Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

MODEL PENGEMBANGAN HIJAUAN PAKAN PADA LAHAN

KERING

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Ilmu Hijauan Pakan dan Tata Laksana Ladang Ternak

Disusun Oleh :

NUR REZKI RAHIM (60700118042)

NURAENI (60700118051)

ILMU PETERNAKAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa, karena izin dan karunia- Nya sehingga saya

dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “MODEL PENGEMBANGAN HIJAUAN PAKAN

PADA LAHAN KERING”. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah saw,

beserta keluarga, para sahabat dan seluruh umatnya sampai akhir zaman. Makalah ini dibuat

guna memenuhi salah satu tugas presentasi mata kuliah “ILMU HIJAUAN PAKAN DAN TATA

LAKSANA LADANG TERNAK”.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi

pertumbuhan pada hijauan . Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, baik

pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu,kritik dan saran dari semua pihak sangat saya

harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada

pihak - pihak yang telah membantu dalam membuat makalah ini. Semoga mereka selalu dalam

lindungan Allah SWT.

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem pertanian terpadu merupakan kegiatan memadukan pertanian dan peternakan.

Salah satu contoh dari sitem pertanian terpadu adalah Sistem Tiga Strata (STS). Sistem tiga

Strata merupakan suatu cara penanaman serta pemangkasan rumput, leguminosa, semak, dan

pohon sehingga hijauan tersedia sepanjang tahun. Stratum pertama terdiri dari tanaman rumput

potongan dan legume herba/ menjalar (sentro, kalopo, arachis, dll.) yang disediakan bagi ternak

pada musim penghujan. Stratum kedua terdiri dari tanaman legume perdu/ semak (alfalfa,

stylosanthes, desmodium rensonii, dll.) yang disediakan bagi ternak apabila rumput sudah mulai

berkurang produksinya pada awal musim kemarau. Bagian ini dibagi petak masing-masing 46

meter persegi ( lebar 5 m dan panjang 9 m ). Stratum tiga terdiri dari legume pohon (gamal,

lamtoro, kaliandra, turi, acasia, sengon, waru, dll.) yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai

fungsi. Selain untuk pakan pada musim kemarau panjang, tanaman tersebut juga dapat digunakan

sebagai tanaman pelindung dan pagar kebun hijauan makanan ternak maupun kayu bakar.

Satu unit STS memerlukan 2.500 meter persegi yang terdiri dari tiga bagian. Yaitu:

Bagian inti yang berada di tengah-tengah dan ditanami tanaman pangan/holtikultura (1.600 meter

persegi). Bagian selimut terletak diantara bagian inti dan tepi. Bagian selimut ditanami hijauan

jenis rumput potong dan leguminosa (900 meter persegi), Bagian tepi merupakan bagian yang

paling luar yang menjadi batas unit STS yang ditanami pagar hidup dari gamal dan lamtoro jenis

kayu (200 meter). Stratum satu berfungsi sebagai penyedia hijauan bagi ternak. Stratum dua dan

tiga berperan sebagai pagar hidup sehingga ternak tidak mudah menganggu tanaman inti.
Sistem pertanian tiga strata umumnya diterapkan pada pertanian lahan kering dengan

curah hujan 1.500 mm per tahun dengan 8 bulan musim kering, dan 4 bulan musim hujan, dapat

diterapkan pada pertanian lahan kering dengan topografi yang datar atau miring. Tujuan

pertanaman STS adalah menyediakan hijauan pakan dan menjaga kelestarian ekosistem

sepanjang tahun. Manfaat dari pertanaman STS secara praktikal adalah meningkatkan

ketersediaan dan mutu hijauan, menyediakan hijauan sepanjang tahun, meningkatkan kesuburan

tanah, dan meningkatkan produktivitas ternak. Manfaat secara keilmuwan memberikan

informasi mengenai introduksi pertanaman STS. Manfaat secara Institusional memberikan

informasi kepada petani/peternak, peneliti bidang peternakan dan pertanian untuk mengambil

kebijakan pertanaman dengan sistem STS.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana model pengembangan hijauan pada lahan kering

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui model pengembangan hijauan pada lahan kering


BAB II

PEMBAHASAN

A. Hijauan Pakan Ternak


Hijauan makanan ternak merupakan salah satu bahan pakan ternak rumansia. Secara

umum bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan oleh hewan atau ternak, dapat

dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak yang memakannya

(TILLMAN et al., 1983).

Menurut HARIS et al., dan MC DOWELL et al., dalam UTOMO (1999) mengemukakan

bahwa pakan ternak berdasarkan sifat karakteristik fisik dan kimia, serta penggunaannya secara

internasional dibagi menjadi delapan kelas yaitu:

1) pasture, tanaman padangan, atau tanaman pakan ternak yang sengaja ditanam untuk

diberikan pada ternak dalam keadaan segar,

2) hijauan kering dan jerami

3) silase hijauan

4) bahan pakan sumber energi dari biji-bijian atau hasil samping penggilingan

5) sumber protein yang berasal dari hewan, bijibijian, bungkil

6) sumber mineral

7) sumber vitamin dan

8) aditif.

Hijauan pakan atau pasture pada perusahaan ternak bersekala menengah keatas dengan

jumlah ternak diatas 100 ekor, diperoleh dari hasil tanam sendiri yang ditanam pada areal khusus

untuk budidaya tanaman pakan, seperti rumput–rumputan atau leguminosa. Tetapi pada

peternakan rakyat yang hanya memelihara sapi antara 1–5 ekor setiap peternak, sebagian besar
hijauan pakan diperoleh dari hasil mencari di tempat-tempat umum atau dari limbah pertanian.

Budidaya rumput atau legum di peternakan rakyat hanya dilakukan pada lahan-lahan sisa atau

pematang–pematang yang tidak mungkin dapat ditanami tanaman pangan. Di lahan persawahan

Kabupaten Bantul penanaman rumput pakan ternak di tanam di pematangpematang sawah dan di

“piyaman” yaitu sudutsudut sawah atau kebun yang tidak ditanami dengan tanaman pangan

(SUPRIADI et al., 2001).

Peternak di lahan kering umumnya melakukan budidaya tanaman pakan hanya sebagai

tanaman penguat teras atau hanya ditanam di pematang. Pada kondisi lahan kering yang

umumnya berlereng dan rawan erosi, penanaman hijauan pakan bukan sematamata untuk

menghasilkan hijauan, tetapi juga dimaksudkan untuk mengstabilkan teras dan mencegah erosi.

Beberapa hasil penelitian di daerah aliran sungai menunjukkan bahwa usaha pemenuhan hijauan

pakan dengan penanaman rumput di bibir teras sebagai upaya pemeliharaan teras ternyata

berdampak positif terhadap sistem produksi pakan ternak (SUBIHARTA et al., 1989) selain

dapat menekan erosi hingga 86,7% (SEMBIRING et al., 1990).

Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak 70 sehingga tanaman pakan ini diharapkan

dapat dwifungsi, atau dapat memberikan tambahan lain selain hijauan pakan. Beberapa hasil

penelitian pada tanaman jenis sorgum melaporkan bahwa tanaman sorgum dapat tahan hidup dan

berproduksi baik pada daerah yang beriklim relatif panas dan kering, pada sorgum manis dapat

menghasilkan nira dan berpotensi sebagai sumber hijauan segar dari daun klentekannya.

Disamping sorgum manis ada sejenis sorgum lain yaitu rumput hermada, rumput ini dapat

menghasilkan hijauan pakan dari batang dan daunnya, dan juga dapat menghasilkan malai untuk

kerajinan sapu serta menghasilkan biji untuk pakan ternak atau dapat dibuat kue atau bahan baku

beer.
B. Adaptasi Tanaman Pakan Ternak

Tanaman sebagai mana mahluk hidup lainnya, untuk berkembang pada suatu daerah

memerlukan adaptasi terlebih dahulu, baik terhadap jenis tanah, iklim mikro/makro ataupun

terhadap kegiatan manusia pada tanaman tersebut. HUMPHREYS dalam ANONIMUS (1990)

menyatakan bahwa akhirakhir ini telah banyak berbagai varitas hijauan pakan masuk dalam

usahatani di daerah tropis dan karena terlalu banyaknya varitas, akibatnya mempersulit untuk

menentukan varitas mana yang sesuai dengan suatu kondisi daerah tertentu.

Adaptasi tanaman menyangkut beberapa aspek. Pertama, berkaitan dengan kemampuan

bereproduksi pada kondisi tertentu. Kedua, diukur dari densiti yaitu jumlah tanaman persatuan

tempat. Ketiga, hasil bahan kering dan kandungan nutrien atau komposisi kimianya. Keempat,

kemampuan tanaman berkembang diantara tanaman yang lainnya dalam sistem usahatani

tumpangsari (ANONIMUS, 1990).

Disamping aspek teknis, perkembangan tanaman diukur pula dari aspek ekonomisnya

bahwa tanaman tersebut harus memiliki nilai ekonomi tinggi. Dalam suatu sistem usahatani

antara komponen produksi yang satu harus saling berkaitan dengan komponen produksi yang

lain, ditandai dengan adanya aliran sarana produksi dari komponen satu ke komponen lainnya,

atau dapat memberikan produk samping selain dari produk utamanya. Adaptasi dalam arti luas,

diartikan bahwa tanaman tersebut selain dapat hidup dan berkembang dalam suatu kondisi

lingkungan tertentu, juga dapat menguntungkan atau dapat saling berkaitan dengan komponen

produksi lain agar dapat dibudidayakan dalam suatu sisten usahatani.

Hasil penelitian HAFIF et al.,(1995) di DAS Kali Oyo Kabupaten Bantul pada uji adaptasi

dan potensi beberapa jenis rumput penguat teras memperlihatkan bahwa rumput gajah, rumput

raja dan rumput benggala dalam menghasilkan hijauan pakan ternak cukup berpotensi. Dalam
hal pengujian daya adaptasi rumput vetiver juga dapat tumbuh dengan baik namun hijauannya

tidak disukai ternak karena adanya aroma khas dari rumput vetiver. Selanjutnya HAFIF et al.,

(1995) melaporkan hasil penelitian uji adaptasi di wilayah DAS Kali Oyo Daerah Istimewa

Yogyakarta pada jenis rumput guatemala, rumput gajah, rumput raja, rumput benggala dan

setaria kebanyakan mati pada saat musim kemarau. Lain hal dengan tanaman sorgum, tanaman

ini mampu tumbuh di daerah tropis maupun sub-tropis, bahkan lebih tahan terhadap iklim yang

relatif panas dan kering dibandingkan dengan tanaman palawija lainnya (EFFENDI et al., 1996;

MUJISIHONO dan DAMARDJATI dalam MUSOFIE dan WARDANI, 1996), begitu pula pada

tanaman rumput hermada dapat tumbuh di lahan kritis tidak produktif (SUSANTI et al., 2002).

C. Lahan Kering
Permasalahan lahan kering adalah rendahnya kandungan bahan organik, menurunya sifat

fisik tanah, dan kemampuan tanah menyimpan air menurun (Azmi et al., 2007 ). Salah satu

faktor pembatas dalam penyediaan hijauan makanan ternak adalah ketersediaan hijauan makanan

ternak pada musim kemarau. Beberapa model sistem pertanaman yang mampu memenuhi

pemenuhan hijauan pakan ternak adalah: strip rumput, penguat teras, tanaman lorong/ Alley

cropping, pagar hidup, dan STS (BPTP, 2011). Sempitnya lahan budidaya, secara langsung akan

berdampak terhadap sistem usahatani dan pada akhirnya akan berakibat rendahnya pendapatan

usahatani. Langkah yang harus ditempuh agar sistem usahatani tetap berkelanjutan adalah

melakukan usahatani diversifikasi (multi komoditas), antara lain dengan pola integrasi tanaman

dan ternak melalui sistem STS.

D. Sistem Tiga Strata (STS)

Sistem tiga strata diperkenalkan oleh Nitis di Bali. Tanaman rumput dan Leguminosa yang

menjalar digolongkan strata I, leguminosa semak dan perdu digolongkan strata II, dan

leguminosa pohon digolongkan strata III. Penataan setiap strata adalah sebagai berikut : strata I
merupakan berupa pohon ditanam paling luar dengan jarak sekitar 5 m, strata II berupa

leguminosa semak perdu yang ditanama diantaranya, dan strata III, berupa rumput ditanam

dibawahnya berdekatan dengan bidang untuk tanaman pangan (BPTP, 2011). Usaha ternak

terpadu dengan tanaman yang sering dilakukan antara lain Sistem Tiga Strata (STS). Sistem tiga

strata adalah sistem penanaman dan pemotongan rumput, leguminosa, semak dan pohon

sehingga hijauan makanan ternak tersedia sepanjang tahun (Azmi et al., 2007).

Ilustrasi I. Pola Integrasi Sistem Tiga Strata.

Stratum 1 yang terdiri dari rumput dan legum unggul menyediakan hijauan makanan ternak

pada 4 bulan musim hujan, stratum 2 yang terdiri dari semak legume menyediakan hijauan

makanan ternak pada 4 bulan awal musim kering, sedangkan stratum 3 yang terdiri dari pohon

pakan menyediakan hijauan makanan ternak pada 4 bulan akhir musim kering. Pada STS

integrasikan tanaman legum diharapkan perbaikan kesuburan lahan karena sumbangan nitrogen

dari nodul pada akar dan gizi dari hijauan pakan ternak lebih baik (Nitis et al., 2000). Lahan atau

tanah merupakan sumberdaya alam fisik yang mempunyai peranan penting dalam segala

kehidupan manusia, karena lahan atau tanah diperlukan manusia untuk tempat tinggal dan hidup,
melakukan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, pertambangan dan sebagainya.

Pendayagunaan lahan atau tanah memerlukan pengelolaan yang tepat dan sejauh mungkin

mencegah dan mengurangi kerusakan dan dapat menjamin kelestarian sumber daya alam tersebut

untuk kepentingan generasi yang akan datang. Pada sistem lingkungan tanah, usaha-usaha yang

perlu dikerjakan ialah rehabilitasi, pengawetan, perencanaan dan pendayagunaan tanah yang

optimum (Hasnudi et al., 2004). Penerapan STS adalah terpadu antar tanaman pangan, tanaman

perkebunan dan ternak. Dengan integrasi ini maka pengawasan STS lebih baik, karena petani

setiap hari pergi ke ladang untuk mengawasi tanaman palawijanya, tanaman palawija tidak

diganggu oleh ternak karena dipagari oleh STS, ternak tidak perlu digembalakan karena STS

Menyediakan pakan, adanya pupuk kandang dan tanaman legum pada STS dan kebutuhan petani

sehari-hari dipenuhi oleh hasil palawija, sedangkan kebutuhan mendadak dipenuhi dari penjualan

ternak. Tanaman pada strata 1 dan 2 dibiarkan tumbuh dan berkembang dan baru dipangkas pada

akhir tahun 1; sedangkan tanaman pada stratum 3 baru dipangkas pada akhir tahun ke 2. Ternak

diintegrasikan pada awal tahun ke 3.

E. Produktivitas Lahan, Hijauan dan Ternak pada Sistem STS

Produksi pakan hijauan STS 91% lebih tinggi dari Sistem Tradisional. Erosi lahan 57%

lebih rendah, karena strata 2 dan 3 menahan batu dan kerikil, sedangkan strata 1 menahan tanah.

Unsur hara dalam bentuk N 75% lebih tinggi, bahan organik 13% lebih tinggi dan humus 23%

lebih tinggi (Nitis et al., 2000). Erosi lahan dan air hujan dapat dikurangi karena perakaran yang

kuat dan dalam dari strata 2 dan 3 dapat, daun rimbun dari strata 1, 2 dan 3 dapat menahan abrasi

karena sinar matahari dan angin dan ternak yang dikandangkan tidak merusak struktur tanah.

STS meningkatkan kesuburan lahan dengan bintil-bintil nitrogen dari tanaman legum, humus

dari akar dan daun yang melapuk dan pupuk kandang dari kotoran ternak.
F. Produksi Hijauan STS

Pertambahan berat badan ternak lebih tinggi pada pemberian pakan dengan hijauan legum

yang lebih banyak dibandingkan yang hanya diberikan rumput saja. Faktor-faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan pakan hijauan diantaranya: Iklim, tanah, spesies hijauan, dan

manajemen. Pada lahan kering tanaman pangan maka tanaman pangan yang umum berupa

palawija (karena padi terutama ditanam disawah), prioritas kedua adalah tanaman holtikultura,

dengan demikian hijauan pakan untuk ternak berasal dari limbah pertanian tanaman palawija,

gulma, peperduan dan pepohonan. Peperduan yang penting adalah merry gold, lantana camara,

kaliandra dan lamtoro, sedangkan pepohonan yang potensial adalah albizia, nangka, mindi dan

sebagainya. Hijauan unggul ditanam dibibir teras, lereng teras dan dibatas-batas tanah, juga

tebing-tebing dan selokan-selokan serta pinggir-pinggir jalan (Hasnudi et al., 2004). Hasil

penelitian Azmi dan Gunawan (2007) yang menerapkan STS dengan ternak kambing bahwa

produksi jagung dengan perlakuan kompos 1,89 ton sedangkan tanpa kompos 1,60 ton.

Penyediaan Pakan Sepanjang Tahun

Pada lahan hutan produksi lahan lebih terbuka untuk pengembangan hijauan pakan yaitu :

pada periode-periode permulaan, sebagai usaha diversifikasi kehutanan untuk menghasilkan

hijauan pakan kualitas unggul (lamtoro, kaliandra, albizia) secara komersial, pengembangan

hijauan pakan ditepi-tepi hutan, baik berupa daerah penyangga maupun sekedar sebagai pasar

hidup (Hasnudi et al., 2004). Komposisi botani pakan hijuan yang diberikan ternak pada 4 bulan

musim hujan sebagian besar terdiri dari rumput dan legum, pada 4 bulan awal musim kering

sebagian besar terdiri dari daun semak, sedangkan pada 4 bulan akhir musim kering sebagian

besar terdiri dari daun pohon pakan ( Nitis et al., 2000)


Unit Ternak yang Bisa Ditampung Dengan STS

Satuan ternak (ST) merupakan ukuran yang digunakan untuk menggabungkan berat badan

ternak dengan jumlah makanan yang dmakan. Kapasitas tampung (Carrying capacity)

merupakan jumlah hijauan makanan ternak yang dapat disediakan kebun hijauan untuk ternak

yang dinyatakan (ST)/hektar (Kementrian Pertanian, 2010). Hasil penelitian Azmi dan Gunawan

(2007) yang menerapkan STS teknologi integrasi tanaman jagung dan Gamal dengan ternak

kambing pejantan PE dengan penerapan model sistem tiga strata meningkatkan Stocking Rate

hingga 5 ST dengan tanpa integrasi.

Uraian Stocking Rate

Tanaman Jagung

Produksi limbah segar pemotongan 3 hari (kg) 9

Produksi limbah segar 100 hari (kg) 300

Kebutuhan ransum ransum 100 hari (kg) 75

Stocking Rate ( ST 50 kg/ekor) 4

Tanaman Gamal

Produksi limbah segar pemotongan /hari (kg) 1,5

Produksi limbah segar 100 hari (kg) 150

Kebutuhan ransum ransum 100 hari (kg) 175

Stocking Rate ( ST 50 kg/ekor) 0,85

Total Stocking Rate 4,85

Tabel. 1. Total Stocking Rate Jagung dan Gamal dalam STS.

Kebutuhan pakan limbah jagung sebanyak 15% dalam ransum perlakuan. Untuk pakan

ternak kambing seberat 50 kg/ekor, diperlukan 75 kg limbah jagung segar dalam 100 hari.
Stocking Rate sebesar 4 Satuan Ternak. Dengan rata-rata 25-30 batang tanaman Gamal akan

tersedia 150 kg selama 100 hari. Stocking Rate yaitu 0,85 ST. Dapat disimpulkan bahwa Sistem

integrasi tanaman (jagung dan Gamal) – ternak kambing yang dilaksanakan dalam mampu

menampung 4,85 Satuan Ternak kambing seberat 50 kg per ekor. Satu petak STS dapat

menampung 1 sapi jantan berat 371 kg atau 1 sapi induk dengan pedet berat sapih atau 6

kambing PE berat 60 kg, dan dengan 12 ekor ayam petelur dan/atau 1 koloni lebah madu (Nitis

et al., 2000).
BAB III

PENUTUP

Simpulan

Sistem Tiga Strata (STS) adalah integrasi tanaman dan ternak berwawasan lingkungan.

Dengan STS produksi tanaman pakan, tanaman pangan, tanaman perkebunan, produksi dan

reproduksi ternak, kesuburan lahan dan kelestarian lingkungan dapat ditingkatkan dan

memfasilitasi program penghijauan dan reboisasi. Introduksi STS sebagai alternatif penyedia

hijauan pakan yang berkesinambungan tanpa mengabaikan kualitas hijauan. Stocking Rate

teknologi integrasi tanaman jagung dan Gamal dengan ternak kambing pejantan peranakan

etawah (PE) dengan penataan lahan model tiga strata (STS) sebesar 4,84 Satuan Ternak seberat

ratarata 50 kg/ekor.

Peningkatan keterampilan dan efisiensi penggunaan lahan dalam introduksi STS memiliki

keuntungan. STS dapat memfasilitasi program penghijauan dan reboisasi dan dapat menyediakan

komoditi tanaman dan ternak untuk kegiatan agroritual, agrowisata, wisataagro, agroindustri dan

agrobisnis.

Saran

Introduksi STS (sistem Pertanian Tiga Strata) layak dikembangkan sebagai introduksi

lahan pertanian. STS cocok dikembangkan untuk jenis tanah kering.


DAFTAR PUSTAKA

Agus, S. Pedoman Teknis Perluasan Areal Kebun Hijauan Makanan Ternak. Kementrian

Pertanian, Jakarta.

Azmi dan Gunawan. 2007. Usaha tanaman-ternak kambing melalui sistem integrasi. Balai

Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, Bengkulu. Seminar Nasional Teknologi

Peternakan dan Veteriner. Hal:523-531.

BPTP. 2011. Budidaya Hijauan Makanan Ternak. Lembang, Jawa Barat.

Hasnudi., S. Umar., dan I. Sembiring. 2004. Kumpulan Konsep Sumbang Saran Untuk

Kemajuan Dunia Peternakan Di Indonesia. Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian,

Universitas Sumatera Utara.

Nitis, I. M., K. Lana., dan A. W. Puger. 2000. Pengalaman pengembangan tanaman ternak

berwawasan lingkungan di Bali. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas

Peternakan. Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Seminar Nasional Sistem Integrasi

Tanaman-Ternak. Hal: 44-52.