Anda di halaman 1dari 12

ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No.

1, April 2015

STUDI ANALISIS FAKTOR PENYEBAB DISFUNGSIONAL


AUDITOR DAN UPAYA PENANGGULANGAN DISFUNSIONAL
AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT PADA KANTOR
AKUNTAN PUBLIK DI PROVINSI BALI
(Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik “X” di Wilayah Denpasar, Bali)

Nyoman Ari Surya Dharmawan

Jurusan S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis,


Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Indonesia

Email: arisuryadharmawan@yahoo.com
Abstrak
Penelian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi disfungsional
auditor dan bagaimana cara penanggulangannya. Perilaku audit disfungsional
merupakan tindakan auditor dalam pelaksanaan program audit yang dapat
mereduksi kualitas audit secara langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian kualitatif adalah penelitian yang
menggunakan pendekatan naturalistik untuk mencari dan menemukan pengertian
atau pemahaman tren tentang fenomena dalam suatu latar yang berkonteks
khusus. Dalam rangka menemukan pemahaman mengenai fenomena dalam
penelitian ini digunakan paradigma interpretif dengan berusaha untuk menggali
dunia apa adanya, dengan pendekatanpengalaman subyektif sendiri. Paradigma
ini memasukkan pemikiran filosofis dan sosiologis yang berusaha memahami dan
menjelaskan dunia sosial dari titikpandang para aktor yang secara langsung
terlibat di dalam proses sosial, sehingga hubungan antara peneliti dengan yang
diteliti aktif bersama tidak dapat dipisahkan, bersifat ideografik dan terikat dengan
nilai-nilai. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa perilaku disfungsional auditor (1)
disebabkan karena adanya konflik kepentingan antar pihak yang terkait dalam
penugasan audit. (2) tekanan anggaran waktu dalam penyelesaian laporan
keuangan,kopensasi finansial yang diberikan kepada auditor dan (3) keinginan
perpindahan auditor sangat mempengaruhi prilaku disfungsional auditor. Utuk
bentuk penanggulangannya sangat diperlukan peranan pemerintah dalam hal ini
IAI yang menentukan regulasi dan sangat ampuh dalam menekan prilaku
disfungsional auditor.

Kata kunci : prilaku, disfungsional auditor, dan bentuk penanggulangan

Abstract
Study presented here aims to determine the factors that influence the auditor
dysfunctional and how to overcome them. Dysfunctional audit behavior is any act
of auditors in the implementation of the audit program which can reduce the quality

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |545


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

of audits, directly or indirectly. This study used a qualitative approach, qualitative


research is a study using a naturalistic approach to search and find the meaning or
understanding of the phenomenon of trends in a specific contextual background. In
order to find an understanding of the phenomenon in this study used the
interpretive paradigm seeks to explore the world as it is, with its own subjective
approach experience. This paradigm incorporate philosophical and sociological
thought which seeks to understand and explain the social world of point of view the
actors who are directly involved in the social process, so that the relationship
between the researcher and the researched active joint can not be separated, are
ideographic and tied with values. The results of this study that dysfunctional
behavior auditors promoted due to a conflict of interest between the parties related
to the audit assignment, in this case the accounting firm, the client and the auditor.
Time budget pressure in the completion of the financial statements, financial
compensation given to the auditor, the auditor displacement and desire greatly
affect the auditor dysfunctional behavior. The role of the government in this case
IAI, highly potent in suppressing the dysfunctional behavior of auditors.

Keywords: dysfunctional, behavior auditor, and response form

PENDAHULUAN informasi akan meningkatkan


Pertumbuhan dunia usaha di Bali kepercayaan pengguna informasi
sangatlah pesat, ini ditunjang dari terhadap informasi yang disajikan.
tingkat pertumbuhan pariwisata yang Karena fungsi audit sebagai jasa
terus-menerus meningkat secara penjamin bahwa suatu informasi yang
signifikan. Seiring dengan pesatnya disajikan adalah informasi yang kredibel
pertumbuhan dunia usaha di Bali maka maka kompetensi, kemampuan dan
secara tidak langsung akan memicu independensi pihak yang melakukan
banyaknya investor asing maupun audit (auditor) menjadi hal penting yang
investor dalam negeri yang ingin harus diperhatikan dan dipertahankan
menanamkan modalnya di Bali. dalam proses pengauditan. Untuk
Sebelum menanamkan modalnya, para menjaga dan memberikan jaminan
investor mencari informasi-informasi kepada pemakai jasa auditor tentang
yang dapat dipercaya kebenarannya. independensi dan profesionalitas
Salah satu informasi yang dibutuhkan auditor, profesi telah menetapkan kode
adalah informasi keuangan. Informasi etik akuntan publik dan kontrol kualitas.
keuangan merupakan salah satu Kode etik akuntan mengatur apa yang
indikator, dimana dapat dikatakan suatu boleh dan apa yang tidak boleh
perusahaan berjalan secara baik atau dilakukan oleh seorang akuntan dan
optimal. Untuk mengetahui informasi bagaimana akuntan harus bertindak
tersebut dapat dikatan berkualitas, maka agar tidak merugikan salah satu pihak
diperlukannya audit. dan menguntungkan pihak yang lain.
Audit sering dipandang sebagai Kode etik juga mengatur hubungan dan
assurance service yaitu jasa profesional bagaimana komunikasi akuntan dengan
independen yang dapat meningkatkan akuntan lain harus dilakukan sehingga
kualitas informasi bagi pengambil pemberian jasa tetap profesional. Selain
keputusan. Peningkatan kualitas kode etik akuntan, profesi juga

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |546


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

menetapkan kontrol kualitas terhadap pengawasannya pada tahun 2002,


profesi akuntan dengan cara melakukan tercatat ada 10 Kantor Akuntan
review atau pemeriksaan secara berkala dibekukan ijin operasinya. Selanjutnya
baik yang dilakukan oleh profesi pada tahun 2003 tercatat 5 Akuntan
maupun yang dilakukan atar akuntan Publik dibekukan ijin operasinya karena
publik (peer review) dibawah melakukan pelanggaran terhadap
pengawasan asosiasi profesi dan Standar Profesional Akuntan Publik
departemen keuangan. Review (Mayangsari, 2003). Sedangkan pada
dilakukan untuk menghidari kesalahan tahun 2005, 2006 2008, dan 2009
dan ketidaktaatan terhadap prosedur Departemen Keuangan kembali
dan program audit yang telah ditetapkan mengumumkan pembekuan 5 ijin
berdasarkan standar audit dan standar Akuntan Publik.
profesi. Pembekuan Kantor Akuntan
Perilaku disfungsional auditor Publik oleh Departemen Keuangan
disebabkan karena adanya konflik dilakukan tanggal 11 Juni 2008 lalu
kepentingan antar pihak yang terkait terhadap KAP Drs Tahir Hidayat dan
dalam penugasan audit, dalam hal ini Dody Hapsoro dengan Keputusan
adalah kantor akuntan, klien dan auditor Menteri Keuangan Nomor
(Sujana, 2010). Konflik yang paling 397/KM.1/2008. Pembekuan dilakukan
sering terjadi adalah antara klien dan karena yang bersangkutan telah
auditor. Klien adalah perusahaan yang melakukan pelanggaran terhadap
memberikan tugas dan membayar Standar Auditing (SA) – Standar
auditor untuk melakukan audit dan klien Profesional Akuntan Publik (SPAP)
memiliki kepentingan agar laporan dalam pelaksanaan audit atas laporan
keuangan perusahaanya dapat keuangan konsolidasi PT Pupuk
diberikan opini terbaik. Disisi lain, Sriwidjaya (Pesero) dan anak
auditor adalah orang yang harus perusahaannya. (Bali Post, Juni 2008).
independen sesuai dengan amanat Fonemena ini juga terjadi pada
Standar Audit dan Kode Etik Akuntan, Kantor Akuntan Publik (KAP) diwilayah
dan harus memberikan opini terhadap provensi Bali. Di provinsi bali tercatat
laporan keuangan apa adanya. Konflik ada 8 (delapan) KAP, diantaranya 2
kepentingan seperti ini seringkali KAP pernah dibekukan ijinnya oleh
menjerumuskan auditor untuk Kementrian Keuangan selama 6 (enam)
berperilaku disfungsional. Fenomena bulan. Salah satu Kantor Akuntan Publik
perilaku penyimpangan (perilaku yang pernah dibekukan ijinnya adalah
disfungsional) yang dilakukan akuntan KAP Gunarsa. Pembekuan dilakukan
publik di Indonesia cukup karena yang bersangkutan telah
mengkhawatirkan. Departemen melakukan pelanggaran terhadap
Keuangan sebagai pengawas Akuntan Standar Auditing (SA) – Standar
Publik dan Kantor Akuntan Publik Profesional Akuntan Publik (SPAP)
hampir setiap tahun mengeluarkan dalam pelaksanaan audit atas laporan
Surat Keputusan Pembekuan Ijin keuangan dana pensiun pada PT. Bank
Akuntan Publik. Sejak Departemen Dagang Bali pada tahun 2009.
Keuangan mengintensifkan

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |547


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

Penelitian (Hwang dan Chang, dicapai. Kepercayaan pemakai laporan


2010) menemukan bahwa lingkungan auditor sangat menentukan masa depan
audit dan tekanan klien cenderung akan profesi.
mempengaruhi keputusan auditor dalam Oleh karena akuntan publik
menerima pelaporan keuangan yang memainkan peran sosial yang penting,
agresif (manipulatif). Hal ini Akunntan Publik dan staff dituntut untuk
menunjukkan bahwa tekanan oleh klien berperilaku yang pantas dalam
telah menyebabkan auditor melakukan melakukan audit dan jasa akutan
penyimpangan terhadap prosedur audit. lainnya dengan kualitas yang tinggi.
Tekanan dari klien memang akan selalu Untuk itu asosiasi profesi akuntan,
terjadi karena auditor dibayar oleh klien, menyusun Standar Auditing. Standar
tetapi disisi lain auditor dibatasi oleh auditing ini merupakan pedoman bagi
kode etik dan standar auditing, yang auditir dalam menjalankan tanggung
mengharuskan auditor tetap independen jawab profesionalnya. Standar-standar
dalam segala situasi. ini meliputi pertimbangan mengenai
Berdasarkan latar belakang diatas, kualitas profesional seperti keahlian dan
penelitian ini akan mencoba untuk independensi, persyaratan pelaporan
mengidentifikasi, menganalisis dan bahan bukti.
penyebab perilaku disfungsional auditor Di Indonesia, Standar auditing
dan upaya penanggulangan disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia
disfungsional auditor agar lebih (IAI), yang mana Standar Auditing
menjamin kualitas audit yang dilakukan tersebut merupakan hasil adopsi dari
oleh auditor eksternal pada kantor KAP Standar Auditing di Amerika yang
provensi Bali. disusun oleh AICPA. Standar Auditing
Audit memberikan nilai tambah terdiri dari sepuluh standar yang
pada laporan keuangan perusahaan, merupakan pedoman bagi auditor dalam
karena akuntan publik sebagai pihak melakukan pekerjaannya. Kesepuluh
yang ahli dan independen pada akhir Standar Auditing tersebut yaitu :
pemeriksaannya akan memberikan 1. Audit harus dilaksanakan oleh
pendapat mengenai kewajaran posisi seseorang atau lebih yang memiliki
keuangan, hasil usaha, perubahan keahlian dan pelatihan teknis cukup
ekuitas dan laporan arus kas. sebagai auditor.
Sebagai seorang yang profesional 2. Dalam semua hal yang berhubungan
akuntan harus selalu menjaga sikap dengan penugasan, independensi
mental independen. Sekalipun akuntan dan sikap mental harus
adalah ahli, apabila tidak memiliki sikap dipertahankan oleh auditor.
independen dalam mengumpulkan 3. Dalam melaksanakan audit dan
informasi akan tidak berguna, sebab penyusunan laporannya, auditor
informasi yang digunakan untuk wajib menggunakan kemahiran
mengambil keputusan haruslah tidak profesionalnya dengan cermat dan
bias. Independensi merupakan suatu seksama.
yang harus selalu diupayakan, karena 4. Pekerjaan harus direncanakan
dengan independensi kepercayaan sebaik-baiknya dan jika digunakan
pemakai laporan auditor akan bisa

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |548


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

asisten harus disupervisi dengan jika ada, dan tingkat tanggung jawab
semestinya. yang dipikulnya.
5. Pemahaman yang memadai atas
struktur pengendalian intern harus Standar Auditing ini dijabarkan lagi
diperoleh untuk merencanakan audit kedalam Pernyataan Standar Auditing
dan menentukan sifat, saat dan (PSA) yang merupakan pedoman kerja
lingkup pengujian yang harus yang paling utama bagi para auditor.
dilakukan. Pernyataan Standar Auditing dianggap
6. Bukti audit kompeten yang cukup sebagai ketentuan yang memiliki nilai
harus diperoleh melalui inspeksi, hukum karena setiap orang dalam
pengamatan, pengajuan pertanyaan profesi ini wajib mematuhi sesuai
dan konfirmasi sebagai dasar yang aplikasinya.
memadai untuk menyatakan Kajian pustaka mengenai
pendapat atas laporan kauangan perilaku disfungsional auditor telah
yang diaudit. dilakukan oleh berbagai ahli. Perilaku
7. Laporan audit harus menyatakan disfungsional auditor merupakan
apakah laporan keuangan telah perilaku menyimpang yang dilakukan
disusun sesuai dengan prinsip auditor dalam melaksanakan audit yang
akuntans yang berlaku umum. dapat secara langsung ataupun tidak
8. Laporan audit harus menunjukkan langsung mengurangi kualitas audit
keadaan yang didalamnya prinsip (Kelley and Margheim, 1990; Otley and
akuntansi tidak secara konsisten Pierce, 1996). Perilaku disfungsional
diterapkan dalam penyusunan auditor dibedakan sebagai berikut :
laporan keuangan periode berjalan
dalam hubungannya dengan prinsip Tindakan yang tidak secara langsung
akuntansi yang diterapkan dalam mempengaruhi kualitas audit.
periode sebelumnya. Underreporting of time yaitu
9. Pengungkapan informatif dalam mencerminkan suatu keadaan yang
laporan keuangan harus dipandang menunjukkan auditor menyelesaikan
memadai, kecuali dinyatakan lain pekerjaan atau tugas yang dibebankan
dalam laporan audit. dengan waktu pribadi dan dimotivasi
10. Laporan audit harus memuat suatu oleh keinginan untuk menghindari atau
pernyataan pendapat mengenai meminimumkan anggaran yang
laporan keuangan secara berlebih. (Commission on Auditor’s
keseluruhan atau suatu asersi Responsibilities Report, 1978 dalam
bahwa pernyataan demikian tidak Otley and Pierce, 1996b)
dapat diberikan. Jika pendapat
secara keseluruhan tidak dapat Tindakan yang mengurangi kualitas
diberikan, maka alasannya harus audit.
dinyatakan. Dalam semua hal yang 1. Penghentian premature terhadap
mana auditor dihubungkan dengan langkah audit dalam program audit
laporan keuangan, laporan auditor (premature sign-off).
harus memuat petunjuk yang jelas
mengenai sifat pekerjaan auditor,

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |549


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

2. Mengurangi jumlah pekerjaan yang kecurangan akuntansi oleh manajemen


dikerjakan dalam langkah audit yang perusahaan telah diteliti oleh Wilopo,
dianggap beralasan oleh auditor. 2006. Penelitian tersebut menyatakan
3. Tidak melakukan penelitian terhadap bahwa kesesuaian kompensasi
prinsip akuntansi. menyebabkan perilaku tidak etis
4. Tidak melakukan review dengan manajemen perusahaan yang
sungguh-sungguh terhadap menimbulkan kecenderungan
dokumen klien. melakukan kecurangan akuntansi.
5. Menerima penjelasan klien yang Auditor yang tidak memperoleh
lemah. kompensasi yang memuaskan dari
kantor akuntan cenderung akan tidak
Teori konflik Collins bertolak dari memiliki komitmen tinggi terhadap
beberapa asumsi: (1) orang dipandang pekerjaan, dan cenderung akan mencari
mempunyai sifat sosial (sociable), tetapi tempat kerja yang lebih baik sehingga
juga terutama mudah berkonflik dalam keinginan untuk bertahan di kantar
hubungan sosial mereka; (2) orang akuntan tersebut akan rendah.
berupaya untuk memaksimalkan “status Keinginan bertahan yang rendah
subjektif” mereka dan kemampuan berpotensi menimbulkan perilaku
untuk berbuat demikian tergantung pada disfungsional auditor (Malone and
sumber daya mereka maupun sumber Robert, 1996; Donnelly et al., 2003).
daya orang lain dengan siapa mereka Tekanan anggaran waktu yang
berurusan; (3) orang mempunyai dialami auditor dapat menimbulkan
kepentingan sendiri-sendiri, jadi stress, dan stress akan menimbulkan
benturan mungkin terjadi karena keinginan auditor untuk berpindah
kepentingan-kepentingan ini pada kantor (Kelley and Seiler, 1982; Cook
dasarnya saling bertentangan. (Ritzer and Kelley, 1988). Kelley and Seiler,
and Goodman, 2004: 160) 1982 menyatakan bahwa tekanan
Kepercayaan auditor bahwa anggaran waktu merupakan masalah
mematuhi anggaran waktu berhubungan besar bagi auditor, dan hasil surveynya
dengan penilaian kinerja, akan menunjukkan bahwa 8% auditor
memaksa auditor untuk memaksakan percaya bahwa tekanan anggaran waktu
diri memenuhi anggaran waktu akan meningkatkan keinginan berpindah
walaupun harus melakukan perilaku dari auditor. Sedangkan Cook and
disfungsional seperti menggunakan Kelley, 1988 menemukan 6% auditor
waktu pribadi untuk melakukan percaya bahwa tekanan anggaran waktu
pekerjaan (underreporting of time) dan akan meningkatkan keinginan berpindah
melakukan tindakan yang dapat auditor.
mengurangi kualitas audit misalnya Kompensasi berupa uang sudah
penghentian prematur terhadap sejak lama diketahui sebagai faktor
prosedur audit. yang menentukan dalam memilih
Penelitian pengaruh kesesuaian pekerjaan dan merupakan alasan untuk
kompensasi manajemen perusahaan berpindah pekerjaan. Seperti pada
terhadap perilaku tidak etis dan penelitian (Koh and Goh, 1995)
kecenderungan dilakukannya menemukan bahwa financial reward

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |550


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

berpengaruh pada keinginan berpindah tempatnya bekerja. Perasaan ini akan


pada klerikal staff di Singapura. memicu keinginan berpindah dari
Demikian juga penelitian (Tekleab et al., auditor.
2005) menemukan bahwa peningkatan Pemikiran Collins tentang konflik
gaji secara signifikan menyebabkan kepentingan dalam persepektif mikro
rendahnya keinginan berpindah auditor. merupakan alat analisis yang cukup
Keinginan berpindah auditor tepat untuk menganalisa perilaku
adalah merupakan konsekuensi dari disfungsional auditor. Collins
ketidakpuasan auditor terhadap menyatakan “organisasi formal sebagai
pekerjaan yang dilakukannya saat ini. jaringan pengaruh interpersonal dan
Ketidak puasan kerja dapat disebabkan sebagai arena di mana kepentingan
oleh berbagai faktor seperti lingkungan yang bertentangan dimainkan.” Kantor
kerja, gaji, kepemimpinan dan lain Akuntan Publik (KAP) merupakan arena
sebagainya. Ketidakpuasan auditor sosial yang didalamnya pastilah terjadi
terhadap pekerjaan akan menimbulkan interaksi yang kompleks, baik itu
perasaan tidak suka, kesal bahkan interaksi yang antar individu maupun
benci terhadap kantor akuntan interaksi institutif.

KLIEN KAP
KONFLIK
K
O K PERILAKU
N O DISFUNGSIONAL
F N AUDITOR
L F
I L
K I
K

AUDITOR

Gambar. 1 Skema Konflik Kepentingan KAP, Auditor dan Klien

METODE bekerjadpada sebuah Kantor Akuntan


Penelitian ini menggunakan Publik (KAP) di Kota Denpasar-Bali.
pendekatan kualitatif. Penelitian Kantor Akuntan yang dipilih adalah
kualitatif adalah penelitian yang Kantor Akuntan Publik ”X” yang
menggunakan pendekatan naturalistik berlokasi Denpasar. Alasan
untuk mencari dan menemukan merahasikan nama kantor akuntan ini
pengertian atau pemahaman tentang adalah mejaga kredibilitas dan nama
fenomena dalam suatu latar yang baik dari kantor akuntan itu dan juga
berkonteks khusus. karena ada teman peneliti yang menjadi
Penelitian ini dilakukan dalam di manajer pada KAP tersebut sehingga
Kantor Akuntan Publik. Penelitian memudahkan peneliti untuk diterima
difokuskan pada auditor yang

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |551


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

bekerja menjadi auditor part-time pada alamiah, mendalam, bersifat informal


KAP tersebut. dan tidak tersetruktur. Wawancara ini
Data dan informasi yang dilakukan peneliti terhadap klien, auditor
dibutuhkan untuk menjawab masalah maupun pimpinan KAP.
penelitian dikumpulkan melalui Teknik pengumpulan data lainnya
beberapa teknik pengumpulan data adalah studi dokumen. Dokumen yang
sebagai berikut: Observasi dilakukan dikaji antara lain dokumen hasil
dengan menerapkan observasi pemeriksaan auditor pada Kantor
partisipasi (participant observation) yaitu Akuntan Publik (KAP), dokumen
peneliti berusaha terlibat di dalam suatu tersebut meliputi, kertas kerja
proses kehidupan sosial sehari-hari di pemeriksaan, hasil perhitungan fisik,
mana interaksi sosial berlangsung. hasil konfirmasi, program audit, audit
Dengan peneliti ”menjadi bagian” prosedur maupun buku-buku atau
dari KAP dan terlibat dalam kegiatan dokumen lain terkait dengan penelitian.
sehari-hari, maka otomatis akan terlibat Dalam rangka lebih memudahkan
dalam dialog-dialog interaktif dengan pemahaman terhadap keterkaitan
para staff profesional (auditor) pada antara masalah penelitian, tehnik
KAP tersebut. Dialog ini merupakan pengumpulan data dan sumbernya
wawancara yang berlangsung secara dapat disajikan pada tabel berikut:

Tabel. 1 Keterkaitan Masalah dengan Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data
No. Masalah Penelitian Sumber Data Metode/Teknik
Pengumpulan
Data
1. Faktor-faktor apa yang Pengamatan terhadap hubungan Auditor- Pengamatan
mendorong auditor Klien, KAP-Klien dan Auditor-KAP partisipasi,
pada Kantor Akuntan Nara sumber wawancara adalah auditor, wawancara
Publik melakukan klien, manajer dan partner mendalam dan
perilaku disfungsional Dokumentasi yang ditelaah adalah studi
ketika melaksanakan dokumen hasil pemeriksaan, prosedur dokumentasi
tugas pengauditan audit yang dilakukan, bukti-bukti
pemeriksaan dll.
2. Bagaimana bentuk- Pengamatan terhadap hubungan Auditor- Pengamatan
bentuk perilaku Klien, KAP-Klien dan Auditor-KAP partisipasi,
disfungsional yang Nara sumber wawancara adalah auditor, wawancara
dilakukan oleh auditor klien, manajer dan partner mendalam dan
pada Kantor Akuntan Dokumentasi yang ditelaah adalah studi
Publik ketika dokumen hasil pemeriksaan, prosedur dokumentasi
melakukan audit yang dilakukan, bukti-bukti
pengauditan pemeriksaan dll.
3. Bagaimana upaya Nara sumber wawancara adalah Auditor, Wawancara
yang dapat dilakukan Manajer dan Partner mendalam dan
oleh Kantor Akuntan Dokumentasi yang ditelaah adalah studi
Publik dan asosiasi dokumen hasil pemeriksaan, prosedur dokumentasi
profesi untuk dapat audit yang dilakukan, bukti-bukti

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |552


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

menghindarkan auditor pemeriksaan dll.


beperilaku
disfungsional

HASIL DAN PEMBAHASAN observasi, wawancara dan studi


Faktor-faktor yang mendorong dokumentasi yg telah dilakukan
auditor pada Kantor Akuntan Publik mengindikasikan bahwa uditor KAP
melakukan perilaku disfungsional “GA” telah melakukan pekerjaan sesuai
ketika melaksanakan tugas dengan standar profesi dan standar
pengauditan. audit yg telah ditetapkan.
Prilaku yang medorong auditor
dalam melakukan disfungsional auditor Bentuk-bentuk perilaku disfungsional
adalah yang dilakukan oleh auditor pada
A. Tindakan yang tidak secara Kantor Akuntan Publik ketika
langsung mempengaruhi kualitas audit. melakukan pengauditan.
1. Underreporting of time yaitu Bentuk-bentuk prilaku
mencerminkan suatu keadaan yang disfungsional yang dilakukan oleh
menunjukkan auditor menyelesaikan auditor pada Kantor Akuntan Publik
pekerjaan atau tugas yang ketika melakukan pengauditan adalah :
dibebankan dengan waktu pribadi 1. Tekanan anggaran waktu yang
dan dimotivasi oleh keinginan untuk diberikan oleh klien maupun Kantor
menghindari atau meminimumkan Akuntan Publik kepada auditor
anggaran yang berlebih. 2. Kompesansi finansial yang
(Commission on Auditor’s diberikan oleh klien terhadap Kantor
Responsibilities Report, 1978 dalam Akuntan Publik dan Kantor Akuntan
Otley and Pierce, 1996b) Publik terhadap auditor
B. Tindakan yang mengurangi kualitas 3. Keinginan untuk berpindah Auditor
audit. yang dilakukan oleh klien.
1. Penghentian premature terhadap Berdasarkan hasil pengamatan
langkah audit dalam program yang dilakukan melalui proses
audit (premature sign-off). observasi, wawancara dan studi
2. Mengurangi jumlah pekerjaan dokumentasi yg telah dilakukan auditor
yang dikerjakan dalam langkah kantor KAP “GA” tidak melakukan
audit yang dianggap beralasan prilaku disfungsional audit ini
oleh auditor. dikarenakan anggaran waktu yang telah
3. Tidak melakukan penelitian sesuai di terapkan, kompensasi finansial
terhadap prinsip akuntansi. yang diberikan sesuai dengan pekerjaan
4. Tidak melakukan review dengan yg dilakukan, dan kenyamanan dalam
sungguh-sungguh terhadap melakukan pekerjaan.
dokumen klien.
5. Menerima penjelasan klien yang
lemah.
Berdasarkan hasil pengamatan
yang dilakukan melalui proses

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |553


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

Upaya yang dapat dilakukan oleh dengan penilaian kinerja, akan


Kantor Akuntan Publik dan asosiasi memaksa auditor untuk memaksakan
profesi untuk dapat menghindarkan diri memenuhi anggaran waktu
auditor beperilaku disfungsional walaupun harus melakukan perilaku
Berdasarkan hasil pengamatan disfungsional seperti menggunakan
yang dilakukan melalui proses waktu pribadi untuk melakukan
observasi, wawancara dan studi pekerjaan (underreporting of time) dan
dokumentasi yg telah dilakukan dapat melakukan tindakan yang dapat
disimpulkan bahwa Upaya yang dapat mengurangi kualitas audit misalnya
dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik penghentian prematur terhadap
dan asosiasi profesi untuk dapat prosedur audit.
menghindarkan auditor beperilaku
disfungsional adalah dengan mematuhi 2. Kompensasi Finansial dan
standar yang telah ditetapkan oleh IAI Perilaku Disfungsional Auditor
yaitu standar profesi dan standar audit Penelitian pengaruh kesesuaian
dan juga adanya peraturan atau regulasi kompensasi manajemen perusahaan
yang yang telah diatur dalam peraturan terhadap perilaku tidak etis dan
mentri keuangan nomor kecenderungan dilakukannya
17/PMK.01/2008. kecurangan akuntansi oleh manajemen
a. Menjaga komitmen professional perusahaan telah diteliti oleh Wilopo,
auditor dengan Teori konflik Collins 2006. Penelitian tersebut menyatakan
bertolak dari beberapa asumsi: (1) bahwa kesesuaian kompensasi
orang dipandang mempunyai sifat menyebabkan perilaku tidak etis
sosial (sociable), tetapi juga manajemen perusahaan yang
terutama mudah berkonflik dalam menimbulkan kecenderungan
hubungan sosial mereka; (2) orang melakukan kecurangan akuntansi.
berupaya untuk memaksimalkan Auditor yang tidak memperoleh
“status subjektif” mereka dan kompensasi yang memuaskan dari
kemampuan untuk berbuat demikian kantor akuntan cenderung akan tidak
tergantung pada sumber daya memiliki komitmen tinggi terhadap
mereka maupun sumber daya orang pekerjaan, dan cenderung akan mencari
lain dengan siapa mereka tempat kerja yang lebih baik sehingga
berurusan; (3) orang mempunyai keinginan untuk bertahan di kantar
kepentingan sendiri-sendiri, jadi akuntan tersebut akan rendah.
benturan mungkin terjadi karena Keinginan bertahan yang rendah
kepentingan-kepentingan ini pada berpotensi menimbulkan perilaku
dasarnya saling bertentangan. disfungsional auditor (Malone and
(Ritzer and Goodman, 2004: 160), Robert, 1996; Donnelly et al., 2003).
seperti :
3. Tekanan Anggaran Waktu dan
1. Tekanan Anggaran Waktu dan Keinginan Berpindah Auditor
Perilaku Disfungsional Auditor Tekanan anggaran waktu yang
Kepercayaan auditor bahwa dialami auditor dapat menimbulkan
mematuhi anggaran waktu berhubungan stress, dan stress akan menimbulkan

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |554


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

keinginan auditor untuk berpindah tempatnya bekerja. Perasaan ini akan


kantor (Kelley and Seiler, 1982; Cook memicu keinginan berpindah dari
and Kelley, 1988). Kelley and Seiler, auditor.
1982 menyatakan bahwa tekanan
anggaran waktu merupakan masalah PENUTUP
besar bagi auditor, dan hasil surveynya Berdasarkan hasil penelian yang
menunjukkan bahwa 8% auditor telah dilaksanakan maka dapat ditarik
percaya bahwa tekanan anggaran waktu kesimpulan bahwa auditor kantor KAP
akan meningkatkan keinginan berpindah “X” dalam melakukan audit tidak
dari auditor. Sedangkan Cook and melakukan disfungsional auditor karena
Kelley, 1988 menemukan 6% auditor dalam melakukan audit mengikuti
percaya bahwa tekanan anggaran waktu standar dan peraturan yang telah
akan meningkatkan keinginan berpindah ditentukan atau ditetapkan.
auditor.
DAFTAR PUSTAKA
4. Kompensasi Finansial dan
Keinginan Berpindah Auditor Hwang N.C.R and Chang C.J., 2010,
Kompensasi berupa uang sudah Litigation environment and
sejak lama diketahui sebagai faktor auditor’s decision to accept
yang menentukan dalam memilih client’s aggressive reporting,
pekerjaan dan merupakan alasan untuk Journal Account Public Policy,
berpindah pekerjaan. Seperti pada Vo. 29, p.281-295
penelitian (Koh and Goh, 1995) Kelley, T., and Margheim, L , 1990, The
menemukan bahwa financial reward Impact of Time Budget
berpengaruh pada keinginan berpindah Pressure, Personality and
pada klerikal staff di Singapura. Leadership Variable on
Demikian juga penelitian (Tekleab et al., Disfunctional Auditor Behavior,
2005) menemukan bahwa peningkatan Auditing: A Journal of Practice
gaji secara signifikan menyebabkan & Theory, 9.
rendahnya keinginan berpindah auditor. Kelley T., Margheim L. and Pattison D.,
1999, Survey On The
5. Keinginan Berpindah Auditor dan Differential Effects of Time
Perilaku Disfungsional Auditor Deadline Pressure Versus
Keinginan berpindah auditor Time Budget Pressure on
adalah merupakan konsekuensi dari Auditor Behaviour, The Journal
ketidakpuasan auditor terhadap of Applied Business Research,
pekerjaan yang dilakukannya saat ini. Vol. 15, No.4, pp 117-128
Ketidak puasan kerja dapat disebabkan Kelley, T. and Margheim, L., 2002, The
oleh berbagai faktor seperti lingkungan Relationships Between Senior
kerja, gaji, kepemimpinan dan lain Auditor Budget Participation,
sebagainya. Ketidakpuasan auditor Job Structuring, Job
terhadap pekerjaan akan menimbulkan Consideration And Staff
perasaan tidak suka, kesal bahkan Auditor Time Budget Pressure,
benci terhadap kantor akuntan The Journal of Applied

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |555


ISSN: 2303-2898 Vol. 4, No. 1, April 2015

Business Research, Vol. 18, Muawanah, U. dan N. Indriantoro, 2001,


No. 2. Perilaku Auditor dalam Situasi
Kelley, T. and R.E. Seiler, 1982, Auditor Konflik Audit: Peran Locus of
Stress and Time Budgets, The Control, Komitmen Profesi dan
CPA Journal, Dec 1982, p. 24- Kesadaran Etis, Jurnal Riset
34 Akuntansi Indonesia, Vol. 4,
Kirschenbaum, A. and J. Weisberg, No. 2, p. 133-150.
2002, Journal of Organizational Otley,D. T. and Pierce B.J.,1996,
Behavior, Vol. 23, p.109-125 Auditor Time Budget Pressure
: Consequences and
Koh, H.C and Goh, C.T., 1995, An Antecedents, Accounting,
Analysis of The Factors Auditing and Accountability
Affecting the Turnover Journal, Vol. 9, No. 1, pp. 31-
Intention of non-managerial 58
clerical staff: A Singapore Otley, D. T. and B. J. Pierce, 1996, The
Study, The International Operation of Control Systems
Journal of Human Resource in Large Audit Firms, Auditing:
Management, Vol. 6, p.103- A Journal of Practice & Theory,
125 Vol. 15, No. 2, p. 65-84.
Koswara, E., 1991, Teori-teori Ponemon, L.A., 1992, Auditor
Kepribadian, PT. Eresco, underreporting of time and
Bandung moral reasoning: An
Luthans Fred, 1998, Organizational experimental lab study,
Behaviour, Eighth Edition, Contemporary Accounting
McGraw Hill, USA Research, Vol. 9, no. 1, p. 171-
Malone, C. F.and R. W. Roberts, 1996, 189
Factors Associated with the Ritzer G. and Goodman D., 2004, Teori
Incidence of Reduced Audit Sosiologi Modern, Edisi
Quality Behaviors, Auditing: A Keenam, Prenada Media,
Journal of Practice & Theory, Jakarta
Vol. 15, No.2, p.49-64 Sujana E., 2010, Perilaku Disfungsional
Morris S.A and McDonald R.A, 1995, Auditor: Tinjauan terhadap
The Role of Moral Intensity in konfik kepentingan, Jurnal
Moral Judgement: An Empirical Sosio Religia, Vol. 9 Edisi
Investigation, Journal of Khusus, p. 513-533.
Business Ethics, 14, p. 715-
726

Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora |556