Anda di halaman 1dari 13

ETIKA BISNIS DAN PROFESI

“ETIKA PERILAKU – KONTRIBUSI PARA FILSUF”

Disusun oleh:

Dian Islamiyati (W100190016)

MAGISTER AKUNTANSI

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2019
PENDAHULUAN
Etika adalah cabang dari filsafat yang menyelidiki penelitian normatif tentang
apakah perilaku ini benar atau apa yang seharusnya dilakukan. Kebutuhan akan etika
muncul dari keinginan untuk menghindari permasalahan-permasalahan dunia nyata.
Etika tidak mengacu pada permasalahan tentang apa yang harus atau tidak dipercayai;
hal semacam itu tercantum dalam kode-kode keagamaan. Sebagai gantinya, etika yang
berkaitan dengan prinsip-prinsip yang memandu perilaku manusia.

A. Etika dan Kode Etik


Encyclopedia of philosopy mendefenisikan dengan tiga cara:
1) Pola umum atau “cara hidup”
2) Seperangkat aturan perilaku atau “kode etik”
3) Penyelidikan tentang cara hidup dan aturan perilaku.
Pada pengertian pertama berbicara tentangetika Buddha atau Kristen; pada
pengertian kedua berbicara tentang etika profesional dan perilaku yang tidak beretika;
pada pengertian ketiga, etika adalah cabang filsafat yang sering diberi nama khusus
mataethics.
Moralitas dan kode etik didefenisikan dalam Encyclopedia of philosopy sebagai
istilah yang mengandung empat karakteristik:
1) Keyakinan tentang sifat manusia
2) Keyakinan tengtang cita-cita, tentang apa yang baik atau diinginkan atau
kelayakan untuk mengejar kepentingan diri sendiri.
3) Aturan yang menjelaskan apa yang harus dilakukan dan apa yang harusnya
tidak dilakukan
4) Motif yang cenderung membuat kita memilih jalan yang benar atau salah.
Masing-masing dari keempat aspek tersebut akan dibahas dengan
menggunakan empat teori etika utama yang diterapkam oleh orang-orang dalam
pengambilan keputusan etis dalam lingkungan bisnis: utilitarianisme, deontologi,
kesetaraan dan keadilan kewajaran, serta etika kebijakan.
Setiap teori memberikan penekanan yang berbeda pada keempat karakteristik
tersebut. Sebagai contoh, utiliantarianisme menekankan pentingnya aturan dalam
mengejar apa yang baik atau diinginkan, sedangkan deontologi memeriksa motif dari
pengambilan keputusan. Etika kebijakan cenderung untuk mempelajari manusia
dengan cara yang lebih holistik, yang mengacu pada sifat kemanusiaan. Meskipun
setiap teori menekankan aspek kode etik yang berbeda, semua teori tersebut memiliki
banyak fitur-fitur yang umum, terutama kepedulian terhadap apa yang seharusnya dan
yang seharusnya tidak dilakukan. Namun demikian, seperti yang ditekankan oleh
Rawls, tidak ada teori yang lengkap sehingga kita harus toleran terhadap berbagai
kekurangan dan kelemahan.

B. ETIKA DAN BISNIS


Archie Carrol yang merupakan seorang pengamat membaha tentang etika bisnis
yang layak secara ekonomi. Jika bisnis itu tidak menguntungkan, maka pebisnis akan
mundur dari bisnis dan bertanya serta berdebat tentang perilaku bisnis yang tepat.
Akibatnya, tujuan utama perusahaan melakukan bisnis adalah untuk mendapatkan
keuntungan. Padahal, tujuan dasar dari bisnis adalah menyediakan barang dan jasa
secara efektif dan efisien.
Tiga penjelasan yang paling umum, mengapa orang harus beretika karena
didasarkan pada pandangan tentang agama, hubungan kita dengan orang lain, dan
persepsi kita tentang diri kita sendiri. Seperti yang telah disebutkan, salah satu definisi
etika adalah bagaimana kita harus menjalani hidup ini berdasarkan prinsip-prinsip
kepercayaan yang dianut.
Beberapa orang percaya bahwa etika tidak ada hubungannya dengan agama. Di
dalamnya terdapat hubungan dengan orang lain, yang ditunjukkan melalui cinta,
simpati, kebaikan dan sejenisnya. Manusia adalah mahluk sosial yang hidup dengan
orang lain dalam bermasyarakat.
Kita mengalami ikatan emosional yang kuat dengan orang lain melalui tindakan
kasih dan pengorbanan diri. Beberapa orang lagi masih percaya bahwa kita berperilaku
etis karena kepentingan diri kita sendiri. Aspek fundamental dari manusia adalah
ketertarikannya pada diri sendiri. Meskipun kita hidup dengan orang lain dalam
masyarakat, masing-masing dari kita menjalani hidup yang unik tergantung pada
pribadi kita sendiri. Namun ada yang berbeda antara kepentingan diri dan egois.
Keegoisan hanya menyangkut individu dan menempatkan kebutuhan dan kepentingan
individu di atas kepentingan orang lain. Kepentingan diri sendiri di sisi lain, adalah
berkonsentrasi pada diri sendiri.

C. KEPENTINGAN PRIBADI DAN EKONOMI


Konsep kepentingan diri sendiri memiliki tradisi yang panjang dalam filsafat
empiris Inggris untuk menjelaskan harmoni sosial dan kerjasama ekonomi yang baik.
Thomas Hobbes (1588-1679) berpendapat bahwa kepentingan diri memotivasi orang
untuk membentuk masyarakat sipil yang damai. Ia menulis setelah perang sipil Inggris
(1642-1651), ia menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi terhadap masyarakat
yang stabil dan keadaan yang menyebabkan orang-orang perang. Ia mulai dengan
pengamatan bahwa orang memiliki beberapa keinginan alami, yaitu keinginan untuk
bertahan. Ketika orang-orang didorong oleh keinginan dasar mereka oleh kepentingan
pribadi yang tak terkendali, akan terjadi tindakan anarki. Tidak ada kesejahteraan
ekonomi, tidak ada infrastruktur sosial, dan tidak ada tatanan sosial yang beradab.
Perdamaian, sebaliknya mungkin merupakan ketertarikan jangka panjang terpenting
bagi setiap orang. Hal ini menghindarkan ketidakpastian dan bahaya yang dalam
bahasa Hobbes disebut sebagai keadaan alamiah, dimana kehidupan adalah “soliter,
miskin, keji, kasar, dan pendek.”
Adam Smith (1723-1790) berpendapat bahwa kepentingan diri mengarah ke
kerjasama ekonomi. Fitur utama pada model ekonomi Smith adalah pertama bahwa
perekonomian merupakan kegiatan sosial dalam hal keuangan. Perusahaan
menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Penjual dan pembeli
bekerja untuk tujuan yang sama, memuaskan kebutuhan mereka dengan harga yang
disetujui bersama. Kedua, pasar yang kompetitif, tidak bersaing. Perdagangan itu
tergantung pada kejujuran dalam melakukan aktivitas, menghormati kontrak dan saling
gotongroyong. Persaingan yang sehat juga berarti bahwa perusahaan berusaha untuk
beroperasi seefisien dan seefektif mungkin untuk memaksimalkan keuntungan jangka
panjang. Akhirnya, etika membatasi oportunisme ekonomi. Etika membuat keegoisan
dan keserakahan yang tak terkendali menjadi berkurang.

D. ETIKA, BISNIS DAN HUKUM


Schwartz dan Carrol berpendapat bahwa bisnis, etika dan hukum dapat dilihat
sebagai tiga lingkaran berpotongan di diagram Venn, seperti yang terlihat pada
gambardibawah. Diagram tersebut dibagi menjadi 7 Area, yaitu:

1
4 5
7
2 6 3

 Area 1 merupakan aspek kegiatan usaha yang tidak tercakup oleh hukum atau etika.
 Area 2 terdapat hukum yang tidak ada hubungannya dengan etika atau bisnis.
 Area 3 merupakan larangan etika yang tidak menyangkut bisnis dan tidak
melanggar hukum.
 Area 4 merupakan pusat aturan dan peraturan bahwa perusahaan harus mengikuti
undangundang yang disahkan oleh pemerintah, badan pengatur, asosiasi profesi,
dan sejenisnya.
 Area 5 merupakan tumpang tindih antara kegiatan bisnis dan norma-norma etika.
Terdapat area yang tumpang tindih antara hukum dan etika yaitu area 6.
 Area 7 merupakan persimpangan hukum, etika, dan bisnis, biasanya hanya menjadi
masalah jika hukum mengatakan satu hal, sementara etika mengatakan sebaliknya.

E. TEORI-TEORI ETIKA UTAMA YANG BERGUNA DALAM


MENYELESAIKAN DILEMA ETIKA

1. Teleologi: Utilitarianisme & Konsekuensialisme – Analisis Pengaruh


Teleologi berasal dari kata Yunani, yaitu telos yang berarti tujuan, konsekuensi,
hasil, dan sebagainya. Teori teleologis mempelajari perilaku etis dalam hal hasil atau
konsekuensi dari keputusan etis. Teleologi berhubungan dengan banyak hasil yang
berorientasi pada orang-orang bisnis karena berfokus pada dampak pengambilan
keputusan, mengevaluasi keputusan yang baik atau buruk, diterima atau tidak dapat
diterima dalam hal konsekuensi dari keputusan tersebut.
Investor menilai investasi yang baik atau buruk, bermanfaat atau tidak,
berdasarkan pengembalian yang diharapkan. Jika pengembalian yang sebenarnya
berada di bawah ekspektasi investor, maka dianggap sebagai keputusan investasi yang
buruk, sedangkan jika pengembalian lebih besar dari yang diharapkan, itu dianggap
sebagai keputusan investasi yang baik atau berharga. Pengambilan keputusan etis
mengikuti pola yang sama. Dengan cara yang sama bahwa kebaikan dan keburukan
investasi dinilai berdasarkan hasil keputusan keuangan, sedangkan kebaikan atau
keburukan etika didasarkan pada suatu konsekuensi dari keputusan etis. Keputusan
etis yang benar atau salah karena mereka menyebabkan hasil positif atau negatif.
Utilitarianisme mendefinisikan baik dan jahat dalam hal konsekuensi no etis
dari kenikmatan dan rasa sakit. Tindakan etis yang benar adalah salah satu yang akan
menghasilkan jumlah terbesar dari kesenangan atau paling sedikit rasa sakit. Ini adalah
teori yang sangat sederhana. Tujuan hidup adalah untuk menjadi bahagia dan semua
hal-hal yang mempromosikan kebahagiaan yang etis baik karena mereka cenderung
menghasilkan kesenangan atau mengurangi rasa sakit dan penderitaan. Untuk
utilitarian, kesenangan dan rasa sakit digambarkan baik fisik dan mental. Bagi
utilitarian, satu-satunya hal berharga adalah memiliki pengalaman yang
menyenangkan, dan pengalaman ini baik hanya karena mereka menyenangkan.
Hedonisme berfokus pada individu, dan mempunyai pengaruh terbesar dari
pencapaian kesenangan atau kebahagiaan pribadi. Epicurus (341-270 SM) berpendapat
bahwa tujuan hidup tercapai jika kesenangan terus berlangsung, hidup di mana rasa
sakit yang diterima hanya jika mereka hal itu menyebabkan kesenangan yang lebih
besar, dan kesenangan ditolak jika mereka menyebabkan rasa sakit yang lebih besar.
Utilitarianisme, di sisi lain, mengukur kesenangan dan rasa sakit tidak pada tingkat
individu, melainkan pada tingkat masyarakat. Kesenangan pembuat keputusan serta
semua orang yang mungkin bisa terpengaruh oleh keputusan perlu dipertimbangkan.
Kebahagiaan yang membentuk standar utilitarian adalah apa yang benar dalam
perilaku, bukan kebahagiaan agen sendiri, tetapi dari semua pihak.
Bila menggunakan utilitarianisme, pembuat keputusan harus mengambil
perseptif luas tentang siapa yang ditujukan dalam keputusan tersebut, karena mungkin
saja masyarakat akan terpengaruh oleh keputusan tersebut. Kegagalan untuk
melakukannya bisa sangat mahal untuk sebuah perusahaan. Aspek kunci
utilitarianisme yaitu:
1) Etika dinilai berdasarkan konsekuensi nonetis.
2) Keputusan etis harus berorientasi pada peningkatan kebahagiaan dan/atau
mengurangi rasa sakit, di mana kebahagiaan dan rasa sakit dapat berupa fisik
atau psikologis.
3) Kebahagiaan dan rasa sakit berhubungan dengan semua masyarakat dan
bukanhanya untuk kebahagiaan pribadi atau rasa sakit dari pengambil
keputusan.
4) Pembuat keputusan etis harus memihak dan tidak memberikan bobot ekstra
untuk perasaan pribadi ketika menghitung keseluruhan konsekuensi yang
mungkin terjadi akibat keputusan yangdibuat.

a. Undang-Undang dan peraturan Utilitarianisme


Seiring waktu, utilitarianisme telah berkembang di sepanjang dua jalur
utama, yang disebut tindakan utilitarianisme dan aturan utilitarianisme. Jalur yang
pertama, kadang-kadang disebut konsekualisme, menganggap sebuah tindakan
baik atau benar secara etika jika tindakan tersebut mungkin menghasilakan
keseimbangan kebaikan yang lebih besar dari kejahatan. Tindakan utilitarianisme
kadang-kadang disebut sebagai konsekuensialisme, di mana dianggap sebagai
tindakan untuk menjadi etis yang baik atau benar jika mungkin akan menghasilkan
keseimbangan kebaikan yang lebih besar dari pada kejahatan.
Aturan utilitarianisme sedikit sederhana. Ia mengakui bahwa
pengambilan keputusan manusia sering dipandu oleh aturan. Sebagai contoh,
kebanyakan orang percaya bahwa lebih baik untuk mengatakan kebenaran
daripada berbohong. Meskipun pengecualian diakui, penyampaian kebenaran
adalah standar perilaku etis manusia normal. Jadi, prinsip untuk aturan utilitarian
adalah: Ikuti aturan yang cenderung memberikan pengaruh terbesar dalam tingkat
kesenangan atas rasa sakit untuk jumlah terbesar dari orang-orang yang mungkin
akan terpengaruh oleh tindakan. Pengungkapan kebenaran biasanya menghasilkan
kesenangan terbesar bagi kebanyakan orang. Demikian pula, laporan keuangan
yang handal yang akurat sangat berguna bagi investor dan kreditur dalam
membuat keputusan investasi.

b. Saran dan Tujuan Akhir


Prinsip menjelaskan jumlah terbesar dari kebahagiaan untuk jumlah
terbesar orang tidak berarti bahwa tujuan akan membenarkan cara. Pendukung
utama dari filsafat politik ini adalah Niccolo Machiavelli (1469-1527), yang
menulis Prince untuk Lorenzo Medici tentang cara untuk mempertahankan
kekuasaan politik. Di dalamnya ia menyarankan bahwa "dalam tindakan manusia,
dan terutama dari pangeran, dari yang tidak membandingkan, pada akhirnya
berarti membenarkan."
Aturan utilitarian mengatakan bahwa ada beberapa jenis tindakan yang
jelas-jelas benar dan salah terlepas dari konsekuensinya sebagai baik atau buruk.
Polusi dan produk berbahaya tidak meningkatkan keseluruhan kesejahteraan
masyarakat jangka panjang dalam jangka panjang. Prinsip politik bertujuan untuk
membenarkan sarana dan tujuan etis yang setara, serta tidak membenarkan adanya
isu dimana hanya ada satu sarana untuk mencapain akhir.
Beberapa orang menyalahgunakan utilitarianisme dengan mengatakan
bahwa tujuan akan membenarkan cara. Tapi ini adalah sebuah aplikasi yang tidak
pantas dari teori etika. Untuk utilitarian, pada akhirnya tidak pernah menghalalkan
cara. Sebaliknya, agen moral harus mempertimbangkan konsekuensi keputusan
dalam hal membuat kebahagiaan, atau dalam hal membuat aturan yang apabila
diikuti berkemungkinan akan menghasilkan kebahagiaan untuk semua.

c. Kelemahan dalam Ultilitarianisme


1) Utilitarianisme mengandaikan bahwa hal-hal seperti kebahagiaan,
utilitas, kesenangan, sakit dan penderitaan bisa diukur dengan uang.
2) Masalah distribusi dan integritas terhadap kebahagiaan. Prinsip utilitarian
adalah untuk menghasilkan sebanyak mungkin kebahagiaan itu kepada
sebanyak mungkin orang.
3) Hak-hak minoritas dapat dilanggar dalam utilitarianisme. Dalam
demokrasi, kehendak mayoritas menjadi aturan pada hari pemilihan.
4) Masalah ruang lingkup. Contohnya pemanasan global dan polusi.
Kebahagiaan jangka pendek generasi sekarang bisa berimbas pada
penderitaan generasi mendatang.
5) Utilitarianisme mengabaikan motivasi dan hanya berfokus pada
konsekuensi. Banyak orang akan menganggap bahwa mereka memiliki
derajat kesalahan etika yang berbeda, dengan eksekutif berbasis bonus
bertindak lebih buruk daripada altruis sesat. Namun, utilitarianisme akan
menilai keduanya sama, dimana terdapat tindakan etis yang tidak benar
karena konsekuensi dari keputusan mereka adalah sama, yaitu penipuan
laporan keuangan.

2. Etika Deontologi-Motivasi untuk Perilaku


Deontologi mengevaluasi etikalitas perilaku berdasarkan motivasi pembuat
keputusan, dan menurut (prinsip) deontologi tindakan dapat dibenarkan secara etika
meskipun tidak menghasilkan keuntungan bersih atas kebaikan terhadap kejahatan
bagi para pengambil keputusan atau bagi masyarakat secara keseluruhan. Hal ini
membuatnya menjadi pelengkap untuk utilitarianisme karena tindakan yang
memenuhi kedua teori dapat dikatakan memiliki sebuah kesempatan untuk menjadi
beretika.
Kant mengembangkan dua hukum untuk menilai etikalitas. Pertama adalah
Imperatif Kategoris (Categorical Imperative). Ada dua aspek dari imperatif kategoris.
Pertama, Kant menganggap bahwa hukum memerlukan suatu kewajiban, dan ini
berarti bahwa hukum etika memerlukan suatu kewajiban etika. ]adi, setiap tindakan
etika yang wajib dilakukan oleh seseorang harus sesuai dengan hukum atau maksim
etika. Hal ini berarti bahwa semua keputusan etika dan etika perilaku dapat dijelaskan
dalam bentuk maksim etika, yaitu dalam hal hukum yang harus ditaati. Bagian kedua
dari imperatif ini adalah suatu tindakan benar secara etika jika dan hanya jika pepatah
tersebut dapat diuniversalkan secara konsisten. Anda harus berkeinginan agar maksim
Anda diikuti oleh orang lain yang berada dalam situasi serupa, bahkan jika Anda akan
terpengaruh secara personal karena individu lain mengikuti dan mematuhi maksim
Anda. Anda tidak diperbolehkan untuk menjadikan diri Anda sebagai perkecualian.
Aturan kedua Kant adalah Imperatif Praktis (Practical Imperative) untuk
berhubungan dengan orang lain.Imperatif praktis tidak menyatakan bahwa Anda tidak
dapat memanfaatkan orang, tetapi jika Anda memperlakukan mereka sebagai sarana
maka Anda harus memperlakukan secara bersamaan sebagai tujuan akhir.
Setiap orang berhak untuk mencapai tujuan pribadi mereka sendiri sepanjang
mereka tidak melanggar imperatif praktis. Prinsip ini adalah Prinsip Kantian (Kantian
Principle). Memperlakukan orang lain sebagai tujuan akhir mengakui bahwa kita
semua bagian dari masyarakat, bagian dari komunitas moral. Dengan cara yang sama,
jika saya bertindak positif terhadap tujuan saya sendiri, saya juga memiliki kewajiban
untuk bertindak positif terhadap tujuan mereka. Jadi, saya memperlakukan karyawan
saya sebagai tujuan ketika saya membantu mereka memenuhi keinginan mereka
(untuk belajar akuntansi dan mendapatkan pekerjaan) seraya menerima bahwa mereka
juga mampu seperti saya dalam membuat keputusan etis yang mungkin berdampak
pada masyarakat, pada komunitas moral kita.

a. Kelemahan dalam Deontologi


Masalah mendasar adalah bahwa imperatif kategoris tidak memberikan
panduan yang jelas untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah jika
dua atau lebih hukum moral mengalami konflik dan hanya satu yang dapat diikuti.
Hukum moral mana yang diikuti? Dalam hal ini, mungkin utilitarianisme menjadi
teori yang lebih baik, karena dapat mengevaluasi alternatif berdasarkan
konsekuensinya. Imperatif kategoris menetapkan standar yang sangat tinggi. Bagi
banyak orang, itu adalah etika yang sulit untuk diikuti.
Bisnis mungkin sangat baik jika lebih banyak manajer mau mengikuti tugas
etika mereka, dan mengikutinya hanya karena tugas tugas itu merupakan tugas
etika mereka; Namun demikian, mengikuti tugas seseorang dapat mengakibatkan
konsekuensi yang merugikan, seperti alokasi sumber daya yang tidak adil. Dengan
demikian, banyak yang berpendapat bahwa bukan berfokus pada konsekuensi dan
niat atau motivasi, etika itu harus didasarkan pada prinsip keadilan dan kewajaran.

3. Keadilan dan Kewajaran-Memeriksa Saldo


Filsuf Inggris, David Hume (17111776) berpendapat bahwa kebutuhan akan
keadilan terjadi karena dua alasan: orang tidak selalu bermanfaat dan terdapat sumber
daya yang langka. Sesuai dengan tradisi empiris Inggris, Hume percaya bahwa
masyarakat terbentuk melalui kepentingan pribadi. Oleh karena kita tidak mandiri, kita
perlu bekerja sama dengan orang lain untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan
bersama (yaitu untuk mendapatkan dukungan para pemangku kepentingan). Namun
demikian, mengingat adanya keterbatasan sumber daya, dan fakta bahwa beberapa
(orang) bisa mendapatkan keuntungan dengan merugikan orang lain, perlu ada
mekanisme untuk pembagian manfaat dan beban masyarakat dengan adil. Keadilan
adalah mekanismenya.

a. Keadilan procedural
Keadilan prosedural berfokus pada bagaimana keadilan diberikan. Aspek
utama dari sistem hukum yang adil adalah bahwa prosedurnya adil dan transparan.
Hal ini berarti bahwa setiap orang diperlakukan sama di depan hukum dan bahwa
aturan-aturan yang memihak diterapkan secara sama. Preferensi tidak diberikan
ke pada satu orang berdasarkan karekteristik fisik (etnis, jenis kelamin, tinggi
badan, atau warna rambut) maupun status sosial atau ekonomi (hukum diterapkan
dengan cara yang sama untuk orang kaya dan miskin). Harus ada aplikasi yang
konsisten dari hukum di dalam yurisdiksi hukum dan sepanjang waktu. ]uga,
keadilan harus dinilai berdasarkan fakta-fakta kasus ini. Hal ini berarti bahwa
informasi yang digunakan untuk menilai berbagai klaim harus relevan, dapat
dipercaya, dan diperoleh secara sah.

b. Keadilan Distributif
Dalam keadilan distribusi, terdapat tiga kriteria utama untuk menentukan
distribusi yang adil: kebutuhan, kesetaraan aritmatika, dan prestasi. Sistem
perpajakan di negara maju sebagian besar didasarkan pada kebutuhan. Orang kaya,
yang mampu membayar, dikenai pajak sehingga dana dapat didistribusikan
kepada mereka yang kurang beruntung dalam masyarakat. Dari mereka yang
mampu kepada mereka yang tidak mampu. Keadilan distributif berbasis
kebutuhan tidaklah umum dalam lingkungan bisnis. Namun demikian, hal itu akan
menjadi logis untuk proses anggaran sebuah perusahaan, di mana harus didasarkan
pada alokasi wajar sumber daya langka agar tidak ada risiko penghambat motivasi
(demotivasi) dari para eksekutif dan karyawan pada disenfranchise.

c. Keadilan sebagai Kewajaran


Salah satu masalah dalam mendistribusikan keadilan adalah bahwa
alokasi mungkin bisa tidak merata. Filsuf Amerika John Rawls (1921-2002)
mencoba mengatasi permasalahan ini dengan mengembangkan teori keadilan
sebagai kesetaraan. Dalam Theory of Justice, ia menyajikan sebuah argumen
didasarkan pada posisi klasik kepentingan pribadi dan kemandirian. Tak seorang
pun bisa mendapatkan semua hal yang mereka inginkan karena ada orang lain
yang akan mencegah hal ini terjadi, karena mereka juga, mungkin, menginginkan
hal yang sama. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan bagi semua orang untuk
bekerja sama karena itu adalah kepentingan utama semua orang. Dengan
demikian, masyarakat dapat dilihat sebagai pengaturan kerja sama untuk mencapai
keuntungan bersama; hal ini merupakan usaha yang menyeimbangkan konflik
kepentingan dengan identitas kepentingan. Terdapat identitas kepentingan sejak
kerja sama membawa kebaikan untuk hidup semua orang. Namun demikian, sifat
manusia, adalah bahwa setiap orang akan lebih memilih untuk menerima
pembagian manfaat yang lebih besar dan beban yang lebih kecil, menciptakan
konflik kepentingan tentang bagaimana manfaat dan beban masyarakat harus
dialokasikan. Prinsip-prinsip yang menentukan alokasi yang merata diantara para
anggota masyarakat adalah prinsip-prinsip keadilan. Konsep keadilan yang saya
ambil untuk didefinisikan, kemudian, dengan peran prinsip-prinsip tersebut dalam
menetapkan hak dan kewajiban dan dalam menentukan pembagian keuntungan
sosial yang sesuai.
Rawls berpendapat bahwa dalam keadaan awal hipotetis orang akan
menyetujui dua prinsip: bahwa harus ada kesetaraan dalam pengalihan hak-hak
dasar dan kewajiban; serta bahwa ketidaksetaraan sosial dan ekonomi harus
bermanfaat bagi anggota masyarakat termiskin (Prinsip Perbedaan-Diference
Principle) dan bahwa akses ke ketidaksetaraan ini harus terbuka untuk semua
orang (fair equality of opportunity). Pertama: setiap orang memiliki hak yang sama
untuk kebebasan dasar yang paling luas yang kompatibel dengan kebebasan yang
sama dengan orang lain. Kedua: ketimpangan sosial dan ekonomi harus diatur
sedemikian rupa sehingga (a) dapat cukup diharapkan akan menguntungkan
semua orang, dan (b) melekat pada posisi dan kantor yang terbuka untuk semua.

4. Etika Kebajikan-Meneliti Kebajikan yang Diharapkan


Etika kebajikan mengambil inspirasi dari filsuf Yunani Aristoteles (384-322 SM).
Dalam The Nicomachean Ethics, ia menjelajahi sifat hidup yang baik. Ia berpikir
bahwa tujuan hidup adalah kebahagiaan. Hal ini bukan kebahagiaan dalam arti
hedonistik. Sebaliknya, kebahagiaan, bagi Aristoteles, adalah kegiatan jiwa. Kami
memenuhi tujuan kami merasa bahagia dengan hidup yang mulia, dengan hidup sesuai
dengan alasan. Sekarang, kebajikan adalah karakter dari jiwa yang ditunjukkan hanya
dalam tindakan sukarela, yaitu, dalam tindakan-tindakan yang dipilih secara bebas
setelah musyawarah. Jadi, kita menjadi mulia karena sering melakukan tindakan
kebajikan. Namun, Aristoteles juga merasa bahwa ada kebutuhan untuk pendidikan
etika sehingga orang akan tahu tindakan apa yang berbudi luhur.
Etika moralitas berfokus pada karakter moral dari pembuat keputusan daripada
konsekuensi tindakan (utilitarianisme) atau motivasi dari pembuat keputusan
(deontologi).Hal ini mengadopsi pendekatan yang lebih menyeluruh untuk memahami
etika perilaku manusia. Hal ini mengakui bahwa ada banyak aspek dari kepribadian
kita. Setiap dari kita memiliki berbagai karakter yang dikembangkan seiring kita
menjadi matang secara emosional dan etika. Begitu karakter ini dibentuk, mereka
cenderung cukup stabil. Kepribadian kita memiliki banyak segi dan perilaku kita cukup
konsisten. Meskipun kita semua memiliki banyak kebajikan, dan sering kali sama, kita
menunjukkannya dalam derajat yang berbedabeda, meskipun situasinya sama.

a. Kelemahan Etika Kebajikan


Ada dua masalah yang berkaitan dengan etika kebajikan. Apa saja
kebajikan yang harus dimiliki oleh pelaku bisnis, dan bagaimana kebajikan
ditunjukkan dalam tempat kerja? Sebuah kunci kebajikan dalam bisnis adalah
integritas. Hampir sepertiga dari CFO yang disurvei oleh Manajemen Sumber
Daya Robert Half, mengatakan bahwa integritas merupakan aspek kualitas yang
paling penting untuk dimiliki seorang pemimpin bisnis. Integritas melibatkan
bersikap jujur dan terhormat. Bagi perusahaan, hal tersebut berarti bahwa tindakan
perusahaan harus konsisten dengan prinsip-prinsipnya. Hal ini ditunjukkan dengan
tidak mengorbankan nilainilai inti bahkan ketika ada tekanan kuat untuk
melakukannya. Pertimbangkan kasus pengumpulan dana oleh organisasi nirlaba.
Sebagian besar organisasi dalam sektor nirlaba memiliki tujuan yang sangat jelas:
universitas mengajar dan melakukan penelitian; rumah perawatan memberikan
penghiburan bagi orang yang sekarat; perkumpulan paduan suara melatih anak-
anak untuk menyanyi. Daya dorong bagi banyak organisasi nirlaba adalah
nilainilai inti mereka seperti yang dijelaskan dalam pernyataan misi organisasi.
Sebuah organisasi nirlaba menunjukkan integritas dengan tidak menerima
sumbangan dari individu dan organisasi yang memiliki nilai-nilai yang
bertentangan dengan nilai-nilai inti dari organisasi nirlaba.

b. Imajinasi Moral
Siswa sekolah bisnis dilatih untuk menjadi manajer bisnis, dan manajer
bisnis diharapkan dapat membuat keputusan yang sulit. Manajer harus kreatif dan
berinovasi dalam solusi mereka sehingga bisa membantu memecahkan masalah
bisnis praktis. Mereka harus benarbenar kreatif ketika menyangkut masalah etika.
Para manajer harus menggunakan imajinasi moral mereka untuk menentukan
alternatif etika yang sama-sama menguntungkan ( win-win solution). Artinya,
keputusan haruslah berdampak baik untuk individu, baik bagi perusahaan, dan
baik untuk masyarakat.