Anda di halaman 1dari 4

Nama : Galang Alam

No Mahasiswa : 28784
Penyelesaian Audit

A. Melaksanakan Pengujian Tambahan untuk Penyajian danPengungkapan


Prosedur untuk memenuhi tiga kategori tujuan audit:
1. Tujuan yang berhubungan dengan transaksi
2. Tujuan yang berhubungan dengan saldo
3. Tujuan penyajian dan pengungkapan
Ketiga tahap pertama proses audit menjelaskan bagaimana auditormerancang dan melaksanakan
pengujian audit untuk memperoleh buktiyang kuat untuk mendukung setiap kategori dari tujuan audit.

Tujuan Audit Penyajian dan Pengungkapan :

Tujuan Audit Contoh Prosedur Substantif


Keterjadian serta hak dan kewajiban - Mereview kontak untuk menetukan bahwa
mengungkapkan peristiwa dan transaksi yang piutang usaha dimohonkan sebagai jaminan
terjadi dan terkait dengan entitas
Kelengkapan - semua pengungkapan yang Mengunakan daftar pengungkapan untuk
harus dimasukan dalam laporan keuangan telah menentukan apakah laporan keuangan sudah
dimasukan memuat semua pengungkapan yang diwajibkan
oleh prinsip akuntansi yang diterima umum
Klasifikasi dan kemampuan untuk dipahani - Mereview laporan keuangan untuk menetukan
informasi keuangan disajikan dan digambarkan apakah aktiva diklasifikasikan dengan benar
dengan tepat dan pengungkapan diekspresikan antara kategori lancar dan tidak lancar. Baca
dengan jelas catatan kaki untuk penjelasannya
Ketepatan dan penilaian - informasi keuangan Merekonsiliasi jumlah yang dimasukan dalam
dan informasi lainnya diungkapkan secara catatan kaki utang jangka panjang dengan
wajar, pada jumlah yang benar informasi yang diperiksa dan didukung dalam
kertas kerja audit utang jangka panjang auditor

Banyak informasi yang disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan diaudit sebagai
bagian dari pengujian audit dalam tahap yang lebih awal, dalam IV auditor harus mengevaluasi
apakah keseluruhan penyajian dari laporan keuangan dan catatan kaki yang berhubungan sudah
sesuai dengan prinsip akuntansi yang ditemia secara umum (GAAP). Hal ini mencakup evaluasi
apakah apakah laporan keuangan individual mereflesikan klasifikasi yang tepat dan deskripsi akun
konsisten dengan persyaratan dan informasi disajikan dalam bentuk yang tepat sebagaimana dituntut
standar akuntansi.
Salah satu kekhawatiran utama auditor berkenaan dengan tujuan penyajian dan
pengungkapan adalah menetukan apakah manajemen telah mengungkapkan semua informasi yang
diperlukan. Untuk menilai risiko bahwa tujuan kelengkapan penyajian dan pengungkapan tidak
dipenuhi, auditor memeprtimbangkan informasi selama 3 tahap pertama pengujian audit untuk
menentukan apakah mereka menyadari fakta dan situasi yang seharusnya diungkapkan.
B. Review Kewajiban Kontijen dan Komitmen
Kewajian kontinjen adalah potensi kewajiban dimasa mendatang kepada pihak luar untuk jumlah
yang tidak diketahui dari aktivitas yang telah terjadi. Diperlukan tiga kondisi agar suatu kewajiban
kontinjen ada:

1. Terdapat potensi pembayaran kepihak luar atau kerusakan aktiva yg diakibatkan kondisi yg ada
2. Terdapat ketidakpastian mengenai jumlah pembayaran atau kerusakan dimasa mendatang
3. Hasil akan dipecahkan oleh satu atau beberapa kejadian di masa mendatang

Beberapa jenis utang bersyarat yang sering menjadi perhatian auditor adalah :
1. Tuntutan tertunda untuk pelaggaran paten, kewajinban produk atau tindakan lainnya
2. Perselissihan pajak pendapatan
3. Garansi produk
4. Diskonto wesel tagih
5. Jaminan untuk kewajiban orang lain
6. Saldo letter of credit yang beredar yang tidak digunakan

Dalam banyak audit, tidaklah praktis bagi auditor untuk mengungkapkan kontinjen tanpa
kejasama dengan manajemen. Tujuan auditor dalm memverifikasi kewajiban kontinjen adalah:
1. Mengevaluasi perlakuan akuntansi dari kewajiban kontinjen yang diketahui menentukan apakah
manajemen telah mengklasifikasi dengan benar kotinjensi tersebut. (tujuan klasifikasi penyajian
dan pengungkapan)
2. Mengidentifikasi sampai batasan praktis, setiap kontinjensi yang belum diidentifikasi oleh
manajemen. (tujuan kelengkapan penyajian dan pengungkapan)

Prosedur audit untuk menemukan kontingensi


Langkah pertama dalam mengaudit kontinjen adalah menetukan ada atu tidaknya kontijensi
(tujuan keterjadian penyajian dan pengungkapan) begitu auditor mendapat adanya kontinjensi
evaluasi terhadap materialitas dan pengungkapan catatan kaki biasanya dapat dilakukan dengan
memuaskan.
Beberapa prosedur untuk mecari kewajiban kontinjen akan tetapi tidak semuanya dapat
diterapkan dalam semua audit:
1. Mengajukan pertanyaan kepada manajemen (secara lisan atau tertuis). Dalam pertanyaan auditor
harus spesifik dalam menggambarkan berbagai jenis kontijensi yang mungkin memerlukan
pengungkapan sebagai pengingat bagi manajemen untuk kontijensi yang tidak dilihat /belum
paham.
2. Mereview laporan agen pendapatan internal tahun ini dan tahun sebelumnya untuk penyelesaian
pajak pendapatan.
3. Mereview risalah pertemuan direksi dan pemegang saham untuk indikasi tuntutan hukum atau
kontijensi lainnya.
4. Menganalisis biaya hukum untuk periode dibawah audit dan mreview faktur dan laporan dari
penasihat hukum untuk indikasi kewajiban kontijensi, terutama tuntutan hukum dan penundaan
penilaian pajak.
5. Memperoleh surat dari pengacara untuk membrrikan jasa hukum untuk klien nya dalam status
penundaan tuntutan atau kewajiban kontijen lainnya.
6. Mereview dokumentasi audit untuk setiap informasi yang mungkin menunjukan potensi
kontinjensi. 7.
7. Memeriksa letter of credit yang berlaku pada tanggal neraca dan memperoleh konfirmasi saldo
yang digunakan dan tidak digunakan.
Mengevaluasi utang bersyarat yang diketahui
Jika auditor menyimpulkan adanya kewajiban kontijen, auditor harus mengevaluasi arti
penting dari kewajiban potensial itu dan hakikatnya dari pengungkapan yang diperlukan dalam
laporan keuangan untuk memperoleh bukti mengenai tujuan keterjadian dan hak serta kewajiban
penyajian dan pengungkapan. Dalam hal ini pengungkapan tidak diperlukan jika kontijensi sangat
remote. Untuk kontinjensi yang memerlukan pengungkapan, auditor juga mereview catatan kaki draft
untuk memastikan informasi yang diungkap dapat dipahami dan menyatakan secara wajar kondisi dari
kontinjensi.

Prosedur audit untuk menemukan komitmen


Pencarian komitmen yang tidak diketahui biasanya dilakukan sebagai bagian dari audit setiap
bidang audit. Contoh: dalam memverivikasi transaksi penjualan auditor seharusnya waspada terhadap
komitmen penjualan. auditor seharusnya waspada ketika membaca risalah, kontrak atau file
korespondensi.

Meminta keterangan dari penasehat hukum klien


Meruapakan prosedur utama yang menjadi tempat utama auditor bergantung untuk
mengevaluasi tuntutan hukum yang diketahui atau klaim lain terhadap klien dan mengidentifikasi
tuntutan tambahan. Auditor bergantung pada keahlian dan pengetahuan pengacara klien.

C. Menelaah Peristiwa Kemudian


Auditor harus mereview transaksi dan peristiwa yang muncul setelah tanggal neraca untuk
menetukan apakah terdapat transaksi atau peristiwa yang muncul yang mungkin mempengaruhi
penyajian dan pengungkapan wajar dari laporan periode saat ini.
Tanggungjawab anuditor untuk mereview peristiwa biasanya terbatas pada periode awal
dengan tanggal neraca dan berakhir dengan tanggal laporan audit. Karena tanggal laporan auditor
berkaitan dengan penyelesaian prosedur audit yang penting dikantor klien.

Tipe – Tipe Peristiwa kemudian


Terdapat 2 jenis peristiwa kemudian yang memerlukan pertimbangan manajemen dan
evaluasi auditor:
1. Peristiwa yang memiliki dampak terhadap laporan keuangan yang memerlukan penyesuaian.
Peristiwa yang muncul seteah tanggal neraca menyediakan informasi tambahan terhadap
manajemen yang membantu penyajian yang wajar sari saldo akun. Peristiwa seperti berikut ini
memerlukan penyesuain saldo akun pada laporan keuangan tahun ini jika jumlahnya material:
a. Penyataan kebangkrutan oleh pelanggan dengan saldo piutang usaha yang beredar karena kondisi
keuangan yang buruk
b. Penyelesaian tuntutan hukum dengan jumlah yang berbeda dari jumlah dicatat pembukuan
c. Penjualan investasi harga dibawah biaya yang tercatat

2. Peristiwa yang tidak memiliki dampak langsung terhadap laporan keuangan tetapi memerlukan
pengungkapan. Peristiwa jenis ini menyediakan bukti dari kondisi yang tidak ada pada tanggal
neraca dilaporkan tetapi sangat siginifikan sehingga memerlukan pengungkapan walau tidak
memerlukan penyesuain akun. Peristiwa yang muncul dipeiode selanjutnya yang mungkin
memerlukan pengungkapan dan bukan penyesuaian dilaporan keuangan termasuk:
a. Penurunan dalam nilai pasar sekuritas yang dipegang untuk investasi sementara atau untuk dijual
kembali
b. Penerbitan obligasi atau sekuritas
c. Penurunan nilai pasar dari persediaan sebagai konsekuensi tindakan pemerintah menghalangi
penjualan dari produk
d. Kerugian persediaan yang tidak diasuransikan akibat dari kebakaran
e. Merger atau akuisisi
Prosedur audit atas peristiwa dan fakta sesudah tanggal neraca
Dibawah ini akan diuraikan prosedur – prosedur audit atas peristiwa dan fakta sesudah
tanggal neraca dalam tiga situasi sebagai berikut :
a. Peristiwa terjadi antara tanggal laporan keuangan dan laporan auditor
b. Fakta yang diketahui oleh auditor setelah tanggal laporan auditor, namun sebelum tanggal
laporan keuangan diterbitkan
c. Fakta yang duketahui oleh auditor sesudah laporan keuangan diterbitkan

Peristiwa yang terjadi antara tanggal laporan keuangan dan tanggal laporan auditor
Auditor harus mempertimbangkan penilaian resikoauditor dalam menetapkan sifat dan luas
prosedur audit, yang harus mencakup hal – hal sebagai berikut :
a. Memperoleh suatu pemahaman tentang prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen untuk
memastikan bahwa peristiwa kemudian teridentifikasi.
b. Meminta keterangan darimanajemen dan, jika relevan, pihak yang bertanggungjawab atas tata
kelola, tentang peristiwa kemudian yang telah terjadi yang mungkin mempengaruhi laporan
keuangan.
c. Membaca risalah rapat, jika ada, tentang pemilik, manajemen, dan pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola entitas, yang rapat tersebut diadaka setelah tanggal laporan
keuangan dan meminta keterangan tentang hal – hal yang dibahas dalam rapat tersebut yang
risalah hasil rapatnya belum tersedia.
d. Membaca laporan keuangan interim terakhir entitas, jika ada.

D. Pengumpulan Bukti Akhir


Pada uraian dibawah ini akan dibahas lima jenis pengumpulan bukti akhir meliputi :
1. Melaksanakan prosedur analitis akhir :
• SA 520.6 : “ Auditor harus merancang dan melaksanakan prosedur analitis mendekati akhir
audit yang membantu auditor ketika membentuk kesimpulan keseluruhan tentang apakah
laporan keuangan telah disajikan konsisten dengan pemahaman auditor atas entitas”

2. Menilai Asumsi Kelangsungan Usaha ( Going Concern ) :


Standar audit SA 570 mengatur tanggungjawab auditor dalam audit atas laporan keuangan
yang berkaitan dengan penggunaan asumsi kelangsungan usaha oleh manajemen dalam
penyusunan lapporan keuangan.

3. Mendapatkan Surat Representasi Manajemen


• SA 580.9 berbunyi sebagai berikut :
• “ Auditor harus meminta representasi tertulis dari manajemen yang memiliki tanggungjawab
yang semestinya atas laporan keuangan dan pengetahuan atas hal-hal yang dianggap penting”

4. Mempertimbangkan Informasi yang disertakan pada laporan keuangan utama


5. Membaca informasi pada laporan tahunan entitas :
 SA 720 : ( Tanggungjawab Auditor Sehubungan dengan Informasi Lain dalam Dokumen
yang Memuat Laporan Keuangan Auditan ) mewajibkan auditor untuk membaca informasi
lain yang tercantum dalam laporan tahunan yang berkaitan langsung dengan laporan
keuangan.