Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

KECERDASAN JAMAK
MAKALAH INI DISUSUN UNTUK MEMNUHI TUGAS MATA
KULIAH KECERDASAN NATURALIS

Disusun Oleh Kelompok : IX

1. Nia Astriani
2. Elva Yenisah
3. Insiah
4. Atik Adianal Kholisah
5. Miratus Solihah
6. Pipit Oktarini

Dosen Pengampu : Muslih Qomarudin, S.Pd.I

PROGRAM STUDI PAUD

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIAH (STIT) ALHIKMAH


BUMI AGUNG WAY KANAN LAMPUNG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah


Lingkungan dan alam merupakan dasar pemikiran yang sangat penting
bagi awal perkembangan pola pikir anak. Melalui lingkungan dan alam, anak
bebas beraktivitas dan Mengembangkan kemampuan. Kegiatan kecil dapat
dilakukan dari literatur alam. Misalnya anak dapat melukis pemandangan,
menggambar hewan, berbicara tentang indahnya warna bunga dan lain
sebagainya.
Kegiatan-kegiatan kecil semacam itu dapat mengembangkan potensi anak.
Aktivitas yang bertumpu pada kecerdasan naturalis memiliki cakupan wilayah
yang sangat luas. Mulai dari perkebunan, pertanian, peternakan, langit, gunung
sampai laut.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Aryza dkk (2002, 14-20)
menunjukkan bahwa kecerdasan naturalis memperoleh stimulasi sangat sedikit
dibandingkan dengan stimulasi kecerdasan verbal linguistik, logika-matematika,
visual-spacial, musikal, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal. Kecerdasan
naturalis dianggap aspek yang tidak begitu penting. Bahkan mendapat perlakuan
yang kurang optimal apabila dibandingkan dengan tipe-tipe kecerdasan yang lain.
Essensi dari kecerdasan yaitu seseorang mempunyai kemampuan untuk
menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kenyataan, mampu untuk menemukan
suatu persoalan kemudian menganalisis dan mampu memecahkannya.

2. Rumusan Masalah
Pada kesempatan ini kami membatasi penulisan ini pada :
1) Pengertian Kecerdasan Naturalis
2) Ciri – Ciri Anak Yang Memiliki Kecerdasan Naturalis
3) Stimulus Yang Bisa Diberikan
4) Metode Penerapan Kecerdasan Naturalis
3. Tujuan Penulisan
Tujuan Makalah ini di buat untuk :
1) Lebih Mengetahui Kecerdasan Naturalis
2) Mengenal Ciri – Ciri Kecerdasan Naturalis
3) Mengetahui Stimulus – stimulus yang bisa diberikan
4) Dapat mengetahui metode penerapan kecerdasan naturalis
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Kecerdasan Naturalis


Kecerdasan merupakan kemampuan pola pikir seseorang yang terbentuk
secara ilmiah.Kecerdasan atau inteligensi bisa juga diartikan sebagai kombinasi
sifat-sifat manusia yang mencakup kemampuan untuk memahami hal-hal yang
kompleks dan saling berhubungan
Menurut Prof. Howard Gardner (1983) penulis buku Multiple
Intelligence, Kecerdasan Naturalis ialah kemampuan untuk mengenali,
membedakan, menggolongkan, dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai
di alam maupun di lingkungan.
Dalam pengertian lain Kecerdasan Naturalis adalah kecerdasan yang
dimiliki oleh individu terhadap tumbuhan, hewan dan lingkungan alam sekitarnya.
Individu yang memiliki kecerdasan naturalis yang tinggi akan mempunyai minat
dan kecintaan yang tinggi terhadap tumbuhan, binatang dan alam semesta. Ia tidak
akan sembarangan menebang pohon. Ia tidak akan sembarangan membunuh dan
menyiksa binatang. Dan ia juga akan cenderung menjaga lingkungan dimana ia
berada. Ia akan menyayangi tumbuhan, binatang dan lingkungan sebagaimana ia
menyayangi dirinya sendiri. Inilah kecerdasan naturalis yang tinggi. Nah, orang-
orang yang bersusah payah menanam kembali pohon di area yang gundul tanpa
mengharapkan imbalan yang memadai itulah orang-orang yang mempunyai
kecerdasan naturalis yang tinggi. Sebaliknya, orang-orang yang dengan mudahnya
merusak lingkungan, menyiksa dan membunuh binatang serta menebang
tumbuhan secara sembarangan itulah orang-orang yang mempunyai
kecerdasan naturalis yang rendah.
Kecerdasan naturalis perlu diajarkan dan ditanamkan sejak dini agar
terbentuk karakter anak yang natural dan cinta alam. Karakter Anak bersifat
abstrak. Karakter merupakan ciri pribadi yang melekat pada diri setiap manusia.
Jika pada diri anak karakter positif sudah terbentuk sejak kecil, nantinya akan
terbentuk pribadi yang berkompeten. Pembentukan karakter paling mudah
dilakukan pada anak kelas 1 SD. Pada saat ini efektifitasnya sangat tinggi, artinya
pada saat usia ini internalisasi nilai-nilai naturalis akan sangat efektif diserap dan
diterapkan oleh anak-anak. Diatas usia ini efektifitasnya diprediksi berkurang dan
semakin kurang efektif sejalan dengan bertambahnya usia anak tersebut.
Dari model pembelajaran stimulasi kecerdasan naturalis (cerdas alam)
curisity anak akan terbentuk. Keingintahuan anak akan terbentuk jika dalam
proses pembelajaran anak diberikan tugas. Misalnya mencari tanaman berduri.
Anak akan terdorong untuk mencari tanaman tersebut. Contoh lainnya yaitu
materi tentang tumbuhan. Anak diajak jalan-jalan melihat lingkungan sekitar.
Guru yang kreatif mampu memancing anak agar mau bertanya dan aktif. Dari
proses pembelajaran seperti pemberian tugas yang lebih banyak dan melihat
langsung lingkungan sekitar dapat membuat anak semakin penasaran untuk lebih
banyak menggali pengetahuan terkait pelajaran yang dipelajari.

Dengan metode kecerdasan naturalis dan menghadapkan anak pada


lingkungan, maka secara tidak langsung akan melatih kepekaan. Contoh, ketika
belajar sifat-sifat air, anak diperlihatkan langsung pada air yang mengalir. Hal
lain yang dapat dilakukan, guru memfasilitasi dengan membuatkan alat peraga.

Agar anak kreatif dan inovatif, anak dituntun untuk menggambar hewan
dan tumbuhan. Untuk mencontohkan hewan pemakan daging (karnivora), anak
tidak hanya mendengar namanya tetapi juga mengetahui bentuk hewan tersebut.
Dari situlah anak akan kreatif dan inovatif. Kritis berhubungan dengan rasa
penasaran. Untuk melatih anak agar kritis dalam berpikir, guru dapat memutarkan
video tentang alam dan mengaitkan dengan kehidupan nyata.

Karakter utama penting yang harus ada dalam diri seseorang adalah jujur.
IPA dapat menanamkan sifat kejujuran pada anak melalui pembelajaran yang
benar. Kecerdasan naturalis (alam) akan membentuk anak mampu memahami
IPA. Jika anak paham, ujian lancar dan anak tidak akan berbuat curang alias jujur
dalam mengerjakan tugas.
2. Ciri – Ciri Anak Yang Memiliki Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan Naturalis Memiliki ciri antara lain:
1) Suka dan akrab pada berbagai hewan peliharaan
2) Sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka
3) Suka berkebun atau dekat dengan taman dan memelihara binatang
4) Menghabiskan waktu di dekat akuarium atau sistem kehidupan alam
5) Suka membawa pulang serangga, daun, bunga atau benda alam lainnya
6) Berprestasi dalam mata pelajaran IPA, Biologi, dan lingkungan hidup.

3. Stimulasi Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan merupakan kemampuan pola pikir seseorang yang terbentuk


secara ilmiah. Kecerdasan otak bukanlah satu-satunya jenis kecerdasan karena ada
kecerdasan lain yang berupa kecerdasan ruhiah, kejiwaan, emosional, maupun
naturalis.

Kecerdasan naturalis penting diajarkan pada anak, utamanya pada anak SD


kelas 1 karena karakter positif dapat terbentuk dari pembelajaran yang benar.
Dalam hal ini Model Pembelajaran SAINS bisa di gunakan sebagai alat stimulus
untuk melatih kecerdasan naturalis.

Model pembelajaran sains terbagi menjadi beberapa macam. Di antaranya


pembelajaran dengan metode ceramah. Di sisi lain ada juga yang sudah
berkembang menggunakan alat-alat praktikum.

Semua berawal dari model pembelajaran. Jadi, bagaimanakah model


pembelajaran sains yang baik? Ciri-ciri model pembelajaran sains yang baik
adalah model pembelajaran yang membuat anak dapat belajar secara ilmiah,
paham, dan terbentuk karakter yang positif dari proses tersebut. Lantas seperti
apakah model pembelajaran tersebut ? Salah satu pembelajaran yang bias
diaplikasikan adalah metode stimulasi kecerdasan naturalis. Metode ini sendiri
belum banyak diketahui orang.
Kecerdasan naturalis dapat ditumbuhkan dengan berbagai cara,
Diantaranya :

1) Guru dapat mengajak peserta didikmenikmati alam terbuka dan


mengamatinya. Pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas.
2) Guru dapat menyediakan buku-buku dan CD yang berkaitan dengan seluk
beluk hewan dan tumbuhan, serta dilengkapi dengan gambar-gambar yang
bagus dan menarik. Pembelajaran ini dapat membuat peserta
didikmengenali flora dan fauna.
3) Guru dapat menyediakan materi yang tepat terkait cara berpikir naturalis,
seperti menyiram bunga, menanam tanaman, dan mengamati
pertumbuhannya. Ini berfungsi untuk melatih peserta didikagar peka
terhadap lingkungan.
4) Guru dapat menciptakan permainan yang berkaitan dengan unsur-unsur
alam, sepeti membandingkan berbagai bentuk bunga, buah, ataupun daun.
Menebak suara binatang tertentu juga dapat dijadikan alternatif.

4. Metode Penerapan Kecerdasan Naturalis

Sains merupakan suatu ilmu yang menyenangkan dan asyik untuk


dipelajari karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, bahkan sangat dekat
dengan diri kita namun pada beberapa kasus, anak merasa kesulitan dalam
memahami sains itu sendiri. Pada dasarnya, sains itu mudah karena bersifat
nyata/riil. Kesulitan anak dalam belajar sains lebih disebabkan karena model
pembelajaran yang digunakan berorientasi pada aspek teoritis dan
mengesampingkan aspek praktis. Sains jika dikembangkan dengan model
pembelajaran yang baik dan tepat, dapat memicu keingintahuan anak. Melalui
keingintahuan itulah, anak akan bereksplorasi, memahami, dan menemukan
jawaban. Hal ini berbeda jika metode yang digunakan adalah ceramah dan
theorytis oriented. Anak cenderung pasif dan mengandalkan kemampuan kognitif
untuk mengejar nilai. Hafalan bukanlah jaminan seorang anak memahami materi.
Banyak anak yang tidak paham ketika diadakan ujian dan hanya mengingat teori
saja. Sayangnya, ingatan anak dalam hal pelajaran sangat terbatas sehingga
kemungkinan menyontek semakin besar. Hal ini dapat berdampak buruk bagi
anak. Menyontek memicu budaya negatif dan membentuk karakter yang negatif
pula. Karakter inilah yang biasanya dibawa sampai dewasa. IPA seharusnya
menjadikan anak kenal dan akrab dengan lingkungan serta mencintai alam.
Namun sistem pembelajaran memaksa siswa untuk berimajinasi dengan apa yang
dia pelajari dan hafalan. Ini sangat memprihatinkan. Jika dibiarkan berlanjut, anak
tidak memiliki kepekaan dan pengalaman langsung dalam mengenali
lingkungannya.

Menurut Sudjana, (2002: 147-158) Metode kunjungan lapangan dilakukan


sebagai salah satu prosedur pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan
pangalaman langsung dari obyek-obyek yang dikunjungi serta memperoleh
pengalaman belajar dari kegiatan di lapangan. Di samping itu metode ini dapat
digunakan untuk menetapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki
oleh peserta didik dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan
nyata.

Menurut Bahri dan Zain (1997: 105-106), metode kunjungan lapangan atau
karyawisata adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke
suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau
menyelidiki suatu perternakan, perkebunan, lingkungan alami dan sebagainya.
Metode pembelajaran ini dapat membuat pelajaran di sekolah menjadi lebih
relevan dengan kenyataan dan kebutuhan masyarakat. Di samping itu melalui
metode ini dapat merangsang kreativitas siswa. Pendapat di atas juga didukung
oleh Sriyono (1992: 10-12) yang menyatakan bahwa melalui metode kunjungan
lapangan atau karyawisata anak dapat lebih mengenal realita kehidupan
masyarakat , mampu mengamati, meneliti dan mempelajari suatu obyek di luar
sekolah.

Untuk lebih lanjut Ester menyatakan bahwa kunjungan lapangan dapat


memberikan banyak pengalaman nyata bagi manusia. Anak dapat melakukan
penelitian secara langsung mengenai lingkungan perkebunan, perternakan,
pertanian atau taman-taman nasional (1996: 165-170). Kunjungan lapangan dapat
memberi kegiatan pada anak untuk mengumpulkan daun atau spesimen tumbuhan,
mencari jejak hewan liar, mengamati proses erosi dan lain-lain.

Sebelum kegiatan berlangsung seorang guru harus mempersiapkan tujuan


dan obyek kunjungan serta memperkenalkan terlebih dahulu kepada siswa obyek
yang akan diamati. Melalui pengarahan, siswa akan memperoleh banyak
informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan. Selama kegiatan siswa dibagi
dalam kelompok-kelompok untuk mendiskusikan observasi yang dilakukan.
Setelah kegiatan kunjungan lapangan, dilakukan kembali diskusi kelas untuk lebih
memperdalam pengetahuan yang didapat.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode kunjungan lapangan


(field visit technique) adalah suatu prosedur pembelajaran dengan melakukan
kunjungan ke obyek-obyek tertentu di luar sekolah untuk menerapkan
pengetahuan yang telah didapat, mempelajari atau meneliti suatu lingkungan
mengenal realita kehidupan masyarakat, mengembangkan kreativitas serta
memperkaya pengalaman anak. Dan diharapkan Dengan metode ini peserta didik
dapat meningkatkan kecerdasan naturalis pada diri mereka.
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
Kecerdasan Naturalis adalah kombinasi sifat-sifat manusia yang mencakup
kecakapan dalam mengenal, mengklasifikasi flora fauna dan benda-benda alam
lainnya serta memiliki kepekaan terhadap kondisi lingkungan. Lingkungan dan
alam merupakan dasar pemikiran yang sangat penting bagi awal perkembangan
pola pikir anak. Melalui lingkungan dan alam, anak bebas beraktivitas dan
mengembangkan kemampuan. Dengan metode kecerdasan naturalis dan
menghadapkan anak pada lingkungan, maka secara tidak langsung akan melatih
kepekaan anak didik.

2. Saran
Selaku pelajar kita harus mengetahui apa yang dibutuhkan kita dalam
belajar. Jangan terlalu memikan materi – materi yang kita pelajari bisa bosan
berada di kelas. Ada kalanya kita belajar sesuatu yang berbeda agar lebih tertarik
dalam belajar, misalnya dengan studi keluar kelas, praktikum atau yang lain
sebagainya. Dengan begitu kita akan dapat langsung berada di lingkungan dan
berperan aktif.
DAFTAR PUSTAKA

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2252919-pengertian-kecerdasan-
naturalis/#ixzz2gWah6jeR

Kanaganet. Kecerdasan Naturalis.

http://www.scribd.com/doc/31851926/14249983-Paper-Kecerdasan-Natural

Erna Rahma Yani. http://www.scribd.com/doc/132453828/kecerdasan-naturalis

Hanifah. http://anifaturrosidah.blogspot.com/p/sains.html

https://www.academia.edu/22022491/MAKALAH_KECERDASAN_NATURAL
IS_Disusun_Oleh_Kelompok_8_SMA_NEGERI_1_KOKOP?auto=download