Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN OBSTETRIK SOSIAL

SEORANG IBU HAMIL DENGAN KEHAMILAN RISIKO


TINGGI DI PUSKESMAS KELURAHAN
PETUKANGAN UTARA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Persyaratan


Dalam Menempuh Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Masyarakat

Disusun oleh:
RizkyYhulianti S 030.12.238
Sekar Saras Ayu H 030.14.172
Syifa Nabila Putri 030.14.187

KEPANITERAAN KLINIK KESEHATAN MASYARAKAT


PERIODE 28 OKTOBER 2019 – 4 JANUARI 2020
PUSKESMAS KELURAHAN PETUKANGAN UTARA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kehamilan adalah keadaan dimana terdapatnya pertumbuhan dan perkembangan
janin intrauterin mulai sejak konsepsi dan sampai permulaan persalinan. Masa
kehamilan di mulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Kehamilan merupakan
proses fisiologis, namun kehamilan dapat berubah menjadi patologis / abnormal.
Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan dengan salah satu atau lebih faktor risiko,
baik dari pihak ibu maupun janin yang memerikan dampak kurang menguntungkan
bagi ibu maupun janinnya. Kehamilan risiko tinggi diakibatkan 4 Terlalu (muda, tua,
sering melahirkan dan dekat jarak kelahiran) dan 3 Terlambat (mengenali tanda
bahaya dan ambil keputusan, mencapai fasilitas kesehatan, dan penanganan).1,2
Kesehatan ibu sebagai bagian dari kesehatan masyarakat digambarkan
meningkat jika terjadi penurunan angka kematian ibu, meningkatnya pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan dimana persalinan tersebut terjadi di fasilitas
kesehatan. Menurut ICD-10, kematian ibu didefinisikan sebagai kematian seorang
wanita yang terjadi saat hamil atau dalam 42 hari tanpa melihat usia dan letak
kehamilannya, yang diakibatkan oleh sebab apapun yang terkait dengan atau
diperburuk oleh kehamilannya atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh
insiden dan kecelakaan. Kematian ibu bisa disebabkan oleh faktor langsung dan tidak
langsung baik dalam masa kehamilan, proses persalinan ataupun masa nifas.3
Secara umum terjadi penurunan angka kematian ibu (AKI) selama periode
1991 – 2015 dari 390 menjadi 305 per 100.000 kelahiran hidup. Walaupun terjadi
kecenderungan penurunan AKI, namun tidak berhasil mencapai target MDGs yang
harus dicapai yaitu sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.
Kematian ibu merupakan hal yang dapat diatasi dengan berbagai upaya untuk
mencegah dan menangani komplikasi kelahiran. Berbagai upaya untuk menurunkan
angka kematian ibu diantara melalui pelayanan antenatal terpadu yang diberikan
kepada ibu hamil secara berkala selama masa kehamilan. Pelayanan kesehatan pada
ibu hamil tidak dapat dipisahkan dengan pelayanan persalinan, pelayanan nifas dan
pelayanan kesehatan bayi baru lahir. Pelayanan antenatal terpadu menuntun tenaga
kesehatan harus dapat memastikan bahwa kehamilan berlangsung normal, mampu
mendeteksi dini masalah dan penyakit yang dialami ibu hamil, melakukan intervensi
secara adekuat sehingga ibu hamil siap untuk menjalani persalinan normal. 4
Masih tingginya kehamilan risiko tinggi menyebabkan tenaga kesehatan perlu
bertindak cepat dalam menemukan kasus, dan memberi rujukan sebelum mengancam
kedua belah pihak, baik ibu maupun anak. Di Puskesmas Kelurahan Petukangan
Utara masih ditemukan kehamilan risiko tinggi, sehingga perlu ditingkatkan betapa
pentingnya pemeriksaan ANC yang teratur dimana merupakan salah satu bagian dari
tindakan promotif dan preventif di masyarakat yang juga begitu penting.
BAB II
LAPORAN OBSTETRIK SOSIAL

2.1 Identitas Pasien


Nama : Ny. W
Tanggal Lahir/Umur : 6 Mei 1981 / 38 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Majid Darul RT 06/ RW 02, Petukangan Utara
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMP
Suku bangsa : Betawi
Agama : IslamIslam
Status : Menikah

2.2 Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 14 November 2019 pukul
08.30 WIB di Poli KIA Puskesmas Kelurahan Cilandak Barat.
- Keluhan Utama :-
- Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengaku sedang hamil yang ke empat, HPHT tanggal 15 Juni 2019,
taksiran partus 22 Maret 2020. Usia kehamilan 22 minggu 2 hari. ANC sudah
2 kali di Puskesmas Petukangan Utara. Belum pernah dilakukan USG dan
imunisasi TT sebelumnya. Saat ini pasien datang ke puskesmas Kelurahan
Petukangan Utara untuk kontrol kehamilan yang ke tiga dengan bidan.
Keluhan seperti keluarnya air dan darah dari jalan lahir, mual dan muntah
disangkal. Saat ini pasien hamil yang keempat. Pada tahun 2017, pasien
mengalami keguguran tetapi tidak sampai dilakukan tindakan kuretase. Saat
ini, pasien memiliki 2 orang anak yang hidup dan lahir secara normal. Pasien
rutin mengkonsumsi obat kalsium, vitamin (folamil), tablet penambah darah
dan juga penguat kandungan (utrogestan).
- Riwayat Penyakit Dahulu :
Diabetes Mellitus (-), hipertensi (-), asma (-), tuberkulosis (-), penyakit
jantung (-), penyakit ginjal (-), penyakit hati atau kuning (-), miopi (-).
- Riwayat Obstetri Dahulu :
G4P2A1, kehamilan ini merupakan kehamilan keempat pasien dan pernah
mengalami 1 kali keguguran kandungan sebelumya pada tahun 2017.
- Riwayat KB Dahulu :
Sebelumnya pasien hanya menggunakan KB suntik 3 bulan.
- Riwayat Penyakit Keluarga :
Terdapat riwayat hipertensi dari bapak pasien. Tidak terdapat kehamilan
bermasalah di keluarga pasien. Diabetes Mellitus (-), asma (-), TB (-),
penyakit jantung (-), penyakit ginjal (-), penyakit hati atau kuning (-).
- Riwayat Personal Sosial :
1. Riwayat Perkawinan
Pasien menikah 1 kali pada tahun 2002 dan belum pernah bercerai. Saat ini
merupakan kehamilan keempat pasien. Saat ini pasien sedang hamil 22
minggu.
2. Perilaku
Sehari-hari pasien melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga,
melakukan kegiatan rumah seperti mencuci, memasak dan mengantar
jemput anak ke sekolah. Pasien hanya berolahraga berupa jalan-jalan
disekitar perumahan, makan 2 kali sehari dan sering diselingi dengan
jajanan biskuit khusus ibu hamil. Hubungan dengan keluarga pasien juga
baik dan saling membantu. Keluarga Ny. W sehari-hari mengkonsumsi nasi
sebagai makanan pokok dengan sayur, namun untuk sumber protein yang
pasien jarang makan ikan, ayam atau daging, hanya berupa telur saja.
Keluarga harmonis tidak ada masalah dan saling memberi dukungan.
3. Pekerjaan
Pasien seorang sebagai ibu rumah tangga, melakukan kegiatan rumah
seperti mencuci, memasak dan mengantar jemput anak ke sekolah.
4. Lingkungan Sekitar Tempat Tinggal Pasien
Pasien tinggal dikontrakan dengan lingkungan yang padat, pasien
mengatakan sering menjaga kebersihan di rumah serta ada tempat
pembuangan sampah yang berada di dekat ruang keluarga. Pasien menjalin
hubungan yang baik dengan tetangga yang ada disekitar rumahnya.
5. Psikososial
Pasien merupakan seseorang yang ramah. Pasien juga memiliki hubungan
yang dekat dengan keluarga dan juga tetangga disekitar rumahnya. Pasien
aktif untuk mengikuti kegiatan warga di RT/RW seperti arisan, pengajian,
dan lain-lainnya.

2.3 Pemeriksaan Fisik


- Keadaan Umum : Baik
- Kesadaran : Compos Mentis
- Tanda Vital :
1. Tekanan Darah : 150/100 mmHg
2. Suhu : 36,8ᵒC
3. Frekuensi Nafas : 20x/menit
4. Frekuensi Nadi : 88 x/menit
- Status Gizi :
1. Berat Badan : 66,3 kg
2. Tinggi Badan : 158 cm
3. LLA : 29 cm
4. IMT : 26,4 kg/m2
- Kulit : dalam batas normal
- Kepala : dalam batas normal
- Mata : dalam batas normal
- THT : dalam batas normal
- Leher : dalam batas normal
- Thoraks : dalam batas normal
- Abdomen : TFU 17cm, DJJ 136x/menit
- Ekstremitas : dalam batas normal.

2.4 Pemeriksaan Penunjang


Pasien mengaku pernah melakukan pemeriksaan laboratorium selama kehamilan,
berupa cek darah lengkap, HbsAg, Sifilis, HIV, dan urin lengkap. Didapatkan hasil
dalam batas normal.

2.5 Hasil Pemeriksaan di Puskesmas/Bidan:


- Tanggal 27 Agustus 2019: Tidak ada keluhan. Tekanan darah: 124/83
mmHg, BB 62,9 kg, Umur kehamilan 10 minggu, Trimester I, LLA 29 cm,
TFU dibawah pusat, status gizi normal.
- Tanggal 27 September 2019: Tidak ada keluhan. Tekanan darah: 130/90
mmHg, BB 65,5 kg, Umur kehamilan 15 minggu, Trimester II, LLA 29 cm,
TFU 13 cm, status gizi normal.

2.6 Ringkasan Hasil Pemeriksaan


Berdasarkan hasil pemeriksaan didapatkan bahwa Ny. W berusia 38 tahun dengan
G4P2A1 sudah memeriksakan ANC sebanyak 3 kali. Pasien memiliki riwayat
keguguran 1 kali pada tahun 2017. Pasien memiliki riwayat penyakit keluarga berupa
tekanan darah tinggi atau hipertensi dari bapak, tidak terdapat riwayat penyakit lain
maupun riwayat penyakit sebelumnya. Kebiasaan berolahraga pasien berupa jalan-
jalan disekitaran perumahan selama hamil, dan makan 2 kali sehari serta makan
makanan ringan khusus ibu hamil. Makanan yang dimakan nasi dengan sayur dan
telur saja kurang bervariatif (pasien jarang mengonsumsi daging, ayam dan ikan).
Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga kebersihan rumah dinilai cukup, dan hubungan
dalam keluarga serta dengan tetangga baik.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan adanya peningkatan tekanan darah sebesar
150/100 mmHg. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah lengkap, GDS
(gula darah sewaktu), infeksi menular seksual, dan urinalisis dalam batas normal.

2.7 Diagnosis Kerja


G4P2A1 hamil 22 minggu, janin tunggal, hidup intrauterine dengan hipertensi
dalam kehamilan.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Analisis Kasus


1. Diagnosis
Ny. W sudah berusia 38 tahun dengan G4P2A1 dan sedang hamil 22 minggu.
Saat ini beliau tinggal bersama suami dan 2 orang anaknya di Jl.Majid Darul RT
06/ RW 02, Petukangan Utara. Pendidikan Ny. W hingga lulus SMP dan
sekarang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Hasil observasi kami terhadap Ny.
W dapat disimpulkan bahwa permasalahannya mengenai risiko tinggi adalah usia
terlalu tua, riwayat obstetrik buruk dan adanya tekanan darah yang tinggi yaitu
150/100 mmHg.
Dalam kesehariannya, Ny. W adalah ibu rumah tangga. Pasien jarang
berolahraga, hanya berjalan jalan disekitar perumahan. Kegiatan rumah tangga
yang dilakukan selama hamil adalah mencuci, menjemur, menyapu, memasak di
rumah dan mengantar jemput anak ke sekolah. Secara kehidupan sosial, sudah
baik dengan sering berinteraksi dan keluarga, namun dengan tetangga seperlunya
karena banyak perkerjaan di rumahnya. Secara perekonomian pasien mengatakan
penghasilan perbulannya sudah mencukupi kebutuhan sehari hari.
Kebiasaan makan sehari-hari Ny. W cukup baik dengan kebiasaan mengemil
buah-buahan dan snack khusus ibu hamil, dimana kebiasaan tersebut tidak bisa
menjadi salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan tekanan darah,
diabetes mellitus, ataupun penyakit lainnya. Namun pasien memang memiliki
faktor genetik untuk penyakit darah tinggi yang dimiliki oleh ayah dari pasien.
Dengan kondisi kehamilan berisiko tinggi, maka nutrisi harus diperhatikan agar
tidak terjadi gangguan perkembangan janin dan juga faktor-faktor lain yang bisa
menyebabkan peningkatan tekanan darah tersebut.
Pada riwayat obstetrik, Ny. W memiliki riwayat abortus sebanyak 1 kali pada
tahun 2017, hal ini mungkin diakibatkan terlalu banyak aktivitas yang dilakukan.
Ny. W pernah menggunakan KB, yaitu KB suntik 3 bulan. Pasien sudah
melakukan ANC dengan cukup baik, Ny. W sudah melakukan ANC sebanyak 3
(tiga) kali pada ini di puskesmas.
Dari hasil pemeriksaan ANC Ny. W tidak ada keluhan pernah, walaupun
ANC yang dilakukan sudah sesuai jadwal yang ditentukan, akan tetapi ditemukan
permasalahan Ny. W tentang kehamilan risiko tinggi dimana pada pemeriksaan
didapatkan tekanan darah pasien mencapai ≥ 140/90 pada tiga kali pemeriksaan
berturut-turut. Maka dari itu, pasien perlu mengetahui mengenai faktor yang
dapat menyebabkan hipertensi dalam kehamilan ini, dimana dapat dilakukan
dengan cara memperhatikan nutrisi serta ketaatan pemeriksaan ANC.
Ny. W selama ini memakai KB suntik 3 bulan. Ketika ditanyakan rencana
untuk KB setelah melahirkan, pasien mengaku masih bingung akan apa yang
akan pasien pilih. Oleh karena itu, permasalahan pengetahuan KB menurut kami
harus diperhatikan terutama pasien memiliki hipertensi dalam kehamilan dan
kehamilan pada usia tua serta riwayat obstetri yang buruk.

2. Rencana Penatalaksanaan
Terapi Non Medikamentosa:
a. Edukasi mengenai pentingnya ANC bagi ibu hamil
Melakukan edukasi kepada pasien mengenai pentingnya pemeriksaan ANC
dan manfaatnya bagi kehamilan berisiko tinggi, dimana pada pasien ini
didapatkan dari tekanan darah yang tinggi melebihi batas normal sehingga
diperlukannya pemeriksaan yang teratur. Edukasi tentang ANC dimaksudkan
agar pasien rutin melakukan pemeriksaan, sehingga dapat terkontrol terus kondisi
pasien. Persalinan pada pasien dengan kehamilan risiko sangat tinggi akan
diberikan rujukan dini. Pasien diajarkan mengenai pentingnya kontrol ke rumah
sakit karena kondisi hamil risiko tinggi untuk ibu dan anak, dan konsultasi
dengan dokter spesialis.
b. Edukasi nutrisi ibu hamil
Mengajarkan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang tepat terutama karena
memiliki tekanan darah yang tinggi dan riwayat abortus. Makanan diperlukan
tinggi protein (dari daging, ikan, ayam, kacang) guna perkembangan janin,
karbohidrat diutamakan kompleks (nasi, roti) dan serat, serta vitamin (terutama
vitamin B, D dan asam folat) dan mineral (kalsium, zat besi). Mengurangi
makanan tinggi garam. Dan banyak minum untuk bantu mencegah
oligohidramnion.

c. Edukasi KB pasca persalinan


KB yang disarankan pada pasien adalah KB non hormonal dan KB jangka
panjang guna menghentikan kehamilan yaitu MOW. Jika pasien menolak dapat
disarankan KB IUD. tidak disarankan KB jangka pendek karena usia pasien
sudah termasuk usia tua untuk risiko hamil, dan tidak disarankan untuk KB
hormonal karena pasien memiliki maslaah tekanan darah tinggi, dengan
menggunakan KB hormonal dapat memperburuk tekanan darah pasien.

Terapi medikamentosa:
Untuk terapi medikamentosa pada hipertensi pada kehamilan adalah dengan
pemberian antihipertensi yang dapat berupa pemberian metildopa 2 x 250 mg per
hari atau pemberian nifedipin 3 x 10 mg per hari.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan data dan wawancara yang kami peroleh, dapat kami simpulkan
bahwa tatalaksana untuk Ny. W adalah edukasi mengenai betapa pentingnya
melakukan pemeriksaan ANC secara teratur karena berdasarkan pemeriksaan terakhir
pasien terdapat adanya tekanan darah tinggi pada pasien. Selain itu juga perlunya
dilakukan edukasi mengenai pemenuhan nutrisi selama kehamilan dan mengurangi
makanan tinggi garam, serta memperbanyak minum. Diperlukan juga edukasi
mengenai KB pasca persalinan, pemilihan KB yang dianjurkan untuk Ny. W adalah
MOW. Hal ini bertujuan untuk menghentikan kehamilan dikarenakan pasien sudah
memiliki tiga anak dan usia pasien termasuk usia tua yang memiliki risiko tinggi
untuk hamil. Selain itu diperlukan rujukan dini berencana hingga perencanaan
persalinan dikarenakan kehamilan pasien merupakan kehamilan risiko tinggi.

4.2 Saran
4.2.1 Bagi Pasien / Masyarakat
Bertanya secara aktif apabila ada hal atau keadaan yang membingungkan
atau apabila pasien penasaran dengan kondisi tertentu. Pasien diharapkan
langsung bertanya maupun berkonsultasi ke pihak yang memiliki keahlian di
bidang tersebut atau tenaga kesehatan lainnya dan tidak hanya mendengar dan
mempercayai informasi dari internet maupun dari pembicaraan antar sesama
warga.

4.2.2 Bagi Institusi Pemerintah (Pemerintah Daerah / Puskesmas)


Lebih menggalakan edukasi mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan
ANC kepada ibu hamil sehingga mengurangi faktor risiko tinggi pada
kehamilan. Serta pengetahuan yang benar dan baik untuk pasien yang didapat
dari tenaga kesehatan ini akan membantu mengurangi mitos pada masyarakat,
dan meningkatkan kepercayaan pasien terhadap pelayanan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan menteri kesehatan republik


indonesia nomor 97 tahun 2014 tentang pelayanan kesehatan masa sebelum hamil,
masa hamil, persalinan, dan masa sesudah melahirkan, penyelenggaraan pelayanan
kontrasepsi, serta pelayanan kesehatan seksual. Jakarta: Kementerian Kesehatan
RI; 2014.
2. Kemenkes RI. Profil kesehatan 2015. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2016.
3. Kementerian Kesehatan RI. Rencana aksi percepatan penurunan angka kematian
ibu di Indonesia. Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Ibu. Ditjen Bina Gizi dan
KIA Kementerian Kesehatan RI. 2013
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2018.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2019
5. Isdiaty FN. Pengetahuan Tanda Bahaya Kehamilan dan Perilaku Perawatan
Kehamilan pada Ibu Hamil Trimester III. Depok: Universitas Indonesia. 2013;
16(1): 18-24.
6. Stanton ME, Koblinsky M. Essential Obstetric Care and Subsets - Basic and
Emergency Obstetric Care: What’s the Difference? Diakses melalui:
http://www.jsi.com/intl/mothercare. Diakses pada tanggal 26 Juli 2019.
7. World Health Organization (WHO). Monitoring Emergency Obstetric Care: A
Handbook. Geneva: WHO; 2009
8. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan menteri kesehatan republik
indonesia nomor 28 tahun 2014 tentangpedoman pelaksanaan program jaminan
kesehatan nasional. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2014 Prawirohardjo S.
Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka; 2010.
Lampiran 1. Kuesioner Riwayat Obstetrik Sosial

A. KARAKTERISTIK DEMOGRAFIK
ISTRI SUAMI
1. Nama Waroyah Rajudin
2. Tanggal Lahir/Umur 6 Juni 1981 7 Juni 1979
38 tahun 40 tahun
3. Status Pernikahan Menikah
4. Pernikahan ke Pertama
5. Alamat JL.Majid Darul RT 06/ RW 02,
Petukangan Utara
6. Pendidikan SMP
7. Pekerjaan Ibu Rumah Security
Tangga
8. Agama Islam Islam
9. Aktivitas Sosial Arisan, pengajian -
10. Penghasilan rerata perbulan 2-3 juta/bulan
B. RIWAYAT OBSTETRIK
1. Gravida (hamil ke-…) 4
2. Para (riwayat lahir hidup) 2
3. Abortus (riwayat keguguran) 1
4. Riwayat lahir mati 0
5. Asuhan antenatal – frekuensi 3 kali
6. Asuhan antenatal – tempat Puskesmas, Rumah Sakit
7. Asuhan antenatal – petugas Bidan, Dokter spesialis
8. Pemeriksaan kehamilan : YA TIDAK
a. Pengukuran tinggi badan v
b. Pengukuran tekanan darah v
c. Pengukuran LLA v
d. Pengukuran tinggi rahim v
e. Penentuan letak/presentasi janin v
f. Penghitungan denyut jantung janin v
g. Imunisasi Tetanus Toxoid v
h. Pemberian tablet tambah darah v
i. Tes laboratorium v
j. Konseling v
k. Tatalakasana/pengobatan v
9. Penyulit kehamilan : YA TIDAK
a. Mual muntah v
b. Perdarahan kehamilan muda v
c. Demam tinggi v
d. Bengkak kaki, tangan, wajah v
e. Nyeri kepala v
f. Tekanan darah tinggi v
g. Pergerakan janin kurang v
h. Perdarahan kehamilan tua v
i. Ketuban pecah v

B. RIWAYAT OBSTETRIK
10. Gangguan/penyakit lain dalam TIDAK
kehamilan
11. Konseling Gizi YA
12. Penyulit nifas : YA TIDAK
a. Infeksi/demam v
b. Perdarahan <24jam v
c. Perdarahan >24jam v
13. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) YA
14. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) YA
15. Konseling Kontrasepsi Pasca persalinan
16. Imunisasi Tetanus Toxoid tidak
17. Pemberian tablet tambah darah YA
18. Pemeriksaan laboratorium darah YA TIDAK
a. Golongan darah v
b. Kadar hemoglobin v
c. Infeksi menular seksual v
19. Pemeriksaan laboratorium urin YA
20. Pemeriksaan pasca-persalinan YA TIDAK
a. 1-2 minggu pasca persalinan v
b. 6 minggu pasca persalinan v
Lampiran 2. Kuesioner Risiko Kehamilan

No Faktor Risiko I : Ada Potensi Gawat Obstetrik/APGO Skor


1 Terlalu muda hamil (<16th) -
2 A. Terlalu lambat hamil pertama > 4 th nikah -
B. Terlalu tua hamil pertama (usia >35th) -
3 Terlalu cepat hamil lagi (<2th) -
4 Terlalu lama hamil lagi (>10th) -
5 Terlalu banyak anak (>4th) -
6 Terlalu tua (usia >35 th) 4
7 Terlalu pendek (<145 cm) -
8 Pernah gagal hamil (riw.obstetri jelek) 4
9 Pernah melahirkan dengan A. Tarikan tang/vakum -
B. Uri dirogoh -
C. Diberi infus/transfusi -
10 Pernah operasi sesar -
Faktor Risiko II : Ada Gawat Obstetrik/AGO
1 Penyakit pada ibu hamil A. Kurang darah -
B. Malaria -
C. TBC paru -
D. Penyakit jantung -
E. Kencing manis (diabetes) -
F. Penyakit menular seksual -
2 Preeklampsia,bengkak muka tungkai tekanan darah tinggi dan albumin di 4
urin
3 Hamil kembar ( perut membesar, gerakan anak ada di banyak tempat ) -
4 Hidramnion atau kembar air ( perut sangat membesar gerak anak tak terasa ) -
5 Janin mati dalam kandungan 4
6 Kehamilan lebih bulan -
7 Letak sungsang atau letak melintang -
Faktor Risiko III : Ada Gawat Darurat Obstetrik/ADGO
1 Perdarahan ante partum -
2 Preeklampsia berat atau eklampsia -
TOTAL +2 18

Berdasarkan hasil diatas, pasien diketahui memiliki kehamilan risiko sangat tinggi
(≥12)
Lampiran 3. Hasil Dokumentasi

Kunjungan Tanggal 14 November 2019 di Poli KIA