Anda di halaman 1dari 22

Nama : Eka Amelia Putri

Kelas : Pendidikan Fisika A 2016

Bacalah dengan cermat cerita berikut!

Pak Ahmad merupakan seorang guru di SMP Negeri di Jakarta. Ia mengajar mata pelajaran Fisika, mata
pelajaran yang dibenci siswa setelah matematika. Pak Ahmad termasuk guru yang disenangi oleh murid-
muridnya meskipun beliau mengajarkan materi yang sulit tetapi pembawaan dan cara mengajarnya
membuat siswa merasa nyaman. Pak Ahmad dijuluki sebagai guru yang tidak pernah habis akal dalam
merancang sebuah proses pembelajaran yang menarik bagi siswa. Sebagai contoh, seperti kisah pak
Ahmad pagi ini.

Setiap ingin memulai pembelajaran pak Ahmad selalu meminta murid-muridnya untuk berdoa terlebih
dahulu. Kemudian setelah berdoa, ia tidak lupa menanyakan kabar peserta didiknya dan mengabsen
mereka. Pak Ahmad tidak langsung memulai pembelajaran dengan membuka buku fisika, melainkan
bercerita tentang kisah-kisah kesehariannya kepada para siswa. Di akhir cerita, beliau selalu
menyempatkan untuk mesisipkan pesan moral kepada siswanya agar terbentuk karakter yang luhur
sedikit demi sedikit.

Setelah bercerita, pak Ahmad masih tidak membuka buku fisikanya. Ia mengajak murid-muridnya
bermain games sederhana, tidak lama, mungkin hanya sekitar lima menit. Tujuannya agar murid-murid
yang akan diajarkannya merasa nyaman terlebih dahulu. Setelah bermain, barulah pak Ahmad mulai
memasuki proses pembelajaran.

Pak Ahmad selalu menanyakan terlebih dahulu tentang materi yang diberikan sebelumnya, mengulang
dan mengukur seberapa jauh penguasaan materi sebelumnya oleh murid-muridnya. Setelah itu beliau
tidak lupa mengeluarkan sebuah pertanyaan andalannya, tentang hubungan materi yang sebelumnya
dipelajari dengan materi yang akan dipelajari hari ini.

Pak Ahmad tentunya mengapresiasi siswa yang aktif dalam pembelajaran dengan memberikan poin
tambahan. Setelah proses itu selesai, pak Ahmad biasanya membagi murid-muridnya dalam beberapa
kelompok besar, berisi lima atau enam siswa. Kemudian dari setiap siswa diberi nomor 1-6, lalu pak
Ahmad memerintahkan siswanya berkumpul membentuk kelompok lagi dengan nomor yang sama.
Setelah itu, barulah pak Ahmad memberikan setiap kelompok satu soal untuk mereka temukan sendiri
jawabannya. Pak Ahmad membebaskan siswanya untuk mengakses sumber belajar darimanapun, bisa
dari buku, internet, atau pengamatan langsung. Ia tidak pernah membatasi daya kreasi muridnya dalam
menemukan solusi pertanyaan yang diberikannya.
Waktu berdiskusi biasanya relatif lama, sambil mengamati murid-muridnya berdiskusi, biasanya pak
Ahmad juga menilai keaktifan murid-muridnya, selain itu ia juga menilai sikap murid-muridnya selama
proses pembelajaran.

Setelah waktu diskusi habis, setiap murid diminta kembali ke kelompok asalnya dan memberitahukan
jawabannya kepada teman-teman kelompoknya. Biasanya hasil dari diskusi kelompok berupa tugas
tertulis di kertas, dan akan dipaparkan masing-masing kelompok di depan kelas.

Selama pemaparan kelompok berlangsung, pak Ahmad menilai serta memperhatikan sejauh mana
muridnya memahami materi yang dipelajari hari ini. Setelah semua kelompok telah rapih memaparkan,
barulah pak Ahmad menambahkan dan meluruskan persepsi yang kurang benar terkait materi yang
diberikan. Setelah itu siswa dipersilahkan untuk sesi tanya jawab.

Setelah itu, pak Ahmad akan bertanya hubungan materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari,
dibuka kembalilah diskusi di dalam kelas tersebut. Siswa bebas menyampaikan pendapatnya,
menyanggah atau menguatkan pendapat temannya.

Di akhir pembelajaran, biasanya pak Ahmad akan menugaskan para siswanya untuk membentuk
kelompok dan diberikan tugas untuk membuat alat peraga sederhana dari materi yang dipelajari (jika
bisa dibuat alat peraganya) untuk dipraktekan di pertemuan selanjutnya.

Untuk menutup pembelajaran, pak ahmad meminta beberapa siswanya untuk dapat menyampaikan
kesimpulan dari materi yang dipelajari hari ini. Kemdian tidak lupa ia memberikan PR berupa beberapa
soal untuk dikerjakan, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama.

Jelaskan perbedaan pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran dari
contoh diatas! Dan sebutkan pendekatan, strategi dan metode apa yang dipakai oleh pak Ahmad?

Jawab :

Pendekatan pembelajaran adalah pandangan umum kita tentang cara, strategi, metode yang akan
digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Pendekatan yang dipilih menentukan langkah
selanjutnya yang akan diambil dalam sebuah proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran merujuk
pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Pada contoh diatas,
pendekatan yang dipakai pak Ahmad adalah pendekatan inquary yaitu pendekatan pembelajaran yang
lebih menekankan kepada pembelajaran aktif bagi siswa. Langkah-langkahnya ada : stimulasi, problem
statement, data collection, data proccesing, verification, dan generalization.

Sementara strategi pembelajaran adalah konsep-konsep (rancangan) atau susunan rencana


pembelajaran yang akan dilakukan. Strategi pembelajaran bersifat konseptual memuat tentang rencana-
rencana yang lebih mendetail dibanding pendekatan pembelajaraan. Strategi yang dipakai pak Ahmad
pun termasuk strategi Ekspositori-inkuary, yaitu strategi yang ingin melibatkan siswa aktif dalam proses
pembelajaran namun juga ingin menekankan bahwa penyampaian informasi kepada siswa berjalan
dengan baik. Dibuktikan dengan metode yang dipilih pak Ahmad dalam pembelajaran lebih banyak
menekankan keaktifan siswa mencari informasi namun tidak pula melepaskan peran guru sebagai
pelurus informasi yang didapatkan.

Sementara metode pembelajaran adalah cara yang dipilih untuk melaksanakan strategi yang telah
ditentukan. Metode yang dipakai pak Ahmad pada contoh diatas adalah metode diskusi kelompok,
tanya jawab, dan metode jigsaw, dan demonstrasi

Analisalah kelebihan dan kekurangan dari macam-macam pendekatan pembelajaran yang andaketahui
(minimal 2 pendekatan)!

Jawab :

Pendekatan Ekspositori : contoh pendekatan pembelajaran yang mengutamakan tersampaikannya


informasi dari warga belajar ke peserta pembelajaran.

Analisa kelebihan :

sumber belajar dapat menyampaikan bahan belajar sampai tuntas sesuai dengan
rencana

bahan belajar yang diperoleh warga belajarnya sifatnya seragam yaitu diperoleh dari
satu sumber

dapat diikuti oleh warga belajar dalam jumlah relatif banyak.

Analisa kekurangan :

terjadi pendominasian kegiatan oleh sumber belajar yang mengakibatkan kreatifitas


warga belajar terhambat

sulit mengetahui taraf pemahaman warga belajar tentang materi yang sudah diberikan,
karena dalam hal ini tidak ada kegiatan umpan balik.

Pendekatan Belajar kelompok : Pendekatan kelompok adalah sebuah pendekatan yang didasarkan pada
pandangan, bahwa pada setiap peserta didik terdapat perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan
antara satu dan lainnya. Perbedaan antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya, bukanlah untuk
dipisahkan, melainkan harus diintegrasikan

Analisa kelebihan :

Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat tumbuh dan berkembang rasa sosial yang tinggi pada
diri setiap peserta didik. Peserta didik yang dibiasakan hidup bersama dan bekerja sama dalam
kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan.

Analisa kekurangan :

Untuk melakukan pendekatan kelompok, banyak hal yang harus diperhatikan, semisal sarana dan
prasarana, situasi dan kondisi siswa, dan banyak lagi. Semua itu tidak boleh diabaikan, agar tujuan yang
ingin dicapai terwujud.

Nama : Ivanzieo Viooli Sulthon


NRM : 3215160800
Jurusan : Pendidikan Fisika A 2016

KASUS PEMBELAJARAN FISIKA


Pelajaran fisika adalah pelajaran yang banyak tidak disukai oleh siswa. Sebenarnya
plajaran fisika bisa di buat menjadi pelajaran yang menarik, karena plajaran ini mempelajari
mengenai fakta yang ada di lingkungan sekitar rumah tinggal siswa. Materi alat ukur listrik
merupakan materi yang pengaplikasianya ada di lingkungan siswa. Karena itulah guru
menjelaskan materi ini secara detail di depan kelas.
Namun, setelah diadakan ujian mengenai materi ini ternyata banyak siswa yang tidak
lulus. Adapun tingkat persentase kelulusan hanya 60% dengan nilai rata-rata siswa 65,66.
Stelah di analisis banyak siswa yang salah menjawab mengenai cara pemasangan alat listrik.
Stelah ditelusuri teryata guru hanya mejelaskan materi saja, tidak pernah dilakukan
praktikum sehingga siswa tidak paham akan materi tersebut. Materi pelajaran alat ukur listrik
merupakan materi yang bersifat prinsip. Bagaimanakah tindakan yang harus dilakukan guru
mata pelajaran tersebut?
Pembahasan:
Prosedur pelaksanaan pengajaran remedial
Penelaahan kembali kasus dengan permasalahanya
Dilihat dari kasus pembelajaran yang di alami siswa saat ujian mata pelajaran fisika,
setelah dilakukan identifikasi kasus dapat diketahui bahwa terdapat 40% siswa atau
sebanyak 6 siswa dari 15 siswa yang mengikuti ujian tidak tuntas dalam ujian fisika tersebut.
Anak tersebut tidak tuntas karena mendapatkan nilai ujian mata pelajaran fisika dibawah
KKM yaitu dibawah nilai 65. Letak kesalahan yang dialami oleh para siswa hampir sama,
yaitu mereka rata-rata salah menjawab pada soal-soal yang memerlukan pemahaman dan
prisip, misalnya yaitu pemasangan voltmeter dalam rangkaian listrik. Setelah di telusuri lebih
lanjut ternyata terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesalahan menjawab soal
tersebut. Dari faktor internal siswa yang salah menjawab tersebut karena memang mereka
belum memehami materi tersebut dan belum belajar dengan maksimal sebelum ujian
dilakukan, sedangkan dari faktor eksternal yaitu karena ujian tesebut dilakukan dengan waktu
yang singkat sedangkan soal-soal yang disajikan perlu dilakukan pemahaman sebelum
menjawabnya. Selain itu materi yang disajikan guru tidak menarik, guru hanya menjelaskan
saja tanpa pernah dilakukan praktikum ataupun demonstrasi, sedangkan materi yang
diajarkan memerlukan pemahaman yang mendasar mengenai prinsip-prinsip pemasangan alat
ukur listrik. Dari beberapa hal di atas maka 6 siswa yang belum tuntas harus mengikuti
pembelajaran remedial untuk mencapai KKM dan dapat melanjutkan ke materi berikutnya.
Pemilihan alternatif tindakan
Berdasarkan langkah pertama , kasus pembelajaran yang di alami siswa memiliki
kesulitan dalam menemukan dan mengembangkan pola strategi/ metode/ teknik belajar yang
efektif dan efisien. Alternatif tindakan yang dapat dilakukan oleh guru bidang study fisika
tersebut yaitu pertama menginformasikan kepada keenam siswa yang belum tuntas untuk
mengikuti pembelajaran remedial dan guru juga mengulas kembali materi pembelajaran yang
telah di ujikan sebelumnya. Dalam analisis kasus diketahui faktor yang mempengaruhi
ketidaktuntasan siswa yaitu waktu yang tidak sesuai dengan soal yang disajikan saat ujian,
untuk itu pada tahap ini guru harus membuat soal kembali sesuai dengan materi yang belum
di capai siswa dan kemudian menganalisis tingkat kesulitan soal dengan alokasi waktu yang
diperlukan untuk menyelesaikanya. Selain itu guru seharusnya mengubah metode
pembelajaran yang digunakan, tidak hanya dengan ceramah saja, namun harus dilakukan juga
praktikum agar siswa lebih memahami materi yang disampaikan. Jadi penyelesaian kasus
tersebut adalah perbaikan terhadap teknik, metode dan model pembelajaran yang dilakukan
oleh guru tersebut. Setelah hal tersebut disiapkan maka siswa yang belum tuntas tersebut
diharuskan mengikuti pembelajaran remedial dan mendapat nilai di atas KKM.
Pelaksanaan layanan pengajaran remedial
Pelaksanaan remedial ini bertujuan agar keenam siswa yang belum tuntas dapat
mencapai prestasi belajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan dari materi pembelajaranya
dan agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan teman-teman mereka sesuai dengan kriteria
yang telah di tetapkan. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila guru dapat mengunakan metode
dan model pembelajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya. Dalam kenyataannya metode
dan teknik yang digunakan guru belum sesuai dengan keadaan siswa, hal ini ditandai dengan
terdapatnya 6 siswa yang belum mencapai KKM setelah ujian dilakukan. Dari analisis
terlihat bahwa penyajian materi yang kuramg menarik berakibat siswa kurang tertarik untuk
mempelajari materi secara mendalam dan kurangnya analisis guru terhadap waktu
penyelesaian di banding dengan jumlah soal dan tingkat kesulitan soal membuat siswa tidak
dapat mengerjakan soal secara maksimal. Sehararusnya dalam penyampaian materi guru
harus membuat metode penyampaian semenarik mungkin sehingga siswanya dapat tertarik
untuk mempelajari materi tersebut. Selain itu untuk materi pembelajaran fisika yang
merupakan penerapan seperti pada kasus ini, sebaiknya guru mengunakan metode praktikum,
karena dengan metode praktikum siswa akan terlibat langsung dalam materi dan
pengaplikasianya, merka tidak hanya berandai-andai saja sehingga pemahaman materi yang
disampaikan akan lebih banyak diserap oleh siswa-siswanya.
Mengadakan pengukuran kembali hasil belajar
Setelah melaksanakan pembelajaran remedial, pada tahap ini guru memberikan
pengukuran kembali (tes) kepada siswa yang belum tuntas untuk mengetahui tingkat prestasi
siswa tersebut setelah mengikuti pembelajaran remedial. Untuk mengukur prestasi belajar
siswa yang belum tuntas, guru dapat melakukan ujian ulang pada keenam siswa yang belum
tuntas tersebut. Pengukuran ini dapat dilakukan setelah meteri yang telah diberikan kepada
siswa dirasa cukup dan siswa dapat memahami materi tersebut. Pengukuran dilakukan
dengan menggunakan materi yang sama dan soal yang hampir sama dengan ujian yang telah
dilakukan sebelumya. Pelaksanaan tes ulang dilakukan untuk memberikan informasi tentang
sejauh mana tingkat perubahan siswa terjadi setelah melakukan pembelajaran remedial.
Mengadakan Re-evaluasi dan Re-diagnosis
Dari langkah-langkah pempembelajaran remedial yang telah dilakukan oleh guru, dapat
diketahui bahwa dari pembelajaran remedial yang telah dilakukan keenam siswa yang
sebelumnya belum tuntas menunjukkan peningkatan prestasi dan mereka mendapat nilai di
atas kriteria keberhasilan minimum (KKM) yang ditetapkan. Hal ini, terlihat dari tingkat
kesulitan yang dialami siswa tersebut dapat diatasi dengan pembelajaran remedial dengan
metode dan model pemdelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswanya. Sehingga
rekomendasi yang seharusnya dikemukakan guru sebaga tindak lanjut dari pembelajaran
remedial kepada keenam siswa ini adalah mereka dinyatakan terminal atau selesai dan
diperbolehkan untuk melanjutkan program proses belajar mengajar utama tahap berikutnya.

Metode pembelajaran di Indonesia, lebih mengedepankan sisi teoritis (text book)dibandingkan


sisi aplikatif. Alhasil, para siswa lebih sering menghafal materi, tanpa berusaha diajarkan dengan
kondisi riil yang ada di lapangan. Menurut saudara, bagaimanakah metode pembelajaran yang
yang seharusnya sehingga mampu memberikan pemahaman yang komprehensif kepada
siswanya?
Pembahasan:
Permasalahan teori belajar text book sebenarnya sudah menjadi kebiasaan umum masyarakat
Indonesia. Peserta didik dibiasakan untuk terus menghafal sudah menjadi strategi pengajaran
yang dilakukan oleh tenaga pengajar. Alasan keabsahan dan ketepatan jawaban selalu
menjadi senjata utama staf pengajar apabila dipertanyakan permasalahan ini oleh peserta
didik itu sendiri. Sistem peninggalan pendidikan pondok pesantren berpuluh-puluh tahun ini
dirasa sudah cukup kuno dan tidak sesuai dengan kebutuhan pendidikan Indonesia
(http://aktivasiotakkanan.net/dahsyatnya-sistem-pendidikan-di-pesantren/) .Ketika sistem ini
terus diterapkan,akan menyebabkan pendeknya rentang waktu pemahaman peserta didik akan
suatu materi, peserta didik hanya menghafal tanpa adanya catatan cenderung hanya
mengingat 30 detik- 1 jam saja. Sudah pasti akan menimbulkan opini bahwa anak tersebut
terlihat bodoh dan tidak mengerti apa apa.
7 metode belajar efektif :
Menandai bagian penting : Teknik menandai bagian paling penting dari apa yang sudah kita
baca ini adalah salah satu tips belajar paling sederhana dan banyak dipakai. Baca teks dengan
komprehensif terlebih dahulu, kemudian tandai kata-kata kunci atau kalimat utama. Dengan
begitu, kita bisa mengolah informasi tersebut dengan kata-kata sendiri saat dibutuhkan.
Buatlah catatan :Pada dasarnya tujuan mencatat adalah untuk meringkas bahan kuliah atau
artikel dalam kata-kata sendiri, sehingga dapat dengan mudah mengingat hasil pemikiran yang
ditulis. Kuncinya adalah meringkas konten secepat mungkin sementara tidak meninggalkan
informasi yang penting. Kita bisa membuat catatan di secarik kertas, di bagian belakang buku
teks atau menggunakan smartphone.
Pemetaan pikiran : Keuntungan dari pemetaan pikiran atau mind map adalah kita dapat
menghemat banyak waktu belajar dan lebih memperkuat pengetahuan untuk ujian. Peta pikiran
adalah alat yang sangat serbaguna. Ia dapat digunakan untuk berdebat, menguraikan esai atau
topik penelitian dan untuk persiapan ujian umum. Bila sudah terbiasa, kemampuan kita dalam
membuat peta pikiran akan semakin cepat dan mudah, sehingga metode ini akan menjadi alat
yang ideal untuk menghadapi ujian.
Studi Kasus :Studi kasus dapat membantu kita memvisualisasikan teori dan menempatkannya
dalam konteks yang lebih familiar dan realistis. Studi kasus biasa digunakan untuk memahami
implikasi dari beberapa teori. Hal ini sangat berguna dalam mata pelajaran bisnis atau hukum.
Dengan cara ini kita dapat lebih memahami penerapan teori dan apakah teori itu benar-benar
menyatakan tesis.
Brainstorming : Ini adalah teknik belajar lain yang ideal untuk dilakukan bersama teman-teman
atau teman sekelas.Brainstorming adalah cara yang bagus untuk memperluas setiap ide yang
mungkin keluar dari topik apa pun. Tidak ada jawaban yang salah saat melakukan
brainstorming, yang dilakukan hanya berargumen dan menangkap ide-ide, sehingga kita dapat
meninjau jawaban-jawaban itu sesudahnya.
Mengatur waktu belajar :Proses belajar akan lebih tertata dengan jadwal belajar. Jadwal studi
memberikan kita gambaran waktu dan tujuan yang harus dicapai. Banyak aplikasionlinegratis
yang berguna untuk mengatur jadwal belajar menjadi jauh lebih mudah.
Menggambar :Banyak orang merasa lebih mudah untuk mengingat gambar daripada teks. Itulah
sebabnya mereka lebih mampu menghafal konsep jika diilustrasikan dengan foto atau gambar.
Hari kamis, saat mata pelajaran IPS pak Naldi akan memberikan materi pada anak- anak
tentang silsilah keluarga. Waktu pelajaran adalah 2 x 45 menit. Setelah mengutarakan tujuan
yang akan dibahas hari ini, pak Naldi mengajukan pertanyaan pada para siswa untuk
mengawali pelajaran.
“ Anak- anak tentunya kalian mempunyai keluaga di rumahkan,,?”
“ iya pak, punya.” Jawab semua siswa srentak.
“ Coba kalian sebutkan siapa saja yang dirumah kalian yang masuk dalam anggota keluarga!”
“ Ada ayah, ibu, adik, kakak, kakek, nenek” Jawab para siswa bersahut- sahutan.
Kemudian pak Naldi menempelkan bagan dan foto silsilah keluarga. Anak- anak mengamati sambil
menyimak penjelasam dari pak Naldi. Sesekali pak Naldi melemparkan pertanyaan kepada siswa dan
pertanyaan dijawab dengan benar. Pak Naldi mengakhiri penjelasan dengan memberikan
pertanyaan pada siswa “ apakah kalian sudah mengerti semua tentang silsilah keluarga yang sudah
bapak jelaskan,,?” Tanya pak Naldi.
“ Sudah pak”, jawab anak- anak serentak.
“ kalau masih ada yang kurang jelas atau bingung, anak- anak boleh bertanya ”
“ tiadak ada pak”, jawab anak- anak lagi secara serentak.
Pak Naldi memberikan tugas kepada siswa agar dikerjakan sendiri- sendiri. Pak Naldi yakin, pasti nilai
anak- anak memuaskan karena anak- anak berhasil menjawab pertanyaan yang tadi di lemparkan.
Tugas yang diberikan juga sama dengan tugas yang di jelaskan pak Naldi, hanya saja diganti nama-
nama pada bagan silsilah keluarga.
Setelah semuanya selesai, pekerjaaan di kumpulkan dan setelah di koreksi ternyata hasilnya
mengecewakan, hampir 60% siswa mendapatkan nilai hasil evaluasinya di bawah rata- rata.
Rumusan Masalah
Apakah model pembelajaran yang digunakan pak Naldi sudah tepat?
Apakah kelemahan dan kelebihan model pembelajaran yang digunakan oleh pak Naldi?
Apakah pak Naldi sudah mengadakan pendekatan secara individu terutama pada anak- anak yang belum
jelas?
Bagaimana langkah- langkah pembelajaran yang sesuai pada kasus pak Naldi?
Supaya pembelajaran pak Naldi tuntas, metode apakah yang tepat digunakan?
Pembahasan:
Langkah- langkah pembelajaran yang tepat untuk pak Naldi adalah sebagai berikut :
Kegiatan Pendahuluan
Guru mengucapkan salam
Berdoa dipimpin oleh ketua kelas
Guru mengabsen siswa
Apersepsi : Guru menujukkan bagan dan foto silsilah keluarga.
Penggunaan Media
Guru menggunakan media berupa gambar bagan silsilah keluarga beserta foto.
Guru sudah menyediakan media dengan baik hanya penggunaannya kurang maksimal,
seharusnya penjelasan tidak hanya satu kali.
Pelaksanaan Kegiatan Inti
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
Siswa mengamati gambar yang telah dipasang oleh guru
Siswa menyimak penjelasan dari guru.
Siswa menjawab pertanyaan dari guru
Guru membagikan LKS
Siswa mengerjakan tugas individu dari guru
Kegiatan Penutup
Siswa mengumpulkan hasil kerja LKS
Siswa menyimpulkan materi dengan bimbingan guru
Guru memotovasi siswa
Guru mengucapkan salam penutup.
Sistematis Pemecahan Masalah
Strategi oembelajaran yang digunakan masih bersifat konvensional
Supaya pembelajaran tuntas metode yang digunakan sebaiknya :
- Bermain berpasangan
- Ceramah
- Penugasan
Alat peraga yang sebaiknya digunakan adalah bagan silsilah keluarga dan foto yang disertai
dengan keterangannya agar siswa lebih paham.
Hasil akhir yang diperoleh kurang memuaskan karena sebagian siswa kurang memperhatikan
penjelasan guru.
Sebaiknya guru berkeliling mengawasi pekerjaan siswa.

Analisis
Guru
Klebihan dan kelemahan pembelajaran pak Naldi :
Kelemahan
Pemakaina metode pembelajaran terkesan masih bersifat Konvesional (ceramah dan penugasan )
Alat peraga kurang lengkap sehingga membingngungkan siswa
Penyampaian materi kurang jelas
Guru kurang mengkondisikan siswa
Kelebihan
Sudah ada Apersepsi
Guru sudah menyampaikan tujuan pembelajaran
Guru sudah mengkoreksi tugas siswa
Guru sudah membentuk alat peraga meskipun kurang jelas
Siswa
Siswa kurang memperhatikan penjelasan guru karena bosan dengan kegiatan yang monoton
( tidak ada varisi )
Daya tangkap siswa kurang
Alat peraga yang digunakan kurang lengkap sehingga membingungkan siswa
Solusi Akhir
Strategi yang digunakan pak Naldi saat pembelajaran masih konvensional yaitu terlalu banyak
ceramah. Anak- anak seusia kelas II masih banyak memerlukan contoh pembelajaran. Sebelum
ada pelajaran IPS, sebaiknya guru menyuruh siswa untuk balajar dirumah terlebih dahulu
sehingga siswa mempunyai sedikit gambaran tentang materi yang akan dipelajari. Anak- anak
bisa belajar dirumah bersama dengan orang tua tentag silsilah keluarga mereka masing-masing.
Di akhir pelajaran guru dapat memberi tugas rumah berupa pembuatan silsilah keluarga yang
urutanya sudah dipersiapkan oleh guru sebagai evaluasi.

Nama : Lasni Karina

NRM : 3215160218

Pendidikan Fisika A’16

SOAL-SOAL TEORI PEMBELAJARAN

Tuliskan kekuatan dan kelemahan learning by teaching ?

Jawaban:

Kekuatan

memberikan kebebasab belajar siswa

menjadikan siswa lebih aktif,berani mengungkapkan pendapat atau ide yang dapat di
pertangungjawabkan

pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan tinggi

membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan dan menjadikan kegiatan belajar mengajar
mengasikan dan bermakna
Kelemahan

menutut sarana yang relatif mahal

memerlukan waktu yang cukup lama

Apa perbedan sumber belajar dan bahan ajar ?

Jawab :

Dalam kegiatan penyusunan perangkat pembelajaran Sering dijumpai istilah bahan ajar
ataupun sumber belajar, sepintas kedua istilah tersebut sering di anggap memiliki
pengertian yang sama. Terdapat dua istilah yang sering digunakan untuk maksud yang
sama namun sebenarnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda,. Untuk itu, maka
berikut ini akan dijelaskan terlebih dahulu tentang pengertian sumber belajar dan bahan
ajar. Istilah sumber belajar (learning resource), umumnya yang diketahui hanya
perpustakaan dan buku sebagai sumber belajar. Padahal secara tidak terasa apa yang
mereka gunakan, dan benda tertentu adalah termasuk sumber belajar. Sumber belajar
ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media,
yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum.
Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak
atau kombkombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun
guru. Sumber belajar memiliki beberapa jenis yaitu lingkungan atau tempat, benda,
orang, bahan, dan buku. Dari uraian tentang pengertian sumber belajar di atas, dapat
disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar adalah
segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa Bahan
tertulis maupun bahan tidak tertulis.Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas dua
kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan. Dalam pengerian lain bahan
ajar merupakan seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang
disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai
siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat
mempelajari suatu kompetensi atau KD secara runtut dan sistematis sehingga secara
akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu. Beberapa
macam Bahan ajar yaitu :

1. Media tulis,

2. Audio visual, elektronik, dan


3. Interaktif terintegrasi yang kemudian disebut sebagai medienverbund (bahasa jerman
yang berarti media terintegrasi) atau mediamix.

Nama : Rima Oktapiani


NRM : 3215160707

Jenis soal no 4 – 5 : Teori Pembelajaran


Pelajari kasus berikut ini!
Aprilia Dwi Lestari merupakan salah satu siswa yang baru saja beranjak dari SMP
menuju SMA. Ia masuk ke sekolah ternama di Tuban, yaitu SMA N 1 TUBAN. Padahal ia
berasal dari keluarga yang tergolong menengah ke bawah. Awalnya orang tua April tidak
memperbolehkannya masuk ke sekolah tersebut karena takut tidak mampu untuk membayar
hingga lulus nanti. Namun, April terus memaksa sehingga orang tuanya mengizinkan.
Setelah beberapa lama berada disekolah itu, ia merasa mendapat deskriminasi dari teman-
temannya. Ia diejek karena berasal dari keluarga yang tidak mampu. Bahkan, teman-temannya
senang sekali menjahili April. Sedikit demi sedikit, April mulai merasa dikucilkan. Awalnya,
ia tidak terpengaruh dan tetap berprilaku biasa. Namun, lama-kelamaan ia mulai merasa muak
dengan keadaan yang ada. Perilaku teman-temannya mulai membuat April tidak fokus, dan
prestasi belajarnya mulai menurun. Ini membuat April selalu stress dan merubah dirinya
menjadi siswa yang amat nakal. Di kelas April selalu duduk paling belakang, suka membuat
gaduh, tidak memperhatikan materi yang disampaikan guru, bermain-main HP, dan terkadang
sampai tertidur. Di rumah pun ia berperilaku yang sama. Dia tidak menghiraukan nasehat
orang tuannya yang menyuruhnya belajar. Dia suka keluyuran tidak jelas. April menjadi malas
belajar, tidak pernah mengerjakan tugas. Suatu saat guru memberikan ulangan mendadak, ia
mengerjakan sebisanya dan akhirnya mendapat nilai yang paling bawah. Saat guru tersebut
bertanya mengenai materi minggu lalu, ia tidak pernah bisa menjawab. Mengetahui hal itu,
April tetap tenang dan sama sekali tidak merubah kebiasaannya. Kurangnya ketegasan,
bimbingan, motivasi, dan perhatian seorang guru dan orang tua dalam menyikapi anak
didiknya yang bermasalah bisa menjadikan siswa menjadi nakal dan kurang bisa menghargai
guru saat KBM berlangsung.

Dari kasus diatas, jawablah pertanyaan berikut:


Dengan teori pembelajaran apakah yang dapat memecahkan kasus April?
Jika Anda menjadi guru di kelas tersebut, apa yang akan Anda lakukan untuk menyelesaikan
kasus yang terjadi oleh April?

Penyelesaian:
Menurut saya pemecahan studi kasus yang dialami siswa yang bernama Aprilia Dwi Lestari ini
cocok menggunakan Teori Behavioristik, yaitu sebuah teori yang segala sesuatunya dibiasakan
sehingga menjadi suatu kebiasaan.
Jika saya menjadi guru April, maka saya akan mendekati dia (memberikan perhatian khusus),
tetapi hal itu tidak diperlihatkan kepada siswa yang lain. Menegur siswa-siswa yang suka
mengejek, dan suka mengucilkan. Memberikan bimbingan melalui diskusi-diskusi kecil di dalam
kelas (diskuzi zigsaw), mencoba untuk mengungkapkan pendapat satu sama lain, menukar
informasi dengan anggota kelompoknya. Selain itu, diawal dan akhir pertemuan selalu diadakan
pengulangan materi yang berupa pertanyaan-pertanyaan atau kuis kepada masing-masing siswa,
sehingga materi yang disampaikan pada saat itu maupun minggu lalu benar-benar bisa diterima
dan tidak hanya pada shot term memory, tetapi juga sampai pada long term memory. Jika siswa
tidak bisa menjawab, maka akan ada hukuman berupa berdiri di depan kelas, menyanyi, bahkan
diberikan tugas khusus. Bersedia atau tidak, peserta didik akan belajar agar tidak mendapat
hukuman. Tanpa disuruh belajar pun, mereka akan tetap belajar karena takut dihukum. Inilah
teori behavioristik bahwa segala sesuatu harus dibiasakan dan dipaksakan. Pihak keluarga
khususnya orang tua lebih memperhatikan anaknya, seorang anak dipaksakan untuk belajar. Jika
tidak bersedia, maka uang jajan akan dikurangi. Dengan demikian, adanya paksaan-paksaan akan
menjadikan suatu kebiasaan pada diri siswa.

Sumber:
Intansuryana.(2013, 3 April). STUDI KASUS BESERTA PEMECAHANNYA. Diperoleh 3 Oktober
2018 dari, http://suryanaintan.blogspot.com/2013/04/studi-kasus-beserta-pemecahannya.html.

Perhatikan kasus dibawah ini!


Disebuah lembaga pendidikan sekolah, terlihat seorang guru yang sedih, dan kesal, karena
dalam pembelajaranya dikelas siswa tidak memperhatikan apa yang ia sampaikan dan
membosankan. Bahkan mereka malah sibuk mengobrol sendiri, dan ada pula yang lebih suka
melihat keluar kelas. Padahal guru tersebut merasa sudah maksimal dalam penyampaian
materi, ia telah mengajar dengan suara yang keras, tulisan di papan pun terlihat dengan jelas
dipapan. Namun mereka tetap saja melakukan hal-hal lain diluar kegiatan proses belajar, oleh
karena itu guru tersebut sangat lelah dan merasa telah terkuras habis tenaganya karena telah
mengeluarkan semua kekuatanNya untuk menerangkan materi pelajaran kepada siswanya.
Dari pemaparan kasus diatas:
Apa yang salah dari metode belajar yang dilakukan guru tersebut?
Solusi apa yang yang bisa digunakan untuk menyelesaikan kasus tersebut?

Penyelesaian:
Di sini kita dapat melihat beberapa masalah yang dialami guru yaitu dalam proses penyampaian
materi. Cluenya disini adalah membosankan dan suara keras. Kiat melihat bahwa metode yang
digunakan guru perlu diperbaiki, karena apa yang ia lakukan tidak mendapat umpan balik dari
siswanya, mereka lebih tertarik untuk mengobrol, melihat ke tempat lain, dan tidur mungkin.
Solusinya dapat dilakukan melalui perubahan metode belajar, misalnya melalui diskusi. Setiap
siswa membentuk kelompok 2-3 orang anak dan dibawakan pada suatu masalah yang perlu
didiskusikan dan mereka harus terlibat aktif dalam proses belajarnya. Agar mereka dapat
berkonsentrasi terhadap apa yang sedang dibahas dan memiliki motivasi untuk dapat
menyelesaikan masalah tersebut sehingga diskusi semakin asik.
Solusi lain dapat dilakukan guru dengan melakukan penyampaian teori melalui media teknologi
yang ada misalnya komputer dan LCD, guru dapat menggunakannya untuk presentasi dengan
menggunakan objek-objek gambar yang menarik perhatian atau menampilkan video-video
pendidikan yang mampu menarik perhatian siswa dan menumbuhkan motivasi bahwa belajar itu
penting bagi mereka.perhatian dan minat belajar mereka kurang dikarenakan metode mengajar
yang digunakan tidak tepat serta kekreatifan guru dalam mengajar kurang bahkan minim.
Nama : Wulandari

Nrm : 3215160837

Prodi : Pendidikan Fisika 2016

SOAL URAIAN

Ibu Pratiwi mengajar di kelas 1 SD. Suatu hari, Ibu Pratiwi membacakan sebuah cerita. Anak-
anak mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Setelah selesai membacakan cerita tersebut,
Bu Pratiwi bertanya kepada anak-anak.

Bu Pratiwi: “Siapa nama anak yang pintar dalam cerita tadi?”

Anak-anak menjawab serentak: “Dewi”.

Bu Pratiwi: “ Bagus sekali anak-anak, sekarang coba tulis nama Dewi di buku masing-
masing”.

Semua anak segera menulis. Bu Pratiwi berkeliling mengamati anak-anak menulis. Setelah
semua anak kelihatan selesai menulis, Bu Pratiwi meminta seorang anak maju ke depan untuk
menuliskan kata dewi di papan tulis.

Bu Pratiwi: “Siapa yang tulisannya sama dengan yang di papan tulis?”

Semua anak mengangkat tangan. Bu Pratiwi melanjutkan pertanyaan.

Bu Pratiwi: “Dewi tinggal di mana anak-anak? Yang menjawab, angkat tangan”

Semua anak mengangkat tangan. Bu Dewi menunjuk seorang anak.

Tika: “Di desa, Bu”.

Dari jawaban ini, Bu Pratiwi mengajak anak-anak bercerita tentang jenis-jenis tumbuhan yang
ada di desa, tentang sawah, tentang penerangan yang digunakan orang-orang di desa, tentang
jual beli di pasar desa, dan tentang sungai yang airnya sangat jernih dengan ikan-ikan yang
berenang hilir mudik. Cerita itu menjadi menarik karena Bu Pratiwi juga membawa gambar-
gambar yan menarik tentang desa, yang dipajangnya di papan tulis.

Pertanyaan:

Dilihat dari topik-topik yang dicakup dalam pembelajaran di atas, model pembelajaran apa yang
diterapkan oleh Bu Pratiwi? Jelaskan secara singkat 3 (tiga) karakteristik model pembelajaran
tersebut.

Apakah model pembelajaran tersebut sesuai untuk anak kelas I? Dukung jawaban Anda dengan 3
(tiga) alasan yang terkait dengan perkembangan anak dan teori belajar.

Pembahasan :

(a) Model pembelajaran yang diterapkan oleh Bu Pratiwi adalah model pembelajaran terpadu. 3
(tiga) karakteristik model pembelajaran terpadu adalah sebagai berikut:

Berpusat pada siswa (student centered). Pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu
sistem pembelajaran yang memberikan keleluasaan kepada siswa baik secara individu maupun
secara kelompok. Siswa aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip
dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan tingkat perkembangan mereka.
Menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan. Pembelajaran terpadu mengkaji
suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang membentuk semacam jalinan antarskemata
yang dimiliki oleh siswa, sehingga akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang
dipelajari siswa. Hasil nyata yang didapat dari segala konsep yang diperoleh dan keterkaitannya
dengan konsep-konsep lain yang dipelajari, dan mengakibatkan kegiatan belajar menjadi lebih
bermakna. Dengan ini, dapat diharapkan kemampuan siswa untuk menerapkan perolehan
belajaranya pada pemecahan masalah-masalah nyata dalam kehidupannya

Belajar melaui proses pengalaman langsung. Pada pembelajaran terpadu siswa diprogramkan
untuk terlibat secara langsung pada konsep dan prinsip yang dipelajari dan memungkinkan siswa
belajar dengan melakukan kegiatan secara langsung, sehingga siswa akan memahami hasil
belajarnya sesuai dengan fakta dan peristiwa yang mereka alami, bukan sekedar informasi dari
gurunya. Guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator yang membimbing ke arah tujuan yang
ingin dicapai. Sedangkan siswa, berperan sebagaipencari fakta dan informasi untuk
mengembangkan pengetahuannya.

Lebih memperhatikan proses daripada hasil semata. Pada pembelajaran terpadu dikembangkan
pendekatan penemuan terbimbing (discovery inquiry) yang melibatkan siswa secara aktif dalam
proses pembelajaran. Pembelajaran terpadu dilaksanakan dengan mempertimbangkan minat dan
kemampuan siswa sehingga memungkinkan siswa untuk terus-menerus termotivasi untuk belajar.
Sarat dengan muatan keterkaitan. Pembelajaran terpadu memusatkan perhatian pada pengamatan
dan pengkajian suatu gejala atau peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari
sudut pandangnya yang terkotak-kotak sehingga memungkinkan siswa untuk memahami suatu
fenomena pembelajaran dari segala sisi, yang pada gilirannya nanti akan membuat siswa lebih
arif dan bijak dalam menyikapi dan menghadapi kejadian yang ada.

Bersifat fleksibel. Pembelajaran terpadu bersifat luwes (fleksibel), dimana guru dapat
mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan
mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa
berada

(b) Ya, model pembelajaran terpadu sesuai untuk anak kelas 1 SD, karena 3 alasan berikut:

Sesuai dengan cara belajar anak. Anak yang duduk di kelas awal SD dalah anak yang berada
pada rentangan usia dini. Masa usia dini merupakan masa perkembangan yang sangat penting
dan sering disebut periode emas (the golden years). Siswa pada usia seperti anak kelas 1 SD
masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan, satu keterpaduan (berpikir holistik) dan
memahami hubungan antar konsep secara sederhana. Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap
anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata, yaitu sistem konsep yang ada dalam
pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman
tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan
konsep yang sudah ada dalam pikirannya) dan proses akomodasi (proses memanfaatkan konsep-
konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Belajar dimaknai sebagai proses interaksi anak
dengan lingkungannya

Sesuai dengan tahap perkembangan intelektual anak yang berada pada tahap operasi konkret.
Anak-anak belajar dari hal-hal konkret, yakni yang dapat dilihat, dapat didengar, dapat diraba,
dapat dirasa, dan dapat dibaui. Proses pembelajaran masih bergantung pada objek-objek konkret
dan pengalaman yang dialami mereka secara langsung, di mana hal ini sesuai dengan falsafah
belajar bermakna (meaningful learning). Pembelajaran terpadu mengakomodasi kebutuhan anak
untuk belajar dari hal-hal yang konkret sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibu Pratiwi.
Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep
relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar menghasilkan
pemahaman yang utuh sehingga konsep yang telah dipelajari akan dipahami dengan baik dan tak
mudah dilupakan.

Saat proses belajar melalui pembelajaran terpadu, setiap anak, termasuk anak kelas 1 SD, tidak
sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi juga berupa kegiatan
menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang lebih utuh. Ini juga
sejalan dengan falsafah konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak mengkonstruksi
pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya.
Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak.

2. Pak Purwadi adalah seorang guru kelas 4 di sebuah SD yang terletak di daerah pegunungan.
Dalam mata pelajaran matematika tentang pecahan, Pak Purwadi menjelaskan cara
menjumlahkan pecahan dengan memberi contoh di papan tulis. Salah satu penjelasannya
adalah sebagai berikut:

Pak Purwadi:

"Perhatikan anak-anak, kalau kita menjumlahkan pecahan, penyebutnya harus disamakan


terlebih dahulu, kemudian pembilangnya dijumlahkan. Perhatikan contoh berikut: 1/2 + 1/4 = 2/4
+ 1/4 = 3/4. Perhatikan lagi contoh ini: 1/2 + 1/3 = 3/6 + 2/6 = 5/6. Jadi yang dijumlahnya adalah
pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap. Mengerti anak-anak?"

Anak-anak diam, mungkin mereka bingung.

Pak Purwadi:

Pasti sudah jelas, kan. Nah sekarang coba kerjakan soal-soal ini."

Pak Purwadi menulis 5 soal di papan tulis dan anak-anak mengeluarkan buku latihan. Secara
berangsur-angsur mereka mulai mengerjakan soal, namun sebagian besar anak ribut karena tidak
tahu bagaimana cara mengerjakannya. Hanya beberapa anak yang tampak mengerjakan soal,
yang lain hanya menulis soal, dan ada pula yang bertengkar dengan temannya. Selama anak-anak
bekerja Pak Purwadi duduk di depan kelas sambil membaca.

Setelah selesai, anak-anak diminta saling bertukar hasil pekerjaannya. Pak Purwadi meminta
seorang anak menuliskan jawabannya di papan tulis. Tetapi karena jawaban itu salah, Pak
Purwadi lalu menuliskan semua jawaban di papan tulis. Kemudian anak-anak diminta memeriksa
pekerjaan temannya, dan mencocokkan dengan jawaban di papan tulis. Alangkah kecewanya Pak
Purwadi ketika mengetahui bahwa dari 30 anak, hanya seorang yang benar semua, sedangkan
seorang lagi benar 3 soal, dan yang lainnya salah semua.

Pertanyaan Kasus

Identifikasi 3 kelemahan pembelajaran yang dilakukan Pak Purwadi dalam kasus di atas. Berikan
alasan mengapa itu anda anggap sebagai kelemahan.

Jika anda yang menjadi Pak Purwadi, jelaskan langkah-langkah pembelajaran yang akan anda
tempuh untuk mengajarkan pecahan dengan penyebut yang berbeda. Beri alasan mengapa
langkah-langkah itu yang anda tempuh.
Pembahasan :

2. (a). Tiga (3) kelemahan pembelajaran Pak Purwadi adalah:

Pak Purwadi tidak menjelaskan bagaimana menyelesaikan soal secara bertahap, misalnya pada
kasus tersebut tampak Pak Purwadi sama sekali tidak menjelaskan bagaimana caranya untuk
menyamakan penyebut bilangan pecahan. Penjelasannya terlalu singkat sehingga tidak jelas.
Padahal penjelasan yang runtut, jelas dan logis selangkah demi selangkah diperlukan untuk
membuat siswa mudah memahami penjumlahan pecahan tersebut.

Pak Purwadi tidak mengecek pemahaman siswanya dengan baik. Ia hanya menanyakan
"Mengerti anak-anak?". Pertanyaan model ini tidak dapat mengecek pemahaman siswa.
Seharusnya ia menanyakan langkah-langkah menjumlahkan pecahan secara langsung, misalnya
dengan menanyakan, "Mengapa penyebut pada langkah penjumlahan pecahan itu diubah menjadi
4 dan 6?" dan sebagainya. Pertanyaan langsung mengarah ke materi pelajaran, bukan
menanyakan apakah anak mengerti atau tidak saja.

Pak Purwadi tidak membimbing siswa, setelah memberikan 5 soal latihan, alih-alih berkeliling
memberikan bantuan pada siswa yang membutuhkan, ia malah duduk di depan kelas (di
kursinya) sambil membaca.

Ketika salah seorang anak diminta menuliskan jawabannya di papan tulis, Pak Purwadi tidak
meminta tanggapan dari siswa lain. Hal ini merupakan sebuah kelemahan pembelajaran, padahal
apabila Pak Purwadi memanfaatkannya menjadi bahan diskusi dan kesempatan untuk
menjelaskan kembali materi terkait soal tersebut maka pembelajaran akan dapat menjadi lebih
baik.

(b). Pada materi penjumlahan pecahan tersebut, jika saya menjadi Pak Purwadi maka langkah-
langkah yang akan saya lakukan adalah sebagai berikut:

KEGIATAN PENDAHULUAN

Melakukan apersepsi

Memberikan motivasi

Menyampaikan tujuan pembelajaran

KEGIATAN INTI

Memberikan sebuah contoh soal tentang penjumlahan pecahan yang memiliki penyebut yang
berbeda, misal 1/4 + 1/2

Menyajikan langkah-langkah demi langkah cara menyelesaikan contoh soal tersebut secara
runtut, rinci, jelas, dan logis kepada siswa.
Memberikan sebuah contoh soal lagi, misal 1/3 + 1/4

Meminta siswa untuk berpartisipasi secara bergantian untuk menyelesaikan soal tersebut
selangkah demi selangkah, sembari mengecek pemahaman setiap siswa.

Membantu siswa yang mengalami kesulitan pada langkah-langkah yang dilakukan untuk
menyelesaikan soal tersebut.

Memberi sebuah contoh soal lagi, misalnya 1/2 + 1/5.

Kembali meminta siswa mengerjakan soal tersebut, kali ini secara berpasangan dengan teman
sebangku mereka (teman yang duduk berdekatan) masing-masing.

Meminta siswa mengecek hasil pekerjaan mereka dengan membandingkannya dengan hasil
pekerjaan pasangan lainnya.

Meminta mereka mendiskusikan apabila terdapat perbedaan jawaban, sembari guru memberikan
bimbingan bila diperlukan.

Memberikan soal latihan sebanyak 5 buah contoh soal untuk dikerjakan.

Mengecek jawaban siswa dengan meminta beberapa orang menuliskan jawaban mereka masing-
masing di papan tulis.

memfasilitasi diskusi kelas apabila terdapat perbedaan-perbedaan jawaban siswa.

PENUTUP

Mengajak siswa merefleksi dan menyimpulkan pembelajaran yang telah diikuti.

Memberikan tugas rumah (PR) dan meminta siswa belajar untuk materi pada pertemuan
berikutnya.

Anda mungkin juga menyukai