Anda di halaman 1dari 12

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Sekolah : SMAS SANTA MARIA, Tanjungpinang


Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : X / Ganjil
Materi Pokok : Konfigurasi elektron, bilangan kuantum, dan diagram orbital
Alokasi Waktu : 3 JP (2 x pertemuan)

A. Kompetensi Inti
 KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
 KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak
secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar Indikator
3.3 Menjelaskan konfigurasi elektron 3.3.1 Menjelaskan bilangan kuantum utama,
dan pola konfigurasi elektron terluar azimut, magnetik, dan spin.
untuk setiap golongan dalam tabel 3.3.2 Menjelaskan bentuk orbital.
periodik. 3.3.3 Menjelaskan aturan penulisan konfigurasi
elektron berdasarkan prinsip Aufbau, Azas Pauli
(prinsip eksklusi Pauli), dan berdasarkan aturan
Hund.

4.3 Menentukan letak suatu unsur dalam 4.3.1 Menuliskan konfigurasi elektron unsur
tabel periodik berdasarkan golongan A berdasarkan teori atom Niels Bohr.
konfigurasi elektron 4.3.2 Menuliskan konfigurasi elektron suatu
unsur berdasarkan teori Atom Modern (Mekanika
Kuantum)
4.3.3 Menggambarkan penulisan elektron
dalam diagram orbital.
4.3.4 Menentukan keempat bilangan kuantum
dari suatu atom.
4.3.5 Menentukan jumlah elektron valensi.
4.3.6 Menentukan subkulit suatu atom dari
bilangan kuantum dan diagram orbital.

C. Tujuan Pembelajaran
Melalui proses pembelajaran Problem Based Learning, siswa diharapkan aktif dalam
proses pembelajaran, mampu memecahkan masalah berupa pertanyaan-pertanyaan, dan
bertanggungjawab terhadap pendapat yang disampaikan, senantiasa memberikan kritik dan
saran yang membangun, serta mampu menjelaskan dan menghubungkan konfigurasi elektron,
pola konfigurasi electron terluar untuk setiap golongan dalam tabel periodik.

D. Materi Pembelajaran
a. Fakta : Sistem Tabel Periodik Unsur; Nomor atom dan nomor massa.
b. Konsep : Teori atom Bohr; Kedudukan elektron dalam kulit atom menurut teori
Bohr; Teori mekanika kuantum dan bentuk orbital; Teori mekanika kuantum; Konfigurasi
electron dan Bilangan kuantumc.
c. Prinsip : Model atom Bohr; Prinsip Aufbau; Aturan Hund; Larangan Pauli

E. Metode Pembelajaran
Pendekatan : Saintifik
Model Pembelajaran : Kooperatif dan Langsung
Metode : Ceramah, tanya jawab, kuis, diskusi.

F. Media Pembelajaran
Media :
1. Media gambar (cetak).
2. Worksheet atau lembar kerja (siswa)

Alat/Bahan :
1. Spidol, papan tulis
G. Sumber Belajar
1. Ningsih, Sri Rahayu dkk.2016.Kimia untuk SMA/MA Kelompok Peminatan MIPA
Kelas X.Jakarta:Bumi Aksara.
2. Purba, Michael dkk.2012.Kimia untuk SMA/MA Kelas X.Jakarta:Erlangga.
3. Buku refensi yang relevan.

H. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan Pertama (1 JP)
ALOKASI
KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN
WAKTU
Pendahuluan 1. Guru memberi salam dan berdoa sebelum memulai 5 Menit
pembelajaran.
2. Guru memeriksa kondisi kelas kehadiran peserta didik.
3. Guru memberikan motivasi dan memusatkan perhatian
peserta didik terhadap apa yang akan disampaikan.
4. Guru memberikan apersepsi kepada peserta didik:
a. Mengaitkan materi yang dipelajari hari ini yaitu
mengenai “Konfigurasi elektron, bilangan kuantum,
dan bentuk orbital” dengan materi yang dipelajari
minggu sebelumnya mengenai “Teori dan
perkembangan atom”.
b. Menciptakan pengetahuan awal peserta didik
mengenai materi yang dipelajari hari ini.
5. Guru memaparkan tujuan pembelajaran ke peserta
didik.
Inti Kegiatan Eksplorasi 35 Menit
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
1. Melibatkan peserta didik mencari informasi yang
luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan
dipelajari.
2. Guru memberi apersepsi kepada siswa, seperti
menanyakan dimana mereka sering meletakkan
barang-barang kesayangan mereka. Guru
mengingatkan bahwa setiap unsur itu jugs memiliki
elektron, maka elektron itu juga memiliki tempat-
tempatnya tersendiri, nah itulah mengapa yang
namanya konfigurasi elektron. Untuk lebih jelasnya
akan dibahas hari ini.
Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
1. Guru menjelaskan materi tentang konfigurasi
elektron;
2. Ø Guru memberi tahu bahwa konfigursi elektron
sesuai dengan teori atom Bohr hanya berlaku untuk
unsur-unsur pada golongan utama ( gol. A)
3. Guru mengemukakan tentang teori atom Neils Bohr,
bahwa elektron berada pada kulit-kulit atom, kulit
paling dekat dengan inti disebit kulit K yang dapat
ditempati 2 elektron, begitu juga seterusnya.
4. Guru menjelaskan cara penulisan konfigurasi
elektron
5. Guru memberi contoh. Seperti:
K L M
11Mg : 2 8 1
6. Guru memberi soal untuk siswa kerjakan didepan
kelas.
7. Guru menjelaskan 4 bilangan kuantum;
8. Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas,
diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan
baru baik secara lisan maupun tertulis;
9. Memberi kesempatan untuk berfikir, menganalisis,
menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa
takut;
Konfirmasi
1. Guru memberi pertanyaan yang dapat membuat
siswa tersebut berpikir dan mau mencari tahu tentang
pertanyaan tersebut. Misalnya; mengapa pada
penulisan konfigurasi elektron jika sisa elektron
kurang dari 18, maka kulit berikutnya didiisi dengan
8 elektron.
Kegiatan Akhir 1. Guru memberikan penlilaian individu berupa 5 Menit
menanyakan kembali tentang konfigurasi elektron
dan diagram orbital
2. Guru mengarahkan peserta didik untuk
menyimpulkan materi pembelajaran yang telah
dilakukan dan melakukan penegasan terhadap
kesimpulan dari peserta didik.
3. Guru menutup pembelajaran dengan doa dan salam.

I. Penilaian, Pembelajaran Remedial, dan Pengayaan


1. Teknik Penilaian (terlampir)
a. Sikap
- Penilaian Observasi
Penilaian observasi berdasarkan pengamatan sikap dan perilaku peserta didik
sehari-hari, baik terkait dalam proses pembelajaran maupun secara umum.
Pengamatan langsung dilakukan oleh guru. Berikut contoh instrumen penilaian
sikap
Aspek Perilaku yang
Jumla Skor Kode
No Nama Siswa Dinilai
h Skor Sikap Nilai
BS JJ TJ DS
1
2 ... ... ... ... ... ... ...

Keterangan :
• BS : Bekerja Sama
• JJ : Jujur
• TJ : Tanggung Jawab
• DS : Disiplin

Catatan :
1. Aspek perilaku dinilai dengan kriteria:
100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Cukup
25 = Kurang
2. Skor maksimal = jumlah sikap yang dinilai dikalikan jumlah kriteria = 100 x
4 = 400
3. Skor sikap = jumlah skor dibagi jumlah sikap yang dinilai = 275 : 4 = 68,75
4. Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00 = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00 = Baik (B)
25,01 – 50,00 = Cukup (C)
00,00 – 25,00 = Kurang (K)
5. Format di atas dapat diubah sesuai dengan aspek perilaku yang ingin dinilai

b. Pengetahuan
- Tertulis Uraian
- Tes Lisan berupa tanya jawab dan percakapan
Praktek Monolog atau Dialog
Penilaian Aspek Percakapan
Skala Jumla Skor Kode
No Aspek yang Dinilai
25 50 75 100 h Skor Sikap Nilai
1 Intonasi
2 Pelafalan
3 Kelancaran
4 Ekspresi
5 Penampilan
6 Gestur

c. Keterampilan
- Penilaian Unjuk Kerja
Contoh instrumen penilaian unjuk kerja dapat dilihat pada instrumen penilaian
ujian keterampilan berbicara sebagai berikut:
Instrumen Penilaian
Sangat Kurang Tidak
Baik
No Aspek yang Dinilai Baik Baik Baik
(75)
(100) (50) (25)
Kesesuaian respon dengan
1
pertanyaan
2 Keserasian pemilihan kata
Kesesuaian penggunaan tata
3
bahasa
4 Pelafalan

Kriteria penilaian (skor)


100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Kurang Baik
25 = Tidak Baik

Tanjungpinang,20 Agustus 2019

Guru Pamong, Guru Praktikan,


Sudirman Pakpahan, S.Pd Falentina Hutasoit

NIM. 160384204025

Mengetahui,
Kepala Sekolah SMAS Santa Maria

Adrick Bernardy, S.Pd.Ing


Nik.1990 301 0458
Lampiran

RINGKASAN MATERI

KONFIGURASI ELEKTRON & BILANGAN KUANTUM

A. Konfigurasi Elektron
Konfigurasi elektron merupakan susunan elektron-elektron
pada sebuah atom, ion, atau molekul yang berdasarkan hukum
mekanika kuantum. Berdasarkan teori atom Bohr, gerakan elektron
mengelilingi inti mengikuti lintasan-lintasan tertentu. Lintasan-
lintasan elektron itu dapat dipandang sebagai kulit-kulit atom.
Jumlah kulit-kulit atom menentukan konfigurasi elektron.
Konfigurasi elektron mengikuti aturan-aturan berikut:
a. Tiap kulit atom dari yang paling dalam (dekat inti) diberi notasi K, L, M, N, ... untuk
menyatakan kulit atom 1, 2, 3, 4, ... dan seterusnya.
b. Tiap kulit atom maksimum berisi 2n2, n adalah nomor kulit atom.
Jadi, kulit K (n = 1) maksimum berisi elektron 2 x 12 = 2 elektron;
kulit L (n = 2) maksimum berisi elektron 2 x 22 = 8 elektron;
kulit M (n = 3) maksimum berisi elektron 2 x 32 = 18 elektron.
Semakin besar nilai n, maka semakin jauh jarak elektron itu dari inti.

Menurut prinsip Aufbau (Jerman: aufbauen = membangun), konfigurasi elektron


dimulai dari subkulit yang memiliki tingkat energi terendah dan diikuti dengan subkulit yang
memiliki tingkat energi lebih tinggi. Hal itu disebabkan dalam atom (pada kondisi dasarnya),
elektron berada dalam tingkat-tingkat energi terendah. Misalnya, dalam atom hidrogen,
elektron ditempatkan pada subtingkatan energi (subkulit) 1s. Jadi konfigurasi elektron
hidrogen adalah 1s1.

Berdasarkan diagram tersebut, pengisian elektron dalam suatu atom disusun berdasarkan
urutan:

1s, 2s, 2p, 3s, 3p, 4s, 3d, 4p, 5s, 4d, 5p, 6s, 4f, 5d, 6p, 7s, 5f, 6d, 7p.

B. Bilangan Kuantum
Bilangan yang menyatakan kedudukan atau posisi elektron dalam atom yang diwakili
oleh suatu nilai yang menjelaskan kuantitas kekal dalam sistem dinamis, dibedakan menjadi:
1. Bilangan Kuantum Utama (n)
Bilangan kuantum utama menunjukkan tingkatan energi elektron dan sesuai dengan
tingkatan energi atom Bohr (menunjukkan lintasan elektron atau kulit atom). Makin besar
nilai n, makin besar ukuran orbital yang dihuni elektron itu. Seperti dalam model atom Bohr,
n dapat bernilai 1, 2, 3, ... sampai tak berhingga.
2. Bilangan Kuantum Azimut (l)
Bilangan kuantum azimut menentukan bentuk orbital dan subtingkatan energi. Nilai l
bergantung pada nilai bilangan kuantum utama, n. Untuk setiap nilai n yang diberikan, nilai l
dari l = 0 sampai l = n – 1.

3. Bilangan Kuantum Magnetik (m)


Bilangan kuantum magnetik menyatakan orientasi orbital atau posisi orbital terhadap
orbital lain di dalam ruang. Hal itu disebabkan tiap subkulit tersusun atas satu orbital atau
lebih. Nilai bilangan kuantum magnetik berupa bilangan bulat antara –l dan +l. Subtingkatan
energi (subkulit) s hanya terdiri atas 1 orbital,
subkulit p terdiri atas 3 orbital, subkulit d terdiri atas 5 orbital, dan subkulit f terdiri atas 7
orbital.
4. Bilangan Kuantum Spin (s)
Spin muncul karena elektron berperilaku seperti gasing (mirip dengan rotasi bumi).
Gerakan itu menyebabkan elektron bersifat elektromagnet. Hal itu dapat digambarkan seperti
mengalirkan arus listrik pada kumparan yang mengelilingi sebuah paku sehingga bersifat
magnet. Karena elekton hanya dapat berputar pada salah satu dari magnet, maka spin
memiliki dua nilai, yaitu +1/2 dan –1/2.

Pada tahun 1926, Wolfgang Pauli menyelidiki tidak adanya garis pada spektrum
pancaran yang seharusnya ada menurut teori yang berlaku. Berdasarkan penyelidikannya, ia
menyimpulkan bahwa tidak ada elektron dalam sebuah atom yang boleh memiliki keempat
bilangan kuantum yang sama. Kesimpulan itu selanjutnya dikenal dengan nama asas eksklusi
(pengecualian/larangan) Pauli.

Menurut asas ini, dua elektron dapat memiliki bilangan kuantum n, l, dan m yang
sama, tetapi harus memiliki bilangan kuantum spin (s) yang berbeda. Jadi, asas ini membatasi
jumlah elektron dalam tiap orbital. Tiap orbital maksimum diisi oleh dua elektron dan
keduanya harus memiliki rotasi yang berlawanan.

Berdasarkan asas pengecualian Pauli, jumlah elektron maksimum di setiap orbital


adalah dua. Jumlah elektron maksimum yang dapat ditempatkan pada subtingkatan energi
(subkulit) s, p, d, dan f sebagai berikut: