Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

BAB 1 ..................................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 1
A. LATAR BELAKANG ................................................................................................................ 1
B. RUMUSAN MASALAH ............................................................................................................ 1
C. TUJUAN PEMBELAJARAN..................................................................................................... 1
BAB II..................................................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 2
A. PENGERTIAN DEPARTEMENTALISALI DAN KEGUNAANNYA .................................... 2
B. PENGELOMPOKAN DEPARTEMEN DALAM PABRIK ...................................................... 2
1. Departemen produksi (producing department) ....................................................................... 2
2. Departemen pemdudkung ( service department) .................................................................... 3
C. BIAYA DEPARTEMEN LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG ....................................... 3
1. Biaya departemen langsung .................................................................................................... 3
2. Biaya departemen tidak langsung ........................................................................................... 4
D. PENENTUAN TARIF BOP PER DEPARTEMEN ................................................................... 5
E. Analisis Selisih untuk Biaya Overhead Pabrik per Departemen ................................................. 9
BAB III ................................................................................................................................................. 11
PENUTUP ............................................................................................................................................ 11
A. KESIMPULAN ......................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 11

i|Akuntansi Biaya
BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik manfaatnya untuk Pengendalian


biaya dan ketelitian penentuan harga pokok produk. Dengan digunakannya tarif – tarif
biaya overhead pabrik yang berbeda – beda untuk tiap departemen, maka pesanan atau
produk yang melewati suatu departemen produksi akan dibebani dengan biaya
overhead pabrik sesuai dengan tarif departemen yang bersangkutan. Departemen biaya
overhead pabrik bermanfaat untuk pengendalian biaya dan ketelitian penentuan harga
pokok. Pengendalian biaya overhead pabrik dapat lebih mudah dilakukan dengan cara
menghubungkan biaya dengan pusat terjadinya, sehingga dengan demikian akan
memperjelas tanggungjawab setiap biaya yang terjadi dalam departemen tertentu.
Dengan digunakannya tarif – tarif biaya overhead pabrik yang berbeda – beda untuk
tiap departemen, maka pesanan atau produk yang melewati suatu departemen produksi
akan dibebani dengan biaya overhed pabrik sesuai dengan ratif departemen yang
bersangkutan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dan kegunaan Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik ?
2. Apa saja pengelompokan departemen dalam pabrik ?
3. Apa yang dimaksud dengan departemen langsung dan tidak langsung ?
4. Bagaimana cara menentukan tarif biaya per departemen ?
5. Bagaimana analisis selisih antara BOP per departemen ?

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Dapat Menjelaskan Pengertian dan kegunaan Departementalisasi Biaya
Overhead Pabrik
2. Dapat Menjelaskan Departemen produksi dan departemen pendukung
3. Dapat Menjelaskan Departemen langsung dan tidak langsung
4. Dapat Menjelaskan Penentuan tarif biaya per departemen
5. Dapat Menjelaskan Analisis selisih antara BOP per departemen

1|Akuntansi Biaya
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN DEPARTEMENTALISALI DAN KEGUNAANNYA

Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik adalah pembagian pabrik menjadi


beberapa bagian atau departemen, pusat biaya (cost center), atau unit yang lebih kecil
lagi yaitu kelompok biaya ( cost pool ), dimana kedalam unit – unit organisasi ini biaya
overhead pabrik dibebankan. Perhitungan tarif biaya overhead pabrik dapat dilakukan
masing – masing departemen dengan menggunakan suatu basis alokasi yang bisa saja
berlainan antara satu departemen dengan departemen yang lainnya.
Dengan menggunakan Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik, maka
penentuan harga pokok pekerjaan dan produk yang dihasilkan akan menjadi lebih
akurat dan pengendalian atas biaya overhead pabrik akan menjadi lebih efektif. Analisis
selisih untuk biaya overhead pabrik dapat dilakukan untuk setiap departemen, yaitu
dengan membandingkan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya da BOP yang
dibebankan dalam masing _ masing departemen. Dengan demikian, dapat diketahui
selisih BOP, yaitu BOP yang lebih atau kurang dibebankan dari masing – masing
departemen tersebut dan selanjutnya dapat dianalisis untuk menentukan selisih
anggaran dan selisih kapasitas.
Dengan menggunakan masing – masing tarif BOP yang telah ditentukan
berdasarkan basis alokasi yang layak atau sesuai setiap departemen, maka dalam
membebankan BOP kepada produk atau pekerjaan yang pengolahan melalui
departemen – departemen tersebut. Penentuan harga pokok produk atau pekerjaan akan
menjadi lebih akurat.

B. PENGELOMPOKAN DEPARTEMEN DALAM PABRIK


Biasanya departemen – departemen dari suatu pabrik dalam perusahaan
manufaktur dibagi atas dua kelompok, yaitu :

1. Departemen produksi (producing department)


Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan jenis –
jenis departemen produksi yang diperlukan adalah sebagai berikut :
1. Adanya kesamaan dalam modus – modus operasi, proses, dan mesin
– mesin yang digunakan dalam departemen.
2. Lokasi dari operasi, proses, dan mesin.
3. Tanggung jawab untuk produksi dan biaya.
4. Hubungan operasi operasi dengan arus preduksi.
5. Jumlah departeman dan pusat biaya.
untuk mencapai maksud dan tujuan dari departementalisasi yang telah
disebutkan, maka harus dibuat suatu sistem informasi biaya yang
menghimpun biaya – biaya menurut organisasi pabrik yang sudah
melakukan departementalisasi sebagimana semestinya. Sistem ini dapat
berlaku untuk jenis operasi yang berdasarkan kepada proses yang

2|Akuntansi Biaya
berkesinambungan, yaitu proses yang biasanya bertujuan membentuk
persediaan. Contoh dari departemen produksi yaitu : departemen
pemintalan, departemen tenun, dan departemen pencelupan, dalam
industri tekstil.
2. Departemen pemdudkung ( service department)
Merupakan hal yang utama sehubungan dengan penentuan harga dan
pengendalian yang efektif. Suatu departemen pendukung dapat terdiri atas
satu fungsi atau penggabungan dari beberapa fungsi.
Penentuan jenis dan jumlah departemen pendukung dapat dipengaruhi
oleh faktor – faktor seperti, pentingnya fungsi pelayanan atau jasa ( service
fungsional , biaya dari penyediaan jasa, dan jumlah karyawan yang
diperlukan oleh masing – masing fungsi jasa tersebut. Misalnya apabila
beberapa dari fungsi jasa tersebut mempunyai jumlah karyawan yang sedikit
dan juga kegiatan dari fungsi – fungsi saling berkaitan dengan erat. Maka
fungsi ini dapat dibentuk menjadi satu departemen pendukung. Contoh
departemen pendukung : departemen penanganan bahan, utilitas,
pemeliharaan, pengendalian produksi gudang, pembantu umum.

Kegiatan yang dilakukan atas produksi baik dengan menggunakan tangan


ataupun mesin terjadi secara langsung dalam departemen produksi. Sedangkan
departemen pendukung tidak secara langsung ikut dalam proses produksi, tetapi hanya
memberikan jasa yang dapat dimanfaatkan oleh departemen produksi dan juga
departemen pendukung lainnya. Biaya – biaya yang terjadi akan dibebankan seluruhnya
kepada produk yang dihasilkan.

C. BIAYA DEPARTEMEN LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG


Biaya biaya overhead pabrik dapat dikelompokkan atas dua kategori biaya yaitu
:
1. Biaya departemen langsung
Biaya departemen langsung bagi suatu departemen baik departemen
produksi maupun pendukung meliputi biaya – biaya yang terjadi atau
berasal dari departemen tersebut yang meliputi :
1. Biaya tenaga kerja tidak langsung
Biaya ini meliputi biaya yang berkaitan dengan TKTL dalam proses
produksi, yaitu gaji, lembur, tunjangan – tunjangan kesejahteraan seperti
tunjangan cuti, pensiun, kesehatan, asuransi, dan lainnya.

2. Biaya bahan tidak langsung dan perlengkapan pabrik


Permintaan BTL dan perlengkapan pabrik ke gudang untuk proses
produksi oleh masing – masing departemen produksi merupakan biaya
departemen langsung bagi setiap departemen tersebut. Permintaan ini
juga menggunakan formulir dan dokumen yang sama seperti halnya
dengan bahan langsung, yaitu dengan menggunakan bon permintaan
bahan. Berikut perbedaan antara biaya BL dan BTL.

3|Akuntansi Biaya
Bahan langsung Bahan tidak langsung
1. Jumlahnya sangat berarti 1. Jumlahnya tidak berarti
2. Terjadi perubahan bentuk 2.Hanya sebagai pelengkap
melalui proses produksi untuk operasi pengolahan dan
dan merupakan bagian bukan merupakan bagian
yang integral dari produk yang utama dari produk akhir
akhir,

3. Biaya repasi dan pemeliharaan


Biaya ini biasanya berapa dibawah kendali departemen
pemeliharaan. Akan tetapi karena kegiatan reparasi dan pemeliharaan
ini adalah suatu fungsi atau kegiatan jasa, maka pada akhirnya biaya ini
harus didistribusikan kesetiap departemen yang menerima jasa tersebut.

4. Biaya penyusutan peralatan pabrik


Biaya penyusutan dari peralatan pabrik yang berada dan
digunakan dalam setiap departemen produksi secara langsung dapat
dibebankan kepada masing – masing departemen tersebut. Dengan
demikian, penyusutan harus dihitung menurut departemen yang
berdasarkan kepada biaya perolehan dari peralatan yang telah dicatat
dalam masing – masing buku tambahan atau aset tetap.
Bila catatan akuntansi tidak mengidentifikasikan peralatan –
peralatan yang ada atau dalam kondisi dimana peralatan sering kali
digunakan oleh lebih dari satu departemen, maka biaya penyusutan
peralatan pabrik ini tidak dapat secara langsung dibebankan pada
depatemen produksi. Tetapi biaya ini biasanya dihimpun dalam
departemen pendukung umum, dan kemudian didistribusikan
berdasarkan basis tertentu ke departemen – departemen yang
menggunakan peralatan tersebut.

2. Biaya departemen tidak langsung


BOP yang terjadi dan digunakan oleh semua departemen, biasanya tidak
dapat dibebankan secara tidak langsung kepada suatau departemen. Tetapi
biaya ini didistribusikan atau dialokasikan kepada semua departemen
tersebut dengan menggunakan basis – basis yang layak. Contoh biaya tidak
langsung ini adalah : tenaga listrik, air, bahan bakar, penyusutan gedung
pabrik, asuransi, dan sewa. Berikut adalah beberapa contoh baya
departemen tidak langsung dan basis – basis alokasi yang digunakan.

Biaya departemen tidak langsung Basis alokasi


Penyusutan gedung pabrik Meter persegi luas lantai
Asuransi Meter persegi luas lantai
Sewa Meter persegi luas lantai
Pajak bumi dan bangunan Meter persegi luas lantai
Tenaga pengawas Jumlah karyawan

4|Akuntansi Biaya
Telepon Jumlah karyawan atau jumlah
pesawat telpon

D. PENENTUAN TARIF BOP PER DEPARTEMEN


Langkah – langkah dalam menentukan penentuan tarif BOP
Dalam menentukan tarif BOP per departemen, semua BOP dalam
departemen – departemen pendukung harus dialokasikan seluruhnya kepada
departemen – departemen produksi. Hal ini disebabkan karena perhitungan tarif
BOP hanya dilakukan untuk setiap departemen produksi, sedangkan semua
biaya produksi baik biaya yang langsung berkaitan dengan kegiatan produksi
maupun yang tidak langsung harus diperhitungkan dalam harga pokok barang
yang dihasilkan. Berikut langkah – langkahnya :
1. Menyusun anggaran BOP untuk departemen produksi dan pendukung
Dalam menyusun anggaran ini meliputi penaksiran atas elemen
– elemen biaya langsung setiap departemen dan elemen – elemen biaya
tidak langsung. Penaksiran biaya langsung harus dilakukan melalui
kerja sama antara kepala – kepala departermen, pejabat, pengawas,
ataupun karyawan yang berkaitan dan bagian akuntansi biaya
perusahaan. Penaksiran atas elemen biaya tidak langsung seperti, tenaga
listrik, air, bahan bakar, penyusutan gedung pabrik merupakan langkah
yang harus dilakukan perusahaan. Biaya ini selanjutnya akan
didistribusi ke depatemen produksi dan pendukung yang memperoleh
manfaat. Dengan menjumlahkan seluruh elemen dari biaya langsung
dan tidak langsung, maka dapat diperoleh jumlah anggaran BOP untuk
masing – masing departemen.
2. Mengadakan penelitian untuk penetapan basis alokasi
Seluruh kegiatan penelitian harus dilakukan untuk memperoleh
data – data yang akan digunakan sebagai basis alokasi dalam rangka
mendistribusikan biaya tidak langsung ke departemen yang menikmati
manfaatnya. Data- data yang diperlukan untuk basis alokasi dengan
departemen – departemen yang ada dalam pabrik, sebagai contoh
jumlah karyawan per departemen, taksiran jumlah kilowatt pemakian,
luas lantai yang digunakan dalam meter persegi, nilai atau harga
perolehan dari aset. Berikut adalah hasil penelitian yang dilakukan pada
awal tahun.
PT YUSA

Departemen Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %


produksi Karyawan dalam kilowatt pemakaian
Meter Pemakaian Bahan
persegi
Pemintalan 40 20% 2.000 25% 10.000 25% Rp 40%
192.000.000
Tenun 30 15% 3.000 37,5% 4.000 10% Rp 20%
96.000.000

5|Akuntansi Biaya
Celup 50 25% 1.000 12,5% 6.000 15% Rp 10%
48.000.000
Garment 80 40% 2.000 25% 20.000 50% Rp 30%
144.000.000
Jumlah 200 100% 8.000 100% 40.000 100% 480.000.000 100%
TABEL 10.1
Penelitian Pabrik Awal Tahun

3. Mendistribusikan biaya tidak langsung dan biaya departemen


pendukung
Dengan ditetapkannya beberapa basis alokasi berdasarkan
penelitian pabrik (tabel 10.1), maka biaya tidak langsung yang
dianggarkan harus dialokasikan atau didistribusikan kedepartemen
pendukung yang menikmatinya. Contoh mendistribusian tidak langsung
ada pada (tabel 10.2)
Ada 3 metode yang biasanya digunakan dalam mengalokasikan
biaya departemen pendukung ke departemen yang menggunakan
manfaatnya.
1. Metode alokasi langsung
Metode ini lebih mudah dalam penerapannya dibandingkan
dengan kedua metode lainnya. Oleh karena tahapan dari pendistribusian
biasanya lebih singkat. Pengalokasian biaya dari departemen pendukung
dilakukan secara langsung kepada departemen produksi tanpa melihat
ada atau tidaknya departemen pendukung lainnya yang menggunakan
manfaat dari departemen pendukung tersebut.
Tabel 10.3
Departemen pendukung dan basis alikasi biaya

Departemen Pendukung Basis Alokasi Biaya


Departemen gedung dan taman Luas lantai dalam meter persegi
Departemen personalia Jumlah karyawan
Administrasi pabrik Jumlah karyawan
Gudang Jumlah pemakaian bahan

Dapat dilihat dalam tabel 10.3 departemen gedung dan taman


mendistribusikan biayanya atas dasar luas lantai dalam meter persegi
sebagaimana tercantum pada data penelitian pabrik. Sebagai contoh
biaya departemen gedung dan taman sebesar Rp5.675.000 (25% x
Rp22.700.000) didistribusikan kepada departemen pemintalan.
Departemen personalia dan departemen administrasi pabrik
menggunakan basis yang sama dalam kontribusi biayanya, yakni
berdasarkan jumlah Karyawan. Sesuai dengan data dalam Tabel 4,
departemen pemintalan menerima beban alokasi dari departemen
personalia dan departemen administrasi pabrik masing-masing sebesar
Rp3.340.000 (20% x Rp16.700.000) dan Rp3.960.000 (20% x
Rp19.800.000). Biaya departemen gudang didistribusi dengan basis

6|Akuntansi Biaya
alokasi yang berbeda dari departemen yang lainnya, yaitu berdasarkan
basis jumlah pemakaian bahan. Sebagai contoh adalah departemen
gudang sebesar Rp 6.520.000 ( 40% x Rp16.300.000) didistribusikan
kepada departemen pengintai.
Setelah pendistribusian biaya dari departemen-departemen
pendukung seluruhnya selesai dilaksanaka, maka tarif biaya overhead
pabrik per departemen dapat dihitung dalam departemen produksi.
Seperti contoh dalam Tabel 10.4 departemen pemintalan mempunyal
jumlah biaya overhead pabrik setelah menerima pendistribusian biaya
dari departemen-departemen pendukung adalah sebesar Rp95.695.000
dan jumlah Jam mesin yang digunakan aleh departemen pemintalan
ditaksir sebanyak 19.139 jam. Dengan demikian, tarif biaya overhead
pabrik untuk departemen pemintalan adalah sebesar Rp5.000 per jam
mesin (Rp95.695.000: 19.139) terdiri atas tarif biaya overhead pabrik
tetap sebesar Rp2.142 per jam mesin (Rp41.000.000: 19.139), dan tarif
baya overhead pabrik variabel sebesar Bp2.858 per jam mesin
(Rp54.695.000 19.139). Seluruh biaya departemen pendukung yang
diterima sebagai pengalokasian dengan menggunakan basis alokasi
tertentu, dianggap sebagai elemen biaya variabel dan termasuk dalam
perhitungan tarif biaya overhead pabrik.

2. Metode Alokasi Bertahap


Metode ini medistribusikan biaya departemen-departemen
pendukung ssecara bertahap, di mana biaya dari departemen pendukung
tidak langsung seluruhnya ditransfer ke departemen-departemen
produksj. Tetapi terlebih dahulu dibagikan kepada departemen-
departemen pendukung lainnya sesual dengan urutan pendistribusian
yang telah ditentukan untuk masing-masing departemen pendukung.
Dibandingkan dengan metode alokasi langsung, metode ini
masih mengakui adanya hubungan di antara departemen departemen
pendukung meskipun prosedur pengalokasian blaya secara bertahap
tidak mencerminkan adanya penggunaan manfaat yang timbal balik oleh
masing masing departemen pendukung tersebut, Pemilihan untuk
menentukan
Sebagai contoh penerapan metode ini dapat dihat pendistribusian
biaya yang memiliki biaya PT YUSA pada tabel 10.5. pendistribusian
ini dimulai dari departemen pendukung yang mempunyai biaya terbesar,
yaitu departemen gedung dan taman jumlah Rp22 700.000 dan
berikutnya departemen administrasi pabrik sebesar Rp19.800.000,
departemen personalia sebesar Rp16.700.000, dan giliran yang terakhir
adalah departemen gudang dengan biaya overhead pabrik yang terkecil
sebesar Rp16 3000 0000. Data tambahan dari hasil penelitian pabrik
pada Tabel 10.1

7|Akuntansi Biaya
Departemen pendukung Jumlah karyawan Luas lantai dalam meter
persegi
Gedung dan taman 20 1.000
Personalia 24 400
Administrasi pabrik 10 600
Gudang 16 1.000
Jumlah 70 3.000

Sebagaimana yang terlihat dalam Tabel 10.5, pendistribusian


yang pertama adalah biaya departenmen gedung dan taman sebesar
Rp22 700.000 telah didistribusikan kepada keempat departemen
produksi dan juga kepada departemen pendukung lainnya berdasarkan
basis alokasi luas lantai dalam meter persegi. Dalam hal ini persentase
atau komposisi bagian dari masing-masing departemen menjadi berbeda
apabila dibandingkan dengan pendistribusian dalam metode alokasi
langsung.
3. Metode Aljaba
Meskipun alokasi bertahap sudah mempertimbangkan adanya
kondisi dimana departemen-departemen pendukung saling memberi
dan menerima jasa masing masing-masing antara satu sama lain, tetapi
metode ini masih belum menunjukkan kondisi seperti itu secara utuh
atau lengkap, karena begitu suatu departemen selesai mendistribusikan
biayanya, maka prosedur pendistribusian dari departemen tersebet
dianggap selesai dan tidak lagi menerima pendistribusian biaya dari
departemen pendukung lain yang melakukan pendistribusian
berikutnya. Untuk mengatasi masalah di atas, maka metode aljabar
dapat digunakan juga sebagai metode kedua yang telah diselesaikan
sebelumnya. Metode dalam mencerminkan keberadaan arus
penggunaan timbal balik di antara masing-masing departemen
pendukung.
Sebagai ilustrasi anggap bahwa PT sugriwa mempunyai dua
departemen produksi, yakni departemen P1 dan departemen P2 srta
departemen pendukung, yakni departemen S1 dan departemen S2 yang
saling menerima dan memberikan manfaatnya. Dalam hal ini, biaya –
biaya kedua departemen pendukung akan dialokasikan secara simultan
dengan metode aljabar, yaitu metode persamaan tersamar. Penjelasan
sebagai berikut.

Departemen BOP sebelum Persentase pemberian jasa


alokasi oleh departemen pendukung
S1 S2
P1 Rp 10.000.000 50% 40%
P2 15.000.000 30% 40%

8|Akuntansi Biaya
S1 6.200.000 - 20%
S2 5.000.000 20% -
Rp 36.200.000 100% 100%

Metode aljabar, yakni persamaan tersama dapat digunakan


seperti berikut.
S1 = Rp 6.200.000 + 0,2S2
S2 = Rp 5.000.000 + 0,2S1
Subtitusi pertama :
S1 = Rp 6.200.000 + 0,2 (Rp 5.000.000 + 0,2S1)
S1 = 6.200.000 + 1.000.000 + 0,04S1
-0,04S1 + S1 = 7.200.000
0,96 S1 = 7.200.000
S1 = 7.500.000
Subtitusi kedua :
S2 = 5.000.000 + 0,2 (7.500.000)
S2 = 6.500.000

Alokasi biaya departemen pendukung taksiran


Departemen Produksi Departemen Pendukung Jumlah
BOP 10.000.000 15.000.000 6.200.000 5.000.000 36.200.000
sebelum
alokasi
Alokasi
biaya dept.
pendukung
Dept. S1 3.750.000 2.250.000 (7.500.000) 1.500.000
Dept. S2 2.600.000 2.600.000 1.300.000 6.500.000
Jumlah BOP 16.350.000 19.850.000 36.200.000

E. Analisis Selisih untuk Biaya Overhead Pabrik per Departemen


Biaya overhead pabrik yang dibebankan berguna untuk penentuan biaya atau
harga pokok per unit dan menjadi tolak ukur atau biaya pembanding atas biaya-biaya
yang sesungguhnya pada setiap departemen produksi dalam suatu periode pada tahun
buku berjalan. Analisis selisih untuk biaya overhead pabrik dilakukan per departemen
sehingga selisih atau penyimpangan yang terjadi akan lebih mudah ditelusuri dan tindak
lanjut untuk usaha perbaikan dapat dilimpahkan kepada masing-masing kepala
departemen produksi yang diperlukan. Agar sesuai antara biaya overhead pabrik yang

9|Akuntansi Biaya
sesungguhnya terjadi untuk setiap departemen produksi dengan biaya overhead pabrik
yang dibebankan dapat dilakukan, diperlukan prosedur atau langkah-langkah berikut
ini.
1. Menyusun ikhtisar dari jenis-biaya overhead pabrik yang sesuai selama
tahun buku berjalan untuk masing-masing departemen produksi dan
departemen pendukung (lihat Tabel 10.6).

2. Membuat daftar hasil penelitian yang diketahui data sesungguhnya yang


berkaitan dengan basis distribusi atau menghitung biaya overhead pabrik
(Tabel 10.7).

3. Mengalokasikan biaya overhead pabrik tidak langsung yang sesungguhnya


dengan data dan basis alokasi yang terdapat dalam hasil penelitian pabrik
pada Tabel 10.7 (lihat Tabel 10.6)

4. Mengalokasikan biaya-biaya departemen pendukung yang sesungguhnya


kepada departemen-departemen produksi (lihat Tabel 10.8).

5. Membandingkan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya dengan biaya


overhead pabrik yang dibebankan untuk setiap departemen produksi, dan
menentukan besarnya biaya overhead pabrik yang lebih kurang dibebankan
(over or underapplied factory overhead) per departemen.

6. Melakukan analisis selisih atas biaya overhead pabrik per departemen.

10 | A k u n t a n s i B i a y a
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Biaya-biaya produksi yang tidak dapat dikategorikan ke dalam biaya bahan baku
dan biaya tenaga kerja langsung atau yang wujud riilnya adalah biaya bahan baku tudak
langsung dann biaya tenaga kerja tidak langsung serta biaya pabrik lainnya dikelompokan
tersendiri yang disebut biaya overhead pabrik.

Departementalisasi biaya overhead pabrik bermanfaat untuk pengendalian biaya


dan ketelitian penentuan harga pokok produk. Pengendalian biaya overhead pabrik dapat
lebih mudah dilakukan dengan cara menghubungkan biaya dengan pusat terjadinya,
sehingga dengan demikian akan memperjelas tanggung jawab setiap biaya yang terjadi
dalam departemen tertentu. Dengan digunakannya tarif-tarif BOP yang berbeda-beda
untuk tiap departemen, maka pesanan atau produk yang melewati suatu departemen
produksi akan dibebani dengan BOP. Sesuai dengan departemen bersangkutan.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Dunia, Firdaus (2017);Akuntansi Biaya,Salemba Empat:Depok

11 | A k u n t a n s i B i a y a

Anda mungkin juga menyukai