Anda di halaman 1dari 11

A.

Judul Percobaan : EFEK FOTOLISTRIK

B. Tujuan Percobaan
Menenetukan potensial penghenti, energi kinetik maksimum, energi foton, fungsi
kerja, dan tetapan Planck pada masing-masing panjang gelombang yang berbeda.

C. Dasar Teori
Fisika kuantum (yang dikenal juga dengan mekanika kuantum dan teori kuantum)
sebagian besar merupakan studi tentang dunia mikroskopik. Dalam dunia ini, banyak
kuantitas yang hanya ditemukan dalam jumlah minimum tertentu (elementer), atau
perkalian bilangan bulat jumlah elemter tersebut; kuantitas ini lalu disebut terkuantisasi.
Fisika kuantum berkembang sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Kelahirannya dimulai ketika para ilmuwan fisika menghadapi kenyataan, bahwa
sejumlah fenomena hasil eksperimen, yaitu masalah radiasi benda hitam, efek fotolistrik,
dan efek Compton, tidak dapat secara memuaskan dijelaskan berdasar pada teori fisika
yang telah ada. Setelah melalui berbagai perdebatan tentang bagaimana menjelaskan
fenomena yang “tidak terjelaskan” itu, maka lahirlah suatu cara berfikir baru, suatu
filosofi baru, dalam menghadapi realita fisis. Cara berfikir baru tersebut, dalam
bentuknya yang lebih kuantitatif disebut dengan fisika kuantum. Adapun salah satu
contoh dari peristiwa yang memerlukan penjelasan “secara kuantum” adalah efek
fotolistrik.
Efek fotolistrik pertama kali diketahui oleh Heinrich Hertz pada tahun 1887. Hertz
mengamati bahwa, pancaran muatan listrik di antara dua elektroda akan bertambah besar
bila elektroda tersebut disinari cahaya ultra-ungu. Fakta ini menunjukkan bahwa elektron
dapat terpancar dari permukaan suatu logam jika permukaan logam tersebut disinari
dengan cahaya yang sesuai. Peristiwa pemancaran elektron dari permukaan logam akibat
penyinaran disebut dengan efek fotolistrik. Hertz mendapati bahwa laju lepasan elektron
(fotoarus) dari permukaan logam bertambah besar dengan kenaikkan intensitas cahaya
yang dijatuhkan di permukaan logam tersebut. Selain itu, Hertz juga mengamati adanya
ketergantungan emisi elektron pada frekuensi cahaya yang dijatuhkan, yakni adanya
suatu nilai batas bawah frekuensi tertentu agar dapat terjadi emisi elektron. Betapapun
besar intensitas cahaya yang dijatuhkan pada permukaan logam, jika frekuensi dari
cahaya tersebut lebih rendah dari nilai ambang frekuensi tersebut, maka tidak terjadi efek
fotolistrik. Batas ambang bawah frekuensi cahaya tersebut memiliki harga berbeda untuk
logam yang berbeda.
Pada tahun 1903, Albert Einstein mengemukakan teorinya, bahwa elektron bebas
pada permukaan logam hanya dapat menyerap energi radiasi elektromagnetik yang
datang, dalam satuan catu energi tertentu, yakni sebesar ℎ𝑓, dengan 𝑓 frekuensi radiasi
tersebut, dan ℎ adalah tetapan Planck. Jika energi yang diperlukan oleh elektron untuk
lepas dari permukaan logam adalah 𝜙, maka catu lepas dari permukaan logam adalah 𝜙,
maka catu energi sebesar ℎ𝑓 tersebut harus memenuhi persamaan
ℎ𝑓 = 𝜙 + 𝐾

dengan 𝐾 adalah energi kinetik elektron yang terpancar. Nilai 𝜙 paling rendah dari suatu
logam disebut fungsi kerja logam, yang merupakan nilai energi pengikat elektron yang
paling rendah. Untuk elektron yang terikat paling lemah ini, maka energi kinetik yang
dimilikinya bernilai paling besar.
Selanjutnya Einstein menyatakan bahwa ketika cahaya diserap atau di pancarkan
oleh sebuah benda (materi), kejadian penyerapan atau pemancaran ini terjadi dalam atom
benda. Ketika cahaya dengan frekuensi 𝑓 diserap oleh sebuah atom, energi ℎ𝑓 dari satu
foton dipindahkan dari cahaya ke atom. Dalam kejadian penyerapan ini, foton lenyap dan
atom disebut menyerap foton. Ketika cahaya dengan frekuensi 𝑓 dipancarkan oleh
sebuah atom, jumlah energi ℎ𝑓 dipindahkan dari atom ke cahaya. Dalam kejadian
pemancaran ini, foton tiba-tiba muncul dan atom disebut memancarkan foton. Maka, kita
bisa mendapatkan penyerapan foton dan pemancaran foton oleh atom-atom sebuah benda
Energi dari elektron yang terlepas dapat diperoleh dengan menentukan berapa beda
1
potensial yang harus diberikan untuk menghentikan gerakannya, maka 2
𝑚𝑣 2 = 𝑒𝑉𝑃 .

Untuk sebagian besar elektron,


ℎ𝑓 − 𝜙 = 𝑒𝑉𝑃
dimana 𝑉𝑃 disebut potensial penghenti.
Untuk sembarang permukaan, radiasi harus memiliki panjang gelombang yang
cukup pendek sehingga energi fotonnya ℎ𝑓 cukup besar untuk mengeluarkan elektron.
Untuk logam-logam biasa, panjang gelombang ambang terletak dalam rentang cahaya
tampak atau ultraviolet. Sinar-X dengan mudah akan mengeluarkan fotoelektron, foton
inframerah jauh tidak akan mampu melakukan hal itu.

Jika Anda mengarahkan berkas cahaya dengan panjang gelombang yang cukup
pendek ke suatu permukaan logam yang bersih, cahaya akan menyebabkan elektron
meninggalkan permukaan tersebut (cayaha akan mengeluarkan elektron dari permukaan).
Efek fotolistrik inidigunakan dalam banyak peralatan, termasuk kamera TV, kamera
perekam, dan teropong malam. Einstein mendukung konsep fotonnya dengan
menggunakan konsep tersebut untuk menjelaskan efek ini, yang tidak dapat dipahami
tanpa fisika kuantum.
D. Alat dan Bahan
1. Seperangkat laptop
2. Software simulasi efek fotolistrik Phet
3. Java Runtime Environment

E. Variabel
1. Variabel bebas: panjang gelombang
2. Variabel kontol: jenis plat dan intensitas cahaya
3. Variabel terikat: potensial penghenti, energi kinetik maksimum, energi foton, fungsi
kerja, dan tetapan Planck
F. Hasil Pengamatan
No Jenis Plat Panjang Gelombang (nm) Tegangan (V)
1. 469 0,2
2. 452 0,4
Sodium
3. 428 0,6
4. 392 0,8

G. Pengolahan Data
Dik: 𝜆1 = 469 𝑛𝑚 = 469 × 10−9 𝑚
𝑉1 = 0,2 𝑉
𝜆2 = 452 𝑛𝑚 = 452 × 10−9 𝑚
𝑉2 = 0,4 𝑉
𝜆3 = 428 𝑛𝑚 = 428 × 10−9 𝑚
𝑉3 = 0,6 𝑉
𝜆4 = 392 𝑛𝑚 = 392 × 10−9 𝑚
𝑉4 = 0,8 𝑉
ℎ = 6,625 × 10−34 𝐽𝑠
𝑐 = 3 × 108 𝑚/𝑠
𝑒 = 1,6 × 10−19 𝐶
Ditanya:
a. Tentukan energi kinetik untuk setiap panjang gelombang
b. Tentukan energi foton untuk setiap panjang gelombang
c. Tentukanlah fungsi kerja untuk setiap panjang gelombang
d. Ujilah tetapan planck berdasarkan persmaan potensial penghenti yaitu:
𝐾
𝑉𝑃 =
𝑒
Jawab:
a. Menentukan energi kinetik maksimum (𝐾)
 𝐾1 = 𝑒𝑉𝑃1
𝐾1 = (1,6 × 10−19 𝐶)(0,2 𝑉)
𝐾1 = 0,32 × 10−19 𝐽
𝐾1 = 0,0032 × 10−17 𝐽
 𝐾2 = 𝑒𝑉𝑃2
𝐾2 = (1,6 × 10−19 𝐶)(0,4 𝑉)
𝐾2 = 0,64 × 10−19 𝐽
𝐾2 = 0,0064 × 10−17 𝐽
 𝐾3 = 𝑒𝑉𝑃3
𝐾3 = (1,6 × 10−19 𝐶)(0,6 𝑉)
𝐾3 = 0,96 × 10−19 𝐽
𝐾3 = 0,0096 × 10−17 𝐽
 𝐾4 = 𝑒𝑉𝑃4
𝐾4 = (1,6 × 10−19 𝐶)(0,8 𝑉)
𝐾4 = 1,28 × 10−19 𝐽
𝐾4 = 0,0128 × 10−17 𝐽

b. Menentukan energi foton (𝐸)


ℎ𝑐
 𝐸1 = 𝜆
1
(6,625 × 10−34 𝐽𝑠)(3 × 108 𝑚/𝑠)
𝐸1 =
469 × 10−9 𝑚
𝐸1 = 0,0424 × 10−17 𝐽
ℎ𝑐
 𝐸2 = 𝜆
2
(6,625 × 10−34 𝐽𝑠)(3 × 108 𝑚/𝑠)
𝐸2 =
452 × 10−9 𝑚
𝐸2 = 0,0439 × 10−17 𝐽
ℎ𝑐
 𝐸3 = 𝜆
3
(6,625 × 10−34 𝐽𝑠)(3 × 108 𝑚/𝑠)
𝐸3 =
428 × 10−9 𝑚
𝐸3 = 0,0464 × 10−17 𝐽
ℎ𝑐
 𝐸4 = 𝜆
4
(6,625 × 10−34 𝐽𝑠)(3 × 108 𝑚/𝑠)
𝐸4 =
392 × 10−9 𝑚
𝐸4 = 0,0507 × 10−17 𝐽

c. Menentukan fungsi kerja (𝜙)


 𝜙1 = 𝐸1 − 𝐾1
𝜙1 = 0,0424 × 10−17 𝐽 − 0,0032 × 10−17 𝐽
𝜙1 = 0,0392 × 10−17 𝐽
 𝜙2 = 𝐸2 − 𝐾2
𝜙2 = 0,0439 × 10−17 𝐽 − 0,0064 × 10−17 𝐽
𝜙2 = 0,0375 × 10−17 𝐽
 𝜙3 = 𝐸3 − 𝐾3
𝜙3 = 0,0464 × 10−17 𝐽 − 0,0096 × 10−17 𝐽
𝜙3 = 0,0368 × 10−17 𝐽
 𝜙4 = 𝐸4 − 𝐾4
𝜙4 = 0,0507 × 10−17 𝐽 − 0,0128 × 10−17 𝐽
𝜙4 = 0,0379 × 10−17 𝐽

d. Menentukan tetapan planck (ℎ)


𝐸
𝐸 = ℎ𝑓, 𝑓=ℎ
𝐸1
 𝑓1 = ℎ
0,0424 × 10−17 𝐽
𝑓1 =
6,625 × 10−34 𝐽𝑠
𝑓1 = 0,64 × 1015 𝐻𝑧
𝐸2
 𝑓2 = ℎ
0,0439 × 10−17 𝐽
𝑓2 =
6,625 × 10−34 𝐽𝑠
𝑓2 = 0,66 × 1015 𝐻𝑧
𝐸3
 𝑓3 = ℎ
0,0464 × 10−17 𝐽
𝑓3 =
6,625 × 10−34 𝐽𝑠
𝑓3 = 0,70 × 1015 𝐻𝑧
𝐸4
 𝑓4 = ℎ
0,0507 × 10−17 𝐽
𝑓4 =
6,625 × 10−34 𝐽𝑠
𝑓4 = 0,77 × 1015 𝐻𝑧
Dengan
𝐾 ℎ𝑓 𝜙
𝑉𝑃 = = −
𝑒𝑒 𝑒 𝑒
𝜙
𝑉𝑃 + 𝑒
ℎ= 𝑒
𝑓
𝑒𝑉𝑃 + 𝜙
ℎ=
𝑓
𝑒𝑉𝑃1 +𝜙1
 ℎ1 = 𝑓1
(1,6 × 10−19 𝐶)(0,2 𝑉) + 0,0392 × 10−17 𝐽
ℎ1 =
0,64 × 1015 𝐻𝑧
−19
(1,6 × 10 𝐶)(0,2 𝑉) + 3,92 × 10−19 𝐽
ℎ1 =
0,64 × 1015 𝐻𝑧
−34
ℎ1 = 6,625 × 10 𝐽𝑠
𝑒𝑉𝑃2 +𝜙2
 ℎ2 = 𝑓2
(1,6 × 10−19 𝐶)(0,4 𝑉) + 0,0375 × 10−17 𝐽
ℎ2 =
0,66 × 1015 𝐻𝑧
−19
(1,6 × 10 𝐶)(0,4 𝑉) + 3,75 × 10−19 𝐽
ℎ2 =
0,66 × 1015 𝐻𝑧
−34
ℎ2 = 6,651 × 10 𝐽𝑠
𝑒𝑉𝑃3 +𝜙3
 ℎ3 = 𝑓3
(1,6 × 10−19 𝐶)(0,6 𝑉) + 0,0368 × 10−17 𝐽
ℎ3 =
0,70 × 1015 𝐻𝑧
−19
(1,6 × 10 𝐶)(0,6 𝑉) + 3,68 × 10−19 𝐽
ℎ3 =
0,70 × 1015 𝐻𝑧
ℎ3 = 6,629 × 10−34 𝐽𝑠
𝑒𝑉𝑃4 +𝜙4
 ℎ4 = 𝑓4
(1,6 × 10−19 𝐶)(0,8 𝑉) + 0,0379 × 10−17 𝐽
ℎ4 =
0,77 × 1015 𝐻𝑧
(1,6 × 10−19 𝐶)(0,8 𝑉) + 3,79 × 10−19 𝐽
ℎ4 =
0,77 × 1015 𝐻𝑧
−34
ℎ4 = 6,584 × 10 𝐽𝑠
H. Pembahasan
Ketika mendapatkan besarnya tegangan penghenti dari masing-masing panjang
gelombang cahaya, didapatkan arus listrik tertentu. Tegangan penghenti ini tidak
bergantung dari intensitas cahaya yang datang. Hal ini bisa dijelaskan bahwa energi
cahaya terdiri dari kuanta diskrit yang memiliki energi sebesar ℎ𝑓. Usaha elektron untuk
bisa lepas dari permukaan logam akibat diberikannya energi oleh foton disebut sebagai
fungsi kerja.
Panjang
Energi Kinetik Tetapan Planck
gelombang Intensitas Fungsi Kerja (J)
Maksimum (J) (J.s)
(nm)

469 0,0032 × 10−17 0,0392 × 10−17 6,625 × 10−34

452 0,0064 × 10−17 0,0375 × 10−17 6,651 × 10−34


100%
428 0,0096 × 10−17 0,0368 × 10−17 6,629 × 10−34

392 0,0128 × 10−17 0,0379 × 10−17 6,584 × 10−34

0.00395

0.0039

0.00385

0.0038
𝜙 (10-17 J)

0.00375

0.0037

0.00365

0.0036

0.00355
469 452 428 392

𝜆 (10-9 m)

Grafik 1.1 Hubungan panjang gelombang (𝜆) terhadap fungsi kerja (𝜙)
0.014

0.012

0.01
K (10-17 J)

0.008

0.006

0.004

0.002

0
469 452 428 392

𝜆 (10-9 m)

Grafik 1.2 Hubungan panjang gelombang (𝜆) terhadap energi kinetik maksimum (𝐾)
6.66

6.64

6.62
h (10-34 J.s)

6.6

6.58

6.56

6.54
469 452 428 392

𝜆 (10-9 m)

Grafik 1.3 Hubungan panjang gelombang (𝜆) terhadap tetapan Planck (ℎ)

Dari Grafik 1.1 dapat diketahui hubungan antara panjang gelombang (𝜆) dengan
fungsi kerja (𝜙) terlihat grafik yang turun kemudian naik, hal ini terjadi karena fungsi kerja
dipengaruhi selisih antara energi kinetik maksimum dan energi foton. Pada Grafik 1.2 dapat
diketahui panjang gelombang (𝜆) berbanding terbalik dengan energi kinetik maksimum (𝐾).
Hal ini terjadi karena energi kinetik (𝐾) sebanding dengan tegangan, akan tetapi tengangan
(𝑉) berbanding terbalik dengan panjang gelombang (𝜆). Pada grafik 1.3 hubungan panjang
gelombang (𝜆) terhadap tetapan Planck (ℎ) terlihat grafik yang naik turun, hal ini terjadi
karena seharusnya tetapan Planck (ℎ) adalah tetap 6,6 × 10−34 𝐽. 𝑠, dari percobaan yang
kami lakukan sudah mendekati dengan tetapan Planck yang seharusnya
I. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pada saat suatu sel foto menerima cahaya maka arus listrik akan mengalir.
2. Tegangan yang muncul pada simulator saat melakukan percobaan efek fotolistrik,
merupakan tegangan penghenti yang dapat menghentikan proses efek fotolistrik.
3. Energi kinetik maksimum berbeda-beda tergantung dengan panjang gelombang.
4. Nilai tetapan Planck adalah sekitar 6,6 × 10−34 𝐽. 𝑠.