Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI EMERGENCY

DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)


RSUD DR. ADHYATMA,MPH SEMARANG

Dosen Pembimbing : Ainnur Rahmanti.,M.Kep

Disusun Oleh :

TRIA FRISKA NINGRUM

17.091

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN

AKADEMI KEPERAWATAN KESDAM IV/DIPONEGORO

SEMARANG

2019
ii
A. KONSEP DASAR HIPERTENSI EMERGENCY
1. Definisi
Krisis hipertensi atau hipertensi darurat adalah suatu kondisi dimana
diperlukan penurunan tekanan darah dengan segera (tidak selalu diturunkan
dalam batas normal), untuk mencegah atau membatasi kerusakan organ (Hani,
Sharon dan Colgan, 2010).
Kedaruratan hipertesi terjadi pada penderita dengan hipertensi yang
tidak terkontrol atau mereka yang tiba-tiba menghentikan penobatan (Vaidya
and Ouellette, 2009).
Kegawatan hipertensi (hypertensive emergencies) adalah hipertensi
berat yang disertai disfungsi akut organ target (Vaidya and Ouellette, 2009).
Pada pasien krisis hipertensi terjadi peningkatan tekanan darah yang
mencolok tinggi, umumnya tekanan darah sistolik lebih dari 220 mmHg dan
atau tekanan darah diastolik lebih dari 120-130 mmHg dan peningkatannya
terjadi dalam waktu yang relative pendek (Hani, Sharon dan Colgan, 2010).
Jadi kedaruratan hipertensi adalah kondisi penderita hipertensi yang
tidak terkontrol sehingga diperlukan penurunan tekanan darah dengan segera.

2. Jenis Hipertensi
Dikenal juga keadaan yang disebut krisis hipertensi. Menurut Hani,
Sharon dan Colgan (2010), keadaan ini terbagi 2 jenis yaitu :
a. Hipertensi emergensi merupakan hipertensi gawat darurat, takanan darah
melebihi 180/120 mmHg disertai salah satu ancaman gangguan fungsi
organ, seperti otak, jantung, paru dan eklamsia atau lebih rendah dari
180/120 mmHg, tetapi dengan salah satu gejala gangguan organ atas yang
sudah nyata timbul.
b. Hipertensi urgensi merupakan tekanan darah sangat tinggi (>180/120
mmHg) tetapi belum ada gejala seperti diatas. Tekanan darah tidak harus
diturunkan dalam hitungan menit, tetapi dalam hitungan jam bahkan
hitungan hari dengan obat oral.

1
Sementara itu, menurut Dewi, Sofia dan Familia (2010), hipertensi dibagi
menjadi 2 jenis berdasarkan penyebabnya :
a. Hipertensi Primer adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya
(hipertensi essensial). Hal ini ditandai dengan peningkatan kerja jantung
akibat penyempitan pembuluh darah tepi. Sebagian besar (90-95%)
penderita termasuk hipertensi primer. Hipertensi primer juga didapat
terjadi karena adanya faktor keturunan, usia dan jenis kelamin.
b. Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan oleh penyakit
sistemik lainnya, misalnya seperti kelainan hormon, penyempitan
pembuluh darah utama ginjal dan penyakit sistemik lainnya. Sekitar 5-
10% penderita hipertensi sekunder disebabkan oleh penyakit ginjal dan
sekitar 1-2% disebabkan oleh kelainan hormonal atau pemakaian obat
tertentu misalnya pil KB.

3. Klasifikasi
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah pada Dewasa
Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal Dibawah 130 mmHg Dibawah 85 mmHg
Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
Stadium 1
140-159 mmHg 90-99 mmHg
(Hipertensi ringan)
Stadium 2
160-179 mmHg 100-109 mmHg
(Hipertensi sedang)
Stadium 3
180-209 mmHg 110-119 mmHg
(Hipertensi berat)
Stadium 4
210 mmHg atau lebih 120 Hg atau lebih
(Hipertensi maligna)

Penderita hipertensi yang tidak terkontrol sewaktu-waktu bisa jatuh


kedalam keadaan gawat darurat. Diperkirakan sekitar 1-8% penderita
hipertensi berlanjut menjadi “Krisis Hipertensi”, dan banyak terjadi pada usia
sekitar 30-70 tahun. Tetapi krisis hipertensi jarang ditemukan pada penderita

2
dengan tekanan darah normal tanpa penyebab sebelumnya. Pengobatan yang
baik dan teratur dapat mencegah insiden krisis hipertensi menjadi kurang dari
1 % (Hani, Sharon dan Colgan (2010).

4. Etiologi
Hipertensi emergensi merupakan spektrum klinis dari hipertensi
dimana terjadi kondisi peningkatan tekanan darah yang tidak terkontrol yang
berakibat pada kerusakan organ target yang progresif. Berbagai sistem organ
yang menjadi organ target pada hipertensi emergensi ini adalah sistem saraf
yang dapat mengakibatkan hipertensi ensefalopati, infark serebral, perdarahan
subarakhnoid, perdarahan intrakranial; sistem kardiovaskular yang dapat
mengakibatkan infark miokard, disfungsi ventrikel kiri akut, edema paru akut,
diseksi aorta; dan sistem organ lainnya seperti gagal ginjal akut, retinopati,
eklamsia, dan anemia hemolitik mikroangiopatik (Hani, Sharon dan Colgan
(2010). Menurut Vaidya and Ouellette (2009), faktor resiko krisis hipertensi
yaitu :
a. Penderita hipertensi tidak minum obat atau tidak teratur minum obat.
b. Kehamilan
c. Penderita hipertensi dengan penyakit parenkim ginjal.
d. Pengguna NAPZA
e. Penderita dengan rangsangan simpatis tinggi. (luka bakar, trauma kepala,
penyakit vaskular/kolagen)

5. Patofisiologi
Bentuk manapun dari hipertensi yang menetap, baik primer maupun
sekunder, dapat dengan mendadak mengalami percepatan kenaikan dengan
tekanan diastolik meningkat cepat sampai di atas 130 mmHg dan menetap lebih
dari 6 jam. Hal ini dapat menyebabkan nekrosis arterial yang lama dan tersebar
luas, serta hiperplasi intima arterial interlobuler nefron-nefron. Perubahan
patologis jelas terjadi terutama pada retina, otak dan ginjal. Pada retina akan
timbul perubahan eksudat, perdarahan dan udem papil. Gejala retinopati dapat

3
mendahului penemuan klinis kelainan ginjal dan merupakan gejala paling
terpercaya dari hipertensi maligna (Vaidya and Ouellette, 2009).
Otak mempunyai suatu mekanisme otoregulasi terhadap kenaikan
ataupun penurunan tekanan darah. Batas perubahan pada orang normal adalah
sekitar 60-160 mmHg. Apabila tekanan darah melampaui tonus pembuluh
darah sehingga tidak mampu lagi menahan kenaikan tekanan darah maka akan
terjadi udem otak. Tekanan diastolic yang sangat tinggi memungkinkan
pecahnya pembuluh darah otak yang dapat mengakibatkan kerusakan otak
yang irreversible (Vaidya and Ouellette, 2009).
Pada jantung kenaikan tekanan darah yang cepat dan tinggi akan
menyebabkan kenaikan after load, sehingga terjadi payah jantung. Sedangkan
pada hipertensi kronis hal ini akan terjadi lebih lambat karena ada mekanisme
adaptasi. Penderita feokromositoma dengan krisis hipertensi akan terjadi
pengeluaran norefinefrin yang menetap atau berkala (Vaidya and Ouellette,
2009).
Aliran darah ke otak pada penderita hipertensi kronis tidak mengalami
perubahan bila Mean Arterial Pressure (MAP) 120-160 mmHg, sedangkan
pada penderita hipertensi baru dengan MAP diantara 60-120 mmHg. Pada
keadaan hiper kapnia, autoregulasi menjadi lebih sempit dengan batas tertinggi
125 mmHg, sehingga perubahan yang sedikit saja dari tekanan darah
menyebabkan asidosis otak akan mempercepat timbulnya oedema otak (Dewi,
Sofia dan Familia, 2010). Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa
terjadi melalui beberapa cara :
a. Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi sehingga
mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya.
b. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka
tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri
tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk
melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan
naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding
arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara

4
yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi,
yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena
perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
c. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga
tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh.
Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga
meningkat. Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri
mengalami pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi maka
tekanan darah akan menurun.

5
6. Pathways

Umur Jenis kelamin Gaya hidup Obesitas

Elastisitas , arteriosklerosis

hipertensi

Kerusakan vaskuler pembuluh


darah
Perubahan struktur

Penyumbatan pembuluh
darah
vasokonstriksi

Gangguan sirkulasi

otak Ginja Pembuluh darah Retina


l
Resistensi Suplai O2 Vasokonstriksi sistemik koroner Spasme
pembuluh otak pembuluh darah
darah otak menurun ginjal arteriole
vasokonstriksi Iskemi
diplopia
Blood flow miocard
Nyeri Gangguan sinkop munurun
kepala pola tidur Afterload
Nyeri dada Resti injuri
meningkat
Respon RAA
Gangguan
perfusi Penurunan Fatique
jaringan Rangsang curah jantung
aldosteron
Intoleransi
aktifitas
Retensi Na

Edema

6
7. Manifestasi Klinik
Gambaran klinis krisis hipertensi umumnya adalah gejala organ target
yang terganggu, diantaranya nyeri dada dan sesak nafas pada gangguan jantung
dan diseksi aorta; mata kabur dan edema papilla mata; sakit kepala hebat,
gangguan kesadaran dan lateralisasi pada gangguan otak; gagal ginjal akut
pada gangguan ginjal; di samping sakit kepala dan nyeri tengkuk pada kenaikan
tekanan darah umumnya.

Tabel 2. Gambaran Klinik Hipertensi Darurat


Tekanan Funduskop Status
Jantung Ginjal Gastrointestinal
darah i neurologi
> 220/140 Perdarahan, Sakit kepala, Denyut jelas, Uremia, Mual, muntah
mmHg eksudat, kacau, membesar, proteinuri
edema gangguan dekompensa a
papilla kesadaran, si, oliguria
kejang.

Tingginya TD yang dapat menyebabkan kerusakan organ sasaran tidak


hanya dari tingkatan TD aktual, tapi juga dari tingginya TD sebelumnya,
cepatnya kenaikan TD, bangsa, seks dan usia penderita. Penderita hipertensi
kronis dapat mentolelir kenaikan TD yang lebih tinggi dibanding dengan
normotensi, sebagai contoh : pada penderita hipertensi kronis, jarang terjadi
hipertensi ensefalopati, gangguan ginjal dan kardiovaskular dan kejadian ini
dijumpai bila TD Diastolik > 140 mmHg. Sebaliknya pada penderita
normotensi ataupun pada penderita hipertensi baru dengan penghentian obat
yang tiba-tiba, dapat timbul hipertensi ensefalopati demikian juga pada
eklampsi, hipertensi ensefalopati dapat timbul walaupun TD 160/110 mmHg
(Dewi, Sofia dan Familia, 2010).

7
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh
b. Pemeriksaan retina
c. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti
ginjal dan jantung
d. EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri
e. Urinalisa untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa
f. Pemeriksaan : renogram, pielogram intravena arteriogram renal,
pemeriksaan fungsi ginjal terpisah dan penentuan kadar urin.
g. Foto dada dan CT scan

9. Komplikasi
Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya penyakit
jantung, gagal jantung kongesif, stroke, gangguan penglihatan dan penyakit
ginjal. Tekanan darah yang tinggi umumnya meningkatkan resiko terjadinya
komplikasi tersebut. Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua
sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun.
Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya tidak
terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital. Sebab
kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau tanpa disertai
stroke dan gagal ginjal.
Dengan pendekatan sistem organ dapat diketahui komplikasi yang
mungkin terjadi akibat hipertensi. Komplikasi yang terjadi pada hipertensi
ringan dan sedang mengenai mata, ginjal, jantung dan otak. Pada mata berupa
perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan. Gagal
jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan pada hipertensi berat selain
kelainan koroner dan miokard. Pada otak sering terjadi perdarahan yang
disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat mengakibakan
kematian. Kelainan lain yang dapat terjadi adalah proses tromboemboli dan
serangan iskemia otak sementara (Transient Ischemic Attack/TIA). Gagal
ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi yang lama dan pada

8
proses akut seperti pada hipertensi maligna. Risiko penyakit kardiovaskuler
pada pasien hipertensi ditentukan tidak hanya tingginya tekanan darah tetapi
juga telah atau belum adanya kerusakan organ target serta faktor risiko lain
seperti merokok, dislipidemia dan diabetes melitus. Tekanan darah sistolik
melebihi 140 mmHg pada individu berusia lebih dari 50 tahun, merupakan
faktor resiko kardiovaskular yang penting. Selain itu dimulai dari tekanan
darah 115/75 mmHg, kenaikan setiap 20/10 mmHg meningkatkan risiko
penyakit kardiovaskuler sebanyak dua kali (Dewi, Sofia dan Familia, 2010).

10. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pada keadaan darurat hipertensi ialah menurunkan
tekanan darah secepat dan seaman mungkin yang disesuaikan dengan keadaan
klinis penderita. Pengobatan biasanya diberikan secara parenteral dan
memerlukan pemantauan yang ketat terhadap penurunan tekanan darah untuk
menghindari keadaan yang merugikan atau munculnya masalah baru.
Obat yang ideal untuk keadaan ini adalah obat yang mempunyai sifat
bekerja cepat, mempunyai jangka waktu kerja yang pendek, menurunkan
tekanan darah dengan cara yang dapat diperhitungkan sebelumnya, mempunyai
efek yang tidak tergantung kepada sikap tubuh dan efek samping minimal.
Penurunan tekanan darah harus dilakukan dengan segera namun tidak
terburu-buru. Penurunan tekanan darah yang terburu-buru dapat menyebabkan
iskemik pada otak dan ginjal. Tekanan darah harus dikurangi 25% dalam waktu
1 menit sampai 2 jam dan diturunkan lagi ke 160/100 dalam 2 sampai 6 jam.
Medikasi yang diberikan sebaiknya per parenteral (Infus drip, BUKAN
INJEKSI). Obat yang cukup sering digunakan adalah Nitroprusid IV dengan
dosis 0,25 ug/kg/menit. Bila tidak ada, pengobatan oral dapat diberikan sambil
merujuk penderita ke Rumah Sakit. Pengobatan oral yang dapat diberikan
meliputi Nifedipinde 5-10 mg, Captorpil 12,5-25 mg, Clonidin 75-100 ug,
Propanolol 10-40 mg. Penderita harus dirawat inap.

9
Tabel 3. Algoritma untuk Evaluasi Krisis Hipertensi
Hipertensi Mendesak
Parameter Hipertensi Darurat
Biasa Mendesak
Tekanan darah > 180/110 > 180/110 > 220/140
(mmHg)

Gejala Sakit kepala, Sakit kepala Sesak napas, nyeri


kecemasan; hebat, sesak dada, nokturia,
sering kali tanpa napas dysarthria,
gejala kelemahan,
kesadaran menurun
Pemeriksaan Tidak ada Kerusakan organ Ensefalopati, edema
kerusakan organ target; muncul paru, insufisiensi
target, tidak ada klinis penyakit ginjal, iskemia
penyakit kardiovaskuler, jantung
kardiovaskular stabil
Terapi Awasi 1-3 jam; Awasi 3-6 jam; Pasang jalur IV,
memulai/teruskan obat oral periksa laboratorium
obat oral, berjangka kerja standar, terapi obat
naikkan dosis pendek IV
Rencana Periksa ulang Periksa ulang Rawat ruangan/ICU
dalam 3 hari dalam 24 jam

Adapun obat hipertensi oral yang dapat dipakai untuk hipertensi


mendesak (urgency) dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Obat hipertensi oral


Obat Dosis Efek/Lama Kerja Perhatian khusus
Captopril 12,5 - 25 mg PO; ulangi 15-30 min/6-8 Hipotensi, gagal ginjal,
per 30 min ; SL, 25 mg jam; SL 10-20 stenosis arteri renalis
min/2-6 jam

10
Clonidine PO 75 - 150 ug, ulangi 30-60 min/8-16 jam Hipotensi, mengantuk,
per jam mulut kering
Propanolol 10 - 40 mg PO; ulangi 15-30 min/3-6 jam Bronkokonstriksi, blok
setiap 30 min jantung, hipotensi
ortostatik
Nifedipine 5 - 10 mg PO; ulangi 5 -15 min/4-6 jam Takikardi, hipotensi,
setiap 15 menit gangguan koroner
Keterangan : SL, Sublingual. PO, Peroral.

Sedangkan untuk hipertensi darurat (emergency) lebih dianjurkan


untuk pemakaian parenteral, daftar obat hipertensi parenteral yang dapat
dipakai dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Obat Hipertensi Parenteral


Efek / Lama
Obat Dosis Perhatian khusus
Kerja
Sodium 0,25-10 mg/kg/ langsung/2-3 Mual, muntah, penggunaan jangka
nitroprusside menit sebagai menit setelah panjang dapat menyebabkan
infus IV infus keracunan tiosianat,
methemoglobinemia, asidosis,
keracunan sianida. Selang infus
lapis perak
Nitrogliserin 500-100 mg 2-5 menit/5- Sakit kepala, takikardia, muntah,
sebagai infus IV 10 menit methemoglobinemia;
membutuhkan sistem pengiriman
khusus karena obat mengikat pipa
PVC
Nicardipine 5-15 mg/jam 1-5 menit/15- Takikardi, mual, muntah, sakit
sebagai infus IV 30 menit kepala, peningkatan tekanan
intrakranial; hipotensi

11
Klonidin 150 ug, 6 amp 30-60 Ensepalopati dengan gangguan
per 250 cc menit/24 jam koroner
Glukosa 5%
mikrodrip
5-15ug/kg/ 1-5 menit/15- Takikardi, mual, muntah, sakit
Diltiazem menit sebagi 30 menit kepala, peningkatan tekanan
infus IV intrakranial; hipotensi

Pada hipertensi darurat (emergency) dengan komplikasi seperti


hipertensi emergensi dengan penyakit payah jantung, maka memerlukan
pemilihan obat yang tepat sehingga tidak memperparah keadaannya. Pemilihan
obat untuk hipertensi dengan komplikasi dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Obat yang Dipilih untuk Hipertensi Darurat dengan Komplikasi


Komplikasi Obat Pilihan Target Tekanan Darah
Diseksi aorta Nitroprusside + esmolol SBP 110-120 sesegera
mungkin
AMI, iskemia Nitrogliserin, Sekunder untuk bantuan
nitroprusside, nicardipine iskemia
Edema paru Nitroprusside, 10% -15% dalam 1-2 jam
nitrogliserin, labetalol
Gangguan Ginjal Fenoldopam, 20% -25% dalam 2-3 jam
nitroprusside, labetalol
Kelebihan katekolamin Phentolamine, labetalol 10% -15% dalam 1-2 jam
Hipertensi ensefalopati Nitroprusside 20% -25% dalam 2-3 jam
Subarachnoid Nitroprusside, 20% -25% dalam 2-3 jam
haemorrhage nimodipine, nicardipine
Stroke Iskemik Nicardipine 0% -20% dalam 6-12 jam
Keterangan : AMI, infark miokard akut; SBP, tekanan sistolik bood.

12
a. Pemakaian obat-obat untuk krisis hipertensi
Obat anti hipertensi oral atau parenteral yang digunakan pada krisis
hipertensi tergantung dari apakah pasien dengan hipertensi emergensi atau
urgensi. Jika hipertensi emergensi dan disertai dengan kerusakan organ
sasaran maka penderita dirawat diruangan intensive care unit, (ICU) dan
diberi salah satu dari obat anti hipertensi intravena (IV) (Dewi, Sofia dan
Familia, 2010).
1) Sodium Nitroprusside : merupakan vasodelator direkuat baik arterial
maupun venous. Secara IV mempunyai onset of action yang cepat
yaitu: 1-2 dosis 1-6 ug/kg/menit. Efek samping : mual, muntah,
keringat, foto sensitif, hipotensi.
2) Nitroglycerini : merupakan vasodilator vena pada dosis rendah tetapi
bila dengan dosis tinggi sebagai vasodilator arteri dan vena. Onset of
action 2-5 menit, duration of action 3-5 menit. Dosis : 5-100
ug/menit, secara infus IV. Efek samping : sakit kepala, mual, muntah,
hipotensi.
3) Diazolxide : merupakan vasodilator arteri direk yang kuat diberikan
secara IV bolus. Onset of action 1-2 menit, efek puncak pada 3-5
menit, duration of action 4-12 jam. Dosis permulaan : 50 mg bolus,
dapat diulang dengan 25-75 mg setiap 5 menit sampai TD yang
diinginkan. Efek samping : hipotensi dan shock, mual, muntah,
distensi abdomen, hiperuricemia, aritmia, dll.
4) Hydralazine : merupakan vasodilator direk arteri. Onset of action :
oral 0,5-1 jam, IV : 10-20 menit duration of action : 6-12 jam. Dosis
: 10-20 mg IV bolus : 10-40 mg IM. Pemberiannya bersama dengan
alpha agonist central ataupun beta blocker untuk mengurangi refleks
takhikardi dan diuretik untuk mengurangi volume intravaskular.
Efeksamping : refleks takhikardi, meningkatkan stroke volume dan
cardiac out put, eksaserbasi angina, MCI akut dll.
5) Enalapriat : merupakan vasodelator golongan ACE inhibitor. Onset on
action 15-60 menit. Dosis 0,625-1,25 mg tiap 6 jam IV.

13
6) Phentolamine (regitine) : termasuk golongan alpha andrenergic
blockers. Terutama untuk mengatasi kelainan akibat kelebihan
ketekholamin. Dosis 5-20 mg secar IV bolus atau IM. Onset of action
11-2 menit, duration of action 3-10 menit.
7) Trimethaphan camsylate : termasuk ganglion blocking agent dan
menginhibisi sistem simpatis dan parasimpatis. Dosis : 1-4 mg/menit
secara infus IV. Onset of action : 1-5 menit. Duration of action : 10
menit. Efek samping : opstipasi, ileus, retensia urine, respiratori
arrest, glaukoma, hipotensi, mulut kering.
8) Labetalol : termasuk golongan beta dan alpha blocking agent. Dosis :
20-80 mg secara IV bolus setiap 10 menit ; 2 mg/menit secara infus
IV. Onset of action 5-10 menit. Efek samping : hipotensi orthostatik,
somnolen, hoyong, sakit kepala, bradikardi, dll. Juga tersedia dalam
bentuk oral dengan onset of action 2 jam, duration of action 10 jam
dan efek samping hipotensi, respons unpredictable dan komplikasi
lebih sering dijumpai.
9) Methyldopa : termasuk golongan alpha agonist sentral dan menekan
sistem syaraf simpatis. Dosis : 250-500 mg secara infus IV/6 jam.
Onset of action : 30-60 menit, duration of action kira-kira 12 jam. Efek
samping : Coombs test (+) demam, gangguan gastrointestino, with
drawal sindrome dll. Karena onset of actionnya bisa tak terduga dan
kasiatnya tidak konsisten, obat ini kurang disukai untuk terapi awal.
10) Clonidine : termasuk golongan alpha agonist sentral. Dosis : 0,15 mg
IV pelan-pelan dalam 10 cc dekstrose 5% atau IM 150 ug dalam 100
cc dekstrose dengan titrasi dosis. Onset of action 5-10 menit dan
mencapai maksimal setelah 1 jam atau beberapa jam. Efek samping :
rasa ngantuk, sedasi, hoyong, mulut kering, rasa sakit pada parotis.
Bila dihentikan secara tiba-tiba dapat menimbulkan sindroma putus
obat.

14
b. Pengobatan khusus krisis hipertensi
1) Ensefalopati Hipertensi
Pada Ensefalofati hipertensi biasanya ada keluhan serebral. Bisa
terjadi dari hipertensi esensial atau hipertensi maligna,
feokromositoma dan eklamsia. Biasanya tekanan darah naik dengan
cepat, dengan keluhan : nyeri kepala, mual-muntah, bingung dan
gejala saraf fokal (nistagmus, gangguan penglihatan, babinsky positif,
reflek asimetris, dan parese terbatas) melanjut menjadi stupor, koma,
kejang-kejang dan akhirnya meninggal. Obat yang dianjurkan :
natrium nitroprusid, diazoxide dan trimetapan.
2) Gagal Jantung Kiri Akut
Biasanya terjadi pada penderita hipertensi sedang atau berat, sebagai
akibat dari bertambahnya beban pada ventrikel kiri. Udem paru akut
akan membaik bila tensi telah terkontrol. Obat pilihan : trimetapan dan
natrium nitroprusid. Pemberian diuretik IV akan mempercepat
perbaikan
3) Feokromositoma
Katekolamin dalam jumlah berlebihan yang dikeluarkan oleh tumor
akan berakibat kenaikan tekanan darah. Gejala biasanya timbul
mendadak : nyeri kepala, palpitasi, keringat banyak dan tremor. Obat
pilihan : pentolamin 5-10 mg IV.
4) Deseksi Aorta Anerisma Akut
Awalnya terjadi robekan tunika intima, sehingga timbul hematom
yang meluas. Bila terjadi ruptur maka akan terjadi kematian. Gejala
yang timbul biasanya adalah nyeri dada tidaj khas yang menjalar ke
punggung perut dan anggota bawah. Auskultasi : didapatkan bising
kelainan katup aorta atau cabangnya dan perbedaan tekanan darah
pada kedua lengan. Pengobatan dengan pembedahan, dimana
sebelumnya tekanan darah diturunkan terlebih dulu dengan obat
pilihan : trimetapan atau sodium nitroprusid.
5) Toksemia Gravidarum

15
Gejala yang muncul adalah kejang-kejang dan kebingungan. Obat
pilihan: hidralazin kemudian dilanjutkan dengan klonidin.
6) Perdarahan Intrakranial
Pengobatan hipertensi pada kasus ini harus dilakukan dengan hati-
hati, karena penurunan tekanan yang cepat dapat menghilangkan
spasme pembuluh darah disekitar tempat perdarahan, yang justru akan
menambah perdarahan. Penurunan tekanan darah dilakukan sebanyak
10-15 % atau diastolik dipertahankan sekitar 110-120 mmHg. Obat
pilihan : trimetapan atau hidralazin. (Sumber : Dewi, Sofia dan
Familia, 2010).
11. Diagnosis
Diagnosis hipertensi emergensi harus ditegakkan sedini mungkin,
karena hasil terapi tergantung kepada tindakan yang cepat dan tepat. Tidak
perlu menunggu hasil pemeriksaan yang menyeluruh walaupun dengan data-
data yang minimal kita sudah dapat mendiagnosis suatu krisis hipertensi.
Anamnesis :
Sewaktu penderita masuk, dilakukan anamnesa singkat. Hal yang
penting ditanyakan :
a. Riwayat hipertensi, lama dan beratnya.
b. Obat anti hipertensi yang digunakan dan kepatuhannya.
c. Usia, sering pada usia 30-70 tahun.
d. Gejala sistem syaraf (sakit kepala, pusing, perubahan mental, ansietas).
e. Gejala sistem ginjal (gross hematuri, jumlah urine berkurang)
f. Gejala sistem kardiovascular (adanya payah jantung, kongestif dan oedem
paru, nyeri dada).
g. Riwayat penyakit glomerulonefrosis, pyelonefritis.
h. Riwayat kehamilan, tanda- tanda eklampsi.

16
B. ASUHAN KEPERAWATAN
Krisis Hipertensi (KH) biasanya secara klinis mudah dilihat tanda dan
gejalanya.
Tanda dan Gejala
Tanda umum adalah:
a. Sakit kepala hebat
b. nyeri dada
c. pingsan
d. tachikardia > 100/menit
e. tachipnoe > 20/menit
f. Muka pucat

Tanda Ancaman Kehidupan


Gejala KH:
a. Sakit Kepala Hebat
b. nyeri dada
c. peningkatan tekanan vena
d. shock / Pingsan

1. Pengkajian Fokus
Pengkajian dengan pendekatan ABCD.
Airway :
a. Yakinkan kepatenan jalan napas
b. Berikan alat bantu napas jika perlu (guedel atau nasopharyngeal)
c. Jika terjadi penurunan fungsi pernapasan segera kontak ahli anestesi dan
bawa segera mungkin ke ICU

Breathing :
a. Kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, untuk
mempertahankan saturasi >92%.
b. Berikan oksigen dengan aliran tinggi melalui non re-breath mask.

17
c. Pertimbangkan untuk mendapatkan pernapasan dengan menggunakan
bag-valve-mask ventilation
d. Lakukan pemeriksaan gas darah arterial untuk mengkaji PaO2 dan PaCO2
e. Kaji jumlah pernapasan/auskultasi pernapasan
f. Lakukan pemeriksan system pernapasan
g. Dengarkan adanya bunyi krakles / Mengi yang mengindikasikan kongesti
paru

Circulation :
a. Kaji heart rate dan ritme, kemungkinan terdengan suara gallop
b. Kaji peningkatan JVP
c. Monitoring tekanan darah
d. Pemeriksaan EKG mungkin menunjukan:
1) Sinus tachikardi
2) Adanya Suara terdengar jelas pada S4 dan S3
3) right bundle branch block (RBBB)
4) right axis deviation (RAD)
e. Lakukan IV akses dekstrose 5%
f. Pasang Kateter
g. Lakukan pemeriksaan darah lengkap
h. Jika ada kemungkina KP berikan Nifedipin Sublingual
i. Jika pasien mengalami Syok berikan secara bolus diazoksid, nitroprusid.

Disability :
a. Kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU
b. Penurunan kesadaran menunjukan tanda awal pasien masuk kondisi
ekstrim dan membutuhkan pertolongan medis segera dan membutuhkan
perawatan di ICU.

Exposure :
a. Selalu mengkaji dengan menggunakan test kemungkinan KP

18
b. Jika pasien stabil lakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan
fisik lainnya. Jangan lupa pemeriksaan untuk tanda gagal jantung kronik

a. Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
b. Sirkulasi
Gejala : riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup,
penyakit serebrovaskuler.
Tanda : kenaikan TD, nadi: denyutan jelas, frekuensi/irama: takikardia,
berbagai disritmia, bunyi jantung: murmur, distensi vena jugularis,
ekstermitas: perubahan warna kulit, suhu dingin( vasokontriksi perifer
), pengisian kapiler mungkin lambat
c. Integritas Ego
Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria,
marah, faktor stress multiple (hubungsn, keuangan, pekerjaan).
Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian,
tangisan yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar mata),
peningkatan pola bicara.
d. Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (infeksi,
obstruksi, riwayat penyakit ginjal)
e. Makanan/cairan.
Gejala : makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi
garam, lemak dan kolesterol, mual, muntah, riwayat penggunaan diuretic.
Tanda : BB normal atau obesitas, edema, kongesti vena, peningkatan JVP,
glikosuria.
f. Neurosensori
Gejala : keluhan pusing/pening, sakit kepala, episode kebas, kelemahan
pada satu sisi tubuh, gangguan penglihatan (penglihatan kabur, diplopia),
episode epistaksis.

19
Tanda : perubahan orientasi, pola nafas, isi bicara, afek, proses pikir atau
memori (ingatan), respon motorik: penurunan kekuatan genggaman,
perubahan retinal optic.
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat, nyeri
abdomen
h. Pernapasan
Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea, ortopnea,
dispnea nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat
merokok.
Tanda : distress respirasi/penggunaan otot aksesoris pernapasan, bunyi
napas tambahan (krekles, mengi), sianosis
i. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi, cara jalan.
Tanda : episode parestesia unilateral transien
j. Pembelajaran/penyuluhan
Gejala : faktor resiko keluarga ; hipertensi, aterosklerosis, penyakit
jantung, DM , penyakit serebrovaskuler, ginjal, faktor resiko etnik,
penggunaan pil KB atau hormon lain, penggunaan obat / alcohol

2. Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload,
vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
b. Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler
serebral.
c. Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan
dengan adanya tahanan pembuluh darah.
d. Intoleransi aktifitas berhubungan penurunan cardiac output.
e. Gangguan pola tidur berhubungan adanya nyeri kepala.
f. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik.

20
g. Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya
hipertensi yang diderita klien.
h. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang proses penyakit

21
3. Rencana Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi
1. Penurunan curah jantung Setelah dilakukan tindakan 1. Pantau TD, ukur pada kedua
berhubungan dengan keperawatan selama 3 x 24 jam, tangan, gunakan manset dan
peningkatan afterload, diharapkan tidak terjadi tehnik yang tepat
vasokonstriksi, iskemia penurunan curah jantung dengan 2. Catat keberadaan, kualitas
miokard, hipertropi kriteria hasil : denyutan sentral dan perifer
ventricular. 1. Berpartisipasi dalam 3. Auskultasi tonus jantung dan
aktivitas yang menurunkan bunyi napas
TD. 4. Amati warna kulit,
2. Mempertahankan TD dalam kelembaban, suhu dan masa
rentang yang dapat diterima. pengisian kapiler
3. Memperlihatkan irama dan 5. Catat edema umum
frekuensi jantung stabil 6. Berikan lingkungan tenang,
nyaman, kurangi aktivitas,
batasi jumlah pengunjung.
7. Pertahankan pembatasan
aktivitas seperti istirahat
ditempat tidur/kursi
8. Bantu melakukan aktivitas
perawatan diri sesuai
kebutuhan
9. Lakukan tindakan yang
nyaman seperti pijatan
punggung dan leher,
meninggikan kepala tempat
tidur.
10. Anjurkan tehnik relaksasi,
panduan imajinasi, aktivitas
pengalihan

22
11. Pantau respon terhadap obat
untuk mengontrol tekanan
darah
12. Berikan pembatasan cairan dan
diit natrium sesuai indikasi
13. Kolaborasi untuk pemberian
obat-obatan sesuai indikasi
14. Diuretik tiazid misalnya
klorotiazid (diuril),
hidroklorotiazid (esidrix,
hidrodiuril),
bendroflumentiazid (naturetin)
15. Diuretic loop misalnya
furosemid (lasix), asam
etakrinic (edecrin), Bumetanic
(burmex)
16. Diuretik hemat kalium
misalnay spironolakton
(aldactone), triamterene
(Dyrenium), amilioride
(midamor)
17. Inhibitor simpatis misalnya
propanolol (inderal),
metoprolol (lopressor),
Atenolol (tenormin), nadolol
(Corgard), metildopa
(aldomet), reserpine (Serpasil),
klonidin (catapres)
18. Vasodilator misalnya
minoksidil (loniten), hidralasin
(apresolin), bloker saluran
kalsium (nivedipin, verapamil)

23
19. Anti adrenergik misalnya
minipres, tetazosin ( hytrin )
20. Bloker nuron adrenergik
misalnya guanadrel (hyloree),
quanetidin (ismelin), reserpin
(serpasil)
21. Inhibitor adrenergik yang
bekerja secara sentral misalnya
klonidin (catapres), guanabenz
(wytension), metildopa
(aldomet)
22. Vasodilator kerja langsung
misalnya hidralazin
(apresolin), minoksidil, loniten
23. Vasodilator oral yang bekerja
secara langsung misalnya
diazoksid (hyperstat),
nitroprusid (nipride, nitropess)
24. Bloker ganglion misalnya
guanetidin (ismelin),
trimetapan (arfonad), ACE
inhibitor (captopril, captoten)

2. Nyeri (sakit kepala) Setelah dilakukan tindakan 1. Pertahankan tirah baring,


berhubungan dengan keperawatan selama 3 x 24 jam, lingkungan yang tenang,
peningkatan tekanan diharapkan Nyeri atau sakit sedikit penerangan
vaskuler serebral. kepala hilang atau berkurang 2. Minimalkan gangguan
dengan kriteria hasil : lingkungan dan rangsangan
1. Pasien mengungkapkan 3. Bantu pasien dalam ambulasi
tidak adanya sakit kepala sesuai kebutuhan
2. Pasien tampak nyaman
3. TTV dalam batas normal

24
4. Hindari merokok atau
menggunkan penggunaan
nikotin
5. Beri tindakan nonfarmakologi
untuk menghilangkan sakit
kepala seperti kompres dingin
pada dahi, pijat punggung dan
leher, posisi nyaman, tehnik
relaksasi, bimbingan imajinasi
dan distraksi
6. Hilangkan/minimalkan
vasokonstriksi yang dapat
meningkatkan sakit kepala
misalnya mengejan saat BAB,
batuk panjang, membungkuk
7. Kolaborasi pemberian obat
sesuai indikasi: analgesik,
antiansietas (lorazepam, ativan,
diazepam, valium )

3. Resiko perubahan perfusi Setelah dilakukan tindakan 1. Pertahankan tirah baring


jaringan: serebral, ginjal, keperawatan selama 3 x 24 jam, 2. Tinggikan kepala tempat tidur
jantung berhubungan diharapkan tidak terjadi 3. Kaji tekanan darah saat masuk
dengan adanya tahanan perubahan perfusi jaringan : pada kedua lengan; tidur,
pembuluh darah. serebral, ginjal, jantung dengan duduk dengan pemantau
kriteria hasil : tekanan arteri jika tersedia
1. Pasien mendemonstrasikan 4. Ambulasi sesuai kemampuan;
perfusi jaringan yang hindari kelelahan
membaik seperti 5. Amati adanya hipotensi
ditunjukkan dengan : TD mendadak
dalam batas yang dapat 6. Ukur masukan dan pengeluaran
diterima, tidak ada keluhan

25
sakit kepala, pusing, nilai- 7. Pertahankan cairan dan obat-
nilai laboratorium dalam obatan sesuai program
batas normal. 8. Pantau elektrolit, BUN,
2. Haluaran urin 30 ml/ menit kreatinin sesuai program
3. Tanda-tanda vital stabil
4. Intoleransi aktifitas Setelah dilakukan tindakan 1. Berikan dorongan untuk
berhubungan penurunan keperawatan selama 3 x 24 jam, aktifitas/perawatan diri
cardiac output. diharapkan tidak terjadi bertahap jika dapat ditoleransi.
intoleransi aktifitas dengan Berikan bantuan sesuai
kriteria hasil : kebutuhan
1. Meningkatkan energi untuk 2. Instruksikan pasien tentang
melakukan aktifitas sehari- penghematan energy
hari. 3. Kaji respon pasien terhadap
2. Menunjukkan penurunan aktifitas
gejala-gejala intoleransi 4. Monitor adanya diaforesis,
aktifitas. pusing
5. Observasi TTV tiap 4 jam
6. Berikan jarak waktu
pengobatan dan prosedur untuk
memungkinkan waktu istirahat
yang tidak terganggu, berikan
waktu istirahat sepanjang siang
atau sore

5. Gangguan pola tidur Setelah dilakukan tindakan 1. Ciptakan suasana lingkungan


berhubungan adanya keperawatan selama 3 x 24 jam, yang tenang dan nyaman
nyeri kepala. diharapkan tidak terjadi 2. Beri kesempatan klien untuk
gangguan pola tidur dengan istirahat/tidur
kriteria hasil : 3. Evaluasi tingkat stress
1. Mampu menciptakan pola 4. Monitor keluhan nyeri kepala
tidur yang adekuat 6-8 jam 5. Lengkapi jadwal tidur secara
per hari. teratur

26
2. Tampak dapat istirahat 6. Berikan makanan kecil sore
dengan cukup. hari dan/susu hangat
3. TTV dalam batas normal 7. Lakukan masase punggung
8. Putarkan musik yang lembut
9. Kolaborasi pemberian obat
sesuai indikasi

6. Kurangnya perawatan diri Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji kemampuan klien untuk
berhubungan dengan keperawatan selama 3 x 24 jam, melakukan kebutuhan
adanya kelemahan fisik. diharapkan perawatan diri klien perawatan diri
terpenuhi dengan kriteria hasil : 2. Beri pasien waktu untuk
1. Mampu melakukan aktifitas mengerjakan tugas
perawatan diri sesuai 3. Bantu pasien untuk memenuhi
kemampuan. kebutuhan perawatan diri
2. Dapat mendemonstrasikan 4. Berikan umpan balik yang
tehnik untuk memenuhi positif untuk setiap usaha yang
kebutuhan perawatan diri dilakukan klien/atas
keberhasilannya

7. Kecemasan berhubungan Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji keefektifan strategi koping


dengan krisis situasional keperawatan selama 3 x 24 jam, dengan mengobservasi perilaku
sekunder adanya diharapkan kecemasan hilang misalnya kemampuan
hipertensi yang diderita atau berkurang dengan kriteria menyatakan perasaan dan
klien. hasil : perhatian, keinginan
1. Klien mengatakan sudah berpartisipasi dalam rencana
tidak cemas lagi/cemas pengobatan
berkurang 2. Catat laporan gangguan tidur,
2. Ekspresi wajah rileks peningkatan keletihan,
3. TTV dalam batas normal kerusakan konsentrasi, peka
rangsang, penurunan toleransi
sakit kepala, ketidakmampuan
untuk menyelesaikan masalah.

27
3. Bantu klien untuk
mengidentifikasi stressor
spesifik dan kemungkinan
strategi untuk mengatasinya.
4. Libatkan pasien dalam
perencanaan perawatan dan
beri dorongan partisipasi
maksimum dalam rencana
pengobatan.
5. Dorong pasien untuk
mengevaluasi prioritas atau
tujuan hidup.
6. Kaji tingkat kecemasan klien
baik secara verbal maupun non
verbal
7. Observasi TTV tiap 4 jam.
8. Dengarkan dan beri
kesempatan pada klien untuk
mengungkapkan perasaanya
9. Berikan support mental pada
klien.
10. Anjurkan pada keluarga untuk
memberikan dukungan pada
klien

8. Kurangnya pengetahuan Setelah dilakukan tindakan 1. Jelaskan sifat penyakit dan


berhubungan dengan keperawatan selama 3 x 24 jam, tujuan dari pengobatan dan
kurangnya informasi diharapkan klien terpenuhi dalam prosedur
tentang proses penyakit. informasi tentang hipertensi 2. Jelaskan pentingnya
dengan kriteria hasil : lingkungan yang tenang, tidak
penuh dengan stress

28
1. Pasien mengungkapkan 3. Diskusikan tentang obat-obatan
pengetahuan akan : nama, dosis, waktu
hipertensi. pemberian, tujuan dan efek
2. Melaporkan pemakaian samping atau efek toksik
obat-obatan sesuai program 4. Jelaskan perlunya menghindari
pemakaian obat bebas tanpa
pemeriksaan dokter
5. Diskusikan gejala kambuhan
atau kemajuan penyulit untuk
dilaporkan dokter: sakit kepala,
pusing, pingsan, mual dan
muntah.
6. Diskusikan pentingnya
mempertahankan berat badan
stabil
7. Diskusikan pentingnya
menghindari kelelahan dan
mengangkat berat
8. Diskusikan perlunya diet
rendah kalori, rendah natrium
sesuai program
9. Jelaskan penetingnya
mempertahankan pemasukan
cairan yang tepat, jumlah yang
diperbolehkan, pembatasan
seperti kopi yang mengandung
kafein, teh serta alcohol.
10. Jelaskan perlunya menghindari
konstipasi dan penahanan.
11. Berikan support mental,
konseling dan penyuluhan pada
keluarga klien.

29
30
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sofia dan Familia, D. (2010). Hidup Bahagia dengan Hipertensi. A+Plus
Books, Yogyakarta.
Hani, Sharon, E.F, Colgan, R. (2010). Hypertensive Urgencies and Emergencies.
Prim Care Clin Office Pract.
Vaidya, C.K, and Ouellette, C.K. (2009). Hypertensive Urgency and Emergency.
Hospital Physician.