Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

KONJUNGTIVITIS VERNALIS

Pembimbing:
dr. H. Heroe Joenianto, Sp. M

Oleh:
Ratu Hendriani (406181033)

KEPANITERAAN ILMU MATA


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RAA SOEWONDO PATI
PERIODE 14 OKTOBER – 17 NOVEMBER 2019
FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS TARUMANAGARA
LEMBAR PENGESAHAN

Case :

KONJUNGTIVITIS VERNALIS

Disusun oleh :

Ratu Hendriani (406181033)

Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian Kepaniteraan Ilmu Mata
RSUD RAA Soewondo Pati

Fakultas Kedokteran UniversitasTarumanagara

Pati, November 2019

dr. H. Heroe Joenianto, Sp.M


BAB I

PENDAHULUAN

Konjungtiva merupakan bagian dari mata yang berfungsi sebagai proteksi bagi
mata terhadap benda-benda asing yang masuk. Dimana konjungtiva adalah mukosa
yang melapisi bagian dalam palpebra dan permukaan anterior mata. Konjungtiva
melapisi permukaan sebelah dalam kelopak mulai tepi kelopak (margo palpebralis),
melekat pada sisi dalam tarsus, menuju ke pangkal kelopak menjadi konjuntiva
fornicis yang melekat pada jaringan longgar dan melipat balik melapisi bola mata
hingga tepi kornea1.

Konjungtivitis merupakan radang pada konjungtiva atau radang selaput


lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Konjungtivitis dapat
disebabkan oleh berbagai macam penyebab seperti bakteri, virus, klamidia, alergi
toksik seperti konjungtivitis vernal, dan moluscum contangiosum. Sedangkan
konjungtivitis vernalis dikenal juga sebagai “ konjungtivitis musiman ”atau “
konjungtivitis musim kemarau ”, yang merupakan penyakit bilateral yang jarang yang
disebabkan oleh alergi, biasanya berlangsung dalam tahun-tahun prapubertas dan
berlangsung 5-10 tahun.Penyebaran konjungtivitis vernal merata di dunia, terdapat
sekitar 0,1% hingga 0,5% pasien dengan masalah tersebut. Penyakit ini lebih sering
terjadi pada iklim panas.2
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : An. MSR
Umur : 5 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Tegalharjo 3/3 Trangkil
Tanggal anamnesa : Kamis, 17 Oktober 2019

2.2 ANAMNESIS (Dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis pada ibu


pasien di Poli mata RSUD RAA Soewondo Pati)

2.2.1 Keluhan Utama


Kedua mata gatal, merah dan berair.

2.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan kedua matanya merah sejak 2 minggu ini.
Selain itu, pasien juga merasakan matanya keluar air secara terus menerus dan
dirasakan gatal. Pasien mengeluhkan keluhannya tersebut hilang timbul. Pasien
mengeluh matanya gatal ketika sore hari menjelang malam, sampai mengucek-
ngucek kedua matanya. Pasien pernah mengalami keadaan seperti ini juga
beberapa bulan yang lalu. Adanya penglihatan ganda disangkal, keluhan sakit
kepala disertai rasa sakit pada daerah mata juga disangkal, terasa ada yang
mengganjal (-), bengkak (-), sulit membuka mata (-), demam (-), silau (-)

2.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu


‐ Pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.
‐ Riwayat operasi disangkal
‐ Riwayat trauma (-)
‐ Riwayat sering terpapar dengan matahari pada kedua mata (+)
‐ Riwayat Asma (-)
‐ Riwayat penyakit kolitis (+)

2.2.4 Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami sakit yang sama.
Riwayat keluarga dengan alergi (-), asma (-)

2.2.5 Riwayat Pengobatan Sebelumnya


Pasien sebelumnya pernah berobat ke dokter mata dan diberi obat tetes mata
dan keluhan membaik setelah diberikan obat.

2.2.6 Riwayat Alergi


Riwayat alergi debu (+)
Riwayat alergi sulfa (+)

2.2.7 Riwayat Psikososial


Pasien termasuk yang suka bermain di luar rumah dengan teman-temannya.

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


2.3.1 Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital :
TD : tidak diukur
Nadi : tidak diukur
RR : tidak diukur
Suhu : tidak diukur

‐ Kepala : Normocephal
‐ Mata : Status Oftalmologi
‐ THT : Tidak ada keluhan
‐ Mulut : Tidak ada keluhan
‐ Leher : Tidak ada keluhan
‐ Thoraks : Tidak ada keluhan
‐ Abdomen : Tidak ada keluhan
‐ Endokrin : Tidak ada keluhan
‐ Ekstremitas : Tidak ada keluhan

2.3.2 Status Oftalmologikus

Oculi Dextra PEMERIKSAAN Oculi Sinistra

6/6 Visus 6/6


Ortoforia Kedudukan Bola Mata Ortoforia
Baik ke segala arah Baik ke segala arah

Gerakan Bola Mata

Edema (-), Hiperemis (-) Palpebra Superior Edema (-), Hiperemis (-)
Edema (-), Hiperemis (-) Palpebral Inferior Edema (-), Hiperemis (-)
- Trantas dot (+) - Trantas dot (+)
- Injeksi siliar (-) - Injeksi siliar (-)
- Injeksi konjungtiva (+) Conjungtiva - Injeksi konjungtiva (+)
- Injeksi episklera (-) - Injeksi episklera (-)
- Bleeding (-) - Bleeding (-)
Anikterik Sclera Anikterik
- Jernih (+) - Jernih (+)
- Infiltrate (-) - Infiltrate (-)
- Edema (-) Kornea - Edema (-)
- Ulkus (-) - Ulkus (-)
- Hipopion (-) - Hipopion (-)
CoA
- Kedalaman sedang - Kedalaman sedang
- Hifema (-) - Hifema (-)
(Camera Oculi
- Hipopion (-) - Hipopion (-)
Anterior)
- Coklat - Coklat
- Sinekia (-) Iris - Sinekia (-)

- Bulat - Bulat
- Isokor - Isokor
Pupil
- Refleks cahaya (+) - Refleks cahaya (+)
- Diameter ± 3mm - Diameter ± 3mm
Jernih Jernih

Pseudofakia (-) Lensa Pseudofakia (-)

Afakia (-) Afakia (-)

2.4 RESUME
Telah diperiksa seorang anak laki-laki berusia 5 tahun di Poli Mata RSUD RAA
Soewondo Pati dengan keluhan kedua matanya merah sejak 2 minggu yang lalu.
Selain itu, pasien juga merasakan matanya keluar air secara terus menerus dan
dirasakan gatal. Pasien mengeluhkan keluhannya tersebut hilang timbul. .
Pasien mengeluh matanya gatal ketika sore hari menjelang malam sampai
mengucek-ngucek kedua matanya. Pasien pernah mengalami keadaan seperti ini
juga beberapa bulan yang lalu. OD: 6/6 OS: 6/6 Pada pemeriksaan, ditemukan
adanya trantas dot pada limbus dan injeksi konjungtiva okuli dextra sinistra.

2.5 DIAGNOSIS KERJA


Konjungtivitis Vernal Tipe Limbal ODS

2.6 CLINICAL REASONING


‐ Kedua mata merah sejak 2 minggu yang lalu.
‐ Kedua mata keluar air secara terus menerus serta gatal dan keluhan tersebut
hilang timbul
‐ Ketika sore hari menjelang malam, pasien mengucek-ngucek kedua
matanya
‐ Visus: OD 6/6 OS 6/6
‐ Trantas dot pada limbus ODS
‐ Injeksi konjungtiva ODS

2.7 DIAGNOSIS BANDING


- Keratokonjungtivitis atopi
- Konjungtivitis giant papillary
‐ Konjungtivitis alergika musiman

2.8 ANJURAN PEMERIKSAAN


‐ Darah rutin
‐ Patch test

2.9 PENATALAKSANAAN
 Medikamentosa
‐ Antihistamin topical ED (Alegysal)
‐ Sel mast stabilisator topikal ED (Conver)
‐ Dekongestan dan antihistamin topikal ED (Naphcon-A)
 Non Medikamentosa
‐ Menghindari sumber alergi (debu) dengan memakai kacamata
‐ Menghindari tindakan menggosok-gosok mata dengan tangan atau jari
tangan
2.10 PROGNOSIS
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad fungtionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam
BAB III
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

III.1. ANATOMI DAN FISIOLOGI KONJUNGTIVA

Konjungtiva adalah mukosa yang melapisi bagian dalam palpebra dan permukaan
anterior mata. Konjungtiva melapisi permukaan sebelah dalam kelopak mulai tepi
kelopak (margo palpebralis), melekat pada sisi dalam tarsus, menuju ke pangkal
kelopak menjadi konjuntiva fornicis yang melekat pada jaringan longgar dan melipat
balik melapisi bola mata hingga tepi kornea.1,2

Konjungtiva dibagi menjadi 3 bagian :

1. Konjungtiva palpebra

2. Konjungtiva forniks

3.Konjungtiva bulbi

Gambar 1. Anatomi Konjungtiva

Yang melapisi bagian palpebra disebut konjungtiva palpebra, di forniks disebut


konjuntiva fornicis dan yang di bola mata disebut konjuntiva bulbi.
Secara histologis lapisan konjuntiva dimulai dari epitel konjuntiva yang terdiri atas
epitel superficial mengandung sel goblet yang memproduksi mucin dan epitel basal,
di dekat limbus dan epitel ini mengandung pigmen. Di bawah epitel terdapat stroma
konjuntiva yang terdiri atas lapisan adenoid yang mengandung jaringan limfoid dan
lapisan fibrosa yang mengandung jaringan ikat.

Kelenjar yang ada di konjuntiva terdiri dari kelenjar Krause (ditepi atas tarsus) yang
menyerupai kelenjar air mata. Arteri- arteri konjungtiva berasal dari a.ciliaris anterior
dan a. palpebralis yang keduanya beranastomosis. Yang berasal dari a. ciliaris anterior
berjalan ke depan mengikuti m. rectus menembus sclera dekat limbus untuk mencapai
bagian dalam mata dan cabang- cabang yang mengelilingi kornea.

Gambar 2. Konjungtiva dengan Pelebaran A. Ciliaris

Konjungtiva menerima persyarafan dari percabangan pertama n. trigeminus yang


berakhir sebagai ujung- ujung yang lepas terutama di bagian palpebra. Konjungtiva
mengandung sangat banyak pembuluh limfe.

Konjungtiva dibasahi oleh air mata yang saluran sekresinya bermuara di forniks atas.
Air mata mengalir dipermukaan belakang kelopak mata dan tertahan pada bangunan
lekukan di belakang kelopak mata tertahan di belakang tepi kelopak. Air mata yang
mengalir ke bawah menuju forniks dan mengalir ke tepi nasal menuju punctum
lakrimalis. Dengan demikian konjungtiva dan kornea selalu basah. Kedudukan
konjungtiva mempunyai resiko mudah terkena mikroorganisme atau benda lain. Air
mata akan melarutkan materi infektius atau mendorong debu keluar. Alat pertahanan
ini menyebabkan peradangan menjadi self-limited disease. Selain air mata, alat
pertahanan berupa elemen limfoid, mekanisme eksfoliasi epitel dan gerakan
memompa kantong air mata. Hal ini dapat dilihat pada kehidupan mikroorganisme
patogen untuk saluran genitourinaria yang dapat tumbuh di daerah hidung tetapi tidak
berkembang di daerah mata.1,2,3

III.2. KONJUNGTIVITIS VERNALIS

III.2.1. DEFINISI

Konjungtivitis vernalis adalah konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas (tipe I)


yang mengenai kedua mata dan bersifat rekuren.5

III.2.2. KLASIFIKASI

Terdapat dua bentuk utama konjungtivitis vernalis (yang dapat berjalan bersamaan),
yaitu:

1. Bentuk palpebraterutama mengenai konjungtiva tarsal superior.


Terdapat pertumbuhan papil yang besar ( Cobble Stone ) yang diliputi sekret y
angmukoid. Konjungtiva tarsal bawah hiperemi dan edem, dengan kelainan
kornea lebih berat dari tipe limbal. Secara klinik, papil besar ini tampak
sebagai tonjolan bersegi banyak dengan permukaan yang rata dan dengan
kapiler ditengahnya.

Gambar 3. Konjungtivitis Vernal Palpebra denganTanda cobble stone


2. Bentuk Limbalhipertrofi papil pada limbus superior yang dapat
membentuk jaringan hiperplastik gelatin, dengan Trantas dot yang
merupakan degenarasi epitel kornea atau eosinofil di bagian epitel
limbus kornea, terbentuknya pannus, dengan sedikit eosinofil.2,4

Gambar 4. Konjungtivitis Vernal Limbal dengan Tanda Trantas Dot

III.2.3. ETIOLOGI

Konjungtivitis vernal terjadi akibat alergi dan cenderung kambuh pada musim panas.
Konjungtivitis vernal sering terjadi pada anak-anak, biasanya dimulai sebelum masa
pubertas dan berhenti sebelum usia 20.2

III.2.4. PATOFISIOLOGI

Patogenesis terjadinya kelainan ini belum diketahui secara jelas, tapi terutama
dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas pada mata. Reaksi hipersensitivitas tipe I
merupakan dasar utama terjadinya proses inflamasi pada KV.5,6,7,8Pemeriksaan
histopatologik dari lesi di konjungtiva menunjukkan peningkatan sel mast, eosinofil
dan limfosit pada subepitel dan epitel. Dalam perjalanan penyakitnya, infiltrasi sel
dan penumpukan kolagen akan membentuk papil raksasa. Penemuan ini menjelaskan
bahwa KV bukan murni disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe I fase cepat,
melainkan merupakan kombinasi tipe I dan IV.9 Bonini dkk, menemukan bahwa
hiperreaktivitas non spesifik juga mempunyai peran dalam KV. Faktor lain yang
berperan adalah aktivitas mediator non Ig E oleh sel mast.7 Reaksi hipersensitivitas
tipe I dimulai dengan terbentuknya antibodi IgE spesifik terhadap antigen bila
seseorang terpapar pada antigen tersebut. Antibodi IgE berperan sebagai
homositotropik yang mudah berikatan dengan sel mast dan sel basofil.

Ikatan antigen dengan antibodi IgE ini pada permukaan sel mast dan basofil akan
menyebabkan terjadinya degranulasi dan dilepaskannya mediator-mediator kimia
seperti histamin, slow reacting substance of anaphylaxis, bradikinin, serotonin,
eosinophil chemotactic factor, dan faktor-faktor agregasi trombosit. Histamin adalah
mediator yang berperan penting, yang mengakibatkan efek vasodilatasi, eksudasi dan
hipersekresi pada mata. Keadaan ini ditandai dengan gejala seperti mata gatal, merah,
edema, berair, rasa seperti terbakar dan terdapat sekret yg bersifat mukoid.7,9-14
Terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe I fase lambat mempunyai karakteristik, yaitu
dengan adanya ikatan antara antigen dengan IgE pada permukaan sel mast, maka
mediator kimia yang terbentuk kemudian akan dilepaskan seperti histamin, leukotrien
C4 dan derivat-derivat eosinofil yang dapat menyebabkan inflamasi di jaringan
konjungtiva.7,11

Reaksi hipersensitivitas tipe IV, terjadi karena sel limfosit T yang telah tersensitisasi
bereaksi secara spesifik dengan suatu antigen tertentu, sehingga menimbulkan reaksi
imun dengan manifestasi infiltrasi limfosit dan monosit (makrofag) serta
menimbulkan indurasi jaringan pada daerah tersebut.14 Setelah paparan dengan
alergen, jaringan konjungtiva akan diinfiltrasi oleh limfosit, sel plasma, eosinofil dan
basofil. Bila penyakit semakin berat, banyak sel limfosit akan terakumulasi dan terjadi
sintesis kolagen baru sehingga timbul nodul-nodul yang besar pada lempeng tarsal.12
Aktivasi sel mast tidak hanya disebabkan oleh ikatan alergen IgE, tetapi dapat juga
disebabkan oleh anafilatoksin, IL-3 dan IL-5 yang dikeluarkan oleh sel limfosit.
Selanjutnya mediator tersebut dapat secara langsung mengaktivasi sel mast tanpa
melalui ikatan alergen IgE.7Reaksi hiperreaktivitas konjungtiva selain disebabkan
oleh rangsangan spesifik, dapat pula disebabkan oleh rangsangan non spesifik, misal
rangsanganpanas sinarmatahari, angin.7,8,13,14
III.2.5. GAMBARAN HISTOPATOLOGIK

Tahap awal konjungtivitis vernalis ditandai oleh fase prehipertrofi. Dalam kaitan ini,
akan tampak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil yang ditutup oleh
satu lapis sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di antara papil
serta pseudomembran milky white. Pembentukan papil ini berhubungan dengan
infiltrasi stroma oleh sel-sel PMN, eosinofil, basofil, dan sel mast. Hasil penelitian
histopatologik terhadap konjungtivitis vernalis mata yang dilakukan oleh Wang dan
Yang menunjukkan infiltrasi limfosit dan sel plasma padakonjungtiva. Prolifertasi
limfosit akan membentuk beberapa nodul limfoid. Sementara itu, beberapa granula
eosinofilik dilepaskan dari sel eosinofil, menghasilkan bahan sitotoksik yang berperan
dalam kekambuhan konjungtivitis.

Dalam penelitian tersebut juga ditemukan adanya reaksi hipersensitivitas. Tidak


hanya di konjungtiva bulbi dantarsal, tetapi juga di fornix, serta pada beberapa kasus
melibatkan reaksi radang padairis dan badan siliar.Fase vaskular dan selular dini akan
segera diikuti dengan deposisi kolagen,hialuronidase, peningkatan vaskularisasi yang
lebih mencolok, serta reduksisel radang secara keseluruhan. Deposisi kolagen dan
substansi dasar maupun seluler mengakibatkan terbentuknya deposit stone yang
terlihat secara nyata pada pemeriksaan klinis. Hiperplasia jaringan ikat meluas ke atas
membentuk giant papil bertangkai dengan dasar perlekatan yang luas. Kolagen
maupun pembuluh darah akan mengalami hialinisasi. Epiteliumnya berproliferasi
menjadi 5–10 lapis sel epitel yang edematousdan tidak beraturan. Seiring dengan
bertambah besarnya papil, lapisan epitel akan mengalami atrofi di apeks sampai
hanya tinggal satu lapis sel yang kemudian akan mengalami keratinisasi.16,17

Pada limbus juga terjadi transformasi patologik yang sama berupa pertumbuhanepitel
yang hebat meluas, bahkan dapat terbentuk 30-40 lapis sel(acanthosis). Horner-
Trantas dot’s yang terdapat di daerah ini sebagian besar terdiri atas eosinofil,
debrisselular yang terdeskuamasi, namun masih ada sel PMN dan limfosit.16,17
Gambar 5. Histologi Konjungtivitis Vernal Terlihat Banyak Sel Radang Terutama
Eosinofil

III.2.6. GEJALA

Pasien umumnya mengeluh tentang gatal yang sangat dan bertahi mata berserat,
terutama bila berada di lapangan terbuka yang panas terik. Biasanya
terdapat riwayat keluarga alergi. Konjungtiva tampak putih seperti susu, dan terdapat
banyak papilla halus di konjungtiva tarsalis inferior. Konjungtiva palpebra superior
sering memiliki papilla raksasa mirip batu kali. Setiap papil raksasa berbentuk
poligonal, dengan atap rata, dan mengandung berkas kapiler. Mungkin terdapat tahi
mata berserabut dan pseudomembran fibrinosa (tanda Maxwell-Lyons). Pada beberapa
kasus, terutama pada orang negro turunan Afrika, lesi paling mencolok terdapat di
limbus, yaitu pembengkakan gelatinosa (papillae). Sebuah pseudogerontoxon (arcus)
sering terlihat pada kornea dekat papilla limbus. Bintik-bintik Tranta adalah bintik-
bintik putih yang terlihat di limbus pada beberapa pasiendengan konjungtivitis
vernalis selama fase aktif dari penyakit ini.Sering tampak mikropannus pada
konjungtivitis vernal palpebra dan limbus,namun pannus besar jarang dijumpai.
Biasanya tidak timbul parut pada konjungtiva kecuali jika pasien telah menjalani
krioterapi, pengangkatan papilla, iradiasi, atau prosedur lain yang dapat merusak
konjungtiva.1,2

Gambaran klinis konjungtivitis vernal:

 Keluhan utama: gatal


Pasien pada umumnya mengeluh tentang gatal yang sangat. Keluhan gatal
inimenurun pada musim dingin.
 Ptosis
Terjadi ptosis bilateral, kadang-kadang yang satu lebih ringan
dibandingkanyang lain.Ptosis terjadi karena infiltrasi cairan ke dalam sel-sel
konjungtiva palpebra dan infiltrasi sel-sel limfosit plasma,eosinofil
juga adanya degenarasi hyalin pada stroma konjungtiva.
 Getah mata
Keluhan gatal umumnya disertai dengan bertahi mata yang berserat-
serat.Konsistensi getah mata/tahi mata elastis ( bila ditarik molor).
 Kelainan pada palpebra
Terutama mengenai konjungtiva palpebra superior. Konjungtiva tarsalis
pucat, putih keabu-abuan disertai papil-papil yang besar (papil raksasa). Inilah
yangdisebut “cobble stone appearance”. Susunan papil ini rapat dari samping
tampak menonjol. Sering kali dikacaukan dengan trakoma. Di permukaannya
kadang-kadang seperti ada lapisan susu, terdiri dari sekret yang mukoid. Papil
ini permukaannya rata dengan kapiler di tengahnya.
Kadang-kadang konjungtiva palpebra menjadi hiperemi, bila terkena infeksi
sekunder.
 Horner Trantas dots
Gambaran seperti renda pada limbus, dimana konjungtiva bulbi menebal, berw
arna putih susu, kemerah-merahan, seperti lilin. Merupakan penumpukan
eosinofil dan merupakan hal yang patognomosis pada konjungtivitis
vernalyang berlangsung selama fase aktif.
 Kelainan di kornea
Dapat berupa pungtat epithelial keratopati. Keratitis epithelial difus khas ini
sering dijumpai. Kadang-kadang didapatkan ulkus kornea
yang berbentuk bulat lonjong vertikal pada superfisial sentral atau para
sentral, yang dapat diikuti dengan pembentukan jaringan sikatrik yang
ringan. Kadang juga didapatkan panus, yang tidak menutupi seluruh
permukaan kornea, sering berupa mikropanus, namun
panus besar jarang dijumpai. Penyakit ini mungkin juga disertai keratokonus.
Kelainan di kornea ini tidak membutuhkan pengobatan khusus, karena tidak
tidak satu pun lesi kornea ini berespon baik terhadap terapi standar.
III.2.7. DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.Pemeriksaan


laboratorium yang dilakukan berupa kerokan konjungtiva untuk mempelajari
gambaran sitologi. Hasil pemeriksaan menunjukkan banyak eosinofil dan granula-
granula bebas eosinofilik. Di samping itu, terdapat basofil dan granula basofilik
bebas.16

III.2.8 DIAGNOSIS BANDING

1. Konjungtivitis alergika musiman: bersifat akut, mereda saat musim


dingin, terdapat edem konjungtiva, jarang disertai perubahan pada kornea.
2. Keratokonjungtivitis atopik : tidak ada perbedaan usia atau jenis kelamin,
adanya sekret yang jernih, letak kelainan lebih sering di palpebra inferior,
tidak terdapat eosinofil pada scraping konjungtiva,
3. Giant papillary conjunctivitis : kelainan juga terdapat di konjungtiva
tarsal superior namun dengan ukuran diameter papila yang lebih dari 0,3
mm, penyebab tersering iritasi mekanik yang lama terutama karena
penggunaan lensa kontak.

III.2.9. PENGOBATAN

Karena konjungtivitis vernalis adalah penyakit yang sembuh sendiri, perlu diingat
bahwa medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya memberi hasil jangka pendek,
berbahaya jika dipakai jangka panjang.1,2

Pilihan perawatan konjungtivitis vernalis berdasarkan luasnya gejala yang muncul dan
durasinya, yaitu:

1. Tindakan Umum
Dalam hal ini mencakup tindakan-tindakan konsultatif yang membantu
mengurangi keluhan pasien berdasarkan informasi hasil anamnesis. Beberapa
tindakan tersebut antara lain:
o Menghindari tindakan menggosok-gosok mata dengan tangan atau jari
tangan, karena telah terbukti dapat merangsang pembebasan mekanis
dari mediator-mediator sel mast. Di samping itu, juga untuk mencegah
superinfeksi yang pada akhirnya berpotensi ikut menunjang terjadinya
glaukoma sekunder dan katarak.
o Pemakaian mesin pendingin ruangan berfilter;
o Menghindari daerah berangin kencang yang biasanya juga membawa
serbuk sari;
o Menggunakan kaca mata berpenutup total untuk mengurangi kontak
dengan alergen di udara terbuka. Pemakaian lensa kontak justru
harus dihindari karena lensa kontak akan membantu retensi allergen;
o Kompres dingin di daerah mata;
o Pengganti air mata (artifisial). Selain bermanfaat untuk cuci mata juga
berfungsi protektif karena membantu menghalau allergen;
o Memindahkan pasien ke daerah beriklim dingin yang sering
juga disebut sebagai climato-therapy.
2. Terapi topikal
o Untuk menghilangkan sekresi mucus, dapat digunakan irigasi saline
sterildan mukolitik seperti asetil sistein 10%-20% tetes mata. Dosisnya
tergantung pada kuantitas eksudat serta beratnya gejala. Dalam hal ini,
larutan 10% lebih dapat ditoleransi daripada larutan 20%. Larutan
alkalin seperti 1-2% sodium karbonat monohidrat dapat membantu
melarutkan atau mengencerkan musin, sekalipun tidak
efektif sepenuhnya.
o Antihistamin
o NSAID (Non-Steroid Anti-Inflamasi Drugs)
o Untuk konjungtivitis vernalis yang berat, bisa diberikan steroid topikal
prednisolonefosfat1%,6-8 kali sehari selama satu minggu. Kemudian
dilanjutkan dengan reduksi dosis sampai ke dosis terendah yang
dibutuhkan oleh pasien tersebut. Bila sudah terdapat ulkus kornea
maka kombinasi antibiotik steroid terbukti sangat efektif.
o Antibiotikbroad-spectrum.
3. Terapi Sistemik
o Pada kasus yang lebih parah, bisa juga digunakan steroid sistemik
seperti prednisolone asetat, prednisolone fosfat, atau deksamethason
fosfat 2–3tablet 4 kali sehari selama 1–2 minggu. Satu hal yang perlu
diingat dalam kaitan dengan pemakaian preparat steroid adalah
“gunakan dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin”.
o Antihistamin, baik lokal maupun sistemik, dapat dipertimbangkan
sebagai pilihan lain, karena kemampuannya untuk mengurangi rasa
gatal yang
dialami pasien. Apabila dikombinasi dengan vasokonstriktor, dapat
memberikan kontrol yang memadai pada kasus yang ringan atau
memungkinkan reduksi dosis.
4. Tindakan Bedah

Berbagai terapi pembedahan, krioterapi, dan diatermi pada papil raksasa


konjungtiva tarsal kini sudah ditinggalkan mengingat banyaknya efek samping
dan terbukti tidak efektif, karena dalam waktu dekat akan tumbuh lagi.
BAB IV

KESIMPULAN

Konjungtivitis vernalis adalah konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas (tipe I)


yang mengenai kedua mata dan bersifat rekuren. Konjungtivitis vernal terjadi
akibatalergi dan cenderung kambuh pada musim panas. Konjungtivitis vernal sering
terjadi pada anak-anak, biasanya dimulai sebelum masa pubertas dan berhenti
sebelum usia 20. Gejala yang spesifik berupa rasa gatal yang hebat, sekret mukus
yang kentaldan lengket, serta hipertropi papil konjungtiva. Tanda yang spesifik adalah
Trantas dotsdan coble stone. Terdapat dua bentuk dari konjungtivitis vernalis yaitu
bentuk palbebra dan bentuk limbal.

Konjuntivitis vernalis pada umumnya tidak mengancam penglihatan, namun dapat


menimbulkan rasa tidak enak. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri tanpa diobati.
Namun tetap dibutuhkan perawatan agar tidak terjadi komplikasi dan menurunkan
tingkat ketidaknyamanan dari pasien. Perawatan yang dapat diberikan menghindari
menggosok-gosokan mata, kompres dingin di daerah mata, memakai pengganti air
mata, memakai obat tetes seperti asetil sistein, antihistamin, NSAID, steroid,
stabilisator sel mast, dll; obat oral (seperti antihistamin atau steroid), dan
pembedahan.1,2,16
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Jakarta: Widya


Medika,2000.Hal 268, 274-287.
2. Ilyas Sidharta, Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Edisi ke lima, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2014. Hal 179-188.
3. A.K. Khurana. Comprehenship Opthalmology 4th Edition dalam Chapter
12-New Age International 2007. P 288-96.
4. Wijana Nana S,D, Ilmu Penyakit Mata, Cetakan ke 6, Abdi Tegal.Jakarta
1993.Hall 332-342.
5. Allansmith MR. Vernal conjungtivitis. Dalam: Tasman W, Jaeger EA,
penyunting. Duane’s Clinical Ophthalmology. Philadelphia: Lippincott
Ra-Ven, 1997. h. 1-8.
6. Wright KW. Vernal conjungtivitis. Dalam: Wright KW, Buckley EG, Del
Monte MA, penyunting. Pediatric Ophthalmology and Strabismus. St
Louis: Mosby, 1995. h. 285-6.
7. Bielory L. Allergic and immunology disorders of the eye. Part II: ocular
allergy.J Allergy Clin Immunol 2000; 106:805-16.
8. Bonini S. Vernal keratoconjunctivitis revisited: a case series of 195
patients with long-term follow up. Ophthalmol 2000; 107:1157-63.
9. Bonini S, Bonini S, Schiavone M, dkk : Conjuntival Hyperres Ponsivenes
To Ocular Histamine Challenge In Patients With Vernal Conjunctivitis. J
Allergy Clin Immunol 192 ; 89:103-7. Dikutip dari Lee Y, Raizman MB.
Vernal conjunctivitis. Dalam: Bielory L, penyunting. Immunology and
Allergy Clinics of North America. Philadelphia: WB Saunders company,
1997. h. 33-52.
10. Pucci N, Novembre E, Cianteronia, Lombardi E, Bernardini R, Caputo R,
dkk.Efficacy and safety of cyclosporin eyedrops in vernal
keratoconjunctivitis. Ann Allergy Asthma Immunol 2002;89:298-303.
11. D’Ermo F, Bonini S, Todini V. Inflamatory cells in conjungtiva scrapings
of patient with vernal conjungtivitis. Dalam: Secchi AG, Fregona IA,
penyunting. Modern trends in Immunology and Immunopathology of the
eye. Milano: Masson; 1989. h. 395-8.
12. Allansmith MR, Hahn GS, Simon MA. Tissue, tear and serum IgE
concentration in vernal conjungtivitis. Am J Ophthalmol 1976; 81:506-11.
13. Kresno SB. Penyakit Alergi. Dalam: Kresno SB, penyunting. Imunologi:
diagnosis dan prosedur laboratorium. Jakarta: FKUI, 1991. h. 133-43.
14. Munazir Z, Suyoko D. Reaksi Hipersensitivitas. Dalam: Arwin A, Corry
SM, penyunting. Buku Ajar Alergi Imunology Anak. Jakarta: BP IDAI,
1997. h. 78-94.
15. Dorland, W.A Newman. 2002. KamusKedokteran Dorland Edisi 29.
Jakarta : EGC
16. Medicastore. Konjungtivitis Vernalis. Diunduh
darihttp://www.medicastore.com/penyakit/865/Keratokonjungtivitis_Vern
alis.html. (Diakses 20 Oktober 2019)
17. PubMed Central Journal list.Vernal Keratoconjunctivitis. Diunduh dari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1705659/. (Diakses 20
Oktober 2019)