Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

GANGGUAN PSIKOLOGI PADA SAAT


MENSTRUASI

Disusun oleh :
ASIH KURNIA P27824209002

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN MAGETAN
2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan hidayah-
Nya kami telah dapat menyusun makalah “ Gangguan Psikologi Pada Saat Menstruasi “
yang mrupakan syarat untuk memenuhi tugas Psikologi.
Dalam penyusunan makalah ini kami banyak mendapatkan bantuan, bimbingan
dan saran dari berbagai pihak, maka kami mengucapkan terima kasih.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih ada kekeliruan dan
kekurangan, maka kritik dan saran dari semua pihak akan sangat membantu
kesempurnaan pembuatan makalah ini.
Kami berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi kami dan pembaca pada
umumnya.

Magetan, Juni 2010

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG 1

1.2. TUJUAN 1

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN 2
B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIASAAN BERKEMIH 3
C. KERJA PERKEMIHAN 4
D. GANGGUAN/MASALAH ELIMINASI URINE 5
E. TINDAKAN MENGATASI MASALAH ELIMINASI URINE 8
F. PEMASANGAN KATETER LURUS ATAU KATETER

MENETAP 14

G. PEMASANGAN KATETER KONDOM 26


H. PERAWATAN KATETER MENETAP 30
I. MENGUMPULKAN SPESIMEN URINE MIDSTREAM 33

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN 37
B. SARAN 37
DAFTAR PUSTAKA 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Peristiwa penting pada masa pebertas anak gadis ialah gejala menstruasi atau haid, yang
menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual. Secara normal menstruasi
berlangsung kurang lebih pada usia 12-16 tahun. Namun semakin muda usia si gadis,
maka ia semakin belum siap menerima peristiwa haid, akan semakin terasa “kejam
mengancam”. Yaitu rasa pahit menyebalkan sebagai handicap/gangguan atau sebagai
reaksi kejutan dalam anggapan fantasi anak. Gejala yang sering terjadi dan sangat
mencolok pada peristiwa haid pertama ialah kecemasan atau ketakutan yang diperoleh
keinginan untuk memperoleh proses fisiologis tadi.kadang sang anak menyalahkan sang
ibu dan terkadang merasa digenangi dosa. Maka banyak peristiwa menstruasipertama itu
dihayati oleh anak gadis sebagai satu pengalaman yang traumatis. Oleh sebab itu timbul
beberapa gejala patologis yang menyertai menstruasi.

1.2 TUJUAN

1. Memenuhi tugas psikologi


2. Menambah pengetahuan tentang gangguan-gangguan psikologi pada saat
menstruasi.
3. Memahami tentang gangguan-gangguan psikologi pada saat menstruasi.
BAB II

Gangguan- Gangguan Psikologi Pada Saat Menstruasi

II.1 Definisi

Secara normal menstruasi berlangsung kurang lebih pada usia 11-16 tahun. Cepat
atau lambatnya kematangan seksual (menstruasi, kematangan fisik) ini ditentukan oleh
konstitusi fisik individual, juga dipengaruhi oleh faktor ras,suku bangsa, iklim, cara hidup
dan milieu yang melingkungi anak. Badan anak yang lemah atau penyakit yang mendera
seorang anak gadis, bisa memperlambat tibanya menstruasi.
Sebaliknya rangsangan – rangsangan kuat dari luar, misalnya saja berupa film-
film sex, buku bacaan atau majalah yang bergambar sex, godaan dan rangsangan dari
kaum adam (pria), dapat mengakibatkan kematangan sekual yang lebih cepat dari anak
sewajarnya.
Jauh sebelum menstruasi itu tiba, anak gadis yang normal itu sudah mempunyai
perasaan antisipasi (daya tangkap sebelumnya), yang berbeda-beda terhadap menstruasi.
Peristiwa haid pada seorang gadis itu menyatakan, bahwa anak gadis kini benar-benar
sudah siap secara biologis untuk melakukan fungsi kewanitaannya. Tidak jarang muncul
reaksi-reaksi psikhis yang negatif penuh kegetiran hati pada saat haid pertama, yang
disebut DR. Helena Deutsch sebagai ”kompleks kastrasi” atau trauma genitalis.
Kompleks kastrasi itu artinya: perassaan kecewa-takut-panik, seolah-olah anak akan
dikebirikan. Sedangkan trauma genitalis itu artinya: luka atau shock psikhis disebabkan
oleh pengalaman baru berkaitan dengan masalah genetalia atau alat kelamin anak
tersebut.
Dari perasaan negatif tersebut, mungkin akan timbul pula perasaan sangat lemah
karena merasa kehilangan banyak darah. Semua ini mula-mula merupakan produk dari
gambaran khayali, yang kemudian dikembangkan menjadi satu mekanisme otosugesif.

II.2 Beberapa Gejala Patologis Yang Menyertai Menstruasi

Banyak anak gadis dan wanita dewasa yang selama masa haidnya terus-menerus
tinggal di tempat tidur sekalipun ia tidak merasakan sakit sedikitpun juga. Pada saat-saat
menstruasi pertama, ia diperlakukan denagn sangat hati-hati bagaikan sebuah boneka
dalam lemari. Jika polah tingkah laku sedemikian itu secara kontinu dikembangkan dan
dipraktekkan sepanjang hidup selama masa-masa haidnya, maka jelas bahwa tingkah laku
semacam ini merupakan gejala ketidakmatangan kehidupan psikhisnya.
Ada beberapa gejala patologis yang menyertai menstruasi, antara lain sebagai
berikut:
1. Neurosa
a. Pengertian Neurosa
1) Neurosa sering disebut juga psikoneurosa, ialah sekelompok reaksi psikhis yang
ditandai secara khas dengan unsur kecemasan, dan secara tidak sadar
diekspresikan dengan jalan menggunakan mekanisme pertahanan diri (defence
mekhanism).
2) Psikhoneurosa adalah bentuk gangguan / kekacauan fungsionil pada sistem
persyarafan, mencakup pula desintegrasi dari sebagian kepribadiannya. Istilah
umumnya merujuk pada ketidakseimbangan mental yang menyebabkan stress,
tapi tidak seperti psikosis atau kelainan kepribadian.

Neurosa tidak mempengaruhi pemikiran rasional. Konsep neurosis berhubungan


dengan bidang psikoanalisis, yaitu suatu aliran pemikiran dalam psikologi atau
psikiatri. Neurosa juga merupakan kesalahan penyesuaian secara emosional
karena konflik yang tidak dapat diatasi secara benar dan akan muncul sesuai
dengan tipe kepribadian seseorang. Karena konflik tidak dapat diatasi secara
benar maka kecemasan dan ketegangan selalu ada. Untuk itu, kecemasan yang
timbul dirasakan secara langsung atau diubah sebagai mekanisme yang
menimbulkan gejala-gejala subjektif dan mengganggu. Biasanya si penderita
mempunyai sejarah hidup penuh kesulitan, tekanan-tekanan batin, dan peristiwa
traumatis luar biasa. Gangguan mental pada umumnya berbentuk: ketidak
mampuan mengadakan adaptasi terhadap lingkungan . tingkah lakunya jadi
abnormal dan aneh-aneh.

b. Sebab-sebab timbulnya neurosa


1) Tekanan-tekanan sosial dan tekanan kulturil yang sangat kuat, yang
menyebabkan ketakutan-kecemasan dean ketegangan-ketegangan dalam batin
sendiri yang kronis berat sifatnya. Sehingga orang yang bersangkutan
mengalami mental breakdown / kepatahan mental.
2) Individu mengalami banyak frustasi, konflik-konflik emosionil dan konflik
internal yang serius, yang sudah dimulai sejak masa kanak-kanak.
3) Individu sering tidak rasional sebab ering memakai defence mechanism yang
negatif ;dan lemahlah pertahanan diri secara fisik dan mental.
4) Pribadinya sangat labil tidak imbang dan kemauannya sangat lemah.

c. Jenis-jenis neurosa
c.1 Neurosa Kecemasan (Anxiety Neurosis)
Neurosa kecemasan ialah kondisi psikis dalam ketakutan dan kecemasan
yang kronis, tidak ada rangsangan yang spesifik yang menyebabkan
kecemasan tersebut, misalnya takut mati, takut menjadi gila, dan macam-
macam ketakutan yang tidak bisa dikategorikan dalam fobia.

Simptomnya yang khas :


1) Ada saja hal-hal yang sangat mencemaskan hatinya, hampir setiap
kejadian menyebabkan timbulnya rasa takut dan cemas. Takut = rasa
gentar, tidak berani terhadap satu objek konkrit: misalnya takut
harimau, polisi,perampok dan lain-lain. Sedang cemas (gentar,ragu-
masygul) adalah bentuk ketidak beranian terhadap hal-hal yang tidak
jelas. Umpama: cemas memikirkan hari esok, cemas karena berpisah
dengan kekasihnya, dan seterusnya.
2) Emosinya kuat dan sangat tidak stabil. Suka marah dan sering dalam
keadaan excited (heboh, gempar) yang memuncak. Sangat irritabel:
akan tetapi sering dihinggapi depressi.
3) Diikuti oleh bermacam-macam fantasi, delusi, ilusi dan delusion of
persecution (delusi dikejar-kejar).
4) Sering merasa mual-muntah. Badan merasa sangat lelah, sesak nafas,
banyak berkeringat, bergemetaran, dan sering menderita diarrhee atau
murus.
5) Selalu dipenuhi ketegangan-ketegangan emosionil, dan bayangan-
bayangan kesulitan yang imaginer (yang cuma ada dalam khayalan),
walaupun tidak ada perangsang khusus. Ketegangan dan ketakutan-
kecemasan yang kronis itu menyebabkan tekanan jantung yang sangat
cepat, tachycardia (percepatan tinggi dari darah) dan hypertension
tekanan darah tinggi.

Sebab-sebab anxiety neurosis:


a) Ketakutan dan kecemasan yang terus-menerus, disebabkan oleh
kesusahan-kesusahan dan kegaglan yang bertubi-tubi.
b) Repressi terhadap macam-macam masalah emosionil, akan tetapi
tidak bisa berlangsung secara sempurna (incomplete repress).
c) Kecenderungan-kecenderungan harga diri yang tgerhalang (Adler).
d) Dorongan-dorongan seksuil yang tidak mendapat kepuasan-kepuasan
dan terhambat, sehingga mengakibatkan timbulnya banyak konflik
batin (Freud).

Treatment:
1) Menemukan sumber dari macam-macam ketakutan, kesusahan dan
kegagalannya.
2) Lalu memberikan jalan adjustment yang sehat, memupuk kemauan
dan motivasi, agar orang yang bersangkutan berani memecahkan
segala kesulitan hidup.

Ada beberapa jenis terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan


neurosa kecemasan, yaitu psikoterapi individual, psikoterpi kelompok,
psikoterapi analitik, sosioterapi, terapi seni kreatif, terapi kerja, terapi
perilaku, dan farmakoterapi.

c.2 Neurosa Histerionik


a) Histeria ialah gangguan/ disorder psikhoneurotik yang khas ditandai
oleh emosionalitas yang ekstrim. Mencakup macam-macam
gangguan fungsi psikhis, sensoris, motoris,vasomotor (=syaraf-syaraf
yang membesarkan/ mengecilkan pembuluh-pembuluh darah), dan
alat pencernaan. Semua itu adalah produk daripada represi terhadap
macam-macam konflik dalam kehidupan kesadaran.
b) Histeria adalah penyakit yang karakteristik berupa dissosiasi
kepribadian terhadap lingkungannya, dalam berbagai bentuk dan
gradasi, disebabkan oleh banyak konflik psikhis/ internal, yang
kemudian ditransformasikan dalma somptom-simptom fisik: yaitu
dalam bentuk histeria konversia dan somatisme. (Dahulu kala,
histeria itu ditafsirkan sebagai penyakit kandungan).
Neurosa histerionik juga dapat diartikan bahwa fungsi badan atau mental
yang hilang tanpa dikehendaki, tanpa kelainan otot.

Sebab-sebab neurosa histerionik:.


1) Ada presdiposisi pembawaan berupa sistem syaraf yang lemah.
2) Tekanan-tekanan mental (stresses) yang disebabkan oleh kesusahan,
kekecewaan, shoks dan pengalaman-pengalaman traumatis/ luka jiwa.
3) Kebiasaan hidup dan disiplin diri yang keliru, sehingga mengakibatkan
kontrol pribadi yang lemah dan intregasi kepribadian yang miskin.
4) Sering/ selalu menggunakan escape mechanism maladjustment, dan
semakin banyak timbul kesulitan.
5) Kondisi fisik/ organis yang buruk, misalnya: sakit-sakitan, lemah,
lelah, fungsi-fungsi organik yang lemah, gangguan pikiran dan
badaniah.
6) Adanya sugesti diri yang buruk-buruk dan melemahkan mental.
Berusaha untuk selalu melarikan diri dari realitas hidup.
7) Oleh kelemahan-kelemahan diri, individu berusaha untuk ”menguasai
keadaan”, lalu mentiranisir lingkungan dengan tingkah lakunya yang
dibuat-buat/ dikondisinir itu.

Ciri-ciri kepribadian dari penderita neurosa histerionik antara lain sebagai


berikut :
a. Sangat egoistis, selfish dan “semau gue”. Selalu menginginkan
perhatian dan belas kasihan banyak-banyak. Selalu mengharapkan
pujian.
b. Selalu merasa “tidak bahagia”. Sangat sugestibel dan sensitif sekali
terhadap opini orang. Akibatnya, ia malah mengalami banyak
kebingungan dan konflik batin.
c. Emosinya sangat kuat, dan semua penilaiannya ditentukan oleh rasa
“likes and dislikes” yang kuat. Misalnya, ketika seorang pasien tidak
suka dengan mertuanya, dan ketika pasien mendengarkian musik
kesukaan mertuanya, pasien merasa tidak senang dan akn mengalami
histerionik misalnya buta.
d. Selalu cenderung untuk melarikan diri dari kesulitan dan hal-hal
yang tidak menyenangkan.

Treatmentnya :
I. Dengan hukuman-hukuman dan therapi kejutan (shock therapy).
II. Dengan memberikan sugesti, untuk menyadarkan penderita pada
realitas hidup, dan menemukan mekanisme penyesuaian diri yang
tepat. Lalu mengarah pada integrasi serta keseimbangan pribadi.
III. Menganalisa elemen-elemen yang ditekan dan menyadarkannya.
Semua idee fixed dilernyapkan dan elemen-elemen dissosiasi
diintegrasikan dengan kepribadian.
IV. Usaha reedukasi melalui pemberian motivasi-motivasi hidup yang
luhur, mengarahkan pada tujuan hidup yang berarti, memberi
sugesti-sugesti, diarahkan agar pasien mau berfikir kritis,
menggunakn insight.

c.3 Neurosa Depresif


Neurosa depresif merupakan gangguan perasaan dengan ciri-ciri:
berkurangnya semangat, harga diri rendah, sering menyalahkan diri
sendiri, gangguan makan dan tidur. Neurosa depresif berakar pada rasa
bersalah yang tidak disadari, ambivalensi (ragu-ragu). Orang dengan
neurosa depresif biasanya ragu-rau dengan orang yang ditakuti dan karena
pada norma masyarakat.

c.4 Neurosa Neurastenia

Neurosa neurastenia ditandai oleh adanya kondisi syaraf-syaraf yang


lemah, tanpa memiliki energi hidup, selalu/ terus-menerus capai-lelah
yang hebat, dibarengi perasan-perasaan nyeri dan sakit di bagian-bagian
tubuhnya; sehingga individu menjadi malas dan segan berbuat sesuatu.

Simptom-simptom dan ciri-cirinya yang khas :


1. Selalu merasa sangat capai-lelah, lesu sekali, sekalipun tidak sakit jasmaninya, dan
individu tidak bekerja.
2. Kondisi syarafnya lemah, disertai perasaan rendah diri dan selalu takut mengalami
kegagalan dalam setiap perbuatannya.
3. Penderita senantiasa diganggu oleh perasaan sakit dan nyeri yang berpindah-pindah pada
bagian tubuhnya, khususnya punggung dan kepala dengan disretai pusing-pusing.
4. Reaksinya cepat, sangat emosionil, namun selalu ragu-ragu karena adanya ketegangan-
ketegangan pada sistem syarafnya.
5. Biasanya dibarengi dengan retardasi mental/ kelambanan mental dan sangat lambat
semua gerak motoriknya.
6. Sering kali mengalami depresi emosionil dan mudah/ suka menangis. Cepat menjadi
bingung.
7. Sangat introvert dan sangat egosentris. Sangat sensitifterhadap perbuatan dean opini
orang lain.
8. Sangat sugestibel, tidak dapat konsentrasi, sehingga mudah dibelokkan dan dipengaruhi
orang lain.
9. Sikapnya selalu antagonis/ bertentangan dan negatif sifatnya, sehingga timbul konflik
internal.
Sebab-sebab neurosa neurastenia
a) Risau disebabkan oleh kekurangan kerja/
kekurangan kesibukan (mengnggur) adalah sebab utama dari
kelelahan dan kelemahan yang ekstrim dan bukan oleh kebanyakan
kerja.
b) Banyak menderita ketegangan emosionil karena
konflik-konflik internal, kesusahan dan frustasi-frustasi.
Menurut CORIAT : kelelahan fisiologis mungkin merupakan faktor
penyebab yang orisinil, akan tetapi pikiran-pikiran mengenai
kelelahan dan kelemahan badan dibesar-besarkan. Lalu menjadi pola
yang melekat atau menjadi obsesi yang menimbulkan dissosiasi.
c) Menurut WOLFE : simptom-simptom neurastenis itu merupakan
produk dari defence mechanism yang dipakai sebagai sarana untuk
melarikan diri dari tugas-tugas yang tidak disetujui dan tidak
menyenangkan hatinya.
d) Disebabkan oleh perasaan inferior (min-complex) akibat dari
kegagalan-kegagalan di masa lampau, yang disusuli dengan tingkah
laku yang agresif.
e) Faktor-faktor herediter diperkirakan juga menjadi sebabnya, akan
tetapi tidak teramat penting artinya.
Karena ciri-cirinya yang khusus itu, gejala neurastenia diklarifikasikan
dalam reaksi konversia, sebagai reaksi sistem syaraf psikho-fisiologis,
gangguan organ-organ dalam gangguan psikho-fisiologis otonomik.

Treatmentnya :
a. Menemukan sumber dari segala konflik batinnya, atau sebab-
sebab dari tingkah laku penghindarn diri.
b. Memberi pola adjustment yang positif untuk menghadapi dan
memecahkan segala kesulitan hidup.

c.5 Neurosa Personalisasi


Neurosa Personalisasi adalah keadaan dimana seseorang didominasi oleh
ketidakwajaran (unreality). Dan asing terhadap dirinya sendiri. Misalnya
tubuh/lingkungannya tidak wajar,merasa aneh,seperti mimpi, sering
merasa ditinggalkan/sendirian, kadangkala ia merasa diluar dirinya.
c.6 Neurosa Hipokonrik
Tidak ada gangguan organik.
Pikiran penderita ini terpaku pada kesehatan fisik, contoh : tiba-tiba sakit
ini berbeda dengan gangguan pisikomatik yaitu benar-benar ada gangguan
genetic atau organik.

2. Fobia
a. Pengertian Fobia
Fobia adalah ketakutan atau kecemasan yang abnormal, tidak rasionil dan tidak
bisa dikontrol terhadap suatu situasi atau objek tertentu. Merupakan ketakutan
khas yang neurotis, sebagi simbol dari konfli-konflik neurotis yang kemudian
menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Perbedaan fobia dengan rasa takut biasa
adalah sesuatu yang ditakuti oleh penderita fobia biasanya bukanlah obyek yang
menakutkan bagi sebagian besar orang normal. Fobia terjadi karena pikiran
bawah sadar salah memberi arti terhadap peristiwa traumatis yang menyebabkan
fobia.
a.1) Fobia bisa digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
1) Fobia spesifik
Fobia jenis ini merupakan jenis fobia yang sering terjadi. Contoh dari
fobia ini misalnya takut pada binatang, takut pada ketinggian dan sebagainya.
Penderita fobia spesifik biasanya mengatasi ketakutannya dengan cara
menghindari benda atau keadaan yang membuatnya takut.
2) Fobia sosial
Fobia jenis ini biasanya penderita akan mengalami kecemasan yang
berlebihan jika berhadapan dengan situasi sosial atau menghadapinya dengan
penuh tekanan. Keadaan yang sering memicu terjadinya kecemasan pada
penderita fobia sosial adalah berbicara di depan umum, tampil di depan
umum, makan di depan orang lain, dsb.

a.2) Macam-macam fobia antar lain ialah :


1. Achluophobia - takut akan kegelapan
2. Acousticophobia - takut akan kebisingan
3. Acrophobia - takut akan ketinggian
4. Agliophobia - takut akan rasa sakit.
5. Agyrophobia - takut akan jalan atau menyeberang
6. Alektorophobia - takut akan ayam
7. Amathophobia - takut akan debu >> orang alergi debu
8. Androphobia - takut pria
9. Anthropophobia - takut orang atau masyarakat
10. Arsonphobia - takut api
11. Bathophobia - takut akan kedalaman >> org yg gak bisa
berenang
12. Catoptrophobia - takut cermin >> orang buruk rupa
13. Chionophobia - takut akan salju >> orang tropis
14. Chiraptophobia - takut disentuh
15. Chirophobia - takut akan tangan
16. Chronophobia - takut akan waktu
17. Cleptophobia - takut kemalingan
18. Clinophobia - takut tidur
19. Coimetrophobia - takut akan kuburan
20. Coitophobia - takut akan coitus
21. Demonophobia or Daemonophobia - takut setan
22. Dipsophobia - takut minum >> krn perut dah njembling
23. Electrophobia - takut pada listrik
24. Enochlophobia - takut pada keramaian
25. Felinophobia - takut pada kucing (Ailurophobia,
Elurophobia, Galeophobia, Gatophobia)
26. Gamophobia - takut pada pernikahan
27. Gerascophobia- takut menjadi tua
28. Glossophobia - takut berbicara di depan umum >>
gogriers
29. Hemophobia or Hemaphobia or Hematophobia - takut
pada darah
30. Hyelophobia or Hyalophobia - takut pada kaca
31. Ichthyophobia - takut pada ikan
32. Melanophobia - takut pada warna hitam
33. Musophobia or Muriphobia - takut pada tikus
34. Noctiphobia - takut pada malam
35. Panophobia or Pantophobia - takut semuanya
36. Pyrophobia - takut pada api
37. Tachophobia - takut pada kecepatan >> mbah-mbah
tuwo
38. Triskaidekaphobia - takut pada angka 13 >> orang bule
39. Urophobia - takut akan air seni
40. Xyrophobia - takut akan pisau cukur
41. dll

a.3) Sebab-sebab fobia antara lain ialah

a) Pernah mengalami ketakutan hebat, pengalaman traumatis, shock hebat.


b) Pengalaman asli ini dibarengi perasaan malu dan bersalah, lalu ditekan
kedalam ketidak sadaran untuk melupakannya.
c) Jika mengalami rangsangan serupa, timbullah ketakutan yang bersyarat,
sungguhpun pengalaman aslinya sudah dilupakan. Respon ketakutan hebat
selalu muncul kembali, walaupun ada usaha-usaha untuk menekan dan
melenyapkan respon-respon tadi dalam ketidak sadaran.

Apabila penderita fobia secara tidak sengaja atau terpaksa bersinggungan dengan
obyek yang ditakuti, maka akan terjadi reaksi panik, cemas, gemetar, nafas
pendek dan cepat, jantung berdebar, keringat dingin, ingin muntah, kepala pusing,
badan lemas, tidak mampu bergerak, atau bahkan sampai pingsan. Dengan
hipnoterapi, penderita dapat mengetahui penyebab sekaligus menyembuhkan
fobia dengan mudah dan cepat.
http://www.hipnoterapi.asia/sembuhkan_fobia.htm

3. Hipokondria
Hipokondria adalah kondisi kecemasan yang kronis, pasien selalu merasakan
ketakutan yang pathologis(ziekelijke angst) terhadap kesehatan sendiri. Penderita
hipokondria akan selalu menanggapi keluhan-keluhan fisik dengan sangat serius dan
menyimpulkan bahwa dia menderita penyakit tertentu. Misalnya, orang normal jika
batuk akan menganggap dia sedang batuk saja. Sedangakan, penderita hipokondria
jika batuk akan berpikir bahwa dia terkena TBC, atau bahkan kanker paru atau
bahkan gejala HIV/AIDS.
Dalam dunia psikiatri, hipokondria termasuk ke dalam gangguan mental atau psikis.
Pikiran penderita selalu terpusat pada imajinasi tentang penyakit gawat yang
menyerang tubuhnya. Penderita merasa yakin betul bahwa dirinya mengidap satu
penyakit yang serius, sehingga kehidupan pribadi dan sosialnya terganggu. Semua ini
disebabkan oleh banyaknya konflik-konflik intrapsikhis yang sudah lama dan amat
parah. Hipokondria ini umumnya disebabkan oleh trauma, kecemasan, emosi negatif
yang dipendam, beban emosional dan konflik psikologis.
http://ridhamasdar.wordpress.com/2009/11/13/hipokondria-adalah/

4. Paranoid
Paranoid adalah bentuk kegilaan dipenuhi dengan bayangn-bayangan serta fikiran-
fikiran kegila-gilaan atau fikiran yang bukan-bukan. Paranoid juga bisa diartikan
sebagai gangguan mental yang amat serius, dicirikan dengan timbulnya banyak delusi
yang disistematisasikan dan ide fixed yang kaku serta salah. Sedang dalam kamus
Webster, paranoid didefinisikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan
kecurigaan yang tidak rasional/logis. Kepribadian paranoid adalah suatu gangguan
kepribadian dengan sifat curiga yang menonjol, orang seperti ini mungkin agresif dan
setiap orang lain yang dilihatnya dianggap sebagai agresor terhadapnya.
70% dari penderita paranoid adalah kaum pria. Pada umumnya mereka tidak
diganggu oleh halusinasi-halusinasi. Respon emosioniolnya selalu konsistent dengan
delusi-delusinya.

Simptom-simptom paranoid:
1) Adanya delusi atau waham, yakni keyakinan palsu yang dipertahankan.
a) Delusion of persecution (waham kejar), yaitu keyakinan bahwa orang
atau kelompok tertentu sedang mengancam atau berencana
membahyakan dirinya. Waham ini menjadikan penderita paranoid
selalu curiga akan segala hal dan berada dalam ketakutan karena
merasa diperhatikan, diikuti, serta diawasi.
b) Delusion of grandeur (waham kebesaran), yaitu keyakinan bahwa
dirinya memiliki suatu kelebihan dan kekuatan serta menjadi orang
penting.
c) Delusion of influence (waham pengaruh), adalah keyakinan bahwa
kekuatan dari luar sedang mencoba mengendalikan pikiran dan
tindakannya.
2) Adanya halusinasi, yaitu persepsi palsu atau menganggap suatu hal ada
dan nyata padahal kenyataanya hal tersebut hanyalah khayalan.
3) Gejala motorik dapat dilihat dari ekspresi wajah yang aneh dan khas
diikuti dengan gerakan tangan, jari dan lengan yang aneh dan juga dapat
dilihat dari cara berjalan.
4) Adanya gangguan emosi.
5) Penarikan sosial (sosial withdrawl), pada umumnya tidak menyukai orang
lain dan menganggap orang lain tidak menyukai dirinya sehingga dia
memiliki sedikit teman.

Penyebab gangguan kepribadian ini adalah respon pertahanan psikologis yang


berlebihan terhadap berbagai stress atau konflik terhadap egonya dan biasanya sudah
terbentuk sejak usia muda. Kebiasaan-kebiasaan berfikir yang salah, disebabkan oleh
perasaan iri hati, selfish, egosentrisme juga merupakan penyebab dari gangguan
kepribadian ini karena dapat membuat penderita terlampau sensitif dan kerap kali
dihinggapi rasa curiga.

http://id.wikipedia.org/wiki/Paranoid
http://www.juraganmedis.com/kepribadian-paranoid.html
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari materi yang telah dibahas, dapat disimpulkan bahwa :
.

B. SARAN

1. Setiap mahasiswa hendaknya mengetahui dan memahami gejala-gejala patologis


apa saja yang menyertai menstruasi.
2. Kita harus mengetahui dan lebih peka pada perubahan-perubahan fungsi organ
perkemihan secara fisik.
3. Saya hanya bisa berharap terutama pada teman-teman agar lebih memanfatkan
makalah ini sebagai media pengetahuan kita semua khususnya tentang gangguan
psikologi pada saat menstruasi.