Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH PEMASARAN

“Medical Representative”

DOSEN PEMBIMBING:
Ahmad Zaenal Fanani., S.Farm.,Apt

DISUSUN OLEH:
Adinia Tiska Dwi Lestari 1702050070
Anas Mubarok 1702050071
Aisyah Hilali Restanti 1702050072
Ayu Puji Lestari 1702050073
Devi Endah Safitri 1702050074
Dewi Rohmah 1702050075
Eka Aprilia 1702050076

D3 FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2019
A. Latar belakang
Arthritis secara umum diartikan sebagai peradangan pada sendi, sedangkan
Osteoarthritis (OA) adalah salah satu tipe arthritis yang paling sering terjadi. Sebelumnya
penyakit ini sering disebut sebagai penyakit sendi degeneratif, karena secara umum
menyerang lansia. (Gunadi R, 2008).
Osteoarthritis sering mengenai sendi lutut. Lutut adalah sendi yang paling sering
dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Bila dalam 24 jam, manusia tidur antara 8-10 jam, maka
sendi lutut bekerja selama 16-18 jam setiap hari. Jadi tidak mengherankan bila sendi lutut
adalah sendi terbanyak yang mengalami OA. (Rachma, 2006).
Nyeri Arthritik, seperti yang dialami pasien OA, merupakan kejadian medik yang
sering dijumpai. Dan terkait dengan penurunan fungsional yang berakibat pada menurunnya
kualitas hidup pasien, bila dibandingkan dengan keadaan kelainan klinis menahun lainnya.
(Kidd BL, Langferd RM, 2009).
Pada tahun 1999 dilaporkan bahwa orang dewasa yang terkena OA lutut kehilangan 13
hari kerja selama setahun dengan alasan kesehatan. Angka mortalitas pasien OA lutut adalah
0,4% , meskipun penyebab kematian tidak tersedia untuk dilakukan analisis. Enampuluh
sampai enampuluh tiga persen pasien OA lutut melakukan operasi lutut dan 98%
diantaranya dilakukan penggantian sendi lutut total. (American Academy of Orthopedic
Surgeons, 2004).
Diperkirakan prevalensi terjadinya OA pada populasi di Amerika Serikat adalah sekitar
40 juta orang atau sekitar 15% dari keseluruhan populasi di Amerika. Ditemukan kejadian
OA 49,4% pada usia lebih dari 65 tahun dan lebih banyak menyerang wanita. Di Indonesia,
prevalensi OA lutut secara radiologis cukup tinggi, yaitu sekitar 15,5% pada pria dan 12,7%
pada wanita yang berumur antara 40-60 tahun. Diperkirakan sekitar 1-2 juta orang lanjut
usia di Indonesia mengalami kecacatan karena OA. Di Bandung, khusus untuk angka
kejadian OA, telah dilakukan penelitian di poli Reumatologi Rumah Sakit Hasan Sadikin
Bandung antara bulan Juli 2003 sampai dengan Juli 2005. Ternyata kasus OA didapatkan
pada 69% dari 3025 kunjungan pasien ke poliklinik Reumatologi Rumah Sakit Hasan
Sadikin Bandung. Lokasi anatomis OA tersering pada penelitan ini adalah pada genue
sebanyak 62,86% kasus. (Gunadi R, 2008).
Diagnosis OA biasanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis, temuan laboratorium, dan
pemeriksaaan radiologis. Radiogram khusus dapat membantu untuk mengevaluasi OA.
Radiogram sendi lutut yang sedang memikul beban tubuh dapat memberi gambaran lebih
baik tentang efek penyakit bila dibandingkan dengan gambaran sendi yang tidak sedang
memikul beban tubuh. OA bukan suatu penyakit yang simetris, sehingga pembuatan gambar
radiogram sendi kontralateral akan dapat membantu. (Price, 2006).
Berdasarkan pada beratnya gejala pada tingkat lanjut serta tingginya angka kejadian di
Indonesia, maka penulis mengajukan judul skripsi ini untuk mengetahui angka kejadian OA
genue di Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi Surakarta dan dapat digunakan masyarakat
sebagai acuan untuk mencegah OA genue pada tingkat lanjut.

B. Tujuan
1. Untuk pengobatan penyakit radang sendi
2. Sebagai pengobatan radang sendi yang sudah tidak bisa diobati menggunakan obat
pereda radang sendi yang terjual bebas diapotik
3. Sebagai obat pereda radang sendi yang kuat dan lebih efektif

C. Produk
Cataflam
Diproduksi oleh Novartis Indonesia
Tentang Cataflam

Bahan Aktif Diclofenac potassium dan diclofenac sodium

Golongan Obat antiinflamasi nonsteroid

Kategori Obat resep

Mengatasi nyeri, seperti nyeri haid dan sakit gigi, dan penyakit peradangan,
Manfaat
seperti osteoarthritis dan rheumatoid arthritis.

Dikonsumsi oleh Dewasa

Usia kehamilan trimester 1-2:

Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek


samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita
hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan
melebihi besarnya risiko terhadap janin.

Kategori Usia kehamilan trimester 3:


Kehamilan dan
Kategori D: Ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia,
Menyusui
tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya,
misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa.

Cataflam dapat terserap ke dalam ASI, namun efek Cataflam terhadap bayi
belum diketahui dengan pasti. Jika ingin menggunakan Cataflam pada
menyusui, konsultasikan dengan dokter risiko dan manfaatnya terlebih
dahulu.

Bentuk obat Tablet, sirup, sirup kering


Peringatan:

1) Cataflam dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan stroke, serta
penyakit saluran pencernaan, seperti tukak lambung. Oleh karena itu, hindari
mengonsumsi Cataflam jika berisiko atau pernah mengalami penyakit-penyakit
tersebut.
2) Hati-hati menggunakan Cataflam pada lansia, karena lebih berisiko menimbulkan efek
samping.
3) Hindari menggunakan Cataflam jika memiliki alergi terhadap obat antiinflamasi
nonsteroid.
4) Konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi Cataflam jika menderita asma,
penyakit ginjal, atau penyakit liver.

Dosis Cataflam:
1) Cataflam harus dikonsumsi sesuai dengan petunjuk dokter, tergantung kegunaannya,
2) Cataflam umumnya dikonsumsi dengan dosis 25-100 mg sebanyak 1-4 kali sehari.
3) Dosis maksimum Cataflam dalam sehari adalah 150-200 mg.

Menggunakan Cataflam dengan Benar:


- Ikuti petunjuk dokter dengan benar pada saat mengonsumsi Cataflam. Jangan
menambah atau mengurangi dosis Cataflam tanpa petunjuk dari dokter.
- Cataflam diminum setelah makan dengan segelas air. Hindari meminum Cataflam saat
perut kosong untuk mencegah sakit maag. Jika muncul efek samping saat menggunakan
Cataflam, segera hubungi dokter.
- Cataflam Fast dan Cataflam D perlu dilarutkan ke dalam 60 m air terlebih dahulu
sebelum diminum.
- Simpan Cataflam di tempat sejuk dan kering serta terhindar dari sinar matahari. Jauhkan
dari jangkauan anak-anak.
Interaksi Cataflam dengan Obat Lain :
Cataflam dapat menimbulkan interaksi jika dikonsumsi bersama obat lain. Berikut
adalah beberapa interaksi yang dapat terjadi:
- Meningkatkannya risiko luka dan perdarahan pada saluran pencernaan, jika dikonsumsi
bersama obat kortikosteroid.
- Meningkatkannya risiko stroke dan serangan jantung, jika dikonsumsi
bersama digoxin.
- Meningkatkannya risiko hiperkalemia, jika dikonsumsi bersama obat ACE inhibitor,
ciclosporin, diuretik, dan tacrolimus.
- Meningkatnya efek samping Cataflam, jika dikonsumsi bersamaan dengan digoxin,
lithium, methotrexate, dan phenytoin.
- Berkurangnya efektivitas Cataflam, jika dikonsumsi bersama dengan
obat cholestyramine.

Efek Samping Cataflam


Beberapa efek samping yang dapat muncul pada saat mengonsumsi Cataflam adalah:
- Sakit maag
- Mual
- Sembelit
- Sakit kepala
- Diare
- Edema atau pembengkakan tubuh akibat penumpukan cairan
Segera hubungi dokter jika muncul efek samping yang serius, seperti:
- Reaksi anafilaksis akibat alergi terhadap Cataflam
- Serangan jantung
- Stroke
- Perdarahan saluran cerna
D. Kelebihan produk
Lebih larut air dan dapat diabsorbsi dengan cepat karena mengandung kalium
diklofenak sehingga memiliki konsep kerja yang lebih cepat jadi biasanya diindikasikan
untuk penanganan kondisi yang memerlukan efek analgetik yang cepat. Jadi pada keadaan
yang akut dan nyeri yang agak berat, lebih baik menggunakan obat yang mengandung
kalium diklofenak.
Proses absorpsi dimulai segera setelah obat dikonsumsi, dan rasa nyeri biasanya
berkurang dalam 15-30 menit. Kalium diklofenak dilepaskan dengan cepat dalam aliran
darah untuk mengurangi rasa nyeri lebih cepat. Sebagian dari diklofenak dimetabolisme di
hepar. Sekitar 60% akan diekskresikan melalui urin, dimana 1%nya masih bersifat aktif.
Sisanya dieliminasi sebagai metabolit melalui empedu dan dalam feses.
Konsentrasi maksimal didapatkan 2-4 jam setelah kadar maksimal di dalam plasma
darah didapatkan, jadi waktu paruhnya 1-2 jam.

E. Pembahasan
Meloxicam dan cataflam bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase
(COX). Enzim siklooksigenase berperan dalam produksi sejumlah zat kimia dalam tubuh,
salah satunya prostaglandin. Prostaglandin ini di produksi tubuh sebagai respon dari cedera
sehingga syaraf akan lebih sensitif terhadap rasa nyeri.
Untuk meloxicam hanya meredakan gejala penyakit radang sendi, sedangkan untuk
cataflam dapat meredakan nyeri dan peradangan.
Untuk indikasi meloxicam dan cataflam adalah untuk pengobatan nyeri dan
peradangan, pengobatan dari gejala rematik osteoarthritis. Tetapi untuk cataflam
mempunyai indikasi lain yaitu ankylosing, spondylitis, nyeri dysmenorrhoe.
Meloxicam dapat menyebabkan kulit lebih sensitif terhadap sinar matahari. Hindari
paparan sinar matahari langsung, atau gunakan tabir surya dan pakaian yang tertutup bila
terpaksa beraktivitas di luar rumah pada siang hari sedangkan pada cataflam tidak
menyebabkan kulit lebih sensitive, sedangkan untuk cataflam tidak menimbulkan reaksi
tersebut.
Harga meloxicam Rp.26.000/box (5 strip @ 10 tab), harga cataflam Rp.320.025/box
(5 blister @ 10 tab). Dalam segi harga memang cataflam lebih mahal dari pada meloxicam
karena untuk efek analgesiknya bekerja dengan onset yang cepat. Walaupun harga cataflam
mahal tetapi dalam pembelian jumlah banyak dapat memperoleh diskon 10% dari distributor
dalam setiap pembeliannya dan juga apabila mampu menjualnya sesuai target dapat
memperoleh dorprize tambahan.
Untuk memperoleh diskon sebesar 10% miniminimal pembelian cataflam 10 box.
Apabila memperoleh diskon 10% = 10% x Rp.320.025 = Rp.32.002,5
= (Rp.320.025 x 10) – Rp.32.002,5
= Rp.3.200.250 – Rp.32.002,5
= Rp. 3.168.247,5. (Pembayaran setelah mendapat diskon)

sedangkan untuk mendapatkan dorprize tambahan harus mampu mencapai target penjualan
30 dus selama 2 bulan.