Anda di halaman 1dari 38

KEPERAWATAN JIWA II

“TRAFFICKING”

Disusun Oleh :

1. Fuji Lestari 21117054


2. Hani Nur azizah Batubara 21117058
3. Helison 21117059
4. Ilhami Nadion 21117067
5. Jeihan Archya 21117070
6. Meireza 21117081
7. Nasri Morsalin 21117087
8. Nur Azizah 21117089

KELAS 3 B

Dosen Pembimbing: Inne Yelisni, S.Kep.,Ns.,M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG

TAHUN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia
yang telah diberikan kepada kami sehingga bisa menyelesaikan Tugas Makalah Keperawatan
Jiwa II “Trafficking”

Dalam penyusunan Tugas ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami
menyadari bahwa dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan
bimbingan dari beberapa orang, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi.

Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan
demi penyempurnaan pembuatan makalah ini dan bila untuk makalah selanjutnya.Semoga materi
ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan,
khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Aamiiin

Palembang, November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................... Error! Bookmark not defined.

A. Latar Belakang ............................................................. Error! Bookmark not defined.

B. Rumusan Masalah ......................................................................................................... 3

C. Tujuan Penulisan ........................................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN TEORI ................................................................................................... 4

A. Definisi Human Trafficking .......................................................................................... 4

B. Faktor-Faktor Penyebab Human Trafficking ................................................................ 7

C. Bentuk dan Modus Human Trafficking ...................................................................... 13

D. Undang-Undang tentang Human Trafficking ............................................................. 21

E. Dampak / Pengaruh Human Trafficking ..................................................................... 25

F. Pencegahan dan Penanggulangan Human Trafficking ............................................... 30

BAB III PENUTUP ............................................................................................................... 32

A. Kesimpulan ................................................................................................................. 32

B. Saran ............................................................................................................................ 32

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 33

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perdagangan orang (human trafficking) merupakan bentuk perbudakan secara


modern, terjadi baik dalam tingkat nasional dan internasional. Dengan
berkembangnya teknologi informasi, komunikasi dan transformasi maka modus
kejahatan perdagangan manusia semakin canggih. “Perdagangan orang/manusia
bukan kejahatan biasa (extra ordinary), terorganisir (organized), dan lintas negara
(transnational), sehingga dapat dikategorikan sebagai transnational organized crime
(TOC)”.
Demikian canggihnya cara kerja perdagangan orang yang harus diikuti dengan
perangkat hukum yang dapat menjerat pelaku. Diperlukan instrument hukum secara
khusus yang meliputi aspek pencegahan, perlindungan, rehabilitasi, repratriasi, dan
reintegrasi sosial. Perdagangan orang dapat terjadi pada setiap manusia, terutama
terhadap perempuan, dengan demikian upaya perlindungan terhadap perempuan dan
anak merupakan hal yang harus diimplementasikan.
Kasus perdagangan orang yang terjadi, hampir seluruh kasus yang ditemukan
dalam perdagangan manusia korbannya adalah perempuan dan anak. Diperkirakan
setiap tahunnya 600.000-800.000 laki-laki, perempuan dan anak-anak diperdagangkan
menyeberangi perbatasan-perbatasan internasional. Di Indonesia jumlah anak yang
tereksploitasi seksual sebagai dampak perdagangan anak diperkirakan mencapai
40.000-70.000 anak. Disamping itu, dalam berbagai studi dan laporan NGO
menyatakan bahwa Indonesia merupakan daerah sumber dalam perdagangan orang,
disamping juga sebagai transit dan penerima perdagangan orang.

Dari berbagai macam kejahatan yang ada, masalah perdagangan orang sangat
kompleks, sehingga upaya pencegahan maupun penanggulangan korban perdagangan
harus dilakukan secara terpadu. Adapun beberapa factor pendorong terjadinya
perdagangan orang antara lain meliputi kemiskinan, desakan kuat untuk bergaya
hidup materialistik, ketidakmampuan system pendidikan yang ada maupun masyarakat
untuk mempertahankan anak supaya tidak putus sekolah dan melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi serta petugas Kelurahan dan Kecamatan yang membantu pemalsuan

1
KTP.
Secara umum korban perdagangan orang terutama perempuan yang dilacurkan
dan pekerja anak adalah korban kriminal dan bukan pelaku kriminal. Elemen
perdagangan orang meliputi pelacuran paksa, eksploitasi seksual, kerja paksa mirip
perbudakan, dan transplantasi organ tubuh. Korban perdagangan orang memerlukan
perlindungan, direhabilitasi, dan dikembalikan kepada keluarganya.
Salah satu faktor tingginya kasus perdagangan orang yang pada umumnya
perempuan, disebabkan oleh dijanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi di luar daerah,
dengan korban adalah kalangan perempuan usia remaja yang ingin mencari kerja.
Dimana, kasus perdagangan orang khususnya perempuan yang sangat tidak
manusiawi tersebut, merupakan praktik penjualan perempuan dari satu agen ke agen
berikutnya. Semakin banyak agen yang terlibat, maka semakin banyak pos yang akan
dibayar oleh perempuan tersebut, sehingga gaji mereka terkuras oleh para agen
tersebut.
Fenomena tersebut perlu diantisipasi agar jaringan seperti rantai tersebut dapat
diberantas dan diputuskan melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan terlebih dahulu
disosialisasikan agar masyarakat memahami khususnya kaum perempuan. Tingginya
angka migrasi penduduk serta kemiskinan. Diduga ada peningkatan kualitas dan
kuantitas kasus perdagangan anak dan perempuan (trafficking). Kemunculan kasus
perdagangan tenaga kerja perempuan merupakan dampak langsung dari tidak
sejahteranya masyarakat. Sebagian masyarakat cenderung mencari jalan pintas untuk
bangkit dari kemiskinan. Fenomena ini memunculkan keprihatinan, sehingga perlu
adanya langkah proaktif. Cara pintas yang diambil masyarakat kerap mengorbankan
masa depan generasi muda. Pengiriman tenaga kerja ke luar daerah, seringkali tanpa
mempertimbangkan legalitas dari jalur pengiriman. Ada kecenderungan jalur
perdagangan orang diawali dengan berkedok penyaluran pembantu rumah tangga.

2
B. Rumusan Masalah

Adapun Rumusan Masalah pada Makalah ini yaitu:

1. Jelaskan Definisi Trafficking Human

2. Jelaskan Faktor- Faktor Penyebab Human Trafficking

3. Jelaskan Bentuk dan Modus Human Trafficking

4. Jelaskan Undang- undang tentang Human Trafficking

5. Jelaskan Dampak/ Pengaruh Human Trafficking!

6. Jelaskan Pencegahan dan Penanggulangan Human Trafficking

C. Tujuan Penulisan

Adapun Tujuan Penulisan pada Makalah ini yaitu:

1. Untuk Mengetahui dan Memahami Definisi Human Trafficking

2. Untuk Mengetahui dan Memahami Faktor- Faktor Penyebab Human


Trafficking.
3. Untuk Mengetahui dan Memahami Bentuk dan Modus Human Trafficking

4. Untuk Mengetahui dan Memahami Undang- undang tentang Human


Trafficking
5. Untuk Mengetahui dan Memahami Dampak/ Pengaruh Human Trafficking

6. Untuk Mengetahui dan Memahami Pencegahan dan Penanggulangan Human


Trafficking

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi Trafficking Human

Trafficking adalah konsep dinamis dengan wujud yang berubah dari waktu
kewaktu, sesuai perkembangan ekonomi, sosial dan politik. Sampai saat ini tidak ada
definisi trafficking yang disepakati secara internasional, sehingga banyak perdebatan
dan respon tentang definisi yang dianggap paling tepat tentang fenomena kompleks
yang disebut trafficking ini.

Pada tahun 1994 PBB mendefinisikan trafficking sebagai pergerakan dan


penyelundupan orang secara sembunyi-sembunyi melintasi batas-batas negara dan
internasional, kebanyakan berasal dari negara berkembang dan negara-negara yang
ekonominya berada dalam masa transisi, dengan tujuan untuk memaksa perempuan
dan anak-anak masuk ke dalam sebuah situasi secara seksual maupun ekonomi
terkompresi, dan situasi eksploitatif demi keuntungan perekrut, penyelundup, dan
sindikat kriminal seperti halnya aktivitas ilegal lainnya yang terkait dengan
perdagangan (trafficking), misalnya pekerja rumah tangga paksa, perkawinan palsu,
pekerja yang diselundupkan dan adopsi palsu.

Menurut resolusi senat AS no. 2 tahun 199, trafficking adalah salah satu atau
lebih bentuk penculikan, penyekapan, perkosaan, penyiksaan, buruh paksa atau
praktek-praktek seperti perbudakan dan menghancurkan hak asasi manusia.
Trafficking memuat segala tindakan yang termasuk dalam proses rekruitmen atau
pemindahan orang di dalam ataupun antar negara, melibutkan penipuan, paksaan atau
dengan tujuan menempatkan orang-orang pada situasi penyiksaan atau eksploitasi
seperti prustitusi paksa, penyiksaan dan kekejaman luar biasa, buruh di pabrik dengan
kondisi buruk atau pekerja rumah tangga yang dieksploitasi

4
Human trafficking atau perdagangan manusia oleh Perserikatan Bangsa-
bangsa (PBB) mendefinisikan sebagai perekrutan, pengiriman, pemindahan,
penampungan atau penerimaan seseorang dengan ancaman, penggunaan kekerasan,
perbudakan, pemaksaan, pemerangkapan utang ataupun bentuk-bentuk penipuan yang
lainnya dengan tujuan eksploitasi (Course Instruction, 2011:2).

Perdagangan manusia berhubungan dengan menjajakan diri


(memperdagangkan), tawar-menawar, membuat kesepakatan, melakukan transaksi
dan hubungan seksual (Taiwan Medicare, 2012).
Perdagangan manusia melakukan pemindahtanganan seseorang dari satu pihak
ke pihak yang lainnya dengan menggunakan ancaman, penipuan dan penguasaan.
Perdagangan manusia mengandung elemen pengalihan yang tujuannya bisa untuk apa
saja baik eksploitasi tenaga kerja, pembantu rumah tangga, pengambilan organ tubuh
dan sampai kepada eksploitasi seks komersil (Wagner, 2004).
Misalnya Caouette memberi batasan tentang perdagangan sebagai suatu
perekrutan dan transfortasi orang atau sekelompok orang di dalam dan melawati
perbatasan nasional menggunakan kekerasan terhadap orang lain. para korban dirayu,
ditipu, diculik atau dalam berbagai cara diakali untuk masuk prostitusi.
Menurut Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang
(PTPPO) pasal 1 ayat 1, dedinisi trafficking adalah tindakan perekrutaan,
pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang
dengan ancaman kekerasan, penculikan, penipuan, penyekapan, peyalahgunaan
kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan hutang atau memberi bayaran atau manfaat,
sehingga memperoleh peretujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain
tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan
eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.

Sebelum Undang-undang tindak pidana disahkan, pengertian tindak pidana


perdagangan orang (trafficking) yang umum paling banyak digunakan adalah protokol
PBB. Adapun menurut protokol PBB tersebut pengertian trafficking adalah:
a. Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penjualan, penampungan atau penerimaan
seseorang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk lain
dari pemaksaan, penculikan, penipuan, kebohongan atau penyaalah gunaan
kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau
5
memperoleh keuntungan agar dapat memperoleh persetujuan dari seseorang yang
berkuasa atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi. Eksploitassi termasuk, paling
tidak eksploitasi untuk melacurkan orang lain atau bentuk-bentuk lain dari
eksploitasi seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktek-praktek
serupa perbudakan, pengahambaa atau pengambilan organ tubuh.
b. Persetujuan korban perdagangan orang terhadap eksploitasi yang dimaksud yang
dikemukakan dalam sub line (a).
c. Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan atau penerimaan seorang anak
untuk tujuan eksploitasi dipandang sebagai perdagangan orang bahkan jika kegiatan
ini tidak melibatkan satu pun cara yang dikemukakan dalam sub babline (a).
d. Anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 tahun.

Pengertian di atas tidak menekankan pada perekrutan dan pengiriman yang


menentukan suatu perbuatan tersebut adalah tindak pidana perdagangan orang, tetapi
juga kondisi eksploitatif terkait ke dalam mana orang diperdagangkan.
Dari pengertian tersebut ada tiga unsur yang berbeda yang saling berkaitan
satu sama lainnya, yaitu:
a. Tindakan atau perbuatan yang dilakukan, yaitu perekrutan, pengiriman,
pemindahan, penampungan atau penerimaan seseorang.

b. Cara: menggunakan ancaman, penggunaan kekerasa atau bentuk-bentuk paksaan


lain, penculikan, tipu daya, penipuan, pemberian atau penerimaan pembayaran atau
keuntungan untuk memperoleh persetujuan dari orangorang.
c. Tujuan atau maksud, untuk tujuan eksploitsi. Eksploitasi mencakup
setidaktidaknya eksploitasi pelacuran dari orang lain atau bentuk-bentuk eksplotasi
seksual lainnya, kerja paksa, perbudakan, pengahambaan atau pengambilan organ
tubuh.
Dari definisi di atas ada beberapa hal yang menjadi ciri utama dari beberapa
pengertian trafficking yaitu:
a. Adanya proses perekrutan, pengiriman, eksploitasi, pemindahan, penampungan
atau penerimaan manusia baik itu lintas wilayah maupun negara.
b. Ada pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan perempuan
maupun anak untuk melakukan sebuah pekerjaan (dibayar atau tidak), sebagai
hubungan kerja yang eksploitatif (secara ekonomi atau seksusal), baik itu TKW,
6
prostitusi, buruh manual atau industri, perkawinan paksa, atau pekerjaan lainnya.
c. Ada korban baik perempuan maupun anak yang karena keperempuanan dan
kekanakannya dimanfaatkan dan di eksploitasi baik secara ekonomi maupun
seksual, guna kepentingan pihak-pihak tertentu dengan cara paksa, disertai
ancaman, maupun tipuan ataupun penculikan, penipuan, kebohongan, kecurangan
atau penyalahgunaan kekuasaan. Dalam hal ini termasuk juga terhadap beberapa
korban yang menyatakan persetujuan yang mana dipahami bahwa situasi-situai
tertentu yang mengakibatkan para korban setuju, misalnya karena kebutuhan
ekonomi, ada tekanan kekuasaan dan lain sebagainya.

Melihat dari beberapa definisi yang telah dipaparkan tentang pengertian


trafficking di atas dapat diambil benang merahnya bahwa kategori trafficking akan
terpenuhi apabila memenuhi tiga unsur yaitu: proses, jalan atau cara dan tujuan.
Proses disni meliputi perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan dan
penjualan, sedangkan cara atau jalannya ialah dengan kekerasan, pemaksaan,
penipuan, kebohongan dan penculikan. Adapun tujuannya adalah untukeksploitasi,
baik seksual atupun ekslpoitasi yang lain seperti perbudakan dan menjadikan pelayan.

B. Faktor- Faktor Penyebab Trafficking Human

Terjadinya Trafficking baik itu berupa kasus kekerasan maupun eksploitasi


terhadap anak-anak dan perempuan disebabkan oleh beberapa factor khususnya di
Indonisia diantaranya ialah sebagai berikut:
1. Faktor Ekonomi

Ekonomi yang minim atau disebut kemiskinan menjadi factor penyebab utama
terjadinya Human Trafficking. Ini menunjukkan bahwa perdagangan manusia
merupakan ancaman yang sangat membahayakan bagi orang miskin. Sudah bukan
menjadi rahasia umum lagi bahwa rendahnya ekonomi membawa dampak bagi
prilaku sebagian besar masyarakat. Ekonomi yang pas-pasan menuntut mereka
untuk mencari uang dengan berbagai cara. Selain itu budaya konsumvitisme, juga
ikut andil menambah iming-iming masyarakat untuk mencari biaya penghidupan.
Semua ini menjadikan mereka dapat terjerumus ke dalam prostitusi dan tindak
asusila lainnya.

7
Di sisi yang lain kurangnya lahan pekerjaan atau masih banyaknya angka
pengangguran melengkapi rendahnya pendapatan atau ekonomi masyarakat.
Keterbatasannya lahan pekerjaan yang dapat menampung perempuan dengan
tingkat keterampilan yang minim menyebabkan banyak perempuan-perempuan
menganggur sehingga kondisi inilah yang dipergunakan dengn baik oleh para
perantara yang menyarankan perempuan-perempuan untuk bekerja. Mereka
dijanjikan untuk bekerja di dalam kota, atau di luar negeri. Dalam bujukan
tersebut, tidak dijelaskan secara detail pekerjaan apa yang akan didapatkan.
Biasanya para perantara hanya memberikan iming-iming gaji atau upah yang besar.
Tanpa disadari, korban telah terjebak penipuan dalam hal ini sebagai pelayan seks.
Biasanya mereka bersedia bekerja di manapun ditempatkan. Oleh karena itu
ketika ada perantara yang menawarkan sebuah pekerjaan dengan iming-iming
upah atau gaji yang besar maka mereka akan menyambut dengan senang hati
tawaran tersebut. Tawaran ini selalu menjadi dewa penyelamat untuk
menyelesaikan kondisi ekonomi. Namun pada hakikatnya hal tersebut adalah
sasaran empuk bagi para calo untuk dijadikan korban trafficking.
Pada wilayah anak-anak, putus sekolah menyebabkan mereka untuk
memaksakan diri mereka sendiri untuk memasuki dunia kerja. Mereka dipaksa
kerja untuk bisa meringankan beban keluarga. Tidak jarang anakanak menjadi
korban eksploitasi seksual komersial dan trafficking terhadap anak karena orang tua
mereka sudah tidak sanggup lagi membiayai. Keluarga yang miskin mungkin
tidak sanggup untuk mengirim anak mereka ke sekolah dan biasanya akan
mendahulukan pendidikan bagi anak laki-laki jika mereka hanya mampu
mengirim sebagian anak-anak mereka ke sekolah. Jika orang tua tidak mampu
mencari pekerjaan, maka anak akan mereka suruh bekerja diladang atau di
pabrekatau di dalam situasi yang lebih berbahaya serta jauh dari rumah seperti
diluar kota atau di luar negeri.
Melalui semua jalur ini, kemiskinan membuat anak dan perempuan semakin
rentan terhadap trafficking. Pemaknaan ekonomi rendah juga bisa diaplikasikan
pada orang yang terjerat banyak hutang. Jeratan hutang tersebut yang pada
akhirnya berujung fenomina yang disebut “Buruh Ijon”, yaitu suatu pekerjaan
yang dilakukan oleh seseorang yang dianggap sebagai pembayaran hutang.
Adapun kasus jeratan hutang bisa terjadi pada siapapun. Pada kasus trafficking
8
mudus yang biasa terjadi dengan cara penipuan. Buruh migrah telah menempatkan
diri mereka dalam jeratan hutang. Di mana mereka setuju untuk membuat
pinjaman uang untuk membayar biaya perjalanan mereka. Korban hutang
tersebut kemudian harus bekerja sampai hutangnya lunas, biasanya trafficker
meminta melunasi sesuai permintaannya. Ada yang sebagai pekerja seks,
pembantu rumah tangga dan masih banyak yang lain. Kekerasan dan eksploitasi
yang terperangkap dalam buruh ijon bekerja pada rumah tangga sebagai pembantu
atau penjaga anak, direstauran, toko-toko kecil, di pabrek- pabrek atau pada
industri seks. Tapi menjadi rahasia umum apabila masih gadis maka melunasi
dengan bekerja sebagai pekerja seks.
Karena itulah jeratan hutang dapat mengarah pada kerja paksa. Sedangkan
kerja paksa membuka besarnya kemungkinan untuk kekerasan dan eksploitasi
terhadap pekerja. Pada kondisi seperti di atas, pekerja kehilangan kebebasannya
untuk bergerak karena orang yang menguasai hutang ingin memastikan bahwa
pekerja tidak berusah melarikan diri dari hutangnya. Bahkan para korban
disembunyikan dari penegak hukum, polisi dan masyarakat luas. Pada akhirnya
rendahnya ekonomi berujung pada penerimaan pinjaman para calo agar mereka
dapat bekerja akan tetapi mereka tidak memahami bahaya yang akan menimpanya.

2. Posisi Subordinat Perempuan dalam Sosial dan Budaya

Seperti halnya kondisi pedagangan manusia yang terjadi di dunia, untuk


Indonisia penelitian-penelitia yang dilakukan di lembaga pendidikan dan LSM
menunjukkan sebagian besar korban perdagangan manusia adalah perempuan dan
anak-anak. Indonisia adalah suatu masyarakat yang patrialkhal, suatu struktur
komonitas dimana kaum laki-laki yang lebih memegang kekuasaan, dipersepsi
sebagai struktur yang mendegorasi perempuan baik dalam kebijakan pemerrintah
maupun dalam prilaku masyarakat. Misalnya perumusan tentang kdudukan istri
dalam hokum perkawinan, kecenderungan untuk membayar upah buruh wanita di
bawah upah buruh laki-laki, atau kecenderungan lebih mengutamakan anak laki-
laki dari pada anak perempuan dalam bidang pendidikan, merupakan salah satu
refleksi keberadaan permpuan dalam posisi subordinat dibandingkan dengan laki-
laki.
Kondisi perekonomian yang lemah serta kontrusksi masyarakat yang ada

9
menempatkan hakperempuan dalam posisi yang lebih tidak menguntungkan.
Meskipun dalam pasal 3 perjanjian tentang hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
tahun 1966 menyatakan bahwa adanya persamaan bagi laki- laki dan perempuan
untuk memperoleh hak ekonomi, sosial dan budaya. Namun kenyataannya HAM
di Indonesia masih belum menyentuh masyarakat karena masih kuatnya
diskriminasi terhadap perempuan.
3. Faktor Pendidikan

Tingkat pendidikan yang rendah juga sangat mempengaruhi kekerasan dan


eksploitasi terhadap anak dan perempuan. Banyaknya anak yang putus sekolah,
sehingga mereka tidak mempunyai skill yang memadai untuk mempertahankan
hidup. Implikasinya, mereka rentan terlibat kriminalitas. Survei Sosial Ekonomi
Nasional Tahun 2000 lalu melaporkan bahwa 34,0% penduduk Indonisia berusia
10 tahun ke atas belum atau tidak tamat pendidikan dasar (SD) dan hanya 15%
tamat SLTP. Menurut laporan BPJS Tahun 2000 juga terdapat 14% anak usia 7-
12 tahun dan 24% anak usia 13-15 tahun tidak melanjutka kejenjang pendidikan
SLTP karena alasan ketidak mampuan dalam hal biaya.

Melihat data di atas tampak bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih


banyak yang bertaraf rendah tingkatannya dalam hal pendidikan. Rendahnya
tingkat pendidikan serta minimnya keterampilan atau skill menyebabkan
sebagian besar dari permpuan menganggur serta menghabiskan sebagian besar
hidup dan waktunya di rumah. Dan pada akhirnya tidak menghasilkan keuangan
bahkan mengurani pemasukan. Sebenarnya tidak hanya kaum perempuan yang
menganggur akan tetapi laki-laki juga mengalami hal yang serupa. Tampak bahwa
setip tahun ribuan orang meninggalkan kampung halamannya dan snak
keluarganya demi mencari keja atau penghidupan yan lebih layak di daerah lain
Indonesia atau bahkan keluar negeri.

Namun dari data di atas menunjukkan bahwa kaum perempuan yang paling
banyak menganggur. Kedaan inilah yangmenyebabkan mereka menerima tawaran
pekerjaan oleh para perantara yang yang mereka tidak menyadarinya sebagai
trafficker meskipun belum menegtahui seberapa besar uapah atau gaji yang akan
diterimanya.

10
4. Tidak Ada Akta Kelahiran

Sebuah studi yang dipublikasikan oleh UNICEF APADA mei 2002 yang lalu
memperkirakan bahwa hingga tahun 2000 lalu, 37% balita Indonesia belum
mempunyai akta kelahiran. Pasal 9 konvensi mengenai hak-hak anak menentukan
bahwa semua anak harus didaftarkan segera setelah kelahirannya dan juga harus
mempunyai nama serta kewarganegaraan. Ada bermacam- macam alasan
mengapa banyak anak tidak terdaftar kelahirannyaa. Orang tua yang miskin
mungkin merasa biaya pendaftaran terlalu mahal atau mereka tidak menyadari
pentingtnya akata kelahiran.

Banyak yang tidak tahu bagaimana mendaftarkan seorang bayi yang baru
lahir. Rendahnya registrasi. Kelahiran, khususnya di masyarakat desa menjadi
fasilistas perdagangan manusia. Agen dan pelaku perdagangan memanfaatkan
ketiadaan akta kelahiran asli untuk memalsukan umur perempuan muda agar
mereka dapat bekerja di luar negeri. karena mereka tidak mempunyai dokumin
yang disyaratkan, maka mereka dimanfaatkan oleh pelaku perdagangan.

5. Kebijakan yang Bias Gender

Perempuan di Indonesia umumnya menikmati kesetaraan gender di mana


hukum Undang-undang Dasar 1945 menjamin kesetaraan hak untuk laki- laki dan
perempuan. Indonisia juga telah meratifikasi beberapa konvensi PBB yang
menjamin kesetaraan hak bagi perempuan, antara lain rativikasi konvensi untuk
penghpusan deskriminasi untuk perempuan (CEDAW) pada tahun 1984. Namun
kenyataannya hukum perlindungan hanya di atas kertas sedangkan prakteknya
masih jauh dari yang diaharapkan. Kesetaraan gender belum sepenuhnya
terwujud, perempuan masih tertinggal secara sosial, politik, dan ekonomi dari
kaum laki-laki.
Adapun dalam hal pendidikan misalnya, ditemukan bahwa semakin tinggi
tingkat pendidikan, maka semakin lebar kesenjangan antara partisipasi
perempuan dan laki-laki. UU perkawinan tahun 1974 menaikkan usia minimum
bagi seorang gadis untuk meniah menjadi 16 tahun. Namun pernikahan diusia
lebih muda dimungkinkan dengan izin dari peradilan. UU perkawinan secara
hukum mengannggap mereka sebagai orang dewasa sekalipun mereka masih di
11
bawah 18 tahun. Undang-undang tersebut menyatakan bahwa kedua orang tua
wajib memelihara dan mendidik anak mereka sebaik-baiknya sampai anak itu
kawin atau dapat berdikari (pasal 45) sekalipun tidak ada larangan bagi anak yang
sudah menikah untuki bersekolah, anak perempuan yang sudah menikah sangat
jarang meneruskan pendidikan mereka. Kenyataannya sekolah-sekolah formal
untuk tingkat SMP atau SMA tidak menerima siswa yang sudah menikah,
walaupun ada itu hanya disekolah kesetaraan yang kejar paket B atau C.

Dalam bidang ketenagakerjaaan, hukum Indonisia memberikan perlindungan


de jure bagi perempuan di tempat kerja. Menurut hukum, perempuan dilindungi
dari diskriminasi berdasarkan gender atau Karena menerima bayaran yang setara
untuk pekerjaan yang sama, tidak dapat diberhentikan jika menikahh atau
melahirkan, tidak boleh mengerjakan pekerjaan yang berbahaya dan harus
diberikan cuti hamil.
Selain itu, kerentanan perempuan semakin tinggi setelah berserai, khususnya
bagi mereka yang memmiliki anak. Undang-undang perkawinan dan peraturan-
peratuan yang terkait mengizinkan laki-laki dan perempuan bercerai untuk alasan
yang sama. Namun peraturan tersebut menempatkan perempuan yang bercerai
dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam hal tunjangan dari suami setelah
perceraian terjadi.

6. Pengaruh Globalisasi

Pemberitaan tentang trafficking (perdagangan manusia), pada beberapa waktu


terakhir ini di Indonesia semakin marak dan menjadi isu yang aktual, baik dalam
lingkup domistik maupun yang telah bersifat lintas batas negara. Perdagangan
manusia yang paling menonjol terjadi khususnya yang dikaitkan dengan
perempuan dan kegiatan industri seksual, ini baru mulai menjadi perhatian
masyarakat melalui media massa pada beberapa tahun terakhir ini. Kemungkinan
terjadi dalam skala yang kecil, atau dalam suatu kegiatan yang terorganisir
dengan sangat rapi. Merupakan sebagian dari alasan-alasan yang membuat berita-
berita perdagangan ini belum menarik media massa paa masa lalu. Adapun
pengaruh dari akibat globalisasi dunia, Indonesia juga tidak dapat luput dari
pengaruh keterbukaan dan Kemajuan di berbagai aspek teknologi, politik,

12
ekonomi, dan sebagainya. Kemajuan di berbagai aspek tersebut membawa
perubahan pula dalam segi-segi kehidupan sosial dan budaya yang diacu oleh
berbagai kemudahan informasi.

Dampak negatif dari perrubahan dan kemudahan tersebut menjadi konsekuensi


bagi munculnya permasalahan-permasalahan sosial termasuk pada perempuan dan
anak, salah satunya adalah berkembangannya perdagangan seks pada anak.
C. Bentuk dan Modus Trafficking Human

Bentuk Trafficking

Seiring berjalannya waktu bentuk dan modus trafficking pun semakin


komplek, banyak model dan bentuk perdagangan yang dipergunakan agar misi
trafficking berhasil. Ini tidak dapat dipungkiri karena sudah menjadi fenomena yang
menjamur diberbagai belahan dunia termasuk Indonisia.
Adapun bentuk-bentuk tarfficking diantaranya adalah:

1. Eksploitasi Seksual

Eksploitasi seksual dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Eksploitasi seksual komersial untuk prostitusi.

Misalnya perempuan yang miskin dari kampung atau mengalami


perceraian karena akibat kawin muda atau putus sekolah kemudian diajak
bekerja ditempat hiburan kemudian dijadikan pekerja seks atau panti pijat.
Korban bekerja untuk mucikari atau disebut juga germo yang punya
peratutan yang eksploitatif, misalnya jam kerja yang tak terbatas agar
menghasilkan uang yang jumlahnya tidak ditentukan.8 Korban tidak
berdaya untuk menolak melayani laki-laki hidung belang yang
menginginkan tubuhnya dan jika ia menolak maka sang mucikari tidak
segan-segan untuk menyiksanya karena biasanya mereka punya bodigard-
budigard yang mengawasi mereka.

Kesempatan untuk melepaskan diri sangatlah sulit sekali, sehingga


korban bagaikan buah si malakama. Jika korban protes maka mereka
diharuskan membayar sejumlah uang sebagai ganti dari biaya hidup yang
digunakan oleh korban. Dalam prakteknya korban dalam posisi yang
13
lemah dan diskenariokan untuk selalu tergantung atau merasa
membutuhkan aktor baik untuk kebutuhan rasa aman maupun kebutuhan
secara ekonomis.

2) Eksploitasi non komersial,

Misalnya pencabulan terhadap anak, perkosaan dan kekerasan seksual.


Banyak pelaku pencabulan dan perkosaan yang dapat dengan bebas
menghirup udara kebebasan dengan tanpa dijerat hukum. Sementara
perempuan sebagai korban harus menderita secara lahir dan batin seumur
hidup bahkan ada yang putus asa dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh
diri, ada juga yang karena tidak sanggup menghadapi semuanya
terganggu jiwanya.
Di Indonesia keberadaan perempuan yang dijerumuskan ke dalam
prostitusi yang diperdagangkan seksualitasnya dan perempuan yang
digunakan untuk memproduksi bahan-bahan pornugrafi merupakan fakta
yang tidak terbantahkan. Dalam banyak kasus, perempuan semula
dijanjikan oleh pihak-pihak tertentu untuk bekerja sebagai buruh migran,
pembantu rumah tangga, pekerja restoran, pelayan toko, dan lain
sebagainya. Tetapi kemudian dipaksa pada industri seks pada saat mereka
tida pada daerah tujuan.
Eksploitasi seksual baik yang komersial maupun yang non komersial
kedua-duanya sama-sama menjadi penyakit penyebar HIV dan AIDS,
sebuah virus yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh sehingga jika
seseorang sudah tertular maka kekebalan tubuhnya sudah tidaki ada lagi.
Dari tahun ke tahun penularan penyakit ini perkembangannya semakin
pesat, yang tertular tidak hanya di kalangan masyarakat kota tapi juga
sampai ke pelosok desa seperti papua. Ini adalah masalah yang sangat
besar, satu sisi agama dan negara mencegah dengan peraturan-
peraturannya namun disisi lain kejahatan semakin merajalela dan semakin
canggih.

1. Pekerja Rumah Tangga

Pembantu rumah tangga yang bekerja baik di luar maupun di dalam


wilayah Indonesia dijadikan korban kedalam kondisi kerja yang dibawah
14
paksaan, pengekangan dan tidak diperbolehkan menolak bekerja. mereka
bekerja dengan jam kerja yang panjang, upah yang tidak dibayar. Selama
ini juga pekerja rumah tangga tau yang disebut pembantu tidaklah
dianggap sebagai pekerja formal melainkan sebagai hubungan informal
antara pekerja dan majikan, dan pekerjaan kasar yang tidak membutuhkan
keterampilan. upah yang diterima sangat rendah dibawah UMR yang tidak
sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan, dimana jam kerja yang sangat
panjang, tidak ada libur, bahkan banyak yang tidak ada waku untuk
istirahat.
Perlakuan yang lebih buruk lagi adalah mereka diperlakukan layaknya
budak, baik ketika menyuruh suatu pekerjaan atau dalam hal makan, di
mana mereka diberi makan yang sedikit dan tidak memenuhi standar gizi
yang dapat memberikan asupan tenaga, dilarang menjalankan ibadah
sesuai dengan agamanya bahkan di luar negeri seringkali majikan dan
agen menyita paspor TKW agar tidak bisa kabur jika mereka
diperlakukan oleh semua majikan karena ada juga majikan yang baik dalam
memperlakukan pembantu rumah tangganya bahkan menganggapnya
sebagai keluarga.
2. Penjualan Bayi

Di sejumlah negara maju, motif adopsi anak pada keluarga modern


menjadi salah satu penyebab maraknya incaran trafficker. Keluarga
modern yang enggan mendapatkan keturunan dari hasil pernikahan
menjadi rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mengadopsi
anak. Kebutuhan adopsi massal itulah yang menyebabkan lahirnya para
penjual bayi, calo-calo anak dan segenap jaringannya.

Di sisi lain, negara-negara berkembang masih dipenuhi warga miskin


dengan segala persoalannya, yang kemudian menjadi sasaran pencarian
anak-anak yang akan diadopsi melalui proses perdagangan. Misalnya
hilangnya 300 anak pasca sunami di Aceh yang kemudian dilarikan oleh
LSM. Banyak pihak yang menduga anak itu dilarikan ke Amerika.
Selama tahun 2007, gugus tugas anti trafficking Menteri Negara
Pemberdayaan Perempuan (GTA MNPP) menemukan sekitar 500 anak

15
Indonesia yang diperdagangkan ke Swedia. Para trafficker tidak hanya
mengambil anak-anak usia belita, usia sekolah dan remaja saja janinpun
bisa mereka tampung.
Dari sumber yang sama menyebutkan bahwa pada tahun 2003 di
perbatasan Indonesia-Malaysia harga orok bermata sipit dan berkulit putih
dihargai sekitar 18.000 -25.000 Ringgit Malaysia. Sedangkan untuk orok
bermata bundar dan berkulit hitam dihargai 10.000-15.000 Ringgit
Malaysia.
Cara atau modus penjualan bayi bervariasi. Misalnya, beberapa buruh
migran Indonesia yang menjadi korban sebagai perkawinan palsu saat di
luar negeri, dipaksa untuk menyerahkan bayinya untuk diadopsi secara
illegal. Dalam kasus lain, ibu rumah tangga Indonesia ditipu oleh
pembantu rumah tangga kepercayaannya yang melarikan bayi majikannya
kemudian menjual bayi tersebut kepasar gelap.
3. Jeratan Hutang

Jeratan hutang adalah salah satu bentuk dari perbudakan tradiional, di


mana korban tidak bisa melarikan diri dari pekerjaan atau tempatnya
bekerja sampai hutangnya lunas. Ini terjadi mislanya pada para TKW, di
mana ketika mereka berangkat ke negara tujuan dibiayai oleh PJTKI dan
mereka harus mengganti dengan gaji sekitar empat bulanan yang padahal
jika dihitung-hitung baiaya yang dikeluarkan oleh PJTKI tidak sebanyak
gaji TKW tersebut. Ini menjadikan para TKW harus tetap bekerja apapun
kondisi yang dihadapi di lapangan sampai habis masa kontrak. Karena
itulah jeratan hutang dapat mengarah pada kerja paksa dan membuka
kemungkinan terjadinya kekerasan dan eksploitasi terhadap pekerja.
Pekerja kehilangan kebebasannya untuk bekerja karena orang yang
menghutangkan ingin memastikan bahwa pekerja tidak akan lari dari
hutangnya. Meskipun secara teori mereka hutang tersebut dapat dibayarkan
dalam jangka waktu tertentu tetapi hutang tersebut akan terus ditingkatkan
sampai si peminjam tidak dapat melunasinya.
4. Pengedar Narkoba dan Pengemis

Dunia saat ini sudah diserang virus berbahaya yang namanya narkoba.

16
Narkoba sudah mengglobal di seluruh dunia dan sulit untuk dicegah
penyebarannya mulai dari kota besar sampai kepelosok desa. karena
secara materi hasil dari penjualan narkoba sangat fantastis dibanding
dengan pekerjaan atau bisnis apapun. Inilah salah satu yang menyebabkan
orang-orang terjun kelingkungan mafia, karena satu sisi hasilnya sangat
menggiurkan dan disisi lain ia sulit menemukan pekerjaan yang layak
dengan penghasilan besar walaupun resikonya juga sangat besar.

Kemudian juga dimanfaatkan oleh bandar-bandar narkoba untuk


mengedarkan pil setannya juga menjadi penggunanya. Misalnya banyak
kasus dalam tayangan berita di mana muda mudi tertangkap
menyeludupkan narkoba termasuk heroin atau ganja tertangkap polisi.
Mereka sangat sulit sekali untuk membuka siapa yang ada dibalik mereka,
karena biasanya mereka sudah diikat dengan perjanjian untuk tidak
membuka dan kadangkala mereka sendiri tidak tau siapa pihak pertama
atau pemilik barang haram tersebut. Akhirnya merekalah yang harus
menerima resikonya sementara bandar narkobanya bebas melenggang.
Pekerjaan lain yang juga menjadi penyakit adalah adanya sindikat bagi
para pengemis. Banyak perempuan-perempuan di lampu merah yang
bahkan menggendong anak kecil dengan penampilan yang amat sangat
tidak layak untuk masa sekarang ini yang serba modern berburu kepingan
rupiah dari mereka-mereka yang punya rasa iba. Ternyata banyak diantara
mereka yang dikordinir dan ditempatkan ditempat-tempat yang sudah
ditentukan. Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan kerja keras dari
semua pihak dengan sungguh-sungguh dan bukan penyelesaian yang hanya
bersifat formalitas belaka. Memang sudah ada upaya dari Dinas Sosial tapi
ini mungkin baru sedikit karena buktinya semakin hari perempuan yang
mengemis di jalanan makin banyak.

5. Pengantin Pesanan Pos (Mail order bride)

Kasus ini dapat terjadi salah satunya adalah karena tingginya mahar
yang diminta oleh pihak perempuan, sementara laki-laknya tidak mampu
secara ekonomi untuk memenuhinya sedangkan usia mereka lebih dari
cukup untuk menikah. Maka salah satu caranya adalah dengan membeli
17
perempuan dari luar negeri untuk dinikahinya karena tidak perlu
memberikan mahar yang besar dan lebih mau menuruti apa maunya si laki-
laki. Ini dialami oleh seorang TKW dimana ia menceritakan bahawa ia
telah menikah dengan laki-laki asal timur tengah, namun ironinya ketika
perempuan tersebut hamil ia dipulangkan ke Indonesia dengan tanpa
sepersenpun diberi nafkah dan biaya persalinan.
Ada dua metode yang dikembangkan dalam melihat perkawinan
sebagai salah satu penipuan.

1) Perkawinan digunakan sebagai jalan penipuan untuk mengambil


perempuan tersebut dan membawa ke wilayah lain yang sangat asing,
namun sesampai di wilayah tujuan perempuan tersebut disalurkan
dalam industri seks atau prostitusi. Ini sangat ironi sekali dan sangat
bias gender, dimana seorang suami yang harusnya berkewajiban
mencari nafkah untuk keluarga justru sebaliknya ia menghambur-
hamburkan uang yang dikumpulkan istri. Mungkin ini karena pihak
laki-laki merasa ia sudah membeli si perempuan sehingga ia
menganggap bahwa perempuan itu adalah budaknya yang bisa bebas
ia perlakukan.
2) Perkawinan untuk memasukkan perempuan ke dalam rumah tangga
untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domistik yang sangat
eksploitatif bentuknya. Fenomina pengantin pesanan ini banyak
terjadi dalam masyarakat keturunan cina di Kalimantan Barat dengan
para suami berasal dari Taiwan walaupun dari Jawa Timur
diberitakan telah terjadi beberapa kasus serupa.

Data dari Pusat Studi Wanita Universitas Tanjung Pura, setiap tahun
kira-kira 50 perempuan kembali ke Singkawang dari Taiwan telah
mengalami kekerasan dan penipuan. Kekerasan dan penipuan yang
dilaporkan bermacam-macam yaitu dinikahkan dengan laki-laki yang lebih
tua, berlainan dengan apa yang diberitahukan sebelumnya atau dengan
laki-laki yang cacat mental atau fisik atau dinikahkan secara sah sebagai
perempuan simpanan atau menjadi pelayan tanpa bayaran atau bekerja di
pabrek dan dipaksa bekerja di prostitusi.
18
6. Donor Paksa Organ Tubuh

Perdagangan organ tubuh manusia kini semakin merajalela seiring


dengan kemajuan teknologi dibidang kedokteran, misalnya saja teknologi
cangkok jantung, ini biasanya dipesan untuk mereka para penderita jantung
yang berkantong tebal dan “turis cangkok” sebutan untuk para pasien yang
datang ke negara-negara miskin untuk membeli organ tubuh orang-orang

miskin. Di Indonesia, modus penjualan organ tubuh ini beranika ragam,


ada yang menjual karena terdesak kebutuhan ekonomi, misalnya yang
dilakukan seorang ibu demi memenuhi biaya hidup, pendidikan bahkan
untuk pengobatan penyakit anaknya ia rela menjual organ ginjalnya atau
juga yang dilakukan dengan cara menipu sang donor. Bahkan ditengarai
ada kasus pembubuhan dengan tujuan mengambil organ tubuh korban
kemudian dijual.

Modus lain adalah memanfaatkan organ tubuh para TKW yang


meninggal di luar negeri. Untuk kasus ini seringkali ketika jenazah
sampai di dalam negeri biasanya pihak keluarga tidak diperkenankan
meliahat atau membuka peti jenazah. Sebenarnya ini sering terjadi tapi
karena ketidak tahuan pihak keluarga akhirnya pihak keluarga hanya
menuruti saja, padahal mungkin saja jenazah yang cukup lama tapi juga
karena organ tubuh mayat sudah diambil untuk dijual yang mingkin saja
dilakukan oleh pihak majikan ataupun pihak rumah sakit yang sudah
bekerjasama dengan sindikat penjualan organ tubuh manusia.

Modus Trafficking

Dalam menjalankan operandinya para trafficker sering menggunakan


mudus berupa iming-iming. Di antara modus-modusnya antara lain yaitu:
1. Tawaran Kerja

Salah satu modus human trafficking yang sering dilakukan adalah


penawaran kerja ke luar pulau atau luar negeri dengan gaji tinggi. Pelaku
biasanya mendatangi rumah calon korbannya dan saat pemberangkatan
juga tanpa dilengkapi surat keterangan dari pemerintah desa setempat.
19
Cara tersebut dilakukan untuk menghilangkan kecurigaan sejumlah
pihak, termasuk memberi kemudahan kepada keluarga korban untuk dapat
diterima kerja tanpa harus mengurus sejumlah surat kelengkapan kerja di
luar daerah atau negeri. Dari pihak orang tua korban sudah tidak
memperdulikan aturan atau kelengkapan surat-surat kerja karena sudah
termakan oleh bujukan pelaku.
Modusnya adalah para calo atau perantara memberi iming-iming bagi
para korban dengan menawarkan bekerja di mall dan salon dengan gaji
besar. Selanjutnya korban diserahkan pada germo yang kemudian
dipekerjakan secara paksa sebagai wanita penghibur di tempat-tempat
hiburan malam.
Selain aspek pemaksaan yang menyalahi aturan, aspek upah juga
sangat merugikan para korban. Mereka hanya mendapatkan sedikit upah
dari transaksi. pdahal sekali kencan korban diberi uang oleh hidung belang
sekitar kurang lebih 500 ribu sekali kencan. Hal ini biasanya dijadikan
dalih oleh para germo sebagai pembiayaan fasilitas antar jemput, baju, dan
rias bagus serta modis agar lebih menarik.

2. Bius

Rayuan dan iming-iming pekerjaan bukan lagi menjadi modus yang paling
sering dilakukan dalam human trafficking, tetapi saat ini orang bisa menjadi
korban perdagangan manusia dengan kekerasan seperti dibius. Modus ini
menggunakan kekerasan, cara modus ini berawal dari penculikan terhadap
korban, kemudian pelaku membiusnya dengan suntikan ataupun dengan alat yang
lain yang digunakan untuk membius. Kemudian korban dibawa dan
dipertemukan dengan sang bos. Setelah itu korban diserahkan jaringan lainnya
untuk dibawa ke negara lain tanpa membawa paspor untuk dipekerjakan secara
paksa sebagai pekerja seks.

D. Undang- Undang Tentang Trafficking

Undang Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana


Perdagangan Orang.

Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Undang Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang


20
Tindak Pidana Perdagangan Orang, definisinya adalah tindakan perekrutan,
pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang
dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan,
pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan
utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari
orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut,baik yang dilakukan di dalam
negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang
tereksploitasi.
Berdasarkan pasal tersebut, unsur tindak pidana perdagangan orang ada tiga
yaitu: unsurproses, cara dan eksploitasi. Jika ketiganya terpenuhi maka bisa
dikategorikan sebagai perdagangan orang.
1. Proses: tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman,
pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan,
penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan,
penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi
bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang
memegang kendali atas orang lain tersebut
2. Cara: ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan,
pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan
utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan
dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut.
3. Eksploitasi: tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban yang meliputi
tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan
atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik,
seksual, organ reproduksi, atau secara melawan hukum memindahkan atau
mentransplantasi organ dan/atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau
kemampuan seseorang oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan baik
materiil maupun immateriil.
4. Lokus: Tempat kejadian tindak pidana perdagangan orang bisa terjadi di dalam
negara ataupun antar negara.

Sanksi bagi pelaku tindak pidana perdagangan orang

Kurungan Penjara dan atau Denda. Sanksi kurungan penjara, minimal 3 tahun

21
maksimal 15 tahun. Sanksi denda bagi pelaku perorangan Rp 150-600 juta,
sementara untuk perusahaan sanksi penjaranya minimal 9 tahun dan maksimal 45
tahun, atau denda minimal sebesar Rp 360 juta, dan maksimal Rp 1,8 miliar.

Korban Human Trafficking

Korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental. fisik,


seksual, dan atau sosial yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang (Pasal 1
ayat 3 UU No 21 Tahun 2007).

Ciri-ciri perdagangan orang dalam konteks migrasi ketenagakerjaan?

1. Perekrutan tanpa Perjanjian Penempatan;

2. Ditempatkan tanpa perjanjian Kerja;

3. Perekrutan dibawah umur (-18 thn) dokumen dipalsukan;

4. Perekrutan tanpa izin suami/orang tua/wali;

5. Ditempatkan tanpa sertifikat kompetensi (tidak dilatih);

6. Hanya menggunakan paspor dengan visa kunjungan;

7. Ditempatkan oleh perorangan, bukan Perusahaan yang memiliki izin dari


Menteri Tenaga Kerja;
8. Dipindahkan ke majikan lain tanpa perjanjian Kerja;

9. Dipindahkan ke negara lain yang peraturannya terbuka walaupun tidak sesuai


dengan peraturan Indonesia.
10. Beban biaya diatas ketentuan yang ditetapkan pemerintah (over charging).

Hak Korban dan/ atau Saksi

1. Hak Korban dan/ atau Saksi juga diberikan kepada keluarganya dengan rincian
sebagai berikut:
1) Memperoleh kerahasiaan identitas (Pasal 44) Hak ini diberikan juga kepada
keluarga korban dan/ atau saksi sampai derajat kedua.

2) Hak untuk mendapat jaminan perlindungan dari ancaman yang


membahayakan diri, jiwa dan/atau hartanya (Pasal 47).
22
3) Restitusi (Pasal 48). Restitusi ini adalah pembayaran ganti kerugian yang
dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan pengadilan yang
berkekuatan hukum tetap atas kerugian materiil dan/ atau immateriil yang
diderita korban atau ahli warisnya (Pasal 1 angka 13 Undang – Undang
Nomor 21 Tahun 2007). Pengaturan restitusi berupa ganti kerugian atas
garis besarnya adalah sebagai berikut:
a. kehilangan kekayaan atau penghasilan,

b. penderitaan,

c. biaya untuk tindakan perawatan medis dan/ atau psikologis, dan/atau

d. kerugian lain yang diderita korban sebagai akibat perdagangan orang.

Restitusi diberikan dan dicantumkan sekaligus dalam amar putusan pengadilan


tentang perkara tindak pidana perdagangan orang. Pemberian restitusi dilaksanakan
sejak dijatuhkan putusan pengadilan tingkat pertama. Restitusi tersebut dapat
dititipkan terlebih dahulu di pengadilan tempat perkara diputus. Pemberian restitusi
dilakukan dalam 14 hari terhitung sejak diberitahukannya putusan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap. Dalam hal pelaku diputus bebas oleh pengadilan
tingkat banding atau kasasi, maka hakim memerintahkan dalam putusannya agar
uang restitusi yang dititipkan dikembalikan kepada yang bersangkutan. Pelaksanaan
pemberian restitusi dilaporkan kepada ketua pengadilan yang memutus perkara dan
ditandai tanda bukti pelaksanaannya.
Rehabilitasi (Pasal 51). Rehabilitasi adalah pemulihan dari gangguan
terhadap kondisi fisik, psikis, dan sosial agar dapat melaksanakan perannya kembali
secara wajar baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Penjelasannya adalah
sebagai berikut:
1. Korban berhak memperoleh rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial,
pemulangan, dan reintegrasi sosial dari pemerintah apabila yang bersangkutan
mengalami penderitaan baik fisik maupun psikis akibat tindak pidana
perdagangan orang.
2. Rehabilitasi diajukan oleh korban atau keluarga korban, teman korban,
kepolisian, relawan pendamping, atau pekerja sosial, setelah korban
melaporkan kasus yang dialaminya atau pihak lain melaporkannya kepada
23
Polri.
3. Permohonan diajukan kepada pemerintah melalui menteri atau instansi yang
menangani masalah – masalah kesehatan dan sosial di daerah. Dalam penjelasan
Pasal 53 ayat (3) menegaskan yang dimaksud dengan pemerintah adalah
“instansi” yang bertanggung jawab dalam bidang kesehatan, dan/ atau
penanggulangan masalah – masalah sosial serta dapat dilaksanakan secara
bersama – sama antara penyelenggara kewenangan tingkat pusat, provinsi, dan
kabupaten/kota khususnya dari mana korban berasal atau bertempat tinggal.
4. Menteri atau instansi yang menangani rehabilitasi wajib memberikan
rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial, pemulangan dan integrasi sosial
paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak diajukan permohonan.
5. Untuk penyelenggaraan pelayanan rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial,
ppemulangan dan reintegrasi sosial pemerintah serta pemerintah daerah wajib
membentuk rumah perlindungan sosial atau pusat trauma.
6. Di samping perlindungan seperti yang telah diutarakan, sesuai Pasal 53 dan
Pasal 54 bagi korban juga mendapat hak perlindungan antara lain;
1) apabila korban mengalami trauma atau penyakit yang membahayakan
dirinya akibat tindak pidana perdagangan orang, maka menteri atau instansi
yang menangani masalah – masalah kesehatan dan sosial di daerah wajib
memberikan pertolongan pertama paling lambat 7 (tujuh) hari setelah
permohonan diajukan;
2) apabila korban di luar negeri memerlukan perlindungan, maka pemerintah
RI melalui perwakilannya di luar negeri wajib melindungi pribadi dan
kepentingan korban dan mengusahakan memulangkan ke Indonesia atas
biaya negara;

3) apabila korban warga negara asing, berada di Indonesia, maka pemerintah


RI mengupayakan perlindungan dan pemulangan ke negara asalnya melalui
koordinasi dengan perwakilannya di Indonesia
E. Dampak/ Pengaruh Trafficking Human

Berdasarkan perspektif historis, startegi dan tahapan, serta faktor penyebab


human trafficking, maka hal tersebut menempatkan perempuan korban trafficking
dalam situasi yang beresiko tinggi yang berdampak terhadap fisik, psikis maupu

24
kehidupan sosial perempuan korban trafficking sebagaimana yang digambarkan
Course Instruction (2011: 13, 14) sebagai berikut.
1. Dampak Psikologi dan Kesehatan Mental

Menurut Williamson et al. (2010: 2), perempuan korban trafficking


sering mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu peristiwa atau
kejadian yang melibatkan cedera aktual atau terancam kematian yang serius,
atau ancaman terhadap integritas fisik diri sendiri atau orang lain" dan
tanggapan mereka terhadap peristiwa ini sering melibatkan "rasa takut yang
sangat, dan ketidakberdayaan, sebagai reaksi umum dari post traumatic stress
disorder (PTSD). Pengalaman traumatis dan ketakutan dialami perempuan
korban trafficking sejak awal mereka ditangkap secara paksa, mengalami
penyekapan di daerah transit sebelum dikirim ke tempat tujuan untuk dijual dan
di eksploitasi (American Association, 2005: 467).
Setelah kedatangan ke tempat tujuan, perempuan korban trafficking
perempuan korban trafficking terisolasi secara sosial, yang diselenggarakan
dalam kurungan, dan kekurangan makanan. Semua milik pribadi dilucuti dari
mereka, surat identitas, paspor, visa, dan dokumen lainnya (Course Instruction,
2011:1). Korban mengalami banyak gejala psikologis yang dihasilkan dari
kekerasan mental sehari-hari dan penyiksaan. Ini termasuk depresi, stres yang
berhubungan dengan gangguan, disorientasi, kebingungan, fobia, dan
ketakutan. Korban shock, mengalami penolakan, ketidakpercayaan, tentang
situasi mereka saat itu, perasaan tidak berdaya dan malu (Stotts & Ramey,
2009:10). Rasa takut yang terus-menerus untuk keamanan pribadi mereka dan

keselamatan keluarga mereka, ancaman deportasi akhirnya berkembang


menjadi rasa kehilangan dan tidak berdaya. Hal ini tidak mengherankan bahwa
depresi, kecemasan, dan post traumatic stress disorder (PTSD) adalah gejala
yang umum dialami oleh para korban yang diperdagangkan.
Para perempuan korban trafficking seringkali mengalami kondisi yang
kejam yang mengakibatkan trauma fisik, seksual dan psikologis. Kegelisahan,
insomnia, depresi dan post traumatic stress disorder menggambarkan standar
evaluasi atau penilaian yang mengecewakan nilai diri dengan memandang
rendah diri sendiri (Taylor, 2012:1). Para perempuan korban trafficking

25
seringkali kehilangan kesempatan penting untuk mengalami perkembangan
sosial, moral, dan spiritual. Hilang harapan tanpa tujuan hidup yang jelas, suram
dan gelap masa depan.
1) Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

PTSD merupakan suatu pengalaman individu yang mengalami


peristiwa traumatik yang menyebabkan gangguan pada integritas diri
individu dan sehingga individu mengalami ketakutan, ketidakberdayaan dan
trauma tersendiri (Townsend M.C., 2009).

Individu dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) sering


menyebabkan peningkatan keadaan siaga yang berlebihan, deperti
insomnia, waspada berlebihan dan iritabilitas terhadap lingkungan yang
berbahaya. Peningkatan ansietas dapat menyebabkan perilaku agresif atau
perilaku menciderai (Fontaine, 2009).

Berdasarkan penelitian Rose (2002) ada 3 tipe gejala yang sering


terjadi pada PTSD, yaitu:
a. Pengulangan pengalaman trauma, ditunjukkan dengan selalu teringat
akan peristiwa yang menyedihkan yang telah dialami itu, flashback
(merasa seolah-olah peristiwa yang menyedihkan terulang kembali),
nightmares (mimpi buruk tentang kejadian-kejadian yang membuatnya
sedih), reaksi emosional dan fisik yang berlebihan karena dipicu oleh
kenangan akan peristiwa yang menyedihkan.
b. Penghindaran dan emosional yang dangkal, ditunjukkan dengan
menghindari aktivitas, tempat, berpikir, merasakan, atau percakapan
yang berhubungan dengan trauma. Selain itu juga kehilangan minat
terhadap semua hal, perasaan terasing dari orang lain, dan emosi yang
dangkal.
c. Sensitifitas yang meningkat, ditunjukkan dengan susah tidur, mudah
marah / tidak dapat mengendalikan marah, susah konsentrasi,
kewaspadaan yang berlebih, respon yang berlebihan atas segala sesuatu.
2) Kecemasan

Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan


terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan
26
tidak menentu dan tidak berdaya (Videbeck, 2008). Satu studi melaporkan
bahwa orang yang selamat dari trafficker mengalami kecemasan dengan
gejala kegugupan (95%), panik (61%), merasa tertekan (95%) dan
keputusasaan tentang masa depan (76%) (Bradley, 2005).
3) Ketidakberdayaan

Ketidakberdayaan adalah persepsi yang menggambarkan perilaku


seseorang yang tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap hasil,
suatu keadaan dimana individu kurang dapat mengendalikan kondisi
tertentu atau kegiatan yang baru dirasakan.
Secara kognitif korban umumnya kurang konsentrasi, ambivalensi,
kebingungan, fokus menyempit / preokupasi, misinterpretasi, bloking,
berkurangnya kreatifitas, pandangan suram, pesimis, sulit untuk membuat
keputusan, mimpi buruk, produktivitas menurun, pelupa. Afek korban
terkadang tampak sedih, bingung, gelisah, apatis / pasif, kesepian, rasa tidak
berharga, penyangkalan perasaan, kesal, khawatir, perasaan gagal. Korban
sering semakin sering mengeluh kelemahan, pusing, kelelahan, keletihan,
sakit kepala, perubahan siklus haid. Keluarga mungkin melaporkan
perubahantingkat aktivitas pada korban, mudah tersinggung, kurang
spontanitas, sangat tergantung, mudah menangis. Kecenderungan untuk
isolasi, partisipasi sosial berkurang pada tingkat lanjut mungkin akan
tampak pada korban (Rahmalia, 2010)

2. Dampak Sosial

Secara sosial para perempuan korban trafficking teralenasi, karena sejak


awal direkrut, diangkut atau ditangkap oleh jaringan trafficker mereka sudah
disekap, diisolir agar tidak berhubungan dengan dunia luar atau siapapun
sampai mereka tiba ditempat tujuan. Eksploitasi seksual yang di alami para
korban ditempat pekerjaan membatasi mereka untuk bertemu dengan orang lain
(Course Instructions, 2011: 3, 4), kecuali harus melayani nafsu bejat para tamu
(lelaki hidung belang). Para korban semestinya memandang dunia dan masa
depan dengan mata bersinar, hidup aman tentram bersama perlindungan dan
kasih sayang keluarganya, tibatiba harus tercabut masuk ke dalam situasi yang

27
eksploitatif dan kejam, menjadi korban sindikat trafficking Konsekuensi sosial
tersebut sebagai salah satu dampak yang banyak dialami oleh perempuan.
Korban trafficking. Korban mengalami isolasi sosial, yang berfungsi sebagai
strategi untuk perbudakan dan eksploitasi seksual. Sementara diperbudak, para
korban terutama anak-anak biasanya kehilangan kesempatan pendidikan dan
sosialisasi dengan teman sebayanya (Stotts & Ramey, 2009: 10). Karena
trafficking perempuan tampaknya mengorbankan seluruh masyarakat, anak
dan wanita, isolasi sosial merupakan upaya untuk mencegah mereka
mendapatkan pendidikan dan meningkatkan kerentanan masa depan mereka
untuk diperdagangkan.

Menurut Chatterjee et al. (Wickham, 2009: 12, 13), persoalan sosial yang
sangat tragis dan semakin meningkatkan stress dan depresi para korban adalah
ketika keluarga dan masyarakat menolak untuk menerima mereka kembali.
Selain itu, para pria sering melihat perempuan korban trafficking sebagai orang
yang kotor, telah ternodai dan karena itu menolak untuk menikahi mereka.
Diskriminasi terhadap para perempuan korban trafficking terjadi dalam berbagai
sector dan berbagai bentuk. Kenyataan ini telah menggugah rasa kemanusiaan
dari berbagai pihak untuk terus berjuang agar nilai-nilai kemanusiaan seperti
keadilan, kesederajatan, bisa diwujudkan. Jadi dampak sosial yang dimaksud
adalah isolasi sosial, penolakan dari keluarga & masyarakat mengakibatkan
perempuan korban trafficking kehilangan makna dan tujuan hidup serta
penghargaan atas dirinya.

3. Dampak Kesehatan Fisik

Secara fisik, cedra aktual para perempuan korban trafficking terjadi,


karena mereka mengalami kekerasan fisik dan seksual. Mereka seringkali
terpaksa harus tinggal di lingkungan yang tidak manusiawi dan bekerja dalam
kondisi berbahaya. Mereka tidak memiliki gizi yang cukup dan dikenakan
penyiksaan secara brutal pada fisik dan psikis, apabila mereka tidakmemberikan
pelayanan seksual yang diinginkan pelanggan (“lelaki hidung belang”) atau
karena penolakan para korban terhadap eksploitasi seksual. Korban sering tidak
memiliki akses ke perawatan medis yang memadai dan tinggal dilingkungan

28
yang najis dan tidak layak (Stotts & Ramey, 2009: 10). Perawatan kesehatan
dan pencegahan penyakit seksual menular terhadap para korban hampir tidak
ada, dan kesehatan biasanya diabaikan sampai mereka semakin terpuruk
menderita penyakit HIV / AIDS, sipilis, gonorea dan penyakit seksual menular
lainnya.

Para perempuan korban trafficking dirugikan dengan berbagai metode


yang digunakan traffickers untuk "kondisi" mereka, termasuk pemerkosaan,
pemerkosaan geng, ancaman untuk menyakiti korban atau keluarga korban,
kronis pada pendengaran, dan kardiovaskular atau masalah pernapasan yang
disebabkan oleh penyiksaan, trans-seksual dan memaksa penggunaan narkoba.
Luka fisik termasuk hal-hal seperti patah tulang, gegar otak, luka bakar, dan
vagina atau dubur robek. Kehamilan korban yang tidak diinginkan akibat
pemerkosaan atau prostitusi. Infertility sebagai akibat infeksi kronis menular
seksual yang tidak diobati atau gagal atau melakukan aborsi tradisional bukan
oleh para medis dan tanpa perawatan medis. Belum lagi penyakit yang tidak
terdeteksi atau tidak diobati, seperti diabetes atau kanker, sebagai ancaman
masa depan para korban (Stotts & Ramey, 2009: 11). Penyalahgunaan zat (obat-
obatan terlarang) sebagai sarana untuk mengatasi situasi depresi korban
sekaligus sebagai strategi traffickers menundukkan korban untuk melakukan
eksploitasi seksual.

Jadi dampak kesehatan fisik yang dimaksud adalah cedera aktual &
ancaman terhadap integritas diri para korban yang mengalami kekerasan fisik
dan seksual. Penderitaan secara fisik yang dialami para perempuan korban
trafficking, menciptakan citra diri negatif, konsep diri para korban semakin
terpuruk, kehilangan makna hidup, harkat dan martabat para korban menjadi
hancur.
F. Pencegahan dan Penanggulangan Human Trafficking

Perdagangan orang, khususnya perempuan sebagai suatu bentuk tindak


kejahatan yang kompleks, tentunya memerlukan upaya penanganan yang
komprehensif dan terpadu.
Tidak hanya dibutuhkan pengetahuan dan keahlian professional, namun juga
pengumpulan dan pertukaran informasi, kerjasama yang memadai baik sesame apparat
29
penegak hokum seperti kepolisian, kejaksaan, hakim maupun dengan pihak- pihak
lain yang terkait yaitu lembaga pemerintah (Kementrian terkait) dan lembaga non
pemerintah (LSM) baik local maupun internasional.

Semua pihak bisa saling bertukar informasi dan keahlian profesi sesuai
dengankewenangan masing-masing dan kode etik instansi. Tidak hanya perihal
pencegahan, namun juga penanganan kasus dan perlindungan korban semakin
memberikan pembenaran bagi upaya pencegahan dan penanggulangan perdagangan
peremuan secara terpadu. Hal ini bertujuan untuk memastikan agar korban
mendapatkan ha katas perlindungan dalam hukum.
Dalam konteks penyidikan dan penuntutan, aparat penegak hukum dapat
memaksimalkan jaringan kerjasama dengan sesama apparat penegak hokum lainnya
didalam suatu wilayah negara, untuk bertukar informasi dan melakukan investigasi
bersama. Kerjasama dengan apparat penegak hokum di negara tujuan bisa dilakukan
melalui pertukaran informasi, atau bahkan melalui mutual legal assistance, bagi
pencegahan dan penanggulangan perdagangan perempuan lintas negara.
Upaya Masyarakat dalam pencegahan trafficking yakni dengan meminta
dukungan ILO dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) yang melakukan
Program Prevention ofChild Trafficking for Labor and Sexual Exploitation. Tujuan
dari program ini adalah:
1. Memperbaiki kualitas pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah
Menegah Atasuntuk memperluas angka partisipasi anak laki-laki dan anak
perempuan.
2. Mendukung keberlanjutan pendidikan dasar untuk anak perempuan setelah lulus
sekolah dasar
3. Menyediakan pelatihan keterampilan dasar untuk memfasilitasi kenaikan
penghasilan
4. Menyediakan pelatihan kewirausahaan dan akses ke kredit keuangan untuk
memfasilitasi usaha sendiri.
5. Merubah sikap dan pola pikir keluarga dan masyarakat terhadap trafficking anak.

30
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Trafficking adalah perdagangan manusia, lebih khususnya perdangan perempuan dan


anak-anak yang dilakukan oleh pelaku perdagangan manusia ‘trafficker’ dengan cara
mengendalikan korban dalam bentuk paksaan, penggunaan kekerasan, penculikan, tipu
daya, penipuan ataupun penyalahgunaan kekuasaan atau kedudukan.
Jenis-jenis trafficking ini meliputi perkawinan transinternasional, eksploitasi seksual
phedopilia, pembantu rumah tangga dalam kondisi buruk, dan penari erotis. Faktor
penyebab utama terjadinya tindakan trafficking ini adalah karena kemiskinan dan beberapa
diantaranya adalah, karena tingkat pendidikan yang rendah, penganiyaan terhadap
perempuan, perkawinan usia muda, dan kondisi sosial budaya masyarakat yang patriarkhis.
Dampak yang bisa ditimbulkan dari trafficking ini adalah kecemasan, stress, dan
ketidakberdayaan.

B. Saran

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan
dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya
pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan
saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan
makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya.

31
32
DAFTAR PUSTAKA

Capernito, Lyda Juall. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Ed. 13. Jakarta: EGC
Farhana. 2010. Aspek Hukum Perdagangan Orang di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika

Riyadi, Sujono dan Teguh Purwanto. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha
Ilmu
Syafaat, Rachmad. 2002. Dagang Manusia-Kajian Trafficking Terhadap Perempuan dan Anak
di Jawa Timur. Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama.

33
34
35