Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III

COLIC RENAL DI RUANG CEMPAKA 2

RSUD Dr. LOEKMONOHADI KUDUS

Di susun oleh :

Nama : NOVITA EKA MUFARROCAH

NIM : 920173O83

3B – S1 ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS

TAHUN 2019
ASUHAN KEPERAWATAN COLIC RENAL

A. DEFINISI
Kolik renal adalah nyeri yang di sebabkan oleh obstruksi akut di ginjal,pelvis
renal atau ureter oleh batu. Nyeri ini timbul akibat peregangan,hiperperitalsis dan
spasme otot polos pada sistem pelviokalises ginjal dan ureter sebagai usaha untuk
mengatasi obstruksi.nyeri di rasakan di fkank area yaitu daerah sudut kostovertebra
kemudian menjalar ke dinding depan abdomen,ke region inguinal,hingga di daerah
kemaluan.nyeri ini muncul secara tiba;tiba dan sangat berat sehingga di gambarkan
sebagai nyeri teberat.kolik renal sering di sertai mual muntah,hematuria,demam,dan
infeksi (Purnomo 2015). Batu saluran kemih adalah adanya batu di traktus urinarius.
(ginjal, ureter, atau kandung kemih, uretra) yang membentuk kristal; kalsium,
oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat dan magnesium.(Brunner & Suddath,2010).
Ureterolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu
ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal.Batu ureter pada umumnya berasal dari
batu ginjal yang turun ke ureter. Batu ureter mungkin dapat lewat sampai ke kandung
kemih dan kemudian keluar bersama kemih.( Nursalam.2013)
B. ETIOLOGI
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih sampai saat ini belum diketahui pasti,
tetapi ada beberapa faktor predisposisi terjadinya batu pada saluran kemih yaitu:
1. Infeksi
Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan
menjadi inti pembentukan batu saluran kemih . Infeksi bakteri akan memecah
ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH urine menjadi alkali.
2. Stasis dan Obstruksi urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah pembentukan batu saluran
kemih.
3. Ras
Pada daerah tertentu angka kejadian batu saluran kemih lebih tinggi daripada
daerah lain, Daerah seperti di Afrika Selatan hampir tidak dijumpai penyakit batu
saluran kemih.
4. Keturunan
5. Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi
kemungkinan terbentuknya batu ,sedangkan kurang minum menyebabkan kadar
semua substansi dalam urine meningkat
6. Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu
daripada pekerja yang lebih banyak duduk.
7. Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat
sedangkan asupan air kurang dan tingginya kadar mineral dalam air minum
meningkatkan insiden batu saluran kemih
8. Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditasbatu
saluran kemih berkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih
telur lebih sering menderita batu saluran kemih ( buli-buli dan Urethra ).
C. ANATOMI GINJAL
Ginjal adalah bagian utama dari sistem perkemihan yang juga masuk
didalamnya ureter, kandung kemih dan uretra. Ginjal terletak pada rongga abdomen
posterior, dibelakang peritonium diarea kanan dan kiri dari kolumna vertebralis.
Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Pada
orang dewasa normal panjangnya 12 – 13 cm, lebar 6 cm dan beratnya antara 120
-150 gram. Setiap ginjal memiliki korteks dibagian luar dan di bagian dalam yang
terbagi menjadi piramide-piramide. Pada setiap piramide membentuk duktus papilaris
yang selanjutnya menjadi kaliks minor, kaliks mayor dan bersatu membentuk ginjal
tempat terkumpulnya urine. Ureter menghubungkan ginjal dengan kandung kemih.
Garis-garis yang terlihat pada piramide disebut nefron yang merupakan satuan
fungsional ginjal. Setiap ginjal terdiri dari satu juta nefron. Setiap nefron terdiri atas
glomerulus yang merupakan lubang-lubang yang terdapat pada piramide-piramide
renal, membentuk simpul dan kapiler badan satu mulpigli, kapsul bowman, tubulus
proximal, ansa henle dan tubulus distal.
Ureter menghubungkan pelvis ginjal dengan kandung kemih. Kedua ureter merupakan
saluran yang panjangnya 10 – 12 inc. Ureter berfungsi menyalurkan urin ke kandung
kemih. Kandung kemih mempunyai tiga muara. Dua maura ureter dan satu muara
uretra. Kandung kemih sebagai tempat menyimpannya urin dan mendorong urin
untuk keluar. Uretra adalah saluran kecil yang berjalan dari kandung kemih sampai ke
luar tubuh yang disebuat meatus uretra.
Fungsi ginjal:
1. Fungsi ekskresi
a. Mempertahankan osmolaritas plasma sekitar 285 cm osmol dengan mengubag
ekskresi air.
b. Mempertahankan kadar masing-masing elektrolit plasma dalam rentang
normal.
c. Mempertahankan pH plasma dengan mengeluarkan kelebihan dan membentuk
kembali Hco3.
d. Mengekskresikan produk ahkir nitrogen dan metabolisme protein terutama
urea, asam urat dan kretinin.
2. Fungsi non ekskresi
a) Menghasilkan renin, penting untuk mengatur tekanan darah.
b) Menghasilkan eritropoitin, faktor penting dalam stimulasi produksi sel darah
merah dan sumsum tulang.
c) Metabolisme vitamin D menjdai bentuk aktifnya.
d) Degradasi insulin.
e) Menghasilkan prostaglandin.
D. TANDA DAN GEJALA
Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius tergantung pada adanya
obstruksi, infeksi dan edema.
Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi piala ginjal serta ureter
proksimal.
a) Infeksi pielonefritis dan sintesis disertai menggigil, demam dan disuria, dapat
terjadi iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu menyebabkan sedikit
gejala, namun secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal.
b) Nyeri hebat dan ketidaknyamanan.
1) Batu di ginjal
a) Nyeri dalam dan terus menerus di area kontovertebral.
b) Hematuri.
c) Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita nyeri
kebawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis.
d) Mual dan muntah.
e) Diare.
2) Batu di ureter
a. Nyeri menyebar kepaha dan genitalia.
b. Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urin yang keluar.
c. Hematuri akibat abrasi batu.
d. Biasanya batu keluar secara spontan dengan diameter batu 0,5 – 1 cm Batu di
kandung kemih
e. Biasanya menimbulkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus
urinarius dan hematuri.
f. Jika batu menimbulkan obstruksi pada leher kandung kemih akan terjadi
retensi urin.
3) Teori terbentuknya batu
a. Teori Intimatriks
Terbentuknya BSK. memerlukan adanya substansi organik sebagai inti
.Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoproptein A yang
mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.
b. Teori Supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti; sistin, santin,
asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c. Teori Presipitasi-Kristaliasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substasi dalam urine
.Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin,santin,asam dan garam
urat,urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat.
d. Teori Berkurangnya faktor penghambat
Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfatpolifosfat,
sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya
batu saluran kemih.
E. PATOFISISIOLOGI

Mekanisme nyeri yang berasal dari ginjal terdiri dari dua tipe yaitu kolik renal
dan non kolik renal. Kolik renal terjadi oleh karena peningkatan tekanan dinding dan
peregangan dari sistem genitourinary. Non kolik renal disebabkan oleh karena distensi
dari kapsul renal. Secara klinis sulit untuk membedakan kedua tipe ini. Peningkatan
tekanan pelvis renal oleh karena obstruksi berupa batu akan menstimulasi sintesis dan
pelepasan prostaglandin yang secara langsung menyebabkan spasme otot ureter.
Kolik renal terjadi karena obstruksi dari urinary flow, dan diikuti dengan peningkatan
tekanan dinding saluran kemih (ureter dan pelvik), spasme otot polos ureter, edema
dan inflamasi, meningkatnya peristaltik serta peningkatan tekanan di daerah
proksimal. Peningkatan tekanan di saluran kemih ini serta peningkatan tekanan aliran
darah dan kontraksi otot polos uretra merupakan mekanisme utama timbulnya nyeri
atau kolik ini . Peningkatan tekanan di pelvik renal akan menstimulasi sintesis dan
pelepasan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi dan diuresis dimana hal ini akan
menyebabkan peningkatan tekanan intrarenal prostaglandin berperan langsung pada
ureter untuk spasme otot polos ureteral. obstruksi saluran kemih menyebabkan
lepasnya prostaglandin sebagai respon terhadap inflamasi. Beberapa waktu pertama
obstruksi ini perbedaan tekanan antara glomerulus dan pelvik menjadi sama sehingga
berakibat GFR (Glomerular Filtration Rate) dan aliran darah ginjal menurun. Jika
obstruksi ini tidak diatasi maka dapat terjadi gagal ginjal akut (acute renal failure).

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Urinalisa; warna mungkin kuning ,coklat gelap,berdarah,secara umum
menunjukan SDM, SDP, kristal ( sistin,asam urat,kalsium oksalat), pH asam
(meningkatkan sistin dan batu asam urat) alkali ( meningkatkan magnesium,
fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), urine 24 jam :kreatinin, asam urat
kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukan
ISK, BUN/kreatinin serum dan urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada
urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan
iskemia/nekrosis.
b. Darah lengkap: Hb,Ht,abnormal bila psien dehidrasi berat atau polisitemia.
c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal ( PTH. Merangsang
reabsobsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.
d. Foto Rntgen; menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area
ginjal dan sepanjang ureter.
e. IVP: memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri, abdominal
atau panggul.Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
f. Sistoureterokopi;visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu atau
efek obstruksi.
g. USG ginjal: untuk menentukan perubahan obstruksi,dan lokasi batu.

H. PENATALAKSANAAN MEDIK
a. Tujuan:

1) Menghilangkan obstruksi

2) Mengobati infeksi.

3) Mencegah terjadinya gagal ginjal.

4) Mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi (terulang kembali).

b. Operasi dilakukan jika:

1) Sudah terjadi stasis/bendungan.

2) Tergantung letak dan besarnya batu, batu dalam pelvis dengan bendungan

positif harus dilakukan operasi.

c. Therapi

1) Analgesik untuk mengatasi nyeri.

2) Allopurinol untuk batu asam urat.

3) Antibiotik untuk mengatasi infeksi.

d. Diet

Diet atau pengaturan makanan sesuai jenis batu yang ditemukan.


1) Batu kalsium oksalat

Makanan yang harus dikurangi adalah jenis makanan yang mengandung kalsium

oksalat seperti: bayam, daun sledri, kacang-kacangngan, kopi, coklat; sedangkan

untuk kalsium fosfat mengurangi makanan yang mengandung tinggi kalsium

seperti ikan laut, kerang, daging, sarden, keju dan sari buah.

2) Batu struvite; makanan yang perlu dikurangi adalah keju, telur, susu dan daging.

3) Batu cystin; makanan yang perlu dikurangi antara lain sari buah, susu, kentang.

4) Anjurkan konsumsi air putih kurang lebih 3 -4 liter/hari serta olah raga secara

teratur

I.PENGKAJIAN

a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan


1) Riwayat penyakit ginjal akut dan kronik.
2) Riwayat infeksi saluran kemih.
3) Pajanan lingkungan: zat-zat kimia.
4) Keturunan.
5) Alkoholik, merokok.
6) Untuk pasien wanita: jumlah dan tipe persalinan (SC, forseps, penggunaan
kontrasepsi).
b. Pola nutrisi metabolik
1) Mual, muntah.
2) Demam.
3) Diet tinggi purin oksalat atau fosfat.
4) Kebiasaan mengkonsumsi air minum.
5) Distensi abdominal, penurunan bising usus.
6) Alkoholik
c. Pola eliminasi
1) Perubahan pola eliminasi: urin pekat, penurunan output.
2) Hematuri.
3) Rasa terbakar, dorongan berkemih.
4) Riwayat obstruksi.
5) Penurunan hantaran urin, kandung kemih.
d. Pola aktivitas dan latihan
1) Pekerjaan (banyak duduk).
2) Keterbatasan aktivitas.
3) Gaya hidup (olahraga).
e. Pola tidur dan istirahat
1) Demam, menggigil.
2) Gangguan tidur akibat rasa nyeri.
f. Pola persepsi kognitif
1) Nyeri: nyeri yang khas adalah nyeri akut tidak hilang dengan posisi atau
tindakan lain, nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi
2) Pengetahuan tentang terjadinya pembentukan batu.
3) Penanganan tanda dan gejala yang muncul.
g. Pola reproduksi dan seksual
1) Keluhan dalam aktivitas seksual sehubungan dengan adanya nyeri pada
saluran kemih.
h. Pola persepsi dan konsep diri
1) Perubahan gaya hidup karena penyakit.
2) Cemas terhadap penyakit yang diderita.
i. Pola mekanisme copying dan toleransi terhadap stres
1) Adakah pasien tampak cemas
2) Bagaimana mengatasi masalah yang timbul.
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul adalah ;
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
b. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare,muntah.
c. Hambatan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi saluran kemih

K. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO. DIAGNOSA NOC NIC


1 Nyeri akut Setelah dilakukan O: kaji kultur yang mempengaruhi respon
tindakan keperawatan nyeri
berhubungan
selama 2 x24 jam, di N: lakukan tindakan terapi benson untuk
dengan agen harapkan nyeri mengurangi rasa nyeri
berkurang atau hilang E:ajarkan keluarga untuk cara mengalihkan
cedera
biologis dengan skala 2 dengan nyeri
kriteria hasil: C:evaluasi bersama pasien dan tim medis
1. Nyeri berkurang tentang ketidakefektifan kontrol nyeri
dengan skala 0-3
2. Dapat mengontrol
rasa nyeri
3. Ekspresi rileks dan
tenang
2 Resiko Setelah dilakukan O:observasi adanya
tindakan keperawatan odem,asites,peningkatan BB
kekurangan
selama 2 x24 jam, di N:pantau hasil lab yang relavan terhadap
volume harapkan volume cairan retensi cairan
terpenuhi dengan E:ajarkan pasien dan keluarga tentang
cairan
kriteria hasil: pembatasan intake cairan
berhubungan 1.keseimbangan C:kolaborasi untuk konseling nutrisi
cairan adekuat
dengan
diare,muntah.

3 Hambatan Setelah dilakukan O:kaji kemampuan klien untuk BAK


tindakan keperawatan N:lakukan rangsangan untuk BAK dengan
eliminasi
selama 2 x24 jam, di kompres hangat dingin
urine dengan kriteria hasil: E:ajarkan teknik kegel exercise
1. Bebas dari infeksi C:kolborasi dengan tim medis: pemberian
berhubungan
saluran kemih terapi.
dengan 2. Leukosit normal
(4500-10.000)
infeksi
saluran
kemih

DAFTAR PUSTAKA

Herdman,T.Heather.2018.NANDA International nursing diagnoses:definitions and

classification 2018-2020. Ed.11.Jakarta:EGC

Elizabert swanson,dkk.2016. Nursing Outcome Classification (NOC).Ed.6.Singapore


Gloria Bulechek,dkk.2016.Nursing Interventions Classification.Ed. 6.Singapore