Anda di halaman 1dari 20

FARMAKOKINETIK

(BIOAVAILABILITAS & BIOEKUIVALENSI)

Farmakologi Veteriner
oleh

NAMA : I GEDE ARYA MAS SOSIAWAN


NIM : 1709511002
KELAS : 17 A

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadapan Ide Sang Hyang Widi Wasa atas berkat
dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan paper berjudul “Farmakokinetik
(Bioavailabilitas & Bioekuivalensi)” ini dengan tepat waktu. Paper ini disusun
memenuhi tugas mata kuliah Farmakologi Veteriner.
Adapun paper saya tentang “Farmakokinetik ( Bioavailabilitas &
Bioekuivalensi)” ini telah saya usahakan sebaik mungkin dan tentunya dengan
bantuan dari berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar proses pembuatan paper
ini. Oleh sebab itu, saya juga ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam pembuatan paper ini.
Saya juga berharap paper ini dapat menambah wawasan dan berguna bagi para
pembacanya.
Saya sepenuhnya sadar, bahwa dalam penulisan paper ini masih banyak
kesalahan dan jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, saran dan kritik yang
membangun sangat saya harapkan umtuk perbaikan dalam penulisan paper diwaktu
yang akan datang.

Denpasar, November 2018

I Gede Arya Mas Sosiawan

ii
DAFTAR ISI
Cover……………………………………………………………………………….i
Kata Pengantar……………………………………………………………………..ii
Daftar Isi…………………………………………………………………………...iii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………..1
1.1 Latar Belakang……………………………………..…………………………...1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………..…………………………..2
1.3 Tujuan Penulisan……………………………………..…………………………3
1.4 Manfaat Penulisan……………………………………..………………………..3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………….…..3
3.1Definisi bioavailabilitas dan bioekuivalensi……………………………….........3
3.2 Tipe bioavailabilitas dan bioekuivalensi ……………........................................5
3.3 Faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas dan bioekuivalensi………………8
3.4 Metode dan criteria bioavailabilitas dan bioekuivalensi …….….......................9

BAB III PENUTUP…………………………………………………………….. ....15


3.1 Kesimpulan…………………………………………………………... ………..15
3.2 Saran…………………………………………………………………………....15
DAFTARPUSTAKA….……………………………………………………….......17
LAMPIRAN JURNAL..…………………………………….……………………..18

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat setelah dilepas dari bentuk sediaannya (injeksi, tablet, suspense, dll)
akan mengalami proses absorpsi, distribusi ke dalam jaringan dan organ tubuh,
kemudian dimetabolisme serta terakhir dieliminasi ke luar tubuh. Keempat
proses diatas biasanya berbeda untuk setiap individu, namun demikian dapat
dikarakteristik dengan bantuan Model Matematika dan Statistika. Konsep
bioavailabilitas pertama kali diperkenalkan oleh Osser pada tahun 1945, yaitu
pada waktu Osser mempelajari absorpsi relatif sediaan vitamin. Istilah yang
dipakai pertamakali adalah availabilitas fisiologik, yang kemudian diperluas
pengertiannya dengan istilah bioavailabilitas. Dimulai dinegara Amerika Serikat,
barulah pada tahun 1960 istilah bioavailabilitas masuk ke dalam arena promosi
obat. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya produk obat yang sama yang
diproduksi oleh berbagai industri obat, adanya keluhan dari pasien dan dokter di
man obat yang sama memberikan efek terapeutik yang berbeda, kemudian
dengan adanya ketentuan tidak diperbolehkannya Apotek mengganti obat yang
tertulis dalam resep dengan obatmerek lainnya.
Beberapa obat dibuat dan dipasarkan oleh lebih dari satu pabrik farmasi. Dari
studi biofarmasetik member fakta yang kuat bahwa metode fabrikasi dan formulasi
dengan nyata mempengaruhi bioavaibilitas obat tersebut. Karena kebanyakan
produk-produk obat mengandung jumlah bahan obat aktif yang sama, maka dokter,
farmasis dan orang lain yang menulis resep, menyalurkan atau membeli obat harus
memilih produk yang memberikan efek terapeutik yang ekuivalen. Untuk
memudahkan mengambil keputusan tersebut, suatu pedoman telah dikembangkan
oleh US Food and Drug Administration (FDA). Boiavaibilitas menunjukkan ssuatu
pengukuran laju dan jumlah obat yang aktif terapetik yan mencapai sirkulasi umum.
Adapun persyaratan bioekivalensi,suatu persyaratan yang ddibuat oleh Food and
Drug Administration (FDA) untuk uji in vitro dan atau in vivo produk-produk obat

1
tertentu yang persyaratan tersebut harus dipenuhi sebagai kondisi untuk pemasaran.
Bioekivalensi produk obat merupakan ekivalensi farmasetik atau alternative adalah
suatu sediaan yang laju dan jumlah absorpsinya tidak berbeda secara bermakna
apabila diberikan pada dosis dan kondisi percobaan yang sama. Beberapa obat yang
mempunyai jumlah absorpsi sama tetapi berbeda dalam laju absorpsi dapat dianggap
ekivalen farmasetik apabila perbedaan laju absorpsi tidak menyebabkan perbedaan
efek klinik yang bermakna. Kenapa bioekivalensi obat ini sangat penting? Apabila
obat orisinil dan obat generic diberikan ke pasien dalam bentuk zat berkhasiat murni
tanpa bahan tambahan lain, bioekivalensi tidak akan menjadi masalah karena dapat
dipastikan kedua obat tersebut akan memberikan efek yang sama. Dalam prakteknya
tidaklah seperti itu, karena obat tidak hanya terdiri dari zat berkhasiat saja, melainkan
dicampur dengan bahan-bahan lain. Di samping perbedaan terhadap zat tambahan,
perbedaan dalam proses pembuatan juga akan mempengaruhi suatu obat. Maka
mungkin kita pernah mendengar atau mengalami ada dokter yang hanya mau
memakai obat merek tertentu yang mungkin salah satu alasannya masalah keyakinan
ini.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa definisi bioavailabilitas dan bioekuivalensi?
1.2.2. Apas saja tipe bioavailabilitas?
1.2.3. Apa saja faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas dan bioekuivalensi?
1.2.4. Bagaimana dengan metode dan criteria ujibioavailabilitas dan bioekuivalensi?

2
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui definisi bioavailabilitas dan bioekuivalensi
1.3.2 Untuk mengetahui tipe bioavailabilitas
1.3.3 Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi bioavailabilitas dan
bioekuivalensi
1.3.4 Untuk mengetahui metode,kinerja dan kriteria uji bioavailabilitas dan
bioekuivalensi

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Dapat memahami defenisi, tipe factor dan metode dari bioavailabilitas dan
bioekuivalensi

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Bioavailabilitas dan Bioekuivalensi


Bioavailabilitas merupakan kecepatan jumlah obat yang mencapai sistem
sirkulasi sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetic, perbandingan zat
aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang dberikan.
Ketersediaan hayati merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk
sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat tersebut.
Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan
jumlah obat tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh, dan masuk ke dalam
sirkulasi sistemik. Uji bioavailabilitas dapat digunakan untuk menentukan
bahwa produk obatnya dengan formulasi dan proses produksi yang spesifik akan
memberikan efek klinik yang sebanding dengan produk obat sejenis yang diproduksi
industri obat lain (produk originator atau produk inovator), yang pada uji kliniknya
memberikan hasil yang baik.
Sedangkan bioekuivalensi merupakan istilah yang lebih relatif yang
membandingkan satu produk obat dengan yang lain atau dengan satu produk standar
yang sudah dikembangkan. Bioekivalensi mengindikasikan bahwa suatu obat dalam
dua atau lebih bentuk dosis yang sama mencapai sirkulasi umum pada tingkat relatif
yang sama dan keberadaan relatif yang sama.Studi bioekivalensi produk obat pada
umumnya akan membandingkan bioavailabilitas antara suatu formulasi baru
obat standar dengan formulasi asli/lama, atau bisa juga dengan suatu bentuk
pemakaian obat baru dibandingkan terhadap formulasi yang diperdagangkan.
Tujuan uji bioekivalensi baik di pedoman WHO maupun di Indonesia adalah sama
yaitu untuk menjamin bahwa obat yang beredar mempunyai standar yang sama
dengan produk inovatornya. Bila dilakukan dengan baik, bioavailabilitas ini
dapat digunakan untuk menilai potensi suatu obat yaitu dengan mengetahui jumlah
relatif obat yang diabsorpsi dan kecepatan obat berada dalam sirkulasi sistemik, dan

4
dapat diperkirakan tercapai atau tidaknya efek terapi yang dikehendaki menurut
formulasinya. (ardiarini, 2010)

2.2 Tipe Bioavailabilitas


Bioavailabilitas terbagi menjadi 2, yaitu:
 Bioavailabilitas absolute
Merupakan bioavailabilitas zat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik dari suatu
sediaan obat dibandingkan dengan bioavaibiltas zat aktif tersebut dengan pemberian
intra vena. Bioavailabilitas absolut dapat diukur dengan membandingkan AUC
produk yang bersangkutan setelah pemberian oral. Pengukuran dapat dilakukan
sepanjang Vd dan K tidak tergantung pada rute pemberian.
 Biovailabilitas relative
Merupakan bioavailabilitas zat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik dari suatu
sediaan obat dibandingakan dengan bentuk sediaan lain selain intra vena.
Availabilitas relatif dari dua produk obat yang diberikan pada dosis dan rute
pemberian yang sama dapat diperoleh dengan persamaan berikut: dimana produk obat
B sebagai standar pembanding yang telah diketahui. Fraksi tersebut dapat dikalikan
100 untuk memberi prosen availabilitas relatif. Jika dosis yang diberikan berbeda,
suatu koreksi untuk dosis dibuat seperti dalam persamaan berikut: penilaian
ketersediaan hayati atau bioavaibilitas pada sukarelawan dapat dilakukan dengan
beberapa metode, yaitu metode dengan menggunakan data darah, data urin dan data
farmakologis atau klinis. Data darah atau data urin digunakan untuk menilai
ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiatnya telah
diketahui cara dan validitasnya. Jika cara dengan validitas analisis belum diketahui,
dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi yangtimbul dapat
diukur secara kuantitatif.
Meskipun metode ekskresi urin mempunyai keuntungan diantaranya menghindari
gangguan dan bahaya dari pengambilan secara intravena, namun metode ini juga
mempunyai kerugian diantaranya tidak semua obat diekskresikan melalui urin

5
sehingga ekskresi urin hanya mewakili sebagian kecil dari fraksi kecil ketersediaan
hayati obat. Ada beberapa metode langsung dan tidak langsung untuk penilaian
ketersediaan hayati pada manusia. Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi,
metode analisis untuk penetapan kadar obat dan sifat produk obat.
Parameter-parameter yang berguna dalam penentuan ketersediaan hayati suatu obat
meliputi :
1. Data plasma
 Waktu untuk mencapai konsentrasi plasma maksimal (t maks).satuannya
adalah satuan waktu. Misalnya menit dan jam
 Konsentrasi plasma maksimal dalam darah (Cmaks). Satuannya adalah
satuan konsentrasi misal mg/ml
 Luas daerah dibawah kurva kadar obat dalam plasma-waktu dari t=0
samapai= -(AUC<0-) menunjukan suatu ukuran dari jumlah total obat
aktif yang mencapai sirkulasi sistematik
2. Data urin
 Jumlah kumutatif obat yang diekskresikan dalam urin (DU). Data ini
secara langsung berhubungan dengan jumlah total obat terabsorpsi
 Laju ekskresi obat dalam urin (dDu/dt)
 Waktu untuk terjadi ekskresi obat maksimum dalam urin (t-)
3. Efek farmakologi akut
Merupakan pengukuran kuantitatif yang dilakukan dengan melihat efek farmakologi
akut yang ditimbulkan, misalnya efek pada diameter pupil, kecepatan denyut jantung
atau tekanan darah. Penggunaan efek farmakologi obat untuk menentukan
ketersediaan hayati memerlukan adanya kaitan dosis-respon. Dengan demikian
ketersediaan hayati dapat ditentukan dengan memeriksa kurva dosis-respon maupun
total area dari kurva efek farmakologi akut-waktu.
4. Respon klinik
Perbedaan dari respon klinik mungkin disebabkan oleh perbedaan farmakokinetika
atau farmakodinamika obat antar individu produk-produk obat, obat yang bioekivalen

6
harus mempunyai ketersediaan hayati yang sama,sehingga respon obat yang sama
dapat diperkirakan. Oleh sebab itu, perubahan respon klinik antar individu
yang tidak dikaitkan dengan ketersediaan hayati mungkin disebabkan adanya
perbedaan dalam farmakodinamika obat diantaranya adalah umur, toleransi obat,
interaksi obat dan faktor-faktor patofisiologik yang tidak diketahui.
Berbagai penelitian membuktikan adanya resiko yang berkaitan dengan
pemahaman yang terlalu sederhana tentang kesetaraan obat. Kesetaraan obat (BE)
dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
 Farmakoklinik
kesetaraan 2 obat dengan 2 molekul berbeda tapi memiliki aktivitas intrinsik yang
sama dan yang secara In vivo bekerja pada substrat molekular yang sama.
 Kesetaraan Kimia
ksetaraan 2 obat yang masing-masing dengan caradan dosis zat aktif yang sama.
 Kesetaraan Farmastek
kesetaraan anatara 2 bentuk yang sama dengan zat aktif dan dosis yang sama
 Kesetaraan Biologic atau Biokuivalen
obat yang mempunyai kesetaraan kimia atau kesetaraanfarmasetik, yang bila
diberikan dengan posologi yang sama dengan mengacu pada kadar obat dalam darah,
menunjukan criteria ketersediaan hayati yang sama pada setiap individu.
 Ketersediaan Klinik/ Terapelik
obat dengan kesetaraan farmakologik kimia atau farmasetik, yang bila diberikan
dengan posologi yang sama akan memberikan efektivitas terapetik yang sama dan
terkendali serta mempunyai toksitas yang sama.
Kesetaraan jumlah obat dalam sediaan belum tentu menghasilkan
kadar obat yang sama dalam darah dan jaringan,yaitu yang disebut ekuivalensi
biologik atau bioekuivalensi. Dua sediaan obat yang berekuivalensi kimia tetapi tidak
berekuivalensi biologik dikatakan memperlihatkan bioinekuivalensi. Ini terutama
terjadi pada obat obat yang bioekuivalensinya lambat karena sukar larut dalam cairan
saluran cerna, misalnya digoksin dan difenilhidantoin, dan pada obat obat yang

7
mengalami metabolisme selama absorpsinya misalnya eritromisin dan levodopa.
Perbedaan bioavaibilitas sampai dengan 10% umumnya tidak menimbulkan
perbedaan yang berarti terutama dalam efek kliniknya , artinya memperlihatkan
ekuivalensi terapi. Bioinekuivalensi lebih dari 10 % dapat menimbulkan
inekuivalensi terapi, terutama untuk obat-obat yang memiliki indeks terapinya
sempit, misalnya pada obat jantung digoksin,difenilhidantoin dan juga teofilin.
(karima, hedri, & kheder, 2014)

2.3. Faktor Yang Mempengaruhi Bioavailabilitas


Secara umum bioavaibiltas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain;
a. obat :sifat fisiko-kimia zat aktif,formulasi dan teknik pembuatan
b. subjek : karakteristi subjek (umur,bobot badan), kondisi patologis,posisis, dan
aktivitas tubuh (pada subjek yang sama)
c. rute pemberian
d. antar aksi obat/makanan, misalnya grisovulvin sukar larut dalam air. Apabila
diberikan bersama makanan berlemak jadi mudah larut. Di dalam tubuh,
digunakan surfaktan alami sehingga baik diabsorpsi.pemberian vitamin B12
dengan coca-cola mengasilkan absorpsiyang lebih baik
Secara farmasetik, bioavaibilitas obat aktif dalam suatu bentuk sediaan padat
bergantung pada beberapa faktor, yang meliputi :
 Disintegrasi produk obat dan pelepasan partikel obat aktif
Secara umum telah dikenal sejak beberapa tahun yang lalu bahwa sebelum absorpsi,
terjadi suatu produk obat padat harus mengalami disintegrasi kedalam partikel-
partikel kecil dan melepaskan obat.
 Pelarutan obat
Merupakan proses diamana zat kimia atau obat dengan kelarutan dalam suatu pelarut.
Laju pelarutan obat dengan kelarutan dalam air sangat kecil dari bentuk sediaan padat
yang utuh atau terditegrasi dalam saluran cerna sering mengendalikan laju absorpsi
obat.

8
 Absorpsi atau permeasi obat melintasi membaran sel

2.4. Metode dan Kriteria Uji Bioavailabilitas dan Bioekuivalensi


Hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam uji BA/BE:
1. Adanya pemahaman terhadap faramakokinetik
obat(absorpsi,distribusi,metabolism dan eleminasi)
2. Pemilihan metode analisis yang tepat; hal ini diperlukan untuk mengetahui
efek samping, efek toksik dan penanganan terhadap efek-efek tersebut.
3. Stabilitas obat dalam sampel
4. Penyususnan percobaan protocol yang tepat; sebelum dilakukan uji,sebaiknya
mendapatpersetujuan dari BPOM.
Sebelum melakukan uji bioavaibilitas, dilakukan uji disolusi terbanding, yaitu
dengan memakai beberapa titik waktu pengambilan sampel. Pada uji ini, yang
dibandingkan adalah profil disolusi dari sediaan uji dengan sediaan
pembanding (produk inovator) pada 3 pH, yaitu 1,2; 4,5; 6,8 pada waktu
pengambilan sampel, yaitu 10,20,30,40,50, dan 60 menit. Dari hasil uji
kemudian dihitung faktor similaritasnya (f2).
f2=50 log [100/√1+ Σ ( (Rt - Tt)2)/n)
Apabila nilai f2 50 atau lebih besar (50-100), hal ini menunjukkan
bahwaterdapat kesamaan atau ekivalensi ke-2 kurva yang berarti
mempunyai kemiripan profil disolusi kedua produk. Jika produk copy atau produk
pembanding memiliki uji disolusi yang cepat (≥85%) larut dalam waktu ≤15 menit
dalam ke-3 media dengan metode uji yang dianjurkan, maka uji disolusi terbanding
tidak perlu dilakukan. (Wahyu Sutanti & Wahyuningsih, 2013)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rancangan percobaan BA/BE :
a. Sediaan pembanding
b. Subjek percobaan dan criteria
c. Jumlah subjek
d. Desain percobaan

9
e. Interval waktu pemberian
f. Modalitas pengmbilan sampel: tunggal, berulang, jumlah dosis, dll
g. Senyawa yang akan dianalisis dan metodenya
h. Frekuensi dan waktu pengambilan sampel
i. Jenis sampel yang akan dikumpulkan: darah/urin

Uji bioavailabilitas terbagi atas 2 yaitu in vitro dan uji disolusi in vitro

 In vitro

Penggunaan in vivo menjadi sangat terbatas, karena : lamanya waktu yang diperlukan
untuk merencanakan, melakukan, dan menginterpretasi, tingginya keterampilan yang
diperlukan, ketepatan yang rendah serta besarnya penyimpangan pengukuran,
besarnya biaya yang diperlukan, dan keharusan menganggap adanya hubungan yang
sempurna. Uji laju disolusi dan uji difraksi sinar X merupakan 2 contoh prosedur
laboratoris yang dapat merefleksikan perilaku obat in-vivo. Uji ini telah
dimasukkan dalam USP dan NF dan telah diterapkan pada sejumlah obat. Uji laju
disolusi mengukur laju disolusi sejumlah obat dalam medium tertentu dan pada
kondisi tertentu. Uji difraksi sinar X melengkapi beberapa indikasi dari laju dan
jumlah obat yang melarut, dengan demikian akan bermanfaat dalam memperkirakan
absorpsi obat. Sementara kedua uji ini bukan merupakan uji bioavailabilitas
yangsebenarnya,maka kedua uji ini hanya merupakan indikator yang dapat
digunakan untuk memperkirakan bioavailabilitas obat. Suatu industri obat yang
mempunyai data klinikatau informasi yang menunjukkan bahwa produk obatnya
secara klinik efektif, dan bila data ini dikorelasikan dengan uji in vitro dengan tepat,
dan bila formulasi serta prosedur produksi tidak berubah, maka konsistensi dari
batch ke batch dapat dijamin dengan melakukan uji laju disolusi, uji difraksi sinar
X atau uji in vitro lainnya yang relevan.

10
 Uji disolusi InVitro

Akibatnya uji disolusi secara in vitro dipakai dan dikembangkan secara luas, dan
secara tidak langsung dipakai sebagai pengukur availabilitas obat, terutama pada
penentuan pendahuluan dari faktor-faktor formulasi dan berbagai metode pembuatan
yang tampaknya akan mempengaruhi bioavailabilitas. Sasaran uji disolusi in
vitro adalah pelepasan obat dari tablet kalau dapat mendekati 100 % dan laju
pelepasan seragam pada setiap batch dan harus sama dengan laju pelepasan dari batch
yang telah dibuktikan berbioavailabilitas dan efektif secara klinis. (Gambini, Ingles,
Lopez-Gruezo, & Borras, 2015)

Pengukuran Bioavailabilitas

Jumlah obat yang diabsorpsi biasanya ditentukan dengan mengukur luas area di
bawah kurva (AUC) dari kurva kadar obat dalam darah versus waktu, atau dari
jumlah obat kumulatif yang diekskresikan melalui urin. Jika suatu obat diberikan per
oral dan beberapa jam sesudahnya diambil satu seri dari sampel darah dan dianalisis
kadar obat dalarn darah, kemudian hasilnya di plot pada kertas grafik, akan
diperoleh kurva kadar darah-waktu seperti pada gambar 1.

11
Obat diberikan per oral pada waktu nol; pada saat ini kadar obat dalam darah adalah
nol. Setelah obat melalui lambung dan/atau usus, akan berdisintegrasi dan
segera melarut dan absorpsi pun berlangsung. Peningkatan kadar obat dalam darah
akan terlihat pada sampel darah berikutnya sampai tercapai kadar puncak. Titik ini
disebut puncak kurva kadar serum — waktu.
Pada titik ini kecepatan absorpsi sebanding dengan kecepatan eliminasi. Disebelah
kiri titik puncak kurva merupakan fase absorpsi, di mana kecepatan absorpsi lebih
besar daripada kecepatan-eliminasi. Di sebelah kanan titik puncak kurva
disebut fase eliminasi, di man kecepatan absorpsi lebih kecil dari pada kecepatan
eliminasi. Hubungan antara bioavailabilitas dan efektivitas klinik obat didasarkan
pada asumsi bahwa intensitas dan durasi respon
farmakologik obat berkaitan erat dengan kadar dan durasi obat aktif dalam darah atau
sirkulasi sistemik. Profil kadar obat dalam darah memungkinkan perhitungan
kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi dari suatu produk obat, dengan demikian
data ini sangat membantu dalam mengevaluasi besarnya pengaruh formulasi pada
perilaku obat dalam tubuh. Bila suatu industri obat telah memiliki data efektifitas
obat melalui uji klinik dari suatu formulasi obat, maka industry obat lainnya yang
ingin memasarkan obat yang sejenis haruslah melakukan suatu penetapan
bioavailabilitas yang dapat menunjukkan bahwa formulasinya memberikan kadar
puncak yang sama, kecepatan absorpsi yang sama, dan jumlah obat yang
diabsorpsi yang sama dengan formulasi dari industri obat yang pertama. Jika
ke tiga kriteria di atas dipenuhi, adalah beralasan untuk mengharapkan bahwa
formulasi yang dikembangkan industry obat ke dua akan memberikan efek terapeutik
yang sama dengan produk obat pertama. Aplikasi konsep bioavailabilitas yang
semacam ini disebut bioekivalensi. (Ariefiani, 2010)

12
Kriteria Uji Bioekivalensi
Metode uji bioekivalensi antara lain uji bioavaibilitas komparatif, uji
farmakodinamik komparatif, dan uji disolusi invitro komparatif. Kriteria penetapan
persyaratan bioekivalensi antara lain :
 Adannya fakta dari percobaan klinikyang terkendali dengan baik atau
pengamatan terkendali pada penderita yang menyatakan bahwa berbagai
produk obat tidak member efek terapeutik sebanding.
 Adannya fakta dari studi biokivalensi yang terkendali dengan baik
menyatakan bahwa produk-produk tersebut bukan merupakan produk-produk
yang ekivalen.
 Adannya fakta bahwa produk obat yang memperlihatkan rasioterapeutik yang
sempit dan konsentrasi efektif minimum dalam darah, serta penggunannya
secara aman dan efektif memerlukan dosis yang sesuai
 Penempatan secara medic oleh yang berwenang menyatakan bahwa suatu
kekurangan bikivalensi akan menyebabkan suatu efek yang tidak dikehendaki
yang membahayaan pada pengobatan
 Sifat fisikokimia yang meliputi bahan obat aktif memiliki kelarutan rendah
dalam air
 Sifat-siffat farmakokinetik antara lain: diserapnya bahan aktif dalam jumlah
yang besar pada bagian tertentu saluran cerna, derajat absorpsinyakecil baik
dalam bentuk murninya, terjadi proses metabolisme yang terlalu cepat pada
bagian terapeutik pada dingding usus/hati, bahan obat aktif tidak stabil pada
sisi target.
Sedangkan bioekivalensi berdasarkan data kadar obat dalam darah. Ada 3 parameter
penting dalam mengevaluasi bioekivalensiantara2 formulasi obat, yaitu
 Kadar maksimal/kadar puncak
 Waktu pencapaian kadar maksimal
 Luas area kurva

13
Bioekivalensi berdasarkan data ekskresi obat dalam urin.bila yang diukur adalah
ekskresi obat dalam urin kumulatif, parameter-parameter yang penting adalah :
 Jumlah kumulatif obat yang diekskresikan dalam urin
 Kecepatan ekskresi obat dalam urin
Jika kecepatan dan jumlah obat yang diekskresikan melalaui urin setelah pemberian
2 macam obat yang mengandung obat aktif yang sama (identik), dapat disimpulkan
bahwa kedua produk obat tersebut adalah biokivalen. Ini didasarkan pada konsep
bahwa obat yang diekskresikan ke dalam urin berasal dari darah. Jika kedua profit
kadar obat dalam darah dan pengukuran ekskresi obat dalam urin diperoleh dari
subjek yang sama maka ke dua data tersebut merupakan komponen satu sama lain.

14
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

 Farmakokinetik adalah nasib obat di dalam tubuh


 Biovailabilitas adalah istilah yang menyatakan jumlah obat yang diabsorpsi
dan kecepatan absorpsi obat tersebut. Sedangkan biokivalensi adalah 2 atau
lebih obat yang apabila diberikan dalam dosis, rute pemberian, dan bentuk
sediaan yang sama akan memberikan bioavailabilitas yang sama
 Tipe bioavailabilitas ada 2 yaitu bioavailabilitas absolute dan bioavailabilitas
relative. Sedamgkam tipe bioekivalensi yaitu kesetaraan farmakoklinik,
kesetaraan kimia, kesetaraan farmasetik, kesetaraan biologic/bioekuivalen dan
kesetaraan klinik.
 Faktor yang mempengaruhi biovailabilitas yaitu factor secara umum dan
factor secara farmasetik
 Uji bioavailabilitas terdiri dari in vivo dan uji disolusi in vitro
 Metode uji bioekivalensi antara lain uji bioavaibilitas komparatif, uji
farmakodinamik komparatif, dan uji disolusi invitro komparatif

Saran

Sebagai mahasiswa kedokteran hewan kita harus mengetahui dan dapat memahami
farmakokinetik yang merupakan nasib obat di dalam tubuh, khususnya pada paper
saya kali ini yang membahas bioavailabilitas dan bioekuivalensi.

15
DAFTAR PUSTAKA

Ardiarini, Ari. 2010. Perbandingan bioavailabilitas ( bioekivalensi ) obat cimetidine


dalam sediaan generik dan paten secara in vitro. Artikel karya tulis ilmiah.Fakultas
Kedokteran. Universitas diponegoro. Semarang.

Ariefiani, Agnes. 2010. Perbandingan bioavailabilitas (bioekivalensi) obat


metronidazol dalam sediaan generic dan paten secara in vitro. Artikel karya tulis
ilmiah. Fakultas Kedokteran. Universitas Diponogoro. Semarang.

Gambini,J.,Ingles,M.,Olaso,G.,Lopez-Grueso,R.,Bonet-Costa,V.,…….Borras.C.
2015.Properties of Resveratrol: In Vitro and In Vivo Studies about Metabolism,
Bioavailability, and Biological Effects in Animal Models and Humans. Jornal of
pharmacology. 1Department of Physiology, Faculty of Medicine, University of
Valencia. Spain

Wahyu Sutanti,Depprelia.,Wahyuningsih,Iis.2013.Bioavailabilitas tablet ibuprofen


pada pemberian bersamaan dengan ekstrak air herba pegagan (Centella asiatica(L)
Urban) pada kelinci jantan. Jurnal Ilmiah Kefarmasian.Vol 3. 49-60. Fakultas
Farmasi.Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarata.

Boubaker,Karima.,Hedri,Hafedh.,Kheder,Adel.2014.Clinical Pharmacokinetic and


Pharmacodynamic Profile of Cinacalcet.Archives Medical Review Journal.23(2).362-
365. Charles Nicole Hospital.Tunisia.

Hagemaru. 2010. Uji Bioavailabilitas dan Bioekivalen Sanmol Tablet


denganPembanding Panadol Tablet.

16
Priyanto, Drs. 2010. Farmakologi Dasar Edisi II. Leskonfi. Jakarta.Rowland, M. and
Tozer., T. M. 1980. Clinical Pharmacokinetics : Concept andApplication. Lea and
Febiger. Philadelphia.

Shargel, Leon. 2005. Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan.


Airlangga.University Press. Surabaya

17