Anda di halaman 1dari 18

2.

Scabies
1. Definisi

Skabies adalah penyakit kulit yang mudah menular dan disebabkan oleh
tungau Sarcoptes scabiei yang menggali di dalam epidermis pada stratum korneum
sehingga menimbulkan gatal-gatal pada kulit (NHS, 2012). Skabies merupakan kasus
infestasi yang sering ditemukan dan diakibatkan oleh sejenis tungau Sarcoptes
scabiei dan ditularkan dengan kontak jarak dekat antara manusia dengan manusia.
(Price & Wilson, 2005).

Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau
bersifat mikroskopis. Penyakit skabies sering disebut kutu badan. Penyakit ini juga
mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia dan sebaliknya.
Skabies mudah menyebar baik secara langsung atau melalui sentuhan langsung
dengan penderita maupun secara tak langsung melalui baju, seprai, handuk, bantal, air,
atau sisir yang pernah dipergunakan penderita dan belum dibersihkan dan masih
terdapat tungau sarcoptesnya.

Gambar 3. Tampilan kelainan kulit Scabies

Skabies menyebabkan rasa gatal pada bagian kulit seperti disela-sela jari, siku,
selangkangan. Skabies identik dengan penyakit anak pondok pesantren, penyebabnya
adalah kondisi kebersihan yang kurang terajaga, sanitasi yang buruk, kurang gizi dan
kondisi ruangan terlalu lembab dan kurang mendapat sinar matahari secara langsung.
Penyakit kulit skabies menular dengan cepat pada suatu komunitas yang tinggal
bersama sehingga dalam pengobatannya harus dilakukan secara serentak dan
menyeluruh pada semua orang dan lingkungan pada komunitas yang terserang
skabies, karena apabila dilakukan pengobatan secara individual maka akan mudah
tertular kembali penyakit skabies (Yosefw, 2007).

Kondisi ini dikenal dengan banyak istilah di Indonesia. Beberapa nama lain dari skabies
adalah : Kudisan, Gudikan/gudig, Budukan, Gatal agogo, Infeksi tungau, atau The
itch/seven year itch

1. Klasifikasi

Menurut Djuanda (2007) terdapat beberapa bentuk khusus dari skabies yang sering
terjadi pada manusia yaitu sebagai berikut :

1. Scabies of cultivated

Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan liang tungau yang sedikit jumlahnya
sehingga sangat sukar ditemukan. Scabies jenis ini memeng sering ditandai dengan
gejala minimal dan sukar ditemukan liang tungau hal ini dikarenakan tungau biasanya
menghilang akibat mandi secara teratur.

2. Skabies incognito

Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid topikal atau sistemik
sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih
bisa terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa,
distribusi atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain.

3. Skabies nodular

Pada scabies bentukini terdapat lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus
biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan
aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Pada
nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau akan jarang ditemukan. Nodus
mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah
diberi pengobatan anti scabies dan kortikosteroid.

4. Animal transmited scabies

Scabies juga dapat ditularkan melalui hewan. Kelainan ini berbeda dengan skabies
manusia yaitu gejala lebih ringan, tidak terdapatnya liang tungau, tidak menyerang sela
jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah yang biasanya
merupakan area kontak dengan binatang kesayangannya seperti paha, perut, dada dan
lengan. Masa inkubasi scabies jenis ini lebih pendek dan transmisinya lebih mudah.
Kelainan ini bersifat sementara (4-8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S.
scabiei var.animal tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.

5. Crusted scabies

Skabies Norwegia ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta, skuama generalisata dan
hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut,
telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku.
Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak
menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi
sangat banyak. Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik yang
menyebabkan sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau sehingga tungau
dapat berkembangbiak dengan mudah.

Gambar 4. Crusted scabies


(Sumber : American Academy of Dermatology, 2010)

Orang dengan Crusted scabies memiliki sekitar 100 atau bahkan 1.000 tungau pada
kulit mereka. Sebagai perbandingan, kebanyakan orang yang terinfeksi scabies hanya
memiliki 15 sampai 20 tungau pada kulit mereka. Dengan begitu banyak tungau yang
menggali didalam kulit, maka ruam dan gatal akan menjadi semakin parah. (Kenny,
2012).

6. Skabies pada bayi dan anak

Lesi scabies pada bayi dapat mengenai di bagian wajah, sedangkan pada anak dapat
mengenai seluruh tubuh, termasuk kulit kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan
sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo dan eczema. Gambaran klinis dari
scabies jenis ini tidak khas, liang tungau juga sulit ditemukan, namun lesi berupa
vesikel lebih banyak.
7. bed ridden

Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur
dapat menderita skabies yang lesinya terbatas.

8. Skabies pada pasien HIV/AIDS

Pada scabies jenis ini ditemukan skabies atipik dan pneumonia.

9. Skabies disertai PMS lain

Apabila terdapat skabies di daerah genital perlu dicari kemungkinanpenyakit menular


seksual yang lain, dimulai dengan pemeriksaan biakan untuk gonore dan pemeriksaan
serologi untuk sifilis.

10. Skabies dishidrosiform

Scabies jenis ini ditandai oleh adanya lesi berupa kelompok vesikel dan pustula
padatangan dan kaki yang sering berulang dan dapat sembuh dengan obat antiskabies.

1. Etiologi

Skabies disebabkan oleh Sarcoptes acabiei, dan didapatkan melalui kontak fisik yang
erat dengan orang lain yang menderita penyakit ini atau seringkali berpegangan tangan
dalam waktu yang sangat lama barangkali merupakan penyebab umum terjadinya
penyebaran penyakit ini. (Brown & Burns, 2005)

Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina,


superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Selain itu
terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi.
Gambar 5. Kutu penyebab skabies/gudig

Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung


dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata.
Ukuran yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang
jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai
4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki
kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan
kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.

Gambar 6. Tungau S.scabiae dewasa (Sumber : Ganholm, et al., 2005)

Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar tubuh manusia pada suhu kamar selama
lebih kurang 24-36 jam. Tempat predileksinya adalah pada lapisan stratum korneum
yang tipis dan lembab yaitu pada sela-sela jari tangan, pergelangantangan, siku bagian
luar, lipatan ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong,
genetalia eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Pada bayi, karena seluruh kulitnya
masih tipis, maka seluruh badan dapat terserang (Orkin, 2008).

1. Patofisiologi
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Tungau jantan dewasa hidup di permukaan
kulit. Tungau jantan hanya mempunyai satu tugas dalam kehidupannya, dan setelah
perkawinan yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih
dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah
dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 mm
sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40
atau 50. Kurang lebih hanya 1 dari 10 telur akan menjadi tungau scabies dewasa.
Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan
menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang
kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3
hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4
pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa
memerlukan waktu antara 8-12 hari (Handoko, R, 2001).

Gambar 7. Siklus hidup tungau Scabies


(Sumber : www.dpd.cdc.gov)

Mulanya hospes tidak menyadari adanya aktivitas penggalian terowongan dalam


epidermis, tetapi setelah 4-6 minggu terjadi reaksi hipersensitivitas terhadap tungau
atau bahan-bahan yang dikeluarkannya, dan mulailah timbul rasa gatal. Adanya periode
asimtomatis bermanfaat sekali bagi parasit ini, karena dengan demikian mereka
mempunyai waktu untuk membangun dirinya sebelum hospes membuat respon
imunitas. Setelahnya, hidup mereka menjadi penuh bahaya karena terowangannya
akan digaruk, dan tungau-tungau serta telur mereka akan hancur. Dengan cara ini
hospes mengendalikan populasi tungau, dan pada kebanyakan penderita skabies, rata-
rata jumlah tungau betina dewasa pada kulitnya tidak lebih dari selusin. (Brown dan
Burns, 2005)
Gambar 8. Tungau Scabies dan telur-telurnya dalam preparat kalium hidroksida

Arias, Kathleen M (2009) menjelaskan bahwa kutu betina akan menembus kulit untuk
meletakkan telurnya dan hal ini menimbulkan suatu reaksi yang biasanya
bermanifestasi sebagai pruritis berat yang sangat bervariasi, bergantung pada status
kekebalan hospes. Telur menetas dan menjadi dewasa dalam 10 sampai 14 hari. Masa
inkubasi bisa dari beberapa hari sampai beberapa minggu. Dengan demikian,
seseorang dapat menularkan organisme tersebut kepada orang lain sebelum gejala
muncul. Benda tercemar biasanya bukan media penularan yang utama tetapi benda
tercemar juga berperan di dalam wabah jika pasien atau penghuni fasilitas menderita
skabies norwegia. Kutu ini juga dapat bertahan dalam minyak mineral sampai maksimal
7 hari. Dengan demikian, salep dan krim yang mengandung minyak kemungkinan dapat
berperan sebagai reservoir.

Siklus hidup tungau paling cepat terjadi selama 30 hari dan selama waktu tersebut
tungau selalu berada didalam epidermis manusia. Tungau yang berpindah ke lapisan
kulit teratas memproduksi substansi proteolitik (sekresi saliva) yang berperan dalam
pembuatan liang yang juga digunakan untuk aktivitas makan dan pelekatan telur pada
liang tersebut. Tungau-tungau ini memakan jaringan-jaringan yang hancur namun tidak
mencerna darah. Scybala tungau akan ditinggalkan di sepanjang perjalanan tungau
menuju ke epidermis dan membentuk lesi linier sepanjang terowongan.

Kelainan kulit pada penderita scabies dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau
skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang
terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan ekskreta tungau yang
memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Sensitisasi terjadi pada penderita
yang terkena infeksi scabies pertama kali. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai
dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan garukan
dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Apabila
terjadi immunocompromised, respon imun yang lemah akan gagal dalam mengontrol
penyakit dan megakibatkan invasi tungau yang lebih banyak bahkan dapat
menyebabkan crusted scabies dengan jumlah tungau bisa melebihi satu juta.

Semua kelompok umur bisa terkena. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak dan
dewasa muda, walaupun akhir-akhir ini juga sering didapatkan pada orang berusia
lanjut, biasanya di lingkungan rumah jompo. Kontak sesaat tidak cukup untuk dapat
menimbulkan penularan, sehingga siapapun yang biasa menghadapi kasus skabies
dalam tugas pelayanan kesehatan tidak perlu takut tertular penyakit ini. (Brown &
Burns, 2005)

1. Cara Penularan

Kelompok resiko yang dapat tertular scabies diantaranya adalah :

a. Anak - dari wabah scabies yang terjadi di sekolah atau asrama.


b. Ibu- dari kontak dengan anaknya yang terinfeksi
c. Lansia - tinggal di panti jompo
d. Dewasa muda - yangmelakukan hubungan seksual secara aktif

Menurut NHS (2012), tungau scabies tidak dapat terbang atau melompat, tungau
tersebut hanya dapat berpindah dari tubuh seseorang yang terinfeksi ke orang lain jika
kedua orang tersebur secara langsung melalui kontak fisik dalam jangka waktu lama.
Scabies dapat ditularkan melalui beberapa hal berikut :

a. Kontak kulit secara lansung dengan orang yang terinfeksi (jangka waktu
lama)
b. Kontak seksual dengan orang yang terinfeksi
c. Pemakaian bersama baju, handuk, dan sprei dengan seseorang yang
terinfeksi (meskipun jarang terjadi)

Scabies tidak akan ditularkan melalui kontak fisik dalam waktu singkat, seperti berjabat
tangan atau memeluk. Tungau scabies dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia
selama antara 24-36 jam sehingga dapat memungkinkan untuk terinfeksi melalui kontak
dengan pakaian yang terkontaminasi, handuk, atau sprei, namun sangat jarang untuk
didapatkan penularan melalui cara ini. Infestasi scabies dapat menyebar dengan cepat
karena orang biasanya tidak menyadari hingga2-3 minggu setelah awal infeksi (NHS,
2012). Skabies tidak ditularkan lewat binatang peliharaan atau binatang lainnya.
(Khrisna, 2013)

Wabah skabies baik dalam fasilitas perawatan akut maupun perawatan jangka panjang
sulit untuk dikendalikan akibat penyebaran berkesinambungan yang sering terjadi
karena :

1. Kasus yang salah diagnosis dan tidak dikenali di kalangan pasien,


penghuni, atau petugas
2. Pengobatan yang tidak efektif dan tidak tepat (Arias, 2009)
1. Manifestasi Klinis

Sebagian besar gejala skabies disebabkan oleh respon system imun terhadap tungau
itu sendiri, saliva tungau, telur tungau atau feses tungau tersebut. (Kenny, 2012)

Jika seseorang pernah terinfeksi skabies sebelumnya, gatal biasanya dimulai dalam
waktu 1-4 hari. Jika seseorang tidak pernah terinfeksi scabies, tubuh membutuhkan
waktu lebih lama hingga 2-6 minggu untuk menimbulkan reaksi terhadap infeksi tungau.
Tanda dan gejala skabies antara lain adalah :

1. Proritus nocturna

Pruritus adalah gejala yang paling umum pada scabies. Pruritus tersebut biasanya
parah dan cenderung berada di satu tempat pada awalnya (paling sering di tangan),
hingga kemudian menyebar ke daerah lain. Pruritus umumnya semakin buruk di malam
hari dan setelah mandi air panas (Kenny, 2012). Bagian kulit yang diserang oleh parasit
ini biasanya adalah bagian kulit yang tidak berambut atau bagian kulit yang rambutnya
jarang seperti pergelangan tangan, telapak tangan, jari-jari, siku, pantat, kaki, sekitar
organ kelamin, puting susu, dan bagian pinggang badan. Akan tetapi apabila kuman ini
menyerang anak-anak dibawah dua tahun, seluruh bagian kulit bisa terinfeksi.

2. Lesi kulit pada skabies


a. Ruam

Ruam biasanya muncul segera setelah gatal timbul dan biasanya berupa ruam merah
kental seperti jerawat yang dapat muncul di manapun pada tubuh .

Gambar 9 Ruam pada skabies


(Sumber : American Academy of Dermatology, 2010)

Ruam ini biasanya sering ditemukan jelas di bagian dalam paha, bagian perut dan
bokong, ketiak, serta sekitar areola mamae pada wanita (Kenny, 2012).
Menurut American Academy of Dermatology (2010), ruam dapat menyebabkan
benjolan kecil yang sering membentuk garis. Benjolan dapat terlihat seperti gatal-gatal,
gigitan kecil, knot di bawah kulit, atau jerawat, bahkan pada beberapa orang dapat
muncul patch bersisik. Tempat yang paling sering timbul gatal dan ruam adalah :

1. Telapak tangan : tungau menggali di dalam kulit antara jari-jari


dan sekitar kuku.
2. Lengan : seperti pada siku dan pergelangan tangan.
3. Kulit yang ditutupi oleh pakaian atau perhiasan : pantat, garis
sabuk, penis, dan kulit di sekitar puting, serta kulit yang
ditutupi oleh gelang, gelang jam, atau cincin.

Gambar 10. Tipikal distribusi inflamasi papules pada orang dewasa dengan scabies
(Sumber : Ganholm, et al., 2005)

b. Kurnikulus

Liang merupakan tempat kuman ini menyimpan telur telur. Liang tungau dapat terlihat
pada kulit halus, gelap, atau garis berwarna keperakan dengan panjang sekitar 2-10
mm. Liang ini biasanya tidak terlihat hingga ruam atau gatal timbul. (Kenny, 2012)
Gambar 11. Terowongan skabies yang khas

Adanya lesi yang khas, kurnikulus pada tempat predileksi, berwarna putih atau keabu-
abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok-kelok, terowongan panjangnya beberapa
milimeter, berdiamater sekitar 1cm. Pada ujung liang biasanya ditemukan papul dan
vesikel. Tempat predileksinya adalah kulit dengan stratum korneum yang tipis yaitu
sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar, lipatan ketiak bagian depan,
areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genetalia eksterna (pria), dan perut
bagian bawah. Bila pada seorang pria diduga terdapat skabies, hendaklah genitalianya
selalu diperiksa. Pada bayi dapat mengenai telapak tangan dan kaki. (Djuanda, 2007)

3. Luka / garukan

Menggaruk karena rasa gatal dapat menyebabkan kerusakan kulit ringan berupa luka
bisul dan luka bekas garukan. Menurut Handoko, R (2001) ada 4 tanda cardinal yang
apabila terdapat dua tanda berikut, juga bisa mendiagnosis scabies, diantaranya
adalah:

a. Pruritus nokturna
b. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya
dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena
infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat
penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan
diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi,
yang seluruh anggota keluarganya terkena, walaupun mengalami
infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini
bersifat sebagai carrier
c. Adanya kunikulus pada tempat-tempat predileksi yang berwarna
putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-
rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau
vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimarf
(pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya
merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-
sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar,
lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus,
bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Pada
bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.
d. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostic. Dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.

1. WOC (Web of Caution)

1. Pemeriksaan Diagnostik
Ada beberapa pemeriksaan yang diperlukan untuk klien dengan scabies, diantaranya
adalah:

1. Pemeriksaan fisik

Scabies cenderung didiagnosis secara klinis dengan pemeriksaan visual kulit pasien
secara head to toe. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengamati adanya gejala
dan tampilan khas dari ruam kulit yang biasa ditimbulkan. (Kenny, 2012)

2. Pemeriksaan laboratorium

Diagnosis pasti hanya dapat ditentukan dengan ditemukannya tungau atau telurnya
pada pemeriksaan mikroskopis. Untuk melakukan hal tersebut, terowongan harus
ditemukan, dan hal ini biasanya perlu sedikit keahlian. Beberapa cara yang dapat
dilakukan yaitu:

a. Kerokan kulit

Minyak mineral (kalium hidroksida 10%) diteteskan di atas papul atau terowongan baru
yang masih utuh, kemudian dikerok dengan menggunakan bagian tepi scalpel steril
untuk mengangkat atap papul atau terowongan, lalu diletakkan di atas gelas objek, di
tutup dengan gelas penutup, dan diperiksa di bawah mikroskop. Hasil positif apabila
tampak tungau, telur, larva, nimfa, atau skibala. Pemeriksaan harus dilakukan dengan
hati-hati pada bayi dan anak-anak atau pasien yang tidak kooperatif

b. Teknik winkle picker

Jarum dimasukkan ke dalam terowongan pada bagian yang gelap, lalu ujung jarum
digerakkan dengan hati-hati berputar dalam vesikel tersebut. Tungau akan memegang
ujung jarum dan dapat diangkat keluar.

c. Epidermal shave biopsy

Mencari terowongan atau papul yang dicurigai pada sela jari antara ibu jari dan jari
telunjuk, lalu dengan hati-hati diiris pada puncak lesi dengan scalpel no.16 yang
dilakukan sejajar dengan permukaan kulit. Biopsi dilakukan sangat superficial sehingga
tidak terjadi perdarahan dan tidak memerlukan anestesi. Spesimen kemudian
diletakkan pada gelas objek, lalu ditetesi minyak mineral dan periksa di bawah
mikroskop.

d. Tes tinta Burrow


Papul skabies dilapisi dengan tinta pena, kemudian segera dihapus dengan alkohol.
Jejak terowongan akan tampak sebagai garis yang karakteristik berbelok-belok karena
adanya tinta yang masuk. Tes ini mudah sehingga dapat dikerjakan pada bayi/anak
dan pasien nonkooperatif.

e. Kuretasi terowongan

Kuretasi superficial sepanjang sumbu terowongan atau pada puncak papul, lalu
kerokan diperiksa dibawah mikroskop setelah ditetesi minyak mineral. Cara ini
dilakukan pada bayi, anak-anak dan pasien nonkooperatif.

Diagnosis dapat dipastikan jika kutu dewasa, telur, atau scybala dapat terlihat.
Diagnosis untuk kasus skabies norwegia relatif lebih mudah karena banyaknya jumlah
kutu yang ada, tetapi beberapa kelupasan kulit mungkin perlu diambil untuk
memastikan infestasi skabies pada seseorang pejamu normal karena mungkin hanya
terdapat beberapa kutu. (Kathleen Meehan Arias, 2009)

1. Pentalaksanaan

Terdapat beberapa penatalaksanaan yang tepat untuk menangani scabies, yaitu:

1. Pengobatan topikal

Menurut Kenny (2012), pengobatan secara topical dapat dengan menggunakan krim/
lotion atau pelembab dingin (emolien), terutama jika mereka mengandung mentol.
Hindari menerapkan krim steroid yang kuat, terutama jika diagnosis scabies belum
pasti.

a. Crotamiton cream 10 %

Cream atau lotion crotamiton memiliki kualitas menenangkan dan dapat membantu
untuk meringankan gatal. Bisa digunakan untuk anak anak di bawah usia 2 tahun dan
wanita hamil atau menyusui dengan mengoleskan ke seluruh tubuh dari leher ke bawah
selama 2 malam dan cuci sampai bersih 24 jam setelah pemakaian kedua.. Terapkan
crotamiton 2-3 kali sehari (tapi hanya sekali sehari untuk anak-anak berusia di bawah
tiga tahun).

b. Desoximethason cream

Desoximethason cream mengandung Desoximetasone 0,25%, merupakan suatu


kortikosteroid ringan berfungsi sebagai antifisiogistik dan antipruritik yang
dapatmeringankan peradangan dan membantu untuk meringankan gatal.
Pemakaiannya dianjurkan 2 kali sehari pada seluruh tubuh.

c. Permetrin 5% cream

Permetrin 5% cream adalah permetrin dengan kadar 5% yang aman digunakan karena
toksiknya lebih rendah jika dibandingkan dengan gameksan yang efektifitasnya sama.
Aplikasi hanya sekali dan dianjurkan pemakaian pada malam hari atau diulang selama
seminggu jika masih belum sembuh. Permetrin bekerja dengan cara memperlambat
repolarisasi dinding sel dan akhirnya terjadi paralise parasit. Permetrin 5% cream
merupakan pengobatan yang paling sering digunakan untuk pasien scabies, namun jika
ada alergi permetrin dapat diganti dengan lotion malathion 0.5% aqueous liquid.
Pengobatan ini bisa menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan terutama pada
anak anak dibawah 12 tahun, ibu hamil, dan ibu yang menyusui. Oleh karena itu,
disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat ini.
(Khrisna, 2013)

2. Pengobatan sistemik

a. Antihistamin

Pasien diberikan antihistamin tablet (Interhistin) 3x1 tablet sehari setelah makan,
bertujuan untuk mengurangi rasa gatal yang timbul akibat proses alergi terhadap
skabies dan diminum malam hari bertujuan untuk mengurangi gejala nokturnal pruritus
pada pasien skabies. (Kenny, 2012).

b. Antibiotic

Penggunaan antibiotic pada pasien scabies bertujuan untuk mengatasi terjadinya


infeksi terutama jika telah ditemukan adanya infeksi kulit sekunder. (Kenny, 2012).
Ivermectin adalah antibiotik lakton makrosiklik dari kelompok avermectin yang diisolasi
dari bakteri Streptomyces avermectalis. Obat ini menunjukkan spektrum yang luas
untuk parasit dan telah banyak digunakan untuk pengobatan skabies. Selain khasiatnya
sebagai anti skabies, ivermectin juga dilaporkan efektif untuk mengurangi kejadian
infeksi sekunder karena bakteri Streptococcus pyoderma yang menyertai skabies.
Ruam-ruam merah akan meningkat pada tiga hari pertama pasca pengobatan juga
sering dialami penderita scabies. Ivermectin tidak dianjurkan untuk ibu hamil dan anak
dengan bobot badan < 15 kg.

Penatalaksanaan lainnya pada scabies berdasarkan pada subjek atau penderitanya


adalah:
1. Penatalaksanaan pada pasangan seksual. Semua pasangan
seksual diobati dengan lindane 1%, 1 oz larutan atau krim dioleskan
setiap 8 jam.
2. Penatalaksanaan pada orang terdekat

Semua anggota keluarga harus diobati sebagai tindakan pencegahan selama semalam
dengan gama benzen heksaklorida atau permetrin, meskipun tidak ada bukti lesi
skabies dan pruritus. (Price&Wilson, 2005)

3. Penatalaksanaan pada bayi

Karena terowongan tungau bisa terjadi pada kepala dan leher, maka mungkin perlu
dilakukan perluasan pengolesan obat-obatan topikal ke tempat-tempat ini. Penggunaan
malation tidak dianjurkan untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan, sedangkan permetrin
tidak dianjurkan untuk bayi berusia kurang dari 2 bulan. (Brown&Burns, 2005). Karena
sudah tersedia obat-obat yang tidak bersifat iritan, penggunaan benzil benzoat tidak
direkomendasikan pada bayi, tetapi bila tetap hendak digunakan maka harus
diencerkan untuk mengurangi sifat iritasinya. (Brown&Burns, 2005)

4. Penatalaksanaan pada wanita hamil

Telah disepakati tentang adanya efek toksik yang potensial dari skabisida pada janin
bila digunakan pada wanita hamil. Akan tetapi tidak didapatkan adanya bukti yang
nyata bahwa skabisida topikal yang digunakan akhir-akhir ini bisa menimbulkan efek
yang berbahaya pada wanita hamil bila penggunaannya sesuai dengan aturan. Karena
itu, dengan tidak pernah ditemukan keracunan pada bayi, maka penggunaan malation
atau permetrin dianggap aman. (Brown&Burns, 2005)

Setelah pengobatan biasanya rasa gatal akan masih ada selama 1-2 minggu, walaupun
semua kuman sudah terbunuh. Rasa gatal ini bukan berarti pengobatan gagal akan
tetapi pelan-pelan akan terjadi perbaikan dalam waktu 2-3 minggu, saat epidermis
superfisial yang mengandung tungau alergenik terkelupas (Khrisna, 2013).

Merupakan suatu hal yang paling penting untuk menerangkan kepada pasien dengan
sejelas-jelasnya tentang bagaimana cara memakai obat-obatan yang digunakan, dan
lebih baik lagi bila disertai penjelasan tertulis. Obat-obat topikal harus dioleskan mulai
daerah leher sampai jari kaki, dan pasien diingatkan untuk tidak membasuh tangannya
sesudah melakukan pengobatan. Pada bayi, orang-orang lanjut usia, dan orang-orang
dengan imunokompromasi, terowongan tungau dapat terjadi pada kepala dan leher
sehingga pemakaian obat perlu diperluas pada daerah itu. (Brown&Burns, 2005)

1. Cara Pencegahan
Upaya terpenting yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya epidemi kasus
skabies dalam lingkungan pelayanan kesehatan adalah dengan pengenalan dan
pengobatan segera penderita yang terkena kasus skabies. (Arias, 2009)

Mencuci sprei, selimut, handuk, dan baju yang dipakai penderita dengan air panas
(setidaknya temperatur air harus mencapai 60 derajat untuk bisa membunuh kuman
ini). Cara lain adalah dengan memasukkan ke mesin pengering baju selama 10 menit
atau menyeterikanya juga bisa membunuh kuman kuman skabies. (Khrisna, 2013)

Membersihkan barang-barang lain seperti sofa, kursi, kereta bayi/pram dengan spray
anti insect atau membersihkan dengan air panas bersabun. Sebaiknya anak-anak yang
menderita skabies tidak dikirim ke sekolah, mereka bisa pergi ke sekolah lagi setelah
pengobatan dilakukan. (Khrisna, 2013)

1. Komplikasi

1. Infeksi sekunder bakteri streptokokus beta-hemolitikus. (Joyce L. Kee,


1996)

Hal ini dikarenakan klien sering menggaruk kulit yang gatal yang dapat merusak
permukaan kulit sehingga lebih rentan terhadap infeksi bakteri kulit, seperti impetigo
yang memperlihatkan kondisi kulit kemerahan, meradang, dan panas. Menurut NHS
(2012), infeksi pada scabies sering memperburuk beberapa kondisi kulit yang sudah
ada sebelumnya, seperti eczema atau dermatitis atopik. Eczema ini adalah kelainan
kulit kronis yang sangat gatal, menyebabkan kulit kering, serta terdapat inflamasi dan
eksudasi. Namun hal ini tidak akan berpengaruh pada kondisi kulit lainnya setelah
infeksi kudis telah berhasil diobati. Antibiotik dapat disarankan untuk mengendalikan
infeksi sekunder.

2. Crusted scabies

Crusted scabies adalah bentuk terparah kudis karena didapatkan ribuan atau bahkan
jutaan tungau scabies didalam kulit. Ruam pada Crusted scabies tidak gatal namun
dapat mempengaruhi semua bagian tubuh, termasuk kepala, leher, kuku dan kulit
kepala. Crusted scabies sering terjadi dan resiko lebih tinggi pada seseorang yang
memiliki sistem kekebalan yang lemah karena risiko penularannya sangat tinggi. Kontak
fisik minimal dengan seseorang dengan Crusted scabies, atau dengan linen tempat
tidur atau pakaian yang terkontaminasi bisa langsung menularkan. Crusted scabies
dapat diobati dengan menggunakan krim insektisida atau obat oral ivermectin.
Gambar 12. Crusted scabies

1. Prognosis

Wabah skabies sangat mengganggu jika kasus itu terjadi dalam fasilitas pelayanan
kesehatan. Kasus itu sering mengakibatkan pemberitaan yang buruk dan menjadi
bahan berita di media massa, penggunaan obat-obatan profilaktik secara berlebihan
dan munculnya rasa takut dan stres yang cukup berat pada petugas akibat stigma yang
melekat sebagai pembawa penyakit dan kenyataan bahwa anggota keluarga mereka
beserta kenalan yang lain juga sering ikut terinfeksi. Begitu wabah skabies dipastikan
(ketika skabies telah didiagnosis melalui pengerokan kulit) suatu rencana pengendalian
infeksi yang terkoordinasi dan cermat harus dijalankan. Rencana itu hendaknya berupa
upaya multidisiplin yang melibatkan mereka yang bertanggungjawab terhadap
pengendalian infeksi dan kesehatan petugas dalam fasilitas pelayanan kesehatan.
Informasi mengenai tingkat keparahan wabah. Upaya pengendalian yang dilaksanakan
harus dikomunikasikan secara konsisten dan sering kepada semua petugas untuk
menghindari kepanikan dan kesalahpahaman, terutama jika wabah bersifat luas dan
berkepanjangan. Sebaiknya diangkat seorang juru bicara untuk fasilitas pelayanan
kesehatan tersebut agar informasi yang bertentangan tidak disebarluaskan pada
petugas maupun masyarakat. (Arias, Kathleen Meehan 2009)