Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH IMUNOLOGI

IMUNOLOGI KANKER

Disusun oleh:

Eva Nurul Kusuma Dewi (16330135)

Kelas: Imunologi (D)

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA

2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas izin dan kuasaNya-lah
penulis bisa menyelesaikan makalah Imunologi ini, yakni berupa makalah dengan judul
“Imunologi Kanker”.

Dalam penyusunan makalah ini kami mengalami berbagai hambatan, namun hambatan
itu bisa penulis lalui karena pertolongan Allah dan berbagai pihak lainnya. Oleh karena itu,
penulis ucapkan terima kasih kepada segala pihak yang telah membantu penulis dalam
penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, baik materi
maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala
kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh
karenanya, penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran
dan usul guna penyempurnaan makalah ini.

Penulis berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, Oktober 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i


DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Imunologi Kanker............................................................................................ 2
2.2 Immunosurveilan ............................................................................................. 3
2.3 Immunoediting ................................................................................................ 3
2.4 Patogenesis Kanker .......................................................................................... 5
2.5 Respon Imun Terhadap Kanker ........................................................................ 5
2.6 Antigen Kanker yang Menginduksi Respon Imun ........................................... 7
2.7 Mekanisme Efektor Melawan Tumor............................................................... 8
2.8 Sel Tumor Menghidar Dari Respon Imun ...................................................... 12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 16

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejak lahir setiap individu sudah dilengkapi dengan sistem pertahanan, sehingga
tubuh dapat mempertahankan keutuhannya dari berbagai gangguan yang datang dari luar
maupun dari dalam tubuh. Sistem imun dirancang untuk melindungi inang (host) dari
patogen-patogen penginvasi dan untuk menghilangkan penyakit. Sistem imun
diklasifikasikan sebagai sistem imun bawaan (innate immunity system) atau sering juga
disebut respon/sistem nonspesifik serta sistem imun adaptif (adaptive immunity system)
atau respon/sistem spesifik, bergantung pada derajat selektivitas mekanisme pertahanan.
Sistem imun terbagi menjadi dua cabang: imunitas humoral, yang merupakan fungsi
protektif imunisasi dapat ditemukan pada humor dan imunitas selular, yang fungsi
protektifnya berkaitan dengan sel.

Imunologi adalah cabang ilmu biomedis yang berkaitan dengan respons organisme
terhadap penolakan antigenic, pengenalan diri sendiri dan bukan dirinya, serta semua
efek biologis, serologis dan kimia fisika fenomena imun.

Dalam menghadapi serangan benda asing yang dapat menimbulkan infeksi atau
kerusakan jaringan, tubuh manusia dibekali sistem pertahanan untuk melindungi dirinya.
Sistem pertahanan tubuh yang dikenal sebagai mekanisme imunitas alamiah ini,
merupakan tipe pertahanan yang mempunyai spektrum luas, yang artinya tidak hanya
ditujukan kepada antigen yang spesifik. Selain itu, di dalam tubuh manusia juga
ditemukan mekanisme imunitas yang didapat yang hanya diekspresikan dan
dibangkitkan karena paparan antigen yang spesifik. Tipe yang terakhir ini, dapat
dikelompokkan manjadi imunitas yang didapat secara aktif dan didapat secara pasif.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Imunologi Kanker

Imunologi adalah ilmu yang mencakup kajian mengenai semua aspek sistem imun
(kekebalan) pada semua organisme. Imunologi kanker adalah studi tentang interaksi
antara sistem kekebalan tubuh dengan sel-sel kanker (juga disebut tumor atau
keganasan). Ini juga merupakan bidang penelitian yang bertujuan untuk menemukan
immunoterapi inovatif guna mengobati kanker dan menghambat perkembangan penyakit
ini.

Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan
mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan
tidak terkendali (Rosai J, 2004).

Transformasi sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit
yang terdiri dari (Kartawiguna E, 2001) :

a) Fase inisiasi
Fase dimana berubahnya sel normal tubuh menjadi sel yang peka. Pada tahap
inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing sel
menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen
yang disebut karsinogen.
b) Fase promosi.
Sel terinisiasi dapat tetap tenang bila tidak dihidupkan oleh zat yang disebut
promotor. Promotor sendiri tidak dapat menginduksi perubahan kearah neoplasma
sebelum bekerja pada sel terinisiasi, hal ini telah dibuktikan pada percobaan
binatang. Bila promotor ditambahkan pada sel terinisiasi dalam kultur jaringan, sel
ini akan berproliferasi. Jadi promotor adalah zat proliferatif. Promosi adalah proses
yang menyebabkan sel terinisiasi berkembang menjadi sel preneoplasma oleh
stimulus zat lain (promotor).

2
c) Fase progresi.
Fase ini berlangsung berbulan-bulan. Pada awal fase ini, sel preneoplasma
dalam stadium metaplasia berkembang progresif menjadi stadium displasia sebelum
menjadi neoplasma. Terjadi ekspansi populasi sel-sel ini secara spontan dan
ireversibel. Sel-sel menjadi kurang responsif terhadap sistem imunitas tubuh dan
regulasi sel.

2.2 Immunosurveilan

Immunosurveilan kanker adalah teori yang dirumuskan pada tahun 1957 oleh
Burnet dan Thomas, yang menyatakan bahwa limfosit bertindak (secara terus menerus)
sebagai penjaga yang bisa mengenali dan menghilangkan sel-sel yang berubah.
Immunosurveilan kanker tampaknya menjadi tuan rumah perlindungan dalam proses
penting yang menghambat karsinogenesis dan mempertahankan homeostasis seluler.
Teori ini juga telah menyatakan bahwa immunosurveilan terutama berfungsi sebagai
komponen dari proses yang lebih umum pada immunoediting kanker.

2.3 Immunoediting

Immunoediting adalah suatu proses saat seseorang dilindungi dari pertumbuhan


kanker dan pengembangan imunogenisitas tumor oleh sistem kekebalan tubuh mereka.
Hal ini memiliki tiga tahap utama: eliminasi, keseimbangan dan melarikan diri.

1. Eliminasi
Tahap eliminasi terdiri dari empat tahap, yaitu sebagai berikut:
a) Eliminasi Tahap 1
Tahap pertama penghapusan melibatkan inisiasi respon imun antitumor. Sel-
sel dari sistem kekebalan tubuh bawaan mengenali adanya pertumbuhan tumor
yang telah mengalami renovasi stroma, menyebabkan kerusakan jaringan lokal.
Ini diikuti dengan induksi sinyal-sinyal inflamasi yang penting untuk merekrut
sel-sel dari sistem kekebalan tubuh bawaan (misalnya sel pembunuh alami, sel-
sel pembunuh alami T, makrofag dan sel dendritik) ke situs tumor. Selama fase
ini, infiltrasi limfosit seperti sel-sel pembunuh alami dan sel T pembunuh alami
dirangsang untuk memproduksi IFN-gamma.
b) Eliminasi Tahap 2

3
Pada fase kedua eliminasi, IFN-gamma yang baru disintesis menyebabkan
kematian tumor (dalam jumlah terbatas) serta mempromosikan produksi
CXCL10 kemokin, CXCL9 dan CXCL11. Kemokin ini memainkan peran
penting dalam mempromosikan kematian tumor dengan menghalangi
pembentukan pembuluh darah baru. Serpihan sel tumor yang merupakan hasil
dari kematian tumor kemudian dicerna oleh sel dendritik, diikuti dengan migrasi
sel-sel dendritik ke kelenjar getah bening. Rekrutmen sel kekebalan yang lebih
banyak juga terjadi dan dipicu oleh kemokin (yang dihasilkan selama proses
inflamasi).
c) Eliminasi Tahap 3
Pada tahap ketiga, sel-sel pembunuh alami dan makrofag ber-transactivate satu
sama lain melalui produksi timbal balik IFN-gamma dan IL-12. Ini lagi-lagi
mempromosikan lebih banyak pembunuh tumor oleh sel-sel melalui apoptosis
dan produksi intermediasi oksigen reaktif dan nitrogen. Dalam pengeringan
kelenjar getah bening, sel dendritik tumor-tertentu memicu timbunlnya
diferensiasi sel Th1 yang pada gilirannya memfasilitasi pengembangan sel T
CD8 +.
d) Eliminasi Tahap 4
Pada tahap akhir eliminasi, sel-sel spesialisasi tumor : CD4 + dan CD8 + sel T
datang ke situs tumor dan sitolitik T limfosit kemudian menghancurkan sel
tumor yang tetap di situs ini.
2. Keseimbangan dan Escape (pelarian)
Varian-varian sel tumor yang selamat dari fase eliminasi memasuki fase
keseimbangan. Pada tahap ini, limfosit dan IFN-gamma mengerahkan tekanan
seleksi pada sel tumor yang secara genetik tidak stabil dan cepat bermutasi. varian
sel tumor yang telah memperoleh resistensi untuk eliminasi kemudian memasuki
fase melarikan diri. Pada tahap ini, sel tumor terus tumbuh dan berkembang secara
tidak terkontrol dan akhirnya dapat menyebabkan keganasan.
Antigen tumor, dapat merupakan protein hasil mutasi gen dari proses
keganasan. Antigen ini kadangkala merupakan protein yang normal terdapat dalam
tubuh namun diekspresikan berlebihan. Antigen ini dapat pula berupa protein yang
hanya dilepaskan pada keadaan atau stadium tertentu pada pertumbuhan tumor
sehingga baru menimbulkan respon imun pada waktu tertentu. Antigen tumor dapat
pula sebagai hasil dari infeksi virus apabila tumor tersebut merupakan akibat dari

4
infeksi virus onkogenik, misalnya pada kanker leher rahim yang disebabkan oleh
virus papilloma manusia (Human Papilloma Virus, HPV).
2.4 Patogenesis Kanker

Semua kanker bermula dari sel, yang merupakan unit dasar kehidupan tubuh.
Untuk memahami kanker, sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi ketika sel-
sel normal menjadi sel kanker. Tubuh terdiri dari banyak jenis sel. Sel-sel tumbuh dan
membelah secara terkontrol untuk menghasilkan lebih banyak sel seperti yang
dibutuhkan untuk menjaga tubuh sehat. Ketika sel menjadi tua atau rusak, mereka mati
dan diganti dengan sel-sel baru. Kematian sel terprogram ini disebut apoptosis, dan
ketika proses ini rusak, kanker mulai terbentuk. Sel dapat mengalami pertumbuhan yang
tidak terkendali jika ada kerusakan atau mutasi pada DNA.

Empat jenis gen yang bertanggung jawab untuk proses pembelahan sel yaitu
onkogen yang mangatur proses pembahagian sel, gen penekan tumor yang menghalang
dari pembahagian sel, suicide gene yang kontrol apoptosis dan gen DNA-perbaikan
menginstruksikan sel untuk memperbaiki DNA yang rusak. Maka, kanker merupakan
hasil dari mutasi DNA onkogen dan gen penekan tumor sehingga menyebabkan
pertumbuhan sel yang tidak terkendali (National Cancer Institute, 2009).

Sel-sel tambahan ini dapat membentuk massa jaringan yang disebut tumor. Namun,
tidak semua jenis tumor itu kanker. Tumor dapat dibagikan sebagai tumor jinak dan
ganas di mana yang jinak dapat dihapus dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain
manakala tumor ganas merupakan kanker yang dapat menyerang jaringan sekitar dan
menyebar ke bagian tubuh lain. Beberapa kanker tidak membentuk tumor misalnya
leukemia (National Cancer Institute, 2009).

2.5 Respon Imun Terhadap Kanker

Respons imun terhadap sel tumor utamanya diperantarai oleh sel T sitotoksik (T
CD8+) yang spesifik terhadap antigen tumor. Aktivasi sel T CD8+ ini tidak hanya
membutuhkan perantara kompleks histokompatibilitas mayor (Major Histocompatibility
Complex, MHC) kelas I saja namun juga membutuhkan kostimulasi dari MHC kelas II
(sel T CD4+). Adanya aktivasi kedua kelas MHC ini merupakan salah satu dasar tujuan
keberhasilan vaksinasi terhadap penderita kanker leher rahim yang positif terinfeksi HPV
tipe 16 (HPV16). Dalam penelitian ini, vaksin yang diberikan terbukti sangat

5
imunogenik sehingga mampu meningkatkan proliferasi baik sel T CD8+ maupun sel T
CD4+, sebagai sel-sel efektor antitumor leher rahim. Dengan meningkatkan proliferasi
dan responsivitas sel T, maka diharapkan respon imun terhadap sel-sel tumor dapat
ditingkatkan.

Meskipun demikian, respon imun seringkali gagal mengenali sel-sel tumor sebagai
sel yang harus dieradikasi. Hal ini disebabkan sel-sel tumor tersebut memiliki
mekanisme untuk menurunkan efektivitas pertahanan sel-sel kekebalan tubuh. Terdapat 4
mekanisme campur tangan sel tumor dalam menurunkan efektivitas pertahanan tubuh ini.
Pertama, sel-sel tumor ini bersifat imunogen yang lemah, sehingga tidak cukup memicu
respons imun tubuh untuk menghancurkannya. Beberapa tumor dapat juga membuat
variasi antigen untuk diekspresikan apabila terdapat suatu antigen tumor yang berhasil
memicu respons imun. Hal ini disebut sebagai ―antigen loss variants‖. Pada mekanisme
ketiga, sel-sel tumor tidak mengekspresikan molekul MHC kelas I sehingga tidak mampu
mempresentasikan antigen sel tumor kepada sel T CD8+. Dengan demikian, maka sel T
CD8+ tidak mampu melakukan tugasnya untuk mengeradikasi sel-sel tumor. Selain itu,
terdapat mekanisme inhibisi terhadap kerja sel T yang diperantarai oleh CTLA-4 dan
PD-1 seperti yang terjadi pada mekanisme toleransi imun.

Peran penting imunitas lainnya adalah untuk menemukan dan menghancurkan


tumor. Sel tumor menunjukan antigen yang tidak ditemukan pada sel normal. Untuk
sistem imun, antigen tersebut muncul sebagai antigen asing dan kehadiran mereka
menyebabkan sel imun menyerang sel tumor. Antigen yang ditunjukan oleh tumor
memiliki beberapa sumber; beberapa berasal dari virus onkogenik seperti papillomavirus,
yang menyebabkan kanker leher rahim, sementara lainnya adalah protein organisme
sendiri yang muncul pada tingkat rendah pada sel normal tetapi mencapai tingkat tinggi
pada sel tumor. Salah satu contoh adalah enzim yang disebut tirosinase yang ketika
ditunjukan pada tingkat tinggi, merubah beberapa sel kulit (seperti melanosit) menjadi
tumor yang disebut melanoma. Kemungkinan sumber ketiga antigen tumor adalah
protein yang secara normal penting untuk mengatur pertumbuhan dan proses bertahan
hidup sel, yang umumnya bermutasi menjadi kanker membujuk molekul sehingga sel
termodifikasi sehingga meningkatkan keganasan sel tumor.Sel yang termodifikasi
sehingga meningkatkan keganasan sel tumor disebut onkogen.

6
2.6 Antigen Kanker yang Menginduksi Respon Imun

Sebelumnya muncul asumsi bahwa sel tumor mengekspresikan antigen tumor,


namun tidak dapat membangkitkan sistem imun karena tidak menginduksi inflamasi
(asumsi karena tumor bukanlah suatu patogen). Namun, asumsi ini tidak tervalidasi
karena fakta sekarang adalah produk onkogen yang menjadi aktif, pada
perkembangannya dapat menginisiasi respon inflamasi yang kuat. Beberapa contoh
adalah:

1. Studi in vivo pada model tikus tumor paru-paru, yang mengalami mutasi onkogen
K-Ras, memproduksi kemokin yang membangkitkan sistem imun dan menyediakan
lingkungan mikro yang cocok untuk tumorigenesis.
2. Protein RET-PTC, produk fusi onkogen yang mampu mengaktifkan faktor
transkripsi NF-κB yang mengatur imunoregulator sitokin pada perkembangan
kanker tiroid. Protein RET-PTC meningkatkan produksi granulocyte–macrophage
colony-stimulating factor (GM-CSF) dan monocyte chemotactic protein 1 (MCP-1),
selanjutnya membuat lingkungan mikro pro-inflamasi.
3. Produk dari kematian sel seperti heat-shock protein dan monosodium urat adalah
substansi inflamasi pada lingkungan mikro tumor yang bisa memberikan sinyal
berbahaya pada sistem imun.
4. Antigen tumor MUC1, CEA dan NY-ESO juga telah diketahui mampu
membangkitkan respon inflamasi dan memberikan sinyal berbahaya.

Gambar 1 Tiga cara self-antigen bisa menjadi tumor antigen.

Peptida dari protein self normal (kuning, biru, hijau) dipresentasikan pada
permukaan sel normal sebagai peptida self (kuning, biru, hijau) pada molekul MHC.
Pada suatu kasus mutasi (panel A), kegagalan sel tumor untuk repair DNA damage dapat

7
menghasilkan mutasi (merah) pada protein normal, selanjutnya presentasi peptida mutant
(merah) pada permukaan sel tumor. Karena mutasi atau faktor yang meregulasi
ekspresinya, suatu protein normal (hijau) dapat mengalami over-ekspresi pada sel tumor
dan peptidanya dipresentasikan pada permukaan sel pada level yang tinggi (panel B).
Pada kasus modifikasi post-translasi (panel C), protein normal bisa menjadi abnormal
ketika proses splicing, glikosilasi, fosforilasi atau pemberian lipid (strip hijau),
menghasilkan peptida abnormal pada permukann sel tumor.

2.7 Mekanisme Efektor Melawan Tumor

Respon utama sistem imun terhadap tumor adalah untuk menghancurkan sel
abnormal menggunakan sel T pembunuh, terkadang dengan bantuan sel T pembantu.
Antigen tumor ada pada molekul MHC kelas I pada cara yang mirip dengan antigen
virus. Hal ini menyebabkan sel T pembunuh mengenali sel tumor sebagai sel abnormal.
Sel NK juga membunuh sel tumor dengan cara yang mirip, terutama jika sel tumor
memiliki molekul MHC kelas I lebih sedikit pada permukaan mereka daripada keadaan
normal; hal ini merupakan fenomena umum dengan tumor.Terkadang antibodi dihasilkan
melawan sel tumor yang menyebabkan kehancuran mereka oleh sistem komplemen.

1. Limfosit T
Peptida dari produk gen yang termutasi atau terekspresi abnormal akan
dihancurkan oleh proteasom menjadi potongan peptida, dan dengan molekul major
histocompatibility complex (MHC) kelas I, potongan protein disajikan untuk sel
limfosit T CD8+ (CTL) (Gambar 2. CTL merespon tumor dengan induksi cross-
priming. Sel tumor atau antigen tumor diolah dan dipresentasikan kepada sel T oleh
profesional APC (misal sel dendritik).

Gambar 2. Induksi respon sel T terhadap Tumor

8
Sel limfosit T CD8+ (CTL) merespon tumor dengan induksi cross-priming. Sel
tumor atau antigen tumor diolah dan dipresentasikan kepada sel T oleh profesional
APC (misal sel dendritik). Pada beberapa kasus, kostimulator B7 diekspresikan oleh
APC sehingga menyediakan sinyal kedua untuk diferensiasi sel T CD8+. APC juga
menstimulasi sel T helper CD4+ yang memberikan sinyal kedua untuk
perkembangan sel T. CTL yang telah berdiferensiasi akan membunuh sel tumor
tidak memerlukan lagi kostimulator atau sel Th.

2. Sel dendritic
Sel dendritik adalah sel dengan spesialisasi menangkap antigen tumor,
memproses, dan mempresentasikannya kepada sel T untuk menghasilkan respons
imun anti-tumor. Sel DC memegang pearanan penting pada immune surveilance
karena bisa mengaktifkan respons anti-tumor. Namun, ternyata sel DC pada
penderita kanker secara fungsional mengalami kerusakan.

Gambar 3. Cara kerja sel denditrik (DC) dalam merespon antigen tumor. DC akan menyajikan
peptida dengan MHC I dan II dan menginduksi aktivasi CTL dan Th
3. Sel NK

Sitotoksisitas alami yang diperankan oleh sel NK merupakan mekanisme


efektor yang sangat penting dalam melawan tumor. Sel NK adalah sel efektor
dengan sitotoksisitas spontan terhadap berbagai jenis sel target. Sel-sel efektor ini
tidak memiliki sifat-sifat klasik dari makrofag, granulosit maupun CTL, dan sifat
sitotoksisitasnya tidak bergantung pada MHC.

Sel NK dapat berperan baik dalam sistem imun nonspesifik maupun spesifik
terhadap tumor, dapat diaktivasi langsung melalui pengenalan antigen tumor atau
sebagai akibat aktivitas sitokin yang diproduksi oleh limfosit T spesifik tumor.
Mekanisme lisis yang sama dengan mekanisme yang digunakan sel sel T CD8+

9
untuk membunuh sel, tetapi sel NK tidak mengekspresikan TCR dan mempunyai
rentang spesifitas yang lebar.

Sel NK dapat membunuh sel terinfeksi virus dan sel-sel tumor tertentu,
khususnya tumor hemopoetik in vitro. Sel NK tidak dapat melisiskan sel yang
mengekspresikan MHC, tetapi sebaliknya sel tumor yang tidak mengekspresikan
MHC yang biasanya lolos dari CTL, menjadi sasaran empuk sel NK. Sel NK dapat
diarahkan untuk melisiskan sel yang dilapisi imunoglobulin karena sel NK
mempunyai reseptor Fc (FcgIII atau CD16) untuk molekul IgG.

Di antara reseptor penting yang dimiliki oleh sel NK adalah reseptor NKG2D
yang merupakan glikoprotein transmembran. Ligan NKG2D sering diekspresikan
pada permukaan sel tumor yang menyebabkan sel tumor sensiitif untuk pembunuhan
oleh sel NK. Hal ini membuktikan bahwa pengenalan sel tumor oleh sel-sel imun
tidak selalu harus melibatkan MHC.

Gambar 4. Peranan NK dalam merespon antigen kanker

Kemampuan membunuh sel tumor ditingkatkan oleh sitokin termasuk IFN,


TNF, IL-2 dan IL-12. Karena itu peran NK dalam aktivitas anti-tumor juga
bergantung pada rangsangan yang terjadi secara bersamaan pada sel T dan makrofag
yang memproduksi sitokin tersebut.

4. Sel iNKT

Sel iNKT adalah subset limfosit T yang menjembatani imunitas bawaan dan
imunitas adaptif. Sel iNKT dapat memproduksi berbagai sitokin Th1 dan Th2, dan
sitokin ini dapat mengaktivasi sel efektor baik sistem imun bawaan maupun adaptif.

10
Interaksi antara sel iNKT dengan sel DC immature mengakibatkan sel DC mampu
mempresentasikan antigen, yang memfasilitasi respons sel CD4+, CD8+, dan sel B.
Selain itu produksi sitokin oleh iNKT dapat dirangsang tanpa bergantung pada
pengikatan TCR. Karena sifat-sifat di atas, iNKT dianggap merupakan sel poten
dalam respons imun terhadap kanker dan immune surveilance.

Suatu penelitian pada mencit membuktikan bahwa sel iNKT dapat


mengendalikan pertumbuhan tumor dengan cara membatasi atau menghambat fungsi
tumor associated macrophage (TAM) yang berperan dalam menunjang neo-
angiogenesis dan pertumbuhan tumor.

5. Makrofag
Makrofag merupakan mediator seluler yang potensial dalam imunitas
antitumor. Beberapa bukti yang mendukung hipotesis itu adalah:
a) Makrofag dapat berakumulasi dalam jumlah besar dalam jaringan tumor.
b) Makrofag mempunyai kemampuan alami atau apabila diaktifkan untuk
melisiskan sel target.
c) Penekanan fungsi makrofag dengan berbagai cara misalnya dengan memberikan
silika, diasosikan dengan pengingkatan insiden tumor dan metastasis.
d) Transfer adoptif makrofag yang diaktifkan in vitro maupun in vivo menghambat
penyebaran tumor.
e) Beberapa jenis karsinogen dapat menekan fungsi retikuloendotel.
f) Stimulasi makrofag dengan berbagai imunomodulator diasosiasikan dengan
berkurangnya pertumbuhan tumor atau insidensi tumor.

Mekanisme makrofag dalam membunuh tumor:

a) Makrofag dapat melisiskan sel tumor, tidak pada sel normal (in vitro).
b) Makrofag mengekspresikan reseptor Fc-gamma dan aktivitasnya dapat
diarahkan kepada tumor yang dilapisi antibodi (ADCC , prosesnya mirip pada
sel NK).
c) Mekanisme pembunuhan bisa diasosikan pada pembunuhan mikroba yaitu
melepas enzim lisosom, ROI, dan RNI..
d) Makrofag teraktivasi, juga memproduksi TNF. TNF merusak sel tumor dengan
efek toksik langsung atau secara tidak langsung dengan merusak pembuluh
darah tumor (nekrosis). Sedangkan efek toksik langsung terjadi melalui

11
pengikatan TNF pada reseptornya pada permukaan sel tumor dan menginduksi
apoptosis.
Namun demikian, akhir-akhir in terbukti bahwa dalam interaksinya dengan
sel-sel tuor, makrofag bermuka dua. Makrofag dapat menunjukkan fenotip yang
bersifat anti-tumor yang diperankan oleh fenotip M1. Makrofag tipe M1 mampu
menghasilkan sitokin pro-inflamasi (TNF-a, IL-1, IL-6, IL-12 atau IL-23 dalam
jumlah banyak), mengekspresikan molekul MHC dalam kadar tinggi, memproduksi
iNOS dan terlibat dalam pembunuhan sel tumor.

Tetapi fenotip lain yaitu M2, menekan respon inflamasi dengan memproduksi
sitokin IL-4, IL-10, dan IL-13, menekan ekspresi MHC II, dan mempromosikan
proliferasi sel tumor dengan memproduksi faktor pertumbuhan dan meningkatkan
angiogenesis. Sebagain besar tumor asociated macrophage (TAM) merupkan fenotip
M2.

6. Antibodi
Penderita kanker dapat memproduksi antibodi terhadap berbagai antigen
tumor, misal antibodi terhadap EBV tumor yang disebabkan oleh EBV. Mekanisme
kerja antibodi dalam eliminasi tumor melalui proses ADCC, di mana makrofag dan
sel NK yang mengekspresikan reseptor Fc-gamma memperantarai pembunuhan atau
melalui aktivasi komplemen.

Gambar 5. Peranan antigen dalam merespon kanker

2.8 Sel Tumor Menghidar dari Respon Imun

Beberapa tumor menghindari sistem imun dan terus berkembang sampai menjadi
kanker.Sel tumor sering memiliki jumlah molekul MHC kelas I yang berkurang pada
permukaan mereka, sehingga dapat menghindari deteksi oleh sel T pembunuh. Beberapa
sel tumor juga mengeluarkan produk yang mencegah respon imun; contohnya dengan

12
mengsekresikan sitokin TGF-β, yang menekan aktivitas makrofaga dan limfosit.
Toleransi imunologikal dapat berkembang terhadap antigen tumor, sehingga sistem imun
tidak lagi menyerang sel tumor.

Makrofaga dapat meningkatkan perkembangan tumor ketika sel tumor mengirim


sitokin yang menarik makrofaga yang menyebabkan dihasilkannya sitokin dan faktor
pertumbuhan yang memelihara perkembangan tumor. Kombinasi hipoksia pada tumor
dan sitokin diproduksi oleh makrofaga menyebabkan sel tumor mengurangi produksi
protein yang menghalangi metastasis dan selanjutnya membantu penyebaran sel kanker.
Ketika melampaui batas menyatukan dengan sel kanker, makrofaga (sel putih yang lebih
kecil) akan menyuntikkan toksin yang akan membunuh sel tumor. Imunoterapi untuk
perawatan kanker merupakan salah satu hal yang diteliti oleh penelitian medis.

Walaupun diyakini bahwa sistem imun dapat memberikan respons terhadap


pertumbuhan tumor ganas, pada kenyataannya banyak tumor ganas tetap bisa tumbuh
pada individu imunokompeten karena immune surveilance terhadap tumor ganas ini
relatif tidak efektif. Penjelasan sederhana adalah mungkin kecepatan pertumbuhan dan
penyebaran tumor ganas melebihi kemampuan sel efektor respons imun untuk mencegah
pertumbuhan itu. Jadi kegagalan immune surveilance merupakan kegagalan mekanisme
efektor sistem imun host.

Respon imun sering gagal dalam mendeteksi adanya sel tumor. Kegagalan ini bisa
karena sistem imun yang inaktif atau sel tumor berkembang untuk menghindari respon
imun. Sel tumor menghindari diri dari respon imun dengan beberapa cara, di antaranya
adalah:

1. Tumor dapat memiliki imunogenitas yang rendah, beberapa tumor tidak memiliki
peptida atau protein lain yang dapat ditampilkan oleh molekul MHC. Oleh karena itu
sistem imun tidak melihat ada sesuatu yang abnormal.
2. Sel tumor lain tidak memiliki molekul MHC dan kebanyakan tidak mengekspresikan
protein ko-stimulator (molekul B7 atau CD80 dan CD86) yang dibutuhkan untuk
dapat mengaktivasi sel T.
3. Sel tumor dan stroma sekitar dapat memproduksi sitokin imunosupresive yang kuat
dan faktor pertumbuhan (growth factor). Di antara sitokin tersebut yang sudah
dikarakterisasi dengan baik adalah transforming growth factor-β (TGF-β) yang dapat
menghambat aktivasi sel T, diferensiasi, dan proliferasi. TGF-β mendorong tumor

13
untuk menghindar dari sistem imun, dan tingginya level plasma TGF-β
menunjukkan prognosis yang buruk.
4. Tumor mengekspresikan FasL yang menginduksi apoptosis limfosit yang
menginfiltrasi jaringan.

Gambar 6. Mekanisme yang membuat sel tumor menghindar dari pertahanan tubuh.

Imunuitas antitumor berkembang ketika sel T mengenali antigen tumor dan mereka
lalu diaktifkan. Sel tumor mampu menghindar dari respon imun dengan menghilangkan
ekspresi atau molekul MHC atau dengan memproduksi sitokin imunosupresif.

Tumor bisa menekan kekebalan baik secara sistemik dan dalam lingkungan mikro
tumor. Selain memproduksi imunosupresif molekul seperti mengubah TGF-β dan ligan
FasL, banyak tumor menghasilkan imunosupresif enzim indolamine-2,3-dioksigenase
(IDO). Enzim ini dikenal karena perannya dalam toleransi maternal terhadap antigen dari
fetus dan sebagai regulator dari autoimunitas yang memperantarai penghambatan
aktivasi sel T. Stereoisomer dari 1-metil-triptofan menghambat IDO, dan jika diberikan
pada tikus yang ditranspant tumor, mereka mengembalikan imunitas dan dengan
demikian memungkinkan imunitas anti-tumor. Stereoisomer tersebut bisa memiliki peran
dalam pengobatan kanker.
14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Imunologi adalah ilmu yang mencakup kajian mengenai semua aspek sistem imun
(kekebalan) pada semua organisme. Imunologi kanker adalah studi tentang interaksi
antara sistem kekebalan tubuh dengan sel-sel kanker (juga disebut tumor atau
keganasan).

Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan
mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan
tidak terkendali.

Immunosurveilan kanker adalah teori yang dirumuskan pada tahun 1957 oleh
Burnet dan Thomas, yang menyatakan bahwa limfosit bertindak (secara terus menerus)
sebagai penjaga yang bisa mengenali dan menghilangkan sel-sel yang berubah.

Immunoediting adalah suatu proses saat seseorang dilindungi dari pertumbuhan


kanker dan pengembangan imunogenisitas tumor oleh sistem kekebalan tubuh mereka.

Respon utama sistem imun terhadap tumor adalah untuk menghancurkan sel
abnormal menggunakan sel T pembunuh, terkadang dengan bantuan sel T pembantu.

15
DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Lichtman Basic Immunology (2Ed , Elsevier, 2004)

Finn OJ, Cancer Immunology, N Engl J Med 2008; 358:2704-2715 June 19, 2008, DOI:
10.1056/NEJMra072739 [nejmra072739]

Weiner LM, Cancer Immunotherapy — The Endgame Begins [nejmp0803663

Kresno SB, 2011, Ilmu Onkologi Dasar, BP FKUI, Jakarta

Dranoff G. Cytokines in cancer pathogenesis and cancer therapy. Nat Rev Cancer. 2004
Jan;4(1):11-22

16