Anda di halaman 1dari 21

PENGAUDITAN II

PEMERIKSAAN EKUITAS

OLEH :

NI KADEK AYU SUPARTINI (117210683)

YOANI ANGELSISTA ANDUL JEMADA (117210676)

GAUDENSIA NOVERANA LATIF (115210039)

THALIA RAMALHINHO ALVES (117210690)

OCTAVIANA MARIA ELISABETH MARTINS (117210699)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PENDIDIKAN NASIONAL (UNDIKNAS)

DENPASAR

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah
auditing ini bisa selesai pada waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi
dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah auditing ini bisa disusun
dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca.
Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat
membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Denpasar, 05 November 2019


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang,.............................................1
B. Rumusan Masalah.........................................2
C. Tujuan............................................................3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Tinjauan Pustaka......................................................

 Sifat dan Contoh


Ekuitas.......................................
 Tujuan pemeriksaan
ekuitas(objectivies)................
 Penjelasan dan Tujuan
Ekuitas................................

B. Analisis Masalah ......................................................

BAB III
PENUTUP

a) Kesimpulan.................................................
b) Daftar Pustaka...............................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Modal suatu perusahaan merupakan setoran harta dari pemilik suatu

perusahaan. Setoran tersebut dapat berupa uang tunai atau harta lain. Di dalam

suatu perusahaan yang berbentuk perusahaan perseorangan modal pemilik

terdiri dari suatu akaun modal. Pada perusahaan yang terbentuk firma, modal

pemilik dipecah pada beberapa akun modal pemilik, sesuai dengan jumlah

anggota firma tersebut.

Dari segi perusahaan, modal merupakan kewajiban perusahaan kepada

pemilik perusahaan. Sedangkan dari segi pemilik perusahaan, modal adalah

bagiann hak pemilik atas kekayaab bersih perusahaan (harta dikurangi

kewajiban).

Di dalam suatu perusahaan perorangan modal terdiri atas modal pemilik

tunggal; laba yang diperoleh dalam suatu periode dan tambahan setoran modal

akan menambah saldo modal, kerugian yang diderita dalam suatu periode dan

pengambilan prive akan mengurangi saldo modal.

Di dalam suatu firma (partnership) modal terdiri atas modal lebih dari

satu partner.Modal masing-masing partner akan bertambah dengan adanya

pembagian laba atau tambahan setoran modal dan akan berkurang

dengan adanya pembagian kerugian atau pengambilan prive.


Aktivitas investasi (investing activity) adalah pembelian dan penjualan

tanah, bangunan, peralatan, serta aktiva lain yang umumnya tidak ditahan

untuk dijual kembali. Investasi pada umumnya merupakan bagian dari strategi

jangka panjang. Investasi dalam surat berharga dapat merupakan penanaman

modal dalam surat berharga yang termasuk aktiva lancar maupun bukan aktiva

lancar.

Modal dan investasi lainnya merupakan hal yang sangat penting bagi

perusahaan dalam menjalankan kegiatan perusahaannya. Auditor dalam

melakukan pemeriksaan terhadap modal atau ekuitas tersebut memerlukan

suatu prosedur. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas mengenai

prosedur pemeriksaan ekuitas.

B. RUMUSAN MASALAH

Dari uraian latar belakang diatas yang menjadi rumusan masalah adalah

“Bagaimana prosedur pemeriksaan modal/ekuitas?

C. TUJUAN

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan yang ingin

dicapai dari penulisan ini adalah “Untuk mengetahui apa saja prosedur

pemeriksaan modal/ekuitas”.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Sifat dan Contoh Ekuitas

Dari segi perusahaan, modal merupakan kewajiban perusahaan

kepada pemilik perusahaan. Sedangkan dari segi pemilik perusahaan,

modal adalah bagian dari hak pemilik atas kekayaan bersih perusahaan

(harta dikurangi kewajiban).

Didalam suatu perusahaan perorangan modal terdiri dari modal

pemilik tanggal, laba yang diperoleh dalam suatu periode dan tambahan

setoran modal akan menambah saldo modal, kerugian yang diderit adalam

suatu periode dan pengambilan prive akan mengurangi saldo modal.

Dalam suatu firma modal terdiri dari modal lebih dari satu fatner.

Modal masing-masing fatner akan bertambah dengan adanya pembagian

laba atau tambahan modal setor akan berkurang dengan adanya pembagian

kerugian atau pengambilan prive.

Dalam badan hukum yang berbentuk koperasi, modal pokoknya

adalah simpanan pokok anggota yang tidak dapat dipindahtangankan dan

dapat diambil kembali pada saat seseorang anggota mengundurkan diri.

Kekayaan bersih koperasi adalah simpanan pokok, simpanan lain,

pinjaman-pinjaman hasil usaha termasuk cadangan.


Menurut PSAK (IAI,2015:9,12)

E kuitas adalah hak residual atas asset perusahaan setelah dikurangi

semua liabilitas. Jumlah ekuitas yang ditampilkan dalam laporan posisi

keuangan (neraca) bergantung pada pengukuran asset dan liabilitas.

Biasanya hanya karena faktor kebetulan jika jumlah ekuitas gabungan sama

dengan jumlah nilai pasar keseluruhan dan saham entitas atau jumlah yang

dapat diperoleh dengan melepaskan seluruh asset bersih entitas baik satu per

satu (liquidating value) atau secara keseluruhan dalam kondisi

kelangsungan usaha (going concern value).

Menurut SAK ETAP (IAI,2009:103)

Ekuitas sebagai bagian hak pemilik dalam entitas harus dilaporkan

sedemikian rupa sehingga memberikan informasi mengenai sumbernya

secara jelas dan disajikan sesuai dengan peraturan perundangan dan akta

pendirian yang berlaku.

Dalam badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas (PT),

permodalannya (ekuitas) terdiri dari :

1. Modal menurut akte pendirian yang telah disahkan menteri Kehakiman

dan HAM:

a. Modal dasar (authorized capital);

b. Modal ditempatkan (issue capital);

c. Modal disetor (paid-uo/paid in capital).


Modal yang berasal dari sumbangan (donated capital) bisa dilaporkan

sebagai bagian daro tambahan modal disetor.

2. Treasury Stock (saham perusahaan yang sudah beredar lalu dibeli

kembali oleh perusahaan).

3. Premium (agio) atau Discount (Disagio) dari penjualan saham baik

saham biasa (common stock) maupun saham preferen (preffered stock).

4. Selisih kurs atas modal disetor.

5. Selisih penilaian kembali aktiva tetap, untuk perusahaan yang melakukan

revaluasi aktiva tetap berdasarkan peraturan pemerintah.

6. Retained Earnings (Laba ditahan/sisa laba tahun lalu) atau

Deficit/Accumulated Losses (sisa rugi tahun lalu).

Beberapa hal yang harus diperhatikan mangenai pemeriksaan ekuitas:

1. Jika akte pendirian suatu PT belum mendapat pengesahan dari menteri

kehakiman dan HAM menurut undang-undang perseroan terbatas no.1

tahun 1995, yang mulai berlaku tanggal 7 maret 1996, transaksi hukum

perusahaan (perjanjian- perjanjian yang dibuat perusahaan) belum

dianggap sah.

2. Modal Disetor dan Modal Ditempatkan tidak dapat melebihi Modal

Dasar. Jika modal disetor melebihi modal dasar maka harus dilakukan

perubahan akte pendirian yang harus disahkan oleh menteri kehakiman

dan HAM.

Akte pendirian yang telah disahkan Menteri Kehakiman dan HAM akan

diumumkan dalam berita negara (lembaran negara). Selama perubahan


akte belum disahkan Menteri kehakiman dan HAM, kelebihan modal

disetor atas modal dasar dilaporkan sebagai hutang pemegang saham.

3. Modal yang tercantum di neraca adalah Modal Disetor.

Contohnya :

Modal Dasar 100.000 lembar saham biasa = Rp. 1.000.000.000,

(nilai nominal Rp. 10.000,- per lembar saham)

Modal ditempatkan 50.000 lembar saham biasa = Rp. 500.000.000,-

Modal Disetor 50% dari modal ditempatkan = Rp. 250.000.000,-

Jumlah yang tercantum dineraca adalah sebesar Rp.250.000.000,-

Tujuan pembelian kembali saham (treasury stock) adalah :

a. Untuk meningkatkan harga pasar saham perusahaan

b. Untuk dibagikan sebagai saham bonus kepada para manajer dan

pegawai perusahaan.

Perlu diperhatikan bahwa treasury stock tidak berhak atas pembagian

dividen. Karena itu jika suatu perusahaan yang memiliki treasury stock

membagikan cash dividend. Maka maka dividen per saham akan menjadi

lebih besar.

Misalkan suatu perusahaan yang modal disetornya terdiri dari 100.000

lembar saham dan treasury stocknya 20.000 lembar saham, membagikan

cash dividend sebesar Rp. 20.000.000,- karena ada treasury stock, maka

dividen per sahamnya adalah : Rp. 20.000.000

----------------------- = Rp.250,-

100.000 – 20.000
Jika treasury stock tidak ada, maka dividen per saham adalah :

Rp.20.000.000

-------------------- = Rp.200,-

100.000

Dengan lebih tingginya dividen per saham, diharapkan harga pasar

saham bisa mengikat.

4. Jika akumulasi kerugian suatu perusahaan mencapai 50% dari modal

disetor, perusahaan harus melaporkan hal tersebut ke pengadilan negeri

untuk diumumkan dalam berita negara.

Jika akumulasi kerugian perusahaan mencapai 75% dari modal disetor,

maka menurut kitab undang-undang Hukum Dagang (KUHD) di

Indonesia, secara hukum perusahaan harus bubar dan kalau masih

diteruskan beroperasi maka para manajer harus bertanggungjawab atas

kewajiban perusahaan kepada pihak ketiga jika suatu saat perusahaan

dibubarkan. Karena hal ini menyangkut kelangsungan hidup perusahaan

( going concern) maka akan mempengaruhi opini yang diberikan KAP

terhadap kewajaran laporan keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Kedua hal tersebut diatas (kerugian mencapai 50% atau 75% dari modal

disetor) harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Namun

sejak berlakukannya Undang-undang No.1 Tahun 1995 tentang

Perseroan Terbatas, ketentuan tersebut tidak berlaku lagi.


5. Menurut prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia (SAK)

aktiva tetap harus dicatat/disajikan dalam neraca berdasarkan harga

perolehannya (acquisition cost).

Namun demikian jika ada peraturan pemerintah yang

memperbolehkannya, perusahaan dapat melakukan evaluasi aktiva tetap.

Pengaruh dari dilakukannya revaluasi aktiva tetap adalah nilai aktiva

tetap meningkat dan kenaikan nilai tersebut dicatat disisi kredit sebagai

“selisih penilaian kembali aktiva tetap” yang nantinya, dengan

persetujuan kantor pelayanan pajak dapat dikonversikan sebagai modal.

Atas selisih penilaian kembali aktiva tetap dikenakan PPh 10%.

6. Adjustment ke Retained earnings (deficit) hanya diperbolehkan jika

menyangkut laba rugi tahun lalu yang jumlahnya material (besar) atau

menyangkut pembayaran pajak yang berasal dari STP (Surat Tagihan

Pajak). Atau SKPKB (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar) walaupun

jumlahnya kecil.

7. Setoran saham dalam bentuk barang (inbreng), harus menggunakan nilai

wajar aktiva bukan kas yang diserahkan (disetor), yaitu nilai appraisal

yang disetujui Dewan Komisaris untuk PT yang sahamnya terdaftar di

Bursa Efek, atau nilai yang disepakati oleh dewan komisaris dan

penyetor bentuk barang.

8. Waktu yang dibutuhkan dalam pemeriksaan ekuitas biasanya tidak

banyak, kecuali jika :


a. Perusahaan banyak membuat koreksi retained earnings (deficit)

sehingga auditor harus memeriksa koreksi tersebut secara rinci

(detailed).

b. Perusahaan dalam proses go public.

2. Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectivies) Ekuitas

1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang baik atas ekuitas,

termasuk internal control atas transaksi jual beli saham, pembayaran

deviden dan sertifikat saham.

2. Untuk memeriksa apakah struktur ekuitas yang tercantum di neraca

sudah sesuai dengan apa yang tercantum di akta pendirian perusahaan.

3. Untuk memeriksa apakah izin-izin yang diperlukan dari pemerintah yang

menyangkut ekuitas (misalkan dari Departemen Kehakiman dan HAM,

BKPM, BKPMD, BAPEPAM, KPP dan SK Presiden RI) telah dimiliki

oleh perusahaan.

4. Untuk memeriksa apakah perubahan terhadap ekuitas telah mendapat

otorisasi baik dari pejabat perusahaan yang berwenang (direksi, dewan

komisaris), rapat pemegang saham (RUPS) maupun dari instansi

pemeritah.

5. Untuk meeriksa apakah setiap perubahan pada Retained Earnings atau

Accumulated Losses didukung oleh bukti-bukti yang sah.


6. Untuk memeriksa apakah penyajian ekuitas di neraca sesuai dengan

prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia (SAK) dan hal-hal

yang penting sudah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

Penjelasan atas Tujuan Pemeriksaan Ekuitas :

1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang baik atas ekuitas.

Beberapa ciri dari internal control yang baik atas ekuitas :

a. Setiap perubahan modal (penambahan atau pengurangan) harus

diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang dan instansi

pemerintah.

Untuk perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), setiap

perubahan harus melalui perubahan akta pendirian dan pengesaan dari

Menteri Kehakiman dan HAM.

Untuk perusahaan yang didirikan dalam rangka penanaman modal

dalam negeri (PMDN) harus diotorisasi oleh Badan Koordinasi

Penanaman Modal dalam Negeri, untuk PMA harus diotorisasi oleh

BKPM dan disetujui oleh Presiden Republik Indonesia melalui SK

Presiden.

Untuk perusahaan yang (akan) go public harus mendapat persetujuan

dari Ketua Bapepam.

b. Pembagian dan pembayaran dividen harus diotorisasi oleh pejabat

perusahaan yang berwenang.


Besarnya dividen yang akan dibagikan, diusulkan oleh Direksi

Perusahaan dan disahkan dalam RUPS.

Untuk perusahaan go public selama tiga tahun berturut-turut tidak

membagikan deviden, akan dikenakan sangsi oleh Bapepam, yaitu

harus delisting (Dikeluarkan dari bursa saham).

Dividen yang dibagikan perusahaan bisa dalam bentuk : cash dividen,

stock dividen, property dividend dan liquidating dividend.

Contoh jurnal entry untuk pembagian dan pembayaran dividen

(perusahaan yang menerima dividen memiliki minority interest dan

mencatat investasinya dengan cost method) :

Perusahaan Yang Perusahaan Yang


Membagi Dividen Menerima Dividen
Saat Deklarasi Dividen :
Dr. Dividen Kas (RE)

Cr. Hutang Dividien


Dividen Kas
Dr. Dividen Kas
Saat Pembayaran Dividen :
Dr. Hutang Dividen
Cr. Pendapatan
Dividen
Cr. Cash
Saat Deklarasi Dividen :
Dr. Dividen Saham (RE)

Cr. Hutang Dividen


Dividen Saham
Saat Pembayaran Dividen :
Dr. Hutang Dividen - No Entry -

Cr. Paid In Capital


Dalam hal ini pembagian dividen saham, jumlah stockholders’ equity

tidak berubah, karena retained earnings berkurang dan paid in capital

bertambah dalam jumlah yang sama.

c. Digunakannya biro administrasi efek (stock transfer agent) untuk

mengurus pengadministrasian saham dan pembayaran deviden,

terutama untuk perusahaan yang sudah go public.

Dengan adanya biro tersebut, perusahaan tidak direpotkan dalam

pencatatan mutasi saham yang sudah dijual ke masyarakat.

d. Setiap perubahan (adjustment) retained earnings/deficit diotorisasi

oleh pejabat perusahaan yang berwenang dan didukung oleh bukti-

bukti yang lengkap.

2. Untuk memeriksa apakah struktur ekuitas yang tercantum di neraca

sudah sesuai dengan apa yang tercantum di akta pendirian perusahaan.

Maksudnya bahwa jumlah modal dasar, modal ditempatkan dan modal

disetor, baik dalam jumlah lembar saham maupun nilai nominal yang

tercantum di akta pendirian harus sesuai dengan jumlah yang tercantum

di neraca.

Selain itu auditor harus memeriksa dan yakin bahwa modal disetor betul-

betul sudah disetor oleh pemegang saham.

3, 4 dan 5 sudah cukup jelas.

6. Untuk memeriksa apakah penyajian ekuitas di neraca dan catatan atas

laporan keuangan sudah sesuai dengan SAK.


Penjelasan Audit Prosedur

1. Pelajari dan evaluasi internal control atas ekuitas.

Untuk mempelajari dan mengevaluasi internal control atas ekuitas biasanya

diguakan internal control questionnares (ICQ) atau penjelasan narrative.

Prosedur 2 dan 3 sudah cukup jelas.

4. Periksa bukti setoran dan otorisasi untuk penambahan setoran modal.

Caranya lihat buku besar untuk perkiraan modal, periksa apakah ada

transaksi kredit dalam perkiraan tersebut. Jika ada periksa apakah voucher

referencenya berapa journal vocher atau bukti penerimaan kas/bank.

Jika referencenya bukti penerimaan kas/bank berarti setoran modal

dilakukan dalam bentuk uang tunai (fresh money) dan auditor harus

memeriksa bukti penerimaan kas atau kredit nota dari bank.

Jika referencenya journal voucher, berarti setoran modal dilakukan dalam

bentuk aktiva non cash, misalnya aktiva tetap, persediaan, surat berharga

dan lain-lain (dalam bentuk inbreng).

Dalam hal ini auditor harus memeriksa journal voucher dan bukti

pendukungnya, biasanya jika disetor dalam bentuk inbreng ada laporan dari

appraisal mengenai nilai aktiva non cash yang dijadikan setoran modal.

Periksa apakah setoran modal dalam bentuk tunai, beberapa waktu

kemudian ditarik kembali oleh pemegang saham dan oleh perusahaan

dicatat sebagai piutang pemegang saham. Berdasarkan UU Perseroan

Terbatas No. 1 Tahun 1995, hal tersebut tidak diperbolehkan dan dari segi
peraturan pajak jika ada piutang pemegang saham akan dikenakan pajak

penghasilan atas bunga.

Selain itu perusahaan go public bisa menambah modal disetornya dengan

melakukan right issue, yaitu mengeluarkan tambahan saham ditempatkan

yang hak utama untuk membelinya diberikan kepada pemegang saham lama

(misalnya setiap pemegang 3 saham lama diberi hak untuk membeli 1 saham

baru). Jika pemegang saham lama tidak ingin menggunakan haknya, hak

tersebut bisa dialihkan ke pihak lain.

5. Jelaskan dalam kertas kerja pemeriksaan besarnya modal, jenis saham dan

rincian pemegang saham.

6. Periksa dokumen pendukung dari setiap perubahan dalam perkiraan

retained earnings/deficit.

Caranya periksa buku besar untuk perkiraan retained earnings/deficit,

apakah ada transaksi debit dan transaksi kredit. Jika ada periksa voucher

referencenya dan bukti pendukungnya.

Jika perusahaan membayar kekurangan penyetoran pajak untuk tahun-tahun

yang lalu, berikut dendanya, berdasarkan SKPKB (Surat Ketetapan Pajak

Kurang Bayar), atau STP (Surat Tagihan Pajak), maka voucher

referencenya berupa bukti pengeluaran kas/bank dan bukti pendukungnya

adalah SSP (Surat Setoran Pajak).

Jika koreksi ke Retained earnings/deficit berasal dari koreksi yang

menyangkut pendapatan atau biaya tahun-tahun yang lalu, harus diperiksa


kewajaran alasannya dan kelengkapan bukti pendukung serta otorisasinya

dan jumlah harus material.

Jika jumlahnya tidak material, harus dibebankan atau dikreditkan ke laba

rugi tahun berjalan.

Prosedur no.7 sudah cukup jelas

8. Periksa apakah akumulasi kerugian perusahaan sudah melebihi modal

disetor.

Jika hal ini terjadi, auditor harus menjelaskan kepada klien bahwa hal ini

mempengaruhi keyakinan auditor terhadap kelangsungan hidup perusahaan

(going concern).

Dalam hal ini auditor tidak dapat memberikan unqualified opinion

(pendapat wajar tanpa pengecualian) karena going concern perusahaan

diragukan. Namun jika manajemen dapat meyakinkan auditor bahwa dalam

waktu singkat akan dilakukan tambahan setoran modal atau di tahun-tahun

berikutnya, perusahaan akan dapat meningkatkan efisiensi dan labanya,

maka bisa saja auditor memberikan unqualified opinion.

9. Pertimbangkan konfirmasi ke pemegang saham atau Biro Administrasi

Efek.

Untuk perusahaan yang belum go public harus dipertimbangkan atau

ditanyakan dulu ke klien apakah ada pemegang saham yang keberatan jika

dikirimi konfirmasi. Sedangkan untuk perusahaan yang sudah go public,

konfirmasi bisa dikirimkan ke Biro administrasi efek yang ditugaskan oleh

klien untuk mengelola administrasi sahamnya.


10. Periksa treasury stock

Auditor perlu mengingat bahwa pembelian treasury stock biasanya dicatat

dengan menggunakan cost method.

Pada saat treasury stock dijual kembali akan timbul paid in capital trom sale

of treasury stock, sebesar selisih antara harga jual dan harga beli dari

treasury stock tersebut.

11. Periksa apakah penyajian ekuitas sudah sesuai dengan SAK.

12. Buat kesimpulan mengenai kewajaran ekuitas.

BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN

Dari segi perusahaan, modal merupakan kewajiban perusahaan kepada

pemilik perusahaan. Sedangkan dari segi pemilik perusahaan, modal adalah

bagian dari hak pemilik atas kekayaan bersih perusahaan (harta dikurangi

kewajiban).

Dalam badan hukum yang berbentuk koperasi, modal pokoknya adalah

simpanan pokok anggota yang tidak dapat dipindahtangankan dan dapat

diambil kembali pada saat seseorang anggota mengundurkan diri. Salah satu

tujuan dari pemeriksaan ekuitas adalah untuk memeriksa apakah penyajian

ekuitas di neraca dan catatan atas laporan keuangan sudah sesuai dengan

SAK.adapun prosedur yang penting dalam pemeriksaan ekuita adalah

kesimpulan mengenai kewajaran ekuitas.

DA FTAR PUSTAKA
Agoes, Soekrisno, 2014, Auditing, Edisi 4, Buku 2, Salemba empat: Jakarta.

Atom, 2010, Pemeriksaan Ekuitas, http://audit-auditing.blogspot.co.id, Diakses

Tanggal 15 November 2016.