Anda di halaman 1dari 45

i

MAKALAH KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
GAWAT DARURAT PADA TRAUMA SPINAL

OLEH :
KELOMPOK 3
KELAS B-11A

1. NI KOMANG AYU NOPI SAVITRI (183222928)


2. NI KOMANG MEGAWATI (183222929)
3. NI LUH AYU KARMINI (183222930)
4. NI LUH PUTU EKA RASNUARI (183222931)
5. NI LUH PUTU VERY YANTHI (183222932)
6. NI LUH SUTAMIYANTI (183222933)
7. NI MADE DESY ARDANI (183222934)
8. NI MADE HENI WAHYUNI (183222935)
9. NI MADE SRI DAMAYANTI (183222936)
10. NI MADE WIDIADNYANI (183222937)
11. NI MADE YUNI ANTARI (183222938)
12. NI PUTU AYU SWASTININGSIH (183222939)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
2019

i
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini tepat
pada waktunya. Adapun makalah ini merupakan salah satu tugas dari Keperawatan Gawat
Darurat.
Dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, kami mendapat banyak bantuan dari
berbagai pihak dan sumber. Karena itu kami sangat menghargai bantuan dari semua pihak yang
telah memberi kami bantuan dukungan juga semangat, buku-buku dan beberapa sumber lainnya
sehingga tugas ini bisa terwujud. Oleh karena itu, melalui media ini kami sampaikan ucapan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya dan jauh dari
kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang kami miliki. Maka
itu kami dari pihak penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik yang dapat memotivasi saya
agar dapat lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Om Santih, Santih, Santih Om

Denpasar, April 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................i


DAFTAR ISI .........................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan ............................................................................. 2
1.4. Manfaat Penulisan ........................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Dasar Penyakit...................................................................4
2.1.1. Definisi...............................................................................4
2.1.2. Etiologi...............................................................................4
2.1.3. Manifestasi Klinis..............................................................6
2.1.4. Klasifikasi..........................................................................7
2.1.5. Pathways............................................................................15
2.1.6. Patofisiologi.......................................................................16
2.1.7. Pemeriksaan Penunjang.....................................................16
2.1.8. Penatalaksanaan.................................................................18
2.1.9. Komplikasi.........................................................................18
2.1.10. Pencegahan........................................................................21
2.2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat ....................22
2.2.1. Pengkajian Keperawatan....................................................22
2.2.2. Diagnosa Keperawatan.......................................................23
2.2.3. Intervensi Keperawatan......................................................23
2.3. Kasus Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Dengan Trauma Spinal
2.3.1. Pengkajian Keperawatan....................................................25
2.3.2. Diagnosa Keperawatan......................................................32
2.3.3. Intervensi Keperawatan.....................................................32

ii
2.3.4. Implementasi Keperawatan...............................................34
2.3.5. Evaluasi Keperawatan.......................................................36

BAB III PENUTUP


3.1. Simpulan.......................................................................................... 38
3.2. Saran ................................................................................................ 38

DAFTAR PUSTAKA

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Cidera medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang
disebabkan seringkali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila cedera itu mengenai daerah
L1-2 dan/atau di bawahnya maka dapat mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan
sensorik serta kehilangan fungsi defekasi dan berkemih. Cidera medulla spinalis
diklasifikasikan sebagai komplet : kehilangan sensasi fungsi motorik volunter total dan
tidak komplet : campuran kehilangan sensasi dan fungsi motorik volunter (Marilynn E.
Doenges,1999;338).
Cidera medulla spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang mempengaruhi
150.000 orang di Amerika Serikat, dengan perkiraan10.000 cedera baru yang terjadi
setiap tahun. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda sekitar lebih dari 75% dari
seluruh cedera (Suzanne C. Smeltzer,2001;2220). Data dari bagian rekam medik Rumah
Sakit Umum Pusat Fatmawati didapatkan dalam 5 bulan terakhir terhitung dari Januari
sampai Juni 2003 angka kejadian angka kejadian untuk fraktur adalah berjumlah 165
orang yang di dalamnya termasuk angka kejadian untuk cidera medulla spinalis yang
berjumlah 20 orang (12,5%).
Pada usia 45-an fraktur banyak terjadi pada pria di bandingkan pada wanita
karena olahraga, pekerjaan, dan kecelakaan bermotor. Tetapi belakangan ini wanita lebih
banyak dibandingkan pria karena faktor osteoporosis yang di asosiasikan dengan
perubahan hormonal (menopause) (di kutip dari Medical Surgical Nursing, Charlene J.
Reeves,1999). Klien yang mengalami cidera medulla spinalis khususnya bone loss pada
L2-3 membutuhkan perhatian lebih diantaranya dalam pemenuhan kebutuhan ADL dan
dalam pemenuhan kebutuhan untuk mobilisasi. Selain itu klien juga beresiko
mengalami komplikasi cedera spinal seperti syok spinal, trombosis vena, profunda, gagal
napas; pneumonia dan hiperfleksia autonomic. Maka dari itu sebagai perawat merasa
perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan
cidera medulla spinalis dengan cara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif

1
sehingga masalahnya dapat teratasi dan klien dapat terhindar dari masalah yang paling
buruk.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Apa definisi trauma spinal?
2. Bagaimana etiologi trauma spinal?
3. Bagaimana manifestasi klinis trauma spinal?
4. Bagaimana klasifikasi trauma spinal?
5. Bagaimana pathway trauma spinal?
6. Bagaimana patofisiologis trauma spinal?
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang trauma spinal?
8. Bagaimana penatalaksanaan trauma spinal?
9. Bagaimana komplikasi trauma spinal?
10. Bagaimana Pencegahan trauma spinal?
11. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan gawat darurat padatrauma spinal?
12. Bagaimana kasus asuhan keperawatan gawat darurat dengan trauma spinal?

1.3. Tujuan Penulisan


1.3.1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu mengetahui laporan pendahuluan dan konsep asuhan
keperawatan gawat darurat pada trauma spinal
1.3.2. Tujuan Khusus
Mahasiswa diharapkan mampu :
1. Untuk mengetahui definisi trauma
2. Untuk mengetahui etiologi trauma spinal?
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis trauma spinal?
4. Untuk mengetahui klasifikasi trauma spinal?
5. Untuk mengetahui pathway trauma spinal?
6. Untuk mengetahui patofisiologis trauma spinal?

2
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang trauma spinal?
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan trauma spinal?
9. Untuk mengetahui komplikasi trauma spinal?
10. Untuk mengetahui Pencegahan trauma spinal?
11. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan gawat darurat pada trauma
spinal?
12. Untuk mengetahui kasus asuhan keperawatan gawat darurat dengan trauma
spinal?

1.4. Manfaat Penulisan


1.4.1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
semua pihak, khususnya kepada mahasiswa untuk menambah pengetahuan dan
wawasan mengenai laporan pendahuluan dan konsep asuhan keperawatan gawat
darurat pada taruma spinal.
1.4.2. Manfaat Praktis
Hasil dari penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai suatu
pembelajaran bagi mahasiswa yang nantinya ilmu tersebut dapat dipahami dan
diaplikasikan dalam praktik keperawatan.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1. Konsep Dasar Penyakit


2.1.1. Definisi
Trauma medula spinalis merupakan keadaan patologi akut pada medula
spinalis yang di akibatkan terputusnya komunikasi sensori dan motorik dengan
susunan saraf pusat dan saraf parifer. Tingkat kerusakan pada medula spinalis
tergantung dari keadaan atau inkomplet (Tarwato, 2007). Pada trauma medula
spinalis timbul perlukaan pada sumsum tulang belakang yang mengakibatkan
perubahan, baik sementara atau permanen, perubahan fungsi motorik, sensorik,
atau otonom. Pasien dengan cedera tulang belakang biasanya memiliki defisit
neurologis permanen dan sering mengalami kecacatan (Lawrence, 2014).
Trauma medula spinalis bisa meliputi fraktur, kontusio, dan kompresi
kolumna vertebra yang biasa terjadi karena trauma pada kepala atau leher.
Kerusakan dapat mengenai seluruh medula spinalis atau terbatas pada salah satu
belahan dan bisa terjadi pada setiap level (Kowalak, 2011). Jadi, trauma medulla
spinalis adalah kerusakan fungsi neurologis akibat trauma langsung atau tidak
langsung pada medulla spinalis sehingga mengakibatkan gangguan fungsi
sensorik, motorik, autonomi dan reflek.

2.1.2. Etiologi
Trauma Medula Spinalis bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya
adalah akibat trauma langsung yang mengenai tulang belakang dan melampaui
batas kemampuan tulang belakang dala melindungi saraf-saraf yang ada di
dalamnya. Trauma tersebut meliputi kecelakaan lalu lintas, kecelakaan industri,
jatuh dari bangunan, pohon, luka tusuk, luka tembak dan terbentur benda keras
(Muttaqin, 2008). Trauma Medula Spinalis dibedakan menjadi 2 macam yaitu :

4
1. Cedera medula spinalis traumatik
Terjadi ketika benturan fisik eksternal seperti yang diakibatkan oleh
kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh atau kekerasan, merusak medula
spinalis. Cedera medula spinalis traumatic ditandai sebagai lesi traumatik pada
medula spinalis dengan beragam defisit motorik dan sensorik atau paralisis.
2. Cedera medula spinalis non traumatik
Terjadi ketika kondisi kesehatan seperti penyakit, infeksi atau tumor
mengakibatkan kerusakan pada medula spinalis, atau kerusakan yang terjadi
pada medula spinalis yang bukan disebabkan oleh gaya fisik eksternal. Faktor
penyebab dari cedera medula spinalis mencakup penyakit motor neuron,
myelopati spondilotik, penyakit infeksius dan inflamatori, penyakit neoplastik,
penyakit vaskuler, kondisi toksik dan metabolik dan gangguan kongenital dan
perkembangan.

Sedangkan menurut Baticaca, 2008 penyebab terjadinya trauma medula spinalis


adalah sebagai berikut:
1. Kecelakaan di jalan raya (penyebab paling sering)
2. Olahraga
3. Menyelam pada air dangkal
4. Luka tembak atau luka tikam

Gangguan lain yang dapat menyebabkan cedera medula spinalis seperti


spondiliosis servikal dengan mielopati, yang menghasilkan saluran sempit yang
mengakibatkan cedera progresif terhadap medula spinalis dan akar; mielitis akibat
inflamasi infeksi maupun non-infeksi; osteoporosis yang disebabkan oleh fraktur
kompresi pada vertebra; siringmielia; tumor infiltrasi maupun kompresi; dan
penyakit vaskuler.

5
2.1.3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala cedera medula spinalis tergantung dari tingkat kerusakan
dan lokasi kerusakan. Dibawah garis kerusakan terjadi misalnya hilangnya
gerakan volunter, hilangnya sensasi nyeri, temperature, tekanan dan
proprioseption, hilangnya fungsi bowel dan bladder dan hilangnya fungsi spinal
dan refleks autonom.
1. Perubahan reflex
Setelah terjadi cedera medula spinalis terjadi edema medula spinalis sehingga
stimulus refleks juga terganggu misalnya rfeleks p[ada blader, refleks
ejakulasi dan aktivitas viseral.
2. Spasme otot
Gangguan spame otot terutama terjadi pada trauma komplit transversal,
dimana pasien trejadi ketidakmampuan melakukan pergerakan.
3. Spinal shock
Tanda dan gejala spinal shock meliputi flacid paralisis di bawah garis
kerusakan, hilangnya sensasi, hilangnya refleks – refleks spinal, hilangnya
tonus vasomotor yang mengakibatkan tidak stabilnya tekanan darah, tidak
adanya keringat di bawah garis kerusakan dan inkontinensia urine dan retensi
feses.
4. Autonomik dysrefleksia
Terjadi pada cedera T6 keatas, dimana pasien mengalami gangguan refleks
autonom seperti terjadinya bradikardia, hipertensi paroksismal, distensi
bladder.
5. Gangguan fungsi seksual.
Banyak kasus memperlihatkan pada laki – laki adanya impotensi, menurunnya
sensai dan kesulitan ejakulasi. Pasien dapat ereksi tetapi tidak dapat ejakulasi.

Menurut menurut ENA (2000 : 426), tanda dan gejala adalah sebagai berikut:
1. Pernapasan dangkal
2. Penggunaan otot-otot pernapasan
3. Pergerakan dinding dada

6
4. Hipotensi (biasanya sistole kurang dari 90 mmHg)
5. Bradikardi
6. Kulit teraba hangat dan kering
7. Poikilotermi (Ketidakmampuan mengatur suhu tubuh, yang mana suhu tubuh
bergantung pada suhu lingkungan)
8. Kehilangan sebagian atau keseluruhan kemampuan bergerak
9. Kehilangan sensasi
10. Terjadi paralisis, paraparesis, paraplegia atau quadriparesis/quadriplegia
11. Adanya spasme otot, kekakuan

Menurut menurut Campbell (2004 ; 133)


1. Kelemahan otot
2. Adanya deformitas tulang belakang
3. Adanya nyeri ketika tulang belakang bergerak
4. Terjadinya perubahan bentuk tulang servikal akibat cedera
5. Kehilangan control dalam eliminasi urin dan feses,
6. Terjadinya gangguan pada ereksi penis (priapism)

2.1.4. Klasifikasi
Menurut Batticaca (2008) trauma medula spinalis dapat diklasifikasi menjadi 2
macam, yaitu:
1. Cedera tulang
a. Stabil, bila kemapuan fragmen tulang tidak mempengaruhi kemapuan
tulang untuk bergeser lebih jauh selain yang terjadi saat cedera.
Komponen arkus neural intak serta ligamen yang menghubungkan ruas
tulang belakang, terutama ligamen longitudinal posterior tidak robek.
b. Tidak Stabil, kondisi trauma menyebabkan adanya pergeseran tulang yang
terlalu jauh sehingga cukup mapu untuk merobek ligamen longitudinal
posterior serta merusak keutuhan arkus neural.

7
2. Cedera neurologis
a. Tanpa defisit neurologis
b. Disertai defisit neurologis

American Spinal Injury Association (ASIA) bekerjasama dengan Internasional


Medical Society Of Paraplegia (IMSOP) telah mengembangkan dan
mempublikasikan standart Internasional untuk klasifikasi fungsional dan
neurologis cedera medula spinalis. Klasifikasi berdasarkan pada Frankel pada
tahun 1969. Klasifikasi ASIA/IMSOP dipakai dibanyak negara karena sistem
tersebut dipandang akurat dan komperhensif. Skala kerusakan menurut
ASIA/IMSOP adalah sebagai berikut:
1. FRANKEL SCORE A: kehilangan fungsi motorik dan sensorik lengkap
(complete loss).
2. FRANKEL SCORE B: fungsi motorik hilang, fungsi sensorik utuh.
3. FRANKEL SCORE C: fungsi motorik ada tetapi secara praktis tidak berguna
(dapat menggerakkan tungkai tetapi tidak dapat berjalan).
4. FRANKEL SCORE D: fungsi motorik terganggu (dapat berjalan tetapi tidak
dengan nomal "gait").
5. FRANKEL SCORE E: tidak terdapat gangguan neurologik.

8
Cedera umum medula spinalis dapat dibagi menjadi komplit dan Inkomplit
berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan dibawah lesi. Terdapat 5
sindrom utama cedera medula spinalis inkomplit menurut American Spinal Cord
Injury Association yaitu:

Nama Pola dari Lesi saraf Kerusakan


Sindroma

Central Cord Cedera pada posisi central dan Menyebar ke daerah sacral.
syndrome sebagian daerah lateral.
Kelemahan otot ekstremitas
Sering terjadi pada trauma atas lebih berat dari
daerah servikal ekstermitas bawah.

Anterior Cord Cedera pada sisi anterior dan Kehilangan perioperatif dan
Syndrome posterior dari medula spinalis. kehilangan fungsi motorik
secara ipsilateral
Cedera akan menghasilkan
gangguan medula spinalis
unilateral

Brown Sequard Kerusakan pada anterior dari Kehilangan fungsi motorik dan
Syndrome daerah putih dan abu-abu sensorik secara komplit.
medula spinalis.

Cauda Equina Kerusakan pada posterior dari Kerusakan proprioseptif


Syndrome daerah putih dan abu-abu diskriminasi dan getaran.
medula spinalis
Fungsi motorik juga terganggu

Posterior Cord Kerusakan pada saraf lumbal Kerusakan sensori dan lumpuh
Syndrome atau sacral sampai ujung flaccid pada ekstremitas bawah
medulla spinalis dan kontrol berkemih dan
defekasi

9
Cedera medulla spinalis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Complete injury
Complete injury atau cedera penuh mengakibatkan hilangnya fungsi sensorik
dan motorik secara total dibawah level cedera. Terlepas dari mekanisme
cedera, jenis cedera secara penuh ini bisa berupa diseksi atau robekan lengkap
pada sumsum tulang belakang yang menghasilkan dua kondisi:
a. Tetraplegia
Cedera terjadi pada level C1 sampai dengan T1. Fungsi otot residual
tergantung pada segmen servikal yang terpengaruh.
b. Paraplegia
Dikatakan paraplegia apabila terdapat kerusakan ataupun hilangnya fungsi
sensorik dan motoric pada segmen thorakal, lumbar ataupun sacral
(Kirshblum dkk, 2011).

Gambar. Klasifikasi Trauma Medula Spinalis

2. Incomplete injury

10
Apabila masih terdapat fungsi sensorik dan motorik yang masih dalam
keadaan baik dibawah tingkat neurologis, termasuk pada segmen sacral S4-S5
(Kirshblum dkk, 2011).

Pola karakteristik cedera neurologis tertentu sering ditemukan pada pasien dengan
cedera medulla spinalis. Pola-pola ini harus dikenali sehingga tidak
membingungkan pemeriksa. Berdasarkan sindrom medulla spinalis, trauma
medulla spinalis dikelompokkan sebagai berikut:
1. Complete transaction
Kondisi ini menyebabkan semua traktus di medulla spinalis terputus
menyebabkan semua fungsi yang melibatkan medulla spinalis di bawah level
terjadinya transection semua terganggu dan terjadi kerusakan permanen.
Secara klinis menyebabkan kehilangan kemampuan motorik berupa
tetraplegia pada transeksi cervical dan paraplegia jika terjadi pada level
thorakal. Terjadi flaksid otot, hilangnya refleks dan fungsi sensoris dibawah
level trabsseksi. Kandung kemih dan susu atoni sehingga menyebabkan ileus
paralitik. Kehilangan tonus vasomotor area tubuh dibawah lesi menyebabkan
tekanan darah rendah dan tidak stabil. Kehilangan kemampuan perspirasi
menyebabkan kulit kering dan pucat, juga terjadi gangguan pernapasan.

Gambar Complete Transection

11
Gambar. Paraplegia pada thoracal spinal transection; tetraplegia pada
cervical spinal transcetio

2. Incomplete transaction : Central cord syndrome


Sindrom ini ditandai dengan hilangnya kekuatan motorik lebih banyak pada
ekstremitas atas dibandingkan dengan ekstremitas bawah, dengan kehilangan
sensorik yang bervariasi. Biasanya sindrom ini terjadi setelah adanya trauma
hiperekstensi pada pasien yang telah mengalami kanalis stenosis servikal
sebelumnya. Dari anamnesis didapatkanadanya riwayat jatuh kedepan dengan
dampak pada daerah wajah. Dapat terjadi dengan atau tanpa fraktur tulang
servikal atau dislokasi.

Gambar. Central cord syndrome.

12
Gambaran khas Central Cord Syndrome adalah kelemahan yang lebih
prominen pada ekstremitas atas dibanding ektremitas bawah. Pemulihan
fungsi ekstremitas bawah biasanya lebih cepat, sementara pada ekstremitas
atas (terutama tangan dan jari) sangat sering dijumpai disabilitas neurologic
permanen. Hal ini terutama disebabkan karena pusat cedera paling sering
adalah setinggi VC4-VC5 dengan kerusakan paling hebat di medulla spinalis
C6 dengan lesi LMN.

3. Incomplete transection : Anterior Cord Syndrome


Sindrom ini ditandai dengan paraplegi dan kehilangan sensorik
disosiasi dengan hilangnya sensasi nyeri dan suhu. Fungsi kolumna
posterior (posisi, vibrasi, dan tekanan dalam) tetap bertahan. Biasanya
anterior cord syndrome disebabkan infark pada daerah medulla spinalis
yang diperdarahi oleh arteri spinalis anterior. Prognosis sindrom ini paling
buruk dibandingkan cedera inklomplit lainnya. Kehilangan sensasi nyeri
dan suhu pada level dibawah lesi tetapi sensoris terhadap raba, tekanan,
posisi, dan getaran tetap baik.

Gambar. Central cord syndrome.

13
4. Brown Sequard Syndrome
Sindrome ini terjadi akibat hemiseksi medulla spinalis, biasanya
akibat luka tembus. Namun variasi gambaran klasik tidak jarang terjadi.
Pada kasus murni, sindrom ini terdiri dari kehilangan sistem motorik
ipsilateral (traktus kortikospinalis) dan hilangnya sensasi posisi (kolumna
posterior), disertai dengan hilangnya sensasi suhu serta nyeri kontralateral
mulai satu atau dua level di bawah level trauma (traktus spinothalamikus).
Walaupun sindrom ini disebabkan trauma tembus langsung ke medulla
spinalis, biasanya masih mungkin untuk terjadi perbaikan.
Kondisi ini terjadi parese ipsilateral di bawah level lesi disertai
kehilangan fungsi sensoris sentuhan, tekanan, getaran dan posisi. Terjadi
gangguan kehilangan sensoris nyeri dan suhu kontralatetal.

Gambar. Brown sequard syndrome.

14
2.1.5. Pathway

15
2.1.6. Patofisiologi
Kerusakan yang dialami medula spinalis dapat bersifat sementara atau
menetap akibat trauma terhadap tulang belakang. Medula spinalis dapat tidak
berfungsi untuk sementara (komosio medula spinalis), tetapi dapat sembuh
kembali dalam beberapa hari. Gejala yang ditimbulkan adalah berupa edema,
perdarahan perivaskuler dan infark di sekitar pembuluh darah. Pada kerusakan
medula spinalis yang menetap, secara makroskopis, kelainannya dapat terlihat dan
terjadi lesi, kontusio, laserasi dan pembengkakan daerah tertentu di medula
spinalis.
Segera setelah terjadi kontusio atau robekan akibat cedera, serabut-serabut
saraf mulai membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke substansi grisea medulla
spinalis menjadi terganggu. Tidak hanya hal ini saja yang terjadi pada cedera
pembuluh darah medula spinalis, tetapi proses patogenik dianggap menyebabkan
kerusakan yang terjadi pada cedera medula spinalis akut. Suatu rantai sekunder
kejadian-kejadian yang menimbulkan iskemia, hipoksia, edema, dan lesi-lesi
hemoragi, yang pada gilirannya mengakibatkan kerusakan mielin dan akson.
Reaksi sekunder ini, diyakini menjadi penyebab prinsip degenerasi medula
spinalis pada tingkat cedera, sekarang dianggap reversibel 4 sampai 6 jam setelah
cedera. Untuk itu jika kerusakan medula tidak dapat diperbaiki, maka beberapa
metode mengawali pengobatan dengan menggunakan kortikosteroid dan obat-
obat anti-inflamasi lainnya yang dibutuhkan untuk mencegah kerusakan sebagian
dari perkembangannya,masuk kedalam kerusakan total dan menetap.

2.1.7. Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan neurologis lengkap secara teliti segera setelah pasien tiba di
rumah sakit
2. Pemeriksaan tulang belakang: deformasi, pembengkakan, nyeri tekan,
gangguan gerakan(terutama leher)
3. Pemerikaan radiologis: foto polos vertebra AP dan lateral. Pada servikal
diperlukan proyeksi khusus mulut terbuka (odontoid).

16
a. Sinar X spinal
Menentukan lokasi dan jenis Trauma tulan (fraktur, dislokasi), untuk
kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi.
b. Foto rontgen thorak, memperlihatkan keadan paru (contoh: perubahan
pada diafragma, atelektasis)
4. Bila hasil meragukan lakukan CT-Scan,bila terdapat defisit neurologi harus
dilakukan MRI atau mielografi.
a. CT-Scan
Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun struktural
b. MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi
c. Mielografi
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor
putologisnya tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub
anakhnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelah
mengalami luka penetrasi).
5. Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vital, volume tidal): mengukur volume
inspirasi maksimal khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian
bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan pada saraf frenikus /otot
interkostal).
6. GDA: Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi
7. Serum kimia, adanya hiperglikemia atau hipoglikemia, ketidakseimbangan
elektrolit, kemungkinan menurunnya Hb dan Hmt.
8. Urodinamik, proses pengosongan bladder.

17
2.1.8. Penatalaksanaan
1. Penatalaksaan medis
Tindakan-tindakan untuk imobilisasi dan mempertahankan vertebral dalam
posisi lurus:
a. Pemakaian kollar leher, bantal psir atau kantung IV untuk
mempertahankan agar leher stabil, dan menggunakan papan punggung bila
memindahkan pasien.
b. Lakukan traksi skeletal untuk fraktur servikal, yang meliputi penggunaan
Crutchfield, Vinke, atau tong Gard-Wellsbrace pada tengkorak.
c. Tirah baring total dan pakaikan brace haloi untuk pasien dengan fraktur
servikal stabil ringan.
d. Pembedahan (laminektomi, fusi spinal atau insersi batang Harrington)
untuk mengurangi tekanan pada spinal bila pada pemeriksaan sinar-x
ditemui spinal tidak aktif. Tindakan-tidakan untuk mengurangi
pembengkakan pada medula spinalis dengan menggunakan glukortiko
steroid intravena
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Pengkajian fisik didasarakan pada pemeriksaan pada neurologis,
kemungkinan didapati defisit motorik dan sensorik di bawah area yang
terkena: syok spinal, nyeri, perubahan fungsi kandung kemih, perusakan
fungsi seksual pada pria, pada wanita umumnya tidak terganggu fungsi
seksualnya, perubahan fungsi defekasi
b. Kaji perasaan pasien terhadap kondisinya
c. Pemeriksaan diagnostik
d. Pertahankan prinsip A-B-C (Airway, Breathing, Circulation).

2.1.9. Komplikasi
Kerusakan medula spinalis dari komorsio sementara (dimana pasien
sembuh sempurna) sampai kontusio, laserasi, dan komperensi substansi medula

18
(baik salah satu atau dalam kombinasi), sampai transaksi lengkap medula (yang
membuat pasien paralisis dibawah tingkat cidera).
Bila hemoragi terjadi pada daerah spinalis, darah dapat merembes keekstra
dural, subdural, atau daerah subarakhloid pada kanal spinal. Setelah terjadi
kontisio atau robekan akibat cidera, serabut-serabut saraf mulai membengkak dan
hancur. Sirkulsi darah kesubtansia grisea medula spinalis menjadi terganggu.
Daerah lumbal adalah daerah yang paling sering mengalami herniasi
nukleus pulposus. Kandungan air diskus berkurang bersamaa dengan
bertambahnya usia. Selain itu, serabut-serabut itu menjadi kasar dan mengalami
hialinisasi yang ikut membantu terjadinya perubahan kearah hernia nukleus
pulposus melalui anulus, dan menekan radiks saraf spinal.
1. Pendarahan mikroskopik
Pada semua cedera madula spinalis atau vertebra, terjadi perdarahan-
perdarahan kecil. Yang disertai reaksi peradangan, sehingga menyebabkan
pembengkakan dan edema dan mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan
didalam dan disekitar korda. Peningkatan tekanan menekan saraf dan
menghambat aliran darah sehingga terjadi hipoksia dan secara drastis
meningkatkan luas cidera korda. Dapat timbul jaringan ikat sehingga saraf
didarah tersebut terhambat atau terjerat.
2. Hilangnya sensasi, kontrol motorik, dan refleks.
Pada cedera spinal yang parah, sensasi, kontrol motorik, dan refleks setinggi
dan dibawah cidera korda lenyap. Hilangnya semua refleks disebut syok
spinal. Pembengkakan dan edema yang mengelilingi korda dapat meluas
kedua segmen diatas kedua cidera. Dengan demkian lenyapnya fungsi
sensorik dan motorik serta syok spinal dapat terjadi mulai dari dua segmen
diatas cidera. Syok spnal biasanya menghilang sendiri, tetap hilangnya kontrol
sensorik dan motorik akan tetap permanen apabila korda terputus akan terjadi
pembengkakan dan hipoksia yang parah.
3. Syok spinal.
Syok spinal adalah hilangnya secara akut semua refleks-refleks dari dua
segmen diatas dan dibawah tempat cidera. Refleks-refleks yang hilang adalah

19
refleks yang mengontrol postur, fungsi kandung kemih dan rektum, tekanan
darah, dan pemeliharaan suhu tubuh. Syok spinal terjadi akibat hilangnya
secara akut semua muatan tonik yang secara normal dibawah neuron asendens
dari otak, yang bekerja untuk mempertahankan fungsi refleks. Syok spinl
biasanya berlangsung antara 7 dan 12 hari, tetapi dapat lebih lama. Suatu syok
spinal berkurang dapat tmbul hiperreflekssia, yang ditadai oleh spastisitas otot
serta refleks, pengosongan kandung kemih dan rektum.
4. Hiperrefleksia otonom.
Kelainan ini dapat ditandai oleh pengaktipan saraf-saraf simpatis secar
refleks, yang meneyebabkan peningkatan tekanan darah. Hiper refleksia
otonom dapat timbul setiap saat setelah hilangnya syok spinal. Suatu
rangsangan sensorik nyeri disalurkan kekorda spnalis dan mencetukan suatu
refleks yang melibatkan pengaktifan sistem saraf simpatis. Dengan
diaktifkannya sistem simpatis, maka terjadi konstriksi pembuluh-pembuluh
darah dan penngkatan tekanan darah.
Pada orang yang korda spinalisnya utuh, tekanan darahnya akan segera
diketahui oleh baroreseptor. Sebagai respon terhadap pengaktifan
baroreseptor, pusat kardiovaskuler diotak akan meningkatkan stimulasi
parasimpatis kejantung sehingga kecepatan denyut jantunhg
melambat,demikian respon saraf simpatis akan terhenti dan terjadi dilatasi
pembuluh darah. Respon parasimpatis dan simpatis bekerja untuk secara cepat
memulihkan tekanan darah kenormal. Pada individu yang mengalami lesi
korda, pengaktifan parasimpatis akan memperlambat kecepatan denyut
jantung dan vasodilatasi diatas tempat cedera, namun saraf desendens tidak
dapat melewati lesi korda sehngga vasokontriksi akibat refleks simpatis
dibawah tingkat tersebut terus berlangsung.
Pada hiperrefleksia otonom, tekanan darah dapat meningkat melebihi 200
mmHg sistolik, sehingga terjadi stroke atau infark miokardium. Rangsangan
biasanya menyebabkan hiperrefleksia otonom adalah distensi kandung kemih
atau rektum,atau stimulasi reseptor-reseptor permukaan untuk nyeri.
5. Paralisis

20
Paralisis adalah hilangnya fungsi sensorik dan motorik volunter. Pada
transeksi korda spinal, paralisis bersifat permanen. Paralisis ekstremitas atas
dan bawah terjadi pada transeksi korda setinggi C6 atau lebih tinggi dan
disebut kuadriplegia. Paralisis separuh bawah tubuh terjadi pada transeksi
korda dibawah C6 dan disebut paraplegia. Apabila hanya separuh korda yang
mengalami transeksi maka dapat terjadi hemiparalisis.
6. Autonomic Dysreflexia
Terjadi adanya lesi diatas T6 dan Cervical. Bradikardia, hipertensi paroksimal,
berkeringat banyak, sakit kepala berat, goose flesh, nasal stuffness
7. Fungsi Seksual
Impotensi, menurunnya sensasi dan kesulitan ejakulasi, pada wanita
kenikmatan seksual berubah
8. Syok hipovolemik
Akibat perdarahan dan kehilangan cairan ekstrasel ke Jaringan yang rusak
sehingga terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar akibat trauma.
9. Tromboemboli, infeksi, kaogulopati intravaskuler diseminata (KID).
Infeksi terjadi karena adanya kontaminasi kuman pada fraktur terbuka atau
pada saat pembedahan dan mungkin pula disebabkan oleh pemasangan alat
seperti plate, paku pada fraktur.
10. Emboli lemak
Saat fraktur, globula lemak masuk ke dalam darah karena tekanan sumsum
tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler. Globula lemak akan bergabung
dengan trombosit dan membentuk emboli yang kemudian menyumbat
pembuluh darah kecil, yang memasok ke otak, paru, ginjal, dan organ lain.

2.1.10. Pencegahan
Faktor –faktor resiko dominan untuk cedara medulla spinalis meliputi usia, jenis
kelamin, dan penyalahgunaan obat. Frekuensi factor resiko ini dikaitkan dengan
cedera medulla spinalis bertindak untuk menekankan pentingnya pencegahan
primeruntuk mencegah kerusakan dan bencana cedera ini, langkah – langkah
berikut perlu dilakukan:

21
1. Menurunkan kecepatan berkendara.
2. Menggunakan sabuk pengaman.
3. Menggunakan helm untuk pengendara motor dan sepeda.
4. Mencegah jatuh.
5. Menggunakan alat – alat pelindung dan teknik latihan.

2.2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat


2.2.1. Pengkajjian Keperawatan
1. Triase
a. Prioritas 1 : Apakah pasien mengalami ancaman sehingga membutuhkan
tindakan life saving segera
b. Prioritas 2 : Dapatkah tindakan terapi pasien ditunda
2. Pengkajian Identitas Pasien
Identitas klien terdiri atas : nama, umur, pekerjaan, agama, jenis kelamin,
alamat, tanggal masuk RS, alasan masuk, cara masuk, penanggung jawab.
3. Primary Survey
a. Airway
Control servical (adanya desakan otot diafragma dan interkosta sehingga
mengganggu jalan nafas)
b. Breathing
Control ventelasi (adanya pernafasan dangkal dan penggunaan otot-otot
bantu pernafasan)
c. Circulation
Adanya hipotensi, bradikardi, poikilotermi
d. Disability
Kaji sebagian atau keseluruhan kemampuan bergerak, kehilangan sensasi,
dan kelemahan otot
e. Exposure
Buka pakaian pasien dan selimuti, periksa secara menyeluruh dan teliti
mulai dari kepala sampai kaki
4. Secondary Survey

22
a. Kaji riwayat trauma
b. Kaji tingkat kesadaran
c. Ukur tanda-tanda vital
d. Kaji apakah ada alergi obat
e. Pemeriksaan fisik
1) Kepala dan wajah
2) Cervical spine
3) Thorax
4) Abdomen (termasuk pervis)
5) Ekstremitas (musculoskeletal)

2.2.2. Diagnosa Keperawatan


1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi ditandai dengan
dispnea, dan terdapat otot bantu napas
2. Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan penyumbatan aliran
darah ditandai dengan bradikardi, nadi teraba lemah,terdapat cianosis, akral
teraba dingin,CRT > 2 detik,turgor tidak elastis,kelemahan, AGD abnormal
3. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan syaraf

2.2.3. Intervensi Keperawatan


NO Diagnosa Tujuan dan kriteria Intervensi Keperawatan
Keperawatan Hasil

1. Pola nafas tidak Tujuan : 1. Pantau ketat tanda – tanda


efektif Setelah diberikan vital dan pertahankan
berhubungan tindakan keperawatan ABC
dengan selama ...x... 2. Gunakan servikal colllar,
hiperventilasi diharapakan pola nafas imobilisasi lateral kepala,
ditandai dengan pasien efektif dengan letakkan papan di bawah
dispnea, dan kriteria hasil : tulang belakang
terdapat otot bantu 1. Sesak nafas 3. Berikan oksigen sesuai

23
napas berkurang indikasi
2. Pernafasan teratur
3. Takipnea tidak ada
4. Pengembangan
dada simetris
2. Perfusi jaringan Tujuan : 1. Atur posisi kepala dan
perifer tidak Setelah dilakukan leher untuk mendukung
efektif tindakan keperawatan airway (jaw thrus) jangan
berhubungan selama ...x... memutar atau menarik
dengan diharapkan perfusi leher kebelakang
penyumbatan jaringan adekuat (hiperekstensi)
aliran darah dengan kriteria hasil : mempertimbangkan OPA,
ditandai dengan 1. Nadi teraba kuat NPA, intubasi
bradikardi, nadi 2. Kesadaran compos 2. Berikan oksigen sesuai
teraba mentis indikasi
lemah,terdapat 3. Sianosis atau pucat 3. Pantau adanya
cianosis, akral tidak ada ketidakadekuatan perfusi
teraba dingin,CRT 4. Akral teraba hangat 4. Ukur tanda – tanda vital
> 2 detik,turgor 5. CRT < 2 detik 5. Pantau GCS
tidak 6. GCS 13-15 6. Awasi pemeriksaan AGD
elastis,kelemahan, 7. AGD normal
AGD abnormal
3. Nyeri akut Tujuan : 1. Kaji tipe, lokasi, dan
berhubungan Setelah dilakukan durasi nyeri
dengan trauma tindakan keperawatan 2. Kaji perubahan intensitas
jaringan syaraf selama ...x... nyeri
diharapkan nyeri 3. Batasi pergerakan pada
berkurang atau hilang daerah yang cedera
dengan kriteria hasil : 4. Ajarkan tehnik relaksasi
1. Pasien tidak 5. Kolaborasi dengan tim
mengeluh nyeri medis dalam pemberian

24
2. Pasien tenang analgesik

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. S DENGAN TRAUMA TUMPUL ABDOMEN DI


INSTALASI GAWAT DARURAT
RUMAH SAKIT Dr Soetomo

Pasien F, laki-laki usia 40 tahun, pekerjaan pegawai swasta, masuk RS Dr Soetomo pada
tanggal 2 Maret 2019 atas rujukan RS Soedono, dengan keluhan utama kelemahan anggota
gerak sejak 5 hari yang lalu. Klien merasa kelemahan anggota geraknya semakin memberat.
Klien mengatakan nafasnya terasa berat saat kejadian. Makan nasi dan sayur dan minum the
segelas. Klien tampak menggunakan colar neck. Satu bulan sebelum masuk RS Dr Soetomo,
pasien mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpangi pasien masuk ke lubang, dan kepala
pasien terbentur atap mobil sampai 4x. Saat itu pasien pingsan, lamanya kira-kira 20 menit,
perdarahan THT tidak ada, muntah 4 kali dalam sehari dan pasien masih mengingat
peristiwa sebelum kejadian. Pasien mengalami kelemahan pada keempat anggota gerak,
nyeri hebat di area leher bagian belakang dan dipasang colar neck. Jika buang air kecil
(BAK) pasien ngompol, pasien juga tidak bisa buang air besar (BAB), klien dirawat di RS
Soedono Madiun selama 10 hari dan merasakan nyeri ada area yang cedera. Pasien masih
menggunakan kateter sejak pulang dari RS Soedono sampai saat ini dan untuk bisa BAB
dibantu dengan klisma. Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi dan tidak memiliki
riwayat penyakit seperti dm, pasien juga belum dapat melakukan pengobatan kecuali saat
pasien kecelakaan.Sejak pulang dari RS Soedono, pasien menjalani fisioterapi sebanyak 9
kali yang dilakukan oleh fisioterapist agar bisa berjalan lancar. Saat difisioterapi, kepala
pasien ditarik.

No. Register : 355799/9890


Ruang : UGD
Tgl/Jam MRS : 02-03-2019/Jam 09.50

2.3.1 PENGKAJIAN

25
A. IDENTITAS
1. Biodata Pasien
Nama : Tn. F
Umur : 40 tahun
Alamat : Madiun
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Status marital : Belum menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pegawai Swasta
2. Penanggung Jawab
Nama : Tn. M
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 25 Tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Mongondow/Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan swasta
Alamat : Madiun
B. RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan Utama : Pasien mengeluh mengalami kelemahan anggota gerak 5 hari
yll 7 semakin memberat. Mengalami muntah-muntah 4 x dalam 2 hari.
b. Riwayat penyakit sekarang : Tn.F mengalami kelemahan keempat anggota
gerak, nyeri di area cedera, demam, sesak napas. Muntah.
c. Riwayat Penyakit Dulu : Klien mengalami kecelakaan lalu lintas 1 bulan yang
lalu
d. Riwayat Alergi : Klien menyatakan tidak mempunyai alergi.
e. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada masalah

C. PEMERIKSAAN
1. Primary Survay

26
a. Airway
Bebas, tidak ada sumbatan, ada secret
b. Breathing
Klien sesak nafas . Klien menggunakan O2 2 l/menit
R : 29 x/menit, pernafasan irreguler
c. Circulasi
TD = 100 / 60 mmhg,

N= 80 x/menit
T = 37,80C
Capillary reffil : < 2 detik
d. Disability
GCS : E4M5V6
Kesadaran : Compos Mentis
e. Exposure
Terdapat luka pada daerah cedera dan tidak ada pendarahan,
Secondary Survay
a. AMPLE
1) Alergi :
Klien dan keluarga mengatakan klien tidak memiliki alergi, baik makanan ataupun obat-
obatan.
2) Medicasi :
Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit tidak mengkonsumsi obat apapun.
3) Pastillnes :
Klien sebelumnya tidak pernah dirawat di RS.
4) Lastmeal :
Klien mengatakan sebelum kecelakaan, klien makan nasi dan sayur dan minum segelas teh..
5) Environment
Klien tinggal di daerah yang padat penduduknya

D. PEMERIKSAAN FISIK Head To Toe


a. Keadaan Umum : Cukup, tidak ada perdarahan..

27
b.Kesadaran : Compos mentis
c. Tanda-Tanda Vital
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 29x/mnt
Suhu : 37,80C
d.Kepala
Ekspresi Wajah : Klien tampak meringis
Rambut : Rambut dan kulit kepala cukup bersih
Mata : Pupil Isokor, Sklera tidak ikterik, konjungtiva tampak anemis
Telinga : Tampak bersih, tidak ada serumen, tidak ada peradangan, pendengaran
baik
Hidung : Simetris, tidak ada peradangan, penciuman baik
Mulut : Kurang bersih, mukosa lembab, terdapat karies, gigi lengkap, tidak ada
peradangan
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada kaku kuduk, terdapat
nyeri pada leher bagian belakang dan dipasang colar neck.
e. Thorax
Inspeksi : Bentuk simetris, gerakan antara kanan dan kiri sama
Palpasi : Fremitus vokal kanan dan kiri sama
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler
f. Abdomen
Inspeksi :Tidak terdapat jejas
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : Pekak
Auskultasi : Peristaltik Usus 5x/Menit
g.Ekstremitas
Ekstremitas terdapat kelemahan pada keempat anggota gerak .
h.Genetalia : Tidak ada kelainan, terpasang kateter
2. ROS (Review of System)

28
3. B1 (Breathing) : napas pendek, sesak
4. B2 ( Blood ) : berdebar-debar, hipotensi, suhu naik turun.
5. B3 ( Brain ) : nyeri di area cedera
6. B4 ( Blader ) : inkontinensia uri
7. B5 ( Bowel ) : tidak bisa BAB (konstipasi), distensi abdomen, peristaltik usus menurun.
8. B6 ( Bone ) : kelemahan ke empat anggota gerak(Quadriplegia)
9. Psikososial : menyangkal, tidak percaya, sedih dan marah, takut cemas, gelisah dan
menarik diri.

A. Pemeriksaan Penunjang
10. Hasil Laboratorium :
Hb 13,2 g/dl
Ht 36 %
Leukosit 16.500/uL
Trombosit 244.000/uL
LED 25 mm
Ureum 23 mg/dL
Kreatinin darah 0.6 mg/dl
GDS 126 mg/dL
Na 105
K 4,2 meq/l
Cl 73 meq/l
11. Foto X cervical : dislokasi C1-C2
12. MRI : fraktur C1 dengan dislokasi ke posterior, stenosis berat medulla spinalis setinggi
CI-CII.
13. BGA : menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi
pH 7.607
pCO2 21.5 mmHg
pO2 84.7 mmHg
SO2 % 92.2
BE 0.0 mmol/L

29
HCO3 21.7 mmol/L
A. Therapy
Terpasang IVFD cairan RL 30 gtt/menit
Injeksi Cefotaxim 1 gr/12 jam/IV
Injeksi Ketorolac 2 mg/8 jam/IV

B. Analisa Data
Nama : Tn. F Ruang : UGD
Umur : 28 Thn Jenis Kelamin : Laki-laki
No Data Etiologi Masalah
Keperawatan
1. DS : klien mengeluh sesak napas. Cedera cervical Ketidakefektifan
DO : klien terlihat pucat, sianosis, (C1-C2) pola napas
adanya pernapasan cuping hidung
RR= 29x/menit Kelumpuhan otot
TD = 100/60 mmHg pernapasan
(diafragma)

Ekspansi paru
menurun

Pola napas tidak


efektif
2. DS : klien mengeluh nyeri hebat & Cedera cervical Nyeri akut
tidak bisa tidur, nyeri dirasakan
seperti berdenyut denyut, nyeri Fraktur dislokasi
dirasakan pada cervical, skala nyeri servikal
6 dari (0-10) menggunakan nrs,
nyeri dirasakan tak menentu. Pelepasan
DO : Klien terlihat sangat gelisah, mediator
suhu tubuh klien naik turun tak inflamasi

30
menentu, klien memakai colar neck. Prostalglandin,
N=80x/mnt. bradikinin dll
S= 38,50C
Hasil foto X-cervical menunjukan respon nyeri
fraktur dislokasi C1-2. hebat dan akut

Nyeri

5. DS : Klien merasa mengalami Cedera cervikalis Kerusakan


kelemahan pada keempat anggota mobilitas fisik.
geraknya. Kompresi medula
DO : Klien membutuhkan bantuan spinalis
untuk memenuhi ADL nya.
Gangguan
motorik sensorik

Kelumpuhan

Kerusakan
mobilitas fisk

2.3.2 DIAGNOSA
1. Pola napas tidak efektif b.d kelumpuhan otot pernapasan (diafragma), kompresi medulla
spinalis ditandai dengan klien mengeluh sesak napas, klien terlihat pucat, sianosis,
adanya pernapasan cuping hidung, RR= 29x/menit, TD = 100/60 mmHg
2. Nyeri b.d agen pencedera fisik (adanya cedera pada cervikalis) ditandai dengan klien
mengeluh nyeri hebat & tidak bisa tidur, nyeri dirasakan seperti berdenyut denyut, nyeri

31
dirasakan pada cervical, skala nyeri 6 dari (0-10) menggunakan nrs, nyeri dirasakan tak
menentu, Klien terlihat sangat gelisah, suhu tubuh klien naik turun tak menentu, klien
memakai colar neck. N=80x/mnt. S= 38,50C, Hasil foto X-cervical menunjukan fraktur
dislokasi C1-2.
3. Hambatan mobiltas fisik b.d kelumpuhan pada anggota gerak ditandai dengan Klien
merasa mengalami kelemahan pada keempat anggota geraknya, Klien membutuhkan
bantuan untuk memenuhi ADL nya

1.3.3 Intervensi keperawatan


Nama : Tn. F Ruang : UGD
Umur : 28 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki
No Dx kep Tujuan/KH Intervensi Rasional
1. Pola napas tidak Setelah dilakukan tindakan 1. Pertahankan jalan 1. pasien dengan
keperawatan selama 1x15 cedera cervicalis
efektif nafas; posisi
menit, volume cairan akan
berhubungan seimbang. kepala tanpa
membutuhkan
Dengan KH:
dengan gerak. bantuan untuk
a. ventilasi adekuat
kelumpuhan otot 2. Lakukan mencegah
b. PaCo2<45 aspirasi/
diafragma penghisapan
c. PaO2>80 mempertahanka
lendir bila perlu, n jalan nafas
d. RR 16-20x/
catat jumlah, jenis 2. jika batuk tidak
menit
efektif,
dan karakteristik
e. Tanda-tanda penghisapan
secret dibutuhkan
sianosis(-) : CRT
3. Auskultasi suara untuk
2 detik
napas. mengeluarkan
sekret, dan
4. Berikan oksigen mengurangi
dengan cara yang resiko infeksi
tepat pernapasan.
3. hipoventilasi
biasanya terjadi
atau

32
menyebabkan
akumulasi sekret
yang berakibat
pnemonia.
4. metode dipilih
sesuai dengan
keadaan
isufisiensi
pernapasan
2 Nyeri b.d agen Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji intensitas 1. Untuk
pencedera fisik ( keperawatan 1x10 menit, nyeri menentukan
adanya cedera nyeri berkurang dengan 2. Jelaskan penyebab intervensi yang
pada cervikalis) Kriteria Hasil :
nyeri tepat
1. Klien mengatakan nyeri
3. Beri posisi sesuai 2. Untuk
berkurang/hilang
kenyamanan klien menenangkan
2. Klien tenang tidak
4. Ajarkan teknik klien dan
mengerang-erang
relaksasi keluarga.
kesakitan
5. Kolaborasi 3. Meningkatkan
3. Skala nyeri 4-5
pemberian kenyamanan
analgetik klien
4. Mengurangi
ketegangan otot
sehingga
mengurangi
nyeri
5. Analgetik
berfungsi
menghilangkan
nyeri
3. Hambatan Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji secara 1. : mengevaluasi
mobiltas fisik keperawatan 1 x 20 menit, keadaan secara
teratur fungsi
b.d tidak terjadi infeksi umum
kelumpuhan Kriteria Hasil : motorik.
2. membantu ROM
pada anggota a. Tidak ada
2. Lakukan secara pasif dapat
gerak
konstraktur membuat otot
pemberian
b. Kekuatan otot tidak lemah.
latihan rom
3. mengetahui
meningkat
pasif adanya hipotensi
c. Klien mampu ortostatik
3. Ukur tekanan
beraktifitas kembali

33
secara bertahap darah sebelum
dan sesudah
log rolling.

1.3.4 Implementasi
Nama : Tn. F Ruang : UGD
Umur : 28 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki
No Dx. keperawatan Hari/tgl Implementasi Paraf
1 Pola napas tidak 02-03-19/ 1. Mempertahankan jalan nafas;
Jam 10.00
efektif berhubungan posisi kepala tanpa gerak.
dengan kelumpuhan S: Pasien mengatakan mengerti
otot diafragma O: Jalan nafas pasien tampak aman,
hanya ada sesak.
2. Melakukan penghisapan lendir
bila perlu, catat jumlah, jenis
dan karakteristik secret
S: -
O: Lendir berwarna putih dan
cair
3. Mengauskultasi suara napas
S: Pasien mengatakan bersedia
diperiksa
O: Tidak terdapat suara nafas
tambahan.
4. Memberikan oksigen dengan
cara yang tepat ( nasal kanul 4
liter/menit)
S: Pasien mengatakan bersedia

34
diberikan oksigen
O: pasien tampak nyaman dan
sesak berkurang.
2 Nyeri b.d agen 02-03 19/ 1. Mengkaji intensitas nyeri
pencedera fisik Jam 10.15 P : mengeluh nyeri hebat dan sulit
(adanya cedera pada tidur
cervikalis) Q : seperti berdenyut denyut
R : nyeri dirasakan pada daerah
servical
S : skala nyeri 6 dari 0 -10
menggunakan nrs
T : nyeri tmbul tidak menentu
O: Pasien tampak meringis kesakitan
2. Menjelaskan penyebab nyeri kepada
klien dengan hasil klien mengeri
tentang penjelasan perawat
S: Pasien mengatakan mengerti
dengan apa yang djelaskan perawat
O: pasien tampak mengerti
3. Memberikan posisi sesuai
kenyamanan klien
S: -
O: Pasien tampak nyaman dengan
posisi pasien
4. Mengajarkan teknik relaksasi
S; Pasien mengatakan mengerti
dengan apa yang dijelaskan perawat
O: Pasien tampak mengerti
5. Mengkolaborasi pemberian analgetik
Ketorolac 2mg/IV
S: Pasien mengatakan bersedia
dimasukkan obat
O: obat masuk melalui infuse tidak
ada reaksi alergi
3 Hambatan 02-03 19/ 1. Mengkaji secara teratur fungsi
mobiltas fisik b.d Jam 10.30
motorik.
kelumpuhan pada
anggota gerak S: Pasien hanya mampu
menggerakkan tangan jari jemari
O: pasien tampak menggerakkan

35
tangannya
2. Melakukan pemberian latihan
rom pasif
S: Pasien mengatakan bersedia
dilakukan rom
O: Pasien tampak mencoba
mlakukan rom dan mampu
menggerakkan jari jarinya.
3. Mengukur tekanan darah
sebelum dan sesudah log
rolling/rom.
S: Pasien mengatakan bersedia
dilakukan pengukuran tekanan
darah
O: td: 100/60mmhg
N: 80x/mnt
S: 37,8

1.3.5 Evaluasi
Nama : Tn. F Ruang : UGD
Umur : 28 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki
No Dx. Kep Hari/Tgl Evaluasi Paraf
1 ola napas tidak efektif 02-03-19/ S. Pasien mengatakan bersedia diberikan
Jam 11.00 oksigen
berhubungan dengan
O: pasien tampak nyaman dan sesak
kelumpuhan otot berkurang
A: Masalah teratasi sebagian
diafragma
P: Lanjutkan intervensi

2. Nyeri b.d agen 02-03-19/ S: P : mengeluh nyeri hebat dan sulit


pencedera fisik( Jam 11.00 tidur
adanya cedera pada Q : seperti berdenyut denyut
cervikalis) R : nyeri dirasakan pada daerah servical
S : skala nyeri 5 dari 0 -10

36
menggunakan nrs
T : nyeri tmbul tidak menentu

O: Pasien tampak meringis kesakitan


A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
3. Hambatan Senin 02-03-15/ S: Pasien hanya mampu menggerakkan
mobiltas fisik b.d Jam 11.00 tangan jari jemari
kelumpuhan pada O: td: 100/60mmhg
anggota gerak
N: 80x/mnt
S: 37,8
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

37
BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Trauma medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang
disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth,
2001).Penyebab dari Trauma medulla spinalis yaitu : kecelakaan otomobil, industri
terjatuh, olah-raga, menyelam, luka tusuk, tembak dan tumor. Bila hemoragi terjadi pada
daerah medulla spinalis, darah dapat merembes ke ekstradul subdural atau daerah
suaranoid pada kanal spinal, segera sebelum terjadi kontusio atau robekan pada Trauma,
serabut-serabut saraf mulai membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke medulla spinalis
menjadi terganggu, tidak hanya ini saja tetapi proses patogenik menyebabkan kerusakan
yang terjadi pada Trauma medulla spinalis akut. Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian
yang menimbulakn iskemia, hipoksia, edema, lesi, hemorargi.
Penatalaksanaan pasien segera ditempat kejadian adalah sangat penting, karena
penatalaksanaan yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan kehilangan fungsi
neurologik.Pada kepala dan leher dan leher harus dipertimbangkan mengalami Trauma
medula spinalis sampai bukti Trauma ini disingkirkan. Memindahkan pasien, selama
pengobatan didepartemen kedaruratan dan radiologi,pasien dipertahankan diatas papan
pemindahan.
Asuhan Keperawatan yang diberikan pada pasien dengan Trauma medula spinalis
berbeda penanganannya dengan perawatan terhadap penyakit lainnya,karena kesalah
dalam memberikan asuhan keperawatan dapat menyebabkan Trauma semakin komplit
dan dapat menyebabkan kematian.

3.2. Saran
Diharapkan makalah ini dapat menambah sumber bacaan bagi mahasiswa keperawatan
khusus pada mata kuliah keperawatan Gawat Darurat.

38
DAFTAR PUSTAKA

Batticaca, B Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Gangguan Sistem


Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Brunner & Suddath. 2001. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 volume 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Kirshblum, steven dkk. 2011. International standards for neurological classification of
spinal cord injury. Diakses dari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3232636/pdf/scm-34-535.pdf
Kowalak, Jennifer P. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika
Tarwoto, dkk. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta
: Sagung Seto.
Ziu, Endrit & Fassil B. Mesfin. 2017. Spinal Shock. Columbia: NCB

39