Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam praktik kebidanan, pembrian asuhan kebidanan yang berkualitas
sangat dibutuhkan. Kualitas kebidanan ditentukan dengan cara bidan membina
hubungan baik, baik sesamA rekan sejawat ataupun dengan orang yang diberi
asuhan.Upaya meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan juga ditentukan oleh
keterampilan bidan untuk berkomunikasi secara efektif dan melakukan konseling
yang baik dengan klien.Karna melalui komunikasi yang efektif setra konseling
yang berhasil, kelangsungan dan berkesinambungan penggunaan jasa pelayanan
bidan untuk kesehatan perempuan selama siklus kehidupan akan tercapai.

B. Tujuan
Makalah ini akan membahas tentang Komunikasi dan Konseling
Kebidanan, semoga dapat memberikan sedikit gambaran dan tambahan
pengetahuan bagi kita semua.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Bidan adalah salah satu petugas kesehatan yang dapat memberikan
pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya.
Bidan telah diakui sebagai sebuah profesi dan untuk dapat dikatakan sebagai
seseorang yang bekerja profesional, maka bidan harus dapat memahami sejauh
mana peran dan fungsinya sebagai seorang bidan. Bidan dalam menjalankan
profesinya mempunyai peran dan fungsi yaitu pelaksana, pengelola, pendidik dan
peneliti.

B. Keterampilan Observasi
Pengertian observasi dapat di rumuskan sebagai berikut: “Observasi ialah
metode atau cara yang menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis
mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok
secara langsung”.
Cara atau metode tersebut dapat juga dikatakan dengan menggunakan
teknik dan alat-alat khusus seprti blangko-blangko, checklist, atau daftar isian
yang telah di persiapkan sebelumnya. Dengan demikian, secara garis besar teknik
observasi dapat di bagi menjadi dua, yaitu:
1. Structured or controlled observation(observasi yang di
rencanakan,terkontrol)
2. Unstructure or informal observation(observasi informasi atau tidak
terencanakan lebih dahulu).
Pada structured observation, biasanya pengamat menggunakan blangko-
blangko daftar isian yang tersusun.dan di dalamnya telah tercantum aspek-aspek
ataupun gejala-gejala apa saja yang perlu di perhatikan pada, yaitu waktu
pengamatan itu di lakukan. Adapun pada unstructured observasion, pada
umumnya pengamat belum atau tidak mengetahui sebelumnya apa yang
sebenarnya harus di catat dalam pengamatan itu. Aspek-aspek atau peristiwanya
tidak terduga sebelumnya.

2
Hal yang perlu kita observasi adalah:
1. Tingkah Laku Verbal dan Non Verbal
a. Tingkah laku verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-
kata baik secara lisan maupun tertulis. Bahasa verbal merupakan
sarana untuk menyampaikan perasaan, pikiran dan maksud tujuan.
Menurut Larry.
b. Tingkah laku non verbal
Komunikasi non verbal adalah pesan yang di sampaikan dalam
komunikasi di kemas dalam bentuk non verbal, tanpa kata-kata.
2. Pengamatan dan penafsiran
Pengamatan objektif adalah berbagai tingkah laku yang biasa di lihat
dan di dengar. Sedangkan penafsiran atau interprestasi adalah kesan yang
di berikan pada apa yang kita lihat dan dengar. Tahap-tahap interprestasi
meliputi:
a. Refleksi perasaan: konselor tidak jauh dari apa yang di katakan klien
b. Klarifikasi: menjelaskan apa yang tersirat dalam perkataan klien
c. Refleksi: penilaian konselor terhadap apa yang di ungkapkan klien
d. Konfrontasi: konselor membawa kepada perhatian dan perasaan klien
tanpa disadari
e. Interprestasi: konselor memperkenalkan konsep-konsep hubungan
yang berakar

C. KONSELING DALAM PRAKTEK KEBIDANAN


1. Definisi Konseling dalam Kebidanan\
Konseling merupakan proses pemberian informasi obyektif dan lengkap,
dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik
bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu
seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi, dan
menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut. (Saefudin, Abdul
Bari : 2002).

3
Proses pemberian bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat
suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap
fakta-fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan-perasaan klien.
Proses melalui satu orang membantu orang lain dengan komunikasi, dalam
kondisi saling pengertian bertujuan untuk membangun hubungan, orang yang
mendapat konseling dapat mengekspresikan pikiran& perasaannya dengan cara
tertentu sesuai dengan situasi, melalui pengalaman baru, mamandang kesulitan
objektif sehingga dapat menghadapi masalah dengan tidak terlalu cemas dan
tegang.( SCA.C STEERING COOMUTE, 1996).
Jadi konseling kebidanan adalah bantuan kepada orang lain dalam bentuk
wawancara yang menuntut adanya komunikasi, interaksi yang mendalam dan
usaha bersama antara konselor (bidan) dengan konseli (klien) untuk mencapai
tujuan konseling yang dapat berupa pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan
ataupun perubahan tingkah laku/ sikap dalam ruang lingkup pelayanankebidanan”.
2. Tujuan Konseling Kebidanan
Tujuan konseling adalah :
a. Pemecahan masalah, meningkatkan efektifitasindividu dalam
pengambilan keputusan secara tepat.
b. Pemenuhan kebutuhan, menghilangkan perasaan yang menekan/
mengganggu.
c. Perubahan sikap dan tingkah laku.
3. Proses Konseling Kebidanan
Proses konseling terdiri dari 4 unsur kegiatan yaitu :
a. Pembinaan hubungan baik (rapport) : Pembinaan hubungan baik
dimulai sejak awal pertemuan dengan klien dan perlu dijaga seterusnya
dengan :
1) Memberi salam pada awal setiap pertemuan.
2) Memperkenalkan diri
3) Menciptakan suasana nyaman dan aman.
4) Memberikan perhatian penuh pada klien (SOLER).
S : Face your clients squarely (menghadap klien) & smile/ nod at
clients (senyum/ mengganggukkan kepala).

4
O : Open and Non Judgemental Facial Expression (ekspresi muka
menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai).
L : Lean Towards Client (tubuh condong kearah klien).
E : Eye Contact in a culturally- Acceptable Manner (kontak mata/
tatap mata sesuia dengan cara yang diterima budaya setempat).
R : Relaxed and Friendly Manner (santai dan sikap bersahabat).
b. Bersabar.
c. Tidak memotong pembicaraan klien
Pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan
perencanaanSetelah mendapatkan dan memberikan cukup informasi
sesuai dengan masalah dan kondisi klien, konselor membantu klien
memecahkan masalah yang dihadapi atau membuat perencanaan untuk
mengatasi masalah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan
keputusan adalah (1) fisik, (2) emosional, (3) rasional, (4) praktikal,
(5) interpesonal, (6) struktural.
d. Menindaklanjuti pertemuan : Menindaklanjuti pertemuan konseling
dengan membuat rangkuman, merencanakan pertemuan selanjutnya/
merujuk klien.

5
D. KOMUNIKASI DALAM KEADAAN SPESIFIK
1. Berduka Dan Kehilangan
Berduka yang paling besar adalah disebabkan karena kematian bayi meskipun
kematian terjadi saat kehamilan. Bidan harus memahami psikologis ibu dan ayah
untuk membantu mereka melalui pasca berduka dengan cara yang sehat.
Berduka adalah respon psikologis terhadap kehilangan. Proses berduka terdiri
dari tahap atau fase identifikasi respon tersebut. Tugas berduka, istilah ini
diciptakan oleh Lidermann, menunjukkan tugas bergerak melalui tahap proses
berduka dalam menentukan hubungan baru yang signifikan. Berduka adalah
proses normal, dan tugas berduka penting agar berduka tetap normal. Kegagalan
untuk melakukan tugas berduka, biasanya disebabkan keinginan untuk
menghindari nyeri yang sangat berat dan stress serta ekspresi yang penuh emosi.
Seringkali menyebabkan reaksi berduka abnormal atau patologis.
Definisi kehilangan Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari
kehidupan. Kehilangan adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau
memulai sesuatu tanpa hal yang berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan
mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak, bisa tanpa kekerasan atau
traumatik, diantisispasi atau tidak diharapkan/diduga, sebagian atau total dan bisa
kembali atau tidak dapat kembali.
2. Tindakan Bidan pada setiap Fase Kehilangan:
a. Memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan
perasaannya dengan cara :
 Mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan berdukanya.
 Meningkatkan kesabaran pasien, secara bertahap, tentang
kenyataan dan kehilangan apabila sudah siap secara emosional.
b. Menunjukan sikap menerima dengan ikhlas kemudian mendorong
pasien untuk Berbagi rasa dengan rasa :
 Mendengarkan dengan penuh perhatian dan minat mengenai apa
yang dikatakan oleh pasien tanpa menghukum atau menghakimi
 Menjelaskan kepada pasien bahwa sikapnya dapat timbul pada
siapapun yang mengalami kehilangan.

6
c. Memberikan jawaban yang jujur terhadap pertanyaan pasien tentang
sakit
Pengobatan dan kematian dengan cara :

 Menjawab pertanyaan pasien dengan bahasa yang mudah


dimengerti, jelas, dan tidak berbelit-belit.
 Mengamati dengan cermat respons pasien selama berbicara.
 Meningkatkan kesadaran dengan bertahap.
3. Komunikasi pada anak abuse
Pengertian kekerasan terhadap anak adalah perilaku salah baik dari orangtua,
pengasuh dan lingkungan dalam bentuk perlakuan kekerasan fisik, psikis maupun
mental yang termasuk didalamnya adalah penganiayaan, penelantaran dan
ekspoitasi, mengancam dan lain-lain terhadap terhadap anak. Kekerasan anak
lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau
luka pada tubuh sang anak. Jika kekerasan terhadap anak didalam rumah tangga
dilakukan oleh orang tua, maka hal tersebut dapat disebut kekerasan dalam rumah
tangga. Tindak kekerasan rumah tangga yang termasuk di dalam tindakan
kekerasan rumah tangga adalah memberikan penderitaan baik secara fisik maupun
mental di luar batas-batas tertentu terhadap orang lain yang berada di dalam satu
rumah; seperti terhadap pasangan hidup, anak, atau orang tua dan tindak
kekerasan tersebut dilakukan di dalam rumah.
4. Kelompok minoritas
Mayoritas adalah himpunan bagian dari suatu himpunan yang jumlah elemen
di dalamnya mencapai lebih dari separuh himpunan tersebut.Sedangkan Minoritas
adalah kelompok yang jumlahnya tidak terlalu besar dibandingkan kelompok
sosial lain di dalam kelompok tersebut.Di negara kita Republik Indonesia tercinta
ini kelompok agama yang mayoritas adalah Islam sedangkan kelompok minoritas
adalah Kristen protestant,Kristen katolik,Budha,hindu dan beberapa agama
kesukuan yang tersebar di seluruh negara Indonesia tercinta ini.Terjadinya agama
mayoritas dan minoritas di Indonesia ini telah tejadi sangat lama.Dan khususnya
perbedaan agama mayoritas dengan agama minoritas dalam hal ini Kristen
protestant dan Kristen katolik terjadi pada zama penjajahan.Hal ini disebabkan

7
karena kebayakan misionaris yang meyebarkan agama Kristen protestant dan
Kristen katolik.Ikut dalam rombongan penjajahan sehingga pada saat itu
masyarakat Indonesia dan terkhususnya kaum mayoritas bahwa kedua agama
tersebut adalah agama penjajahan,sehingga dari sana timbulah suatu kebencian
dimana kebencian tersebut tidak secara langsung kelihatan pada saat itu.Hal ini
disebabkan karena kaum Mayoritas tidak sekuat saat sekarang ini,karena pada saat
itu kaum penjajah lebih kuat.Tetapi meskipun demikian percikan-percikan api
kecil kelihatan meskipun bersifat kedaerahan.

8
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Konseling kebidanan adalah suatu proses pembelajaran, pembinaan
hubungan baik, pemberian bantuan, dan bentuk kerja sama yang dilakukan secara
professional(sesuai dengan bidangnya) oleh bidan kepada klien untuk
memecahkan masalah, mengatasi hambatan perkembangan, dan memenuhi
kebutuhan klien.
Tujuan konseling diarahkan sebagai layanan yang membantu masalah
yang dihadapi klien.Oleh karna itu, bidan sebagai konselor harus berusaha
mengambangkan potensi yang ada agar dapat digunakan klien secara efektif,
bidan juga harus memiliki keterampilan-keterampilan dasar agar dapat
menjalankan tugasnya dengan baik.
Bidan dalam melakukan keterampilan konseling harus PD karena seorang
bidan yang merasa cemas dan tampak di wajahnya ketika memberi konseling
kepada klien maka kliennya juga merasa tidak nyaman dan cemas pula, yang akan
mempengaruhi interaksi secara keseluruhan.
Bidan juga harus dapat di percaya oleh kliennya karena apabila seorang
bidan tidak dapat dipercaya klien akan merasa terancam akan hal-hal pribadi yang
akan diungkapkan kepada konselor, sehingga proses konseling tidak akan berjalan
dengan baik dan maksimal.

B. Saran
1. Agar mahasiswa dapat menggali ilmu lebih dalam lagi dalam memahami
teori sehingga dapat diterapkan di lahan praktek.
2. Sebagai seorang bidan, seharusnya mampu membuat klien merasa
nyaman, untuk itu haruslah mempelajari lebih dalam keterampilan dasar
konseling.

9
DAFTAR PUSTAKA

Fitriasari.2009. Konseling (Komunikasi Interpersonal. akbidypsdmi.net. 26 April


2009. 05:08 PM.

Tyastuti, dkk., 2008. Komunikasi dan Konseling Dalam Praktik Kebidanan.


Yogyakarta: Fitramaya.

Uripni. 2003. KomunikasiKebidanan. Jakarta: EGC.

mustikanurse.blogspot.com/2006/12/komunikasi-dalam-pelayanan-
keperawatan_12.html. Tuesday, December 12, 2006. Komunikasi Dalam
Pelayanan Keperawatan II Oleh : Mustikasar

Wulandari diah.2009.Komunikasi dan konseling dalam praktik


kebidanan.Jogyakarta:Nuha medika

Febrina, 2008. Pengertian KIP/K (Komunikasi Inter Personal/ Konseling), dipos 8


Februari : 19.41 WIB.

Tyastuti, dkk., 2008, Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan,


Yogyakarta: Fitramaya.

Uripni, Sujianto, Indrawati, 2003. Komunikasi Kebidanan, Jakarta: EGC.

https://www.lusa.web.id/macam-macam-klien-dalam-asuhan-kebidanan/

10
KONSELING DALAM ASUHAN KEBIDANAN
KETERAMPILAN OBSERVASI
DAN KOMUNIKASI DALAM KEADAAN SPESIFIK

Oleh :

1. Tuminah 8. Sriwahyuni Sinaga


2. Rusyati 9. Siti Wahyuni Siregar
3. Sangkot Rupiah 10. Sari Sahenni Hasibuan
4. Sundari 11. Nurasiah Sirait
5. Siti Komariah Nasution 12. Warta Mariana Bt. Manik
6. Suhailan Fitri 13. Ummi Nana Raikhany
7. Syalliyah Rangkuti 14. Halimah Tusachdiya
15. Nurdina Yanti Harp

PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN


UNIVERSITAS AUFA ROYHAN
KOTA PADANG SIDIMPUAN
2019

11
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada penulis sehingga saya
berhasil menyelesaikan makalah “Konseling Dalam Asuhan Kebidanan
Keterampilan Observasi Dan Komunikasi Dalam Keadaan Spesifik” Penulis
menyadari bahwa makalah yang penulis selesaikan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari
bersifat membangun guna kesempurnaan makalah penulis selanjutnya.

Akhir kata, penulis menyucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Serta
penulis berharap agar makalah ini dapat bermamfaat untuk kita semua.

Padangsidimpuan, Oktober 2019

Penulis

i12
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian bidan ............................................................................ 2
B. Pengertian konseling ..................................................................... 6
C. Komunikasi dalam keadaan spesifik ............................................. 8

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .................................................................................. 10

DAFTAR PUSTAKA

13
ii
14
15
16