Anda di halaman 1dari 9

PAPER

PERUNDINGAN DAN PERJANJIAN INTERNASIONAL

CONTOH PERJANJIAN BILATERAL INTERNASIONAL JANGKA


PENDEK DAN JANGKA PANJANG

OLEH :

WAODE NURLIA

C1B117262

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

JURUSAN HUBUNGAN ITERNASIONAL

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019
CONTOH PERJANJIAN BILATERAL INTERNASIONAL JANGKA

PENDEK DAN JANGKA PANJANG

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Kerjasama antarnegara saat ini sudah tidak dapat lagi dihindarkan.

Bentuk kehidupan yang kompleks sangat rentan untuk tejadi

perselisihan. Untuk menghindari agar perselisihan tidak terjadi maka

masyarakat internasional harus senantiasa bertumpu pada norma atau

aturan. Aturan tersebut tidak hanya dibuat untuk menghindari

perselisihan, akan tetapi juga untuk menertibkan, mengatur dan

memelihara hubungan antarnegara. Perwujudan kerjasama tersebut

dituangkan dalam bentuk perjanjian.

Tidak dapat dinafikan betapa batas-batas teritorial suatu negara

nasional kini tidak lagi menjadi penghalang bagi berbagai aktivitas

ekonomi yang semakin pesat. Demikian pula lahan beroperasinya

pekerjaan hukum yang semakin mendunia. Fenomena di atas, nyata

sekali dengan berkembangnya penggunaan istilah yang

mengindikasikan dilampauinya batas-batas tradisional dan teritorial

nasional suatu negara, seperti istilah transnational corporation,

transnational capitalist class, transnational practices, transnational


information exchange, the international managerial bourgoisie, trans-

state norms,3 dan lain-lain. Dalam perkembangan kehidupan bersama

manusia yang cenderung semakin tidak mengenal batas negara ini,

boleh jadi kesepakatan antar negaranegara dalam menyelesaikan

berbagai persoalan yang dituangkan dalam bentuk perjanjian

internasional merupakan sumber hukum yang semakin penting.

Persoalannya.

TUJUAN

Untuk mengetahui contoh perjanjian bilateral internasional jangka

pendek dan jangka panjang.

BAB II DASAR TEORI / LANDASAN TEORI

Perjanjian Internasional adalah hasil kesepakatan yang dibuat oleh

subyek hukum internasional baik yang berbentuk bilateral, reginal

maupun multilateral.

Perjanjian Bilateral adalah perjanjian apabila yang menjadi pihak dua

negara, sedangkan regional adalah perjanjian apabila yang menjadi

pihak negara-negara dalam satu kawasan sedangkan multilaretal

adalah perjanjian yang apabila pihaknya lebih dari dua negara atau

hampir seluruh negara di dunia dan tidak terikat dalam satu kawasan

tertentu. Sedangkan menurut Konvensi wina Pasal 2 1969, Perjanjian


Internasional (treaty) didefinisikan sebgai: “Suatu Persetujuan yang

dibuat antara negara dalam bentuk tertulis, dan diatur oleh hukum

internasional, apakah dalam instrumen tunggal atau dua atau lebih

instrumen yang berkaitan dan apapun nama yang diberikan padanya.”

Definisi ini kemudian dikembangkan oleh pasal 1 ayat 3 Undang-

undang Republik Indonesia nomor 37 tahun 1999 tentang Hubungan

Luar Negeri yaitu: Perjanjian Internasional adalah perjanjian dalam

bentuk dan sebuitan apapun, yang diatur oleh hukum internasional

dan dibuat secara tertulis oleh pemerintah Republik Indonesia dengan

satua atau lebih negara, organisasi internasional atau subyek hukum

internasional lainnya, serta menimbulkan hak dan kewajiban pada

pemerintah Republik Indonesia yang bersifat hukum publik”.

Menurut Pasal 38 (1) Piagam Makamah Internasional, Perjanjian

Internasional merupakan salah satu sumber hukum Internasional.

perjanjian Internasional yang diakui oleh pasal 38 (1) Piagam

Makamah Internasional hanya perjanjian – perjanjian yang dapat

membuat hukum (Law Making Treaties).


BAB III PEMBAHASAN

CONTOH PERJANJIAN BILATERAL JANGKA PENDEK

Perjanjian Bilateral Indonesia dan Singapura Tentang Penetapan

Garis Batas Laut Wilayah Kedua Negara di Selat Singapura

Indonesia dan Singapura telah memiliki hubungan yang baik dalam ikatan

sejarah yang panjang. Perbatasan wilayah antara Indonesia dengan Singapura

adalah perbatasan laut, yaitu terletak di Selat Singapura.

Salah satu cara untuk menetapkan garis batas wilayah maritim suatu negara

adalah dengan melakukan perjanjian perbatasan dengan negara lain. Indonesia

dan Singapura telah melakukan beberapa kali pertemuan utuk membicarakan

penyelesaian batas maritim kedua negara di Selat Singapura.

Perundingan Perjanjian ini tersetujui pada tahun 1973 di tandatangani di Jakarta

tahun 1973 antara Republik Indonesia dan Republik Singapura tentang

Penetapan Garis Batas Laut Wilayah Kedua Negara di Selat Singapura.

Perjanjian tersebut memiliki nama resmi Treaty between the Republic of

Indonesia and the Republic of Singapore Relating to the Delimitating of the

Territorial seas of the Two Countries in the Strait of Singapore.

Perundingan Indonesia dan Singapura yang diadakan pada tahun 1973 tersebut

telah berhasil menentukan batas maritim bagian tengah yang berupa garis lurus
yang ditarik dari 6 (enam) titik yang titik koordinatnya telah disepakatai kedua

negara.

Dalam penetapan garis batas laut ini terdiri dari tim teknis Penetapan Batas

Maritim RI (selanjutnya disebutkan Tim Teknis). Tim Teknis terdiri dari

perwakilan para pejabat, personil dan pakar beberapa kementerian/lembaga,

seperti Kementrian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian

Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi dan

Sumber Daya Mineral, Badan Informasi Geospasial, dan Markas Besar TNI serta

Dinas Hidro-Oseanografi TNI AL. Selain itu, Tim Teknis juga dilengkapi dengan

Dewan Penasihat Tim Teknis yang terdiri dari pakar seperti Dr.N. Hasan

Wirajuda, Prof. Hajim Djalal, Prof. Hikmahanto Juwana, dll. Anggota Tim

Teknis dari Badan Informasi Geospasial terdiri dari Dr. Asep Karsidi (sebagai

mantan Kepala BIG), Prof. Dr. Sobar Sutisna, Dr. –Ing Khadif, Sora Lokita,

Eko Artanto, dan Astrit Rimayanti. Plt. Kepala BIG, Ibu Titiek Suparwati.

CONTOH PERJANJIAN BILATERAL JANGKA PANJANG

Perjanjian Bilateral Indonesia dan Republik Rakyat China

Perjanjian antara Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok mengenai

soal dwikewarganegaraan tertanggal 22 April 1955, berdasar atas Prinsip

persamaan derajat; Prinsip saling memberi manfaat; dan Prinsip tidak campur

tangan di dalam politik dalam negeri Negara masing-masing; berkeinginan


menyelesaikan sebaik-baiknya dengan kerja-sama dalam persahabatan masalah

kewarganegaraan dari orang-orang yang serempak mempunyai kewarganegaraan

Republik Indonesia dan kewarganegaraan Republik Rakyat Tiongkok, memutus

mengadakan Perjanjian ini dan untuk itu telah mengangkat Wakil-wakil Berkuasa

Penuh mereka

Pada tanggal 22 April 1955 Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Indonesia

telah menandatangani Perjanjian mengenai soal Dwikewarganegaraan. Pada

waktu Yang Mulia mengunjungi Republik Rakyat Tiongkok, kedua Pemerintah

kita telah bertukar pikiran lebih lanjut sepenuhnya di Peking tentang tujuan dan

cara pelaksanaan Perjanjian ini dan telah mencapai persesuaian faham yang

sekarang saja nyatakan lagi sebagai berikut :

1. Tujuan dari Perjanjian mengenai soal Dwikewarganegaraan tersebut di atas

ialah menyelesaikan soal Dwikewarganegaraan antara Republik Rakyat

Tiongkok dan Republik Indonesia, suatu masalah yang kita warisi dari jaman

yang lampau dan penyelesaian masalah adalah sesuai dengan kepentingan

Rakyat kedua negara. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, kedua

Pemerintah menyetujui dalam Pelaksanaan Perjanjian tersebut di atas, untuk

mengambil segala tindakan-tindakan yang seperlunya dan memberikan segala

kelonggaran sehingga segenap orang yang mempunyai. Dwikewarganegaraan

dapat memilih kewarganegaraannya menurut kehendak sendiri.

2. Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok dan Pemerintah Republik Indonesia

menyetujui bahwa diantara mereka yang serempak berkewarganegaraan


Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok terdapat suatu golongan,

yang dapat dianggap mempunyai hanya satu kewarganegaraan dan tidak

mempunyai dwikewarganegaraan karena, menurut pendapat Pemerintah

Republik Indonesia, kedudukan sosial dan politik mereka membuktikan

bahwa mereka dengan sendirinya (secara implisit) telah melepaskan

kewarganegaraannya Republik Rakyat Tiongkok. Orang-orang yang termasuk

golongan tersebut di atas, karena mereka mempunyai hanya satu

kewarganegaraan, tidak diwajibkan untuk memilih kewarganegaraan menurut

ketentuan-ketentuan Perjanjian Dwikewarganegaraan. Jikalau dikehendakinya,

sepucuk surat keterangan tentang hal itu dapat diberikan kepada orang-orang

sedemikian itu.

3. Untuk menghindarkan sesuatu salah faham mengenai ketentuan tentang

berlakunya jangka waktu 20 tahun dalam pasal XIV Perjanjian

Dwikewarganegaraan tersebut di atas, kedua Pemerintah menyetujui tafsiran

yang berikut, yaitu orang-orang yang sekali telah memilih

kewarganegaraannya sesuai dengan Perjanjian tersebut di atas, tidak akan

diwajibkan memilih lagi setelah jangka waktu 20 tahun itu berakhir.

4. Agar supaya Perjanjian tersebut di atas dilaksanakan dengan memuaskan,

kedua Pemerintah menyetujui membentuk di Jakarta suatu Panitya Bersama

yang terdiri dari wakil-wakil Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah

Republik Rakyat Tiongkok. Tugas Panitya Bersama itu ialah

memperbincangkan dan merencanakan cara penglaksanaan Perjanjian

Dwikewarganegaraan tersebut di atas.


5. Sebelum jangka waktu dua tahun yang ditetapkan untuk memilih

kewarganegaraan berakhir, kedudukan yang sekarang ini daripada orang-

orang yang mempunyai Dwikewarganegaraan tidak akan berubah sampai dan

setelah mereka melakukan pilihan kewarganegaraaannya sesuai dengan

ketentuan-ketentuan Perjanjian tersebut di atas.

ttd. Chou En-Lai. Pedana Menteri Dewan Negara Republik Rakyat Tiongkok.

Disetujui D.P.R. dalam rapat pleno terbuka ke-149 pada hari Selasa tanggal 17

Desember 1957, P. 59/1957

BAB IV KESIMPULAN

Dari kedua perjanjian diatas dapat dilihat bahwa perjanjian bilateral

jangka pendek dan jangka panjang, jadi perjanjian bilateral jangka

pendek dapat dilihat pada perjanjan antara Indonesia dan Singupara,

yang dilakukan perjanjian pada tahun 1973 dan di setujui pada tahun

1973 di Jakarta, Adapun perjanjian bilateral jangka panjang dapat kita

lihat pada perjanjian anatara Indonesia dan China yang dilakukan

perjanjian 22 April 1955 dan disetujui pada tanggal 17 Desember

1957 berselang dua (2) tahun.