Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Stroke merupakan penyakit atau gangguan fungsional otak berupa


kelumpuhan saraf (deficit neurologic) akibat terhambatnya aliran darah ke otak.
Stroke adalah sindrom yang terdiri dari tanda dan/atau gejala hilangnya fungsi
sistem saraf pusat fokal (atau global) yang berkembang cepat (dalam detik atau
menit). Gejala-gejala ini berlangsung lebih dari 24 jam atau menyebabkan
kematian, selain menyebabkan kematian stroke juga akan mengakibatkan dampak
untuk kehidupan. Dampak stroke diantaranya, ingatan jadi terganggu dan terjadi
penurunan daya ingat, menurunkan kualitas hidup penderita juga kehidupan
keluarga dan orang-orang di sekelilingnya, mengalami penurunan kualitas hidup
yang lebih drastis, kecacatan fisik maupun mental pada usia produktif dan usia
lanjut dan kematian dalam waktu singkat (Junaidi, 2011).
Stroke masih menjadi masalah kesehatan yang utama karena merupakan
penyebab kematian kedua di dunia. Sementara itu, di Amerika Serikat stroke
sebagai penyebab kematian ketiga terbanyak setelah penyakit kardiovaskuler dan
kanker. Sekitar 795.000 orang di Amerika Serikat mengalami stroke setiap
tahunnya, sekitar 610.000 mengalami serangan stroke yang pertama. Stroke juga
merupakan penyebab 134.000 kematian pertahun (Goldstein dkk., 2011).
Dalam 2 terbitan Journal of the American Heart (JAHA) 2016
menyatakan terjadi peningkatan pada individu yang berusia 25 sampai 44 tahun
menjadi (43,8%) (JAHA, 2016). Meningkatnya jumlah penderita stroke diseluruh
dunia dan juga meningkatkan penderita stroke yang berusia dibawah 45 tahun.
Pada konferensi ahli saraf international di Inggris dilaporkan bahwa terdapat
lebih dari 1000 penderita stroke yang berusia kurang dari 30 tahun (American
Heart Association, 2010).
Penyakit stroke juga menjadi penyebab kematian utama hampir seluruh
Rumah Sakit di Indonesia dengan angka kematian sekitar 15,4%. Tahun 2007
prevalensinya berkisar pada angka 8,3% sementara pada tahun 2013 meningkat
menjadi 12,1%. Jadi, sebanyak 57,9% penyakit stroke telah terdiagnosis oleh
tenaga kesehatan (nakes). Prevalensi penyakit stroke meningkat seiring
bertambahnya umur, terlihat dari kasus stroke tertinggi yang terdiagnosis tenaga
kesehatan adalah usia 75 tahun keatas (43,1%) dan terendah pada kelompok usia

1
15-24 tahun yaitu sebesar 0,2% (Riskesdas, 2013). Menurut penelitian Badan
Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013, prevalensi penyakit stroke pada kelompok
yang didiagnosis oleh nakes meningkat seiring dengan bertambahnya umur.
Prevalensi penyakit stroke pada umur ≥15 tahun 2013 di Sumatera Barat naik
dari 8,4% menjadi 13,2% dimana juga terjadi peningkatan pada usia 15-24 tahun
(0,2 % menjadi 3,5%) usia 25-34 tahun (0,7% menjadi 3,9%) usia tahu 35-44
tahun (2,5% menjadi 6,4%) (Hasil Riskesdas, 2017). Indonesia menduduki
peringkat pertama di dunia dalam jumlah terbanyak penderita stroke pada tahun
2009 menurut dr. Herman Samsudi, Sp.S, seorang ahli saraf sekaligus ketua
Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) Cabang DKI Jakarta (Yayasan Stroke
Indonesia, 2012). Data dari Kementrian Kesehatan RI (2016) mencatat bahwa
jumlah penderita stroke di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan (nakes) diperkirakan 1.236.825 orang. Setiap tahunnya di Indonesia
diperkirakan 500.000 penduduk terkena serangan stroke, ada sekitar 2,5% atau
125.000 orang meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun berat (Yayasan
Stroke Indonesia, 2014).
Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun
2017 didapatkan data bahwa stroke merupakan penyebab kematian nomor 5 di
kota Padang setelah lansia, jantung, hipertensi, dan diabetes melitus (Dinkes
Sumbar, 2017). Penyakit stroke sering dianggap sebagai penyakit yang
didominasi oleh orang tua. Dulu, stroke hanya terjadi pada usia tua mulai 60
tahun, namun sekarang mulai usia 40 tahun seseorang sudah memiliki risiko
stroke, meningkatnya penderita stroke usia muda lebih disebabkan pola hidup,
terutama pola makan tinggi kolesterol. Berdasarkan pengamatan di berbagai
rumah sakit, justru stroke di usia produktif sering terjadi akibat kesibukan kerja
yang menyebabkan seseorang jarang olahraga, kurang tidur, dan stres berat yang
juga jadi faktor penyebab (Dourman, 2016).
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stroke pada usia muda
kurang dari 40 tahun dibagi dua kelompok besar 4 yaitu faktor yang tidak dapat
diubah (jenis kelamin, umur, riwayat keluarga) dan faktor yang dapat di ubah
seperti pola makan, kebiasaan olah raga dan lain-lain (Sitorus, 2012). Penelitian
Ghani dkk (2016) menyebutkan bahwa faktor risiko dominan penderita stroke di
Indonesia adalah umur yang semakin meningkat, penyakit jantung koroner,
diabetes melitus, hipertensi, dan gagal jantung. Namun demikian stroke juga

2
sudah muncul pada kelompok usia muda (15-24 tahun) sebesar 0,3% di Indonesia
dan demikian juga di negara lain.
Dalam penelitian Miah (2012) disimpulkan bahwa pada kelompok usia
muda ditemukan faktor risiko yang signifikan untuk pengembangan stroke yaitu,
merokok, serangan stroke, hipertensi, penyakit jantung, dan menggunakan pil
kontrasepsi oral sedangkan pada kelompok usia tua faktor risiko yang signifikan
untuk pengembangan stroke yaitu merokok, serangan stroke, hipertensi, penyakit
jantung, diabetes mellitus, dan dislipidemia. Hasil penelitian Manurung dan Diani
(2015) menyatakan bahwa dari 42 orang responden yang menderita stroke,
59,52% (25 orang) berusia <55 tahun, memiliki riwayat penyakit keluarga terkait
stroke (stroke, hipertensi, penyakit jantung dan DM), menderita hipertensi,
menderita DM, tidak obesitas, tidak merokok dan tidak memiliki kebiasaan
mengkonsumsi alkohol. Pada penelitian Burhanuddin dkk (2013) didapatkan
hasil bahwa pada usia dewasa awal yang memiliki faktor risiko, perilaku atau
kebiasaan merokok berisiko 2,68 kali, riwayat diabetes 5 mellitus berisiko 5,35
kali, riwayat hipertensi berisiko 16,33 kali, riwayat hiperkolesterolemia berisiko
3,92 kali menderita penyakit stroke dari pada mereka yang tidak memiliki faktor
risiko.
Penelitian Alchuriyah dkk (2016) didapatkan nilai rata-rata usia pada
kasus (<50 tahun) adalah 43 tahun. Faktor risiko jenis kelamin, hipertensi, kadar
kolesterol, diabetes mellitus tidak mempengaruhi kejadian stroke usia muda pada
pasien RS Brawijaya Surabaya. Faktor risiko obesitas, sebagai faktor risiko yang
mempengaruhi kejadian stroke usia muda pada pasien RS Brawijaya Surabaya.
Hasil penelitian Cerasuolo dan Cipriano (2017) menunjukkan bahwa kejadian
stroke tetap tidak berubah di antara mereka yang berusia 20-49 tahun dan
menurun untuk mereka yang berusia 50 sampai 64 tahun sebesar 22,7%.
Penelitian F.J.González-Gómez sebagian besar pasien memiliki faktor risiko yang
paling umum yaitu merokok (56,4%), diikuti oleh hipertensi arteri (50%),
dislipidemia (42,7%), obesitas (33%), diabetes (18,2%) dan penyakit hati
emboligenic (12,7%).
Dalam penelitian Kashinkunti (2013) dikatakan bahwa hipertensi adalah
penyebab paling terkemuka iskemik dan stroke hemoragik di orang dewasa muda
yang di rawat di rumah sakit. Faktor risiko yang dapat di modifikasi sama untuk
kelompok usia muda dan tua namun prevalensi faktor risiko ini tidak sama pada
kedua usia ini. Hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes mellitus adalah faktor

3
risiko yang paling umum pada kalangan orang tua. Sebaliknya pasien stroke pada
usia muda memiliki 6 faktor risiko dislipidemia (60%) merokok (44%) dan
hipertensi (39%). Dalam penelitian lain tiga faktor risiko yang paling banyak
terajadi pada pasien stroke usia muda adalah merokok (49%) dislipidemia (46%)
dan hipertensi (36%) pada pasien stroke iskemik pertama (Smajlovic, 2015).
Penelitian Renna (2014) juga mengungkapkan hal yang hampir sama dimana
faktor risiko pada usia muda yaitu dislipidemia (52.7%), merokok (47.3%), dan
hipertensi (39.3%).
Berbagai hasil penelitian diatas, faktor risiko stroke pada usia muda itu
tidak jauh berbeda, seperti riwayat stroke pada keluarga, merokok, hipertensi,
diabetes melitus dan aktivitas fisik serta tingkat stres hampir ada di setiap
penelitian. Dalam penelitian ini peneliti ingin melihat faktor risiko jenis kelamin,
riwayat stroke pada keluarga, obesitas, merokok, hipertensi, diabetes melitus,
aktivitas fisik dan tingkat stres. Faktor itu diambil karena dari berbagai penelitian
faktor-faktor tersebut termasuk faktor yang paling berrisiko pada usia muda.
Serangan stroke dengan faktor risiko yang terjadi pada usia muda akan
mengakibatkan ada penurunan parsial/total gerakan lengan dan tungkai,
bermasalah dalam berpikir dan mengingat, menderita depresi, dan mengalami
kesulitan bicara, menelan, serta membedakan kanan dan kiri. Stroke tak lagi
hanya menyerang kelompok lansia, namum kini cenderung menyerang generasi
muda yang masih produktif. Jika stroke sudah menyerang usia muda yang
produktif, hal itu akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas
serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga.
Stroke hemoragik merupakan penyebab ketiga tersering pada serangan
stroke yang disebabkan utamanya karena hipertensi. Hal ini terjadi jika tekanan
darah meningkat dengan signifikan menyebabkan pembuluh arteri robek
sehingga terjadi perdarahan pada jaringan otak sehingga darah membentuk suatu
massa yang berakibat jaringan otak terdesak, bergeser, atau tertekan
(displacement of brain tissue), keadaan tersebut dapat menyebabkan fungsi otak
terganggu. Tujuan pengobatan stroke hemoragik adalah (1) mengurangi cedera
neurologis yang sedang berlangsung dan penurunan angka kematian dan
kecacatan pada jangka panjang, (2) mencegah komplikasi sekunder untuk
imobilitas dan neurologis disfungsi, dan (3) mencegah terjadinya stroke berulang
(Faganand Hess, 2008)

4
Berdasarkan data dari buku laporan ruangan rawat inap neurologi RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi dari bulan Agustus sampai dengan November di
dapati data bahwa penderita stroke hemorajik berkisar 48 kasus.

B. Rumusan masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan pada Tn.P dengan stroke hemoraljik
( meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi)?

C. Tujuan
a. Tujuan instruksional umum
Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar stroke dan
memberikan asuhan keperawatan pada Tn.P dengan stroke
hemoraljik
b. Tujuan instruksional khusus
1. Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian pada Tn.P
dengan stroke hemorajik
2. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan
pada Tn.P dengan stroke hemorajik
3. Mahasiswa mampu menyusun intervensi keperawatan pada
Tn.P dengan stroke hemorajik
4. Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan keperawatan
pada Tn.P dengan stroke hemorajik
5. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi dan dokumentasi
keperawatan pada Tn.P dengan stroke hemorajik

D. Mamfaat penulisan
1. Bagi mahasiswa
Sebagai bahan masukan dan tambahan ilmu bagi mahasiswa
tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan stroke hemorajik
2. Bagi institusi pendidikan
Dapat menjadikan tambahan referensi bahan bacaan di
perpustakaan yang dapat memberi masukan dan menambah
wawasan di kampus
3. Bagi institusi rumah sakit
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan asuhan keperawatan
khususnya pada pasien dengan stroke hemoraljik di RSUD Dr.
Achmad Moctar Bukittinggi
4. Bagi pasien dan keluarga
Sebagai pengetahuan bagi pasien dan keluarga tentang cara
perawatan stroke hemorajik.

5
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

I. KONSEP DASAR STROKE


A. DEFINISI

6
Stroke merupakan penyakit neurologis yang sering dijumpai dan harus
ditangani secara cepat dan tepat. Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang
timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran
darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja (Muttaqin, 2008).
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang
cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala
yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian
tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler.
Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah
otak (Corwin, 2009). Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan
fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak
sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun
(Smeltzer et al, 2002).
B. KLASIFIKASI
1. Stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya, yaitu:
(Muttaqin, 2008)
a. Stroke Hemoragic,
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan
subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada
daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas
atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien
umumnya menurun. Perdarahan otak dibagi dua, yaitu:
1) Perdarahan intraserebra
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena
hipertensi mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak,
membentuk massa yang menekan jaringan otak, dan menimbulkan
edema otak. Peningkatan TIK yang terjadi cepat, dapat
mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak.
Perdarahan intraserebral yang disebabkan karena hipertensi sering
dijumpai di daerah putamen, thalamus, pons dan serebelum.
2) Perdarahan subaraknoid
Pedarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVM.
Aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi
willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat diluar parenkim
otak.Pecahnya arteri dan keluarnya keruang subaraknoid
menyebabkan TIK meningkat mendadak, meregangnya struktur

7
peka nyeri, dan vasospasme pembuluh darah serebral yang
berakibat disfungsi otak global (sakit kepala, penurunan kesadaran)
maupun fokal (hemiparase, gangguan hemisensorik, dll)
b. Stroke Non Hemoragi
Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral, biasanya
terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi
hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang
menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder.
Kesadaran umumnya baik.
2. Menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya, yaitu:
a. TIA (Trans Iskemik Attack) gangguan neurologis setempat yang terjadi
selama beberapa menit sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul
akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24
jam.
b. Stroke involusi: stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana
gangguan neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk.
Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari.
c. Stroke komplit: dimana gangguan neurologi yang timbul sudah
menetap atau permanen . Sesuai dengan istilahnya stroke komplit
dapat diawali oleh serangan TIA berulang.

C. ETIOLOGI
Penyebab stroke menurut Arif Muttaqin (2008):
1. Thrombosis Cerebral
Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi
sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan
oedema dan kongesti di sekitarnya. Thrombosis biasanya terjadi pada
orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena
penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah yang dapat
menyebabkan iskemi serebral. Tanda dan gejala neurologis memburuk
pada 48 jam setelah trombosis.
Beberapa keadaan di bawah ini dapat menyebabkan thrombosis otak:
a. Aterosklerosi
Aterosklerosis merupakan suatu proses dimana terdapat suatu
penebalan dan pengerasan arteri besar dan menengah seperti koronaria,
basilar, aorta dan arteri iliaka (Ruhyanudin, 2007). Aterosklerosis
adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan

8
atau elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi klinis
atherosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui
mekanisme berikut:
1) Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran
darah.
2) Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi trombosis.
3) Merupakan tempat terbentuknya thrombus, kemudian melepaskan
kepingan thrombus (embolus).
4) Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian
robek dan terjadi perdarahan.
b. Hyperkoagulasi pada polysitemia
Darah bertambah kental, peningkatan viskositas/ hematokrit meningkat
dapat melambatkan aliran darah serebral.
c. Arteritis( radang pada arteri )
d. Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh
bekuan darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari
thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri
serebral. Emboli tersebut berlangsung cepat dan gejala timbul kurang
dari 10-30 detik. Beberapa keadaan dibawah ini dapat menimbulkan
emboli:
1) Katup-katup jantung yang rusak akibat Rheumatik Heart Desease
(RHD).
2) Myokard infark
3) Fibrilasi. Keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk
pengosongan ventrikel sehingga darah terbentuk gumpalan kecil
dan sewaktu-waktu kosong sama sekali dengan mengeluarkan
embolus-embolus kecil.
4) Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan
terbentuknya gumpalan-gumpalan pada endocardium.
2. Haemorhagi
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam
ruang subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini
dapat terjadi karena atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya
pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim
otak yang dapat mengakibatkan penekanan, pergeseran dan pemisahan

9
jaringan otak yang berdekatan, sehingga otak akan membengkak, jaringan
otak tertekan, sehingga terjadi infark otak, oedema, dan mungkin herniasi
otak.
3. Hipoksia Umum
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum adalah:
a. Hipertensi yang parah
b. Cardiac Pulmonary Arrest
c. Cardiac output turun akibat aritmia
4. Hipoksia Setempat
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia setempat adalah:
a. Spasme arteri serebral, yang disertai perdarahan subarachnoid.
b. Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migrain.

D. PATOFISIOLOGI
Infark serbral adalah berkurangnya suplai darah ke area tertentu di otak.
Luasnya infark bergantung pada faktor-faktor seperti lokasi dan besarnya
pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap area yang disuplai
oleh pembuluh darah yang tersumbat. Suplai darah ke otak dapat berubah
(makin lmbat atau cepat) pada gangguan lokal (thrombus, emboli, perdarahan
dan spasme vaskuler) atau oleh karena gangguan umum (hipoksia karena
gangguan paru dan jantung). Atherosklerotik sering/ cenderung sebagai faktor
penting terhadap otak, thrombus dapat berasal dari flak arterosklerotik, atau
darah dapat beku pada area yang stenosis, dimana aliran darah akan lambat
atau terjadi turbulensi.
Thrombus dapat pecah dari dinding pembuluh darah terbawa sebagai
emboli dalam aliran darah. Thrombus mengakibatkan; iskemia jaringan otak
yang disuplai oleh pembuluh darah yang bersangkutan dan edema dan
kongesti disekitar area. Area edema ini menyebabkan disfungsi yang lebih
besar daripada area infark itu sendiri. Edema dapat berkurang dalam beberapa
jam atau kadang-kadang sesudah beberapa hari. Dengan berkurangnya edema
pasien mulai menunjukan perbaikan. Oleh karena thrombosis biasanya tidak
fatal, jika tidak terjadi perdarahan masif. Oklusi pada pembuluh darah serebral
oleh embolus menyebabkan edema dan nekrosis diikuti thrombosis. Jika
terjadi septik infeksi akan meluas pada dinding pembukluh darah maka akan
terjadi abses atau ensefalitis, atau jika sisa infeksi berada pada pembuluh

10
darah yang tersumbat menyebabkan dilatasi aneurisma pembuluh darah. Hal
ini akan menyebabkan perdarahan cerebral, jika aneurisma pecah atau ruptur.
Perdarahan pada otak lebih disebabkan oleh ruptur arteriosklerotik dan
hipertensi pembuluh darah. Perdarahan intraserebral yang sangat luas akan
menyebabkan kematian dibandingkan dari keseluruhan penyakit cerebro
vaskuler, karena perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak,
peningkatan tekanan intracranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan
herniasi otak.
Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan
perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak.
Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan
otak di nukleus kaudatus, talamus dan pons.
Jika sirkulasi serebral terhambat, dapat berkembang anoksia cerebral.
Perubahan disebabkan oleh anoksia serebral dapat reversibel untuk jangka
waktu 4-6 menit. Perubahan irreversibel bila anoksia lebih dari 10 menit.
Anoksia serebral dapat terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi salah
satunya henti jantung.
Selain kerusakan parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relatif
banyak akan mengakibatkan peningian tekanan intrakranial dan mentebabkan
menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak. Elemen-
elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat menurunnya
tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di daerah yang terkena darah
dan sekitarnya tertekan lagi.
Jumlah darah yang keluar menentukan prognosis. Apabila volume darah
lebih dari 60 cc maka resiko kematian sebesar 93 % pada perdarahan dalam
dan 71 % pada perdarahan lobar. Sedangkan bila terjadi perdarahan serebelar
dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kemungkinan kematian sebesar
75 % tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di pons sudah berakibat fatal.
(Misbach, 1999 cit Muttaqin 2008)

11
12
WOC
Stroke Hemoralgik Stroke Non Hemoralgik
Peningkatan tekanan sistemik Trombus/Emboli di cerebral

Aneurisma Suplai darah ke jaringan


cerebral tidak adekuat
Perdarahan Arakhnoid/Ventrikel

Hematoma Cerebral

Perfusi jaringan tidak


PTIK/Hemisis Cerebral efektif

Vasospasme arteri
Penurunan Penekanan Hemisfer kiri
saluran Cerebral/saraf
Kesadaran
pernafasan cerebral
Hemiparese/Plegi kanan
Iskemic/Infark
Pola nafas
tidak efektif Defisit Neurologi Gangguan Mobilitas
Fisik
Area Grocca Hemisfer Kanan

Defisit Perawatan
Rusakan fungsi Hemiparese/Plegi
Diri
N.VII dan N. XII kiri

Gangguan Resiko Kerusakan Integritas


Komunikasi Verbal Kulit

Resiko Resiko Resiko


aspirasi Cedera Jatuh

13
E. MANIFESTASI KLINIS
Stoke menyebabkan defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi
(pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak
adekuat dan jumlah aliran darah kolateral. Stroke akan meninggalkan gejala
sisa karena fungsi otak tidak akan membaik sepenuhnya.
1. Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparese atau hemiplegia)
2. Lumpuh pada salah satu sisi wajah anggota badan (biasanya hemiparesis)
yang timbul mendadak.
3. Tonus otot lemah atau kaku
4. Menurun atau hilangnya rasa
5. Gangguan lapang pandang “Homonimus Hemianopsia”
6. Afasia (bicara tidak lancar atau kesulitan memahami ucapan)
7. Disartria (bicara pelo atau cadel)
8. Gangguan persepsi
9. Gangguan status mental
10. Vertigo, mual, muntah, atau nyeri kepala.
F. KOMPLIKASI
Setelah mengalami stroke pasien mungkin akan mengalmi komplikasi,
komplikasi ini dapat dikelompokan berdasarkan:
1. Berhubungan dengan immobilisasi  infeksi pernafasan, nyeri pada
daerah tertekan, konstipasi dan thromboflebitis.
2. Berhubungan dengan paralisis  nyeri pada daerah punggung, dislokasi
sendi, deformitas dan terjatuh
3. Berhubungan dengan kerusakan otak  epilepsi dan sakit kepala.
4. Hidrocephalus
Individu yang menderita stroke berat pada bagian otak yang mengontrol
respon pernapasan atau kardiovaskuler dapat meninggal.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Angiografi serebral
Menentukan penyebab stroke scr spesifik seperti perdarahan atau
obstruksi arteri.

14
2. Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT).
Untuk mendeteksi luas dan daerah abnormal dari otak, yang juga
mendeteksi, melokalisasi, dan mengukur stroke (sebelum nampak oleh
pemindaian CT).
3. CT scan
Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi
hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya
secara pasti.
4. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan bsar
terjadinya perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang mengalami
lesi dan infark akibat dari hemoragik.
5. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan
dampak dari jaringan yang infark sehingga menurunya impuls listrik
dalam jaringan otak.
6. Pemeriksaan laboratorium
a. Lumbang fungsi: pemeriksaan likuor merah biasanya dijumpai pada
perdarahan yang masif, sedangkan pendarahan yang kecil biasanya
warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama.
b. Pemeriksaan darah rutin (glukosa, elektrolit, ureum, kreatinin)
c. Pemeriksaan kimia darah: pada strok akut dapat terjadi hiperglikemia.
d. Gula darah dapat mencapai 250 mg di dalam serum dan kemudian
berangsur-rangsur turun kembali.
e. Pemeriksaan darah lengkap: untuk mencari kelainan pada darah itu
sendiri.
H. PENATALAKSANAAN
Tujuan intervensi adalah berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan
melakukan tindakan sebagai berikut:

15
1. Penatalaksanaan Medis
a. Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan
lendiryang sering, oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi,
membantu pernafasan.
b. Mengendalikan tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk
untuk usaha memperbaiki hipotensi dan hipertensi.
c. Berusaha menentukan dan memperbaiki aritmia jantung.
d. Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan
secepat mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan
dilakukan latihan-latihan gerak pasif.
e. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK. Dengan
meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi kepala yang
berlebihan,
Pengobatan Konservatif
a. Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin
intra arterial.
b. Anti agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk
menghambat reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi
sesudah ulserasi alteroma.
c. Anti koagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya/
memberatnya trombosis atau emboli di tempat lain di sistem
kardiovaskuler.
Pengobatan Pembedahan
Tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah serebral :
a. Endosterektomi karotis membentuk kembali arteri karotis, yaitu
dengan membuka arteri karotis di leher.
b. Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan
manfaatnya paling dirasakan oleh pasien TIA.
c. Evaluasi bekuan darah dilakukan pada stroke akut
d. Ugasi arteri karotis komunis di leher khususnya pada aneurisma.
2. Penatalaksanaan Keperawatan

16
Menurut Muttaqin (2007) penatalaksanaan yang diberikan pada
pasien dengan stroke, yaitu :
a. Posisikan pasien semi fowler apabila [asien sesak
b. Intruksikan pasien tidur miring jika pasien mengalami muntah
c. Pantau TTV pasien
d. Pasien disuruh bed rest
e. Pertahankan cairan dan elektolit pasien
f. Berikan kompres jika pasien demam
g. Lakukan ROM paling lam 15 menit agar tidak terjadi kekakuan otot

17
II. STROKE HEMORAGIC
A. PENGERTIAN
Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah di
otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab stroke
hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri
venosa. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun
bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun (Ria
Artiani, 2016).
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang
cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang
berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa
adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular (Muttaqin, 2016).
Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga
menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu
daerah di otak dan kemudian merusaknya (M. Adib, 2016).
Stroke adalah suatu keadaan yang timbul karena terhjadi gangguan
perdarahan di otak yang menyebabkan terjadinya jaringan otak sehingga
mengakibatkan seseorang mengakibatkan seseorang menderita kelumpuhan
atau kematian (Batticara, 2016).

B. ETIOLOGI
Stroke hemoragik umumnya disebabkan oleh adanya perdarahan
intracranial dengan gejala peningkatan tekana darah systole > 200 mmHg
pada hipertonik dan 180 mmHg pada normotonik, bradikardia, wajah
keunguan, sianosis, dan pernafasan mengorok.
Penyebab stroke hemoragik, yaitu :
1. Kekurangan suplai oksigen yang menuju otak.
2. Pecahnya pembuluh darah di otak karena kerapuhan pembuluh darah otak.
3. Adanya sumbatan bekuan darah di otak. (Batticaca 2016).
Penyebab stroke hemoragik biasanya diakibatkan dari: Hemoragi serebral
(pecahnya pembuluh darah serebral dengan pendarahan kedalam jaringan
otak atau seluruh ruang sekitar otak ). Akibatnya adalah penghentian suplai
darah ke otak .
Hemoragi serebral dapat terjadi di berbagai tempat yaitu :
1. Hemoragi obstrudural
2. Hemoragi subdural
3. Hemoragi subakhranoid
4. Hemoragi intraserebral

18
Faktor resiko penyakit stroke menyerupai faktor resiko penyakit jantung
iskemik :
1. Usia
2. Jenis kelamin: pada wanita premonophous lebih rendah, tapi pada wanita
post monophous sama resiko dengan pria
3. Hipertensi
4. DM
5. Keadaan hiperviskositas berbagai kelainan jantung
6. Koagulopati karena berbagai komponen darah antara lain
hiperfibrinogenia
7. Keturunan
8. Hipovolemia dan syook ( Aru W, Sedoyo dkk, 2016)
Menurut Sylvia dan Lorraine (2015), SH terjadi akibat :
1. Perdarahan intraserebrum hipertensif.
2. Perdarahan subaraknoid (PSA): ruptura aneurisma secular (berry),
rupture malformasi arteriovena (MAV), trauma.
3. Penyalahgunaan kokain, amfetamin
4. Perdarahan akibat tumor otak
5. Infark hemoragik
6. Penyakit perdarahan sistemik termasuk penggunaan obat antikoagula.
C. PATOFISIOLOGI
Stroke hemoragik terjadi perdarahan yang berasal dari pecahnya arteri
penetrans yang merupakan cabang dari pembuluh darah superfisial dan
berjalan tegak lurus menuju parenkim otak yang di bagian distalnya berupa
anyaman kapiler. Aterosklerosis dapat terjadi dengan bertambahnya umur dan
adanya hipertensi kronik, sehingga sepanjang arteri penetrans terjadi
aneurisma kecil-kecil dengan diameter 1 mm. Peningkatan tekanan darah
yang terus menerus akan mengakibatkan pecahnya aneurisme ini, sehingga
dapat terjadi perdarahan dalam parenkim otak yang bisa mendorong struktur
otak dan merembas kesekitarnya bahkan dapat masuk kedalam ventrikel atau
ke ruang intrakranial.
Perdarahan intracranial biasanya disebabkan oleh karena ruptur arteri
serebri. Ekstravasasi darah terjadi di daerah otak dan atau subaraknoid,
sehingga jaringan yang ada disekitarnya akan tergeser dan tertekan. Darah ini
sangat mengiritasi jaringan otak, sehingga dapat mengakibatkan vasospasme
pada arteri di sekitar perdarahan. Spasme ini dapat menyebar ke seluruh
hemisfer otak dan sirkulus willis. Bekuan darah yang semula lunak akhirnya
akan larut dan mengecil. Daerah otak disekitar bekuan darah dapat

19
membengkak dan mengalami nekrosis, karena kerja enzim-enzim maka
bekuan darah akan mencair, sehingga terbentuk suatu rongga. Sesudah
beberapa bulan semua jaringan nekrotik akan diganti oleh astrosit dan
kapiler-kapiler baru sehingga terbentuk jalinan desekitar rongga tadi.
Akhirnya rongga-rongga tersebut terisi oleh astroglia yang mengalami
proliferasi (Sylvia & Lorraine 2016).
Perdarahan subaraknoid sering dikaitkan dengan pecahnya aneurisma.
Kebanyakan aneurisma mengenai sirkulus wilisi. Hipertensi atau gangguan
perdarahan mempermudah kemungkinan terjadinya ruptur, dan sering
terdapat lebih dari satu aneurisma. Gangguan neurologis tergantung letak dan
beratnya perdarahan. Pembuluh yang mengalami gangguan biasanya arteri
yang menembus otak seperti cabang lentikulostriata dari arteri serebri media
yang memperdarahi sebagian dari 3 ganglia basalis dan sebagian besar
kapsula interna. Timbulnya penyakit ini mendadak dan evolusinya dapat
cepat dan konstan, berlangsung beberapa menit, beberapa jam, bahkan
beberapa hari.
Gambaran klinis yang sering terjadi antara lain; sakit kepala berat, leher
bagian belakang kaku, muntah, penurunan kesadaran, dan kejang. 90%
menunjukkan adanya darah dalam cairan serebrospinal (bila perdarahan besar
dan atau letak dekat ventrikel), dari semua pasien ini 70-75% akan meninggal
dalam waktu 1-30 hari, biasanya diakibatkan karena meluasnya perdarahan
sampai ke system ventrikel, herniasi lobus temporalis, dan penekanan
mesensefalon, atau mungkin disebabkan karena perembasan darah ke pusat-
pusat yang vital (Smletzer & Bare, 2016).
Penimbunan darah yang cukup banyak (100 ml) di bagian hemisfer
serebri masih dapat ditoleransi tanpa memperlihatkan gejala-gejala klinis
yang nyata. Sedangkan adanya bekuan darah dalam batang otak sebanyak 5
ml saja sudah dapat mengakibatkan kematian. Bila perdarahan serebri akibat
aneurisma yang pecah biasanya pasien masih muda, dan 20 % mempunyai
lebih dari satu aneurisma (Black & Hawk, 2016).
Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi dimana saja di dalam
arteri-arteri yang membentuk sirkulus Willisi : arteria karotis interna dan
sistem vertebrobasilar atau semua cabang-cabangnya. Apabila aliran darah ke

20
jaringan otak terputus selama 15-20 menit maka akan terjadi infark atau
kematian jaringan. Akan tetapi dalam hal ini tidak semua oklusi di suatu
arteri menyebabkan infark di daerah otak yang diperdarahi oleh arteri
tersebut. Mungkin terdapat sirkulasi kolateral yang memadai di daerah
tersebut. Dapat juga karena keadaan penyakit pada pembuluh darah itu
sendiri seperti aterosklerosis dan trombosis atau robeknya dinding pembuluh
darah dan terjadi peradangan, berkurangnya perfusi akibat gangguan status
aliran darah misalnya syok atau hiperviskositas darah, gangguan aliran darah
akibat bekuan atau infeksi pembuluh ektrakranium dan ruptur vaskular dalam
jaringan otak. (Sylvia A. Price dan Wilson, 2016).

D. MANIFESTASI KLINIS
1. Kehilangan motorik
a. Hemiplegis, hemiparesis.
b. Paralisis flaksid dan kehilangan atau penurunan tendon profunda
(gambaran lklinis awal ).
2. Kehilangan komunikasi
a. Disartria
b. Difagia
c. Afagia
d. Afraksia
3. Gangguan konseptual
a. Hamonimus hemia hopia (kehilanhan sitengah dari lapang pandang)
b. Gangguan dalam hubungan visual-spasial (sering sekali terlihat pada
pasien hemiplagia kiri)
c. Kehilangan sensori : sedikit kerusakan pada sentuhan lebih buruk
dengan piosepsi, kesulitan dalam mengatur stimulus visual, taktil dan
auditori.
4. Kerusakan aktivitas mental dan efek psikologis :
a. Kerusakan lobus frontal : kapasitas belajar memori, atau fungsi
intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin mengalami kerusakan
disfungsi tersebut. Mungkin tercermin dalam rentang perhatian
terbatas, kesulitan dalam komperhensi, cepat lupa dan kurang
komperhensi.
b. Depresi, masalah psikologis-psikologis lainnya. Kelabilan emosional,
bermusuhan, frurtasi, menarik diri, dan kurang kerja sama.
5. Disfungsi kandung kemih :
a. Inkontinansia urinarius transia

21
b. Inkontinensia urinarius persisten / retensi urin (mungkin simtomatik
dari kerusakan otak bilateral)
c. Inkontinensia urin dan defekasi berkelanjutan (dapat menunjukkan
Kerusakan neurologisekstensif) (Brunner & Suddart, 2002 )

E. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan penderita dengan stroke hemoragik adalah sebagai
berikut :
1. Posisi kepala dan badan atas 20 – 30 derajat, posisi miring apabila muntah
dan boleh mulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil.
2. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu
diberikan oksigen sesuai kebutuhan.
3. Tanda – tanda vital diusahakan stabil.
4. Bed rest.
5. Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia.
6. Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
7. Kandung kemih yang penuh dikosongkan, bila perlu kateterisasi.
8. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari
penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonok.
9. Hindari kenaikan suhu, batuk, konstipasi, atau cairan suction berlebih
yang dapat meningkatkan TIK.
10. Nutrisi peroral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. apabila
kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT.
11. Penatalaksanaan spesifiknya yaitu dengan pemberian obat neuroprotektor,
antikoagulan, trombolisis intraven, diuretic, antihipertensi, dan tindakan
pembedahan, menurunkan TIK yang tinggi.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Batticaca (2008), Pemeriksaan penunjang diagnostik yang dapat
dilakukan adalah :
1. Laboratorium : darah rutin, gula darah, urine rutin, cairan serebrospinal,
analisa gas darah, biokimia darah, elektolit.
2. CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan dan juga
untuk memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya
infark.
3. Ultrasonografi Doppler : mengidentifikasi penyakit arteriovena ( masalah
sistem arteri karotis ).
4. Angiografi serebral membantu menentukan penyebab stroke secara
spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri.

22
5. MRI ( magnetic resonance imaging ) : menunjukan daerah yang
mengalami infark, hemoragik ).
6. EEG ( elektroensefalogram ) : memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
7. Sinar-X tengkorak : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal
daerah yang berlawanan dari masa yang meluas; klasifikasi karotis interna
terdapat pada trombosit serebral ; klasifikasi parsial dinding aneurisma
pada perdarahan subarachnoid.

23
III. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, status, suku, agama, alamat,
pendidikan, diagnosa medis, tanggal MRS, dan tanggal pengkajian
diambil.
2. Keluhan utama
Sering menjadi alasan pasien untuk meminta pertolongan kesehatan
adalah kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, tidak dapat
berkomunikasi, dan penurunan tingkat kesadaran.
3. Riwayat penyakit sekarang
Serangan stroke hemoragik sering kali berlangsung sangat mendadak,
pada saat pasien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri
kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala
kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain. Adanya
penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran disebabkan perubahan
di dalam intrakranial. Keluhan perubahan perilaku juga umum terjadi.
Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi latergi, tidak responsif, dan
koma.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia,
riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat –
obat antib koagulan, aspirin, vasodilator, obat – obat adiktif, kegemukan.
Pengkajian pemakaian obat-obat yang sering digunakan klien, seperti
pemakaian antihipertensi, antilipidemia, penghambat beta, dan lainnya.
Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol dan penggunaan obat
kontrasepsi oral. Pengkajian riwayat ini dapat mendukung pengkajian dari
riwayat penyakit sekarang dan merupakan data dasar untuk mengkaji
lebih jauh dan untuk memberikan tindakan selanjutnya.
5. Riwayat penyakit keluarga

24
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes
melitus, atau adanya riwayat stroke dan generasi terdahulu.
6. Riwayat psikososiospiritual
Pengkajian psikologis pasien stroke meliputi beberapa dimensi yang
memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai
status emosi, kognitif, dan perilaku klien. Pengkajian mekanisme koping
yang digunakan klien juga penting untuk menilai respons emosi klien
terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan
sehari-harinya, baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Apakah
ada dampak yang timbul pada pasien yaitu timbul seperti ketakutan akan
kecemasan, rasa cemas, rasa tidakmampuan untuk melakukan aktivitas
secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan
citra tubuh).
Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesulitan
untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan konsep
diri menunjukkan klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah
marah, dan tidak kooperatif. Dalam pola penanganan stres, klien biasanya
mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan proses
berpikir dan kesulitan berkomunikasi. Dalam pola tata nilai dan
kepercayaan, klien biasanya jarang melakukan ibadah spritual karena
tingkah laku yang tidak stabil dan kelemahan/kelumpuhan pada salah satu
sisi tubuh.
7. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Melangalami penurunan kesadaran, suara bicara : kadang mengalami
gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara/ afaksia.
Tanda – tanda vital : TD meningkat, nadi bervariasi.
a. B1 (breathing)
Pada inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan produksi
sputum, sesak napas, penggunaan obat bantu napas, dan
peningkatan frekuensi pernapasan.
Pada klien dengan tingkat kesadaran compas mentis, peningkatan
inspeksi pernapsannya tidak ada kelainan. Palpasi toraks

25
didapatkan taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi
tidak didapatkan bunyi napas tambahan.
b. B2 (blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskulardidapatkan renjatan (syok
hipovolemik) yang sering terjadi pada klien stroke. Tekanan darah
biasanya terjadi peningkatan dan dapat terjadi hipertensi masif
(tekanan darah >200 mmHg.
c. B3 (Brain)
Stroke yang menyebabkan berbagai defisit neurologis, tergantung
pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran
area yang perfusinya tidak adekuat, dan aliran darah kolateral
(sekunder atau aksesori). Lesi otak yang rusak dapat membaik
sepenuhnya. Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus
dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
d. B4 (Bladder)
Setelah stroke klien mungkin mengalami inkontinesia urine
sementara karena konfusi, ketidakmampuan mengomunikasikan
kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk mengendalikan kandunf
kemih karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Kadang
kontrol sfingter urine eksternal hilang atau berkurang. Selama
periode ini, dilakukan kateterisasi intermiten dengan teknik steril.
Inkontinesia urine yang berlanjut menunjukkan kerusakan
neurologis luas.
e. B5 (Bowel)
Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan
menurun, mual muntah pada pasien akut. Mual sampai muntah
disebabkan oleh peningkatan produksi asam lambung sehingga
menimbulkan masalah pemenuhan nutrisi. Pola defekasi biasanya
terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. Adanya
inkontinesia alvi yang berlanjut menunjukkan kerusakan
neurologis luas.
f. B6 (Bone)
Pada kulit, jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan
jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan buruk. Selain itu,
perlu juga tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang

26
menonjol karena klien stroke mengalami masalah mobilitas fisik.
Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan
sensori atau paralise/hemiplegi, serta mudah lelah menyebabkan
masalah pada pola aktivitas dan istirahat.
2) Pengkajian tingkat kesadaran
Pada klien lanjut usia tingkat kesadaran klien stroke biasanya berkisar
pada tingkat latergi, stupor, dan semikomantosa.
3) Pengkajian fungsi serebral
Pengkajian ini meliputi status mental, fungsi intelektual, kemampuan
bahasa, lobus frontal, dan hemisfer.
4) Pengkajian saraf kranial
Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.
5) Pengkajian sistem motorik
Hampir selalu terjadi kelumpuhan / kelemahan pada salah satu sisi
tubuh.
6) Pengkajian refleks
Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang.
Setelah beberapa hari refleks fisiologi akan muncul kembali di dahului
dengan refleks patologis.
7) Pengkajian sistem sensori
Dapat terjadi hemihipertensi.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif b/d hambatan upaya nafas
2. Gangguan mobilitas fisik b/d penurunan kekuatan otot
3. Resiko perfusi serebral tidak efektif b/d hipertensi
4. Resiko jatuh b/d perubahan kadar glukosa darah
5. Resiko aspirasi b/d kerusakan mobilitas fisik
6. Resiko kerusakan integritas kulit b/d penurunan mobilitas
7. Defisit perawatan diri b/d kelemahan
8. Gangguan komunikasi verbal b/d gangguan neoromuskuler
9. Resiko cedera b/d ketidakamanan transportasi

C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No Dx Keperawatan SLKI SIKI

1 Pola nafas tidak Pola nafas Pemantauan respirai :


efektif b/d hambatan
upaya nafas Setelah diberikan Asuhan Tindakan :
Keperawatan selama 1 x 24
jam diharapkan kondisi Observasi :
pasien sesuai dengan kriteria
- Montor
hasil, sebagai berikut :
frekuensi, irama,

27
- Dispnea mebaik kedalaman dan
- Penggunaan otot upaya nafas
bantu nafas membaik - Monitor pola
- Pemanjangan fase nafas
ekspirasi membaik - Monitor adanya
- Frekuensi nafas sumbatan jalan
membaik nafas
- Kedalaman nafas - Auskultasi bunyi
membaik nafas
- Monitor saturasi
oksigen
Terapeutik :
- Atur interval
pemantauan
respirasi sesuai
kondisi pasien
- Dokumentasi
hasil
pemantauan
Edukasi :
- Jelaskan tujuan
dan prosedur
pemantauan

2 Gangguan mobilitas Mobilitas fisik Dukunan kepatuhan


fisik b/d penurunan program pengobatan
kekuatan otot Defenisi : Kemampuan alam Tindakan :
gerakan fisik dari satu atau Observasi
lebih ekstremitas secara - Identifikasi
mandiri menjalani
program
Kriteria hasi :
pengobatan
- Pergerakan Terapeutik
ekstremitas - Buat komitmen
meningkat enjalani program
- Kekuatan oto pengobatan
meningkat dengn baik
- Rentang gerak - Libatkan
(ROM) meningkat keluarga untuk
mendukung
program
pengobatan yang
dijalani
Edukasi
- Informasikan
program
pengobatan yang

28
harus dijalani
- Anjurkan
keluarga untuk
mendampingi
dan merawat
pasien selama
manjalani
program
pengobatan

3 Resiko perfusi Perfusi perifer Pemantauan Tanda


Vital
serebral tidak efektif Setelah diberikan Asuhan Tindakan :
b/d arterosklorosis Keperawatan selama 1 x 24 Observasi :
jam diharapkan kondisi - Monitor tekanan
aorta pasien sesuai dengan kriteria darah
hasil, sebagai berikut : - Monitor nadi
- Monitor
- Tingkat kesadaran
pernafasan
meningkat
- Monitor suhu
- Frekuensi nadi
tubuh
meningkat
Terapeutik :
- Tekanan darah
- Atur interval
meningkat
pemantauan
- Frkuensi nafas
sesuai kondisi
meningkat
pasien
- Saturasi oksigen
- Dokumentasi
meningkat
hasil
pemantauan
Edukasi :
- Jelaskan tujuan
dan prosedur
pemantauan
- Informasikan
hasil
pemantauan, jika
diperlukan

29
BAB III

TINJAUAN KASUS

Tanggal Pengkajian : 29 Oktober 2019

A. PENGKAJIAN

1. Identitas Pasien
Nama : Tn. P
Umur : 56 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Status : Menikah

30
Agama : Islam
Pendididkan : S1
Pekerjaan : PNS
Alamat : Padang Sidempuan
Tanggal masuk : 29 oktober 2019
Dx medis : Stroke Hemoralgik

Identitas penanggung jawab

Nama : Ny. R

Umur : 54 tahun

Hubungan keluarga : Istri pasien

Alamat : Padang Sidempuan

2. Keluhan Utama
Pasien datang ke IGD RSAM Bukittinggi di antar oleh keluarga
pada tanggal 29 ktober 2019 dengan keluhan sakit kepala, muntah,
dan pasien meronta-meronta. Saat di IGD pasien mengalami
penurunan kesadaran.

3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Pada saat dilakukan pengkajian diruangan neurologi pada
tanggal 29 oktober 2019 pukul 11.30 WIB, pasien tidak sadar
dan tidak bisamelakukan apa-apa. Nafsu makan pasien
berkurang, pasien mengalami muntah secara tiba-tiba sebnayak
2 kali. Pasein tampak sesak dan tibak bisa menggerakkan
anggota gerak karna pasien dalam keadaan koma. Keluarga
mengatakan pasien memiliki riwayat hipertensi dan tekanan
darah pasien pernah mencapai 270/130 mmHg dan hasil
pemeriksaan didapatakn TTV :
Tekanan darah : 140/100 mmHg
Frekeunsi nadi : 120 x/i
Frekuensi pernafasan : 25 x/i
Suhu : 36°C
b. Riwayat kesehatan dahulu

31
Keluarga mengatakan bahwa pasien sebelumya memiliki
riwayat hipertensi.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga mengatakan ayah pasien meninggal dengan riwayat
penyakit asma. Dari keluarga tidak ada yang memiliki penyakit
yang sama dengan pasien, keluarga juga mengatakan tidak ada
dari keluarga yang memiliki penyakit diabetes melitus, jantung,
paru, dan hipertensi.

4. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Buruk

GCS : E:1, M:1, V:1

Kesadaran : Coma

BB/TB : 80 kg / 175 cm

Tanda-tanda vital

Tekanan darah : 140/80 mmHg

Frekuensi nadi : 120 x/i

Frekuensi nafas : 25x/i

Suhu : 36°C

1. Kepala

32
Rambut : Beruban, perubahan rambut tidak
merata.

Mata : Pupil isokor, reflek cahaya -/-, diameter


2 mm/2 mm konjungtiva tidak anemis,
sclera tidak ikterik

Hidung : Simetris kiri kanan, tidak ada


polip,terpasang NRM, oksigen 8-
15 liter

Telinga : Simetris kiri kanan, tidak ada


serumen

2. Leher : Warna kulit sawo matang, tidak


ada pembesaran kelenjer thyroid
dan vena jagularis.

3. Thorax

Paru-paru

I : Simetris kiri kanan, menggunakan otot


bantu pernafasan

P : Premitis kiri kanan

P : Sonor kiri kanan

A : Bunyi nafas bronchial

Jantung

I : Iktus cordis tidak terlihat

P : Iktus teraba 1 jaridi GCS 4


midclavikularis

P : Bunyi jantung melebar ke kiri bawah

33
A : Irama jantung reguler

4. Abdomen

I : Abdomen pasien datar, tidak buncit

A : Bising usus 12x/i

P : Thympani

P : Hepar dan lien tidak teraba

5. Punggung : Tidak ada kelainan tulang belakang

6. Eksremitas

Atas : Terpasang infus asering di sebelah kiri

Bawah : Tidak bergerak sama sekali

Kekuatan otot :

1111 1111

1111 1111

7. Integumen : Turgor kulit jelek, kulit kering

8. Neurologis : Pasien tidak sadar, tidak dilakukan


pemeriksaan, GCS E1 M1 V1 = 3

5. Data Biologis

No Aktifitas Sehat Sakit

34
1. Makan & minum
Makan :
- Menu Nasi + lauk + sayur Berdasarkan diet ahli gizi
- Porsi -
- Makanan kesukaan 3 x sehari -
- Pamtangan Gulai ikan -
- Cemilan Daging -
Roti - rotian
Minum : 1-2 gelas / hari
5-6 gelas / hari -
- Jumlah Teh -
- Minuman kesukaan -
- Pantangan

2. Pola eliminasi
BAB :
- Frekuensi 1 kali / hari -
- Konsistensi Lembek -
- Warna Kuning kecoklatan -
- Bau Khas -
- Kesulitan - -
BAK :
4-6 kali / hari Terpasang kateter
- Frekuensi
Cair Cair
- Konsistensi
Kuning bening Kuning keruh
- Warna
Khas Khas
- Bau
- -
- Kesulitan

3. Istirahat & tidur


- Waktu tidur Malam hari Pasien dalam Coma
- Lama tidur 6-7 jam -
- Waktu bangun Sebelum subuh -
- Hal yang Ngantuk -
mempermudah tidur
- Kesulitan tidur

4. Personal hygiene
- Mandi 2 x 1 hari 1 x 1 hari (di lap-lap)
- Cuci rambut 2 x 1 hari -
- Gosok gigi 1 x 1 hari -
- Potong kuku 1 x seminggu -

35
5. Rekreasi
- Hobby Jalan-jalan -
- Penggunaan waktu Bersama keluarga -
senggang

6. Ketergantungan
- Merokok - -
- Minuman - -
- Obat-obatan - -

6. Riwayat Alergi
Keluarga pasein mengatakna bahwa pasien tidak meiliki alergi
terhadap obat-obatan, makanan, minuman, dan cuaca.

7. Data Psikologis
a. Perilaku non verbal
Pasien tidak mampu memberikan respon dengan baik.
b. Perilaku verbal
1) Cara menjawab
Pasien dalam keadaan penurunan kesadaran,
sehingga informasi belum bisa didapat.
2) Cara memberikan informasi
Pasien belum bisa memberikan informasi
apapun karena keadaannya yang masih coma.
c. Emosi
Emosi pasien pada saat pengkajian belum stabil karena
pasien meronta-ronta.
d. Persepsi penyakit
Belum ada informasi dari pasien karena keadaannya
yang coma.
e. Adaptasi
Pasien belum bisa beradaptasi dengan dokter, perawat,
mahasiswa dan keluarga karena kondisinya yang coma.

8. Data Sosial
a. Pola komunikasi

36
Pasien belum bisa berkomunikasi dengan siapapun.
b. Orang yang dapat memberikan rasa nyaman
Yang menunggui pasien waktu dilkakukan pengkajian
adalah istrinya dan yang memberikan rasa nyaman
adalah istrinya.
c. Orang yang paling berharga bagi pasien
Belum bisa didapatkan informasi dari pasien.
d. Hubungan dengan keluarga dan masyarakat
Belum bisa didapatkan informasi dari pasien.
9. Data Spiritual
a. Keyakinan
Pasien beragama islam.
b. Ketaatan beribadah
Pasien dalam keadaan coma, tidak bisa dilihat seberapa
ketaatan pasien untuk beribadah.
c. Keyakinan terhadap penyembuhan
Pasien masih belem sadar dan belum bisa memberikan
pernyataan.
10. Data Penunjang
a. Diagnosa medis : Stroke Hemoralgic
b. Pemeriksaan diagnostsic :

Pemeriksaan Labor Hasil Pemeriksan Normal

Creatinin 5,5, mg/dl Laki - laki 0,6 - 1,2


mg/dl
Wanita 0,5 - 1,1
mg/dl

Uric acid 12,0 mg.dl < 7 mg/dl

Croat 5, 61 mg/dl 5,0-5,5 mg/dl

Urea 194 mg/dl Laki - lakiu dewasa


8-20 mg/dl
Wanita dewasa 6-20
mg/dl
Anak - anak 5-18
mg/dl

PT 11,1 Sec 9,5-11,7 sec

APTT 42,6 sec 28 - 42,6 sec

37
Kalium 3,84 mEq/l 3,55 - 5,5 mEq/l

Natrium

Khloroda 106, 8 mg/dl 100 - 106 mg/dl

Eritrosit 8 mcl Laki-laki 4,7-6,1 mcl


Wanita 4,2-5-4 cl

Leukosit 21.500 mm 5000-10000 mm

Hb 14, 8 g/dl Laki-laki 14-16 g/dl


Wanita 11-14 g/dl

Na 142 mEq/l 135-155 mEq/l

K 2,7 mEq/l 3,6-5,5 mEq/l

Cl 103 mEq/L 96-106 mEq/l

Calcium 0,99 mEq/l 1,15 - 1,32 mEq/l

11. Data Pengobatan


Injeksi citocollin 2 x 250 gr
Injeksi cefoparazon 2 x sehari
Injeksi bisolvon 2 x sehari
Injeksi fosmisin 2 x sehari
Nacl 0,9 %
Nebu ventolin 4 x sehari
Monitol 4 x 125
Ivfd asering 12 jam/kolf

12. Data Fokus


a. Data subjektif
- Keluarga pasien mengatakan pasien tidak sadar sejak2 jam
sebelum masuk rumah sakit
- Keluarga pasien mengatakan pasien tidak bisa melakukan
apa-apa
- Keluarga mengatakan pasien mengalami sakit kepala hebat
sebelum dibawa ke rs
- Keluarag mengatakan pasien memiliki riwayat hipertensi
- Keluarga mengatakan pasien tidak mamapu bangun dari
tempat tidur

38
- Keluarga mengatakan otot pasien lemah
- Keluarga pasien mengatakan nafas pasien sesak sejak 1
hari sebelum masuk rumah sakit
b. Data Objektif
- Pasien tampak sesak
- Pasien tapak lemah
- Pasien tampak menggerakkan tangannya tapi belum
sadarkan diri
- Pasien tampak tidak sadarkan diri
- Nafas pasien tampak sesak
- Pasien terpasang O2 8 liter
- Terdengan bunyi suara nafas tambahan ronchi
- KU : Coma
- GCS : E:1, M:1, V:1
- TD : 140/80 mmHg
- N : 120 x/i
- R : 25x/i
- S : 36°C

13. Analisa Data

No Data Fokus Problem Etiologi

1 DS : Pola nafas tidak efektif Hambatan upaya nafas


- Keluarga
mengatakan nafas
pasien sesak sejak 1
hari sebelum masuk
rumah sakit

DO :
- Pasien tampak sesak
- Pasien tapak lemah
- Nafas pasien tampak
sesak
- Pasien terpasang O2
8 liter
- Terdengan bunyi
suara nafas tambahan
ronchi
- TD : 140/80 mmHg
- N : 120 x/i
- R : 25x/i
- S : 36°C

39
2 DS : Gangguan mobilitas fisik Penurunan kekuatan otot
- Keluarga mengatakan
pasien tidak mamapu
bangun dari tempat
tidur
- Keluarga mengatakan
otot pasien lemah
- Keluarga pasien
mengatakan pasien
tidak bisa melakukan
apa-apa dengan
kekuatan otot pasien
0
DO :
- Pasien tapak lemah
- KU : Coma
- GCS : E:1, M:1, V:1
- TD : 140/80 mmHg
- N : 120 x/i
- R : 25x/i
- S : 36°C

3 DS : Resiko perfusi serebral Aterosklorosis Aorta


- Keluarga mengatakan tidak efektif
pasien mengalami
sakit kepala hebat
sebelum dibawa ke rs
- Keluarag mengatakan
pasien memiliki
riwayat hipertensi
- Keluarga pasien
mengatakan pasien
tidak sadar
DO :
- Pasien tapak lemah
- Pasien tampak tidak
sadarkan diri
- Nafas pasien tampak
sesak
- KU : Coma
- GCS : E:1, M:1, V:1
- TD : 140/80 mmHg
- N : 120 x/i
- R : 25x/i
- S : 36°C

14. Diagnosa Keperawatan

40
a. Pola nafas tidak efektif b/d hambatan upaya nafas
b. Gangguan mobilitas fisik b/d penurunan kekuatan otot
c. Resiko perfusi serebral tidak efektif b/d arterosklorosis aorta

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No Dx Keperawatan SLKI SIKI

1 Pola nafas tidak efektif Pola nafas Pemantauan respirai :


b/d hambatan upaya
nafas Setelah diberikan Asuhan Tindakan :
Keperawatan selama 1 x 24
jam diharapkan kondisi Observasi :
pasien sesuai dengan kriteria
- Montor frekuensi,
hasil, sebagai berikut :
irama, kedalaman
- Dispnea mebaik dan upaya nafas
- Penggunaan otot bantu - Monitor pola nafas
nafas membaik - Monitor adanya
- Pemanjangan fase sumbatan jalan
ekspirasi membaik nafas
- Frekuensi nafas - Auskultasi bunyi
membaik nafas
- Kedalaman nafas - Monitor saturasi
membaik oksigen
Terapeutik :
- Atur interval
pemantauan
respirasi sesuai
kondisi pasien
- Dokumentasi hasil
pemantauan
Edukasi :
- Jelaskan tujuan dan
prosedur
pemantauan

2 Gangguan mobilitas Mobilitas fisik Dukunan kepatuhan


fisik b/d penurunan program pengobatan
kekuatan otot Defenisi : Kemampuan alam Tindakan :
gerakan fisik dari satu atau Observasi
lebih ekstremitas secara - Identifikasi
mandiri menjalani program
pengobatan
Kriteria hasi :
Terapeutik
- Pergerakan ekstremitas - Buat komitmen

41
meningkat enjalani program
- Kekuatan oto pengobatan dengn
meningkat baik
- Rentang gerak (ROM) - Libatkan keluarga
meningkat untuk mendukung
program
pengobatan yang
dijalani
Edukasi
- Informasikan
program
pengobatan yang
harus dijalani
- Anjurkan keluarga
untuk
mendampingi dan
merawat pasien
selama manjalani
program
pengobatan

3 Resiko perfusi serebral Sirkuasi spontan Pemantauan Tanda Vital


Tindakan :
tidak efektif b/d Setelah diberikan Asuhan Observasi :
arterosklorosis aorta Keperawatan selama 1 x 24 - Monitor tekanan
jam diharapkan kondisi darah
pasien sesuai dengan kriteria - Monitor nadi
hasil, sebagai berikut : - Monitor pernafasan
- Monitor suhu
- Tingkat kesadaran
tubuh
meningkat
Terapeutik :
- Frekuensi nadi
- Atur interval
meningkat
pemantauan sesuai
- Tekanan darah
kondisi pasien
meningkat
- Dokumentasi hasil
- Frkuensi nafas
pemantauan
meningkat
Edukasi :
- Saturasi oksigen
- Jelaskan tujuan dan
meningkat
prosedur
pemantauan
- Informasikan hasil
pemantauan, jika
diperlukan

42
CATATAN PERKEMBANGAN

No Hari / Diagnos Jam Implementasi Jam Evaluasi Paraf


tanggal keperawatan

1 Selasa Pola nafas tidak 10.00 Pemantauan 10.0 S:


29-10- efektif b/d respirasi : 0 - Keluarga
2019 hambatan mengatak
upaya nafas Tindakan : an nafas
pasien
Observasi :
sesak
- Monitor O:
frekuensi, - Pasien
irama, tampak
kedalaman sesak
dan upaya - Pasien

43
nafas tapak
- Monitor lemah
pola nafas - Nafas
- Memonitor pasien
adanya tampak
sumbatan sesak
jalan nafas - Pasien
- Mengauskul terpasang
tasi bunyi O2 8 liter
nafas - Terdengan
- Monitor bunyi
saturasi suara
oksigen nafas
Terapeutik : tambahan
- Mengatur ronchi
interval - TD :
pemantauan 140/80
respirasi mmHg
sesuai - N : 120 x/i
kondisi - R : 25x/i
pasien - S : 36°C
- Mendokum
entasi hasil A:
pemantauan - Masalah
Edukasi : belum
- Menjelaska teratasi
n tujuan dan P:
prosedur - Intervensi
dilanjutka
n (1, 2, 3,
4, 5, 6)

Selasa Resiko perfusi 10.00 Pemantauan Tanda 10.0 S:


29-10- Vital 0 - Keluarga
serebral tidak
2019 Tindakan : mengataka
efektif b/d Observasi : n pasien
- Monitor tidak
arterosklorosis
tekanan mamapu
aorta darah bangun
- Monitor dari
nadi tempat
- Monitor tidur
pernafasan - Keluarga
- Monitor mengataka
suhu tubuh n otot
Terapeutik : pasien
- Atur lemah
interval - Keluarga

44
pemantauan pasien
sesuai mengataka
kondisi n pasien
pasien tidak bisa
- Dokumenta melakukan
si hasil apa-apa
pemantauan O:
Edukasi : - Pasien
- Jelaskan tapak
tujuan dan lemah
prosedur - KU :
pemantauan Coma
- Informasika - GCS : E:1,
n hasil M:2, V:1
pemantauan - TD :
, jika 140/80
diperlukan mmHg
- N : 120 x/i
- R : 25x/i
- S : 36°C
A:
- Masalah
belum
teratasi
P:
- Intervensi
silanjutkan
(1, 2, 3, 4,
5, 6)

Selasa Gangguan 10.00 Dukunan 10.0 S:


29-10- mobilitas fisik kepatuhan program 0 - Keluarga
2019 b/d penurunan pengobatan mengataka
kekuatan otot Tindakan : n pasien
Observasi mengalam
- Mengidentif i sakit
ikasi kepala
menjalani hebat
program sebelum
pengobatan dibawa ke
Terapeutik rs
- Membuat - Keluarag
komitmen mengataka
enjalani n pasien
program memiliki
pengobatan riwayat
dengn baik hipertensi
- Melibatkan - Keluarga

45
keluarga pasien
untuk mengataka
mendukung n pasien
program tidak sadar
pengobatan O:
yang - Pasien
dijalani tapak
Edukasi lemah
- Menginfor - Pasien
masikan tampak
program tidak
pengobatan sadarkan
yang harus diri
dijalani - Nafas
- Menganjurk pasien
an keluarga tampak
untuk sesak
mendampin - KU :
gi dan Coma
merawat - GCS : E:1,
pasien M:2, V:1
selama - TD :
manjalani 140/80
program mmHg
pengobatan - N : 120 x/i
- R : 25x/i
- S : 36°C
A:
- Masalah
belum
teratasi
P:
- Intervensi
dilanjutka
n (1, 2, 3,
4, 5)

2 Rabu Pola nafas tidak 14.00 Pemantauan 14.0 S:


30-10- efektif b/d respirasi : 0 - Keluarga
2019 hambatan mengatak
upaya nafas Tindakan : an nafas
pasien
Observasi :
sesak
- Monitor O:
frekuensi, - Pasien
irama, tampak
kedalaman sesak
dan upaya - Pasien

46
nafas tapak
- Monitor lemah
pola nafas - Nafas
- Monitor pasien
adanya tampak
sumbatan sesak
jalan nafas - Pasien
- Mengauskul terpasang
tasi bunyi O2 8 liter
nafas - Terdengan
- Monitor bunyi
saturasi suara
oksigen nafas
Terapeutik : tambahan
- Mengatur ronchi
interval - TD :
pemantauan 140/80
respirasi mmHg
sesuai - N : 120 x/i
kondisi - R : 25x/i
pasien - S : 36°C
- Mendokum A:
entasikan - Masalah
hasil belum
pemantauan teratasi
P:
- Intervensi
dilanjutka
n (1, 2, 3,
4, 5, 6, 7)

Rabu Resiko perfusi 14.00 Pemantauan Tanda 14.0 S:


30-10- Vital 0 - Keluarga
serebral tidak
2019 Tindakan : mengataka
efektif b/d Observasi : n pasien
- Monitor tidak
arterosklorosis
tekanan mamapu
aorta darah bangun
- Monitor dari
nadi tempat
- Monitor tidur
pernafasan - Keluarga
- Monitor mengataka
suhu tubuh n otot
Terapeutik : pasien
- Atur lemah
interval - Keluarga
pemantauan pasien

47
sesuai mengataka
kondisi n pasien
pasien tidak bisa
- Dokumenta melakukan
si hasil apa-apa
pemantauan O:
- Pasien
tapak
lemah
- KU :
Coma
- GCS : E:1,
M:2, V:1
- TD :
140/80
mmHg
- N : 120 x/i
- R : 25x/i
- S : 36°C
A:
- Masalah
belum
teratasi
P:
- Intervensi
silanjutkan

Rabu Gangguan 14.00 Dukunan 14.0 S:


30-10- mobilitas fisik kepatuhan program 0 - Keluarga
2019 b/d penurunan pengobatan mengataka
kekuatan otot Tindakan : n pasien
Observasi mengalam
- Mengidentif i sakit
ikasi kepala
menjalani hebat
program sebelum
pengobatan dibawa ke
Terapeutik rs
- Membuat - Keluarag
komitmen mengataka
enjalani n pasien
program memiliki
pengobatan riwayat
dengn baik hipertensi
- Melibatkan - Keluarga
keluarga pasien
untuk mengataka
mendukung n pasien

48
program tidak sadar
pengobatan O:
yang - Pasien
dijalani tapak
Edukasi lemah
- Menginfor - Pasien
masikan tampak
program tidak
pengobatan sadarkan
yang harus diri
dijalani - Nafas
- Menganjurk pasien
an keluarga tampak
untuk sesak
mendampin - KU :
gi dan Coma
merawat - GCS : E:1,
pasien M:2, V:1
selama - TD :
manjalani 140/80
program mmHg
pengobatan - N : 120 x/i
- R : 25x/i
- S : 36°C
A:
- Masalah
belum
teratasi
P:
- Intervensi
dilanjutka
n

3. Kamis Pola nafas tidak 14.00 Pemantauan 14.0 S:


31-11- efektif b/d respirasi : 0 - Keluarga
2019 hambatan mengatak
upaya nafas Tindakan : an nafas
pasien
Observasi :
sesak
- Monitor O:
frekuensi, - Pasien
irama, tampak
kedalaman sesak
dan upaya - Pasien
nafas tapak
- Monitor lemah
pola nafas - Nafas
- Memonitor pasien

49
adanya tampak
sumbatan sesak
jalan nafas - Pasien
- Mengauskul terpasang
tasi bunyi O2 8 liter
nafas - Terdengan
- Monitor bunyi
saturasi suara
oksigen nafas
Terapeutik : tambahan
- Mengatur ronchi
interval - TD :
pemantauan 140/80
respirasi mmHg
sesuai - N : 120 x/i
kondisi - R : 25x/i
pasien - S : 36°C
- Mendokum A:
entasi hasil - Masalah
pemantauan belum
teratasi
P:
- Intervensi
dihentikan
, pasien
meninggal

Kamis Resiko perfusi 14.00 Pemantauan Tanda 14.0 S:


31-11- Vital 0 - Keluarga
serebral tidak
2019 Tindakan : mengataka
efektif b/d Observasi : n pasien
- Monitor tidak
arterosklorosis
tekanan mamapu
aorta darah bangun
- Monitor dari
nadi tempat
- Monitor tidur
pernafasan - Keluarga
- Monitor mengataka
suhu tubuh n otot
Terapeutik : pasien
- Atur lemah
interval - Keluarga
pemantauan pasien
sesuai mengataka
kondisi n pasien
pasien tidak bisa
- Dokumenta melakukan

50
si hasil apa-apa
pemantauan O:
Edukasi : - Pasien
- Jelaskan tapak
tujuan dan lemah
prosedur - KU :
pemantauan Coma
- Informasika - GCS : E:1,
n hasil M:2, V:1
pemantauan - TD :
, jika 140/80
diperlukan mmHg
- N : 120 x/i
- R : 25x/i
- S : 36°C
A:
- Masalah
belum
teratasi
P:
- Intervensi
dihetikan,
pasien
meninggal

Kamis Gangguan 14.00 Dukunan 14.0 S:


31-10- mobilitas fisik kepatuhan program 0 - Keluarga
2019 b/d penurunan pengobatan mengataka
kekuatan otot Tindakan : n pasien
Observasi mengalam
- Mengidentif i sakit
ikasi kepala
menjalani hebat
program sebelum
pengobatan dibawa ke
Terapeutik rs
- Membuat - Keluarag
komitmen mengataka
enjalani n pasien
program memiliki
pengobatan riwayat
dengn baik hipertensi
- Melibatkan - Keluarga
keluarga pasien
untuk mengataka
mendukung n pasien
program tidak sadar
pengobatan

51
yang O:
dijalani - Pasien
Edukasi tapak
- Menginfor lemah
masikan - Pasien
program tampak
pengobatan tidak
yang harus sadarkan
dijalani diri
- Menganjurk - Nafas
an keluarga pasien
untuk tampak
mendampin sesak
gi dan - KU :
merawat Coma
pasien - GCS : E:1,
selama M:2, V:1
manjalani - TD :
program 140/80
peng mmHg
- N : 120 x/i
- R : 25x/i
- S : 36°C
A:
- Masalah
belum
teratas
P:
- Intervensi
dihentikan
, pasien
meninggal

52
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil makalah pada pasien dengan stroke hemoragic yang


menjalani rawat inap di ruangan neurologi RSUD Dr. Achmad Muctar
Bukitinggi tahun 2019, dapat disimpulkan :

1. stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat


gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang
berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian
tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler.
2. Stroke ada 2 maca yaitu stroke hemoralgic dan stroke non hemoralgic.
Stroke hemoralgic merupakan perdarahan serebral dan mungkin
perdarahan subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah
otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan

53
aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran
pasien umumnya menurun, sedangkan yang dimaksud dengan stroke non
hemoralgic adalah dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis
serebral, biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun
tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia
yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema
sekunder. Kesadaran umumnya baik.
3. Penyebab stroke secara keseluruhan adalah :
a. Thrombosis Cerebral ( terjadi pada pembuluh darah yang
mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang
dapat menimbulkan oedema dan kongesti di sekitarnya)
b. Haemoraghi ( perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk
perdarahan dalam ruang subarachnoid atau kedalam jaringan otak
sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena atherosklerosis dan
hipertensi )
c. Hipoksia umum
d. Hipoksia setempat
4. Penyebab dari stroke hemoralgic :
a. Kekurangan suplai oksigen yang menuju otak.
b. Pecahnya pembuluh darah di otak karena kerapuhan pembuluh
darah otak.
c. Adanya sumbatan bekuan darah di otak.
5. Seseorang bisa dikatakan stroke apabila mengelami tanda dan gejala
sebagai berikut :
a. Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparese atau
hemiplegia)
b. Tonus otot lemah atau kaku
c. Afasia (bicara tidak lancar atau kesulitan memahami ucapan)
d. Disartria (bicara pelo atau cadel)
e. Gangguan persepsi
f. Gangguan status mental
g. Vertigo, mual, muntah, atau nyeri kepala.
6. Pengakajian pasien dengan stroke heoralgic meliputi nama, usia ( terlihat
dari kasus stroke tertinggi yang terdiagnosis tenaga kesehatan adalah
usia 75 tahun keatas (43,1%) dan terendah pada kelompok usia 15-24

54
tahun yaitu sebesar 0,2%) , jenis kelamin, alamat, status, agama,
pekerjaan, pendidikan, dan diagnosa medis.
a. Masalah keperawatan yang muncul pada pasien dengan stroke
hemoralgic adalah secara umum :
1. Gangguan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan
gangguan aliran darah sekunder akibat peningkatan
tekanan intracranial.
2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan
kehilangan kontrol otot facial atau oral.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
neuromuscular
4. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakmampuan menelan.
5. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan
hemiparese/hemiplegi.
6. Gangguan persepsi sensori : perabaan yang berhubungan
dengan penekanan pada saraf sensori.
7. Resiko terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas
yang berhubungan dengan menurunnya refleks batuk dan
menelan, imobilisasi
Sedangkan masalah keperawatan sesuai dengan kasus
diangkat 3 diagnosa, yaitu :
1. Pola nafas tidak efektif b/d hambatan upaya nafas
2. Gangguan mobilitas fisik b/d penurunan kekuatan otot
3. Ganngguan sirkulasi spontan b/d penurunan fungsi
ventrikel
b. Penatalaksanan yang dilakukan pada pasien dengan stroke
hemoragik, disesuaikan dengan Standar intervensi dan standar
luaran keperawatan indonesia.
c. Pada tahap evaluasi yang diperoleh dari tn. P didapatkan pasien
meninggal dan intervensi tidak dapat dilanjutkan

B. SARAN

1. Bagi institusi pendidikan

Diharapkan Institusi Pendidikan agar dapat menggunakan makalah


ini sebagai bahan wacana dan masukan dalam proses belajar mengajar

55
dan meningkatkan mutu pendidikan dimasa datang, serta makalah ini
dapat menjadi referensi untuk penyusunan makalah berikutnya
khususnya pada pasien dtroke hemoralgic.

2. Bagi Lahan Praktik

Diharapkan Rumah Sakit agar dapat menggunakan makalah ini


sebagai acuan untuk meningkatkan mutu kesehatan dimasa yang akan
datang dan acuan untuk memberika asuham keperawatan terkhusunya
pasien dengan stroke hemoralgic

3. Bagi Mahasiwa/i

Diharapkan mahasiswa dapat menambah pengetahuna dan wawasan


dalam memberikan asuhan keperawtan yang komprehensif pada pasien
dengan masalah stroke hemoralgic.

4. Bagi Pasien dan Keluarga

Diharapkan pasien dan keluarga agar dapat menambah wawasan dan


pengatahuan mengenai penyakit stroke hemoralgicdan dapat melakukan
pencegahan dimasa yang akan datang.

56