Pohon adalah pohon dewasa berdiameter ≥ cm.

Keterangan:
a. Petak contoh ( 2 m x 2 m )
b. Petak contoh ( 10 m x 10 m )
c. Petak contoh ( 5 m x 5 m )
d. Petak contoh ( 20 m x 20 m )

Khusus untuk mangrove petak contoh pohon dan tiangnya 10 m x 10 m.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini adalah:

Gambar letak pohon Pu I Gambar letak pohon Pu II


Keterangan:
: semai
: pancang
: pohon
: tiang
TABEL ANVEG PU I

N Ukuran Diameter Tinggi Jumlah


o Petak Nama pohon (cm) (m) LBDS Tegakan
0,00028612
1 2x2 M Kopen 0,01909155 2 3
0,00028612 3
2 Jengkon 0,01909155 2 3
3 Kukrup 50 cm
0,12427654
4 5X5 M Kukrup 0,397887 5 1
2
0,05882587
5 Santenan 0,273747 12 5
0,00229862
6 10X10 M Kapel 0,0541127 4,5 5
2
0,00114533
7 Kopen 0,0381972 5 5
8 20X20 M pasang putih 0,54431 26 0,2325746
Lembayunga 0,07795444
9 n 0,315127 11 6
0,02861105
10 pasang putih 0,1909115 27 3
0,55394057
11 Kukrup 0,8400338 24 6
0,18181443 0,02594934
12 Laber 7 12 4 9
0,01610616
13 Nyamplung 0,143239 12 8
0,45813419
14 pasang merah 0,763944 23 2
0,19855678
15 Kukrup 0,50293 18 9
0,00974321
16 Dampul 0,111408 6 8
TOTAL 1,78811676 16

TABEL ANVEG PU II

N Ukuran Diameter Tinggi Jumlah


o petak Nama pohon (cm) (m) LBDS tegakan
1 2X2 M Tinggan 0,0700282 3 0,0038496
0,00134417
2 Kepel 0,0413803 1,5 8
0,00050903
3 Krengean 0,0254648 2 8
6
4 Kukrup 0 47 cm
0,00038973
5 Kepel 0,0222817 1 2
0,00178951
6 Kopen 0,0477455 2 2
0,00623571
1
7 5X5 M Pasang 0,0891268 5 5
0,01030809
1
8 10x10 M Dompul 0,114592 8 1
0,03257830
9 20X20 M Santenan 0,203718 12,5 3
lembayunga 0,01209762
10 n 0,124141 9,5 5
0,21917217
11 Kukrup 0,528394 13 2
0,22448592
12 Pasang 0,534761 27,5 2
13 Kukrup 0,961296 27,5 0,72541065
0,22182150 10
14 Genitri 0,531578 26 9
0,18183117
15 Kukrup 0,4812817 28 9
lembayunga 0,05218430
16 n 0,257831 12 7
0,34080816
17 Kukrup 0,658901 27 4
0,04715771
18 Sembung 0,245099 16 3
2,08197341
TOTAL 1

DOMONASI

KOPEN
0,00322097
400
= 0, 0000080524

JENGKON
0,0002862
400
= 0, 0000007153

KUKRUP
2,343996071
400
= 0, 0058599902

SANTENAN
0,091404178
400
= 0, 0002285104

NYAMPLUNG
0,016106168
400
= 0, 0000402654

KEPEL
0,004032535
400
= 0, 0000100813

PASANG MERAH
0,682620113
400
= 0, 0017065503
0,0259499344
LABER 400
= 0, 0000648734

PASANG PUTIH
0,261185683
400
= 0, 0006529641

DAMPUL
0,020051309
400
= 0, 0000501283

LEMBAYUNGAN
0,142236378
400
= 0, 0003555909

TINGGAN
0,0038496
400
= 0, 000009624

KRENGEAN
0,0005038
400
= 0, 0000012595

GENITRI
0,2221821509
400
= 0, 000554554

PASANG
0,006235715
400
= 0, 0000155893

SEMBUNG
0,047157713
400
= 0, 000117894

TOTAL = ​0,009816615

● DOMINASI RELATIF

KOPEN
0,0000080524
0,009752041
X100% = 0,082028

JENGKON
0,0000007153
0,009752041
X100% = 0,007287

KUKRUP
0,0058599902
0,009752041
X100% = 59,69461

SANTENAN
0,0002285104
0,009752041
X100% = 2,327792

NYAMPLUNG
0,0000402654
0,009752041
X100% = 0,410176

KEPEL
0,0000402654
0,009752041
X100% = 0,102696

PASANG MERAH
0,0017065503
0,009752041
X100% = 17,38431

PASANG PUTIH
0,0006529641
0,009752041
X100% = 6,651622

DAMPUL
0,0000501283
0,009752041
X100% = 0,510648

LEMBAYUNGAN
0,0003555909
0,009752041
X100% = 3,622013

TINGGAN
0,000009624
0,009752041
X100% = 0,098038

KRENGEAN
0,0000012595
0,009752041
X100% = 0,01283

GENITRI
0,000554554
0,009752041
X100% = 5,649137

PASANG
0,0000155893
0,009752041
X100% = 1, 588053

SEMBUNG
0,000117894
0,009752041
X100% = 1,200964

LABER
0,0000648734
0,009752041
X100% = 0,657797

TOTAL = 100

● KERAPATAN
Kopen
3
400 = 0.0075

Jengkon
1
400 = 0.0025

Kukrup
9
400 = 0.0225

Santenan
2
400 = 0.005

Laber
1
400 = 0.0025

Nyamplung
1
400 = 0.0025

Kopel
3
400 = 0.0075

Pasang Merah
2
400 = 0.005

Pasang putih
2
400 = 0.005

Dampul
2
400 = 0.005

Lembayungan
3
400 = 0.0075

Tinggan
1
400 = 0.0025

Krengean
1
400 = 0.0025

Genitri
1
400 = 0.0025

Pasang
1
400 = 0.0025

Sembung
1
400 = 0.0025

Total jenis seluruh kerapatan = 0,085

● KERAPATAN RELATIF

Kopen
0,0075
0,085 x 100 = 8, 8235

Jengkon
0,0025
0,085 x 100 = 2, 9411

Kukrup
0,0225
0,085 x 100 = 26, 4705

Santenan
0,005
0,085 x 100 = 5, 8823

Laber
0,0025
0,085 x 100 = 2, 9411

Nyamplung
0,0025
0,085 x 100 = 2, 9411

Kopel
0,0075
0,085 x 100 = 8, 8235

Pasang Merah
0,005
0,085 x 100 = 5, 8823

Pasang Putih
0,005
0,085 x 100 = 5, 8823

Dampul
0,005
0,085 x 100 = 5, 8823

Lembayungan
0,0075
0,085 x 100 = 8, 8235

Tinggan
0,0025
0,085 x 100 = 2, 9411

Krengean
0,0025
0,085 x 100 = 2, 9411

Genitri
0,0025
0,085 x 100 = 2, 9411

Pasang
0,0025
0,085 x 100 = 2, 9411

Sembung
0,0025
0,085 x 100 = 2, 9411

TOTAL =99,999

● FREKUENSI

Kopen
3
2 = 1, 5

Jengkon
1
2 = 0, 5

Kukrup
9
2 = 4, 5

Santenan
2
2 =1

Laber
1
2 = 0.5

Nyamplung
1
2 = 0.5

Kopel
3
2 = 1.5

Pasang Merah
2
2 =1

Pasang putih
2
2 =1

Dampul
2
2 =1

Lembayungan
3
2 = 1, 5

Tinggan
1
2 = 0.5

Krengean
1
2 = 0.5

Genitri
1
2 = 0.5
Pasang
1
2 = 0.5

Sembung
1
2 = 0.5

TOTAL = 16,5

● FREKUENSI RELATIF

KOPEN
1,5
16,5
×100 = 9, 09

JENGKON
0,5
16,5
×100 = 3, 03

KUKRUP
4,5
16,5
×100 = 27, 27

SANTENAN
1
16,5
×100 = 6, 06

LABER
0,5
16,5
×100 = 3, 03

NYAMPLUNG
0,5
16,5
×100 = 3, 03

KAPEL
1,5
16,5
×100 = 9, 09
PASANG MERAH
1
16,5
×100 = 6, 06

PASANG PUTIH
1
16,5
×100 = 6, 06

DAMPUL
1
16,5
×100 = 6, 06

LEMBAYUNGAN
1,5
16,5
×100 = 9, 09

TINGGAN
0,5
16,5
×100 = 3, 03

KRENGEAN
0,5
16,5
×100 = 3, 03

GENITRI
0,5
16,5
×100 = 3, 03

PASANG
0,5
16,5
×100 = 3, 03

SEMBUNG
0,5
16,5
×100 = 3, 03

TOTAL = 103,02

NP = DR + FR + KR

100 + 99,999 + 103.02 = ​303,019 %


2C
IS = A+B
X100%
2X2
3+2
X100% = 80%

4.2 Pembahasan

Pada praktikum vegetasi hutan alam dilakukan dengan pembuatan 2 petak ukur 20x20 m
pada petak tersebut diukur pohonnya meliputi tinggi dan diameter. Data yang didapatkan
selanjutnya diolah untuk mendapatkan LBDS dominasi, dominasi relatifnya, setelah itu
menghitung kerapatan dan kerapatan relatifnya. Hingga frekuwensi sampai frekuwensi
relatifnya.

Dominasi dari petak yang ada relatif rendah karena tidak hanya di dominasi oleh satu
jenis saja. Data yang didapatkan dari lokasi menunjukan keadaan yang baik dengan INP 303,019
%, nilai tersebut mnunjukan bahwa terdapat satu jenis tanaman pohon yang mendominasi yaitu
kukrup karena keberadaannya pada petak ukur tersebut cukup banyak.

Pada petak ukur 1 dan 2 terdapat nilai IS( indek kesamaan jenis) yaitu 80 % yang
menandakan kemiripan dalam kesamaan jenis vegetasi dari PU I dan PU II yang ditemukan .
2c
dengan rumus a+b
, ​a adalah jumlah jnis yang ada pada PU I, b adalah jumlah jenis yang
terdapat pada PU II , dan c adalah jumlah jenis tanaman yang sama pada PU I dan PU II.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah:

1. Analisis vegetasi dapat dilakukan dengan pembuatan plot ukurann 20x20 m


2. Dominasi adalah tingkat dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya.
3. Semakin rendah nilai dominasi maka keragaman semakin tinggi
4. INP yang didapatkan yaitu 303,019 %
5. Lahan tersebut memiliki indek memiliki indeks kesamaan jenis sebesar 80% yang berarti
kemiripan jenis vegetasi antara PU 1 dan PU 2.
5.2 Saran
Adapun saran dari praktikum ini adalah
penggunaan alat yang disertai dengan pendamping lapang selama pengamatan.
INVENTARISASI TEGAKAN SEBELUM PENEBANGAN (ITSP)
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP) merupakan kegiatan pencatatan,
pengukuran dan penandaan pohon dalam areal blok kerja tahunan dengan intensitas inventarisasi
100%. Kegiatan ITSP ini untuk mencari data pohon initi, data pohon yang di lindungi, data
pohon yang akan dipanen, dan data kondisi areal kerja. Tujuan kegiatan ini adalah untuk
mengetahui data penyebaran pohon yang akan ditebang, meliputi komposisi jenis, jumlah dan
volume pohon.
Pengelolaan hutan secara lestrai memerlukan data dan informasi actual mengenai kondisi
hutan yang berkaitan dengan tujuan dan rencana pengelolaan. Berbagai perangkat penilaian
potensi hutan telah banyak dikembangkan. Sistem pemantauan hutan nasional juga
dikembangkan secara berjenjang mulai dari tingkat nasional, tingkat unit pengelolaan dan tingkat
blok seperti inventarisasi tegakan sebelum penebangan.
Pohon inti merupakan pohon muda komersial berdiameter 20 – 39 cm, berbatang dan
bertajuk sehat tersebar merata. Pohon yang dilindungi yaitu pohon – pohon penghasil buah,
pohon langka, sarang lebah madu untuk masyarakat sekitar hutan, pohon yang dianggap keramat
dan pohon yang termasuk kawasan lindung local. Pohon yang ditebang merupakan pohon
komersial berdiameter ≥ 40 cm dan tidak gerowong.
Informasi penting lainnya dari kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan yaitu
berupa titik ikat, jarak, aksebilitas dan lain sebagainya. Peralatan dalam kegiatan ITSP harus
dilengkapi terlebih dahulu yang berupa peta, kompas, buku panduan, piben, haga meter, parang,
tali dan tally sheet. Penting untuk mempelajari inventarisasi sebelum penebangan untuk
mengetahui prosedur – prosedur yang akan digunakan nanti.
1.2.​ T
​ ujuan

Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu :


1.​ M
​ ahasiswa mampu menghitung potensi hutan per satuan luas meliputi pohon komersial yang
akan ditebang, pohon komersial yang tidak mungkin ditebang dan pohon dilindungi.
2.​ M
​ ahasiswa mampu memetakan kordinat pohon (X, Y) untuk mendapatkan peta pohon.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

ITSP adalah kegiatan pencatatan, pengukuran dan penandaan pohon dalam areal blok
kerja tahunan dengan intesitas inventarisasi 100%. Data yang dicari berupa data pohon inti yang
meliputi jumlah, jenis serta diameter, data pohon yang dilindungi berupa jumlah, jenis, diameter
dan tinggi kemudian data pohon yang akan dipanen berupa jumlah, jenis, diameter dan tinggi
bebas cabang, serta data lokasi areal kerja. Kegiatan ITSP ini bertujuan untuk mengetahui data
penyebaran pohon yang akan ditebang (Graha Sentosa, 2013).
Data jumlah pohon yang ada, khususnya unutk pohon inti dan pohon yang dilindungi
untuk merencanakan jumlah dan komposisi pohonyang akan ditinggal dilapangan untuk
merencanakan jumlah dan komposisi pohon yang ditinggal dilapangan untuk dipelihara samapi
rotasi tebang berikutnya. Ketentuan umum pohon inti dipilih dari pohon – pohon jenis niagawi
yang berbatang dan bertajuk sehat dan tersebar merata pada seluruh bagian tegakan. Penandaan
pohon inti dan pohon yang akan ditebang serta pohon yang dilindungi pada bagian pohon
setinggi dada (Departemen Kehutanan, 1993).
Proses dalam pengelolaan hutan yaitu pertama inventarisasi dalam pengertian komersial
sering kali berarti penyiapan daftar yang menggambarkan secara terperinci. Dalam pelaksanaan
ITSP, pohon yang direncanakan akan ditebang diberi penanda. Penanda ini berisi informasi
tentang fungsi pohon, jenis pohon, ukuran diameter, tinggi pohon bebas cabang dan posisi pohon
(Cifor, 2001).
Inventarisasi tegakan sebelum penebangan dimaksudkan untuk mengetahui keadaan
penyebaran pohon dalam tegakan yang meliputi jumlah dan komposisi jenis serta volume yang
akan ditebang, serta untuk mengetahui pohon inti dan pohon yang dilindungi. Pohon inti adalah
pohon muda jenis niagawi yang berdiameter 20-49 cm yang akan membentuk tegakan utama
untuk ditebang pada rotasi tebangan berikutnya(Departemen Kehutanan, 1999) .
Kegiatan ITSP ini dilakukan untuk mengetahui data pohon inti, data pohon yang
dilindungi, data pohon yang akan dipanen, dan data kondisi areal kerja. Dari semua hal tersebut
yang ingin dicapai yaitu untuk mengetahui data penyebaran pohon yang akan ditebang dan
meliputi komposisi jenis, jumlah, dan volume pohon. Hasil inventarisasi sebelum penebangan
selanjutnya digunakan untuk menetapkan target produksi tanaman, menentukan arah trase jalan,
menentukan jumlah, kapasitas mesin, dan tenaga kerja yang disiapkan serta serta untuk
merencanakan jumlah dan komposisi jenis pohon binaan/ pohon inti dan pohon yang dilindungi
yang akan dipelihara (Santosa, 2011)
BAB III
METODOLOGI KERJA

3.1.​ W
​ aktu dan Tempat Pelaksanaan
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan pada praktikum kali ini yaitu:
Hari/Tanggal : Sabtu /31 Maret 2018
Waktu : 08.40 – 10.20 WIB
Tempat : Laboratorium Kehutanan, Universitas Muhammadiyah Malang
3.2.​ A
​ lat dan Bahan

Adapun alat dan bahan pada praktikum kali ini yaitu :


∙​ Alat

-​ Peta kerja dengan skala 1 : 20.000


-​ Kompas

-​ Buku lapangan

-​ Pengukur diameter pohon


-​ Pengukur tinggi pohon


-​ Parang

-​ Tali denga ukuran 25 M


-​ Kertas millimeter

-​ Tabel isi pohon


-​ Penanda pohon

-​ Tally sheet

3.3.​ C
​ ara Kerja

Adapun cara kerja pada praktikum kali ini yaitu :


a.​ Persiapan

Kegiatan ITSP ini memerlukan tenaga kerja sebanyak 11 orang.


-​ Membagi regu kerja untuk survey topografi dan ITSP

No Untuk regu survey topografi Jumla
h
1 Ketua regu (mencatat) 1
2 Kompas-man (mengukur azimuth) 1
3 Helling-man (mengukur slope) 1
4 Memasang patok 1
5 Menarik meteran 1
6 Pelebar perintisan 1 (*)
7 Pembantu umum 1
b.​ M
​ empesiapkan peralatan
Adapun peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut :

a.​ Peta kerja skala 1 : 20.000


b.​ K
​ ompas

c.​ Buku lapangan


d.​ P
​ engukur diameter pohon

e.​ Pengukur tinggi pohon


f.​ Parang

g.​ T
​ ali dengan ukuran 25 meter

h.​ K
​ ertas millimeter

i.​ Tabel isi pohon


j.​ Penanda pohon (cat merah & kuning)


k.​ T
​ ally sheet
c.​ Pelasanaan kegiatan

Sebelum regu cruising terjun ke lapangan perlu merlakukan perencanaan, menetapkan lokasi
kegiatan inventarisasi hutan pada peta kerja yang dilakukan oleh bagian perencanaan, dan
menentukan rencana lokasi blok dan petak tebangan yang akan dilakukan kegiatan inventarisasi
hutan pada petak kerja, pada petak kerja cruising menentukan letak titik yang berdasarkan peta
hasil penataan areal kerja, menetapkan rencana jalur – jalur inventarisasi hutan dengan arah jalur
menyesuaikan dengan keadaan lapangan dan jumlah jalur yang disesuaikan dengan intensitas
cruising yaitu 100%.
Setelah membuat blok selesai, lalu membuat lagi menjadi beberapa selection yang
mana setiap satu selection seluas 125 ha dan sekaligus mengukur setiap 100 meter sebagai jalur
pengamatan. Pada setiap sumbu jalur yang telah dibuat petak pengamatan selebar 20 x 20 meter.
Kemudian mengiventarisasi sepanjang jalur tersebut dan mengamati jenis kayu, diameter, letak
pohon, topografi lapangan (jenis pohon komersial berdiameter 50 cm ke atas). Selanjutnya
melaporkan ke instansi kehutanan setempat.
Beberapa data penting yang perlu diperisapkan antara lain :
a.​ Potret udara

b.​ P
​ eta topografi skala 1 : 5.000 sampai 1 : 25.000

c.​ Peta keadaan hutan skala 1 : 25.000 atau 1 : 50.000


d.​ P
​ eta tanah

e.​ Peta geologi


f.​ Pedoman dan peraturan pembukaan wilayah hutan (PWH)


g.​ B
​ iaya pembuatan jalan

h.​ B
​ iaya pemanenan kayu

i.​ Rencana manajemen hutan dan lain – lain


Dengan dasar laporan hasil cruising (LHC) perusahaan menyusun usulan


rencana karya tahunan (URKT). Menyerahkan kepada dinas kehutanan untuk dinilai dan
selanjutnya diteruskan kepada direkriat jendral kehutanan guna mendapatkan penilaian dan
pengesahan ini, usulan rencana karya tahunan (URKT) berubah menjadi rencana karya tahunan
(RKT).

BAB IV

HASIL DAN PENGAMATAN

4.1 Data pengamatan

Praktikum ini kami membahas tentang ITSP dan berikut data hasil pengamatannya

Tabel Petak Ukur I

N Nama Pohon Diameter Tingg LBDS Volume


o i
1 Kukrup 0,397887 5 0,0124276540 0,621382704
8
2 Santenan 0,273747 12 0,0588258747 0,7059104964
3 Kukrup 0,840333 27 0,5539405763 14,956395560
1
4 Lamer 0,1818143 12 0,0259493251 0,3113919012
7
5 Nyamplung 0,143239 12 0,0161061677 0,1932740124
6 Pasang merah 0,2639442 23 0,0546882469 1,2578296787
3
7 Kukrup 0,50293 18 0,1985567891 3,5740222038
8 Pasang putih 0,54431 26 0,2325746002 6,0469396052
9 Lembayunga 0,315127 11 0,0779544455 0,8574989005
n
10 Pasang 0,1909155 27 0,0206122516 0,7725307932
Total 1,3965914404 29,297175855
5
Tabel Petak Ukur II

No Nama Pohon Diameter Tingg LBDS Volume


i
1 Kukrup 0,4812817 28 0,1818 5,0904
2 Dampul 0,114592 8 0,0103 0,0824
3 Lembayungan 0,257831 12 0,0521 0,6252
4 Kukrup 0,658901 27 0,3408 9,2016
5 Sembung 0,245099 16 0,4715 7,544
6 Santenan 0,203718 12,5 0,0325 0,40625
7 Lembayungan 0,124141 9,5 0,00120 0,114
8 Kukrup 0,528394 13 0,2191 2,8483
9 Pasang 0,5434761 27,5 0,2244 6,171
10 Kukrup 0,961296 27,5 0,7254 1,99485
11 Genitri 0,531578 26 0,2218 5,7668

Total 2,4917 39,8448

4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini kami membahas tentang Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan
(ITSP) dengan menggunakan 2 petak ukur 20 x20 meter. Pada petak ukur 1 terdapat 10
pohon dengan ukuran yang berbeda, namun ada 4 pohon yang siap ditebang yaitu 3 pohon
kukrup dan 1 pohon lembayungan. Hal ini dikaenakan 4 pohon tersebut mempunyai diameter
lebih dari 30 cm. syarat dari ITSP yaitu pohon yang dapat ditebang berdiameter lebih dari 30
cm. selain 4 pohon ini tidak boleh ditebang dikarenakan diameternya kurang dari 30 cm.
sehingga perlu dilakukan perawatan pada pohon lainnya agar bisa ditebang pada periode
selanjutnya.
Pada petak ukur 2 teridentifikasi 11 pohon namun ada 6 pohon yang siap ditebangyang
berdiameter lebih dari 30 cm. yaitu 4 pohon kukrup, 1 pohon pasang dan 1 pohon genitri.
selain 6 pohon ini tidak boleh ditebang dikarenakan diameternya kurang dari 30 cm. sehingga
perlu dilakukan perawatan pada pohon lainnya agar bisa ditebang pada periode selanjutnya.
Pada petak ukur 1 volume pohon terbesar yaitu pada pohon kukrup dengan volume
14,9563955601 m3 dan volume terkecil pada pohon nyamplung dengan
volume0,1932740124 m3. Perbedaan volume pada beberapa pohon ini karena tempat tumbuh
yang berbeda dimana pohon yang bervolume lebih tinggi memiliki tempat tumbuh yang lebih
baikdan mendapatkan sinar matahari yang cukup dibandingkan dengan pohon yang
bervolume lebih kecil.
Pada petak ukur II volume pohon terbesar yaitu pada pohon kukrup dengan volume
9,2016 m3 dan volume terkecil pada pohon dampul dengan diameter 0,08221 m3. Perbedaan
volume pada beberapa pohon ini karena tempat tumbuh yang berbeda dimana pohon yang
bervolume lebih tinggi memiliki tempat tumbuh yang lebih baikdan mendapatkan sinar
matahari yang cukup dibandingkan dengan pohon yang bervolume lebih kecil.
Kegiatan ITSP ini bertujuan untuk mengetahui potensi tegakan yang dapat ditebang pada
rotasi tebang berikutnya. Perawatan yang perlu dilakukan yaitu berupa pemusnahan
tumbuhan liar yang mengganggu pertumbuhan pohon niagawi agar dapat meningkatkan
kulitas batang yang bagus pada waktu penebangan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum kali ini adalah
- Pada petak 1 terdapat 10 pohon namun yang dapat ditebang yaitu 4 pohon, 3
pohon kukrup dan 1 pohon lembayungan
- Pada petak II terdapat 11 pohon namun yang dapat ditebang yaitu 6 pohon, 4
pohon kukrup dan 1 pohon pasang dan 1 pohon genitri
- Volume tertinggi pada petak 1 yaitu pada pohon kukrup dengan volume
14,9563955601 m3 dan volume terkecil pada pohon nyamplung dengan
volume0,1932740124 m3.
- Pada petak ukur II volume pohon terbesar yaitu pada pohon kukrup dengan
volume 9,2016 m3 dan volume terkecil pada pohon dampul dengan diameter
0,08221 m3.
- Pohon yang dapat ditebang dalam kegiatan ITSP ini yaitu pohon yang
diameternya lebih dari 30 cm.
- Perawatan yang diperlukan yaitu berupa pemusnahan tumbuhan liar untuk
meningkatkan kualitas pohon niagawi

5.2 Saran

Adapun saran pada praktikum ini adalah:

Praktikum berjalan lancar

DAFTAR PUSTAKA
Cifor. 2001. ​Pedoman RIL​. Online, ​http://www.adeizforest.blogspot.com​. Diakses tanggal 23
Maret 2017.
Departemen Kehutanan. 1993. ​Pedoman Tebang Pilih Tanam Indonesia​. Online,
http://www.adeizforest.blogspot.com​. Diakses tanggal 23 Maret 2017.
Departemen Kehutanan.1999.​Panduan Kehutanan Indonesia​.Koperasi Karyawan. Departemen
Kehutanan dan Perkebunan.Jakarta
​ nline, ​http://www.Grahasentoa.blogspot.com​.
Graha Sentosa. 2013. ​Kamus Kehutanan. O
Diakses tanggal 23 Maret 2017.
Santosa. Gunawan. 2011​. Materi PKL Manajemen Pemanfaatan Hasil Hutan di IUPHHK-HA.​
Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

INVENTARISASI TEGAKAN TINGGAL

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan pengelolaan hutan dimaksudkan untuk memanfaatkan nilai hutan dari segi ekonomi,
ekologi, maupun sosial. Setelah melakukan pemanenan hutan berupa hasil hutan kayu ( HHK ) tentunya
masih terdapat perencanaan kedepan untuk menimbulkan kerusakan pasca pemanenan. Kegiatan tersebut
disebut ITT atau inventarisasi tegakan tinggal.

Inventarisasi tegakan sangat penting dilakukan dalam upaya penanggulangan kerusakan


ekosistem. Bentuk – bentuk pencatatan dalam ITT meliputi potensti penyebaran dan kerapatan, komposisi
jenis, jumlah dan tingkat kerusakan pohon inti. Data yang didapatkan selanjutnya diolah untuk
menentukan kegiatan perlakuan silvikultur kedepannya.

Pencatatan pada jenis permudaan memiliki kriteria tersendiri. Permudaan tingkat semai dengan
kriteria tinggi dibawah 1,5 m, untuk tiang adalah anakan pohon dengan yang berdiameter 10- 19 cm,
sedangkan pancang memiliki tinggi lebih dari 1,5 meter dengan diameter kurang dari 10 cm. Akhirnya,
setelah mendapatkan data potensi yang ada selanjutnya ditentukan perlu atau tidaknya dilakukan
pemanenan maupun pengayaan pada petak tersebut.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
- Agar mahasiswa mampu menghitung komposisi jenis, potensi penyebaran, kerapatan, jumlah dan tingkat
kerusakan pohon inti
- Agar mahasiswa mampu menentukan tindakan silvikultur pada petak kerja tahunan sesudah kegiatan
penebangan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pengelolan hutan lestari adalah suatu praktek pengelolaan untuk mendapatkan manfaat dan nilai
nilai sumberdaya huta bagi generasi sekarang dengan tidak mengorbankan produktivitas dan kualitas bagi
generasi yang akan datang. Salah satu kriteria pengelolaan hutan secara lestari adalah rehabilitas hutan
produksi. Kegiatan ini dimaksud untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan
sehingga daya dukung, produktivitas dan perannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap
terjaga. ( Soegianto, 1994 ).

Inventarisasi tegakan tinggal ( ITT ) adalah kegiatan pencatatan dan pengukuran pohon dan
permudaan alam pada areal tegakan tinggal untuk mengetahui komposisi jenis, penyebaran dan kerapatan
pohon, jumlah, serta tingkat kerusakan pohon inti. Tegakan tinggal adalah tegakan hutan yang sudah
titebang pilih dan dipelihara sampai saat penebangan berikutnya. Pohon inti adalah jenis tegakan
berdiameter 20- 49 cm yang akan membentuk tegakan utama dan akan ditebang pada rotasi berikutnya (
Kartidihardjo, 1999).

Paska penebangan perlu dilakukan berbagai tindakan pembenahan dan pemeliharaan areal bekas
tebangan. Adanya kegiatan ITT diharapkan berbagai tahapan kegiatan untuk melakukan pemeliharaan
dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan baik agar pada rotasi berikutnya bisa dipanen kembali
pohon yang semula ditetapkan sebagai pohon inti. Pohon inti yang ditubjuk di utamakan terdiri dari
pohon komersial yang sama dengan pohon yang ditebang ( Latifah, 2011).
BAB III

METODELOGI KERJA

3.1 Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut:
Hari/ Tanggal: Sabtu, 24, 03 2018
Jam : 8:40- 10:20 wib
Tempat : Laboratorium kehutanan unniversitas muhammadyah malang

3.2 Bentuk kegiatan

Adapun bentuk kegiatan dalam praktikum ini adalah sebagi berikut:


Diskusi dan simulasi kegiatan

3.3 Cara Kerja

Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah:

1. Persiapan Tim
a. Regu kerja pelaksanaan ITT terdiri dari 10 orang, dengan pembagian tugas sebagai
berikut:
1. 1 orang ketua regu ( merangkap pencatat)
2. 2 orang pemegang kompas
3. 2 orang pembuat jalur
4. 2 orang pemberi tanda
5. 1 orang pemegang tali
6. 2 orang pengenal pohon
7. 1 orang pembuat umum
b. Regu kerja pelaksanaan ITT dipimpin oleh tenaga teknis kehutanan yang berpengalaman
dibidang inventarisasi hutan, misal cruiser / KKMA, sarjana/ sarjana muda kehutanan.
2. Persiapan peralatan
a. Menyiapkan peta kerja dengan skala 1:10.000, atau 1: 20.000, atau 1: 25.000
b. Menyiapkan peralatan lain yang dipergunakan untuk ITT, antara lain:
1. Buku lapangan, alat tulis, tally sheet
2. Kompas, alat ukur lereng, alat ukur ketinggian tempat, tenda, helm, cat warna merah
dan putih, tli plastik, parang, obat-obatan, dan lain-lain.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan

Adapun hasil pengamatan praktikum ini adalah :

DATA ITT PU 1
Ukuran Jumla
No Petak Nama pohon h
Kopen 1
Jengkon 1
1 2x2 M Kukrup 1
Santenan 1
Kukrup 2
Laber 1
2 5X5 M Nyamplung 1
Kepel 1
pasang merah 1
Kopen 1
10X10 Kukrup 1
3 M Dampul 1
pasang putih 1
20X20 Lembayunga 1
4 M n
Pasang putih 1

DATA ITT PU 2

No Ukuran petak Nama pohon


Tinggan 1

2X2 M Kepel 2
Krengean 1
Kukrup 1
1 Kopen 1
2 5X5 M Pasang 1

10X10 M Kukrup 2
Dampul 1
lembayungan 1
3 Sembung 1

20X20 M Santenan 1
lembayungan 1
Kukrup 2
Pasang 1
4 Genitri 1

4.2 Pembahasan

Inventarisasi tegakan tinggal dimaksud untuk mengetahui potensi hutan berupa kayu yang tersisa
setelah dilakukan pemanenan . hasilnya akan digunakan untuk menentukan peran atau tindakan
penanaman / pengayaan atau tidak.
Pada PU I berukuran 2x2 m perlu dilakukan penanaman karena jumlah semai tidak mencapai
minimal syarat jumlah 8 semai. Untuk ukuran 5x5 m , 10x10 m, dan 20x20 m tidak perlu adanya
penanaman karena sudah memenuhi 1 pohon syarat minimal yang sudah ada.

Pada PU II ukuran 2x2 m tidak perlu dilakukan penanaman karena terdapat semai sebanyak 6,
meskipun tidak mencapai pada syarat jumlah semai. Pada ukuran 5x5m, 10x10 m, dan 20x20 m tidak
perlu adanya permudaan karena sudah memenuhi persyaratan jumlah permudaan yang harus ada.

Dengan penanaman yang dilakukan selanjutnya diharapkan pada rotasi panen selamjutnya pada
luasan lahan tersebut masih memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Pada PU I 20x20 m terdapat lebih dari satu pohon sehingga tidak perlu tindakan pengayaan dan
penanaman. Dan pada PU II 20x20 m juga terdapat pohon yang lebih dari satu sehingga tidak perlu lagi
pengayaan dan penanaman.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan pada praktikum ini adalah:

1. kegiatan inventarisasi tegakan dilakukan untuk mengetahui potensi hutan setelah dilakukan
pemanenan.
2. Kegiatan dalam inventarisasi tegakann tinggal juga meliputi pencatatn pohon tersisa dan
kerusakan yang ada.
3. Jika pada petak ukur 2x2 m tidak mencapai 8 semai maka perludilakukan penanaman.
4. Petak ukur I dan II pada ukuran 2x2 m ( semai) perlu dilakukan penaman
5. PU I dan PU II 20X20 m terdapat pohon yang lebih dari satu, sehingga tidak perlu lagi
dilakukan pengayaan dan penanaman.

5.2 Saran

Adapun saran pada praktikum ini adalah:

Sebaiknya pengukuran ITT dilakukan dengan teliti sehingga dapat mendapatkan data yang akurat
untuk diolah selanjutnya.