Anda di halaman 1dari 21

INKONSISTENSI SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA

TERHADAP KUALITAS PENDIDIKAN SERTA UPAYA


PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN

Sabar
Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Jambi
Email : sabarmsc@gmail.com

ABSTRAK

Pendidikan adalah kunci utama dalam meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di kancah dunia
internasional. Namun dalam penerapan sistem pendidikan Indonesia terdapat inkonsistensi sistem
pendidikan yang berpengaruh pada kualitas pendidikan. Salah satu inkonsistensi itu adalah setiap
berganti pemerintahan maka sistem pendidikan pun ikut berubah sesuai kehendak penguasa yang
berkuasa pada saat itu. Pada penelitian ini akan membahas potret kualitas pendidikan Indonesia
terhadap inkonsistensi pada sistem pendidikan serta upaya peningkatan kualitas pendidikan. Metode
penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode studi literatur.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, serta pengumpulan berbagai
dokumen yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan
yang bersumber pada karakter memiliki potensi sebagai sistem pendidikan yang diutamakan untuk
menciptakan mentalitas kemandirian dan martabat bangsa yang sesuai dengan jati diri bangsa
Indonesia sebagai bangsa yang beradab.

Kata kunci : Inkonsistensi, Kualitas Pendidikan, Sistem Pendidikan, Indonesia

INDONESIAN EDUCATION SYSTEMS CONSISTENCY OF


EDUCATION QUALITY AND EFFORTS TO IMPROVE EDUCATION
QUALITY

ABSTRACT

Education is the main key in increasing the competitiveness of the Indonesian people in the
international world. But in the application of the Indonesian education system there are
inconsistencies in the education system that affect the quality of education. One inconsistency is that
each change of government the educational system also changes according to the will of the ruling
authority at that time. This study will discuss a portrait of the quality of Indonesian education
towards inconsistencies in the education system and efforts to improve the quality of education. The
research method used is descriptive qualitative using the method of literature study. Data collection
is done by in-depth interviews, observations, and the collection of various documents relevant to the
research topic. The results of this study indicate that education originating from the character has
the potential as an education system that is prioritized to create a mentality of independence and
dignity of the nation in accordance with the identity of the Indonesian nation as a civilized nation.

Keywords : Inconsistency, Education Quality, Education System, Indonesia

1
PENDAHULUAN

Tujuh puluh empat tahun sudah Indonesia merdeka. Namun fakta-fakta


menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum bisa merdeka secara utuh. Era
reformasi yang awalnya dijadikan sebagai harapan untuk mengawal sebuah
perubahan, sampai sekarang belum juga menampakkan cita-cita yang menjanjikan.
Pendidikan di Indonesia semakin tidak konsisten sistem pendidikannya dan
kebijakannya(Amanah Alim, 2009). Saat ini, Pendidikan nasional tengah
mengalami disorientasi. Banyak hal yang harus diubah dan dibenahi dalam
pendidikan Indonesia. Pendidikan Indonesia hari ini boleh dibilang pendidikan
yang berorientasi pada "tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak tahu banyak
tentang satu hal". Penyebab hal ini karena inkonsistensi sistem pendidikan yang
selalu berulang pada saat pergantian pemimpin negara.

Inkonsistensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suka


berubah-ubah atau tidak tetap (KBBI, 2019). Hal ini berdampak pada pergantian
kurikulum. Pergantian Kurikulum dari masa ke masa dimulai sejak 1947, Indonesia
tercatat telah berganti kurikulum setidaknya sebanyak 10 kali. Rata-rata rentang
waktu pergantian kurikulum juga tak lama, hanya sekitar lima tahun hingga
sembilan tahun. Ada kurikulum yang berganti dalam waktu hanya dua tahun. Ini
sangat berbeda dengan negara maju seperti Jepang misalnya, yang berganti
kurikulum minimal dengan rentang waktu 9 tahun. Pergantian kurikulum di
Indonesia tercatat dimulai tahun 1947 dengan nama “Rencana Pembelajaran” yang
kemudian berganti menjadi “Rencana Pembelajaran Terurai” pada 1953. Kemudian
berganti lagi menjadi kurikulum “Rencana Pendidikan” pada 1964 dan selanjutnya
“Kurikulum 1968”. Pergantian selanjutnya secara berturut-turut adalah “Kurikulum
1975”, “Kurikulum 1984”, “Kurikulum 1999”, “Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK)” 2004, “KTSP 2006”, “Kurikulum 2013”, sebelum akhirnya kembali lagi
pada “KTSP 2006”.

Kalau melihat pemaparan di atas potret pendidikan di Indonesia cukup


memprihatinkan. Di era ini, makin banyak orang pintar di negeri ini. Faktanya

2
sistem pendidikan semakin dikebiri oleh banyak kepentingan dan golongan yang
ingin berkuasa. Sehingga mutu pendidikan pun menjadi taruhannya. Padahal
Pemerintah memberikan anggaran pendidikan mencapai 20% dari total APBN atau
senilai Rp. 419 triliun. Namun tidak berkontribusi signifikan terhadap mutu
pendidikan.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa potret pendidikan indonesia


saat ini bukanlah potret yang sempurna. Pendidikan kita sangat jauh dari harapan.
Potret pendidikan di Indonesia masih sarat dengan wajah-wajah buram, dan karena
itu menimbulkan berbagai kekecewaan. Ada jurang yang lebar antara tujuan yang
ideal dan realitas di lapangan. Berikut ini adalah data-data hasil penelitian dari
beberapa lembaga internasional yang fokus terhadap pendidikan dan sumber daya
manusia. Fenomena yang tidak menyenangkan ini bisa menjadi bahan kajian dalam
kerangka membangun pendidikan yang lebih bermutu, beradab, dan beridentitas
ke-Indonesia-an (Amanah Alim, 2009).

Berdasarkan data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM)


Report 2016, mutu pendidikan di Indonesia hanya menempati peringkat ke-10 dari
14 negara berkembang. Sedangkan kualitas guru sebagai komponen penting dalam
pendidikan tergolong memprihatinkan, berada di urutan ke-14 dari 14 negara
berkembang di dunia. Mutu pendidikan, masih menjadi soal di Indonesia. Adalah
fakta 75% sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal
pendidikan. Bahkan kualitas pendidikan Indonesia berada di peringkat 40 dari 40
negara (The Learning Curve, 2014). Belum lagi maraknya kekerasan yang terjadi
di sekolah. Berapa banyak siswa yang meregang nyawa akibat kekerasan di dunia
pendidikan. Berdasarkan Ikhtisar Eksekutif Strategi Nasional Penghapusan
Kekerasan Terhadap Anak 2016-2020 oleh Kemen-PPPA terlihat bahwa 84% siswa
pernah mengalami kekerasan di sekolah dan 50% anak pernah mengalami
perundungan (bullying) di sekolah.

Sementara potret lainnya, sekitar 27 persen pengguna narkoba di Indonesia


berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa (Puslitkes UI dan BNN, 2016). Data

3
yang mencengangkan dan mewarnai pendidikan di Indonesia adalah 24 persen
mahasiswa dan 23,3 persen pelajar setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam
(Survei BIN, 2017). Pendidikan di Indonesia, boleh dibilang salah arah jika tidak
ingin disebut gawat darurat. Mulai dari krisis identitas, krisis tindak kekerasan,
hingga krisis kebangsaan menyelimuti langit pendidikan di Indonesia.
Indonesia memang harus terus membenahi kurikulum pendidikannya. Sebagai
negara berkembang, Indonesia masih harus banyak berbenah. Lihat saja hasil survei
tahun 2012 yang dilakukan Programmme for International Student Assessment
(PISA) di bawah Organization Economic Cooperation and Development (OECD)
yang dirilis pada Desember 2013. Indonesia menduduki peringkat paling bawah
dari 65 negara dalam pemetaan kemampuan matematika, membaca, dan sains.
Survei yang dilakukan setiap empat tahun sekali ini menggunakan metode kualitatif
dengan melibatkan responden 510 ribu pelajar berusia 15-16 tahun dari 65 negara
dunia. Mereka mewakili populasi 28 juta siswa berusia 15-16 tahun di dunia serta
80 persen ekonomi global. Survei itu juga mengungkap, generasi muda Indonesia
memiliki kelemahan dalam higher order thinking skills (HOTS) atau kemampuan
berpikir tingkat tinggi. HOTS mengajarkan siswa agar mampu berpikir kritis, logis,
reflektif, metakognitif dan kreatif. Kemampuan berpikir ini akan muncul pada
individu saat dihadapkan pada masalah yang belum pernah ditemui sebelumnya. Itu
artinya, generasi muda Indonesia kurang dapat beradaptasi dan menyelesaikan
masalah-masalah baru yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Padahal ini
merupakan kemampuan serius yang dibutuhkan untuk hidup.(Gerintya, 2019)

Menurut riset oleh Global Talent Competitiveness Index (GTCI) adalah


pemeringkatan daya saing negara berdasarkan kemampuan atau talenta sumber
daya manusia yang dimiliki negara tersebut. Beberapa indikator penilaian indeks
ini adalah pendapatan per kapita, pendidikan, infrastruktur teknologi komputer
informasi, gender, lingkungan, tingkat toleransi, hingga stabilitas politik. Di
ASEAN, Singapura menempati peringkat pertama dengan skor 77,27. Peringkat
berikutnya disusul oleh Malaysia (58,62), Brunei Darussalam (49,91), dan Filipina

4
(40,94). Sementara itu, Indonesia ada di posisi ke enam dengan skor sebesar
38,61.(Scholastica Gerintya, 2019).

Gambar Global Talent Competitiveness Index (GTCI)


(Sumber : tirto.id)
Data pemeringkatan dengan penekanan penting pada pendidikan. Beberapa
aspek pendidikan yang menjadi ukuran di antaranya pendidikan formal, vokasi,
literasi baca-tulis-hitung, peringkat internasional universitas, jurnal ilmiah,
mahasiswa internasional, relevansi pendidikan dengan dunia bisnis, jumlah lulusan
teknisi dan peneliti, jumlah hasil riset, dan jurnal ilmiah. Berdasarkan Education
Index yang dikeluarkan oleh Human Development Reports, pada 2017, Indonesia
ada di posisi ketujuh di ASEAN dengan skor 0,622. Skor tertinggi diraih Singapura,
yaitu sebesar 0,832. Peringkat kedua ditempati oleh Malaysia (0,719) dan disusul
oleh Brunei Darussalam (0,704). Pada posisi keempat ada Thailand dan Filipina,
keduanya sama-sama memiliki skor 0,661. (Scholastica Gerintya, 2019).
Berdasarkan data ini sangat miris sistem mutu pendidikan Indonesia karena di era
80-an Indonesia sebagai tempat negara tetangga menuntut ilmu. Selain itu

5
Indonesia sumber ekspor guru ke malaysia. Tapi sekarang Indonesia ekspor
pembantu ke luar negeri. Ini menandakan penurunan kualitas pendidikan Indonesia.

Gambar Education Index yang dikeluarkan oleh Human Development Reports,


(Sumber : tirto.id)

Kualitas pendidikan di Indonesia pada dewasa ini sangat memprihatinkan.


Ini dibuktikan di antaranya oleh data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks
Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari
peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang
menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di
antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 pada 1996, ke-99
pada 1997, ke- 105 pada 1998, dan ke-109 pada 1999. Selain itu, bukti nyata dari
kemerosotan pendidikan di Indonesia adalah terjadinya tawuran, tingkat pelajar
maupun mahasiswa. Aksi tawuran yang biasanya dipicu masalah sepele,
dampaknya sangatlah besar. Masyarakat di seluruh dunia akan menyaksikan lewat

6
media cetak maupun elektronik amburadulnya pendidikan di Indonesia.(Prasetya,
Kristen, & Wacana, 2017).
Berdasarkan laporan Human Development Index (HDI)/ Indek
Pembangunan Manusia Indonesia yang dibuat oleh United Nation Development
Program (UNDP) tahun 2009, Indonesia tergolong kategori Medium Human
Development, berada pada peringkat ke 111 dengan nilai 0,734 dari 158 negara, di
bawah Brunei Darussalam 0,920 (urutan ke 30), Singapura 0,944 (urutan ke 23),
Malaysia 0,829 (urutan ke 66), Pilipina 0,751 (urutan ke 105), Thailand 0,783
(urutan ke 87) yang sesama negara ASEAN. Index pembangunan manusia di
Indonesia berada di bawah negara-negara tetangga. Ketika dilihat dari tahun
kemerdekaannya pun Indonesia bisa dikatakan paling awal dibanding dengan yang
lain.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Indeks (HDI)
adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, “melek” huruf, pendidikan
dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk
mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang
atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan
ekonomi terhadap kualitas hidup.2 Jadi dari hasil pengukuran Index Pembangunan
Manusia dapat kita lihat negara-negara yang tergolong maju, negara berkembang
atau negara terbelakang. Indonesia tergolong negara berkembang berdasarkan
pengukuran IPM, selain itu juga dapat digunakan dalam pengukuran di bidang
pendidikan.
Pada konteks pembangunan pendidikan guru menempati posisi yang paling
sentral. Guru merupakan jantungnya pendidikan. Kebijakan pembaharuan
secanggih apa pun yang dikeluarkan, tanpa peran aktif guru maka akan sia-sia.
Sebagus apa pun kurikulum dengan perencanaan strategi yang matang tanpa
didukung kualitas guru, maka tidak akan ada gunanya. Ini berarti pendidikan yang
baik dan unggul juga bergantung pada mutu guru.
UNESCO dalam laporan The International Commission on Education for
Twenty-first Century, yakni "memperbaiki mutu pendidikan pertama-tama
tergantung perbaikan perekrutan, pelatihan, status sosial, dan kondisi kerja para

7
guru; mereka membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, karakter personal,
prospek profesional, dan motivasi yang tepat jika ingin memenuhi ekspektasi
stakeholder pendidikan. Karena itu, upaya meningkatkan mutu, profesionalisme
dan kesejahteraan para guru adalah suatu keniscayaan. 3 Dalam hal ini mutu guru
di Indonesia patut kita perhatikan karena berkenaan dengan kualitas pendidikan di
Indonesia. Kemudian bagaimana kondisi para guru di Indonesia saat ini ?
Keadaan guru di Indonesia juga cukup memprihatinkan. Kebanyakan guru
belum memiliki profesionalisme yang memadahi dalam menjalankan tugasnya.
Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002- 2003 di berbagai
satuan pendidikan adalah sebagai berikut: untuk SD yang layak mengajar hanya
21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99%
(swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang
layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta). 4 Dapat kita amati dalam
presentasi guru yang layak mengajar, tidak ada yang mencapai 80%, lalu bagaimana
dengan setengah dari kualitas guru yang dikatakan dengan guru yang tidak layak
mengajar?.
Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru
itu sendiri. Berdasarkan Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari
sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-
Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8%
yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah
menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di
tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2
ke atas (3,48% berpendidikan S3)
Penelitian terhadap kualitas pendidikan dasar juga dilakukan oleh Asian
South Pacific Beurau of Adult Education (ASPBAE) dan global campaign for
education. Studi ini dilakukan di 14 negara pada bulan Maret- Juni 2005, yang
dipublikasikan pada bulan Juni 2005, khususnya yang menyangkut aspek kualitas
input/ pengajar/ guru, Indonesia diberi nilai E dan menduduki peringkat paling
buncit. Indonesia sudah dua tahun 2003 dan 2007 ini prestasi sains di TIMSS
memalukan, selalu kalah dengan Negara Palestina, negara yang sedang berkecamuk

8
perang. Tahun 2003 Palestina berada di urutan 34 Tahun 2007 ada di urutan 34.
Bandingkan dengan Indonesia 2003 di urutan 36, 2007 di urutan 41.
Rendahnya kualitas dan mutu pendidikan masih banyak terjadi di sekolah-
sekolah dasar. Hasil data yang didapat dari wawancara dengan salah seorang Guru
Sekolah Dasar, menjelaskan bahwa kualitas dan mutu pendidikan ditingkat sekolah
dasar masih dikatakan rendah. Rendahnya kualitas dan mutu pendidikan jenjang
Sekolah Dasar ini terjadi karena banyak faktor yang mempengaruhi;
(1)Pendidik/Guru, pendidik memiliki peran vital terhadap kualitas pendidikan.
Semua masukan yang terjadi di dalam pendidikan dalam kegiatan belajar-mengajar
dimulai dari guru, jika guru mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik serta
memiliki kreativitas daya tarik, juga kompetensi yang baik pula secara terstruktur
pendidik akan mengikuti setiap pembelajaran dari pendidik dengan baik dan
kondusif. Namun berlaku kebalikan, jika pendidik melaksanakan dengan tidak baik
maka peserta didik pula akan menghasilkan kualitas yang rendah pula.
(2)Pemerintah dan Sistem Pendidikan, Pemerintah juga menjadi faktor yang
mempengaruhi rendahnya kualitas pendidikan di jenjang Sekolah Dasar.
Pemerintah menjadi penanggung jawab penuh terhadap terselenggaranya
pendidikan Sekolah Dasar. Program yang dibuat oleh pemerintah akan di terapkan
dalam pendidikan Sekolah Dasar. (3)Sarana dan Prasarana yang tersedia. Dalam
era modern globalisasi ini, Semua Lembaga Pendidikan dituntut untuk
menggunakan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi dengan baik agar tercipta
keefektivitasan. Namun kendala terjadi dijenjang Sekolah Dasar, masih ada
sebagian Sekolah Dasar yang belum memiliki sarana prasarana tersebut dan belum
mampu untuk menggunakannya dengan baik. (4)Biaya Pendidikan. Sesuai Tujuan
Pendidikan Nasional Pemerintah memang memberikan anggaran biaya pendidikan
kepada Sekolah Dasar dalam bentuk Dana BOS. Namun faktanya bantuan tersebut
tidak mampu untuk menutupi seluruh kegiatan yang berlangsung dalam Sekolah.
Untuk itu dengan keterbatasannya Sekolah Dasar hanya mampu mengoptimalkan
dana tersebut sehingga kualitas pendidikan kurang maksimal. (5)Orang Tua dan
Masyarakat. Orang tua biasanya hanya menyerahkan anaknya secara keseluruhan
kepada pihak sekolah namun ketika di rumah orang tua tidak memberikan

9
pengajaran di rumah. Padahal waktu yang tersedia lebih banyak berada dalam
lingkungan keluarga dan Masyarakat dari pada berada di sekolah. Tanpa ada kerja
sama antara pihak sekolah dan masyarakat tersebut membuat kualitas pendidikan
jenjang Sekolah Dasar menjadi kurang maksimal. (6)Siswa/Peserta Didik. Obyek
utama dari pendidikan adalah Siswa/Peserta didik, peserta didik menjadi standar
atau acuan untuk menilai kualitas pendidikan. Jika peserta didik tidak memiliki rasa
ingin belajar yang tinggi, peserta didik tersebut akan cenderung untuk seenaknya
dalam mengikuti pembelajaran kelas.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan lebih spesifik
menggunakan studi literatur. Peneliti juga melakukan wawancara mendalam,
observasi, dan studi pustaka dalam rangka mengumpulkan data penelitian.
Wawancara dan diskusi dilakukan kepada para ahli dibidangnya, kemudian para
peneliti yang memiliki perhatian pada isu ini. Sedangkan observasi dilakukan
terhadap aktivitas belajar yang dilakukan langsung oleh peneliti.
Selanjutnya Studi literatur, peneliti menggunakan literatur dari buku, jurnal,
artikel internet, dan berita media massa yang terkait dengan tema penelitian. Data
yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis lebih lanjut, direduksi, kemudian
dituangkan dalam naskah publikasi ilmiah.

10
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan dari data-data yang didapat dari studi literatur, observasi dan
wawancara dapat diambil hasil. Bahwa kualitas dan mutu pendidikan merupakan
suatu tujuan dan bekal yang utama untuk setiap insan manusia untuk beradaptasi
dengan kehidupan. Inkonsistensi sistem pendidikan berdasarkan data yang telah
dikumpulkan mengungkapkan fakta bahwa sangat mempengaruhi potret dari
kualitas pendidikan Indonesia. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan
oleh M. Shiddiq Al-Jawi yang menyatakan bahwa semua ini terjadi karena
kekeliruan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaran
sistem pendidikan(M.Shiddiq, 2013). Sedang riset sebelumnya menyatakan hal ini
terjadi dari berbagai faktor seperti kelemahan pada sektor manajemen, dukungan
pemerintah dan masyarakat yang masih rendah, efektivitas dan efisiensi
pembelajaran yang masih lemah, inferioritas sumber daya pendidikan, dan terakhir
lemahnya standar evaluasi pembelajaran. Akibatnya, harapan akan sistem
pendidikan yang baik masih jauh dari sukses. Berbagai solusi dikemukakan
termasuk memperbarui kurikulum secara nasional juga masih menemui berbagai
kendala yang serius. Keadaan tersebut membutuhkan reformulasi yang secara
sistemik serta memperhatikan berbagai faktor yaitu politik, ekonomi, sosial, dan
budaya Indonesia (Munirah, 2015).
Upaya peningkatan kualitas pun sangat dibutuhkan oleh pemimpin yang
berani mengambil sikap untuk mengubah sistem pendidikan yang sesuai jati diri
bangsa yaitu pendidikan yang mengutamakan karakter yang kuat. Landasan
teorinya adalah UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 1 yang berbunyi,
"Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap,
serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap
kesejahteraan masyarakat dan tanah air."
Mutu atau kualitas pendidikan merupakan kenaikan tingkatan menuju suatu
perbaikan atau kemapanan, karena kualitas mengandung bobot atau tinggi
rendahnya sesuatu. Sebagai suatu tujuan pendidikan tentunya mutu dan kualitas
pendidikan ini haruslah memiliki kualitas yang baik dan memiliki daya saing

11
sehingga mampu mencapai suatu keberhasilan. Menurut Ace Suryadi dan H.A.R,
Tilaar kualitas pendidikan merupakan kemampuan lembaga pendidikan dalam
mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan
belajar seoptimal mungkin.
Di era globalisasi sekarang ini, mutu dan kualitas pendidikan dituntut untuk
lebih meningkatkan level atau standar kemampuan sumber daya peserta didik untuk
memiliki kompetensi yang baik sehingga mampu bersaing. Oleh karena itu kualitas
pendidikan harus mencapai taraf baik atau tinggi. Untuk mencapai mutu dan
kualitas pendidikan yang kompeten ini tidak dapat tercapai jika hanya satu pihak
saja yang melakukan tetapi semua pihak baik dari lingkungan formal yaitu sekolah
maupun lingkungan informal yaitu keluarga dan masyarakat harus ikut serta
berpartisipasi agar tercapainya mutu dan kualitas pendidikan yang baik.
Salah satu riset pendidikan menyatakan bahwa untuk menyelesaikan
masalah kualitas pendidikan dapat diselesaikan dan untuk mengejar ketertinggalan
tersebut dengan cara memodernisasi sistem pendidikan (Primadata & Kusumawati,
2014). Sedangkan menurut salah satu Professor dari Harvard University membuat
artikel tentang menghitung level pendidikan anak-anak Jakarta dimana
dibandingkan negara maju harus mengejarkan ketertinggalan untuk menjadi negara
maju selama 128 tahun. Selanjutnya berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan
narasumber Belva mahasiswa lulusan Harvard dan Stanford university cara
mengejar ketertinggalan pendidikan adalah dengan menggunakan teknologi dalam
bidang pendidikan. Salah satu produknya adalah Startup bidang pendidikan yaitu
Ruang Guru.
Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat
manusia secara holistik. Hal ini dapat dilihat dari filosofi pendidikan yang intinya
untuk mengaktualisasikan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer, yakni: (1)
afektif yang tercermin pada kualitas keimanan dan ketakwaan, etika dan estetika,
serta akhlak mulia dan budi pekerti luhur; (2) kognitif yang tercermin pada
kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali ilmu pengetahuan dan
mengembangkan serta menguasai teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin
pada kemampuan mengembangkan ketrampilan teknis dan kecakapan praktis.

12
Kesemuanya ini bermuara pada bagaimana menyiapkan anak didik untuk mampu
menjalankan kehidupan (preparing children for life), an bukan sekedar
mempersiapkan anak didik untuk menjadi manusia yang hanya mampu
menjalankan hidupnya. Dengan demikian, pendidikan dalam hal ini menjadi
wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu. Pendidikan
dalam hal ini bertujuan membantu anak didik untuk dapat memuliakan hidup
(ennobling life). Kebijakan peningkatan mutu pendidikan diarahkan pada
pencapaian mutu pendidikan yang semakin meningkat yang mengacu pada standar
nasional pendidikan (SNP). SNP mencakup komponen standar isi, standar proses,
standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar
sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar penilaian
pendidikan. Pencapaian berbagai standar tersebut digunakan sebagai dasar untuk
melakukan penilaian terhadap kinerja satuan dan program pendidikan, mulai dari
PAUD, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan nonformal, sampai
dengan pendidikan tinggi (Depdiknas, 2005). Pada tingkat praksis, permasalahan
pendidikan yang terjadi memperlihatkan berbagai kendala yang menghambat
tercapainya tujuan pendidikan seperti diamanatkan dalam Undang-undang Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Rendahnya mutu sumber daya
manusia (SDM) menjadi salah satu penyebab dari hal ini. Problematika rendahnya
mutu SDM ini dapat dilihat dari beberapa indikator makro antara lain dari laporan
The Global Competitiveness Report 2008-2009 dari World Economic Forum yang
menempatkan Indonesia pada peringkat 55 dari 134 negara dalam hal pencapaian
Competitiveness Index (CI). Hasil penelitian United Nations for Development
Programme di dalam Human Development Report 2007/2008
(http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_Human_Development_Index”)
yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-107 dari 155 negara dalam hal
pencapaian Human Development Index (HDI). Secara umum dapat dipahami bahwa
rendahnya mutu SDM bangsa Indonesia saat ini adalah akibat rendahnya mutu
pendidikan. Hal ini juga dapat dilihat dari berbagai indikator mikro. Dalam hal
literasi Matematika dan Sains, hasil studi Trends in International Mathematics and
Science Study (TIMSS) tahun 2007, hasilnya memperlihatkan bahwa peserta didik

13
Indonesia belum menunjukkan prestasi memuaskan. Literasi Matematika peserta
didik Indonesia, hanya mampu menempati peringkat 36 dari 49 negara, dengan
pencapaian skor 405 dan masih di bawah skor rata-rata internasional yaitu 500.
Sedangkan untuk literasi Sains berada di urutan ke 35 dari 49 negara dengan
pencapaian skor 433, dan masih di bawah skor rata-rata internasional yaitu 500.
Hasil yang diperoleh ini, lebih buruk dibandingkan dengan pelajar Mesir yang
berada pada urutan ke 35(Spear et al., 1998)
Menurut penelitian yang berjudul “Ketimpangan Mutu dan Akses
Pendidikan di Indonesia: Potret Berdasarkan Survei PISA 2015” kualitas
pendidikan Indonesia rendah dikarenakan pendidikan di Indonesia tidak merata dan
rendahnya minat baca(Aditomo & Felicia, 2018). Salah satu upaya yang
direkomendasikan dalam penelitian tersebut ini menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan kualitas hasil belajar antar siswa dikaitkan dengan mutu antar sekolah
yang disebabkan oleh perbedaan status sosial ekonomi siswa sebagai faktor yang
dapat menjelaskan kesenjangan ini. Terlebih lagi, komposisi siswa berdasarkan
perbedaan SES di setiap sekolah berkontribusi pada tingkat literasi mereka. Hasil
kajian ini menunjukkan bahwa kebijakan dan inisiatif untuk memperkecil
kesenjangan antar sekolah perlu menjadi prioritas pemerintah. Tim peneliti
memberikan saran bahwa kebijakan zonasi yang sudah mulai diimplementasikan
pemerintah perlu terus didukung kebijakan peningkatan mutu pendidikan lainnya
sehingga negara dapat memberikan kesempatan pendidikan yang lebih adil untuk
anak-anak Indonesia.
Menurut Sujarwo mengatakan, pendidikan di Indonesia sampai saat ini
belum jelas akan ke mana arahnya, belum bisa merata antara daerah satu dan daerah
yang lain. Pemerintah sampai saat ini masih mengalami kebingungan apa yang akan
mereka harapkan dan mereka pakai untuk menuju masyarakat pembelajar di negeri
ini. Sehingga, banyak nilai pelajaran yang diambil dari luar atau diadopsi dari
negera-negara yang sudah maju. Meskipun ada sisi positifnya, namun juga tidak
boleh dikesampingkan sisi negatif dari pengadopsian kurikulum dari negara lain.
Pihak sekolah, pemerintah, dan masyarakat bahu-membahu dalam upaya
mengembangkan bangsa melalui jalur pendidikan. Karena, tanpa adanya saling

14
bekerjasama tidak mungkin semua akan tercapai dengan baik. Sebagai harapan
kami nilai-nilai religi harus selalu sebagai landasan bagi semua pihak dalam
melaksanakan roda pendidikan ini. Semoga bangsa ini segera sembuh dari
keterpurukan dan pembodohan yang tersistematis(Sujarwo, 2008).
Menurut riset pendidikan terdahulu berbagai permasalahan yang ada
disebabkan karena tidak adanya filosofi pendidikan sebagai dasar untuk
menjalankan seluruh proses pendidikan. Saat ini yang merupakan akibat kebijakan
masa lalu, keberadaan filosofi dianggap tidak penting karena filosofi hanya sebagai
sesuatu yang terkesan abstrak, sulit untuk diimplementasikan sehingga proses
pendidikan yang ada hanya menyentuh sesuatu yang teknis saja. Hal tersebut
dilakukan karena filosofi pendidikan sebagai sesuatu yang kuno sehingga tidak
praktis untuk diterapkan selain itu juga tidak mudah untuk dipasarkan. Semen tara
penulis menyatakan bahwa filosofi pendidikan merupakan landasan yang sangat
mendasar dalam menjalankan segala praktik pendidikan. Dari filosofi pendidikan
dapat ditentukan arab yang akan dituju dari pendidikan nasional ini. Dengan adanya
semangat untuk merefilosofisasi pendidikan maka akan terbuka jalan untuk
menyehatkan pendidikan nasional sesuai dengan cita-cita mencerdasakan
kehidupan bangsa. Selanjutnya penulis mengajak untuk mengetahui bahasan lainya
yang cukup problematis yaitu perubahan kurikulum. Sejak dulu hal ini telah
menjadi permasalahan yang cukup besar sehingga berdampak pada proses
pendidikan yang ada. Menurut penulis permasalahan yang muncul dapat
dipengaruhi dari para birokrat itu sendiri akan harapan dan perlakuan berlebihan
terhadap peran kurikulum(Surakhmad & Rahadian, 2010).

Rendahnya kualitas dan mutu pendidikan pada jenjang sekolah dasar sangat
berpengaruh terhadap pendidikan jenjang selanjutnya. Kualitas dan mutu
pendidikan merupakan suatu tujuan dan acuan penting dalam pelaksanaan
pendidikan. Kualitas dan mutu pendidikan dapat dilihat dari keberhasilan
menciptakan sumber daya peserta didik yang kompeten dan mampu bersaing.
Masih banyak Sekolah Dasar yang masih memiliki kualitas pendidikan yang masih
rendah, namun hal ini merupakan tanggung jawab bersama untuk meningkatkan

15
kualitas pendidikan pada jenjang Sekolah. Rendahnya kualitas pendidikan di
Sekolah Dasar akan mempengaruhi terhadap pendidikan jenjang
selanjutnya.(Prasetya et al., 2017)

Menurut penulis banyak dari kaum yang mampu mengenyam pendidikan


tinggi mereka di wajibakan tugas untuk mengajarkan pendidikan yang berada di
daerah pedalaman, pemerintah harus menyediakan fasilitas yang memadai untuk
anak-anak bangsa bersekolah seperti bangunan yang memadai, akses menuju
sekolah sangat mudah dan lain-lain. Pemberian beasiswa kepada mereka yang
kurang mampu, sehinga mereka mampu merasakan sekolah tanpa terbebani
beratnya biaya pendidikan. Memang bukan hal yang mudah mengatasi pendidikan
yang ada di Indonesia, selain itu mencerdaskan anak-anak bangsa dibilang mudah-
mudah gampang karena mereka selalu berasumsi bahwa pemerintah tidak
memperhatikan mereka, selain itu orang tua mereka mengatakan "bekerja saja dapat
uang, daripada sekolah menghabiskan uang". Inilah mindset yang harus dihapuskan
dari mereka. Mereka harus diberi sosialisasi tentang pentingnya pendidikan bagi
anak bangsa, agar anak-anak bangsa mampu meneruskan perjuangan para pahlawan
kita. Harapan selanjutnya, Indonesia mampu merdeka dengan benar-benar
merdeka, bukan merdeka yang hanya sebatas katanya. Peningkatan dan pemerataan
mutu pendidikan harus menjadi pokok permasalahan yang harus segera
terselesaikan. Pendeskripsian "hanya orang kaya dan orang kota saja yang mampu
mengenyam pendidikan tingi" harus benar-benar dihapuskan, karena pendidikan di
Indonesia tidak memandang yang kaya dengan yang miskin, atau orang kota dengan
orang pelosok.

Selain itu problem besar lain adalah bagi orang-orang yang berkompeten terhadap
bidang pendidikan akan menyadari bahwa dunia pendidikan kita sampai saat ini
masih mengalami “sakit”. Dunia pendidikan yang “sakit” ini disebabkan karena
pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia, tetapi dalam
kenyataannya sering kali tidak begitu. Sering kali pendidikan tidak memanusiakan
manusia. Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sistem pendidikan yang
ada.

16
Masalah pertama adalah bahwa pendidikan, khususnya di Indonesia, menghasilkan
“manusia robot”. Kami katakan demikian karena pendidikan yang diberikan
ternyata berat sebelah, dengan kata lain tidak seimbang. Pendidikan ternyata
mengorbankan keutuhan, kurang seimbang antara belajar yang berpikir (kognitif)
dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Jadi unsur integrasi cenderung semakin
hilang, yang terjadi adalah disintegrasi. Padahal belajar tidak hanya berpikir. Sebab
ketika orang sedang belajar, maka orang yang sedang belajar tersebut melakukan
berbagai macam kegiatan, seperti mengamati, membandingkan, meragukan,
menyukai, semangat, dan sebagainya. Hal yang sering disinyalir ialah pendidikan
sering kali dipraktikkan sebagai sederetan instruksi dari guru kepada murid.
Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar-gemborkan sebagai
“pendidikan yang menciptakan manusia siap pakai". Dan “siap pakai” di sini berarti
menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan
persaingan bidang industri dan teknologi. Memperhatikan secara kritis hal tersebut,
akan nampak bahwa dalam hal ini manusia dipandang sama seperti bahan atau
komponen pendukung industri. Itu berarti, lembaga pendidikan diharapkan mampu
menjadi lembaga produksi sebagai penghasil bahan atau komponen dengan kualitas
tertentu yang dituntut pasar. Kenyataan ini nampaknya justru disambut dengan
antusias oleh banyak lembaga pendidikan.
Masalah kedua adalah sistem pendidikan yang top-down (dari atas ke
bawah) atau kalau menggunakan istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari
Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank. Sistem pendidikan ini sangat tidak
membebaskan karena para peserta didik (murid) dianggap manusia-manusia yang
tidak tahu apa-apa. Guru sebagai pemberi mengarahkan kepada murid-murid untuk
menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Guru sebagai pengisi
dan murid sebagai yang diisi. Otak murid dipandang sebagai safe deposit box, di
mana pengetahuan dari guru ditransfer ke dalam otak murid dan bila sewaktu-waktu
diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil saja. Murid hanya menampung
apa saja yang disampaikan guru.
Jadi hubungannya adalah guru sebagai subyek dan murid sebagai obyek.
Model pendidikan ini tidak membebaskan karena sangat menindas para murid.

17
Freire mengatakan bahwa dalam pendidikan gaya bank pengetahuan merupakan
sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya
berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mempunyai pengetahuan apa-
apa. Yang ketiga, dari model pendidikan yang demikian maka manusia yang
dihasilkan pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan
bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek (yang adalah
wujud dari dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak belakang
dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercerabut dari akar-akar
budayanya (seperti di dunia Timur/Asia). Bukankah kita telah sama-sama melihat
bagaimana kaum muda zaman ini begitu gandrung dengan hal-hal yang berbau
Barat? Oleh karena itu strategi pendidikan di Indonesia harus terlebur dalam
“strategi kebudayaan Asia”, sebab Asia kini telah berkembang sebagai salah satu
kawasan penentu yang strategis dalam bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan
politik internasional. Bukan bermaksud anti-Barat kalau hal ini penulis kemukakan.
Melainkan justru hendak mengajak kita semua untuk melihat kenyataan ini sebagai
sebuah tantangan bagi dunia pendidikan kita. Mampukah kita menjadikan lembaga
pendidikan sebagai sarana interaksi kultural untuk membentuk manusia yang sadar
akan tradisi dan kebudayaan serta keberadaan masyarakatnya sekaligus juga
mampu menerima dan menghargai keberadaan tradisi, budaya dan situasi
masyarakat lain? Dalam hal ini, makna pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara
menjadi sangat relevan untuk direnungkan.
Secara garis besar ada dua solusi untuk mengatasi masalah-masalah
tersebut, yaitu: Pertama solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-
sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem
pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem
pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi
kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan
peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan
pendidikan. Kedua solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang
berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan
masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

18
Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis
untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru,
misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi
dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan
memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya
prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas
materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan
sebagainya. Maka dengan adanya solusi-solusi tersebut diharapkan pendidikan di
Indonesia dapat bangkit dari keterpurukannya, sehingga dapat menciptakan
generasi-generasi baru yang ber-SDM tinggi, berkepribadian pancasila dan
bermartabat.
Banyak sekali faktor yang menjadikan rendahnya kualitas pendidikan di
Indonesia. Faktor-faktor yang bersifat teknis di antaranya adalah rendahnya kualitas
guru, rendahnya sarana fisik, mahalnya biaya pendidikan, rendahnya prestasi siswa,
rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan. Namun sebenarnya yang menjadi
masalah mendasar dari pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan di
Indonesia itu sendiri yang menjadikan siswa sebagai objek, sehingga manusia yang
dihasilkan dari sistem ini adalah manusia yang hanya siap untuk memenuhi
kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Maka di sinilah
dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi segala
permasalahan pendidikan di Indonesia.

19
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Inkonsistensi sistem pendidikan pada potret pendidikan Indonesia sangat
mempengaruhi kualitas pendidikan Indonesia. Kemudian banyak faktor utama yang
mempengaruhi kualitas pendidikan seperti kebijakan pemerintah dalam hal
pendidikan, kemudian keadaan ekonomi, politik dan budaya serta tidak ada arah
yang jelas tentang tujuan pendidikan kita untuk masa depan.
Rekomendasi dari penelitiannya ini adalah tetapkan kebijakan mengenai
arah pendidikan kita sesuai kebijakan dan tujuan pemerintah supaya sinergis.
Penguasaan Teknologi segera dilaksanakan untuk generasi guru muda untuk motor
penggerak pendidikan. Segera lakukan reformasi sistem pendidikan berbasiskan
karakter dan skill kompetensi.

KEPUSTAKAAN
Aditomo, A., & Felicia, N. (2018). Ketimpangan Mutu dan Akses Pendidikan di
Indonesia : Potret Berdasarkan Survei PISA 2015. Kilas Pendidikan,
(August), 1–8.
Amanah Alim. (2009). Pengaruh Tingkat Kompetensi Pedagogik Para Guru Pasca
Sertifikasi terhadap Persepsi para Statkeholder. Pendidikan Indonesia, 1–25.
Gerintya, S. (2019). GANTI MENTERI GANTI KURIKULUM. Retrieved from
https://tirto.id/mengakhiri-kutukan-ganti-menteri-ganti-kurikulum-bwqv
KBBI. (2019). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
M.Shiddiq, A.-J. (2013). Masalah Pendidikan di Indonesia dan Solusinya.
Edukasi, (May 2006). Retrieved from
http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/10/masalah-pendidikan-di-
indonesia-dan-solusinya-615212.html
Munirah. (2015). Education System in Indonesia: between desire and reality.
Auladuna, 2(2), 233–245.
Prasetya, D., Kristen, U., & Wacana, S. (2017). RENDAHNYA KUALITAS
PEDIDIKAN PADA JENJANG SEKOLAH DASAR DAN. FKIP
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA, (October).
Primadata, A. P., & Kusumawati, D. K. (2014). Modernisasi Pendidikan di

20
Indonesia sebuah Perspektif Sosiologis terhadap Dunia Pendidikan di
Indonesia. Jurnal Analisa Sosiologi, 3(1), 25–51.
Scholastica Gerintya. (2019). Indeks Pendidikan Indonesia Rendah, Daya Saing
pun Lemah. Tirto Press. Retrieved from
https://edukasi.kompas.com/read/2011/03/02/18555569/Indeks.
Pendidikan.Indonesia.Menurun
Spear, T. M., Werner, M. A., Boqtlano, J., Murray, E., Ramachandranf, G., &
Vincentf, J. H. (1998). Assessmmerait of P a r t k k Size Dnsltrilbiuiltnoinis
reflevaimit Aerosol Exposures of Primary Lead Smrneltteir Workers. 42(2),
73–80.
Sujarwo, M. O. (2008). PENDIDIKAN DI INDONESIA MEMPRIHATINKAN.
In Universitas Negeri Yogyakarta (Vol. 1).
Surakhmad, W., & Rahadian, A. S. (2010). Potret buram pendidikan nasional.
V(1).

21