Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

INDUSTRI PT. NEKHAWA


20 MEI – 17 JUNI 2019

DISUSUN OLEH:

Dewa Ayu Satriawati 1808611020


Ni Kadek Indah Paramita Dewi 1808611023
Chatrinne Maya Wayoi 1808611032
Made Winda Krisnayanti 1808611040
Rahayu Wirayanti 1808611058

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
INDUSTRI PT. NEKHAWA
20 MEI – 17 JUNI 2019

DISUSUN OLEH:

Dewa Ayu Satriawati 1808611020


Ni Kadek Indah Paramita Dewi 1808611023
Chatrinne Maya Wayoi 1808611032
Made Winda Krisnayanti 1808611040
Rahayu Wirayanti 1808611058

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
LEMBAR PENGESAHAN
PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)
DI INDUSTRI PT. NEKHAWA
(20 Mei s/d 17 Juni 2019)

Disetujui Oleh :

Pembimbing Akademik Pembimbing Lapangan

(Cokorda Istri Sri Arisanti, S.Farm., M.Si., Apt.) (Fatwa Pranata Karso, S.Farm., Apt.)
NIP. 198011222006042023 NIP. -

Mengetahui:

Koordinator Program Studi Profesi Apoteker


Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam
Universitas Udayana

(Luh Putu Febryana Larasanty, S.Farm., M.Sc., Apt.)


NIP. 198402222008012008
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
Rahmat dan Karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja
Profesi Apoteker (PKPA) di industri PT. NEKHAWA yang dilaksanakan pada
tanggal 20 Mei sampai 17 Juni 2019. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah
satu syarat kelulusan pada Program Profesi Apoteker Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana.
Penyusunan laporan ini tentunya tidak lepas dari pihak-pihak yang telah
memberikan dukungan dan arahan. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan
terimakasih kepada pihak yang telah membantu antara lain:
1. Ibu Luh Putu Febryana Larasanty, S.Farm., M.Sc., Apt. selaku Koordinator
Program Studi Profesi Apoteker, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Udayana.
2. Ibu Cokorda Istri Sri Arisanti, S.Farm., M.Si., Apt. selaku dosen
pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing penulis.
3. Bapak Fatwa Pranata Karso, S.Farm., Apt. selaku apoteker penanggung
jawab di PT. Nekhawa yang telah membimbing, memberikan masukan, dan
motivasi bagi penulis selama kegiatan PKPA berlangsung.
4. Seluruh staf di PT. Nekhawa yang telah membantu penulis dalam kegiatan
PKPA dan penyusunan laporan ini.
5. Bapak/ibu dosen dan bapak/ibu pegawai di lingkungan Program Studi
Profesi Apoteker Fakultas MIPA Udayana.
6. Seluruh teman-teman Apoteker XVIII Udayana atas kerjasamanya sehingga
kegiatan PKPA dapat diselesaikan dengan lancar dan tepat waktu.
7. Seluruh pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah
membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. Terimakasih.

Gianyar, 17 Juni 2019

Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR SINGKATAN

APJ : Penanggung Jawab


APT : Apoteker
AWB : Air Way Bill
BBPOM : Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan BPOM
BPOM : Badan Pengawas Obat dan Makanan
BOL : Bill of Loading
CoA : Certificate of Analysis
CPKB : Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik
CPOB : Cara Pembuatan Obat yang Baik
DIP : Dokumen Induk Produksi
ED : Expired Date
FEFO : First Expired First Out
FIFO : First In First Out
GLP : Good Laboratory Practice
GMP : Good Manufacturing Product
GPP : Good Pharmaceutical Procurement
IFRA : International of Fragrance Assosiation
IPAL : Instalasi Pengolahan Air Limbah
IPC : In Process Control
PKPA : Praktek Kerja Profesi Apoteker
PNBP : Penerimaan Negara Bukan Pajak
PO : Pre Order
PPIC : Plan, Production and Inventory Control
PT : Perseroan Terbatas
QA : Quality Assurance
QC : Quality Control
SDM : Sumber Daya Manusia
SKI : Surat Keterangan Impor
SOP : Standard Operational Procedure
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan
pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital
bagian luar) atau gigi dan membran mukosa mulut terutama untuk membersihkan,
mewangikan, mengubah penampilan, memperbaiki bau badan atau melindungi
dan memelihara tubuh pada kondisi baik (Menkes RI, 2010). Seiring
perkembangan zaman, kosmetik seolah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian
wanita maupun pria, hal ini memberikan peluang bagi industri kosmetika di
Indonesia khususnya di pulau Bali. Bali merupakan daerah dengan perkembangan
pariwisata yang pesat, hal ini juga meningkatkan perkembangan pelaku usaha di
bidang kosmetika. Menurut data Kementrian Perindustrian Indonesia,
perkembangan industri kosmetika di Indonesia mengalami peningkatan pada
tahun 2012 sebanyak Rp 9,76 triliun dari sebelumnya Rp 8,5 triliun (14%).
Menurut Octama (2013) peningkatan industri kosmetika akan terus berlanjut
dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 12% tiap tahun.
Industri kosmetika adalah industri yang memproduksi kosmetik dan telah
memiliki izin usaha industri atau tanda daftar industri sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan. Dalam memproduksi suatu kosmetik, setiap industri farmasi
harus menerapkan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) agar dapat
menjamin dan menghasilkan produk yang bermutu. CPKB merupakan salah satu
faktor penting untuk dapat menghasilkan produk kosmetik yang memenuhi
standar mutu dan keamanan karena CPKB meliputi segala aspek yang
berpengaruh terhadap mutu produk selama proses produksi dimulai dari tahap
awal pemilihan bahan hingga diperoleh produk jadi yang akan diedarkan ke
konsumen. Selain itu, penerapan CPKB merupakan persyaratan kelayakan dasar
untuk menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan yang diakui dunia
internasional. Sehingga, produk kosmetika yang diproduksi dengan menerapkan
CPKB diharapkan memiliki daya saing di tingkat internasional khususnya pada
era kesepakatan perdagangan bebas seperti ASEAN Free Trade Area (BPOM RI,
2003).
Kegiatan produksi kosmetika merupakan salah satu dari praktek dan
pekerjaan kefarmasian. UU Nomor 36 Tahun 2009 Pasal 108 menyatakan bahwa
praktek kefarmasian meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan
farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat,
pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan
obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Hal yang sama juga tertuang dalam PP Nomor 51 Tahun
2009 tentang pekerjaan kefarmasian, tenaga kefarmasian khususnya Apoteker
memiliki tugas dan wewenang secara hukum untuk menjamin mutu, keamanan,
dan kemanfaatan sediaan farmasi dari awal produksi hingga sampai ke tangan
konsumen.
Perusahaan-perusahaan yang bersaing di industri kosmetika Indonesia
sangat banyak dan beragam. Mulai dari salon, spa, klinik kecantikan, dan
sejumlah merk-merk kecantikan dengan skala kecil maupun besar. Persaingan
yang terjadi pada industri kosmetika Indonesia sangat ketat. Terbukti dengan
banyaknya jumlah perusahaan maupun merk yang bersaing di dalamnya. Ketatnya
persaingan ini dikarenakan adanya peluang yang sangat besar di dalam industri
tersebut. Salah satu cara agar perusahaan mampu mempertahankan market share
yang dimiliki adalah dengan memahami pasar dengan baik, termasuk berbagai
macam dinamika dan perubahan di dalamnya. Oleh karena itu, peran tenaga
kefarmasian dalam hal ini adalah apoteker sangat diharapkan dalam produksi
kosmetik. Apoteker mempunyai peran vital dalam seluruh aspek produksi
kosmetik dan pengawasan mutu produk kosmetik yang bertujuan untuk menjamin
keamanan dan kualitas produk kosmetik yang beredar di masyarakat.
PT. Nekhawa merupakan salah satu perusahaan industri kosmetika di Bali
yang memproduksi kosmetika berbasis bahan alami. PT. Nekhawa berada di Jalan
Raya Sanggingan, Campuhan, Ubud, Bali. PT Nekhawa hingga saat ini
memproduksi produk perawatan tubuh meliputi Shampoo, Conditioner, Hair
Mask/Hair, produk SPA yaitu Bath Salt, Foot Spray, Massage Oil Yellow Base,
Massage Oil Base on Soya Bean Oil, dan produk perawatan wajah yaitu Trigona
Honey Soap, Cleanser, Toner Trigona Serum (PT. Nekhawa, 2019).
Berdasarkan hal tersebut tersebut Program Studi Profesi Apoteker
Universitas Udayana menyelenggarakan program Praktek Kerja Profesi (PKP)
Apoteker di Industri kosmetika PT. Nekhawa. Praktek Kerja Profesi Apoteker
(PKPA) adalah salah satu wadah yang penting bagi mahasiswa untuk dapat
mengaplikasikan ilmu dan ketrampilan (knowledge dan skill) yang telah diperoleh
selama perkuliahan. Selain itu, kegiatan PKP Apoteker ini bertujuan untuk
mendidik dan melatih mahasiswa calon Apoteker agar lebih berkompeten di dunia
kerja, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan praktis mahasiswa calon
Apoteker dalam menjalankan profesinya dengan penuh tanggung jawab di bidang
industri khususnya industri kosmetik dan menjalin hubungan kerja sama dan
komunikasi dengan beberapa institusi dalam bidang pendidikan dan pelatihan
untuk meningkatan kualitas tenaga farmasi. Dengan dilaksanakan Praktek Kerja
Profesi Apoteker (PKPA) di industri ini diharapkan dapat memberikan gambaran
bagi calon Apoteker tentang industri secara keseluruhan sebelum terjun ke dunia
kerja secara terpadu dan berdaya guna agar peran apoteker di industri dapat
dilaksanakan.

1.2 Tujuan PKP Apoteker di Industri


1.2.1 Tujuan umum
Tujuan umum PKP Apoteker di Industri dalah mempelajari peran Apoteker
di industri dalam aspek administrasi dan perundang-undangan, aspek manajerial,
aspek pekerjaan kefarmasian sesuai dengan aturan CPOB/CPOTB/CPKB.
1.2.2 Tujuan khusus
Tujuan khusus PKP Apoteker adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan pemahanan calon Apoteker tentang peran, fungsi, posisi dan
tanggung jawab Apoteker dalam industri kosmeika.
b. Membekali calon Apoteker agar memiliki wawasan, pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan
kefarmasian di industri kosmetika.
c. Memberikan kesempatan kepada calon Apoteker untuk mempelajari prinsip
CPKB dan penerapannya dalam industry kosmetika.
d. Mempersiapkan calon Apoteker dalam memasuki dunia kerja sebagai
tenaga farmasi yang profesional.
e. Memberi gambaran nyata tentang permasalahan pekerjaan kefarmasian di
industri kosmetika.

1.3 Manfaat PKP Apoteker di Industri


Manfaat PKP Apoteker adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui, memahami tugas dan tanggung jawab Apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian di industri, baik dalam managerial skill
(soft skill), maupun technical skill (hard skill).
b. Mendapat pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di industri.
c. Memahami konsep sistem mutu (quality system) dan penjaminan mutu
(quality assurance) dalam manajemen mutu (quality management) di bidang
manufaktur (GMP).
d. Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi Apoteker yang profesional.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Apoteker di industri kosemetik memiliki tugas dan tanggung jawab dalam
pengurusan izin produksi dan administrasi, perencanaan, Production
Planning and Inventory Control (PPIC), produksi, pengembangan produk
(RnD) pngawasan mutu produk (QC) dan penjaminan mutu (QA).
2. Apoteker di Industri Kosmetika PT Nekhawa memiliki keterampilan dalam
menjalankan tugas kefarmasian diberbagai bidang, dalam bidang produksi
berperan dalam perencanaan dan pengendalian produksi serta mengevaluasi
hasil kerja produksi, sedangkan dalam bidang pengawasan mutu berperan
dalam menetapkan spesifikasi produk, mengawasi setiap proses agar sesuai
dengan SOP, serta melakukan evaluasi produk dan bahan.
3. PT. Nekhawa telah menerapkan aspek CPKB yaitu personalia, bangunan
dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu,
dokumentasi, audit internal, penyimpanan, serta penanganan keluhan dan
penarikan produk.

4.2 Saran
1. Perlu dilakukannya penerapan CPKB yang lebih maksimal di PT. Nekhawa
agar mempermudah dalam memperoleh sertifikat CPKB.
2. Pelaksanaan PKPA sebaiknya lebih banyak terlibat langsung dalam kegiatan
di industri baik secara manajerial maupun operasional
DAFTAR PUSTAKA

BPOM RI. 2003. Keputusan Kepala Badan POM RI No. HK.00.05.4.3870 tentang
Pedoman Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia.

PT Nekhawa. 2019. Sejarah PT Nekhawa. Diakses pada tanggal 12 Juni 2019.


Available att : http://sitocosmetic.com/.
Menkes RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175/Menker/Per/VIII/2010
tentang Izin Produksi Kosmetika. Jakarta: Menteri Kesehatan Republik
Indonesia.

Octama, C. I. 2013. Pasar Industri Kosmetik Indonesia Terus Bertumbuh, diakses pada
11 Juni 2019, dari http://www.beritasatu.com/gayahidup/145046-pasar-
industri-kosmetik indonesia-terusbertumbuh.html?no_redirect=true