Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

PEREKONOMIAN INDONESIA
‘’SEKTOR PERTANIAN’’

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 5
Yasni Nur Aliva Madonsa 17061104283
Sherin Christin Paruntu 17061104276
Marcelino Rindengan 16061104163
Yolanda lumentut
Marwia Pelesir

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselesaikannya
makalah yang berjudul “Sektor Pertanian”. Makalah yang masih perlu dikembangkan lebih
jauh ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membacanya.

Makalah ini dibuat sebagai tugas mata kuliah Perkonomian Indonesia, secara garis besar
membahas Definisi Sektor Pertanian dan Subsektor Pertanian serta peran dan pentingnya
sektor pertanian bagi pendapatan nasional.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak,
penulis tidak mungkin menyelesaikan penyusunan makalah ini, untuk itu ucapan terima kasih
penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu. Penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran yang konstruktif.

Manado, 23 Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar…..…………………………………………...……………………… i
Daftar Isi...……….………………………………………………………………....... ii
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang..……………………..……………………….…………............... 1
B. Rumusan Masalah…..…………………..…………………………………........... 1
C. Tujuan……...……………………….……………………………………….......... 1
Bab II Pembahasan
A. Pengertian Sektor Pertanian................................................................................. 2
B. Perkembangan Sektor Pertanian
1. Petani pada Zaman Kerajaan- kerajaan Indonesia Kuno................................ 3
2. Petani pada Masa Penjajahan.......................................................................... 3
3. Petani Indonesia Sesudah Kemerdekaan......................................................... 4
C. Subsektor Pertanian
1. Subsektor Tanaman Pangan............................................................................. 5
2. Subsektor Perkebunan...................................................................................... 5
3. Subsektor Perhutanan....................................................................................... 6
4. Subsektor Peternakan........................................................................................ 6
5. Subsektor Perikanan.......................................................................................... 7
D. Peranan dan Pentingnya Sektor Pertanian.............................................................. 8
E. Kontribusi Sektor Pertanian.................................................................................... 11
Bab III Pentutup
A. Kesimpulan..………………………………………………………..…….............. 13
Daftar Pustaka……………………………………………………………..…............... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pertanian merupakan basis perekonomian Indonesia, walaupun sumbangsih nisbi


(relative contribution).Sektor pertanian dalam perekonomian diukur berdasarkan proporsi nilai
tambahnya dalam membentuk produk domestik bruto (PDB) atau pendapaan nasional tahun
demi tahun kian mengecil,hal ini bukanlah berarti nilai dan peranannya semakin tidak
bermakna. Nilai tambah sektor pertanian dari waktu ke waktu tettap selalu meningkat. Kecuali
itu, peranan sektor ini dalam menyerap tenaga kerja tetap terpenting. Mayoritas penduduk
Indonesia, yang sebagian besar tinggal di daerah pedesaan, hingga saat ini masih
menyandarkan mata pencahariannya pada sektor pertanian.

Transformasi struktural perekonomian Indonesia menuju ke corak yang industrual tidak


dengan sendirinya melenyapkan nuansa agraritasnya.Berbagai teori pertumbuhan ekonomi
klasik dan studi Bank Dunia menunjukan,bahwa sukses perkembangan sektor industri di suatu
negara selalu diiringi dengan perbaikan produktifitas dan pertumbuhan berkelanjutan di sektor
pertanian.Selain menyediakan kebutuhan pangan bagi penduduk serta menyerap tenaga kerja,
sektor pertanian juga merupakan pemasok bahan baku bagi sektor industri dan menjadi sumber
penghasil devisa.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi pertanian?
2. Bagaimana perkembangan sektor pertanian?
3. Apa saja yang termasuk subsektor pertanian?
4. Apa Pentingnya sektor pertanian?
5. Apa peranan sektor pertanian bagi pendapatan nasional?
6. Bagaimana kontribusi sektor pertanian?

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi pertanian
2. Mengetahui bagaimana perkembangan sektor pertanian
3. Mengetahui apa saja yang termasuk subsektor pertanian
4. Mengetahui pentingnya pertanian
5. Mengetahui peranan sektor pertanian bagi pendapatan nasional
6. Mengetahui kontribusi sektor pertanian

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sektor Pertanian

Menurut A.T Mosher (1968; 19) mengartikan pertanian sebagai sejenis proses
produksi khas yang didasarkan atas proses pertumbuhan tanaman dan hewan. Kegiatan-
kegiatan produksi di dalam setiap usaha tani merupakan suatu bagian usaha, dimana biaya dan
penerimaan adalah penting. Sedangkan Mubyarto (1989; 16-17) membagi definisi pertanian
dalam arti luas dan pertanian dalam arti sempit. Pertanian dalam arti luas mencakup :
1. Pertanian rakyat atau disebut sebagai pertanian dalam arti sempit.
2. Perkebunan (termasuk didalamnya perkebunan rakyat atau perkebunan besar).
3. Kehutanan.
4. Peternakan.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, dalam arti sempit pertanian diartikan sebagai pertanian
rakyat. Pertanian rakyat merupakan usaha pertanian keluarga di mana diproduksinya bahan
makanan utama seperti beras, palawija (jagung, kacang-kacangan dan ubi-ubian), dan
tanaman-tanaman hortikultura yaitu sayuran dan buah-buahan.

Pertanian yang dimaksud dalam konsep dalam konsep pendapatan nasional adalah
petanian dalam arti luas. Di Indonesia ada 5 subsektor pertanian yaitu sektor tanaman pangan,
perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan.
Sektor pertanian menjadi sektor penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Seiring
dengan berkembangnya perekonomian bangsa, maka kita mulai mencanangkan masa depan
Indonesia menuju era industrialisasi, dengan pertimbangan sektor pertanian kita juga semakin
kuat.
Seiring dengan transisi (transformasi) struktural ini sekarang kita menghadapi berbagai
permasalahan.Di sektor pertanian kita mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah
produksi pangan, terutama di wilayah tradisional pertanian di Jawa dan luar Jawa.Hal ini
karena semakin terbatasnya lahan yang dapat dipakai untuk bertani.Perkembangan penduduk
yang semakin besar membuat kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan berbagai sarana
pendukung kehidupan masyarakat juga bertambah.Perkembangan industri juga membuat
pertanian beririgasi teknis semakin berkurang.

2
B. Perkembangan Sektor Pertanian

1. Petani pada Zaman Kerajaan- kerajaan Indonesia Kuno


Petani yang dihadapi pemerintah Indonesia pada tahun 1980, ternyata tidak memiliki
ciri- ciri yang terlalu berbeda dengan petani pada zaman tanam paksa tahun 1830- 1870 atau
bahkan zaman Kerajaan Mataram. Ini tidak berarti bahwa pikiran petani sama sekali tidak
mengalami perubahan selama 600 tahun ini.
Yang dimaksudkan adalah psikologi para petani dalam melakukan pekerjaan bertani,
yaitu mengolah dan menanami tanahnya selalu merupakan fungsi atau berkaitan erat dengan
motivasi mereka. Motivasi ini pada gilirannya berhubungan erat dengan harapan- harapan yang
ada pada mereka. Harapan- harapan ini selalu ada hubungannya dengan apa yang dapat
dijanjikan pemerintah
Pada masa ini bertani merupakan kehidupan pokok rakyat. Pemerintah memperoleh
sumber penerimaannya semata- mata dari pertanian. Penerimaan negaraterutama terdiri atas
pembayaran in natura dan jasa- jasa tenaga kerja penggarap tanah. Untuk mengerjakan tanah
pertaniannya mereka mempergunakan alat yang sederhana berupa pacul, bajak, garu dan
parang yang dibuat setempat.ternak juga merupakan tenaga pembantu yang paling penting
untuk mengerjakan tanah.
Campur tangan pemerintah secara langsung untuk memajukan pertanian sama sekali tidak ada.
Pertanian adalah urusan petani. Pemerintsh tidak menganggap perlu dan rupanya juga tidak
dianggap perlu untuk mengetahui hal ihwal bertani. Tidak dapat dibayangkan seorang raja atau
pangeran berkunjung ke desa dan berdiskusi dengan petani mengenai masalah usaha tani. Hal
tersebut diserahkan seluruhnya kepada petinggi, bekel atau lurah yang merupakan pejabat di
desa.

2. Petani pada Masa Penjajahan


Belanda yang datang pada tahun 1596 di Banten adalah mula- mula dalam rangka
berdagang rempah- rempah. Dan pada saat itu ditemuinya bangsa- bangsa Portugis, Spanyol,
Inggris, India, Cina dan Arab yang sudah melakukan hubungan dagang dengan bangsa
Indonesia. Selama hampir 100 tahun sejak VOC didirikan tahun 1602 bangsa Belanda tidak
pernah sungguh- sungguh merajai perdagangan di Indonesia. Baru setelah meninggalnya
Sultan Agung pada tahun 1645 dan jatuhnya Banten pada tahun 1683, maka kekuasaan Belanda
menjadi lebih mantap. Di luar Jawa, Belanda terus- menerus mendapat tantangan dari
Makassar, Minangkabau dan Aceh. Bahkan pada pertengahan pertama abad 19 masih terjadi
Perang Diponegoro (1825- 1830) yang banyak sekali menguras keuangan pemerintah Hindia
Belanda dan sangat melemahkan kedudukan pemerintah kolonial Belanda.
Dari segi ekonomi selalu dipertimbangkan berapa uang masuk yang akan diterima pemerintah
Belanda dari jajahannya di Indonesia, dibanding uang keluar untuk membiayai pemerintah
jajahan. Pertimbangan inilah yang paling menonjol pada saat diputuskan sistem Tanam Paksa
(Cultuur Stelsel) pada tahun 1930. Selanjutnya praktek penyimpangan membuat kabur
peraturan- peraturan yang seharusnya diberlakukan. Satu penyimpangan dilakukan karena
adanya kelainan setempat, tetapi kelainan ini justru mengakibatkan satu reaksi yang berlainan
pula. Demikian seterusnya, keadaan menjadi semakin kacau dan semakin jauh dari tujuan
semula yang kelihatannya sangat terpuji.

3
Setelah melalui masa transisi untuk menghapuskan sistem Tanam Paksa, maka dengan
Undang- Undang Agraria 1870, dibukalah Indonesia bagi modal swasta Belanda, Inggris dan
modal- modal swasta lain dari Eropa. Dengan cara demikian, pemerintah Belanda dapat
menyewakan tanah-tanah pertanian yang tidak dituntut pihak lain kepada perkebunan-
perkebunan dan pemilik modal bangsa Eropa dalam jangka panjang yaitu 75 sampai 99 tahun.
Keadaan inilah yang kelak dianggap menghambat kemajuan petani kecil di bidang perkebunan
yang kemudian harus dihapus. Petani harus dikembalikan menjadi bebas.
Setelah berakhirnya masa liberal yang resminya pada tahun 1900, mulailah pada abad ke-20
apa yang kita kenal dengan politik etik.

Politik ini diterima oleh pemerintah Belanda setelah melalui perjuangan keras oleh para
pendukungnya seperti Multatuli karena eksploitasi Indonesia rupanya telah dianggap cukup
jauh. Inilah permulaan dari program- program pemerataan yang terkenal dengan program yaitu
edukasi, irigasi dan emigrasi. Selama 45 tahun berikutnya, penduduk Jawa telah menjadi
semakin banyak, pemilikan tanah petani menjadi semakin kecil, dan kemiskinan di pedesaan
semakin menghimpit. Sampai akhirnya Indonesia memproklamasikan kemerdekaan
dan memutuskan melepaskan diri dari penjajahan dan segala ikatan Belanda pada Agustus
1945.

3. Petani Indonesia Sesudah Kemerdekaan


Tidak ada keraguan bahwa dewasa ini petani Indonesia menyadari, mereka bukan lagi kuli,
yang berarti pemilik tanah dengan segala kewajiban dan bebannya. Pada permulaan, perubahan
status petani ini tidak begitu kelihatan dan petani tidak menyadari benar hakikatnya dan
bagaimana memanfaatkannya.
Sesudah kemerdekaan, pajak kepala (capitation atau head tax) menurut mereka paling logis
untuk segera dihapuskan. Pajak kepala ini dihapuskan pada tahun 1964, diikuti oleh
penggantian pajak tanah dengan pajak pendapatan pada tahun 1951, dan perubahan hak
menggunakan tanah (hak anggaduh) dengan hak milik (hak andarbe).
Tanpa disadari, pada masa kemerdekaan masih dapat terjadi peristiwa pemaksaan dalam
praktek- praktek bertani. Namun, di kemudian hari betapa masih banyak aspek sosiologi dan
psikologi petani yang masih perlu kita dalami untuk mensukseskan program- program
pertanian Indonesia. Memang cara dan gaya hidup petani kita adalah amat sederhana. Namun,
karena kesederhanaannya itulah kadang- kadang kita agak meremehkan berbagai faktor yang
ada di belakangnya.

4
C. Subsektor Pertanian

1. Subsektor Tanaman Pangan


Subsektor tanaman pangan sering juga disebut sebagai subsektor pertanian rakyat. Hal
ini karena biasanya rakyatlah yang mengusahakan sektor tanaman pangan, bukan perusahaan
atau pemerintah.Sektor ini mencakup komoditas-komoditas bahan makanan seperti: padi,
jagung, ketela pohon, kacang tanah, kedelai, serta sayur dan buah-buahan.
Sub sektor tanaman pangan sebagai bagian dari sektor pertanian memiliki peranan yang
sangat penting dalam ketahanan nasional, mewujudkan ketahanan pangan, pembangunan
wilayah, pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa, serta
menjadi penarik bagi pertumbuhan industri hulu dan pendorong pertumbuhan untuk industri
hilir yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Peranan tanaman pangan telah terbukti secara empiris, baik dikala kondisi ekonomi normal
maupun saat menghadapi krisis.

Pertanian tanaman pangan sangat relevan untuk dijadikan sebagai pilar ekonomi di daerah,
mengingat sumber daya ekonomi yang dimiliki setiap daerah yang siap didayagunakan untuk
membangun ekonomi daerah adalah sumber daya pertanian tanaman pangan, seperti sumber
daya alam (lahan, air, keragaman hayati, agro-klimat). Subsektor tanaman pangan memegang
peranan penting sebagai pemasok kebutuhan konsumsi penduduk, khusus di Indonesia
tanaman pangan juga berkedudukan strategis dalam memelihara stabilitas ekonomi nasional.
Oleh karena itu, subsektor tanaman pangan mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

2. Subsektor Perkebunan
Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang mengalami pertumbuhan
paling konsisten, baik ditinjau dari areal maupun produksi. Dari beberapa komoditas
perkebunan yang penting di Indonesia (karet, kelapa sawit, kelapa, kopi, kakao, teh, dan tebu),
kelapa sawit, karet dan kakao tumbuh lebih pesat dibandingkan dengan tanaman perkebunan
lainnya dengan laju pertumbuhan diatas 5% per tahun.
Dengan perkembangan yang cukup konsisten, subsektor perkebunan mempunyai peran
strategis, baik dalam pembangunan ekonomi secara nasional, maupun dalam menjawab isu-isu
global.
Sebagai salah satu subsektor penting dalam sektor pertanian, subsektor perkebunan
secara tradisional mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian
Indonesia.Sebagai negara berkembang dimana penyediaan lapangan kerja merupakan masalah
yang mendesak, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan.Sampai
dengan tahun 2003, jumlah tenaga kerja yang terserap oleh subsektor perkebunan diperkirakan
mencapai sekitar 17 juta jiwa.Jumlah lapangan kerja tersebut belum termasuk yang bekerja
pada industri hilir perkebunan.Kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja menjadi nilai
tambah sendiri, karena subsektor perkebunan menyediakan lapangan kerja di pedesaan dan
daerah terpencil.Peran ini bermakna strategis karena penyediaan lapangan kerja oleh subsektor
berlokasi di pedesaan sehingga mampu mengurangi arus urbanisasi.

5
Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang mempunyai kontribusi
penting dalam hal penciptaan nilai tambah yang tercermin dari kontribusinya terhadap produk
domestik bruto (PDB).

3. Subsektor perhutanan
Subsektor kehutanan secara kelembagaan ada dibawah naungan departemen
kehutanan, berbeda dengan subsektor lain yang ada di bawah naungan departemen
pertanian.Dalam kedudukannya sebagai bagian dari sektor pertanian, hasil utama subsektor
kehutanan adalah kayu.Hasil hutan lainnya disebut sebagai hasil ikutan.Nilai akhir dari hasil-
hasil hutan yang belum diolah inilah yang termasuk ke dalam nilai produk sektor pertanian
dalam perhitungan psoduk domestik bruto.Sedangkan nilai tambah hasil-hasil hutan yang
sudah diolah terutama kayu olahan dalam perhitungan PDB dimasukan sebagai nilai produk
sektor industri.
Berdasarkan tata gunanya hutan di Indonesia dibedakan menjadi hutan lindung, hutan
suaka alam, dan hutan wisata, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, dan hutan produksi
yang dapat dikonversi/
Hutan yang diusahakan untuk diambil hasilnya adalah hutan yang dapat atau boleh dikonversi
diantaranya berupa areal hutan tanaman industri.Pengelolaan hutan produksi dijalankan oleh
perusahaan-perusahaan berdasarkan hak pengusahaan.

4. Subsektor peternakan
Sembilan puluh persen sektor peternakan diusahakan oleh rakyat, sekitar persentase
itu pula produksi telur dan daging berasal dari usaha peternakan rakyat, hanya sebesar sepuluh
persen yang diusahakan oleh perusahaan-perusahaan.Peternakan rakyat memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
 Skala usaha kecil
 Teknologi sederhana
 Bersifat padat karya dan berbasis keluarga serumah
 Produktibitas dan mutu produk rendah
Produk subsektor peternakan meliputi daging, telur, dan susu. Usaha yang dapat
ditempuh untuk meningkatkan produktivitas peternakan meliputi:
a. Intensifikasi
Intensifikasi dilaksanakan dengan meningkatkan produktivitas peternakan rakyat melalui
pemberantasan penyakit dan pelaksanaan inseminasi buatan. Inseminasi buatan adalah
peletakan sperma ke follicle
ovarian (intrafollicular), uterus (intrauterine), cervix (intracervical), atau tube
fallopian (intratubal) wanita dengan menggunakan cara buatan dan bukan
dengan kopulasi alami. Teknik modern untuk inseminasi buatan pertama kali
dikembangkan untuk industri ternak untuk membuat banyak sapi dihamili oleh seekor sapi
jantan untuk meningkatkan produksi susu.

b. Ekstensifikasi
Langkah ekstensifikasi diusahakan dengan pengusahaan usaha-usaha swasta di bidang
peternakan dan industri pengolahan hasil-hasil ternak, antara lain dengan meberikan kredit
jangka panjang bagi peternak atau investor.

6
c. Diversifikasi dan Perbaikan mutu.
Dilakukan melalui pemaduan usaha peternakan dengan usaha tani lainnya. Adapun
perbaikan mutu ternak diusahakan dengan meningkatkan penyebaran dan pembiakan bibit
ternak unggul di kalangan petani ternak.
Populasi ternak di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan terutama
pertumbuhan ayam pedaging. Namun meskipun mengalami peningkatan, subsektor
peternakan masih belum sepenuhnya terbangun optimal. Para peternak belum memiliki
daya tawar yang mantap, mereka cenderung menerima dari para pedagang atau perantara
dalam bisnis peternakan.

5. Subsektor perikanan
Subsektor perikanan berbeda dengan keempat subsektor lainnya. Tanaman pangan dan
peternakan bersifat substitusi impor, sedangkan perkebunan dan kehutanan cenderung
diprioritaskan untuk memenuhi keperluan dalam negeri. Namun subsektor perikanan
disamping untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga sebagai komoditas ekspor. Dilihat
dari tempat budidayanya, subsektor ini dibedakan menjadi perikanan darat dan perikanan laut.
Subsektor perikanan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini bersumber
pada dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu pertambahan jumlah rumah tangga perikanan
serta produktivitas jumlah rumah tangga perikanan yang berkembang.
Produktivitas perikanan di Indonesia sebenarnya masih bisa lebih bagus lagi mengingat
Indonesia sebagai negara perairan.Penyebabnya adalah perikanan laut yang 75 % menguasai
sektor perikanan terhambat produksinya karena sarana yang kurang memadai.Banyak
penangkap ikan yang hanya terdiri dari kapal-kapal kecil dan menengah.Penyebab kedua,
rendahnya pertumbuhan subsektor perikanan ialah menurunnya nilai produksi ikan akibat
adanya larangan mengoperasikan pukat harimau.Apabila kapal-kapal penangkap ikan junis
pukat harimau diijinkan beroperasi maka hal tersebut akan menurunkan hasil produktivitas
perikanan kecil. Ketiga, sering terjadinya pencurian ikan secra besar-besaran oleh kapal-kapal
asing yang lolos dari patroli pantai perairan.Keempat berkaitan dengan perikanan darat,
khususnya produksi udang yakni rendahnya produktivitas lahan udang.Sampai tahun 1990
produktivitas tambak udang di Indonesia rata-rata hanya 0,5 ton per hektar padahal beberapa
negara tetangga produksinya mencapai 5 ton per hektar.
Subsektor ini tidak terlalu mendapat perhatian serius dari pemerintah, khususnya bila
dibandingkan dengan subsektor tanaman pangan.Hal ini karena tanaman pangan yang lebih
dominan penting dibanding dengan perikanan.

7
D. Peranan dan Pentingnya Sektor Pertanian

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki daratan yang sangat luas sehingga
mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah pada sektor pertanian. Pertanian dapat
dilihat sebagai suatu yang sangat potensial dalam empat bentuk kontribusinya terhadap
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional yaitu sebagai berikut:
1. ekspansi dari sektor-sektor ekonomi lainnya sangat tergantung pada pertumbuhan
output di bidang pertanian, baik dari sisi permintaan maupun penawaran sebagai
sumber bahan baku bagi keperluan produksi di sektor-sektor lain seperti industri
manufaktur dan perdagangan.
2. Pertanian berperan sebagai sumber penting bagi pertumbuhan permintaan domestik
bagi produk-produk dari sektor-sektor lainnya.
3. Sebagai suatu sumber modal untuk investasi di sektor-sektor ekonomi lainnya.
4. Sebagai sumber penting bagi surplus perdagangan (sumber devisa).

Sektor pertanian merupakan sektor yang tetap memiliki peranan yang penting dalam
struktur perekonomian nasional. Beberapa alasan yang mendasari pentingnya pertanian
diIndonesia: (1) potensi sumberdayanya yang besar dan beragam (2) pangsa terhadap
pendapatan nasional cukup besar (3) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya
pada sektor ini, yaitu 50% jumlah penduduk (Nainggolan, 2005) (4) menjadi basis
pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Selain itu, pertanian tropika yangmerupakan sektor yang
menjanjikan, melihat pontensi sumberdaya alam Indonesia yang begitu besar.
Peran pertanian dalam pembangunan dapat dikelompokan menjadi 3 kegiatan pokok,
antara lain : 1.Menyumbang produk domestic bruto nasional 2.Memberikan kesempatan kerja
3.Sebagai sumber penerimaan devisa hasil ekspor komoditi. Indonesia adalah negara
kepulauan yang memiliki daratan yang sangat luas sehinggamata pencaharian penduduk
sebagian besar adalah pada sektor pertanian. Pertanian dapat dilihatsebagai suatu yang sangat
potensial dalam empat bentuk kontribusinya terhadap pertumbuhandan pembangunan
ekonomi nasional yaitu sebagai berikut:- ekspansi dari sektor-sektor ekonomi lainnya sangat
tergantung pada pertumbuhan output di bidang pertanian, baik dari sisi permintaan maupun
penawaran sebagai sumber bahan baku bagi keperluan produksi di sektor-sektor lain seperti
industri manufaktur dan perdagangan.

8
Pertanian berperan sebagai sumber penting bagi pertumbuhan permintaan domestik
bagi produk-produk dari sektor-sektor lainnya.- Sebagai suatu sumber modal untuk investasi
di sektor-sektor ekonomi lainnya.- Sebagai sumber penting bagi surplus perdagangan (sumber
devisa).

1. Peran terhadap kesempatan kerja


Di suatu Negara besar seperti Indonesia, di mana ekonomi dalam negerinya masih
didominasi oleh ekonomi pedesaan sebagian besar dari jumlah penduduknya atau jumlah
tenaga kerjanya bekerja di pertanian. Di Indonesia daya serap sektor tersebut pada tahun 2000
mencapai40,7 juta lebih. Jauh lebih besar dari sector manufaktur. Ini berarti sektor pertanian
merupakan sektor dengan penyerapan tenaga kerja yang tinggi.Kalau dilihat pola perubahan
kesempatan kerja di pertanian dan industri manufaktur, pangsa kesempatan kerja dari sektor
pertama menunjukkan suatu pertumbuhan tren yang menurun, sedangkan di sektor kedua
meningkat. Perubahan struktur kesempatan kerja ini sesuaidengan yang di prediksi oleh teori
mengenai perubahan struktur ekonomi yang terjadi dari suatu proses pembangunan ekonomi
jangka panjang, yaitu bahwa semakin tinggi pendapatan per kapita, semakin kecil peran dari
sektor primer, yakni pertambangan dan pertanian, dan semakin besar peran dari sektor
sekunder, seperti manufaktur dan sektor-sektor tersier di bidang ekonomi. Namun semakin
besar peran tidak langsung dari sektor pertanian, yakni sebagai pemasok bahan baku bagi
sektor industri manufaktur dan sektor-sektor ekonomi lainnya.

2. Peran terhadap peningkatan devisa

Pertanian juga mempunyai kontribusi yang besar terhadap peningkatan devisa, yaitu
lewat peningkatan ekspor dan atau pengurangan tingkat ketergantungan Negara tersebut
terhadapimpor atas komoditi pertanian. Komoditas ekspor pertanian Indonesia cukup
bervariasi mulai dari getah karet, kopi, udang, rempah-rempah, mutiara, hingga berbagai
macam sayur dan buah.Peran pertanian dalam peningkatan devisa bisa kontradiksi dengan
perannya dalam bentuk kontribusi produk. Kontribusi produk dari sector pertanian terhadap
pasar dan industridomestic bisa tidak besar karena sebagian besar produk pertanian di ekspor
atau sebagian besar kebutuhan pasar dan industri domestic disuplai oleh produk-produk
impor.

9
Artinya peningkatan ekspor pertanian bisa berakibat negative terhadap pasokan pasar
dalam negeri, atau sebaliknya usaha memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri bisa menjadi
suatu factor penghambat bagi pertumbuhan ekspor pertanian. Untuk mengatasinya ada dua
hal yang perlu dilakukan yaitu menambah kapasitas produksi dan meningkatkan daya saing
produknya. Namun bagi banyak Negara agraris, termasuk Indonesia melaksanakan dua
pekerjaan ini tidak mudah terutama karena keterbatasan teknologi, SDM, dan modal.

3. Penyumbang Produk Domestik Bruto

Di mata dunia, Indonesia dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah.


Hampir sebagian besar tanah di Indonesia adalah tanah yang subur. Dengan potensi alam yang
menjanjikan, tak heran apabila Indonesia disebut sebagai negara agraris. Sektor pertanian dapat
diandalkan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Namun sayangnya, Produk Domestik
Bruto (PDB) sektor pertanian menurun signifikan dari 15,3% pada tahun 2010 menjadi 10,9%
pada tahun 2018. Saat ini, sektor pertanian tumbuh 3,87% di bawah pertumbuhan ekonomi
yang mencapai 5,17% (Kementerian Pertanian RI), hal ini cukup baik meskipun belum optimal.
Program dan kebijakan pembangunan pertanian yang dijalankan pemerintah saat ini mampu
mendongkrak dan berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Terbukti
dalam kurun waktu empat tahun terakhir, Produk Domestik Bruto (PDB) pada sektor pertanian
memang terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.

Selama periode 2013-2017, akumulasi tambahan nilai PDB Sektor pertanian yang
mampu dihasilkan mencapai Rp 1.375 Triliun atau naik 47 persen. Bahkan tercatat pada tahun
2018, nilai PDB meningkat tajam mencapai Rp 395,7 triliun dibandingkan Triwulan III tahun
lalu yang hanya Rp 375,8 triliun (BPS).

Selain tumbuh positif, peran sektor pertanian dalam pertumbuhan ekonomi nasional
juga semakin penting dan strategis, hal ini terlihat dari kontribusinya yang semakin meningkat.
Pada tahun 2014, Sektor Pertanian (termasuk kehutanan dan perikanan) berkontribusi sekitar
13,14 persen terhadap ekonomi nasional dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 13,53 persen.

Jika diperhitungkan dengan industri agro dan penyediaan makanan dan minuman yang
berbasis bahan baku pertanian, kontribusinya bisa mencapai 25,84 persen.

10
Dan ini berdampak pada perekonomian skala nasional.Sektor pertanian, menjadi semakin
penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut turut tergambarkan dari inflasi
bahan pangan terkendali, jumlah penduduk miskin di pedesaan semakin menurun dan
kesejahteraan petani semakin membaik.

Inflasi kelompok bahan makanan terus menurun, dari 10,57 persen pada tahun 2014,
masing-masing menjadi 4,93 persen pada tahun 2015 dan 5,69 persen pada tahun 2016. Bahkan
tahun 2017 turun menjadi 1,26 persen,Inflasi kelompok bahan makanan terus menurun. Artinya
bisa dikatakan dalam sejarah Indonesia baru kali ini inflasi bahan makanan atau pangan lebih
rendah dari inflasi umum yang hanya 3,6 persen. Keberhasilan pembangunan pertanian juga
tercermin dari kesejahteraan petani. Kesejahteraan itu bisa dilihat secara langsung melalui
indikator Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) dan menurunnya jumlah penduduk miskin di
pedesaan.

Pada tahun 2014 nilai NTUP (Pertanian Sempit tanpa Perikanan) hanya sebesar 106,05;
dan pada tahun 2015 dan 2016 berturut-turut meningkat menjadi 107,44 dan 109,83. Nilai
NTUP pada tahun 2017 dan 2018 sampai bulan Desember juga membaik menjadi 110,03 dan
111,56. Jumlah penduduk miskin di pedesaan juga terus menurun, pada Maret 2015 masih
sekitar 14,21 persen (17,94 juta jiwa) dan pada bulan yang sama tahun 2016 dan 2017 turun
menjadi 14,11 persen (17,67 juta jiwa) dan 13,93 persen (17,09 juta jiwa). Demikian juga pada
Maret 2018, kembali turun menjadi 13,47 persen (15,81 juta jiwa).

Membaiknya kesejahteraan petani juga bisa dilihat dari menurunnya indek Gini Rasio
di perdesaan. Ini merupakan cermin dari pemerataan pendapatan di pedesaan yang terus
membaik. Pada tahun 2015, indek Gini Rasio di perdesaan sebesar 0,334 dan pada tahun 2016
dan 2017 turun masing-masing menjadi 0,327 dan 0,320. Atau dengan kata lain ketimpangan
pendapatan antar rumah tangga di pedesaan semakin rendah. Yang perlu dicatat adalah
kerberhasilan telah berdampak pada pemerataan pendapatan di pedesaan. Kondisi mereka jauh
lebih baik dibanding warga perkotaan.

Satu-satunya faktor eksternal yang tidak bisa dipengaruhi oleh manusia adalah iklim,
walaupundengan kemajuan teknologi saat ini pengaruh negatif dari cuaca buruk terhadap
produksi pertanian bisa diminimalisir.

11
Artikel klasik oleh Johnston dan Mellor (1961) mencatat lima peran pertanian dalam
pembangunan ekonomi:
1. meningkatkan penyediaan pangan untuk konsumsi domestik;
2. merilis tenaga kerja untuk industri;
3. memperbesar ukuran pasar untuk output industri;
4. meningkatkan suplai tabungan domestik; dan
5. menghasilkan devisa negara.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pertanian yang dimaksud dalam konsep pendapatan nasional adalah pertanian dalam
arti luas.Di Indonesia, ada 5 subsektor pertanian yaitu sektor tanaman pangan,perkebunan,
kehutanan, peternakan, dan perikanan.
Perkembangan petani di Indonesia dibagi kedalam 3 zaman yaitu:
1. Petani pada zaman kerajaan- kerajaan Indonesia kuno
2. Petani pada masa penjajahan
3. Petani Indonesia sesudah kemerdekaan
Di Indonesia, sektor pertanian dalam arti luas ini dipilah- pilah menjadi lima subsektor
yaitu:
1. Subsektor tanaman pangan
2. Subsektor perkebunan
3. Subsektor kehutanan
4. Subsektor peternakan
5. Subsektor perikanan
Sektor pertanian merupakan sektor yang tetap memiliki peranan yang penting dalam
struktur perekonomian nasional. Beberapa alasan yang mendasari pentingnya pertanian
diIndonesia: (1) potensi sumberdayanya yang besar dan beragam (2) pangsa terhadap
pendapatan nasional cukup besar (3) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada
sektor ini, yaitu 50% jumlah penduduk (Nainggolan, 2005) (4) menjadi basis pertumbuhan
ekonomi di pedesaan. Selain itu, pertanian tropika yangmerupakan sektor yang menjanjikan,
melihat pontensi sumberdaya alam Indonesia yang begitu besar.
Peran pertanian dalam pembangunan dapat dikelompokan menjadi 3 kegiatan pokok,
antara lain : 1.Menyumbang produk domestic bruto nasional 2.Memberikan kesempatan kerja
3.Sebagai sumber penerimaan devisa hasil ekspor komoditi.

13
DAFTAR PUSTAKA

https://kumparan.com/kuntoro-boga/kontribusi-pertanian-dalam-perekonomian-
1547014231301844525

http://pakguruhonorer.blogspot.com/2015/06/makalah-sektor-pertanian-di-
indonesia.html

https://blog.ub.ac.id/nitasetiadewi/2013/10/01/peran-sektor-pertanian-dalam-
perekonomian-indonesia/

14
Pertanyaan

1) Apa saja kendala dalam pengembangan sektor pertanian ?


2) Bagaimana cara mengatasi kendala-kendala tersebut?
3) Apa yang harus dilakukan untuk menarik minat mahsiswa guna meciptakan
regenerasi petani?

Jawaban

1) Kendala-kendala atau permasalahan dalam sektor pertanian, yaitu:


a. Kurangnya pengembangan sistem pertanian yang berdasarkan agrobisnis dan
agroindustri.
b. Lemahnya struktur permodalan dan akses terhadap sumber permodalan bagi
petani kecil (modal yang didapatkan hanya kecil karna berasal dari pendapatan
sebelumnya).
c. Berkurangnya ketersediaan lahan dan masalah kesuburan tanah.
d. Terbatasnya kemampuan petani dalam penguasaan teknologi.
e. Kesejahteraan petani Indonesia yang kurang, sehingga mengurangi minat para
generasi muda untuk bekerja dalam sektor pertanian.

2) Cara mengatasi kendala-kendalam dalam sektor pertanian, yaitu:


a. Intensifikasi pertanian, yaitu menerapkan panca usaha tani. Panca usaha tani
adalah kegiatan pengairan irigasi, cara pemupukan, pemberantasan hama dan
penyakit, teknik penanaman, dan pemakaian bibit unggul.
b. Ekstensifikasi pertanian, yaitu memperluas lahan pertanian.
c. Diversifikasi pertanian, yaitu penganekaraganan tanaman contohnya sistem
tumpang sari
d. Rehabilitasi pertanian, yaitu memperbaiki lahan pertanian yang rusak contohnya
dengan melakukan reboisasi, pembibitan kembali dan penanaman tanah kembali.
e. Peningkatan anggaran pertanian untuk meningkatkan modal bagi petani baik
berupa dana, alat dan mesin pertanian ataupun pupuk.
f. Meningkatkan program-program untuk pensejahteraan petani.

3) Pemerintah mengadakan suatu program yang bernama “Petani Milenial” dimana


didalamnya generasi muda dianjurkan untuk ikut berpartisipasi dalam membangun
potensi disektor pertanian. Petani muda sebagai pelaku/penyuluh dan kampus juga
memiliki peranan yang sangat penting.
Kampus diharapkan menjadi perubahan paradigma bahwa pertanian merupakan salah
satu sektor yang sangat menjanjikan jika dikelola dengan benar, dan memperhatikan
kaidah agrobisnis yang tepat.