Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM KIMIA UNSUR TRANSISI


REAKSI KUALITATIF LOGAM-LOGAM TRANSISI

KELOMPOK 4

ANGGOTA :

1. DWI AGUSTINI ANGRAINI ( 06101381722045 )

2. KURNIA MEGA LESTARI ( 06101281722047 )

3. FRIDA RAMADIAN ( 06101381722057 )

4. ACNES OKTAVIANI ( 06101381722063 )

DOSEN PEMBIMBING :

1. MAEFA EKA HARYANI,S.PD.,M.PD.

2. EKA AD`HIYA, S.PD.,M.PD.

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019
Percobaan ke-5

I. Judul Percobaan : Reaksi Kualitatif Logam-logam Transisi

II. Tanggal Percobaan : 1 Oktober 2019

III. Tujuan Percoaan : Tujuan utama kegiatan ini yaitu mengenali uji
kualitatif melaui reaksi-reaksi kimia ion-ion logam transisi berdasarkan
golongannya.

IV. Dasar Teori

Logam-logam transisi seri pertama (3d), kedua (4d) dan ketiga (5d),
menunjukan sifat-sifat kimiawi yang sangat berdekatan dalam periodenya, dan
kemiripan maupun perbedaan yang khas ditunjukkan oleh kelompok golongannya.
Untuk mengenali kemiripan maupun perbedaan khas maka dilakukan uji reaksi
“khusus” untuk kelompok golongan paroh pertama yaitu golongan (n-1)d4 ns2 (Cr)
dan (n-1)d5 ns2 (Mn).

Logam transisi adalah sesuatu yang dapat membentuk satu atau lebih ion
stabil yang memiliki orbidal d yang tidak terisi (incompletely filled d
orbitals). Berdasarkan pengertian ini, skandium dan seng tidak termasuk logam
transisi, sekalipun termasuk anggota blok d. Logam transisi memiliki sifat-sifat
khas logam, yakni keras, konduktor panas dan listrik yang baik dan menguap pada
suhu tinggi. Walaupun digunakan luas dalam kehdupan sehari-hari, logam transisi
yang biasanya kita jumpai terutama adalah besi, nikel, tembaga, perak, emas,
platina, dan titanium. Namun, senyawa kompleks molekular, senyawa
organologam, dan senyawa padatan seperti oksida, sulfida, dan halida logam
transisi digunakan dalam berbagai riset kimia anorganik modern.

Unsur-unsur transisi adalah unsur logam yang memiliki kulit


elektron d atau f yang tidak penuh dalam keadaan netral atau kation. Unsur transisi
terdiri atas 56 dari 103 unsur. Logam-logam transisi diklasifikasikan dalam blok d,
yang terdiri dari unsur-unsur 3d dari Sc sampai Cu, 4d dari Y ke Ag, dan 5d dari Hf
sampai Au, dan blok f, yang terdiri dari unsur lantanoid dari La sampai Lu dan
aktinoid dari Ac sampai Lr. Kimia unsur blok d dan blok f sangat berbeda.
Kromium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang Cr dan nomor atom 24. Kromium adalah 21 paling banyak unsur dalam
kerak bumi dengan konsentrasi rata-rata 100 ppm. Kromium trivalen (Cr(III), atau
Cr3+) diperlukan dalam jumlah kecil dalam metabolisme gula pada manusia.
Kekurangan kromium trivalen dapat menyebabkan penyakit yang disebut penyakit
kekurangan kromium(chromium deficiency). Tingkat bilangan oksidasi kromium
yang sering dijumpai adalah III dan VI. Cr(III) dalam larutan asam berupa ion
Cr(H2O)63+, sedangkan dalam larutan yang basa berupa ion Cr{(OH)5(H2O)}2- dan
CR(OH)63- Cr(VI) dalam larutan asam (pH lebih kecil dari 6) berupa ion
HCrO4- dan Cr2OH42- yang berwarna jingga, sedangkan dalam larutan basa berupa
ion CrO42- uang berwarna kuning. Pada pH yang rendah (sangat asam) hanya ion
Cr2O72- yang ada di dalam larutan. Kromium yang telah ditemukan di alam
kemudian masuk ke lingkungan melalui limbah industri dari lumpur elektroplating
seperti limbah penyamakan dan pabrik inhibitor korosi.

Senyawa komponen khrom berwarna. Kebanyakan senyawa khromat yang


penting adalah natrium dan kalium, dikromat, dan garam dan ammonium dari
campuran aluminum dengan khrom . Dikhromat bersifat sebagai zat oksidator
dalam analisis kuantitatif, juga dalam proses pemucatan kulit.

Mangan adalah suatu unsur kimia yang mempunyai nomor atom 25 dan
memiliki symbol Mn. Mangan ditemukan oleh Johann Gahn pada tahun 1774 di
Swedia. Logam mangan berwarna putih keabu-abuan. Mangan termasuk logam
berat dan sangat rapuh tetapi mudah teroksidasi. Logam dan ion mangan bersifat
paramagnetic. Hal ini dapat dilihat dari obital d yang terisi penuh pada konfigurasi
electron. Mangan mempunyai isotop stabil yaitu 55Mn. Mangan logam yang sangat
keras, rapuh, sedikit keabu-abuan masa jenis 7,2. Logam murni tak bereaksi dengan
air tetapi bereaksi dengan uap air, larut dalam asam. Dengan HNO3 yang sangat
encer melepaskan H2.
V. Alat dan Bahan:
A. Alat yang digunakan:
1. Pipet tetes
2. Gelas ukur
3. Beaker gelas
4. Spatula
B. Bahan yang digunakan:
1. K2Cr2O7 1 M
2. H2SO4 2,5 M
3. Amil alkohol-eter
4. H2O2 10 %
5. Gas H2S
6. K2Cr2O7 padatan
7. Zn serutan
8. HCl 10 M
9. CH3COONa
10. KMnO4
11. NaOH 5 M
12. NH4Cl 5 M
13. H2SO4 5 M
14. AgNO3 0,2 M
15. Na2S2O3
16. MnSO4
VI. Prosedur Percobaan:
A. Golongan Cr
1. Kedalam campuran 1 tetes larutan 1 M K2CrO4, 1 tetes 2,5 M H2SO4, 3 ml
air dan 3ml amil alkohol / amil eter, ditambahkan 3 tetes larutan 10% H2O2.
2. Larutan K2CrO4 (» 1 M, 1 ml) diasamkan dengan 1 ml 2,5 M H2SO4
kemudian 1 ml larutan 10% H2O2 ditambahkan sebelum dihangatkan.
3. Larutan K2CrO4 (» 1 M, 1 ml) diasamkan dengan 1 ml 2,5 M H2SO4, setelah
dipanaskan larutan ini kemudian dialiri gas H2S.
4. Ke dalam larutan K2CrO4 (» 1 M, 1 ml) ditambahkan 0,5 gram asam oksalat,
kemudian campuran dipanaskan.
5. ke dalam 0,2 gram K2CrO7 ditambahkan 0,5 gram serutan Zn dan 5 ml 10
M HCl hingga larutan berwarna biru. Filtratnya ditambahkan ke dalam
larutan jenuh 5 ml CH3COONa.
B. Golongan Mn
1. Ke dalam larutan KMnO4 tambahkan larutan H2SO4 setelah itu tambahkan
larutan jenuh NH4Cl dan 5 M NaOH, kemudian dibagi dua bagian (a dan b)
dan masing – masing dilakukan perlakuan sebagai berikut :
a. Tambahkan larutan H2O2
b. Aliri gas H2S dan asamkan dengan 5 M HCl
2. Ke dalam 3 tetes larutan KMnO4 tambahkan 1ml larutan 5 M H2SO4, 3 tetes
larutan 0,2 M AgNO3 dan sedikit Na2S2O3, kemudian dipanaskan.
3. Empat tetes larutan KMnO4, diasamkan dengan 1 ml larutan 2,5 M H2SO4,
kemudian diuji dengan H2O2.
4. Tiga tetes larutan KMnO4 diasamkan dengan 1 ml larutan 2,5 M H2SO4,
kemudian diuji dengan Na2S2O3.
5. Ke dalam 4 tetes larutan 1 ml larutan air dan beberapa tetes MnSO4.
6. Satu gram KmnO4 dipanaskan dengan 2ml larutan 10 M NaOH, kemudian
dilarutkan dan diasamkan dengan H2SO4.
7. Satu kristal KmnO4 diletakkan di atas nyala Bunsen, dinginkan,kemudian
larutkan ke dalam 3 ml air.
VII. Hasil Pengamatan:
 Golongan Cr
No Cara Kerja Hasil Pengamtan
1. 1 tetes K2CrO4 1 M + 1 tetes Terbentu 2 lapisan yang tidak
2,5 M H2SO4 + 3 ml air + 3 menyatu, bagian bawah berwarna
ml Amil alkohol + 3 tetes kuning kecoklatan dan bagian atas
H2O2 10% tak berwarna
2. 1 ml K2CrO4 + 1 ml 2,5M Larutan K2CrO4 + H2SO4 (orange)
H2SO4 + 1 ml H2O2 10% lalu lalu ditambahkan H2O2 menjadi
dipanasakan hijau. Setelah dipanaskan warna
hijau bercampur dengan warna
orange dan ada gelembung
3. 1 ml K2CrO4 + 1 ml 2,5 M Tidak Dilakukan
H2SO4+ 1 ml larutan 10%
H2O dan dipanaskan larutan
ini kemudian dialiri gas
H2S.
4. 1 ml K2CrO4 + 0,5 gram K2CrO4 berwarna kuning + asam
asam oksalat, lalu oksalat berwarna putih setlah
dipanaskan. dipanaskan larutam menjadi
berwarna hitam.
5. 0,2 gram K2Cr2O7 + 0,5 0,2 gram K2Cr2O7 + 0,5 gram Zn + 5
gram Zn + 5 ml HCl 10M + ml HCl 10 M mengahasilkan larutan
5 ml CH3COONa berwarna hijau tua dan ada
gelembung dan reaksi terasa panas.
Setelah ditambahkan CH3COONa
warna larutan menjadi hijau tua

 Golongan Mn
No Cara Kerja Hasil Pengamatan
1. KmnO4 (ungu) + H2SO4 KmnO4 (ungu) + H2SO4 (TB) +
(TB) + NH4Cl +NaOH NH4Cl terbentuk larutan berwarna
a. H2O2 ungu, setelah ditambah NaOH
berwarna coklat
a. setelah ditambah H2O2 larutan
menjadi tak berwarna
2. 3 tetes KmnO4 (ungu) + 1 3 tetes KmnO4 (ungu) + 1 ml H2SO4
ml H2SO4 (TB)+ 3 tetes (TB)+ 3 tetes larutan AgNO3 0,2M
larutan AgNO3 0,2M dan (TB) + Na2S2O3 (TB) , terbentuk 2
sedikit Na2S2O3 (5 tetes) lapisan, bagian atas tak berwarna dan
panaskan bagian bawah berwarna ungu. Setelah
dipanaskan larutan menjadi tak
berwarna
3. 4 tetes KmnO4 (ungu) + 1 KmnO4 (ungu) + H2SO4 ( TB) larutan
ml larutan 2,5 M H2SO4 berwarna ungu lalu diuji dengan H2O2
(TB) kemudian diuji larutan menjadi tak berwarna.
dengan H2O2
4. 3 tetes KMnO4 + 1 ml 5 M KMnO4 (ungu) + H2SO4 (TB)
H2SO4 + 5 tetes Na2S2O3 terbentuk larutan berwarna ungu.
Kemudian diuji dengan Na2S2O3
larutan menjadi tak berwarna.
5. 4 tetes larutan 1 ml larutan Tidak dilaukan
air + beberapa tetes MnSO4
6. 1 gram KMnO4 + 2 ml 10 Serbuk KMnO4 (hitam) + NaOH (TB)
M NaOH (panaskan) + larutan menjadi berwarna ungu
H2SO4 5M (panaskan) + H2SO4 5 tetes larutan
tetap berwarna ungu.
7. KMnO4 diatas nyala Serbuk KMnO4 setelah dipanaskan
bunsen menjadi warna kehijauan kemudian
ditambah 3 ml air menjadi warna
hijau.

VIII. Persamaan Reaksi


 Golongan Cr
1. K2CrO4 (aq) + H2SO4 (aq)  K+ (aq) + CrO42- (aq) + 2H+ (aq) + SO42-( aq)
CrO42- (aq) + 2H+ (aq) + 2H2O2 (aq)  CrO5 (aq) + 3H2O (l)
4 CrO5 (aq) + 12H+ (aq)  4Cr3+(aq) + 7O2 (g) + 6H2O(l)
2. K2CrO4 (aq) + H2SO4 (aq)  K+ (aq) + CrO42- (aq) + 2H+ (aq) + SO42-( aq)
CrO42- (aq) + 2H+ (aq) + 2H2O2 (aq)  CrO5 (aq) + 3H2O (l)
4 CrO5 (aq) + 4H+ (aq) + O2 (g)  4Cr3+(aq) + 2H2O(l)
3. K2CrO4 (aq) + 3HCOOH (aq)  CrO32- (aq) + 3CO2 (g) + 2K+(aq) + 2H2(aq) +
2H2O(aq)
4. Cr2O72-(S) + Zn(s)  tidak bereaksi
K2Cr2O7(S) + Zn(s) + HCl (aq)  2Cr3+(aq) + 2K+ (aq) + 8Cl-(aq) + 7H2O(l) +
Zn2+(aq) + 3Cl2(aq)
CH3COONa (aq)  CH3COO-(aq) + Na+(aq)
Cr2O72)aq) + 4Na+(aq) + H2O(l)  2Na2Cr2O4 (aq) + 2H+ (aq)
 Golongan Mn
1. KMnO4(aq) + H2SO4(aq) + NH4Cl(aq) + NaOH  K+ (aq) + MnO4-(aq) + 2H+(aq) +
SO42-(aq) + NH4OH(aq) + NaCl(aq)
2 MnO4-(aq) + 6H+(aq) + 5H2O2(aq)  2Mn2+ (aq) + 5O2 (g) + 8H2O(l)
2. 2KMnO4(aq) + H2SO4(aq) + AgNO3(aq)  Mn2O7(aq) + K2SO4(aq) + NO3-(aq) +
Ag+(aq) + H2O(l)\
Mn3O4(aq) + Na2S2O3(aq)  MnS2O3(S) +MnO4- (aq) + Na+ (aq) + 3/2 O2(g)
MnS2O3(S) +MnO4- (aq) + Na+ (aq) + 3/2 O2(g)  Na2S2O3(aq) + Mn2O3-(aq) +
Na+(aq)+ Ag+ (aq)
3. KMnO4(aq) + H2SO4(aq)  K+ (aq) + MnO4-(aq) + 2H+(aq) + SO42-(aq)
2MnO4-(aq) + 6H+(aq) + 5H2O2(aq)  2Mn2+ (aq) + 5O2(g) + 8H2O(l)
4. 2KMnO4(aq) + H2SO4(aq)  Mn2O7(aq) + K+ (aq) + SO42-(aq) + H2O(i)
Mn2O7(aq) + Na2S2O3(aq)  Mn2S2O3(aq) + 2Na+ (aq) + 7/2O2(g)
5. KMnO4(aq) + NaOH (aq)  K+ (aq) + MnO4-(aq) + Na+ (aq) + OH-(aq)
4MnO4-(aq) + 4OH-(aq)  4MnO42-(aq) + O2(g) + 2H2O(l)
3MnO42-(aq) + H2SO4(aq)  2MnO4-(aq) + MnO2-(aq) + 2H+ (aq) + SO42- (aq) + O2(g)
6. 2KMnO4(s)  2KMnO4(l) + MnO2(l) + O2g)
K2MnO4(l) + H2O(l)  2K+ (aq) + MnO42-(aq)
IX. Pembahasaan
Pada praktikum kali ini mengenai reaksi kualitatif logam-logam transisi.
Pratikum kali ini menggunakan larutan dan logam dari golongan mangan (Mn) dan
kromium (Cr). Praktikum pertama yang dilakukan mengenai golongan kromium
(Cr). Pada percobaan golongan ini hanya 4 dari 5 percobaan yg ada pada prosedur
yg dilakukan, sedangkan pada pada golongan Mn hanya 6 dari 7 percobaan yg
dilakukan.

Pada pratikum pertama dari golongan kromium didapatkan hasil larutan


berwarna kuning kecoklatan dan terbentuk dua lapisan (bagian bawah berwarna
kuning kecoklatan dan bagian atas tak berwarna). Pada praktikum kedua didapatkan
larutan berwarna hijau kebiruan, setelah dipnaskan larutan yang semula tidak
bercambur antara warna hijau kebiruan dan warna orange dari asam sulfat men
]njadi bercampur dan terdapat gelembung. Penambahan larutan hidrogen peroksida
pada larutan campuran yang telah diasamkan inilah yang membuat larutan menjadi
berwarna biru. Warna biru ini dihasilkan dari kromium peroksida itu sendiri.
Praktikum yang ketiga dalam percobaan ini sendiri tidak dilakukan.

Pada praktikum keempat, ketika K2CrO4 yang berwarna kuning


ditambahkan asam oksalat yaitu serbuk putih lalu dipanaskan maka didppatakan
larutan berwarna hitam, dan alrut sempurna tidak ada terbentuk endapan serta
terdapat gelembung-gelembung gas berupa CO2, gelembung ini terlihat pada saat
proses pemanasan. Pada praktikum kelima, ketika K2Cr2O7 ditambahkan
dengan Zn yang berwarna abu-abu tidak terjadi reaksi , namun setelah
ditambahkan HCl larutan K2Cr2O7 dan Zn larut dengan larutan berwarna hijau tua
serta ada gelembung-gelembung gas serta pada tabung terasa panas. Setelah
ditambahkan CH3COONa larutan tetap berwarna

Pada praktikum pertama dari golongan kromium memberikan hasil larutan


berwarna ungu dan setelah ditambahakan natrium hidroksida larutan menjadi
berwarna coklat. Setelah ditambahakan hidrogen peroksida larutan menjadi tak
berwarna. Berdasarkan referensi bahwa penambahan reagensia H2O2 kepada
larutan kalium permanganat yang telah diasamkan dengan asam sulfat pekat
mengakibatkan warna menjadi hilang dan melepaskan oksigen yang murni
(mengandung air). Pada praktikum kedua setelah penambahan AgNO3 akan
terbentuk larutan dengan dua lapisan dimana bagian atas tak berwarna dan bagian
bawah berwarna ungu. Setelah dipanaskan larutan berubah menjadi tak berwarna.
Pada praktikum ketiga ini terjadi perubahan pada saat penambahan asam sulfat
dalam larutan kalium permanganat yakni larutan berubah menjadi berwarna ungu,
pada saat diuji dengan larutan H2O2 larutan berbah menjadi tak berwarna.

Pada praktikum keempat yaitu dengan mereaksikan larutan kalium


permanganat dengan larutan asam sulfat didapatkan larutan berwarna ungu,
kemudian dilakukan pengujian dengan menambahkan larutan natrium tiosulfat,
menyebabkan larutan menjadi tak berwarna, jika dilakukan terus-menerus
penambahan larutan ini akan semakin menyebabkan larutan menjadi semakin putih
dan akhirnya keruh seperti warna putihnya pada larutan susu. Pada praktikum
kelima tidak dilakukan karena terdapatnya beberapa kendala, dalam hal ini ialah
karena adanya keterbatasan bahan (tidak adanya MnSO4) yang dimiliki sehingga
perlakuan yang kelima ini tidak dapat dilakukan.
Selanjutnya pada praktikum keenam dimana kalium permanganat
ditambahkan dengan NaOH, didapatkan larutan yang berwarna ungu dan ketika
dipanaskan tidak terjadi perubahan begitu pula sama halnya dengan penambahan
asam sulfat akan tetap mempertahankan warna ungu pada larutan. Hal ini kurang
sesuai dengan referensi yang menyebutkan bahwa dengan adanya pemanasan akan
menyebabkan warna ungu pada larutan sedikit demi sedikit akan berkurang
sehingga dihasilkan larutan yang berwarna hijau karena adanya pelepasan kalor
akibat pemanasan dan sekaligus mempercepat reaksi ini. Dan dengan adanya
penambahan NaOH akan mengembalikan warna ungu tua kembali pada larutan ini.
Pada praktikum terakhir dilakukan pemanasan sedikit serbuk KmnO4
dimana setelah dipanaskan dan meleleh warnanya menjadi hitam kehijauan
kemudian setelah didinginkan lelehan ini dilarutkan dalam air, sehingga
menyebabkan larutan ini kembali menjadi berwarna hijau dan terdapat sedikit
tersisa serbuk didinding tabung reaksi yang digunakan. Hal ini sejalan dengan
referensi yang didapat yakni bila kalium permanganat dipanaskan dalam tabung uji,
dilepaskan oksigen yang murni, dan tertinggal suatu residu hitam, kalium
manganat, dan mangan dioksida. Dan setelah diekstraksi dengan air, maka kita akan
memperoleh kembali larutan kalium manganat.
X. Kesimpulan
1. Identifikasian reaksi kualitatif golongan Cr dapat menggunakan larutan
asam sulfat, H2O2, logam Zn, natrium asetat, serta asam oksalat.
2. Identifikasian reaksi kualitatif golongan Mn dapat menggunakan larutan
asam sulfat, perak nitrat, natrium tiosulfat, natrium hidroksida, serta
H2O2.
3. Ion-ion logam transisi lebih mudah tereduksi.
4. Proses pemanasan dan penambahan larutan nitrat dalam percobaan ini
berfungsi sebagai salah satu pemercepat reaksi (katalis).
5. Garam-garam logam transisi kurang bersifat ionik dan kurang stabil
terhadap pemanasan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2014. “Laporan 7 Reaksi Kualitatif Logam Transisi”. (Online).
http://id.scribd.com/document/256841113/Laporan-Percobaan-7-Reaksi-
Kualitatif-Logam-Transisi. (Diakses pada tanggal 10 Oktober 2019).
Atkins, P.W. 2010. Kimia Anorganik. Jakarta. Erlangga.
Cotton dan Wilkinson. 1986. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Gulo, F dan Desi. 2016. Panduan Praktikum Kimia Anorganik 2. Indralaya:
Universitas Sriwijaya.
Khopkar, S.M. 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik.Jakarta : UI Press.
LAMPIRAN

Percobaan golongan Cr Percobaan Mn pertama

Percobaan Mn kedua Percobaan Mn ketiga


Percobaan Mn keempat Percobaan Mn keenam

Percobaan Mn ketujuh