Anda di halaman 1dari 39

PRAKTIKUM 1

(Deskripsi Populasi Dasar)

1.1 Pendahuluan

Kegiatan pemuliaan ternak dimulai dari identifikasi, karakterisasi dan

pengumpulan informasi serta menganalisis secara deskriptif terhadap populasi.

Populasi adalah sekelompok individu dalam satu spesies yang menempati suatu

habitat yang menggunakan sumber daya dengan cara yang sama dan dipengaruhi
oleh faktor – faktor alam. Tingkat kepadatan suatu populasi ternak merupakan

jumlah ternak tiap satuan luas atau volume. Melakukan pendataan (pengumpulan

data) seluruh populasi dinamakan sensus. Sebuah sensus tentu memerlukan

waktu dan biaya yang tinggi. Untuk itu, dalam pemuliaan ternak seringkali

dilakukan pengambilan sampel (sampling), yakni sebagian kecil dari populasi, yang

dapat mewakili seluruh populasi. Analisis data dari sampel nantinya digunakan

untuk menggeneralisasi seluruh populasi. Jika sampel yang diambil cukup

representatif, inferensial (pengambilan keputusan) dan simpulan yang dibuat dari


sampel dapat digunakan untuk menggambarkan populasi secara keseluruhan.

Metode pemuliaan ternak tentang bagaimana cara mengambil sampel yang tepat

dinamakan teknik sampling.

Populasi dasar merupakan populasi yang secra umum belum dilakukan

intervensi atau spesies yang terandung didalamnya. Dalam pemuliaan, populasi

dasar perlu dianalisis secara deskriptif menggunakan analisis statistika. Tujuan

penggunaan statistika dapat dibagi menjadi dua pokok yaitu meningkatkan data

menjadi hanya beberapa parameter sederhana dan menilai pentingnya peranan

parameter tersebut. Analisis deskriptif dan analisis statistika lain yang penting
dalam pemuliaan ternak yaitu : rata – rata, nilai minimum, nilai maksimum, ragam

1
,peragam, standar deviasi, koefisien variasi, koefisien korelasi, dan koefisien

regresi.

1.2 Tujuan Praktikum

Dengan melakukan praktikum ini diharapkan mahasiswa :

1. Dapat menentukan ukuran tendensi pusat atau ukuran pemusatan, untuk

gambaran populasi panmixia, diantaranya mencari rata-rata, modus dan

median dalam suatu populasi

2. Dapat menentukan ukuran penyebaran untuk menggambarkan keragaman

atau variasi tiap individu terhadap tendensi pusatnya.

3. Dapat menentukan koefisien keragaman atau koefisien variasi.

1.3 Tinjauan Kepustakaan

Populasi ialah semua nilai baik hasil perhitungan maupun pengukuran,

baik kuantitatif maupun kualitatif, dari karakteristik tertentu mengenai

sekelompok objek yang lengkap dan jelas (Husaini, 2006). Sampel merupakan

bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi yang akan diteliti dan

yang dianggap dapat menggambarkan populasinya (Soehartono, 2004).

Standar deviasi adalah nilai statistik yang digunakan untuk menentukan

bagaimana sebaran data dalam sampel, dan seberapa dekat titik data individu ke

rata-rata - nilai sampel. Sebuah standar deviasi dari kumpulan data sama dengan

nol menunjukkan bahwa semua nilai-nilai dalam himpunan tersebut adalah sama.

Sebuah nilai deviasi yang lebih besar akan memberikan makna bahwa titik data

individu jauh dari nilai rata-rata (Novi, 2017).

Koefisien korelasi adalah nilai yang menunjukan kuat/tidaknya hubungan

linier antar dua variabel. Koefisien korelasi biasa dilambangkan dengan huruf r

dimana nilai r dapat bervariasi dari -1 sampai +1. Nilai r yang mendekati -1 atau +1

2
menunjukan hubungan yang kuat antara dua variabel tersebut dan nilai r yang

mendekati 0 mengindikasikan lemahnya hubungan antara dua variabel tersebut.

Sedangkan tanda + (positif) dan – (negatif) memberikan informasi mengenai arah

hubungan antara dua variabel tersebut. Jika bernilai + (positif) maka kedua

variabel tersebut memiliki hubungan yang searah. Dalam arti lain peningkatan X

akan bersamaan dengan peningkatan Y dan begitu juga sebaliknya. Jika bernilai –

(negatif) artinya korelasi antara kedua variabel tersebut bersifat berlawanan.

Peningkatan nilai X akan dibarengi dengan penurunan Y. Jika nilai koefisien

korelasi mendekati 1 maka menunjukan hubungan yang kuat antara dua variabel

tersebut (Supranto, 2008).

Koefisien Regresi adalah suatu yang penting dalam Analisa Regresi.

koefisien regresi berfungsi untuk membentuk persamaan model regresi pada

suatu masalah yang diteliti. Koefien regresi dihitung dengan persamaan-

persamaan tertentu dan sebaiknya menggunakan tabel pembantu untuk

memudahkan perhitungan persamaannya. Pada prinsipnya ada dua cara untuk

menghitung koefisien regresi yaitu dengan cara perhitungan matematic biasa atau

dengan menggunakan software statistik (SPSS), tetapi kedua metode tersebut

harus mengasilkan nilai yang sama atau setidaknya nilai yang mendekati sama

(Agus, 2012).

1.4 Metoda Praktikum

1. Setiap kelompok mendapatkan satu set data. Tentukan jumlah nilai, rata-

rata, dan jumlah populasi dasar.

2. Buatlah kesimpulan dari hasil analisis tersebut.

3. Tuliskan laporan sementara dalam kertas polio.

3
1.5 Hasil dan Pembahasan
1.5.1 Hasil

Tinggi Lingkar dada


No ̅ )2
(x-𝒙 (y-ȳ)2
pundak (x) (cm) (y) ̅)(y-ȳ)
(x-𝒙

1 189,0 296,8 86,24 31,36 237,16

2 180,6 273,0 23,52 7,84 70,56

3 184,8 284,2 3,92 1,96 7,84

4 183,4 280,0 0 0 1,96

5 182,0 287,0 -7,84 1,96 31,36

6 180,6 271,6 27,44 7,84 96,04

7 175,0 273,0 70,56 70,56 7056

8 182,0 271,6 14,56 1,96 108,16

9 189,0 289,8 47,04 31,36 70,56

10 187,6 287,0 23,52 17,64 31,36

Jumlah 1834 2814 288,96 172,48 725,56

Rata- 183,4 281,4 28,896 17,248 72,556


rata

Tabel 1.1 Deskripsi Populasi

Perhitungan

1. Nilai Minimum : x = 175,0 ; y = 271,6


2. Nilai Maksimum : x = 189,0 ; y = 296,8
3. Nilai rata-rata untuk tinggi pundak (x)
∑xi
𝑥̅ = n
189,0+180,6+184,8+183,4+182,0+180,6+175,0+182,0+189,0+187,6
= 10
=183,4 cm

4
4. Nilai rata-rata untuk lingkar dada (y)
296,8+273,0+284,2+280,0+287,0+271,6+273,0+271,6+289,8+287,0
= 281,4 cm
10

5. Ragam untuk tinggi pundak 10 ekor sapi, yaitu


∑(𝑋1−𝑥 ̅)2
𝑆𝑥 2 = = 19,16
n−1

6. Ragam untuk lingkar dada 10 ekor sapi, yaitu :


∑(𝑋1−𝑥 ̅)2
𝑆𝑦 2 = = 80,62
n−1
∑(x1−𝑥̅ )(𝑦1−ȳ)
7. Peragam  Cov (x, y) = n−1
288,96
= = 32,11
9

8. Standar deviasi untuk tinggi pundak

Sx = √𝑆𝑥 2 = √19,16= 4,38


9. Standar deviasi untuk lingkar dada

Sy= √𝑆𝑦 2 = √80,62 = 8,98


10. Koefisien korelasi
𝐶𝑜𝑣(𝑥,𝑦) 32,11
r= = 4,38 𝑥 8,98 = 0,816
SxSy

11. Koefisien regresi


𝐶𝑜𝑣(𝑥,𝑦) 32,11
b= = 19,16 = 1,675
𝑆𝑥 2

1.5.2 Pembahasan

Populasi ialah semua nilai baik hasil perhitungan maupun pengukuran,

baik kuantitatif maupun kualitatif, dari karakteristik tertentu mengenai

sekelompok objek yang lengkap dan jelas (Husaini, 2006). Sampel merupakan

bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi yang akan diteliti dan

yang dianggap dapat menggambarkan populasinya (Soehartono, 2004).

Penentuan hasil sampel dari 10 ekor ternak yang diukur sifat kuantitatifnya yaitu

lingkar dada dan tinggi pundak dihitung dengan beberapa parameter pengukuran

5
diantaranya rata-rata, ragam sampel, standar deviasi, peragaman, korelasi, dan

korelasi regresi.

Dari 10 sampel yang telah dihitung didapat nilai minimum untuk tinggi

pundak ternak (x) 175,0 cm dan nilai maksimumnya 189,0 cm. Untuk nilai

minimum lingkar dada (y) sebesar 271,6 cm dan nilai maksimumnya 296,8 cm.

Dengan rata-rata 183,4 untuk tinggi pundak dan 281,4 untuk lingkar dada. Ragam

sampel dihitung dengan cara hasil penjumlahan x dikurangi rata-rata x

dikuadratkan dan dibagi banyak sampel dikurangi satu, maka jumlahnya 19,16

untuk tinggi pundak (x) dan 80,62 untuk lingkar dada (y).

Standar deviasi adalah nilai statistik yang digunakan untuk menentukan

bagaimana sebaran data dalam sampel, dan seberapa dekat titik data individu ke

rata-rata - nilai sampel. Sebuah standar deviasi dari kumpulan data sama dengan

nol menunjukkan bahwa semua nilai-nilai dalam himpunan tersebut adalah sama.

Sebuah nilai deviasi yang lebih besar akan memberikan makna bahwa titik data

individu jauh dari nilai rata-rata (Novi, 2017). Hasil dari perhitungan standar

deviasi untuk lingkar dada yaitu 8,98 dan untuk tinggi pundak 4,38. Dilihat dari

hasil tersebut dan dibandingkan dengan pendapat menurut Novi (2017) maka

kedua hasil tersebut bermakna bahwa titik data individu jauh dari rata-rata karena

nilainya jauh dari nol. Untuk menghitung peragaman dengan cara hasil data

dikurangi rata-rata jumlah data dikuandratkan (x) dikali hasil data dikurangi rata-

rata jumlah data dikuandratkan (y) dibagi jumlah sampel dikurangi satu maka

didapat hasil sebesar 32,11.

Koefisien korelasi adalah nilai yang menunjukan kuat/tidaknya hubungan

linier antar dua variabel. Koefisien korelasi biasa dilambangkan dengan huruf r

dimana nilai r dapat bervariasi dari -1 sampai +1. Nilai r yang mendekati -1 atau +1

menunjukan hubungan yang kuat antara dua variabel tersebut dan nilai r yang

6
mendekati 0 mengindikasikan lemahnya hubungan antara dua variabel tersebut.

Sedangkan tanda + (positif) dan – (negatif) memberikan informasi mengenai arah

hubungan antara dua variabel tersebut. Jika bernilai + (positif) maka kedua

variabel tersebut memiliki hubungan yang searah. Dalam arti lain peningkatan X

akan bersamaan dengan peningkatan Y dan begitu juga sebaliknya. Jika bernilai –

(negatif) artinya korelasi antara kedua variabel tersebut bersifat berlawanan.

Peningkatan nilai X akan dibarengi dengan penurunan Y (Supranto, 2008). Dari

hasil perhitungan data kami untuk koefisien korelasi antara lingkar dada dan tinggi

pundak yaitu 0,816. Jika disesuaikan dengan pendapat Supranto (2008), nilai

tersebut mendekati 1 maka menunjukan hubungan yang kuat antara dua variabel

tersebut.

Koefisien Regresi adalah suatu yang penting dalam Analisa Regresi.

koefisien regresi berfungsi untuk membentuk persamaan model regresi pada

suatu masalah yang diteliti. Koefisien regresi dihitung dengan persamaan-

persamaan tertentu dan sebaiknya menggunakan tabel pembantu untuk

memudahkan perhitungan persamaannya. Pada prinsipnya ada dua cara untuk

menghitung koefisien regresi yaitu dengan cara perhitungan matematik biasa atau

dengan menggunakan software statistik (SPSS), tetapi kedua metode tersebut

harus mengasilkan nilai yang sama atau setidaknya nilai yang mendekati sama

(Agus, 2012). Untuk hasil perhitungan koefisien regresi didapat 1,675 antara

lingkar dada dan tinggi pundak.

1.6 Kesimpulan

Berdsarkan data yang diperoleh, yaitu koefisien variasi menunjukan bahwa


tinggi pundak dan lingkar dada dari 10 ekor ternak dianggap seragam karena nilai
koefisien kolerasi keduanya dibawah 15%. Lalu koefisien variasi antara tinggi
pundak dan lingkar dada memiliki nilai sebesar positif 0,82 , hal ini menunjukan

7
bahwa antara tinggi pundak dan lingkar dada memiliki hubungan yang erat
menurut kriteria Guilford.

1.7 Daftar Pustaka


Husaini Usman. 2006. Pengantar Statistika. Jakarta : PT Bumi Aksara

Novi. 2017. Standar Deviasi. http://www.sridianti.com/pengertian-standar-


deviasi(diakses hari selasa, 23 Mei 2017 jam 21.00 WIB).

Soehartono, Irawan. 2004. Metode Penelitian Sosial. PT.Remaja Rosdakarya.


Bandung.

Sukoco, Agus. 2012. Koefisien Regresi Linier Berganda.


http://agussukoco.dosen.narotama.ac.id//koefisien-regresi-linier-
berganda (diakses hari selasa, 23 Mei 2017 jam 21.00 WIB)

Supranto, J. 2008. Statistik Teori dan Aplikasi Edisi Ketujuh Jilid I. Erlangga. Jakarta.

8
PRAKTIKUM 2
(Pendugaan Nilai Ripitabilitas)

2.1 Pendahuluan

Ripitabilitas atau daya ulang merupakan suatu konsep dasar untuk


mengetahui daya ulang terhadap sifat-sfat yang diukur beberapa kali selama
hidup dari ternak, misalnya produksi susu, produksi telur, tebal kerabang telur,
berat telur, produksi wol, jumlah anak sekelahiran, jarak beranak, bobot lahir,
bobot sapih, dan lain-lain. Rumusan nilai ripitabilitas adalah meliputi smeua
pengaruh genetic, ditambah pengaruh lingkungan yang bersifat permanen.

Pengetahuan mengenai repitabilitas suatu sifat berguna dalam


memperkirakan produktivitas pada masa mendatang dari ternak yang telah
mempunyai satu atau lebih catatan produksinya. Manfaat utama yang kedua yaitu
dalam menduga heritabilitas yan dihitung dari rata-rata beberapa kali
pengukuran, dibandingkan dengan heritabilitas yang dihitung dari satu kali
pengukuran.

2.2 Tujuan Praktikum

Setelah melakukan praktikum ini diharapkan mahasiswa mengetahui daya


ulang terhadap suatu sifat –sifat yang muncul beberapa kali selama hidup ternak
tersebut dengan menggunakan rumus ripitabilitas.

2.3 Tinjauan Kepustakaan

Ripitabilitas adalah hubungan antara produksi pertama dengan produksi

berikutnya pada individu tersebut diamati sebagai pengulangan penampilan

produksi yang biasa disebut ripitabilitas (angka pengulangan) disimbolkan dengan

9
huruf t. Ripitabilitas merupakan parameter genetik yang penting dalam ilmu

pemuliaan ternak selain heritabilitas (Kurnianto, 2010).


Ripitabilitas merupakan bagian dari ragam total (Vp) suatu populasi yang
disebabkan oleh karena perbedaan oleh karena perbedaan antar individu yang
berkarakter permanen.). Ripitabilitas juga diartikan sebagai sebuah ukuran
kekuatan hubungan antara ukuran yang berulang-ulang pada suatu sifat dalam
populasi (Pallawaruka, 1999).

Nilai ripitabilitas suatu sifat akan ditentukan oleh keragaman komponen-


komponen penyusunnya, yaitu komponen genetik yang terdiri atas gen aditif,
dominan, dan epistasis serta komponen lingkungan yang bersifat permanen
maupun yang bersifat sementara. Ripitabilitas suatu sifat berguna dalam
memperkirakan produktivitas ternak pada masa yang akan datang berdasarkan
satu atau lebih catatan produksi. Ripitabilitas menduga nilai maksimum
heritabilitas yang dihitung dalam rata-rata beberapa kali pengukuran (Warwick
dkk., 1987).

2.4 Metoda Praktikum


1. Setiap kelompok mendapatkan satu set data. Tentukan jumlah nilai, rata-
rata, dan nilai ripitabilitas
2. Buatlah kesimpulan dari hasil analisis tersebut.
3. Tuliskan laporan sementara dalam kertas polio.

2.5. Hasil dan Pembahasan


2.5.1 Hasil
Dibawah ini adalah tabel data produksi wol dari hasil 3 kali pencukuran pada 8
ekor domba Merino. Duga nilai ripitabilitas dan standar errornya.
n= 8; k= 3; N= 8 x 3 = 24

10
Pencukuran Domba TOTAL
1 2 3 4 5 6 7 8
1 6,34 6,18 6,18 5,86 5,70 5,70 5,39 5,07
2 6,34 6,81 6,97 6,02 6,18 5,70 6,02 5,70
3 6,65 6,65 6,18 6,18 6,34 5,70 5,86 5,86
∑ (x) 19,33 19,64 19,33 18,06 18,22 17,1 17,27 16,63 145,58
∑ (x2) 124,6137 128,791 124,9657 108,7724 110,878 97,47 99,6321 92,53445 887,6574
Tabel 2.1 Catatan Rataan Produksi susu
Perhitungan
∑(𝑥)2
1. FK = 𝑁
145,582
= = 883,06
24
2
2. JK Total =∑(𝑥 ) − 𝐹𝐾 = 887,6574 – 883,06 = 4,6
(19,33)2 (19,64)2 (19,33)2 (18,06)2 (18,22)2 (17,1)2 (17,27)2
3. JKW = + + + + + + +
3 3 3 3 3 3 3
(16,63)2
– 6,06 = 3,07
3

4. JKE = JK Total - JKW


= 4,6 – 3,07
= 1,53
Sumber Derajat Bebas (db) JK KT Komponen
keragaman
Antar individu (W) 7 3,07 0,44 𝜎𝐸2 + 𝑘𝜎𝑊
2

Dalam individu (E) 16 1,53 0,096 𝜎𝐸2


Total 23 4,6 0,536
Tabel 2.2 Analisi Ragam

11
5. 𝜎𝐸2 = 0,096
2
6. 𝜎𝑊 = 0,115
2
𝜎𝑊 0,115
7. r = 𝜎2 2 = 0,115+0,096 = 0,54
𝑊 + 𝜎𝐸

2(1−𝑟)2 (1+(k−1)r)
8. SE(r) = 𝑘(𝑘−1)(𝑛−1)

2(1−0,54)2 (1+(3−1)0,54)
= 3(3−1)(8−1)

= 0,14

2.5.2 Pembahasan

Ripitabilitas adalah hubungan antara produksi pertama dengan produksi

berikutnya pada individu tersebut diamati sebagai pengulangan penampilan

produksi yang biasa disebut ripitabilitas (angka pengulangan) disimbolkan dengan

huruf t. Ripitabilitas merupakan parameter genetik yang penting dalam ilmu

pemuliaan ternak selain heritabilitas (Kurnianto, 2010). Pada praktikum kali ini

dibahas perhitungan pendugaan nilai ripitabilitas dan standar errornya. Soal

terdiri dari 8 ekor sampel domba dengan 3 kali pencukuran. Untuk total

keseluruhan data sebesar 145,58 dengan jumlah rata-rata data dikuadratkan

sebesar 887,6574.

Hal pertama yang harus dihitung ialah menghitung variabilitas dari seluruh

sampel didapat FK sebesar 883,06. Jumlah kuadrat total atau JKT 4,6 yang

merupakan jumlah kuadrat selisih antara skor individual dengan rata-rata total.

Jumlah kuadrat W (antar individu) sebesar 3,07 dan jumlah kuadrat E (dalam

individu) sebesar 1,53.

Pengetahuan tentang ripitabilitas suatu sifat dapat digunakan dalam

mengetahui batas minimal nilai heritabilitas dari sifat yang sama diamati,

menaksir besarnya suatu sifat yang munculnya berulang selama hidupnya,


menduga produktivitas pada masa yang akan datang yang mempunyai satu atau

12
lebih catatan produksi dengan prediksi MPPA, menduga ketelitian nilai

heritabilitas dengan menggunakan beberapa catatan produksi menggunakan

prediksi, dan menduga respon seleksi dari catatan berulang menggunakan

prediksi. Untuk hasil ragam genetik atau dalam individu (w) yang dihitung sebesar

0,115, ragam e atau antar individu 0,096, dan hasil penjumlahan ragam sebesar

0,54 dengan S.E(r) ataustandar error 0,14.

2.6 Kesimpulan
Besarnya nilai ripitabilitas berkisar antara 0 dan 1 dan selalu lebih besar
atau sama dengan nilai heritabilitas karena nilai ripitabilitas dipengaruhi oleh
lingkungan permanen (r ≥ h²). Hasil analisis statistika besarnya nilai ripitabilitas
yang diukur adalah 0,54 ± 0,14.

2.7 Daftar Pustaka


Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemulian Ternak di Lapangan. PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Pallawaruka. 1999. Ilmu Pemulian Ternak Perah. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Warwick, E. J. 1987. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press.


Yogyakarta.

13
PRAKTIKUM 3

(Pendugaan Nilai Heritabilitas dengan Pola Regresi)

3.1 Pendahuluan
Pada umumnya kita perlu mengetahui sifat yang diturunkan oleh tetua.
Sifat yang diturunkan dsebut juga dengan kemiripan. Kemiripan ini dapat
diturunkan oleh ibu atau bapak, maupun tetua dengan anaknya. Kemiripan dapat
disebabkan oleh genotip dan juga disebabkan oleh lingkungan. Pengaruh
lingkungan biasanya muncul apabila ternak ternak -ternak tersebut mendapatkan
lingkungan yang sama.
Heritabilitas merupakan parameter genetik yang sangat penting dalam
selekasi, karena dapat mengetahui berapa besar respon yang dapat diharapkan.
Nilai heritabilitas tinggi akan menunjukkan bahwa respon yang diharapkan dalam
program seleksi tinggi. Heritabilitas menunjukkan bagian dari keragaman suatu
sifat yang diakibatkan oleh pengaruh genetik. Heritabilitas dibagi menjadi dua
konteks, yaitu heritabiitas arti luas dan heritabilitas dalam arti sempit.
Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan praktikum pendugaan nilai
heritabilitas dengan pola regresi agar dapat mengetahui sifat yang diturunkan
tetua kepada anaknya dan mengetahui jumlah besar dari sifat yang diturunkan
oleh tetua.

3.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum ini adalah agar mampu menganalisis hasil dari
heritabilitas dengan mengatahui rumus yang digunakan.

3.3 Tinjauan Kepustakaan


Heritabilitas mengukur keragaman total pada fenotipik yang disebabkan
oleh keragaman aditif. h2 mengukur kepentingan relatif antara pengaruh genetik
dan lingkungan untuk suatu sifat pada suatu populasi. h2 sebagai ukuran yang

14
menunjukkan tingkat kesamaan penampilan antara anak-anak dengan tetuanya.
Suatu sifat dikatakan mempunyai nilai heritabilitas tinggi bila ternak-ternak dalam
suatu populasi mempunyai penampilan yang baik untuk sifat tersebut cendrung
menghasilkan keturunan dengan penampilan yang baik pula, dan ternak-ternak
dengan penampilan buruk atau rendah cenderung menghasilkan keturunan
dengan penampilan yang rendah pula (Kurnianto, 2009). Secara sederhana
heritabilitas berhubungan dengan proporsi keragaman fenotipik yang dikontrol
oleh gen. proporsi ini dapat diwariskan pada generasi selanjutnya (Noor, 1995).
Heritabilitas berubah menurut jenis ternak, sifat, populasi, bangsa, waktu, dan
daerah. (Edey, 1983). Nilai heritabilitas dikatakan kecil atau rendah jika memiliki
nilai 0,00 sampai 0,2 atau kurang dari 0,10 (Hardjosubroto, 1994), sedangkan
dikelompokkan tinggi jika nilai heritabilitas lebih besar dari 0,3 (Preston dan Willis,
1979).
Jika diasumsikan bahwa keragaman antara dua populasi tidak berbeda
maka regresi antara anak dengan rataan tetuannya dapat digunakan untuk
mengestimasi nilai heritabilitas suatu sifat. Oleh karena anak hanya mewarisi ½
gen-gen dari salah satu tetuanya maka heritabilitas dapat juga diestimasi dari
regresi antar anak dengan salah satu tetuannya. Heritabilitas yang diestimasi
dengan cara ini adalah sebesar 2 x koefisien regresinya (Warwick dkk., 1990).
Taksiran heritabilitas anak-tetua menggunakan regresi data dari anak
terhadap data orang tuanya dan secara statistik dapat ditunjukkan sebagai
berikut:
2𝑐𝑜𝑣(𝑋,𝑌)
h²=
𝜎𝑥2

Cov(X,Y) = Peragam antara anak dan tetua. Karena tetua memberikan ½ pengaruh
genetic kepada anaknya.
2
𝜎𝑥 = Ragam tetua.

15
3.4 Metoda Praktikum
1. Setiap kelompok mendapatkan satu set data. Tentukan jumlah nilai, rata-
rata, dan nilai heritabilitas.
2. Buatlah kesimpulan dari hasil analisis tersebut.
3. Tuliskan laporan sementara dalam kertas polio.

3.5 Hasil dan Pembahasan


3.5.1 Hasil Pengamatan
Tabel dibawah ini adalah hasil pengukuran performa anak dan bapanya.
No Bapak Anak ̅ )2
(X-𝑿 ̅)
(X-𝑿 ̅ ) (Y-𝒀
(X-𝑿 ̅)

(x) (y)
1 10,39 15,72 23,72 -4,82 9,25
2 12,67 16,99 6,45 -2,54 1,65
3 13,70 16,87 2,28 -1,51 1,16
4 13,74 18,14 2,16 -1,47 -0,79
5 14,14 18,66 2,89 -1,7 -1,73
6 14,48 17,97 0,53 -0,73 -1,24
7 14,76 17,97 0,20 -0,45 -0,15
8 15,21 17,71 0 0 0
9 15,24 17,18 0,0009 -0,03 1,25
10 15,47 17,80 0,067 0,26 -1,37
11 16,45 17,64 1,54 1,24 -1,32
12 16,47 18,63 1,59 1,26 3,05
13 16,61 16,66 1,96 1,40 0,71
14 16,92 16,87 2,92 1,71 0,66
15 17,19 19,18 3,92 1,98 12,564
16 17,23 17,99 4,08 2,02 0,74
17 17,97 17,88 7,62 2,76
Jumlah 258,64 299,86 61,93 -0,62

16
Rata- 15,21 17,64 3,64 -0,036
rata
Tabel 3.1 Data Performa Berat Lahir Sapi Brahman dan Bapaknya

2 𝑐𝑜𝑣 (𝑥,𝑦)
h2 =
𝜎𝑥 2
0,74
=2( ) = 0,41
3,64

3.5.2 Pembahasan
Hasil perhitungan data yang diberikan menunjukan nilai heritabilitas berat
lahir pedet dengan nilai sebesar 0,41 nilai heritabilitas ini termasuk tinggi sesuai
dengan pernyataan Dalton (1980) bahwa nilai heritabilitas termasuk dalam kelas
tinggi apabila nilainya lebih tinggi daripada 0,3. Nilai heritabilitas yang didapat bisa
berbeda beda nilainya bergantung dari data yang didapatkan. Hal ini sesuai
dengan pendapat Warwick (1990) nilai heritabilas tergantung dari keragaman
lingkungan, metode analisis dan jumlah sampel yang digunakan. Perbedaan nilai
heritabilitas dapat disebabkan karena heritabilitas bukan merupakan konstanta
dan bergantung pada jumlah populasi, waktu estimasi, dan bangsa ternak.
Nilai heritabilitas dari data adalah 0,41 menunjukan berat lahir induknya
akan diturunkan pada anaknya sehingga berat lahir anaknya akan menyerupai
induknya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hardjosubroto (1994) seekor ternak
yang memiliki nilai heritabilitas tinggi pada salah satu sifat yang diinginkan
diharapkan keturunannya akan memiliki keunggulan dari sifat tersebut yang
diwariskan sebesar angka pewarisan atau heritabilitas yang dimiliki sifat tersebut.

3.6 Kesimpulan

17
Berdasarkan hasil perhitungan, maka didapatkan nilai heritabilitas sebesar
0,41 artinya kemampuan bapak untuk menurunkan berat lahir kepada
keturunannya adalah sebesar 41 %.

3.7 Daftar Pustaka


Edey, T. N. 1983. Tropical Sheep and Goat Production. Australian Universities
International Development Program (AUIDP), Canberra.
Hardjosubroto W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Jakarta:
Grasindo.
Kurnianto, Edy. 2009. Pemuliaan Ternak. Graha ilmu. Yogyakarta.
Noor, R. R. 1995. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.
Preston, T.R., and M.B. Willis. 1979. Intensive Beef Production. Pregamon Press,
Oxford, New York.
Warwick, E.J., and Legates. 1990. Breeding and Improvement of Animal. TMH Ed.
Tata Mc Graw Hill Publishing Company Ltd. New Delhi.

18
Praktikum 4

(Pendugaan Heritabilitas Pola Half-Sib dengan Analisis Ragam)

4.1 Pendahuluan

Sebagaimana diketahui bahwa fenotipe pada seekor ternak ditentukan


oleh faktor genetik dan non genetik. Faktor genetik merupakan faktor yang
mendapatkan perhatian pemulia ternak, karena faktor genetik tersebut
diwariskan dari generasi tetua kepada anaknya. Selanjutnya perlu diketahui
sampai sejauh mana fenotipe seekor ternak dapat digunakan sebagai indikator
dalam menduga mutu genetik ternak. Untuk itulah kemudian dikembangkan suatu
konsep berupa koefesien yang dikenal dengan heritabilitas.

Pada umumnya dikenal dua pengertian tentang heritabilitas. Pertama,


heritabilitas dalam arti luas (broad sense), yaitu perbandingan antara ragam
genetik yang merupakan gabungan dari ragam genetik aditif, dominan dan
epistasis, dengan ragam fenotipik.Nilai heritabilitas dapat meningkat atau
menurun dengan berubahnya bagian komponennya. Meningkatnya h2 dapat
disebabkan oleh turunnya ragam lingkungan atau meningkatnya ragam genetik.
Sebaliknya bila ragam lingkungan meningkat atau ragam genetik menurun maka
heritabilitas akan turun.

4.2 Tujuan Praktikum

1. Untuk mengetahui nilai heritabilitas menggunakan varian (pola half sib).


2. Untuk mengetahui derajat kemiripan di dalam kelompok saudara tiri
sebapak.
3. Untuk mengetahui nilai heritabilitas menggunakan analisis ragam

19
4.3 Tinjauan Kepustakaan

Menurut Warwick (1995) heritabilitas adalah istilah yang digunakan untuk


menunjukan bagian dari keragaman total dari suatu sifat yang diakibatkan oleh
pengaruh genetik. Heritabilitas dapat diperhitungkan dalam dua konteks secara
luas pengaruh keturunan termasuk semua pengaruh gen, yaitu aditif, dominan,
dan epistasis. Memasukkan darah baru ke dalam suatu populasi ternak akan
meningkatkan ragam genetic dalam populasi tersebut sehingga menaikkan nilai
heritabilitas yang diperoleh (Harjosubroto, 1994).Menurut Falconer (1981) bahwa
heritabilitas besar dari 0.3 tergolong kategori tinggi. Heritabilitas disebut dalam
kategori tinggi adalah besar dari 0.5. Heritabilitas berat badan 1 tahun pada Sapi
Bali berkisar 0.35-0.8. besar kecilnya heritabilitas dalam suatu populasi yang
dianalisis akan tergantung pada jumlah pejantan yang diamati, cara pengambilan
sample dan metode perhitungan yang digunakan.
Heretabilitas bisa diartikan sebagai ukuran yang menunjukkan tingkat
kesamaan penampilan antara anak-anak dengan tetuanya. Nilai heretabilitas
berselang antara 0 – 1, nilai heritabilitas mendekati 1 menunjukan bahwa suatu
sifat memberikan respon yang lebih baik terhadap perlakuan seleksi (Kurnianto,
2009). Nilai heretabilitas dapat digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu nilai
heretabilitas suatu sifat dikatakan rendah jika berada antara 0-0,02. Sedang
antara 0,2-0,4 tinggi untuk nilai lebih dari 0,4. Sifat yang memiliki heretabilitas
tinggi adalah yang berhubungan dengan fertilitas, misalnya daya tetas telur (Noor,
1996). Nilai heritabilitas negatif atau lebih dari satu secara biologis tidak mungkin.
Hal tersebut dimungkinkan disebabkan oleh keseragaman yang
disebabkan oleh lingkungan yang berbeda untuk keluarga kelompok yang
berbeda, metode yang digunakan tidak tepat sehingga tiadak dapat menunjukkan
antara ragam genetik dan ragam lingkungan dengan efektif, kesalahan dalam
pengambilan contoh (Warwick dkk., 1995).Hanson (1963) menyatakan nilai
heritabilitas dalam arti luas menunjukkan genetik total dalam kaitannya

20
keragaman genotip, sedangkan menurut Poespodarsono (1988), bahwa makin
tinggi nilai heritabilitas satu sifat makin besar pengaruh genetiknya dibanding
lingkungan. Dalam menentukan sifat-sifat yang ada kaitannya dengan sifat yang
dituju, maka diperlukan informasi hubungan antara sifat-sifat tersebut dengan
sifat-sifat yang akan diperbaiki.

Analisis ragam dipakai dalam pemuliaan ternak untuk menduga ragam


genetik dan fenotipik. Sejak tahun 1985 analisis ini tidak dipakai lagi dengan mulai
dikembangkanya analisis Restricted Maximum Likelihood (REML). Sampai sekarang
REML bisa dikatakan sebagai analisis standar dunia untuk menduga ragam
peragam dalam pemuliaan ternak (Pirchner,1981).Dalam half-sib individu-individu
yang diamati berasal dari salah satu tetuanya, baik yang jantan maupun yang
betina, yang dikawinkan secara random/acak dalam suatu populasi. Pola half-sib
dengan jantan sebagai tetua bersama lebih populer dibandingkan dengan betina
sebagai tetua bersama karena jantan biasanya mempunyai anak lebih banyak
dibandingkan dengan betina. Derajat kemiripan bisa diduga dengan Intraclass
Korelasi. Intraclass Korelasi mengukur derajat kemiripan anak di dalam suatu
kelompok dibandingkan dengan kelompok yang lain berdasarkan tetua bersama
(Hammond, 1992).

4.4 Metoda Praktikum

1. Hitung nilai dugaan heritabilitas dari data yang telah disediakan


2. Hitung komponen keragaman dengan analisis ragam menggunakan kalkulator
dan Ms.Excel

21
4.5 Hasil dan Pembahasan

4.5.1 Hasil Pengamatan

Dibawah ini tabel hasil pengukuran performa anak dari 3 ekor pejantan. Duga nilai
heritabilitasnya.

NO Pejantan Total
1 2 3
1 3,44 3,58 3,73
2 3,91 4,09 3,50
3 2,51 3,53 3,61
4 3,79 3,67 3,28
5 3,50 3,61 3,38
6 3,28 3,62 3,45
𝚺 21,43 22,1 20,95 64,48
𝚺𝒚𝟐 76,81 81,61 73,28 231,7
Tabel 4.1 Pendugaan nilai heritabilitas pada half-sib

N = 3 x 6 = 18 k=6

𝑦2 (64,48)2
1. FK = = = 230,98
𝑁 18

2. JK Total = Σ𝑦 2 - FK
= 231,7 – 230,98 = 0,72

(21,43)2 (22,1)2 (20,95)2


3. JK Pejantan = + + – FK
6 6 6

= 76,54 + 81,40 + 73,15 – 230,98 = 0,11

4. JK Galat = JK Total – JK Pejantan

= 0,72 – 0,11 = 0,61

22
Sumber Db Jk KT Komponen
Keragaman
3–1=2 0,11 0,055 = 𝜎 2 +k𝜎 2 𝑠
Antar pejantan
Galat (6–1)x3=15 0,61 0,041 = 𝜎 2𝑤
Total 17 0,72
Tabel 4.2 Tabel Sidik Ragam

5. 𝜎 2 𝑤 = 0,041
6. 𝜎 2 𝑠 = 0,0023
𝜎2 𝑠 0,0023
7. t = 𝜎2 𝑠+𝜎2 𝑤 = 0,0023+0,041 = 0,0531

ℎ2 = 4t

= 4 x 0,0531 = 0,2124

4.5.2 Pembahasan

Nilai heritabilitas diperoleh dari perbandingan antara ragam yang


disebabkan oleh faktor genetik dengan ragam fenotipik. Berdasarkan hasil
perhitungan tersebut diperoleh nilai heritabilitas sebesar 0.475. Nilai heretabilitas
0.475 dapat digolongkan ke kategori sedang. Hal tersebut didukung Noor (1996)
yang menyatakan bahwa nilai pemulian antara 0.2 – 0.4 dikategorikan sedang. Hal
ini berarti kemampuan untuk menurunkan sifat produksi seekor dari tetua ke
anaknya sebesar 23% dipengaruhi oleh potensi genetik dan 77% dipengaruhi oleh
lingkungan. Memasukkan darah baru ke dalam suatu populasi ternak akan
meningkatkan ragam genetic dalam populasi tersebut sehingga menaikkan nilai
heritabilitas yang diperoleh (Harjosubroto, 1994). Menurut Poespodarsono
(1988), bahwa makin tinggi nilai heritabilitas satu sifat makin besar pengaruh
genetiknya dibanding lingkungan.

Dari data yang digunakan, didapatkan pola half-sib dengan jantan sebagai

tetuanya yaitu sebanyak tiga ekor dengan masing-masing anaknya berjumlah

23
enam. Hal tersebut karena menurut pernyataan Hammond (1992) bahwa pola

half-sib dengan jantan sebagai tetua bersama lebih populer dibandingkan dengan

betina sebagai tetua bersama karena jantan biasanya mempunyai anak lebih
banyak dibandingkan dengan betina.
4.6 Kesimpulan

Performa seekor ternak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan ( P


= G + E). Faktor genetik yang mempengaruhi performa ternak salah satunya
adalah dari nilai heritabilitas yaitu besarnya nilai kesamaan performa yang
diturunkan dari tetua kepada anaknya, berdasatkan data yang diperoleh nilai
heritabilitasnya sebesar 0,22.

4.7 Daftar Pustaka

Warwick, E. J. 1995. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press.


Yogyakarta.

Falconer, D.S. 1981. Introductian to Quantitavie Genetics. 2nd Edition. Longman


Inc. London.

Kurnianto, Edy. 2009. Pemuliaan Ternak. Graha ilmu. Yogyakarta.

Hanson, W. D. 1963. Heritability. 125-138. In: W.D. Hanson and H. F. Robinson


(ed.) Statistical Genetics and Plant Breeding. Nat. Acad. Sci., Washington,
D.C.

Poespodarsono, S., 1988. Dasar-dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. PAU-IPB


Bekerjasama dengan Lembaga Sumber Daya Informasi IPB, Bogor. 163p

Pirchner, F. 1981. Population Genetics in Animal Breeding. S. Chand and Company


Ltd. New Delhi.

Hammond, K., H.U. Grasser, C.A. McDonald. 1992. Animal Breeding in Modern
Approach. University of Sydney, Australia.
Noor, R. R. 1995. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.

24
Praktikum 5
(Menyusun Indek Seleksi)

5.1 Pendahuluan

Sebagai pemulia ternak yang ingin mendapatkan ternak dengan performa


yang baik tentunya diperlukan metoda seleksi sesuai dengan apa yang ingin kita
capai. Indeks Seleksi merupakan salah satu metode dalam menyeleksi ternak.
Seleksi beberapa sifat yang dikehendaki dari individu dapat dilakukan dengan
metode seleksi indeks. Metode seleksi indeks memungkinkan kita menduga
urutan performa ternak yang baik hingga terendah melalui ranking yang didapat
berdasarkan nilai indeks seleksi. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan
praktikum pendugaan nilai indeks seleksi berdasarkan dua sifat, yaitu produksi
telur dan berat telur dan penentuan ranking tiap individu.

Suatu karakter baik itu karakter yang baik maupun karakter yang buruk
ditentukan oleh genotipe ternak itu sendiri dan ekspresinya dipengaruhi oleh
lingkungan dimana ternak itu dipelihara. Untuk mendapatkan jaminan dan
kestabilan ekspresi potensi yang tinggi maka perlu dilakukan seleksi pada sifat
genetik yang tentunya akan disertai sifat morfologis secara otomatis.Dalam suatu
spesies sifat atau karakter dari individunya sangatlah bervariasi/beragam. Hal ini
disebabkan oleh tempat hidup yang berbeda-beda yang menyebabkan ekspresi
gen yang sama dan bila kesempatan kawin acak tinggi maka makin heterozigotlah
genotype individu nya, sehingga banyak sifat-sifat yang baik maupun yang buruk
tersembunyi oleh keheterozigotan genotipnya.Secara teori rangking dihitung
berdasarkan dengan cara tahapan seleksi terlebih dahulu. Oleh sebab itu
diperlukan pemahaman mengenai seleksi ternak.

25
5.2 Tujuan Praktikum

1. Mempertimbangkan sampai seberapa jauh sifat yang satu lebih penting


daripada sifat yang lain.
2. Mengetahui ranking ternak berdasarkan data yang tersedia setelah
menghitung indeks.

5.3 Tinjauan Kepustakaan

Istilah seleksi dalam pemuliaan ternak menunjukkan keputausan yang

diambil oleh para pemulia pada tiap generasi untuk menentukan ternak mana

yang akan dilpilih sebagai tertua pada generasi berikutnya dan mana yang akan

disisihkan sehingga tidak memberikan keturunan . Keputusan kedua yaitu

menentukan apakah beberapa dari individu-individu yang terpilih akan dibiarkan

mempunyai banyak keturunan sedangkan yang lain hanya akan mempunyai

beberapa keturunan saja (Falconer, 1981).

Semua prosedur seleksi baik yang berdasarkan penampilan individu,

penampilan dari nenek moyang, penampilan dari keturunan senenek moyang,

maupun penampilan saudara kandung, saudara tiri, dan saudara seketurunan

yang lain, mempunyai salah satu atau kedua tujuan berikut ini:

a. Memaksimalkan perbedaan fenotipe antara ternak yang terpilih dengan rata-

rata ternak yang lainnya dalam generasi mereka. Perbedaan ini disebut diferensial

seleksi.

b. Memaksimumkan bagian dari diferensial seleksi yang bersifat genetik. Ini dapat

diartikan memaksimumkan heritabilitas. Prinsip yang dapat dilakukan untuk

memperoleh hali\ ini adalah dengan membakukan lingkungan dengan meksud

membuat ragam lingkungan sekecil mungakin (Wrwick, dkk, 1995).

26
Seleksi indeks banyak digunakan pada peternakan yang lingkungannya

relative seragam. Untuk keakuratan seleksi ini, parameter genetic seperti nilai

heritabilitas, korelasi genetik, dan korelasi fenotip antara sifat harus diketahui.

Sering dalam melakukan seleksi, pembobotan nilai untuk setiap sifat

diperhitungkan untuk mempertimbangkan sampai berapa jauh sifat yang satu

lebih penting dari sifat yang lain. Pemilihan ternak pada akhirnya diduga

berdasarkan nilai indeks. Apabila data mencukupi, cara yang paling cermat untuk

membuat keputusan dalammemilih dua sifat atau lebih yang menggunakan indeks

seleksi. Nilai indeks yang diperoleh dari kombinasi linier sifat-sifat sedapat

mungkin mendekati nilai pemuliaan dari individu. (Warwick dan Lagets,1979).


Cara menghitung Nilai Indeks :

I = (P1 – P)

Keterangan : I = Nilai Indeks

P1 = Performa Ternak

P = Nilai rata – rata Performa Ternak

5.4 Metoda Praktikum

1. Setiap kelompok mendapatkan satu set data. Tentukan nilai seleksi indeks
dan indeks nilai pemuliaan dari data tersebut.
2. Tentukan ranking individu berdasarkan nilai indeks
3. Buatlah kesimpulan dari hasil analisis tersebut.
4. Tuliskan laporan sementara dalam kertas polio.

27
5.5 Hasil Dan Pembahasan
5.5.1 Hasil

Nilai Indek

ID Berat Lahir Berat Sapih NP Berat lahir NP Berat Indek NP Ranking


ternak sapi Bali (kg) Sapi Bali Sapi Bali DOC Total
(kg)
A 12,5 25,5 -1,3 -0,03 -1,33 5
B 15,2 24,7 -0,47 -0,43 -0,9 6
C 16,4 25,6 -0,12 0,02 -0,1 10
D 16,5 25,4 -0,087 -0,08 -0,167 9
E 17,0 26,8 0,063 0,62 0,683 2
F 17,4 24,0 0,183 -0,78 -0,6 7
G 17,7 24,3 0,273 -0,63 -0,35 8
H 18,3 27,6 0,453 1,02 1,47 1
I 18,3 25,9 0,453 0,17 0,62 4
J 18,6 25,8 0,543 0,12 0,66 3
Rata- 16,79 25,56 -0,009 0 -0,0014
Rata
Tabel 5.1 Nilai Indeks Seleksi NP

h2 berat lahir = 0,3

h2 berat sapih = 0,5

5.5.2 Pembahasan

Pemilihan ternak diduga berdasarkan nilai indeks. Apabila data mencukupi,


cara yang paling cermat untuk membuat keputusan dalammemilih dua sifat atau
lebih yang menggunakan indeks seleksi. Nilai indeks yang diperoleh dari kombinasi
linier sifat-sifat sedapat mungkin mendekati nilai pemuliaan dari individu
(Warwick dan Lagets,1979). Berdasarkan data yang peroleh pada tabel 10 ekor
sapi dengan dua performa yang akan diseleksi, yaitu berat lahir dan berat sapih

28
sapi bali. Apabila kita hanya menghitung indeks seleksi berdasarkan rumus diatas,
maka dapat diketahui total indeks yang diperoleh sehingga dapat kita tentukan
ranking dari 10 ternak yang di seleksi, semakin besar nilai indeksnya semakin
tinggi (bagus) rankingnya.

Metode ini menyangkut penentuan nilai masing-masing sifat yang diseleksi


dan nilai-nilai ini akan memberikan sejumlah score (nilai) yang menjadi indeks
ternak yang bersangkutan.Ternak dengan total score tertinggi (indeks) tertinggi
dipilih untuk tujuan seleksi. Penting diperhatikan adalah masing-masing sifat
memiliki koefisien (bobot) yang berbeda-beda tergantung pada nilai ekonominya
(Falconer, 1981). Penentuan koefisien masing-masing sifat dipengaruhi oleh
banyak factor menyangkut demand konsumen, harga pasaran, biaya produksi,
dsb. Sehingga penentuan koefisien secara kasar dapat diperkirakan berdasarkan
atas persentase saja dengan mengingat total koefisien semau sifat yang dipakai
untuk menentukan indeks adalah 1 atau 100%.

Dengan adanya nilai heritabilitas, maka nilai pemuliaan masing – masing


performa di cari terlebih dahulu.

Nilai Pemuliaan (NP) = h2 (Pi – P)

Sehingga kita dapat menghitung nilai indeks dengan menjumlahkan nilai


pemuliaan dari performa ternak.

Nilai Indeks Total = h2 (Pi – P) Produksi Telur + h2 (Pi – P) Berat Telur

Berdasarkan data, diperoleh sapi bali ke - 8 mendapat ranking 1 dengan


perolehan nilai indeks sebesar 1,47. Sedangkan sapi bali ke - 3 mendapat nilai
indeks terendah. Perhitungan seleksi indeks nilai pemuliaan pada seleksi indeks
nilai pemuliaan digunakan nilai Heritabilitas (h2) pada masing masing performa

29
ternak, yaitu nilai heritabilitas berat lahir 0,3, dan nilai heritabilitas berat sapih 0,5.
Fungsi perhitungan seleksi indeks nilai pemuliaan adalah untuk menduga
performa keturunan yang dihasilkan dari induk sesuai data yang diberikan.

5.6 Kesimpulan

Seleksi ternak dapat dilakukan dengan cara seleksi indeks nilai pemuliaan.

Fungsi dari seleksi indeks pemuliaan yaiu menduga ternak mana yang

menghasilkan keturunan yang baik.Seleksi indeks pemuliaan mempertimbangkan

nilai heritabilitas ternak.Dari data tersebut menunjukan tingkat atau rangking


individu ternak berdasarkan indeks dan hasil yang didapat ID sapi ke – 8 paling
tinggi dan ID sapi ke - 3 paling rendah.

5.7 Daftar Pustaka

Falconer, D.S. 1981. Pengenalan Genetika Kuantitatif edisi ketiga. Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta.
Warwick, E. J, 1995. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Warwick, Everett J., dan James E. Lagetes. 1979. Breeding and Improvement of
Farm Animals 7th ed. MC Graw-Hill Book Co. : New York.

30
PRAKTIKUM 6

(Pendugaan Respon Seleksi)

6.1 Pendahuluan

Seleksi merupakan salah satu yang paling penting di dalam kehidupan, baik
pada manusia, ternak dan makhluk hidup lainnya.Setiap makhluk hidup dalam
keadaan apapun selalu melakukan seleksi dimulai dari makhluk yang baru lahir
sampai pada kehidupannya yang terakhir.Seleksi pada umumnya terdiri dari
seleksi alam dan seleksi buatan. Yang membedakan antara seleksi alam
dengan seleksi buatan yaitu kalau seleksi alam terjadi dengan sendirinya
sedangkan seleksi buatan terjadi karena ada ikut campur tangan manusia
dalam proses seleksi tersebut.
Banyak seleksi buatan yang dilakukan agar produktivitas ternak dapat
meningkat sehingga menguntungkan bagi peternak. Salah satu seleksi yang
dilakukan yaitu melalui respon seleksi.

6.1 Tujuan Praktikum


Tujuan praktikum ini dilakukan yaitu :
1. Meningkatkan produktivitas ternak melalui perbaikan mutu bibit
2. Mengetahui respon/kemajuan seleksi yang dilakukan

6.2 Tinjauan Kepustakaan


Seleksi dari segi genetik diartikan sebagai suatu tindakan untuk membiarkan
ternak-ternak tertentu berproduksi, sedangkan ternak lainnya tidak diberi
kesempatan berproduksi. Ternak-ternak pada generasi tertentu bisa menjadi
tetua pada generasi selanjutnya jika terdapat dua kekuatan. Kedua kekuatan
itu adalah seleksi alam dan seleksi buatan (Noor, 2004).
Seleksi dalam pemuliaan ternak adalah memilih ternak yang baik untuk
digunakan sebagai bibit yang menghasilkan generasi yang akan datang. Untuk

31
bidang peternakan, yang diseleksi adalah sifat-sifat terukur seperti kecepatan
pertumbuhan, bobot lahir, produksi susu dan bobot sapih. Sifat-sifat ini
memberikan manfaat secara ekonomi disamping harus mempunyai
kemampuan mewarisi yang tinggi yang dapat ditentukan dari nilai
heritabilitasnya (Falconer, 1972).
Seleksi adalah istilah dalam pemilihan ternak yang menggambarkan proses
pemilihan secara sistimatis ternak-ternak dari suatu populasi untuk dijadikan
tetua generasi berikutnya.

Pada dasarnya seleksi dibagi menjadi dua bentuk yakni:


a. Seleksi Alam Yaitu pemilihan hewan atau ternak menjadi tetua untuk
generasi selanjutnya, yang dilakukan oleh alam. Seleksi alarn yang
berlangsung beratus tahun akan menghasilkan ternak yang mempunyai
daya adaptasi dengan. Lingkungan alarn sekitar yang berlaku setempat.
b. Seleksi Buatan Seleksi yang dilakukan oleh manusia dengan
tujuan tertentu.
Seleksi buatan selanjutnya dapat dibedakan menjadi :
a. Seleksi Individual (Mass Selection)
Yaitu seleksi untuk ternak bibit yang didasarkan pads catatan
produkti fitas masing-masing ternak. Seleksi individual pada ternak sapi
adalah cara seleksi yang paling sederhana dan mudah dilakukan di
pedesaan dengan dasar bobot sapih anak sapi yang ada dan
sebagainya.
b. Seleksi Kekerabatan (Family Selection)
Yaitu seleksi individu atas dasar performans kerabat-
kerabatnya (misalnya saudara tiri sebapak atau saudara kandung).
Seleksi kerabat dilakukan untuk memilih calon pejantan sapi perah
dengan tujuan untuk meningkatkan produksi susu yang tidak dapat
diukur pada ternak sapi jantan, dengan mengukur produksi kerabat-
kerabat betinanya yang menghasilkan susu.

32
c. Seleksi Silsilah (Pedigree Selection)
Seleksi yang dilakukan berdasarkan pada silsilah seekor ternak.
Seleksi ini dilakukann untuk memilih ternak bibit pada umur muda,
sementara hewan muda tersebut belum dapat menunjukkan sifat-sifat
produksinya. Pemilihan Bibit Ternak (contoh : ternak kambing/domba).
Pemilihan bibit ternak bertujuan untuk memperoleh bangsa-
bangsa ternak yang memiliki sifat-sifat produktif potensial seperti
memiliki persentase kelahiran anak yang tinggi, kesuburan yang tinggi,
kecepatan tumbuh yang baik serta persentasi karkas yang baik dan
sebagainya. Kriteria-kriteria yang biasa dipergunakan sebagai pedoman
dalarn rangka melaksanakan seleksi atau pemilihan bibit ialah : bangsa
ternak, kesuburan dan persentase kelahiran anak, temperamen dan
produksi susu induk, produksi daging dan susu, recording dan status
kesehatan temak tersebut.
Simulasi respon seleksi , dugaan respon seleksi akan di duga
dengan rumus :

Dugaan Kemajuan seleksi atau respon seleksi dapatdiungkapkan dengan rumus:

R = Sh2

karena S  i P
Rumus di atas dapat diungkapkan pula dengan :

R = h2 i P

Apabila seleksi diferensial antara jantan dan betina tidak sama, maka diambil rata-
ratanya:

S j  Sb S x = seleksi diferensial rata-rata


Sx  Sj = seleksi diferensialjantan
Sb = seleksi diferensial betina
2
6.3 Metoda Praktikum

33
1. Praktikan diberikan data berupa parameter produksi pada ayam lokal
2. Praktikan mengamati perubahan bobot badan melalui parameter
produksi yang di berikan melalui program excel.
3. Praktikan menganalisis perhitungan untuk mendapatkan pertambahan
bobot badan DOC.

6.4 Hasil dan Pembahasan


6.4.1 Hasil
A. Simulasi 1
No Generasi ke 1

Isi cell warna kuning Betina Jantan


1 Populasi (ekor) 1.100
2 Produksi Telur/bulan (Butir) 23
3 Lama Koleksi Telur (bulan) 3
4 Jumlah Telur 75.900
5 Setting Egg 95%
6 Fertilitas 80%
7 Daya Tetas 80%

8 Jumlah DOC (Ekor) 46.147


Betina Jantan
9 Sex Ratio Jantan:Betina 1:1 23.074 23.074

10 Survival 60 Hari 90% 20.766 20.766


11 Survival Sampai bertelur 75% 15.575 15.575

12 Bobot 60 Hari (gram) 500 550


13 Standard Deviasi (gram) 20 20
14 Heritabilitas
0,30 0,30
15 Intensitas Seleksi 7,06% 0,71%
16 Nilai i 1,91 2,78

17 Dugaan Respon (gram) 11 17


18 Dugaan Bobot Badan Generasi 2 (gram) 511 567
Tabel 6.1 Respon Seleksi Simulasi 1 Generasi 1

NO Betina Jantan
1 Populasi (ekor) 1.100
2 Produksi Telur/bulan 23

34
(Butir)
3 Lama Koleksi Telur 3
(bulan)
4 Jumlah Telur 75.900
5 Setting Egg 95%
6 Fertilitas 80%
7 Daya Tetas 80%

8 Jumlah DOC (Ekor) 46.147


Betina Jantan
9 Sex Ratio Jantan:Betina 1:1 23.074 23.074

10 Survival 60 Hari 90% 20.766 20.766


11 Survival Sampai bertelur 75% 15.575 15.575

12 Bobot 60 Hari (gram) 511 567


13 Standard Deviasi (gram) 20 20
14 Heritabilitas
0,30 0,30
15 Intensitas Seleksi 7,06% 0,71%
16 Nilai i 1,91 2,78

17 Dugaan Respon (gram) 11 17


18 Dugaan Bobot Badan Generasi 3 (gram) 523 583
Tabel 6.2 Respon Seleksi Simulasi 1 Generasi 2

NO Betina Jantan
1 Populasi (ekor) 1.100
2 Produksi Telur/bulan 23

35
(Butir)
3 Lama Koleksi Telur 3
(bulan)
4 Jumlah Telur 75.900
5 Setting Egg 95%
6 Fertilitas 80%
7 Daya Tetas 80%

8 Jumlah DOC (Ekor) 46.147


Betina Jantan
9 Sex Ratio Jantan:Betina 1:1 23.074 23.074

10 Survival 60 Hari 90% 20.766 20.766


11 Survival Sampai bertelur 75% 15.575 15.575

12 Bobot 60 Hari (gram) 523 583


13 Standard Deviasi (gram) 20 20
14 Heritabilitas
0,30 0,30
15 Intensitas Seleksi 6,42% 0,46%
16 Nilai i 1,96 2,81

17 Dugaan Respon (gram) 12 17


18 Dugaan Bobot Badan Generasi 3 (gram) 535 600
Tabel 6.3 Respon Seleksi Simulasi 1 Generasi 3

Jenis Generasi
Kelamin 2 3 4

36
Jantan (1) 567 (2) 583 (3) 600
Betina (4) 511 (5) 523 (6) 534

Tabel 6.4 Hasil Respon Seleksi Simulasi 1

Perhitungan

(1) Bobot 60 Hari + Dugaan respon (gram) = 550 + 17 = 567


(2) Bobot 60 Hari + Dugaan respon (gram) = 567 + 17 = 583
(3) Bobot 60 Hari + Dugaan respon (gram) = 583 + 17 = 600
(4) Bobot 60 Hari + Dugaan respon (gram) = 500 + 11 = 511
(5) Bobot 60 Hari + Dugaan respon (gram) = 511 + 11 = 523
(6) Bobot 60 Hari + Dugaan respon (gram) = 523 + 12 = 535

37
Simulasi 2

Karena terjadi inbreeding, maka mulai dari generasi ke-2 terjadi penurunan
produksi telur dan fertilitas sebesar 2,5%

Jenis Kelamin Generasi


2 3 4
Jantan (1) 567 (2) 583 (3) 600
Betina (4) 511 (5) 523 (6) 534

Perhitungan

(1) Bobot 60 Hari + dugaan respon (gram) = 550 + 17 = 567


(2) Bobot 60 Hari +dugaan respon (gram) = 567 + 17 = 583
(3) Bobot 60 Hari + dugaan respon (gram) = 583 + 16 = 600
(4) Bobot 60 Hari + dugaan respon (gram) = 500 + 11 = 511
(5) Bobot 60 Hari + dugaan respon (gram) = 511 + 11 = 523
(6) Bobot 60 Hari + dugaan respon (gram) = 523 + 11 = 534
6.5.2 Pembahasan

Berdasarkan percobaan simulasi diatas, dapat diketahui bobot badan


individu dari generasi satu hingga generasi ke empat sesuai dengan data
yang diberikan, yaitu nilai heritabilitas, fertilisasi, dan daya tetas, dll.
Melalui respon seleksi, dapat diketahui apakah seleksi yang dilakukan
berhasil atau tidak dan ternak yang tidak lolos seleksi dapat disingkirkan.
Bobot badan dari generasi ke generasi mengalami peningkatan yang
menandakan bahwa program seleksi berhasil dilakukan.

38
6.6 Kesimpulan
Perbaikan mutu bibit dapat dilakukan dengan simulasi respon
seleksi, sehingga dapat diketahui kemajuan sifat yang diinginkan pada
ternak. Faktor yang mempengaruhi respon seleksi yaitu

6.7 Daftar Pustaka

Falconer, D. S. 1972. Introduction To Quantitative Genetics. Longman. London.p.


365

Noor, R. 2004. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta

39